gereja masehi 14

Tampilkan postingan dengan label gereja masehi 14. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label gereja masehi 14. Tampilkan semua postingan

gereja masehi 14


 


murid-Ku . . .  

Baptislah mereka . . .  Dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan 

kepadamu” (Mat. 28:19, 20). Dalam bahasa Yunani “pergi,” “ajar,” dan “baptiskan” semua yaitu  kata 

kerja pembantu. Kuasanya dapat diperoleh dari kata kerja “jadikan murid.” Pergi, membaptis dan 

mengajar belum berakhir dalam kata itu; ketiganya sarana untuk akhir menjadikan murid. Maksud Yesus 

ialah bahwa bisnis gereja ialah menjadikan murid. 

 

Terlalu banyak gereja Advent seperti nelayan yang setelah selesai menangkap ikan dia tidak dapat 

menunjukkan apa-apa sebab  dimasukkan ikan ke dalam kantong dengan lubang kecil di bawahnya. Allah 

telah memberkati gereja kita dengan kemajuan dalam memancing jiwa. Tetapi kita tidak menyimpan 

semua yang kita tangkap. 

 

Menjahit lubang di kantong itu tidak menggantikan tugas menangkap ikan. Gereja yang tidak 

menjalankan evangelisasi akhirnya akan menjadi fosil. Tetapi kita juga harus menyadari bahwa bisnis kita 

ialah menangkap dan mempertahankannya. 

 

Berikanlah prioritas pertama kepada anggota baru. — Allah berbicara keras kepada para gembala yang 

tidak memberikan prioritas kepada domba-domba yang lemah. “ . . .  Celakalah gembala-gembala Israel, 

yang menggembalakan dirinya sendiri! Bukankah domba-domba yang seharusnya digembalakan oleh 

gembala-gembala itu? Kamu menikmati susunya. Dari bulunya kamu membuat pakaian, yang gemuk 

kami sembelih, tetapi domba-domba itu sendiri kamu tidak gembalakan. Yang lemah kamu tidak kuatkan, 

yang sakit tidak kamu obati, yang luka tidak kamu balut, yang tersesat tidak kamu bawa pulang, yang 

hilang tidak kamu cari, melainkan kamu injak-injak mereka dengan kekerasan dan kekejaman. Dengan 

demikian mereka berserak, oleh sebab  gembala tidak ada . . .” (Yeh. 34:2-5). 

 

Anggota baru cenderung melewati empat macam krisis: 

1. Krisis kekecewaan datang dengan cepat sebab  tidak dapat menghidupkan standar kehidupan 

yang tinggi sesuai dengan penyerahan waktu baptisan. 

2. Krisis integrasi datang setelah beberapa bulan dan ini terjadi ketika mereka gagal      

menggantikan teman-teman dari kehidupan yang lama dengan teman-teman di jemaat baru. 

3. Krisis nilai barangkali datang kemudian ketika diabaikan pelajaran Alkitab dan kebaktian 

keluarga dan pola hidup Advent semakin banyak berkompromi 

4. Krisis kepercayaan dalam kepemimpinan datang satu atau dua tahun setelah baptisan ketika 

mereka diberikan tanggung jawab dan melihat di dalam cara bekerja yang tidak sempurna dari 

gereja, sehingga mereka menjadi kecewa. 

 

Pendeta harus memperhatikan krisis-krisis ini, terutama dua tahun pertama permulaan keanggotaan 

seseorang. 

 

Milikilah satu sistem persahabatan. — Tempatkanlah anggota baru dekat kepada seseorang yang 

mereka hormati dan yang peduli kepada mereka. Catatlah tiga golongan yang memenuhi syarat. Kita 

perlu mendekatkan anggota baru kepada seseorang. Secara alamiah kita cenderung menghadapi 

kelemahan-kelemahan anggota dengan memperbaikinya atau menolaknya, dengan menjaga jarak antara 

kita. Cara Kristen ialah merapatkan diri sehingga dapat menopang mereka. Roma 15:1 menasihatkan: 

“Kita yang kuat wajib menanggung kelemahan orang yang tidak kuat dan jangan kita mencari kesenangan 

kita sendiri.” Menanggung kelemahan seseorang, Anda merangkulnya dan mengundang orang itu 

bersandar kepadamu. Anda harus merapatkan diri sampai kekuatanmu dapat menolong kelemahan 

sahabatmu itu. 

 

Tempatkanlah mereka dekat kepada seseorang yang mereka hormati. Pengawasan kerohanian 

berlangsung baik jika pengawasan itu yaitu  seorang yang dihormati, yang serasi dan menarik kepada 

anggota baru. Tetapi jikalau yang lebih berhasil, anggota yang lebih terdidik yang lebih lama dalam 

gereja, tidak mau membagikan waktu untuk anggota baru yang masih semrawut, anggota baru itu jarang 

berkembang. 

 

Tempatkanlah anggota baru itu dekat kepada seseorang yang peduli akan mereka. Orang jarang 

meninggalkan suasana atau lingkungan yang membutuhkan mereka, di mana mereka merasa dibutuhkan, 

merasa penting dan dikasihi. Jikalau anggota baru telah merasa dikasihi di tempat lain. Mereka tidak akan 

mau datang. Jikalau di sini mereka tidak merasa dikasihi, tidak ada kesempatan mereka tinggal di sini. 

 

Bentuklah semacam sistem pengawasan, sponsor, wakil gembala atau sistem persahabatan di mana setiap 

anggota baru dianggap oleh seorang yang berpengalaman. Anggota baru yang dibawa oleh anggota lama 

ke dalam gereja hampir sudah memiliki  pengawas otomatis, dan inilah satu alasan yang nyata bahwa 

mereka yang datang ke dalam gereja dengan cara ini cenderung bertahan di dalam. 

 

Evangelis itu diumpamakan sebagai seorang dokter kebidanan, pendeta sebagai dokter anak-anak, dan 

anggota sebagai keluarga. Dan keluargalah yang membesarkan bayi itu. “Mereka yang baru masuk ke 

dalam kebenaran haruslah diperlakukan dengan sabar dan dengan lemah lembut. yaitu  tugas anggota 

yang lebih tua untuk menciptakan cara dan sarana menyediakan pertolongan dan rasa simpati dan 

pengajaran bagi mereka yang dengan sadar telah menarik diri dari gereja lain demi kebenaran, dan dengan 

demikian memutuskan hubungan dengan pendetanya yang sudah terbiasa dengan pelayanannya” 

(Evangelism, hlm. 351). 

 

Satu cara menjalankan satu program pengawasan ialah mempertemukan semua pengawas dalam latihan. 

Barangkali mereka harus menyerahkan diri untuk melaksanakan tugas itu paling sedikit satu tahun. 

Pertemukanlah anggota dengan pengawas pada hari Sabat pagi sebelum atau sesudah baptisan. Mereka 

yang sudah dibaptiskan maju ke depan dan berdiri menghadap jemaat. para pengawas mereka juga maju 

ke depan dan berdiri menghadap anggota-anggota baru. Bacakanlah satu tantangan untuk anggota baru 

dan yang lain untuk para pengawas. Para pengawas menyalami anggota baru, dan inilah yang menjadi 

ucapan selamat datang ke dalam jemaat. 

 

Para pengawas diminta supaya melapor kepada gembala atau ketua paling sedikit sekali satu triwulan 

sambil menunjukkan yang mana dari daftar tugas yang sudah dilaksanakan. Daftar tugas pengawas itu 

harus mencakup: Kunjungilah rumah anggota baru itu pada hari pembaptisannya untuk melanjutkan 

selamat datang yang lebih bersifat pribadi, barangkali menyerahkan sertifikat baptisan. Ciptakanlah pola 

pemelihara hari Sabat dengan mengundang dia ke rumahmu pada Jumat sore untuk perbaktian buka 

Sabat, dan pada hari lain untuk makan siang atau acara siang pada hari Sabat. (Pola hidup baru lebih baik 

dicontohkan daripada dipelajari). Berikan buku-buku tertentu pada waktu yang sesuai. Perkenalkanlah 

perpustakaan gereja kepada anggota baru itu. Sediakanlah bahan bacaan dari uni seperti Warta Gereja, 

majalah Rumah Tangga dan Kesehatan atau brosur lainnya. Tunjukkanlah perhatianmu dalam 

kehadirannya. Janganlah biarkan satu pertemuan berlalu tanpa mengucapkan sedikit kata persahabatan 

kepadanya. 

