tanda akhir zaman 4

Tampilkan postingan dengan label tanda akhir zaman 4. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tanda akhir zaman 4. Tampilkan semua postingan

tanda akhir zaman 4



 a Allahu ‘alaihi wa salam) telah 

memberi  informasi tambahan tentang Yakjuj dan Makjuj. 

Misalnya, dia bersabda, “Tidak ada dari mereka yang mati 

tanpa meninggalkan seribu orang lagi.” Sehingga realitas 

globalisasi kontemporer yang merusak dan memperbudak umat 

manusia kini dapat dipahami. 

 

108 

 

*** 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

109 

 

ESAI 8 

 

Hikmah dari Kelahiran Putra Maryam 

 

 

 

 

eskipun mereka mengaku sebagai kaum ‘pilihan’, 

mereka gagal dalam ujian ilahi dan memfitnah sang 

perawan yang tidak bersalah. Dan saat  bayi itu 

tumbuh menjadi laki-laki dewasa, dan menyatakan bahwa dia 

yaitu  Al-Masih, mereka menolaknya sebab  mereka 

menganggapnya anak haram dan sebab  “Seorang anak haram 

janganlah masuk jemaah TUHAN, bahkan keturunannya yang 

kesepuluhpun tidak boleh masuk jemaah TUHAN.” (Ulangan, 23: 2). 

 

Hikmah penting yang harus dikaji dalam peristiwa mukjizat 

kelahiran putra Maryam, sebuah peristiwa yang dijelaskan Al-

Qur’an secara rinci, yaitu bahwa ada perbedaan besar antara 

‘melihat dengan dua mata’ – ‘mata kepala’ dan ‘mata hati’ , 

dengan ‘melihat hanya dengan satu mata’ – ‘mata kepala’. Di 

dunia di mana kebohongan dan tipu daya digunakan untuk 

kembali menjajah negeri-negeri non-Eropa, penting bagi kita 

untuk melampaui penampilan eksternal untuk mencapai 

kenyataan internal peristiwa - terutama peristiwa seperti 9/11 

yang digunakan untuk melancarkan sesuatu yang disebut 

‘perang melawan teror’. Hanya ilmu spiritual yang mampu 

memahami dunia saat ini - oleh sebab  itu sangat diperlukan 

revolusi spiritual yang mendesak. 

 

Al-Qur’an telah mencatat peristiwa saat ibunya Maryam 

“bersumpah akan menjadikan anaknya yang belum lahir untuk 

mengabdi kepada Tuhan”: 

110 

 

 

(Ingatlah), saat  istri Imran berkata: “Ya Tuhanku, 

sesungguhnya aku bernazar kepada-Mu, apa (janin) yang 

dalam kandunganku (kelak) menjadi hamba yang mengabdi 

(kepada-Mu), maka terimalah (nazar itu) dariku. Sungguh, 

Engkaulah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui.”  

 

(Al-Qur’an Surat Ali Imran, 3: 35) 

 

Dia mengharapkan seorang bayi laki-laki, sebab  itu dia 

kecewa saat  seorang bayi wanita  lahir. Tetapi Allah 

Subhanahu wa Ta’ala menanggapi dengan menyatakan bahwa tidak 

ada laki-laki yang sama (setara dengan) wanita  ini:  

 

Maka saat  melahirkannya, dia berkata, “Ya Tuhanku, aku 

telah melahirkan anak wanita .” Padahal Allah lebih tahu 

apa yang dia lahirkan, dan laki-laki tidak sama dengan 

wanita . ”Dan aku memberinya nama Maryam, dan aku 

mohon perlindungan-Mu untuknya dan anak cucunya dari 

(gangguan) setan yang terkutuk.”  

 

(Al-Qur’an Surat Ali Imran, 3: 36) 

 

saat  Maryam tinggal di rumah suci dalam pengawasan 

Zakaria, dia sering tinggal di sebuah ruangan yang dikenal 

sebagai ‘Ruangan Suci di Rumah Suci’ (Mihrab dalam Al-

Qur’an) di mana relik suci disimpan, dan hanya bisa dimasuki 

oleh Kepala Rabbi. Namun saat Zakaria memasuki Mihrab pada 

suatu hari dia mendapatinya bersama dengan makanan. "Dari 

mana engkau mendapatkan makanan ini?" Dia menjawab: “Allah 

mengirimkannya untukku.” 

 

Maka Dia (Allah) menerimanya dengan penerimaan yang 

baik, membesarkannya dengan pertumbuhan yang baik dan 

menyerahkan pemeliharaannya kepada Zakaria. Setiap kali 

Zakaria masuk menemuinya di mihrab (ruangan khusus 

111 

 

ibadah), dia mendapati makanan di sisinya. Dia berkata, 

“Wahai Maryam! Dari mana ini engkau peroleh?” Dia 

(Maryam) menjawab, “Itu dari Allah. Sesungguhnya Allah 

memberi rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki tanpa 

perhitungan.”  

 

(Al-Qur’an Surat Ali Imran, 3: 37) 

 

Berita tentang keajaiban ini menyebar. Jadi, selain 

reputasinya untuk pembelajaran dan kebajikan, dia sekarang 

bahkan lebih terkenal. Memang dia yaitu  “yang terbaik dari 

semua wanita di dunia”:  

 

Dan (ingatlah) saat  para malaikat berkata, “Wahai Maryam! 

Sesungguhnya Allah telah memilihmu, menyucikanmu, dan 

melebihkanmu di atas segala wanita  di seluruh alam.”  

 

(Al-Qur’an Surat Ali Imran, 3: 42) 

 

Pada usia pubertas (baligh) dia tidak lagi diizinkan untuk 

tinggal di rumah suci dan dipulangkan kembali ke rumah. Tak 

lama sesudah  itu, saat  dia berusia sekitar 13 atau 14 tahun, 

Malaikat Jibril muncul di hadapannya, dan peristiwa ini pun 

tercatat dalam Al-Qur’an: 

 

Dan ceritakanlah (Muhammad) kisah Maryam di dalam Kitab 

(Al-Qur’an), (yaitu) saat  dia mengasingkan diri dari 

keluarganya ke suatu tempat di sebelah timur (Baitulmaqdis), 

lalu dia memasang tabir (yang melindunginya) dari mereka; 

lalu Kami mengutus roh Kami (Jibril) kepadanya, maka dia 

menampakkan diri di hadapannya dalam bentuk manusia 

yang sempurna. Dia (Maryam) berkata, “Sungguh, aku 

berlindung kepada Tuhan Yang Maha Pengasih terhadapmu, 

jika engkau orang yang bertakwa.” Dia (Jibril) berkata, 

“Sesungguhnya aku hanyalah utusan Tuhanmu, untuk 

menyampaikan anugerah kepadamu seorang anak laki-laki 

112 

 

yang suci.” Dia (Maryam) berkata, “Bagaimana mungkin aku 

mempunyai anak laki-laki, padahal tidak pernah ada orang 

(laki-laki) yang menyentuhku dan aku bukan seorang 

pezina!” Dia (Jibril) berkata, “Demikianlah.” Tuhanmu 

berfirman, “Hal itu mudah bagi-Ku, dan agar Kami 

menjadikannya suatu tanda (kebesaran Allah) bagi manusia 

dan sebagai rahmat dari Kami; dan hal itu yaitu  suatu urusan 

yang (sudah) diputuskan.” Maka dia (Maryam) mengandung, 

lalu dia mengasingkan diri dengan kandungannya itu ke 

tempat yang jauh. 

 

lalu  rasa sakit akan melahirkan memaksanya 

(bersandar) pada pangkal pohon kurma, dia (Maryam) 

berkata, “Wahai, betapa (baiknya) aku mati sebelum ini, dan 

aku menjadi seorang yang tidak diperhatikan dan dilupakan.” 

Maka dia (Jibril) berseru kepadanya dari tempat yang rendah, 

“Janganlah engkau bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu 

telah menjadikan anak sungai di bawahmu. Dan goyanglah 

pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya (pohon) itu akan 

menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu. Maka 

makan, minum dan bersenanghatilah engkau. Jika engkau 

melihat seseorang, maka katakanlah, “Sesungguhnya aku 

telah bernazar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pengasih, 

maka aku tidak akan berbicara kepada siapa pun pada hari 

ini.”  

 

lalu  dia (Maryam) membawa dia (bayi itu) kepada 

kaumnya dengan menggendongnya. Mereka (kaumnya) 

berkata, “Wahai Maryam! Sungguh, engkau telah membawa 

sesuatu yang sangat mungkar. Wahai saudara wanita  

Harun (Maryam)! Ayahmu bukan seorang yang buruk 

perangai dan ibumu bukan seorang wanita  pezina.” Maka 

dia (Maryam) menunjuk kepada (anak)nya. Mereka berkata, 

“Bagaimana kami akan berbicara dengan anak kecil yang 

masih dalam ayunan?” 

