tanda akhir zaman 2

tanda akhir zaman 2


  


dengan Barat, tetapi dengan yakin berharap bahwa itu akan 

menghasilkan kemenangan bagi Barat.  

 

Ada seorang filsuf sejarah dunia Barat, Arnold Toynbee, 

yang masih menjadi teka-teki. Dia yaitu  seorang Kristen yang 

taat, namun pemikirannya tertanam kuat dalam peradaban Barat 

sekuler. Dia berjuang untuk merumuskan pandangan sejarah 

yang akan mengakomodasi pandangan Barat serta Kristen 

tentang kebenaran dan sejarah. Karya intelektualnya 

berkontribusi dalam membentuk aliansi Euro-Yahudi / Euro 

Kristen yang sekarang menguasai dunia demi kepentingan 

Negara Euro-Yahudi Israel. 

 

❖ PANDANGAN ISLAM TENTANG PERGERAKAN 

DAN AKHIR SEJARAH 

 

Sekarang mari kita beralih ke pandangan Islam tentang topik di 

mana pergerakan sejarah ditentukan oleh pergerakan kebenaran 

dalam sejarah. Allah Subhanahu wa Ta’ala yaitu  Al-Haq (yaitu, 

Kebenaran): 

 

 

“sebab  Allah, Dialah (Tuhan) Al-Haq (kebenaran) …” 

 

(Al-Qur’an Surat Al-Hajj, 22: 62) 

 

Tidak hanya Dia Yang Mahatinggi, Kebenaran, tetapi 

Kebenaran juga berasal dari-Nya dalam bentuk Firman yang 

diwahyukan: 

 

“Dan katakanlah, Kebenaran itu datangnya dari 

Tuhanmu …” 

39 

 

 

(Al-Qur’an Surat Al-Kahfi, 18: 29)  

 

Al-Qur’an juga menjelaskan segala sesuatu di alam dunia sekitar 

kita  mengandung Kebenaran:  

 

“Dan mengapa mereka tidak memikirkan tentang 

(kejadian) diri mereka? Allah tidak menciptakan langit 

dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya 

melainkan dengan Kebenaran dan dalam waktu yang 

ditentukan . . . .” 

 

(Al-Qur’an Surat Rum, 30: 8) 

 

Kebenaran (Al-Haq) yang datang dari Allah Subhanahu wa Ta’ala 

memicu konfrontasi dengan kebatilan (Al-Batil). Dalam 

pandangan Islam, konflik antara kebenaran dan kebatilan 

merupakan faktor dominan yang menentukan pergerakan 

sejarah. Manusia berpartisipasi dalam perjuangan ini sebab  

Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi  kepada mereka kebebasan 

memilih. Meskipun mereka memiliki kebebasan terbatas, namun 

tetap saja itu yaitu  kebebasan: 

 

“Dan katakanlah, Kebenaran itu datangnya dari 

Tuhanmu; barangsiapa menerimanya hendaklah dia 

beriman, dan barangsiapa menolaknya biarlah dia kafir.” 

 

(Al-Qur’an Surat Al-Kahfi, 18: 29) 

 

Manusia bebas memilih, apakah menerima kebenaran dan diberi 

pahala atas pilihan itu, atau menolaknya dan menerima akibat 

dari penolakan itu. Keinginan mandiri dan kemampuan bebas 

memilih ini menyebabkan proses sejarah kadang-kadang 

bergerak ke arah ini, kadang ke arah itu. Dr. Burhan Ahmad 

40 

 

Faruqi menggunakan istilah zigzag untuk menggambarkan 

pergerakan sejarah. Ini bergerak sekarang seperti ini, dan 

lalu  - terkadang kemajuan dan terkadang kemunduran 

yang mencerminkan keberhasilan dan kegagalan dalam 

perjuangan moral. Dengan demikian, Islam menolak baik 

pandangan siklik maupun pandangan regresi linier dan 

pandangan progresif linier pada pergerakan sejarah. 

 

Intervensi Ilahi terjadi dalam proses sejarah saat  para 

Nabi diutus, dan saat  Kitab Suci diturunkan. Intervensi 

ini  mengakibatkan seorang Nabi menyelipkan dirinya 

dalam sapuan sejarah dan melancarkan upaya untuk 

mengarahkan kembali pergerakan sejarah agar dikembalikan ke 

jalan yang lurus (Siratal Mustaqim). Intervensi ilahi ini 

merupakan kejadian penting dalam proses sejarah. Kedatangan 

Nabi Muhammad (shala Allahu ‘alaihi wa salam), meski demikian, 

menyaksikan kemenangan kebenaran yang paling menentukan 

dan paling komprehensif atas kebatilan yang pernah terjadi 

dalam sejarah.  

 

Dr. Faruqi menggunakan Al-Qur’an untuk menunjukkan 

pandangan Islam bahwa sejarah tidak dapat berakhir tanpa 

kemenangan kebenaran atas kebatilan. Peristiwa seperti itu, 

meski demikian, akan memvalidasi klaim Islam atas kebenaran 

sebab  itu akan memberi  realisasi kembali zaman keemasan 

para Nabi, Daud dan Sulaiman (‘alaihima salam), saat  Negara 

Suci Israel (Islam) menguasai dunia dari Tanah Suci, dan masa 

keemasan Nabi Muhammad (shala Allahu ‘alaihi wa salam) yang 

menyatakan: “Sahabat-sahabatku seperti hujan. Aku tidak tahu 

curahan mana yang lebih baik, yang pertama atau yang terakhir”.  

 

Nabi Muhammad (shala Allahu ‘alaihi wa salam) telah 

memberi  gambaran tentang Akhir Zaman yang akan 

mendahului akhir sejarah. Banyak Tanda Hari Akhir 

41 

 

mengungkapkan peristiwa-peristiwa besar yang akan terjadi 

pada Akhir Zaman. Peristiwa ini akan tampak seperti badai 

kejahatan yang bertiup ke seluruh dunia saat menyaring biji-

bijian (yaitu, mereka yang memiliki iman sejati) dari sekam 

(mereka yang tidak memiliki keyakinan).  

 

Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan badai kejahatan yang 

akan menyapu semua orang ke dalam tong sampah sejarah - 

kecuali mereka yang memiliki keyakinan teguh kepada Tuhan 

Yang Maha Esa dan kebenaran yang datang dari-Nya. Islam 

menyatakan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus 

Muhammad (shala Allahu ‘alaihi wa salam) sebagai Nabi terakhir 

dan Rasul-Nya kepada seluruh umat manusia, dan mengutusnya 

dengan Al-Qur’an sebagai kitab suci terakhir yang diturunkan 

Tuhan. Sejauh dia benar-benar seorang Nabi yang benar, dan Al-

Qur’an memang wahyu ilahi, maka hanya mereka yang dengan 

setia mengikutinya, dan yang dibimbing oleh Al-Qur’an, yang 

dapat bertahan dari badai kejahatan. 

 

Esai-esai dalam artikel  ini mencoba untuk menemukan dan 

menjelaskan beberapa dari Tanda-Tanda Hari Akhir yang telah 

muncul di dunia modern. Tanda-tanda itu menggambarkan badai 

kejahatan yang sudah dilepaskan dan menyapu semua orang ke 

dalam tong sampah sejarah kecuali yang benar-benar beriman. 

Bahaya terbesar bagi cara hidup religius yang menyertai badai 

itu yaitu  serangan epistemologis terhadap jantung spiritual 

agama. 

 

❖ BADAI JAHAT DAN PERANG TERHADAP INTI 

SPIRITUAL AGAMA 

 

Ada orang-orang sesat dan jahat di dunia modern yang aneh ini 

yang terus menerus menyerang dan berusaha menghancurkan 

inti spiritual dalam jalan hidup religius. Mereka telah 

42 

 

menghancurkan inti spiritual Kristen, Yahudi, Hindu, dan Budha 

dan sekarang menargetkan Islam. Mereka menjelekkan ahli Sufi 

Islam yang otentik seperti guru saya yang terpelajar Maulana Dr. 

Muhammad Fazlur Rahman Ansari, dan gurunya yang 

termasyhur, Maulana Abdul Aleem Siddiqui, dan secara keliru 

menuduh mereka sebagai orang sesat yang terlibat dalam 

tindakan Syirik. 

 

Mereka yaitu  orang-orang yang secara efektif bergabung 

dengan barisan musuh-musuh Islam yang saat ini sedang 

berperang melawan Islam dan umat Muslim di seluruh dunia. 

Mereka sendiri tidak menyadari bahwa mereka telah diperalat 

oleh seorang dalang dengan tujuan mesianis yaitu menghalangi 

umat Islam untuk menyadari kenyataan dunia saat ini. 

Dalangnya yaitu Dajjal Al-Masih palsu atau Anti-Kristus, yang 

bermata satu, dan sebab nya buta secara spiritual, dan yang tahu 

bahwa orang-orang yang buta spiritual tidak dapat mengenali 

Tanda-Tanda Hari Akhir. 