 

Perkenalkan anggota baru kepada anggota jemaat lainnya. (Hasil riset menunjukkan bahwa anggota baru 

yang dapat mengikat persahabatan dengan enam sampai delapan sahabat Advent dalam enam bulan 

pertama hampir selamanya tinggal dalam gereja). Duduklah dekat mereka dalam perkumpulan jikalau ini 

dikehendakinya. Setelah mereka melewati masa pendewasaan dalam kelas pendeta, biarlah mereka 

berintegrasi dengan kelas Sekolah Sabatmu. 

 

Teruskan memberi petunjuk. — “Dan jadilah sama seperti bayi yang baru lahir, yang selalu ingin akan 

susu yang murni, dan yang rohani, supaya olehnya kamu bertumbuh dan beroleh keselamatan” (1 Ptr. 

2:2). Tidak pernah seorang makan cukup banyak makanan sekali dalam satu pesta untuk kebutuhan 

selama hidup. Tidak ada seri penginjilan atau seri pelajaran Alkitab menyediakan cukup makanan rohani 

yang bermanfaat dalam sisa hidup seorang itu. teruskan memberi petunjuk setelah baptisan. 

 

Anggota-anggota keluarga biasanya tidak benar cara makannya jika mereka tidak datang ke meja makan. 

Paling sedikit kita harus memasukkan acara Sekolah Sabat dan kehadiran di jam khotbah ke dalam rumus 

pemuridan kita. Anggota yang absen harus dilawat sesegera mungkin dan memberikan pertolongan dan 

dukungan yang dia perlukan. Haruslah diberitahukan kepada ketua jemaat atau gembala apabila seseorang 

tidak hadir di acara gereja tiga kali berturut-turut. 

 

Kelas pendeta atau kelas anggota baru haruslah menjadi sebagian dari program gereja. Jikalau mereka 

diajar pada jam pelajaran Sekolah Sabat, itu akan mendorong satu kebiasaan mengikuti acara Sekolah 

Sabat dan gereja. Kelas seperti itu akan menyajikan makanan rohani yang cocok dengan selera dan 

pencernaan anggota baru itu. 

 

Judul pelajaran harus mencakup doktrin, memelihara hari Sabat, perbaktian, kesehatan, keuangan, 

mempelajari Alkitab sendirian, hidup dengan permintaan doa, kebaktian keluarga, hubungan keluarga, 

pendidikan Kristen dan bersaksi. Tekankan pengalaman berhubungan dengan Kristus. bantulah anggota 

baru itu mengenal Alkitabnya. Sediakan waktu untuk membagikan pengalaman dan perasaan. 

 

Satu seri evangelisasi tindak lanjut sangat menolong mengulangi perincian kebenaran yang sudah 

dihadapkan dalam penampilan yang berbeda. Berikan perhatian khusus kepada kebenaran yang 

dinubuatkan dalam buku Daniel dan Wahyu. 

 

Biarkan mereka bekerja. — “Apabila jiwa-jiwa ditobatkan, suruhlah mereka bekerja segera. Sementara 

mereka bekerja sesuai kemampuan, mereka akan bertumbuh lebih kuat. yaitu  dengan ,mempertemukan 

pengaruh yang bertentangan kita menjadi kuat dalam iman” (Evangelism, hlm., 355). 

 

Salah satu gejala yang paling pasti bahwa seorang anggota baru telah mengikuti pemuridan ialah bila dia 

mulai memuridkan orang lain. Orang-orang akan lebih berhasil dalam penarikan jiwa apabila mereka 

sudah lebih dulu dipertobatkan dari pada bertobat kemudian. Sementara pada akhirnya persahabatan 

dengan orang-orang Advent akan menonjol, pada mulanya keluarga dan sahabat-sahabatnya kebanyakan 

terdiri dari yang bukan Advent. Pengaruh terpadu dari anggota baru itu atas sahabat-sahabat lama dan 

contoh yang menarik dari satu kehidupan yang berubah menjadikan dia alat penarik jiwa yang berkuasa. 

 

Tidak heran bahwa penugasan Kristus yang pertama kepada orang yang dirasuk Setan ialah “Yesus . . .  

Berkata kepada orang itu: ‘Pulanglah ke rumahmu, kepada orang-orang sekampungmu, dan 

beritahukanlah kepada mereka segala sesuatu yang diperbuat oleh Tuhan atasmu, dan bagaimana Ia telah 

mengasihani engkau’” (Mrk 5:19). 

 

Tolonglah anggota baru itu menemukan karunia rohaninya dan pelayanan penginjilan yang cocok dengan 

karunia itu. Bentuklah satu komite kesempatan melayani yang tugasnya menyelaraskan karunia anggota 

itu dengan tugas gereja yang harus dilakukan. Undanglah anggota baru ke kelas penarikan jiwa. Bawalah 

mereka bersama Anda ketika memberikan pelajaran Alkitab atau melaksanakan tugas gereja lainnya. 

Sediakanlah waktu khusus untuk bersaksi pada jam kebaktian untuk anggota baru, menyaksikan apa yang 

jemaat telah lakukan bagi mereka, dan apa yang mereka sedang lakukan untuk gereja. 

 

Pilihan tambahan. — Adakanlah acara khusus pada malam sesudah baptisan, dan tempatkanlah anggota 

baru itu sebagai tamu terhormat. Kepada anggota-anggota baru, serahkanlah satu paket daftar acara yang 

menerangkan program dan acara gereja. Berikan lembaran “In His Church” yang diterbitkan oleh 

Asosiasi Kependetaan General Conference yang memperkenalkan organisasi gereja kepada mereka. 

Sajikanlah makanan vegetaris bersama resepnya. (Anggota baru membawa lalapan, buah-buahan dan 

makanan pencuci mulut). 

 

Masukkan anak-anak ke sekolah gereja dan pathfinder. Berikan perhatian khusus kepada anggota-anggota 

baru dalam khotbahmu. Bangkitkan semangat mereka untuk membentuk kelompok anggota yang saling 

membantu, yaitu yang dibaptiskan pada tahun tertentu–seperti kelas 2001. Mintalah para anggota majelis 

untuk selalu mengingat mereka ketika memberikan tugas sederhana. Laksanakan satu program rekreasi. 

 

Adakan pesta pada tahun itu untuk menghormati mereka yang sudah dibaptiskan. Mintalah konferens atau 

daerah untuk mensponsori peristiwa penerimaan anggota baru, di mana anggota-anggota baru datang ke 

kantor pusat untuk dikenal dan dilayani oleh pimpinan konferens/daerah. 

 

Suasana perawatan yang penuh kasih sayang benar-benar dapat menjadi satu bentuk jangkauan keluar 

yang sukses. Jemaat yang suka merawat anggotanya meningkatkan rasa harga diri anggota itu. Anggota-

anggota seperti itu membagikan perasaan mereka kepada keluarga dan sahabat-sahabat, dan ini menarik 

mereka ke dalam gereja, yaitu yang mencari gereja yang bernuansa keluarga. 

Pasal 24 

 

 

Acara Kebaktian 

 

 

Maksud Ibadah 

 

 

Ibadah yang teratur menekankan kepentingan dan kehadiran Allah. Allah besar dan Allah itu berada di 

sini, Allah di atas kita dan Allah berada di tengah-tengah kita. Para gembala haruslah menjadi ahli dalam 

memimpin jemaat dalam pengalaman beribadah ini. “Terlalu sering kita tidak memperoleh seperseratus 

dari berkat yang harus kita terima sebab  berhimpun bersama menyembah Allah” (6 T, 362). 

 

Ibadah yaitu  pertemuan. — Banyak di antara para gembala kita memakai  tatacara yang sama, 

membacakan pengumuman yang sama, menyanyikan nyanyian yang sama, berdoa dengan cara yang 

sama, dan mengkhotbahkan khotbah yang hampir sama tahun demi tahun, dasawarsa demi dasawarsa. 

Kita menghormati perbedaan tatacara apabila itu dipengaruhi budaya yang ada. Tetapi kita merasa takut 

menyesuaikan kebaktian kita kepada perubahan warga  pada zaman itu. 

 

Sebagian gembala mencoba dengan perbaktian cara baru. Tetapi perubahan-perubahan itu mengundang 

masalah juga. Barangkali waktu telah menghanyutkan sebagian dari makna perbaktian tradisional, tetapi 

kita tidak harus menggantikannya dengan hiburan yang suram. Sejarah menunjukkan bahwa kadang-

kadang gereja telah kehilangan pengaruhnya sebab  gagal mengubah acara, tetapi juga menderita sebab  

orang-orang yang tergoda dengan perubahan sehingga mereka gagal memelihara pekabaran gereja yang 

tersendiri itu. 

