tanda akhir zaman 4
a Allahu ‘alaihi wa salam) telah
memberi informasi tambahan tentang Yakjuj dan Makjuj.
Misalnya, dia bersabda, “Tidak ada dari mereka yang mati
tanpa meninggalkan seribu orang lagi.” Sehingga realitas
globalisasi kontemporer yang merusak dan memperbudak umat
manusia kini dapat dipahami.
108
***
109
ESAI 8
Hikmah dari Kelahiran Putra Maryam
eskipun mereka mengaku sebagai kaum ‘pilihan’,
mereka gagal dalam ujian ilahi dan memfitnah sang
perawan yang tidak bersalah. Dan saat bayi itu
tumbuh menjadi laki-laki dewasa, dan menyatakan bahwa dia
yaitu Al-Masih, mereka menolaknya sebab mereka
menganggapnya anak haram dan sebab “Seorang anak haram
janganlah masuk jemaah TUHAN, bahkan keturunannya yang
kesepuluhpun tidak boleh masuk jemaah TUHAN.” (Ulangan, 23: 2).
Hikmah penting yang harus dikaji dalam peristiwa mukjizat
kelahiran putra Maryam, sebuah peristiwa yang dijelaskan Al-
Qur’an secara rinci, yaitu bahwa ada perbedaan besar antara
‘melihat dengan dua mata’ – ‘mata kepala’ dan ‘mata hati’ ,
dengan ‘melihat hanya dengan satu mata’ – ‘mata kepala’. Di
dunia di mana kebohongan dan tipu daya digunakan untuk
kembali menjajah negeri-negeri non-Eropa, penting bagi kita
untuk melampaui penampilan eksternal untuk mencapai
kenyataan internal peristiwa - terutama peristiwa seperti 9/11
yang digunakan untuk melancarkan sesuatu yang disebut
‘perang melawan teror’. Hanya ilmu spiritual yang mampu
memahami dunia saat ini - oleh sebab itu sangat diperlukan
revolusi spiritual yang mendesak.
Al-Qur’an telah mencatat peristiwa saat ibunya Maryam
“bersumpah akan menjadikan anaknya yang belum lahir untuk
mengabdi kepada Tuhan”:
M
110
(Ingatlah), saat istri Imran berkata: “Ya Tuhanku,
sesungguhnya aku bernazar kepada-Mu, apa (janin) yang
dalam kandunganku (kelak) menjadi hamba yang mengabdi
(kepada-Mu), maka terimalah (nazar itu) dariku. Sungguh,
Engkaulah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui.”
(Al-Qur’an Surat Ali Imran, 3: 35)
Dia mengharapkan seorang bayi laki-laki, sebab itu dia
kecewa saat seorang bayi wanita lahir. Tetapi Allah
Subhanahu wa Ta’ala menanggapi dengan menyatakan bahwa tidak
ada laki-laki yang sama (setara dengan) wanita ini:
Maka saat melahirkannya, dia berkata, “Ya Tuhanku, aku
telah melahirkan anak wanita .” Padahal Allah lebih tahu
apa yang dia lahirkan, dan laki-laki tidak sama dengan
wanita . ”Dan aku memberinya nama Maryam, dan aku
mohon perlindungan-Mu untuknya dan anak cucunya dari
(gangguan) setan yang terkutuk.”
(Al-Qur’an Surat Ali Imran, 3: 36)
saat Maryam tinggal di rumah suci dalam pengawasan
Zakaria, dia sering tinggal di sebuah ruangan yang dikenal
sebagai ‘Ruangan Suci di Rumah Suci’ (Mihrab dalam Al-
Qur’an) di mana relik suci disimpan, dan hanya bisa dimasuki
oleh Kepala Rabbi. Namun saat Zakaria memasuki Mihrab pada
suatu hari dia mendapatinya bersama dengan makanan. "Dari
mana engkau mendapatkan makanan ini?" Dia menjawab: “Allah
mengirimkannya untukku.”
Maka Dia (Allah) menerimanya dengan penerimaan yang
baik, membesarkannya dengan pertumbuhan yang baik dan
menyerahkan pemeliharaannya kepada Zakaria. Setiap kali
Zakaria masuk menemuinya di mihrab (ruangan khusus
111
ibadah), dia mendapati makanan di sisinya. Dia berkata,
“Wahai Maryam! Dari mana ini engkau peroleh?” Dia
(Maryam) menjawab, “Itu dari Allah. Sesungguhnya Allah
memberi rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki tanpa
perhitungan.”
(Al-Qur’an Surat Ali Imran, 3: 37)
Berita tentang keajaiban ini menyebar. Jadi, selain
reputasinya untuk pembelajaran dan kebajikan, dia sekarang
bahkan lebih terkenal. Memang dia yaitu “yang terbaik dari
semua wanita di dunia”:
Dan (ingatlah) saat para malaikat berkata, “Wahai Maryam!
Sesungguhnya Allah telah memilihmu, menyucikanmu, dan
melebihkanmu di atas segala wanita di seluruh alam.”
(Al-Qur’an Surat Ali Imran, 3: 42)
Pada usia pubertas (baligh) dia tidak lagi diizinkan untuk
tinggal di rumah suci dan dipulangkan kembali ke rumah. Tak
lama sesudah itu, saat dia berusia sekitar 13 atau 14 tahun,
Malaikat Jibril muncul di hadapannya, dan peristiwa ini pun
tercatat dalam Al-Qur’an:
Dan ceritakanlah (Muhammad) kisah Maryam di dalam Kitab
(Al-Qur’an), (yaitu) saat dia mengasingkan diri dari
keluarganya ke suatu tempat di sebelah timur (Baitulmaqdis),
lalu dia memasang tabir (yang melindunginya) dari mereka;
lalu Kami mengutus roh Kami (Jibril) kepadanya, maka dia
menampakkan diri di hadapannya dalam bentuk manusia
yang sempurna. Dia (Maryam) berkata, “Sungguh, aku
berlindung kepada Tuhan Yang Maha Pengasih terhadapmu,
jika engkau orang yang bertakwa.” Dia (Jibril) berkata,
“Sesungguhnya aku hanyalah utusan Tuhanmu, untuk
menyampaikan anugerah kepadamu seorang anak laki-laki
112
yang suci.” Dia (Maryam) berkata, “Bagaimana mungkin aku
mempunyai anak laki-laki, padahal tidak pernah ada orang
(laki-laki) yang menyentuhku dan aku bukan seorang
pezina!” Dia (Jibril) berkata, “Demikianlah.” Tuhanmu
berfirman, “Hal itu mudah bagi-Ku, dan agar Kami
menjadikannya suatu tanda (kebesaran Allah) bagi manusia
dan sebagai rahmat dari Kami; dan hal itu yaitu suatu urusan
yang (sudah) diputuskan.” Maka dia (Maryam) mengandung,
lalu dia mengasingkan diri dengan kandungannya itu ke
tempat yang jauh.
lalu rasa sakit akan melahirkan memaksanya
(bersandar) pada pangkal pohon kurma, dia (Maryam)
berkata, “Wahai, betapa (baiknya) aku mati sebelum ini, dan
aku menjadi seorang yang tidak diperhatikan dan dilupakan.”
Maka dia (Jibril) berseru kepadanya dari tempat yang rendah,
“Janganlah engkau bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu
telah menjadikan anak sungai di bawahmu. Dan goyanglah
pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya (pohon) itu akan
menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu. Maka
makan, minum dan bersenanghatilah engkau. Jika engkau
melihat seseorang, maka katakanlah, “Sesungguhnya aku
telah bernazar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pengasih,
maka aku tidak akan berbicara kepada siapa pun pada hari
ini.”
lalu dia (Maryam) membawa dia (bayi itu) kepada
kaumnya dengan menggendongnya. Mereka (kaumnya)
berkata, “Wahai Maryam! Sungguh, engkau telah membawa
sesuatu yang sangat mungkar. Wahai saudara wanita
Harun (Maryam)! Ayahmu bukan seorang yang buruk
perangai dan ibumu bukan seorang wanita pezina.” Maka
dia (Maryam) menunjuk kepada (anak)nya. Mereka berkata,
“Bagaimana kami akan berbicara dengan anak kecil yang
masih dalam ayunan?”