 

Banyak nubuwah Nabi Muhammad (shala Allahu ‘alaihi wa 

salam) tentang ‘Tanda-tanda Hari Akhir’ telah disampaikan 

kepada kita dalam bahasa kiasan yang harus ditakwilkan agar 

dapat dipahami dengan benar. Proses penakwilan ini  

membutuhkan penerapan epistemologi Sufi untuk melihat 

dengan mata batin internal (yaitu, ilmu pengetahuan spiritual 

intuitif internal). Ini juga membutuhkan pengamatan yang tajam 

terhadap peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam proses sejarah.  

 

Beruntung sekali penulis ini menjadi murid dari seorang 

Syeikh Sufi yang otentik. Esai-esai dalam artikel  ini yaitu  buah 

dari upaya sederhana untuk menakwilkan proses sejarah, dan 

peristiwa-peristiwa yang kini terjadi di dunia, dalam konteks 

Tanda-tanda Hari Akhir. Barangkali esai-esai ini dapat 

membantu orang-orang, yang lebih berbakat dibandingkan  penulis 

43 

 

ini, untuk memahami dan menakwilkan ‘Tanda-tanda Hari 

Akhir’ dengan cara yang lebih meyakinkan tentunya akan 

menunjukkan ‘Kebenaran’ dalam Islam. 

 

Hadits (yaitu, sabda Nabi Muhammad (shala Allahu ‘alaihi wa 

salam)) yang dikutip di bawah ini hanyalah sebagian kecil dari 

hadits yang membahas tentang ‘Tanda-tanda Hari Akhir’. Para 

pembaca harus senantiasa waspada saat mengkaji Hadits tentang 

topik ini sebab  hal ini pasti menjadi sasaran utama orang-orang 

dengan misi jahat yaitu mengarang Hadits palsu sehingga 

menyesatkan Muslim dan merusak pemahaman mereka tentang 

topik yang sangat penting ini. 

 

Bagian dari metodologi yang digunakan untuk 

mengidentifikasi Hadits dengan integritas yang meragukan 

yaitu  dengan pertama-tama menemukan sistem makna yang 

konsisten yang akan menjelaskan topik secara keseluruhan yang 

didapatkan dari Al-Qur’an dan Hadits. lalu  kita dapat 

menangguhkan pertimbangan sehubungan dengan Hadits yang 

tidak selaras dengan sistem makna itu. Tidak ada yang lebih 

membutuhkan metodologi seperti ini selain dalam mengkaji 

‘Tanda-tanda Hari Akhir’. 

 

Teks terjemahan Hadits berikut kadang-kadang diselingi 

dengan komentar singkat kami yang diapit oleh tanda kurung. 

Selain itu, terkadang kami menawarkan tafsiran singkat dalam 

sebuah Hadits: 

 

*** 

 

Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda: “Hari 

Akhir tidak akan datang kecuali (dan sampai) kaum Muslimin 

memerangi kaum Yahudi dan kaum Muslimin membunuh 

mereka (yaitu, kalahkan mereka sehingga) kaum Yahudi akan 

bersembunyi di balik batu atau pohon dan sebuah batu atau 

44 

 

pohon akan berkata: Muslim, atau hamba Allah, ada seorang 

Yahudi di belakangku; datang dan bunuh dia; tetapi pohon 

Gharqad tidak akan mengatakan demikian, sebab  itu yaitu  

pohon orang Yahudi.” 

 

(Sahih Muslim) 

 

Nubuwah Hari Akhir ini dengan sangat jelas mengesampingkan 

kemungkinan penyelesaian damai dalam konflik antara kaum 

Yahudi dan Muslim atas penindasan kaum Yahudi di Tanah Suci 

dan di tempat lain di dunia. 

 

***  

 

Anas bin Malik meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda: 

“Dajjal akan diikuti oleh tujuh puluh ribu orang Yahudi Isfahan 

yang mengenakan syal Persia.” 

 

(Sahih Muslim) 

 

Ini menunjukkan bahwa orang-orang Yahudi Eropa dan 

Gerakan Zionis Eropa yang mendirikan Negara Israel, pada 

akhirnya akan melepaskan kekuasaan dan kendali atas Israel dan 

merayu orang-orang Yahudi yang sebenarnya, yaitu orang-

orang Yahudi oriental, untuk menggantikan mereka. Sangatlah 

penting bahwa seorang Yahudi Iran kini menjadi Presiden Israel. 

 

*** 

 

Jabir bin Samurah meriwayatkan: Saya mendengar Rasulullah 

bersabda: “Sebelum Hari Kiamat akan ada banyak pendusta 

(besar).” Ada tambahan dalam Hadits yang diturunkan atas 

otoritas Abul Ahwas dari kata-kata ini: “Saya bertanya 

kepadanya: Apakah engkau mendengarnya dari Rasulullah? 

Dia berkata: Ya.”  

 

45 

 

(Sahih Muslim) 

 

Kebohongan besar itu sudah keluar dari Washington, London, 

dan Tel Aviv / Yerusalem. Selain itu, dunia terus menerus 

menjadi sasaran kebohongan dan informasi yang salah yang 

tersebar melalui media berita internasional yang didominasi 

Barat. 

 

*** 

 

Hudhayfah bin Usayd Ghifari meriwayatkan: “Rasulullah 

datang kepada kami secara tiba-tiba saat kami sedang 

berkumpul (dalam sebuah diskusi). Dia bertanya: Apa yang 

kalian diskusikan? (Para Sahabat) berkata: Kita sedang 

membahas tentang Kiamat. sesudah  itu dia bersabda: Itu tidak 

akan datang sampai kalian melihat sepuluh tanda dan (dalam 

hubungan ini) dia menyebutkan ‘asap’, ‘Dajjal’, ‘binatang’, 

‘terbitnya matahari dari barat’, ‘turunnya ‘Isa putra Maryam’, 

‘Yakjuj dan Makjuj’, dan ‘gempa bumi di tiga tempat, satu di 

timur, satu di barat dan satu di Arab, yang pada akhirnya ‘api 

akan menyala dari Yaman dan akan mendorong orang ke 

tempat berkumpul mereka’. 

 

(Sahih Muslim) 

 

Lihat esai dalam artikel  ini yang berjudul “Sepuluh Tanda Utama 

Hari Terakhir - Apakah Satu Baru Saja Terjadi?” 

 

*** 

 

‘Umar bin Khattab (ra) berkata: 

 

“Saat kami duduk suatu hari bersama Rasulullah (shala 

Allahu ‘alaihi wa salam), seorang pria tiba-tiba muncul. Dia 

mengenakan pakaian putih bersih dan rambutnya hitam pekat 

46 

 

– tidak ada tanda-tanda perjalanan padanya, namun tidak ada 

dari kami yang mengenalnya. 

 

Dia datang dan duduk di hadapan Nabi (shala Allahu ‘alaihi 

wa salam), meletakkan lututnya bersentuhan dengan lutut 

Nabi (shala Allahu ‘alaihi wa salam), dan tangannya di atas 

pahanya. Dia berkata, “Hai Muhammad! Jelaskan tentang 

Islam.” 

 

Rasulullah (shala Allahu ‘alaihi wa salam) menjawab, “Islam 

yaitu bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan bahwa 

Muhammad yaitu  Rasulullah; mendirikan shalat; membayar 

Zakat; berpuasa Ramadhan; dan melaksanakan ibadah Haji ke 

Rumah Allah jika mampu.” 

 

Pria itu berkata, “Engkau benar,” dan kami terkejut bahwa dia 

bertanya dan lalu  mengkonfirmasi jawabannya.  

 

lalu , dia bertanya, “Beritahu aku apa itu iman.” 

 

Nabi (shala Allahu ‘alaihi wa salam) menjawab, “Iman 

yaitu  percaya kepada Allah; Malaikat-malaikat-Nya; Kitab-

kitab-Nya; Rasul-rasul-Nya; Hari Akhir; dan qodho dan 

qodhar.” 

 

Pria itu berkata, “Engkau benar. Kini, beritahu aku tentang 

keunggulan spiritual (Ihsan).” 

 

Nabi (shala Allahu ‘alaihi wa salam) menjawab,”Ihsan 

yaitu  beribadah kepada Allah seakan melihat-Nya; dan jika 

engkau tidak melihat-Nya, (maka ketahuilah bahwa) Dia 

tentu melihatmu.” 

 

“Sekarang, beritahu aku tentang As-Sa’ah,” tanya pria itu. 

 

Nabi (shala Allahu ‘alaihi wa salam) menjawab, “Yang 

ditanya tidak lebih tahu dibandingkan  yang bertanya.” 

 

47 

 

“Maka beritahu aku tentang tanda-tandanya,” kata pria itu. 

 

Nabi (shala Allahu ‘alaihi wa salam) menjawab, “Bahwa 

seorang budak wanita akan melahirkan majikannya; dan 

bahwa engkau akan melihat para penggembala tanpa alas kaki 

bersaing dalam pembangunan gedung-gedung tinggi.” 

