gereja masehi 16
ng bertumpuk dan itu satu
tindakan ketidaksetiaan kepada gerejamu. Lebih dari pada itu, engkau kehilangan satu alat yang dapat
menjadi penuntun dan perlindungan bagimu.
2. Tekankan pengampunan. Sebagian menuduh bala tentara Kristen satu-satunya yang menembak lukanya
sendiri. Tidak seharusnya demikian. Orang yang didisiplin dapat melihatnya sebagai penolakan, dan
mereka ditolak dapat bereaksi dengan permusuhan. Mereka merasa hukuman gereja itu lebih besar dari
pengampunannya. Mereka akan mendapatkan kesukaran untuk mempercayai bahwa Allah mengampuni
mereka sementara gereja tak dapat melakukannya. Dengan demikian, tindakan disiplin harus disertai
dengan penekanan yang sangat dalam tentang pengampunan.
Pengampunan yaitu titik pusat kekristenan. Kristus menekankan, “Tetapi jikalau kamu tidak
mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu” (Mat. 6:15). Sekali lagi,
“jagalah dirimu!” Jikalau saudaramu berbuat dosa, tegurlah dia, dan jikalau ia menyesal, ampunilah dia.
Bahkan jikalau ia berbuat dosa terhadap engkau tujuh kali sehari dan tujuh kali ia kembali kepadamu dan
berkata: ‘aku menyesal’, engkau harus mengampuni dia” (Lukas 17:3,4). Paulus mengajak jemaat untuk
mengulurkan pengampunan kepada yang bersalah pada saat tanda pertobatan pertama terlihat (2 Kor. 2).
Ny. White menekankan, “jikalau saudaramu itu bersalah, engkau harus mengampuni mereka. Engkau
jangan mengatakan sebagaimana dikatakan orang lain yang harus mengetahui lebih baik, ‘saya pikir
mereka tidak cukup rendah hati. Saya pikir mereka tidak merasa menyesal.’ Berhakkah Anda menghakimi
mereka, sebagaimana engkau dapat membaca hati?” (Manuscript 11, 1888).
3. Disiplin Alkitabiah. Yesus menyediakan prosedur menangani dosa (Mat, 18:15-17).
a. Temui orangnya secara pribadi
b. Pergi bersama satu atau dua orang saksi
c. Jikalau tidak berhasil, bawalah masalahnya kepada jemaat.
d. Jikalau orang itu tidak mendengarkan jemaat, anggaplah dia itu sebagai orang di luar gereja. Tentu saja,
cara kita memperlakukan mereka yang ada di luar gereja ialah mencoba memenangkan mereka ke dalam
gereja.
Pegawai gereja tidak harus menasihatkan, komite tidak harus merekomendasikan, atau gereja tidak harus
memungut suara, agar nama yang bersalah itu dikeluarkan dari buku jemaat, sampai petunjuk yang
diberikan Kristus sudah diikuti dengan saksama” (7 T262).
Dalam sidang pengadilan, sang tertuduh dianggap tidak bersalah sampai terbukti bersalah. Gereja tidak
dapat bertindak lain daripada itu. “Apabila seseorang datang kepada pendeta atau orang-orang yang
memegang jabatan kepercayaan dengan keluhan tentang seorang saudara laki-laki atau perempuan,
biarlah dia bertanya kepada si pelapor, ‘apakah Anda sudah menerapkan peraturan yang diberikan
Juruselamat kita?’ dan jikalau dia gagal menerapkan bagian mana pun dari petunjuk ini, janganlah
mendengarkan sepatah kata pun dari laporannya. Tolaklah laporan yang menentang saudaramu seiman
laki-laki dan perempuan. Kalau anggota-anggota jemaat melangkahi peraturan ini, mereka membuat diri
mereka sebagai hamba disiplin jemaat dan harus menempatkan mereka di bawah celaan gereja” (EGW
Manuscript 11, 1888).
4. Disiplin secara dini – namun dengan sabar. Seringkali orang yang melakukan dosa segera menyesal
kemudian. Dengan menghadapi dosa itu segera dia akan bertobat. Namun banyak pendeta dan jemaat
sebab mereka mendapati bahwa konfrontasi itu tidak enak, tidak melakukan apa-apa sampai beberapa
bulan atau beberapa tahun kemudian. Kemudian, seringkali orang itu minta dipindahkan keanggotaannya,
rekomendasi pemindahan disangkal sebab apa yang telah terjadi dulu. Gereja tidak mau bertindak ketika
dosa itu masih nyata sehingga merasa kecewa bertindak kemudian. Tindakan seperti itu membuktikan
bukan hanya pengabdian tetapi kurang mengampuni.
Sebaliknya, jangan dilakukan disiplin dengan tidak sabar. “Dalam menangani yang bersalah, janganlah
gunakan ukuran kekasaran, sarana yang lebih lembut akan berpengaruh lebih banyak. Setelah tidak
berhasil memakai sarana terbaik dengan sabar, tunggulah dengan sabar dan lihatlah apakah Allah
tidak menggerakkan hati orang yang bersalah itu” (sda).
5. Kenakan disiplin dengan sukarela. Kalau nampaknya disiplin itu tak terelakkan, kalau diberikan
kesempatan kepada si pelanggar, dia mungkin menarik diri dengan sukarela. Dalam keadaan demikian, ini
akan menghindarkan perbincangan umum mengenai permasalahan dan kekecewaan yang bersangkutan,
itu mengurangi rincian perbincangan. Seseorang yang dengan rela menari diri mengharapkan lebih sedikit
penolakan ketimbang ketika dia terpaksa melakukannya.
6. Mendisiplin tanpa memihak sebelah. Disiplin tidak pernah tergantung atas berapa banyak sahabat atau
berapa banyak kuasa yang dimiliki pelanggar di dalam gereja. Orang-orang yang terlibat dalam kasus
pelanggar atau berhubungan rapat dengannya haruslah dikeluarkan sewaktu memutuskan kasus itu. Ada
alasan baik bahwa hanya konferensi sidanglah yang membuat keputusan terakhir disiplin. Majelis jemaat
dapat tergoda memperlakukan mereka yang dari kelompoknya seenaknya. Pendeta hidup dengan
penggodaan yang terus-menerus memihak pada seorang yang telah meminta nasihat dan melawan orang
yang belum.
7. Lindungi kerahasiaan. Satu aturan main yang baik umumnya, “semakin besar jumlah, semakin sedikit
perincian.” Dalam pertemuan bisnis, anggota berhak menanyakan pertanyaan terperinci. Namun, biasanya
mereka akan membiarkan perincian yang menyakitkan berdiam bersama kelompok yang lebih kecil,
seperti ketua-ketua jemaat. Pendeta tentunya tidak menyendiri mengetahui cerita itu seluruhnya. Matius
18 menetapkan itu, bahwa antara konfrontasi satu lawan satu pertemuan dan pertemuan kelompok gereja,
haruslah ada pertemuan kelompok kecil, “supaya dengan kesaksian dua atau tiga orang saksi setiap kata
dapat dipastikan” (ayat 16).
Pengakuan umum ada pada tempatnya kalau pelanggaran itu sudah bersifat umum, tetapi gereja harus
menerima ini dalam roh pengampunan dan penerimaan gantinya hukuman. Perbincangan yang tidak
berhati-hati atau penyingkapan dapat menuntun kepada kesulitan hubungan etis yang legal. Hal ini dapat
disingkirkan jikalau peraturan gereja diikuti.
Pasal 29
KEUANGAN GEREJA
Memberi Cara Rohani
Perlu mengumpulkan uang. – Pendeta pada dasarnya yaitu pemimpin rohani, menggembalakan kawanan
domba itu. Kebanyakan merasa senang memberi makan domba-domba, tetapi sebagian berbicara dengan
remah “menggunting bulunya.” Mereka mau memberi kepada mereka, bukan mengambil dari mereka,
sebab kepedulian mereka yang pertama ialah kesehatan kawanan domba mereka. Namun, domba yang
tidak digunting bulunya tidak sehat. Mereka memelrukan bulu, tetapi terlalu erat dan terlalu panas jika
terlalu tebal. Pendeta harus mengumpulkan dana, tetapi mereka harus melakukannya demi kesehatan
rohani anggota-anggotanya, bukan hanya membiayai program. Mencari dana untuk mendukung program
gereja yaitu salah satu masalah besar yang dihadapi pendeta. Nomor dua dari itu ialah mencari para
penyandang dana sukarela yang cukup jumlahnya. Seringkali sakit kepala masalah keuangan yaitu
gejala dan bukanlah masalah utama. Jikalau kesulitan keuangan berlangsung terus menerus, itu biasanya
cara yang digunakan mengoreksinya ialah mengobati gejala bukan masalah itu sendiri.
