gereja masehi 16

Tampilkan postingan dengan label gereja masehi 16. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label gereja masehi 16. Tampilkan semua postingan

gereja masehi 16


 


ng bertumpuk dan itu satu 

tindakan ketidaksetiaan kepada gerejamu. Lebih dari pada itu, engkau kehilangan satu alat yang dapat 

menjadi penuntun dan perlindungan bagimu.  

 

2. Tekankan pengampunan. Sebagian menuduh bala tentara Kristen satu-satunya yang menembak lukanya 

sendiri. Tidak seharusnya demikian. Orang yang didisiplin dapat melihatnya sebagai penolakan, dan 

mereka ditolak dapat bereaksi dengan permusuhan. Mereka merasa hukuman gereja itu lebih besar dari 

pengampunannya. Mereka akan mendapatkan kesukaran untuk mempercayai bahwa Allah mengampuni 

mereka sementara gereja tak dapat melakukannya. Dengan demikian, tindakan disiplin harus disertai 

dengan penekanan yang sangat dalam tentang pengampunan. 

 

Pengampunan yaitu  titik pusat kekristenan. Kristus menekankan, “Tetapi jikalau kamu tidak 

mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu” (Mat. 6:15). Sekali lagi, 

“jagalah dirimu!” Jikalau saudaramu berbuat dosa, tegurlah dia, dan jikalau ia menyesal, ampunilah dia. 

Bahkan jikalau ia berbuat dosa terhadap engkau tujuh kali sehari dan tujuh kali ia kembali kepadamu dan 

berkata: ‘aku menyesal’, engkau harus mengampuni dia” (Lukas 17:3,4). Paulus mengajak jemaat untuk 

mengulurkan pengampunan kepada yang bersalah pada saat tanda pertobatan pertama terlihat (2 Kor. 2). 

 

Ny. White menekankan, “jikalau saudaramu itu bersalah, engkau harus mengampuni mereka. Engkau 

jangan mengatakan sebagaimana dikatakan orang lain yang harus mengetahui lebih baik, ‘saya pikir 

mereka tidak cukup rendah hati. Saya pikir mereka tidak merasa menyesal.’ Berhakkah Anda menghakimi 

mereka, sebagaimana engkau dapat membaca hati?” (Manuscript 11, 1888). 

 

3. Disiplin Alkitabiah. Yesus menyediakan prosedur menangani dosa (Mat, 18:15-17). 

a. Temui orangnya secara pribadi 

b. Pergi bersama satu atau dua orang saksi 

c. Jikalau tidak berhasil, bawalah masalahnya kepada jemaat.  

d. Jikalau orang itu tidak mendengarkan jemaat, anggaplah dia itu sebagai orang di luar gereja. Tentu saja, 

cara kita memperlakukan mereka yang ada di luar gereja ialah mencoba memenangkan mereka ke dalam 

gereja. 

 

Pegawai gereja tidak harus menasihatkan, komite tidak harus merekomendasikan, atau gereja tidak harus 

memungut suara, agar nama yang bersalah itu dikeluarkan dari buku jemaat, sampai petunjuk yang 

diberikan Kristus sudah diikuti dengan saksama” (7 T262). 

 

Dalam sidang pengadilan, sang tertuduh dianggap tidak bersalah sampai terbukti bersalah. Gereja tidak 

dapat bertindak lain daripada itu. “Apabila seseorang datang kepada pendeta atau orang-orang yang 

memegang jabatan kepercayaan dengan keluhan tentang seorang saudara laki-laki atau perempuan, 

biarlah dia bertanya kepada si pelapor, ‘apakah Anda sudah menerapkan peraturan yang diberikan 

Juruselamat kita?’ dan jikalau dia gagal menerapkan bagian mana pun dari petunjuk ini, janganlah 

mendengarkan sepatah kata pun dari laporannya. Tolaklah laporan yang menentang saudaramu seiman 

laki-laki dan perempuan. Kalau anggota-anggota jemaat melangkahi peraturan ini, mereka membuat diri 

mereka sebagai hamba disiplin jemaat dan harus menempatkan mereka di bawah celaan gereja” (EGW 

Manuscript 11, 1888). 

 

4. Disiplin secara dini – namun dengan sabar. Seringkali orang yang melakukan dosa segera menyesal 

kemudian. Dengan menghadapi dosa itu segera dia akan bertobat. Namun banyak pendeta dan jemaat 

sebab  mereka mendapati bahwa konfrontasi itu tidak enak, tidak melakukan apa-apa sampai beberapa 

bulan atau beberapa tahun kemudian. Kemudian, seringkali orang itu minta dipindahkan keanggotaannya, 

rekomendasi pemindahan disangkal sebab  apa yang telah terjadi dulu. Gereja tidak mau bertindak ketika 

dosa itu masih nyata sehingga merasa kecewa bertindak kemudian. Tindakan seperti itu membuktikan 

bukan hanya pengabdian tetapi kurang mengampuni. 

 

Sebaliknya, jangan dilakukan disiplin dengan tidak sabar. “Dalam menangani yang bersalah, janganlah 

gunakan ukuran kekasaran, sarana yang lebih lembut akan berpengaruh lebih banyak. Setelah tidak 

berhasil memakai  sarana terbaik dengan sabar, tunggulah dengan sabar dan lihatlah apakah Allah 

tidak menggerakkan hati orang yang bersalah itu” (sda). 

 

5. Kenakan disiplin dengan sukarela. Kalau nampaknya disiplin itu tak terelakkan, kalau diberikan 

kesempatan kepada si pelanggar, dia mungkin menarik diri dengan sukarela. Dalam keadaan demikian, ini 

akan menghindarkan perbincangan umum mengenai permasalahan dan kekecewaan yang bersangkutan, 

itu mengurangi rincian perbincangan. Seseorang yang dengan rela menari diri mengharapkan lebih sedikit 

penolakan ketimbang ketika dia terpaksa melakukannya. 

 

6. Mendisiplin tanpa memihak sebelah. Disiplin tidak pernah tergantung atas berapa banyak sahabat atau 

berapa banyak kuasa yang dimiliki pelanggar di dalam gereja. Orang-orang yang terlibat dalam kasus 

pelanggar atau berhubungan rapat dengannya haruslah dikeluarkan sewaktu memutuskan kasus itu. Ada 

alasan baik bahwa hanya konferensi sidanglah yang membuat keputusan terakhir disiplin. Majelis jemaat 

dapat tergoda memperlakukan mereka yang dari kelompoknya seenaknya. Pendeta hidup dengan 

penggodaan yang terus-menerus memihak pada seorang yang telah meminta nasihat dan melawan orang 

yang belum. 

 

7. Lindungi kerahasiaan. Satu aturan main yang baik umumnya, “semakin besar jumlah, semakin sedikit 

perincian.” Dalam pertemuan bisnis, anggota berhak menanyakan pertanyaan terperinci. Namun, biasanya 

mereka akan membiarkan perincian yang menyakitkan berdiam bersama kelompok yang lebih kecil, 

seperti ketua-ketua jemaat. Pendeta tentunya tidak menyendiri mengetahui cerita itu seluruhnya. Matius 

18 menetapkan itu, bahwa antara konfrontasi satu lawan satu pertemuan dan pertemuan kelompok gereja, 

haruslah ada pertemuan kelompok kecil, “supaya dengan kesaksian dua atau tiga orang saksi setiap kata 

dapat dipastikan” (ayat 16). 

 

Pengakuan umum ada pada tempatnya kalau pelanggaran itu sudah bersifat umum, tetapi gereja harus 

menerima ini dalam roh pengampunan dan penerimaan gantinya hukuman. Perbincangan yang tidak 

berhati-hati atau penyingkapan dapat menuntun kepada kesulitan hubungan etis yang legal. Hal ini dapat 

disingkirkan jikalau peraturan gereja diikuti. 

