Teologi 1
Pada edisi ini jurnal terbit lagi dengan 5 artikel. Seyogyanya ada 6
artikel dari 9 yang diterima dalam edisi ini. Namun ada satu yang ditunda
untuk perbaikan dan beberapa yang tidak memenuhi dan satu ditarik
walaupun sudah melewati tahap bestari (akan diseminarkan dan wajib
masuk dalam buku prosiding). Ini suatu ketidaksopanan juga dalam
pelayanan literatur namun silakan saja.
Artikel pertama membahas tentang anugerah dan perbuatan dalam
keselamatan antara Paulus dan Yakobus yang ditulis oleh Mauli Siahaan,
yang meninjau kembali kontroversi lama dan terus-menerus tentang iman
dan perbuatan dalam ajaran Paulus dan Yakobus. Mungkinkah hal itu
diperdamaikan? Selama iman itu yaitu anugerah Allah bukan usaha
manusia sedikitpun maka tetap bisa diperdamaikan. Asalkan dimulai dari
iman anugerah. Namun kita lihat sejak iman sering dipahami sebagai
usaha manusia maka konsekuensinya akan menuju pada perbuatan yang
menentukan keselamatan bukan iman lagi. Semoga tinjauan ulang ini
dapat membantu bagi warga gereja masa kini.
Artikel kedua mengenai pragmatisme yang masuk secara leluasa ke
dalam gereja sebagai cara untuk memfungsikan gereja secara kelihatan
dan terukur. Dengan rekanan saya Lukman Yonathan sebagai gembala
melihat dampak negatif di dalam pelayanan-pelayanan dan
pengembangan gereja. Bahkan juga melihatnya dalam pertumbuhan
gereja secara kualitatif. Kelihatannya gereja-gereja sedang mengejar
sukses sebagai tanda dengan memakai pandangan dunia non Kristen.
Pandangan dunia praktis dalam pragmatisme memang sangat berbahaya
juga sebagai berhala masa kini yang menjadikan gereja sebagai klub
sosial dan menentukan kebebasan. Maka iman terjual dalam oportunisme
pasar yang dingin dan kejam bagi iman Kristen. Dan gerejapun hanya
seperti klub sosial dan interes agama Kristen saja.
Lalu penulis lain Budiman Widjaja berpasangan dengan Meitha
Sartika menjelaskan mengenai pembangunan dan pertumbuhan gereja.
Tentu pertumbuhan gereja berdasarkan firman Allah dan anugerah-Nya
saja untuk bertumbuh. sedang pengembangan gereja harus terencana
ii
dan terstruktur. Kedua konsepnya berbeda dari praktiknya juga.
Penulis Octavianey G.P.H. Meman menulis dialog masa depan.
Mungkin maksudnya untuk masa depan dengan cara mereposisi
ajaran-ajaran dalam ruang publik atau dunia politik. Untuk kejelasannya
dapat dilihat langsung dalam tulisan ini yang mencoba melihat
bersama-sama faktor beragama dan politik dalam masyarakat yang multi
konteks.
sedang Togardo Siburian melihat kembali secara kritis buku
Injil Barnabas, konon dipakai sebagai alat yang ampuh untuk
memualafkan orang Kristen bahkan para pendeta gereja yang
pemahaman teologisnya lemah. Sebenarnya sudah banyak tulisan
yang membeberkan kepalsuan “buku” orang agama lain ini. Dan orang
dari beragama itupun tahu kalau kandungannya salah namun sengaja
menutup mata mengenai kepalsuan apa yang disebut “Injil Barnabas ini”.
Namun ketidaksopanan masa kini dalam hal hoaks dari para pemimpin
umat membuat kita sadar dari kekejaman pasar agama masa kini.
Dengan tulisan ini warga gereja diajak secara kritis untuk meninjau
kembali buku sesat dari abad pertengahan ini sebagai alat propaganda
agama tertentu di Indonesia.
Salah satu doktrin yang dibicarakan oleh Alkitab yaitu doktrin
keselamatan atau soteriologi. Namun tidak bisa dipungkiri bahwa doktrin
ini juga yang sering disalahartikan oleh orang Kristen khususnya
mengenai anugerah dan perbuatan. Ada sebagian orang melihat anugerah
secara berlebihan sehingga tidak memperdulikan perilaku hidup sebagai
orang percaya. namun ada juga sebagian yang lain yang menekankan
perbuatan untuk mengalami keselamatan sehingga mengesampingkan
anugerah Allah yang telah nyata di dalam pengorbanan Kristus di atas
kayu salib.
Ada sebagian orang memahami anugerah Allah itu sebagai
pemberian Allah semata-mata yang membuat orang Kristen tidak perlu
lagi melakukan apa-apa termasuk untuk mengaku dosa walaupun dalam
perjalanan hidupnya sesudah percaya Yesus melakukan dosa sebab
menganggap bahwa Yesus telah mengampuni dosa kita kemarin, dosa
kita hari ini, dosa kita yang akan datang.1 Pemahaman ini membuat orang
Kristen menjadi pasif dan bahkan masa bodoh tentang hidup beriman.
Sebaliknya ada sebagian orang Kristen memahami bahwa keselamatan
itu tidak cukup hanya percaya Yesus. Itulah sebabnya mereka memahami
keselamatan itu sebagai sebuah perjuangan yang harus dilanjutkan
sesudah percaya Tuhan Yesus. sebab seseorang pada akhirnya selamat
jika hidupnya terus berjuang untuk mendapatkan keselamatan itu.
Kelompok orang seperti ini melihat bahwa keselamatan itu bersyarat dan
syaratnya itu yaitu harus memperjuangkannya sampai mati.
Pengorbanan Yesus di atas kayu salib harus disempurnakan dengan
perbuatan manusia kalau ingin mendapatkan hidup yang kekal. Dengan
demikian perbuatan manusia sesudah percaya Yesus akan sangat
menentukan keselamatan seseorang. Melihat kedua paham di atas, maka
kita menemukan bahwa ada perbedaan yang sangat ekstrim tentang
doktrin keselamatan di antara orang Kristen sekalipun doktrin itu
memakai ayat-ayat Alkitab.
Memang ada beberapa ungkapan yang berbeda yang disampaikan
Alkitab ketika menjelaskan tentang doktrin keselamatan ini khususnya
mengenai anugerah yang dihubungkan dengan perbuatan seperti yag
diungkapkan oleh Rasul Paulus dan Yakobus. Namun hal itu terjadi
sebab pendekatan yang berbeda sehingga ada kontras di antara mereka
dalam pengungkapannya. Namun pada dasarnya tidak ada perbedaan
prinsip, namun yang ada yaitu penekanan yang berbeda dalam prinsip
yang sama. Itulah sebabnya dokrin keselamatan yang diungkapkan oleh
Rasul Paulus dan Yakobus memiliki keunikannya masing-masing. Dan
keunikan itu diperlukan agar kita memiliki pemahaman yang kaya makna
dalam mempelajari doktrin ini.
Paper ini akan memaparkan keunikan soteriologi Paulus dengan
Yakobus.
SITUASI KONTROVERSIAL DIGAMBARKAN
Doktrin keselamatan yang paling mendapatkan penekanan yang berbeda
dan yang paling mendapat perhatian yaitu doktrin keselamatan yang
diungkapkan oleh Rasul Paulus dan Yakobus. Banyak orang Kristen
khususnya para teolog yang mempertanyakan doktrin keselamatan yang
ada dalam surat Yakobus. Sebab “Yakobus mengemukakan satu problem
teologis di mana ia dianggap menentang doktrin Paulus tentang
pembenaran.”2 Hal itu timbul sebab sebagian orang memandang bahwa
doktrin keselamatan yang ada dalam surat Yakobus berbeda dengan
surat-surat yang lain khususnya surat-surat Paulus. Pertanyaan itu timbul
sebab Yakobus menekankan pembenaran malalui perbuatan di mana hal
itu sangat berbeda dengan pandangan rasul Paulus yang mengatakan
bahwa manusia dibenarkan hanya sebab anugerah Allah melalui iman.