 

Para pendeta Advent seharusnya tidak takut mencoba cara perbaktian yang baru, tetapi kita memerlukan 

beberapa garis penuntun. Tidak ada tempat yang lebih baik untuk mencarinya selain dalam pasal yang 

unik Wahyu 14:7 yang menegaskan bahwa kita yaitu  satu bangsa yang beribadah. Peribadatan kepada 

sang Pencipta kita itulah yang membuat kita unik. Perbaktian Advent memiliki tiga unsur: 

 

1. Perbaktian Advent haruslah memberi ilham yang mengagumkan. — Malaikat yang pertama 

mengumumkan: “Takutlah akan Allah dan muliakanlah Dia.” “Takut” berarti rasa hormat dan rasa 

kagum. Pemujaan tidak mencakup hubungan baik sesama pemuja; Injil kasih tak dapat disadari dalam 

suasana kesepian. Pemujaan juga mencakup perasaan hangat terhadap Allah. Tetapi kesemuanya ini tidak 

lebih daripada bagian dari keseluruhan. Perbaktian yang teratur harus menuntun umat Allah ke dalam 

ruang takhta Allah. 

 

Tujuan utama perbaktian bukanlah supaya merasa enak, tetapi untuk melihat Allah. “Kecuali pemikiran 

tentang perbaktian yang benar dan rasa hormat yang benar ditanamkan ke dalam pikiran orang-orang, 

maka akan ada perkembangan kecenderungan menempatkan perkara yang suci dan kekal di atas tingkat 

perkara yang biasa, dan mereka yang mengaku kebenaran akan menjadi kekejian bagi Allah dan 

membawa malu kepada agama” (5 T, 500). 

 

2. Perbaktian Advent haruslah menggembirakan. — Wahyu 14:2, 3 menerangkan bahwa orang-orang 

yang telah diselamatkan Allah sedang berbakti. “Dan suara-suara yang kudengar itu seperti bunyi 

pemain-pemain kecapi yang memetik kecapinya. Dan mereka menyanyikan nyanyian baru.” Nyanyian 

dan permainan kecapi surgawi menjelaskan bahwa perasaan dan kegembiraan mewarnai perbaktian. “Dan 

suara-suara yang kudengar itu seperti bunyi pemain-pemain kecapi yang memetik kecapinya. Dan mereka 

menyanyikan nyanyian baru.” Nyanyian dan permainan kecapi surgawi menjelaskan bahwa perasaan dan 

kegembiraan mewarnai perbaktian. Kita yang mempersiapkan diri ke surga berbakti sebagaimana nanti di 

surga, perbaktian kita gembira. Itu akan mencakup pemikiran dan perasaan kita, yang menuntut pikiran 

yang terang dan hati yang senang. Itu akan mencakup pelajaran akan Allah, dan mempelajari akibat kasih 

Allah dan kegembiraan-Nya sebab  Dia mengenal Dia lebih baik. 

 

Terlalu banyak pendeta Advent membiarkan emosinya dididik dalam hal ini. Mereka begitu takut akan 

emosi sehingga mereka sama sekali takut akan menghadapi emosi bentuk apa pun. Tetapi kita bersalah 

dalam anggapan bahwa kita mempertahankan para perintis kita sedangkan kita hanya mempertahankan 

rasio formal yang eksklusif. Perbaktian Advent yang mula-mula mencakup cerita yang banyak dan 

partisipasi yang padat. Kadang-kadang diwarnai dengan emosi yang tinggi. 

 

Perbaktian Advent haruslah berdasarkan pengalaman. — Nyanyian rombongan 144.000 dalam Wahyu 

14:3 mengumumkan: “dan tidak seorang pun dapat mempelajari nyanyian itu.” Mengapa? sebab  itu 

yaitu  satu nyanyian pengalaman pribadi. Tidak ada orang lain yang dapat melakukannya untuk kita. 

Jadi, perbaktian yaitu  berdasarkan pengalaman. 

 

Perbaktian bukanlah sesuatu yang bersifat rutin. Itu bukanlah tradisi. Itu pula bukan tontonan yang pasif. 

Ibadah yaitu  kejadian yang benar-benar terjadi, yaitu interaksi pribadi antara Pencipta dengan ciptaan-

0Nya. Perbaktian yaitu  satu pertemuan. 

 

Kebaktian memerlukan perencanaan. — “Bukanlah tugasmu memasukkan keterampilan dan 

mempelajari dan merencanakan dalam hal memimpin kebaktian keagamaan, bagaimana memimpinnya 

supaya menghasilkan kebaikan yang terbesar, dan meninggalkan kesan terbaik bagi semua orang yang 

mengikutinya? Rencanakanlah itu sesuai dengan usahamu yang sementara. Jika Anda mempelajari satu 

keterampilan, Anda berusaha meningkatkannya tahun demi tahun dalam pengalaman, mengadakan 

perencanaan yang membawa kemajuan dalam pekerjaanmu. Apakah tugasmu yang sementara itu 

membawa akibat seperti dalam pelayanan Allah? . . .  Allah tidak disenangkan dengan sikapmu yang 

tidak hidup-hidup dalam rumah-Nya, caramu memimpin kebaktian rohani yang tidak menarik k arena 

sambil mengantuk” (Ellen G. White, dalam Review and Herald, 14 April 1885). 

 

Para gembala memiliki  tanggung jawab langsung untuk acara sekolah Sabat. Namun, mereka harus 

memberi tanggung jawab dengan ketua-ketua dan kemungkinan dalam komite perbaktian. Komite seperti 

itu harus dihadiri pendeta sekitar sekali sebulan dan menjelajahi cara baru dalam acara perbaktian. 

 

Selaku seorang gembala, sediakanlah daftar acara perbaktian Sabat pagi, di mana Anda atau ketua jemaat 

yang memimpin mimbar supaya mengecek dan mengaturnya. Daftar itu harus mencakup musik spesial, 

mikrofon, yang mengambil acara, susunan mimbar, buku nyanyian untuk orang-orang yang naik mimbar, 

dan susunan tempat duduk di mimbar. 

 

Janganlah mimbar itu diserahkan kepada pelayan Injil yang tidak memegang kartu kredensi yang masih 

berlaku di organisasi (baca Peraturan Jemaat, pasal 9). 

 

 

Bagian dari Kebaktian 

 

Melayani anak-anak. — Ada satu pertimbangan penting dalam menentukan bagian kebaktian, yaitu 

tentang anak-anak. Apakah waktu disisihkan semata-mata  untuk mereka? Sebagian mengatakan itu 

harus, untuk memberitahukan kepada anak-anak bahwa mereka penting. Yang lain membantah jikalau 

seluruh acara harus memperhatikan anak-anak gantinya memberikan sebagian kecil seolah-olah bagian 

lain acara itu bukanlah untuk mereka. 

 

Banyak gembala yang memasukkan cerita untuk anak-anak. Anak-anak maju ke depan dan duduk 

bersama lalu mendengar cerita. Jemaat nampaknya menyenangi hal ini. Namun itu hampir menghabiskan 

waktu, dan tidak selamanya menawan perhatian anak-anak. Ada sesuatu yang menolong kalau rombongan 

yang duduk di mimbar turun dan duduk bersama anak-anak mendengar cerita. Ini menunjukkan perhatian 

terhadap mereka sambil menolong yang bercerita mengatasi situasi. 

 

Satu rencana baik yang lain ialah mengubah-ubah acara. Berikanlah cerita pada satu waktu, dan di waktu 

yang lain cantumkan acara untuk anak-anak: 

1. Sediakan lembaran pertanyaan tentang khotbah dan ajaklah anak-anak untuk menuliskan jawabannya. 

 

2. Hadapkan ilustrasi khotbahmu kepada anak-anak 

 

3. Ajaklah seorang anak berdiri di mimbar untuk membaca ayat Alkitab atau memberikan doa penutup 

 

4. Rencanakan seluruh kebaktian khotbah itu khusus untuk anak-anak sekali atau dua kali setahun, 

barangkali pada hari Pathfinder. 

Ada gereja yang mengambil persembahan untuk anak-anak pada waktu kebaktian khotbah, dan 

memakai  dana itu untuk menunjang program orang muda gereja. Seorang anak berdiri di depan pakai 

kacamata, dan anak-anak lain memegang pundi-pundi dan menerima persembahan dari hadirin. Sekalipun 

anggota jemaat sebagian menolak memberikan persembahan lebih dari satu kali dalam kebaktian ini, 

program ini cenderung populer, sebab  orang-orang suka memberikan kepada anak-anak dan 

memperhatikan mereka berjalan ke depan mengantarkan persembahan itu. 

