gereja masehi 17

Tampilkan postingan dengan label gereja masehi 17. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label gereja masehi 17. Tampilkan semua postingan

gereja masehi 17


 


ya. 

4. Untuk memberkati anak itu dan menyerahkannya kepada Allah. 

Jika tidak ada pendeta, ketua jemaat boleh melakukan penyerahan anak ini. Namun, 

seorang ketua jemaat tidak boleh melakukan ritual  penyerahan anak tanpa persetujuan 

gembala jemaat setempat. 

 

Merencanakan ritual  

 

Tempat. – Sebagian budaya mendorong “peneyrahan anak” dilakukan di rumah. 

Tetapi, yang paling sering ialah melakukan ritual  penyerahan anak sebagai bagian dari 

ritual  perbaktian pada hari Sabat pagi. Oleh sebab  komitmen atau janji dari anggota-

anggota jemaat yaitu  salah satu tujuan dari penyerahan itu, maka penyerahan anak itu harus 

dilakukan pada waktu kehadiran anggota jemaat paling besar. 

Waktu dalam tahun. – Jadwal tahunan gereja harus berisi tanggal penyerahan anak 

yang sudah direncanakan. Dua kali setahun mungkin sudah cukup. Waktu yang paling ideal 

mungkin pada waktu Hari Ibu, atau pada waktu pelatihan penegasan orang tua, dan pada 

permulaan suasana Natal, pada saat suasana penekanan pada bayi Kristus. Umumkanlah 

ritual  penyerahan anak itu beberapa minggu sebelumnya, mengundang semua orang tua 

untuk mengikuti ritual  tersebut. Buatlah peristiwa itu suatu ritual  evangelisasi oleh 

mendorong para pengambil bahagian untuk mengundang keluarga dan sahabat-sahabat 

mereka turut hadir. 

Kartu informasi. – Oleh sebab  engkau mau melakukan ritual  itu lebih bersifat 

individu, dan juga oleh sebab  akan menyediakan surat keterangan penyerahan anak, yang 

akan diserahkan pada hari ritual  penyerahan anak itu, maka ada baiknya untuk memiliki  

kartu informasi sederhana yang diisi dan diserahkan oleh masing-masing keluarga sebelum 

waktu penyerahan anak dilakukan. Yang termasukdalam kartu informasi itu seperti: nama 

lengkap bayi, tanggal lahir, tempat lahir, berat badan pada waktu lahir, nama ayah, nama ibu, 

anak-anak lain dalam keluarga, dan hal-hal lain yang menarik perhatian yang berhubungan 

dengan bayi itu. 

Umur. – Bayi-bayi bisa diserahkan kepada Tuhan pada waktu masih usia sangat 

muda pada waktu orang tua siap untuk membawa anak-anak itu ke gereja. Anak-anak usia 

sekolah jarang diserahkan. Pengecualian bisa dilakukan pada anak-anak anggota gereja yang 

baru. 

 

Melaksanakan ritual  

 

ritual  penyerahan anak yang khas memiliki  empat bagian. 

 

1.  Orang-orang tua diundang maju ke depan. – Buatlah ritual  penyerahan anak 

itu menjadi peristiwa keluarga yang penting. Doronglah pasangan yang bukan Advent untuk 

hadir bilamana anak-anak mereka diserahkan kepada Tuhan. Libatkan juga saudara kandung 

yang lain, yang mungkin merasa sedikit terabaikan oleh sebab  semua perhatian yang 

diterima bayi, untuk ikut serta dalam ritual  penyerahan. Nenek-kakek juga mungkin ingin 

diikutkan. Kadang-kadang kakek-nenek akan membawa bayi kalau orang tua tidak mau 

mengikuti ritual  itu, walaupun ini bukanlah yang ideal. 

Undanglah orang-orang tua maju ke depan pada waktu nyanyian pembuka 

dinyanyikan. Pilihlah nyanyian yang sesuai dengan penyerahan. Nyanyian yang sesuai 

termasuk: “Senanglah rumah yang trima Allah” (Lagu Sion No. 260); “Gentle Jesus, Meek 

and Mild;” “I Will Early Seek the Saviour;” “Jesus, Friend of Little Children;”  Jesus, Son of 

Blessed Mary;”  “Lead Them, My God to Thee;” dan “Love at Home.” 

Dengan memakai  nyanyian pagi dengan cara ini tidak hanya memperkenalkan 

penyerahan itu, tetapi juga menghemat waktu, oleh sebab  nyanyian pagi bagaimanapun juga 

telah dinyanyikan. Ayat terakhir nyanyian itu bisa dinyanyikan sesudah selesai penyerahan 

pada waktu orang-orang tua meninggalkan panggung. 

Seluruh penyerahan tidak boleh lebih dari empat sampai lima menit. Khotbah 

haruslah sangat singkat. Khotbah-khotbah sebelum ritual  pernikahan, baptisan, atau 

penyerahan anak biasanya tidak efektif sebab  antisipasi pada peristiwa yang akan terjadi 

sangat kuat, sehingga orang-orang kurang mendengar apa-apa yang dikatakan sebelumnya. 

Orang-orang tua juga takut kalau-kalau anak mereka sempat menangis. Lima menit 

bagi mereka serasa setahun. Jika khotbah lebih dari satu atau dua menit, khotbah itu bisa 

diberikan pada waktu orang-orang tua masih duduk bersama anggota jemaat, mungkin di 

baris depan. 

2.  Khotbah.—Orang tua harus berdiri menghadap pada anggota-anggota jemaat. Ada 

makna rohani tertentu pada bapa, sebagai pemimpin rohani, yang sedang memangku 

anaknya. Sebaliknya, ibu mungkin lebih baik dalam menjaga anak tetap diam. 

Khotbah harus menekankan janji atau tantangan bagi orang tua dan komitmen jemaat. 

Pemikiran bisa diambil dari ayat-ayat berikut: 

Ul. 6:4-7 “Haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada 

anak-anakmu.” 

1 Sam. 1:27, 28 “Untuk mendapat anak inilah aku berdoa. . . . Maka akupun 

menyerahkannya kepada TUHAN.” 

Mzm. 127:3-5 “Sesungguhnya, anak-anak yaitu  milik pusaka dari pada 

TUHAN.” 

Ams. 22:6 “Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya.” 

Yes. 8:18 “Sesungguhnya, aku dan anak-anak yang diberikan Tuhan 

kepadaku yaitu  tanda.” 

Yer. 13:20 “Di manakah kawanan ternak yang diberikan kepadamu?” 

Mat. 18:2-6, 10 “Ingatlah, jangan menganggap rendah seorang dari anak-

anak kecil ini.” 

Mat. 19:13-15 “Lalu orang membawa anak-anak kecil kepada Yesus, 

supaya Ia meletakkan tangan-Nya atas mereka dan 

mendoakan mereka.” 

Mark. 10:13-16 “Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku, jangan 

menghalang-halangi mereka.” 

Luk. 1:46-55 Pujian Maria. 

Luk. 2:22-38 “Mereka membawa Dia [Yesus] ke Yerusalem.” 

Luk. 18:15-17 “Maka datanglah orang-orang membawa anak-anaknya yang 

kecil kepada Yesus.” 

Ef. 6:4 “Didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan.” 

 

Nasihat Ellen White boleh juga dimasukkan dalam pikiran-pikiran yang disajikan: 

 

The Ministry of Healing, hlm. 40, 41: “Mereka pikir anak-anak ini terlalu muda untuk 

dimanfaatkan. . . . Seorang ibu dengan anaknya telah meninggalkan rumahnya untuk mencari 

Yesus. Di perjalanan ia memberitahukan kepada seorang tetangga.” 

Ibid., hlm. 351:  “Tidak ada pekerjaan yang dipercayakan kepada manusia yang 

menyangkut hasil yang lebih besar dan yang jauh jangkauannya daripada pekerjaan para bapa 

dan para ibu. 

Ibid., hlm. 394:  “Roh yang berkuasa dalam rumah akan akan membentuk tabiat 

mereka.” 

The Desire of Ages, hlm. 511-517:  “Memberkati anak-anak.” 

The Adventist Home, hlm. 159-276:  “Pusaka Tuhan;”  “Keluarga yang Sukses;”  

“Bapa, Pengikat Rumahtangga;”  “Ibu – Ratu Rumahtangga.” 

 

Akhirilah khotbahmu dengan kata-kata sebagai berikut: 

 

“Hai para orang tua, sebelum engkau menyerahkan anakmu dalam ritual  

penyerahan anak ini, saya mengundang engkau untuk mengadakan satu perjanjian dengan 

Allah. Dalam membawa anak ini kepada penyerahan Kristen, maka dihadapan Allah engkau 

sedang menerima tanggungjawab suci sebagai seorang bapa dan seorang ibu. Dengan 

tindakan secara simbolis ini engkau mau menyatakan keyakinanmu bahwa anak kecil ini 

bukan hanya milikmu, tetapi milik Allah juga. 