113
Dia (‘Isa) berkata, “Sesungguhnya aku hamba Allah, Dia
memberiku Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang
Nabi. Dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkahi di
mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku
(melaksanakan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku
hidup; dan berbakti kepada iartikel , dan Dia tidak menjadikan
aku seorang yang sombong lagi celaka. Dan kesejahteraan
semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari kelahiranku, pada
hari wafatku, dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali.”
Itulah ‘Isa putra Maryam, (yang mengatakan) perkataan yang
benar, yang mereka ragukan kebenarannya.
(Al-Qur’an Surat Maryam, 19: 16-34)
Kaum Yahudi menanggapi bayi yang berbicara dalam
ayunan dengan menyatakan: “Ini sihir belaka,” dan mereka
lalu memfitnahnya!
❖ PENAMPILAN DAN KENYATAAN
DALAM KEHIDUPAN PUTRA MARYAM
‘Nabi ‘Isa dalam Al-Qur’an’ yaitu seseorang, dengan
kelahiran, kehidupan, dan kepergiannya dari alam dunia ini,
memiliki ‘penampilan’ dan 'kenyataan' secara konstan dan luar
biasa berbeda satu sama lain. Nabi Muhammad (shala Allahu
‘alaihi wa salam) menggambarkan kembalinya sebagai sesuatu di
mana ‘penampilan’ dan ‘kenyataan’ akan sangat berbeda. Dan
sebab kembalinya akan menandai akhir sejarah, implikasinya
yaitu bahwa hanya mereka yang memiliki ilmu pengetahuan
religius yang dapat memahami ‘kenyataan’ dunia saat ini,
perbudakan politik dan ekonomi yang membayangi, globalisasi,
dll., saat kita menghadapi akhir zaman yang dramatis ini .
Peristiwa kelahirannya ‘tampak’ melibatkan kesalahan
Maryam, dan mereka yang mendasarkan pertimbangan hanya
pada pengamatan mata kepala (yaitu, dengan epistemologi ‘mata
114
satu’ barat modern), begitu yakin, sehingga memfitnahnya.
Orang-orang yang buta mata hatinya selalu salah dalam menilai
orang.
‘Kenyataannya’ yaitu bahwa seorang perawan yang tidak
bersalah dengan mukjizat telah melahirkan seorang bayi laki-
laki. Ilmu pengetahuan spiritual intuitif internal (yaitu, melihat
dengan mata hati) seharusnya mengarahkan orang-orang yang
beriman (pada Tuhan Yang Maha Esa dan agama Ibrahim) untuk
menyelidiki lebih dalam mengenai masalah ini sebelum
bergegas menghakimi. Kisah Musa, dan Khidir, dalam Al-
Qur'an Surat Al-Kahfi mengajarkan pelajaran yang sangat
penting tentang bahayanya langsung menghakimi tanpa harus
menyelidiki dan memahami kenyataan internal suatu peristiwa.
Kaum Bani Israel seharusnya berhenti sejenak untuk
bertanya pada diri sendiri: mengapa gadis Yahudi yang paling
terkenal, shalihah, dan terpelajar di negeri itu kembali kepada
kaumnya dengan membawa bayi laki-lakinya dalam
gendongannya sesudah dia berhasil menyembunyikan kehamilan
dan kelahirannya dari kaumnya? Dan mengapa dia tidak
berbicara untuk menjelaskan, atau untuk membela diri, saat
ditanyai tentang masalah ini ? Bukankah itu perilaku
abnormal yang mencurigakan?
Nabi ‘Isa (‘alaihi salam), bayi yang baru lahir, berbicara dari
dalam buaian untuk membela kesucian ibunya dan menyatakan
dirinya sebagai Utusan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dia (Nabi ‘Isa
(‘alaihi salam)) melakukannya saat dia (Maryam) menjawab
pertanyaan orang-orang tentang kehamilan dan persalinannya
yang belum menikah dengan menunjuk kepada bayi, dan saat
mereka menanggapi secara bergiliran dengan bertanya:
“Bagaimana kami akan berbicara dengan anak kecil yang
masih dalam ayunan?” Dia (‘Isa) berkata, “Sesungguhnya aku
115
hamba Allah, Dia memberiku Kitab (Injil) dan Dia
menjadikan aku seorang Nabi. Dan Dia menjadikan aku
seorang yang diberkahi di mana saja aku berada, dan Dia
memerintahkan kepadaku (melaksanakan) shalat dan
(menunaikan) zakat selama aku hidup; dan berbakti kepada
iartikel , dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong
lagi celaka.
(Al-Quran Surat Maryam, 19: 30-32)
Alih-alih terburu-buru menolak klaim itu dan mengucapkan
perkataannya dari buaian sebagai “sihir belaka”, akan lebih tepat
bagi mereka yang menyatakan diri mereka sebagai “kaum
pilihan Tuhan Yang Mahakuasa” untuk merenungi perilaku
abnormal Maryam yang mencurigakan. Lagipula, bukankah
Maryam yang belum menikah tidak kembali ke kaumnya secara
terbuka dengan bayinya dalam pelukannya? Mereka pun harus
mengingat mukjizat ilahi yang terjadi di rumah suci yang
disaksikan oleh Kepala Rabbi, Zakaria, bahwa dia mendapatkan
makanan yang dikirimkan kepadanya di Mihrab, ruangan yang
tidak ada siapa-siapa selain dia, Kepala Rabbi, bisa masuk. Dan
dia sendiri tidak memberinya makanan.
Mukjizat Nabi ‘Isa (‘alaihi salam) berlanjut di kehidupan
selanjutnya:
Dan (Kami pilih Nabi ‘Isa) sebagai Rasul kepada Bani Israil
(dia berkata), “Aku telah datang kepada kamu dengan sebuah
tanda (mukjizat) dari Tuhanmu, yaitu aku membuatkan
bagimu (sesuatu) dari tanah berbentuk seperti burung, lalu
aku meniupnya, maka ia menjadi seekor burung dengan izin
Allah. Dan aku menyembuhkan orang yang buta sejak dari
lahir dan orang yang berpenyakit kusta. Dan aku
menghidupkan orang mati dengan izin Allah, dan aku
beritahukan kepadamu apa yang kamu makan dan apa yang
kamu simpan di rumahmu. Sesungguhnya pada yang
116
demikian itu terdapat suatu tanda (kebenaran kerasulanku)
bagimu, jika kamu orang beriman.
(Al-Quran Surat Ali Imran, 3: 49)
Semua mukjizat ini ‘tampak’ bagi musuhnya sebagai sihir.
'Kenyataannya', di sisi lain, seperti yang dijelaskan dalam Al-
Qur’an, yaitu bahwa Allah Yang Mahatinggi telah memperkuat
Nabi ‘Isa (‘alaihi salam) dengan Ruh Suci (yaitu, Malaikat Jibril),
dan melalui kuasa-Nya sehingga mukjizat terjadi.
Akhirnya, Al-Qur’an menggambarkan adegan penyaliban
di mana orang-orang diyakinkan akan kematiannya sebab
mereka melihat dia disalibkan di depan mata mereka. Musuh-
musuhnya lalu menyombongkan diri, “Kami telah
membunuh Al-Masih, ‘Isa putra Maryam, Rasulullah.”
Ada sarkasme dalam klaim sombong itu sebab mereka
telah menolak klaimnya sebagai Al-Masih dan seorang Nabi.
Akan tetapi Al-Qur’an lalu menggambarkan ‘kenyataan’
yang sangat berbeda dari yang ‘tampak’ bagi mereka.
Al-Qur’an menyatakan “mereka tidak membunuhnya”,
“mereka tidak menyalibnya”, “Allah mengambil (jiwanya)”,
“Allah membuatnya tampak bahwa dia telah mati”, dan
akhirnya, bahwa “Allah mengangkatnya ke hadirat-Nya” :
dan mereka berkata (dengan sombong), “Sesungguhnya kami
telah membunuh Al-Masih, ‘Isa putra Maryam, Rasulullah,”
padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula)
menyalibnya, tetapi begitulah penampilan yang dibuat
tampak bagi mereka. Sesungguhnya mereka yang berselisih
pendapat tentang (pembunuhan) ‘Isa, selalu dalam keragu-
raguan tanpa pengetahuan yang pasti, melainkan mengikuti
persangkaan belaka, sebab sesungguhnya mereka tidak
117
membunuhnya. Tetapi Allah telah mengangkat Isa ke hadirat-
Nya. Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana.