 

Mengumumkan kebaktian. — Bagi rombongan mimbar, kebaktian dimulai sebelum mereka naik ke 

mimbar. Tugas-tugas di mimbar harus segera diatur dan sisa waktu digunakan untuk berdoa. Walaupun 

tidak ikut mengambil bagian di mimbar, semua ketua harus hadir. 

 

Saat pengumuman dapat menjadi satu pilihan bagi gembala. Para pimpinan gereja bisa merasa tidak 

didukung jika belum membuat pengumuman. Para anggota jemaat bisa merasa terganggu kebaktian 

sebab  pengumuman. Sebagian gereja merasa bahwa pengumuman itu bukanlah bagian dari kebaktian, 

sehingga menjadwalkannya sebelum tua-tua jemaat naik ke mimbar. Sebagian lagi mempersoalkan bahwa 

hanya separuh hadirin yang mendengarkan pengumuman itu jikalau dilaksanakan antara sekolah Sabat 

dengan khotbah. 

 

Untuk mengatakan bahwa pengumuman tak dapat dimasukkan sebagai bagian dari kebaktian itu berarti 

salah menanggapi makna kebaktian. Kebanyakan pengumuman itu berkaitan dengan pelayanan bagi 

Tuhan, dan menuntun anggota kepada pelayanan yaitu  tujuan utama kebaktian. Bekerja bagi Allah itu 

pada tempatnya dalam menyembah Allah. 

 

Pendekatan yang baik kepada pengumuman ialah supaya pengumuman itu tertulis. Gunakanlah papan 

pengumuman kalau ada. Sebagian tidak dapat memiliki papan pengumuman dan sebagian lain tidak mau 

memilikinya supaya bersifat lebih spontanitas dalam kebaktian. Tetapi bagaimanapun, buatlah 

pengumuman itu tertulis. Ingat aturan mainnya: untuk informasi, tuliskanlah itu; untuk inspirasi, 

katakanlah itu. 

 

Seorang pemimpin kebaktian yang baik akan membuat saat pengumuman itu bernilai kebaktian. Biarlah 

pengumuman itu menciptakan suasana kehangatan persekutuan. Jadikanlah itu bagian dari kehidupan 

jemaat. Sebutkanlah itu satu saat membagi iman, kehidupan tubuh, kebahagiaan dan kepedulian, bisnis 

raja, atau kebaktian melalui pelayanan. 

 

Memulai kebaktian. — Sekalipun budaya akan menimbulkan banyak variasi, di sini ada sebagian unsur 

dasar contoh kebaktian Advent. 

 

Acara pendahuluan. — Ini berarti musik pendahuluan. Tujuannya ialah menyediakan hati mereka untuk 

berbakti. Tetapi malang, musik instrumen pendahuluan sering tidak melaksanakannya. Satu pilihan yang 

lain ialah memimpin hadirin dalam nyanyian. 

 

Lagu/musik pengantar. — Ini berarti musik pengantar yang mengambil bagian. Pada saat ini 

rombongan mimbar memasuki podium dan bertelut, “Ketika rombongan pendeta menuju mimbar, 

sikapnya harus agung dan hikmat. Mereka harus tunduk kepala dan berdoa dalam hati sementara menaiki 

mimbar, dan dengan sungguh-sungguh meminta pertolongan Allah. Betapa besar pengaruhnya! Akan ada 

perasaan kagum dan pesona dalam diri hadirin. Pengkhotbah mereka sedang berkomunikasi dengan 

Allah; dia menyerahkan iri kepada Allah sebelum berani berdiri di hadapan hadirin” (5 T, 492). 

 

yaitu  satu permulaan yang buruk apabila hadirin tidak menyadari bahwa kebaktian sudah dimulai ketika 

rombongan pengkhotbah sudah naik ke mimbar. Penyelesaiannya ialah mengajak hadirin berdiri 

sementara rombongan pengkhotbah berjalan menuju mimbar, dan menyanyi setengah suara lagu (seperti 

“kami mau lihat Yesus Juruselamat”), dengan demikian mereka mengabdikan diri dalam nyanyian 

sementara rombongan pendeta mengabdikan diri dalam doa. 

 

Panggilan untuk berbakti. — Inilah satu panggilan dari mimbar mengundang hadirin untuk berbakti. 

Dapat dilakukan secara formal, memakai  sebuah petikan dari Mazmur seperti “masuklah, marilah 

kita sujud menyembah, bertelut di hadapan Tuhan yang menjadikan kita” Mazmur 95:6. Dapat juga 

dilakukan secara informal seperti “Baiklah, di sini kita hadir sekali lagi untuk menyembah Allah.” Dapat 

pula berbentuk ayat sahut-sahutan seperti dalam Mazmur 95:1-7 di mana hadirin berpartisipasi. 

Nyanyian penyerahan. — Ini yaitu  nyanyian pujian bagi Allah. Nyanyian pagi dapat digunakan untuk 

maksud ini. 

 

Doa penyerahan. — Doa ini mengundang atau memohon hadirat Allah. Doa kependetaan dapat 

mencakup maksud ini. 

 

Maksud-maksud bagian pendahuluan kebaktian ini kadang-kadang tumpang tindih. Barangkali tidak 

semua bagian diperlukan. Kalau ada yang tidak memenuhi syarat, itu sudah menjadi berlebihan. 

Pertahankan maksud dan tujuan, tetapi cobalah cara yang lebih efektif dalam pelaksanaannya. 

 

Musik/Lagu. — Nilai musik dalam kebaktian jarang menjemukan kalau kita memahami pengaruh 

potensinya. “Seharusnya musik memiliki  keindahan, rasa simpati, dan kuasa” (4 T, 71). Tidak 

menguntungkan dan dapat dipahami kalau pemusik dan pendeta tidak bekerjasama menentukan musik 

gereja. Pemusik cenderung berorientasi kepada musik, dan pendeta berorientasi kepada hadirin. Yang 

pertama boleh bertanya apakah musik itu cukup baik, sedangkan yang kedua boleh bertanya apakah itu 

memuaskan hati para peserta kebaktian. Para pendeta harus bersabar menghadapi para pemusik, dan 

pemusik harus bersabar dengan para pendeta. Pendeta, biarlah pemusik itu menguasai musik, dan akan 

lebih mudah bagi mereka untuk membiarkan Anda menguasai kebaktian. 

 

Sebagian pemuja dapat dituntun ke dalam kebaktian dengan lagu saja. Namun banyak pula yang 

membutuhkan kata-kata; oleh sebab itu musik vokal diutamakan dalam kebaktian. Kendatipun demikian, 

kata-kata satu nyanyian asing yang dinyanyikan oleh seorang penyanyi tunggal atau paduan suara bisa 

saja sukar dipahami. Para pemuja akan lebih menghargainya kalau ada kata-kata nyanyian itu di tangan 

mereka. 

 

Paduan suara yaitu  satu berkat dalam kebaktian, namun janganlah paduan suara itu mengambil tempat 

hadirin dalam menyanyi. “Menyanyi itu jarang dilakukan oleh sedikit orang. Kesanggupan menyanyi 

yaitu  talenta yang berpengaruh, dengan mana Allah ingin agar semua mengembangkannya dan 

digunakan demi kemuliaan nama-Nya” (Evangelism, hlm. 504). 

 

Beberapa saran untuk mengadakan variasi dalam musik. 

1. Hadirin menyanyi selama masa transisi antara acara sekolah Sabat dengan acara khotbah, dan 

masukkanlah paling sedikit satu nyanyian baru. 

 

2. Utamakan nyanyian firman gantinya nyanyian dari buku nyanyian. 

 

3. Bentuklah paduan suara pemuda. 

 

4. Gantinya menyanyikan semua ayat dari satu nyanyian, bacakan satu ayat atau silih berganti untuk 

memusatkan perhatian kepada makna kata-kata dalam ayat itu. 

 

5. Bagilah hadirin ke dalam kelompok dan biar mereka menyanyi bersahut-sahutan. 

 

6. Kalau tidak ada paduan suara, biarlah hadirin menyanyikan lagi pengantar dan lagu sambutan. 

 

7. Akhirilah sebuah khotbah dengan mengajak hadirin berdiri, saling berpegangan tangan, dan 

menyanyikan satu lagu lambang penyerahan dan persatuan. 

 

8. Bila satu nyanyian sudah dinyanyikan dalam perbaktian, catatlah tanggalnya dalam buku nyanyian, 

supaya jangan mengulanginya terlalu sering, dan memakai  yang lain terlalu jarang. 

