gereja masehi 7
SEGITIGA
KELUARGA
OLEH SVEN ÖSTRING
Kata “segitiga” dalam komunikasi keluarga langsung menimbulkan pikiran ne-
gatif. Gosip, komunikasi tidak sehat, putusnya hubungan, dan anggota keluarga yang
dikucilkan dari hubungan, hanyalah beberapa di antaranya. Maksud saya, siapa yang
mau menjadi bagian dari dinamika keluarga yang tidak sehat itu? Namun kenyata-
annya, menurut teori sistem keluarga Murray Bowen, hubungan segitiga terbentuk
sepanjang waktu dalam keluarga. Memiliki hanya dua orang dalam suatu hubungan
tidaklah stabil. Kecenderungan alaminya yaitu selalu melibatkan orang ketiga dan
menciptakan segitiga keluarga.
SEGITIGA KELUARGA TUA
Hal ini memang benar dalam keluarga saya. Saudaraku perempuan dan Saya
kembar, yang sangat istimewa. Namun, meskipun usia kami hampir sama, kami me-
miliki kepribadian yang berbeda dan kami mengembangkan hubungan yang berbe-
da dengan orang tua kami. Seperti yang saya yakin telah Anda amati, tidak butuh
waktu lama bagi seorang anak untuk mengetahui orang tua mana yang memiliki titik
lemah saat mereka dimintai mainan atau makanan, bahkan jika orang tua lainnya
mengatakan "Tidak!" sesudah Anda mengetahuinya, daya tarik alaminya yaitu me-
manfaatkan kelembutan itu untuk pergi ke orang tua yang tepat untuk mendapat-
kan apa yang Anda inginkan. Itu hanya sifat manusia. Segitiga keluarga terbentuk
dengan mudah.
146 | SUMBER MATERI KEPEMIMPINAN
SEGITIGA KELUARGA
Ada dinamika hubungan penting lainnya, dan itu yaitu diferensiasi diri. Saya
menghabiskan bertahun-tahun tinggal di rumah keluarga saya. Saya dibesarkan di
Hong Kong dan lalu pindah ke Selandia Baru untuk belajar teknik kelistrikan.
Baru sesudah saya menyelesaikan gelar Ph.D., di bidang jaringan komputer, saya akhir-
nya pindah dari rumah untuk mengambil posisi penelitian pascadoktoral.
Salah satu teman dekat saya, Jared, dari Selandia Baru sangat khawatir dengan
kepindahan saya ke Inggris. Dia berpikir bahwa saya akan kehilangan iman saya ke-
pada Tuhan. Namun, beberapa interaksi yang saya lakukan di sana dengan agnostik
dan ateis hanya membangun iman saya. Itu yaitu waktu saya di Inggris dan ditanyai
pertanyaan, "Di mana bukti bahwa Tuhan itu ada?" oleh seorang ateis yang membuat
saya melakukan perubahan karir yang besar dan mengikuti panggilan Tuhan ke dalam
pelayanan.
SEGITIGA KELUARGA BARU
Melalui proses menuju pelayanan, saya membentuk hubungan yang kuat dengan
Tuhan. Saya juga akhirnya bertemu dan lalu menikahi Marilyn, gadis impian
saya. Kami telah menikah lima belas tahun sekarang dan memiliki dua anak yang me-
nyenangkan. Saat keluarga saya sendiri tumbuh, saya bisa melihat segitiga keluarga
mulai terbentuk di keluarga kami juga.
SEGITIGA DOA
Segitiga keluarga biasanya dipandang negatif. Namun, segitiga hubungan juga bisa
konstruktif dan menstabilkan. Hubungan keluarga yang dekat, bahkan segitiga keluar-
ga, bisa sangat positif dan menghasilkan buah yang berharga.
Mari bersama saya membaca perikop indah yang ditemukan dalam Efesus 3: 14
Itulah sebabnya aku sujud kepada Bapa …
Hal Ini memulai salah satu doa yang paling luhur dan visioner dalam Alkitab. Kita
bisa melihat hubungan segitiga mulai terbentuk. Paulus sedang berdoa kepada Bapa
atas nama gereja-gereja di Efesus.
Ada statistik menarik yang berharga untuk ditunjukkan tepat di awal doa yang
disorot dalam tabel di bawah ini:
Bagian Referensi kepada Allah Panggilan Bapa Persentase
Perjanjian Lama 1.448 15 1,0%
Perjanjian Baru 413 245 59,3%
Ada banyak referensi tentang Allah dalam Perjanjian Lama, namun Dia disebut
sebagai Bapa hanya 1,0% dari perbandingan. Namun, dalam Perjanjian Baru, Allah
disebut sebagai Bapa sebanyak 59,3%. Itu loncatan besar! Apa yang menyebabkan pe-
ningkatan sebesar itu?
| 147SUMBER MATERI KEPEMIMPINAN
SEGITIGA KELUARGA
Jawabannya sederhana—itu sebab Yesus. Apa yang diisyaratkan dalam Perjanjian
Lama menjadi sangat jelas dalam Perjanjian Baru dan itu yaitu bahwa ada segitiga
yang tertanam jauh di dalam sifat Allah: Bapa, Firman, dan Roh. Hubungan itu yaitu
inti dari sifat Tuhan. Itulah sebabnya Tuhan yaitu kasih! Yesuslah yang paling jelas
mengungkapkan segitiga Ilahi ini kepada kita.
SEGITIGA KESELAMATAN
Alkitab memberi tahu kita kisah tentang hubungan segitiga lain yang rusak de-
ngan sangat cepat. Awalnya, Adam dan Hawa diciptakan untuk berada dalam hubung-
an segitiga yang erat dengan Yahweh Pencipta mereka. Namun, hubungan itu putus.
Dosa dan kematian yaitu akibatnya.
Namun, dalam kecintaan mereka yang besar terhadap umat manusia, Trinitas me-
mutuskan untuk melaksanakan rencana keselamatan yang akan memulihkan hubung-
an yang rusak itu. Yesus meninggalkan surga dan turun ke bumi. Dalam prosesnya,
Dia membentuk segitiga keselamatan antara kita dan Bapa sehingga kita sekarang da-
pat memanggil Allah Bapa kita lagi, seperti yang didoakan Paulus.
sebab kasih Allah yang besar bagi kita dan kesediaan Yesus untuk melangkah ke-
luar dari hubungan segitiga-Nya di surga, maka Paulus sekarang dapat berdoa dengan
doa Trinitas yang indah ini:
Fokus Ilahi Doa
Bapa
Itulah sebabnya aku sujud kepada Bapa, yang dari pada-Nya
semua turunan yang di dalam surga dan di atas bumi mene-
rima namanya.
Roh
Aku berdoa supaya Ia, menurut kekayaan kemuliaan-Nya,
menguatkan dan meneguhkan kamu oleh Roh-Nya di dalam
batinmu,
Kristus
sehingga oleh imanmu Kristus diam di dalam hatimu dan
kamu berakar serta berdasar di dalam kasih. Aku berdoa, su-
paya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat
memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya
dan dalamnya kasih Kristus,dan dapat mengenal kasih itu,
sekalipun ia melampaui
segala pengetahuan.
Allah Aku berdoa, supaya kamu dipenuhi di dalam seluruh kepe-
nuhan Allah.
Sungguh pemikiran yang luar biasa! Tuhan rela hubungan segitiga Ilahi-Nya dipu-
tuskan agar hubungan segitiga kita dengan-Nya dapat dipulihkan! Dan yang menak-
jubkan yaitu bahwa semua keluarga di bumi akan diberkati:
148 | SUMBER MATERI KEPEMIMPINAN
SEGITIGA KELUARGA
“Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan
atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita, bagi
Dialah kemuliaan di dalam jemaat dan di dalam Kristus Yesus turun-temurun
sampai selama-lamanya. Amin”—Efesus 3: 20–21.
