gereja masehi 13

gereja masehi 13


 


yang akan 

diperbincangkan di sana. Konferensi jemaat, bukan majelis jemaat, memegang kekuasaan tertinggi di 

gereja. 

Gabunglah acara makan sederhana majelis sebelum atau sesudah perkumpulan seperti kumpulan dia. 

Biarlah beberapa komite berjalan sekaligus, barangkali dimulai pada waktu yang berbeda. Dengan cara 

ini Anda dapat menghadiri setiap komite. 

 

Lipat-gandakan. — Adakanlah majelis sebelum atau sesudah perkumpulan seperti kumpulan doa. 

Biarlah beberapa komite berjalan sekaligus, barangkali dimulai pada waktu yang berbeda. Dengan cara 

ini Anda dapat menghadiri setiap komite. 

 

Evaluasi setiap tahun. Tinjau kembali pekerjaan setiap komite setiap tahun. Apakah perlu membentuk 

sesuatu komite tertentu? Satu peraturan jempolan ialah bahwa sepertiga dari anggota komite haruslah 

orang baru setiap tahun. 

 

Apakah jumlah anggota komite itu cukup besar? Riset menunjukkan bahwa jumlah anggota sesuatu 

komite seharusnya tidak lebih besar dari 6 sampai 12 orang. Bila jumlah komite itu besar anggota-anggota 

merasa kurang berwajib untuk mengikutinya, dan kurang suka bicara bila mengikutinya. Dalam keadaan 

seperti itu, anggota yang lebih agresif cenderung menguasai situasi. 

 

Apakah setiap komite memiliki  istilah rekomendasi tertentu, yaitu masalah perhatian, kekuasaan untuk 

bertindak atau mengusulkan persetujuan kelompok komite lainnya? 

 

1. Memimpin rapat Komite. — Sebuah agenda ialah daftar hal-hal yang akan dipertimbangkan dan 

diputuskan. Setiap anggota komite harus mendapat satu salinan agenda. Jika dapat dilakukan, ini harus 

dibagikan sebelum hari pertemuan agar anggota datang dan sudah bersedia. Dalam beberapa situasi, 

yaitu  bijaksana menyortir agenda itu memulai kelompok yang lebih kecil, seperti dewan ketua-ketua. 

Apabila ada persetujuan di antara dewan ketua, biasanya akan ada persetujuan majelis jemaat. 

 

Bagaimana kalau anggota komite mengganggu agenda dengan agenda tambahan? Dalam peraturan yang 

biasa hal ini bukanlah satu masalah yang serius. Namun kadang-kadang, hal yang dikemukakan mungkin 

juga sesuatu ledakan. Tidak seorang pun diizinkan menguasai kelompok itu, apakah orang yang 

mengganggu itu atau pimpinan rapat. Jikalau kelompok itu memungut suara untuk 

memperbincangkannya, agenda itu dapat ditambahkan di bawah daftar. Cara yang lebih aman ialah 

memanfaatkan komite penyortir seperti dianjurkan di atas. Kemudian, tanpa sikap menguasai, pimpinan 

rapat menerangkan bahwa agenda itu harus melalui komite penyortir sebelum didaftarkan dalam agenda. 

 

2. Mulai dan akhiri pada waktunya. Berbicara mengenai komite yang panjang-panjang, Ny. E. G. 

White menasihatkan demikian: “Dalam pengharapan untuk mencapai satu keputusan, mereka meneruskan 

komite sampai jauh malam . . . .   Jikalau otak itu diberikan waktu yang tepat untuk istirahat, pemikiran 

jernih dan tajam, dan bisnis itu akan lancar” (7 T, 256). 

 

Dalam agenda berikut, tempatkanlah hal-hal yang berat dan panjang. Setelah komite 

memperbincangkannya dalam satu jam dan anggota menyadari yang mereka telah bekerja padahal hanya 

seperempat agenda yang selesai, mereka akan menjadi cekatan. Kemudian tempatkanlah bahan yang lebih 

singkat dan lebih pendek. Akhirnya, masukkanlah bahan yang harus dipertimbangkan kemudian, tetapi 

dapat ditunda bila tidak cukup waktu. 

 

3. Sediakan laporan. Anggota komite yang sedang bekerja dengan roh yang benar dengan laporan yang 

benar, tanpa kecuali akan membuat keputusan yang benar. Laporan yang tidak lengkap seringkali 

menuntun kepada keputusan yang salah. Tidak perlu pimpinan rapat menjadi sumber segala informasi, 

tetapi harus menentukan bahwa komite telah mendapat informasi yang diperlukan untuk bertindak dengan 

cerdas. 