 

Lalu pengunjung itu pergi, dan aku menunggu lama sekali. 

lalu  Nabi (shala Allahu ‘alaihi wa salam) bertanya 

kepadaku, “Tahukah engkau, Umar, siapa penanya tadi?” 

 

Aku menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang paling tahu.” Dia 

(shala Allahu ‘alaihi wa salam) bersabda, “Dia yaitu  Jibril. 

Dia datang kepada kalian untuk mengajari kalian tentang 

agama.” 

 

(Sahih Muslim) 

 

 

Berikut yaitu  nubuwah yang disajikan dengan sangat jelas 

dalam bahasa kiasan yang harus ditakwilkan. Namun Hadits ini 

juga mengarahkan perhatian kita pada Al-Ihsan, atau 

pendalaman spiritual, sebagai bagian dari prasyarat yang 

diperlukan untuk menanggapi ‘Tanda-tanda Hari Akhir’. 

“Budak wanita  yang melahirkan majikannya” yaitu  

nubuwah mengejutkan yang hanya bisa ditakwilkan jika 

seseorang memahami dan mendalami nubuwah tentang Dajjal 

dengan Riba di satu sisi, dan Dajjal dengan revolusi feminis di 

sisi lain.  

 

*** 

 

Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Nabi bersabda: “Hari 

Kiamat (yaitu, Hari Akhir) tidak akan datang sebelum ilmu 

pengetahuan (agama) diangkat, gempa bumi akan sangat sering 

terjadi, waktu akan berlalu dengan cepat, penderitaan akan 

48 

 

muncul, pembunuhan akan meningkat dan uang akan melimpah 

di antara kalian.” 

 

(Sahih Bukhari) 

 

Kekosongan dalam ilmu agama dapat dengan mudah dipahami 

dalam konteks penyerangan yang telah dilancarkan terhadap 

para ulama Islam dan lembaga-lembaga pendidikan tinggi Islam. 

Serangan terhadap ulama Islam ini merupakan bagian dari 

perang terhadap Islam dan umat Muslim secara keseluruhan. 

 

*** 

 

Dari Ubay bin Ka’ab: Saya mendengar Rasulullah bersabda, 

“Efrat akan segera menampakkan gunung emas dan saat  

orang-orang mendengarnya mereka akan berbondong-bondong 

ke sana tetapi orang-orang yang akan memiliki (harta) itu (akan 

berkata): Jika kita membiarkan orang-orang ini mengambilnya, 

mereka akan mengambil semuanya.” Jadi mereka akan 

bertempur dan sembilan puluh sembilan dari seratus akan 

terbunuh. Abu Kamil dalam narasinya mengatakan: “Aku dan 

Abu Ka'ab berdiri di bawah naungan benteng Hassan.”  

 

(Sahih Muslim) 

 

Saya percaya gunung emas yang ditemukan di Sungai Efrat 

hanya dapat dipahami sebagai simbol minyak bumi (emas 

hitam) dan bahwa kematian yang dinubuwahkan (99 dari setiap 

100) akan terjadi dalam perang untuk menguasai sumber minyak 

ini . Mungkin senjata pemusnah massal seperti senjata 

nuklir akan digunakan pada masa depan. 

 

*** 

 

Berikut yaitu  beberapa Hadits yang dipilih secara acak 

yang berkaitan dengan Tanda-tanda Hari Akhir: 

49 

 

 

Sa’ad bin Abu Waqqas meriwayatkan: Rasulullah bersabda, 

“Kiamat tidak akan datang hingga munculnya orang-orang 

yang makan dengan lidah seperti sapi.” Ahmad 

merawikannya.” 

 

(Tirmizi) 

 

*** 

 

Hudhaifah meriwayatkan bahwa Nabi bersabda, “Kiamat tidak 

akan datang sampai kalian membunuh pemimpin kalian, 

bertarung bersama dengan pedang kalian, dan yang terburuk 

mewarisi harta dunia kalian.” 

 

(Sunan Tirmizi) 

 

*** 

 

Anas bin Malik meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda, 

“Kiamat tidak akan datang sampai waktu berlalu dengan cepat, 

satu tahun seperti sebulan, sebulan seperti seminggu, seminggu 

seperti sehari, sehari seperti satu jam, dan satu jam seperti nyala 

api.” 

 

(Sunan Tirmizi) 

 

*** 

 

Abu Sa’id al-Khudri meriwayatkan bahwa Rasulullah 

bersabda, “Demi Dia yang jiwaku ada dalam genggaman-

Nya, Kiamat tidak akan datang sampai binatang buas 

berbicara kepada manusia, ujung cambuk manusia dan tali 

sandalnya berbicara kepadanya, dan memberi tahu dia apa 

yang telah dilakukan keluarganya sejak dia pergi 

50 

 

meninggalkan mereka.” (Ini tampaknya memperkirakan 

munculnya ponsel modern.) 

 

(Sunan Tirmizi) 

 

*** 

 

Talhah bin Malik meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda, 

“Salah satu tanda mendekatnya Hari Kiamat yaitu  kehancuran 

bangsa Arab (yaitu, perang melawan bangsa Arab).” 

 

(Sunan Tirmizi) 

 

*** 

 

Abdullah bin Hawalah al-Azdi meriwayatkan: “Rasulullah 

mengutus kami dengan berjalan kaki untuk mendapatkan 

rampasan, tetapi kami kembali tanpa mendapatkan apa pun. 

saat  dia melihat tanda-tanda kesusahan di wajah kami, dia 

berdiri di depan kami dan bersabda: Ya Allah, jangan 

tempatkan mereka di bawah pengawasanku, sebab  aku akan 

terlalu lemah untuk merawat mereka; jangan tempatkan mereka 

dalam perawatan diri mereka sendiri, sebab  mereka tidak akan 

mampu melakukannya, dan jangan tempatkan mereka dalam 

perawatan manusia, sebab  mereka akan memilih hal-hal 

terbaik untuk diri mereka sendiri. Dia lalu  meletakkan 

tangannya di atas kepalaku dan bersabda: Ibnu Hawalah, saat  

engkau melihat Khilafah didirikan di Tanah Suci (yaitu, saat  

Negara Euro-Yahudi Israel penipu menguasai dunia dari Tanah 

Suci) gempa bumi, kesedihan, dan masalah serius akan 

mendekat, maka pada hari itu Kiamat akan datang lebih dekat 

dengan umat manusia dibandingkan  tanganku ini ke kepalamu.” 

 

(Sunan Abu Daud) 

 

*** 

51 

 

 

Anas bin Malik meriwayatkan bahwa Nabi bersabda: “Kiamat 

tidak akan datang sampai orang-orang saling bersaing tentang 

Masjid (yaitu, saling bersaing untuk mendapatkan kendali atas 

Masjid).” 

 

(Sunan Abu Daud) 

  

 

*** 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

52 

 

ESAI 4 

 

Iqbal, Epistemologi Sufi  

dan Akhir Sejarah  

 

 

 

alam esai ini kami berupaya untuk mengkaji munculnya 

paradoks epistemologis dalam pemikiran Dr. 

Muhammad Iqbal.  

 

Ada ilmu pengetahuan yang dia berikan kepada orang-

orang asli Muslim India yang menjadi sasaran penjajahan brutal 

Inggris anti-Islam, ilmu pengetahuan ini menyentuh jiwa mereka 

dan menyemangati mereka dengan penegasan kembali 

komitmen terhadap Islam sebagai agama. Ilmu pengetahuan ini 

dikomunikasikan dalam bahasa asli mereka - Urdu dan Persia. 

Seandainya hal ini dikomunikasikan dalam bahasa Inggris, 

dunia akademisi Eropa yang berperang melawan Islam akan 

menolak dan mencemoohnya. Iqbal akan kehilangan prestise di 

antara rekan-rekan Eropa-nya. 

 

Dan lalu  ada ilmu pengetahuan lain yang dia 

komunikasikan dalam bahasa Inggris, dan termasuk 

pandangannya tentang ‘Akhir Zaman’. Ilmu pengetahuan ini 

mengesankan akademisi Eropa, serta rekan senegaranya yang 

berpendidikan Barat. Seandainya sebagian dari pendapatnya 

dikomunikasikan dalam bahasa Urdu atau Persia, seperti 

penolakannya terhadap keyakinan pada kedatangan Imam Al-

Mahdi, atau Dajjal Al-Masih palsu atau Anti-Kristus, dan 

kembalinya Al-Masih asli, Nabi ‘Isa putra Perawan Maryam, 

maka ini akan menciptakan masalah serius dan permanen 

53 

 

baginya di kalangan warga  Muslim. Sampai hari ini, ada 

banyak Muslim yang terinspirasi oleh Iqbal, tetapi tetap dengan 

senang hati mengabaikan pandangannya tentang ‘Akhir Zaman’. 

 

Dualisme dalam pemikiran dan karya Iqbal diperparah oleh 

fakta bahwa ia terkadang mengatakan satu hal dalam bahasa 

Inggris, dan lalu  melanjutkan dengan mengatakan sesuatu 

yang sangat berbeda dalam bahasa Urdu atau Persia. 