Penting bagi kita untuk menyadari segitiga keluarga, namun segitiga hubungan ter-
penting yang perlu kita perhatikan yaitu segitiga hubungan yang mengarah pada ke-
selamatan.
Terpujilah Allah Tritunggal kita!
| 149
NASKAH YANG
DICETAK ULANG
Pada bagian ini Anda akan
menemukan artikel abadi yang
dipilih dengan cermat untuk
membantu Anda dalam pekerjaan
Anda bersama keluarga.
150 |
Willie Oliver, Ph.D., CFLE dan Elaine Oliver, Ph.Dc., LCPC, CFLE yaitu Direktur Departemen
Pelayanan Rumah Tangga di General Conference Kantor Pusat Advent Sedunia di Silver Spring,
Maryland, AS.
MENGHIBUR
YANG BERDUKA
OLEH WILLIE DAN ELAINE OLIVER
PERTANYAAN
Salah satu teman baik saya baru saja kehilangan suaminya sebab COVID-19.
Dia baru berusia 49 tahun. Dia merasa tersesat dan marah pada Tuhan sebab
membiarkan ini terjadi. Dia mengatakan kepada saya dulu, bahwa dia sangat ke-
sakitan dan putus asa dengan lubang besar di jiwanya yang dia percaya tidak akan
pernah terisi. Saya ingin melakukan sesuatu untuk membantunya merasa lebih
baik dan memahami apa yang terjadi padanya, namun saya tidak tahu harus berkata
apa atau harus berbuat apa. Tolong bantu saya.
Kami sangat menyesal atas kehilangan teman Anda, dan boleh dikatakan ini juga
kehilangan Anda. Tidak seorang pun harus kehilangan pasangan di usia yang begitu
muda. Benar-benar sebuah tragedi! Namun, ini yaitu kenyataan yang dialami banyak
orang selama pandemi mengerikan yang telah menguasai dunia ini.
Sebagian besar dari kita tidak tahu apa yang harus dilakukan atau dikatakan keti-
ka seseorang yang dekat dengan kita kehilangan orang yang dicintai, terutama pasang-
an. Sebenarnya, saat seseorang mengalami kematian orang yang dicintai, emosinya
bisa sangat tidak menentu. Mereka terkadang sangat tenang, dan lalu tiba-tiba
NASKAH YANG DICETAK ULANG | 151
MENGHIBUR YANG BERDUKA
menangis tak terkendali saat mereka mengalami kesedihan yang mendalam dan ke-
rentanan yang luar biasa. Yang pasti, kesedihan datang secara bergelombang.
Meskipun kematian orang tersayang sangat menyakitkan—seperti perasaan yang
dijelaskan teman Anda—ada banyak hal yang dapat Anda lakukan untuk mendukung-
nya melalui masa-masa yang sangat menantang dalam hidupnya ini. Pertimbangkan
daftar ide berikut yang mungkin Anda terapkan untuk mendukung teman Anda di
saat duka:
Hadir. Hubungi teman Anda dengan panggilan telepon atau pesan teks untuk
memberi tahu dia "Aku disini untukmu." Mungkin saja teman Anda tidak mau bicara.
Namun, beri tahu dia bahwa Anda hanya berjarak satu panggilan telepon setiap kali
dia siap untuk berbicara.
Pergi berjalan-jalan di taman. Pergilah keluar ruangan di mana dia bisa menda-
patkan udara segar yang akan menenangkannya, menurunkan tingkat stresnya, dan
memperkuat kekebalan tubuhnya.
Berjalan menyusuri jalan kenangan. Jangan takut untuk membicarakan saat-saat
indah yang Anda alami bersama teman dan suaminya. Melihat foto-foto lama dan me-
ngenang kenangan yang Anda buat bersama menyembuhkan orang yang sedang ber-
duka.
Bawa makanan. Tidak ada yang mengatakan komunitas lebih dari berbagi ma-
kanan dengan seorang teman. saat orang berduka mereka kehilangan energi untuk
hidup dan untuk melakukan apa pun, termasuk memasak dan makan. Makanan lezat
dan bergizi menunjukkan kepedulian lebih dari yang dapat Anda bayangkan.
Jaga baik-baik. Jika Anda melihat dapur perlu dibersihkan atau rumah perlu di-
rapikan saat Anda berkunjung, bersihkanlah. Ini akan menyampaikan bahwa Anda
benar-benar peduli dan tulus ingin membantu.
Jangan terburu-buru. Beri tahu teman Anda bahwa Anda akan selalu ada un-
tuknya selama dia membutuhkan Anda, bukan dengan mengatakannya namun dengan
melakukannya. Maka bersiaplah menjadi sahabat sejati untuk jangka panjang.
Jadilah pendukung spiritual. Bahkan orang beriman pun sering merasa terasing
dari Tuhan atau bahkan marah kepada-Nya saat kehilangan orang yang dicintai.
Bersiaplah untuk membacakan bagian-bagian dari Alkitab kepada teman Anda yang
memberi penghiburan dan jaminan pemeliharaan Tuhan. Dan berdoa untuk keda-
maian Allah dan janji kehadiran-Nya.
Ini yaitu hari-hari yang sulit, dan masih banyak lagi yang akan datang. Namun
demikian, tetaplah dekat dengan Yesus untuk kedamaian, kenyamanan, dan kekuatan
Anda sendiri sehingga Anda dapat menjadi dorongan bagi mereka yang Anda sayangi.
Kami memberi Anda penghiburan dari Mazmur 46: 1, yang mengatakan:
“ Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kese-
sakan sangat terbukti.” Anda ada dalam doa kami.
Dicetak ulang dari artikel yang pertama kali muncul di edisi 13 November 2021 dari majalah Adventist World.
dipakai dengan izin.
152 |
Willie Oliver, Ph.D., CFLE dan Elaine Oliver, Ph.Dc., LCPC, CFLE yaitu Direktur Departemen
Pelayanan Rumah Tangga di General Conference Kantor Pusat Advent Sedunia di Silver Spring,
Maryland, AS
KEHILANGAN
YANG
AMBIGU
OLEH WILLIE DAN ELAINE OLIVER
PERTANYAAN
Saya yaitu orang tua tunggal dari tiga anak, salah satunya seorang dewa-
sa muda yang tidak pernah meninggalkan rumah dan baru-baru ini didiagnosis
menderita penyakit mental yang serius. Meskipun saya telah mengalami tantangan
yang dialami kebanyakan orang tua tunggal, kewajiban untuk merawat putri saya
yang terkena gangguan mental sangatlah sulit. Saya sering menemukan diri saya
sangat tertekan dan tidak tahu harus berbuat apa. Saya harap ada sesuatu yang da-
pat Anda bagikan untuk membantu saya mengatasi lebih baik daripada yang telah
saya lakukan selama beberapa bulan terakhir.
Kami sangat sedih mendengar tentang situasi Anda saat ini dengan putri Anda.
Namun, ini yaitu kesempatan untuk mengatasi ketidakpastian kehidupan di bumi
ini. Sebenarnya, satu-satunya tempat aman di dunia ini ditemukan di dalam Yesus. Al-
kitab memberi tahu kita: “Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan
sampai selama-lamanya” (Ibr. 13: 8).