 

113 

 

Dia (‘Isa) berkata, “Sesungguhnya aku hamba Allah, Dia 

memberiku Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang 

Nabi. Dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkahi di 

mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku 

(melaksanakan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku 

hidup; dan berbakti kepada iartikel , dan Dia tidak menjadikan 

aku seorang yang sombong lagi celaka. Dan kesejahteraan 

semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari kelahiranku, pada 

hari wafatku, dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali.” 

Itulah ‘Isa putra Maryam, (yang mengatakan) perkataan yang 

benar, yang mereka ragukan kebenarannya. 

 

(Al-Qur’an Surat Maryam, 19: 16-34) 

 

Kaum Yahudi menanggapi bayi yang berbicara dalam 

ayunan dengan menyatakan: “Ini sihir belaka,” dan mereka 

lalu  memfitnahnya! 

 

❖ PENAMPILAN DAN KENYATAAN  

DALAM KEHIDUPAN PUTRA MARYAM 

 

‘Nabi ‘Isa dalam Al-Qur’an’ yaitu  seseorang, dengan 

kelahiran, kehidupan, dan kepergiannya dari alam dunia ini, 

memiliki ‘penampilan’ dan 'kenyataan' secara konstan dan luar 

biasa berbeda satu sama lain. Nabi Muhammad (shala Allahu 

‘alaihi wa salam) menggambarkan kembalinya sebagai sesuatu di 

mana ‘penampilan’ dan ‘kenyataan’ akan sangat berbeda. Dan 

sebab  kembalinya akan menandai akhir sejarah, implikasinya 

yaitu bahwa hanya mereka yang memiliki ilmu pengetahuan 

religius yang dapat memahami ‘kenyataan’ dunia saat ini, 

perbudakan politik dan ekonomi yang membayangi, globalisasi, 

dll., saat kita menghadapi akhir zaman yang dramatis ini .  

 

Peristiwa kelahirannya ‘tampak’ melibatkan kesalahan 

Maryam, dan mereka yang mendasarkan pertimbangan hanya 

pada pengamatan mata kepala (yaitu, dengan epistemologi ‘mata 

114 

 

satu’ barat modern), begitu yakin, sehingga memfitnahnya. 

Orang-orang yang buta mata hatinya selalu salah dalam menilai 

orang. 

 

‘Kenyataannya’ yaitu bahwa seorang perawan yang tidak 

bersalah dengan mukjizat telah melahirkan seorang bayi laki-

laki. Ilmu pengetahuan spiritual intuitif internal (yaitu, melihat 

dengan mata hati) seharusnya mengarahkan orang-orang yang 

beriman (pada Tuhan Yang Maha Esa dan agama Ibrahim) untuk 

menyelidiki lebih dalam mengenai masalah ini sebelum 

bergegas menghakimi. Kisah Musa, dan Khidir, dalam Al-

Qur'an Surat Al-Kahfi mengajarkan pelajaran yang sangat 

penting tentang bahayanya langsung menghakimi tanpa harus 

menyelidiki dan memahami kenyataan internal suatu peristiwa.  

 

Kaum Bani Israel seharusnya berhenti sejenak untuk 

bertanya pada diri sendiri: mengapa gadis Yahudi yang paling 

terkenal, shalihah, dan terpelajar di negeri itu kembali kepada 

kaumnya dengan membawa bayi laki-lakinya dalam 

gendongannya sesudah  dia berhasil menyembunyikan kehamilan 

dan kelahirannya dari kaumnya? Dan mengapa dia tidak 

berbicara untuk menjelaskan, atau untuk membela diri, saat  

ditanyai tentang masalah ini ? Bukankah itu perilaku 

abnormal yang mencurigakan? 

 

Nabi ‘Isa (‘alaihi salam), bayi yang baru lahir, berbicara dari 

dalam buaian untuk membela kesucian ibunya dan menyatakan 

dirinya sebagai Utusan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dia (Nabi ‘Isa 

(‘alaihi salam)) melakukannya saat  dia (Maryam) menjawab 

pertanyaan orang-orang tentang kehamilan dan persalinannya 

yang belum menikah dengan menunjuk kepada bayi, dan saat 

mereka menanggapi secara bergiliran dengan bertanya:  

 

“Bagaimana kami akan berbicara dengan anak kecil yang 

masih dalam ayunan?” Dia (‘Isa) berkata, “Sesungguhnya aku 

115 

 

hamba Allah, Dia memberiku Kitab (Injil) dan Dia 

menjadikan aku seorang Nabi. Dan Dia menjadikan aku 

seorang yang diberkahi di mana saja aku berada, dan Dia 

memerintahkan kepadaku (melaksanakan) shalat dan 

(menunaikan) zakat selama aku hidup; dan berbakti kepada 

iartikel , dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong 

lagi celaka. 

 

(Al-Quran Surat Maryam, 19: 30-32) 

 

Alih-alih terburu-buru menolak klaim itu dan mengucapkan 

perkataannya dari buaian sebagai “sihir belaka”, akan lebih tepat 

bagi mereka yang menyatakan diri mereka sebagai “kaum 

pilihan Tuhan Yang Mahakuasa” untuk merenungi perilaku 

abnormal Maryam yang mencurigakan. Lagipula, bukankah 

Maryam yang belum menikah tidak kembali ke kaumnya secara 

terbuka dengan bayinya dalam pelukannya? Mereka pun harus 

mengingat mukjizat ilahi yang terjadi di rumah suci yang 

disaksikan oleh Kepala Rabbi, Zakaria, bahwa dia mendapatkan 

makanan yang dikirimkan kepadanya di Mihrab, ruangan yang 

tidak ada siapa-siapa selain dia, Kepala Rabbi, bisa masuk. Dan 

dia sendiri tidak memberinya makanan. 

 

Mukjizat Nabi ‘Isa (‘alaihi salam) berlanjut di kehidupan 

selanjutnya: 

 

Dan (Kami pilih Nabi ‘Isa) sebagai Rasul kepada Bani Israil 

(dia berkata), “Aku telah datang kepada kamu dengan sebuah 

tanda (mukjizat) dari Tuhanmu, yaitu aku membuatkan 

bagimu (sesuatu) dari tanah berbentuk seperti burung, lalu 

aku meniupnya, maka ia menjadi seekor burung dengan izin 

Allah. Dan aku menyembuhkan orang yang buta sejak dari 

lahir dan orang yang berpenyakit kusta. Dan aku 

menghidupkan orang mati dengan izin Allah, dan aku 

beritahukan kepadamu apa yang kamu makan dan apa yang 

kamu simpan di rumahmu. Sesungguhnya pada yang 

116 

 

demikian itu terdapat suatu tanda (kebenaran kerasulanku) 

bagimu, jika kamu orang beriman. 

 

(Al-Quran Surat Ali Imran, 3: 49) 

 

Semua mukjizat ini ‘tampak’ bagi musuhnya sebagai sihir. 

'Kenyataannya', di sisi lain, seperti yang dijelaskan dalam Al-

Qur’an, yaitu bahwa Allah Yang Mahatinggi telah memperkuat 

Nabi ‘Isa (‘alaihi salam) dengan Ruh Suci (yaitu, Malaikat Jibril), 

dan melalui kuasa-Nya sehingga mukjizat terjadi.  

 

Akhirnya, Al-Qur’an menggambarkan adegan penyaliban 

di mana orang-orang diyakinkan akan kematiannya sebab  

mereka melihat dia disalibkan di depan mata mereka. Musuh-

musuhnya lalu  menyombongkan diri, “Kami telah 

membunuh Al-Masih, ‘Isa putra Maryam, Rasulullah.” 

 

Ada sarkasme dalam klaim sombong itu sebab  mereka 

telah menolak klaimnya sebagai Al-Masih dan seorang Nabi. 

Akan tetapi Al-Qur’an lalu  menggambarkan ‘kenyataan’ 

yang sangat berbeda dari yang ‘tampak’  bagi mereka. 

 

Al-Qur’an menyatakan “mereka tidak membunuhnya”, 

“mereka tidak menyalibnya”, “Allah mengambil (jiwanya)”, 

“Allah membuatnya tampak bahwa dia telah mati”, dan 

akhirnya, bahwa “Allah mengangkatnya ke hadirat-Nya” : 

 

dan mereka berkata (dengan sombong), “Sesungguhnya kami 

telah membunuh Al-Masih, ‘Isa putra Maryam, Rasulullah,” 

padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) 

menyalibnya, tetapi begitulah penampilan yang dibuat 

tampak bagi mereka. Sesungguhnya mereka yang berselisih 

pendapat tentang (pembunuhan) ‘Isa, selalu dalam keragu-

raguan tanpa pengetahuan yang pasti, melainkan mengikuti 

persangkaan belaka, sebab  sesungguhnya mereka tidak 

117 

 

membunuhnya. Tetapi Allah telah mengangkat Isa ke hadirat-

Nya. Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana. 