 

Misalnya, ia setuju dengan Ijtihad Turki (jika bisa disebut 

demikian) sehingga Imamah atau Khilafah (yang dihapuskan 

oleh Majelis Nasional Turki Mustafa Kamal pada tahun 1924) 

dapat diberikan kepada orang pribadi atau Majelis terpilih. 

Asalkan Parlemen modern terdiri dari orang-orang Muslim yang 

baik, Iqbal akan bersedia menerimanya sebagai pengganti 

Khilafah yang sah. Namun Iqbal, dalam bait puisinya, mendesak 

pemulihan Khilafah, dan mengupayakan mobilisasi semangat 

Islam: 

 

“Taa Khilafat kee bina dunyah main ho phir ustawaar, 

 

La kahein say dhoond kar aslaaf ka qalb-o-jigar.” 

 

(Untuk memperkuat atau menghidupkan tujuan (pemulihan) 

Kekhalifahan di dunia ini,  

 

Sangat penting bagi kita untuk menemukan dan membangun 

kembali jantung dan hati, yaitu keberanian, keimanan, dan 

kesungguhan Muslim generasi pertama.) 

 

Iqbal cukup terang-terangan dalam penolakannya terhadap 

keyakinan pada kedatangan Imam Al-Mahdi dan kembalinya 

Al-Masih sejati, Nabi ‘Isa putra Perawan Maryam. Inilah 

pendapatnya: 

54 

 

 

“Doktrin finalitas kenabian selanjutnya dapat dianggap 

sebagai obat psikologis bagi sikap Majusi dari ekspektasi 

konstan yang cenderung memberi  pandangan yang keliru 

mengenai sejarah. Ibnu Khaldun, melihat semangat 

pandangannya sendiri tentang sejarah, sepenuhnya telah 

mengkritik dan, saya yakin, akhirnya menghancurkan dugaan 

dasar wahyu dalam Islam tentang sebuah gagasan yang mirip, 

setidaknya dalam efek psikologisnya, dengan gagasan yang 

berasal dari Majusi yang muncul kembali dalam Islam di 

bawah tekanan pemikiran Majusi.” 

 

(Iqbal, Dr. Muhammad., Rekonstruksi Pemikiran Religius 

dalam Islam, ed. Oleh M. Saeed Shaikh, Lahore, Institute of 

Islamic Culture, 1986) hal. 115 

 

Memang, dalam suratnya kepada Muhammad Ahsan dia 

menambahkan keyakinan pada kedatangan Dajjal Al-Masih 

palsu dalam daftar gagasan Majusi yang, menurutnya, telah 

menyusup ke dalam pemikiran Islam. Ini terlihat jelas dari 

penggunaan kata masihiyat. (Iqbal, Vol. II, hal. 231. Dikutip 

dalam M. Saeed Sheikh, “Pengantar Editor” pada Rekonstruksi 

karya Iqbal, op.cit., hal. xi).  

 

Namun Iqbal, dalam bait puisinya, cukup eksplisit dalam 

penegasan keyakinan akan kedatangan Imam Al-Mahdi: 

 

“Dari pengasingan gurun Hijaz, 

 

Panduan Zaman (Khidr-e-Waqt) akan datang, 

 

Dan dari lembah yang jauh sekali 

 

Kafilah akan muncul.” 

 

55 

 

Ada pendapat yang diungkapkan bahwa Khidr-e-waqt yang 

dimaksud Iqbal tidak lain yaitu  pendiri Pakistan Muhammad 

Ali Jinnah. Kami tidak setuju. Jinnah tidak dapat dibayangkan 

muncul dari lembah yang jauh di Hijaz. Sultan Abdul Aziz bin 

Saud, yang menempatkan Hijaz di bawah klien Inggris-

Amerika, juga tidak bisa dianggap sebagai Khidr-e-Waqt. Lalu 

siapa, selain Imam al-Mahdi, yang dimaksud Iqbal? 

 

Kami menelusuri dualisme yang tampaknya mengganggu 

dalam pemikiran dan karya Iqbal ini, dan kami menyarankan 

bahwa hal itu muncul dari ambivalensi epistemologis dalam 

pemikirannya. Epistemologi yang berbeda berfungsi pada 

tingkat kesadaran yang berbeda. Kesadaran teoretis Iqbal, yang 

beroperasi dengan bahasa Inggris, tampaknya berfungsi dengan 

satu epistemologi. Kesadaran estetika dan spiritualnya, yang 

beroperasi dengan bahasa aslinya, tampaknya berfungsi dengan 

epistemologi lain. Kecuali jika seseorang berhasil 

mengintegrasikan semua tingkat kesadaran ke dalam 

kepribadian, ambivalensi epistemologis dan dualisme dalam 

pemikiran dapat muncul.  

 

Akan merugikan Iqbal jika dikatakan bahwa dia sengaja 

memilih dualitas pandangan ini untuk menyesatkan 

pendengarnya di Eropa. Hal itu menyiratkan bahwa dia juga, 

dalam prosesnya, menyesatkan seluruh generasi Muslim 

bangsanya yang dengan mudah menyerap pandangannya yang 

diungkapkan dalam bahasa Inggris. Iqbal yaitu  seorang ulama 

yang terlalu masyhur dalam menggunakan keilmuan Islam 

untuk menyesatkan pembaca, yang termasuk begitu banyak 

orang Muslim bangsanya sendiri. 

 

 

 

❖ EPISTEMOLOGI SUFI 

56 

 

 

Para sufi memiliki catatan yang konsisten tidak hanya dalam 

menyadari, tetapi juga menggunakan hati sebagai sarana untuk 

memperoleh ilmu pengetahuan. Pengalaman hati yang ‘melihat’ 

dan langsung mengalami ‘kebenaran’, dalam istilah filsafat 

sering disebut sebagai ‘pengalaman religius’. Dalam arti yang 

lebih luas, ‘pengalaman religius’ juga mencakup ilmu 

pengetahuan spiritual intuitif internal yang menyampaikan 

‘hakikat’ atau ‘kenyataan’ mengenai suatu hal kepada orang 

beriman. Nabi (shala Allahu ‘alaihi wa salam) menyebutkannya 

saat  dia memperingatkan: “Perhatikanlah firasah (yaitu, 

kapasitas spiritual intuitif yang mampu memahami hakikat 

suatu hal) orang beriman, sebab  tentunya dia melihat dengan 

cahaya Allah.” (Tirmidzi) Dan Iqbal sendiri mengarahkan 

perhatian pada hal ini dalam sajaknya yang terkenal: 

 

“Hazaron saal Nargis 

 

apni baynuri pay roti hay, 

 

bari mushkil say hota hai, 

 

chaman main, deedawar paida.” 

 

“Selama ribuan tahun, 

 

Sang narcissus (bunga) meratapi kebutaannya; 

 

Dengan susah payahlah seorang bijak yang melihat (yaitu 

seseorang yang melihat apa yang orang lain tidak dapat 

melihat) 

 

Muncul di taman kehidupan.” 

 

Deedawar (yakni orang bijak) yang dimaksud Iqbal jelas 

yaitu  orang yang melihat dengan cahaya batin, dan ini yaitu  

57 

 

kualitas yang menentukan dari seorang Khidr. Iqbal sendiri, 

merupakan contoh deedawar. 

 

Epistemologi yang mengakui ‘pengalaman religius’ sebagai 

sumber ilmu inilah yang selanjutnya disebut sebagai 

epistemologi Sufi. Ilmu pengetahuan internal yang datang dari 

sumber semacam itu dikenal sebagai ‘Ilmu Al-Batin. 

 

Sepanjang sejarah, selalu penting bagi para penuntut ilmu 

agar dapat memahami ‘hakikat’ atau ‘kenyataan’ mengenai 

berbagai hal. Namun ini justru menjadi sangat penting pada 

zaman di mana ‘penampilan’ dan ‘kenyataan’ akan saling 

bertentangan satu sama lain. ‘Penampilan’ yang memikat akan 

sangat berbahaya sehingga, jika diterima, akan menyebabkan 

kehancuran iman. Dan oleh sebab nya, pada zaman ini, 

kelangsungan hidup bergantung pada kemampuan melampaui 

bentuk penampilan eksternal untuk mencapai hakikat internal, 

sehingga dengan demikian terselamatkan dari tipu daya dan 

kebinasaan. Islam menyatakan bahwa zaman ini akan terjadi 

sebelum hari kiamat. Maka hal ini menegaskan pentingnya 

epsitemologi Sufi. 