 

9. Carilah jalan lain dalam penggunaan alat musik tradisional yang dapat diterima bersama. 

 

Doa. — yaitu  satu hal yang khidmat berbicara kepada hadirin demi Allah. Bukanlah lebih khidmat lagi 

berbicara kepada Allah demi hadirin? Jika demikian, anggaplah doa itu bagian yang paling penting dalam 

kebaktian. Tradisi gereja Advent ialah menunjuk seorang ketua atau anggota awam untuk mewakili 

jemaat dalam cara yang paling khusus. Namun pendeta melepaskan satu bagian yang paling berharga dari 

kepemimpinan perbaktian jikalau mereka tidak  pernah memimpin jemaat dalam doa. Satu jalan keluar 

bagi pendeta ialah mengucapkan doa berkat. 

Sikap tubuh. — Bertelut ialah sikap tubuh yang paling penting dalam doa. Yesus “bertelut dan berdoa” 

(Lukas 22:41). Ada banyak ayat Alkitab yang menunjukkan sikap ini (2 Taw. 6:13); Ezra 9:5, 6; Mzm. 

95:6; Kis. 7:59, 60; 9:40; 20:36; 21:5; Ef. 3:14). “Apakah dalam kebaktian umum atau pribadi, yaitu  

kewajiban kita menundukkan kepada dan bertelut di hadapan Allah ketika kita mengajukan permohonan 

kita kepada-Nya. Perlakuan ini menunjukkan ketergantungan kita kepada Allah” (2 SM, 312). 

 

Namun kita tidak menyimpulkan bahwa Tuhan tidak akan menerima permohonan kita bila pendeta dan 

jemaat tetap berdiri, seperti pada doa pembuka, doa penutup, atau kumpulan evangelisasi, atau ketika 

semua berdiri dalam doa penyerahan. Dalam Alkitab kita menemukan situasi, dalam keadaan tertentu, 

para pemuja berdiri sementara doa penutup dilayangkan, seperti dalam 1 Raja-raja 8:55; “Maka berdirilah 

ia dan memberkati segenap jemaat Israel dengan suara nyaring.” 

 

Ellen G. White menyelaraskannya: “Tidak selamanya perlu bertelut pada waktu berdoa” (MH, 510) Ada 

juga situasi di mana keadaan lantai dan susunan kursi menyulitkan atau tidak memungkinkan jemaat bisa 

bertelut. 

 

Jikalau doa itu yaitu  “membuka hati kepada Allah seperti kepada seorang sahabat,” lalu posisi hati dan 

pikiran harus lebih tinggi dari posisi bertelut. Sikap tubuh dalam doa sangat penting, tetapi itu hanya 

lambang. Kitab Suci menasihatkan, “Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu” (Yoel 2:13). Allah 

memperhatikan sikap hati yang terdalam, bukan sikap lahiriah. Kesombonganlah membuat pakaian kita 

terlalu mahal dan lutut kita terlalu lembut untuk berdoa di hadapan Pencipta kita. Itulah yang 

menimbulkan sikap tidak hormat. 

 

Unsur. — Doa umum haruslah lebih dulu dipikirkan sebelumnya. Itu harus berkaitan dengan kebutuhan 

jemaat. Kita dapat memikirkan doa seperti memasukkan tujuh unsur. Susunannya penting, didasarkan atas 

perkiraan bahwa kita harus pertama-tama menunjukkan rasa hormat bagi Allah dan kemudian berdamai 

dengan Allah sebelum kita meminta sesuatu atau apa saja dari Allah. 

 

1. Tujukan kepada Allah. Jangan lupa yang mana Allah itu kudus. Sebutkanlah nama itu dalam doa, 

tetapi tidak mengulang-ulanginya tanpa arti. 

 

2. Pujian. Tinggikanlah nama-Nya dan hargailah perbuatan-Nya. 

 

3. Penyesalan. Mintalah pengampunan-Nya atas yang lalu. 

 

4. Pengabdian. Mintalah kekuatan-Nya untuk masa depan. Serahkanlah dirimu kepada-Nya sebelum 

memohon sesuatu dari pada-Nya. 

 

5. Syafaat umum. Berdoa syafaatlah demi pekerjaan Allah, pimpinan sedunia, dan jemaatmu, termasuk 

orang muda, orang tua, yang lanjut usia, yang sakit, yang patah semangat, dsb. 

 

6. Pengantaraan khusus. Ingat akan permintaan doa khusus, perkumpulan itu sendiri, dan pembicara. 

 

7. Kesimpulan. Kukuhkan kuasa dengan mana kita mendekati ruang takhta: “Dalam nama Yesus.” 

 

Lamanya. — “Satu dua menit yaitu  cukup panjang untuk doa biasa” (2 T, 581). Doa berbentuk prosa 

yang mirip khotbah tidak dibutuhkan dan itu salah tempat di perkumpulan umum. Doa singkat, yang 

diucapkan dengan semangat dan iman, akan melembutkan hati para pendengar; tetapi selama doa yang 

bertele-tele, mereka tidak sabar menunggu, seakan-akan mereka ingin supaya berhenti seketika” (GW, 

179). 

 

Doa cenderung panjang, tidak begitu banyak sebab  kita memiliki  begitu banyak yang akan dikatakan. 

Tetapi sebab  kita mengucapkan setiap hal maju mundur, kemudian di tengah dan kembali lagi. Jikalau 

dalam pikiran kita tersirat garis penuntun seperti yang di atas, itu akan menghilangkan kecenderungan 

seperti itu. Doa permintaan yang sudah diumumkan tidak perlu lagi diulangi. Kerap kali seorang pendeta 

atau ketua jemaat yang berdoa disuruh menggendong bayi berumur 2 tahun sementara dia melayangkan 

doa. Itu akan memperpendek doa mereka. 

 

Saran tambahan. 

1. Seringkali lima orang ditunjuk untuk berdoa, masing-masing mendoakan satu dari lima unsur yang 

tersebut di atas.  Anak-anak pun dapat melakukannya. 

2. Gantinya orang yang di depan melayangkan seluruh doa, orang-orang dapat memimpin doa pertama-

tama memanggil nama Allah, kemudian menganjurkan bagian lain didoakan oleh jemaat dalam hati, 

kemudian pemimpin doa berdiam sejenak. 

 

Persembahan. — Bacaan persembahan haruslah singkat, cerdas dan bernada kebaktian. Memberi ialah 

satu bagian langsung dari kebaktian. Itu memiliki satu potensi hebat untuk mengajarkan konsep dasar 

Kristen tentang penyangkalan diri, pengorbanan, dan kepercayaan. sebab  itu ajakan persembahan harus 

menekankan satu motivasi rohani. Itu juga harus menerangkan kebutuhan akan uang. Harus dijelaskan 

mengapa kita memberikan uang dan ke mana uang itu akan disalurkan. Orang-orang akan memberi jika 

mereka digerakkan secara rohani dan diyakinkan tentang kebutuhan praktis. 

 

Bacaan Alkitab. — Alkitab yaitu  pusat kebaktian Kristen. Yesus memulai pelayanan untuk umum di 

Nazaret dengan membacakan nas Alkitab. Paulus mengisyaratkan agar tulisannya dibacakan di gereja-

gereja (Kol 4:16; 1 Tes 5:27). 

 

Ayat yang dipilih harus berkaitan dengan penekanan hari itu. Sangat disayangkan, jemaat tidak cenderung 

memahami kaitan ini. Sebagian gembala mengabaikan waktu bacaan Alkitab tersendiri dan meminta 

jemaat supaya membuka dan mungkin membaca dengan nyaring bagian itu pada waktu khotbah sedang 

berlangsung. Ini memerlukan Alkitab di setiap bangku agar setiap orang dapat membaca ayat yang sama. 

 

Ayat-ayat itu harus dibaca dengan jelas. Bacaan Alkitab yang disediakan dengan baik dapat menghasilkan 

pengalaman yang maju. Pada waktu kaum Lewi memegang jabatan, “Mereka membacakan dengan jelas 

dari buku itu” dan “seluruh bangsa itu menangis, ketika mereka mendengar bunyi hukum” (Neh. 8:8, 9). 

 

Gerakkan partisipasi hadirin. Gunakan ayat sahut-sahutan. Bagi kelompok pembaca Alkitab sehingga 

memantulkan perbedaan kelompok jemaat. Biarkan para narapidana membaca Alkitab di depan CD ketika 

Anda melawat mereka, dan mainkan itu di gereja pada hari Sabat. Siapkan ilustrasi bacaan Alkitab. 

Banyak dari buku Mazmur yang dapat diilustrasikan dengan film slide alam, video, dsb. 