Pasal 29 

 

KEUANGAN GEREJA 

 

 

Memberi Cara Rohani 

 

Perlu mengumpulkan uang. – Pendeta pada dasarnya yaitu  pemimpin rohani, menggembalakan kawanan 

domba itu. Kebanyakan merasa senang memberi makan domba-domba, tetapi sebagian berbicara dengan 

remah “menggunting bulunya.” Mereka mau memberi kepada mereka, bukan mengambil dari mereka, 

sebab  kepedulian mereka yang pertama ialah kesehatan kawanan domba mereka. Namun, domba yang 

tidak digunting bulunya tidak sehat. Mereka memelrukan bulu, tetapi terlalu erat dan terlalu panas jika 

terlalu tebal. Pendeta harus mengumpulkan dana, tetapi mereka harus melakukannya demi kesehatan 

rohani anggota-anggotanya, bukan hanya membiayai program. Mencari dana untuk mendukung program 

gereja yaitu  salah satu masalah besar yang dihadapi pendeta. Nomor dua dari itu ialah mencari para 

penyandang dana sukarela yang cukup jumlahnya. Seringkali sakit kepala masalah keuangan yaitu  

gejala dan bukanlah masalah utama. Jikalau kesulitan keuangan berlangsung terus menerus, itu biasanya 

cara yang digunakan mengoreksinya ialah mengobati gejala bukan masalah itu sendiri. 

 

Pendeta yang tidak memiliki naluri bisnis yang kuat harus bersandar pada anggota-anggota yang 

berpikiran bisnis untuk menangani gereja. Pendeta harus selamanya mengambil alih peranan 

mengumpulkan dana. Namun ada tanggung jawab yang dia tidak dapat elakan yaitu latihan penatalayanan 

dan pendidikan – satu kebutuhan yang mutlak, bukan hanya untuk kestabilan keuangan gereja, tetapi 

untuk pertumbuhan kerohanian anggota-anggotanya. 

 

Cara pengumpulan dana yang salah. – Memberi untuk menerima. Cara pengumpulan dana yang berpusat 

pada uang boleh saja kelihatan produktif dalam jangka waktu singkat, tetapi sebenarnya lebih banyak 

mendorong kekikiran ketimbang kerelaan. “Kita tidak bermaksud menimbulkan nafsu selera atau usaha 

semacam hiburan sebagai bujukan bagi pengikut Kristus terkenal untuk memberikan dana yang 

dipercayakan Allah kepada mereka. Jikalau mereka tidak memberikan dengan rela demi kasih kepada 

Kristus, pemberian itu bagaimanapun tidak berkenan di hati Allah” (WM 289). 

 

Memberikan proyek. Walaupun itu berguna dalam keadaan darurat, pengumpulan dana melalui proyek 

bergantung terlalu banyak pada pembicaraan berkesinambungan tentang uang, dan tidak menyediakan 

kelanjutan dukungan financial yang tergolong memberi cara sistematis. Rencana sumbangan tahunan 

memastikan kepemimpinan keuangan gereja yang sehat. “Memberikan panggilan darurat bukanlah 

rencana sehat mengumpulkan dana” (3T511). 

 

Keharusan lahiriah. Pengumpulan dana melalui paksaan bagaimana pun, secara umum atau pribadi, itu 

tidak berterima untuk sebuah gereja. “Memberikan dengan teratur seharusnya tidak dibuat keharusan 

yang teratur. Pemberian sukarela sajalah yang diterima oleh Allah. (SDA. Hlm. 396).   

 

Cara pengumpulan dana yang benar. – Prinsip penatalayanan Kekristenan didasarkan secara Alkitabiah. 

Alkitab mengajar kita untuk melihat kehidupan sebagai satu kesempatan yang diberikan Ilahi supaya 

belajar menjadi setia terhadap hal-hal yang bersifat sementara, dengan demikian menunjukkan kesediaan 

kita untuk penatalayanan yang lebih tinggi dalam hal yang abadi. Persepuluhan yaitu  pengakuan 

sementara akan kepemilikan Allah. Persembahan yaitu  ukuran fisik kasih kita terhadap Allah dan 

keinginan kita untuk melihat kemajuan pekerjaan-Nya. Para pendeta harus selalu memperkenalkan alasan 

memberi selaku orang Kristen. Ada empat prinsip: 

 

Alasan penginjilan. Orang akan memberi bilamana mereka memikirkan Injil. “Demikian pula Tuhan telah 

menetapkan, bahwa mereka yang memberitakan Injil, harus hidup dari pemberitaan Injil itu” (1 Kor. 

9:14). Biaya gereja harus dicukupkan oleh mereka yang hatinya sudah diubah, bukan sebab  bujukan 

manusia, tetapi oleh Injil–berita baik tentang Yesus. 

 

Satu tindakan perbaktian. Orang akan memberikan jikalau mereka melihat perbuatan memberi itu satu 

tindakan perbaktian. Pusat perbaktian dalam perjanjian lama bukanlah khotbah, doa dan nyanyian. 

Contoh panggilan untuk berbakti kalah “Marilah kita mengadakan korban untuk Tuhan Allah kita” (baca 

Kel. 3:18; 5:3,8; 8:27; 10:25). Jikalau umat memiliki  sikap yang salah dalam memberi, barangkali itu 

terjadi sebab  para pendeta tidak menolong mereka supaya memahami hubungan vital antara korban dan 

perbaktian. 

 

Menunjang sebuah misi. Orang akan memberikan jikalau gereja mereka memiliki  misi. Jikalau sebuah 

gereja memiliki  satu program yang melibatkan anggota-anggotanya, mereka akan membayarnya. 

Sebagaimana seorang mengatakan, “Saya tidak peduli memasukkan bahan bakar ke dalam mobil saya 

jikalau bepergian ke satu tempat, tetapi saya tidak mau memboroskan uang saya hanya supaya mesinnya 

hidup dan tetap di halaman rumah.” 

 

Satu rencana secara teratur. Orang akan memberi jikalau gerejanya memiliki  rencana persembahan. 

Program mereka yang terbaik biasanya mencakup seseorang mengunjungi setiap rumah setiap tahun 

untuk menerangkan rencana persembahan secara teratur dan yang membutuhkannya, dan mengajak 

supaya berpartisipasi. Anggota mungkin saja memasukkan kartu janji pada hari Sabat. Kartu janji ini 

dapat diambil di rumah, tetapi anggota bisa merasa tertekan. Ini dapat dilakukan dengan mengirimkannya 

melalui pos, hanya cara ini tidak menjamah pribadi dan kesempatan untuk diskusi. 

 

Rencana panjang penatalayanan gereja harus mencakup petunjuk atas surat-surat pribadi, mungkin oleh 

direktur pengawasan harta benda di Konferens atau Daerah. Para anggota harus di dorong untuk 

mempercayakan sebagian uangnya kepada gereja. 

 

Mengatur Uang Gereja 

 

Di atas semua anggota, pendeta harus menyadari bahwa uang yang dipersembahkan kepada Allah 

haruslah diatur dengan cara yang disetujui-Nya. Kalau haruslah diatur dengan cara yang disetujui-Nya. 

Kalau anggota merasa bahwa uang gereja tidak diatur dengan baik, maka menurunlah persembahan. 

Sebaliknya, kalau terlihat pendeta selaku seorang penatalayanan yang cakap, kepercayaan dan 

persembahan akan meningkat.  

 

Pengawasan Intern. – Pengawasan intern menyediakan satu sistem pengecekan dan neraca untuk 

menghindari pencurian. Satu sistem pengawasan intern yang baik mengurangi risiko pencurian  modal, 

atau menjauhkan penggodaan yang tak perlu, memperbaiki ketepatan catatan keuangan, dan melindungi 

bendahara dan pendeta dari tuduhan palsu. 

 

Setiap persembahan harus dihitung oleh dua orang dan dicatat masing-masing secara terpisah. Semua 

uang harus melalui pembukuan bendahara. Jangan pernah “pinjam dari persembahan. Semua pembayaran 

harus disertai permohonan tertulis yang menerangkan maksud dan tujuan pinjaman, diambil dari dana 

mana, dan kepada siapa itu dibayarkan. 

 

Bendahara Gereja. – Bendahara haruslah lebih sering menerima penghargaan dan lebih jarang diganti. 

Pekerjaan sebagian pimpinan gereja menghadapi umum, tetapi pekerjaan seorang bendahara hampir tidak 

kelihatan, dan sering kali dilupakan. 

 

Tanggung jawab bendahara yang pertama ialah terhadap majelis gereja, bukan kepada pendeta jemaat. 

Majelis dapat memutuskan dana tertentu yang digunakan atas prakarsa pendeta, tetapi pendeta tidak harus 

menekan bendahara memberikan uang kepadanya tanpa persetujuan majelis gereja. Ini tidak adil dan 

tidak etis. Pendeta yang baik tidak meminta, dan kalau dia meminta, bendahara yang baik tidak akan 

memberikannya. 