Pendeta yang tidak memiliki naluri bisnis yang kuat harus bersandar pada anggota-anggota yang
berpikiran bisnis untuk menangani gereja. Pendeta harus selamanya mengambil alih peranan
mengumpulkan dana. Namun ada tanggung jawab yang dia tidak dapat elakan yaitu latihan penatalayanan
dan pendidikan – satu kebutuhan yang mutlak, bukan hanya untuk kestabilan keuangan gereja, tetapi
untuk pertumbuhan kerohanian anggota-anggotanya.
Cara pengumpulan dana yang salah. – Memberi untuk menerima. Cara pengumpulan dana yang berpusat
pada uang boleh saja kelihatan produktif dalam jangka waktu singkat, tetapi sebenarnya lebih banyak
mendorong kekikiran ketimbang kerelaan. “Kita tidak bermaksud menimbulkan nafsu selera atau usaha
semacam hiburan sebagai bujukan bagi pengikut Kristus terkenal untuk memberikan dana yang
dipercayakan Allah kepada mereka. Jikalau mereka tidak memberikan dengan rela demi kasih kepada
Kristus, pemberian itu bagaimanapun tidak berkenan di hati Allah” (WM 289).
Memberikan proyek. Walaupun itu berguna dalam keadaan darurat, pengumpulan dana melalui proyek
bergantung terlalu banyak pada pembicaraan berkesinambungan tentang uang, dan tidak menyediakan
kelanjutan dukungan financial yang tergolong memberi cara sistematis. Rencana sumbangan tahunan
memastikan kepemimpinan keuangan gereja yang sehat. “Memberikan panggilan darurat bukanlah
rencana sehat mengumpulkan dana” (3T511).
Keharusan lahiriah. Pengumpulan dana melalui paksaan bagaimana pun, secara umum atau pribadi, itu
tidak berterima untuk sebuah gereja. “Memberikan dengan teratur seharusnya tidak dibuat keharusan
yang teratur. Pemberian sukarela sajalah yang diterima oleh Allah. (SDA. Hlm. 396).
Cara pengumpulan dana yang benar. – Prinsip penatalayanan Kekristenan didasarkan secara Alkitabiah.
Alkitab mengajar kita untuk melihat kehidupan sebagai satu kesempatan yang diberikan Ilahi supaya
belajar menjadi setia terhadap hal-hal yang bersifat sementara, dengan demikian menunjukkan kesediaan
kita untuk penatalayanan yang lebih tinggi dalam hal yang abadi. Persepuluhan yaitu pengakuan
sementara akan kepemilikan Allah. Persembahan yaitu ukuran fisik kasih kita terhadap Allah dan
keinginan kita untuk melihat kemajuan pekerjaan-Nya. Para pendeta harus selalu memperkenalkan alasan
memberi selaku orang Kristen. Ada empat prinsip:
Alasan penginjilan. Orang akan memberi bilamana mereka memikirkan Injil. “Demikian pula Tuhan telah
menetapkan, bahwa mereka yang memberitakan Injil, harus hidup dari pemberitaan Injil itu” (1 Kor.
9:14). Biaya gereja harus dicukupkan oleh mereka yang hatinya sudah diubah, bukan sebab bujukan
manusia, tetapi oleh Injil–berita baik tentang Yesus.
Satu tindakan perbaktian. Orang akan memberikan jikalau mereka melihat perbuatan memberi itu satu
tindakan perbaktian. Pusat perbaktian dalam perjanjian lama bukanlah khotbah, doa dan nyanyian.
Contoh panggilan untuk berbakti kalah “Marilah kita mengadakan korban untuk Tuhan Allah kita” (baca
Kel. 3:18; 5:3,8; 8:27; 10:25). Jikalau umat memiliki sikap yang salah dalam memberi, barangkali itu
terjadi sebab para pendeta tidak menolong mereka supaya memahami hubungan vital antara korban dan
perbaktian.
Menunjang sebuah misi. Orang akan memberikan jikalau gereja mereka memiliki misi. Jikalau sebuah
gereja memiliki satu program yang melibatkan anggota-anggotanya, mereka akan membayarnya.
Sebagaimana seorang mengatakan, “Saya tidak peduli memasukkan bahan bakar ke dalam mobil saya
jikalau bepergian ke satu tempat, tetapi saya tidak mau memboroskan uang saya hanya supaya mesinnya
hidup dan tetap di halaman rumah.”
Satu rencana secara teratur. Orang akan memberi jikalau gerejanya memiliki rencana persembahan.
Program mereka yang terbaik biasanya mencakup seseorang mengunjungi setiap rumah setiap tahun
untuk menerangkan rencana persembahan secara teratur dan yang membutuhkannya, dan mengajak
supaya berpartisipasi. Anggota mungkin saja memasukkan kartu janji pada hari Sabat. Kartu janji ini
dapat diambil di rumah, tetapi anggota bisa merasa tertekan. Ini dapat dilakukan dengan mengirimkannya
melalui pos, hanya cara ini tidak menjamah pribadi dan kesempatan untuk diskusi.
Rencana panjang penatalayanan gereja harus mencakup petunjuk atas surat-surat pribadi, mungkin oleh
direktur pengawasan harta benda di Konferens atau Daerah. Para anggota harus di dorong untuk
mempercayakan sebagian uangnya kepada gereja.
Mengatur Uang Gereja
Di atas semua anggota, pendeta harus menyadari bahwa uang yang dipersembahkan kepada Allah
haruslah diatur dengan cara yang disetujui-Nya. Kalau haruslah diatur dengan cara yang disetujui-Nya.
Kalau anggota merasa bahwa uang gereja tidak diatur dengan baik, maka menurunlah persembahan.
Sebaliknya, kalau terlihat pendeta selaku seorang penatalayanan yang cakap, kepercayaan dan
persembahan akan meningkat.
Pengawasan Intern. – Pengawasan intern menyediakan satu sistem pengecekan dan neraca untuk
menghindari pencurian. Satu sistem pengawasan intern yang baik mengurangi risiko pencurian modal,
atau menjauhkan penggodaan yang tak perlu, memperbaiki ketepatan catatan keuangan, dan melindungi
bendahara dan pendeta dari tuduhan palsu.
Setiap persembahan harus dihitung oleh dua orang dan dicatat masing-masing secara terpisah. Semua
uang harus melalui pembukuan bendahara. Jangan pernah “pinjam dari persembahan. Semua pembayaran
harus disertai permohonan tertulis yang menerangkan maksud dan tujuan pinjaman, diambil dari dana
mana, dan kepada siapa itu dibayarkan.
Bendahara Gereja. – Bendahara haruslah lebih sering menerima penghargaan dan lebih jarang diganti.
Pekerjaan sebagian pimpinan gereja menghadapi umum, tetapi pekerjaan seorang bendahara hampir tidak
kelihatan, dan sering kali dilupakan.
Tanggung jawab bendahara yang pertama ialah terhadap majelis gereja, bukan kepada pendeta jemaat.
Majelis dapat memutuskan dana tertentu yang digunakan atas prakarsa pendeta, tetapi pendeta tidak harus
menekan bendahara memberikan uang kepadanya tanpa persetujuan majelis gereja. Ini tidak adil dan
tidak etis. Pendeta yang baik tidak meminta, dan kalau dia meminta, bendahara yang baik tidak akan
memberikannya.