“Anggota-anggota jemaat, yang bersama-sama dengan kamu pada hari ini 

menyerahkan anak yang sangat berharga ini kepada Allah, akan menolong kamu untuk 

membimbing anak ini menuju pada suatu hari di mana penyerahan ini, pada usia yang tepat, 

akan diikuti oleh baptisan yang kudus, dengan demikian memasuki keanggotaan yang penuh 

dan bahagia dalam keluarga jemaat ini. 

“Oleh sebab  itu, kamu sebagai orang tua berjanji untuk melakukan dengan sekuat 

tenagamu untuk membesarkan anak ini dalam pemeliharaan dan nasihat Tuhan. Apakah kamu 

mau berjanji?” 

Para orang tua menjawab: “Kami berjanji.” 

 

3.  Doa. – Pendeta dan orang-orang tua harus berlutut dalam doa penyerahan. 

Anggota-anggota jemaat biasanya tetap duduk. Sangat penting jika suasana hubungan 

individu terasa selama penyerahan itu. Salah satu cara untuk memperoleh ini ialah agar 

pendeta memangku bayi sementara berdoa. Jika engkau melakukan hal ini, dan bayi itu 

tersenyum, maka engkau akan senang sudah melakukannya. Jika bayi itu menangis, mungkin 

engkau akan menyesal sudah memangkunya. Cara alternatif lain ialah orang tua memangku 

anaknya dan engkau meletakkan tanganmu di di atas kepala masing-masing anak secara 

bergantian pada waktu engkau menyebutkan nama mereka dalam doamu. Jika anak-anak 

yang akan diserahkan pada waktu itu banyak, maka para ketua jemaat boleh diminta untuk 

menumpangkan tangan, sementara engkau mengucapkan doa. 

Keempat tujuan penyerahan anak, termasuk yang di atas, harus disebutkan dalam 

doa. Idealnya, masing-masing anak dan orang tuanya harus disebutkan nama-nama bereka 

dalam doa. Doa boleh diakhiri dengan doa yang diajarkan oleh Tuhan Yesus, diikuti oleh 

pendeta, para orang tua dan seluruh anggota jemaat. 

4.  Surat keterangan dan Ucapan selamat. – Surat keterangan biasanya diberikan 

kepada para orang tua sesudah doa penyerahan. Secara khusus, ini juga termasuk 

mendaftarkan anak itu ke sekolah Sabat bayi-bayi (craddle roll), dan pimpinan sekolah Sabat 

bayi-bayi boleh diminta untuk menyerahkan surat keterangan penyerahan anak dan 

memberikan ucapan selamat. Surat keterangan penyerahan anak biasanya bisa dibeli di toko-

toko buka Advent stsu melalui percetakan Advent. 

 

Bacaan Bersahutan 

 

Bacaan bersahutan seperti di bawah ini bisa digunakan untuk menambah partisipasi 

dari orang-orang tua dan jemaat dalam penyerahan anak. Bacaan bersahutan ini biasanya 

menggantikan banyak waktu yang digunakan untuk khotbah dan menuntun kepada doa 

penyerahan. 

 

Liturgi 1 

Pendeta :  “Jika dengan sungguh-sungguh Anda hendak menyerahkan anak    

 ini kepada Tuhan, jawablah “Ya” kepada pertanyaan berikut:  

 

“Apakah pada hari ini Anda menyadari bahwa anak ini yaitu  

karunia Allah, dan oleh sebab  mengucapkan syukur kepada-Nya 

dari lubuk hatimu yang terdalam atas segala berkat-Nya?”  

Orang tua :  “Ya.” 

Pendeta :  Apakah pada hari ini Anda berada di sini untuk menyerahkan anak 

ini kepada Tuhan?” 

Orang tu :  “Ya.” 

Pendeta :  “Apakah pada hari ini Anda berjanji sebagai orang tua bahwa 

Anda akan memakai  rumah, sekolah, gereja dan segala sesuatu 

yang tersedia untuk menolong anak ini mengenal kasih Kristus 

Yesus?” 

Orang tua :  “Ya.” 

Pendeta berkata ke jemaat: 

:  Apakah Anda pada hari ini berjanji akan mendukung orang-orang 

tua ini melalui doa, acara-acara gereja, dan suasana gereja yang 

memelihara para anggotanya? 

Jemaat :  “Ya.” 

 

Liturgi 2 

 

Jika anak yang akan diserahkan banyak, dan pada waktu yang sama engkau mau 

melakukan acara ini secara individu oleh melibatkan para orang tua dan jemaat, suruhlah 

mereka membaca beberapa kalimat. Pasangan orang tua pertama membaca kalimat yang 

mereka, atau mereka dan pendeta, telah sediakan. Lalu jemaat menjawab. Kedua pernyataan 

harus menyebutkan nama anak. Kemudian pasangan orang tua kedua melakukan hal yang 

sama, dan sekali lagi jemaat menjawab. Sebagai contoh: 

 

Orang tua pertama :  “Kami berada di sini untuk membawa  ________ kepada 

Tuhan. Kami memohon berkat-berkat khusus dari Allah 

kiranya dicurahkan kepada kami sementara kami mendidik 

anak ini menjadi orang Kristen yang berkasihan. Kami 

memohon hikmat khusus. Dan kami bersyukur kepada Allah 

atas kesempatan istimewa ini.” 

Jemaat :  “Kami mendukung Saudara dalam panggilan suci untuk 

mendidik _________ dan berdoa bersamamu untuk 

memohon akal budi dan hikmat sementara kita membagikan 

hidupnya bersamamu.” 

Orang tua kedua :  (Mirip dengan yang pertama, tetapi dengan menyebutkan 

nama individu.) 

Jemaat :  (Jawaban disesuaikan dengan pernyataan dan menjanjikan 

dukungan jemaat.) 

 

Liturgi 3 

 

Bacaan bersahutan penyerahan anak pada masa suasana Natal harus memasukkan 

sedikit mengenai Penjelmaan Kristus. Contohnya, sejajarkan keajaiban kelahiran Yesus 

dengan kelahiran anak-anak ini: 

 

Pendeta :  “Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu 

kesukaan besar untuk seluruh bangsa. Hari ini telah lahir bagimu 

Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan di kota Daud” (Luk. 2:10, 11). 

“Penjelamaan Allah menunjukkan perhatian-Nya yang maha besar 

kepada anak-anak.” 

Para Bapa :  “Dan sebagaimana Allah Bapa memberikan anak-Nya bagi kita, 

kami membawa anak-anak kami pada pagi hari ini sebagai 

persembahan kepada-Nya.” 

Para Ibu :  “Allah telah memberikan banyak karunia. Kami memuji Dia pada 

hari ini oleh sebab  telah memberikan kepada kami karunia 

menciptakan kehidupan yang baru yang sekarang kami serahkan 

kepada-Nya.” 

 

Saran-saran Tambahan 

 

Berikut ini beberapa saran pengganti acdara penyerahan anak: 

 

1.  Suruhlah koor anak-anak atau bagian sekolah Sabat anak-anak menyanyikan lagu 

pada waktu orang-orang tua maju ke depan untuk acara penyerahan anak. 

2.  Ketahuilah arti nama anak-anak itu dan dasarkanlah khotbahmu pada ayat Alkitab 

atau pemikiran yang menguatkan arti nama itu. 

3.  Pada waktu mengembalikan anak kepada orang tuanya setelah memangkunya 

waktu berdoa, atau pada waktu engkau mengucapkan selamat kepada orang tua dan 

memberikan surat keterangan penyerahan anak, katakanlah kepada mereka masing-masing, 

“Terimalah anak ini, rawatlah ia baik-baik, dan didiklah dia bagi Tuhan.” 

4.  Jika pasanganmu memiliki  karunia atau kesudian, bagikanlah khotbah 

kepadanya. Biarlah suami berbicara kepada para bapa, dan isteri kepada para ibu. 

5.  Sediakanlah buletin khusus gereja untuk penyerahan anak, yang berisi gambar 

bayi yang akan diserahkan. Jangan tunjukkan sikap pilih kasih dalam hal ini oleh 

memberikan perlakuan seperti itu hanya kepada keluarga tertentu saja. 

6.  Ambillah foto-foto acara penyerahan anak itu. Berikan satu lembar kepada orang 

tua dan satu lembar untuk papan pengumuman gereja. 