Memang ada sekelompok orang yang pada akhirnya memaknai
doktrin keselamatan dari Yakobus ini menjadi suatu doktrin yang
menekankan perbuatan untuk mendapatkan keselamatan. Mereka
memahami bahwa pada akhirnya seseorang diselamatkan atau tidak akan
terlihat dari perbuatan orang itu sesudah percaya Yesus. Jadi, perbuatan
seseoranglah yang menentukan keselamatannya. namun ada juga
sebagian orang yang memaknai keselamatan itu mutlak yaitu anugerah
Allah sehingga setiap orang percaya Yesus tidak perlu melakukan apa-
apa lagi dalam hidupnya sehingga iman itu hanya tersembunyi dalam
hati. Tentu hal ini sangat bertolak belakang satu sama lain dan menjadi
pandangan yang sangat merusak doktrin keselamatan khususnya di
kalangan orang Kristen. Itulah sebabnya banyak orang Kristen memiliki
iman yang palsu dan tidak memiliki dampak apa-apa dalam kehidupan
sehari-hari dan menjadi batu sandungan bagi banyak orang. Dan dipihak
lain banyak orang Kristen menjadikan korban Kristus di atas kayu salib
tidak sempurna dan harus disempurnakan lewat perbuatan manusia.
Demikian juga sebab pemahaman yang salah dari doktrin keselamatan
Yakobus membuat surat Yakobus selama beberapa abad ditentang di
kalangan gereja. Origenes dan Eusibius menyebut surat Yakobus sebagai
surat yang memiliki nilai yang diragukan.3 sedang “Martin Luther
menyebut kitab ini sebagai “surat sepele yang tepat.”4 Hal itu membuat
surat. Dalam hal ini surat Yakobus sempat dipertanyakan keabsahannya
masuk dalam konon Alkitab
Melihat perdebatan itu timbul pertanyaan, Apakah benar konsep
keselamatan Yakobus khususnya mengenai pembenaran merupakan
sesuatu yang berbeda dengan apa yang diberitakan oleh rasul Paulus?
Atau apakah konsep mereka pada dasarnya sama namun dalam
pengungkapan atau penekanan yang berbeda? Bisa saja pernyataan-
pernyataan mereka tentang pembenaran berbeda sebab fokus atau
penekanan yang berbeda namun dalam prinsip yang sama. Prinsipnya
bahwa keselamatan yaitu anugerah yang diterima melalui iman seperti
yang diungkapkan oleh Paulus dalam Efesus 2:8 di mana Paulus
menekankan keselamatan itu dari sisi anugerah sebagai dasar dari
keselamatan itu dan Yakobus menekankan perbuatan baik sebagai hasil
dari keselamatan itu. Penekanan yang berbeda ini tentu diperlukan agar
terjadi keseimbangan dalam penerapannya. Hal ini perlu dikaji lebih jauh
lewat pengamatan teks dari surat-surat Paulus dengan surat Yakobus
sehingga kita bisa melihat paham mereka yang sesungguhnya.
Mengenai hal ini, Ladd berkata;
Harmonisasi teologis seperti ini mutlak diperlukan, namun tidak
boleh mengabaikan kontribusi khusus yang diberikan oleh Paulus
maupun Yakobus. Ketika diperhadapkan dengan paham legalisme
yang berusaha mendasari keselamatan atas dasar perbuatan dan
kemampuan manusia, kontribusi Paulus harus didengarkan dan
diajukan, sebagaimana terjadi pada masa reformasi. Namun, ketika
dihadapkan pada paham Quietisme yang bersikap acuh tak acuh
terhadap tingkah laku praktis orang Kristen dan tidak menunjukkan
buah-buah kehidupan yang nyata, kontribusi teologis Yakobus
harus dikedepankan, sebagaimana terjadi pada masa kakak-beradik
Wesley. Mensyukuri anugerah keselamatan Allah dalam Yesus
Kristus harus diikuti hidup dalam orientasi dan ketaatan terhadap
firman Tuhan. Kehidupan kristiani perlu menjaga keseimbangan
penekanan antara anugerah sebagai dasar keselamatan dan
perbuatan baik sebagai hasil keselamatan.5
KONTRAS DOKTRIN KESELAMATAN PAULUS
DAN YAKOBUS
Doktrin keselamatan yaitu salah satu doktrin yang mendapat perhatian
dari Paulus dan Yakobus. Dibanding dengan Yakobus, rasul Paulus lebih
banyak membicarakan doktrin ini. Rasul Paulus lebih luas serta lebih
dalam mengungkapan rahasia tentang keselamatan yang telah Allah
sediakan bagi setiap orang dibanding dengan Yakobus.
Ketika Rasul Paulus dan Yakobus membicarakan doktrin
keselamatan tentu mereka memiliki penekanan yang berbeda-beda dalam
mendekatinya. Dengan demikian ada sesuatu yang ditekankan oleh rasul
Paulus di mana hal itu tidak mendapatkan perhatian oleh Yakobus dan
sebaliknya. Hal itu terjadi sebab mereka memiliki tujuan yang berbeda
ketika mereka menulis surat-surat tersebut.
PERSPEKTIF PAULUS
Paulus melihat keselamatan sebagai suatu inisiatif Allah dalam
mengupayakan manusia berdosa untuk kembali kepada posisinya semula.
Dengan demikian Paulus lebih menekankan karya Allah ini dalam
merencanakan dan merealisasikannya. Hal itu terlihat pada
pernyataannya dalam Efesus 2:8-9 yang berkata; “Sebab sebab kasih
karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, namun
pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang
memegahkan diri.” Ungkapan ini menunjukkan bahwa karya
keselamatan itu mutlak yaitu prakarsa Allah dan pelaksanaannyapun
semata-mata yaitu karya Allah. Hal itu terlihat dari kata kasih
karunia atau anugerah. Kata “anugerah” yaitu terjemahan dari kata
charis yang memiliki arti hadiah atau sesuatu yang diberikan kepada
orang lain tanpa adanya timbal balik atau kompensasi.
Artinya pemberian cuma-cuma di mana tidak ada sedikitpun andil
manusia di dalamnya. Paulus menggunakan kata anugerah terutama
untuk menunjukkan kebaikan Allah yang memberikan keselamatan
kepada mereka yang tidak layak. Pandangan ini diperjelas oleh Paulus
dengan dua frasa;”bukan hasil usahamu” dan “bukan hasil pekerjaanmu”.
Frasa ini dalam bahasa Alkitab yaitu ; touto ouk ex hümōn yang secara
harfiah artinya “itu bukan berasal dari dirimu sendiri.” 6 Hal ini
menunjukkan bahwa manusia tidak memiliki kontribusi apapun dalam
penyediaan keselamatan. Dengan demikian Paulus ingin mengatakan
bahwa keselamatan hanya ada sebab Allah yang bekerja untuk
menyediakannya.
