tanda akhir zaman 1

Tampilkan postingan dengan label tanda akhir zaman 1. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tanda akhir zaman 1. Tampilkan semua postingan

tanda akhir zaman 1


 


Al-Qur’an dengan tegas melarang persahabatan dan aliansi 

Muslim dengan aliansi Yahudi-Kristen. Namun di seluruh dunia 

Islam saat ini kebanyakan pemerintah melanggar larangan ilahi 

itu. Mereka, pendukung dan pengikutnya, mendapatkan balasan 

untuk tindakan seperti itu. Mereka kehilangan Islam dan 

menjadi bagian dari aliansi Euro-Yahudi / Euro-Kristen yang 

berperang melawan Islam. Ini yaitu  aliansi pertama yang 

muncul dalam sejarah, dan mengobarkan perang ini  demi 

kepentingan Negara Euro-Yahudi Israel. Al-Qur’an dan Nabi 

Muhammad telah memberi  informasi yang memungkinkan 

kita untuk menemukan Yakjuj dan Makjuj dalam barisan kedua 

aktor ini , yaitu, Euro-Kristen dan Euro-Yahudi, yang 

berperang melawan Islam. 

 

aya dan Shaikh Ali Mustafa dari Suriname mendaki sebuah 

bukit di Morvant (di pulau asal saya di Karibia, Trinidad) ke 

puncak di mana sebuah Gereja Kristen berada, dan kami 

lalu  duduk untuk mengatur napas (bagi saya) dan akhirnya 

berpartisipasi dalam apa yang kami harapkan dapat menjadi 

pertukaran pandangan Kristen-Muslim yang bersahabat. 

 

Serangan palsu dan ganas terhadap Al-Qur’an dan sisi 

personal Nabi Muhammad (shala Allahu ‘alaihi wa salam), yang 

kami tanggapi, hampir tidak bersahabat. Sungguh mengejutkan 

dan sangat berdosa. Namun, kami segera menemukan sumber 

dari perilaku jelas non-Kristen dalam ‘perang melawan Islam’ 

yang dilakukan oleh Yakjuj dan Makjuj sebagai aliansi adikuasa 

di seluruh dunia. Kami pun memahami motif perilaku aneh itu 

dalam kepanikan mereka untuk menahan penyebaran Islam di 

antara kaum miskin di perbukitan Laventille dan Morvant. 

 

"Persahabatan antara Kristen dan Muslim dilarang oleh Al-

Qur’an sendiri", kata pembicara Kristen itu disambut tepuk 

tangan meriah dari jemaahnya. Dia, tentu saja, bergantung pada 

terjemahan sebuah ayat Al-Qur’an yang sering disalahpahami. 

Inilah ayat yang diterjemahkan oleh penulis ini: 

 

“Wahai orang-orang yang beriman (pada Al-Qur’an ini), 

janganlah kamu menjadikan golongan Yahudi dan Kristen 

(tertentu) sebagai teman dan sekutu yang mereka sendiri 

menjadi teman dan sekutu bagi satu sama lain. Barangsiapa 

di antara kamu (Muslim) yang menjadikan mereka (teman 

dan sekutu), maka sesungguhnya dia termasuk golongan 

mereka; Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada 

orang-orang yang zalim.” 

 

(Al-Qur’an Surat Al-Maidah, 5: 51) 


Pada saat Al-Qur’an diturunkan, dan selama lebih dari 

seribu tahun sesudah nya, Kristen dan Yahudi terkunci dalam 

hubungan kebencian timbal balik sedemikian rupa sehingga 

tidak mungkin untuk membayangkan rekonsiliasi Kristen-

Yahudi pada masa selanjutnya, dengan persaudaraan dan aliansi 

timbal balik. Meski demikian, Injil sendiri telah mencatat peran 

eksklusif Yahudi dalam tuntutan penyaliban Kristus, selain fakta 

bahwa pemerintah Romawi telah menentangnya (Yohanes, 19: 

4-7). Kekristenan secara konsisten, dan secara tepat, 

menyalahkan orang-orang Yahudi yang menuntut penyaliban 

itu. Itu menciptakan permusuhan abadi di antara dua umat  

beragama. 

 

Namun, ayat Al-Qur’an yang luar biasa ini sebenarnya 

mengantisipasi saat dunia akan menyaksikan rekonsiliasi yang 

aneh dan misterius antara dua musuh ini, dan munculnya aliansi 

Yahudi-Kristen. Hanya di zaman modern, saat  Yakjuj dan 

Makjuj menyerang Euro-Kristen dan Euro-Yahudi dan telah 

mengubah Eropa menjadi warga  sekuler yang pada 

dasarnya tidak bertuhan di mana pria dapat menikahi pria secara 

sah, dunia telah menyaksikan terwujudnya nubuwah ilahi yang 

menakjubkan dalam ayat Al-Qur’an ini (lihat Bab mengenai 

Yakjuj dan Makjuj dalam artikel  ‘Yerusalem dalam Al-Qur’an’). 

 

Seharusnya jelas bahwa Al-Qur’an melarang Muslim untuk 

memelihara hubungan persahabatan hanya dengan aliansi 

Kristen-Yahudi dan tidak dengan semua orang Kristen maupun 

semua Yahudi. Al-Qur’an juga telah memperingatkan orang-

orang Muslim yang menjalin hubungan persahabatan dengan 

aliansi Yahudi-Kristen yang sekarang menguasai dunia, bahwa 

Allah Subhanahu wa Ta’ala mengakui mereka sebagai anggota 

aliansi itu (bukan komunitas Muslim), dan dengan demikian 

mempertimbangkan perilaku seperti itu merupakan 

pengkhianatan utama terhadap Islam. 


 

Euro-Kristen dan Euro-Yahudi hari ini telah bergabung 

dalam aliansi jahat untuk menaklukkan dan menguasai dunia 

dari London, Washington dan Yerusalem sembari berperang 

melawan Islam. Mereka melakukannya untuk memberi  

kekuasaan atas dunia kepada Negara Euro-Yahudi Israel palsu - 

sebuah Negara yang mereka ciptakan sendiri, dan lalu  

membujuk orang-orang Yahudi oriental (yaitu, Yahudi Israel) 

untuk menerimanya. Aliansi itu juga mengobarkan perang 

terhadap cara hidup religius dan dalam prosesnya mengubah 

hampir seluruh dunia menjadi suka bermaksiat dan sekuler. 

 

❖ Terjemahan Lain dari Ayat Ini 

 

Dalam terjemahan Al-Qur’an yang banyak dibaca, Abdullah 

Yusuf Ali menerjemahkan ayat 51 Surat Al-Maidah sebagai 

berikut: 

 

“Wahai orang-orang yang beriman! Jangan jadikan 

orang Yahudi dan Kristen sebagai teman dan 

pelindungmu: mereka hanyalah teman dan pelindung 

satu sama lain. Dan barangsiapa yang berpaling kepada 

mereka (untuk persahabatan) maka dia yaitu  salah satu 

dari mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi 

petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” 

 

Muhammad Asad, seorang Muslim Eropa penerjemah Al-

Qur’an yang sangat dihormati dan seorang ulama Islam 

terkemuka, menerjemahkan ayat ini  sebagai berikut: 

 

“Wahai orang-orang yang telah mencapai keimanan! 

Jangan jadikan orang Yahudi dan Kristen sebagai sekutu 

bagimu: mereka hanyalah sekutu bagi satu sama lain - 

dan barangsiapa yang bersekutu dengan mereka, 

 

sesungguhnya, menjadi salah satu dari mereka; 

sesungguhnya, Allah tidak memberi petunjuk kepada 

orang-orang yang zalim.” 

 

Muhammad Marmaduke Pickthall, Muslim Inggris 

penerjemah Al-Qur’an, tidak berbeda dalam terjemahannya: 

 

“Wahai orang-orang yang beriman! Jangan jadikan 

orang Yahudi dan Kristen sebagai teman. Mereka 

berteman satu sama lain. Dia di antara kamu yang 

menjadikannya sebagai teman yaitu  (salah satu) dari 

mereka. Sesungguhnya! Allah tidak memberi petunjuk 

kepada orang-orang yang berbuat salah.” 

 

M. Shakir, seorang Muslim Pakistan, menerjemahkan ayat 

ini  dengan cara yang sama: 

 

“Wahai orang-orang yang beriman! Jangan jadikan 

orang Yahudi dan Kristen sebagai teman; mereka yaitu  

teman bagi satu sama lain; dan barangsiapa di antara 

kamu yang menjadikannya sebagai teman, maka 

sesungguhnya dia yaitu  salah satu dari mereka; 

sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada 

orang-orang yang zalim.” 