 

(Al-Qur’an Surat An-Nisa, 4: 157-158)  

 

Kebanyakan ulama Islam saat ini menafsirkan peristiwa di 

atas sebagai peristiwa di mana Allah Subhanahu wa Ta’ala 

menggantikan orang lain di posisi Nabi ‘Isa (‘alaihi salam) dan 

orang itulah yang disalib. Saya berbeda, dan sebagai gantinya 

menafsirkan ayat-ayat ini  sebagai berikut: Allah Subhanahu 

wa Ta’ala mengambil jiwanya saat dia dipaku di kayu salib. 

Tubuhnya yang diberkahi lalu  diturunkan, disiapkan 

untuk dimakamkan, dan disegel di sebuah gua dengan penjaga 

Romawi ditempatkan di luar gua. Allah Subhanahu wa Ta’ala 

lalu  mengembalikan jiwanya ke tubuhnya yang 

tersembunyi di dalam gua. Tubuh (jiwa yang sekarang 

bersamanya) lalu  diubah dari wujud dimensi alam ruang-

fana menjadi wujud alam transendental dan lalu  diangkat 

ke Samawat (yaitu, tujuh lapisan alam ruang dan waktu yang ada 

antara dunia ini dan ‘arsy Allah Subhanahu wa Ta’ala). Oleh sebab  

itu, meskipun Nabi ‘Isa (‘alaihi salam) dipaku di kayu salib, 

dengan darah di tangannya, dia tidak pernah mengalami 

kematian yang disebut Al-Qur’an sebagai maut (yaitu, saat  

nyawa dicabut dan tidak dikembalikan). Dan sebab  Al-Qur’an 

menyatakan bahwa setiap jiwa pasti merasakan maut 

(kematian), implikasinya yaitu bahwa suatu hari Nabi ‘Isa (‘alaihi 

salam) pasti kembali dan menghadapi maut seperti manusia 

lainnya. saat  dia kembali ke dunia, orang-orang akan melihat 

darah masih segar ada di tangannya. 

 

Pertimbangkan berita berikut: Seorang pria Muslim di 

Mesir membunuh istrinya dan lalu  menguburkannya 

dengan anak wanita  mereka yang masih bayi dan putrinya 

yang berusia 8 tahun. Gadis-gadis itu dikubur hidup-hidup. Dia 

lalu  melaporkan ke polisi bahwa seorang paman telah 

118 

 

membunuh anak-anak ini . Lima belas hari lalu , 

anggota keluarga lainnya meninggal. saat  mereka pergi untuk 

menguburkannya, mereka menemukan dua gadis kecil masih 

hidup di bawah pasir. Peduduk negeri marah atas insiden itu, dan 

pria itu pun akan dieksekusi. Gadis yang lebih tua ditanya 

bagaimana dia bisa bertahan hidup, dan inilah yang dia katakan: 

 

“Seorang pria dengan pakaian putih mengkilap, dengan 

luka berdarah di tangannya, datang setiap hari untuk 

memberi kami makan. Dia membangunkan iartikel  agar 

dia bisa menyusui adikku.” 

 

Dia diwawancarai di televisi nasional Mesir oleh seorang 

pembawa berita wanita Muslim berjilbab yang lalu  

menyatakan bahwa: “Ini tidak lain yaitu  Yesus/Nabi ‘Isa 

(‘alaihi salam), sebab  tidak ada orang lain yang melakukan hal 

seperti ini!” 

 

Umat Muslim percaya bahwa Yesus/Nabi ‘Isa (‘alaihi salam) 

akan melakukan hal-hal seperti itu, namun luka-luka itu 

menyiratkan bahwa dia benar-benar dipaku di kayu salib. Dan 

juga jelas bahwa dia masih hidup. Anak itu tidak mungkin 

mengarang cerita seperti itu. Dan tidak mungkin anak-anak itu 

bisa bertahan tanpa keajaiban. 

 

Kini kita dapat kembali ke pokok bahasan kita di mana 

‘penampilan’ dan ‘kenyataan’ dalam peristiwa kembalinya Al-

Masih yang dramatis dan penting ini sekali lagi akan sangat 

berbeda satu sama lain. Nabi Muhammad (shala Allahu ‘alaihi wa 

salam) memberitahu dunia bahwa Al-Masih palsu yang dikenal 

sebagai Dajjal (atau penipu ulung) telah diciptakan oleh Allah 

Subhanahu wa Ta’ala dan dilepaskan ke dunia dengan misi 

menyamar sebagai Al-Masih. Agar berhasil menyelesaikan misi 

itu, dia harus menguasai dunia dari Yerusalem (yaitu, dari 

119 

 

Negara Israel), dan sebab nya Negara Israel itu harus didirikan 

di Tanah Suci dan harus menjadi negara yang berkuasa di dunia. 

 

saat  dunia menyaksikan peristiwa-peristiwa berikut, itu 

akan tampak sebagai tanda-tanda pasti akan kembalinya 

Yesus/Nabi ‘Isa (‘alaihi salam) padahal, pada kenyataannya, itu 

yaitu  pekerjaan Dajjal: 

 

▪ Pertama: pembebasan Tanah Suci dari “pendudukan” 

Muslim, dan itu terjadi pada tahun 1917; 

 

▪ Kedua: kembalinya orang-orang Yahudi ke Tanah Suci 

untuk mengklaimnya kembali sebagai milik mereka, dan itu 

terjadi antara tahun 1917 dan 1948; 

 

▪ Ketiga: restorasi Negara Israel di Tanah Suci, dan itu terjadi 

pada tahun 1948; 

 

▪ Dan akhirnya, pembentukan Israel sebagai negara adikuasa 

di dunia, dan itu akan segera terjadi. 

 

saat  Israel benar-benar menjadi negara adikuasa di dunia, 

Dajjal lalu  akan menjadi pemimpinnya dan akan 

menyatakan dirinya sebagai Al-Masih padahal sebenarnya dia 

yaitu  Al-Masih palsu. Dengan demikian, ‘penampilan’ dan 

‘kenyataan’ akan berbeda sekali lagi dalam kehidupan putra 

Maryam yang lalu  akan kembali dan membunuh Al-Masih 

palsu ini . 

 

*** 

 

 

 

120 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

121 

 

ESAI 9 

 

Bolehkah Muslim Memilih Seorang Wanita 

untuk Menjadi Pemimpin Mereka? 

 

 

 

 

emimpin wanita yaitu  topik yang kini menarik perhatian 

umat Islam di Trinidad dan Tobago. Kongres Nasional 

Bersatu harus menunjuk seorang Pemimpin baru dari 

Oposisi di Parlemen dan mayoritas anggota Parlemen dari 

oposisi memilih seorang wanita untuk menggantikan pemimpin 

lama mereka. Namun seorang kolega Muslim mereka di 

Parlemen dengan berani mengumumkan niatnya untuk 

berkonsultasi terlebih dahulu dengan “pemimpin agamanya” 

sebelum memutuskan masalah memilih seorang wanita sebagai 

pemimpinnya. Sangat bijaksana baginya untuk melakukan 

demikian sebab  esai ini berpendapat, sementara seorang wanita 

dapat mempekerjakan pria untuk bekerja padanya, petunjuk 

Ilahi dalam Al-Qur’an, serta teladan Nabi Muhammad (shala 

Allahu ‘alaihi wa salam) yang diberkahi dan para sahabatnya tidak 

mengizinkan Muslim untuk memilih seorang wanita untuk 

menjadi pemimpin mereka. 

 

Ini yaitu  masalah penyesalan yang mendalam bahwa 

banyak ulama Islam pada zaman modern ini entah ambigu dalam 

pemikiran mereka, atau memilih untuk tetap diam dibandingkan  

menentang warga  luas sesat yang telah dicuci otaknya dan 

terpengaruh oleh revolusi emansipasi wanita modern Dajjal, 

atau yang terburuk dari semuanya, mengeluarkan fatwa 

(pendapat hukum) yang salah arah tentang masalah ini. (Baik 

122 

 

kedatangan Dajjal maupun revolusi emansipasi wanita 

modernnya yaitu  ‘Tanda-tanda Hari Akhir’.) 