PASAL 35 

 

Pentahbisan (Peresmian) Gereja 

 

Pentahbisan (peresmian) sebuah gereja haruslah salah satu acara yang harus 

direncanakan dengan cermat, yang dilakukan oleh seorang pendeta. Ini merupakan suatu 

kesempatan berharga bagi Gereja Masehi Advent hari Ketujuh untuk disorot oleh warga . 

 Bagi jemaat, hari itu merupakan hari perayaan setelah berhasil menyelesaikan sebuah proyek 

yang sulit. 

Para tamu memainkan bagian yang penting dalam acara pentahbisan. Pejabat-pejabat 

pemerintah kota dan para pendeta dari warga  sering diundang untuk mengikuti acara 

pentahbisan gereja. Oleh sebab  itu, tentukanlah tanggal pentahbisan jauh-jauh hari 

sebelumnya setelah berkonsultasi dengan para pimpinan konferens/daerah. 

 

Urutan Acara 

 

Urutan acara bisa seperti berikut: 

 

Lagu pujian pembuka 

Doa pembuka 

Pembacaan sejarah gereja 

Bacaan Alkitab 

Naynyian pilihan atau lagu pujian 

Khotbah pentahbisan 

Pengguntingan pita (opsi) 

Doa pentahbisan 

Lagu pujian atau nyanyian pilihan 

Doa penutup dan ucapan syukur 

 

Lagu pujian. – Lagu yang sesuai dengan acara pentahbisan gereja antara lain: “Raja 

Kekal, Pimpinlah” (Lagu Sion No. 30), “The Church Has One Foundation;”  “Glorious 

Things of Thee Are Spoken;”  “Christ Is Made the Sure Foundation;”  “Built on the Rock;”  

“Perhubungan Kita” (Lagu Sion No. 7); “Kepada Allah Beri Puji” (Lagu Sion No. 2). 

 

Sejarah gereja. – Melihat kenyataan bahwa hubungan mereka dengan jemaat 

biasanya tidak lama, maka para pendeta dan para pejabat konferens/daerah tidak boleh 

mendominasi acara pentahbisan gereja. Fasilitas gereja lebih banyak dimiliki jemaat dari pada 

kependetaan. Ketua atau para pimpinan gereja setempat, yang akarnya jauh menembusi 

sejarah berdirinya gereja, bisa lebih baik menceriterakan sejarah berdirinya gereja itu. 

Piagam atau keanggotaan seumur hidup harus diakui dan dihormati. Penghargaan 

yang wajar harus dinyatakan kepada mereka yang paling terlibat langsung dengan 

pembangunan gereja. 

Berikanlah pengakuan khusus kepada pendeta yang memimpin pembangunan. Sering 

pendeta, yang bekerja keras dan terlibat langsung dalam pembangunan, sudah pindah 

sebelum hutang-hutang dibayar dan bangunan diresmikan. Bahkan, pertentangan yang timbul 

dalam proses pembangunan pada masa-masa sulit, kadang-kadang menyebabkan pendeta itu 

dipindahkan. Pengorbanan yang sudah dilakukan harus diakui dan dihormati. 

Sejarah mencapai puncaknya dengan pengumuman rencana-rencana di hari yang 

akan datang dan program pelayanan warga . Gereja tidak boleh menekankan masa 

lalunya tanpa juga memproyeksikan rencana-rencananya di masa yang akan datang. 

Acara ini tidak boleh digunakan untuk memungut dana untuk membayar hutang-

hutang gereja yang masih ada. Semua hutang-hutang yang timbul sebagai akibat dari 

pembelian atau pendirian bangunan harus sudah luna sebelum bangunan gereja ditahbiskan. 

 

Bacaan Alkitab. – Bacaan Alkitab yang sesuai bisa dipilih dari 2 Tawarikh 6:14-42 

atau 1 Raja-raja 8:23-53 (Doa Salomo pada waktu pentahbisan Bait Suci). Paragraf-paragraf 

lain yang sering digunakan pada waktu pentahbisan gereja termasuk: 

 

Kel. 40:33-35   “Kemuliaan Tuhan memenuhi Kemah Suci.” 

1 Taw. 29:10-16   “Ya Tuhan, Allah kami, segala kelimpahan bahan-bahan yang  

kami sediakan ini untuk mendirikan bagi-Mu rumah . . . yaitu  dari 

tangan-Mu sendiri dan punya-Mulah segala-galanya.” 

2 Taw. 2:4  “Aku hendak mendirikan sebuah rumah bagi nama Tuhan, Allahku,  

untuk menguduskannya bagi Dia.” 

Neh. 4:6   “Tetapi kami terus m,embangun . . . sebab  seluruh bangsa bekerja  

dengan segenap hati.” 

Neh. 6:16  “Mereka . . . menjadi sadar, bnahwa pekerjaan itu dilaksanakan dengan  

bantuan Allah kami.” 

Neh. 12:27  “Mengadakan pentahbisanyang meriah dengan ucvapan syukur dan  

kidung.” 

Mzm. 27:3, 4  “Diam di rumah Tuhan seumur hiduipku.” 

Mzm. 48:9-14  “Kasih setia-Mu di dalam bait-Mu.” 

Mzm. 84  “Betapa disenangi tempat kediaman-Mu.” 

Mzm. 100  “Masuklah melalui pintu gerbang-Nya dengan nyanyian dan syukur.” 

Mzm. 122  “Aku bersukacita, ketika dikatakan kepadaku: ‘Mari kita pergi ke  

rumah Tuhan.’” 

 

Khotbah pentahbisan. – Khotbah harus pendek oleh sebab  berbagai alasan: 

 

1. Waktu terbatas oleh sebab  acara penuh. 

2. Pembicara memberikan amanat kepada “pendengar yang sedang berharap.”  

Mereka datang bukan untuk mendengar khotbah, tetapi untuk menyaksikan acara 

pentahbisan. 

3. Pentahbisan gereja biasanya dilaksanakan pada hari Sabat sore. Orang-orang  

sudah mendengar khotbah pada pagi hari. Setiap ayat yang disebutkan di atas bisa 

dikembangkan menjadi khotbah pentahbisan. Gunakan pendahuluan yang baik, seperti 

menyamakannya dengan pendaki gunung yang telah bekerja keras sekian lama, dan akhirnya 

dapat berdiri di puncak gunung menikmati pemandangan dan merayakan pencapaiannya. 

Sebagai tambahan kepada menuntun ke arah pentahbisan bangunan gereja, khotbah harus 

mengamanatkan pertanyaan penting lainnya: “Akankah ini menjadi gereja yang ditahbiskan?” 

Gereja bukan banguinan, tetapi sekelompok orang. Anggota-anggota jemaat harus 

mentahbiskan diri mereka sendiri, bukan hanya bangunan gerejanya (lihat Roma 12:1 ;  Mzm. 

127:1). 

 

Acara pentahbisan. – Pentahbisan itu sendiri berlangsung selama doa pentahbisan. 

Untuk meningkatkan partisipasi para pendengar, adakanlah bacaan bersahutan (litani) atau 

pembacaan sajak sebelum doa penyerahan (usulan bacaan bersahutan diberikan di bawah ini). 

Membakar kertas, yang melambangkan pinjaman atau hutang, boleh dilakukan pada 

waktu membacakan sejarah pendirian gereja. Ini bisa merupakan puncak acara, terutama 

kalau pada waktu yang lalu pada suatu ketika panitia pembangunan gereja berhutang, dan 

bahwa baru-baru ini hutang itu sudah diselesaikan semua. yaitu  tepat jika pada waktu 

pembakaran kertas itu dinyanyikan lagu-lagu pujian kepada Tuhan. 

 

Doa pentahbisan. – Doa pentahbisan harus lebih banyak mendapat perhatian dan 

persiapan. Contoh yang ideal mungkin yaitu  doa Salomo dalam 2 Tawarikh 6. Doa itu boleh 

mencakup yang berikut: 

 

• Bersyukur kepada Allah oleh sebab  menaruh dalam tangan umat-Nya 

bahan-bahan dan di dalam hati mereka kemauan untuk membangun. 

• Pengakuan dosa dan permohonan kecurahan Roh Kudus ke atas semua 

anggota jemaat. 

• Berkat-berkat bagi semua tamu yang hadir. 

 

Sekarang tibalah saatnya untuk pentahbisan. Doa itu diakhiri seperti ini: 

 

“Kami sekarang mentahbiskan bangunan/gedung ini kepada-Mu, Ya Allah, 

sebagai terang di tengah warga  di sini, 

sebagai rumah doa bagi segala bangsa.  