 

Penyediaan anggaran belanja. – Program tahunan perencanaan gereja harus mendahului penyediaan 

anggaran belanja tahunan. Ini melindungi anggaran belanja “pelaksanaan rutin” yang memakai  

program tahun lalu dan pendanaannya untuk menentukan program dan anggaran belanja tahun berikut. 

Biasanya anggaran belanja sebuah gereja akan sama dengan 30 sampai 50 persen persepuluhan. Kalau 

ada sekolah gereja, sekitar separuh dari jumlah anggaran belanja akan digunakan untuk pendidikan 

Kristen. 

 

Anggaran belanja ini harus diputuskan dalam rapat konferensi jemaat di mana semua anggota memiliki  

kesempatan memberikan pandangannya dan menerima kepemilikan rencana itu. (Contoh anggaran 

belanja gereja ada dalam Buku Peraturan Gereja). 

 

Utang gereja. – Utang jangka panjang cenderung membawa kekecewaan bagi pendeta dan menjadi jalan 

buntu bagi jemaat. Bagaimanakah satu gereja bergerak maju ke depan ketika kebanyakan dana 

diperuntukkan bagi apa yang telah dilakukan di masa lalu? 

 

 

PASAL 30 

 

PROMOSI GEREJA 

 

Banyak anggota dan sebagian pendeta yang siap tempur menghadapi apa saja dalam gereja yang berbau 

promosi. Pendeta tidak mau tergolong “tukang promosi yang suci.” Namun tanpa promosi, persembahan 

misi akan berkurang, evangelisasi gagal, bahkan pertemuan sosial tidak dihadiri. Yang dipromosikan 

mendapat dukungan. 

 

Masalahnya ialah apakah kita mempromosikan atau bagaimana caranya. Di sini ada lima saran bagaimana 

membuang “rasa sakit” dalam mengadakan promosi: 

 

1. Jadwalkan dalam kalender. – Setiap tahun, tinjau kembali program gereja di tahun lalu dan buatlah 

rencana untuk tahun berikutnya. Berbincang-bincanglah dengan Majelis Gereja dan sediakan kalender 

yang mencakup promosi utama dalam tahun ini. Biarlah jadwal itu diputuskan dalam Konferensi Jemaat 

agar setiap anggota memiliki  masukan dan kesempatan mengetahui apa yang akan terjadi. 

 

Promosikan hanya satu promosi utama satu waktu. Setiap departemen pada setiap tingkat, termasuk gereja 

lokal mau memakai  pendeta dan jam khotbah untuk mempromosikan proyeknya. Anda perlu setia 

terhadap semua program yang baik ini, tetapi Anda tidak memiliki  waktu dan jemaat tidak memiliki  

kesabaran untuk menekankan keinginan sponsor kepada setiap orang. 

 

Promosikanlah dengan giat program yang Anda, gereja dan Konferens Anda prioritaskan terutama, dan 

carilah jalan keluar untuk menyinggung yang lainnya dengan lembut. Sebagai contoh, beberapa gereja 

hanya mengijinkan satu bahan promosi yang dikeluarkan setiap minggu, dan menyediakan yang lainnya 

di atas meja di serambi. 

 

2. Persingkatlah itu. – Promosi singkat nan padat menciptakan semangat yang lebih tinggi dan kepuasan 

yang lebih dalam ketimbang yang lesu dan bertele-tele. 

 

3. Jelaskan. – Banyak orang terjangkau lebih bersedia melalui penglihatan ketimbang pendengaran. Lebih 

baik dipahami keterangan tertulis sebab  dapat dibaca ulang. Bahan-bahan yang tertulis yang dimasukkan 

ke rumah anggota menjadi peringatan seterusnya. Biarlah informasimu itu terlihat dalam buletin, berita 

acara, bahkan dalam alat mencapai tujuan. 

 

4. Sederhanakan. – Gunakanlah rencana Alkitab membagi anggota ke dalam pekerja kelompok kecil. 

Anda selalu mempromosikan lebih baik dengan memakai  sarana yang ada seperti kelas sekolah sabat 

dari pada membentuk organisasi baru. 

 

Sebagian promosi dapat memakai  telepon. Para narapidana memerlukan layanan gereja dan 

seseorang yang dapat diajak berbincang-bincang. Ajaklah mereka menghubungi setiap anggota dengan 

telepon untuk mendapatkan pekabaran. 

 

5. Pelihara sifat rohaniahnya. – Sabat pagi yaitu  untuk kebaktian. Namun tugas gerejani bersifat alamiah 

dan diperlukan pertumbuhan kebaktian. Promosi seharusnya tidak menjejali kerohanian kita, tetapi 

penting juga terlibat dalam kegiatan gereja, yaitu penerapan praktis pengalaman rohani. Itulah yang 

menggiatkan kebaktian. 

 

Seharusnya pendeta itu tidak mengijinkan keluhan anggota untuk menghalangi mereka dari program 

promosi. Kuatkanlah anggota itu supaya terlibat dalam tugas gereja atau doronglah mereka supaya maju 

dalam misi rohani. 

PASAL 31 

 

Fasilitas Gereja 

 

Bilamana Anda tiba di suatu gereja atau wilayah untuk pertama kalinya, hati-hatilah dalam menilai atau 

mengeritik fasilitas gereja. Itu dibangun dengan usaha jemaat–bukan dengan usahamu. Bangunan yang 

semakin tua, semakin lunturlah itu dengan kenangan kelahiran, baptisan, pernikahan, penguburan dan 

pendewasaan kerohanian. Sampai Anda sadar akan sejarah suatu bangunan, Anda dapat memahami 

mengapa anggota enggan merehab bangunan itu. 

 

Nampaknya Anda akan pindah juga akhirnya, dan apa saja fasilitas gereja yang Anda tinggalkan akan 

menjadi tetap ruang kebaktian anggota dan anak-anak mereka–kemungkinan besar akan membayarnya. 

Kesemuanya ini yaitu  argumentasi kuat untuk menghormati keinginan anggota untuk membaiki fasilitas 

dan mempertahankan kedudukan seorang ketua jemaat yang sangat dihormati dalam memimpin komite 

pembangunan. 

 

Buku peraturan gereja berisi nasihat penting tentang pembiayaan fasilitas baru. Di sini ada usul praktis 

tentang bangunan gereja. 

 

Lokasi 

 

Surat keberatan perumahan sebelumnya mencakup bangunan gereja dan sebagainya: “Dalam membangun 

satu bangunan, ada tiga faktor kepentingan utama: yang pertama ialah lokasi, kedua ialah lokasi, dan 

ketiga ialah lokasi.” Paling sedikit lima persoalan yang harus dipertimbangkan dalam menentukan lokasi 

sebuah gereja. 

 

1. Pemusatan dan Pencapaian. – Pelajarilah demografi. Apakah lokasi itu berpusat pada orang-orang yang 

akan dimenangkan dan dilayani oleh gereja? Lokasi gereja harus lebih berpusat pada orang yang akan 

dimenangkan ketimbang lokasi anggotanya yang melayani. Apakah lingkungan stabil, atau apakah orang-

orang akan berpindah sehingga demografi berubah? Bagaimana dengan sarana tranportasi? 

 

Dari semua bangunan umum, barangkali bangunan gerejalah yang paling kurang dimanfaatkan. Lokasi 

yang tepat akan membuat fasilitas gereja digunakan pada akhir pekan untuk pusat kegiatan harian, klinik 

medis, seminar, konseling, dan sebagainya. 

 

2. Jarak Penglihatan. – Sebuah bangunan yang menarik, kelihatan dari jalan utama yang sibuk, itulah satu 

iklan positif yang abadi bagi gereja dan misinya. 

 

3. Biaya. – Penghitungan biaya itu penting, tetapi hal ini dianggap sepele sehingga pembiayaan melebihi 

semua yang lain. Tanah lokasi kurang berharga seringkali sebab  tidak ada air, listrik, selokan, gas , jalan 

dan sebagainya, yang belum siap pakai. Terlalu banyak gereja dibangun di tempat yang menyedihkan 

sebab  tanah itu disumbangkan atau dibeli dengan harga murah. Hampir sama harganya membangun 

bangunan di atas tanah yang tidak memenuhi syarat dibandingkan dengan di atas tanah pilihan, mungkin 

juga berharga hanya separuh dari harga setelah selesai dibangun. 