 

4. Ciptakan satu roh kebersamaan. Riset menunjukkan bahwa komite tidak menjadi efektif bila ada roh 

permusuhan dalam kelompok itu. Para anggota harus mau bekerja sama, dan mau menyetujui. Pimpinan 

rapat bekerja keras untuk menciptakan roh kebersamaan seperti ini. 

 

Jangan terlalu menguasai. Kecuali komite itu terlalu besar, anggota-anggota tidak harus berbicara kepada 

kursi bila mereka ingin berbicara. Percakapan harus mengalir dengan bebas dan langsung dari orang 

kepada orang. Apabila dua orang tidak sepakat dan sudah mulai memanas. berikan kesempatan kepada 

orang lain dan dengarkan komentarnya sementara dua orang yang keras kepala itu menurun 

temperaturnya. 

 

Pahamilah dan paling sedikit perhatikanlah aturan main prosedur parlementer. Ini akan menarik rasa 

hormat terhadap kepemimpinanmu, menegakkan rasa keadilan yang terorganisasi dan melindungi proses 

demokrasi. 

 

Tidak ada yang dapat menolong menciptakan roh kebersamaan lebih efektif daripada rasa humor yang 

sehat. Jika semua dapat tersenyum bersama-sama, maka biasanya semua anggota rapat dapat bekerja 

sama. 

 

5. Kendalikan partisipasi. Pastikan satu komite yang beraneka-ragam partisipasi, dan doronglah setiap 

anggota supaya turut berpartisipasi dalam perbincangan. Dengan lemah-lembut, lewatilah mereka yang 

sudah memberikan pandangan tetapi cenderung untuk menguasai. Secara terarah, mintalah pendapat 

mereka yang merasa lebih pemalu. Bila anggota yang tidak berpartisipasi sekali berbicara dan mendapati 

bahwa pendapatnya diterima dan dihormati, maka biasanya mereka akan berbicara lagi dan terus 

berpartisipasi. 

 

6. Hormatilah pendapat orang lain. Gembala dan pimpinan rapat lainnya dari organisasi cenderung 

terlalu berkuasa. Anda mengetahui banyak tentang pokok persoalan lebih daripada anggota komite 

lainnya, sebab  barangkali Anda lebih sering terlibat. Tetapi ini bukan berarti pertimbanganmu itu lebih 

jitu ketimbang pendapat kelompok. Beberapa pimpinan rapat memanfaatkan komite sebagai pendukung 

pendapatnya. Tetapi orang-orang menolak pendekatan seperti itu; cara itu bukanlah bijaksana atau 

Kristiani. 

 

Selesaikan proses itu secara teologi dalam pikiranmu sendiri. Apakah Anda benar-benar percaya pada 

kebijakan tubuh gereja secara keseluruhan? Jikalau benar demikian, Anda akan menghormati kemauan 

komite, bukan hanya sebab  kebutuhan, tetapi berdasarkan pemahaman rohanimu. 

 

Perbincangan terbuka tentang masalah yang peka seharusnya tidak keluar dari ruangan rapat. Jika ya, 

pada rapat yang berikut, perbincangan kurang terbuka. Biasakanlah dan khotbahkanlah sifat kerahasiaan. 

 

Sebaliknya, pahamilah kecenderungan sifat manusia dalam mengkhianati kepercayaan. Praktikkanlah 

prinsip Matius 18, yaitu membatasi pokok sengketa kepada kelompok yang paling kecil sedapat mungkin. 

Kadang-kadang Anda perlu minta izin dari majelis atau konferens jemaat untuk mendelegasikan 

perbincangan yang paling bersifat rahasia kepada kelompok kecil yang sudah ditentukan. Dewan ketua-

ketua yaitu  salah satu kelompok itu. 

 

7. Berpegang pada pokok masalah. Suatu komite memecahkan persoalan dengan menyatukan secara 

terbuka semua informasi dan pertimbangan. Kita sudah mengarahkan setiap bagian definisi komite itu 

kecuali yang pertama, yaitu satu komite memecahkan persoalan. 

 

8. Ringkaskan secara berkala. Gantinya menghabiskan banyak waktu untuk argumentasi Anda sendiri, 

selaku pimpinan rapat, pusatkanlah pada ringkasan argumentasi yang diberikan orang lain, dan 

kerjakanlah persoalan sekitar persetujuan umum. Pemungutan suara, walaupun itu sama sekali penting, 

tidak perlu menjadi satu sumber perhatian, sebab  perbincangan menyeluruh yang adil dari sebuah komite 

biasanya menuntun kepada keputusan yang tidak dikenal, atau hampir tidak dikenal. 