 

Nabi Muhammad (shala Allahu ‘alaihi wa salam) menyarankan 

agar Surat Al-Kahfi (Surat ke-18) dalam Al-Qur’an dibaca 

setiap hari Jumat sebagai perlindungan dari Fitnah (tipu daya, 

ujian) Dajjal dengan modus operandinya yaitu  menipu. Kisah 

Musa (‘alaihi salam) dan Khidr (‘alaihi salam) dalam Surat Al-Kahfi 

memberi  peringatan keras tentang berbahayanya kelemahan 

epistemologi Barat yang mengakui ilmu pengetahuan hanya 

didapat melalui pengamatan saja. Musa (‘alaihi salam) keliru 

dalam ketiga kesempatan. Khidir di sisi lain, yang melihat 

dengan cahaya Allah Subhanahu wa Ta’ala, mengoreksi kekeliruan 

yang dibuat Musa. 

 

58 

 

Kisah ini pun secara tidak langsung menunjukkan dampak 

yang tidak menyenangkan bagi komunitas yang bergabung 

dengan persekutuan Kristen dan Yahudi yang salah arah dalam 

aliansi Kristen-Yahudi yang diciptakan Zionis, sebagai 

golongan yang menjadi sasaran penipuan terbesar dan tidak 

mampu memahami secara akurat berjalannya proses sejarah. 

Oleh sebab  tertipu, mereka akan secara membabi buta 

mengikuti tokoh yang paling berbahaya, yaitu, Dajjal Al-Masih 

palsu atau Anti-Kristus, menuju kehancuran terakhir mereka 

dalam sejarah. Pandangan saya yaitu  bahwa penipuan ini telah 

terjadi, dan penghancuran terakhir Negara Euro-Yahudi Israel 

kini sudah pasti. 

 

Iqbal sendiri yaitu  contoh yang sangat baik dari seorang 

ulama dengan kemampuan melampaui penampilan untuk 

memahami kenyataan mengenai suatu hal. Dia melakukan studi 

menyeluruh dan mendalam tentang peradaban Kristen-Yahudi 

Barat modern dan sampai pada kesimpulan bahwa 

penampilannya sangat berbeda dari kenyataan yang sebenarnya. 

Hanya tiga bulan sebelum kematiannya, dia menyingkap tabir 

penampilan ‘kemajuan’ dan menyampaikan kecaman pedas 

terhadap Barat modern. Banyak pendukung modernisme Islam, 

termasuk orang-orang seperti Sheikh Muhammad Abduh, serta 

kaum liberal sekuler saat ini, telah menyatakan bahwa mereka 

justru melihat Islam hadir di Barat modern. Iqbal tidak tertipu: 

 

“Zaman modern bangga dengan kemajuannya dalam 

pengetahuan dan perkembangan ilmu sainsnya yang tiada 

tara. Tidak diragukan lagi, kebanggaan itu dibenarkan ... 

Tetapi terlepas dari semua perkembangan ini, tirani 

imperialisme bertebaran di luar negeri, menutupi wajahnya 

dengan topeng Demokrasi, Nasionalisme, Komunisme, 

Fasisme, dan langit pun tahu apa lagi selain itu. Di balik 

topeng ini, di setiap penjuru bumi, semangat kebebasan dan 

martabat manusia sedang diinjak-injak sampai sedemikian 

59 

 

parah sehingga bahkan periode tergelap dalam sejarah 

manusia pun tidak sebanding.” 

 

(Iqbal, Dr. Muhammad, Pesan Tahun Baru, 

Disiarkan dari Radio All India, Lahore, 1 Januari 1938. 

Dikutip dalam Syed Abdul Vahid, Pemikiran dan Renungan 

Iqbal, Lahore, Ashraf, 1964. hal. 373) 

 

❖ EPISTMOLOGI BARAT MODERN 

 

Peradaban Barat modern muncul sebagai akibat dari perubahan 

mendadak yang belum pernah terjadi sebelumnya dan sampai 

sekarang tidak dapat dijelaskan, berhasil mengambil alih Eropa. 

Sebuah peradaban yang sebelumnya didasarkan kepercayaan 

pada Kristen Eropa, dan telah menunjukkan ekspresi misterius 

berlandaskan keyakinan ini  dengan Perang Salib, 

mengalami perubahan radikal yang secara misterius 

mengubahnya menjadi peradaban Kristen-Yahudi yang pada 

dasarnya sekuler dan suka berbuat maksiat dengan berlandaskan 

pada materialisme. Epistemologi ‘mata-satu’ yang baru, 

membuka jalan bagi ajaran kolektif materialisme, merupakan 

epistemologi yang secara khusus menyangkal kemungkinan 

ilmu pengetahuan diperoleh melalui pengalaman religius, atau 

melalui ilham dari alam tak terlihat, yakni melalui mata kedua 

(mata hati). Observasi dan eksperimen ilmiah merupakan satu-

satunya cara yang sah untuk memperoleh ilmu pengetahuan; 

dengan demikian apa yang tidak bisa diamati maka tidak bisa 

diketahui. Epistemologi baru secara alami membuka jalan bagi 

kesimpulan dramatis, yaitu, bahwa alam yang tidak dapat 

diamati dan diketahui, tidak ada. Dengan demikian, tidak ada 

alam selain alam materi. 

 

 

 

 

60 

 

❖ TANGGAPAN EPISTEMOLOGIS IQBAL 

 

Iqbal menyadari bahwa penerimaan epistemologi Barat ini akan 

mengakibatkan kehancuran total pada ajaran agama, termasuk 

Islam. Ilmu pengetahuan akan disekulerkan, dan pikiran sekuler 

akan terputus dari alam gaib – alam sakral. Hati lalu  akan 

kehilangan cahaya suci sehingga tanpanya penglihatan akan 

meredup. Bahkan ulama terbaik di dunia Islam akan berada 

dalam bahaya ditipu oleh Barat, dan semua bangsa manusia akan 

menari mengikuti irama mereka. Pemikiran Islam akan menjadi 

sangat sekuler sehingga golongan Protestan buta spiritual yang 

disebut versi kebangkitan Islam pun muncul. Sebuah zaman, di 

mana peradaban Barat mendominasi total atas seluruh bangsa 

manusia, pun mengakibatkan bahaya besar bagi pemahaman 

epistemologis dan kerusakan pemikiran Muslim. 

 

Tanggapan Iqbal yaitu mencurahkan dua dari tujuh ceramah 

yang lalu  disusun dalam sebuah artikel  dengan judul 

“Rekonstruksi Pemikiran Religius dalam Islam”, untuk 

membela epistemologi Sufi dengan yakin, dan menempatkan 

dua ceramah ini di awal rangkaian ceramahnya. Keduanya 

menempati posisi penting sebagaimana bab pertama artikel  ini. 

(Lihat situs; http://www.allamaiqbal.com/works/prose/english/ 

reconstruction.) 

 

Dalam bab Ilmu Pengetahuan dan Pengalaman Religius 

serta Uji Filsafat Ilham Pengalaman Religius, Iqbal menyajikan 

tantangan yang paling argumentatif dan persuasif terhadap 

epistemologi Barat baru yang pernah ditulis oleh seorang 

Muslim. Dua bab pertama dalam artikel  Rekonstruksi ini disusun 

dan ditempatkan secara mencolok untuk tujuan ini, yaitu, 

mendorong kalangan ulama Islam untuk menyelidiki dengan 

cahaya Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan melampaui penampilan 

61 

 

menggoda yang dihadirkan oleh zaman modern, untuk 

memahami kenyataannya yang beracun. 

 

Lebih dari enam puluh tahun telah berlalu sejak tanggapan 

epistemologis terhadap tantangan Barat muncul dalam dua bab 

pertama artikel  Rekonstruksi, dan kalangan cendekia Barat tidak 

merendahkan hati untuk menanggapinya, begitu pula ulama 

Islam tidak peduli untuk mengikuti jejak epistemologis yang 

Iqbal sampaikan. Bahkan, kegagalan golongan ulama Islam ini 

sebagian berakibat menimbulkan keadaan buruk yang dialami 

umat Islam saat ini. Dunia Barat, dengan sistem pendidikan 

sekulernya, politik nafsu kekuasaan, keserakahan dan polarisasi 

warga , serta eksploitasi ekonomi, sudah mencapai 

keberhasilan hampir secara menyeluruh dalam menipu umat 

Islam sehingga dengan demikian memimpinnya menuju 

ketidakberdayaan, anarki, kebingungan intelektual, dan 

kehancuran iman. 

 

❖ AMBIVALENSI IQBAL 

 

Dari masa remaja sebagai mahasiswa di Lahore saat  ia 

bertemu dengan Thomas Arnold, hingga pendidikan pasca-

sarjananya di universitas-universitas terkemuka di Inggris dan 

Jerman, kedekatan Iqbal dengan pemikiran Barat sangat intim. 

Dia hidup pada zaman yang didorong untuk mengamati dan 

menanggapi lonjakan ilmu pengetahuan Barat yang unik dan 

menakjubkan sehingga memperluas batas-batas pengetahuan di 

hampir setiap cabang ilmu. Pemikiran modern peradaban Barat 

menempati panggung utama dalam dunia ilmu pengetahuan. 