Pernyataan Pulus ini juga ditegaskan dalam surat-suratnya yang
lain seperti dalam Roma 3:24 yang berkata; “…dan oleh kasih karunia
telah dibenarkan dengan cuma-cuma sebab penebusan dalam Kristus
Yesus.” Di sini Paulus menekankan keselamatan dalam bentuk
pembenaran bagi manusia berdosa secara cuma-cuma tanpa biaya atau
gratis. Jadi bukan sebab sesuatu yang dilakukan oleh manusia namun
sebab penebusan Kristus di atas kayu salib. Penebusan itu terjadi sebab
Allah sudah membayar harganya. Sebab kata “penebusan” terjemahan
dari kata apolutrósis yang memiliki arti pembebasan yang dilakukan
dengan pembayaran uang tebusan. Atau secara harfiah memiliki arti
membeli seseorang budak atau tawanan dengan membayar harga
tebusan. Dan harga itu yaitu darah Yesus atau kematian Kristus. Sebab
“Paulus dalam berbagai cara mengaitkan pernyataan kebenaran Allah
dengan kematian dan kebangkitan Kristus.” 7 Sebab keselamatan itu
terjadi sepenuhnya sebab penebusan Kristus. Jadi, keselamatan itu
tersedia sebab kerelaan dari Yesus Kristus mati di atas kayu salib untuk
menanggung dosa manusia dan itu mutlak yaitu karya Allah dan tidak
ada sedikitpun andil dari manusia. Sebab “Keselamatan yaitu anugerah
Allah semata-mata, dan kita hanya dapat menerimanya saja.”8
Dengan demikian rasul Paulus lebih menekankan pada upaya Allah
dalam menyediakan keselamatan. Hal ini bukan berarti bahwa Paulus
melupakan peran manusia khususnya dalam hubungannya dengan iman.
namun dia lebih fokus pada pribadi dan karya Allah dalam menyediakan
keselamatan bagi manusia. Sebab Paulus menyadari bahwa tidak ada satu
usaha manusia yang bisa memenuhi ketentuan Allah untuk dapat
menyelamatkan manusia dari keberdosaannya. “Paulus...menunjukkan
bahwa bukanlah kepatuhan pada hukum Taurat, melainkan iman semata-
mata, yang membawa manusia pada pembenaran dengan Allah.“9 Itulah
sebabnya Paulus meyakini bahwa hanya sebab tindakan Allah didorong
oleh sebab kasih-Nya, Dia mengupayakan keselamatan bagi manusia.
Keselamatan yang sudah disediakan oleh Allah tentu memerlukan
respon manusia jika ingin menikmatinya. Respons itu yaitu iman.
Itulah sebabnya Paulus melanjutkan pernyataannya dalam Efesus 2:8 itu
dengan berkata, “oleh iman.” Dengan kata lain keselamatan yang telah
disediakan Allah lewat penebusan Kristus bisa dialami oleh manusia
melalui iman. Kata iman yaitu terjemahan dari “pistis” yang artinya
kepercayaan atau keyakinan terutama mengandalkan Kristus untuk
keselamatan. Jadi, “Jika anugerah Allah yaitu dasar keselamatan, maka
iman yaitu sarana yang melaluinya anugerah itu diapropriasikan.” 10
“Bagi Paulus iman yaitu penerimaan Injil dan penyerahan pribadi
kepada Dia yang diberitakan...iman itu bersifat pribadi, kepercayaan
yang tulus,”11 Dengan demikian iman yaitu syarat untuk mengalami
keselamatan dan bukan untuk menyediakan keselamatan. Memang tanpa
iman, manusia tidak akan bisa mengalami keselamatan. namun
keselamatan tersedia mutlak yaitu karya Allah. Iman hanya akan berarti
kalau dihubungkan dengan karya Kristus di atas kayu salib. Sebab iman
yaitu ketergantungan kepada keselamatan di dalam Kristus.
PERSPEKTIF YAKOBUS
Berbeda dengan Paulus, Yakobus lebih memperhatikan realisasi dari
keselamatan itu dalam kehidupan manusia. Itulah sebabnya dia lebih
menekankan peran manusia dalam menanggapi keselamatan yang Allah
sediakan. Hal ini terjadi sebab Yakobus mengamati kehidupan
kekristenan pada jaman itu yang setengah hati. Dengan demikian
“Yakobus melawan kecenderungan banyak orang Kristen yang menjadi
puas dengan iman yang dipraktekkan dengan setengah hati dan sikap
kompromi yang mencari hal-hal yang dianggap terbaik dari dunia ini.”12
Jadi, “Yakobus bukan menolak doktrin pembenaran oleh iman dari
Paulus melainkan justru menolak penyimpangan terhadap doktrin
tersebut.” Itulah sebabnya Yakobus ingin mempertanyakan kontribusi
apa yang harus dilakukan oleh manusia dalam hubungannya dengan
keselamatan yang sudah tersedia. Hal yang sama juga sedang terjadi di
masa kini dimana ada orang hanya berkata percaya Yesus namun tetap
hidup di dalam dosa sebab merasa Kristus sudah menebus dosanya di
atas kayu salib.
Dalam hal ini Yakobus ingin mempertanyakan bukti keselamatan
dari orang-orang yang mengaku diri sudah diselamatkan. Kalau orang-
orang yang mengaku diri sudah diselamatkan itu ternyata tidak
memperlihatkan perbuatan yang sudah diselamatkan maka pada
prinsipnya mereka belum diselamatkan sekalipun mereka mengaku
bahwa mereka memiliki iman. Itulah sebabnya Yakobus berkata, “Sebab
seperti tubuh tanpa roh yaitu mati, demikian jugalah iman tanpa
perbuatan-perbuatan yaitu mati.” (Yak. 2:26) Dengan kata lain Yakobus
ingin menantang orang-orang yang berkata memiliki iman agar
memperlihatkannya dalam perbuatan. Di sini dia ingin menekankan sisi
manusianya, bukan dalam pengadaan keselamatan namun dalam
pembuktian keselamatan yang sudah di alami oleh setiap orang yang
sudah diselamatkan. Jadi Yakobus memfokuskan diri pada perilaku
orang yang sudah menerima keselamatan itu melalui iman. sebab iman
yang sesungguhnya yaitu iman yang bukan hanya ada di hati, namun
juga yang terlihat dalam realita hidup sehari-hari.
Iman yang hidup tidak bisa dipisahkan dari perbuatan. Hal iu
terlihat dari frasa iman tanpa perbuatan adalan mati. Kata “tanpa”
terjemahan dari chóris yang memiliki arti terpisah dari; artinya kalau
iman itu terpisah dari perbuatan, maka sesungguhnya iman iu yaitu
iman yang mati. Dengan kata lain iman yang sungguh telah mengalami
keselamatan akan terlihat dari cara hidup orang yang memiliki iman itu.
“Yakobus menggunakan konsep iman menurut penegasan rabi tentang
emunah, yang berarti penegasan tentang monoteisme! Bagi Yakobus
iman itu yaitu pendapat yang ortodoks.”13 Suatu pandangan yang luhur
dan bukan sebuah pernyataan yang tanpa makna. Jadi, dia mendorong
penerima suratnya agar tidak membuat ringan arti iman yang
sesungguhnya. Iman bukan hanya di mulut namun juga di dalam tindakan
yang nyata.
Satu hal yang sering dianggap orang bahwa Yakobus memiliki
pemahaman dimana manusia dibenarkan oleh perbuatan seperti yang
terdapat dalam Yakobus 2:21 yang berbunyi, “Bukankah Abraham, bapa
kita, dibenarkan sebab perbuatan-perbuatannya, ketika ia
mempersembahkan Ishak, anaknya, di atas mezbah?” Dalam ayat ini
memang terlihat sepintas bahwa perbuatan Abraham yang
mempersembahkan Ishak menjadi alasan Allah membenarkan dia. Hal
itu terlihat dari kata “perbuatan”. Kata ini yaitu terjemahan dari “ergon”
yaitu sebuah kerja keras sebagai usaha dari sebuah perkerjaan. Padahal
kalau kita menyimak lebih jauh ungkapan di atas maka kita akan melihat
bahwa kata yang dipakai di sana bukan kata perbuatan dalam bentuk
tunggal namun jamak, yaitu “ergōn” atau perbuatan-perbuatan. Artinya
jauh sebelum Abraham mempersembah-kan Ishak anaknya, ia telah
melakukan hal-hal yang menunjukkan imannya termasuk dalam
mempersembahkan Ishak. “Yang dimaksud perbuatan oleh Yakobus
bukan perbuatan menurut pemahaman Yahudi yaitu sarana untuk
memperoleh keselamatan, namun perbuatan iman, hasil moral dari
kesalehan sejati dan khususnya perbuatan kasih” 14 Dengan demikiaan
perbuatan-perbuatan yang didasari oleh iman itulah yang dinilai oleh
Allah sebagai kebenaran. “Lalu percayalah Abraham kepada TUHAN,
maka TUHAN memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.”