Untuk menyembah Allah, 

untuk mempertobatkan orang-orang berdosa, 

untuk mengkhotbahkan Kristus dan Firman-Nya, 

untuk persekutuan keluarga Allah, 

untuk menyelamatkan anak-anak kami, 

untuk tempat tinggal Allah, 

sekarang kami mentahbiskan rumah ini, dalam nama Bapa, Anak dan Roh Kudus. 

Amen.” 

 

Bacaan Bersahutan Pentahbisan 

 

Pendeta :  Untuk kemuliaan Allah, Bapa kita, yang oleh perkenan-Nya kita telah  

    membangun rumah ini; 

   Untuk kemuliaan Yesus, Anak Allah yang hidup, Tuhan dan Juruselamat  

   kita; 

   Untuk pekerjaan Roh Kudus, yang melayani kehidupan dan terang, 

 

Jemaat :  Kami mentahbiskan rumah ini, Ya Allah, kepada-Mu. 

 

Pendeta :  Untuk perbasktian di dalam doa dan nyanyian, 

   Untuk mengkhotbahkan dan mengajarkan Firman, 

   Untuk tempat penyelenggaraan peraturan-peraturan kudus, 

 

Jemaat :   Kami mentahbiskan rumah ini. 

 

Pendeta :  Untuk penghiburan bagi mereka yang berduka, 

   Untuk kekuatan bagi mereka yang dicobai, 

   Untuk pertolongan dalam hidup yang menyerupai Kristus. 

 

Jemaat :  Kami mentahbiskan rumah ini. 

 

Pendeta :  Untuk menguduskan keluarga, 

   Untuk menuntun anak-anak dan orang-orang muda, 

   Untuk keselamatan laki-laki dan perempuan, 

 

Jemaat :  Kami mentahbiskan rumah ini. 

 

Pendeta :  Untuk mempertahankan kebebasan, 

   Untuk melatih hati nurani, 

   Untuk mempertahankan Kristus dan hukum-Nya yang kudus, 

   Untuk peperangan melawan kejahatan, 

 

Jemaat :   Kami mentahbiskan rumah ini. 

 

Pendeta :  Untuk menolong yang berkekurangan, 

   Untuk melegakan mereka yang menderita, 

   Untuk mempercepat kedatangan Kristus, 

 

Jemaat :   Kami mentahbiskan rumah ini kepada-Mu, Ya Allah.. 

 

Pendeta :   Sebagai persembahan rasa syukur dan kasih mereka yang telah  

   mengalami pemberian kasih karunia Kristus, dengan sukarela kami  

   menyerahkan rumah ini sebagai persembahan kepada Allah kami. 

 

Jemaat :   Kami, anggota jemaat ini, yang sekarang mentahbiskan diri kami  

    kembali, mentahbiskan bangunan ini kepada kepentingan Kristus dan  

    kepada pelayanan umat manusia. 

 

Syair-syair Pentahbisan 

 

Dikau, yang baitnya tak bisa diukur 

 

Dikau, yang baitnya tak bisa diukur, 

Yang dibangun di seluruh bumi dan laut,  

Menerima tembok-tembok, yang tangan manusia, 

Telah bangunkan, Ya Allah, bagi-Mu’ 

 

Dan biarlah Penghibur dan Teman, 

Roh Kudus-Mu, bertemu, 

Dengan mereka yang datang berbakti di sini, 

Di hadirat takhta kemurahan-Mu. 

 

Semoga mereka yang bersalah dituntun ke sini, 

Untuk mendapatkan jalan yang lebih baik; 

Dan mereka yang berduka, dan yang takut, 

Semoga dikuatkan sementara mereka berdoa. 

 

Semoga iman menjadi teguh, dan kasih bertambah hangat, 

Dan penyerahan yang murni meningkat, 

Sementara di keliling dinding yang disucikan ini, 

Badai nafsu dunia mati. 

-- William Cullen Bryant. 

 

Inilah Yang Kita Minta 

 

Tuhan, berkatilah semua anggota jemaat-Mu di sini; 

Umat-Mu, Tuhan,yang mengasihi rumah-Mu dan Dikau, 

Dan semoga kami terdapat dalam kitab-Mu yang agung, 

Nama kami dicatat sepanjang zaman. 

 

Tuhan, berkatilah orang asing yang berkumpul bersama kami; 

Mungkin kesepian, dan jauh dari rumah, mereka perlu 

Penghiburan yang berbahagia dari rumah Bapa mereka, 

Roti hidup yang ditawarkan untuk makanan mereka. 

 

Allah, berkatilah mereka yang memberitakan kebenaran-Mu, 

Tinggallah di dalam hatinya, berbicaralah melalui kata-katanya, 

Sehingga setiap orang yang mendengar, ingin menemukan 

Hikmat dan penghiburan yang mereka cari. 

 

Dan bilamana pada akhirnya, doa berkat diucapkan, 

Kami boleh pergi, dikuatkan untuk menghadapi hari depan. 

-- Grace Noll Crowell. 

 

 

Pentahbisan Akhir Minggu 

 

Pentahbisan gereja tentu saja bisa dilakukan kapanpun, termasuk pada hari Sabat 

pagi. Tetapi, oleh sebab  pentahbisan yaitu  hari istimewa bagi jemaat yang bersangkutan, 

maka boleh dilakukan dengan memasukkan beberapa acara akhir minggu. Contohnya: 

Jumat malam – “Gereja kita disucikan.” Pada waktu ini bisa diadakan perjamuan 

kudus dan acara musik istimewa. 

Sekolah Sabat – “Gereja kita belajar.” Libatkanlah partisipan istimewa, seperti 

anggota-anggota lama atau mantan pendeta. 

Jam Kebaktian – “Gereja kita berbakti.” Undanglah pembicara tamu. 

Sabat petang – “Gereja kita dalam pentahbisan.” Acara pentahbisan. 

Sabat malam – “Gereja kita bersekutu.” Acara sosial. 

 

Brosur Pentahbisan 

 

Brosur (booklet) pentahbisan menjadi tanda kenang-kenangan yang berharga bagi 

para anggota jemaat. Sebagian gereja menjual brosur ini untuk membayar biaya cetak brosur. 

Jika engkau menerbitkan brosur (booklet), masukkan di dalamnya yang berikut: 

 

Urutan setiap acara pertemuan pada akhir minggu. 

Foto bangunan baru, mungkin ditaruh di halaman sampul depan. 

Bacaan bersahutan (litani) yang akan digunakan pada waktu pentahbisan. 

Nama-nama mantan gembala jemaat termasuk yang sekarang; jika mungkin, dengan 

foto mereka masing-masing dan tanggal masa jabatan mereka melayani. 

Nama-nama wakil konferens/daerah yang turut ambil bagian. 

Nama-nama panitia pentahbisan gereja. 

Sejarah ringkas gereja, termasuk gambar bagunan gereja yang lama. 

Nama-nama arsitek, pembangun dan panitia pembangunan. 

Fakta-fakta mengenai bangunan – tanggal-tanggal perletakan batu pertama, 

pembangunan dimulai, pertemuan pertama, dll.; kapasitas/daya tampung bangunan, biaya 

pembangunan, denah lantai, keterangan mengenai kegunaan tiap kamar dan sebagainya. 

Syair. 

 

Pembukaan Gereja 

 

Oleh sebab  Advent hanya mentahbiskan bangunan yang telah bebas hutang, maka 

sering terjadi anggota jemat telah pindah ke bangunan baru gereja sebelum bangunan itu 

selesai dibangun, dan lama sebelum bangunan itu ditahbiskan. yaitu  baik jika diadakan 

acara khusus  untuk peristiwa ini, walaupun acara itu tidak boleh dianggap penting sama 

seperti acara pentahbisan. Tentu saja musik memainkan bagian terbesar dalam acara yang 

menyenangkan seperti itu. 

Mungkin akan ada pengguntingan pita. Sebagian jemaat berbaris dari bangunan lama 

masuk ke bangunan baru. Orang-orang senang memasuki gedung baru, tetapi tidak suka 

meninggalkan kenangan manis pada bangunan yang lama. Untuk menjembatani bangunan 

yang lama kepada bangunan yang baru, gunakanlah sebagian barang-barang dari bangunan 

lama pada waktu pembukaan gereja baru. 

Baik acara pentahbisdan gereja maupun acara pembukaan gereja yaitu  peristiwa-

peristiwa yang patut dijadikan berita di kebanyakan tempat. Kesempatan ini harus digunakan 

sebaik-baiknya untuk menarik perhatian warga  yang menyenangkan  terhadap gereja 

dan programnya. 