 

Di Pakistan, misalnya, saat  ketidakpuasan warga  

luas akhirnya memaksakan pemilihan umum untuk melawan 

kediktatoran Ayub Khan yang didukung AS pada tahun 1965, 

kandidat Presiden atas nama Partai Oposisi Gabungan yaitu  

seorang wanita  - Fatima Jinnah. Kecuali golongan ulama 

yang selaras dengan partai pemerintah, semua ulama terkenal 

Pakistan mengeluarkan fatwa (opini hukum) pada kesempatan 

itu untuk mendukung pemimpin wanita. Faktanya, mereka 

bertindak atas dasar kebijaksanaan politik dan, dalam prosesnya, 

salah arah dalam penilaian mereka. Namun harus kita akui, agar 

adil kepada para ulama Islam itu, pada tahun 1964 lebih sulit 

dibandingkan  sekarang ini, untuk pertama-tama mengenali dan 

lalu  memahami besarnya serangan utama  dan berbahaya 

Dajjal terhadap umat manusia dalam bentuk serangan revolusi 

emansipasi wanita modern. 

 

Mereka yang mungkin tidak setuju dengan pandangan yang 

diungkapkan dalam esai ini tentang masalah aturan seorang 

wanita harus ingat bahwa Islam, sebagai agama, menuntut 

Muslim bahwa dia dibimbing dalam segala urusan, terutama 

dengan bimbingan yang telah datang melalui Al-Qur’an, dan 

yang kedua dengan teladan Nabi (shala Allahu ‘alaihi wa salam) yang 

diberkahi dan para sahabatnya yang diberi petunjuk dengan 

benar. Mereka tidak boleh berpegang teguh pada dukungan 

(tidak sah) dari penyimpangan sejarah sporadis seperti yang 

terjadi di Pakistan, Bangladesh, Indonesia dan di tempat lain, di 

mana wanita yang sebenarnya salah arah telah menjadi 

pemimpin bagi warga  Muslim ini . 

 

❖ AL-QUR'AN DAN KEPEMIMPINAN IMAM (LAKI-

LAKI) 

123 

 

 

Al-Qur’an telah menyampaikan peringatan keras tentang pilihan 

seorang pemimpin: “Suatu hari Kami akan memanggil semua 

umat manusia bersama Imam (yaitu, pemimpin) mereka...” (Al-

Qur’an Surat Al-Isra, 17: 71). Kata Imam, yang digunakan 

dalam Al-Qur'an dan juga dalam bahasa sehari-hari, mengacu 

pada pemimpin yang memerintah, mengatur, atau memimpin. 

Al-Qur’an juga menggunakan kata Imam yang berarti jalan 

hidup atau kitab yang mengarahkan petunjuk atau membimbing. 

Namun, dalam konteks Hari Akhir dan penghakiman ilahi atas 

seluruh umat manusia, tidak bertanggung jawab bagi siapa pun 

untuk mengecualikan makna pemimpin yang memerintah, 

mengatur atau memimpin pada kata Imam dalam ayat Al-Qur’an 

di atas. Keadilan (dan juga akal sehat dasar) menuntut bahwa 

pemimpin atau penguasa (yang sesat ataupun yang dibimbing di 

jalan yang benar) akan dibawa bersama umatnya saat  mereka 

dihakimi oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.  

 

Allah Subhanahu wa Ta’ala memilih seorang Imam untuk umat 

manusia saat  Dia menyatakan kepada Ibrahim (‘alaihi salam): 

“Saya dengan ini menunjuk engkau sebagai Imam (pemimpin) 

umat manusia” (Al-Qur’an Surat Al-Baqarah, 2: 124). saat  

Ibrahim (‘alaihi salam) menjawab dengan mempertanyakan 

apakah para Imam juga akan diangkat secara ilahi dari antara 

keturunannya, Allah Subhanahu wa Ta’ala menegaskan hal itu 

sambil menolak kemungkinan perjanjian-Nya itu dapat 

mencakup mereka yang berperilaku jahat (seperti di Israel 

modern) (Al-Qur’an Surat Al-Baqarah, 2: 124). lalu  Allah 

Subhanahu wa Ta’ala menunjuk Imam, dalam wujud Nabi, dari 

keturunan Ibrahim (‘alaihi salam). Di antara mereka yaitu  Ishak 

(‘alaihi salam) dan keturunannya yaitu Yakub, Yusuf, Musa, 

Harun, Daud, Sulaiman dan ‘Isa (‘alaihim salam), dan Ismail 

(‘alaihi salam) dan keturunannya yaitu Muhammad (shala Allahu 

‘alaihi wa salam). 

124 

 

 

Akhirnya, ada doa yang dicatat dalam Al-Qur’an itu sendiri 

di mana orang-orang beriman berdoa kepada Allah Subhanahu wa 

Ta’ala sebagai berikut: “Ya Tuhan kami! Berikan kepada kami 

istri dan keturunan yang akan menjadi penghiburan bagi kami 

dan semoga kami menjadi Imam (yaitu, pemimpin dan 

penguasa) atas orang-orang yang shalih" (Al-Qur’an Surat Al-

Furqan, 25: 74). Dalam setiap ayat di mana Al-Qur’an 

menggunakan istilah Imam yang berarti ‘pemimpin’ yang 

‘memerintah’, ‘mengatur’ atau ‘memimpin’, Imam ini  

selalu laki-laki dan tidak pernah wanita . 

 

Tiga kali dalam sejarah Allah Subhanahu wa Ta’ala memilih 

orang sebagai Nabi dan lalu  menahbiskan bahwa Nabi 

harus mendirikan negara dan lalu  memerintah negara itu. 

Daud dan Sulaiman (‘alaihima salam) memerintah Negara Suci 

Israel, sedangkan Muhammad (shala Allahu ‘alaihi wa salam) 

akhirnya memerintah sebuah negara kota Madinah. Dalam 

ketiga contoh ini, para penguasa yang ditetapkan secara ilahi ini 

yaitu  laki-laki dan tidak pernah wanita .  

 

Al-Qur’an selanjutnya menyatakan bahwa tidak hanya para 

Nabi (Daud, Sulaiman dan Muhammad) yang memerintah 

negara yaitu  laki-laki, tetapi juga, bahwa semua Nabi/Rasul 

Allah Subhanahu wa Ta’ala (124.000 seluruhnya) semuanya, tanpa 

pengecualian, yaitu  laki-laki: “Kami pun tidak mengutus 

kepada manusia (sebagai Utusan) kecuali laki-laki yang Kami 

ilhamkan (yang tinggal di antara manusia) di pemukiman 

manusia” (Al-Qur’an Surat Yusuf, 12: 109; An-Nahl, 16: 43; Al-

Anbiya’, 21: 7). 

 

Ada implikasi yang sangat jelas dalam pilihan ilahi laki-

laki, sebanyak 124.000 kali, dan tidak pernah sekalipun seorang 

wanita, sebagai Nabi dan Rasul yang ditunjuk secara ilahi. 

125 

 

Implikasi ini selanjutnya dikonfirmasi dalam pilihan ilahi dari 

jenis kelamin maskulin (dan bukan feminin) untuk kata ganti 

yang merujuk pada ‘Dia’, meskipun ‘Dia’, Allah, bukan laki-

laki atau wanita . Nama-nama malaikat semuanya maskulin, 

meski mereka bukan laki-laki atau wanita . Al-Qur’an 

mengutuk mereka yang memberi  nama feminin kepada para 

malaikat: “Mereka yang tidak percaya pada akhirat menamai 

malaikat dengan nama wanita ” (Al-Qur’an Surat An-Najm, 

53: 27). Akhirnya, Al-Qur’an mengakui bahwa “wanita 

memiliki hak yang sama seperti laki-laki dengan cara yang adil”, 

tetapi lalu  menyatakan bahwa “pria memiliki status atau 

gelar di atas mereka” (yaitu, di atas wanita) (Al-Qur’an Surat Al-

Baqarah, 2: 228) dan, dalam hubungan ini, selanjutnya 

dinyatakan bahwa “laki-laki yaitu  wali atas wanita ” 

dengan tanggung jawab tidak hanya untuk memelihara tetapi, 

juga, untuk menjaga dan melindungi mereka, sehingga wajib 

bagi wanita  untuk mematuhi wali laki-laki mereka (Al-

Qur’an Surat An-Nisa, 4: 34).  