(Yak. 2:23). Dengan kata lain, perbuatan-perbuatan yang didasari oleh
imannya kepada Allah yang memanggil dia mulai dari ketika dia harus
meninggalkan negerinya sampai kepada perintah Allah untuk
mempersembahkan Ishak dinilai Allah sebagai kebenaran. Kata
kebenaran yaitu terjemahan dari dikaiosuné yang memiliki arti
kebenaran, di mana Allah yaitu sumbernya. Dengan kata lain kebenaran
dari Allah yang benar yang membenarkan manusia yang percaya kepada-
Nya. Dalam hal ini dibenarkan berarti diakui benar di hadapan Allah. Hal
ini menegaskan sinergi antara iman dan perbuatan dan itulah iman yang
sejat.
Kata dibenarkan tercakup juga di dalamnya tindakan. Itulah
sebabnya Yakobus menanggapi tindakan Abraham ini sebagai tindakan
yang dibenarkan di hadapan Allah sebab Abraham melakukannya
didasari oleh imannya kepada Allah yang memanggil dia. “Jadi kamu
lihat, bahwa manusia dibenarkan sebab perbuatan-perbuatannya dan
bukan hanya sebab iman.” (Yak. 2:24) Di sini Yakobus tidak berkata
bahwa manusia dibenarkan lewat perbuatannya namun dibenarkan bukan
hanya sebab iman. Yakobus mau menegaskan bahwa yang
membenarkan manusia di hadapan Allah yaitu imannya yang nyata
dalam perbuatan. Sebab “Iman yang sejati akan menampakkan diri dalam
perbuatan, dan hanya iman yang semacam inilah yang menghasilkan
pembenaran.” 15 Itulah sebabnya Yakobus memaparkan sebuah contoh
yaitu kehidupan Rahab untuk membuktikan hal itu. Rahab bukan hanya
percaya bahwa Allah orang Israel itu yaitu Allah yang Mahakuasa,
namun dia juga mewujud nyatakan imannya itu dalam perbuatan. Hal itu
terlihat ketika dia hendak menolong dua pengintai yang masuk ke
rumahnya. Dengan demikian Rahab memperlihatkan imannya dari
perbuatannya dan perbuatannya menunjukkan imannya. Dengan
demikian “... perbuatan-perbuatan yang baik menjadi bukti dari buah-
buah dari iman.”16
Jadi, Yakobus lebih menekankan sisi penerapan iman dalam
hubungannya dengan keselamatan manusia. Dengan demikian perbuatan
yang didasari oleh iman yaitu bukti pembenaran seseorang di hadapan
Allah. Dan iman yang diwujudkan dalam perbuatan membuktikan iman
itu yaitu iman yang sejati.
KESAMAAN DOKTRIN IMAN KESELAMATAN
DALAM PAULUS DAN YAKOBUS
Sekalipun doktrin keselamatan dari rasul Paulus kontras dengan Yakobus
namun pada hakekatnya yaitu sama. Kesamaan yang bisa dilihat yaitu
dari sisi manusia yang merespons keselamatan itu. Paulus dan Yakobus
sama-sama menyadari bahwa respons yang tepat untuk mengalami
keselamatan yaitu iman
Dalam hubungannya dengan keselamatan, Rasul Paulus
menekankan sisi iman lebih daripada penulis yang lain dalam PB. Ini
menunjukkan bahwa dia sangat menekankan sisi ini kalau ingin
mengalami keselamatan yang Allah sudah sediakan. Sebab hanya lewat
iman, manusia bisa mengalami keselamatan dalam Kristus. Dalam Roma
6:11 berkata, “Demikianlah hendaknya kamu memandangnya: bahwa
kamu telah mati bagi dosa, namun kamu hidup bagi Allah dalam Kristus
Yesus.” Dan dalam Kolose 2:12 berkata, “...sebab dengan Dia kamu
dikuburkan dalam baptisan, dan di dalam Dia kamu turut dibangkitkan
juga oleh kepercayaanmu kepada kerja kuasa Allah, yang telah
membangkitkan Dia dari orang mati.” Dari ayat-ayat ini Paulus
memaparkan “bahwa melalui iman, Roh Kudus menyatakan diri kepada
manusia melalui semua karya dan anugerah-Nya, dan membuat manusia
berbagi dalam hidup baru.”17 Jadi, iman yang dimiliki oleh manusia itu
menjadi sarana untuk mengalami keselamatan yang dari Allah.
Dan iman itu yaitu milik manusia dan bukan pemberian atau
anugerah. Hal itu terlihat dari kasus dari kata yang dipakai pisteōs yaitu
genetif. Hal ini menunjukkan peran manusia dalam keselamatan, namun
bukan pada pengadaan namun lebih pada tindakan untuk mengalami.
Sebab Rasul Paulus tidak hanya menekankan sisi iman dalam sebuah
pernyataan semata, namun juga ia menekankannya dalam sebuah aplikasi
yang nyata dalam kehidupan sehari-hari. Hal itu terlihat dalam 2
Korintus 13:5, “Ujilah dirimu sendiri, apakah kamu tetap tegak di dalam
iman. Selidikilah dirimu! Apakah kamu tidak yakin akan dirimu, bahwa
Kristus Yesus ada di dalam diri kamu? Sebab jika tidak demikian, kamu
tidak tahan uji.” Mengenai ayat ini Ridderbos memberikan ulasan:
“Apa yang dinyatakan secara eksplisit dan langsung oleh ayat-ayat
ini, dinyatakan secara tidak langsung oleh ayat-ayat di dalam mana
Paulus mengganti istilah “di dalam Kristus” dan “di dalam Roh”,
dengan “di dalam iman” atau “oleh imam”. Hidup, berjalan, dan
berdiri di dalam Kristus seperti yang diungkapkan dalam Roma
6:11, Kolose 2:6, Filipi 4:1, 1 Tesalonika 2:8, yang ditempat lain
disebut sebagai hidup dan berjalan oleh Roh seperti di dalam
Galatia 5:25 dan Roma 8:4, disebut pula sebagai hidup berjalan dan
berdiri dalam iman seperti dalam Galatia 2:20, 2 Korintus 5:7,
Roma 11:20, 1 Korintus 16:13, 2 Korintus 1:24.”18
Pernyataan di atas, Paulus sesungguhnya mendorong setiap jemaat
untuk bukan saja memiliki iman dalam hati namun juga mewujud
nyatakannya dalam kehidupan sehari-hari. Sebab kata yang dipakai oleh
Paulus yaitu “tetap tegak di dalam iman”. Kata “tegak” yaitu
terjemahan dari este. Kata ini memiliki bentuk kini indikatif aktif, yang
memiliki arti suatu tindakan yang pasti dilakukan saat ini. Dengan kata
lain Paulus ingin mempertanyakan apakah jemaat masih sedang
bertindak di dalam iman. Atau apakah mereka tetap bergerak di dalam
iman? Jadi, setiap orang yang percaya kepada Tuhan Yesus Kristus,
imannya itu harus ditindak lanjuti dalam perjalanan hidup sehari-hari.
Hal itu juga terlihat dari kata yang dipakai oleh Paulus yaitu “ujilah” atau
“selidikilah” terjemahan dari peirazete yang memiliki bentuk imperatif
yang berarti tindakan yang diharapkan untuk dilakukan. Tindakan
diharapkan itu yaitu untuk membuktikan iman mereka tetap teguh. Hal
ini menunjukkan suatu upaya yang tidak hanya berhenti di satu titik. Jadi,
iman itu tidak berhenti di hati namun juga terus berlangsung dalam
tindakan hidup setiap hari.