(Al-Qur’an Surat An-Nisa, 4: 157-158)
Kebanyakan ulama Islam saat ini menafsirkan peristiwa di
atas sebagai peristiwa di mana Allah Subhanahu wa Ta’ala
menggantikan orang lain di posisi Nabi ‘Isa (‘alaihi salam) dan
orang itulah yang disalib. Saya berbeda, dan sebagai gantinya
menafsirkan ayat-ayat ini sebagai berikut: Allah Subhanahu
wa Ta’ala mengambil jiwanya saat dia dipaku di kayu salib.
Tubuhnya yang diberkahi lalu diturunkan, disiapkan
untuk dimakamkan, dan disegel di sebuah gua dengan penjaga
Romawi ditempatkan di luar gua. Allah Subhanahu wa Ta’ala
lalu mengembalikan jiwanya ke tubuhnya yang
tersembunyi di dalam gua. Tubuh (jiwa yang sekarang
bersamanya) lalu diubah dari wujud dimensi alam ruang-
fana menjadi wujud alam transendental dan lalu diangkat
ke Samawat (yaitu, tujuh lapisan alam ruang dan waktu yang ada
antara dunia ini dan ‘arsy Allah Subhanahu wa Ta’ala). Oleh sebab
itu, meskipun Nabi ‘Isa (‘alaihi salam) dipaku di kayu salib,
dengan darah di tangannya, dia tidak pernah mengalami
kematian yang disebut Al-Qur’an sebagai maut (yaitu, saat
nyawa dicabut dan tidak dikembalikan). Dan sebab Al-Qur’an
menyatakan bahwa setiap jiwa pasti merasakan maut
(kematian), implikasinya yaitu bahwa suatu hari Nabi ‘Isa (‘alaihi
salam) pasti kembali dan menghadapi maut seperti manusia
lainnya. saat dia kembali ke dunia, orang-orang akan melihat
darah masih segar ada di tangannya.
Pertimbangkan berita berikut: Seorang pria Muslim di
Mesir membunuh istrinya dan lalu menguburkannya
dengan anak wanita mereka yang masih bayi dan putrinya
yang berusia 8 tahun. Gadis-gadis itu dikubur hidup-hidup. Dia
lalu melaporkan ke polisi bahwa seorang paman telah
118
membunuh anak-anak ini . Lima belas hari lalu ,
anggota keluarga lainnya meninggal. saat mereka pergi untuk
menguburkannya, mereka menemukan dua gadis kecil masih
hidup di bawah pasir. Peduduk negeri marah atas insiden itu, dan
pria itu pun akan dieksekusi. Gadis yang lebih tua ditanya
bagaimana dia bisa bertahan hidup, dan inilah yang dia katakan:
“Seorang pria dengan pakaian putih mengkilap, dengan
luka berdarah di tangannya, datang setiap hari untuk
memberi kami makan. Dia membangunkan iartikel agar
dia bisa menyusui adikku.”
Dia diwawancarai di televisi nasional Mesir oleh seorang
pembawa berita wanita Muslim berjilbab yang lalu
menyatakan bahwa: “Ini tidak lain yaitu Yesus/Nabi ‘Isa
(‘alaihi salam), sebab tidak ada orang lain yang melakukan hal
seperti ini!”
Umat Muslim percaya bahwa Yesus/Nabi ‘Isa (‘alaihi salam)
akan melakukan hal-hal seperti itu, namun luka-luka itu
menyiratkan bahwa dia benar-benar dipaku di kayu salib. Dan
juga jelas bahwa dia masih hidup. Anak itu tidak mungkin
mengarang cerita seperti itu. Dan tidak mungkin anak-anak itu
bisa bertahan tanpa keajaiban.
Kini kita dapat kembali ke pokok bahasan kita di mana
‘penampilan’ dan ‘kenyataan’ dalam peristiwa kembalinya Al-
Masih yang dramatis dan penting ini sekali lagi akan sangat
berbeda satu sama lain. Nabi Muhammad (shala Allahu ‘alaihi wa
salam) memberitahu dunia bahwa Al-Masih palsu yang dikenal
sebagai Dajjal (atau penipu ulung) telah diciptakan oleh Allah
Subhanahu wa Ta’ala dan dilepaskan ke dunia dengan misi
menyamar sebagai Al-Masih. Agar berhasil menyelesaikan misi
itu, dia harus menguasai dunia dari Yerusalem (yaitu, dari
119
Negara Israel), dan sebab nya Negara Israel itu harus didirikan
di Tanah Suci dan harus menjadi negara yang berkuasa di dunia.
saat dunia menyaksikan peristiwa-peristiwa berikut, itu
akan tampak sebagai tanda-tanda pasti akan kembalinya
Yesus/Nabi ‘Isa (‘alaihi salam) padahal, pada kenyataannya, itu
yaitu pekerjaan Dajjal:
▪ Pertama: pembebasan Tanah Suci dari “pendudukan”
Muslim, dan itu terjadi pada tahun 1917;
▪ Kedua: kembalinya orang-orang Yahudi ke Tanah Suci
untuk mengklaimnya kembali sebagai milik mereka, dan itu
terjadi antara tahun 1917 dan 1948;
▪ Ketiga: restorasi Negara Israel di Tanah Suci, dan itu terjadi
pada tahun 1948;
▪ Dan akhirnya, pembentukan Israel sebagai negara adikuasa
di dunia, dan itu akan segera terjadi.
saat Israel benar-benar menjadi negara adikuasa di dunia,
Dajjal lalu akan menjadi pemimpinnya dan akan
menyatakan dirinya sebagai Al-Masih padahal sebenarnya dia
yaitu Al-Masih palsu. Dengan demikian, ‘penampilan’ dan
‘kenyataan’ akan berbeda sekali lagi dalam kehidupan putra
Maryam yang lalu akan kembali dan membunuh Al-Masih
palsu ini .
***
120
121
ESAI 9
Bolehkah Muslim Memilih Seorang Wanita
untuk Menjadi Pemimpin Mereka?
emimpin wanita yaitu topik yang kini menarik perhatian
umat Islam di Trinidad dan Tobago. Kongres Nasional
Bersatu harus menunjuk seorang Pemimpin baru dari
Oposisi di Parlemen dan mayoritas anggota Parlemen dari
oposisi memilih seorang wanita untuk menggantikan pemimpin
lama mereka. Namun seorang kolega Muslim mereka di
Parlemen dengan berani mengumumkan niatnya untuk
berkonsultasi terlebih dahulu dengan “pemimpin agamanya”
sebelum memutuskan masalah memilih seorang wanita sebagai
pemimpinnya. Sangat bijaksana baginya untuk melakukan
demikian sebab esai ini berpendapat, sementara seorang wanita
dapat mempekerjakan pria untuk bekerja padanya, petunjuk
Ilahi dalam Al-Qur’an, serta teladan Nabi Muhammad (shala
Allahu ‘alaihi wa salam) yang diberkahi dan para sahabatnya tidak
mengizinkan Muslim untuk memilih seorang wanita untuk
menjadi pemimpin mereka.
Ini yaitu masalah penyesalan yang mendalam bahwa
banyak ulama Islam pada zaman modern ini entah ambigu dalam
pemikiran mereka, atau memilih untuk tetap diam dibandingkan
menentang warga luas sesat yang telah dicuci otaknya dan
terpengaruh oleh revolusi emansipasi wanita modern Dajjal,
atau yang terburuk dari semuanya, mengeluarkan fatwa
(pendapat hukum) yang salah arah tentang masalah ini. (Baik
P
122
kedatangan Dajjal maupun revolusi emansipasi wanita
modernnya yaitu ‘Tanda-tanda Hari Akhir’.)
Di Pakistan, misalnya, saat ketidakpuasan warga
luas akhirnya memaksakan pemilihan umum untuk melawan
kediktatoran Ayub Khan yang didukung AS pada tahun 1965,
kandidat Presiden atas nama Partai Oposisi Gabungan yaitu
seorang wanita - Fatima Jinnah. Kecuali golongan ulama
yang selaras dengan partai pemerintah, semua ulama terkenal
Pakistan mengeluarkan fatwa (opini hukum) pada kesempatan
itu untuk mendukung pemimpin wanita. Faktanya, mereka
bertindak atas dasar kebijaksanaan politik dan, dalam prosesnya,
salah arah dalam penilaian mereka. Namun harus kita akui, agar
adil kepada para ulama Islam itu, pada tahun 1964 lebih sulit
dibandingkan sekarang ini, untuk pertama-tama mengenali dan
lalu memahami besarnya serangan utama dan berbahaya
Dajjal terhadap umat manusia dalam bentuk serangan revolusi
emansipasi wanita modern.