 

Masalah besar dapat dipecahkan dalam langkah-langkah kecil. Bila berhadapan dengan sebuah masalah 

sulit, pimpinan rapat harus mengamati pengembangan persetujuan atas bagian masalah dan mendorong 

supaya mengambil keputusan atasnya sebelum meneruskan perbincangan. Contohnya, jikalau kelompok 

itu menghadapi kesulitan mengambil keputusan apakah menaruh genteng merah di atas atau tidak, 

pimpinan rapat dapat mendengar persetujuan umum atas sebagian dari masalah: apakah gereja 

membutuhkan atap yang haru? 

 

9. Pastikan bahwa semua keputusan dicatat. Nampaknya ini tidak penting bagi kelompok kecil yang 

tidak resmi. Tetapi lupakanlah bahwa Anda sanggup mengingat, dan ingatlah bahwa Anda dapat lupa. 

Keputusan rapat dapat dibacakan dan disetujui pada rapat yang berikutnya. Keputusan-keputusan yang 

tercatat akan melepaskan pendeta dari banyak kesusahan. 

 

10. Dukunglah keputusan itu. Perhatikan bahwa penugasan diberikan untuk dilaksanakan. Ada sedikit 

masalah yang menjatuhkan martabat seorang pendeta atau komite lebih daripada menemukan bahwa 

pendeta dan pimpinan jemaat lainnya mengabaikan keputusan komite dan melakukan kehendak mereka 

sendiri. Bila Anda diputuskan bersalah, terimalah keputusan itu, atau bawalah informasi tambahan dan 

minta komite untuk mempertimbangkannya kembali. Masing-masing secara bersama lebih benar dari 

siapa pun sendirian, termasuk pendetanya. 

Pasal 21 

 

Anggota Jemaat Sebagai Pendeta 

 

 

Setiap Anggota Jemaat yaitu  Seorang Pendeta 

 

 

 

Istilah Alkitabiah laos, dari mana kita mendapat kata jemaat tidak ada kaitannya dengan status sekunder 

atau amatir dalam gereja. Malahan itu mencakup seluruh umat Allah termasuk para pendeta. Sebenarnya 

kita salah memakai  istilah itu bila kita memakai nya untuk menerangkan para pembantu dalam 

atau pendukung dari pelayanan penginjilan. Kita memakai nya dengan benar bila yang kita 

maksudkan ialah teman sejawat penginjilan. “Bukan hanya kepada pendeta yang diurapi diletakkan 

tanggung jawab misi keluar memenuhi panggilan ini. Setiap orang yang telah menerima Kristus dipanggil 

untuk bekerja bagi keselamatan sesama manusia” (The Acts of Apostles, hlm. 110). 

 

Rencana Kristus. — Pada waktu kenaikan-Nya, Yesus memberikan tugas yang sangat besar kepada 

jemaat-Nya: “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada semua makhluk” (Mrk 16:15). Kepada 

kelompok kecil para pengikut-Nya pekerjaan itu nampaknya satu tugas yang tidak mungkin dapat 

dilakukan, sampai mereka memahami rencana-Nya dalam penggenapannya. 

 

Inilah rencana itu. “Tetapi kepada kita masing-masing telah dianugerahkan kasih karunia menurut ukuran 

pemberian Kristus. Itulah sebabnya kata nas: ‘Tatkala Ia naik ke tempat tinggi, Ia membawa tawanan-

tawanan; Ia memberikan pemberian-pemberian kepada manusia! . . .  Ialah yang memberikan baik rasul-

rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar, 

untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus” 

(Efesus 4:7-12). 

 

Tugas penginjilan itu sangat besar, tetapi persediaan untuk penggenapannya itu melimpah ruah. Ketika 

Yesus pergi jauh, Roh Kudus diberikan kepada para pengikut-Nya, sambil membawa satu karunia atau 

lebih kepada masing-masing untuk pelayanan, “memberikan karunia kepada tiap-tiap orang secara 

khusus, seperti yang dikehendaki-Nya” (1 Kor. 12:11). Setiap orang yang menerima Roh Kudus 

menerima karunia pelayanan yang dimaksudkan oleh Roh Kudus untuk pelayanan penginjilan Kristus. 

Untuk mengatakan yang kita tidak memiliki  karunia roh, yaitu  mengatakan yang tidak ada Roh 

Kudus. 

 

Karunia roh ini kemungkinan besar berhubungan dengan sebagian talenta yang sudah kita miliki. Roh 

Kudus membujuk kita untuk menemukan satu pelayanan penginjilan dengan mana karunia itu dapat 

digunakan melayani orang lain dan menarik mereka kepada Kristus. Tidak ada hirarki dalam rencana ini. 

Setiap orang yaitu  pelayan yang melakukan sebagian penginjilan untuk mana laki-laki dan perempuan 

dianugerahkan karunia secara khusus. 