Penekanan iman juga dilakukan oleh Yakobus dalam hubungannya
dengan keselamatan. Walaupun sepintas seolah-olah dia tidak terlalu
memperhitungkan iman ini dalam perilaku hidup sehari-hari. Alasan dari
pernyataan ini tentu diambil dari ungkapan Yakobus yang berkata,
“Apakah gunanya, saudara-saudaraku, jika seorang mengatakan, bahwa
ia memiliki iman, padahal ia tidak memiliki perbuatan? Dapatkah
iman itu menyelamatkan dia?” (Yak. 2:14) Sepertinya Yakobus lebih
menekankan pada perbuatan dari pada iman. Padahal justru sebab
Yakobus menekankan imanlah maka dia berbicara tentang wujud nyata
dari iman itu. “Dalam hal ini, jenis iman yang dipertanyakan oleh
Yakobus yaitu iman yang hanya bersifat teoritis dalam pengertian
percaya, namun tidak mempraktekkan hal yang dipercayai.”19 Sikap inilah
yang ditentang oleh Yakobus sebab iman yang seperti itu yaitu iman
yang sia-sia. Hal itu terlihat dari pernyataannya yang berkata, “Apa
gunanya…”
Pernyataan ini sekaligus ingin memberitahukan bahwa tidak ada
manfaat yang akan didapatkan dari iman yang terpisah dari perbuatan.
Dan iman yang seperti ini yaitu iman yang palsu. Dan sebaliknya iman
yang sejati yaitu iman yang nyata dalam perbuatan. Hal itu ditegaskan
oleh Yakobus ketika dia berkata, “namun mungkin ada orang berkata:
"Padamu ada iman dan padaku ada perbuatan", aku akan menjawab dia:
"Tunjukkanlah kepadaku imanmu itu tanpa perbuatan, dan aku akan
menunjukkan kepadamu imanku dari perbuatan-perbuatanku." (Yak.
2:18) Di sini Yakobus menantang orang yang hanya memiliki iman namun
tanpa perbuatan dibanding dengan dia yang memiliki perbuatan dari
imannya. Yakobus memberitahukan imannya bukan lewat pernyataan
namun lewat kenyataan hidup yang dibuktikan sebagai ‘yang memiliki
iman.
Dengan kata lain, Yakobus lebih menekankan imannya itu dalam
perbuatan daripada orang-orang yang memiliki iman namun tidak
memiliki perbuatan yang menunjukkan bahwa orang-orang seperti ini
yaitu orang yang tidak serius dengan imannya. Keseriusan Yakobus
dengan iman itu digambarkannya dengan memperbandingkan sikap Iblis
dengan orang percaya dengan berkata, “Engkau percaya, bahwa hanya
ada satu Allah saja? Itu baik! namun setan-setan pun juga percaya akan
hal itu dan mereka gemetar.” (Yak. 2:19) Kata “gemetar” yaitu
terjemahan dari phrissó yang didalamnya ada unsur takut. Dalam hal ini
Yakobus ingin membertihukan kepada mereka yang memiliki iman tanpa
perbuatan bahwa iman iblis lebih bagus daripada iman mereka. Sebab
Iblis percaya dan gemetar sedang mereka hanya percaya namun tidak
dilanjutkan dengan perbuatan yang nyata.
Jadi, Yakobus justru menekankan iman yang lebih kongkrit sama
seperti Paulus yang menginginkan orang percaya menjalani
kepercayaannya itu dalam setiap aspek hidup sehari-hari.
KEUNIKAN DOKTRIN KESELAMATAN
DARI PAULUS DAN YAKOBUS
Melihat hal-hal di atas maka kita melihat bahwa ada keunikan
pendekatan yang dimiliki oleh Paulus dan Yakobus sehingga terlihat
doktrin yang mereka miliki kontras. Tidak bisa dipungkiri bahwa baik
Rasul Paulus maupun Yakobus memiliki maksud dan motif dan focus
nya masing-masing dalam memaparkan doktrin keselamatan kepada
pembacanya. Hal ini terjadi sebab fokus perhatian mereka berbeda
dalam melihat hal yang sama. Bisa saja perhatian Paulus tertuju kepada
sesuatu hal di mana hal itu tidak terlalu diperhatikan oleh Yakobus dan
sebaliknya. Itulah sebabnya perlu melihat keunikan masing-masing
penulis PB ini.
PAULUS: IMAN SAJA UNTUK PEMBENARAN
Perbedaan pendekatan ini terjadi sebab mereka memiliki tujuan
penulisan suratnya itu secara berbeda. Paulus menulis surat-suratnya
untuk menghadapi orang-orang yang mencoba menyimpangkan ajaran
tentang keselamatan dari karya Allah menjadi usaha manusia. Dengan
demikian arti kematian Kristus menjadi sia-sia. sedang surat
Yakobus di buat dengan latar belakang orang Kristen yang menjadi
alamat surat ini sedang acuh tak acuh dengan kehidupan yang
mencerminkan Kristus. Itulah sebabnya dia lebih menekankan pada
perbuatan yang harus dimiliki oleh orang yang sudah
diselamatkan. “Bagi Paulus pembenaran punya kepentingan khusus
mengingat adanya wawasan Yahudi tentang jasa yang mengarah kepada
penitikberatan perbuatan.” 20 sedang Yakobus meyakini bahwa
manusia dibenarkan bukan hanya dengan iman saja namun iman yang
diwujud nyatakan dalam perbuatan. “Paulus berbicara tentang deklarasi
dari kebenaran dan Yakobus tentang demonstrasi dari kebebaran.” 21
“Bagi Paulus perbuatan berarti perbuatan ketaatan yang formal terhadap
Taurat yang menjadi dasar kemegahan terhadap hasil pekerjaan yang
baik. Bagi Yakobus, perbuatan yaitu perbuatan kasih Kristen –
perbuatan yang menggenapi “hukum utama” tentang mengasihi
sesama.”22 Yang satu penekanannya kepada usaha untuk menghasilkan
keselamatan – tentu upaya yang sia-sia sebab tidak mungkin, sedang
yang satu lagi penekanan usaha untuk mewujudkan bukti keselamatan
yang sudah dimiliki.
Paulus tidak pernah memberi ruang kepada perbuatan untuk
mengadakan atau menyediakan keselamatan. Itulah sebabnya berkali-kali
dia mengingatkan pembacanya agar menjauhkan diri dari pemikiran
bahwa manusia bisa diselamatkan lewat perbuatan termasuk perbuatan
dalam mentaati hukum Taurat. Hal itulah yang Paulus ungkapkan ketika
dia menulis dalam Roma 3:20, “Sebab tidak seorang pun yang dapat
dibenarkan di hadapan Allah oleh sebab melakukan hukum Taurat,”
Frasa “seorangpun” yaitu terjemahan dari kata pasa sarx yang artinya
“satu atau cara manusia” sehingga ayat diatas bisa diterjemahkan
menjadi “tidak satu cara manusiapun” Jadi, Paulus memiliki pemahaman
akan pembenaran manusia di hadapan Allah bukan di dalam hukum
Taurat namun di dalam anugerah Allah. “Inti dari doktrin Paulus tentang
pembenaran yaitu pembebasan total dari kesalahan oleh Allah
berdasarkan anugerah melalui iman, dan tanpa perbuatan Taurat."23
Hal unik yang lain dari doktrin keselamatan dari rasul Paulus
yaitu tentang iman. Iman di sini yaitu iman kepada Yesus Kristus
yang dibedakan dari ketaatan kepada Taurat. "Di semua ayat yang
mengartikan iman dengan kebenaran, pembenaran, iman berperan
sebagai sarana, instrumen, cara, dasar, yang melaluinya, dengannya, atau
di atasnya manusia berbagian dalam kebanaran Allah.” 24 Hal ini
diungkapkan paling penuh dalam frasa “dari iman kepada iman” seperti
yang tertulis di dalam Roma 1:17, “Sebab di dalamnya nyata kebenaran
Allah, yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman, seperti ada
tertulis: "Orang benar akan hidup oleh iman." Dengan demikian iman
yang sejati menurut Paulus yaitu iman yang berfokuskan pada karya
penebusan Kristus di atas kayu salib. “Oleh imanlah kita menerima dan
memiliki anugerah keselamatan. Keberanan Allah sampai kepada kita
sebab iman.”25 Penekanan Paulus mengenai pembenaran sebab iman
terjadi sebab melihat upaya orang menitik beratkan pada ketaatan pada
Taurat yang menghasilkan pembenaran. “Bagi Paulus pembenaran punya
kepentingan khusus mengingat adanya wawasan Yahudi tentang jasa
yang mengarah kepada penitikberatan perbuatan.”26
Keunikan yang bisa kita temukan dalam surat Yakobus mengenai
doktrin keselamatan yaitu tentang iman. Yakobus memahami iman
sebagi sebuah karya bukan pernyataan semata-mata. Itulah sebabnya dia
berkata, “Sebab seperti tubuh tanpa roh yaitu mati, demikian jugalah
iman tanpa perbuatan-perbuatan yaitu mati.” (Yak. 2:26) Di sini
Yakobus ingin memperlihatkan “bahwa ada kesatuan antara tubuh dan
roh dengan tepat menjelaskan adanya kesatuan antara iman dan
perbuatan.” 27 Dengan demikian Yakobus memberi perhatian kepada
tindakan kasih bukan sekedar pada kasih itu sendiri. Sebab tidak ada
gunanya kasih kalau tidak ditindaklanjuti dengan perbuatan demikian
juga tidak akan pernah bermakna iman yang hanya tersimpan dalam hati
tanpa diwujudnyatakan dalam sebuah tindakan. “Apakah gunanya,
saudara-saudaraku, jika seorang mengatakan, bahwa ia memiliki iman,
padahal ia tidak memiliki perbuatan? Dapatkah iman itu
menyelamatkan dia?” (Yak. 2:14) Dengan demikian Yakobus
menegaskan bahwa iman hanya akan berarti jika iman itu
teraktualisasi dalam tindakan yang nyata.