 

4. Kurang bangunan.– Kalau terlalu sempit sangat tidak mungkin untuk pengembangan. Kalau terlalu 

lebar sangat mahal untuk mengelolanya. Lahan yang tak terpakai bisa saja menyakitkan mata orang 

banyak. Bagaimanakah rencana panjang jemaat itu? Apakah itu besar atau cukup kecil saja untuk 

memulai jemaat baru dan mulai bertumbuh melahirkan jemaat baru? Perlukan nanti sebuah sekolah gereja 

atau fasilitas lain di tempat yang sama? 

 

5. Pembatasan.– apakah lahan itu diizinkan untuk pembangunan gereja? Apakah jelas pemilik dan 

sertifikatnya? Kita telah kehilangan tanah bernilai jutaan dolar dalam sejarah singkat gereja kita sebab  

keteledoran dalam pengurusan surat-suratnya. Para pendeta harus bekerjasama dengan Daerah atau 

Konferensnya untuk memastikan kepemilikan semua tahan gereja di atas nama Legal Association yang 

dimaksud untuk itu. 

 

Rancangan 

 

Ada empat pertanyaan yang harus ditanyakan sewaktu membuat fasilitas gereja. 

 

1. Apakah itu menarik?– Gereja Advent menonjolkan kesederhanaan. Kami enggan membelanjakan uang 

dari Daerah/Konferens untuk membangun bangunan megah. Pada saat yang sama kita menemukan bahwa 

Allah mengatur peragaan indah yang istimewa dalam kaabah di pandang belantara dan nampaknya 

memberkatinya lebih dari pada kaabah-kaabah perjanjian lama. 

 

Bagaimanakah seharusnya pendeta itu menjawab sewaktu dihadapkan kepada dua pandangan yang jauh 

berbeda itu sewaktu memimpin jemaat dalam merencanakan fasilitas gereja? Ellen White menawarkan 

nasihat yang seimbang: “Apakah mereka yang siap mengritik  rumah perbaktian ini telah 

mempertimbangkan untuk rumah ini dibangun? Bahwa itu dibangun khusus menjadi rumah Allah, untuk 

ditahbiskan bagi-Nya; menjadi satu tempat pertemuan jemaat dengan Allah?... 

 

“Banyak anggota kita berpandangan sempit. Keteraturan, kebersihan, selera, dan kesesuaian digolongkan 

kepada kesombongan dan cinta akan dunia. Pemikiran ini salah. Kesombongan yang sia-sia, hiasan-

hiasan yang terlalu mencolok dan hiasan yang tidak perlu, itu tidak menyenangkan hati Tuhan. Tetapi Dia 

yang telah menciptakan satu dunia indah bagi manusia, dan menempatkan sebuah taman indah di Eden 

dengan bermacam-macam pepohonan untuk buah dan keindahan, Dia yang telah menghiasi bumi dengan 

bunga-bunga yang indah dari segala macam corak dan warna, telah memberikan bukti yang nyata bahwa 

Dia merasa senang dengan yang indah” (2T257, 258). 

 

2. Apakah itu berfungsi?– Untuk fungsi yang lain apa bangunan itu selain kebaktian sabat pagi? 

Cukupkah dipersiapkan dengan sederhana untuk pertemuan sosial dan jangkauan keluar begitu juga 

kebutuhan anak-anak dan orang muda? Arsitek yang cakap akan menyelamatkan sejumlah uang gereja 

lebih besar dari pada honornya dengan merancang sebuah bangunan yang indah dan berfungsi serba guna. 

 

3. Apakah isinya dapat diatur dengan mudah?– Tempat duduk haruslah dapat di pindah-pindahkan. 

Bangku yang tak dapat di pindah dan lantai yang miring menyulitkan penggunaan ruangan untuk kegiatan 

kelompok kecil. Tempat duduk koor yang tinggi menghalangi penggunaan tempat itu untuk keperluan 

lain. 

 

Besar ruangan harus dapat disesuaikan. Kelompok kecil dalam sebuah ruangan besar akan mengurangi 

semangat dan menjadikan pertemuan itu seperti satu kegagalan. Semangat pertemuan sangat digairahkan 

dengan keseimbangan besarnya ruangan dengan jumlah orang yang berkumpul. Ruang kebaktian yang 

ideal memiliki  bagian yang dapat dibuka dan ditutup tergantung banyaknya yang berbakti. Haruslah 

disediakan ruangan yang lebih kecil untuk kelompok yang lebih kecil. Biasanya ini dua kali lebih luas 

dari ruangan kelompok belajar. 

 

Suara dapat diatur. Musik dan khotbah cenderung bersaing satu dengan yang lain dalam kebutuhan 

masing-masing. Akustik harus hidup-hidup agar musik jelas dan orang dapat menyanyi dengan baik, 

namun begitu mati agar khotbah tidak bergema. Sistem pembesaran suara yang baik menambah 

fleksibilitas. 

 

4. Apakah pertemuan itu akrab?–Sampai beberapa tahun belakangan ini, ruangan gereja cenderung 

menjadi panjang dan sempit seakan-akan memisahkan seorang pemuja dari yang lain dan dari pemimpin 

acara kebaktian. Seorang pendeta mengumpakan hasil kerja pengkhotbah itu kepada seorang pesaing 

sedang duduk di pinggir satu sungai dan mencoba memenangkan hati seorang gadis di pinggir seberang 

sambil meneriakkan cintanya dengan nada tinggi. 

 

Persekutuan yaitu  sebagian dari kebaktian, orang-orang berhimpun dekat satu dengan yang lain bersama 

Allah. Secara ideal, ruang kebaktian harus dibentuk begitu rupa agar para pemuja dekat satu dengan yang 

lain, dan dekat dengan pemimpin kebaktian jika tidak mungkin dikelilingi. 

 

Mimbar itu biasanya ditempatkan di tengah-tengah rostrum untuk mengesankan bahwa mengkhotbahkan 

firman itu yaitu  pusat pekabaran Advent dan perbaktiannya. 

 

Perawatan 

 

Kebanyakan gereja yang tidak menarik yaitu  tidak menari, bukan sebab  bangunannya sudah tua dan 

tidak baik, tetapi sebab  tidak dipelihara. Kenecisan, kebersihan, dan dekorasi bagian dalam tidak mahal. 

Sangat menakjubkan betapa besar perbedaannya kalau bangunan itu dicat. 

 

Jemaat dapat menjadi begitu betah tinggal di dalam lingkungan gereja sehingga mereka tidak lagi 

memperhatikan kekurangannya. Para diaken dan pimpinan gereja lainnya seharusnya secara berkala 

meninjau bangunan seakan-akan mereka yaitu  pengunjung yang mendapat ilham pertama kali. Daftar 

pengecekan dapat meningkatkan penilaian tentang pekarangan, merk, cat luar, serambi, dekorasi bagian 

dalam, perlindungan terhadap kebakaran, dan sebagainya. 

 

Tentu saja fasilitas gereja diasuransikan sesuai dengan peraturan daerah atau konferens. yaitu  

kesombongan kalau mengharapkan perlindungan Allah sekalipun kita malas. 

 

Penyewaan 

 

Penyewaan gedung kita kepada gereja atau organisasi lain seharusnya dilakukan dengan hati-hati. 

Penyewaan seperti itu dapat menimbulkan kesalahpahaman, penggunaan bangunan yang berlebihan, dan 

selalu menambah biaya pemeliharaannya. Pemimpin sekolah sabat semakin tidak sabar melihat tamu-

tamu mengatur ruangan mereka. Para anggota boleh saja tidak menyukai perbedaan cara perbaktian dan 

pekabaran khotbah. Jemaat yang menyewa bangunan gereja tanpa kecuali hampir kecewa untuk 

meningkatkan pendapatan tambahan. 

 

Namun, jikalau gereja lain kehilangan ruang kebaktian mereka, sehingga mereka menyewa gereja Anda 

untuk sementara, mungkin itulah cara kekristenan yang dilakukan. Kalau Anda menyewa, masukkanlah 

setiap bagian persetujuan ke dalam dokumen yang paling tepat sedapat mungkin, untuk menolong 

menghindari rasa sakit hari di kemudian hari. Daerah atau konferens boleh mempertahankan bahwa 

merekalah yang mengesahkan dokumen ini. 

PASAL  32 

 

Pendidikan Kristen 

 

Pentingnya Pendidikan Kristen 

 

Telah disebutkan mengenai Michelangelo bahwa ia dapat melihat pada satu blok batu marmer dan 

menemukan di sana satu bentuk malaikat menunggu untuk dilepaskan. Para pendeta juga harus mampu 

melihat dengan cara yang sama pada anak-anak jemaat mereka. 