 

Rencana Kristus diabaikan. — Rencana ini sangat mengganggu Iblis. Dia harus mencari jalan untuk 

mematikan gereja. Nama rencananya ialah pemisahan. Satu garis pemisah ditarik di antara golongan 

imam dan anggota. Imam mempelajari Alkitab, mengajar, melakukan tugas-tugas gereja. Anggota tidak 

lagi diharuskan melayani; mereka dilayani. Keharusan mereka ialah berdoa, membayar dan menurut. 

 

Ini yaitu  satu rencana populer. Para imam menyukainya, sebab  itu akan memberikan martabat kepada 

mereka dan juga kekuasaan. Anggota menyukainya, sebab  mereka tidak lagi merasa diwajibkan untuk 

melayani. Tetapi api gereja padam. Bila gereja itu diambil alih imam, gereja itu bertambah dingin. 

 

Kita cenderung memikirkan gereja terutama sebagai satu organisasi atau institusi, bukan sebuah 

persekutuan atau warga  beriman, yaitu makna utama “gereja” dalam Perjanjian Baru. Kita 

menganggap bahwa peranan anggota gereja ialah menolong para pendeta ahli untuk melakukan 

pekerjaannya, yang seyogianya itulah fungsi para pelayan untuk menolong orang-orang melakukan 

pekerjaannya. 

 

Hanya rencana Kristus yang akan maju. — Setiap orang harus melakukan sesuatu. “Sekiranya para 

pendeta memberikan perhatian yang lebih banyak dalam mengawasi dan memelihara domba-domba 

supaya bekerja secara aktif, mereka akan melakukan lebih banyak kebaikan, lebih banyak waktu untuk 

belajar dan melawat secara rohani, dan juga menghindarkan banyak penyebab gesekan” (Gospel Workers, 

hlm. 198). 

 

Pendeta harus memahami “prinsip piramida.” teruskan menuangkan pasir di atas meja, lama kelamaan 

akan terbentuk piramida lebih tinggi dan semakin lebih tinggi. Tetapi piramida itu tidak bisa lagi lebih 

tinggi sebab  pasir akan berjatuhan dari pinggir meja. Anda tidak bisa menambah pasir lagi kecuali 

memperbesar meja itu. 

 

Meja itu melambangkan dasar kepemimpinan gereja. Pasir itu melambangkan upaya gereja. Tidak 

realistis menganggap program gereja dapat meningkat terus, dan pendeta itu, dengan pertolongan dari 

kelompok kecil para pimpinan gereja, bagaimanapun juga dapat bekerja begitu keras menjalankan 

program. Lebih banyak orang yang harus bekerja jika lebih banyak pekerjaan yang harus dilakukan. 

 

Setiap orang tidak harus melakukan pekerjaan yang sama. Kristus merencanakan agar setiap orang dalam 

gereja harus memiliki Roh Kudus. Setiap orang yang menerima Roh Kudus menerima Kristus untuk 

pelayanan Injil. Tetapi tidak setiap orang menerima karunia yang sama. 

 

Masing-masing kita bertanggung jawab hanya atas karunia yang diberikan Allah kepada kita, “Maka 

sekarang selesaikan jugalah pelaksanaannya itu. Hendaklah pelaksanaannya sepadan dengan kerelaanmu, 

dan lakukanlah itu dengan apa yang ada padamu. Sebab jika kamu rela untuk memberi, maka 

pemberianmu akan diterima, kalau pemberianmu itu berdasarkan apa yang ada padamu, bukan 

berdasarkan apa yang tidak ada padamu” (2 Kor. 8:11, 12). 

 

Program gereja sudah keliru jika gereja itu menganggap setiap orang harus melakukan pelayanan yang 

sama. Janganlah membuat anggota jemaatmu merasa bersalah sebab  gagal melaksanakan karuniamu. 

Apabila anggota tidak senang melayani dan membagikan iman, seringkali itu terjadi sebab  mereka telah 

mencoba satu karunia yang tidak dimiliki oleh mereka sendiri. begitulah mereka gagal. 

 

Pendeta berkeluh kesah sebab  anggota t9idak mau lagi bersaksi. Itu terjadi bukan sebab  mereka tidak 

mau bersaksi. Mereka tidak mau gagal. Tolonglah mereka untuk mencari sejenis pelayanan Injil untuk 

mana mereka beroleh karunia, dan mereka akan berhasil. Jika mereka sudah berhasil, mereka mau 

bersaksi lagi. 

 

Rencana Kristus akan menyelesaikan pekerjaan itu. “Pekerjaan Allah di dunia ini tak akan dapat 

diselesaikan sampai laki-laki dan perempuan yang menjadi anggota gereja kita terjun ke dalam pekerjaan 

itu, dan mengerahkan segenap tenaga bersama para pendeta dan pegawai-pegawai jemaat” (Christian 

Service, hlm. 68). Ujian evangelisasi yang benar bukan berapa banyak yang datang ke gereja untuk 

berbakti, tetapi berapa banyak yang keluar dari gereja untuk melayani. 