Penyediaan anggaran belanja. – Program tahunan perencanaan gereja harus mendahului penyediaan
anggaran belanja tahunan. Ini melindungi anggaran belanja “pelaksanaan rutin” yang memakai
program tahun lalu dan pendanaannya untuk menentukan program dan anggaran belanja tahun berikut.
Biasanya anggaran belanja sebuah gereja akan sama dengan 30 sampai 50 persen persepuluhan. Kalau
ada sekolah gereja, sekitar separuh dari jumlah anggaran belanja akan digunakan untuk pendidikan
Kristen.
Anggaran belanja ini harus diputuskan dalam rapat konferensi jemaat di mana semua anggota memiliki
kesempatan memberikan pandangannya dan menerima kepemilikan rencana itu. (Contoh anggaran
belanja gereja ada dalam Buku Peraturan Gereja).
Utang gereja. – Utang jangka panjang cenderung membawa kekecewaan bagi pendeta dan menjadi jalan
buntu bagi jemaat. Bagaimanakah satu gereja bergerak maju ke depan ketika kebanyakan dana
diperuntukkan bagi apa yang telah dilakukan di masa lalu?
PASAL 30
PROMOSI GEREJA
Banyak anggota dan sebagian pendeta yang siap tempur menghadapi apa saja dalam gereja yang berbau
promosi. Pendeta tidak mau tergolong “tukang promosi yang suci.” Namun tanpa promosi, persembahan
misi akan berkurang, evangelisasi gagal, bahkan pertemuan sosial tidak dihadiri. Yang dipromosikan
mendapat dukungan.
Masalahnya ialah apakah kita mempromosikan atau bagaimana caranya. Di sini ada lima saran bagaimana
membuang “rasa sakit” dalam mengadakan promosi:
1. Jadwalkan dalam kalender. – Setiap tahun, tinjau kembali program gereja di tahun lalu dan buatlah
rencana untuk tahun berikutnya. Berbincang-bincanglah dengan Majelis Gereja dan sediakan kalender
yang mencakup promosi utama dalam tahun ini. Biarlah jadwal itu diputuskan dalam Konferensi Jemaat
agar setiap anggota memiliki masukan dan kesempatan mengetahui apa yang akan terjadi.
Promosikan hanya satu promosi utama satu waktu. Setiap departemen pada setiap tingkat, termasuk gereja
lokal mau memakai pendeta dan jam khotbah untuk mempromosikan proyeknya. Anda perlu setia
terhadap semua program yang baik ini, tetapi Anda tidak memiliki waktu dan jemaat tidak memiliki
kesabaran untuk menekankan keinginan sponsor kepada setiap orang.
Promosikanlah dengan giat program yang Anda, gereja dan Konferens Anda prioritaskan terutama, dan
carilah jalan keluar untuk menyinggung yang lainnya dengan lembut. Sebagai contoh, beberapa gereja
hanya mengijinkan satu bahan promosi yang dikeluarkan setiap minggu, dan menyediakan yang lainnya
di atas meja di serambi.
2. Persingkatlah itu. – Promosi singkat nan padat menciptakan semangat yang lebih tinggi dan kepuasan
yang lebih dalam ketimbang yang lesu dan bertele-tele.
3. Jelaskan. – Banyak orang terjangkau lebih bersedia melalui penglihatan ketimbang pendengaran. Lebih
baik dipahami keterangan tertulis sebab dapat dibaca ulang. Bahan-bahan yang tertulis yang dimasukkan
ke rumah anggota menjadi peringatan seterusnya. Biarlah informasimu itu terlihat dalam buletin, berita
acara, bahkan dalam alat mencapai tujuan.
4. Sederhanakan. – Gunakanlah rencana Alkitab membagi anggota ke dalam pekerja kelompok kecil.
Anda selalu mempromosikan lebih baik dengan memakai sarana yang ada seperti kelas sekolah sabat
dari pada membentuk organisasi baru.
Sebagian promosi dapat memakai telepon. Para narapidana memerlukan layanan gereja dan
seseorang yang dapat diajak berbincang-bincang. Ajaklah mereka menghubungi setiap anggota dengan
telepon untuk mendapatkan pekabaran.
5. Pelihara sifat rohaniahnya. – Sabat pagi yaitu untuk kebaktian. Namun tugas gerejani bersifat alamiah
dan diperlukan pertumbuhan kebaktian. Promosi seharusnya tidak menjejali kerohanian kita, tetapi
penting juga terlibat dalam kegiatan gereja, yaitu penerapan praktis pengalaman rohani. Itulah yang
menggiatkan kebaktian.
Seharusnya pendeta itu tidak mengijinkan keluhan anggota untuk menghalangi mereka dari program
promosi. Kuatkanlah anggota itu supaya terlibat dalam tugas gereja atau doronglah mereka supaya maju
dalam misi rohani.
PASAL 31
Fasilitas Gereja
Bilamana Anda tiba di suatu gereja atau wilayah untuk pertama kalinya, hati-hatilah dalam menilai atau
mengeritik fasilitas gereja. Itu dibangun dengan usaha jemaat–bukan dengan usahamu. Bangunan yang
semakin tua, semakin lunturlah itu dengan kenangan kelahiran, baptisan, pernikahan, penguburan dan
pendewasaan kerohanian. Sampai Anda sadar akan sejarah suatu bangunan, Anda dapat memahami
mengapa anggota enggan merehab bangunan itu.
Nampaknya Anda akan pindah juga akhirnya, dan apa saja fasilitas gereja yang Anda tinggalkan akan
menjadi tetap ruang kebaktian anggota dan anak-anak mereka–kemungkinan besar akan membayarnya.
Kesemuanya ini yaitu argumentasi kuat untuk menghormati keinginan anggota untuk membaiki fasilitas
dan mempertahankan kedudukan seorang ketua jemaat yang sangat dihormati dalam memimpin komite
pembangunan.
Buku peraturan gereja berisi nasihat penting tentang pembiayaan fasilitas baru. Di sini ada usul praktis
tentang bangunan gereja.
Lokasi
Surat keberatan perumahan sebelumnya mencakup bangunan gereja dan sebagainya: “Dalam membangun
satu bangunan, ada tiga faktor kepentingan utama: yang pertama ialah lokasi, kedua ialah lokasi, dan
ketiga ialah lokasi.” Paling sedikit lima persoalan yang harus dipertimbangkan dalam menentukan lokasi
sebuah gereja.
1. Pemusatan dan Pencapaian. – Pelajarilah demografi. Apakah lokasi itu berpusat pada orang-orang yang
akan dimenangkan dan dilayani oleh gereja? Lokasi gereja harus lebih berpusat pada orang yang akan
dimenangkan ketimbang lokasi anggotanya yang melayani. Apakah lingkungan stabil, atau apakah orang-
orang akan berpindah sehingga demografi berubah? Bagaimana dengan sarana tranportasi?
Dari semua bangunan umum, barangkali bangunan gerejalah yang paling kurang dimanfaatkan. Lokasi
yang tepat akan membuat fasilitas gereja digunakan pada akhir pekan untuk pusat kegiatan harian, klinik
medis, seminar, konseling, dan sebagainya.
2. Jarak Penglihatan. – Sebuah bangunan yang menarik, kelihatan dari jalan utama yang sibuk, itulah satu
iklan positif yang abadi bagi gereja dan misinya.
3. Biaya. – Penghitungan biaya itu penting, tetapi hal ini dianggap sepele sehingga pembiayaan melebihi
semua yang lain. Tanah lokasi kurang berharga seringkali sebab tidak ada air, listrik, selokan, gas , jalan
dan sebagainya, yang belum siap pakai. Terlalu banyak gereja dibangun di tempat yang menyedihkan
sebab tanah itu disumbangkan atau dibeli dengan harga murah. Hampir sama harganya membangun
bangunan di atas tanah yang tidak memenuhi syarat dibandingkan dengan di atas tanah pilihan, mungkin
juga berharga hanya separuh dari harga setelah selesai dibangun.