PASAL 36 

 

Perjamuan Kudus 

 

Pentingnya Perjamuan Kudus 

 

Perjamuan kudus yaitu  ritual  khidmat dan menyelidiki hati, ritual  yang 

mendatangkan sukacita dan pengharapan. Jika direncanakan dan dilakukan dengan baik, 

perjamuan kudus akan mendatangkan dorongan dan pembaharuan kerohanian jemaat. Oleh 

sebab itu, memimpin upara perjamuan kudus yaitu  salah satu tugas paling suci seorang 

pendeta atau ketua. “Segala sesuatu yang berhubungan dengan itu harus dilakukan dengan 

persiapan yang sesempurna mungkin.”  “ritual  ini tidak boleh dilakukan tanpa bergairah” 

(Evangelism, hlm. 277, 278). 

 

Kapan Perjamuan Kudus dilakukan. – Peraturan Gereja menetapkan, “Dalam 

Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh Perjamuan Kudus biasanya dirayakan satu kali dalam 

satu kuartal” (hlm. 69).  Kata “biasanya” perlu ditekankan. Dari pernyataan Paulus, “Sebab 

setiap kali kamu makan roti ini dan minum cawan ini” (1 Kor. 11:26), dapat kita simpulkan 

bahwa Alkitab tidak menentukan seringnya Perjamuan Kudus dilakukan. 

Sebagai tambahan kepada yang sekali satu kuartal, Perjamuan Kudus bisa dilakukan 

pada hari-hari istimewa lain. Sebagian jemaat merencanakan mengadakan Perjamuan Kudus 

pada acara malam penyalaan lilin Hari Natal atau pada acara Tahun Baru, atau acara khusus 

untuk orang muda. Acara pembasuhan kaki harus selalu diikutkan dalam setiap Perjamuan 

Kudus. 

ritual  Perjamuan Kudus yang biasa harus dilakukan sebagai bagian dari acara 

perbaktian Sabat. Perjamuan Kudus itu terlalu penting untuk digabungkan ke pertemuan yang 

lebih kecil. Membatasi orang yang berpartisipasi pada Perjamuan Kudus hanya kepada 

mereka yang mau datang pada pertemuan khusus tertentu samalah artinya dengan mengakui 

kegagalan gereja membuat ritual  kudus ini penuh arti bagi anggota gereja secara 

keseluruhan. 

Perjamuan Kudus harus diumumkan paling sedikit seminggu sebelumnya supaya 

para anggota dapat menyediakan diri mereka dan para diakon dan diakones dapat 

menyediakan segala peralatan yang diperlukan. 

Siapa yang melaksanakan. – Para pendeta yang diurapi atau para ketua yang diurapi 

harus melaksanakan Perjamuan Kudus. Diakon-diakon membantu membagi-bagikan roti dan 

anggur. 

Siapa yang ikut ambil bagian. – Teladan Yesus yang mengizinkan Yudas ikut pada 

Perjamuan Kudus yang pertama membuktikan bahwa orang yang turut ambil bagian dalam 

Perjamuan Kudus tidak boleh dibatasi hanya kepada orang-orang Krisrten yang sudah dapat 

dijadikan contoh atau teladan. “Teladan Kristus melarang eksklusifisme pada Perjamuan 

Kudus Tuhan. Benar bahwa dosa yang diketahui orang mengecualikan orang yang bersalah 

itu. Hal ini jelas diajarkan oleh Roh Kudus. Tetapi di balik ini tak seorangpun boleh 

menghakimi. Allah tidak menyerahkan kepada manusia untuk mengatakan siapa yang boleh 

hadir dalam ritual  ini. sebab  siapakah yang dapat membaca hati?” (The Desire of Ages, 

hlm. 656). 

Paulus memang mengatakan, “Jadi barangsiapa dengan cara yang tidak layak makan 

roti atau minum cawan Tuhan, ia berdosa terhadap tubuh dan darah Tuhan” (1 Kor. 11:27). 

Tetapi ia tidak berbicara mengenai orang yang tidak layak yang ikut ambil bagian, melainkan 

mengenai mereka yang ikut ambil bagian dengan sikap dan perilaku  yang tidak layak. Dalam 

kasus orang Korintus, ini termasuk perselisihan pahit (1 Kor. 1:11), pihak-pihak yang iri hati 

dan suka bertengkar atau berselisih (1 Kor. 3:3), mabuk (1 Kor. 11:21), dan menganggap 

Perjamuan Kudus hanya sebagai acara sosial saja. 

Tunjukkanlah hal ini kepada mereka yang perasaan bersalahnya terlalu besar 

sehingga menghalangi mereka untuk turut ambil bagian dalam Perjamuan Kudus. Dalam 

mengumumkan ritual  Perjamuan Kudus, tekankanlah kesempatan yang diberikannya 

kepada para anggota untuk memperbaharui iman mereka dalam Yesus dan persekutuan 

mereka dengan sesama orang percaya yang lain. 

Orang-orang Advent menjalankan Perjamuan Kudus terbuka. Orang-orang dewasa 

yang merasa telah menyerahkan hidup mereka kepada Kristus boleh ikut ambil bagian. Tetapi 

“hendaklah tiap-tiap orang menguji dirinya sendiri dan baru sesudah itu ia makan roti dan 

minum dari cawan itu” (ayat 28). 

Tetapi anak-anak tidak boleh ikut ambil bagian sampai mereka sudah cukup dewasa 

untuk menerima pengajaran mengenai arti dari ritual  itu dan menyerahkan diri mereka 

kepada Kristus dalam baptisan. 

 

Masalah 

 

Orang yang hadir pada hari Sabat waktu Perjamuan Kudus akan diadakan cenderung 

lebih sedikit dari hari-hari Sabat lain. Sebagian orang melihat Perjamuan Kudus itu sebagai 

kewajiban yang m,embosankan dari pada kesempatan yang menyenangkan. Sebagian anggota 

yang sungguh-sungguh tidak mau ikut, mereka mengatakan, “Saya merasa tidak layak.”  

Bahkan sebagian para pemimpin tidak mau ikut dengan mengatakan, “Saya telah mengikuti 

Perjamuan Kudus di tempat lain.”  Mengapa orang merasa bosan mengikuti Perjamuan 

Kudus? Berikut ada empat alasan yang mungkin: 

 

1.  Kehilangan arti. – Dengan berlalunya waktu cenderung menghilangkan arti dari 

setiap ritual  agama atau tradisi. Akhirnya ritual -ritual  dilakukan hanya sebagai tradisi 

bukan sebab  pentingnya untuk kerohanian. Setiap gereja perlu mempelajari kembali tradisi 

Perjamuan Kudusnya dan menggalakkan kembali minat pada perayaannya. “Mengapa kita 

melakukan seperti yang kita lakukan?”  Jika jawabnya tidak benar-benar berdasarkan 

kerohanian, mungkin perlu waktu untuk mengadakan pembaruan cermat dan dengan penuh 

doa. 

Hati-hati! Memindahkan tradisi kembali kepada tujuan asal sipiritualnya sangat 

berbahaya. Orang-orang menolak perubahan. Terutama orang-orang Kristen yang teguh dan 

dapat diandalkan menolak perubahan. Dan mereka menolak hampir semua perubahan di 

gereja.  

Janganlah lakukan perubahan hanya demi perubahan, atau demi kenyamanan. 

Pembaruan yang cenderung membuat yang suci menjadi biasa harus dihindarkan. Tetapi 

doronglah perubahan jika praktik gerejamu menarik perhatian hanya kepada perayaan 

Perjamuan Kudus dan bukan kepada pelajaran rohani yang akan diajarkan Yesus. 

Inovasi atau pembaruan yang dianjurkan dalam pasal ini dan dalam Peraturan Gereja 

dimaksudkan untuk mendorong perubahan hanya untuk memelihara pengertian rohani tetap 

berada di atas tradisi yang tidak memiliki  arti. 

 

2.  Keadaan yang memalukan. – Orang yang agresif  dan yang mementingkan hal-

hal lahiriah susah mengertinya, tetapi anggota yang pemalu mendapati bahwa memilih 

pasangan untuk pembasuhan kaki yaitu  keadaan yang memalukan. Mereka takut ditolak. 

Pastikan bahwa para pemimpin yang mengerti selalu ada di sekitar mereka untuk menolong 

mendapatkan pasangan untuk pembasuhan kaki. 

3.  Sangat lama. – Acara Perjamuan Kudus berlangsung lebih lama daripada acara-

acara perbaktian lain. Bagi sebagian orang dan dalam beberapa kebiasaan hal ini tidak 

menjadi masalah, sebab  keindahan dan arti rohani dari acara itu membuat masalah waktu 

menjadi tidak berarti. Namun demikian, para pendeta harus peka terhadap perasaan semua 

anggota mereka. Apakah ada orang-orang tua yang mengalami kesulitan dengan anak-anak 

mereka yang sudah gelisah oleh sebab  acara berlangsung lama? Apakah anak-anak menjadi 

bosan oleh sebab  acara itu kurang relevan kepada mereka? Apakah ada anggota yang gelisah 

oleh sebab  mereka tidak ikuti ritual  Perjamuan atau anggota keluarga mereka yang bukan 

Kristen sedang menunggu di rumah untuk makan siang? 