 

 

Mendorong Sukarelawan dan Sukarelawati 

 

Pengaturan pimpinan sukarela dalam gereja sangat berbeda dari pengaturan pegawai yang digaji, yang 

mau tidak mau harus melakukan tugas. Selaku pemimpin pelayan, Anda tidak menjalankan kekuasaan 

atas pekerja-pekerja jemaat. Mereka bekerja hanya sebab  mereka mau. Keberhasilan penggembalaan 

yang optimal dimungkinkan hanya kalau Anda seorang ahli mendorong sukarelawan sukarelawati. Di sini 

ada enam saran yang akan menolong Anda supaya berhasil: 

 

1. Khotbahkanlah khotbah yang mendatangkan ilham. — Anggota melakukan pekerjaan gereja 

dengan alasan rohani semoga memenuhi kepentingan orang lain. Tidak ada maksud yang lebih sulit 

ketimbang alasan rohani. Jarang ada yang menimbulkan motivasi rohani yang lebih efektif ketimbang 

khotbah Alkitabiah yang berpusat pada Kristus. Gunakanlah lebih banyak waktu menyediakan 

khotbahmu, dan itu akan mengilhami anggota-anggotamu supaya memakai  lebih banyak waktu 

untuk pekerjaan gereja. 

 

2. Libatkan anggota jemaat dalam perencanaan. — Proses perencanaan lebih banyak menolong 

daripada rencana-rencana yang dihasilkan. Itu akan menyatakan misi dan melibatkan anggota jemaat 

jikalau dilakukan dengan bijaksana. Apabila proses perencanaan membangkitkan semangat para anggota 

dalam satu program yang sudah diberikan, maka mereka akan mau melaksanakannya. 

 

3. Sediakan pembagian tugas. — Tidak adil mengharapkan anggota untuk menolong dalam satu tugas 

apabila mereka sendiri tidak mengetahui tugas itu. Diperlukan pembagian tugas yang jelas, itu penting; 

dan juga itu tidak sulit. Orang-orang yang sedang memegang tugas itu dapat membuat konsep dasar. 

 

4. Perhatikan para pimpinan yang sedang melakukan yang benar beritahukan padanya. — Inisiatif 

seorang pemimpin akan bertambah atau berkurang sebab  sering atau tidak sering memakai  pujian, 

kritik, pengaruh arus balik, informasi dsb. Penyelidikan di antara sukarelawan pimpinan gereja 

menunjukkan bahwa sepertiga merasakan pekerjaan yang sudah dilakukan tidak terlalu penting, atau tidak 

ada orang yang benar-benar pedulikan tugas apa yang mereka sudah lakukan. 

 

Para pimpinan gereja tidak selamanya mencari pujian, tetapi mereka sedang mencarinya, teristimewa 

kepada gembalanya, kalau ada petunjuk yang menyatakan apakah mereka sedang melakukannya dengan 

baik atau tidak. Mereka i9ngin melihat tanda apakah Anda menghargai usaha mereka. 

 

Apabila para sukarelawan sukarelawati melakukan sesuatu yang baik, beritahukanlah kepada mereka 

dengan segera. Bicaralah dengan tegas. Kata-kata penghargaan yang bernada sanjungan sering diartikan 

munafik dan permainan. 

 

Latihlah ketua jemaatmu melakukan yang sama. Anda tidak dapat memperhatikan pekerjaan baik setiap 

orang dan menyatakan penghargaan. Sediakan sejenis sistem dukungan untuk setiap pemimpin agar 

seseorang dapat memberikan dorongan dan nasihat ketika perjalanan itu sukar. 

 

5. Lindungilah para pimpinan dari kehabisan tenaga. — Satu penyelidikan tentang 

sukarelawan/sukarelawati gereja menunjukkan bahwa paling sedikit satu dari empat orang mengalami 

kehabisan tenaga. Kebanyakan di antaranya ialah orang-orang yang sangat sibuk, yang terlibat dalam 

tugasnya, dalam masalah warga , keluarga, selain melakukan pekerjaan gereja. Penyelidikan yang 

sama menunjukkan bahwa rata-rata sukarelawan pimpinan gereja berada di rumah pada sore dan malam 

hari hanya tujuh kali dalam sebulan. Pimpinan gereja yang terlalu bekerja keras bukan hanya menambah 

stres, tetapi sering menuntun kepada tindakan pada akhirnya sama sekali melepaskan pekerjaan gereja. 

