gereja masehi 17
ya.
4. Untuk memberkati anak itu dan menyerahkannya kepada Allah.
Jika tidak ada pendeta, ketua jemaat boleh melakukan penyerahan anak ini. Namun,
seorang ketua jemaat tidak boleh melakukan ritual penyerahan anak tanpa persetujuan
gembala jemaat setempat.
Merencanakan ritual
Tempat. – Sebagian budaya mendorong “peneyrahan anak” dilakukan di rumah.
Tetapi, yang paling sering ialah melakukan ritual penyerahan anak sebagai bagian dari
ritual perbaktian pada hari Sabat pagi. Oleh sebab komitmen atau janji dari anggota-
anggota jemaat yaitu salah satu tujuan dari penyerahan itu, maka penyerahan anak itu harus
dilakukan pada waktu kehadiran anggota jemaat paling besar.
Waktu dalam tahun. – Jadwal tahunan gereja harus berisi tanggal penyerahan anak
yang sudah direncanakan. Dua kali setahun mungkin sudah cukup. Waktu yang paling ideal
mungkin pada waktu Hari Ibu, atau pada waktu pelatihan penegasan orang tua, dan pada
permulaan suasana Natal, pada saat suasana penekanan pada bayi Kristus. Umumkanlah
ritual penyerahan anak itu beberapa minggu sebelumnya, mengundang semua orang tua
untuk mengikuti ritual tersebut. Buatlah peristiwa itu suatu ritual evangelisasi oleh
mendorong para pengambil bahagian untuk mengundang keluarga dan sahabat-sahabat
mereka turut hadir.
Kartu informasi. – Oleh sebab engkau mau melakukan ritual itu lebih bersifat
individu, dan juga oleh sebab akan menyediakan surat keterangan penyerahan anak, yang
akan diserahkan pada hari ritual penyerahan anak itu, maka ada baiknya untuk memiliki
kartu informasi sederhana yang diisi dan diserahkan oleh masing-masing keluarga sebelum
waktu penyerahan anak dilakukan. Yang termasukdalam kartu informasi itu seperti: nama
lengkap bayi, tanggal lahir, tempat lahir, berat badan pada waktu lahir, nama ayah, nama ibu,
anak-anak lain dalam keluarga, dan hal-hal lain yang menarik perhatian yang berhubungan
dengan bayi itu.
Umur. – Bayi-bayi bisa diserahkan kepada Tuhan pada waktu masih usia sangat
muda pada waktu orang tua siap untuk membawa anak-anak itu ke gereja. Anak-anak usia
sekolah jarang diserahkan. Pengecualian bisa dilakukan pada anak-anak anggota gereja yang
baru.
Melaksanakan ritual
ritual penyerahan anak yang khas memiliki empat bagian.
1. Orang-orang tua diundang maju ke depan. – Buatlah ritual penyerahan anak
itu menjadi peristiwa keluarga yang penting. Doronglah pasangan yang bukan Advent untuk
hadir bilamana anak-anak mereka diserahkan kepada Tuhan. Libatkan juga saudara kandung
yang lain, yang mungkin merasa sedikit terabaikan oleh sebab semua perhatian yang
diterima bayi, untuk ikut serta dalam ritual penyerahan. Nenek-kakek juga mungkin ingin
diikutkan. Kadang-kadang kakek-nenek akan membawa bayi kalau orang tua tidak mau
mengikuti ritual itu, walaupun ini bukanlah yang ideal.
Undanglah orang-orang tua maju ke depan pada waktu nyanyian pembuka
dinyanyikan. Pilihlah nyanyian yang sesuai dengan penyerahan. Nyanyian yang sesuai
termasuk: “Senanglah rumah yang trima Allah” (Lagu Sion No. 260); “Gentle Jesus, Meek
and Mild;” “I Will Early Seek the Saviour;” “Jesus, Friend of Little Children;” Jesus, Son of
Blessed Mary;” “Lead Them, My God to Thee;” dan “Love at Home.”
Dengan memakai nyanyian pagi dengan cara ini tidak hanya memperkenalkan
penyerahan itu, tetapi juga menghemat waktu, oleh sebab nyanyian pagi bagaimanapun juga
telah dinyanyikan. Ayat terakhir nyanyian itu bisa dinyanyikan sesudah selesai penyerahan
pada waktu orang-orang tua meninggalkan panggung.
Seluruh penyerahan tidak boleh lebih dari empat sampai lima menit. Khotbah
haruslah sangat singkat. Khotbah-khotbah sebelum ritual pernikahan, baptisan, atau
penyerahan anak biasanya tidak efektif sebab antisipasi pada peristiwa yang akan terjadi
sangat kuat, sehingga orang-orang kurang mendengar apa-apa yang dikatakan sebelumnya.
Orang-orang tua juga takut kalau-kalau anak mereka sempat menangis. Lima menit
bagi mereka serasa setahun. Jika khotbah lebih dari satu atau dua menit, khotbah itu bisa
diberikan pada waktu orang-orang tua masih duduk bersama anggota jemaat, mungkin di
baris depan.
2. Khotbah.—Orang tua harus berdiri menghadap pada anggota-anggota jemaat. Ada
makna rohani tertentu pada bapa, sebagai pemimpin rohani, yang sedang memangku
anaknya. Sebaliknya, ibu mungkin lebih baik dalam menjaga anak tetap diam.
Khotbah harus menekankan janji atau tantangan bagi orang tua dan komitmen jemaat.
Pemikiran bisa diambil dari ayat-ayat berikut:
Ul. 6:4-7 “Haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada
anak-anakmu.”
1 Sam. 1:27, 28 “Untuk mendapat anak inilah aku berdoa. . . . Maka akupun
menyerahkannya kepada TUHAN.”
Mzm. 127:3-5 “Sesungguhnya, anak-anak yaitu milik pusaka dari pada
TUHAN.”
Ams. 22:6 “Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya.”
Yes. 8:18 “Sesungguhnya, aku dan anak-anak yang diberikan Tuhan
kepadaku yaitu tanda.”
Yer. 13:20 “Di manakah kawanan ternak yang diberikan kepadamu?”
Mat. 18:2-6, 10 “Ingatlah, jangan menganggap rendah seorang dari anak-
anak kecil ini.”
Mat. 19:13-15 “Lalu orang membawa anak-anak kecil kepada Yesus,
supaya Ia meletakkan tangan-Nya atas mereka dan
mendoakan mereka.”
Mark. 10:13-16 “Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku, jangan
menghalang-halangi mereka.”
Luk. 1:46-55 Pujian Maria.
Luk. 2:22-38 “Mereka membawa Dia [Yesus] ke Yerusalem.”
Luk. 18:15-17 “Maka datanglah orang-orang membawa anak-anaknya yang
kecil kepada Yesus.”
Ef. 6:4 “Didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan.”
Nasihat Ellen White boleh juga dimasukkan dalam pikiran-pikiran yang disajikan:
The Ministry of Healing, hlm. 40, 41: “Mereka pikir anak-anak ini terlalu muda untuk
dimanfaatkan. . . . Seorang ibu dengan anaknya telah meninggalkan rumahnya untuk mencari
Yesus. Di perjalanan ia memberitahukan kepada seorang tetangga.”
Ibid., hlm. 351: “Tidak ada pekerjaan yang dipercayakan kepada manusia yang
menyangkut hasil yang lebih besar dan yang jauh jangkauannya daripada pekerjaan para bapa
dan para ibu.
Ibid., hlm. 394: “Roh yang berkuasa dalam rumah akan akan membentuk tabiat
mereka.”
The Desire of Ages, hlm. 511-517: “Memberkati anak-anak.”
The Adventist Home, hlm. 159-276: “Pusaka Tuhan;” “Keluarga yang Sukses;”
“Bapa, Pengikat Rumahtangga;” “Ibu – Ratu Rumahtangga.”
Akhirilah khotbahmu dengan kata-kata sebagai berikut:
“Hai para orang tua, sebelum engkau menyerahkan anakmu dalam ritual
penyerahan anak ini, saya mengundang engkau untuk mengadakan satu perjanjian dengan
Allah. Dalam membawa anak ini kepada penyerahan Kristen, maka dihadapan Allah engkau
sedang menerima tanggungjawab suci sebagai seorang bapa dan seorang ibu. Dengan
tindakan secara simbolis ini engkau mau menyatakan keyakinanmu bahwa anak kecil ini
bukan hanya milikmu, tetapi milik Allah juga.