4.  Perbedaan budaya. – Beberapa faktor budaya mempengaruhi cara pelaksanaan 

Perjamuan Kudus. Apa yang menarik dalam satu kebudayaan belum tentu demikian dengan 

yang lain. Perbedaan budaya dalam pelaksanaan Perjamuan Kudus tidak perlu dilarang 

selama perbedaan itu dapat dengan efektif mengajarkan pelajaran rohani yang dikehendaki 

Yesus. Pemimpin setempat dapat memberikan nasihat yang lebih baik mengenai apa yang 

patut dilakukan dalam satu kebudayaan tertentu. 

 

Khotbah 

 

Biasanya khotbah Perjamuan Kudus diberikan tepat sebelum para anggota berpisah 

untuk acara pembasuhan kaki. Salah satu variasi ialah memberikan pembicaraan singkat, 

memperkenalkan pembasuhan kaki. Simpanlah dulu bagian lain dari khotbah itu untuk 

disampaikan pada permulaan Perjamuan Tuhan. Ada dua keuntungannya: 1.  Akan lkebih 

sedikit orang yang meninggalkan gereja pada waktu berpisah untuk pembasuhan kaki. Oleh 

sebab  acara singkat, maka mereka akan cenderung tinggal dan mengikuti ritual . 2.  

Memberikan khotbah yang prinsipil tepat pada waktu Perjamuan Tuhan dimulai akan 

meningkatkan dampak rohani perbaktian itu. 

Lamanya khotbah mungkin tidak boleh lebih dari 10 menit. ritual  Perjamuan 

Kudus bukan acara berkhotbah. Berikut ini beberapa ayat yang dianjurkan untuk digunakan 

dalam acara khotbah pada Perjamuan Kudus: 

 

Yoh. 13:3-17 

Mat. 26:26-28 

Mark. 14:22-24 Yesus memulai pembasuhan kaki. 

Luk. 22:19-20  Yesus memulai Perjamuan Tuhan. 

Mat. 16:24  “Ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan  

mengikut Aku.” 

Mark. 14:18, 19 “Seorang di antara kamu akan menyerahkan Aku. Bukan  

aku, ya Tuhan?” 

Yoh. 6:53-56  “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jikalau kamu tidak  

makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu  

tidak memiliki  hidup di dalam dirimu.” 

1 Kor. 10:16,17 “sebab  roti yaitu  satu, maka kita, sekalipun banyak,  

yaitu  satu tubuh, sebab  kita semua mendapat bagian dalam 

roti yang satu itu.” 

Gal. 6:14  “Sebab olehnya dunia telah disalibkan bagiku dan aku bagi  

dunia.” 

1 Pet. 2:21  “sebab  Kristuspun telah menderita untuk kamu dan telah  

meninggalkan teladan bagimu.” 

Lihat juga The desire of Ages, “Hamba dari Hamba-hamba” dan “Untuk Mengenang 

Aku.” 

 

Membasuh Kaki 

 

Membasuh kaki yaitu  lambang yang paling kuat. Sebagian orang boleh jadi 

sanggup mengambil bagian dalam Perjamuan Kudus Tuhan tanpa banyak dampak pribadi. 

Tetapi, secara praktis, tidak mungkin seseorang menyodorkan kaki untuk dibasuh atau 

berlutut dan membasuh kaki orang lain tanpa mengetahui sedikit mengenai kerendahan hati. 

Mungkin itulah sebabnya bagian dari ritual  ini yaitu  yang paling sulit bagi sebagian 

orang. 

Jangan terima bahwa membasuh kaki di rumah boleh menggantikan aturan ini. 

Jangan lakukan pembasuhan kaki di antara acara sekolah Sabat dan acara gereja, dengan 

demikian menurunkan maknanya. Setiap usaha untuk mengurangi penekanan pembasuhan 

kaki akan secara berangsur-angsur menuntun kepada hanya mengikuti Perjamuan Kudus 

Tuhan saja. Hal ini telah terjadi di gereja-gereja yang lain yang pada suatu waktu 

mempraktekkan peraturan kerendahan hati tetapi akhirnya meninggalkannya sebab  dianggap 

merepotkan. 

Sebelum berpisah untuk membasuh kaki, berikan pengumuman yang cukup, 

undanglah para tamu untuk turut mengambil bagian atau menyaksikan. Doronglah para 

anggota untuk turut mengambil bagian. 

Laki-laki berpisah ke satu ruangan, dan wanita ke ruangan yang lain. Pastikan 

melayani orang yang cacat. Mungkin bisa disediakan ruangan bagi keluarga untuk membasuh 

kaki. Buku Peraturan Gereja mengatakan, “Di tempat-tempat yang berterima secara sosial 

dan di mana pakaian yaitu  sedemikian rupa sehingga tidak akan terdapat hal yang tidak 

sopan, maka pengaturan tertentu dapat dibuat bagi suami isteri atau orang tua dan anak yang 

telah dibaptis untuk dapat saling melayani dalam ritual  pembasuhan kaki” (hlm. 69). 

Pembasuhan kaki yaitu  waktu untuk membuat yang salah menjadi benar, untuk 

menjangkau mereka dengan siapa engkau berselisih, dan ini harus ditekankan. Kerenggangan 

sering terjadi antara suami dan isteri atau antara orang tua dan anak-anak. Hari Perjamuan 

Kudus dapat menjadi waktu yang paling tepat untuk mempersatukan keluarga-keluarga. 

Tetapi jangan tekankan pembasuhan kaki sekeluarga sehingga melalaikan mereka 

yang ada di dalam gereja yang tidak memiliki  pasangan nikah.  

Para diakon dan diakones harus menyediakan waskom dan air yang cukup 

sebelumnya, lebih disukai yang hangat jika memungkinkan. Juga handuk yang cukup harus 

disediakan agar setiap orang memperoleh satu handuk yang bersih. Waskom, sabun dan 

handuk harus disediakan supaya semua boleh mencuci tangan mereka sesudah selesai ritual  

pembasuhan kaki. 

Lagu pujian boleh dinyanyikan atau musik dimainkan selama pembasuhan kaki. 

Masing-masing yang ambil bahagian boleh mengucapkan doa pendek sebelum mulai 

membasuh kaki. Kedua kaki harus dibasuh. Pasangan biasanya mengakhiri dengan saling 

berpelukan.  

Para peserta kembali ke dalam ruangan gereja sesudah selesai ritual  pembasuhan 

kaki. Kalau mereka yang mengambil bahagian tidak terlalu banyak, mereka boleh 

membentuk lingkaran, saling berpegangan tangan, mungkin menyanyikan lagu seperti 

”Perhubungan Kita” (LS. No. 7), dan berdoa bersama sebelum kembali ke dalam gereja.  

Para diakon dan diakones harus ikut ambil bagian dalam pembasuhan kaki, tetapi ada 

baiknya mereka lebih dahulu melakukan pemasuhan kaki di antara sesama mereka, mungkin 

pada waktu mereka mempersiapkan semua peralatan. Anggota jemaat tidak perlu menunggu 

diakon dan diakones dilayani sesudah mereka selesai menunggu yang lain. Lima belas menit 

waktu yang sangat berharga bisa hilang oleh sebab  perencanaan yang tidak baik pada 

peralihan dari pembasuhan kaki ke Perjamuan Kudus Tuhan. 

Jika ruangan gereja kosong selama pembasuhan kaki dan jika para tamu diminta 

untuk tetap tinggal di dalam ruangan gereja, perencanaan untuk menjaga kesucian harus 

dibuat dan dijalankan. Musik bisa dimainkan. Gunakan waktu itu untuk bercerita kepada 

anak-anak yang belum dibaptis. Tunjuk seseorang untuk menceritakan cerita yang 

memberikan pelajaran dari Perjamuan Kudus Tuhan. Buatlah acara Perjamuan Kudus itu 

waktu untuk anak-anak merasa diperhatikan, bukan diabaikan. 

 

Perjamuan Kudus Tuhan 

 

Segera sesudah acara pembasuhan kaki selesai, suruhlah seseorang memimpin untuk 

menyanyikan lagu-lagu pujian. Pilihlah lagu-lagu pujian yang sesuai. Lagu-lagu pujian 

seperti itu menciptakan roh yang sesuai sementara para anggota berkumpul kembali di dalam 

gereja. Lagu-lagu pujian itu bisa juga bertindak selaku nyanyian pendahuluan sementara 

pendeta dan ketua-ketua mengambil tempat di meja Perjamuan, yang diikuti oleh para diakon 

yang mengambil tempat di kursi baris depan. 