Mereka yang mungkin tidak setuju dengan pandangan yang
diungkapkan dalam esai ini tentang masalah aturan seorang
wanita harus ingat bahwa Islam, sebagai agama, menuntut
Muslim bahwa dia dibimbing dalam segala urusan, terutama
dengan bimbingan yang telah datang melalui Al-Qur’an, dan
yang kedua dengan teladan Nabi (shala Allahu ‘alaihi wa salam) yang
diberkahi dan para sahabatnya yang diberi petunjuk dengan
benar. Mereka tidak boleh berpegang teguh pada dukungan
(tidak sah) dari penyimpangan sejarah sporadis seperti yang
terjadi di Pakistan, Bangladesh, Indonesia dan di tempat lain, di
mana wanita yang sebenarnya salah arah telah menjadi
pemimpin bagi warga Muslim ini .
❖ AL-QUR'AN DAN KEPEMIMPINAN IMAM (LAKI-
LAKI)
123
Al-Qur’an telah menyampaikan peringatan keras tentang pilihan
seorang pemimpin: “Suatu hari Kami akan memanggil semua
umat manusia bersama Imam (yaitu, pemimpin) mereka...” (Al-
Qur’an Surat Al-Isra, 17: 71). Kata Imam, yang digunakan
dalam Al-Qur'an dan juga dalam bahasa sehari-hari, mengacu
pada pemimpin yang memerintah, mengatur, atau memimpin.
Al-Qur’an juga menggunakan kata Imam yang berarti jalan
hidup atau kitab yang mengarahkan petunjuk atau membimbing.
Namun, dalam konteks Hari Akhir dan penghakiman ilahi atas
seluruh umat manusia, tidak bertanggung jawab bagi siapa pun
untuk mengecualikan makna pemimpin yang memerintah,
mengatur atau memimpin pada kata Imam dalam ayat Al-Qur’an
di atas. Keadilan (dan juga akal sehat dasar) menuntut bahwa
pemimpin atau penguasa (yang sesat ataupun yang dibimbing di
jalan yang benar) akan dibawa bersama umatnya saat mereka
dihakimi oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Allah Subhanahu wa Ta’ala memilih seorang Imam untuk umat
manusia saat Dia menyatakan kepada Ibrahim (‘alaihi salam):
“Saya dengan ini menunjuk engkau sebagai Imam (pemimpin)
umat manusia” (Al-Qur’an Surat Al-Baqarah, 2: 124). saat
Ibrahim (‘alaihi salam) menjawab dengan mempertanyakan
apakah para Imam juga akan diangkat secara ilahi dari antara
keturunannya, Allah Subhanahu wa Ta’ala menegaskan hal itu
sambil menolak kemungkinan perjanjian-Nya itu dapat
mencakup mereka yang berperilaku jahat (seperti di Israel
modern) (Al-Qur’an Surat Al-Baqarah, 2: 124). lalu Allah
Subhanahu wa Ta’ala menunjuk Imam, dalam wujud Nabi, dari
keturunan Ibrahim (‘alaihi salam). Di antara mereka yaitu Ishak
(‘alaihi salam) dan keturunannya yaitu Yakub, Yusuf, Musa,
Harun, Daud, Sulaiman dan ‘Isa (‘alaihim salam), dan Ismail
(‘alaihi salam) dan keturunannya yaitu Muhammad (shala Allahu
‘alaihi wa salam).
124
Akhirnya, ada doa yang dicatat dalam Al-Qur’an itu sendiri
di mana orang-orang beriman berdoa kepada Allah Subhanahu wa
Ta’ala sebagai berikut: “Ya Tuhan kami! Berikan kepada kami
istri dan keturunan yang akan menjadi penghiburan bagi kami
dan semoga kami menjadi Imam (yaitu, pemimpin dan
penguasa) atas orang-orang yang shalih" (Al-Qur’an Surat Al-
Furqan, 25: 74). Dalam setiap ayat di mana Al-Qur’an
menggunakan istilah Imam yang berarti ‘pemimpin’ yang
‘memerintah’, ‘mengatur’ atau ‘memimpin’, Imam ini
selalu laki-laki dan tidak pernah wanita .
Tiga kali dalam sejarah Allah Subhanahu wa Ta’ala memilih
orang sebagai Nabi dan lalu menahbiskan bahwa Nabi
harus mendirikan negara dan lalu memerintah negara itu.
Daud dan Sulaiman (‘alaihima salam) memerintah Negara Suci
Israel, sedangkan Muhammad (shala Allahu ‘alaihi wa salam)
akhirnya memerintah sebuah negara kota Madinah. Dalam
ketiga contoh ini, para penguasa yang ditetapkan secara ilahi ini
yaitu laki-laki dan tidak pernah wanita .
Al-Qur’an selanjutnya menyatakan bahwa tidak hanya para
Nabi (Daud, Sulaiman dan Muhammad) yang memerintah
negara yaitu laki-laki, tetapi juga, bahwa semua Nabi/Rasul
Allah Subhanahu wa Ta’ala (124.000 seluruhnya) semuanya, tanpa
pengecualian, yaitu laki-laki: “Kami pun tidak mengutus
kepada manusia (sebagai Utusan) kecuali laki-laki yang Kami
ilhamkan (yang tinggal di antara manusia) di pemukiman
manusia” (Al-Qur’an Surat Yusuf, 12: 109; An-Nahl, 16: 43; Al-
Anbiya’, 21: 7).
Ada implikasi yang sangat jelas dalam pilihan ilahi laki-
laki, sebanyak 124.000 kali, dan tidak pernah sekalipun seorang
wanita, sebagai Nabi dan Rasul yang ditunjuk secara ilahi.
125
Implikasi ini selanjutnya dikonfirmasi dalam pilihan ilahi dari
jenis kelamin maskulin (dan bukan feminin) untuk kata ganti
yang merujuk pada ‘Dia’, meskipun ‘Dia’, Allah, bukan laki-
laki atau wanita . Nama-nama malaikat semuanya maskulin,
meski mereka bukan laki-laki atau wanita . Al-Qur’an
mengutuk mereka yang memberi nama feminin kepada para
malaikat: “Mereka yang tidak percaya pada akhirat menamai
malaikat dengan nama wanita ” (Al-Qur’an Surat An-Najm,
53: 27). Akhirnya, Al-Qur’an mengakui bahwa “wanita
memiliki hak yang sama seperti laki-laki dengan cara yang adil”,
tetapi lalu menyatakan bahwa “pria memiliki status atau
gelar di atas mereka” (yaitu, di atas wanita) (Al-Qur’an Surat Al-
Baqarah, 2: 228) dan, dalam hubungan ini, selanjutnya
dinyatakan bahwa “laki-laki yaitu wali atas wanita ”
dengan tanggung jawab tidak hanya untuk memelihara tetapi,
juga, untuk menjaga dan melindungi mereka, sehingga wajib
bagi wanita untuk mematuhi wali laki-laki mereka (Al-
Qur’an Surat An-Nisa, 4: 34).