“Anggota-anggota jemaat, yang bersama-sama dengan kamu pada hari ini
menyerahkan anak yang sangat berharga ini kepada Allah, akan menolong kamu untuk
membimbing anak ini menuju pada suatu hari di mana penyerahan ini, pada usia yang tepat,
akan diikuti oleh baptisan yang kudus, dengan demikian memasuki keanggotaan yang penuh
dan bahagia dalam keluarga jemaat ini.
“Oleh sebab itu, kamu sebagai orang tua berjanji untuk melakukan dengan sekuat
tenagamu untuk membesarkan anak ini dalam pemeliharaan dan nasihat Tuhan. Apakah kamu
mau berjanji?”
Para orang tua menjawab: “Kami berjanji.”
3. Doa. – Pendeta dan orang-orang tua harus berlutut dalam doa penyerahan.
Anggota-anggota jemaat biasanya tetap duduk. Sangat penting jika suasana hubungan
individu terasa selama penyerahan itu. Salah satu cara untuk memperoleh ini ialah agar
pendeta memangku bayi sementara berdoa. Jika engkau melakukan hal ini, dan bayi itu
tersenyum, maka engkau akan senang sudah melakukannya. Jika bayi itu menangis, mungkin
engkau akan menyesal sudah memangkunya. Cara alternatif lain ialah orang tua memangku
anaknya dan engkau meletakkan tanganmu di di atas kepala masing-masing anak secara
bergantian pada waktu engkau menyebutkan nama mereka dalam doamu. Jika anak-anak
yang akan diserahkan pada waktu itu banyak, maka para ketua jemaat boleh diminta untuk
menumpangkan tangan, sementara engkau mengucapkan doa.
Keempat tujuan penyerahan anak, termasuk yang di atas, harus disebutkan dalam
doa. Idealnya, masing-masing anak dan orang tuanya harus disebutkan nama-nama bereka
dalam doa. Doa boleh diakhiri dengan doa yang diajarkan oleh Tuhan Yesus, diikuti oleh
pendeta, para orang tua dan seluruh anggota jemaat.
4. Surat keterangan dan Ucapan selamat. – Surat keterangan biasanya diberikan
kepada para orang tua sesudah doa penyerahan. Secara khusus, ini juga termasuk
mendaftarkan anak itu ke sekolah Sabat bayi-bayi (craddle roll), dan pimpinan sekolah Sabat
bayi-bayi boleh diminta untuk menyerahkan surat keterangan penyerahan anak dan
memberikan ucapan selamat. Surat keterangan penyerahan anak biasanya bisa dibeli di toko-
toko buka Advent stsu melalui percetakan Advent.
Bacaan Bersahutan
Bacaan bersahutan seperti di bawah ini bisa digunakan untuk menambah partisipasi
dari orang-orang tua dan jemaat dalam penyerahan anak. Bacaan bersahutan ini biasanya
menggantikan banyak waktu yang digunakan untuk khotbah dan menuntun kepada doa
penyerahan.
Liturgi 1
Pendeta : “Jika dengan sungguh-sungguh Anda hendak menyerahkan anak
ini kepada Tuhan, jawablah “Ya” kepada pertanyaan berikut:
“Apakah pada hari ini Anda menyadari bahwa anak ini yaitu
karunia Allah, dan oleh sebab mengucapkan syukur kepada-Nya
dari lubuk hatimu yang terdalam atas segala berkat-Nya?”
Orang tua : “Ya.”
Pendeta : Apakah pada hari ini Anda berada di sini untuk menyerahkan anak
ini kepada Tuhan?”
Orang tu : “Ya.”
Pendeta : “Apakah pada hari ini Anda berjanji sebagai orang tua bahwa
Anda akan memakai rumah, sekolah, gereja dan segala sesuatu
yang tersedia untuk menolong anak ini mengenal kasih Kristus
Yesus?”
Orang tua : “Ya.”
Pendeta berkata ke jemaat:
: Apakah Anda pada hari ini berjanji akan mendukung orang-orang
tua ini melalui doa, acara-acara gereja, dan suasana gereja yang
memelihara para anggotanya?
Jemaat : “Ya.”
Liturgi 2
Jika anak yang akan diserahkan banyak, dan pada waktu yang sama engkau mau
melakukan acara ini secara individu oleh melibatkan para orang tua dan jemaat, suruhlah
mereka membaca beberapa kalimat. Pasangan orang tua pertama membaca kalimat yang
mereka, atau mereka dan pendeta, telah sediakan. Lalu jemaat menjawab. Kedua pernyataan
harus menyebutkan nama anak. Kemudian pasangan orang tua kedua melakukan hal yang
sama, dan sekali lagi jemaat menjawab. Sebagai contoh:
Orang tua pertama : “Kami berada di sini untuk membawa ________ kepada
Tuhan. Kami memohon berkat-berkat khusus dari Allah
kiranya dicurahkan kepada kami sementara kami mendidik
anak ini menjadi orang Kristen yang berkasihan. Kami
memohon hikmat khusus. Dan kami bersyukur kepada Allah
atas kesempatan istimewa ini.”
Jemaat : “Kami mendukung Saudara dalam panggilan suci untuk
mendidik _________ dan berdoa bersamamu untuk
memohon akal budi dan hikmat sementara kita membagikan
hidupnya bersamamu.”
Orang tua kedua : (Mirip dengan yang pertama, tetapi dengan menyebutkan
nama individu.)
Jemaat : (Jawaban disesuaikan dengan pernyataan dan menjanjikan
dukungan jemaat.)
Liturgi 3
Bacaan bersahutan penyerahan anak pada masa suasana Natal harus memasukkan
sedikit mengenai Penjelmaan Kristus. Contohnya, sejajarkan keajaiban kelahiran Yesus
dengan kelahiran anak-anak ini:
Pendeta : “Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu
kesukaan besar untuk seluruh bangsa. Hari ini telah lahir bagimu
Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan di kota Daud” (Luk. 2:10, 11).
“Penjelamaan Allah menunjukkan perhatian-Nya yang maha besar
kepada anak-anak.”
Para Bapa : “Dan sebagaimana Allah Bapa memberikan anak-Nya bagi kita,
kami membawa anak-anak kami pada pagi hari ini sebagai
persembahan kepada-Nya.”
Para Ibu : “Allah telah memberikan banyak karunia. Kami memuji Dia pada
hari ini oleh sebab telah memberikan kepada kami karunia
menciptakan kehidupan yang baru yang sekarang kami serahkan
kepada-Nya.”
Saran-saran Tambahan
Berikut ini beberapa saran pengganti acdara penyerahan anak:
1. Suruhlah koor anak-anak atau bagian sekolah Sabat anak-anak menyanyikan lagu
pada waktu orang-orang tua maju ke depan untuk acara penyerahan anak.
2. Ketahuilah arti nama anak-anak itu dan dasarkanlah khotbahmu pada ayat Alkitab
atau pemikiran yang menguatkan arti nama itu.
3. Pada waktu mengembalikan anak kepada orang tuanya setelah memangkunya
waktu berdoa, atau pada waktu engkau mengucapkan selamat kepada orang tua dan
memberikan surat keterangan penyerahan anak, katakanlah kepada mereka masing-masing,
“Terimalah anak ini, rawatlah ia baik-baik, dan didiklah dia bagi Tuhan.”
4. Jika pasanganmu memiliki karunia atau kesudian, bagikanlah khotbah
kepadanya. Biarlah suami berbicara kepada para bapa, dan isteri kepada para ibu.
5. Sediakanlah buletin khusus gereja untuk penyerahan anak, yang berisi gambar
bayi yang akan diserahkan. Jangan tunjukkan sikap pilih kasih dalam hal ini oleh
memberikan perlakuan seperti itu hanya kepada keluarga tertentu saja.
6. Ambillah foto-foto acara penyerahan anak itu. Berikan satu lembar kepada orang
tua dan satu lembar untuk papan pengumuman gereja.