Apa yang dilakukan gereja terhadap anak-anak mereka yaitu  hal yang sangat penting bagi 

Kristus. Ia mengajarkan, “Barangsiapa menyesatkan salah satu dari anak-anak kecil yang percaya ini, 

lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya lalu ia dibuang ke dalam laut” 

(Mark. 9:42). 

Ellen White menulis kepada gereja, “Dalam pengertian yang paling tinggi pekerjaan pendidikan 

dan pekerjaan penebusan yaitu  satu” (Education, hlm. 30). “Di mana terdapat beberapa orang 

pemelihara hari Sabat, maka orang-orang tua harus bersatu untuk menyediakan satu tempat untuk sekolah 

di mana anak-anak dan orang muda mereka bisa diajar” (Testimonies, jld. 6, hlm. 198). Tidak heran 

Gereja Advent mendirikan lebih dari 5,000 sekolah di lebih dari 100 negara – salah satu program 

pendidikan yang terbesar dari denominasi Protestan manapun. 

 

Usul-usul yang praktis 

 

1.  Adakan satu Sabat pendidikan Kristen setiap tahun. – Tidak lama sebelum tahun ajaran mulai, 

pusatkanlah seluruh acara perbaktian pada pendidikan Kristen. Undanglah guru-guru sekolah gerejamu ke 

mimbar dan lakukanlah doa penyerahan khusus bagi mereka. Jika diinginkan, anak-anak sekolah gereja 

dan orang-orang tua mereka bisa dimasukkan dalam doa penyerahan itu. Juga bisa diadakan doa 

penyerahan untuk anak-anak muda yang mau pergi ke sekolah berasrama. Bahkan walaupun engkau tidak 

memiliki  sekolah gereja, engkau masih bisa mempromosikan pentingnya pendidikan Kristen. 

2.  Dukunglah guru-gurumu. – Para pendeta dan para guru bermitra dalam pelayanan. Para 

pendeta harus terlibat dalam urusan sekolah, tetapi tidak boleh mencampuri atau menolak program guru. 

Orang-orang tua dalam sekolah gereja kadang-kadang merasa memiliki  otoritas istimewa atas 

guru-guru. 

--- 

(Footnote): Untuk mengetahui lebih jauh mengenai falsafah pendidikan Kristen Advent, dan untuk 

menolong menjalankan sebuah program sekolah, lihat Peraturan Jemaat bab 8. 

-- 

Uang sekolah yang mereka bayar digunakan untuk membayar gaji guru-guru. Beberapa dari 

mereka duduk dalam dewan sekolah yang menggaji guru-guru. Sebagai anggota gereja, mereka merasa 

bahwa seoklah itu yaitu  milik mereka. Pendeta, bersama-sama dengan dewan sekolah, harus melindungi 

guru-guru dari gangguan orang-orang tua murid. Dan pendeta memiliki  peran rangkap sebagai pendeta 

dan juga sebagai orang tua.  

Bilamana sekolah berasrama mengembalikan seorang siswa sebab  terkena disiplin, janganlah 

ambil kata-kata siswa itu atau kata-kata orang tuanya sebagai satu-satunya yang benar mengenai apa yang 

terjadi di sekolah. Mintalah respons sekolah sebelum memutuskan apa sebenarnya yang terjadi. 

3.  Gunakanlah waktu di sekolah. – Ikutilah kebaktian bersama, mungkin sekali seminggu. 

Buatlah jadwal supaya engkau kadang-kadang ikut bermain di tempat bermain. Engkau bisa bergaul lebih 

rapat dengan para guru dan siswa di sana. Jika engkau memiliki  kebolehan dalam atletik, kehormatan 

yang engkau peroleh di tempat bermain akan berdampak pada pekabaran yang engkau sajikan di kelas 

maupun di mimbar. Keberhasilanmu mengubah sikap orang terhadap Yesus tergantung lebih besar pada 

apa yang engkau pikirkan pada waktu mengatakannya dari pada apa yang engkau katakan mengenai Dia. 

4.  Pertimbangkan tempat penitipan anak. – Banyak orang tua mencari tempat yang memenuhi 

syarat dan dapat dipercaya untuk tempat menitipkan anak-anak mereka sementara mereka pergi bekerja. 

Gerejamu mungkin sudah memiliki  fasilitas yang bisa digunakan untuk tujuan ini, atau program ini 

bisa digabungkan dengan sekolah gereja. Proyek ini bisa menjadi sarana evangelisasi; engkau mungkin 

bisa memenangkan orang tua anak itu bagi Kristus melalui persahabatan yang baik. Dan juga anak-anak 

itu bisa melanjutkan pendidikannya di sekolah gereja itu. 

5.  Pertimbangkan pendidikan agama tambahan. – Orang-orang Advent lebih menyukai 

menjalankan sendiri sekolah mereka. Bilamana hal ini tidak memunmgkinkan, pertimbangkanlah 

beberapa program yang terstruktur, yang menghimpun anak-anak bersama-sama sebelum sekolah, 

sesudah sekolah atau pada akhir-akhir minggu untuk mendapatkan pelajaran Alkitab dan asuhan 

kerohanian, yang akan mereka terima seandainya ada sekolah gereja di tempat itu. 

 

BAGIAN EMPAT 

 

Pelayanan Khusus Pendeta 

 

33. Baptisan 

34. Penyerahan Anak 

35. Peresmian Gereja 

36. Perjamuan Kudus 

37. Penguburan 

38. Peletakan Batu pertama 

39. Pemberkatan rumah 

40. Pengurapan pendeta baru 

41. Mendoakan (meminyaki) yang sakit 

42. Pernikahan 

PASAL 33 

 

Baptrisan 

 

Pentingnya Baptisan 

 

Baptisan bukan hanya melambangkan kematian Kristus bagi kita, tetapi juga 

kematian kita atas dosa dan hidup baru di dalam Dia. Baptisan menegaskan masuknya 

kita menjadi anggota keluarga Allah, dan mengasingkan seseorang kepada hidup 

pelayanan. 

 

Baptisan satu peristiwa besar. – Penelitian telah menunjukkan bahwa laju tetap 

tinggalnya anggota baru di dalam gereja berbanding langsung dengan penerimaan gereja 

setempat pada mereka. Untuk menciptakan suatu kenang-kenangan manis bagi calon-

calon baptisan mengenai komitmen mereka kepada Kristus dan untuk memaksimalkan 

proses ikatan persaudaraan antara mereka dan keluarga gereja, maka baptisan haruslah 

dibuat menjadi satu peristiwa besar dalam hidup gereja. 

Untuk alasan yang sama, baptisan untuk anak-anak gereja juga janganlah kurang 

kesungguh-sungguhannya dan semaraknya dari baptisan calon-calon dari luar gereja. 

Baptisan yaitu  ritual  penerimaan anak-anak ke gereja. Mungkin mereka sudah 

dibesarkan di dalam gereja sehingga mereka dianggap tidak begitu penting oleh sebab  

mereka hanyalah anak-anak. Tetapi dengan baptisan itu mereka mengharapkan agar 

mereka juga diperlakukan sedikit sama dengan orang-orang dewasa, seolah-olah mereka 

benar-benar berarti bagi gereja. Jika gereja tidak merasa penting baptisan anak-anak itu, 

maka tidak berapa lama anak-anak itu juga akan merasa bahwa gereja tidak penting bagi 

mereka. 

Biasanya kita mau agar keluarga dan sahabat-sahabat kita hadir pada peristiwa-

peristiwa penting dalam hidup kita. Mereka juga harus diundang untuk menghadiri 

baptisdan seseorang. Sebagian gereja mengirimkan undangan yang dicetak seperti 

layaknya undangan pernikahan dengan kata-kata seperti “Bagi orang-orang Kristen, 

baptisan Alkitab menunjukkan hidup baru – permulaan yang baru. Sama seperti 

pernikahan melambangkan penyatuan hidup manusia, demikianlah baptisan 

melambangkan penyatuan kita dengan Yesus dan keluarga gereja-Nya. Dengan hormat 

Bapa/Ibu/Sdr(i) diundang untuk menyaksikan perayaan khidmat pembaharuan hidup 

___________________.” Nama-anak-anak, diikuti oleh waktu dan tempat baptisan 

diadakan, dituliskan dengan tulisan tangan. Dengan demikian satu cetakan undangan bisa 

sesuai untuk semua calon baptisan. Calon-calon baptisan didorong untuk mengundang 

keluarga dan teman-teman mereka dan kartu undangan diberikan sebanyak yang mereka 

butuhkan. 