 

❖ NABI SULAIMAN DAN PEMIMPIN WANITA 

 

Petunjuk ilahi tentang masalah ini menjadi lebih jelas saat  Al-

Qur’an menjelaskan riwayat panjang peristiwa di mana 

Sulaiman (‘alaihi salam) terkejut mengetahui tentang seorang 

pemimpin wanita  di tanah ‘Saba’ (Sheba dalam Alkitab), 

dan penduduk Saba pun menyembah matahari. Berikut 

narasinya: 

 

Dan dia memeriksa burung-burung lalu berkata, “Mengapa 

aku tidak melihat Hud-hud, apakah ia termasuk yang tidak 

hadir? Pasti akan kuhukum ia dengan hukuman yang berat 

atau kusembelih ia, kecuali jika ia datang kepadaku dengan 

alasan yang jelas.” (Pembaca harus memperhatikan bahwa 

Sulaiman diajari bahasa burung sehingga dengan demikian 

dapat berbicara dengan mereka.) Maka tidak lama lalu  

126 

 

(datanglah Hud-hud), lalu ia berkata, “Aku telah mengetahui 

sesuatu yang belum engkau ketahui. Aku datang kepadamu 

dari negeri Saba’ dengan membawa suatu berita yang 

meyakinkan. Sungguh, kudapati ada seorang wanita  yang 

memerintah mereka, dan dia dianugerahi segala sesuatu serta 

memiliki singgasana yang besar. Aku (burung Hud-hud) 

dapati dia dan kaumnya menyembah matahari, bukan kepada 

Allah; dan setan telah menjadikan terasa indah bagi mereka 

perbuatan-perbuatan (buruk) mereka (yaitu, menyembah 

matahari dan memilih wanita menjadi pemimpin mereka), 

sehingga menghalangi mereka dari jalan (Allah), maka 

mereka tidak mendapat petunjuk (pada Kebenaran), mereka 

(pun) tidak menyembah Allah yang mengeluarkan apa yang 

terpendam di langit dan di bumi dan yang mengetahui apa 

yang kamu sembunyikan dan yang kamu nyatakan. Allah, 

tidak ada tuhan melainkan Dia, Tuhan yang mempunyai ‘Arsy 

yang agung.” 

 

Dia (Sulaiman) berkata, “Akan kami lihat (tentang seorang 

wanita yang memimpin kaum Saba, dan pemujaan matahari 

mereka), apa kamu benar, atau termasuk yang berdusta. 

Pergilah dengan (membawa) suratku ini, lalu sampaikanlah 

kepada mereka, lalu  berpalinglah dari mereka, lalu 

perhatikanlah apa (jawaban) yang mereka bicarakan.” 

 

Dia (Balqis Ratu Saba) berkata (saat dia menerima surat 

ini ), “Wahai para pembesar! Sesungguhnya telah 

disampaikan kepadaku sebuah surat yang mulia.” 

Sesungguhnya (surat) itu dari Sulaiman yang isinya, “Dengan 

nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang, 

janganlah engkau berlaku sombong terhadapku dan datanglah 

kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri.” Dia 

(Balqis) berkata, “Wahai para pembesar! Berilah aku 

pertimbangan dalam perkaraku (ini). Aku tidak pernah 

memutuskan suatu perkara sebelum kalian hadir dalam 

majelis(ku).” Mereka menjawab, “Kita memiliki kekuatan 

dan keberanian yang luar biasa (untuk berperang), tetapi 

keputusan berada di tanganmu; maka pertimbangkanlah apa 

127 

 

yang akan engkau perintahkan.” Dia (Balqis) berkata, 

“Sesungguhnya raja-raja apabila menaklukkan suatu negeri, 

mereka tentu membinasakannya, dan menjadikan 

penduduknya yang mulia jadi hina; dan demikian yang akan 

mereka perbuat. Dan sungguh, aku akan mengirim utusan 

kepada mereka dengan (membawa) hadiah, dan (aku) akan 

menunggu apa yang akan dibawa kembali oleh para utusan 

itu.” 

 

Maka saat  para (utusan itu) sampai kepada Sulaiman, dia 

(Sulaiman) berkata, “Apakah kamu akan memberi harta 

kepadaku? Apa yang Allah berikan kepadaku lebih baik 

dibandingkan  apa yang Allah berikan kepadamu; tetapi kamu 

merasa bangga dengan hadiahmu. Kembalilah kepada 

mereka! Sungguh, Kami pasti akan mendatangi mereka 

dengan bala tentara yang mereka tidak mampu melawannya, 

dan akan kami usir mereka dari negeri itu (Saba’) secara 

terhina dan mereka akan menjadi (tawanan) yang hina dina.”  

 

(Al-Qur’an Surat An-Naml, 27: 20-37) 

 

Sama sekali tidak ada bukti apapun yang bahkan 

menunjukkan bahwa negeri Saba’ (atau Sheba dalam Alktiab) 

telah melakukan, atau sedang bersiap untuk melakukan, agresi 

terhadap Negara Israel Suci Sulaiman, atau telah bertindak 

dengan cara lain yang mungkin dapat menciptakan pembenaran 

hukum atau bahkan pembenaran moral untuk perang (causus 

bellum). Namun Nabi Sulaiman (‘alaihi salam) segera menulis 

kepada Sang Ratu dengan perintah tegas bahwa dia tidak boleh 

melawannya tetapi harus segera datang kepadanya dalam 

keadaan tunduk padanya. 

 

Ada banyak negeri yang tidak berada di bawah kendali 

Sulaiman (‘alaihi salam) di mana orang-orang menyembah selain 

Tuhan Yang Maha Esa. Tidak ada bukti apapun bahwa dia 

bertindak dengan cara yang sama dengan pemimpin di wilayah 

128 

 

ini . Nabi juga tidak menanggapi dengan perang terhadap 

orang-orang yang menyembah selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. 

Tidak ada kebijaksanaan sama sekali dalam perilaku seperti itu. 

Sebaliknya bimbingan ilahi mengharuskan orang diundang 

kepada kebenaran dengan kebijaksanaan dan dengan nasihat 

yang anggun.  

 

Ratu Saba’ pun tidak menolak surat Sulaiman dengan rasa 

tidak hormat dan arogansi. Sebaliknya dia memujinya sebagai 

hal yang “mulia” dan berusaha untuk menenangkannya dengan 

hadiah. Namun Nabi Sulaiman (‘alaihi salam) dengan tegas 

menolak tanggapannya yang sangat ramah dan justru 

menyampaikan deklarasi perangnya. Dia bahkan menjelaskan 

konsekuensi menakutkan dari perang semacam itu bagi Negeri 

Saba’. Implikasi yang sangat jelas dari peristiwa ini sayangnya 

telah dikaburkan oleh perkembangan dongeng. Nyatanya, Nabi 

Sulaiman (‘alaihi salam) bertindak seperti yang dia lakukan sebab  

bimbingan ilahi tidak mentolerir seorang wanita memimpin 

bangsa atau negara. Tidak ada penjelasan lain yang mungkin 

untuk tingkah laku luar biasa Nabi Sulaiman (‘alaihi salam). 

 

Mereka, meskipun bimbingan ilahi dengan jelas 

disampaikan sebagaimana kisah di atas, yang memilih seorang 

wanita sebagai pemimpin/penguasa mereka, akan mendapati diri 

mereka dibangkitkan pada Hari Kiamat bersama pemimpin 

wanita  mereka, saat mereka menunggu penghakiman di 

hadapan Tuhan Yang Esa! Mereka akan merasa ngeri sebab   

mengetahui bahwa dalam memilih seorang wanita menjadi 

pemimpin, mereka melakukan dosa besar sebab  mengecualikan 

Allah Subhanahu wa Ta’ala dari keputusan mereka dalam masalah 

ini: “Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah 

(dengan mengecualikan Dia dari urusan mereka), sehingga (sebagai 

akibatnya) Allah menjadikan mereka lupa akan diri sendiri (yakni, 

status manusia mereka sendiri). Mereka itulah orang-orang fasik.” 

(Al-Qur’an Surat Al-Hasyr, 59: 19).  

129 

 

 

Ayat Al-Qur’an di atas (dengan tafsiran kami dalam tanda 

kurung) telah menyampaikan pokok dari semua peringatan 

kepada mereka yang melupakan Tuhannya dengan 

mengecualikan Dia dari keputusan mereka dalam hal, misalnya, 

seperti memilih pemimpin wanita. Mereka yaitu  orang-orang 

tersesat yang kesesatannya pada akhirnya akan membawa 

mereka ke dalam api neraka. 

 

Peradaban Barat Kristen-Yahudi modern yaitu  yang 

pertama mengadopsi sekularisme tak bertuhan hari ini yang 

telah mengecualikan Allah Subhanahu wa Ta’ala atas segala 

urusannya. Sekularisme politik mendeklarasikan pemisahan 

politik dari agama dan dalam prosesnya, menurunkan Allah 

Subhanahu wa Ta’ala sebagai Yang Berdaulat. Ini menggantikan 

Kedaulatan-Nya dengan kedaulatan negara, parlemen dan 

konstitusi. sesudah  mengadopsi sekularisme, Barat yang tidak 

bertuhan lalu  melanjutkan untuk mengekspor sekularisme 

itu ke seluruh dunia (termasuk Trinidad dan Tobago).  