 

Izinkan guru sekolah gereja atau pemimpin kelas anak-anak mengatur anak-anak mendramatisasi ayat-

ayat Alkitab. Kalau ini dilakukan dengan penuh perhatian dan dengan rasa khidmat, itu dapat menjadi 

bagian penting dari acara. Seluruh acara gerejani di Israel yaitu  berbentuk drama, satu ilustrasi 

bagaimana Yesus menyelamatkan kita. Sebagai satu umat yang menekankan tentang bait suci, janganlah 

kita takut memakai  teknik pengajaran yang sama. 

 

Gambarannya dapat disederhanakan sementara setiap orang yang mengambil bagian melakonkan figur 

dalam Alkitab dan membacakan kata-kata orang itu. Itu bisa ditiru.  Panaroma yang digambarkan dapat 

dilakonkan kembali sebagaimana telah terjadi, atau disesuaikan dengan zaman. Ini satu penemuan terbaik 

untuk melibatkan orang muda, bukan hanya di acara kebaktian, tetapi dalam memahami bagaimana 

Alkitab dapat diterapkan dan dihidupkan. 

 

Khotbah. — Terlalu sering khotbah cenderung menjadi negatif. Panggilanmu yang pertama bukan 

meninggalkan dosa, tetapi mengumumkan keselamatan. Kata “Injil” artinya kabar baik. Kalau Anda tidak 

mengkhotbahkan kabar baik, Anda tidak mengkhotbahkan Injil. 

 

Khotbahkan Alkitab dengan relevan. Khotbah Advent harus selalu berpusat kepada Alkitab, Jemaat 

kita ingin mengetahui dan mereka harus mengetahui apa yang diajarkan Alkitab. Cerita, percakapan sosial 

dan filsafat, dengan Alkitab yang jarang dibuka, tidak akan memberi makan jiwa-jiwa, atau menghasilkan 

pertobatan dan reformasi. 

 

Khotbah Alkitabiah yang sejati bukan hanya melibatkan Alkitab. Khotbah itu dimulai dengan Alkitab. 

Para pengkhotbah Alkitab membuka Alkitab pertama-tama dalam menyediakan khotbah. Setidak-

tidaknya mereka datang dengan pikiran kosong, tidak mengetahui apa-apa kecuali ayat dan judul. Mereka 

tidak membuka kitab itu mencari sesuatu yang setuju dengan apa yang mau dikatakannya. Mereka 

membukanya untuk mencari apa yang Kitab itu mau supaya mereka katakan. 

 

Bila Anda memulainya secara Alkitabiah, Anda memiliki sumber bahan khotbah yang tidak habis-

habisnya. Dijamin sumurmu itu tidak pernah kering. Setelah menerbitkan lebih dari 3.000 khotbah, 

Charles Spurgeon menyatakan, “Setelah 35 tahun saya menemukan tambang Kitab Suci yang tidak habis-

habisnya, nampaknya susah untuk memulai tugas itu di dalamnya.” 

 

Apabila Anda memulainya secara Alkitabiah, Anda tidak merasa bosan dengan khotbahmu. Mengapa? 

sebab  Anda terus-menerus belajar gantinya terus-menerus mengulang-ulangi apa yang Anda sudah 

ketahui. 

 

Buatlah Alkitab itu relevan, tetapi jangan biarkan relevansi menggantikan Alkitab, Relevansi mutlak 

penting, tetapi itu dapat memiliki  pengaruh yang menipu bagi khotbah kita. Contohnya, sebagian 

pengkhotbah cenderung membuang khotbah yang menghasilkan rasa bersalah, sehingga hanya 

mengkhotbahkan khotbah yang membangun harga diri. Dalam masalah relevansi, jangan biarkan firman 

dan keselamatannya sampai menderita. 

 

Rencanakan setiap tahun. Untuk menimbulkan semangat baru dalam khotbahmu, cobalah perencanaan 

mimbar tahunan. Sekali setahun–barangkali dalam musim panas, ketika kegiatan gereja cenderung 

menurun–rencanakanlah khotbahmu untuk tahun depan. 

 

Perencanaan memerlukan pandangan dua arah. Jadi, katakanlah semua khotbahmu yang telah 

dikhotbahkan tahun lalu, atau jauh lebih bagus dua tiga tahun yang lalu. Carilah mana yang telah 

diabaikan atau yang terlalu ditekankan. Kemudian, berdasarkan penemuanmu, jadwal kegiatan organisasi, 

jadwal kalender umum, kebutuhan jemaatmu, perhatian dan keprihatinanmu yang khusus, pilihlah judul 

dan ayat-ayat untuk khotbah tahun depan. 

 

Perencanaan tahunan akan menghemat waktu. Itu akan mengambil lebih sedikit waktu ketimbang yang 

akan digunakan sepanjang tahun memilih judul khotbah secara tergesa-gesa. 

 

Perencanaan tahunan mengatur Anda supaya bertumbuh. Anda akan ditarik dari khotbah kepada bagian 

yang paling disukai, dan Anda akan didorong kepada pergumulan dengan sebagian yang Anda abaikan. 

 

Perencanaan tahunan menghasilkan khotbah yang seimbang. Para pengkhotbah yang mengasihi 

jemaatnya menyediakan makanan bagi mereka, yaitu makanan yang bukan hanya enak dan bergizi, tetapi 

juga bervariasi. Apabila Anda memberi makan jemaat dengan makanan yang tidak bervariasi berdasarkan 

apa yang paling Anda senangi, proses perencanaan khotbah tahunan akan memaksamu menghadapi fakta. 

 

Bidat tidak begitu sering muncul sebab  khotbah yang palsu, tetapi sebab  penyajian Injil yang tidak 

sempurna. Itu diakibatkan oleh keterlaluan menekankan satu kebenaran Injil dengan mempertaruhkan 

kebenaran lainnya. Perencanaan tahunan menghasilkan khotbah yang seimbang, dan khotbah yang 

seimbang menghasilkan orang-orang Kristen yang seimbang. 

 

Sediakan segera. Lakukanlah membaca dan mempelajari Alkitab pada hari-hari pertama dalam Minggu. 

Pikirkanlah itu sampai Anda merasa sampai Anda mengetahui apa yang dikehendaki Allah supaya Anda 

mengatakannya. Tetapi Anda masih kurang mengetahui kemauan-Nya bagaimana Anda harus 

mengatakannya. Pemikiran itu perlu meresap dalam pikiranmu. Anda harus mencari ilustrasi dan 

penerapan yang praktis. 

 

Sekarang kerjakanlah tugasmu yang lain. Biarlah khotbah itu mengembara dalam pikiranmu, mengapung 

sekitar alam sadar dan alam tak sadar. Jikalau Anda segera memulai khotbahmu, maka akan dihasilkan 

hadiah yang tak terhingga. 

 

Itu akan mengurangi tekanan dan meningkatkan kreativitas. Kreativitas melecehkan batas waktu. 

Penyediaan khotbah yang tergesa-gesa pada menit terakhir akan menghasilkan borok lambung kelas 

wahid dan khotbah kelas dua. Penghimpunan data di otak cenderung berjejal jikalau terlalu dipaksakan. 

Tetapi jikalau tekanan itu dihindarkan, otak akan menghasilkan sebanyak-banyaknya. 

 

Itu menghemat waktu. Gantinya menerawang ke plafon sambil mencoba bangkit dengan sebuah cerita 

atau membaca buku-buku ilustrasi tua, biarlah ilustrasi timbul dalam Minggu itu. Tetapi disadari atau 

tidak, khotbahmu akan bertumbuh sementara Anda mempersiapkannya. 

 

Khotbahmu akan dibuat praktis dan menarik. Khotbah yang bertumbuh dari yang sekarang akan cocok 

dengan yang sekarang. Sementara Anda melawat, memberi nasihat, sementara Anda menghadapi 

momentum trauma yang menelan jemaatmu, sementara Anda membagi rasa dengan keluargamu, 

tanyakanlah: “Dapatkah khotbah saya menolong di sini?” atau “Apakah ada sesuatu di sini yang dapat 

menggambarkan khotbah saya?” Khotbah yang memiliki  ilustrasi dan penerapan yang praktis 

bertumbuh dari pelayanan penginjilan bagi jemaatmu pasti cocok untuk jemaatmu. 

 

Tetap berada dekat dengan Kristus. Tugas berkhotbah berkelimpahan. Anda tidak bisa membuat mangkuk 

kosong berkelimpahan. Kalau Anda seorang pengkhotbah yang patah semangat yang nampaknya tidak 

dapat berdiri dengan sesuatu yang dapat dikhotbahkan, Anda sedang melihat ke dalam mangkuk kosong 

jiwamu sendiri dan mencoba menuangkan ke dalam mangkuk kosong lainnya. Pertama-tama, isilah 

mangkukmu sendiri. Setelah itulah Anda bisa berkelimpahan. 