Anggur dan roti di atas meja Perjamuan harus ditutup sebelum dan sesudah acara 

selesai. Kadang-kadang penutup tersendiri ditaruh atas tempat roti dan anggur, atau seluruh 

meja bisa ditutupi. Dua orang diakones boleh diundang untuk duduk di baris depan untuk 

membuka penutup meja, dan menutupnya kembali sesudah acara selesai, walaupun kebiasaan 

ini tidak memiliki  relevansi langsung dengan kejadian di bilik yang di atas atau pelajaran 

yang diajarkan oleh Yesus. 

Pendeta atau ketua yang bertugas membuka penutup tempat roti dan membacakan 

ayat-ayat yang sesuai, seperti 1 Korintus 11:23, 24. Para anggota jemaat tetap tinggal duduk 

dengan menundukkan kepala, dan mereka yang melayani di meja berlutut sementara ketua 

yang melayani memohon berkat Allah atas roti. 

Sesudah selesai berlutut, pendeta dan ketua-ketua secara simbolis memecah-

mecahkan roti. (Sebagian besar sudah harus dipecah-pecahkan sebelum ritual  itu.) Roti itu 

diberikan kepada para diakon, yang akan membagi-bagikan kepada para anggota. 

Bilamana para diakon kembali dari melayani para anggota, ketua-ketua dan pendeta 

saling melayani sesama mereka. Yang memimpin ritual  mengulangi kembali ayat yang 

sesuai, seperti kata-kata Yesus dalam 1 Korintus 11:24, kemudian memimpin jemaat 

memakan roti, diikuti oleh doa dalam hati. 

Pemimpin menutup tempat roti, kemudian membuka penutup anggur, lalu membaca 

ayat yang sesuai seperti 1 Korintus 11:25, 26. Salah seorang ketua mengucapkan doa berkat 

atas anggur, lalu kemudian anggur dibagikan oleh para diakon. Pemimpin mengulangi ucapan 

Yesus seperti yang tertulis dalam 1 Korintus 11:25, lalu mengajak anggota jemaat untuk 

meminum anggur disertai doa dalam hati. 

Kemudian para diakon mengumpulkan gelas-gelas dan mengembalikannya ke atas 

meja, lalu ditutup oleh pemimpin. Diakones menutup meja kembali. 

Jika cara ini diikuti, para diakon paling sedikit enam kali bolak balik di gang di 

antara deretan tempat duduk, yang cenderung lebih banyak menarik perhatian peserta 

daripada kepada pelajaran rohani dari Perjamuan Kudus Tuhan. Tentu saja ada cara yang 

lebih singkat dan sederhana untuk menyajikan anggur dan roti tanpa mengurangi makna 

rohani yang dilambangkannya. Para diakon boleh membawa roti dan anggur pada waktu yang 

sama di atas baki dan menyajikannya bersamaan. Mereka boleh menaruh baki itu di tempat 

khusus di sebelah belakang. Para peserta boleh meninggalkan gelas-gelas di tempat duduk 

atau di rak yang terdapat di belakang bangku. Doa-doa berkat, pembacaan ayat-ayat, 

memakan roti dan meminum anggur boleh berlangsung dengan urutan yang sama. 

Membagikan roti dan anggur yang singkat menolong mempersingkat waktu yang tidak ada 

hubungannya dengan kerohanian, dan memusatkan pikiran hanya pada hal-hal rohani dari 

ritual  itu. 

Pada waktu roti dan anggur dibagikan, sajikan musik khusus yang berhubungan 

dengan pelajaran mengenai Perjamuan Kudus Tuhan. Pilihan lain termasuk pembacaan ayat-

ayat Alkitab, kesaksian-kesaksian, lagu pujian atau musik instrumental. Harus diusahakan 

agar jangan terlalu lama tenggang waktu antara partisipan menerima roti dan waktu untuk 

memakannya. 

Perjamuan Kudus harus selalu diakhiri dengan sukacita. Kesalahan-kesalahan telah 

diperbaiki. Dosa-dosa telah diampuni. Pengharapan telah dipulihkan. Sudah tiba saatnya 

untuk bersukacita. Akhirilah dengan nyanyian gembira penuh sukacita, seperti “Kepada Allah 

Bri Puji” (LS. No. 2), “Betapa Snang Aku Kabarkan” (LS. No. 120), dan lain-lain. 

Sesudah lagu pujian berakhir, maka jemaat dibubarkan dengan doa berkat atau 

dengan doa dalam hati. Sementara para hadirin keluar, para diakon boleh berdiri di muka 

pintu dan mengumpulkan persembahan untuk membantu orang-orang miskin. 

Sesudah ritual  selesai, para diakon dan diakones membuang sisa roti dan anggur 

dengan cara yang terhormat. Dalam keadaan apapun, roti dan anggur yang sisa tidak boleh 

dimakan atau diminum. 

Dianjurkan agar gereja kita memakai gelas Perjamuan Kudus sendiri. Hal ini akan 

membuat seluruh anggota jemaat dapat mengambil bahagian meminum anggur secara 

serentak, dan juga mencegah penularan penyakit oleh sebab  memakai  gelas secara 

umum. 

 

Saran-saran Tambahan 

 

1.  Khotbahkanlah mengenai Perjamuan Kudus pada hari Sabat sebelumnya. 

Mungkin salah satu alasan mengapa anggota jemaat kehilangan pandangan mengenai 

pelajaran dari ritual  Perjamuan Kudus ialah sebab  sedikitnya waktu berkhotbah pada 

waktu Perjamuan Kudus. Gunakanlah hari Sabat sebelum hari Sabat Perjamuan Kudus itu 

diadakan untuk menjelaskannya. 

2.  Masukkan bacaan bersahutan (litani) “undangan kepada meja perjamuan.”  Kira-

kira seperti yang berikut ini bisa dimasukkan ke dalam acara pada permulaan Perjamuan 

Kudus Tuhan: 

Pemimpin :  “Sekarang kita memasuki waktu untuk memperoleh berkat- 

                           berkat khusus. 

Anggota :  “Kita datang untuk mengharapkan berkat-berkat itu.” 

Pemimpin :  “Bilamana kita memakan . . .  

Anggota :  Kita mengingat tubuh Kristus yang dipecah-pecahkan.” 

Pemimpin :  “Bilamana kita meminum . . . 

Anggorta :  Kita mengingat darah Kristus yang dicurahkan.” 

Pemimpin :  “Nyatakanlah diri-Mu kepada kami, ya Tuhan, sebagaimana 

                           Engkau menyatakan diri-Mu kepada murid-murid-Mu pada  

                           zaman dahulu.” 

Anggota :  Berkatilah meja kami dengan kehadiran-Mu, dan berikanlah  

                           kepada kami rasa pendahuluan pesta yang akan datang.” 

Semuanya :  “Datanglah, sebab  semuanya sudah siap.” 

 

3.  Masukkan bacaan besahutan (litani) “mengambil bagian.”  Pada waktu partisipan 

mengambil bagian, masing-masing menyebutkan namanya: 

Pemimpin :  “Inilah tubuhku . . .” 

Anggota :  “Yang dipecah-pecahkan untuk _________.” 

 

* * * * * 

Pemimpin :  “Inilah darahku . . .” 

Anggota :  “Yang dicurahkan untuk _________.” 

 

4.  Layanilah anggota-anggota gereja yang tidak mampu hadir di gereja. Aturlah para 

diakon dan diakones untuk mengadakan Perjamuan Kudus bagi mereka yang tidak mampu 

datang ke gereja untuk mengikuti ritual  Perjamuan Kudus Tuhan. Hal ini menjamin agar 

setiap orang yang tidak mampu datang ke gereja mendapat empat kali  Perjamuan Kudus 

dalam setahun. Biasanya pembasuhan kaki tidak diadakan, oleh sebab  orang itu tidak 

sanggup membasuh kaki orang lain. 

5.  Adakan Perjamuan Kudus tambahan khusus bagi orang-orang muda. Undanglah 

para orang muda untuk mengikuti acara istimewa ini, mungkin diadakan di rumahmu. 

Rencanakanlah acara ini dengan baik sehingga Perjamuan Kudus itu mengajarkan pelajaran 

rohani dan menjadi kenangan yang tidak bisa dilupakan oleh orang muda, oleh sebab  

ritual  itu istimewa. ritual  ini tidak boleh menggantikan partisipasi orang muda dalam 

Perjamuan Kudus setiap kuartal. 