 

T. B. Irving, Muslim Amerika penerjemah Al-Qur’an, 

memiliki terjemahan yang serupa: 

 

“Kamu yang beriman, jangan menerima orang Yahudi 

atau Kristen sebagai penyokong; sebagian dari mereka 

bertindak sebagai penyokong bagi satu sama lain. 

Barangsiapa yang berteman dengan mereka maka dia 

menjadi salah satu dari mereka. Tuhan tidak 

 

membimbing orang-orang yang melakukan kesalahan 

seperti itu.”  

 

❖ IMPLIKASI DARI TERJEMAHAN SEMACAM ITU 

 

Jika kita menerima salah satu terjemahan ayat di atas yaitu  

benar, kontradiksi berat dengan Al-Qur’an dan teladan Nabi 

(shala Allahu ‘alaihi wa salam) akan muncul. 

 

Pertimbangkan hal-hal berikut ini: 

 

▪ Al-Qur'an secara khusus mengizinkan pernikahan seorang 

pria Muslim dengan seorang wanita Kristen atau Yahudi:  

 

“Pada hari ini dihalalkan bagimu segala yang baik-baik. 

Makanan (sembelihan) Ahli Kitab (yakni umat Kristen dan 

Yahudi yang memiliki kitab suci yang diwahyukan) itu 

halal bagimu, dan makananmu halal bagi mereka. Dan 

(dihalalkan bagimu menikahi) wanita -wanita  yang 

menjaga kehormatan di antara wanita -wanita  yang 

beriman dan wanita -wanita  yang menjaga 

kehormatan di antara orang-orang yang diberi kitab 

sebelum kamu, apabila kamu membayar mas kawin mereka 

untuk menikahinya, tidak dengan maksud berzina dan 

bukan untuk menjadikan wanita  piaraan. Barangsiapa 

kafir sesudah  beriman, maka sungguh, sia-sia amal mereka, 

dan di akhirat dia termasuk orang-orang yang rugi.” 

 (Al-Qur’an Surat Al-Maidah, 5: 5) 

 

Jika kita menerima terjemahan ayat di atas yaitu  benar, 

seorang pria Muslim harus memberi tahu istrinya yang Kristen 

dan Yahudi bahwa meskipun dia bisa menjadi istrinya, 

‘persahabatan’ di antara mereka sangat dilarang. 

 

▪ Al-Qur’an juga mengizinkan Muslim untuk makan 

makanan Kristen dan Yahudi (asalkan makanan ini  

diHalalkan bagi Kristen dan Yahudi) dan membalas dengan 

mengizinkan mereka untuk makan makanan Muslim (Al-

Qur’an Surat Al-Maidah, 5: 5). Seorang Muslim yang 

mengundang tetangganya yang beragama Kristen untuk 

makan harus mengaku kepadanya, dengan rasa malu yang 

cukup, bahwa meskipun Al-Qur’an mengizinkannya untuk 

berbagi roti dengan tetangganya yang beragama Kristen 

(yaitu, berbagi makanan dengannya), Al-Qur’an melarang 

keras persahabatan diantara mereka. 

 

▪ Nabi Muhammad (shala Allahu ‘alaihi wa salam) menasihati 

para pengikut terlemahnya, yang dianiaya dengan kejam 

oleh orang-orang Arab pagan, untuk melarikan diri ke 

Abyssinia Kristen kulit hitam dan mencari keamanan dan 

perlindungan di sana. Mereka melakukannya, dan Raja 

Kristen yang adil menyambut dan melindungi mereka. 

Bertahun-tahun lalu  saat  Nabi (shala Allahu ‘alaihi wa 

salam) mendapat kabar tentang kematian Raja Kristen itu, 

dia benar-benar mendirikan shalat jenazah untuknya dari 

kota Madinah yang jauh. Tingkah laku seperti itu akan 

sangat tidak konsisten dengan Al-Qur’an jika terjemahan 

ini  diterima sebagai benar.  

 

▪ Nabi Muhammad (shala Allahu ‘alaihi wa salam) membangun 

aliansi politik dan konstitusional dengan orang-orang 

Yahudi di Madinah sehingga menjadikan kota itu - Negara 

Madinah; namun, terjemahan ayat Al-Qur’an di atas 

melarang aliansi semacam itu. 

 

▪ Akhirnya, Al-Qur’an secara spesifik menyatakan bahwa 

tidak ada larangan bagi umat Islam yang mencegah mereka 

untuk mempertahankan hubungan persahabatan dengan 


 

setiap orang (Hindu, Kristen, Budha, Yahudi, kulit putih, 

hitam, coklat atau kuning) yang tidak berperang melawan 

Islam dan tidak menindas Muslim dengan mengusir mereka 

dari rumah dan wilayah tempat tinggal mereka: 

 

“Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku 

adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu 

dalam urusan agama dan tidak mengusir kamu dari 

kampung halamanmu. Sesungguhnya Allah mencintai 

orang-orang yang berlaku adil.” 

(Al-Qur’an Surat Al-Mumtahanah, 60: 8) 

 

Seperti yang telah kami jelaskan sebelumnya, ayat Al-

Qur’an (5: 51) tidak melarang Muslim untuk menjaga hubungan 

persahabatan dengan semua orang Kristen dan Yahudi. 

Sebaliknya ayat itu melarang persahabatan hanya dengan orang-

orang Kristen dan Yahudi yang masuk ke dalam aliansi Kristen-

Yahudi (Zionis). Itu terjadi sebab  mereka yaitu  termasuk 

golongan pemerintah dunia Yakjuj dan Makjuj yang akan 

berperang melawan Islam dan mengusir Muslim dari rumah 

mereka dan dari wilayah di mana mereka tinggal.  

 

Al-Qur’an cukup eksplisit dalam memperkirakan saat-saat 

saat  orang Yahudi akan menjadi yang paling memusuhi umat 

Islam dari semua kaum. Pada saat itu, firman dalam Al-Qur’an, 

akan ada orang-orang Kristen yang akan menjadi sahabatmu: 

 

Pasti akan kamu dapati orang yang paling keras 

permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman 

(pada Al-Qur’an ini), yaitu orang-orang Yahudi dan 

orang-orang musyrik (yaitu orang-orang yang 

menyembah berhala). Dan pasti akan kamu dapati orang 

yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang 

yang beriman (pada Al-Qur’an ini) ialah orang-orang 


 

yang berkata, “Sesungguhnya kami yaitu  orang 

Kristen.”: yang demikian itu sebab  di antara mereka 

terdapat para pendeta dan para rahib, (juga) sebab  

mereka tidak menyombongkan diri.” 

(Al-Qur’an Surat Al-Maidah, 5: 82) 

 

Hal di atas bukan merupakan dakwaan bagi semua orang 

Yahudi. Melainkan hanya berlaku untuk orang-orang Yahudi 

yang berperang melawan Islam dan yang mengusir Muslim dari 

rumah dan wilayah mereka (seperti yang terjadi di Tanah Suci). 

Ini juga memberi umat Islam sarana di mana mereka dapat 

mengenali orang-orang yang diakui Al-Qur’an, pada zaman itu, 

sebagai umat Kristen. Mereka akan menjadi orang-orang yang 

akan menunjukkan kasih sayang yang paling dekat kepada 

Muslim pada saat kaum Yahudi dan penyembah berhala 

menunjukkan kebencian yang besar terhadap Islam dan Muslim.  

 

Terjemahan (5: 51) berdasarkan kesalahpahaman Al-Qur'an 

pasti akan menghalangi perkembangan hubungan persaudaraan 

antara Muslim dan Kristen dan Yahudi ini  (dan dengan 

implikasi Hindu dan Budha) di sisi lain, yang tidak berpartisipasi 

dalam perang melawan Islam saat ini. 

 

 

 

❖ IKAN HIU DAN IKAN SARDEN 

 

Negarawan Amerika Latin, Juan Domingo Alvarado, 

pernah menyatakan bahwa dunia saat ini terdiri dari ‘ikan hiu’ 

dan ‘ikan sarden’. Kaum Kristen Morvan, yang semuanya 

berasal dari Afrika, yaitu  ‘ikan sarden’. Begitu pula kami umat 

Islam yang naik ke atas bukit untuk bertemu dengan mereka. 

Dengan demikian kami bersusah payah untuk berpisah dari 

mereka tanpa permusuhan. Kami berharap dapat menjangkau 

 

mereka untuk bersatu dalam menentang perang ini, tidak hanya 

terhadap Islam tetapi juga terhadap segala hal yang sakral. Kami 

berharap dapat bergandengan tangan dan hati dalam perjuangan 

bersama melawan ‘ikan hiu’ dunia yang sekarang melancarkan 

perang bahkan dengan bom yang meledak di tempat sampah dan 

tempat pembuangan sampah di pusat kota Port of Spain. 