 

Sebaliknya, mangkuk yang sudah terisi penuh harus melimpah ruah. Bila Anda terisi dengan Yesus, maka 

lebih mudah bicara tentang Dia daripada berdiam diri. Anda hampir tidak sabar dengan khotbahmu yang 

berikut. Air kehidupan membanjiri jemaatmu. 

 

 

Susunan Kebaktian 

 

“Tetapi Allah tidak menyukai kekacauan . . . .  Tetapi segala sesuatu harus berlangsung dengan sopan dan 

teratur” (1 Kor 14:33-40). Setiap susunan acara kebaktian harus dihubungkan secara keseluruhan, 

bergerak menuju satu tujuan, dan berakhir dengan reaksi jemaat. Itu harus direncanakan supaya bergerak 

maju menuju satu titik penyerahan. 

 

Partisipasi Jemaat. — Kita cenderung memikirkan kebaktian yang berisi: pengkhotbah sebagai pelaku, 

Allah sebagai juru bisik, jemaat sebagai penonton. Sebenarnya kebaktian sejati terdiri dari: jemaat sebagai 

pelaku, pengkhotbah sebagai juru bisik, dan Allah sebagai penonton. “Banyak perbaktian umum kepada 

Allah terdiri dari pujian dan doa, dan setiap pengikut Kristus harus mengambil bagian dalam perbaktian” 

(Ellen G. White, dalam Signs of the Times, 24 Juni 1886). Dengan demikian, bagi setiap pemuja, 

kebaktian harus menjadi satu peristiwa berpartisipasi. 

 

Ayat bersahut-sahutan. — Ayat bersahut-sahutan sangat cocok dengan panggilan untuk berbakti, 

bacaan Alkitab, penyerahan persembahan, atau sambutan khotbah. Bacaan Alkitab boleh diumumkan di 

papan pengumuman atau berita acara, atau dibacakan dari buku nyanyian, tetapi pemusatan Alkitab dalam 

perbaktian ditekankan ketika jemaat membaca langsung dari Alkitab. Namun, ini mencakup sedikit 

latihan bagi jemaat dan menyediakan Alkitab di setiap tempat duduk agar setiap orang memiliki  ayat 

yang sama. Pembacaan dapat dibagi ke dalam banyak cara bayangan, seperti: pemimpin, wanita, laki-laki, 

anggota kor, barisan kiri, barisan kanan, yang duduk di balkon, semua, dsb. 

 

Menyanyi. Keseluruhan jemaat baik sama-sama menyanyi untuk nyanyian panggilan, nyanyian sambutan 

doa dan nyanyian sambutan khotbah. Nyanyian efektif untuk persembahan kalau jemaat menyanyikan 

“Kami serahkan pada-Mu milik-Mu sendiri.” Banyak nyanyian cocok untuk maksud ini, begitu pula 

sebagian nyanyian informal seperti “Kami miliki pengharapan ini,” “Ku kasih pada-Mu,” “sebab  Dia 

hidup,” “Haleluya,” dll. 

 

Banyak gembala memakai  waktu antara sekolah Sabat dan acara khotbah untuk jemaat menyanyi. 

Kadang-kadang sekelompok kecil dapat memimpin dalam acara nyanyian, dengan bahan nyanyian dari 

Lagu Sion atau buku lain. 

 

Gerakan hadirin. Ada maksud psikologis dan jasmaniah dalam merencanakan gerakan hadirin sesuai 

jarak, (biasanya berdiri atau bertelut selama acara kebaktian). Maksud psikologis ialah supaya hadirin 

terlibat secara aktif selama berbakti. Maksud jasmaniah ialah supaya darah tetap mengalir dalam tubuh. 

Untuk sebab kedua, yaitu  ideal kalau jemaat berdiri dekat sebelum khotbah dimulai. 

 

Gerakan hadirin ialah mengundang hadirin yang meminta didoakan supaya datang ke depan dan bertelut 

bersama dalam doa pagi. 

 

Contoh bentuk kebaktian. Sering pendeta mendaftarkan unsur kebaktian dalam acara di bawah bagian-

bagian utama seperti: 

1. Pujian, Doa, khotbah 

2. Kami berkumpul, Kami memuji, Kami Mengabarkan, Kami Menanggapi, Kami Kembali 

3. Pemujaan, Pengumuman, Penyerahan 

4. Gereja Bekerja, Gereja Berbakti 

5. Berbakti Melalui Pujian, berbakti Melalui Pemberian dan Penerimaan, Berbakti Melalui Firman, 

Berbakti Melalui Penyerahan. 

 

Contoh bentuk kebaktian dimuat dalam buku Peraturan Jemaat, (pasal 7). Di sini ada unsur tambahan: 

 

Bentuk lebih panjang: 

 

Pendahuluan   Alat musik atau jemaat menyanyi 

 

Pengantar  Kor, alat musik, atau jemaat  

 

Panggilan berbakti Jikalau dimasukkan dalam acara, jemaat dapat berpartisipasi 

 

Pengantar mimbar Tidak perlu jikalau jemaat ikut menyanyi 

 

Doa pembukaan 

 

Lagu pujian 

 

Doa kependetaan Disambut oleh kor, alat musik atau jemaat 

 

Selamat datang dan 

pengumuman  Boleh dimasukkan acara PP. 

Anda boleh membuat pengumuman sebelumnya, tetapi seluruh jemaat belum 

hadir. Pilihan lain ialah menempatkan pengumuman sebelum doa dan akhiri 

pengumuman itu dengan permohonan doa. Pengalaman penarikan jiwa 

dimasukkan di tempat lain. Ini dapat dilakukan sewaktu pengumuman atau 

sementara memungut persembahan. 

  

Persembahan  Kalau pemungutan persembahan itu tidak menarik perhatian para pemuja, 

gunakanlah waktu ini untuk kesaksian atau wawancara, atau undanglah anak-

anak ke depan untuk cerita anak-anak. Jemaat boleh menyanyi sementara 

persembahan diantarkan ke depan dan didoakan, dengan demikian menekankan 

bahwa memberi yaitu  satu tindakan kebaktian. 

 

Bacaan Alkitab 

 

Musik   Musik istimewa atau nyanyian mimbar untuk memperkenalkan khotbah 

 

Khotbah 

 

Nyanyian undangan 

penyerahan 

 

Doa penutup  Disambut dengan kor, alat musik, atau jemaat 

 

Musik penutup 

 

 

Bentuk lebih pendek 

 

Pendahuluan 

 

Pengantar  Jemaat berdiri untuk doa dalam hati atau menyanyi sementara rombongan 

pengkhotbah bertelut. 

 

Lagu pengantar Jemaat tetap berdiri 

 

Doa kependetaan Termasuk mengundang hadirat Allah 

 

Pengumuman Boleh mencakup acara PP 

 

Persembahan 

 

Khotbah 

 

Doa berkat 

 

Usul tambahan. —  

1. Biarlah orang-orang yang naik mimbar itu terdiri dari kelompok yang berbeda di antara jemaat–orang 

muda, orang tua, kakek-nenek, yang baru menikah, masih lajang, dsb. 

 

2. Rombongan mimbar biarlah dari satu keluarga. 

 

3. Usahakan mewakili usia spektrum jemaat setiap Minggu. 

 

4. Gunakan grafik atau alat peraga. Buatlah satu pelajaran singkat ke dalam jenis susunan saraf yang 

berbeda, pendengaran, penglihatan dan ilmu gerak. Ini akan menuntun Anda untuk mencari cara baru 

yang berbeda dalam menjangkau orang. sebab  tidak semua orang mempelajari pelajaran dengan cara 

yang sama, harus ada beberapa cara berbeda untuk menjangkau para pemuja. 

 

5. Tentukan Sabat istimewa, hari-hari khusus, hari-hari tamu di mana mereka datang untuk 

mengantisipasi berkat luar biasa. 

 

6. Latihlah jemaatmu untuk mengharapkan panggilan penyerahan pada setiap akhir khotbah. Anda boleh 

mencetak “undangan” atau “seruan” sebagai bagian tersendiri dalam acara. Ingatkan para pendengarmu 

pada permulaan khotbah, mereka diminta supaya menanggapinya. Mereka akan mendengar dengan cara 

yang berbeda. 

 

Jangan mengikuti satu bentuk sebab  itulah yang diharapkan, tetapi sebab  itu dapat dilaksanakan, untuk 

membawa jemaatmu kepada satu pertemuan berarti dengan Allah. Perbaktian yaitu  pertemuan. 