 

Merupakan penistaan dan kemunafikan dalam konstitusi 

yang mengakui “supremasi Tuhan” namun lalu  

melanjutkan dengan menyatakan: “Konstitusi ini yaitu  hukum 

tertinggi Trinidad dan Tobago, dan undang-undang lain yang 

tidak sejalan dengan Konstitusi ini (dan jelas termasuk hukum 

Tuhan) tidak berlaku sebab  ketidakkonsistenannya.” Mereka 

yang mengecualikan Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai Yang 

Berdaulat dan sebaliknya, menerima kedaulatan negara dan 

konstitusi, akan mendapatkan kejutan mengerikan yang 

menunggu mereka pada Hari Kiamat. Al-Qur’an menyatakan 

bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memegang seluruh dunia 

di tangan-Nya (seperti yang pernah dinyanyikan Mahalia 

Jackson) dan lalu  akan bertanya: “Milik siapakah kerajaan 

pada hari ini?” Al-Qur’an lalu  menjawab dengan: “Milik 

130 

 

Allah Yang Maha Esa, Yang Berdaulat.” (Al-Qur’an Surat Gafir, 40: 

16) 

 

Dan sebab nya, Islam telah menolak sekularisme semacam 

itu dan menekankan pengakuan pada Kedaulatan dan Kekuasaan 

Tertinggi Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam negara dan sebab nya 

pada pemilihan pemimpin/penguasa negara. Siapapun yang 

sebaliknya mengakui kedaulatan negara sekuler modern, dan 

meninggal dengan catatan seperti itu, akan mati dengan dosa 

terbesar (Syirik) tergantung di lehernya - dosa yang telah 

diperingatkan Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan ampuni. 

Orang seperti itu akan masuk ke dalam api neraka. 

 

Apa yang harus dilakukan oleh orang yang beriman kepada 

Tuhan Yang Maha Esa? Jawabannya yaitu  kita diizinkan untuk 

tinggal di negara sekuler dan sementara berada di negara itu, 

dengan mendukung semua yang baik dan menentang semua 

yang jahat. Kita harus menahan diri, dengan kemampuan terbaik 

kita, dari semua perilaku yang akan mengakibatkan dosa Syirik 

atas diri kita sendiri. Nabi Muhammad (shala Allahu ‘alaihi wa 

salam) bertindak seperti itu selama 53 tahun dalam hidupnya saat 

dia tinggal di Mekah pagan (sebelum dia hijrah ke Madinah). 

Nabi Yusuf (‘alaihi salam) bertindak seperti itu bahkan saat 

bertugas dalam pemerintahan pagan Mesir dan Nabi ‘Isa Al-

Masih (‘alaihi salam), melakukan hal yang sama saat hidup di 

bawah pemerintahan Romawi di Tanah Suci.  

 

Mengapa, kita mungkin bertanya pada diri kita sendiri, 

Allah Subhanahu wa Ta’ala hanya memilih laki-laki sebagai Nabi 

dan Rasul-Nya? Dan mengapa Nabi Muhammad (shala Allahu 

‘alaihi wa salam) menetapkan dua hewan untuk dikurbankan 

sebagai ucapan syukur atas kelahiran bayi laki-laki, sedangkan 

hanya satu yang harus disembelih untuk kelahiran bayi 

wanita . Juga, mengapa Nabi (shala Allahu ‘alaihi wa salam) 

memerintahkan laki-laki untuk menempati barisan depan 

131 

 

Masjid, sedangkan wanita  menempati barisan belakang 

Masjid di belakang laki-laki, sehingga tidak mungkin bagi 

seorang wanita  untuk memimpin laki-laki dalam shalat? 

 

Mari kita hilangkan dulu gagasan bahwa laki-laki lebih 

tinggi secara intelektual, moral atau spiritual dibandingkan  

wanita . Nabi Muhammad (shala Allahu ‘alaihi wa salam) 

menepis kebohongan ini  dengan pernyataannya bahwa 

umat manusia akan dibangkitkan pada Hari Kiamat untuk 

dihakimi “setara di hadapan Allah seperti gerigi sisir”. Bahkan 

dia mengakui kedudukan ‘ibu’ tiga kali lebih tinggi dari ‘ayah’, 

dan menyatakan bahwa “surga ada di bawah kaki ibumu.” 

 

Namun, implikasinya dengan jelas dicatat dalam pernyataan 

Nabi Muhammad (shala Allahu ‘alaihi wa salam) sendiri saat  dia 

mengetahui bahwa bangsa Persia telah memilih putri Kaisar 

mereka sebagai pemimpin baru mereka. Dia menyatakan: 

“Tidak akan ada bangsa sukses yang memilih wanita sebagai 

pemimpin mereka." (Bukhari, Nasai, Tirmizi, dan Ahmad). 

 

Hal ini pun dapat dilihat dalam perilaku para sahabat Nabi 

dan penerus mereka selama dunia Muslim tetap bebas dari 

kendali peradaban Kristen-Yahudi Eropa yang pada dasarnya 

tidak bertuhan saat ini. Pemimpin yang menguasai dunia Islam, 

yang dikenal sebagai Amirul Mukminin, Khalifah atau Imam, 

selalu laki-laki dan tidak pernah wanita . Israel Suci pun 

tidak pernah memiliki wanita sebagai pemimpin. Hanya pada 

zaman modern dan sebagai akibat langsung dari pencemaran 

peradaban Barat terhadap Islam, penyimpangan pemerintahan 

wanita pada tatanan politik telah terjadi di beberapa negara 

Muslim. 

 

Penting bagi kita untuk mencatat bahwa bimbingan Ilahi 

tidak pernah goyah pada topik pemimpin laki-laki sehingga 

132 

 

memberi kelonggaran bagi keadaan khusus apa pun yang 

memungkinkan seorang wanita  menjadi pemimpin. Namun 

beberapa ulama Islam, terutama pada zaman modern di mana 

revolusi emansipasi wanita ala Eropa melanda dunia, telah 

menganggap bijaksana untuk menyatakan bahwa keadaan luar 

biasa dapat memungkinkan seorang wanita menjadi pemimpin. 

Apa yang tidak disadari oleh para ulama ini  sebenarnya 

telah membuka jalan bagi pemerintahan permanen wanita  

di dunia terbalik yang dilambangkan dengan “matahari terbit 

dari Barat”. 

 

Tokoh protagonis dari kemungkinan ini berpegang teguh 

pada contoh Aisyah yang, menurut mereka, memimpin, atau 

bergabung dengan orang lain dalam memimpin beberapa orang 

dalam pertempuran melawan Ali (radhiyallahu ‘anhu) dalam 

Pertempuran Unta. Dia mengejar keadilan, atau dia dituntun 

untuk percaya bahwa dia bertindak adil sesudah  pembunuhan 

Utsman (radhiyallahu ‘anhu), sementara Ali (radhiyallahu ‘anhu), 

dalam kebijaksanaannya, mengakui bahwa keadilan tidak dapat 

ditegakkan dalam ruang hampa keamanan. Oleh sebab  itu, ia 

perlu memulihkan keamanan warga  dan stabilitas negara 

terlebih dahulu sebelum ia dapat menegakkan keadilan. 

Perbedaan pandangan tentang masalah inilah yang 

menyebabkan pemberontakan melawan pemerintahan Ali 

(radhiyallahu ‘anhu). 

 

Akan tetapi konsensus pendapat sepanjang masa yaitu  

bahwa Ali (radhiyallahu ‘anhu) merupakan yang terakhir dari 

empat Khulafa (atau Imam) yang dibimbing secara benar yang 

memimpin umat Islam sesudah  kematian Nabi Muhammad (shala 

Allahu ‘alaihi wa salam). Oleh sebab  itu yaitu  kewajiban Aisyah 

untuk tunduk pada pemerintahan Ali (radhiyallahu ‘anhu). Tingkah 

lakunya dalam hal ini tidak membentuk preseden yang patut 

ditiru.  


 

ia bertanya, “Apakah Anda seorang Muslim atau 

teroris?” Saya sedang berbicara dengan sekelompok 

penduduk desa, semuanya orang Afrika, sambil duduk 

di bawah tenda yang didirikan di luar rumah di Boot Hill saat  

seorang pemuda India bergabung dengan kami dan mengajukan 

pertanyaan itu kepada saya. Itu bisa saja merupakan tindakan 

provokasi besar yang disengaja dan berbahaya atau, mungkin, 

itu tidak lebih dari kesembronoan seseorang yang dalam ibadah 

menghadap ke arah Washington. Akan tetapi penduduk desa 

menanggapi pertanyaan itu dengan marah. Mereka bersikeras 

bahwa itu yaitu  penghinaan, dan saya tidak boleh menjawab 

pertanyaan itu. Sebaliknya mereka menuntut pemuda itu 

meminta maaf atas penghinaannya, dan mereka bertahan sampai 

dia akhirnya meminta maaf kepada saya. Itulah rasa demokrasi 

kerukunan antar suku di Boot Hill yang tidak menimbulkan 

ketidakadilan suku. Politisi dan ilmuwan politik negara ini 

sebaiknya mempelajari demokrasi kerukunan antar suku di Boot 

Hill.  