 

6. Percayailah orang. — Ada saatnya ketika Anda menginginkan untuk menggaji semua pekerja gereja 

agar Anda dapat memecat separuh dari mereka. Bisa saja menjengkelkan bila bekerja bersama 

sukarelawan sukarelawati yang Anda sedikit kuasai secara langsung. Kewalahan dengan ketidakstabilan 

dan kelengahan umat manusia, Anda ingin mengalah untuk mengatur sendiri segala sesuatunya. 

 

Sebaiknya, ingatlah bahwa setiap orang memantulkan paling sedikit sebagian dari peta Allah Pencipta. 

Ada saja yang baik di suatu tepat; yaitu  tugasmu untuk mencari dan membesarkannya. Orang cenderung 

menerima apa saja yang mereka pikirkan tentang apa yang Anda harapkan dari mereka. Kehilangan iman 

dalam diri anggota itu akan menuntun kepada kegagalan penggembalaan. Ingat bahwa rencana Kristus 

ialah supaya anggota gereja melakukan pekerjaan gereja. Ny. E. G. White mendesak, “Beban pekerjaan 

gereja harus dibagikan kepada setiap anggotanya” (Review and Herald, July 9, 1895). 

 

 

Memilih Pimpinan Anggota Awam 

 

Akuilah keterbatasanmu. — Batas pekerjaan terlalu luas, para ahli yang dibutuhkan terlalu banyak. 

Tidak ada seorang Kristen, termasuk pendeta, yang memiliki semua sifat Kristus. Namun, anggota jemaat 

secara keseluruhan memilikinya. 

 

Sebuah prisma membagi-bagi sinar ke dalam komponen-komponennya sehingga memantulkan semua 

warnanya. Karunia rohani yaitu  warna Kristus yang dibagi-bagikan ke dalam komponen-komponennya. 

Tidak ada seorang secara sendirian melambangkan tubuh Kristus, tetapi masing-masing melambangkan 

bagian dari tubuh-Nya. Hanya tubuh jemaat secara keseluruhan melambangkan tubuh Kristus secara utuh. 

Dengan demikian, Anda selaku gembala haruslah tidak hanya bebas, tetapi secara batiniah terpaksa 

mengakui segala keterbatasanmu dan Anda memerlukan pertolongan dari sisa bagian tubuh itu.  

 

Apakah sebab  sombong, mereka bersalah atau terikat tugas, apabila Anda memakai  waktu 

melakukan perkara-perkara yang tidak sesuai dengan karuniamu, setiap orang akan menderita. Anda 

menderita sebab  tidak menyukai pekerjaanmu, gereja menderita sebab  tidak pernah memperoleh 

keuntungan maksimal dari perlakuan yang terbaik. Terlalu banyak gembala memakai  hampir seluruh 

waktunya melakukan perkara-perkara di mana mereka hanya tergolong yang terbaik kedua. 

 

Ny. E. . White menegaskan: “Saya telah mendapat petunjuk tentang betapa penting pembebasan para 

pendeta kita dari tanggung jawab yang seharusnya dipikul oleh pengusaha . . . .   Pekerjaanmu bukanlah 

mengatur masalah keuangan . . . .  Bila Anda melakukan bidang pekerjaan yang bukan bidang Anda, 

usahamu untuk menyatakan firman akan tidak berhasil . . . .  Mereka yang dipekerjakan untuk menulis 

dan membicarakan firman harus mengikuti lebih sedikit pertemuan komite” (7 T, 246, 247). 

 

Percayalah pada ketua jemaatmu. — Pemikiran tentang pendeta yang tidak berani terbuka atau 

mempercayai seorang di antar anggota jemaat itu barangkali terlalu bersifat hirarki, dan dipertanyakan 

secara teologi. Sebagaimana setiap orang lainnya, pendeta juga membutuhkan kelompok pendukung. 

Secara ideal, kelompok ini harus timbul dari warga  anggota yang dilayaninya, teristimewa ketua-

ketua jemaat (baca Peraturan Gereja, pasal 6). 

 

Buku Peraturan Gereja menandaskan: “Pendeta seharusnya tidak mengelilingi dirinya dengan semua 

bidang pertanggungjawaban tetapi harus membagikannya kepada ketua jemaat . . . .   Pekerjaan 

penggembalaan jemaat haruslah dibagi di antara keduanya. Setelah musyawarah dengan pendeta, ketua 

jemaat harus memikul banyak tanggung jawab penggembalaan” (ibid). 

 

Gaya hubungan antara pendeta dan ketua ialah sama dengan hubungan spesialis dan dokter umum di 

bidang medis. Ketua (dokter umum) dapat mengawasi bisnis harian gereja, memimpin rapat, mengatur 

perlawatan, dan merencanakan acara kebaktian. Seorang ketua dapat diserahi tugas selaku penasihat atau 

pemimpin departemen terpenting atau program gereja. Pendeta (spesialis) dibebaskan untuk khotbah, 

evangelisasi, konseling dan pengasuhan. 