Sejarah belum pernah menyaksikan sesuatu yang sebanding 

dengan keilmuan ini. Barat menantang dunia keilmuan 

tradisional dengan klaim telah berhasil melampaui segala 

sesuatu yang mendahuluinya. Bahkan, revolusi sains dan 

teknologi di Barat yaitu  sesuatu yang unik dalam dunia ilmu 

62 

 

pengetahuan. Sering kali rasa hormat Iqbal kepada keilmuan 

Barat tumbuh menjadi kekaguman secara langsung. Ini 

memuncak pada tahun-tahun terakhir hidupnya yang dituliskan 

dalam artikel  Rekonstruksi Pemikiran Religius dalam Islam. 

Kekagumannya kepada keilmuan Barat memicu akibat wajar 

yang mengganggu. Ini terungkap dengan sendirinya dalam 

klaim yang mengejutkan bahwa “... selama lima ratus tahun 

terakhir pemikiran religius dalam Islam praktis tidak 

berkembang” (Iqbal, Rekonstruksi, op.cit., hal. 6.) 

 

Dan sebagai akibat dari kekaguman yang mendalam kepada 

keilmuan Barat ini ditemukan dalam artikel  Rekonstruksi penuh 

dengan referensi dan kutipan dari rekan-rekannya di dunia 

keilmuan Barat itu. Tidak ada rekan seperti itu dalam 

komunitasnya sendiri, jadi tidak ada satu referensi pun dalam 

Rekonstruksi yang menyebutkan seorang ulama Muslim 

kontemporer dalam komunitas Muslim India yang besar dan 

berpengaruh secara intelektual. 

 

Ambivalensi ini, hubungan cinta-benci yang menemukan 

ekspresi dalam dua bab pertama Rekonstruksi, seperti dalam 

referensi tak berujung kepada para cendekiawan Barat, juga 

terungkap dalam pilihan bahasa Iqbal untuk menyapa umat 

Islam pada topik yang sama pentingnya dengan rekonstruksi 

pemikiran religius mereka. Dia memilih untuk berbicara kepada 

kaum intelektual Muslim yang berpendidikan Barat dalam 

bahasa Inggris. Tentu menjadi tontonan yang sangat 

menakjubkan untuk melihat Iqbal, tujuh puluh tahun yang lalu, 

berbicara kepada audiens Muslimnya yang sebagian besar tidak 

mengerti (perlu memahami ilmu pengetahuan filsafat untuk 

memahami ceramahnya) dalam bahasa Inggris murni dan 

dengan cara yang sesuai dengan etika dan kepekaan linguistik 

Barat sekuler. Tentu menjadi pemandangan yang sama 

menakjubkannya untuk melihat Iqbal yang sama menggunakan 

63 

 

bahasa asli Urdu dan bahasa Persia untuk menyampaikan pesan 

melalui sajak puisi yang bentuk dan hakikatnya cukup asing bagi 

pemikiran Barat. 

 

Kami percaya bahwa Iqbal sendiri tidak kebal dari pengaruh 

negatif epistemologi Barat yang sudah dia peringatkan. 

Puisinya, yang datang langsung dari hati, menerapkan 

penggunaan epistemologi Sufi yang tak tertandingi dan tidak 

terkekang oleh batasan epistemologis atau logika Barat. Hal ini 

tidak selalu dapat dikatakan sama dengan pemikirannya yang 

diungkapkan dalam bahasa Inggris. Tujuan kami dalam esai ini 

yaitu untuk mengarahkan perhatian pada topik yang 

menggambarkan dualitas pemikiran Iqbal. Topik ini  yaitu 

tentang eskatologi Islam.   

 

❖ ISLAM DAN AKHIR SEJARAH 

 

Apakah ada eskatologi Islam? Apakah Iqbal pernah 

menyampaikannya? 

 

Sesuai dengan konteks topik yang kita bahas di sini, untuk 

dicatat bahwa Islam sudah memilih istilah untuk periode waktu 

yang merujuk pada akhir zaman. Kata Islamnya yaitu As-Sa’ah. 

Informasi terpenting dalam topik As-Sa’ah ini, yakni, akhir 

zaman, ditentukan dalam kunjungan terkenal Malaikat Jibril 

(‘alaihi salam) saat  dia muncul di hadapan Nabi (shala Allahu 

‘alaihi wa salam) di Masjid dalam wujud seorang pria. Dia 

mengajukan pertanyaan, Nabi (shala Allahu ‘alaihi wa salam) 

menjawabnya, dan Jibril lalu  menegaskan bahwa jawaban 

itu benar. Beberapa saat sesudah  kepergiannya, Nabi (shala Allahu 

‘alaihi wa salam) memberi tahu umat Islam mengenai identitas 

sang pengunjung, dan fakta bahwa dia datang (pada tahap paling 

akhir dalam kehidupan Nabi) untuk mengajarkan mereka 

tentang ajaran agama mereka. Malaikat Jibril mengajukan lima 

64 

 

pertanyaan dan dua pertanyaan terakhir terkait dengan akhir 

zaman. Pertanyaan pertama dari dua pertanyaan terakhir itu 

yaitu : kapan akhir zaman akan datang? Nabi (shala Allahu ‘alaihi 

wa salam) menjawab bahwa orang yang ditanyai tidak memiliki 

lebih banyak pengetahuan tentang hal ini  dibandingkan  sang 

penanya. Pertanyaan kedua yaitu : beritahu aku tentang tanda-

tanda yang dengannya kita akan tahu bahwa akhir sudah dekat 

(yakni, apa saja tanda-tanda yang dengannya kita akan 

mengenali zaman yang merupakan akhir sejarah?) Dia 

menjawab bahwa seorang budak wanita akan melahirkan 

majikannya (dan ini sekarang menjadi mungkin dengan menjadi 

ibu pengganti dalam program bayi tabung), dan bahwa para 

gembala yang kemarin tanpa alas kaki akan bersaing satu sama 

lain dalam membangun gedung-gedung bertingkat. (Beberapa 

ulama Islam terkemuka pada zaman ini telah menyatakan bahwa 

tanda ini telah terwujud.) 

 

Hadits yang luar biasa ini menunjukkan betapa pentingnya 

keterkaitan Islam dengan pokok bahasan akhir sejarah. Hadits 

ini pun dengan jelas menetapkan bahwa kini kita hidup pada 

akhir zaman. 

 

Pandangan Islam tentang akhir zaman cukup komprehensif. 

Ini termasuk keyakinan bahwa bumi akan berfungsi sebagai 

tempat tinggal untuk waktu yang terbatas (Al-Baqarah 2: 36). 

Bumi suatu hari akan diubah menjadi tanah yang tandus (Al-

Kahfi 18: 8). Ini menyiratkan bahwa pada akhir zaman, akan 

terjadi kematian (sementara) bumi – sehingga dengan demikian 

terganggunya produksi makanan – akan didahului oleh zaman di 

mana persediaan air (tawar) terus berkurang, yang pada akhirnya 

menyebabkan kelangkaan air yang ekstrim. Nabi (shala Allahu 

‘alaihi wa salam) menggambarkan akhir zaman sebagai Zaman 

Fitnah (yakni ujian dan cobaan), dan Al-Qur’an 

memperingatkan bahwa semua bangsa manusia akan menjadi 

65 

 

sasarannya, dan bahwa hukuman Allah akan sangat mengerikan. 

(Al-Qur’an Surat Al-Anfal, 8: 25). 

 

Persediaan air yang terus berkurang terjadi sebagai akibat 

dari dilepasnya makhluk jahat ciptaan-Nya ke dunia oleh Allah 

Subhanahu wa Ta’ala, yaitu Yakjuj dan Makjuj. Dua Surat terakhir 

dalam Al-Qur’an secara khusus ditujukan untuk 

memperingatkan orang-orang beriman mengenai bahaya besar 

yang muncul di dunia sebagai akibat dari lepasnya “kejahatan 

yang diciptakan oleh Allah.” Bahaya besar muncul dalam 

bentuk “makhluk jahat” yang diciptakan oleh Allah Subhanahu wa 

Ta’ala untuk menguji dan menghukum. Makhluk jahat ini pun 

tentunya termasuk Dajjal Al-Masih palsu. Nabi (shala Allahu 

‘alaihi wa salam) menggambarkan Yakjuj dan Makjuj sebagai 

makhluk yang sangat kehausan sehingga mereka akan meminum 

semua air yang ada di dunia. “Mereka akan melewati Danau 

Tabariyah di (Tanah Suci) dan meminumnya sampai kering.” 

(Sahih Muslim). “Mereka akan melewati sungai”, dia bersabda, 

“dan mereka akan meminumnya hingga kering”. (Kanz Al-

Ummal, Vol. 7, Hadits No. 2157). Dengan demikian, akhir 

zaman ditandai dengan konsumsi berlebihan, pemborosan, dan 

sikap tidak menghargai air. Umat manusia akan menyaksikan, 

pada akhir zaman, kerusuhan dan perang demi memperebutkan 

air. 