PASAL 35
Pentahbisan (Peresmian) Gereja
Pentahbisan (peresmian) sebuah gereja haruslah salah satu acara yang harus
direncanakan dengan cermat, yang dilakukan oleh seorang pendeta. Ini merupakan suatu
kesempatan berharga bagi Gereja Masehi Advent hari Ketujuh untuk disorot oleh warga .
Bagi jemaat, hari itu merupakan hari perayaan setelah berhasil menyelesaikan sebuah proyek
yang sulit.
Para tamu memainkan bagian yang penting dalam acara pentahbisan. Pejabat-pejabat
pemerintah kota dan para pendeta dari warga sering diundang untuk mengikuti acara
pentahbisan gereja. Oleh sebab itu, tentukanlah tanggal pentahbisan jauh-jauh hari
sebelumnya setelah berkonsultasi dengan para pimpinan konferens/daerah.
Urutan Acara
Urutan acara bisa seperti berikut:
Lagu pujian pembuka
Doa pembuka
Pembacaan sejarah gereja
Bacaan Alkitab
Naynyian pilihan atau lagu pujian
Khotbah pentahbisan
Pengguntingan pita (opsi)
Doa pentahbisan
Lagu pujian atau nyanyian pilihan
Doa penutup dan ucapan syukur
Lagu pujian. – Lagu yang sesuai dengan acara pentahbisan gereja antara lain: “Raja
Kekal, Pimpinlah” (Lagu Sion No. 30), “The Church Has One Foundation;” “Glorious
Things of Thee Are Spoken;” “Christ Is Made the Sure Foundation;” “Built on the Rock;”
“Perhubungan Kita” (Lagu Sion No. 7); “Kepada Allah Beri Puji” (Lagu Sion No. 2).
Sejarah gereja. – Melihat kenyataan bahwa hubungan mereka dengan jemaat
biasanya tidak lama, maka para pendeta dan para pejabat konferens/daerah tidak boleh
mendominasi acara pentahbisan gereja. Fasilitas gereja lebih banyak dimiliki jemaat dari pada
kependetaan. Ketua atau para pimpinan gereja setempat, yang akarnya jauh menembusi
sejarah berdirinya gereja, bisa lebih baik menceriterakan sejarah berdirinya gereja itu.
Piagam atau keanggotaan seumur hidup harus diakui dan dihormati. Penghargaan
yang wajar harus dinyatakan kepada mereka yang paling terlibat langsung dengan
pembangunan gereja.
Berikanlah pengakuan khusus kepada pendeta yang memimpin pembangunan. Sering
pendeta, yang bekerja keras dan terlibat langsung dalam pembangunan, sudah pindah
sebelum hutang-hutang dibayar dan bangunan diresmikan. Bahkan, pertentangan yang timbul
dalam proses pembangunan pada masa-masa sulit, kadang-kadang menyebabkan pendeta itu
dipindahkan. Pengorbanan yang sudah dilakukan harus diakui dan dihormati.
Sejarah mencapai puncaknya dengan pengumuman rencana-rencana di hari yang
akan datang dan program pelayanan warga . Gereja tidak boleh menekankan masa
lalunya tanpa juga memproyeksikan rencana-rencananya di masa yang akan datang.
Acara ini tidak boleh digunakan untuk memungut dana untuk membayar hutang-
hutang gereja yang masih ada. Semua hutang-hutang yang timbul sebagai akibat dari
pembelian atau pendirian bangunan harus sudah luna sebelum bangunan gereja ditahbiskan.
Bacaan Alkitab. – Bacaan Alkitab yang sesuai bisa dipilih dari 2 Tawarikh 6:14-42
atau 1 Raja-raja 8:23-53 (Doa Salomo pada waktu pentahbisan Bait Suci). Paragraf-paragraf
lain yang sering digunakan pada waktu pentahbisan gereja termasuk:
Kel. 40:33-35 “Kemuliaan Tuhan memenuhi Kemah Suci.”
1 Taw. 29:10-16 “Ya Tuhan, Allah kami, segala kelimpahan bahan-bahan yang
kami sediakan ini untuk mendirikan bagi-Mu rumah . . . yaitu dari
tangan-Mu sendiri dan punya-Mulah segala-galanya.”
2 Taw. 2:4 “Aku hendak mendirikan sebuah rumah bagi nama Tuhan, Allahku,
untuk menguduskannya bagi Dia.”
Neh. 4:6 “Tetapi kami terus m,embangun . . . sebab seluruh bangsa bekerja
dengan segenap hati.”
Neh. 6:16 “Mereka . . . menjadi sadar, bnahwa pekerjaan itu dilaksanakan dengan
bantuan Allah kami.”
Neh. 12:27 “Mengadakan pentahbisanyang meriah dengan ucvapan syukur dan
kidung.”
Mzm. 27:3, 4 “Diam di rumah Tuhan seumur hiduipku.”
Mzm. 48:9-14 “Kasih setia-Mu di dalam bait-Mu.”
Mzm. 84 “Betapa disenangi tempat kediaman-Mu.”
Mzm. 100 “Masuklah melalui pintu gerbang-Nya dengan nyanyian dan syukur.”
Mzm. 122 “Aku bersukacita, ketika dikatakan kepadaku: ‘Mari kita pergi ke
rumah Tuhan.’”
Khotbah pentahbisan. – Khotbah harus pendek oleh sebab berbagai alasan:
1. Waktu terbatas oleh sebab acara penuh.
2. Pembicara memberikan amanat kepada “pendengar yang sedang berharap.”
Mereka datang bukan untuk mendengar khotbah, tetapi untuk menyaksikan acara
pentahbisan.
3. Pentahbisan gereja biasanya dilaksanakan pada hari Sabat sore. Orang-orang
sudah mendengar khotbah pada pagi hari. Setiap ayat yang disebutkan di atas bisa
dikembangkan menjadi khotbah pentahbisan. Gunakan pendahuluan yang baik, seperti
menyamakannya dengan pendaki gunung yang telah bekerja keras sekian lama, dan akhirnya
dapat berdiri di puncak gunung menikmati pemandangan dan merayakan pencapaiannya.
Sebagai tambahan kepada menuntun ke arah pentahbisan bangunan gereja, khotbah harus
mengamanatkan pertanyaan penting lainnya: “Akankah ini menjadi gereja yang ditahbiskan?”
Gereja bukan banguinan, tetapi sekelompok orang. Anggota-anggota jemaat harus
mentahbiskan diri mereka sendiri, bukan hanya bangunan gerejanya (lihat Roma 12:1 ; Mzm.
127:1).
Acara pentahbisan. – Pentahbisan itu sendiri berlangsung selama doa pentahbisan.
Untuk meningkatkan partisipasi para pendengar, adakanlah bacaan bersahutan (litani) atau
pembacaan sajak sebelum doa penyerahan (usulan bacaan bersahutan diberikan di bawah ini).
Membakar kertas, yang melambangkan pinjaman atau hutang, boleh dilakukan pada
waktu membacakan sejarah pendirian gereja. Ini bisa merupakan puncak acara, terutama
kalau pada waktu yang lalu pada suatu ketika panitia pembangunan gereja berhutang, dan
bahwa baru-baru ini hutang itu sudah diselesaikan semua. yaitu tepat jika pada waktu
pembakaran kertas itu dinyanyikan lagu-lagu pujian kepada Tuhan.
Doa pentahbisan. – Doa pentahbisan harus lebih banyak mendapat perhatian dan
persiapan. Contoh yang ideal mungkin yaitu doa Salomo dalam 2 Tawarikh 6. Doa itu boleh
mencakup yang berikut:
• Bersyukur kepada Allah oleh sebab menaruh dalam tangan umat-Nya
bahan-bahan dan di dalam hati mereka kemauan untuk membangun.
• Pengakuan dosa dan permohonan kecurahan Roh Kudus ke atas semua
anggota jemaat.
• Berkat-berkat bagi semua tamu yang hadir.
Sekarang tibalah saatnya untuk pentahbisan. Doa itu diakhiri seperti ini:
“Kami sekarang mentahbiskan bangunan/gedung ini kepada-Mu, Ya Allah,
sebagai terang di tengah warga di sini,
sebagai rumah doa bagi segala bangsa.
Untuk menyembah Allah,
untuk mempertobatkan orang-orang berdosa,
untuk mengkhotbahkan Kristus dan Firman-Nya,
untuk persekutuan keluarga Allah,
untuk menyelamatkan anak-anak kami,
untuk tempat tinggal Allah,
sekarang kami mentahbiskan rumah ini, dalam nama Bapa, Anak dan Roh Kudus.