 

Gantinya mengeluh tentang kelemahan pendeta, ketua-ketua harus menguatkan pendeta dalam bidang 

kemampuan mereka. Sementara itu, para pemimpin yang kekuatannya dapat mengisi kelemahan pendeta 

dapat dipilih untuk melayani wilayah itu. Tentu saja ini mungkin hanya kalau pendeta itu bersama gereja 

mau mendelegasikan tanggung jawab dan kekuasaan kepada para pemimpin ini. 

 

Selaraskanlah karunia dengan program gereja. — Dalam merencanakan program gereja, jangan 

hanya memperhatikan apa yang dikehendaki gereja untuk dilaksanakan. Pusatkan juga perhatian pada 

jenis karunia apa yang ada di jemaat. Kenalilah keterampilan dan selaraskanlah itu dengan program 

gereja. 

 

Orang-orang yang baru bertobat harus dipekerjakan. Namun, jangan menempatkan mereka dengan buru-

buru dalam tugas sulit dan bersifat persengketaan, sekalipun mereka bertalenta. 

 

Pungutlah suara dengan bijaksana. — Tugasmu bersama komite pemilih yaitu  salah satu dari perkara 

paling penting yang Anda lakukan. Sebelum pertemuan anggota komite, matangkanlah rencana untuk 

tahun yang segera akan tiba, dan pembagian tugas para pegawai yang perlu diisi. Daftar ini dibutuhkan 

dalam pekerjaan panitia pemilih. 

 

Jangan biarkan anggota majelis terlalu banyak menguasai pemilihan anggota panitia pemilih. Mereka 

tidak harus menunjuk komite itu. Walaupun mereka bisa menjadi sebagian dari proses, inilah waktunya 

apabila kekuasaan gereja diserahkan kepada anggota gereja secara keseluruhan dan bukan hanya “orang 

dalam” (baca Peraturan Gereja, pasal 10). 

 

Sejenak sebelum pertemuan, komite pemilih harus memeriksa seluruh jemaat. Satu daftar jabatan yang 

harus diisi dibagi kepada anggota jemaat. Anggota dapat menuliskan jabatan mana yang memerlukan 

karunia, yang sudah dialami atau diminati. 

 

Dalam suatu situasi, jabatan yang sedang berjalan dapat diisi untuk jangka waktu dua tahun. Ini akan 

memberi kesempatan lebih baik untuk rencana panjang. Itu juga mempersingkat pekerjaan panitia 

pemilih. 

 

Tempatkan secara formal. — Acara penempatan formal untuk anggota pemimpin pada permulaan tahun 

jabatan memberi kesempatan pada kesahajaan pangkat itu. Itu juga menyediakan kesempatan untuk 

pengurapan atau penahbisan. Anda boleh menjalankan acara seperti di bawah ini pada waktu hari 

kebaktian biasa: 

 

Pemimpin : Demi penyembahan kepada Allah dan tugas gereja 

 

Pejabat : Kami menahbiskan diri kami sendiri 

 

Pemimpin : Demi melaksanakan tugas yang diberikan di bawah pimpinan Allah, demi kepemimpinan 

dan pendidikan kaum tua dan muda. 

 

Pejabat :  Kami mengabdikan pelayanan kami 

 

Pemimpin:  Demi memberikan contoh kehidupan Kristen yang benar di rumah tangga kami, dalam 

pekerjaan, di hadapan semua orang yang berhubungan dengan kami. 

 

Pejabat :  Kami menyerahkan hidup kami. 

 

Pemimpin :  Saudara-saudara sudah mendengar para pemimpinmu berjanji untuk melaksanakan tugas 

jabatan dengan setia, yaitu jabatan yang saudara sudah pilih untuk mereka. Maukah 

saudara berjanji mendukung para pemimpinmu ini, menolong dan mendoakan sementara 

mereka bekerja bersama saudara dalam melakukan pekerjaan Kristus dalam gereja-Nya? 

(sambil menghadap ke jemaat). 

 

Jemaat:  Kami mau. 

 

Hadirin : Bapa di surga, kami telah berjanji di hadapan sahabat-sahabat kami dan di hadapan-Mu 

untuk melakukan pekerjaan kami selaku pemimpin dan pengikut. Oh Allah, kabulkanlah 

apa yang kami mohon dengan bibir kami, kami boleh percaya di dalam hati dan praktik 

kehidupan kami. Berikanlah kebijaksanaan untuk memimpin gereja-Mu ini. Biarlah kami 

mengasihi dan melayani Juruselamat kami bersama-sama di sini agar kami dapat hidup 

bersama-sama dalam hidup yang akan datang. Amin. 