4. Kurang bangunan.– Kalau terlalu sempit sangat tidak mungkin untuk pengembangan. Kalau terlalu
lebar sangat mahal untuk mengelolanya. Lahan yang tak terpakai bisa saja menyakitkan mata orang
banyak. Bagaimanakah rencana panjang jemaat itu? Apakah itu besar atau cukup kecil saja untuk
memulai jemaat baru dan mulai bertumbuh melahirkan jemaat baru? Perlukan nanti sebuah sekolah gereja
atau fasilitas lain di tempat yang sama?
5. Pembatasan.– apakah lahan itu diizinkan untuk pembangunan gereja? Apakah jelas pemilik dan
sertifikatnya? Kita telah kehilangan tanah bernilai jutaan dolar dalam sejarah singkat gereja kita sebab
keteledoran dalam pengurusan surat-suratnya. Para pendeta harus bekerjasama dengan Daerah atau
Konferensnya untuk memastikan kepemilikan semua tahan gereja di atas nama Legal Association yang
dimaksud untuk itu.
Rancangan
Ada empat pertanyaan yang harus ditanyakan sewaktu membuat fasilitas gereja.
1. Apakah itu menarik?– Gereja Advent menonjolkan kesederhanaan. Kami enggan membelanjakan uang
dari Daerah/Konferens untuk membangun bangunan megah. Pada saat yang sama kita menemukan bahwa
Allah mengatur peragaan indah yang istimewa dalam kaabah di pandang belantara dan nampaknya
memberkatinya lebih dari pada kaabah-kaabah perjanjian lama.
Bagaimanakah seharusnya pendeta itu menjawab sewaktu dihadapkan kepada dua pandangan yang jauh
berbeda itu sewaktu memimpin jemaat dalam merencanakan fasilitas gereja? Ellen White menawarkan
nasihat yang seimbang: “Apakah mereka yang siap mengritik rumah perbaktian ini telah
mempertimbangkan untuk rumah ini dibangun? Bahwa itu dibangun khusus menjadi rumah Allah, untuk
ditahbiskan bagi-Nya; menjadi satu tempat pertemuan jemaat dengan Allah?...
“Banyak anggota kita berpandangan sempit. Keteraturan, kebersihan, selera, dan kesesuaian digolongkan
kepada kesombongan dan cinta akan dunia. Pemikiran ini salah. Kesombongan yang sia-sia, hiasan-
hiasan yang terlalu mencolok dan hiasan yang tidak perlu, itu tidak menyenangkan hati Tuhan. Tetapi Dia
yang telah menciptakan satu dunia indah bagi manusia, dan menempatkan sebuah taman indah di Eden
dengan bermacam-macam pepohonan untuk buah dan keindahan, Dia yang telah menghiasi bumi dengan
bunga-bunga yang indah dari segala macam corak dan warna, telah memberikan bukti yang nyata bahwa
Dia merasa senang dengan yang indah” (2T257, 258).
2. Apakah itu berfungsi?– Untuk fungsi yang lain apa bangunan itu selain kebaktian sabat pagi?
Cukupkah dipersiapkan dengan sederhana untuk pertemuan sosial dan jangkauan keluar begitu juga
kebutuhan anak-anak dan orang muda? Arsitek yang cakap akan menyelamatkan sejumlah uang gereja
lebih besar dari pada honornya dengan merancang sebuah bangunan yang indah dan berfungsi serba guna.
3. Apakah isinya dapat diatur dengan mudah?– Tempat duduk haruslah dapat di pindah-pindahkan.
Bangku yang tak dapat di pindah dan lantai yang miring menyulitkan penggunaan ruangan untuk kegiatan
kelompok kecil. Tempat duduk koor yang tinggi menghalangi penggunaan tempat itu untuk keperluan
lain.
Besar ruangan harus dapat disesuaikan. Kelompok kecil dalam sebuah ruangan besar akan mengurangi
semangat dan menjadikan pertemuan itu seperti satu kegagalan. Semangat pertemuan sangat digairahkan
dengan keseimbangan besarnya ruangan dengan jumlah orang yang berkumpul. Ruang kebaktian yang
ideal memiliki bagian yang dapat dibuka dan ditutup tergantung banyaknya yang berbakti. Haruslah
disediakan ruangan yang lebih kecil untuk kelompok yang lebih kecil. Biasanya ini dua kali lebih luas
dari ruangan kelompok belajar.
Suara dapat diatur. Musik dan khotbah cenderung bersaing satu dengan yang lain dalam kebutuhan
masing-masing. Akustik harus hidup-hidup agar musik jelas dan orang dapat menyanyi dengan baik,
namun begitu mati agar khotbah tidak bergema. Sistem pembesaran suara yang baik menambah
fleksibilitas.
4. Apakah pertemuan itu akrab?–Sampai beberapa tahun belakangan ini, ruangan gereja cenderung
menjadi panjang dan sempit seakan-akan memisahkan seorang pemuja dari yang lain dan dari pemimpin
acara kebaktian. Seorang pendeta mengumpakan hasil kerja pengkhotbah itu kepada seorang pesaing
sedang duduk di pinggir satu sungai dan mencoba memenangkan hati seorang gadis di pinggir seberang
sambil meneriakkan cintanya dengan nada tinggi.
Persekutuan yaitu sebagian dari kebaktian, orang-orang berhimpun dekat satu dengan yang lain bersama
Allah. Secara ideal, ruang kebaktian harus dibentuk begitu rupa agar para pemuja dekat satu dengan yang
lain, dan dekat dengan pemimpin kebaktian jika tidak mungkin dikelilingi.
Mimbar itu biasanya ditempatkan di tengah-tengah rostrum untuk mengesankan bahwa mengkhotbahkan
firman itu yaitu pusat pekabaran Advent dan perbaktiannya.
Perawatan
Kebanyakan gereja yang tidak menarik yaitu tidak menari, bukan sebab bangunannya sudah tua dan
tidak baik, tetapi sebab tidak dipelihara. Kenecisan, kebersihan, dan dekorasi bagian dalam tidak mahal.
Sangat menakjubkan betapa besar perbedaannya kalau bangunan itu dicat.
Jemaat dapat menjadi begitu betah tinggal di dalam lingkungan gereja sehingga mereka tidak lagi
memperhatikan kekurangannya. Para diaken dan pimpinan gereja lainnya seharusnya secara berkala
meninjau bangunan seakan-akan mereka yaitu pengunjung yang mendapat ilham pertama kali. Daftar
pengecekan dapat meningkatkan penilaian tentang pekarangan, merk, cat luar, serambi, dekorasi bagian
dalam, perlindungan terhadap kebakaran, dan sebagainya.
Tentu saja fasilitas gereja diasuransikan sesuai dengan peraturan daerah atau konferens. yaitu
kesombongan kalau mengharapkan perlindungan Allah sekalipun kita malas.
Penyewaan
Penyewaan gedung kita kepada gereja atau organisasi lain seharusnya dilakukan dengan hati-hati.
Penyewaan seperti itu dapat menimbulkan kesalahpahaman, penggunaan bangunan yang berlebihan, dan
selalu menambah biaya pemeliharaannya. Pemimpin sekolah sabat semakin tidak sabar melihat tamu-
tamu mengatur ruangan mereka. Para anggota boleh saja tidak menyukai perbedaan cara perbaktian dan
pekabaran khotbah. Jemaat yang menyewa bangunan gereja tanpa kecuali hampir kecewa untuk
meningkatkan pendapatan tambahan.
Namun, jikalau gereja lain kehilangan ruang kebaktian mereka, sehingga mereka menyewa gereja Anda
untuk sementara, mungkin itulah cara kekristenan yang dilakukan. Kalau Anda menyewa, masukkanlah
setiap bagian persetujuan ke dalam dokumen yang paling tepat sedapat mungkin, untuk menolong
menghindari rasa sakit hari di kemudian hari. Daerah atau konferens boleh mempertahankan bahwa
merekalah yang mengesahkan dokumen ini.
PASAL 32
Pendidikan Kristen
Pentingnya Pendidikan Kristen
Telah disebutkan mengenai Michelangelo bahwa ia dapat melihat pada satu blok batu marmer dan
menemukan di sana satu bentuk malaikat menunggu untuk dilepaskan. Para pendeta juga harus mampu
melihat dengan cara yang sama pada anak-anak jemaat mereka.