 

Saya kembali ke Boot Hill (nama panggilan untuk Desa St. 

Thomas, Chaguanas, di pulau asal saya Trinidad), kampung 

halaman masa kecil saya, untuk menawarkan simpati saya 

kepada Kenneth Valley yang putranya telah ditembak dan 

dibunuh dua hari sebelumnya di desa terdekat Felicity. Itu 


 

yaitu  pembunuhan yang memicu protes suku yang signifikan 

dari penduduk orang Afrika desa Boot Hill yang dengan cepat 

meletus dalam demonstrasi jalanan yang berbahaya. Bahkan 

memprovokasi aksi kekerasan terhadap warga desa Felicity. 

Beberapa dari mereka dipukuli dan kendaraan dihancurkan. 

 

Felicity secara suku homogen dengan mayoritas penduduk 

yaitu  orang India dan beragama Hindu. Sementara 

penembakan mati di Felicity pemuda Afrika dari Boot Hill 

mungkin tidak disebabkan oleh ras, itu tentu saja memicu respon 

rasial yang keras. Memang saya takut bahwa berita kematian itu, 

mungkin, telah disebarkan, dan tahap baru yang berbahaya yang 

kini dicapai dalam persaingan suku pada akhirnya akan 

mencakup seluruh negeri dalam cengkeraman yang fatal. Oleh 

sebab nya esai yang tepat dipublikasikan pada waktu ini! 

 

Persaingan antara dua suku utama negara ini terus dipicu 

oleh nasionalisme kesukuan yang telah menginfeksi politik 

Trinidad dan Tobago selama lima puluh tahun terakhir yang 

menyedihkan, dan ketegangan antara dua suku saingan utama 

telah lama membara. Memang kekerasan yang secara spontan 

meletus di Boot Hill dan di Felicity, mungkin, yaitu  kasus 

“ayam yang pulang untuk bertengger”. Sistem politik korup 

yang memecah-belah suku dan bukan mempersatukan, 

sebenarnya merupakan Tanda Hari Akhir. 

 

Kami sebenarnya siap di ambang lubang api dengan 

kemungkinan pemisahan suku dari populasi pulau, namun 

semua yang ditawarkan oleh pemerintah yaitu  “Presidensi 

Kekaisaran” sebagai jawaban atas sistem politik yang gagal.  

 

Ayah saya memiliki pandangan ke depan untuk menentang 

nasionalisme kesukuan GNR. (GNR yaitu  Gerakan Nasional 

Rakyat, yang merupakan partai politik yang berkuasa di 

135 

 

Trinidad dan Tobago.) Dia mendapatkan akibatnya sebab  

penentangan itu. Tapi itu cerita lain. Dia pasti memiliki perasaan 

aneh di kuburan Boot Hill saat  salah satu anaknya akhirnya 

naik ke jabatan tinggi dalam pelayanan publik negara. 

 

Keluarga Muslim India saya tinggal di Boot Hill selama 

lebih dari seratus tahun sampai ibu saya yang menjanda, 

khawatir dengan nasionalisme suku dan oleh perubahan 

misterius yang perlahan merayap di negara dan desa, 

memindahkan kami satu mil jauhnya saat  dia membangun 

rumah baru di tengah Kota Chaguanas. Akan tetapi bahkan 

lalu  saya terus bekerja sebagai guru muda di Sekolah 

Negeri Chaguanas tempat ayah saya menghabiskan tahun-tahun 

terakhir hidupnya sebagai Kepala Sekolah. Dengan demikian, 

anak-anak desa menjadi dekat pada saya, sebagaimana mereka 

kepada ayah saya sebelum saya, sebagai guru asli kampung 

halaman mereka sendiri. 

 

Banyak suku terwakili di desa kecil yang terletak begitu 

damai tepat di sebelah Kota Chaguanas yang ramai. Semua suku 

hidup bersama dalam keadaan harmonis, dengan pengakuan 

kesetaraan suku, dan dengan menghormati identitas kesukuan 

dan perbedaan budaya dan agama. Setiap suku memiliki 

otonomi dan hak untuk mempertahankan identitas kesukuannya 

dan mengatur kehidupannya sesuai dengan sistem nilai dan 

budaya sukunya sendiri. Lebih dari itu, Boothill menjadi tuan 

rumah Sekolah Pemerintah Chaguanas serta pemakaman 

Chaguanas, sebagai konsekuensinya desa itu menjadi rumah 

pendidikan bagi ribuan anak dari jauh dan dekat, dan tempat 

peristirahatan terakhir bagi semua yang meninggal. Baik yang 

hidup maupun yang meninggal, yang datang dari jauh dan dekat, 

tidak pernah merasakan ketidaknyamanan dalam demokrasi 

kerukunan antar suku di Boot Hill. 

 

 

Saya akan selalu tetap bersyukur kepada Allah Subhanahu wa 

Ta’ala atas keberuntungan yang saya miliki untuk tumbuh di 

Boot Hill dengan demokrasi kerukunan antar sukunya yang 

sangat membekas pada kesadaran remaja saya. Demokrasi 

kerukunan antar suku itulah yang saya tawarkan kepada bangsa 

ini dalam pidato saya tentang “Islam dan Demokrasi Kerukunan 

Antar Suku” dalam Konsultasi Muslim tentang reformasi 

Konstitusi yang diadakan di Masjid Jama’ah San Fernando.  

 

Proposal untuk ‘demokrasi kerukunan antar suku’ yang 

akan menyelesaikan persaingan berbahaya dan mengandung 

nasionalisme kesukuan yang telah merusak politik Trinidad dan 

Tobago selama lima puluh tahun terakhir ini memicu tanggapan 

yang antusias dari orang-orang seperti pemimpin Kongres 

Rakyat, Winston Dookeran dan akademisi Universitas Hindia 

Barat, Prof. Dr. Brinsley Samaroo yang menghadiri Konsultasi. 

Bahkan mendapat penghormatan yang tenang dari Pengacara 

Rajiv Persad yang telah bekerja lama dan keras pada rancangan 

Konstitusi Prinsip-Prinsip Keadilan, dan Duta Besar Patrick 

Edward, keduanya juga menghadiri Konsultasi. 

 

Ada seorang pria Portugis yang tinggal di tengah-tengah 

kami di Boot Hill. “Bosey” Vasconcellos tinggal di seberang 

rumah kami dan merupakan pemilik sebuah bangunan beton 

miring berbentuk persegi panjang tempat keluarganya 

memproduksi anggur. Ketidakcocokan bangunan itu masih 

bertahan sampai hari ini. “Bosey” menikahi Doris, seorang 

wanita India, dan ketiga anak mereka tampak lebih Eropa 

dibandingkan  India. Ada juga Eric Maingot, pria Prancis yang 

menikah dengan wanita India dari desa. Mereka memiliki rumah 

penuh anak-anak yang dengan mudah menemukan tempat alami 

dalam kehidupan desa. Dan lalu  ada seorang wanita 

Spanyol yang tinggal di desa hanya beberapa rumah dari kami 

dengan suaminya orang India, Clifford Imamshah. Mereka juga 

 

memiliki banyak anak yang semuanya tampak jauh lebih Eropa 

dibandingkan  India. Bahkan Mr. Kidney yang sudah tua, yang 

propertinya terletak di sebelah rumah kami, berasal dari Inggris. 

 

Semua orang Eropa ini dan anak-anak mereka yang 

berpenampilan Eropa diterima di desa dan hidup sangat 

harmonis dengan semua penduduk desa lainnya. Namun hal 

yang menakjubkan tentang Boot Hill yaitu  bahwa penduduk 

Eropa di desa itu tidak diakui lebih tinggi kedudukannya dari 

penduduk desa lainnya. Kesetaraan suku tidak dipaksakan di 

desa. Itu muncul secara alami. Keluarga Eropa juga tidak 

memisahkan diri mereka sendiri. Mereka hidup rukun di antara 

penduduk desa. 

 

Orang Tionghoa secara mencolok diwakili di tengah-tengah 

Boot Hill oleh keluarga Chong Kai Mee yang menjalankan satu-

satunya toko desa. saat  suaminya Mee Zin meninggal, dia 

membujuk kakaknya, Ato, supaya datang jauh-jauh dari 

Tiongkok untuk tinggal bersamanya guna membantu 

menjalankan toko. Putrinya, Millie, berteman dengan gadis-

gadis desa (kakak wanita  saya mengklaim bahwa Millie 

yaitu  satu-satunya teman sejatinya) dan perlahan-lahan 

menjadi bagian dari kehidupan desa , dia harus pergi ke 

Hong Kong. Tetapi penduduk desa didominasi oleh orang 

Afrika dan India dengan beberapa keturunan suku campuran. 