 

Aliansi ‘hiu’ telah menginvasi dan menduduki Afghanistan 

dan Irak, dan mengancam akan menyerang Iran pula. Ada 

banyak orang di dunia saat ini, orang Kristen, Hindu, Yahudi 

dan lainnya, yang menyadari kezaliman besar dalam perang 

terhadap Islam dan Muslim, yang menentang perang yang tidak 

adil itu, dan oleh sebab  itu akan menyambut esai penjelasan 

singkat ini.  

 

Ada juga Muslim, biasanya dalam pemerintahan, yang 

menuai hasil dari persahabatan mereka dengan aliansi ‘hiu’ yang 

menguasai dunia dari London, Washington, dan Yerusalem. 

Mereka tidak ingin memahami topik ini sebab  rasa malu 

mereka yang luar biasa sebab Al-Qur'an dengan jelas 

mengungkap pengkhianatan mereka kepada Allah Subhanahu wa 

Ta’ala, dan telah menyatakan mereka sebagai bagian dari aliansi 

Yahudi-Kristen dan bukan sebagai bagian dari umat Muslim. 

*** 

 

apankah orang-orang Afrika ‘Afro-Saxon’ di Karibia 

belajar menghormati Malcolm X dan dengan berani 

mengikuti jejaknya dalam menanggapi penindasan di 

dunia saat ini? Kapankah mereka belajar ‘hidup’ untuk Allah 

Subhanahu wa Ta’ala, seperti yang dia lakukan? Kapan mereka 

akan belajar ‘mati’ untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala, seperti yang 

dia lakukan? 

 

Malcolm ‘hidup’ untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala. Malcolm 

‘mati’ untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala! Dan saya menulis dengan 

doa semoga melalui kata-kata yang sederhana ini. Islam dapat 

menyentuh jiwa mereka seperti jiwanya tersentuh, dan 

lalu  dia menjadi seorang pangeran di antara orang-orang 

yang beriman. 

 

Al-Qur’an menyatakan: “Jangan katakan pada mereka 

yang terbunuh di jalan Allah bahwa mereka sudah mati. 

Sebaliknya mereka hidup, tetapi kamu tidak dapat melihat 

mereka”. Malcolm X dibunuh pada 21 Februari 1965. Musuh-

musuhnya mengira bahwa mereka akhirnya menebang pohon 

itu. Tetapi yang mengejutkan dan kesedihan bagi mereka, pohon 

itu terus tumbuh. Itu menjelaskan mengapa sebagian dari kita 

masih hidup sampai sekarang. Satu Malcolm seperti itu sudah 

cukup bagi majikan budak dunia! Tetapi jika Malcolm masih 

hidup hari ini, dapat dipastikan bahwa dia akan dinyatakan 


sebagai “teroris” dan “resiko keamanan yang besar”. Masuknya 

dia ke sebagian besar negara bagian Karibia ‘Afro-Saxon’ pasti 

akan dilarang.  

 

Saya melakukan kunjungan kehormatan kepada Gubernur 

Jenderal Kepulauan Karibia di Negara Grenada beberapa tahun 

yang lalu. Menanggapi pertanyaannya mengenai tujuan 

kunjungan saya ke pulau itu, saya menyebutkan ibu Malcolm X, 

Louise, sebagai penduduk Grenada (dia tidak mengetahui hal 

itu), dan bahwa saya merasa terhormat untuk melakukan kontak 

dengan keluarganya di Grenada selama kunjungan singkat saya. 

 

Gubernur Jenderal menanggapi dengan cukup terus terang 

mengenai pendapatnya bahwa Malcolm yaitu  “penjahat”. Saya 

tidak heran. Ini yaitu  sifat dari tatanan dunia-Eropa modern 

yang menjelekkan dan berusaha untuk memberangus dan 

mencekik semua orang yang menolak dominasi dan 

pemerintahan imperiumnya di dunia. Jauh lebih rumit untuk 

memahami kecaman pahit Louis Farrakhan terhadap Malcolm 

sebagai “pengkhianat bagi kaumnya”, dan “kami telah 

menghadapinya dengan cara kami menangani pengkhianat.” 

 

Saya mencintai Malcolm, seorang Muslim. Dia yaitu  

Pangeran di antara orang-orang beriman. Dia menangkap esensi 

Islam dengan tanggapan anti-sistemiknya terhadap penindasan 

tatanan dunia kulit putih. Dia telah menjadi pahlawan saya sejak 

saya masih remaja, dan dia mengancam akan membawa AS ke 

Majelis Umum PBB untuk mempertanggungjawabkan kasus 

genosida.  

 

Malcolm X, sang guru, mengajari saya perbedaan yang 

sangat penting antara ‘budak rumahan’ dengan ‘budak 

lapangan’. Keduanya tanpa kebebasan ‘fisik’, dan sebab nya 

dalam perbudakan ‘fisik’. Tapi sementara ‘budak lapangan’ 

 

membenci penindasan dan perbudakan itu, ‘budak rumahan’ 

tunduk padanya, diidentifikasi bersama dengan tuan budak, dan 

menerima perbudakannya. Dia begitu dicuci otak dan ‘mata 

hatinya’ buta sehingga dia menjadi pelengkap dari tuan budak 

(Al-Qur’an Surat Al-Maidah, 5: 51). Dia selalu ada untuk 

melayani tuan budak, apapun yang diminta, dan kapanpun tuan 

budak membutuhkannya. saat  tuannya sakit, ‘budak 

rumahan’ akan merasakan sakit dan penderitaan tuannya dan 

akan menyatakan kepada tuannya: “Kita sakit!” ‘Budak 

rumahan’ yaitu  budak ‘internal’ dan ‘eksternal’, yaitu budak 

secara fisik dan psikologis. Ia menjadi bagian dari sistem 

perbudakan (orang yang buta ‘mata hatinya’ selalu berakhir 

sebagai budak). Tuan budak menghadiahi ‘budak rumahan’ atas 

pelayanannya yang setia. 

 

Tetapi tidak demikian halnya dengan ‘budak lapangan’ 

yang mungkin secara ‘eksternal’ yaitu  budak tetapi ‘secara 

internal’ yaitu  orang merdeka. sebab  kebebasan ‘internal’ itu, 

‘budak lapangan’ memiliki kapasitas untuk ‘melihat’, dan 

dengan demikian menyadari penindasan dan kejahatan, dan dia 

membencinya dengan segenap hati dan jiwanya. ‘Budak 

lapangan’ tidak akan pernah tunduk pada penindasan, melainkan 

ingin mendapatkan kembali kebebasannya dan menghancurkan 

perbudakan. Maka ‘budak lapangan’ menanggapi penindasan 

dan perbudakan dengan cara yang anti-sistemik. Tuan budak 

yang merupakan penindas yaitu  ‘musuhnya’. saat  rumah 

majikan budak terbakar, ‘budak lapangan’ akan berdoa kepada 

Tuhan agar mengirimkan angin kencang yang akan “membakar 

rumah ini ”. Tuan budak membenci ‘budak lapangan’ dan 

membuatnya menerima balasan atas pembangkangannya. 

 

Para majikan budak saat ini yang sekarang berusaha untuk 

mewujudkan perbudakan terbesar yang pernah ada (dan itu 

yaitu  tanda utama Hari Akhir yang berhubungan dengan Dajjal 


 

Al-Masih palsu), menjelekkan ‘budak lapangan’ sebagai teroris, 

dan mencari undang-undang anti-terorisme yang akan 

memberangus dan mencekik mereka. Tetapi mereka harus tahu 

bahwa darah Malcolm menggetarkan hati jutaan orang di 

seluruh dunia yang ingin mengikuti jejak keberaniannya. 

 

Seluruh Amerika Selatan, dari Venezuela hingga Argentina, 

saat ini menerapkan politik ‘budak lapangan’. Hugo Chavez dari 

Venezuela bukanlah penyimpangan. Sebaliknya, ia yaitu  

perwujudan dari kebencian yang dirasakan oleh massa kulit 

berwarna Amerika Selatan dalam menanggapi kezaliman yang 

telah lama mereka alami dari para penindas ‘kulit putih’. Di 

antara kezaliman ini  yaitu  pembunuhan, berkali-kali, 

terhadap para pemimpin Amerika Selatan pemberani yang 

berusaha melindungi rakyat mereka dari penindasan ‘kulit 

putih’. Omar Torrijos dari Panama, Jaime Roldos dari Ekuador, 

Salvador Allende dari Chili semuanya terbunuh melalui aksi 

terorisme yang direncanakan dan dieksekusi oleh mereka yang 

sekarang secara sesat dan menipu menyatakan diri berupaya 

memerangi terorisme. (Jika kami ingin memperluas cakupan 

esai kami, kami harus menyertakan Zia Ul Haq dari Pakistan dan 

Raja Faisal dari Arab Saudi di antara para pemimpin yang juga 

dibunuh. Dan lalu  ada intelektual Palestina, Prof.Dr.Ismail 

Faruqi, yang menjadi duri bagi pihak mereka. Dia juga dibunuh. 