YAKOBUS: IMAN DALAM PERBUATAN YANG BENAR
Keunikan yang lain dari doktrin keselamatan Yakobus terdapat dalam
Yakobus 2:24, “Jadi kamu lihat, bahwa manusia dibenarkan sebab
perbuatan-perbuatannya dan bukan hanya sebab iman.” Kata “hanya”
terjemahan dari monon yang juga berarti “satu-satunya” yang
menunjukkan ada hal yang lain yang harus dilakukan yaitu aplikasi dari
iman yang diperlihatkan. Di sini Yakobus menghubungkan keselamatan
dengan perbuatan manusia. Perbuatan di sini bukan menjadi dasar dari
keselamatan namun buah dari keselamatan. Itulah sebabnya dia barkata
bukan hanya sebab iman. Artinya bahwa iman yang menyelamatkan itu
yaitu iman yang nyata dalam perbuatan. Perbuatan di sini yaitu buah
dari iman yang menjadi dasar dari keselamatan seperti yang diungkapkan
oleh Paulus. Yakobus dalam hal ini tidak puas dengan iman, tapi
menuntut iman Kristen sebagai bukti bahwa orang itu dibenarkan.
Dengan demikian Yakobus menantang orang yang mengaku diri beriman
untuk memperlihatkan iman yang menyelamatkan itu dalam perbuatan-
perbuatan yang nyata.
Dengan demikian pembenaran, iman, dan perbuatan ini menjadi
keunikan dari doktrin rasul Paulus maupun Yakobus. Mereka masing-
masing menyampaikan hal-hal itu dalam surat-suratnya dalam penekanan
yang berbeda. Hal itu tentu memiliki maksud masing-masing sesuai
dengan tujuan dari penulisan surat-surat mereka. Keunikan ini bukan
menjadi masalah namun menjadi sebuah harmonisasi yang diperlukan
dalam mengajar jemaat untuk menjalani kehidupan kekristenan yang
sesungguhnya.
KESIMPULAN
Doktrin keselamatan dari rasul Paulus dan Yakobus memiliki kesamaan.
Namun harus diakui bahwa mereka memiliki pendekatan yang berbeda
sehingga terlihat seolah-olah memiliki perbedaan. “Paulus dan Yakobus
tidak saling bertentangan, namun mereka berdua menyajikan masalah
iman dan perbuatan baik dari sudut pandang yang berbeda.
Rasul Paulus maupun Yakobus sama-sama mewartakan tentang
iman dan perbuatan walaupun dalam penekanan yang berbeda. Satu sisi
Paulus menekankan iman yang menjadi sarana untuk mengalami
keselamatan. Di sisi yang lain Yakobus menekankan perbuatan sebagai
buah dari iman yaitu bukti dari orang yang sudah diselamatkan. Jadi,
keselamatan yaitu anugerah Allah yang diterima melalui iman. Namun
iman yang sejati yaitu iman yang teraktualisasi dalam kehidupan sehari-
hari.
Abstrak: Tulisan ini memberi afirmasi iman terhadap pandangan dunia
pragmatisme di dalam pengelolaan pelayanan dan pemberitaan
gereja sekarang yang mementingkan hasil yang terlihat secara
kuantitas dan mengambil risiko apapun untuk berhasil dengan
cara pandang duniawi sekalipun. Tulisan ini menggunakan
kajian pustaka. Fenomena praktis dalam gereja dan kemudian
kerangka pikir pertanggungjawaban iman akan disusun
berdasarkan prinsip-prinsip penjernihan iman apologetis, pada
lingkup intelektual. Pragmatisme sendiri yaitu suatu prinsip
hidup yang menekankan pada sesuatu yang kelihatan saja
sebagai penentu keberhasilan. Pemakaian prinsip hdup itu
membuat pelayanan gereja hanya menekankan pada populasi,
pertunjukan, kenikmatan gedung, hasil. Pertama kita melihat
makna dan bahaya pragmatisme dalam gereja dan kedua,
melihat penilaian iman Kristen terhadap pragmatisme gerejawi.
Pragmatisme bukanlah hanya monopoli praktik non gereja, namun juga
praktik di dalam gereja Kristen. Pandangan hidup ini dapat hadir dalam
setiap aspek kehidupan apapun dan di manapun tanpa terkecuali, sebab
orang hanya mengejar kesuksesan yang terlihat secara kuantitas dan
materialistik. Jadi, bukan dalam kekuasaan politik saja namun sebagai
suatu ideologi fungsional dia dapat hadir dengan mudah sebagai salah
satu dampak dari globalisasi melalui media dan informasi.
Tidak terkecuali gereja-gereja masa kini, termasuk gereja Injili
yang dikenal sebagai komunitas gerakan yang sejati berdasar nilai-nilai
doktrinal dan bertanda “lahir baru” sangat terpengaruh, khususnya dalam
cara-cara pertumbuhan gereja dan praktik pengembangan serta
pengelolaan gerejanya. Gereja-gereja Injili sekarang sangat transaksional
dalam mengejar hasil-hasil yang kelihatan. Riset Barna menunjukkan
bahwa pengaruh pragmatisme sangat besar, sebab gereja-gereja Injili
secara sadar sudah menjadikan filsafat hidup pragmatisme sebagai
ukuran keberhasilan, seperti ditangkap dari survei di bawah,
“Dua dari sepuluh orang dewasa yang telah lahir baru,
melakukan apa yang mereka rasa benar atau nyaman dalam
situasi yang ada. Kira-kira satu dari sepuluh orang percaya
membuat keputusan moral mereka atas apapun yang menurut
mereka akan menghasilkan keuntungan pribadi terbesar, atas
apapun yang mereka yakin diharapkan oleh keluarga dan
teman-teman dari mereka, atau atas apapun yang menurut
mereka akan dilakukan oleh orang lain dalam situasi yang
sama.”1
Orang Kristen di dalam tugas gerejawi masa kini seringkali lebih
mengikuti hasrat pasar dan terjebak mengikuti keinginan dunia, konon
supaya kelihatan lebih berkembang, maju, menarik, mendatangkan
keuntungan, menampung aspirasi anak-anak muda dan penyembahan
yang akhirnya mengabaikan prinsip-prinsip ajaran iman Kristen. 2
Filsafat pragmatisme bukan hanya popular, namun juga –sebagai cara
hidup– bersaing dengan cara hidup kekristenan.