Munculnya teori kesedihan, seperti kehilangan yang ambigu, dapat membantu
kami memahami apa yang Anda alami saat ini dengan putri Anda yang baru-baru ini
NASKAH YANG DICETAK ULANG | 153
KEHILANGAN YANG AMBIGU
didiagnosis menderita penyakit mental serius (Serious Mental Ilness - SMI). Perbeda-
an antara mengalami kehilangan orang yang dicintai sebab kematian—yang dalam
hal bicara yaitu final—dan kehilangan kehidupan "normal" oleh orang yang dicintai
yang baru saja didiagnosis menderita penyakit mental, yaitu apa yang Anda alami
sebagai kehilangan yang ambigu.
Kehilangan yang ambigu memiliki sedikit penjelasan mengenai kehilangan. Pera-
saan yang dialami oleh orang tua saat anaknya yang masih kecil didiagnosis men-
derita SMI—seperti dalam kasus Anda—merupakan salah satu ketidakpastian yang
membawa kebingungan, bersamaan dengan tingkat tekanan emosional, kesedihan,
dan stigmatisasi yang tinggi.
Apa yang membuat SMI sangat memberatkan yaitu bahwa kedatangannya se-
ring terjadi pada masa remaja akhir dan dewasa muda, masa saat orang tua memiliki
harapan bahwa anak-anak mereka akan mengembangkan kemandirian dan otonomi
yang lebih besar. Jadi saat SMI muncul pada saat yang paling tidak tepat dalam hu-
bungan orang tua-anak, itu yaitu pengalaman yang tidak biasa dan sangat membi-
ngungkan.
Sebagai orang tua—seperti kebanyakan orang tua lainnya—anda memiliki inves-
tasi emosional yang signifikan dalam kesejahteraan masa depan anak-anak Anda. Se-
bagian dari harapan ini yaitu bahwa pengasuhan yang Anda berikan akan sema-
kin berkurang seiring dengan perkembangan anak Anda menjadi dewasa dan menjadi
mandiri. Ada juga antisipasi bahwa investasi Anda dalam perkembangan anak-anak
Anda akan mencapai klimaks dalam harapan dan impian Anda untuk mereka—ter-
masuk menyelesaikan pendidikan mereka, mendapat pekerjaan, mengembangkan
persahabatan yang bermakna, serta menemukan pasangan untuk menetap dan mem-
bangun keluarga mereka sendiri.
Apa yang telah Anda gambarkan tentang perasaan Anda yaitu kesedihan. Jadi
kami mendorong Anda untuk menemukan program kesedihan yang baik—sebaiknya
program yang menguatkan iman Anda kepada Tuhan—yang akan membantu Anda
mengakui kesedihan dan kehilangan anda, dan membantu Anda memproses kesedih-
an Anda dengan cara yang sehat.
Saat Anda mengatasi kesedihan Anda, ingatlah bahwa ada banyak orang tua lain
yang menghadapi pengalaman serupa seperti Anda. Dan yang lebih penting, ingatlah
bahwa Anda tidak sendirian. Yesus sendiri menyatakan dalam Yohanes 14: 1,“Jangan-
lah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku.” Dan dalam
Yohanes 16: 33 Dia berkata: “Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, namun kuat-
kanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia.”
Kami harap Anda akan menemukan bantuan yang Anda butuhkan saat Anda
mengikuti nasihat yang kami berikan. Ketahuilah juga bahwa Anda akan terus berada
dalam doa kami. Tetap semangat dan setia.
Dicetak ulang dari artikel yang pertama kali muncul di edisi 2 Mei 2022 dari majalah Adventist World.
dipakai dengan izin.
sesudah 10 tahun menikah suami saya baru saja meminta cerai. Kami tidak
setuju tentang hampir semua hal yang kami bicarakan. Namun, sebagai seorang
Kristen, saya tahu perceraian bukanlah rencana Tuhan. Saya telah meminta suami
saya untuk bergabung dengan saya dalam konseling untuk menemukan solusi atas
dilema kami, namun dia tidak tertarik. Kami memiliki dua anak di sekolah dasar
yang saya khawatirkan akan sangat terpengaruh jika kami bercerai. Tolong bantu
kami.
Terima kasih atas pertanyaan Anda yang serius dan penting. Kami sangat menye-
sal mendengar tentang dilema Anda, namun senang bahwa Anda sangat tertarik untuk
menemukan cara untuk mempertahankan pernikahan Anda. Pernikahan yaitu ide
Tuhan sejak awal. Kejadian 2:18, 24 menyatakan: “TUHAN Allah berfirman: "Tidak
baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya,
yang sepadan dengan dia’ .... Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya
dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging.”*
Seperti pernikahan Anda, sebagian besar pernikahan dipenuhi dengan perselisih-
an dan kesalahpahaman. Sejatinya, tidak ada pernikahan yang sempurna sebab tidak
ada orang yang sempurna. Roma 3: 23 menegaskan: “sebab semua orang telah berbu-
at dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah.” sebab kita semua yaitu orang berdo-
sa, kita harus bersedia akan kesalahpahaman dan ketidaksepakatan dalam pernikahan.
Apa yang kami ketahui berdasarkan penelitian ilmiah sosial dan pengalaman pri-
badi dengan pasangan yang telah bekerja sama dengan kami, yaitu bahwa perbedaan
antara pasangan yang berhasil dan yang tidak yaitu sikap mereka. Mereka yang me-
nikah dengan harapan akan menghadapi kesulitan dan mengetahui bahwa akan diper-
lukan upaya untuk bekerja sama mempelajari keterampilan untuk mengelola perbeda-
an mereka akan lebih mungkin berhasil. Di sisi lain, pasangan yang menikah berharap
untuk hidup bahagia selamanya lebih rentan berakhir dengan perceraian.
Anda benar saat mengatakan perceraian bukanlah rencana Tuhan. Faktanya,
Alkitab sangat jelas tentang maksud Tuhan. Matius 19: 3–6 membagikan: “Maka da-
tanglah orang-orang Farisi kepada-Nya untuk mencobai Dia. Mereka bertanya: "Apa-
kah diperbolehkan orang menceraikan istrinya dengan alasan apa saja?"Jawab Yesus:
"Tidakkah kamu baca, bahwa Ia yang menciptakan manusia sejak semula menjadikan
mereka laki-laki dan perempuan? Dan Firman-Nya: Sebab itu laki-laki akan mening-
galkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi
satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. sebab itu, apa yang
telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.’”
Banyak pasangan menjadi putus asa saat mereka menghabiskan sebagian be-
sar percakapan mereka tidak setuju satu sama lain. Kami mengerti akan hal ini. Kami
mendukung pasangan, bagaimanapun, untuk melihat pernikahan mereka sebagai gigi
yang berlubang. Ada rasa sakit dan kekecewaan sebab kurangnya perawatan yang te-
pat. namun kebanyakan orang tidak hanya pergi ke garasi, mencari tang, dan mencabut
giginya. Nalar memberi tahu kita untuk pergi ke dokter gigi—yang telah dilatih untuk
memperbaiki gigi berlubang—dan mendapat bantuan profesional yang diperlu-
kan untuk memperbaiki dan menyelamatkan gigi. Kebutuhan yang sama terjadi dalam
pernikahan. Hanya sebab ada tantangan bukan berarti Anda harus menyerah.
Kami mendorong Anda untuk terus berdoa kepada Tuhan untuk mengubah sikap
suami Anda. lalu temukan seorang konselor Kristen yang baik yang dapat mem-
bantu Anda memperbaiki disfungsi dalam hubungan Anda. Kami juga akan berdoa
agar Tuhan melakukan keajaiban yang dibutuhkan dalam pernikahan Anda, sehingga
keluarga Anda tidak hanya bertahan namun berkembang di hari-hari mendatang.