Dan daftar ini pun terus bertambah.) 

 

Di sisi lain, hampir seluruh dunia Muslim saat ini diatur oleh 

pemerintah ‘budak rumahan’. Dan majikan budak ‘kulit putih’ 

yang secara licik menggambarkan dirinya sedang memerangi 

terorisme, dirinya selalu siap untuk melakukan teror untuk 

memastikan kelangsungan hidup bagi ‘budak rumahan’ yang 

memerintah Muslim demi kepentingannya.  

 

18 

 

Meskipun kita mengingat Malcolm X empat puluh tahun 

lalu , kita juga pun mengingat dan menghormati istri 

tercintanya, Dr. Betty Shabazz. Saya bertemu dengannya dua 

kali. Kali kedua yaitu saat  dia terbaring di peti mati di samping 

makam Malcolm, dan enam putrinya menghormati saya dengan 

meminta saya untuk membaca Al-Qur’an dan berdoa di atas 

jenazahnya sebelum diturunkan ke dalam makam bersama 

suaminya.  

 

Saya ingat diri saya sendiri gemetar seperti daun saat  saya 

berdiri di samping makam Malcolm untuk pertama kalinya, dan 

saat  saya melihat istri tercintanya bergabung kembali 

dengannya sesudah  melewati cobaan sulit dalam hidup. 

 

Karakteristik dominan dalam hidupnya, sesudah  kematian 

Malcolm, yaitu  kesetiaannya yang kuat dan pengabdiannya 

yang tak tergoyahkan pada kenangan bersama suaminya dan 

misinya dalam hidup. Dan ini membawa saya ke pertemuan 

pertama saya dengannya yang merupakan pokok bahasan esai 

ini. 

 

Saat itu tanggal 22 September 1996, hanya delapan bulan 

sebelum kematiannya, dan saya diantar ke belakang sebuah aula 

besar di tengah kota Manhattan untuk diperkenalkan kepadanya. 

Dia tidak tersenyum untuk menyambut saya. Ada sesuatu yang 

jauh dan kesepian dalam dirinya, seolah-olah dia berasal dari 

tempat yang jauh dan di lain waktu - bukan tipe wanita yang 

akan membuat nyaman di hadapannya. Tetapi saya hampir bisa 

merasakan kekuatan dan keteguhannya yang tenang saat dia 

menunggu dengan kesabaran yang tak terbatas untuk waktu 

berikutnya saat  dia akan pulang kepada kekasihnya. Dia 

duduk di bagian belakang aula, dia dengan tenang menjelaskan 

kepada saya, agar lebih mampu menilai empat pembicara yang 

dijadwalkan untuk berbicara malam itu mengenai topik yang 

19 

 

menantang ‘sesudah  Malcolm X - Masa Depan Kepemimpinan 

Islam di Amerika Utara’. Dia telah mendengar tentang saya, 

tentang asal Trinidad saya, dan referensi saya di New York dan 

di tempat lain tentang suaminya, dan dia ingin sekali 

mendengarkan malam itu apa yang saya katakan tentang topik 

ini . 

 

Dalam pidato ini , saya mencurahkan perhatian untuk 

menjelaskan keimanan yang teguh kepada Allah Subhanahu wa 

Ta’ala yang merupakan hakikat manusia. Dia hidup untuk Allah 

Subhanahu wa Ta’ala, dan dia mati untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala. 

Dan itulah jenis kepemimpinan Islam yang dibutuhkan Muslim 

Amerika Utara. Namun saya pun mengambil waktu untuk 

mengenang integritasnya yang tiada tara. Komitmennya yang 

penuh semangat terhadap kebenaran dan keadilan sedemikian 

rupa sehingga dia benar-benar membenci oportunisme dan 

kelicikan. Dan nilai-nilai dalam hidupnya merupakan inti ajaran 

Islam. 

 

Saya lalu  mengamati bahwa Malcolm, mungkin, tidak 

tahu tentang larangan riba (menerima atau memberi  

pinjaman uang dengan bunga) dalam Islam. Bagaimana lagi kita 

bisa menjelaskan komentar Alex Haley dalam artikel  

‘Autobiografi' bahwa Malcolm mengambil uang darinya untuk 

membayar uang muka sebuah rumah di Elmhurst, New York, 

sesudah  rumahnya dibom oleh musuh Islam? Dan itu yaitu  

komentar yang membuat saya kesulitan. 

 

sesudah  keempat pembicara memberi  presentasi mereka, 

Betty maju, dengan sangat lambat dan sengaja, ke podium 

depan, untuk berpidato di pertemuan ini . Dia mulai dengan 

mengutip kata-kata saya: “Imam berkata bahwa suamiku hidup 

untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala. Imam berkata bahwa suamiku 

mati untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala. Imam itu benar.” Tapi 

20 

 

lalu  dia berbalik menghadap ke arah saya, dan menatap 

mata saya, dan dengan tegas menyatakan, “Tapi Imam, dia tidak 

menandatangani perjanjian itu. Dia meninggal sebelum dia bisa 

melakukan itu. Jadi dia tidak terlibat dalam Riba!” Hanya 

sesudah  dia dengan penuh semangat membela suaminya, dia 

menjadi tenang. Tetapi cara dia memandang saya (jangan 

berani-berani mengkritik suami saya!) sedemikian rupa 

sehingga saya butuh waktu lebih lama untuk tenang. Jarang 

dalam hidup ini, saya pernah menyaksikan pengabdian yang 

begitu penuh semangat pada kenangan dan warisan seorang 

pemimpin. Dan contoh menakjubkan yang dia tinggalkan untuk 

wanita muslimah saat ini. 

 

Dia lalu  memohon kepada para pemimpin Islam agar 

menjadi pria yang berani dan berintegritas, pria yang, seperti 

suaminya, akan menentang penindas dunia. Tetapi dia juga 

berbicara tentang iman, dan tentang pencarian ilmu 

pengetahuan. Malam itu, sesudah  saya meninggalkan aula untuk 

pergi ke janji pertemuan lain, dia menandatangani salinan 

'Autobiografi' untuk saya. Dan inilah yang dia tulis: “Anda 

yaitu  pemimpin bagi pria dan wanita dari segala usia dan 

sepanjang waktu. Semoga kedamaian dan berkah Allah 

selamanya membimbing Anda.” Dan dia menandatangani 

Hajjah B. Shabazz / Mrs. MX. Itu membuat saya meneteskan air 

mata.  

 

Semoga makam mereka nyaman, sejuk dan luas bagi 

mereka, serta dipenuhi dengan cahaya. Dan semoga mereka 

berdua beristirahat dengan tenang bersama di makam itu. 

Aamiin!  

 

ejarah lebih dari sekedar catatan peristiwa. Sejarah tidak 

hanya mencatat perubahan konstan yang terjadi di dunia 

tetapi juga berupaya menafsirkan fenomena perubahan 

itu. Analisis proses sejarah, pergerakan sejarah, dan akhir 

sejarah, muncul dari interpretasi perubahan dunia. Hal ini 

menjawab banyak pertanyaan yang penting. 

 

Apakah perubahan terjadi secara acak, atau adakah pola 

dalam perubahan? Apakah proses sejarah itu akan bertahan 

sampai kekekalan, atau akankah ada Akhir Zaman dan akhir 

sejarah? Tatanan dunia-Eropa yang aneh dan misterius kini 

mengendalikan seluruh dunia dalam cengkeraman besinya. Ia 

telah memperoleh kekuatan yang belum pernah terjadi 

sebelumnya dari revolusi ilmiah dan teknologi yang terus 

berlanjut yang benar-benar mengubah seluruh dunia. Namun 

kekuatannya bertumpu pada fondasi yang pada dasarnya 

sekuler, maksiat dan korup. Ia memiliki kekuatan penipuan yang 

besar sehingga membuat kebohongan tampak sebagai kebenaran 

dan sebaliknya. Ia menceritakan kebohongan yang mengerikan 

sementara tanpa henti dan zalim mengejar tujuan untuk 

menindas semua orang yang menolak otoritas tertingginya. Ia 

mendirikan pemerintahan dunia atas nama demokrasi universal 

namun sebaliknya, justru memaksakan kediktatoran universal 

atas seluruh umat manusia. Ia memproklamasikan doktrin 


 

perdagangan bebas namun justru membangun ekonomi riba 

yang menghancurkan pasar yang adil. Ia merenggut umat 

manusia melalui proses pencurian yang dilegalkan yang 

membuat massa di seluruh dunia terjerumus ke dalam 

kemiskinan dan kemelaratan permanen. Ia meraup jauh lebih 

banyak pendapatan berlumuran darah dalam kapasitasnya 

sebagai pemberi pinjaman uang paling istimewa di dunia 

dibandingkan  yang secara licik dibagikannya dalam bentuk bantuan 

penyelamat muka dan pengampunan utang. Ia arogan secara 

rasial, budaya dan intelektual dan menganggap dirinya tidak 

hanya lebih unggul dari orang non-Eropa tetapi juga menjadi 

‘tanggung jawab orang kulit putih’ untuk ‘membangun 

peradaban’ bangsa manusia lainnya. Hanya jika orang non-

Eropa meniru cara hidup Eropa, mereka akan diakui sebagai 

orang yang beradab. Ini membawa umat manusia kepada 

revolusi feminis dan seksual yang membawa mereka ke dalam 

pergaulan bebas dan penyimpangan seksual sehingga institusi 

keluarga itu sendiri mulai gagal dan menghancurkan diri sendiri. 