❖ NABI SULAIMAN DAN PEMIMPIN WANITA
Petunjuk ilahi tentang masalah ini menjadi lebih jelas saat Al-
Qur’an menjelaskan riwayat panjang peristiwa di mana
Sulaiman (‘alaihi salam) terkejut mengetahui tentang seorang
pemimpin wanita di tanah ‘Saba’ (Sheba dalam Alkitab),
dan penduduk Saba pun menyembah matahari. Berikut
narasinya:
Dan dia memeriksa burung-burung lalu berkata, “Mengapa
aku tidak melihat Hud-hud, apakah ia termasuk yang tidak
hadir? Pasti akan kuhukum ia dengan hukuman yang berat
atau kusembelih ia, kecuali jika ia datang kepadaku dengan
alasan yang jelas.” (Pembaca harus memperhatikan bahwa
Sulaiman diajari bahasa burung sehingga dengan demikian
dapat berbicara dengan mereka.) Maka tidak lama lalu
126
(datanglah Hud-hud), lalu ia berkata, “Aku telah mengetahui
sesuatu yang belum engkau ketahui. Aku datang kepadamu
dari negeri Saba’ dengan membawa suatu berita yang
meyakinkan. Sungguh, kudapati ada seorang wanita yang
memerintah mereka, dan dia dianugerahi segala sesuatu serta
memiliki singgasana yang besar. Aku (burung Hud-hud)
dapati dia dan kaumnya menyembah matahari, bukan kepada
Allah; dan setan telah menjadikan terasa indah bagi mereka
perbuatan-perbuatan (buruk) mereka (yaitu, menyembah
matahari dan memilih wanita menjadi pemimpin mereka),
sehingga menghalangi mereka dari jalan (Allah), maka
mereka tidak mendapat petunjuk (pada Kebenaran), mereka
(pun) tidak menyembah Allah yang mengeluarkan apa yang
terpendam di langit dan di bumi dan yang mengetahui apa
yang kamu sembunyikan dan yang kamu nyatakan. Allah,
tidak ada tuhan melainkan Dia, Tuhan yang mempunyai ‘Arsy
yang agung.”
Dia (Sulaiman) berkata, “Akan kami lihat (tentang seorang
wanita yang memimpin kaum Saba, dan pemujaan matahari
mereka), apa kamu benar, atau termasuk yang berdusta.
Pergilah dengan (membawa) suratku ini, lalu sampaikanlah
kepada mereka, lalu berpalinglah dari mereka, lalu
perhatikanlah apa (jawaban) yang mereka bicarakan.”
Dia (Balqis Ratu Saba) berkata (saat dia menerima surat
ini ), “Wahai para pembesar! Sesungguhnya telah
disampaikan kepadaku sebuah surat yang mulia.”
Sesungguhnya (surat) itu dari Sulaiman yang isinya, “Dengan
nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang,
janganlah engkau berlaku sombong terhadapku dan datanglah
kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri.” Dia
(Balqis) berkata, “Wahai para pembesar! Berilah aku
pertimbangan dalam perkaraku (ini). Aku tidak pernah
memutuskan suatu perkara sebelum kalian hadir dalam
majelis(ku).” Mereka menjawab, “Kita memiliki kekuatan
dan keberanian yang luar biasa (untuk berperang), tetapi
keputusan berada di tanganmu; maka pertimbangkanlah apa
127
yang akan engkau perintahkan.” Dia (Balqis) berkata,
“Sesungguhnya raja-raja apabila menaklukkan suatu negeri,
mereka tentu membinasakannya, dan menjadikan
penduduknya yang mulia jadi hina; dan demikian yang akan
mereka perbuat. Dan sungguh, aku akan mengirim utusan
kepada mereka dengan (membawa) hadiah, dan (aku) akan
menunggu apa yang akan dibawa kembali oleh para utusan
itu.”
Maka saat para (utusan itu) sampai kepada Sulaiman, dia
(Sulaiman) berkata, “Apakah kamu akan memberi harta
kepadaku? Apa yang Allah berikan kepadaku lebih baik
dibandingkan apa yang Allah berikan kepadamu; tetapi kamu
merasa bangga dengan hadiahmu. Kembalilah kepada
mereka! Sungguh, Kami pasti akan mendatangi mereka
dengan bala tentara yang mereka tidak mampu melawannya,
dan akan kami usir mereka dari negeri itu (Saba’) secara
terhina dan mereka akan menjadi (tawanan) yang hina dina.”
(Al-Qur’an Surat An-Naml, 27: 20-37)
Sama sekali tidak ada bukti apapun yang bahkan
menunjukkan bahwa negeri Saba’ (atau Sheba dalam Alktiab)
telah melakukan, atau sedang bersiap untuk melakukan, agresi
terhadap Negara Israel Suci Sulaiman, atau telah bertindak
dengan cara lain yang mungkin dapat menciptakan pembenaran
hukum atau bahkan pembenaran moral untuk perang (causus
bellum). Namun Nabi Sulaiman (‘alaihi salam) segera menulis
kepada Sang Ratu dengan perintah tegas bahwa dia tidak boleh
melawannya tetapi harus segera datang kepadanya dalam
keadaan tunduk padanya.
Ada banyak negeri yang tidak berada di bawah kendali
Sulaiman (‘alaihi salam) di mana orang-orang menyembah selain
Tuhan Yang Maha Esa. Tidak ada bukti apapun bahwa dia
bertindak dengan cara yang sama dengan pemimpin di wilayah
128
ini . Nabi juga tidak menanggapi dengan perang terhadap
orang-orang yang menyembah selain Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Tidak ada kebijaksanaan sama sekali dalam perilaku seperti itu.
Sebaliknya bimbingan ilahi mengharuskan orang diundang
kepada kebenaran dengan kebijaksanaan dan dengan nasihat
yang anggun.
Ratu Saba’ pun tidak menolak surat Sulaiman dengan rasa
tidak hormat dan arogansi. Sebaliknya dia memujinya sebagai
hal yang “mulia” dan berusaha untuk menenangkannya dengan
hadiah. Namun Nabi Sulaiman (‘alaihi salam) dengan tegas
menolak tanggapannya yang sangat ramah dan justru
menyampaikan deklarasi perangnya. Dia bahkan menjelaskan
konsekuensi menakutkan dari perang semacam itu bagi Negeri
Saba’. Implikasi yang sangat jelas dari peristiwa ini sayangnya
telah dikaburkan oleh perkembangan dongeng. Nyatanya, Nabi
Sulaiman (‘alaihi salam) bertindak seperti yang dia lakukan sebab
bimbingan ilahi tidak mentolerir seorang wanita memimpin
bangsa atau negara. Tidak ada penjelasan lain yang mungkin
untuk tingkah laku luar biasa Nabi Sulaiman (‘alaihi salam).
Mereka, meskipun bimbingan ilahi dengan jelas
disampaikan sebagaimana kisah di atas, yang memilih seorang
wanita sebagai pemimpin/penguasa mereka, akan mendapati diri
mereka dibangkitkan pada Hari Kiamat bersama pemimpin
wanita mereka, saat mereka menunggu penghakiman di
hadapan Tuhan Yang Esa! Mereka akan merasa ngeri sebab
mengetahui bahwa dalam memilih seorang wanita menjadi
pemimpin, mereka melakukan dosa besar sebab mengecualikan
Allah Subhanahu wa Ta’ala dari keputusan mereka dalam masalah
ini: “Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah
(dengan mengecualikan Dia dari urusan mereka), sehingga (sebagai
akibatnya) Allah menjadikan mereka lupa akan diri sendiri (yakni,
status manusia mereka sendiri). Mereka itulah orang-orang fasik.”
(Al-Qur’an Surat Al-Hasyr, 59: 19).
129
Ayat Al-Qur’an di atas (dengan tafsiran kami dalam tanda
kurung) telah menyampaikan pokok dari semua peringatan
kepada mereka yang melupakan Tuhannya dengan
mengecualikan Dia dari keputusan mereka dalam hal, misalnya,
seperti memilih pemimpin wanita. Mereka yaitu orang-orang
tersesat yang kesesatannya pada akhirnya akan membawa
mereka ke dalam api neraka.
Peradaban Barat Kristen-Yahudi modern yaitu yang
pertama mengadopsi sekularisme tak bertuhan hari ini yang
telah mengecualikan Allah Subhanahu wa Ta’ala atas segala
urusannya. Sekularisme politik mendeklarasikan pemisahan
politik dari agama dan dalam prosesnya, menurunkan Allah
Subhanahu wa Ta’ala sebagai Yang Berdaulat. Ini menggantikan
Kedaulatan-Nya dengan kedaulatan negara, parlemen dan
konstitusi. sesudah mengadopsi sekularisme, Barat yang tidak
bertuhan lalu melanjutkan untuk mengekspor sekularisme
itu ke seluruh dunia (termasuk Trinidad dan Tobago).