Apa yang dilakukan gereja terhadap anak-anak mereka yaitu hal yang sangat penting bagi
Kristus. Ia mengajarkan, “Barangsiapa menyesatkan salah satu dari anak-anak kecil yang percaya ini,
lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya lalu ia dibuang ke dalam laut”
(Mark. 9:42).
Ellen White menulis kepada gereja, “Dalam pengertian yang paling tinggi pekerjaan pendidikan
dan pekerjaan penebusan yaitu satu” (Education, hlm. 30). “Di mana terdapat beberapa orang
pemelihara hari Sabat, maka orang-orang tua harus bersatu untuk menyediakan satu tempat untuk sekolah
di mana anak-anak dan orang muda mereka bisa diajar” (Testimonies, jld. 6, hlm. 198). Tidak heran
Gereja Advent mendirikan lebih dari 5,000 sekolah di lebih dari 100 negara – salah satu program
pendidikan yang terbesar dari denominasi Protestan manapun.
Usul-usul yang praktis
1. Adakan satu Sabat pendidikan Kristen setiap tahun. – Tidak lama sebelum tahun ajaran mulai,
pusatkanlah seluruh acara perbaktian pada pendidikan Kristen. Undanglah guru-guru sekolah gerejamu ke
mimbar dan lakukanlah doa penyerahan khusus bagi mereka. Jika diinginkan, anak-anak sekolah gereja
dan orang-orang tua mereka bisa dimasukkan dalam doa penyerahan itu. Juga bisa diadakan doa
penyerahan untuk anak-anak muda yang mau pergi ke sekolah berasrama. Bahkan walaupun engkau tidak
memiliki sekolah gereja, engkau masih bisa mempromosikan pentingnya pendidikan Kristen.
2. Dukunglah guru-gurumu. – Para pendeta dan para guru bermitra dalam pelayanan. Para
pendeta harus terlibat dalam urusan sekolah, tetapi tidak boleh mencampuri atau menolak program guru.
Orang-orang tua dalam sekolah gereja kadang-kadang merasa memiliki otoritas istimewa atas
guru-guru.
---
(Footnote): Untuk mengetahui lebih jauh mengenai falsafah pendidikan Kristen Advent, dan untuk
menolong menjalankan sebuah program sekolah, lihat Peraturan Jemaat bab 8.
--
Uang sekolah yang mereka bayar digunakan untuk membayar gaji guru-guru. Beberapa dari
mereka duduk dalam dewan sekolah yang menggaji guru-guru. Sebagai anggota gereja, mereka merasa
bahwa seoklah itu yaitu milik mereka. Pendeta, bersama-sama dengan dewan sekolah, harus melindungi
guru-guru dari gangguan orang-orang tua murid. Dan pendeta memiliki peran rangkap sebagai pendeta
dan juga sebagai orang tua.
Bilamana sekolah berasrama mengembalikan seorang siswa sebab terkena disiplin, janganlah
ambil kata-kata siswa itu atau kata-kata orang tuanya sebagai satu-satunya yang benar mengenai apa yang
terjadi di sekolah. Mintalah respons sekolah sebelum memutuskan apa sebenarnya yang terjadi.
3. Gunakanlah waktu di sekolah. – Ikutilah kebaktian bersama, mungkin sekali seminggu.
Buatlah jadwal supaya engkau kadang-kadang ikut bermain di tempat bermain. Engkau bisa bergaul lebih
rapat dengan para guru dan siswa di sana. Jika engkau memiliki kebolehan dalam atletik, kehormatan
yang engkau peroleh di tempat bermain akan berdampak pada pekabaran yang engkau sajikan di kelas
maupun di mimbar. Keberhasilanmu mengubah sikap orang terhadap Yesus tergantung lebih besar pada
apa yang engkau pikirkan pada waktu mengatakannya dari pada apa yang engkau katakan mengenai Dia.
4. Pertimbangkan tempat penitipan anak. – Banyak orang tua mencari tempat yang memenuhi
syarat dan dapat dipercaya untuk tempat menitipkan anak-anak mereka sementara mereka pergi bekerja.
Gerejamu mungkin sudah memiliki fasilitas yang bisa digunakan untuk tujuan ini, atau program ini
bisa digabungkan dengan sekolah gereja. Proyek ini bisa menjadi sarana evangelisasi; engkau mungkin
bisa memenangkan orang tua anak itu bagi Kristus melalui persahabatan yang baik. Dan juga anak-anak
itu bisa melanjutkan pendidikannya di sekolah gereja itu.
5. Pertimbangkan pendidikan agama tambahan. – Orang-orang Advent lebih menyukai
menjalankan sendiri sekolah mereka. Bilamana hal ini tidak memunmgkinkan, pertimbangkanlah
beberapa program yang terstruktur, yang menghimpun anak-anak bersama-sama sebelum sekolah,
sesudah sekolah atau pada akhir-akhir minggu untuk mendapatkan pelajaran Alkitab dan asuhan
kerohanian, yang akan mereka terima seandainya ada sekolah gereja di tempat itu.
BAGIAN EMPAT
Pelayanan Khusus Pendeta
33. Baptisan
34. Penyerahan Anak
35. Peresmian Gereja
36. Perjamuan Kudus
37. Penguburan
38. Peletakan Batu pertama
39. Pemberkatan rumah
40. Pengurapan pendeta baru
41. Mendoakan (meminyaki) yang sakit
42. Pernikahan
PASAL 33
Baptrisan
Pentingnya Baptisan
Baptisan bukan hanya melambangkan kematian Kristus bagi kita, tetapi juga
kematian kita atas dosa dan hidup baru di dalam Dia. Baptisan menegaskan masuknya
kita menjadi anggota keluarga Allah, dan mengasingkan seseorang kepada hidup
pelayanan.
Baptisan satu peristiwa besar. – Penelitian telah menunjukkan bahwa laju tetap
tinggalnya anggota baru di dalam gereja berbanding langsung dengan penerimaan gereja
setempat pada mereka. Untuk menciptakan suatu kenang-kenangan manis bagi calon-
calon baptisan mengenai komitmen mereka kepada Kristus dan untuk memaksimalkan
proses ikatan persaudaraan antara mereka dan keluarga gereja, maka baptisan haruslah
dibuat menjadi satu peristiwa besar dalam hidup gereja.
Untuk alasan yang sama, baptisan untuk anak-anak gereja juga janganlah kurang
kesungguh-sungguhannya dan semaraknya dari baptisan calon-calon dari luar gereja.
Baptisan yaitu ritual penerimaan anak-anak ke gereja. Mungkin mereka sudah
dibesarkan di dalam gereja sehingga mereka dianggap tidak begitu penting oleh sebab
mereka hanyalah anak-anak. Tetapi dengan baptisan itu mereka mengharapkan agar
mereka juga diperlakukan sedikit sama dengan orang-orang dewasa, seolah-olah mereka
benar-benar berarti bagi gereja. Jika gereja tidak merasa penting baptisan anak-anak itu,
maka tidak berapa lama anak-anak itu juga akan merasa bahwa gereja tidak penting bagi
mereka.
Biasanya kita mau agar keluarga dan sahabat-sahabat kita hadir pada peristiwa-
peristiwa penting dalam hidup kita. Mereka juga harus diundang untuk menghadiri
baptisdan seseorang. Sebagian gereja mengirimkan undangan yang dicetak seperti
layaknya undangan pernikahan dengan kata-kata seperti “Bagi orang-orang Kristen,
baptisan Alkitab menunjukkan hidup baru – permulaan yang baru. Sama seperti
pernikahan melambangkan penyatuan hidup manusia, demikianlah baptisan
melambangkan penyatuan kita dengan Yesus dan keluarga gereja-Nya. Dengan hormat
Bapa/Ibu/Sdr(i) diundang untuk menyaksikan perayaan khidmat pembaharuan hidup
___________________.” Nama-anak-anak, diikuti oleh waktu dan tempat baptisan
diadakan, dituliskan dengan tulisan tangan. Dengan demikian satu cetakan undangan bisa
sesuai untuk semua calon baptisan. Calon-calon baptisan didorong untuk mengundang
keluarga dan teman-teman mereka dan kartu undangan diberikan sebanyak yang mereka
butuhkan.