Ia membawa aliansi misterius antara orang Kristen dengan 

Yahudi, ini yaitu  sesuatu yang sebelumnya dianggap tidak 

mungkin. Ia lalu  menggunakan aliansi misterius Euro-

Kristen / Euro-Yahudi untuk membebaskan Tanah Suci, 

membawa orang Yahudi Israel kembali ke Tanah Suci sesudah  

2000 tahun pengasingan yang ditetapkan oleh Tuhan, lalu 

mendirikan Negara Israel di Tanah Suci. 

 

Sama sekali tidak ada dalam sejarah yang dapat 

menjelaskan kemunculan tatanan dunia Eropa yang aneh dan 

misterius itu. Apakah itu merupakan tanda Hari Akhir? Dan 

dapatkah peradaban dan tatanan dunia seperti itu terus 

mendominasi dunia tanpa batas? atau apakah dunia yaitu  

tatanan moral dengan proses historis yang pada akhirnya harus 

berujung dengan kemenangan kebenaran, keadilan, perdamaian, 


 

kebahagiaan, kebenaran, kesucian dan kesederhanaan, 

persaudaraan, kebebasan, dan kesetaraan?  

 

Periode 1955-1956 yaitu  yang paling menarik dari semua 

kehidupan mahasiswa kami di Institut Studi Islam Aleemiyah di 

Karachi, Pakistan. Rektor Institut sekaligus guru saya yang 

terpelajar dengan kenangan yang diberkahi, Maulana Dr. 

Muhammad Fazlur Rahman Ansari, berhasil membujuk 

rekannya yang terhormat, filsuf sejarah, Dr. Burhan Ahmad 

Faruqi, untuk meninggalkan kota Lahore dan bergabung dengan 

staf dosen Institut di Karachi. Dr. Faruqi dan Dr.Ansari yaitu  

kolega di Universitas Muslim Aligarh pada tahun 1930-an di 

mana mereka berdua belajar filsafat di bawah bimbingan filsuf 

Muslim terkemuka, Profesor Dr. Syed Zafarul Hassan. Faruqi, 

menulis disertasi doktoralnya di bidang Metafisika Islam dengan 

topik, ‘Konsepsi Tauhid Seorang Mujjadid’. Dia dengan berani, 

dalam artikel  itu, melakukan evaluasi komparatif kritis teori 

Muhyiddin Ibnu ‘Arabi tentang ‘wahdah al-wujud’ (yaitu, 

bahwa semua keberadaan yaitu  satu kesatuan yang nyata) 

dengan teori saingan Syaikh Ahmad Sirhindi tentang ‘wahdah 

ash-shuhud’ ( yaitu, bahwa semua eksistensi hanya tampak 

sebagai satu kesatuan). Lebih dari setengah abad telah berlalu 

sejak beliau menulis artikel  itu dan tetap tak tertandingi sebagai 

tengara dalam metafisika Islam modern. Sedangkan disertasi 

doktor Dr. Ansari ditulis dengan topik ‘Landasan dan Struktur 

warga  Muslim Berdasarkan Al-Qur’an’ (dalam dua 

volume) dan artikel  itu tetap tak tertandingi sebagai tengara ilmu 

pengetahuan modern dalam filsafat moral Islam. (Jika berkenan, 

saya merekomendasikan kedua artikel  ini kepada para pembaca 

yang budiman.) 

 

Kedua kekuatan intelektual ini, Dr. Faruqi dan Dr. Ansari, 

berinteraksi satu sama lain di Institut dengan bunga cahaya 

terbang ke segala arah. Kami, para mahasiswa, sangat 

24 

 

terstimulasi oleh interaksi mereka. Dr. Faruqi mengajari kami 

filosofi sejarah Islam selama dua tahun yang tak terlupakan 

sebelum dia kembali ke Lahore. Pandangan jauh Dr. Ansari-lah 

yang membukakan pintu-pintu bagi kami menuju konsepsi 

Islam tentang filsafat sejarah. Studi semacam itu secara 

mencolok tidak ada di Darul Ulum hari ini di mana pembelajaran 

hafalan diterapkan setiap hari. 

 

Dengan filsafat sejarah itulah kini kami mencoba 

menjelaskan pandangan Islam tentang akhir sejarah dan 

mengenali ‘Tanda-tanda Hari Akhir’ dalam skema segala hal 

yang terjadi. Mari kita mulai dengan menjelaskan bahwa Islam 

memahami ‘akhir sejarah’ dan ‘akhir dunia’ sebagai dua hal 

yang sangat berbeda. 

 

‘Akhir dunia’ akan terjadi dengan bumi, dan langit di atas, 

berubah menjadi sesuatu yang berbeda secara ruang dan waktu. 

Umat manusia lalu  akan dibangkitkan ke alam baru untuk 

menghadapi penghakiman.  

 

Sementara itu, ‘akhir sejarah’ akan terjadi beberapa saat 

sebelum ‘akhir dunia’, dan saat  terjadi, itu akan menutup pintu 

pilihan bebas di mana manusia dapat menerima kebenaran yang 

diwahyukan secara ilahi dan diberkahi hadiah untuk mengambil 

pilihan ini . Islam telah menyediakan banyak informasi 

yang dikenal sebagai ‘Tanda-tanda Hari Akhir’ mengenai 

peristiwa yang akan mencapai puncaknya dengan ‘akhir 

sejarah’. Hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala, tentu saja, yang 

mengetahui kapan alam dunia ini akan berakhir. 

 

Al-Qur’an telah mengungkapkan bahwa tanda tertinggi dari 

akhir sejarah yaitu  kembalinya Al-Masih sejati, Nabi ‘Isa 

(‘alaihi salam), putra perawan Maryam. Dan Nabi Muhammad 

(shala Allahu ‘alaihi wa salam) selanjutnya menginformasikan 

25 

 

bahwa kembalinya Al-Masih akan menandai kemenangan akhir 

kebenaran atas kebatilan, dan keadilan atas penindasan dan 

tirani. Perang Eropa melawan Islam yang dimulai dengan perang 

salib Eropa yang biadab, dan yang menyaksikan fase buruknya 

saat ini dengan pendudukan dan penindasan brutal dan berdarah 

Barat di Afghanistan dan Irak, lalu  akan berakhir dengan 

kehancuran pihak penindas yang ditetapkan oleh Tuhan. 

Peradaban Barat yang pada dasarnya sekuler dan suka 

bermaksiat akan menghancurkan dirinya sendiri melalui wabah 

penyakit. Tentara Muslim yang tak terhentikan yang akan 

muncul dari Khurasan (yaitu, Afghanistan dan wilayah di 

sekitarnya), pada akhirnya akan menyapu setiap rintangan yang 

menghalangi jalannya saat membebaskan semua wilayah yang 

diduduki hingga ke Yerusalem. Dengan demikian sejarah akan 

berakhir dengan kemenangan bagi Islam. 

 

Para pembaca non-Muslim sebaiknya berhenti sejenak 

untuk bertanya pada dirinya sendiri. Apa akibat baginya jika 

Nabi Muhammad (shala Allahu ‘alaihi wa salam) benar-benar jujur 

saat  dia menyatakan bahwa dia yaitu  seorang Nabi, seperti 

halnya Ibrahim, Musa, dan ‘Isa (‘alaihim salam), dan bahwa Al-

Qur’an yang dia sampaikan kepada umat manusia memang 

benar dan merupakan firman otentik dari Tuhan Yang Maha 

Esa? 

 

Mari kita perhatikan pada saat penulisan esai ini bahwa 

perlawanan Islam bersenjata terhadap penindas di Afghanistan 

dan Irak tidak hanya muncul tetapi sudah menunjukkan 

kapasitas untuk tetap berada di jalur selama 20 atau 30 tahun ke 

depan sampai kemenangan tercapai. Saya ragu apakah perang 

terakhir dari semua perang ini akan memakan waktu lebih lama 

dari itu untuk berakhir. 