Pasal 25 

 

 

Kumpulan Permintaan Doa 

 

 

Pentingnya Doa 

 

 

Gereja-gereja harus menekankan pentingnya pelayanan doa. Berikutnya gereja-gereja harus menekankan 

kumpulan permintaan doa. Manfaatkan setiap kesempatan di mana doa tak dapat dilaksanakan. Mereka 

yang benar-benar mencari persekutuan dengan Allah akan tampak di kumpulan permintaan doa” (SC, 98). 

 

Mengapa kumpulan permintaan doa tidak dihadiri dengan teratur? Apakah anggota-anggota terlalu sibuk, 

terlalu jauh atau hanya terlalu malas? Atau sebab  pendetanya menganggap remeh kegiatan itu? 

 

Kita dapat mempertimbangkan banyak cara menyemarakkan kumpulan permintaan doa, tetapi kita harus 

mulai dengan penekanan: betapapun acara pertengahan Minggu itu direncanakan, itu harus memberikan 

prioritas pertama kepada doa. Katakan saja itu pada waktu yang lebih senggang atau tempat yang paling 

menyenangkan, tetapi berdoalah. Sebutkan saja itu jam persekutuan, doa dan pujian, atau saat berkuasa, 

tetapi berdoalah. Berdoalah dalam kelompok kecil, pusatkan pada daftar permintaan atau kotak doa, 

berdoalah cara bercakap-cakap, atau doa beban di mana setiap orang mendoakan bagian khusus, tetapi 

berdoalah. Kumpulan permintaan doa yaitu  untuk berdoa. 

 

 

Cara Meningkatkan Kehadiran 

 

Ciptakan satu suasana yang dinamis. — Adakanlah kumpulan permintaan doa itu di dalam satu 

ruangan yang memadai. Satu kelompok kecil di dalam satu ruangan yang luas itu akan mengurangi 

keintiman, persekutuan, dan menyimpulkan kekalahan. Periksa apakah suhu ruangan menyenangkan 

sebelum para pemuja tiba. Biarlah mereka memasuki ruangan yang cukup terang. Mainkanlah lagu/musik 

sementara orang berdatangan, sekalipun musik itu dari kaset. Mulailah pada waktunya, jangan tunggu 

sampai semua tiba; mulailah dengan sesuatu yang tidak menuntut kehadiran setiap orang. 

 

Dengan nada percakapan. — Kumpulan permintaan doa lebih mirip dengan mengajar, bukan 

berkhotbah. Khotbah itu biasanya jangan lebih dari 20 menit. Usahakan satu rencana percakapan. 

 

Kumpulan permintaan doa cenderung menarik sekelompok pelajar Alkitab. Rencanakan satu seri 

berdasarkan perbincangan tentang buku Alkitab, pasal Alkitab, tokoh-tokoh Alkitab, kepercayaan  

Advent, nubuatan, dsb. 

 

Waktu dihemat dengan menghubungkan kumpulan permintaan doa dengan khotbah Sabat depan. Berikan 

ayat utama dari khotbahmu yang akan datang dalam acara hari Sabat sebelumnya dan undanglah hadirin 

mempelajarinya sebelum kumpulan permintaan doa, dan mintalah kelompok kecil memperbincangkan itu 

diterapkan dalam kehidupan mereka. Biarlah setiap kelompok kecil membagikan ringkasan dari 

perbincangan itu kepada kelompok lengkap. Gunakanlah pengaruh arus balik ini dalam penyediaan 

khotbahmu Sabat depan. 

 

Tekankan persekutuan. — Tanpa kecuali orang-orang tertarik ke tempat mana saja di mana mereka 

merasakan satu kehangatan persekutuan. Kumpulan permintaan doa harus mencakup kesaksian, 

pandangan dan membagikan iman. 

 

Kesaksian itu disampaikan dengan singkat–dan mutakhir. Tanyakan begini: “Apakah yang telah diperbuat 

Tuhan kepadamu Minggu ini?” “Doa yang manakah telah dijawab bulan ini?” “Pengalaman penarikan-

Nya bagaimanakah yang Anda miliki tahun ini?” Batasi yang bersifat dominan, dan dorong yang bersifat 

pemalu. Berikan tugas kesaksian: ayat Alkitab kesayangan bagaimana mereka bertobat menjadi Kristen, 

dsb. 

 

Anjurkan kesaksian yang bersifat kekeluargaan. Kesaksian yang terlalu banyak “saya” biasanya 

menjemukan. Mereka yang bersaksi kepada orang lain atau kepada jemaat keseluruhan sedanng 

menciptakan suasana persekutuan. 

 

Adakan malam gereja. — Betapa banyak menolong keluarga -keluarga yang sibuk, termasuk keluarga 

pendeta, sekiranya malam akhir pekan diatur sehingga banyak keluarga yang memanfaatkan malam itu 

bergembira bersama. Malam gereja dapat diandalkan untuk ini. Mulailah persekutuan pada jam pertama 

persekutuan itu dengan menyajikan sop makan malam. Kemudian untuk sisa waktu malam itu 

laksanakanlah permintaan doa, Pathfinder, komite, latihan kor, rekreasi, dsb. 

 

Saran tambahan: —  

1. Adakan kesaksian singkat atau acara jenis seminar. 

 

2. Ketika mengadakan kelas baptisan terakhir, anjurkanlah: “Sekarang, kumpulan permintaan doa akan 

menggantikan kelas kita yang biasa.” 

 

3. Biarkanlah seorang ketua jemaat yang memiliki karunia khusus ahli merencanakan dan memimpin 

kumpulan permintaan doa. 

 

4. Adakan kumpulan permintaan doa seperti kelompok belajar yang kecil di rumah anggota, barangkali di 

rumah ketua atau tua-tua jemaat. 

Pasal 26 

 

 

Perlawatan 

 

 

Perlawatan Pendeta 

 

 

Pentingnya kunjungan ke rumah. — Dalam kebanyakan budaya, pendeta yang sering melawat ke 

rumah akan menghasilkan orang-orang yang sering pergi ke gereja. Melawat ke rumah yaitu  penting 

bagi pendeta dan bagi jemaat; bagi jemaat sebab  mereka perlu mengetahui bahwa pendeta 

memperhatikannya; bagi pendeta sebab  mereka perlu mengetahui bagaimana anggotanya hidup dalam 

Minggu itu. Seorang bertanya: “Jalan raya dari meja belajar ke mimbar keluar masuk rumah dan rumah 

sakit, rumah pertanian, pabrik.” 

 

Ellen G. White memberi komentar: “Ingatlah bahwa pekerjaan seorang pendeta bukanlah hanya 

berkhotbah. Dia harus melawat keluarga-keluarga di rumah mereka masing-masing, untuk berdoa bagi 

mereka, dan membuka Alkitab kepada mereka. Dia yang bekerja dengan setia di luar mimbar akan 

melakukan sepuluh kali lipat lebih dari yang membatasi pekerjaannya di meja belajar” (9 T, 124). 

 

Masalah berkunjung ke rumah. — Di banyak negara, hanya imamlah di antara pekerja profesional yang 

masih berkunjung ke rumah-rumah. Fakta ini sendiri menunjukkan bahwa kunjungan ke rumah mencakup 

banyak masalah. Ini termasuk: 

 

Tidak di tempat. sebab  suami istri sering bekerja jauh dari rumah pada siang hari, maka perlawatan 

menemui kesulitan. 

 

Jarak. Banyak pendeta yang menggembalakan gereja besar atau sejumlah besar gereja. Sebagian 

memiliki transportasi yang sangat terbatas. 

 

Tidak terjangkau. Di kebanyakan kota, apartemen bertingkat tinggi kebanyakan tak dapat dimasuki 

tanpa izin khusus. 

 

Keamanan. Di banyak kota, tidak aman bagi pendeta untuk berkunjung ke beberapa jalan raya pada 

malam hari, dan orang-orang takut membuka pintu bagi seseorang yang tidak dikenal. 

 

Waktu. Perlawatan menghabiskan banyak waktu. Dalam beberapa macam situasi, pendeta memakai  

lebih banyak waktunya di jalan raya mengunjungi sebuah rumah tangga ketimbang di rumah sendiri, 

mereka bertanya apakah mereka sedang memakai  waktunya secara efisien. 

 

Jalan keluar yang disarankan menghadapi masalah kunjungan ke rumah: 

1. Bila Anda pertama kali memasuki wilayah, kunjungilah setiap rumah anggota.  Buktikanlah dari 

semula bahwa Anda peduli. Sesudah itu, biarlah ketua-ketua dan anggota lainnya melakukan banyak dari 

kunjungan rutin sementara Anda me