Secara khusus, pragmatisme sebagai cara pandang hidup masuk
dalam iman Kristen dan tampak dalam cara bergereja masa kini. Gereja
sebagai Tubuh Kristus menjadi identik dengan klub asosiasi minat
duniawi atau kumpulan sosial. Pragmatisme sebagai ideologi non Kristen
yang bersaing dengan teisme Kristen sangat berbahaya bagi gereja-gereja
masa kini, yang tercemari dengan hasil terlihat di depan mata dan
keberhasilan sesaat. Pentingnya menghadapi gereja-gereja selebritas
masa kini yang telah dikosongkan isinya dari pikiran Kristus, sebagai
pandangan dunia. Untuk itu, pertanggungjawaban iman harus diberikan
terhadap pandangan dunia ini dalam suatu upaya penjernihan di gereja-
gereja yang terinfeksi ideologinya.
Tulisan ini akan melihat pragmatisme sebagai tantangan atau
musuh dunia luar gereja yang perlu dicermati dan ditangani dengan
serius, sebab akan membuat kekristenan tanpa Kristus lagi. Tepatnya,
hanya ‘Kristus palsu’ seperti yang digadang-gadang pada era banci ini
sebagai usaha hybrid, yang memunculkan Kristus yang lain di dalam
gereja.
Di sini usaha penjernihan iman apologetis di dalam gereja harus
dilakukan. Tugas apologetika bukanlah hanya sekadar usaha pembelaan
dan menghindai usaha penyerangan, seperti yang disarankan oleh John
Frame dalam bukunya Apologetika Bagi Kemuliaan Allah.
Dalam hal ini, kajian apologetisnya diarahkan pada fungsi dan
tugas penjernihan di dalam gereja dengan: 1) Mengungkapkan situasi dan
kondisi gereja yang dipengaruhi oleh worldview pragmatisme.
2) Merumuskan prinsip-prinsip kerangka penjernihan iman dalam gereja.
3) Lalu menjernihkan racun pragmatisme.
KONDISI GEREJA-GEREJA YANG TERTAWAN
PRAGMATISME
“Tertawan” maksudnya dikuasai dan ditarik oleh gaya hidup yang
mengutamakan hasil kelihatan, berapapun harganya dan apapun
alasannya. Ini secara etis seperti menghalalkan segala cara untuk
berhasil, termasuk dalam pengelolaan gereja-gereja.
PRAGMATISME SEBAGAI WAWASAN HIDUP DUNIAWI
Secara umum “pragmatisme” dimengerti sebagai “kepercayaan bahwa
kebenaran atau nilai suatu ajaran (paham, doktrin, gagasan, pernyataan,
ucapan, dan sebagainya) bergantung pada penerapannya bagi
kepentingan manusia.”3 Kata itu sendiri berasal dari bahasa Yunani,
yaitu “pragma” yang artinya “sesuatu yang dilakukan”, “tindakan”,
“kerja”, “akibat”, dan prossein yang artinya “lakukan” 4 tepatnya
melakukan. Akhiran “isme” bermakna ajaran, paham atau aliran yang
pada dasarnya yaitu suatu sistem filosofis pemikiran atau doktrinal
yang mementingkan hasil daripada faktor-faktor yang memungkinkan
terwujudnya hasil tersebut. Singkatnya, paham ini menekankan sesuatu
yang memberi akibat-akibat atau hasil-hasil secara “praktis”, yang
mementingkan manfaatnya tanpa memperhatikan prosesnya. 5 Dan ini
berbahaya dalam iman dan pelayan gereja yang mengutamakan esensi
nilai, khususnya moral alkitabiah.
Walau sering kali “pragmatical” disamakan sepintas lalu dengan
“practical”, seperti penjelasan berikut: (1) Adapted to practice or,
pragmatical use, hard-headed, matter-of-fact, not speculative, not
Maksudnya tidak
menghargai pengertian-pengertian ideal dalam kehidupan. Dan inti dari
etika dan kepercayaan dapat dilanggar demi mendapat tujuan akhir yang
demikian.7 Kata sifat “pragmatis” yaitu hal-hal yang menempel sebagai
manfaat relatif dan kegunaan sesaat pada suatu pekerjaan.
Jiwa filsafat pragmatisme menolak nilai-nilai universal dan
absolut, namun justru berfokus pada pengalaman seseorang tentang
lingkungan yang terus-menerus berganti. Misalnya, Richard Rorty
berpendapat “kebenaran” hanyalah sebuah konsep atau gagasan untuk
membenarkan tindakan-tindakan dalam situasi yang kita hadapi. Semua
itu sangat bersifat individualistik, artinya tidak mengakui sesuatu yang
bersifat absolut, sebab semuanya ditentukan oleh individu-individu yang
bebas. Akibat kebenaran dinilai secara subjektif.
Secara historis, dasar pragmatisme berasal dari pandangan etis
utilitarianisme, yaitu paham yang sangat menekankan hasil atau manfaat
akhir yang lebih mengarah pada kebahagian secara umum. Perbedaannya
kalau pragmatisme lebih mementingkan kepentingan sesaat atau
sementara dan setiap saat bisa berubah tergantung dengan
kepentingannya. Ini tentunya sangat berbahaya sebab setiap tindakan
yang diambil dapat dibenarkan, cukup dengan menyatakan bahwa
kebenaran itu yang membuat tindakan dan paling penting yaitu
hasilnya.8 Pragmatisme bersifat doktrinal bagi manusia atau penganutnya
yang menguji kebenaran berdasarkan konsekuensinya,9 bukan prinsip-
prinsip esensinya. Filsafat hidup ini mengandung aspek religius.10 Ini
sebabnya pandangan hidup ini sangat digemari manusia yang hanya mau
sukses sesaat tanpa menimbangkan masa depan yang panjang.
Ada tiga sudut pandang awal untuk mengerti pragmatisme yang
diwakili oleh tiga pendukung utama. Yang pertama, Peirce, yang tidak
menyetujui cara James mengembangkan ide-ide pragmatismenya;
menurutnya semua ide harus diuji berdasarkan konsekuensinya dalam
pengalaman. 11 Kebenaran menurutnya ditemukan melalui proses
pencarian, kesesuaian pernyataan abstrak dengan batas ideal yang dapat
diterima oleh seorang penyidik.12 Jadi, menurutnya kebenaran dari suatu
ide harus dapat dibuktikan.