Amen.”
Bacaan Bersahutan Pentahbisan
Pendeta : Untuk kemuliaan Allah, Bapa kita, yang oleh perkenan-Nya kita telah
membangun rumah ini;
Untuk kemuliaan Yesus, Anak Allah yang hidup, Tuhan dan Juruselamat
kita;
Untuk pekerjaan Roh Kudus, yang melayani kehidupan dan terang,
Jemaat : Kami mentahbiskan rumah ini, Ya Allah, kepada-Mu.
Pendeta : Untuk perbasktian di dalam doa dan nyanyian,
Untuk mengkhotbahkan dan mengajarkan Firman,
Untuk tempat penyelenggaraan peraturan-peraturan kudus,
Jemaat : Kami mentahbiskan rumah ini.
Pendeta : Untuk penghiburan bagi mereka yang berduka,
Untuk kekuatan bagi mereka yang dicobai,
Untuk pertolongan dalam hidup yang menyerupai Kristus.
Jemaat : Kami mentahbiskan rumah ini.
Pendeta : Untuk menguduskan keluarga,
Untuk menuntun anak-anak dan orang-orang muda,
Untuk keselamatan laki-laki dan perempuan,
Jemaat : Kami mentahbiskan rumah ini.
Pendeta : Untuk mempertahankan kebebasan,
Untuk melatih hati nurani,
Untuk mempertahankan Kristus dan hukum-Nya yang kudus,
Untuk peperangan melawan kejahatan,
Jemaat : Kami mentahbiskan rumah ini.
Pendeta : Untuk menolong yang berkekurangan,
Untuk melegakan mereka yang menderita,
Untuk mempercepat kedatangan Kristus,
Jemaat : Kami mentahbiskan rumah ini kepada-Mu, Ya Allah..
Pendeta : Sebagai persembahan rasa syukur dan kasih mereka yang telah
mengalami pemberian kasih karunia Kristus, dengan sukarela kami
menyerahkan rumah ini sebagai persembahan kepada Allah kami.
Jemaat : Kami, anggota jemaat ini, yang sekarang mentahbiskan diri kami
kembali, mentahbiskan bangunan ini kepada kepentingan Kristus dan
kepada pelayanan umat manusia.
Syair-syair Pentahbisan
Dikau, yang baitnya tak bisa diukur
Dikau, yang baitnya tak bisa diukur,
Yang dibangun di seluruh bumi dan laut,
Menerima tembok-tembok, yang tangan manusia,
Telah bangunkan, Ya Allah, bagi-Mu’
Dan biarlah Penghibur dan Teman,
Roh Kudus-Mu, bertemu,
Dengan mereka yang datang berbakti di sini,
Di hadirat takhta kemurahan-Mu.
Semoga mereka yang bersalah dituntun ke sini,
Untuk mendapatkan jalan yang lebih baik;
Dan mereka yang berduka, dan yang takut,
Semoga dikuatkan sementara mereka berdoa.
Semoga iman menjadi teguh, dan kasih bertambah hangat,
Dan penyerahan yang murni meningkat,
Sementara di keliling dinding yang disucikan ini,
Badai nafsu dunia mati.
-- William Cullen Bryant.
Inilah Yang Kita Minta
Tuhan, berkatilah semua anggota jemaat-Mu di sini;
Umat-Mu, Tuhan,yang mengasihi rumah-Mu dan Dikau,
Dan semoga kami terdapat dalam kitab-Mu yang agung,
Nama kami dicatat sepanjang zaman.
Tuhan, berkatilah orang asing yang berkumpul bersama kami;
Mungkin kesepian, dan jauh dari rumah, mereka perlu
Penghiburan yang berbahagia dari rumah Bapa mereka,
Roti hidup yang ditawarkan untuk makanan mereka.
Allah, berkatilah mereka yang memberitakan kebenaran-Mu,
Tinggallah di dalam hatinya, berbicaralah melalui kata-katanya,
Sehingga setiap orang yang mendengar, ingin menemukan
Hikmat dan penghiburan yang mereka cari.
Dan bilamana pada akhirnya, doa berkat diucapkan,
Kami boleh pergi, dikuatkan untuk menghadapi hari depan.
-- Grace Noll Crowell.
Pentahbisan Akhir Minggu
Pentahbisan gereja tentu saja bisa dilakukan kapanpun, termasuk pada hari Sabat
pagi. Tetapi, oleh sebab pentahbisan yaitu hari istimewa bagi jemaat yang bersangkutan,
maka boleh dilakukan dengan memasukkan beberapa acara akhir minggu. Contohnya:
Jumat malam – “Gereja kita disucikan.” Pada waktu ini bisa diadakan perjamuan
kudus dan acara musik istimewa.
Sekolah Sabat – “Gereja kita belajar.” Libatkanlah partisipan istimewa, seperti
anggota-anggota lama atau mantan pendeta.
Jam Kebaktian – “Gereja kita berbakti.” Undanglah pembicara tamu.
Sabat petang – “Gereja kita dalam pentahbisan.” Acara pentahbisan.
Sabat malam – “Gereja kita bersekutu.” Acara sosial.
Brosur Pentahbisan
Brosur (booklet) pentahbisan menjadi tanda kenang-kenangan yang berharga bagi
para anggota jemaat. Sebagian gereja menjual brosur ini untuk membayar biaya cetak brosur.
Jika engkau menerbitkan brosur (booklet), masukkan di dalamnya yang berikut:
Urutan setiap acara pertemuan pada akhir minggu.
Foto bangunan baru, mungkin ditaruh di halaman sampul depan.
Bacaan bersahutan (litani) yang akan digunakan pada waktu pentahbisan.
Nama-nama mantan gembala jemaat termasuk yang sekarang; jika mungkin, dengan
foto mereka masing-masing dan tanggal masa jabatan mereka melayani.
Nama-nama wakil konferens/daerah yang turut ambil bagian.
Nama-nama panitia pentahbisan gereja.
Sejarah ringkas gereja, termasuk gambar bagunan gereja yang lama.
Nama-nama arsitek, pembangun dan panitia pembangunan.
Fakta-fakta mengenai bangunan – tanggal-tanggal perletakan batu pertama,
pembangunan dimulai, pertemuan pertama, dll.; kapasitas/daya tampung bangunan, biaya
pembangunan, denah lantai, keterangan mengenai kegunaan tiap kamar dan sebagainya.
Syair.
Pembukaan Gereja
Oleh sebab Advent hanya mentahbiskan bangunan yang telah bebas hutang, maka
sering terjadi anggota jemat telah pindah ke bangunan baru gereja sebelum bangunan itu
selesai dibangun, dan lama sebelum bangunan itu ditahbiskan. yaitu baik jika diadakan
acara khusus untuk peristiwa ini, walaupun acara itu tidak boleh dianggap penting sama
seperti acara pentahbisan. Tentu saja musik memainkan bagian terbesar dalam acara yang
menyenangkan seperti itu.
Mungkin akan ada pengguntingan pita. Sebagian jemaat berbaris dari bangunan lama
masuk ke bangunan baru. Orang-orang senang memasuki gedung baru, tetapi tidak suka
meninggalkan kenangan manis pada bangunan yang lama. Untuk menjembatani bangunan
yang lama kepada bangunan yang baru, gunakanlah sebagian barang-barang dari bangunan
lama pada waktu pembukaan gereja baru.
Baik acara pentahbisdan gereja maupun acara pembukaan gereja yaitu peristiwa-
peristiwa yang patut dijadikan berita di kebanyakan tempat. Kesempatan ini harus digunakan
sebaik-baiknya untuk menarik perhatian warga yang menyenangkan terhadap gereja
dan programnya.
PASAL 36
Perjamuan Kudus
Pentingnya Perjamuan Kudus
Perjamuan kudus yaitu ritual khidmat dan menyelidiki hati, ritual yang
mendatangkan sukacita dan pengharapan. Jika direncanakan dan dilakukan dengan baik,
perjamuan kudus akan mendatangkan dorongan dan pembaharuan kerohanian jemaat. Oleh
sebab itu, memimpin upara perjamuan kudus yaitu salah satu tugas paling suci seorang
pendeta atau ketua. “Segala sesuatu yang berhubungan dengan itu harus dilakukan dengan
persiapan yang sesempurna mungkin.” “ritual ini tidak boleh dilakukan tanpa bergairah”
(Evangelism, hlm. 277, 278).