 

Jika kita melihat sekeliling kita di dunia ini, tampak cukup 

jelas bahwa hitungan mundur terjadinya kelangkaan air sudah 

dimulai. Ada kekurangan air yang tidak menyenangkan dan 

terus bertambah parah di hampir semua bagian dunia saat ini. 

Kepala Program Lingkungan PBB baru-baru ini 

mengungkapkan kekhawatirannya bahwa dunia sedang menuju 

“periode perang antar negara disebabkan oleh air”. Seorang 

menteri pemerintah Pakistan memperingatkan kemungkinan 

terjadinya kerusuhan sebab  air di Kota Karachi. Proyek 

66 

 

Bendungan Kalabagh mengancam pertumpahan darah. 

Bendungan Farrakha, yang dibangun oleh India, mengancam 

akan menenggelamkan Bangladesh. Turki dan Suriah mungkin 

suatu hari akan berperang memperebutkan air yang merupakan 

salah satu masalah paling parah yang memecah belah mereka. 

Israel, Arab Palestina, dan negara-negara Arab tetangganya 

(khususnya Yordania) memiliki perselisihan yang serius dan 

semakin parah terkait pembagian pasokan air yang semakin 

menipis. Israel sebenarnya melancarkan perang sebab  air 

terhadap bangsa Arab Palestina, Muslim dan juga Kristen. 

 

Bukti yang terus bertambah dengan jelas menegaskan 

bahwa lepasnya Yakjuj dan Makjuj sudah terjadi. Iqbal setuju. 

Bahkan, ia tampaknya menjadi salah satu dari sedikit ulama 

Islam yang memiliki visi dan keberanian untuk membuat 

pernyataan resmi bahwa pelepasan ini  sudah terjadi dan 

bahwa kita kini hidup pada akhir zaman, atau zaman yang akan 

menyaksikan akhir sejarah. Deklarasi penting ini dibuat oleh 

Iqbal dalam sajak Urdu dan sudah bisa diperkirakan, tidak ada 

satupun isyarat ini  dalam tulisan atau pernyataannya yang 

dibuat dalam bahasa Inggris. Berikut inilah sajaknya: 

 

“Khul gayay y’ajuj aur m’ajuj kay lashkar tamam, 

Chashmay Muslim dekhlay tafseer harf-e-yansiloon.” 

Terlepaslah segerombolan Yakjuj dan Makjuj; 

Jelaslah di mata umat Muslim arti kata yansilun. 

Kata yansilun, yang muncul di bagian akhir ayat, dan Tafsir 

(penjelasan) Iqbal mengarahkan perhatian umat Muslim,  dalam 

Al-Qur’an Surat Al-Anbiya’ di mana Allah Subhanahu wa Ta’ala 

berfirman bahwa saat Yakjuj dan Makjuj dilepas, mereka akan 

menyebar ke segala arah (min kulli hadabin yansilun). Berikut 

ini yaitu  ayat yang dimaksud: 

67 

 

 

“Ada larangan di sebuah kota yang telah Kami 

hancurkan, bahwa mereka (yakni penduduk kota itu) 

tidak akan pernah dapat kembali (untuk merebut kota itu 

sebagai milik mereka lagi), hingga Yakjuj dan Makjuj 

dilepas (dari dinding penghalang yang dibangun Dzul 

Qarnain untuk menahan mereka) dan mereka menyebar 

ke segala arah.”   

 

(Al-Qur’an Surat Al-Anbiya’, 21: 95-96) 

 

Ini menunjukkan bahwa Yakjuj dan Makjuj tidak hanya 

menjadi kekuatan dominan di dunia, tetapi mereka pun dapat 

menaklukkan seluruh bangsa manusia. Bahkan, kekuatan 

mereka akan sedemikian kuat sehingga, menurut Hadits Qudsi, 

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Tidak ada selain Aku yang 

mampu melawan (dan membinasakan) mereka.” (Kanz Al-

Ummal, Vol. 7, Hadith No. 3021). 

 

Pendapat kami yaitu Iqbal dapat sampai pada kesimpulan 

yang sangat akurat ini sekitar delapan puluh tahun yang lalu 

sebagai akibat dari penerapan epistemologi Sufi. Dia memiliki 

keberanian untuk membuat lompatan intelektual dengan ilmu 

pengetahuan intuitif mengejutkan yang disampaikan kepadanya, 

dalam satu momen yang mempesona sebagai inti dari topik 

eskatologi Islam ini. Orang yang tidak berpendidikan dapat 

mengatakan banyak hal tanpa ilmu pengetahuan. Akan tetapi 

jika seorang ulama Al-Qur’an membuat pernyataan seperti ini, 

maka pasti didasarkan pada landasan yang sangat kuat. 

Cendekiawan Islam konvensional dilengkapi dengan Ijazah-

ijazah yang mengesankan, namun tidak mampu atau tidak mau 

menjangkau ilmu pengetahuan intuitif mengenai topik 

eskatologi Islam, belum mengumumkan kapan terjadinya 

pelepasan Yakjuj dan Makjuj. Penulis ini bertemu di Lahore 

68 

 

dengan penafsir artikel -artikel  karya Iqbal, almarhum Prof. 

Muhammad Munawwar, yang berpendapat bahwa Iqbal 

menganggap Barat Kristen-Yahudi modern sebagai peradaban 

Yakjuj dan Makjuj. 

 

Kami yakin Iqbal memang benar. Pertimbangkan hal-hal 

berikut: 

 

Kedudukan Khalifah merupakan institusi pusat kesatuan 

kolektif Umat Muslim. Walaupun kursi Khalifah sering kali diisi 

dengan cara yang tidak sesuai dengan Syari’ah Islam, institusi 

Khalifah bertahan lama sampai sekitar 1.300 tahun. Ada indikasi 

dalam Hadits terkenal bahwa Khalifah akan menghilang tetapi 

akan direstorasi pada saat kedatangan Imam Al-Mahdi dan 

kembalinya Nabi ‘Isa (‘alaihi salam): 

 

“Betapa bahagianya kalian saat Putra Maryam turun ke 

tengah kalian dan Imam kalian akan berasal dari kalangan 

kalian sendiri.” 

 

(Sahih Bukhari) 

 

sesudah  tujuh tahun pernyataan Iqbal mengenai lepasnya 

Yakjuj dan Makjuj pada 1917, kekuatan dan pengaruh yang 

belum pernah ada sebelumnya di peradaban Barat yang dominan 

saat ini mengakibatkan kehancuran Kekaisaran Islam 

Utsmaniyah dan lalu  jatuhnya Khalifah. 

 

Kedua, haji merupakan ibadah yang sangat penting bagi 

Islam, dan telah bertahan selama ribuan tahun. Nabi (shala Allahu 

‘alaihi wa salam) meramalkan ibadah Haji akan ditinggalkan 

dalam konteks sesudah  lepasnya Yakjuj dan Makjuj. Nubuwah 

atau ramalan ini tampaknya akan segera terjadi. Ini harus terjadi 

segera sesudah  orang-orang Yahudi memenuhi janji mereka 

untuk menghancurkan Masjid al-Aqsa untuk membangun 

69 

 

kembali Bait Sulaiman (‘alaihi salam). saat  terjadi, maka hal itu 

akan mengkonfirmasi tanpa dibayangi keraguan bahwa Iqbal 

memang benar dalam pernyataan bahwa Yakjuj dan Makjuj 

sudah dilepas.  

 

Ketiga, ciri dasar Yakjuj dan Makjuj yaitu  fasad (yaitu, 

tingkah laku mereka yang merusak, menipu dan 

menghancurkan) (Al-Qur’an Surat Al-Kahfi, 18: 94). Dengan 

demikian, pada zaman Yakjuj dan Makjuj terjadi kerusakan dan 

kehancuran dalam skala besar dan belum pernah terjadi 

sebelumnya. Segalanya rusak dan akhirnya hancur – agama dan 

ulama; kehidupan pemerintahan dan politik; pasar, ekonomi, 

dan bidang finansial atau keuangan; hukum dan keadilan; 

transportasi, lingkungan, bahkan sistem ekologi bumi; seks, 

pernikahan dan kehidupan keluarga; olahraga dan hiburan; 

pendidikan, pemuda, peran wanita  dalam warga , dan 

sebagainya. saat  kita melihat sekeliling kita di dunia saat ini, 

kita menemukan banyak bukti dari kerusakan dan kehancuran 

universal ini. Bumi akan menjadi tanah yang kering lagi tandus 

yang tidak mampu menghasilkan makanan untuk mendukung 

kehidupan manusia. Hal ini menandakan bahwa Iqbal memang 

benar, dan hitungan mundur sudah dimulai. 

 

Keempat, karakteristik dasar Yakjuj dan Makjuj lainnya 

yaitu sekuler dan suka berbuat maksiat (khabats). Karakteristik 

sekuler atau tidak bertuhan ini dijelaskan dalam Hadits Qudsi di 

mana kita diberitahu bahwa hanya 1 dari setiap 1.000 orang pada 

akhir zaman yang akan masuk ke dalam surga (dan orang itu 

yaitu  pengikut agama Ibrahim yang sejati). Sisanya, 999 dari 

setiap 1.000, merupakan orang-orang yang mengikuti Yakjuj 

dan Makjuj akan dimasukkan ke Neraka (Sahih Bukhari, 4:567; 

6:265; 8:537).  