Merupakan penistaan dan kemunafikan dalam konstitusi
yang mengakui “supremasi Tuhan” namun lalu
melanjutkan dengan menyatakan: “Konstitusi ini yaitu hukum
tertinggi Trinidad dan Tobago, dan undang-undang lain yang
tidak sejalan dengan Konstitusi ini (dan jelas termasuk hukum
Tuhan) tidak berlaku sebab ketidakkonsistenannya.” Mereka
yang mengecualikan Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai Yang
Berdaulat dan sebaliknya, menerima kedaulatan negara dan
konstitusi, akan mendapatkan kejutan mengerikan yang
menunggu mereka pada Hari Kiamat. Al-Qur’an menyatakan
bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memegang seluruh dunia
di tangan-Nya (seperti yang pernah dinyanyikan Mahalia
Jackson) dan lalu akan bertanya: “Milik siapakah kerajaan
pada hari ini?” Al-Qur’an lalu menjawab dengan: “Milik
130
Allah Yang Maha Esa, Yang Berdaulat.” (Al-Qur’an Surat Gafir, 40:
16)
Dan sebab nya, Islam telah menolak sekularisme semacam
itu dan menekankan pengakuan pada Kedaulatan dan Kekuasaan
Tertinggi Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam negara dan sebab nya
pada pemilihan pemimpin/penguasa negara. Siapapun yang
sebaliknya mengakui kedaulatan negara sekuler modern, dan
meninggal dengan catatan seperti itu, akan mati dengan dosa
terbesar (Syirik) tergantung di lehernya - dosa yang telah
diperingatkan Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan ampuni.
Orang seperti itu akan masuk ke dalam api neraka.
Apa yang harus dilakukan oleh orang yang beriman kepada
Tuhan Yang Maha Esa? Jawabannya yaitu kita diizinkan untuk
tinggal di negara sekuler dan sementara berada di negara itu,
dengan mendukung semua yang baik dan menentang semua
yang jahat. Kita harus menahan diri, dengan kemampuan terbaik
kita, dari semua perilaku yang akan mengakibatkan dosa Syirik
atas diri kita sendiri. Nabi Muhammad (shala Allahu ‘alaihi wa
salam) bertindak seperti itu selama 53 tahun dalam hidupnya saat
dia tinggal di Mekah pagan (sebelum dia hijrah ke Madinah).
Nabi Yusuf (‘alaihi salam) bertindak seperti itu bahkan saat
bertugas dalam pemerintahan pagan Mesir dan Nabi ‘Isa Al-
Masih (‘alaihi salam), melakukan hal yang sama saat hidup di
bawah pemerintahan Romawi di Tanah Suci.
Mengapa, kita mungkin bertanya pada diri kita sendiri,
Allah Subhanahu wa Ta’ala hanya memilih laki-laki sebagai Nabi
dan Rasul-Nya? Dan mengapa Nabi Muhammad (shala Allahu
‘alaihi wa salam) menetapkan dua hewan untuk dikurbankan
sebagai ucapan syukur atas kelahiran bayi laki-laki, sedangkan
hanya satu yang harus disembelih untuk kelahiran bayi
wanita . Juga, mengapa Nabi (shala Allahu ‘alaihi wa salam)
memerintahkan laki-laki untuk menempati barisan depan
131
Masjid, sedangkan wanita menempati barisan belakang
Masjid di belakang laki-laki, sehingga tidak mungkin bagi
seorang wanita untuk memimpin laki-laki dalam shalat?
Mari kita hilangkan dulu gagasan bahwa laki-laki lebih
tinggi secara intelektual, moral atau spiritual dibandingkan
wanita . Nabi Muhammad (shala Allahu ‘alaihi wa salam)
menepis kebohongan ini dengan pernyataannya bahwa
umat manusia akan dibangkitkan pada Hari Kiamat untuk
dihakimi “setara di hadapan Allah seperti gerigi sisir”. Bahkan
dia mengakui kedudukan ‘ibu’ tiga kali lebih tinggi dari ‘ayah’,
dan menyatakan bahwa “surga ada di bawah kaki ibumu.”
Namun, implikasinya dengan jelas dicatat dalam pernyataan
Nabi Muhammad (shala Allahu ‘alaihi wa salam) sendiri saat dia
mengetahui bahwa bangsa Persia telah memilih putri Kaisar
mereka sebagai pemimpin baru mereka. Dia menyatakan:
“Tidak akan ada bangsa sukses yang memilih wanita sebagai
pemimpin mereka." (Bukhari, Nasai, Tirmizi, dan Ahmad).
Hal ini pun dapat dilihat dalam perilaku para sahabat Nabi
dan penerus mereka selama dunia Muslim tetap bebas dari
kendali peradaban Kristen-Yahudi Eropa yang pada dasarnya
tidak bertuhan saat ini. Pemimpin yang menguasai dunia Islam,
yang dikenal sebagai Amirul Mukminin, Khalifah atau Imam,
selalu laki-laki dan tidak pernah wanita . Israel Suci pun
tidak pernah memiliki wanita sebagai pemimpin. Hanya pada
zaman modern dan sebagai akibat langsung dari pencemaran
peradaban Barat terhadap Islam, penyimpangan pemerintahan
wanita pada tatanan politik telah terjadi di beberapa negara
Muslim.
Penting bagi kita untuk mencatat bahwa bimbingan Ilahi
tidak pernah goyah pada topik pemimpin laki-laki sehingga
132
memberi kelonggaran bagi keadaan khusus apa pun yang
memungkinkan seorang wanita menjadi pemimpin. Namun
beberapa ulama Islam, terutama pada zaman modern di mana
revolusi emansipasi wanita ala Eropa melanda dunia, telah
menganggap bijaksana untuk menyatakan bahwa keadaan luar
biasa dapat memungkinkan seorang wanita menjadi pemimpin.
Apa yang tidak disadari oleh para ulama ini sebenarnya
telah membuka jalan bagi pemerintahan permanen wanita
di dunia terbalik yang dilambangkan dengan “matahari terbit
dari Barat”.
Tokoh protagonis dari kemungkinan ini berpegang teguh
pada contoh Aisyah yang, menurut mereka, memimpin, atau
bergabung dengan orang lain dalam memimpin beberapa orang
dalam pertempuran melawan Ali (radhiyallahu ‘anhu) dalam
Pertempuran Unta. Dia mengejar keadilan, atau dia dituntun
untuk percaya bahwa dia bertindak adil sesudah pembunuhan
Utsman (radhiyallahu ‘anhu), sementara Ali (radhiyallahu ‘anhu),
dalam kebijaksanaannya, mengakui bahwa keadilan tidak dapat
ditegakkan dalam ruang hampa keamanan. Oleh sebab itu, ia
perlu memulihkan keamanan warga dan stabilitas negara
terlebih dahulu sebelum ia dapat menegakkan keadilan.
Perbedaan pandangan tentang masalah inilah yang
menyebabkan pemberontakan melawan pemerintahan Ali
(radhiyallahu ‘anhu).
Akan tetapi konsensus pendapat sepanjang masa yaitu
bahwa Ali (radhiyallahu ‘anhu) merupakan yang terakhir dari
empat Khulafa (atau Imam) yang dibimbing secara benar yang
memimpin umat Islam sesudah kematian Nabi Muhammad (shala
Allahu ‘alaihi wa salam). Oleh sebab itu yaitu kewajiban Aisyah
untuk tunduk pada pemerintahan Ali (radhiyallahu ‘anhu). Tingkah
lakunya dalam hal ini tidak membentuk preseden yang patut
ditiru.
ia bertanya, “Apakah Anda seorang Muslim atau
teroris?” Saya sedang berbicara dengan sekelompok
penduduk desa, semuanya orang Afrika, sambil duduk
di bawah tenda yang didirikan di luar rumah di Boot Hill saat
seorang pemuda India bergabung dengan kami dan mengajukan
pertanyaan itu kepada saya. Itu bisa saja merupakan tindakan
provokasi besar yang disengaja dan berbahaya atau, mungkin,
itu tidak lebih dari kesembronoan seseorang yang dalam ibadah
menghadap ke arah Washington. Akan tetapi penduduk desa
menanggapi pertanyaan itu dengan marah. Mereka bersikeras
bahwa itu yaitu penghinaan, dan saya tidak boleh menjawab
pertanyaan itu. Sebaliknya mereka menuntut pemuda itu
meminta maaf atas penghinaannya, dan mereka bertahan sampai
dia akhirnya meminta maaf kepada saya. Itulah rasa demokrasi
kerukunan antar suku di Boot Hill yang tidak menimbulkan
ketidakadilan suku. Politisi dan ilmuwan politik negara ini
sebaiknya mempelajari demokrasi kerukunan antar suku di Boot
Hill.