 

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menyatakan akhir 

dari sejarah, dan ‘Firman’ Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak pernah 

berubah: 

 

“Bagi mereka (orang-orang yang beriman kepada Allah 

Subhanahu wa Ta’ala, seperti, menentang perang terhadap 

Islam) Berita Gembira di dalam kehidupan di dunia 

(yakni, kemenangan Islam) dan di akhirat (balasan 

surga). Tidak ada perubahan bagi janji-janji Allah. 

Demikian itulah kemenangan yang agung.” 

 

(Al-Qur’an Surat Yunus, 10: 64) 

 

Sebelum kita beralih ke esai-esai lain dalam artikel  ini dan 

‘Tanda-tanda Hari Akhir’ dalam Islam, kami mencoba untuk 

membuat tinjauan komparatif yang sangat singkat tentang 

berbagai konsepsi proses sejarah, pergerakan sejarah, dan akhir 

dari sejarah. Sejarah dalam Hindu, Yahudi, Kristen, dan 

akhirnya, dalam pandangan peradaban Barat modern. 

Pandangan Hindu yaitu  bahwa pergerakan sejarah terus 

berputar. Pandangan Yahudi bersifat linier dan regresif, begitu 

pula pandangan Kristen. Peradaban Barat memandang 

pergerakan sejarah sebagai gerakan linier dan progresif, 

sedangkan pandangan Islam yaitu  zig-zag sebab  dikondisikan 

oleh kemenangan dan kegagalan dalam perjuangan moral 

dilakukan oleh agen moral yang pada dasarnya bebas.  

 

❖ PANDANGAN HINDU TENTANG PERGERAKAN 

DAN AKHIR SEJARAH 

 

Agama Hindu menyatakan bahwa pergerakan sejarah yaitu  

siklus, yaitu berputar-putar dan dengan demikian terus berulang. 

saat  satu siklus selesai, siklus lainnya dimulai. Dalam 

pandangan banyak cendekiawan Hindu saat ini, pergerakan 

27 

 

sejarah sekarang berada pada titik waktu saat  satu siklus akan 

segera berakhir dan siklus lainnya akan segera dimulai. Jadi bagi 

orang Hindu, dalam arti tertentu, ini yaitu  zaman akhir, yaitu 

akhir dari siklus sejarah saat ini. 

 

Sementara agama Hindu siap untuk mengakui kebenaran 

yang memanifestasikan dirinya dalam bentuk banyak sungai 

yang semuanya mengalir ke laut yang sama, kenyataannya 

yaitu  bahwa agama Hindu juga dengan tegas bersikeras bahwa 

saat  sungai-sungai itu semua mencapai laut umum ini , 

konsep Hindu tentang kebenaranlah yang pasti. untuk menang. 

Implikasi logisnya yaitu  bahwa suatu siklus tidak dapat 

berakhir tanpa validasi konsep Hindu tentang kebenaran.  

 

Apa konsep kebenaran dalam agama Hindu? Dan apa 

implikasinya bagi umat manusia lainnya jika konsepsi 

kebenaran seperti itu ingin divalidasi? Untuk keperluan esai ini, 

kami perlu melihat tidak lebih dari satu atau dua implikasi 

ini . 

 

❖ HINDUISME DAN TANAH SUCI BHARAT 

 

Agama Hindu dibangun di atas konsep tanah suci, yaitu Bharat, 

yang tidak hanya mencakup India saat ini, tetapi juga sebagian 

besar wilayah regional sekitarnya. Agama Hindu berpegang 

teguh pada nostalgia pada zaman keemasan di masa lalu yang 

jauh di mana para dewa dan dewi Hindu hidup di bumi dan 

kebenaran Hindu mendominasi dunia yang saat itu dikenal di 

tanah suci itu. Umat Hindu percaya bahwa agama Hindu 

memiliki hak agama eksklusif untuk mendominasi di tanah suci 

Bharat itu, dan oleh sebab  itu umat Hindu memiliki kewajiban 

agama untuk memastikan bahwa konsep Hindu tentang 

kebenaran berlaku di tanah suci ini .  


 

Delapan abad pemerintahan Muslim atas tanah suci itu, 

diikuti dengan pembagian tanah suci untuk menampung 

penciptaan Negara Muslim Pakistan, Muslim Bangladesh, 

Muslim Maladewa dan Negara Budha Sri Lanka, melukai 

integritas tanah suci itu dan, implikasinya, pada kesadaran 

agama Hindu. Hal ini pun mengatur panggung bagi perjuangan 

untuk memulihkan integritas 'Bharat' suci. Sejarah akan 

berakhir, dalam pandangan agama Hindu, dengan validasi 

konsep Hindu tentang kebenaran yang akan mengharuskan 

Muslim Pakistan dan Bangladesh dan wilayah sekitarnya 

lainnya yang dulunya ‘Bharat’ untuk diserap kembali dalam 

tanah suci, dan yang suci tidak terbagi. Tanah 'Bharat' di bawah 

kekuasaan politik, ekonomi dan agama Hindu Brahmana 

direstorasi. 

 

Konsep kebenaran Hindu Brahmana dengan tegas 

didasarkan pada keyakinan bahwa umat manusia diciptakan 

secara tidak setara. Brahmana Hindu dilahirkan dalam kasta 

tertinggi dan dengan demikian merupakan elit umat manusia. 

Manusia non-Brahmana lainnya lebih rendah darinya. 

Keyakinan pada superioritas dan inferioritas yang melekat pada 

manusia secara alami cocok untuk pembentukan sistem 

dominasi. Implikasinya, sejauh menyangkut proses sejarah, 

yaitu bahwa sejarah tidak dapat berakhir tanpa dominasi politik 

‘Bharat’ yang diperintah oleh Brahman atas semua yang lain 

dalam lingkup pengaruhnya. Kehidupan politik dan ekonomi 

Asia Selatan bergerak tepat ke arah itu. 

 

Ada implikasi politik yang muncul dari konsep Hindu 

tentang akhir sejarah ini. Pertama yaitu bahwa pendekatan akhir 

dari siklus ini akan dengan sendirinya memunculkan munculnya 

nasionalisme religius Hindu yang akan berdampak buruk pada 

hubungan politik dan ekonomi dengan non-Hindu (khususnya 

Muslim). Hal ini sudah terjadi. 

29 

 

 

Kedua, hal ini menjadi tak terelakkan bahwa orang-orang 

Hindu dengan keyakinan pada konsep Hindu tentang akhir 

sejarah akan membuat tujuan yang sama dengan mereka yang 

kini sedang mengobarkan perang terhadap Islam di seluruh 

dunia. Mereka melakukannya sebab  menganggap Islam sebagai 

penghalang utama yang menghalangi agama Hindu untuk 

merealisasikan takdir sejarahnya. Mereka akan melakukannya 

untuk mewujudkan akhir sejarah yang akan memvalidasi agama 

Hindu dengan cara merestorasi integritas dan kesatuan tak 

terpecah tanah air suci Hindu ‘Maa Bharat’ (Ibu India). Justru 

sebab  alasan inilah India kini, sesudah  AS, menjadi sekutu 

paling strategis Israel di dunia. 

 

Mari kita segera memperhatikan bahwa ada orang Hindu 

yang menolak konsep akhir sejarah ini dengan dominasi 

Brahmana atas umat manusia lainnya, dan akan bersikeras 

bahwa keadilan, dan persaudaraan dengan semua umat manusia 

yang sesuai dengan nilai-nilai ini , harus menjadi tujuan 

agama Hindu pada akhir sejarah. Maka akan selalu 

memungkinkan bagi umat Islam untuk membangun 

persahabatan dan aliansi dengan orang Hindu seperti itu. 

 

❖ AGAMA HINDU DAN REINKARNASI 

 

Selain kepercayaan bahwa sejarah bergerak dalam siklus, agama 

Hindu juga dilandasi oleh keyakinan bahwa kehidupan itu 

sendiri yaitu  siklus. Kita dilahirkan, kita hidup, kita mati, dan 

lalu  kita dilahirkan kembali atau kita bereinkarnasi. 

 

Tidak pernah ada bukti nyata yang mendukung kepercayaan 

pada reinkarnasi. Seseorang di Swedia mungkin mengklaim 

mengingat kehidupan sebelumnya saat  dia tinggal di tempat 

ini dan itu, dan lalu  mungkin menghasilkan ingatan 

30 

 

tentang kehidupan sebelumnya yang biasanya tidak dapat 

dijelaskan. Umat Hindu sering menggunakan bukti seperti ini 

untuk menunjukkan validitas reinkarnasi. Tetapi tidak 

meyakinkan bagi orang lain bahwa seseorang di Swedia 

memiliki ingatan seperti itu tentang kehidupan sebelumnya. 