Baptisan yaitu  suatu peristiwa lokal. – Idealnya, baptisan haruslah menjadi 

peristiwa gereja setempat. Dapat dimengerti, jika para pemimpin konferens/daerah begitu 

antusias mengenai baptisan yang diadakan pada pertemuan perkemahan atau perkemahan 

pemuda. Mereka ingin melihat buah dari usaha mereka. Orang-orang cenderung 

menyukai baptisan masal sebagai hasil dari suatu kebaktian kebangunan rohani, dan 

mungkin di sanalah tempat mereka dibaptiskan. Namun, sayangnya baptisan yang 

dilakukan jauh dari gereja setempat kadang-kadang gagal mengikat anggota baru dengan 

gereja di mana mereka bergabung. 

Dalam hal pemuda gereja, bilamana mereka dibaptiskan di tempat lain, kadang-

kadang hal itu bisa dianggap suatu pelecehan kepada pendeta gereja setempat, sekolah 

Sabat atau guru sekolah gereja, atau pemimpin Pathfinder yang telah menghabiskan 

banyak waktu menolong mereka mengenal kasih Yesus. 

Pada waktu baptisan, dibuat dua komitmen (janji). Para calon baptisan berjanji 

menyerahkan diri mereka kepada Kristus dan kepada gereja-Nya. Gereja berjanji untuk 

mengasihi, bersahabat, melindungi, dan melatih para calon baptisan itu. Oleh sebab  pada 

waktu baptisanlah komitmen ini dibuat, maka para calon baptisan dan gereja harus hadir 

bersama-sama pada peristiwa itu. Sebagaimana kelahiran jasmani, yaitu  paling baik jika 

keluarga yang akan membesarkan bayi itu hadir pada waktu ia  dilahirkan. 

Bilamana baptisan dilakukan sebagai bagian dari kebaktian hari Sabat, acara baptisan 

harus diberikan keutamaan, jangan hanya sebagai acara tambahan saja yang dilakukan 

dengan tergesa-gesa. Bilamana baptisan dilakukan sebagai acara terpisah, maka baptisan 

harus didahului oleh amanat singkat mengenai arti dari baptisan itu. Di antara 

menyelamkan seseorang calon baptisan, yaitu  baik diperdengarkan musik instrumental 

atau paduan suara. Anggota gereja juga boleh menyanyi bersama, dengan demikian 

mereka memainkan peran yang lebih aktif dalam peristiwa itu. 

Baptisan yaitu  peristiwa yang sering terjadi. – Baptisan kecil yang dilakukan 

sering-sering yaitu  lebih baik daripada baptisan besar yang kadang-kadang  dilakukan, 

oleh sebab : 

1. Hal ini memelihara semangat memenangkan jiwa yang terus-menerus seluruh 

anggota gereja. 

2. Buah harus dipetik kalau sudah matang, tidak boleh dibiarkan sampai lama. 

3. Setiap baptisan mendorong seseorang yang ikut menyaksikan untuk 

mengambil langkah yang sama. 

 

Sementara engkau merencanakan programmu untuk sepanjang tahun, tetapkanlah dan 

umumkan setiap bulan atau paling sedikit setiap triwulan tanggal baptisan yang sudah 

direncanakan. Para diakon dan diakones yang mempersiapkan segala sesuatu untuk baptisan 

itu akan menghargai pemberitahuan itu. 

 

Otorisasi untuk membaptiskan. – Buku Peraturan Gereja pada halaman 48 

menetapkan, “Jika ntidak ada pendeta yang diurapi, maka ketua akan memohon pada ketua 

konferens setempat untuk melaksanakan baptisan ritual  baptisan bagi mereka yang ingin 

bergabung dengan jemaat.” Ketua jemaat setempat tidak boleh membaptiskan, walaupun 

dalam keadaan luar biasa, tanpa terlebih dahulu mendapat izin dari ketua konferens/daerah. 

 

Sebelum Baptisan 

 

 Fasilitas baptisan. – Bak baptisan yang terbuat dari beton sering retak. Bak logam 

berkarat, kecuali dilap kering setiap kali selesai digunakan. Mungkin yang paling ideal yaitu  

bak baptisan yang terbuat dari fiberglass. Sudut-sudut dan tiang-tiang  pondasi harus kuat 

untuk menahan berat air yang besar. Di mana air sulit didapat, maka drum (tong) bisa 

digunakan. 

Air haruslah hangat jika mungkin. Dinginnya air yang tiba-tiba bisa membuat 

seorang calon baptisan yang gelisah menghisap air ke lubang pernafasannya. Sebagian 

metoda pemanasan akan membiarkan air di dasar bak tetap dingin kecuali air itu dikocok. 

Jika memakai  mikrofon, harus dijauhkan dari jangkauan mereka yang ikut 

mengambil bagian, yang berada dalam bak. Shock listrik bisa berakibat fatal bagi seseorang 

yang berdiri di dalam air. Mikrofon harus dimatikan selang satu baptisan supaya pendeta bisa 

berbisik kepada calon baptisan dan membuatnya tenang. 

Baptisan di luar gedung memberikan kesaksian evangelisasi yang efektif kepada 

publik. Namun, pastikan bahwa air tidak tercemar. Bilamana membaptiskan di sungai, 

baptiskanlah dengan kepala calon baptisan ke arah hulu. Dengan demikian arus air akan 

mendorong orang itu ke arahmu dan bukan menjauh dari padamu. 

Orang yang cacat  bisa dibawa ke dalam air dan bahkan dicelupkan ke dalam air 

sementara ia duduk di atas kursi, apakah baptisdan itu dilakukan di dalam gedung atau di luar 

gedung. Dalam keadaan darurat medis yang ekstrim, ritual  ini bisa dilakukan di rumah atau 

di rumah sakit. Dalam salah satu situasi seperti itu Ellen White menasihatkan, “Persiapan 

khusus harus dilakukan untuk memenuhi permintaan orang yang sudah tua untuk dibaptiskan. 

Ia tidak cukup kuat untuk pergi ke ______ atau ke _____ dan jalan satu-satunya di mana 

ritual  itu bisa dilakukan ialah dengan menyediakan sebuah bak mandi dan menuntunnya ke 

dalam air” (Evangelism, hlm. 315). 

Pembantu-pembantu dalam baptisan. – Para diakon biasanya menyediakan tempat 

untuk baptisan dan membantu calon baptisan pria. Para diakones menyediakan gaun dan 

membantu para calon baptisan wanita. Gaun-gaun harus diperiksa secara teratur untuk 

memastikan tidak ada tali pengikatnya yang putus dan tidak jahitannya yang terlepas. 

Pembantu-pembantu perlu bukan hanya kompeten, tetapi juga harus ramah dan perhatian, 

mampu mendorong dan menghibur calon baptisan yang gelisah atau takut. 

Jika tempat pembaptisan tidak memiliki  tirai, sebuah selimut atau seprei harus 

dibungkukan ke orang-orang yang dibaptiskan pada waktu mereka keluar dari dalam air.Gaun 

yang tebalpun bisa tergantung dengan cara yang tidak sopan dan menunjukkan gambar 

baptisan yang diselamkan yang patut disayangkan, terutama bagi keluarga yang bukan 

Kristen dan teman-teman yang hadir. Selimut itu juga akan memberikan kehangatan dan 

menghindarkan menggigil sebab  dingin atau takut. Para diakon atau diakones boleh 

memeras bagian bawah dari gaun sebelum orang yang dibaptis itu keluar dari dair, lalu 

membawa mereka ke tempat khusus, dan menyuruh mereka masuk ke kamar mandi di mana 

mereka melepaskan gaun baptisan mereka. Dengan berbuat begini akan mengurangi licinnya 

lantai dan lebih mudah membersihkannya. 

Bilamana seorang anggota atau pembantu pendeta menjadi alat yang khusus untuk 

memenangkan jiwa, undanglah orang itu untuk membantu calon baptisan masuk ke dan 

keluar dari tempat pembaptisan, sehingga dengan demikian memainkan bagian yang penting 

dalam baptisan. 