Orang Afrika hampir semuanya Kristen, dan orang India hampir 

semuanya Muslim. 

 

Hal yang paling luar biasa tentang Boot Hill lima puluh 

tahun yang lalu yaitu  keharmonisan dalam mengelola 

keragaman sukunya. Tidak ada suku yang diremehkan atau 

merasa terancam oleh suku lain. Tidak ada suku yang 

mendiskriminasi suku lain. Kami semua hidup sebagai satu 

keluarga. Dan saat  seorang penduduk desa dalam kesusahan 


 

atau membutuhkan bantuan, desa akan membantu tanpa 

diskriminasi suku. Orang miskin di desa, dari suku mana pun 

mereka berasal, semua akan berduyun-duyun ke Masjid untuk 

menerima zakat pada hari Idul Fitri. Dan zakat akan diberikan 

kepada semua yang membutuhkan. Suku-suku itu hidup 

bersama bahkan tanpa bisikan pemisahan tempat tinggal antar 

suku, atau antara yang kaya dengan yang miskin. 

 

Keharmonisan suku tumbuh menjadi simfoni yang 

sesungguhnya saat  harus memilih tim kriket atau tim sepak 

bola Boot Hill. Bidang olahraga yaitu  demokrasi kerukunan 

antar suku dalam bentuk yang paling murni. Jika Anda bisa 

bermain bagus, Anda bisa dipilih dan bahkan menjadi kapten tim 

- tidak masalah Anda berasal dari suku mana. Saya mendapat 

kehormatan untuk dipilih dalam beberapa kesempatan sebagai 

pemain ke-12 dalam tim kriket dan harus ‘membawa’ 

perlengkapan kriket saya secara adil. 

 

Masjid desa yaitu  salah satu yang paling awal dibangun di 

Trinidad. Memang, selama hampir seratus tahun itu yaitu  satu-

satunya Masjid di wilayah Chaguanas yang lebih besar, dan 

Muslim datang dari jauh dan dekat untuk shalat di Masjid kami. 

Gereja Anglikan masih terletak di seberang jalan dari Masjid dan 

sikap saling menghormati dan kerjasama menjadi ciri hubungan 

Kristen-Muslim di desa yang dinamai St. Thomas Aquinas, 

mencerminkan dimensi lain dari demokrasi kerukunan antar 

suku di desa. Ayah saya dan Pendeta Lamont bahkan sesekali 

bertukar mobil - sesuatu yang membuat banyak orang tersenyum 

di desa.  

 

Yang paling luar biasa dari semuanya, desa ini  

menunjukkan toleransi yang besar terhadap pernikahan antar 

suku. Selain pernikahan Portugis-India, Prancis-India, dan 

Spanyol-India, ada beberapa pernikahan Afrika-India. Keluarga 


 

Mackintosh yaitu  kasus pernikahan Afrika-India yang diterima 

sepenuhnya oleh penduduk desa ini . Dan lalu  ada 

Orin - seorang pria teliti - dengan martabatnya yang tenang dan 

sikapnya yang baik mendapatkan rasa hormat dari semua warga. 

saat  Orin, penduduk desa Afrika, menikahi putri Imam India, 

dia tetap dicintai semua orang. Mereka punya banyak anak. 

Anak-anak itu, seperti semua anak ras campuran lainnya di desa, 

tidak pernah mengalami masalah identitas - tidak di Boot Hill. 

 

Ayah India saya sendiri sangat mencintai seorang wanita 

Afrika dan sangat ingin menikahinya. Tetapi pada akhirnya 

agama berdiri di antara mereka dan mereka harus dengan sedih 

menyerah tidak melanjutkan ke jenjang pernikahan sebab  

wanita itu dengan tegas bersikeras bahwa setiap anak yang lahir 

dari mereka harus dibesarkan sebagai orang Kristen. Maka ayah 

saya mengorbankan cinta dalam hidupnya agar anak-anaknya 

bisa dibesarkan sebagai Muslim, dan agar putranya ini akhirnya 

bisa menyebarkan Islam di negara ini dan di banyak belahan 

dunia lainnya. 

 

Saya sangat terkejut saat  penduduk desa yang berkumpul 

di kediaman Valley memberi saya sambutan yang hangat dan 

penuh kasih sebagai putra desa yang telah lama pergi. Meski 

demikian, saya telah meninggalkan desa lebih dari empat puluh 

tahun yang lalu dan selama waktu itu saya menjadi warga 

Trinidad paruh waktu. Kebahagiaan saya terpenuhi saat  

Kenneth Valley sendiri mengingatkan saya bahwa saya yaitu  

gurunya di sekolah. Saat kami duduk membahas Boot Hill dan 

demokrasi kerukunan antar sukunya, para penduduk desa 

mendesak saya untuk menulis artikel ini dan menerbitkannya 

sehingga negara dapat memperoleh manfaat dari apa yang masih 

ditawarkan Boot Hill sampai hari ini. 

 

 

Pada musim panas 2002 . . . Saya mengadakan pertemuan 

dengan penasihat senior untuk Bush. Dia memberi tahu saya 

sesuatu yang pada saat itu tidak saya pahami sepenuhnya - 

tetapi kini saya yakini sebagai inti kepresidenan Bush. Ajudan 

itu mengatakan bahwa orang-orang seperti saya berada 

“dalam apa yang kami sebut komunitas berbasis realitas,” 

yang ia definisikan sebagai orang-orang yang “percaya bahwa 

solusi muncul dari studi Anda yang bijaksana tentang realitas 

yang dapat dilihat”. Saya mengangguk dan menggumamkan 

sesuatu tentang prinsip pencerahan dan empirisme. Dia 

memotong saya. “Itu bukan cara dunia bekerja lagi,” 

lanjutnya. "Kini kami yaitu  imperium, dan saat kami 

bertindak, kami menciptakan realitas kami sendiri. Dan saat 

Anda mempelajari realitas itu - dengan bijaksana seperti Anda 

- kami akan bertindak lagi, menciptakan realitas baru lainnya, 

yang dapat Anda pelajari juga, dan begitulah cara berbagai hal 

akan memilah Anda. Kami yaitu  aktor sejarah . . . dan kalian, 

kalian semua, tinggal mempelajari apa yang kami lakukan.” 

 

“Tanpa Keraguan,” Ron Suskind,  

Majalah New York Times, 17 Oktober 2004 

 

ita kini hidup dalam pembongkaran ‘politik demokrasi’. 

Golongan Tuan (yaitu, tuan Eropa yang menghapuskan 

perdagangan budak Afrikanya saat  tidak lagi nyaman 

baginya untuk diidentifikasikan secara terang-terangan bersama 

dengan perbudakan) pertama-tama memberi  demokrasi itu 


 

kepada dunia sebagai bagian dari rencana globalisasinya untuk 

penyatuan politik semua bangsa yang berbeda di dunia. 

Golongan Tuan kini memberlakukan undang-undang anti-

terorisme pada pemerintah yang seharusnya mengontrol rakyat 

dunia demi kepentingan golongan Tuan. Ini hanyalah bagian 

dari keseluruhan strategi di mana ia berusaha untuk mengubah 

kebebasan demokratis dalam demokrasi sekuler sehingga pada 

akhirnya membuka jalan baginya untuk memaksakan kepada 

umat manusia kediktatoran Al-Masih palsu secara universal.  

 

Ironisnya, ada di antara kita yang merayakan ‘emansipasi’ 

pada saat perbudakan terbesar mendekati kita. Pemerintah GNR 

Trinidad dan Tobago dengan senang hati mengabaikan fakta 

bahwa ia dipimpin untuk bertindak demi kepentingan golongan 

Tuan dalam upaya menegakkan kediktatoran universal itu. 

Mereka yang akan ‘membuat sejarah’ (lihat kutipan di atas) 

sambil mengobarkan apa yang disebut ‘perang melawan teror’ 

saat ini, berusaha mencapai beberapa tujuan strategis dalam 

prosesnya. Pemerintah negara ini mungkin terlalu takut atau 

khawatir untuk berusaha memahami topik ini, tetapi para 

pembaca akan mendapatkan keuntungan dari paparan 

pandangan Islami tentang tujuan strategis ini  sebagai 

berikut: 

 

Pertama, apa yang disebut ‘perang melawan teror’ yang 

telah membuka jalan bagi undang-undang anti-terorisme, 

digunakan untuk tujuan menjelekkan Islam dan Muslim dengan 

propaganda palsu. Salah satu tujuan yang mereka cari yaitu  

untuk merusak hati orang-orang yang menelan kebohongan dan 

penafsiran yang keliru sehingga mereka dipenuhi dengan 

kebencian terhadap Islam dan Muslim. Kebencian universal itu 

akan menjadi keuntungan