Dicetak ulang dari artikel yang pertama kali muncul di edisi 4 Januari 2022 dari majalah Adventist World.
dipakai dengan izin.
sesudah 10 tahun menikah suami saya baru saja meminta cerai. Kami tidak
setuju tentang hampir semua hal yang kami bicarakan. Namun, sebagai seorang
Kristen, saya tahu perceraian bukanlah rencana Tuhan. Saya telah meminta suami
saya untuk bergabung dengan saya dalam konseling untuk menemukan solusi atas
dilema kami, namun dia tidak tertarik. Kami memiliki dua anak di sekolah dasar
yang saya khawatirkan akan sangat terpengaruh jika kami bercerai. Tolong bantu
kami.
Pengalaman kami dan buku-buku pernikahan dan perceraian mengatakan de ngan
jelas bahwa kebanyakan pasangan yang pernikahannya berakhir dengan perceraian,
telah kehilangan harapan akan kemungkinan pernikahan mereka dapat dipulihkan.
Tentu saja, kami tidak berbicara mengenai pernikahan di mana ada semua jenis pe-
lecehan dan perselingkuhan terjadi secara berkelanjutan. Namun, kami percaya bah-
wa dengan pertolongan Tuhan, semua pernikahan dapat mengalami perubahan dan
transformasi—dan bertahan dan berkembang—jika orang-orang yang terlibat berse-
dia melakukan bagian mereka untuk membantu memperbaiki hubungan dengan ban-
tuan terapis/pelatih pernikahan Kristen yang baik.
Kebenaran tentang pernikahan yaitu bahwa dibutuhkan kerja keras dan pengor-
banan, terlepas dari siapa yang Anda nikahi. Tidak ada pernikahan yang sempurna
sebab tidak ada orang yang sempurna. Pasangan yang membuatnya harus memahami
kesadaran bahwa mereka menikah dengan manusia. Ini berarti—untuk memastikan—
bahwa mereka perlu mengembangkan kemampuan untuk mengelola kekecewaan dan
mengatasi frustasi.
Tantangan terbesar dalam membuat pernikahan berhasil dan membuatnya berja-
lan jauh yaitu mengatasi fakta bahwa perasaan euforia yang membuat Anda menga-
takan "Ya" tidak berkelanjutan — terlepas dari seberapa gila cinta yang Anda rasakan
di awal hubungan Anda. Setiap pernikahan yang baik—walaupun awalnya terasa in-
dah—pasti akan menghadapi saat-saat yang mengecewakan saat ekspektasi di benak
setiap orang gagal terwujud seperti yang dibayangkan mereka masing-masing. Fakta-
nya, bahkan cinta romantis, terlepas dari betapa bahagianya selama masa pacaran dan
pernikahan dini Anda, tidak cukup untuk mempertahankan pernikahan yang tang-
guh.
“Bagaimana pernikahan bisa berhasil?”—Anda dan orang lain mungkin bertanya.
Itu pertanyaan yang bagus! Nyatanya, langkah pertama yang penting bagi pasangan
suami istri yaitu memahami bahwa pernikahan yang baik lebih dari sekadar romansa
sesaat—seindah apa pun itu. Cinta itu—bahan bakar yang membuat pernikahan ber-
hasil—bukanlah perasaan, seperti yang diyakini kebanyakan orang. Sebaliknya, cinta
yaitu keputusan yang harus dibuat hari demi hari agar pernikahan dapat berkem-
bang. “Keputusan apa?”—Anda mungkin bertanya. Jawabannya yaitu sabar dan baik
hati, seperti yang dijelaskan Rasul Paulus dalam 1 Korintus 13: 4; dan setia, lemah lem-
but, dan pengendalian diri, seperti yang dia tawarkan dalam Galatia 5: 22, 23.
Jadi, kami berdoa agar Tuhan melakukan keajaiban dalam pernikahan Anda.
Kami berharap ini akan memberi Anda dan suami Anda kesempatan untuk mema-
hami konsep yang telah kami bagikan dan menyadari bahwa pernikahan Anda dapat
menemukan kesuksesan saat Anda memercayai Tuhan untuk muncul dan mengubah
realitas pernikahan Anda setiap hari selama sisa hidup Anda.
Dicetak ulang dari artikel yang pertama kali muncul di edisi 11 Januari 2022 dari majalah Adventist World.
dipakai dengan izin.
Suami saya dan saya merasakan tingkat kesedihan dan kekecewaan tertentu
bahwa anak-anak kami—yang sekarang masih muda dan sudah bekerja, lulusan
perguruan tinggi, dan sendirian—telah meninggalkan gereja. Kami tahu kami bu-
kan orang tua yang sempurna; namun, kami melakukan yang terbaik untuk me-
ngasihi anak-anak kami dan memberi mereka lingkungan rumah yang stabil dan
terlibat secara rohani. Kami juga mengirim mereka semua ke sekolah gereja. Mes-
kipun anak-anak dari banyak teman kami telah meninggalkan gereja, kami tidak
menyangka ini juga akan menjadi kisah kami. Di mana letak kesalahan kami? Apa
yang bisa kami lakukan yang lebih baik? Apakah masih ada yang bisa kami laku-
kan? Terima kasih untuk bantuannya.
Terima kasih telah memercayai kami dengan masalah yang begitu pribadi dan
sensitif. Kami juga sedih mendengar bahwa anak-anak Anda telah meninggalkan ge-
reja. Ini yaitu salah satu kenyataan tersulit yang selalu dialami orang tua Kristen se-
telah melakukan yang terbaik untuk membesarkan anak-anak mereka agar mengasihi
Tuhan. Tetap saja, dunia kita penuh dengan dosa dan kejahatan, yang secara alami
membuat manusia tertarik. Sudah ada dalam DNA kita sejak Adam dan Hawa memi-
lih untuk tidak menaati Tuhan di Taman Eden.
Pada titik ini Anda dan suami Anda dapat memilih untuk membiarkan Setan
membuat Anda merasa gagal, atau Anda dapat memercayai Tuhan untuk membantu
Anda mengatasi rasa sakit dari pengalaman Anda dan untuk tetap berbagi dan me-
nunjukkan kasih-Nya kepada anak-anak Anda dalam setiap interaksi dengan mereka.
Ini yaitu kesempatan Anda untuk menjadikan hal ini pengalaman yang menghasil-
kan pertumbuhan bagi diri Anda sendiri dan bagi anak-anak Anda.
Temukan kekuatan dan harapan di dalam Alkitab. Mazmur 25: 5, 7 mengatakan,
“Bawalah aku berjalan dalam kebenaran-Mu dan ajarlah aku, sebab Engkaulah Allah
yang menyelamatkan aku, Engkau kunanti-nantikan sepanjang hari .... Dosa-dosaku
pada waktu muda dan pelanggaran-pelanggaranku janganlah Kauingat, namun ingatlah
kepadaku sesuai dengan kasih setia-Mu, oleh sebab kebaikan-Mu, ya TUHAN.”
Yang pasti, kita semua sedang melakukan pekerjaan rohani, bahkan mereka yang
belum meninggalkan gereja dan menghadiri kebaktian secara teratur. Kita masih mem-
butuhkan tuntunan Roh Kudus dalam hidup kita. Rasul Paulus menawarkan dalam
Efesus 5: 15–17: “sebab itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup,
janganlah seperti orang bebal, namun seperti orang arif, dan pergunakanlah waktu yang
ada, sebab hari-hari ini yaitu jahat. Sebab itu janganlah kamu bodoh, namun usaha-
kanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan.”
Anda juga harus terus menerapkan disiplin rohani dari doa dan belajar Alkitab,
sehingga daripada berkecil hati, Anda sendiri dapat mendekatkan diri kepada Tuhan,
saat Anda memercayakan keselamatan anak-anak Anda kepada-Nya. Tuntut janji-Nya
seperti yang terdapat dalam Lukas 11: 9, 10: “Oleh sebab itu Aku berkata kepada-
mu: Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat;
ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. sebab setiap orang yang meminta,
menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok,
baginya pintu dibukakan.”