Baptisan yaitu suatu peristiwa lokal. – Idealnya, baptisan haruslah menjadi
peristiwa gereja setempat. Dapat dimengerti, jika para pemimpin konferens/daerah begitu
antusias mengenai baptisan yang diadakan pada pertemuan perkemahan atau perkemahan
pemuda. Mereka ingin melihat buah dari usaha mereka. Orang-orang cenderung
menyukai baptisan masal sebagai hasil dari suatu kebaktian kebangunan rohani, dan
mungkin di sanalah tempat mereka dibaptiskan. Namun, sayangnya baptisan yang
dilakukan jauh dari gereja setempat kadang-kadang gagal mengikat anggota baru dengan
gereja di mana mereka bergabung.
Dalam hal pemuda gereja, bilamana mereka dibaptiskan di tempat lain, kadang-
kadang hal itu bisa dianggap suatu pelecehan kepada pendeta gereja setempat, sekolah
Sabat atau guru sekolah gereja, atau pemimpin Pathfinder yang telah menghabiskan
banyak waktu menolong mereka mengenal kasih Yesus.
Pada waktu baptisan, dibuat dua komitmen (janji). Para calon baptisan berjanji
menyerahkan diri mereka kepada Kristus dan kepada gereja-Nya. Gereja berjanji untuk
mengasihi, bersahabat, melindungi, dan melatih para calon baptisan itu. Oleh sebab pada
waktu baptisanlah komitmen ini dibuat, maka para calon baptisan dan gereja harus hadir
bersama-sama pada peristiwa itu. Sebagaimana kelahiran jasmani, yaitu paling baik jika
keluarga yang akan membesarkan bayi itu hadir pada waktu ia dilahirkan.
Bilamana baptisan dilakukan sebagai bagian dari kebaktian hari Sabat, acara baptisan
harus diberikan keutamaan, jangan hanya sebagai acara tambahan saja yang dilakukan
dengan tergesa-gesa. Bilamana baptisan dilakukan sebagai acara terpisah, maka baptisan
harus didahului oleh amanat singkat mengenai arti dari baptisan itu. Di antara
menyelamkan seseorang calon baptisan, yaitu baik diperdengarkan musik instrumental
atau paduan suara. Anggota gereja juga boleh menyanyi bersama, dengan demikian
mereka memainkan peran yang lebih aktif dalam peristiwa itu.
Baptisan yaitu peristiwa yang sering terjadi. – Baptisan kecil yang dilakukan
sering-sering yaitu lebih baik daripada baptisan besar yang kadang-kadang dilakukan,
oleh sebab :
1. Hal ini memelihara semangat memenangkan jiwa yang terus-menerus seluruh
anggota gereja.
2. Buah harus dipetik kalau sudah matang, tidak boleh dibiarkan sampai lama.
3. Setiap baptisan mendorong seseorang yang ikut menyaksikan untuk
mengambil langkah yang sama.
Sementara engkau merencanakan programmu untuk sepanjang tahun, tetapkanlah dan
umumkan setiap bulan atau paling sedikit setiap triwulan tanggal baptisan yang sudah
direncanakan. Para diakon dan diakones yang mempersiapkan segala sesuatu untuk baptisan
itu akan menghargai pemberitahuan itu.
Otorisasi untuk membaptiskan. – Buku Peraturan Gereja pada halaman 48
menetapkan, “Jika ntidak ada pendeta yang diurapi, maka ketua akan memohon pada ketua
konferens setempat untuk melaksanakan baptisan ritual baptisan bagi mereka yang ingin
bergabung dengan jemaat.” Ketua jemaat setempat tidak boleh membaptiskan, walaupun
dalam keadaan luar biasa, tanpa terlebih dahulu mendapat izin dari ketua konferens/daerah.
Sebelum Baptisan
Fasilitas baptisan. – Bak baptisan yang terbuat dari beton sering retak. Bak logam
berkarat, kecuali dilap kering setiap kali selesai digunakan. Mungkin yang paling ideal yaitu
bak baptisan yang terbuat dari fiberglass. Sudut-sudut dan tiang-tiang pondasi harus kuat
untuk menahan berat air yang besar. Di mana air sulit didapat, maka drum (tong) bisa
digunakan.
Air haruslah hangat jika mungkin. Dinginnya air yang tiba-tiba bisa membuat
seorang calon baptisan yang gelisah menghisap air ke lubang pernafasannya. Sebagian
metoda pemanasan akan membiarkan air di dasar bak tetap dingin kecuali air itu dikocok.
Jika memakai mikrofon, harus dijauhkan dari jangkauan mereka yang ikut
mengambil bagian, yang berada dalam bak. Shock listrik bisa berakibat fatal bagi seseorang
yang berdiri di dalam air. Mikrofon harus dimatikan selang satu baptisan supaya pendeta bisa
berbisik kepada calon baptisan dan membuatnya tenang.
Baptisan di luar gedung memberikan kesaksian evangelisasi yang efektif kepada
publik. Namun, pastikan bahwa air tidak tercemar. Bilamana membaptiskan di sungai,
baptiskanlah dengan kepala calon baptisan ke arah hulu. Dengan demikian arus air akan
mendorong orang itu ke arahmu dan bukan menjauh dari padamu.
Orang yang cacat bisa dibawa ke dalam air dan bahkan dicelupkan ke dalam air
sementara ia duduk di atas kursi, apakah baptisdan itu dilakukan di dalam gedung atau di luar
gedung. Dalam keadaan darurat medis yang ekstrim, ritual ini bisa dilakukan di rumah atau
di rumah sakit. Dalam salah satu situasi seperti itu Ellen White menasihatkan, “Persiapan
khusus harus dilakukan untuk memenuhi permintaan orang yang sudah tua untuk dibaptiskan.
Ia tidak cukup kuat untuk pergi ke ______ atau ke _____ dan jalan satu-satunya di mana
ritual itu bisa dilakukan ialah dengan menyediakan sebuah bak mandi dan menuntunnya ke
dalam air” (Evangelism, hlm. 315).
Pembantu-pembantu dalam baptisan. – Para diakon biasanya menyediakan tempat
untuk baptisan dan membantu calon baptisan pria. Para diakones menyediakan gaun dan
membantu para calon baptisan wanita. Gaun-gaun harus diperiksa secara teratur untuk
memastikan tidak ada tali pengikatnya yang putus dan tidak jahitannya yang terlepas.
Pembantu-pembantu perlu bukan hanya kompeten, tetapi juga harus ramah dan perhatian,
mampu mendorong dan menghibur calon baptisan yang gelisah atau takut.
Jika tempat pembaptisan tidak memiliki tirai, sebuah selimut atau seprei harus
dibungkukan ke orang-orang yang dibaptiskan pada waktu mereka keluar dari dalam air.Gaun
yang tebalpun bisa tergantung dengan cara yang tidak sopan dan menunjukkan gambar
baptisan yang diselamkan yang patut disayangkan, terutama bagi keluarga yang bukan
Kristen dan teman-teman yang hadir. Selimut itu juga akan memberikan kehangatan dan
menghindarkan menggigil sebab dingin atau takut. Para diakon atau diakones boleh
memeras bagian bawah dari gaun sebelum orang yang dibaptis itu keluar dari dair, lalu
membawa mereka ke tempat khusus, dan menyuruh mereka masuk ke kamar mandi di mana
mereka melepaskan gaun baptisan mereka. Dengan berbuat begini akan mengurangi licinnya
lantai dan lebih mudah membersihkannya.
Bilamana seorang anggota atau pembantu pendeta menjadi alat yang khusus untuk
memenangkan jiwa, undanglah orang itu untuk membantu calon baptisan masuk ke dan
keluar dari tempat pembaptisan, sehingga dengan demikian memainkan bagian yang penting
dalam baptisan.
Pakaian baptisan. – Jika memungkinkan, gereja harus menyediakan pakaian
baptisan yang sesuai dengan kebudayaan setempat seperti gaun. “Di setiap gereja harus
disediakan gaun baptisan bagi calon-calon baptisan. . . . Gaun harus dibuat dari bahan yang
kuat, yang berwarna agak gelap, yang tidak rusak oleh air, dan harus ada pemberat di bawah.