 

Resep 

 

Hanya roti yang tidak beragi dan anggur yang tidak difermentasi yang boleh 

digunakan pada Perjamuan Kudus Tuhan. Bilamana tidak mungkin mendapatkan buah 

anggur, juice anggur, atau konsentrat buah anggur, maka juice dari kismis boleh digunakan. 

Di daerah-daerah terpencil di mana bahan-bahan ini tidak tersedia, maka konferens atau 

daerah misi akan memberikan petunjuk atau bantuan. 

 

Resep untuk roti Perjamuan 

 

Bahan-bahan: 

1 mangkuk tepung terigu halus (lebih disukai terigu utuh) 

¼ sendok teh garam 

2 sendok makan air dingin 

¼ mangkuk minyak zaitun atau minyak sayur 

 

Cara membuat: Ayaklah tepung dan garam bersama-sama. Tuangkan air ke dalam 

minyak, tetapi jangan dikocok. Tambahkanlah ini ke bahan-bahan kering dan aduk dengan 

garpu sampai seluruh tepung menjadi lembab. Ratakanlah di antara dua lembar kertas lilin 

(waxed) menjadi setebal kue kering (pastry). Taruhlah di atas pemanggangan roti yang tidak 

dibubuhi minyak dan tepung, dan tandailah dengan memakai  pisau tajam menjadi empat 

persegi sebesar sekali mengigit, tusuklah dengan hati-hati setiap roti persegi empat itu untuk 

mencegah jangan sampai menggelembung. Pangganglah selama 10 sampai 15 menit dengan 

panas 450º F. Perhatian baik-baik selama 5 menit terakhir jangan sampai gosong. Cukup 

untuk 50 orang. 

 

Resep alternatif untuk roti Perjamuan Kudus 

 

Bahan-bahan: 

1 mangkuk tepung terigu halus (lebih disukai tepung utuh) 

¼ sendok teh garam 

3 sendok makan minyak sayur murni 

4 ½ sendok makan air dingin 

 

Cara membuatnya:  Taruhlah minyak dalam mangkuk besar (mangkuk sup) dan 

tambahkan garam. Dengan pelan-pelan tambahkan air, sambil mengocok dengan garpu 

sampai seluruh bahan menjadi emulsi putih yang kental. Dengan cepat tambahkan tepung dan 

campur pelan-pelan menjadi adonan. Taruh di atas papan membuat roti. Gulunglah berulang-

ulang dan pukullah dengan pemukul kayu atau penumbuk kentang sampai elastis (5 atau 6 

menit). Ratakan menjadi kira-kira setebal kulit pastel, taruh di atas tempat memanggang yang 

di olesi minyak, dan tandai dengan pisau tajam menjadi persegi empat dengan ukuran sekali 

gigit. Pangganglah dengan panas 400º F. Pangganglah sampai berwarna coklat sedikit, sebab 

berwarna coklat akan memberikan citrarasa yang kuat. 

 

Anggur yang tidak difermentasi. – Pilihlah buah anggur yang baik, lepaskanlah  dari 

tangkainya dan rebuslah dalam panci enamel (email) sampai mendidih. Saring dengan 

kain kasar, lalu rebus selama 5 menit. Tepat sebelum juice mendidih, sendokilah semua 

buih yang timbul. Bilamana juice sudah mencapai titik mendidih, tuangkanlah ke 

dalam botol yang kuat yang telah disterilkan dan dijaga tetap hangat supaya tidak 

pecah pada waktu juice panas dimasukkan ke dalamnya. Isilah sampai kira-kira 

setengah inci di bawah tutupnya dan tutuplah segera. Potong tutup botol sama dengan 

mulut botol, lalu segel dengan lilin. Simpanlah di tempat yang gelap, dan jangan 

pindahkan botol jika tidak perlu.  

 

PASAL 37 

 

ritual  Penguburan 

 

Pada baptisan orang memandang pada calon yang dibaptiskan. Pada pernikahan 

orang memandang pada mempelai yang dinikahkan. Tetapi pada ritual  penguburan orang 

memandang kepada Allah. Janganlah buat ritual  penguburan suatu yang mengerikan. 

Wajar semua orang membenci kematian, dan engkau harus mengambil keuntungan yang 

sepenuhnya dari setiap kesempatan di mana orang-orang memandang kepada Allah. 

Hormatilah kebiasaan budaya setempat sementara engkau menangani kematian dan 

ritual  penguburan – tetapi hanya sejauh tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip Kristen 

dan ajaran Alkitab mengenai kematian. Dorong anggotamu untuk beralih dari kebiasaan 

budaya yang percaya pada kebakaan jiwa dan perlunya menenangkan roh-roh. 

Hormatilah tradisi jemaatmu. Setiap gereja cenderung memiliki  kebiasaan ritual  

penguburan. Sebagai contoh, sebagian mengantarkan makanan ke rumah orang yang sedang 

berduka, yang lain menyediakan makanan di gereja sesudah ritual  penguburan. Sebagian 

melakukan ritual  penguburan di gereja; yang lain memakai  ruangan yang khusus 

untuk ritual  penguburan. Sebagian menjadwalkan melihat orang yang sudah meninggal 

pada waktu orang-orang memasuki gereja untuk mengadakan ritual  penguburan, sementara 

yang lain sebelum pemberangkatan jenazah, dan yang lain lagi bahkan tidak sama sekali. 

Pelajarilah kebiasaan ritual  penguburan jemaatmu yang baru sebelum melaksanakan 

ritual  penguburan yang pertama. 

Oleh sebab  kebudayaan dan jemaat sangat bervariasi, hanya penuntun dasar yang 

akan diberikan di sini. Penuntun ini mungkin membutuhkan penyesuaian supaya cocok 

dengan kebiasaan setempat. 

 

Sebelum ritual  

 

Mengunjungi keluarga yang berduka. – Kunjungilah secepatnya, jika mungkin.  

Tidak usah berbicara banyak. Orang-orang sangat terguncang. Pikiran mereka sedang 

lumpuh. Ini bukan waktunya untuk memberikan ceramah teologia. Orang yang berduka 

mengingat sangat sedikit mengenai apa yang dikatakan selama waktu  guncangan pertama ini, 

tetapi mereka akan mengingat bukti-bukti nonverbal yang menyatakan bahwa angkau perduli 

kepada mereka. Mereka akan mengingat bahwa engkau meninggalkan segalanya agar bisa 

datang mengunjungi mereka. Mereka akan mengingat rangkulan yang dilakukan dari lubuk 

hati yang terdalam. Isteri pendeta yang perduli sering lebih efektif terhadap wanita-wanita 

yang sedang berduka daripada suaminya yang yaitu  pendeta. Saling berpegangan tangan 

waktu berdoa pada umumnya sangat berterima. 

Berikan bantuan gereja. Orang-orang yang berduka jarang memakai  saran, 

“Beritahukanlah kepada kami jika ada yang bisa kami bantu.”  Mereka tidak mau menduga-

duga dan mungkin tidak bisa berpikir cukup jernih untuk mengetahui apa yang akan diminta. 

Oleh sebab itu, berikanlah saran spesifik bagaimana gereja bisa membantu: memberitahu 

sanak saudara dan sahabat-sahabat, menjawab telepon atau pintu, membawa anak-anak ke 

rumah anggota sehari atau dua hari, menyediakan makanan atau membersihkan rumah 

sebagai persiapan kepada rombongan. 

Tetapi jangan berusaha untuk menggantikan orang yang berduka itu dari melakukan 

pekerjaan yang akan dilakukan. Membuat mereka tetap sibuk yaitu  salah satu obat penawar 

dukacita yang ampuh. Membuat mereka tidak melakukan apa-apa akan menambah 

kemurungan (depresi). Orang yang berdukacita harus diizinkan untuk melakukan sebanyak 

mungkin kegiatan selama masa krisis itu. 

Berikan bantuanmu sebagai gembala jemaat. Selalulah mulai dengan menganggap 

bahwa keluarga mungkin menginginkan seseorang yang lain yang akan melaksanakan 

ritual  penguburan. Tanyakanlah, “Sudahkah Anda menghubungi pendeta yang Anda 

inginkan untuk melaksanakan ritual  penguburan?” Keluarga juga mungkin menginginkan 

seseorang untuk menyanyi, mengangkat peti jenazah atau untuk membantu pendeta dalam 

ritual  itu. 

Jika engkau pernah diundang menjadi pendeta tamu untuk melaksanakan ritual  

penguburan di distrik gembala jemaat lain, bekerjalah erat dengan gembala jemaat setempat. 

Doronglah keluarga yang berduka agar gembala jemaat mereka membantumu. 

Jika keluarga yang