Akhirnya, ingatlah bahwa Tuhan tidak melakukan kesalahan apa pun, namun se-
pertiga dari anak-anak-Nya (para malaikat di surga) berpaling dari-Nya. Jadi, daripa-
da menyalahkan diri sendiri—menyadari bahwa tidak ada orang tua yang sempurna
sebab tidak ada orang yang sempurna—tuntutlah janji yang terdapat dalam Yesaya
49: 25: “Sungguh, beginilah firman TUHAN: ‘Tawanan pahlawan pun dapat direbut
kembali, dan jarahan orang gagah dapat lolos, sebab Aku sendiri akan melawan orang
yang melawan engkau dan Aku sendiri akan menyelamatkan anak-anakmu.’”
Tetap semangat dan setia.
PERNYATAAN
TENTANG
PERNIKAHAN
Isu-isu yang terkait dengan pernikahan dapat dilihat dari sudut pandangnya yang
sebenarnya hanya jika dilihat dengan latar belakang cita-cita Ilahi untuk pernikahan.
Pernikahan ditetapkan secara Ilahi di Eden dan ditegaskan oleh Yesus Kristus yaitu
monogami dan heteroseksual, persatuan seumur hidup dari persahabatan penuh ka-
sih antara seorang pria dan seorang wanita. Dalam puncak kegiatan penciptaan-Nya,
Tuhan membentuk manusia sebagai laki-laki dan perempuan menurut gambar-Nya
sendiri; dan Dia melembagakan pernikahan, persatuan berdasarkan perjanjian dari
dua jenis kelamin secara fisik, emosional, dan rohani, yang dibicarakan dalam Kitab
Suci sebagai “satu daging.”
Berangkat dari keragaman dua gender manusia, kesatuan pernikahan melambang-
kan kesatuan Ketuhanan. Di seluruh Kitab Suci, persatuan heteroseksual dalam per-
nikahan diangkat sebagai simbol ikatan antara ketuhanan dan kemanusiaan. Hal itu
yaitu saksi akan kasih dan perjanjian Allah yang memberi diri dengan umat-Nya.
Penyatuan yang harmonis dari seorang pria dan seorang wanita dalam pernikahan ada-
lah unit terkecil dalam masyarakat sosial yang dihormati waktu sebagai bagian inti dari
masyarakat yang stabil. Selanjutnya, Sang Pencipta bermaksud seksualitas pernikahan
tidak hanya untuk melayani tujuan kesatuan, namun untuk menyediakan penyebaran
dan pelestarian keluarga manusia. Dalam tujuan Ilahi, keturunan datang dari terjadinya
proses di mana suami dan istri dapat menemukan sukacita, kesenangan dan kelengkap-
an fisik. Kepada suami dan istri yang cintanya memungkinkan mereka untuk saling me-
ngenal dalam ikatan seksual yang mendalam, seorang anak dapat dipercayakan. Anak
mereka yaitu perwujudan hidup dari kesatuan mereka. Anak yang sedang tumbuh
subur dalam suasana cinta dan persatuan perkawinan di mana dia dikandung dan men-
dapat manfaat dari hubungan dengan masing-masing orang tua kandung.
Persatuan monogami dalam perkawinan antara seorang pria dan seorang wanita
ditegaskan sebagai dasar yang ditetapkan oleh Tuhan untuk keluarga dan kehidupan
| 191APENDIKS B: PERNYATAAN SIKAP
sosial dan satu-satunya tempat yang sesuai secara moral untuk ekspresi genital atau
ekspresi seksual intim yang terkait. Namun, pernikahan bukanlah satu-satunya ren-
cana Tuhan untuk memenuhi kebutuhan hubungan manusia atau untuk mengetahui
pengalaman keluarga. Melajang dan hubungan persahabatan para lajang juga merupa-
kan rancangan Ilahi. Persahabatan dan dukungan dari teman-teman tampak penting
dalam kedua wasiat alkitabiah. Persekutuan gereja, rumah tangga Allah, tersedia bagi
semua orang terlepas dari status pernikahan mereka. Namun, Kitab Suci menempat-
kan pembatas yang kuat secara sosial dan seksual antara hubungan persahabatan dan
pernikahan semacam itu.
Terhadap pandangan alkitabiah tentang pernikahan ini, Gereja Masehi Advent
Hari Ketujuh percaya dengan tegas bahwa setiap penurunan akan pandangan menge-
nai pernikahan yaitu penurunan cita-cita surgawi. sebab pernikahan telah dirusak
oleh dosa, kemurnian dan keindahan pernikahan seperti yang dirancang oleh Tuhan
perlu dipulihkan. Melalui penghargaan akan karya penebusan Kristus dan karya Roh-
Nya di dalam hati manusia, tujuan awal pernikahan dapat dipulihkan dan pengalaman
pernikahan yang menyenangkan dan sehat diwujudkan oleh seorang pria dan seorang
wanita yang menggabungkan hidup mereka dalam perjanjian pernikahan.
Pernyataan ini disetujui dan dipilih oleh General Conference of Seventh-day Adventist
Administrative Committee (ADCOM) pada tanggal 23 April 1996.
SIKAP TENTANG
RUMAH TANGGA
DAN KELUARGA
Kesehatan dan kemakmuran masyarakat secara langsung berkaitan dengan kese-
jahteraan bagian penyusunnya, yaitu unit keluarga. Zaman sekarang ini, seperti yang
mungkin belum pernah terjadi sebelumnya, keluarga-keluarga berada dalam masalah.
Para komentator sosial mengecam perpisahan yang mudah terjadi pada kehidupan
keluarga modern. Konsep tradisional Kristen tentang pernikahan antara seorang pria
dan seorang wanita sedang diserang. Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh, di masa
krisis keluarga ini, mendorong setiap anggota keluarga untuk memperkuat dimensi
kerohanian dan hubungan keluarga mereka melalui saling cinta, hormat, menghargai,
dan tanggung jawab.
Keyakinan Dasar Gereja No. 22 berdasarkan Alkitab menyatakan bahwa hubung-
an perkawinan “yaitu untuk mencerminkan kasih, kesucian, kedekatan, dan kelang-
gengan hubungan antara Kristus dan gereja-Nya ....
Meskipun beberapa hubungan keluarga mungkin gagal mencapai ideal, pasang-
an pernikahan yang sepenuhnya berkomitmen satu sama lain di dalam Kristus dapat
mencapai kesatuan yang penuh kasih melalui bimbingan Roh dan pemeliharaan gere-
ja. Tuhan memberkati keluarga dan bermaksud agar para anggotanya saling memban-
tu menuju kedewasaan penuh. Orang tua harus mendidik anak-anak mereka untuk
mengasihi dan menaati Tuhan. Melalui teladan dan perkataan mereka, mereka harus
mengajari mereka bahwa Kristus yaitu pendisiplin yang pengasih, selalu lembut dan
peduli, yang ingin mereka menjadi anggota tubuh-Nya, keluarga Allah.”
Ellen G. White, salah satu pendiri gereja, menyatakan: “Pekerjaan orang tua men-
dasari satu sama lain. Masyarakat terdiri dari keluarga, dan itulah yang dibuat oleh
kepala keluarga. Apa yang terpancar dari hati yaitu 'kehidupan' (Ams. 4: 23); dan jan-
tung komunitas, gereja, dan bangsa yaitu rumah tangga. Kesejahteraan masyarakat,
keberhasilan gereja, kemakmuran bangsa, bergantung pada pengaruh rumah”—Min-
istry of Healing, hlm. 349.