Bagaimana pengaruhnya terhadap umat manusia lainnya? 

Seorang pria mungkin membantah, “Jika saya ingin diyakinkan 

tentang siklus kehidupan di mana seseorang terlahir kembali lagi 

dan lagi, maka saya harus memiliki pengetahuan pribadi tentang 

kehidupan saya sebelumnya (jika saya memilikinya). Tetapi 

kenyataannya yaitu  saya tidak memiliki ingatan seperti itu.” 

 

Nabi Muhammad (shala Allahu ‘alaihi wa salam) telah 

meramalkan sebuah peristiwa yang akan terjadi pada Akhir 

Zaman yang pasti akan dielu-elukan oleh umat Hindu sebagai 

validasi spektakuler dari klaim Hindu atas kebenaran. Apa itu? 

 

Nabi (shala Allahu ‘alaihi wa salam) telah menyatakan, 

sebagaimana hanya seorang Nabi sejati yang dapat menyatakan, 

bahwa seorang pria yang akan tampak seperti ayah seseorang 

(yang meninggal sekitar 30 atau 40 tahun yang lalu) akan berdiri 

di depannya. Dia akan memiliki penampilan fisik ayah yang 

mati itu. Dia akan berbicara dengan suara ayah itu dan dia akan 

mengatakan hal-hal yang hanya bisa diketahui mendiang 

ayahnya. saat  itu terjadi, sebagian besar umat manusia akan 

sepenuhnya yakin bahwa orang mati dilahirkan kembali. 

Akankah hal seperti itu benar-benar terjadi? Nabi Muhammad 

(shala Allahu ‘alaihi wa salam) telah menubuwahkan ‘Tanda Akhir 

Zaman ‘ seperti itu. Inilah sabdanya:  

 

“Dan akan dibangkitkan bersamanya (yaitu, dengan 

Dajjal Al-Masih Palsu atau Antikristus) Setan yang akan 

mengambil wujud dari mereka yang sudah mati, dan 

lalu  akan berbicara kepada mereka yang masih 

31 

 

hidup (yaitu, kepada kerabat dekat dari orang mati) “Apa 

kau tidak mengenalku? Aku ayahmu; atau aku 

saudaramu; atau kerabat dekat lainnya.” 

 

(Kanz al-Ummal) 

 

Setan yang akan dibangkitkan bersama Dajjal yaitu  jin 

(yaitu, makhluk tak terlihat yang diciptakan dari api tanpa asap) 

yang Kafir. Jin inilah yang akan mengambil wujud manusia dan 

akan muncul di hadapan seseorang dalam wujud ayahnya yang 

telah meninggal dan lalu  akan berbicara dengan suara 

ayahnya dan akan mengklaim, “Aku ayahmu. Tidakkah kamu 

mengenaliku nak?” 

 

Bagi saya, kloning merupakan langkah pertama dari jalan 

yang akan mengarah pada peristiwa penting itu. sesudah  kloning 

domba, kloning manusia akan menjadi perkembangan yang 

alami. saat  itu terjadi, dalam dua puluh lima tahun atau lebih, 

sel yang diawetkan dari ayah yang sudah lama mati akan 

digunakan untuk membuat tiruannya, dan jin lalu  akan 

berbicara melalui klon itu dalam suara dan dengan ingatan 

tentang ayah aslinya. Maka menjadi mungkin nubuwah Nabi 

Muhammad (shala Allahu ‘alaihi wa salam) ini akan terpenuhi. Umat 

Hindu pasti akan menanggapi peristiwa semacam itu dengan 

secara antusias menerimanya sebagai validasi klaim agama 

Hindu atas kebenaran. Tetapi Muslim yang memiliki 

pengetahuan akan dapat mengenali penipuan ini .  

 

 

❖ PANDANGAN YAHUDI TENTANG PERGERAKAN 

DAN AKHIR SEJARAH 

 

Pandangan Brahmana Hindu dan Yahudi tentang pergerakan 

sejarah dan akhir sejarah sangat mirip. Baik Yahudi dan 

32 

 

Brahmana Hindu menganggap diri mereka sebagai elit umat 

manusia dan menganggap semua non-Hindu atau non-Yahudi 

pada awalnya diciptakan dengan status yang lebih rendah. Dan 

sebab nya keduanya berusaha untuk membangun sistem 

dominasi politik, ekonomi, sosial dan agama yang akan 

memastikan bahwa kaum elit akan mendominasi yang lainnya. 

 

Keduanya menghargai kenangan masa keemasan saat  

dominasi politik, ekonomi dan agama mereka atas semua bangsa 

lain dalam lingkungan pengaruh mereka terwujud dalam sejarah. 

Keduanya percaya pada tanah suci di mana masa keemasan 

masing-masing terwujud saat mereka akan kembali 

mendominasi dunia di sekitar wilayah tanah suci mereka 

masing-masing. 

 

Orang Israel diusir dari tanah suci mereka lebih dari 2000 

tahun yang lalu, dan mereka hidup dalam pengasingan yang 

menyedihkan untuk jangka waktu yang lama. Tapi itu sangat 

penting dan sejarah yang penting bahwa mereka kini telah 

kembali ke jantung tanah suci itu untuk mengklaimnya kembali 

sebagai milik mereka. Sangatlah penting bahwa mereka 

mencapai kepulangan itu dengan menunggangi kaum Yahudi 

Eropa yang mengejar tujuan mereka tanpa mempedulikan nilai-

nilai kebenaran atau keadilan. 

 

Sejarah mencapai puncaknya pada zaman keemasan 

Yudaisme saat  Daud dan Sulaiman memerintah dunia dari 

Israel Suci. Sejarah sesudah  zaman keemasan menyaksikan dua 

periode pengkhianatan Yahudi terhadap perjanjian dengan Allah 

Subhanahu wa Ta’ala dan akibatnya, dua periode keruntuhan 

historis dan pengasingan Yahudi dari Tanah Suci. Yang pertama 

yaitu  pengasingan di Babilonia. Yang kedua, yang dimulai 

tidak lama sesudah  kaum Yahudi menolak klaim Nabi ‘Isa (‘alaihi 

salam) sebagai Al-Masih dan lalu  menyombongkan diri 

33 

 

bahwa mereka telah membunuhnya (Al-Qur’an Surat An-Nisa, 

4: 159), mengakibatkan pengasingan selama dua ribu tahun. 

2000 tahun itu merupakan, dari sudut pandang mereka, Zaman 

Kegelapan Yahudi. Proses sejarah dengan demikian linier dan 

regresif. Tetapi kemunduran diselingi oleh intervensi ilahi yang 

pernah membawa kaum Yahudi kembali dari Babilonia untuk 

merebut kembali Tanah Suci, dan yang sekali lagi akan 

memenuhi janji Ilahi mengenai kedatangan Al-Masih yang 

melaluinya kaum Yahudi akan menyadari kembalinya zaman 

keemasan saat  Israel Suci memerintah dunia. 

 

Agama Yahudi percaya dirinya sebagai kekuatan dominan 

yang berdampak pada proses sejarah pada awal dan akhir 

sejarah. Sejarah utama yaitu  sejarah kaum Yahudi. Namun 

sejarah khususnya sejarah orang-orang Yahudi dalam hubungan 

mereka dengan Tanah Suci yang mereka yakini diberikan secara 

ilahiah kepada mereka secara eksklusif dan tanpa syarat, dan 

dengan Negara Suci Israel yang pernah memerintah dunia dari 

tanah suci itu. Sejarah tidak dapat berakhir sampai kaum Yahudi 

membebaskan sisa tanah suci di luar perbatasan Negara Israel 

saat ini. Alkitab sendiri menyatakan bahwa tanah suci 

membentang “dari sungai Mesir sampai sungai Efrat” di Irak. 

Sejarah tidak dapat berakhir sampai Negara suci Israel 

memulihkan kendali atas seluruh tanah suci, dan memerintah 

dunia sebagai negara yang berkuasa sekali lagi. 

 

Proses sejarah tidak dapat berakhir tanpa validasi agama 

Yahudi sebagai kebenaran. Namun agar validasi seperti itu 

tercapai, pertama-tama orang Yahudi perlu kembali ke Tanah 

Suci untuk mengklaimnya kembali sebagai milik mereka. Ini 

sudah mereka lakukan. Kedua, Negara Israel juga harus 

direstorasi. Ini dicapai pada tahun 1948. Ketiga, Negara Israel 

harus diperluas untuk mencakup seluruh wilayah tanah suci, dan 

Kuil Sulaiman harus dibangun kembali (yang berarti Israel harus 

34 

 

menghancurkan Masjid Al-Aqsha untuk membangun kembali 

Bait Suci) . Keempat, Negara suzci Israel harus sekali lagi 

menjadi negara penguasa di dunia. Ini kemungkinan besar akan 

segera terjadi. Akhirnya, seorang Yahudi harus menguasai dunia 

dari Yerusalem dengan klaim kekuasaan abadi dan menyatakan 

dirinya Al-Masih. saat  kaum Yahudi mengakui dia sebagai 

Al-Masih, maka itu merupakan akhir bagi sejarah agama 

Yahudi.  