Kapan Perjamuan Kudus dilakukan. – Peraturan Gereja menetapkan, “Dalam
Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh Perjamuan Kudus biasanya dirayakan satu kali dalam
satu kuartal” (hlm. 69). Kata “biasanya” perlu ditekankan. Dari pernyataan Paulus, “Sebab
setiap kali kamu makan roti ini dan minum cawan ini” (1 Kor. 11:26), dapat kita simpulkan
bahwa Alkitab tidak menentukan seringnya Perjamuan Kudus dilakukan.
Sebagai tambahan kepada yang sekali satu kuartal, Perjamuan Kudus bisa dilakukan
pada hari-hari istimewa lain. Sebagian jemaat merencanakan mengadakan Perjamuan Kudus
pada acara malam penyalaan lilin Hari Natal atau pada acara Tahun Baru, atau acara khusus
untuk orang muda. Acara pembasuhan kaki harus selalu diikutkan dalam setiap Perjamuan
Kudus.
ritual Perjamuan Kudus yang biasa harus dilakukan sebagai bagian dari acara
perbaktian Sabat. Perjamuan Kudus itu terlalu penting untuk digabungkan ke pertemuan yang
lebih kecil. Membatasi orang yang berpartisipasi pada Perjamuan Kudus hanya kepada
mereka yang mau datang pada pertemuan khusus tertentu samalah artinya dengan mengakui
kegagalan gereja membuat ritual kudus ini penuh arti bagi anggota gereja secara
keseluruhan.
Perjamuan Kudus harus diumumkan paling sedikit seminggu sebelumnya supaya
para anggota dapat menyediakan diri mereka dan para diakon dan diakones dapat
menyediakan segala peralatan yang diperlukan.
Siapa yang melaksanakan. – Para pendeta yang diurapi atau para ketua yang diurapi
harus melaksanakan Perjamuan Kudus. Diakon-diakon membantu membagi-bagikan roti dan
anggur.
Siapa yang ikut ambil bagian. – Teladan Yesus yang mengizinkan Yudas ikut pada
Perjamuan Kudus yang pertama membuktikan bahwa orang yang turut ambil bagian dalam
Perjamuan Kudus tidak boleh dibatasi hanya kepada orang-orang Krisrten yang sudah dapat
dijadikan contoh atau teladan. “Teladan Kristus melarang eksklusifisme pada Perjamuan
Kudus Tuhan. Benar bahwa dosa yang diketahui orang mengecualikan orang yang bersalah
itu. Hal ini jelas diajarkan oleh Roh Kudus. Tetapi di balik ini tak seorangpun boleh
menghakimi. Allah tidak menyerahkan kepada manusia untuk mengatakan siapa yang boleh
hadir dalam ritual ini. sebab siapakah yang dapat membaca hati?” (The Desire of Ages,
hlm. 656).
Paulus memang mengatakan, “Jadi barangsiapa dengan cara yang tidak layak makan
roti atau minum cawan Tuhan, ia berdosa terhadap tubuh dan darah Tuhan” (1 Kor. 11:27).
Tetapi ia tidak berbicara mengenai orang yang tidak layak yang ikut ambil bagian, melainkan
mengenai mereka yang ikut ambil bagian dengan sikap dan perilaku yang tidak layak. Dalam
kasus orang Korintus, ini termasuk perselisihan pahit (1 Kor. 1:11), pihak-pihak yang iri hati
dan suka bertengkar atau berselisih (1 Kor. 3:3), mabuk (1 Kor. 11:21), dan menganggap
Perjamuan Kudus hanya sebagai acara sosial saja.
Tunjukkanlah hal ini kepada mereka yang perasaan bersalahnya terlalu besar
sehingga menghalangi mereka untuk turut ambil bagian dalam Perjamuan Kudus. Dalam
mengumumkan ritual Perjamuan Kudus, tekankanlah kesempatan yang diberikannya
kepada para anggota untuk memperbaharui iman mereka dalam Yesus dan persekutuan
mereka dengan sesama orang percaya yang lain.
Orang-orang Advent menjalankan Perjamuan Kudus terbuka. Orang-orang dewasa
yang merasa telah menyerahkan hidup mereka kepada Kristus boleh ikut ambil bagian. Tetapi
“hendaklah tiap-tiap orang menguji dirinya sendiri dan baru sesudah itu ia makan roti dan
minum dari cawan itu” (ayat 28).
Tetapi anak-anak tidak boleh ikut ambil bagian sampai mereka sudah cukup dewasa
untuk menerima pengajaran mengenai arti dari ritual itu dan menyerahkan diri mereka
kepada Kristus dalam baptisan.
Masalah
Orang yang hadir pada hari Sabat waktu Perjamuan Kudus akan diadakan cenderung
lebih sedikit dari hari-hari Sabat lain. Sebagian orang melihat Perjamuan Kudus itu sebagai
kewajiban yang m,embosankan dari pada kesempatan yang menyenangkan. Sebagian anggota
yang sungguh-sungguh tidak mau ikut, mereka mengatakan, “Saya merasa tidak layak.”
Bahkan sebagian para pemimpin tidak mau ikut dengan mengatakan, “Saya telah mengikuti
Perjamuan Kudus di tempat lain.” Mengapa orang merasa bosan mengikuti Perjamuan
Kudus? Berikut ada empat alasan yang mungkin:
1. Kehilangan arti. – Dengan berlalunya waktu cenderung menghilangkan arti dari
setiap ritual agama atau tradisi. Akhirnya ritual -ritual dilakukan hanya sebagai tradisi
bukan sebab pentingnya untuk kerohanian. Setiap gereja perlu mempelajari kembali tradisi
Perjamuan Kudusnya dan menggalakkan kembali minat pada perayaannya. “Mengapa kita
melakukan seperti yang kita lakukan?” Jika jawabnya tidak benar-benar berdasarkan
kerohanian, mungkin perlu waktu untuk mengadakan pembaruan cermat dan dengan penuh
doa.
Hati-hati! Memindahkan tradisi kembali kepada tujuan asal sipiritualnya sangat
berbahaya. Orang-orang menolak perubahan. Terutama orang-orang Kristen yang teguh dan
dapat diandalkan menolak perubahan. Dan mereka menolak hampir semua perubahan di
gereja.
Janganlah lakukan perubahan hanya demi perubahan, atau demi kenyamanan.
Pembaruan yang cenderung membuat yang suci menjadi biasa harus dihindarkan. Tetapi
doronglah perubahan jika praktik gerejamu menarik perhatian hanya kepada perayaan
Perjamuan Kudus dan bukan kepada pelajaran rohani yang akan diajarkan Yesus.
Inovasi atau pembaruan yang dianjurkan dalam pasal ini dan dalam Peraturan Gereja
dimaksudkan untuk mendorong perubahan hanya untuk memelihara pengertian rohani tetap
berada di atas tradisi yang tidak memiliki arti.
2. Keadaan yang memalukan. – Orang yang agresif dan yang mementingkan hal-
hal lahiriah susah mengertinya, tetapi anggota yang pemalu mendapati bahwa memilih
pasangan untuk pembasuhan kaki yaitu keadaan yang memalukan. Mereka takut ditolak.
Pastikan bahwa para pemimpin yang mengerti selalu ada di sekitar mereka untuk menolong
mendapatkan pasangan untuk pembasuhan kaki.
3. Sangat lama. – Acara Perjamuan Kudus berlangsung lebih lama daripada acara-
acara perbaktian lain. Bagi sebagian orang dan dalam beberapa kebiasaan hal ini tidak
menjadi masalah, sebab keindahan dan arti rohani dari acara itu membuat masalah waktu
menjadi tidak berarti. Namun demikian, para pendeta harus peka terhadap perasaan semua
anggota mereka. Apakah ada orang-orang tua yang mengalami kesulitan dengan anak-anak
mereka yang sudah gelisah oleh sebab acara berlangsung lama? Apakah anak-anak menjadi
bosan oleh sebab acara itu kurang relevan kepada mereka? Apakah ada anggota yang gelisah
oleh sebab mereka tidak ikuti ritual Perjamuan atau anggota keluarga mereka yang bukan
Kristen sedang menunggu di rumah untuk makan siang?