Pernyataan publik ini dikeluarkan oleh ketua General konferens, Neal C. Wilson, sesudah berkon-
sultasi dengan 16 wakil ketua Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh sedunia, pada tanggal 27 Juni
1985, pada sesi General konferens di New Orleans, Louisiana.
SIKAP TERHADAP
PELECEHAN
SEKSUAL PADA
ANAK
Pelecehan seksual anak terjadi saat seseorang yang lebih tua atau lebih kuat dari
anak memakai kekuasaan, otoritas, atau posisi kepercayaannya untuk melibat-
kan anak dalam perilaku atau aktivitas seksual. Inses, suatu bentuk khusus pelecehan
seksual terhadap anak, didefinisikan sebagai aktivitas seksual apa pun antara anak dan
orang tua, saudara kandung, anggota keluarga besar, atau orang tua tiri/pengganti.
Pelaku kekerasan seksual bisa laki-laki atau perempuan dan bisa dari segala usia,
kebangsaan, atau latar belakang sosial ekonomi. Mereka sering kali yaitu pria yang
menikah dengan anak-anak, memiliki pekerjaan yang terhormat, dan mungkin ang-
gota gereja biasa. Pelaku umumnya untuk menyangkal keras perilaku kasar mereka,
menolak untuk melihat tindakan mereka sebagai masalah, dan merasionalisasi perila-
ku mereka atau menyalahkan sesuatu atau orang lain. Meskipun benar bahwa banyak
pelaku kekerasan menunjukkan masalah ketidakamanan yang mengakar dan harga
diri yang rendah, masalah ini tidak boleh diterima sebagai alasan untuk melakukan
pelecehan seksual terhadap anak. Sebagian besar pihak berwenang setuju bahwa ma-
salah sebenarnya dalam pelecehan seksual anak lebih terkait dengan keinginan untuk
kekuasaan dan kontrol daripada seks.
saat Tuhan menciptakan keluarga manusia, Dia mulai dengan pernikahan anta-
ra seorang pria dan seorang wanita berdasarkan cinta dan kepercayaan bersama. Hu-
bungan ini tetap dirancang untuk memberi landasan bagi keluarga yang stabil dan
bahagia di mana martabat, nilai, dan integritas setiap anggota keluarga dilindungi dan
dijunjung tinggi. Setiap anak, baik laki-laki maupun perempuan, harus diakui sebagai
anugerah dari Tuhan. Orang tua diberikan hak istimewa dan tanggung jawab untuk
memberi pengasuhan, perlindungan, dan perawatan fisik bagi anak-anak yang di-
percayakan oleh Tuhan kepada mereka. Anak-anak harus dapat menghormati, meng-
hargai, dan memercayai orang tua mereka dan anggota keluarga lainnya tanpa risiko
pelecehan.
194 | APENDIKS B: PERNYATAAN SIKAP
Alkitab mengutuk pelecehan seksual anak dalam istilah yang paling kuat. Ia meli-
hat setiap upaya untuk membingungkan, mengaburkan, atau merendahkan batas-ba-
tas pribadi, generasi, atau gender melalui perilaku pelecehan seksual sebagai tindakan
pengkhianatan dan pelanggaran berat terhadap kepribadian. Alkitab secara terbuka
mengutuk penyalahgunaan kekuasaan, wewenang, dan tanggung jawab sebab ini me-
nyerang jantung perasaan terdalam para korban tentang diri mereka sendiri, orang
lain, dan Tuhan, dan menghancurkan kapasitas mereka untuk mencintai dan percaya.
Yesus memakai bahasa yang keras untuk mengutuk tindakan siapa saja yang, me-
lalui perkataan atau perbuatan, menyebabkan seorang anak tersandung.
Komunitas Kristen Advent tidak kebal dari pelecehan seksual anak. Kita perca-
ya bahwa prinsip iman Masehi Advent Hari Ketujuh mengharuskan kita untuk seca-
ra aktif terlibat dalam pencegahannya. Kita juga berkomitmen untuk secara spiritual
membantu individu yang dilecehkan dan dianiaya dan keluarga mereka dalam proses
penyembuhan dan pemulihan mereka, dan untuk meminta pertanggungjawaban para
profesional gereja dan pemimpin awam gereja untuk mempertahankan perilaku pri-
badi mereka sebagaimana pantas bagi orang-orang dalam posisi kepemimpinan dan
kepercayaan spiritual.
Sebagai Gereja kita percaya bahwa iman kita memanggil kita untuk:
1. Menjunjung tinggi prinsip-prinsip Kristus untuk hubungan keluarga di mana
harga diri, martabat, dan kemurnian anak-anak diakui sebagai hak-hak yang
diamanatkan secara Ilahi.
2. memberi suasana di mana anak-anak yang mengalami pelecehan dapat
merasa aman saat melaporkan pelecehan seksual dan dapat merasa bahwa
seseorang akan mendengarkan mereka.
3. mendapat informasi menyeluruh tentang pelecehan seksual dan dampak-
nya terhadap komunitas gereja kita sendiri.
4. Membantu para pendeta dan pemimpin awam untuk mengenali tanda-tanda
peringatan pelecehan seksual terhadap anak dan mengetahui bagaimana me-
respons dengan tepat saat ada dugaan pelecehan atau seorang anak mela-
porkan pelecehan seksual.
5. Membangun hubungan rujukan dengan konselor profesional dan agen pe-
nyerangan seksual lokal yang dapat, dengan keterampilan profesional mereka,
membantu korban pelecehan dan keluarga mereka.
6. Membuat pedoman/kebijakan pada tingkat yang sesuai untuk membantu
para pemimpin gereja dalam:
a. Berusaha untuk memperlakukan dengan adil orang-orang yang dituduh
melakukan pelecehan seksual terhadap anak-anak,
b. Meminta pertanggungjawaban pelaku atas tindakan mereka dan membe-
rikan disiplin yang sesuai.
7. Mendukung pendidikan dan penguatan keluarga dan anggota keluarga de-
ngan:
a. Menghilangkan keyakinan agama dan budaya yang umum dipegang yang
dapat dipakai untuk membenarkan atau menutupi pelecehan seksual
terhadap anak
b. Membangun rasa harga diri yang sehat dalam diri setiap anak yang me-
mungkinkan dia untuk menghargai diri sendiri dan orang lain.
c. Membina hubungan seperti Kristus antara pria dan wanita di rumah dan
di gereja.
8. memberi dukungan kepedulian dan pelayanan penebusan berbasis iman
dalam komunitas gereja untuk penyintas dan pelaku pelecehan sementara
memungkinkan mereka untuk mengakses jaringan sumber daya profesional
yang tersedia di masyarakat.
9. Mendorong pelatihan lebih banyak profesional keluarga untuk memfasilitasi
proses penyembuhan dan pemulihan korban dan pelaku kekerasan.
(Pernyataan di atas berdasarkan prinsip-prinsip yang diungkapkan dalam ayat-
ayat Alkitab berikut: Kej. 1: 26–28; 2: 18–25; Im. 18: 20; 2 Sam. 13: 1–22; Mat. 18: 6–9;
1 Kor. 5: 1–5; Ef. 6: 1–4; Kol. 3: 18–21; 1 Tim. 5: 5–8).
SIKAP TERHADAP
KEKERASAN
DALAM
RUMAH TANGGA
Kekerasan keluarga melibatkan penyerangan dalam bentuk apa pun—verbal, fisik,
emosional, seksual, atau pengabaian aktif atau pasif—yang dilakukan oleh satu orang atau
beberapa orang terhadap orang lain dalam sebuah keluarga, baik mereka menikah, ber-
hubungan, hidup bersama atau terpisah, atau bercerai. Penelitian internasional saat ini
menunjukkan bahwa kekerasan dalam keluarga merupakan masalah global. Ini terjadi an-
tara individu dari segala usia dan kebangsaan, di semua tingkat sosial ekonomi, dan dalam
keluarga dari semua jenis latar belakang agama dan non-agama. Tingkat keseluruhan insi-
den telah ditemukan serupa untuk kota, pinggiran kota, dan masyarakat pedesaan.