Kedua, Wiiliam James, secara epistemologi telah mengembangkan
pragmatisme Peirce dari sekadar metode menjadi teori kebenaran, agama,
dan seluruh filsafat pada umumnya. 13 James beranggapan bahwa
kebenaran identik dengan verifikasi (pembenaran), sebagai langkah
untuk menentukan kebenarannya; 14 yang dimaksud verifikasi yaitu
pengalaman konkret manusia. Pragmatisme yaitu suatu paham atau
ajaran yang memandang kebenaran ditentukan oleh hasil akhir yang
bermanfaat.15 Di sini yang terpenting tujuan atau hasil, bukan cara untuk
mencapainya. 16 Pragmatisme mencoba menginterprestasikan setiap
gagasan dengan konsekuensi praktis dari setiap gagasan itu.17 Dalam hal
ini sangat menekankan sebab akibat, ide menjadi benar, dibuat benar oleh
kejadian. 18 Dalam hal ini kebenaran membutuhkan proses. Tujuan
filosofi fungsionalisme pragmatisme, dirintis pertama kali oleh William
James seorang psikolog yang dipengaruhi oleh gerakan psikologi
fungsionalisme. 19 Fungsionalisme sendiri yaitu suatu paham yang
menekankan keberhasilan fungsi dari suatu pekerjaan. Pragmatisme,
seperti beberapa aliran filsafat modern kontemporer yang lain, memiliki
banyak varian pemikiran di dalamnya.20 Sementara itu, Dewey lebih pada
eksperimentalisme atau pragmatisme yang menekankan pada penemuan
empiris ilmu pengetahuan dan segala perubahan dunia serta segala
permasalahannya dalam kacamata ilmu pengetahuan. Cara berpikir yang
seperti ini sangat memengaruhi dunia pendidikan pada masa kini. Ada
dua pengaruh dari pemikiran dalam proses pendidikan moral: 1)
Pengalaman manusia menjadi dasar pendidikan karakter. 2) Karakter
bersifat prosedural.21
KARAKTER GEREJA-GEREJA TERKONTAMINASI
PRAGMATISME
Peracunan pemikiran pragmatis dalam gereja, dalam bukunya yang
berjudul Kekristenan Tanpa Kristus, Michael Horton mengutip laporan
Newsweek, “Gereja-gereja telah mengembangkan kekristenan ‘ambil dan
pilih’, para individu mengambil apa yang mereka inginkan...dan
melewatkan apa yang tidak cocok dengan sasaran-sasaran rohani
mereka.22 Ini merupakan bentuk pragmatisme yang tidak kasat mata
namun nyata dalam praktik kehidupan bergereja. Mengutip hasil-hasil
evaluasi yang dilakukan oleh Alan Wolfe, Ron Sider melihat hal-hal
memalukan dalam kalangan Injili, “Terdapat perbedaan tipis antara
sebuah aktivitas duniawi seperti industri hiburan popular dengan upaya
dari banyak megachurch Injili untuk menarik orang sebanyak mungkin
dengan ongkos berapapun.”23 Selanjutnya, Paul Elliot berpendapat gereja
Injili masa kini, sedang mencoba untuk menerjemahkan pragmatisme ke
dalam cara berpikirnya, “Ketika kita memperoleh hasil yang dapat dilihat
(contohnya: jumlah anggota gereja, persembahan yang banyak, memiliki
gedung yang besar, banyak aset, ada banyak aktivitas yang menarik dan
dipandang baik oleh dunia) berarti Tuhan sedang memberkati. 24
Akhirnya, gereja-gereja dan iman Kristen masa kini telah terjebak
mengikuti fenomena dan tren-tren yang sedang berkembang, sehingga
pada akhirnya gereja terkontaminasi menjadi pragmatis. Racun
pragmatisme masuk dan memengaruhi sistem-sistem yang ada dalam
gereja. Ketika doktrin sudah mulai diabaikan, maka penyimpangan
pragmatis biasanya akan terjadi di dalam kegiatan dan pelayanan gereja.
Michael Horton menilai kondisi, “Gereja-gereja yang sedang
bertumbuh dan bisnis-bisnis yang sedang bertumbuh mengikuti prosedur-
prosedur standar yang sama dalam hal efisien pragmatik.”25 Menurutnya,
bahkan gereja-gereja Injili yang terkenal dengan kekristenan lahir baru
tidak segan-segan memakai cara-cara pragmatik ala dunia seperti ini,
“Kristen Injili nampaknya sedikit demi sedikit hendak memeluk gaya
hidup sebagai kaum hedonis, materialistik, berpusat pada diri sendiri, dan
berperilaku amoral dalam hal seksual, seperti dunia pada umumnya.”26
Selanjutnya terkait dengan megachurch, David F. Wells mengungkap
“…perhatian media yang sedang diterimanya, dan modus operandinya
yang pragmatis dilakukan secara terang-terangan dan tanpa malu-
malu.” 27 Selama ini, dalam pekerjaan misi lintas budaya dan
pertumbuhan gereja, pragmatisme dipakai dan dijadikan sebagai suatu
prinsip teologis yang sangat diminati untuk mencapai kuantitas. 28
Sekarang ini salah satu yang paling akut berpengaruh dalam kegiatan
gereja yaitu pandangan hidup pragmatisme, khususnya dalam
pelayanan-pelayanan gereja yang berorientasi pada kuantitas nominal.
Pragmatisme telah menjadi tantangan terhadap kekristenan
sekarang, di mana pemimpin gereja dan orang-orang Kristen terjebak di
dalamnya, yang dikatakan oleh Blamires sebagai ancaman yang tidak
disadari.29 Selain itu, banyak dari mereka sengaja menggunakan praktik
pragmatisme sebagai cara untuk mencapai ambisi pribadi, popularitas
gereja atau denominasi, yang di dalamnya terjadi persaingan antar gereja,
yang berlomba-lomba untuk melakukan berbagai penawaran yang
menarik supaya orang mau datang ke gereja.30 Akhirnya, gereja tidak
jauh beda dengan pujasera yang menjual berbagai macam menu
masakan, demi memuaskan dan memenuhi kebutuhan pasar.
Hal ini juga terlihat dari pengakuan seorang bernama Craig
Groeschel, seorang gembala senior yang menceritakan pengalaman hidup
dan kesaksiannya, sekalipun ia sering berkhotbah dan menggembalakan
jemaat, namun dirinya pernah terjebak pada cara pandang dunia yang
sama sekali tidak alkitabiah. Demikian ungkapnya,
“Aku percaya kepada Tuhan, namun tidak cukup memercayai-
Nya untuk meletakkan seluruh hidupku di dalam gerobak-Nya.
Aku tahu Tuhan bisa memenuhi janji-janji-Nya, tapi aku tidak
pernah yakin Ia akan melakukannya untukku. Pandangan ateisku
yang egois yaitu Tuhan ada untukku, bukannya aku untuk-Nya.
Jika Ia akan melakukan apa yang menurutku sudah seharusnya
Ia lakukan, aku akan lebih memercayai-Nya, Jenis Tuhan yang
ingin kupercayai ialah begini: jika Ia tidak seperti apa yang
kuinginkan, maka Ia tidak bisa memiliki seluruh hidupku.”31
Pengakuan dari Craig ini memberitahukan, ternyata ia pun mengadopsi
pemikiran dan gaya hidup pragmatisme yang menganggap segala
sesuatunya selalu dilihat dari manfaat yang mendatangkan keuntungan,
kepuasan, dan keinginan diri. Ini yaitu soal paradigma dan konsep
pemikiran ideologis yang mendasari perbuatan. Pola pikir ini mungkin
diadopsi begitu saja tanpa sadar bahwa iman melampaui manfaat dan
hasil yang kelihatan saja.
MODEL-MODEL GEREJA PRAGMATIK SELAMA INI
Selanjutnya, kita dapat melihat beberapa model gereja yang pragmatik.
Ini yaitu identifikasi atas faktor-faktor pandangan dunia di dalam cara-
cara bergereja;
1. Gereja-gereja Wal-Mart
Gereja Injili model ini umumnya berusaha untuk mengerti dan
memenuhi keinginan konsumen. Gereja ini siap untuk berubah sesuai
tuntutan dan keinginan pasar (dalam hal ini yaitu pengunjung gereja),
sebab mereka memegang kendali. Ketika mereka datang ke gereja,
mereka mirip seperti pelanggan yang sedang berkunjung ke mall. Dengan
pemikiran seperti ini, gereja sangat berhati-hati dalam membicarakan
iman Kristen di atas mimbar supaya tidak menyinggung mereka. 32
George Barna menyimpulkan, setiap hari, gereja justru menjadi lebih
seperti dunia yang semestinya diubahnya.” 33 Sider, memaparkan
temuan-temuan dalam berbagai jajak pendapat nasional yang diadakan
oleh lembaga-lembaga jajak pendapat yang dihormati, seperti The Gallup
Organization dan The Barna Group dengan hasil yang sangat
mengejutkan. Orang Kristen Injili nampaknya sedikit demi sedikit mulai
memeluk gaya hidup hedonis, materialistik, berpusat pada diri sendiri,
dan berperilaku amoral dalam hal seksual, seperti dunia pada umumnya.
Akhirnya, gereja hanya membicarakan apa yang menyenangkan telinga
mereka. Kebenaran dikorbankan hanya untuk menarik dan
menyenangkan pengunjung gereja.
2. Gereja Model Pujasera
Menurut White, faktor utama mengapa banyak orang sekarang
tidak mau datang ke gereja yaitu pengaruh sekularisasi di era
postmodern. Kehidupan manusia menjadi materialistik, konsumeristik,
hedonistik, dan berpusat pada diri sendiri (anthroposentris). Gaya hidup
ini bukan hanya telah memengaruhi kekristenan namun juga telah masuk
ke dalam gereja. Contohnya, sekarang orang mau datang ke gereja ketika
ada sesuatu yang menguntungkan dirinya. Ada juga y