 

70 

 

Karakteristik suka berbuat maksiat dijelaskan dalam sebuah 

Hadits di mana Nabi menyampaikan kepada istrinya, Zainab, 

berita bahwa kehancuran bangsa Arab akan terjadi pada saat 

Yakjuj dan Makjuj membanjiri dunia dengan kemaksiatan. 

Sabdanya yaitu: “Celaka bagi bangsa Arab, sebab  kejahatan 

yang kini mendekat” (Sahih Bukhari, 4:797; 9:181; 9:249).  

 

Penggunaan istilah Khabats dalam Al-Qur’an termasuk 

penyimpangan seksual yang menjadi ciri penduduk Sodom dan 

Gomora. Ada cukup bukti karakteristik sekuler, kemaksiatan, 

dan perilaku seksual yang menyimpang di dunia saat ini 

sehingga memenuhi syarat sebagai deskripsi yang digambarkan 

oleh Nabi (shala Allahu ‘alaihi wa salam). Sekali lagi Iqbal benar. 

 

Karakteristik kelima Yakjuj dan Makjuj, juga melanjutkan 

dari hal-hal yang sudah disebutkan di atas, yaitu mereka akan 

mengubah seluruh bangsa manusia menjadi satu warga  

global di mana seluruh manusia pada dasarnya akan mengikuti 

cara hidup yang sama. Mereka akan menjadi sekuler dan suka 

berbuat maksiat. warga  tunggal yang sekuler dan suka 

berbuat maksiat ini telah merangkul kalangan elit di seluruh 

dunia. Prosesnya sekarang bergerak tanpa henti untuk juga 

merangkul warga  secara luas. Narasi Hadits yang 

sebenarnya yaitu Yakjuj akan berkembang untuk 

menggabungkan empat ratus bangsa manusia lainnya dan 

Makjuj pun melakukan hal yang sama. Maka dunia Yakjuj dan 

Makjuj akan menjadi dunia informasi, komunikasi, hiburan, dsb. 

Proses ini akan sampai pada pembentukan satu warga  

global yang suka berbuat maksiat dengan penerangan mental 

dan spiritual Kentucky Fried Chicken dan Coca Cola. 

Pemerintah dunia akan memimpinnya. Televisi telah 

memainkan, dan masih memainkan, peran penting dalam upaya 

tanpa henti untuk mencapai tujuan ini  – sebuah tujuan yang 

71 

 

sekarang tampaknya cukup dalam jangkauan. Ini menegaskan 

pernyataan Iqbal. 

 

Keenam, mungkin menjadi petunjuk paling penting dari 

lepasnya Yakjuj dan Makjuj, dan konsekuensi yang tidak 

menyenangkan dari lepasnya mereka bagi umat Islam, ada 

dalam hadits (disebutkan di atas) yaitu Nabi (shala Allahu ‘alaihi 

wa salam) bersabda kepada istrinya, Ummul Mukminin Zainab 

(radhiyallahu ‘anha), tentang lepasnya Yakjuj dan Makjuj. 

Sabdanya yaitu: “Celaka bagi bangsa Arab, sebab  kejahatan yang 

kini mendekat.” Dengan kata lain lepasnya Yakjuj dan Makjuj 

akan mengakibatkan penderitaan dan malapetaka besar 

khususnya di negara-negara Arab. Petunjuk mengenai hal ini 

diungkapkan secara eksplisit dalam Al-Qur’an. Allah Subhanahu 

wa Ta’ala menyatakan kota (atau negeri) yang telah dihancurkan 

oleh-Nya, bahwa restorasi negeri itu tidak akan dapat terjadi 

hingga lepasnya Yakjuj dan Makjuj membuatnya menjadi 

mungkin (lihat rujukan pada ayat 95 & 96 Surat Al-Anbiya’ di 

atas).  

 

Penggunaan epistemologi Sufi yang saya lakukan 

mengarahkan saya pada kesimpulan bahwa kota itu yaitu  

Yerusalem (yaitu, berdirinya Negara Israel) dan dengan 

demikian saya menginterpretasikan ayat ini  bahwa Negara 

Israel, yang dihancurkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dua kali 

dalam sejarah, direstorasi pada saat Yakjuj dan Makjuj telah 

dilepas, dan sebagai konsekuensinya, restorasi Negara Israel ini 

merupakan bagian dari Rencana Ilahi sehingga dengan cara ini 

Dajjal Al-Masih palsu atau Anti-Kristus akan menipu kaum 

Yahudi dan memimpin mereka menuju kebinasaan terakhir 

mereka. Sesungguhnya, inilah tepatnya mengapa ia dikenal 

sebagai Al-Masih Ad-Dajjal. Identifikasi “Kota” yang dimaksud 

yaitu  Yerusalem sama sekali tidak dibuat-buat. Ada Hadits 

yang menghubungkan Yakjuj dan Makjuj dengan Yerusalem 

72 

 

(yakni ibu kota Negara Israel). Nabi (shala Allahu ‘alaihi wa salam) 

bersabda bahwa saat Yakjuj dan Makjuj dilepas, mereka akan 

melewati Danau Tabariyah (yang ada di Israel) (Kanz Al-

Ummal, Vol. 7, Hadits No. 3021).  

 

Lalu ada Hadits yang sangat panjang dalam Sahih Muslim 

di mana kita diberitahu bahwa Yakjuj dan Makjuj akan 

menyerang Al-Masih asli, Nabi ‘Isa putra perawan Maryam 

(‘alaihi salam) di Yerusalem. 

  

Perlu diperhatikan bahwa Perjanjian Perdamaian Yordania-

Israel Oktober 1994 mengakui hak Yordania atas sejumlah air 

dari sungai yang dibagi untuk kedua negara. Israel dapat 

memenuhi kewajiban perjanjian ini dengan memompa air dari 

Danau Tabariyah. Permukaan air Danau Tabariyah telah 

mencapai titik terendah pada tahun 1998 (saat  penulisan esai 

ini), sehingga pemompaan air lebih lanjut akan mengakibatkan 

gangguan pada kepasitasnya untuk menyimpan air. Akibatnya, 

Israel terpaksa menangguhkan pemenuhan kewajiban 

perjanjiannya tentang penyediaan air ke Yordania. Israel baru-

baru ini mengatakan kepada Yordania bahwa bagian air untuk 

Yordania akan berkurang 60% selama musim panas mendatang 

sebab  “curah hujan rendah”. Menanggapi hal ini , Menteri 

Luar Negeri Yordania telah mendesak Israel untuk memenuhi 

komitmennya dan melaksanakan kesepakatan yang telah 

ditandatangani. Hitungan mundur sudah dimulai! 

 

Restorasi Negara Israel tidak hanya menegaskan lepasnya 

Dajjal Al-Masih palsu serta Yakjuj dan Makjuj, tetapi juga 

merupakan belati yang benar-benar menghujam ke jantung 

dunia Muslim Arab. Ini, pada gilirannya, memenuhi ramalan 

yang tidak menyenangkan: “Malapetaka bagi bangsa Arab.” Kita 

dapat menambahkan, secara sepintas, bahwa revolusi feminis 

zaman modern (di mana malam ingin menjadi siang) 

73 

 

menegaskan bahwa Dajjal sekarang berada di tahap akhir 

misinya.  

 

Sungguh menjadi suatu kejutan yang menyenangkan bagi 

saya  mendapati kesimpulan ini dikonfirmasi oleh Syeikh Sufi 

terkemuka. Mungkin saja Iqbal sampai pada kesimpulan yang 

sama sebab  alasan inilah mengapa dia mengarahkan perhatian 

pada tafsir yansilun (yaitu penafsiran ayat 95 dan 96 Al-Qur’an 

Surat Al-Anbiya’). Lagipula, Gerakan Zionis didirikan pada 

tahun 1898, dan aliansi antara Zionis dan Barat modern dengan 

menyakitkan diungkapkan kepada Iqbal dalam Deklarasi 

Balfour tahun 1917. 

 

❖ AMBIVALENSI EPISTEMOLOGIS IQBAL DAN 

AKHIR SEJARAH 

 

Aktor utama dalam tahap akhir sejarah, yaitu Yakjuj dan 

Makjuj, Dajjal, Imam Al-Mahdi, dan kembalinya Al-Masih asli, 

Nabi ‘Isa putra perawan Maryam (‘alaihi salam), dan peran 

masing-masing yang mereka jalankan, semuanya tergabung 

dalam satu kesatuan yang tak terpisahkan.  

 

Hal yang benar-benar mengkhawatirkan yaitu meskipun 

Iqbal sudah mengkonfirmasi lepasnya Yakjuj dan Makjuj, dia 

menolak kepercayaan pada munculnya Dajjal Al