Saya kembali ke Boot Hill (nama panggilan untuk Desa St.
Thomas, Chaguanas, di pulau asal saya Trinidad), kampung
halaman masa kecil saya, untuk menawarkan simpati saya
kepada Kenneth Valley yang putranya telah ditembak dan
dibunuh dua hari sebelumnya di desa terdekat Felicity. Itu
yaitu pembunuhan yang memicu protes suku yang signifikan
dari penduduk orang Afrika desa Boot Hill yang dengan cepat
meletus dalam demonstrasi jalanan yang berbahaya. Bahkan
memprovokasi aksi kekerasan terhadap warga desa Felicity.
Beberapa dari mereka dipukuli dan kendaraan dihancurkan.
Felicity secara suku homogen dengan mayoritas penduduk
yaitu orang India dan beragama Hindu. Sementara
penembakan mati di Felicity pemuda Afrika dari Boot Hill
mungkin tidak disebabkan oleh ras, itu tentu saja memicu respon
rasial yang keras. Memang saya takut bahwa berita kematian itu,
mungkin, telah disebarkan, dan tahap baru yang berbahaya yang
kini dicapai dalam persaingan suku pada akhirnya akan
mencakup seluruh negeri dalam cengkeraman yang fatal. Oleh
sebab nya esai yang tepat dipublikasikan pada waktu ini!
Persaingan antara dua suku utama negara ini terus dipicu
oleh nasionalisme kesukuan yang telah menginfeksi politik
Trinidad dan Tobago selama lima puluh tahun terakhir yang
menyedihkan, dan ketegangan antara dua suku saingan utama
telah lama membara. Memang kekerasan yang secara spontan
meletus di Boot Hill dan di Felicity, mungkin, yaitu kasus
“ayam yang pulang untuk bertengger”. Sistem politik korup
yang memecah-belah suku dan bukan mempersatukan,
sebenarnya merupakan Tanda Hari Akhir.
Kami sebenarnya siap di ambang lubang api dengan
kemungkinan pemisahan suku dari populasi pulau, namun
semua yang ditawarkan oleh pemerintah yaitu “Presidensi
Kekaisaran” sebagai jawaban atas sistem politik yang gagal.
Ayah saya memiliki pandangan ke depan untuk menentang
nasionalisme kesukuan GNR. (GNR yaitu Gerakan Nasional
Rakyat, yang merupakan partai politik yang berkuasa di
135
Trinidad dan Tobago.) Dia mendapatkan akibatnya sebab
penentangan itu. Tapi itu cerita lain. Dia pasti memiliki perasaan
aneh di kuburan Boot Hill saat salah satu anaknya akhirnya
naik ke jabatan tinggi dalam pelayanan publik negara.
Keluarga Muslim India saya tinggal di Boot Hill selama
lebih dari seratus tahun sampai ibu saya yang menjanda,
khawatir dengan nasionalisme suku dan oleh perubahan
misterius yang perlahan merayap di negara dan desa,
memindahkan kami satu mil jauhnya saat dia membangun
rumah baru di tengah Kota Chaguanas. Akan tetapi bahkan
lalu saya terus bekerja sebagai guru muda di Sekolah
Negeri Chaguanas tempat ayah saya menghabiskan tahun-tahun
terakhir hidupnya sebagai Kepala Sekolah. Dengan demikian,
anak-anak desa menjadi dekat pada saya, sebagaimana mereka
kepada ayah saya sebelum saya, sebagai guru asli kampung
halaman mereka sendiri.
Banyak suku terwakili di desa kecil yang terletak begitu
damai tepat di sebelah Kota Chaguanas yang ramai. Semua suku
hidup bersama dalam keadaan harmonis, dengan pengakuan
kesetaraan suku, dan dengan menghormati identitas kesukuan
dan perbedaan budaya dan agama. Setiap suku memiliki
otonomi dan hak untuk mempertahankan identitas kesukuannya
dan mengatur kehidupannya sesuai dengan sistem nilai dan
budaya sukunya sendiri. Lebih dari itu, Boothill menjadi tuan
rumah Sekolah Pemerintah Chaguanas serta pemakaman
Chaguanas, sebagai konsekuensinya desa itu menjadi rumah
pendidikan bagi ribuan anak dari jauh dan dekat, dan tempat
peristirahatan terakhir bagi semua yang meninggal. Baik yang
hidup maupun yang meninggal, yang datang dari jauh dan dekat,
tidak pernah merasakan ketidaknyamanan dalam demokrasi
kerukunan antar suku di Boot Hill.
Saya akan selalu tetap bersyukur kepada Allah Subhanahu wa
Ta’ala atas keberuntungan yang saya miliki untuk tumbuh di
Boot Hill dengan demokrasi kerukunan antar sukunya yang
sangat membekas pada kesadaran remaja saya. Demokrasi
kerukunan antar suku itulah yang saya tawarkan kepada bangsa
ini dalam pidato saya tentang “Islam dan Demokrasi Kerukunan
Antar Suku” dalam Konsultasi Muslim tentang reformasi
Konstitusi yang diadakan di Masjid Jama’ah San Fernando.
Proposal untuk ‘demokrasi kerukunan antar suku’ yang
akan menyelesaikan persaingan berbahaya dan mengandung
nasionalisme kesukuan yang telah merusak politik Trinidad dan
Tobago selama lima puluh tahun terakhir ini memicu tanggapan
yang antusias dari orang-orang seperti pemimpin Kongres
Rakyat, Winston Dookeran dan akademisi Universitas Hindia
Barat, Prof. Dr. Brinsley Samaroo yang menghadiri Konsultasi.
Bahkan mendapat penghormatan yang tenang dari Pengacara
Rajiv Persad yang telah bekerja lama dan keras pada rancangan
Konstitusi Prinsip-Prinsip Keadilan, dan Duta Besar Patrick
Edward, keduanya juga menghadiri Konsultasi.
Ada seorang pria Portugis yang tinggal di tengah-tengah
kami di Boot Hill. “Bosey” Vasconcellos tinggal di seberang
rumah kami dan merupakan pemilik sebuah bangunan beton
miring berbentuk persegi panjang tempat keluarganya
memproduksi anggur. Ketidakcocokan bangunan itu masih
bertahan sampai hari ini. “Bosey” menikahi Doris, seorang
wanita India, dan ketiga anak mereka tampak lebih Eropa
dibandingkan India. Ada juga Eric Maingot, pria Prancis yang
menikah dengan wanita India dari desa. Mereka memiliki rumah
penuh anak-anak yang dengan mudah menemukan tempat alami
dalam kehidupan desa. Dan lalu ada seorang wanita
Spanyol yang tinggal di desa hanya beberapa rumah dari kami
dengan suaminya orang India, Clifford Imamshah. Mereka juga
memiliki banyak anak yang semuanya tampak jauh lebih Eropa
dibandingkan India. Bahkan Mr. Kidney yang sudah tua, yang
propertinya terletak di sebelah rumah kami, berasal dari Inggris.
Semua orang Eropa ini dan anak-anak mereka yang
berpenampilan Eropa diterima di desa dan hidup sangat
harmonis dengan semua penduduk desa lainnya. Namun hal
yang menakjubkan tentang Boot Hill yaitu bahwa penduduk
Eropa di desa itu tidak diakui lebih tinggi kedudukannya dari
penduduk desa lainnya. Kesetaraan suku tidak dipaksakan di
desa. Itu muncul secara alami. Keluarga Eropa juga tidak
memisahkan diri mereka sendiri. Mereka hidup rukun di antara
penduduk desa.
Orang Tionghoa secara mencolok diwakili di tengah-tengah
Boot Hill oleh keluarga Chong Kai Mee yang menjalankan satu-
satunya toko desa. saat suaminya Mee Zin meninggal, dia
membujuk kakaknya, Ato, supaya datang jauh-jauh dari
Tiongkok untuk tinggal bersamanya guna membantu
menjalankan toko. Putrinya, Millie, berteman dengan gadis-
gadis desa (kakak wanita saya mengklaim bahwa Millie
yaitu satu-satunya teman sejatinya) dan perlahan-lahan
menjadi bagian dari kehidupan desa , dia harus pergi ke
Hong Kong. Tetapi penduduk desa didominasi oleh orang
Afrika dan India dengan beberapa keturunan suku campuran.