Kekerasan dalam keluarga memanifestasikan dirinya dalam beberapa cara. Mi-
salnya, itu mungkin serangan fisik terhadap pasangannya. Serangan emosional seper-
ti ancaman verbal, kemarahan, depresiasi karakter, dan tuntutan kesempurnaan yang
tidak realistis juga merupakan pelecehan. Ini dapat berupa pemaksaan fisik dan ke-
kerasan dalam hubungan seksual perkawinan, atau ancaman kekerasan melalui peng-
gunaan perilaku verbal atau nonverbal yang mengintimidasi. Ini termasuk perilaku
seperti inses dan perlakuan buruk atau penelantaran anak di bawah umur oleh orang
tua atau wali lain yang memicu cedera atau bahaya. Kekerasan terhadap lanjut
usia dapat dilihat dalam bentuk kekerasan fisik, psikologis, seksual, verbal, material,
dan medis atau penelantaran.
Alkitab dengan jelas menunjukkan bahwa tanda pembeda dari orang percaya
Kristen yaitu kualitas hubungan manusiawi mereka di dalam gereja dan dalam ke-
luarga. Di dalam roh Kristus yaitu untuk mengasihi dan menerima, untuk berusa-
ha meneguhkan dan membangun orang lain, daripada untuk menyalahgunakan atau
menghancurkan satu sama lain. Tidak ada ruang di antara para pengikut Kristus un-
tuk kontrol tirani dan penyalahgunaan kekuasaan atau otoritas. Dimotivasi oleh kasih
mereka kepada Kristus, murid-murid-Nya dipanggil untuk menunjukkan rasa hormat
dan kepedulian terhadap kesejahteraan orang lain, untuk menerima laki-laki dan pe-
rempuan secara setara, dan untuk mengakui bahwa setiap orang memiliki hak untuk
dihormati dan bermartabat. Kegagalan untuk berhubungan dengan orang lain dengan
cara ini melanggar kepribadian mereka dan merendahkan nilai manusia yang dicipta-
kan dan ditebus oleh Tuhan.
Rasul Paulus menyebut gereja sebagai “rumah tangga iman” yang berfungsi seba-
gai keluarga besar, menawarkan penerimaan, pengertian, dan penghiburan kepada se-
mua orang, terutama mereka yang terluka atau dirugikan. Kitab Suci menggambarkan
gereja sebagai sebuah keluarga di mana pertumbuhan pribadi dan rohani dapat terja-
di saat perasaan pengkhianatan, penolakan, dan kesedihan memberi jalan kepada
perasaan pengampunan, kepercayaan, dan keutuhan. Alkitab juga berbicara tentang
tanggung jawab pribadi orang Kristen untuk melindungi Bait Suci tubuhnya dari pe-
nodaan sebab itu yaitu tempat kediaman Allah.
Sayangnya, kekerasan dalam keluarga terjadi di banyak rumah tangga Kristen. Itu
tidak akan pernah bisa dimaafkan. Ini sangat memengaruhi kehidupan semua yang
terlibat dan sering kali menghasilkan persepsi yang terdistorsi dalam jangka panjang
tentang Tuhan, diri sendiri, dan orang lain.
Ini yaitu keyakinan kami bahwa Gereja memiliki tanggung jawab:
1. Untuk menolong mereka yang terlibat dalam kekerasan keluarga dan untuk
menanggapi kebutuhan mereka dengan:
a. Mendengarkan dan menerima mereka yang menderita pelecehan, men-
cintai dan menegaskan mereka sebagai orang yang berharga dan berharga.
b. Menyoroti ketidakadilan pelecehan dan berbicara membela para korban
baik di dalam komunitas agama maupun di masyarakat.
c. memberi pelayanan yang penuh perhatian dan suportif kepada ke-
luarga yang terkena dampak kekerasan dan pelecehan, berusaha untuk
memungkinkan baik korban maupun pelaku untuk mengakses konseling
dengan profesional Advent jika tersedia atau sumber daya profesional la-
innya di masyarakat.
d. Mendorong pelatihan dan penempatan pelayanan profesional Advent
Hari Ketujuh berlisensi baik untuk anggota gereja maupun masyarakat
sekitar.
e. Menawarkan pelayanan rekonsiliasi saat pertobatan pelaku memung-
kinkan kontemplasi pengampunan dan pemulihan dalam hubungan. Per-
tobatan selalu mencakup penerimaan tanggung jawab penuh atas kesa-
lahan yang dilakukan, kesediaan untuk memberi ganti rugi dengan
segala cara yang mungkin, dan perubahan perilaku untuk menghilangkan
penyalahgunaan.
f. Memfokuskan terang Injil pada sifat suami-istri, orang tua-anak, dan hu-
bungan dekat lainnya, dan memberdayakan individu dan keluarga untuk
bertumbuh menuju cita-cita Allah dalam kehidupan mereka bersama.
g. Menjaga agar tidak terjadi pengucilan baik korban maupun pelaku di
lingkungan keluarga atau komunitas gereja, dengan tegas meminta per-
tanggungjawaban pelaku atas perbuatannya.
2. Memperkuat kehidupan keluarga dengan:
a. memberi pendidikan kehidupan keluarga yang berorientasi pada ka-
sih karunia dan mencakup pemahaman alkitabiah tentang kebersamaan,
kesetaraan, dan rasa hormat yang sangat diperlukan dalam hubungan
Kristen.
b. Meningkatkan pemahaman tentang faktor-faktor yang berkontribusi ter-
hadap kekerasan dalam keluarga.
c. Mengembangkan cara untuk mencegah pelecehan dan kekerasan dan si-
klus berulang yang sering diamati dalam keluarga dan lintas generasi.
d. Memperbaiki keyakinan agama dan budaya yang dianut secara umum
yang dapat dipakai untuk membenarkan atau menutupi kekerasan
dalam keluarga. Misalnya, sementara orang tua diperintahkan oleh Allah
untuk mengoreksi anak-anak mereka dengan bijak, tanggung jawab ini
tidak memberi izin untuk penggunaan tindakan disipliner yang keras
dan menghukum.
3. Untuk menerima tanggung jawab moral kita untuk waspada dan tanggap ter-
hadap pelecehan di dalam keluarga jemaat dan komunitas kita, dan untuk
menyatakan bahwa perilaku kasar ini merupakan pelanggaran terhadap
standar Kristen Masehi Advent Hari Ketujuh. Setiap indikasi atau laporan pe-
nyalahgunaan tidak boleh diminimalkan namun dipertimbangkan secara seri-
us. Bagi anggota gereja untuk tetap acuh tak acuh dan tidak tanggap berarti
memaafkan, melanggengkan, dan mungkin memperluas kekerasan keluarga.
Jika kita ingin hidup sebagai anak-anak terang, kita harus menerangi kegelapan
di mana kekerasan keluarga terjadi di tengah-tengah kita. Kita harus peduli satu sama
lain, bahkan berketetapan untuk tidak terlibat dalam kekerasan.
(Pernyataan di atas berdasarkan oleh prinsip-prinsip yang diungkapkan dalam ba-
gian-bagian ayat-ayat suci berikut: Kel. 20: 12; Mat. 7: 12; 20: 25–28; Markus 9: 33–45;
Yohanes 13: 34; Rm. 12: 10, 13; l Kor. 6: 19; Gal. 3: 28; Efesus 5: 2, 3, 21–27; 6: 1–4; Kol.