4. Perbedaan budaya. – Beberapa faktor budaya mempengaruhi cara pelaksanaan
Perjamuan Kudus. Apa yang menarik dalam satu kebudayaan belum tentu demikian dengan
yang lain. Perbedaan budaya dalam pelaksanaan Perjamuan Kudus tidak perlu dilarang
selama perbedaan itu dapat dengan efektif mengajarkan pelajaran rohani yang dikehendaki
Yesus. Pemimpin setempat dapat memberikan nasihat yang lebih baik mengenai apa yang
patut dilakukan dalam satu kebudayaan tertentu.
Khotbah
Biasanya khotbah Perjamuan Kudus diberikan tepat sebelum para anggota berpisah
untuk acara pembasuhan kaki. Salah satu variasi ialah memberikan pembicaraan singkat,
memperkenalkan pembasuhan kaki. Simpanlah dulu bagian lain dari khotbah itu untuk
disampaikan pada permulaan Perjamuan Tuhan. Ada dua keuntungannya: 1. Akan lkebih
sedikit orang yang meninggalkan gereja pada waktu berpisah untuk pembasuhan kaki. Oleh
sebab acara singkat, maka mereka akan cenderung tinggal dan mengikuti ritual . 2.
Memberikan khotbah yang prinsipil tepat pada waktu Perjamuan Tuhan dimulai akan
meningkatkan dampak rohani perbaktian itu.
Lamanya khotbah mungkin tidak boleh lebih dari 10 menit. ritual Perjamuan
Kudus bukan acara berkhotbah. Berikut ini beberapa ayat yang dianjurkan untuk digunakan
dalam acara khotbah pada Perjamuan Kudus:
Yoh. 13:3-17
Mat. 26:26-28
Mark. 14:22-24 Yesus memulai pembasuhan kaki.
Luk. 22:19-20 Yesus memulai Perjamuan Tuhan.
Mat. 16:24 “Ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan
mengikut Aku.”
Mark. 14:18, 19 “Seorang di antara kamu akan menyerahkan Aku. Bukan
aku, ya Tuhan?”
Yoh. 6:53-56 “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jikalau kamu tidak
makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu
tidak memiliki hidup di dalam dirimu.”
1 Kor. 10:16,17 “sebab roti yaitu satu, maka kita, sekalipun banyak,
yaitu satu tubuh, sebab kita semua mendapat bagian dalam
roti yang satu itu.”
Gal. 6:14 “Sebab olehnya dunia telah disalibkan bagiku dan aku bagi
dunia.”
1 Pet. 2:21 “sebab Kristuspun telah menderita untuk kamu dan telah
meninggalkan teladan bagimu.”
Lihat juga The desire of Ages, “Hamba dari Hamba-hamba” dan “Untuk Mengenang
Aku.”
Membasuh Kaki
Membasuh kaki yaitu lambang yang paling kuat. Sebagian orang boleh jadi
sanggup mengambil bagian dalam Perjamuan Kudus Tuhan tanpa banyak dampak pribadi.
Tetapi, secara praktis, tidak mungkin seseorang menyodorkan kaki untuk dibasuh atau
berlutut dan membasuh kaki orang lain tanpa mengetahui sedikit mengenai kerendahan hati.
Mungkin itulah sebabnya bagian dari ritual ini yaitu yang paling sulit bagi sebagian
orang.
Jangan terima bahwa membasuh kaki di rumah boleh menggantikan aturan ini.
Jangan lakukan pembasuhan kaki di antara acara sekolah Sabat dan acara gereja, dengan
demikian menurunkan maknanya. Setiap usaha untuk mengurangi penekanan pembasuhan
kaki akan secara berangsur-angsur menuntun kepada hanya mengikuti Perjamuan Kudus
Tuhan saja. Hal ini telah terjadi di gereja-gereja yang lain yang pada suatu waktu
mempraktekkan peraturan kerendahan hati tetapi akhirnya meninggalkannya sebab dianggap
merepotkan.
Sebelum berpisah untuk membasuh kaki, berikan pengumuman yang cukup,
undanglah para tamu untuk turut mengambil bagian atau menyaksikan. Doronglah para
anggota untuk turut mengambil bagian.
Laki-laki berpisah ke satu ruangan, dan wanita ke ruangan yang lain. Pastikan
melayani orang yang cacat. Mungkin bisa disediakan ruangan bagi keluarga untuk membasuh
kaki. Buku Peraturan Gereja mengatakan, “Di tempat-tempat yang berterima secara sosial
dan di mana pakaian yaitu sedemikian rupa sehingga tidak akan terdapat hal yang tidak
sopan, maka pengaturan tertentu dapat dibuat bagi suami isteri atau orang tua dan anak yang
telah dibaptis untuk dapat saling melayani dalam ritual pembasuhan kaki” (hlm. 69).
Pembasuhan kaki yaitu waktu untuk membuat yang salah menjadi benar, untuk
menjangkau mereka dengan siapa engkau berselisih, dan ini harus ditekankan. Kerenggangan
sering terjadi antara suami dan isteri atau antara orang tua dan anak-anak. Hari Perjamuan
Kudus dapat menjadi waktu yang paling tepat untuk mempersatukan keluarga-keluarga.
Tetapi jangan tekankan pembasuhan kaki sekeluarga sehingga melalaikan mereka
yang ada di dalam gereja yang tidak memiliki pasangan nikah.
Para diakon dan diakones harus menyediakan waskom dan air yang cukup
sebelumnya, lebih disukai yang hangat jika memungkinkan. Juga handuk yang cukup harus
disediakan agar setiap orang memperoleh satu handuk yang bersih. Waskom, sabun dan
handuk harus disediakan supaya semua boleh mencuci tangan mereka sesudah selesai ritual
pembasuhan kaki.
Lagu pujian boleh dinyanyikan atau musik dimainkan selama pembasuhan kaki.
Masing-masing yang ambil bahagian boleh mengucapkan doa pendek sebelum mulai
membasuh kaki. Kedua kaki harus dibasuh. Pasangan biasanya mengakhiri dengan saling
berpelukan.
Para peserta kembali ke dalam ruangan gereja sesudah selesai ritual pembasuhan
kaki. Kalau mereka yang mengambil bahagian tidak terlalu banyak, mereka boleh
membentuk lingkaran, saling berpegangan tangan, mungkin menyanyikan lagu seperti
”Perhubungan Kita” (LS. No. 7), dan berdoa bersama sebelum kembali ke dalam gereja.
Para diakon dan diakones harus ikut ambil bagian dalam pembasuhan kaki, tetapi ada
baiknya mereka lebih dahulu melakukan pemasuhan kaki di antara sesama mereka, mungkin
pada waktu mereka mempersiapkan semua peralatan. Anggota jemaat tidak perlu menunggu
diakon dan diakones dilayani sesudah mereka selesai menunggu yang lain. Lima belas menit
waktu yang sangat berharga bisa hilang oleh sebab perencanaan yang tidak baik pada
peralihan dari pembasuhan kaki ke Perjamuan Kudus Tuhan.
Jika ruangan gereja kosong selama pembasuhan kaki dan jika para tamu diminta
untuk tetap tinggal di dalam ruangan gereja, perencanaan untuk menjaga kesucian harus
dibuat dan dijalankan. Musik bisa dimainkan. Gunakan waktu itu untuk bercerita kepada
anak-anak yang belum dibaptis. Tunjuk seseorang untuk menceritakan cerita yang
memberikan pelajaran dari Perjamuan Kudus Tuhan. Buatlah acara Perjamuan Kudus itu
waktu untuk anak-anak merasa diperhatikan, bukan diabaikan.
Perjamuan Kudus Tuhan
Segera sesudah acara pembasuhan kaki selesai, suruhlah seseorang memimpin untuk
menyanyikan lagu-lagu pujian. Pilihlah lagu-lagu pujian yang sesuai. Lagu-lagu pujian
seperti itu menciptakan roh yang sesuai sementara para anggota berkumpul kembali di dalam
gereja. Lagu-lagu pujian itu bisa juga bertindak selaku nyanyian pendahuluan sementara
pendeta dan ketua-ketua mengambil tempat di meja Perjamuan, yang diikuti oleh para diakon
yang mengambil tempat di kursi baris depan.