Buatlah gaun yang rapi dan berpotongan baik, dibuat dengan patron yang dapat diterima.
Janganlah diberi hiasan-hiasan, dan jangan berkerut” (Ibid, hlm. 314).
Perhatikan bahwa dianjurkan gaun yang berwarna gelap. Oleh sebab warna putih
lebih menampakkan bagian badan kalau basah, maka gaun yang berwarna putih harus
berlapis dua. Bahan yang tebal lebih sopan. Pemberat di lipatan bagian bawah mencegah
terjadinya hal yang memalukan oleh sebab bagian bawah gaun mengapung pada waktu
memasuki air.
Jika memakai gaun, para calon baptisan harus membawa memakai pakaian
dalam. Pakaian berenang tidak begitu nampak di bawah gaun, oleh sebab itu pakaian mandi
cukup ideal. Sebagian orang ingin memakai stocking dan topi mandi. Saputangan atau
handuk kecil untuk menutupi hidung waktu diselamkan dan handuk untuk mengeringkan
harus disediakan jika gereja tidak menyediakannya. Jika gaun baptisan tidak ada tersedia,
maka calon baptisan dianjurkan membawa pakaian pengganti, supaya sesudah ia dibaptiskan
dengan memakai pakaiannya, ada pakaian lain untuk pengganti.
Jika memungkinkan, bot pemancing ikan, yang mulai dari kaki sampai ke bawah
ketiak, yaitu pakaian yang ideal bagi pendeta yang membaptiskan. Dengan demikian
pendeta tidak perlu membawa pakaian pengganti ke gereja, dan waktu berganti pakaian akan
jauh lebih cepat. Pendeta hanya membuka jasnya dan sepatu, menggulung lengan baju, masuk
ke dalam bot dan memakai gaun. Pendeta bisa membuka gaun dan botnya serta memakai
jasnya tidak lebih lama dari anggota gereja menyanyikan sebuah lagu. Namun, pastikan
bahwa bot itu sampai ke bawah letiak, kalau tidak, pada waktu menyelamkan calon baptisan
air bisa masuk ke dalam bot.
Menenangkan calon baptisan. – Kalau perlu, calon baptisan boleh mengikuti gladi
resik “di tempat kering” sebelum pembatisan mereka. Terangkanlah prosesnya dan tunjukkan
kepada mereka bagaimana pendeta memegang mereka. Yakinkan calon baptisan yang
badannya berat bahwa mereka akan ringan di dalam air. (Jika calon baptisan lebih besar
daripadamu, gunakanlah air dalam.) yaitu bijaksana untuk memberitahukan kepada para
calon baptisan gara supaya mereka tidak berbicara selama pembaptisan, bahwa engkau yaitu
orang yang bertanggungjawab dalam pelaksanaan baptisan, dan mereka tidak perlu repot-
repot mengingat-ingat sesuatu. Detil-detil keterangan mengenai menahan nafas,
membengkokkan lutut, dan sebagainya, barangkali terlalu berlebihan. Doronglah para calon
baptisan untuk memusatkan perhatian mereka hanya pada komitmen kerohanian dan
menyerahkan kepadamu untuk mengurus semua detil-detil jasmaniah.
Memeriksa dan menerima ke dalam keanggotaan. – Para pendeta, para evangelis,
atau para pekerja Alkitab jangan memeriksa sendiri calon baptisan mengenai pengetahuan
doktrin mereka. Pemeriksaan di hadapan umum akan meyakinkan gereja bahwa calon
baptisan itu sudah diperiksa dengan semestinya. Sebaliknya, memeriksa doktrin secara
mendetil kedengarannya ganjil kepada para tamu, oleh sebab pemeriksaan itu sebenarnya
yaitu formalitas dan biasanya tidak seorangpun ingin menyuarakan keberatannya di depan
umum pada waktu itu. Penilaian terbatas mengenai komitmen kerohanian para calon baptisan
bisa dilakukan oleh majelis gereja, para ketua atau kelompok kecil lainnya yang ditunjuk oleh
gereja. Para pendeta dan para evangelis harus mengingat bahwa mereka yaitu datang dan
pergi. Para anggota baru harus disetujui dan disambut oleh para anggota gereja, yang akan
tinggal bersama-sama dan memelihara mereka. (Lebih jauh mengenai mengajar dan
memeriksa anggota baru, lihat bab 23; juga Peraturan Gereja.)
Pemungutan suara (voting) untuk menerima anggota baru ke dalam keanggotaan
gereja bisa dilakukan sebelum atau sesudah pembaptisan. Jika dilakukan sebelum baptisan,
maka pemungutan suara itu harus dengan syarat sesudah dibaptiskan. Litani (bacaan
bersahutan) singkat bisa dilakukan dengan efektif:
Pemimpin: Apakah engkau sebagai jemaat membuka hatimu, keluargamu, sumber-
sumber daya kerohanian dan emosimu kepada anggota keluarga yang baru ini pada hari ini?
Anggota jemaat: Kami akan membuka.
Semua: Sekarang kita semua yaitu anggota tubuh Kristus. Kamu sekarang yaitu
Saudara dan Saudari kami. Allahlah bapamu dan bapa kami. Yesus yaitu saudaramu dan
saudara kami. Roh Kudus yaitu penghibur dan pemelihara kita bersama. Kami menerima
kamu dan merayakan penerimaan kamu ke dalam keluarga Allah.
Para calon anggota boleh diminta datang berdiri di depan para anggota jemaat pada
waktu pemungutan suara diulakukan. Sesudah pemungutan suara, pendeta dan ketua-ketua
jemaat setempat yang duduk di mimbar, biasanya turun ke para anggota baru untuk
menyerahkan surat keterangan baptisan, dan atas nama para anggota jemaat memberikan
salam persekutuan menyambut mereka ke dalam keluarga gereja.
Pada waktu pembaptisan
Jika anggota keluarga yang sama akan dibaptiskan pada hari itu, yaitu baik bagi
mereka untuk masuk ke dalam air pada waktu yang sama. Bapa, sebagai pemimpin rohani
rumahtangga, biasanya dibaptiskan lebih dahulu.
Memperkenalkan calon baptisan. – Sementara para calon baptisan memasuki tempat
pembaptisan, pastikan bagian bawah gaun baptisan tidak mengapung. Kemudian, sebelum
engkau berbicara kepada jemaat, taruhlah mereka pada posisinya dan suruh mereka
berpegang padamu dan siap untuk diselamkan.
Mungkin engkau mau agar keluarga dan/atau mereka yang menolong memenangkan
seseorang itu berdiri. Jika calon baptisan itu yaitu seorang anak anggota jemaat, jangan lupa
menyebutkan guru-guru sekolah Sabat dan guru-guru sekolah gereja, pembina Pathfinder, dll.
Berikanlah sepatah kata keterangan singkat mengenai latar belakang seseorang yang akan
dibaptiskan dan bagaimana ia dimenangkan oleh Kristus.
Salah satu opsi (bukan keharusan) ialah meminta calon baptisan untuk memakai
malam terakhir sebelum mereka dibaptiskan untuk merenungkan dan menuliskan secara
singkat kesaksian mengenai arti baptisan itu bagi mereka. Doronglah mereka untuk
menyebutkan orang yang telah menolong mereka sampai kepada keputusan untuk menerima
baptisan itu. Seseorang yang secara khusus terlibat dalam memenangkan mereka bisa diminta
untuk membacakan kesaksian ini dari mimbar sementara pendeta dan calon baptisan berdiri
di tempat pembaptisan.
Menyelamkan calon baptisan. – Calon baptisan biasanya membawa saputangan atau
handuk kecil pada waktu memasuki tempat pembaptisan. Jika engkau yaitu seorang yang
biasa memakai tangan kanan, peganglah saputangan atau handuk kecil itu di tangan
kirimu. Gunakanlah tanganmu yang lebih kuat memegang bagian belakang calon baptisan
untuk menahan beratnya. Suruhlah mereka berpegang dengan kedua tangannya pada
pergelangan tangan kirimu, satu tangan di bawah pergelangan tanganmu dan yang satu lagi
dari atasnya. Hal ini akan memberikan rasa aman kepada mereka.