3: 12–14; 1 Tes. 5: 11; 1 Tim. 5: 5–8).
Manusia diciptakan menurut gambar Allah. Bagian dari karunia yang Tuhan beri-
kan kepada kita sebagai manusia yaitu berketurunan, kemampuan untuk berpartisipa-
si dalam penciptaan bersama dengan Pencipta kehidupan. Karunia suci ini harus selalu
dipandang dan dihargai. Dalam rencana awal Tuhan, setiap kehamilan harus menjadi
hasil dari ekspresi cinta antara seorang pria dan seorang wanita yang berkomitmen satu
sama lain dalam pernikahan. Kehamilan harus diinginkan, dan setiap bayi harus dicin-
tai, dihargai, dan dipelihara bahkan sebelum lahir. Sayangnya, sejak masuknya dosa,
setan telah melakukan upaya yang disengaja untuk merusak citra Allah dengan mengo-
tori semua karunia Allah—termasuk karunia berketurunan. Akibatnya, orang kadang-
kadang dihadapkan pada dilema dan keputusan yang sulit mengenai kehamilan.
Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh berkomitmen pada ajaran dan prinsip Kitab
Suci yang mengungkapkan nilai-nilai Tuhan dalam kehidupan dan memberi bim-
bingan bagi calon ibu dan ayah, tenaga medis, gereja, dan semua orang percaya dalam
hal iman, doktrin, perilaku etis, dan gaya hidup. Gereja sementara tidak menjadi hati
nurani orang percaya individu memiliki tugas untuk menyampaikan prinsip-prinsip
dan ajaran Sabda Allah.
Pernyataan ini menegaskan kesucian hidup dan menyajikan prinsip-prinsip alki-
tabiah yang berkaitan dengan aborsi. Seperti yang dipakai dalam pernyataan ini,
aborsi didefinisikan sebagai setiap tindakan yang bertujuan untuk mengakhiri keha-
milan namun tidak termasuk penghentian kehamilan secara spontan, yang dikenal
juga sebagai keguguran.
sebab praktik aborsi harus dipahami dalam terang Kitab Suci, prinsip-prinsip
dan ajaran-ajaran alkitabiah berikut ini memberi panduan bagi komunitas gereja
dan orang-orang yang dipengaruhi oleh pilihan-pilihan sulit ini :
1. Tuhan menjunjung tinggi nilai dan kesucian hidup manusia. Nyawa manusia
sangat berharga bagi Tuhan. sesudah menciptakan manusia menurut gambar-Nya (Ke-
jadian 1: 27; 2: 7), Allah menaruh perhatian terhadap manusia. Allah mengasihi mere-
ka dan berkomunikasi dengan mereka, agar manusia pada gilirannya dapat mengasihi
dan berkomunikasi dengan-Nya.
Hidup yaitu anugerah Tuhan, dan Tuhan yaitu Pemberi kehidupan. Di dalam
Yesus ada hidup (Yohanes 1: 4). Dia memiliki hidup di dalam diri-Nya sendiri (Yoha-
nes 5: 26). Dia yaitu kebangkitan dan hidup (Yohanes 11: 25; 14: 6). Dia memberi
hidup yang berkelimpahan (Yohanes 10: 10). Mereka yang memiliki Anak memiliki
hidup (1 Yohanes 5: 12). Dia juga Pemelihara kehidupan (Kisah Para Rasul 17: 25–
28; Kolose 1: 17; Ibrani 1: 1–3), dan Roh Kudus digambarkan sebagai Roh kehidupan
(Roma 8: 2). Tuhan sangat peduli terhadap ciptaan-Nya dan khususnya bagi umat ma-
nusia.
Lebih jauh lagi, pentingnya kehidupan manusia diperjelas oleh fakta bahwa, se-
telah Kejatuhan (Kejadian 3), Allah “memberi Anak-Nya yang tunggal, supaya
barangsiapa percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal”
(Yohanes 3: 16) . Sementara Tuhan bisa saja meninggalkan dan mengakhiri manusia
berdosa, Dia memilih untuk hidup. Akibatnya, para pengikut Kristus akan dibangkit-
kan dari kematian dan akan hidup dalam persekutuan tatap muka dengan Allah (Yo-
hanes 11: 25–26; 1 Tesalonika 4: 15–16; Wahyu 21: 3). Dengan demikian, kehidupan
manusia yaitu nilai yang tak ternilai harganya. Hal ini berlaku untuk semua tahap
kehidupan manusia: bayi yang belum lahir, anak-anak dari berbagai usia, remaja, de-
wasa, dan manula—tidak tergantung pada kapasitas fisik, mental, dan emosional. Hal
ini juga berlaku untuk semua manusia tanpa memandang jenis kelamin, etnis, status
sosial, agama, dan apa pun yang membedakan mereka. Pemahaman tentang kesucian
hidup seperti itu memberi nilai yang tidak dapat diganggu gugat dan setara bagi
setiap kehidupan manusia dan mengharuskannya untuk diperlakukan dengan penuh
hormat dan perhatian.
2. Tuhan menganggap anak yang belum lahir sebagai kehidupan manusia. Kehi-
dupan pralahir berharga di mata Tuhan, dan Alkitab menjelaskan pengetahuan Tuhan
tentang manusia sebelum mereka dikandung. “mata-Mu melihat selagi aku bakal anak,
dan dalam kitab-Mu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk, sebelum ada
satu pun dari padanya” (Mazmur 139: 16). Dalam kasus-kasus tertentu, Tuhan seca-
ra langsung membimbing kehidupan pralahir. Simson harus "menjadi seorang Nazir
bagi Allah sejak dalam kandungan" (Hakim-Hakim 13: 5). Hamba Allah "dipanggil
sejak dalam kandungan" (Yesaya 49: 1, 5). Yeremia sudah dipilih sebagai nabi sebelum
| 201APENDIKS B: PERNYATAAN SIKAP
PERNYATAAN PANDANGAN ALKITABIAH TENTANG KEHIDUPAN YANG BELUM DILAHIRKAN DAN IMPLIKASINYA TERHADAP ABORSI
kelahirannya (Yeremia 1: 5), seperti halnya Paulus (Galatia 1: 15), dan Yohanes Pem-
baptis harus “dipenuhi dengan Roh Kudus sejak dari kandungan ibunya” (Lukas 1:
15). Tentang Yesus, malaikat Gabriel menjelaskan kepada Maria: “Sebab itu anak yang
akan dilahirkan itu akan disebut kudus—Anak Allah” (Lukas 1: 35). Dalam inkarnasi-
Nya Yesus sendiri mengalami periode pralahir manusia dan diakui sebagai Mesias dan
Anak Allah segera sesudah pembuahan-Nya (Lukas 1: 40–45). Alkitab sudah menga-
itkan kegembiraan anak yang belum lahir (Lukas 1: 44) dan bahkan persaingan (Ke-
jadian 25: 21–23). Mereka yang belum lahir memiliki tempat yang kokoh di hadapan
Allah (Ayub 10: 8–12; 31: 13–15). Hukum Alkitab menunjukkan perhatian yang kuat
untuk melindungi kehidupan manusia dan menganggap bahaya atau kehilangan bayi
atau ibu sebagai akibat dari tindakan kekerasan sebagai masalah serius (Keluaran 21:
22–23).
3. Kehendak Tuhan tentang kehidupan manusia diungkapkan dalam Sepuluh
Perintah Allah dan dijelaskan oleh Yesus dalam Khotbah di Bukit. Dekalog diberi-
kan kepada umat perjanjian Allah dan dunia untuk membimbing hidup mereka dan
melindung