Anggur dan roti di atas meja Perjamuan harus ditutup sebelum dan sesudah acara
selesai. Kadang-kadang penutup tersendiri ditaruh atas tempat roti dan anggur, atau seluruh
meja bisa ditutupi. Dua orang diakones boleh diundang untuk duduk di baris depan untuk
membuka penutup meja, dan menutupnya kembali sesudah acara selesai, walaupun kebiasaan
ini tidak memiliki relevansi langsung dengan kejadian di bilik yang di atas atau pelajaran
yang diajarkan oleh Yesus.
Pendeta atau ketua yang bertugas membuka penutup tempat roti dan membacakan
ayat-ayat yang sesuai, seperti 1 Korintus 11:23, 24. Para anggota jemaat tetap tinggal duduk
dengan menundukkan kepala, dan mereka yang melayani di meja berlutut sementara ketua
yang melayani memohon berkat Allah atas roti.
Sesudah selesai berlutut, pendeta dan ketua-ketua secara simbolis memecah-
mecahkan roti. (Sebagian besar sudah harus dipecah-pecahkan sebelum ritual itu.) Roti itu
diberikan kepada para diakon, yang akan membagi-bagikan kepada para anggota.
Bilamana para diakon kembali dari melayani para anggota, ketua-ketua dan pendeta
saling melayani sesama mereka. Yang memimpin ritual mengulangi kembali ayat yang
sesuai, seperti kata-kata Yesus dalam 1 Korintus 11:24, kemudian memimpin jemaat
memakan roti, diikuti oleh doa dalam hati.
Pemimpin menutup tempat roti, kemudian membuka penutup anggur, lalu membaca
ayat yang sesuai seperti 1 Korintus 11:25, 26. Salah seorang ketua mengucapkan doa berkat
atas anggur, lalu kemudian anggur dibagikan oleh para diakon. Pemimpin mengulangi ucapan
Yesus seperti yang tertulis dalam 1 Korintus 11:25, lalu mengajak anggota jemaat untuk
meminum anggur disertai doa dalam hati.
Kemudian para diakon mengumpulkan gelas-gelas dan mengembalikannya ke atas
meja, lalu ditutup oleh pemimpin. Diakones menutup meja kembali.
Jika cara ini diikuti, para diakon paling sedikit enam kali bolak balik di gang di
antara deretan tempat duduk, yang cenderung lebih banyak menarik perhatian peserta
daripada kepada pelajaran rohani dari Perjamuan Kudus Tuhan. Tentu saja ada cara yang
lebih singkat dan sederhana untuk menyajikan anggur dan roti tanpa mengurangi makna
rohani yang dilambangkannya. Para diakon boleh membawa roti dan anggur pada waktu yang
sama di atas baki dan menyajikannya bersamaan. Mereka boleh menaruh baki itu di tempat
khusus di sebelah belakang. Para peserta boleh meninggalkan gelas-gelas di tempat duduk
atau di rak yang terdapat di belakang bangku. Doa-doa berkat, pembacaan ayat-ayat,
memakan roti dan meminum anggur boleh berlangsung dengan urutan yang sama.
Membagikan roti dan anggur yang singkat menolong mempersingkat waktu yang tidak ada
hubungannya dengan kerohanian, dan memusatkan pikiran hanya pada hal-hal rohani dari
ritual itu.
Pada waktu roti dan anggur dibagikan, sajikan musik khusus yang berhubungan
dengan pelajaran mengenai Perjamuan Kudus Tuhan. Pilihan lain termasuk pembacaan ayat-
ayat Alkitab, kesaksian-kesaksian, lagu pujian atau musik instrumental. Harus diusahakan
agar jangan terlalu lama tenggang waktu antara partisipan menerima roti dan waktu untuk
memakannya.
Perjamuan Kudus harus selalu diakhiri dengan sukacita. Kesalahan-kesalahan telah
diperbaiki. Dosa-dosa telah diampuni. Pengharapan telah dipulihkan. Sudah tiba saatnya
untuk bersukacita. Akhirilah dengan nyanyian gembira penuh sukacita, seperti “Kepada Allah
Bri Puji” (LS. No. 2), “Betapa Snang Aku Kabarkan” (LS. No. 120), dan lain-lain.
Sesudah lagu pujian berakhir, maka jemaat dibubarkan dengan doa berkat atau
dengan doa dalam hati. Sementara para hadirin keluar, para diakon boleh berdiri di muka
pintu dan mengumpulkan persembahan untuk membantu orang-orang miskin.
Sesudah ritual selesai, para diakon dan diakones membuang sisa roti dan anggur
dengan cara yang terhormat. Dalam keadaan apapun, roti dan anggur yang sisa tidak boleh
dimakan atau diminum.
Dianjurkan agar gereja kita memakai gelas Perjamuan Kudus sendiri. Hal ini akan
membuat seluruh anggota jemaat dapat mengambil bahagian meminum anggur secara
serentak, dan juga mencegah penularan penyakit oleh sebab memakai gelas secara
umum.
Saran-saran Tambahan
1. Khotbahkanlah mengenai Perjamuan Kudus pada hari Sabat sebelumnya.
Mungkin salah satu alasan mengapa anggota jemaat kehilangan pandangan mengenai
pelajaran dari ritual Perjamuan Kudus ialah sebab sedikitnya waktu berkhotbah pada
waktu Perjamuan Kudus. Gunakanlah hari Sabat sebelum hari Sabat Perjamuan Kudus itu
diadakan untuk menjelaskannya.
2. Masukkan bacaan bersahutan (litani) “undangan kepada meja perjamuan.” Kira-
kira seperti yang berikut ini bisa dimasukkan ke dalam acara pada permulaan Perjamuan
Kudus Tuhan:
Pemimpin : “Sekarang kita memasuki waktu untuk memperoleh berkat-
berkat khusus.
Anggota : “Kita datang untuk mengharapkan berkat-berkat itu.”
Pemimpin : “Bilamana kita memakan . . .
Anggota : Kita mengingat tubuh Kristus yang dipecah-pecahkan.”
Pemimpin : “Bilamana kita meminum . . .
Anggorta : Kita mengingat darah Kristus yang dicurahkan.”
Pemimpin : “Nyatakanlah diri-Mu kepada kami, ya Tuhan, sebagaimana
Engkau menyatakan diri-Mu kepada murid-murid-Mu pada
zaman dahulu.”
Anggota : Berkatilah meja kami dengan kehadiran-Mu, dan berikanlah
kepada kami rasa pendahuluan pesta yang akan datang.”
Semuanya : “Datanglah, sebab semuanya sudah siap.”
3. Masukkan bacaan besahutan (litani) “mengambil bagian.” Pada waktu partisipan
mengambil bagian, masing-masing menyebutkan namanya:
Pemimpin : “Inilah tubuhku . . .”
Anggota : “Yang dipecah-pecahkan untuk _________.”
* * * * *
Pemimpin : “Inilah darahku . . .”
Anggota : “Yang dicurahkan untuk _________.”
4. Layanilah anggota-anggota gereja yang tidak mampu hadir di gereja. Aturlah para
diakon dan diakones untuk mengadakan Perjamuan Kudus bagi mereka yang tidak mampu
datang ke gereja untuk mengikuti ritual Perjamuan Kudus Tuhan. Hal ini menjamin agar
setiap orang yang tidak mampu datang ke gereja mendapat empat kali Perjamuan Kudus
dalam setahun. Biasanya pembasuhan kaki tidak diadakan, oleh sebab orang itu tidak
sanggup membasuh kaki orang lain.
5. Adakan Perjamuan Kudus tambahan khusus bagi orang-orang muda. Undanglah
para orang muda untuk mengikuti acara istimewa ini, mungkin diadakan di rumahmu.
Rencanakanlah acara ini dengan baik sehingga Perjamuan Kudus itu mengajarkan pelajaran
rohani dan menjadi kenangan yang tidak bisa dilupakan oleh orang muda, oleh sebab
ritual itu istimewa. ritual ini tidak boleh menggantikan partisipasi orang muda dalam
Perjamuan Kudus setiap kuartal.