 

sebab  kaum Yahudi sekarang telah kembali ke Tanah Suci 

untuk mengklaimnya kembali sebagai milik mereka, dan Negara 

Israel telah direstorasi, dan Bait Sulaiman kemungkinan akan 

segera dibangun kembali, kebanyakan orang Yahudi percaya 

bahwa proses sejarah mendekati akhir. Jadi pandangan Hindu, 

seperti pandangan Yahudi, yaitu  bahwa kita sekarang berada 

pada tahap terakhir sejarah. Keyakinan bahwa proses sejarah 

akan segera berakhir telah berdampak pada agama Yahudi 

dengan cara yang sama seperti yang telah berdampak pada 

agama Hindu, dan sebab  itu kami melihat nasionalisme sekuler 

digantikan di Israel oleh nasionalisme agama Yahudi dengan 

semua dampak yang menyertainya pada politik Negara. 

 

Satu-satunya kekuatan penting di dunia yang dianggap 

menghalangi kaum Yahudi untuk mewujudkan takdir sejarah 

agama Yahudi yaitu  Islam. Ini menjelaskan perang saat ini 

yang dilakukan terhadap Islam untuk menghilangkan 

penghalang jalan itu. 

 

Ada beberapa orang Yahudi yang benar-benar merasa ngeri 

dengan kezaliman dan penindasan Israel terhadap orang-orang 

Arab Muslim dan Kristen yang tinggal di Tanah Suci sebelum 

kelahiran Negara Euro-Yahudi. Mereka menentang Negara 

Zionis dan mendukung hak-hak kaum Muslim dan Kristen yang 

tertindas di Tanah Suci dan sekitarnya. Sangat tidak mungkin 

35 

 

bahwa orang-orang Yahudi ini akan menerima klaim Al-Masih 

yang mencapai kekuasaannya atas seluruh dunia melalui 

penipuan, kebohongan, pembunuhan, terorisme, kezaliman, dan 

penindasan.  

 

Maka dimungkinkan bagi umat Islam untuk membangun 

persahabatan dan aliansi dengan orang-orang Yahudi seperti itu. 

 

❖ PANDANGAN KRISTEN TENTANG 

PERGERAKAN DAN AKHIR SEJARAH 

 

Pandangan Kristen yaitu bahwa semua sejarah sebelum 

kedatangan Yesus bersifat persiapan, dan sejarah itu mencapai 

zamannya saat  Tuhan berinkarnasi dalam pribadi Yesus, ‘anak 

Tuhan’, pribadi kedua dalam ‘trinitas’. Sejarah akan mencapai 

puncaknya saat  ‘Tuhan’ itu kembali untuk menghakimi 

seluruh umat manusia pada Hari Penghakiman. Pandangan 

Kristen tentang proses sejarah dengan demikian linier dan 

regresif, tetapi ia memahami sejarah yang diakhiri dengan 

intervensi ilahi lain yang akan memvalidasi klaim Kristen atas 

kebenaran.  

 

Sejarah memang sejarah kebenaran. Proses sejarah dan 

pergerakan sejarah, menurut agama Kristen, ditentukan oleh 

inkarnasi kebenaran dalam sejarah. Tuhan, yang yaitu  

kebenaran, mengambil bentuk manusia dan datang untuk hidup 

di bumi dalam pribadi putra satu-satunya, Yesus, yang juga 

dikenal sebagai putra dari perawan Maria. Fakta bahwa Tuhan 

muncul dalam sejarah dan hidup di bumi menyiratkan bahwa 

zaman di mana dia hidup yaitu  zaman keemasan, dan bahwa 

sesudah  kepergiannya setiap zaman berturut-turut menyaksikan 

kemunduran historis dan penyimpangan dari kebenaran. 

 

36 

 

Ada konsensus di antara orang-orang Kristen bahwa 

kedatangan kembali Yesus Kristus (yaitu, Al-Masih atau Al-

Masih) sekarang sudah dekat, dan sebagai konsekuensinya kita 

mendekati akhir sejarah. Banyak orang Kristen non-Eropa 

diyakinkan oleh argumen Euro-Kristen yang dominan bahwa 

kelahiran Negara Israel yaitu  pemenuhan nubuwah Alkitab dan 

oleh sebab  itu orang Kristen memiliki kewajiban agama untuk 

memfasilitasi kembalinya Yesus dengan memberi  dukungan 

mereka kepada Israel dan dengan melawan orang-orang yang 

menentang Israel. Mereka tetap buta dengan mudahnya terhadap 

kezaliman, kebohongan dan penipuan yang dengannya apa yang 

disebut nubuwah Alkitab sedang diwujudkan. 

 

Sungguh kelahiran Israel itu sendiri yaitu  hasil dari 

perkawinan aneh Yahudi-Kristen yang juga membentuk tatanan 

dunia pada saat ini. 

 

Saat kembalinya Yesus semakin dekat, dunia sudah 

menyaksikan kebangkitan nasionalisme agama Kristen yang 

berdampak pada pemikiran politik Kristen dengan implikasi 

penting. Tidak ada tempat di dunia ini yang memiliki dampak 

kebangkitan kembali nasionalisme Kristen pada akhir zaman 

yang membuat dampak yang lebih tidak menyenangkan di dunia 

selain dalam pembentukan pemerintahan George Bush di AS. 

 

Tinjauan singkat dari sudut pandang ketiga agama ini cukup 

untuk menunjukkan bahwa mereka semua percaya pada akhir 

sejarah dan, lebih jauh, bahwa akhir sejarah sudah dekat. 

 

❖ PANDANGAN PERADABAN BARAT MODERN 

TENTANG PERGERAKAN DAN AKHIR SEJARAH 

 

Barangkali filsuf terkemuka dalam sejarah peradaban Barat 

modern yaitu  filsuf Jerman, Friedrich Hegel. Ia memberi  

37 

 

gambaran tentang proses sejarah yang dimulai dengan tesis. Ini 

memprovokasi antitesis. Dan keduanya lalu  didamaikan 

melalui munculnya sintesis. Sintesis dalam filosofi sejarahnya 

mewakili tahap sejarah yang lebih tinggi dan sebab nya, 

merupakan kemajuan. Dengan demikian, pergerakan sejarah 

menyaksikan kemajuan yang konstan. Gerakan sejarah itu linier 

dan progresif, dan yang terbaru selalu yang terbaik. 

 

Dalam filsafat sejarah Hegelian, kekuasaan dan dominasi 

yang tak tertandingi dari peradaban Barat modern mewakili 

sintesis dari semua yang mendahuluinya. Fakta bahwa Barat 

dominan, tetap dominan, dan berkembang dalam dominasinya, 

menunjukkan bahwa klaimnya terhadap kebenaran yaitu  valid. 

Ini juga menyiratkan bahwa semua peradaban sebelumnya 

dengan konsep kebenaran dan sejarah mereka yang berbeda, 

termasuk Islam, kini telah menjadi mubazir dan hampir mati 

sebab  telah disintesis dan digantikan oleh dispensasi Barat saat 

ini. sebab  Barat modern itu sekuler, maka implikasinya yaitu 

agama ditakdirkan untuk masuk ke museum sejarah. 

 

Peradaban Barat modern tidak hanya mengklaim bahwa ia 

yaitu  yang terbaru dan oleh sebab  itu yang terbaik, tetapi 

anehnya ia juga mengklaim bahwa ia yaitu  yang terakhir 

sebab  ia mewakili sintesis terakhir dalam sejarah. Mereka 

percaya peradaban mereka telah bertahan dan tidak akan pernah 

terlampaui. Kepercayaan bahwa proses sejarah telah mencapai 

klimaksnya dan bahwa akhirnya, kapan pun itu datang, akan 

memvalidasi klaim mereka atas kebenaran. 

 

Francis Fukuyama mengakui naiknya peradaban Barat 

modern sebagai akhir sejarah. Samuel Huntington berbeda 

pendapat. Dia percaya bahwa ada beberapa operasi pembersihan 

yang tersisa sebab  peradaban selain peradaban Barat modern 

masih memiliki kehidupan di dalamnya. Dia membayangkan 

38 

 

benturan peradaban sebelum akhir sejarah. Dia memperingatkan 

bahwa bentrokan pada dasarnya akan terjadi antara Islam