Orang Afrika hampir semuanya Kristen, dan orang India hampir
semuanya Muslim.
Hal yang paling luar biasa tentang Boot Hill lima puluh
tahun yang lalu yaitu keharmonisan dalam mengelola
keragaman sukunya. Tidak ada suku yang diremehkan atau
merasa terancam oleh suku lain. Tidak ada suku yang
mendiskriminasi suku lain. Kami semua hidup sebagai satu
keluarga. Dan saat seorang penduduk desa dalam kesusahan
atau membutuhkan bantuan, desa akan membantu tanpa
diskriminasi suku. Orang miskin di desa, dari suku mana pun
mereka berasal, semua akan berduyun-duyun ke Masjid untuk
menerima zakat pada hari Idul Fitri. Dan zakat akan diberikan
kepada semua yang membutuhkan. Suku-suku itu hidup
bersama bahkan tanpa bisikan pemisahan tempat tinggal antar
suku, atau antara yang kaya dengan yang miskin.
Keharmonisan suku tumbuh menjadi simfoni yang
sesungguhnya saat harus memilih tim kriket atau tim sepak
bola Boot Hill. Bidang olahraga yaitu demokrasi kerukunan
antar suku dalam bentuk yang paling murni. Jika Anda bisa
bermain bagus, Anda bisa dipilih dan bahkan menjadi kapten tim
- tidak masalah Anda berasal dari suku mana. Saya mendapat
kehormatan untuk dipilih dalam beberapa kesempatan sebagai
pemain ke-12 dalam tim kriket dan harus ‘membawa’
perlengkapan kriket saya secara adil.
Masjid desa yaitu salah satu yang paling awal dibangun di
Trinidad. Memang, selama hampir seratus tahun itu yaitu satu-
satunya Masjid di wilayah Chaguanas yang lebih besar, dan
Muslim datang dari jauh dan dekat untuk shalat di Masjid kami.
Gereja Anglikan masih terletak di seberang jalan dari Masjid dan
sikap saling menghormati dan kerjasama menjadi ciri hubungan
Kristen-Muslim di desa yang dinamai St. Thomas Aquinas,
mencerminkan dimensi lain dari demokrasi kerukunan antar
suku di desa. Ayah saya dan Pendeta Lamont bahkan sesekali
bertukar mobil - sesuatu yang membuat banyak orang tersenyum
di desa.
Yang paling luar biasa dari semuanya, desa ini
menunjukkan toleransi yang besar terhadap pernikahan antar
suku. Selain pernikahan Portugis-India, Prancis-India, dan
Spanyol-India, ada beberapa pernikahan Afrika-India. Keluarga
Mackintosh yaitu kasus pernikahan Afrika-India yang diterima
sepenuhnya oleh penduduk desa ini . Dan lalu ada
Orin - seorang pria teliti - dengan martabatnya yang tenang dan
sikapnya yang baik mendapatkan rasa hormat dari semua warga.
saat Orin, penduduk desa Afrika, menikahi putri Imam India,
dia tetap dicintai semua orang. Mereka punya banyak anak.
Anak-anak itu, seperti semua anak ras campuran lainnya di desa,
tidak pernah mengalami masalah identitas - tidak di Boot Hill.
Ayah India saya sendiri sangat mencintai seorang wanita
Afrika dan sangat ingin menikahinya. Tetapi pada akhirnya
agama berdiri di antara mereka dan mereka harus dengan sedih
menyerah tidak melanjutkan ke jenjang pernikahan sebab
wanita itu dengan tegas bersikeras bahwa setiap anak yang lahir
dari mereka harus dibesarkan sebagai orang Kristen. Maka ayah
saya mengorbankan cinta dalam hidupnya agar anak-anaknya
bisa dibesarkan sebagai Muslim, dan agar putranya ini akhirnya
bisa menyebarkan Islam di negara ini dan di banyak belahan
dunia lainnya.
Saya sangat terkejut saat penduduk desa yang berkumpul
di kediaman Valley memberi saya sambutan yang hangat dan
penuh kasih sebagai putra desa yang telah lama pergi. Meski
demikian, saya telah meninggalkan desa lebih dari empat puluh
tahun yang lalu dan selama waktu itu saya menjadi warga
Trinidad paruh waktu. Kebahagiaan saya terpenuhi saat
Kenneth Valley sendiri mengingatkan saya bahwa saya yaitu
gurunya di sekolah. Saat kami duduk membahas Boot Hill dan
demokrasi kerukunan antar sukunya, para penduduk desa
mendesak saya untuk menulis artikel ini dan menerbitkannya
sehingga negara dapat memperoleh manfaat dari apa yang masih
ditawarkan Boot Hill sampai hari ini.
Pada musim panas 2002 . . . Saya mengadakan pertemuan
dengan penasihat senior untuk Bush. Dia memberi tahu saya
sesuatu yang pada saat itu tidak saya pahami sepenuhnya -
tetapi kini saya yakini sebagai inti kepresidenan Bush. Ajudan
itu mengatakan bahwa orang-orang seperti saya berada
“dalam apa yang kami sebut komunitas berbasis realitas,”
yang ia definisikan sebagai orang-orang yang “percaya bahwa
solusi muncul dari studi Anda yang bijaksana tentang realitas
yang dapat dilihat”. Saya mengangguk dan menggumamkan
sesuatu tentang prinsip pencerahan dan empirisme. Dia
memotong saya. “Itu bukan cara dunia bekerja lagi,”
lanjutnya. "Kini kami yaitu imperium, dan saat kami
bertindak, kami menciptakan realitas kami sendiri. Dan saat
Anda mempelajari realitas itu - dengan bijaksana seperti Anda
- kami akan bertindak lagi, menciptakan realitas baru lainnya,
yang dapat Anda pelajari juga, dan begitulah cara berbagai hal
akan memilah Anda. Kami yaitu aktor sejarah . . . dan kalian,
kalian semua, tinggal mempelajari apa yang kami lakukan.”
“Tanpa Keraguan,” Ron Suskind,
Majalah New York Times, 17 Oktober 2004
ita kini hidup dalam pembongkaran ‘politik demokrasi’.
Golongan Tuan (yaitu, tuan Eropa yang menghapuskan
perdagangan budak Afrikanya saat tidak lagi nyaman
baginya untuk diidentifikasikan secara terang-terangan bersama
dengan perbudakan) pertama-tama memberi demokrasi itu
kepada dunia sebagai bagian dari rencana globalisasinya untuk
penyatuan politik semua bangsa yang berbeda di dunia.
Golongan Tuan kini memberlakukan undang-undang anti-
terorisme pada pemerintah yang seharusnya mengontrol rakyat
dunia demi kepentingan golongan Tuan. Ini hanyalah bagian
dari keseluruhan strategi di mana ia berusaha untuk mengubah
kebebasan demokratis dalam demokrasi sekuler sehingga pada
akhirnya membuka jalan baginya untuk memaksakan kepada
umat manusia kediktatoran Al-Masih palsu secara universal.
Ironisnya, ada di antara kita yang merayakan ‘emansipasi’
pada saat perbudakan terbesar mendekati kita. Pemerintah GNR
Trinidad dan Tobago dengan senang hati mengabaikan fakta
bahwa ia dipimpin untuk bertindak demi kepentingan golongan
Tuan dalam upaya menegakkan kediktatoran universal itu.
Mereka yang akan ‘membuat sejarah’ (lihat kutipan di atas)
sambil mengobarkan apa yang disebut ‘perang melawan teror’
saat ini, berusaha mencapai beberapa tujuan strategis dalam
prosesnya. Pemerintah negara ini mungkin terlalu takut atau
khawatir untuk berusaha memahami topik ini, tetapi para
pembaca akan mendapatkan keuntungan dari paparan
pandangan Islami tentang tujuan strategis ini sebagai
berikut:
Pertama, apa yang disebut ‘perang melawan teror’ yang
telah membuka jalan bagi undang-undang anti-terorisme,
digunakan untuk tujuan menjelekkan Islam dan Muslim dengan
propaganda palsu. Salah satu tujuan yang mereka cari yaitu
untuk merusak hati orang-orang yang menelan kebohongan dan
penafsiran yang keliru sehingga mereka dipenuhi dengan
kebencian terhadap Islam dan Muslim. Kebencian universal itu
akan menjadi keuntungan