Resep
Hanya roti yang tidak beragi dan anggur yang tidak difermentasi yang boleh
digunakan pada Perjamuan Kudus Tuhan. Bilamana tidak mungkin mendapatkan buah
anggur, juice anggur, atau konsentrat buah anggur, maka juice dari kismis boleh digunakan.
Di daerah-daerah terpencil di mana bahan-bahan ini tidak tersedia, maka konferens atau
daerah misi akan memberikan petunjuk atau bantuan.
Resep untuk roti Perjamuan
Bahan-bahan:
1 mangkuk tepung terigu halus (lebih disukai terigu utuh)
¼ sendok teh garam
2 sendok makan air dingin
¼ mangkuk minyak zaitun atau minyak sayur
Cara membuat: Ayaklah tepung dan garam bersama-sama. Tuangkan air ke dalam
minyak, tetapi jangan dikocok. Tambahkanlah ini ke bahan-bahan kering dan aduk dengan
garpu sampai seluruh tepung menjadi lembab. Ratakanlah di antara dua lembar kertas lilin
(waxed) menjadi setebal kue kering (pastry). Taruhlah di atas pemanggangan roti yang tidak
dibubuhi minyak dan tepung, dan tandailah dengan memakai pisau tajam menjadi empat
persegi sebesar sekali mengigit, tusuklah dengan hati-hati setiap roti persegi empat itu untuk
mencegah jangan sampai menggelembung. Pangganglah selama 10 sampai 15 menit dengan
panas 450º F. Perhatian baik-baik selama 5 menit terakhir jangan sampai gosong. Cukup
untuk 50 orang.
Resep alternatif untuk roti Perjamuan Kudus
Bahan-bahan:
1 mangkuk tepung terigu halus (lebih disukai tepung utuh)
¼ sendok teh garam
3 sendok makan minyak sayur murni
4 ½ sendok makan air dingin
Cara membuatnya: Taruhlah minyak dalam mangkuk besar (mangkuk sup) dan
tambahkan garam. Dengan pelan-pelan tambahkan air, sambil mengocok dengan garpu
sampai seluruh bahan menjadi emulsi putih yang kental. Dengan cepat tambahkan tepung dan
campur pelan-pelan menjadi adonan. Taruh di atas papan membuat roti. Gulunglah berulang-
ulang dan pukullah dengan pemukul kayu atau penumbuk kentang sampai elastis (5 atau 6
menit). Ratakan menjadi kira-kira setebal kulit pastel, taruh di atas tempat memanggang yang
di olesi minyak, dan tandai dengan pisau tajam menjadi persegi empat dengan ukuran sekali
gigit. Pangganglah dengan panas 400º F. Pangganglah sampai berwarna coklat sedikit, sebab
berwarna coklat akan memberikan citrarasa yang kuat.
Anggur yang tidak difermentasi. – Pilihlah buah anggur yang baik, lepaskanlah dari
tangkainya dan rebuslah dalam panci enamel (email) sampai mendidih. Saring dengan
kain kasar, lalu rebus selama 5 menit. Tepat sebelum juice mendidih, sendokilah semua
buih yang timbul. Bilamana juice sudah mencapai titik mendidih, tuangkanlah ke
dalam botol yang kuat yang telah disterilkan dan dijaga tetap hangat supaya tidak
pecah pada waktu juice panas dimasukkan ke dalamnya. Isilah sampai kira-kira
setengah inci di bawah tutupnya dan tutuplah segera. Potong tutup botol sama dengan
mulut botol, lalu segel dengan lilin. Simpanlah di tempat yang gelap, dan jangan
pindahkan botol jika tidak perlu.
PASAL 37
ritual Penguburan
Pada baptisan orang memandang pada calon yang dibaptiskan. Pada pernikahan
orang memandang pada mempelai yang dinikahkan. Tetapi pada ritual penguburan orang
memandang kepada Allah. Janganlah buat ritual penguburan suatu yang mengerikan.
Wajar semua orang membenci kematian, dan engkau harus mengambil keuntungan yang
sepenuhnya dari setiap kesempatan di mana orang-orang memandang kepada Allah.
Hormatilah kebiasaan budaya setempat sementara engkau menangani kematian dan
ritual penguburan – tetapi hanya sejauh tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip Kristen
dan ajaran Alkitab mengenai kematian. Dorong anggotamu untuk beralih dari kebiasaan
budaya yang percaya pada kebakaan jiwa dan perlunya menenangkan roh-roh.
Hormatilah tradisi jemaatmu. Setiap gereja cenderung memiliki kebiasaan ritual
penguburan. Sebagai contoh, sebagian mengantarkan makanan ke rumah orang yang sedang
berduka, yang lain menyediakan makanan di gereja sesudah ritual penguburan. Sebagian
melakukan ritual penguburan di gereja; yang lain memakai ruangan yang khusus
untuk ritual penguburan. Sebagian menjadwalkan melihat orang yang sudah meninggal
pada waktu orang-orang memasuki gereja untuk mengadakan ritual penguburan, sementara
yang lain sebelum pemberangkatan jenazah, dan yang lain lagi bahkan tidak sama sekali.
Pelajarilah kebiasaan ritual penguburan jemaatmu yang baru sebelum melaksanakan
ritual penguburan yang pertama.
Oleh sebab kebudayaan dan jemaat sangat bervariasi, hanya penuntun dasar yang
akan diberikan di sini. Penuntun ini mungkin membutuhkan penyesuaian supaya cocok
dengan kebiasaan setempat.
Sebelum ritual
Mengunjungi keluarga yang berduka. – Kunjungilah secepatnya, jika mungkin.
Tidak usah berbicara banyak. Orang-orang sangat terguncang. Pikiran mereka sedang
lumpuh. Ini bukan waktunya untuk memberikan ceramah teologia. Orang yang berduka
mengingat sangat sedikit mengenai apa yang dikatakan selama waktu guncangan pertama ini,
tetapi mereka akan mengingat bukti-bukti nonverbal yang menyatakan bahwa angkau perduli
kepada mereka. Mereka akan mengingat bahwa engkau meninggalkan segalanya agar bisa
datang mengunjungi mereka. Mereka akan mengingat rangkulan yang dilakukan dari lubuk
hati yang terdalam. Isteri pendeta yang perduli sering lebih efektif terhadap wanita-wanita
yang sedang berduka daripada suaminya yang yaitu pendeta. Saling berpegangan tangan
waktu berdoa pada umumnya sangat berterima.
Berikan bantuan gereja. Orang-orang yang berduka jarang memakai saran,
“Beritahukanlah kepada kami jika ada yang bisa kami bantu.” Mereka tidak mau menduga-
duga dan mungkin tidak bisa berpikir cukup jernih untuk mengetahui apa yang akan diminta.
Oleh sebab itu, berikanlah saran spesifik bagaimana gereja bisa membantu: memberitahu
sanak saudara dan sahabat-sahabat, menjawab telepon atau pintu, membawa anak-anak ke
rumah anggota sehari atau dua hari, menyediakan makanan atau membersihkan rumah
sebagai persiapan kepada rombongan.
Tetapi jangan berusaha untuk menggantikan orang yang berduka itu dari melakukan
pekerjaan yang akan dilakukan. Membuat mereka tetap sibuk yaitu salah satu obat penawar
dukacita yang ampuh. Membuat mereka tidak melakukan apa-apa akan menambah
kemurungan (depresi). Orang yang berdukacita harus diizinkan untuk melakukan sebanyak
mungkin kegiatan selama masa krisis itu.
Berikan bantuanmu sebagai gembala jemaat. Selalulah mulai dengan menganggap
bahwa keluarga mungkin menginginkan seseorang yang lain yang akan melaksanakan
ritual penguburan. Tanyakanlah, “Sudahkah Anda menghubungi pendeta yang Anda
inginkan untuk melaksanakan ritual penguburan?” Keluarga juga mungkin menginginkan
seseorang untuk menyanyi, mengangkat peti jenazah atau untuk membantu pendeta dalam
ritual itu.
Jika engkau pernah diundang menjadi pendeta tamu untuk melaksanakan ritual
penguburan di distrik gembala jemaat lain, bekerjalah erat dengan gembala jemaat setempat.
Doronglah keluarga yang berduka agar gembala jemaat mereka membantumu.
Jika keluarga yang