Pakaian baptisan. – Jika memungkinkan, gereja harus menyediakan pakaian 

baptisan yang sesuai dengan kebudayaan setempat seperti gaun. “Di setiap gereja harus 

disediakan gaun baptisan bagi calon-calon baptisan. . . . Gaun harus dibuat dari bahan yang 

kuat, yang berwarna agak gelap, yang tidak rusak oleh air, dan harus ada pemberat di bawah. 

Buatlah gaun yang rapi dan berpotongan baik, dibuat dengan patron yang dapat diterima. 

Janganlah diberi hiasan-hiasan, dan jangan berkerut” (Ibid, hlm. 314). 

Perhatikan bahwa dianjurkan gaun yang berwarna gelap. Oleh sebab  warna putih 

lebih menampakkan bagian badan kalau basah, maka gaun yang berwarna putih harus 

berlapis dua. Bahan yang tebal lebih sopan. Pemberat di lipatan bagian bawah mencegah 

terjadinya hal yang memalukan oleh sebab  bagian bawah gaun mengapung pada waktu 

memasuki air. 

Jika memakai  gaun, para calon baptisan harus membawa memakai pakaian 

dalam. Pakaian berenang tidak begitu nampak di bawah gaun, oleh sebab itu pakaian mandi 

cukup ideal. Sebagian orang ingin memakai stocking dan topi mandi. Saputangan atau 

handuk kecil untuk menutupi hidung waktu diselamkan dan handuk untuk mengeringkan 

harus disediakan jika gereja tidak menyediakannya. Jika gaun baptisan tidak ada tersedia, 

maka calon baptisan dianjurkan membawa pakaian pengganti, supaya sesudah ia dibaptiskan 

dengan memakai pakaiannya, ada pakaian lain untuk pengganti.  

Jika memungkinkan, bot pemancing ikan, yang mulai dari kaki sampai ke bawah 

ketiak, yaitu  pakaian yang ideal bagi pendeta yang membaptiskan. Dengan demikian 

pendeta tidak perlu membawa pakaian pengganti ke gereja, dan waktu berganti pakaian akan 

jauh lebih cepat. Pendeta hanya membuka jasnya dan sepatu, menggulung lengan baju, masuk 

ke dalam bot dan memakai gaun. Pendeta bisa membuka gaun dan botnya serta memakai 

jasnya tidak lebih lama dari anggota gereja menyanyikan sebuah lagu. Namun, pastikan 

bahwa bot itu sampai ke bawah letiak, kalau tidak, pada waktu menyelamkan calon baptisan 

air bisa masuk ke dalam bot. 

Menenangkan calon baptisan. – Kalau perlu, calon baptisan boleh mengikuti gladi 

resik “di tempat kering” sebelum pembatisan mereka. Terangkanlah prosesnya dan tunjukkan 

kepada mereka bagaimana pendeta memegang mereka. Yakinkan calon baptisan yang 

badannya berat bahwa mereka akan ringan di dalam air. (Jika calon baptisan lebih besar 

daripadamu, gunakanlah air dalam.) yaitu  bijaksana untuk memberitahukan kepada para 

calon baptisan gara supaya mereka tidak berbicara selama pembaptisan, bahwa engkau yaitu  

orang yang bertanggungjawab dalam pelaksanaan baptisan, dan mereka tidak perlu repot-

repot mengingat-ingat sesuatu. Detil-detil keterangan mengenai menahan nafas, 

membengkokkan lutut, dan sebagainya, barangkali terlalu berlebihan. Doronglah para calon 

baptisan untuk memusatkan perhatian mereka hanya pada komitmen kerohanian dan 

menyerahkan kepadamu untuk mengurus semua detil-detil jasmaniah. 

Memeriksa dan menerima ke dalam keanggotaan. – Para pendeta, para evangelis, 

atau para pekerja Alkitab jangan memeriksa sendiri calon baptisan mengenai pengetahuan 

doktrin mereka. Pemeriksaan di hadapan umum akan meyakinkan gereja bahwa calon 

baptisan itu sudah diperiksa dengan semestinya. Sebaliknya, memeriksa doktrin secara 

mendetil kedengarannya ganjil kepada para tamu, oleh sebab  pemeriksaan itu sebenarnya 

yaitu  formalitas dan biasanya tidak seorangpun ingin menyuarakan keberatannya di depan 

umum pada waktu itu. Penilaian terbatas mengenai komitmen kerohanian para calon baptisan 

bisa dilakukan oleh majelis gereja, para ketua atau kelompok kecil lainnya yang ditunjuk oleh 

gereja. Para pendeta dan para evangelis harus mengingat bahwa mereka yaitu  datang dan 

pergi. Para anggota baru harus disetujui dan disambut oleh para anggota gereja, yang akan 

tinggal bersama-sama dan memelihara mereka. (Lebih jauh mengenai mengajar dan 

memeriksa anggota baru, lihat bab 23; juga Peraturan Gereja.) 

Pemungutan suara (voting) untuk menerima anggota baru ke dalam keanggotaan 

gereja bisa dilakukan sebelum atau sesudah pembaptisan. Jika dilakukan sebelum baptisan, 

maka pemungutan suara itu harus dengan syarat sesudah dibaptiskan. Litani (bacaan 

bersahutan) singkat bisa dilakukan dengan efektif: 

Pemimpin:  Apakah engkau sebagai jemaat membuka hatimu, keluargamu, sumber-

sumber daya kerohanian dan emosimu kepada anggota keluarga yang baru ini pada hari ini? 

Anggota jemaat: Kami akan membuka. 

Semua:  Sekarang kita semua yaitu  anggota tubuh Kristus. Kamu sekarang yaitu  

Saudara dan Saudari kami. Allahlah bapamu dan bapa kami. Yesus yaitu  saudaramu dan 

saudara kami. Roh Kudus yaitu  penghibur dan pemelihara kita bersama. Kami menerima 

kamu dan merayakan penerimaan kamu ke dalam keluarga Allah. 

Para calon anggota boleh diminta datang berdiri di depan para anggota jemaat pada 

waktu pemungutan suara diulakukan. Sesudah pemungutan suara, pendeta dan ketua-ketua 

jemaat setempat yang duduk di mimbar, biasanya turun ke para anggota baru untuk 

menyerahkan surat keterangan baptisan, dan atas nama para anggota jemaat memberikan 

salam persekutuan menyambut mereka ke dalam keluarga gereja. 

 

Pada waktu pembaptisan 

 

Jika anggota keluarga yang sama akan dibaptiskan pada hari itu, yaitu  baik bagi 

mereka untuk masuk ke dalam air pada waktu yang sama. Bapa, sebagai pemimpin rohani 

rumahtangga, biasanya dibaptiskan lebih dahulu. 

Memperkenalkan calon baptisan. – Sementara para calon baptisan memasuki tempat 

pembaptisan, pastikan bagian bawah gaun baptisan tidak mengapung. Kemudian, sebelum 

engkau berbicara kepada jemaat, taruhlah mereka pada posisinya dan suruh mereka 

berpegang padamu dan siap untuk diselamkan. 

Mungkin engkau mau agar keluarga dan/atau mereka yang menolong memenangkan 

seseorang itu berdiri. Jika calon baptisan itu yaitu  seorang anak anggota jemaat, jangan lupa 

menyebutkan guru-guru sekolah Sabat dan guru-guru sekolah gereja, pembina Pathfinder, dll. 

Berikanlah sepatah kata keterangan singkat mengenai latar belakang seseorang yang akan 

dibaptiskan dan bagaimana ia dimenangkan oleh Kristus. 

Salah satu opsi (bukan keharusan) ialah meminta calon baptisan untuk memakai  

malam terakhir sebelum mereka dibaptiskan untuk merenungkan dan menuliskan secara 

singkat kesaksian mengenai arti baptisan itu bagi mereka. Doronglah mereka untuk 

menyebutkan orang yang telah menolong mereka sampai kepada keputusan untuk menerima 

baptisan itu. Seseorang yang secara khusus terlibat dalam memenangkan mereka bisa diminta 

untuk membacakan kesaksian ini dari mimbar sementara pendeta dan calon baptisan berdiri 

di tempat pembaptisan. 

Menyelamkan calon baptisan. – Calon baptisan biasanya membawa saputangan atau 

handuk kecil pada waktu memasuki tempat pembaptisan. Jika engkau yaitu  seorang yang 

biasa memakai  tangan kanan, peganglah saputangan atau handuk kecil itu di tangan 

kirimu. Gunakanlah tanganmu yang lebih kuat memegang bagian belakang calon baptisan 

untuk menahan beratnya. Suruhlah mereka berpegang dengan kedua tangannya pada 

pergelangan tangan kirimu, satu tangan di bawah pergelangan tanganmu dan yang satu lagi 

dari atasnya. Hal ini akan memberikan rasa aman kepada mereka. 