Sekarang, berbicaralah kepada para pendengar, akhiri dengan kalimat yang sudah
direncanakan dengan baik, bagian pertama dari kata-katamu yaitu mengenai komitmen
pribadi calon baptisan. Contohnya, “Dan sekarang, __________, oleh sebab apa yang telah
dilakukan Yesus bagimu dan oleh sebab engkau telah memberikan hidupmu kepada-Nya dan
ingin menjadi bagian dari keluarga Allah [angkat tanganmu], dengan senang hati aku
membaptiskan engkau dalam nama Bapa, Anak dan Roh Kudus. Amen.”
Taruhlah saputangan atau handuk menutupi wajah calon baptisan, dengan telapak
tangan kirimu di bawah dagunya supaya mulutnya tertutup, dan dengan lembut menjepit
hidungnya di antara ibu jari dan jari telunjukmu. Taruhlah tangan kananmu di antara bahu
calon baptisan, menggenggam bagian dari jubah dalam tangan agar orang itu tidak tergelincir
dari peganganmu dalam air. Langkahkan kaki kananmu selangkah ke sebelah kanan pada
waktu calon baptisan diselamkan.
Baptiskanlah orang itu dengan lembut, jangan dengan kasar. Selamkan calon baptisan
pelan-pelan dan dengan luwes angkat dia kembali ke posisi berdiri, dengan mengganggu air
sesedikit mungkin. Sekalah wajah orang itu dengan lembut dengan saputangan atau handuk
kecil. Jabatlah tangannya. Pada saat ini, sebagian pendeta mengucapkan doa berkat dan
mengajak menghidupkan satu kehidupan pelayanan Kristen.
Himbauan dan pengumuman. – Pada waktu orang terakhir meninggalkan tempat
pembaptisan, umumkanlah jadwal pembaptisan yang berikut dan undanglah mereka yang
mau dibaptiskan untuk berdiri, mengangkat tangannya, atau mengisi satu kartu, dan
sebagainya.
Sesudah Baptisan
Baptisan harus diikuti oleh resepsi – suatu pernyataan ikatan silaturahmi antara orang
yang baru dibaptiskan dengan anggota-anggota jemaat. Beberapa usulan yang mungkin bisa
dipertimbangkan:
1. Undanglah orang-orang yang baru dibaptis dengan pendeta berdiri di pintu depan
untuk disalami oleh semua anggota. Suruhlah ketua atau pemimpin gereja yang lain yang
menarik mereka untuk memperkenalkan mereka kepada para anggota gereja.
2. Jika anggota gereja tidak terlalu banyak, undanglah para anggota berpegangan
tangan membuat satu lingkaran, lalu menyanyikan “Perhubungan Kita” (Lagu Sion No. 7)
atau “I’m So Glad I’m a Part of the Family of God,” atau nyanyian yang sesuai. Setelah
berdoa penyerahan, lingkaran itu bisa menjadi barisan penerima, dengan masing-masing
anggota menyambut mereka yang baru saja dibaptiskan.
3. Sediakanlah kartu ucapan selamat untuk masing-masing yang baru dibaptis.
Suruhlah seluruh anggota jemaat menandatanganinya dan menuliskan ayat kesukaannya
dalam kartu itu, dan sebagainya., sebelum kartu itu diberikan kepada mereka yang baru
dibaptiskan.
4. Berikanlah kartu lain kepada masing-masing anggota dan suruhlah mereka
menuliskan suatu kalimat. Buatlah ini menjadi buku koleksi tempelan kenang-kenangan bagi
para anggota yang baru dibaptiskan.
5. Adakan resepsi atau makan bersama yang sepenuhnya ditujukan untuk
menyambut anggota-anggota yang baru dibaptiskan. Mintalah mereka datang ke depan untuk
menerima kembang dan duduk di panggung. Suruhlah orang yang paling dekat dengan
mereka untuk memperkenalkan. Lakukanlah wawancara, tanyakan mengapa mereka memilih
menjadi seorang Advent dan apa yang mereka harapkan bisa mereka berikan untuk
pertumbuhan gereja.
6. (Fotocopian tidak jelas!!)
---
Footnote: Saran-saran lebih lanjut untuk menytambut anggota baru. Lihat bab 23.
PASAL 34
Penyerahan Anak
Sesuai dengan Alkitab.
Penyerahan anak kepada Allah, terutama anak sulung, telah dipraktekkan pada zaman
Perjanjian Lama. Hana menyerahkan anaknya, Samuela, kepada Allah kepada pelayanan
dalam rumah-Nya (1 Sam. 1: 27, 28).
Maria dan Jusuf membawa bayi Yesus ke Bait Suci di “Yerusalem untuk
menyerahkan-Nya kepada Tuhan” (Luk. 2:22). Ellen White mengatakan mengenai hal ini:
“Imam melakukan ritual resmi dalam pekerjaannya. Ia membawa anak itu dalam
tangannya, dan mengangkatnya di hadapan mezbah. Sesudah ia menyerahkan anak itu
kembali kepada ibunya, ia menuliskan nama ‘Yesus’ dalam daftar anak sulung” (The Desiore
of Ages), hlm. 52).
Walaupun Perjanjian Baru tidak memerintahkan ritual seperti itu, caranya Yesus
berhubungan dengan anak-anak kecil mendorong diadakannya ritual penyerahan anak
kepada Allah. Dari peristiwaYesus memberkati anak-anak (lihat Mat. 19:13-15; Mark.
10:13-16; Luk. 18:15-17) kita boleh memperhatikan enam hal penting.
1. Yesus memberkati anak-anak. “Lalu Ia memeluk anak-anak itu dan sambil
meletakkan tangan-Nya atas mereka Ia memberkati mereka” (Mark. 10:16).
2. Memberkati anak-anak yaitu peristiwa yang besar. Semua kitab Injil Sinoptis
memuat cerita itu.
3. Anak-anak kecil (bayi) termasuk di dalamnya. “Maka datanglah orang-orang
membawa anak-anaknya yang kecil kepada Yesus” (Luk. 18:15).
4. Yesus tidak memerintahkan atau memprakarsai pemberkatan anak. Matius
mencatat, “Akan tetapi murid-murid-Nya memarahi orang-orang itu” (Mat. 19:13).
Kelihatannya murid-murid tidak akan menentang pemberkatan itu seandainya Yesus yang
memprakarsainya.
5. Yesus memberikan berkat-berkat bilamana para orang tua memohonnya.
“Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepada-Ku” (Mati
19:14).
6. Yesus tidak senang dengan larangan pemberkatan itu. “Murid-murid-Nya
memarahi orang itu. Ketika Yesus melihat hal itu, Ia marah” (Mark. 10:13, 14).
Ellen White menasihatkan, “Biarlah pelayan-pelayan injil memangku anak-anak di
tangan mereka, dan memberkati mereka dalam nama Yesus. Biarlah kata-kata kasih yang
paling lembut diucapkan kepada anak-anak kecil itu, sebab Yesus memangku kawanan
domba-domba di tangan-Nya dan memberkati mereka” (Evangelism, hlm. 349-350).
Namun, dapat dimengerti bahwa penyerahan anak akan meragukan mereka yang latar
belakangnya dari gereja yang melaksanakan pembaptisan bayi. Untuk alasan ini, dalam
ritual penyerahan anak di gereja Advent tidak dilakukan pemberian wali bapa atau wali ibu
dan pemberian nama sebagaimana yang lazim diberikan. ritual ini bukan ritual
pengkristenan, dan seharusnya tidak tampak seperti itu.
ritual itu harus diatur untuk menekankan empat tujuan mendasar:
1. Untuk bersyukur kepada Allah atas mujizat kelahiran itu.
2. Orang-orang tua berjanji akan memelihara anak itu untuk mengasihi Yesus.
3. Gereja berjanji untuk menyediakan fasilitas dan dukungan untuk membantu
orang-orang tua dalam tugasn