Sekarang, berbicaralah kepada para pendengar, akhiri dengan kalimat yang sudah 

direncanakan dengan baik, bagian pertama dari kata-katamu yaitu  mengenai komitmen 

pribadi calon baptisan. Contohnya, “Dan sekarang,  __________, oleh sebab  apa yang telah 

dilakukan Yesus bagimu dan oleh sebab  engkau telah memberikan hidupmu kepada-Nya dan 

ingin menjadi bagian dari keluarga Allah [angkat tanganmu], dengan senang hati aku 

membaptiskan engkau dalam nama Bapa, Anak dan Roh Kudus. Amen.” 

Taruhlah saputangan atau handuk menutupi wajah calon baptisan, dengan telapak 

tangan kirimu di bawah dagunya supaya mulutnya tertutup, dan dengan lembut menjepit 

hidungnya di antara ibu jari dan jari telunjukmu. Taruhlah tangan kananmu di antara bahu 

calon baptisan, menggenggam bagian dari jubah dalam tangan agar orang itu tidak tergelincir 

dari peganganmu dalam air. Langkahkan kaki kananmu selangkah ke sebelah kanan pada 

waktu calon baptisan diselamkan. 

Baptiskanlah orang itu dengan lembut, jangan dengan kasar. Selamkan calon baptisan 

pelan-pelan dan dengan luwes angkat dia kembali ke posisi berdiri, dengan mengganggu air 

sesedikit mungkin. Sekalah wajah orang itu dengan lembut dengan saputangan atau handuk 

kecil. Jabatlah tangannya. Pada saat ini, sebagian pendeta mengucapkan doa berkat dan 

mengajak menghidupkan satu kehidupan pelayanan Kristen. 

Himbauan dan pengumuman. – Pada waktu orang terakhir meninggalkan tempat 

pembaptisan, umumkanlah jadwal pembaptisan yang berikut dan undanglah mereka yang 

mau dibaptiskan untuk berdiri, mengangkat tangannya, atau mengisi satu kartu, dan 

sebagainya. 

 

Sesudah Baptisan 

 

Baptisan harus diikuti oleh resepsi – suatu pernyataan ikatan silaturahmi antara orang 

yang baru dibaptiskan dengan anggota-anggota jemaat. Beberapa usulan yang mungkin bisa 

dipertimbangkan: 

1.  Undanglah orang-orang yang baru dibaptis dengan pendeta berdiri di pintu depan 

untuk disalami oleh semua anggota. Suruhlah ketua atau pemimpin gereja yang  lain yang 

menarik mereka untuk memperkenalkan mereka kepada para anggota gereja. 

2.  Jika anggota gereja tidak terlalu banyak, undanglah para anggota berpegangan 

tangan membuat satu lingkaran, lalu menyanyikan “Perhubungan Kita” (Lagu Sion No. 7) 

atau “I’m So Glad I’m a Part of the Family of God,” atau nyanyian yang sesuai. Setelah 

berdoa penyerahan, lingkaran itu bisa menjadi barisan penerima, dengan masing-masing 

anggota menyambut mereka yang baru saja dibaptiskan. 

3.  Sediakanlah kartu ucapan selamat untuk masing-masing yang baru dibaptis. 

Suruhlah seluruh anggota jemaat menandatanganinya dan menuliskan ayat kesukaannya 

dalam kartu itu, dan sebagainya., sebelum kartu itu diberikan kepada mereka yang baru 

dibaptiskan. 

4.  Berikanlah kartu lain kepada masing-masing anggota dan suruhlah mereka 

menuliskan suatu kalimat. Buatlah ini menjadi buku koleksi tempelan kenang-kenangan bagi 

para anggota yang baru dibaptiskan. 

5.  Adakan resepsi atau makan bersama yang sepenuhnya ditujukan untuk 

menyambut anggota-anggota yang baru dibaptiskan. Mintalah mereka datang ke depan untuk 

menerima kembang dan duduk di panggung. Suruhlah orang yang paling dekat dengan 

mereka untuk memperkenalkan. Lakukanlah wawancara, tanyakan mengapa mereka memilih 

menjadi seorang Advent dan apa yang mereka harapkan bisa mereka berikan untuk 

pertumbuhan gereja. 

6. (Fotocopian tidak jelas!!) 

 

--- 

Footnote: Saran-saran lebih lanjut untuk menytambut anggota baru. Lihat bab 23. 

PASAL 34 

 

Penyerahan Anak 

 

Sesuai dengan Alkitab. 

 

Penyerahan anak kepada Allah, terutama anak sulung, telah dipraktekkan pada zaman 

Perjanjian Lama. Hana menyerahkan anaknya, Samuela, kepada Allah kepada pelayanan 

dalam rumah-Nya (1 Sam. 1: 27, 28). 

Maria dan Jusuf membawa bayi Yesus ke Bait Suci di “Yerusalem untuk 

menyerahkan-Nya kepada Tuhan” (Luk. 2:22).  Ellen White mengatakan mengenai hal ini: 

“Imam melakukan ritual  resmi dalam pekerjaannya. Ia membawa anak itu dalam 

tangannya, dan mengangkatnya di hadapan mezbah. Sesudah ia menyerahkan anak itu 

kembali kepada ibunya, ia menuliskan nama ‘Yesus’ dalam daftar anak sulung” (The Desiore 

of Ages), hlm. 52). 

Walaupun Perjanjian Baru tidak memerintahkan ritual  seperti itu, caranya Yesus 

berhubungan dengan anak-anak kecil mendorong diadakannya ritual  penyerahan anak 

kepada Allah. Dari peristiwaYesus memberkati anak-anak (lihat Mat. 19:13-15;  Mark. 

10:13-16;  Luk. 18:15-17) kita boleh memperhatikan enam hal penting. 

1.  Yesus memberkati anak-anak. “Lalu Ia memeluk anak-anak itu dan sambil 

meletakkan tangan-Nya atas mereka Ia memberkati mereka” (Mark. 10:16). 

2.  Memberkati anak-anak yaitu  peristiwa yang besar. Semua kitab Injil Sinoptis 

memuat cerita itu. 

3.  Anak-anak kecil (bayi) termasuk di dalamnya. “Maka datanglah orang-orang 

membawa anak-anaknya yang kecil kepada Yesus” (Luk. 18:15). 

4.  Yesus tidak memerintahkan atau memprakarsai pemberkatan anak. Matius 

mencatat, “Akan tetapi murid-murid-Nya memarahi orang-orang itu” (Mat. 19:13). 

Kelihatannya murid-murid tidak akan menentang pemberkatan itu seandainya Yesus yang 

memprakarsainya. 

5.  Yesus memberikan berkat-berkat bilamana para orang tua memohonnya. 

“Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepada-Ku” (Mati 

19:14). 

6.  Yesus tidak senang dengan larangan pemberkatan itu. “Murid-murid-Nya 

memarahi orang itu. Ketika Yesus melihat hal itu, Ia marah” (Mark. 10:13, 14). 

 

Ellen White menasihatkan, “Biarlah pelayan-pelayan injil memangku anak-anak di 

tangan mereka, dan memberkati mereka dalam nama Yesus. Biarlah kata-kata kasih yang 

paling lembut diucapkan kepada anak-anak kecil itu, sebab  Yesus memangku kawanan 

domba-domba di tangan-Nya dan memberkati mereka” (Evangelism, hlm. 349-350). 

Namun, dapat dimengerti bahwa penyerahan anak akan meragukan mereka yang latar 

belakangnya dari gereja yang melaksanakan pembaptisan bayi. Untuk alasan ini, dalam 

ritual  penyerahan anak di gereja Advent tidak dilakukan pemberian wali bapa atau wali ibu 

dan pemberian nama sebagaimana yang lazim diberikan. ritual  ini bukan ritual  

pengkristenan, dan seharusnya tidak tampak seperti itu. 

ritual  itu harus diatur untuk menekankan empat tujuan mendasar: 

1. Untuk bersyukur kepada Allah atas mujizat kelahiran itu. 

2. Orang-orang tua berjanji akan memelihara anak itu untuk mengasihi Yesus. 

3. Gereja berjanji untuk menyediakan fasilitas dan dukungan untuk membantu 

orang-orang tua  dalam tugasn