 

 

Melatih Anggota Jemaat 

 

“Setiap gereja harus menjadi sekolah latihan untuk pekerja Kristen. Anggotanya harus diajar bagaimana 

memberikan bacaan Alkitab, bagaimana membentuk dan mengajar kelas-kelas Sekolah Sabat, bagaimana 

cara menolong orang miskin dan merawat orang sakit, bagaimana cara bekerja untuk orang yang belum 

bertobat. Harus ada di sana sekolah kesehatan, sekolah masak memasak, kelas-kelas dalam pelbagai 

bidang pekerjaan Kristen. Seharusnya di sana bukan hanya mengajar, tetapi benar-benar bekerja di bawah 

pengawasan para pendidik yang berpengalaman” (MH, 149). 

 

Bagaimanakah seorang yang khas pendeta melatih anggota sedangkan pendidikannya terbatas, begitu 

juga akalnya. Beberapa saran: 

 

Gunakan bahan dan pelatih dari konferens. Gunakanlah pelatih dari konferens/daerah bersama bahan 

pelatihan untuk melatih anggota gerejamu. Seringkali gereja kita tidak memanfaatkan direktur 

departemen. Orang-orang ini yaitu  ahli dan dapat menyediakan pertolongan berharga dalam 

menjalankan seminar dan bagian pelatihan. 

 

Latihlah anggota untuk menerima pelayanan penginjilan dari anggota lainnya. — Sayang sekali 

orang-orang sakit dan yang patah semangat, yang berkabung dan yang kesepian, terlalu sering merasa 

dilayani oleh gereja hanya kalau pendeta itu melawat mereka. yaitu  mengecewakan bagi ketua jemaat 

dan pimpinan gereja lainnya sewaktu melawat hanya mendengarkan keluhan bahwa gereja mengabaikan 

mereka hanya sebab  pendeta tidak ada di sana. Ny. E. G. White memperhatikannya, “Pertolongan 

terbesar yang dapat diberikan kepada anggota ialah mengajar mereka untuk bekerja bagi Allah dan 

bergantung pada-Nya, bukan pada pendeta” (7T, 19). Latihlah anggotamu memahami bahwa pelayanan 

penginjilan dilaksanakan oleh warga  gereja secara keseluruhan bekerja sama, ketimbang oleh 

pendeta itu sendiri. 

Pasal 22 

 

Menggembalakan Distrik Luas 

 

 

 

Banyak pendeta Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh di seluruh dunia menggembalakan distrik luas 

sebanyak 20 sampai 30 gereja. Kepemimpinan pendeta seperti itu memerlukan keahlian khusus dalam 

mendelegasikan tugas, melatih dan menjalankan administrasi. 

 

Menggembalakan sejumlah besar gereja memiliki  keadaan serius yang merugikan. Pendeta dapat hadir 

di satu gereja pada Sabat pagi hanya beberapa kali dalam satu tahun. Mereka tidak dapat berhubungan 

rapat dengan anggota menurut kemauan mereka. Namun ada keuntungan tertentu dalam menggembalakan 

distrik luas. Pendeta mendapati bahwa perlu melatih anggota awam dan mendelegasikan tanggung jawab 

kepemimpinan kepada mereka. Dalam ketidakhadiran pendeta, para pimpinan ini berkhotbah paling 

banyak, memimpin dalam evangelisasi, merawat dan memelihara anggota gereja mereka, dan menangani 

pelbagai fungsi gereja. 

 

Sebenarnya, lebih banyak anggota awam terlibat dalam kepemimpinan gereja, lebih cepat perkembangan 

gereja itu. Ini satu fakta yang muncul di beberapa divisi dengan meneliti hubungan antara pertumbuhan 

gereja dan jumlah rata-rata gereja yang digembalakan oleh seorang pendeta. 

 

Oleh sebab itu, bekerja sama dengan dan melatih ketua-ketua jemaat setempat yaitu  kepentingan utama 

bagi kemajuan seorang pendeta, khususnya pendeta distrik luas. Bagaimanakah seorang pendeta 

melaksanakan tugas ini? 

 

 

Tiga Rahasia Kemajuan 

 

1. Sediakan kepemimpinan penggembalaan dan peragaan bagi ketua-ketua jemaat setempat. — 

Dengan pertolongan Allah, pendeta haruslah seperti ketua jemaat setempat. Keduanya memerlukan beban 

berkhotbah, memelihara, evangelisasi, pendidikan Kristen, dan perawatan harta milik gereja. Pendeta 

harus terampil dalam mengatur waktunya dan dalam perencanaan perlawatan harian, mingguan, bulanan 

dan tahunan. Mereka harus mencari jalan menghubungi anggota secara pribadi sesering-seringnya. 

Sementara melakukannya, mereka harus dengan hati-hati menjaga waktu yang disediakan untuk keluarga 

sendiri. 

 

Pendeta distrik luas mau tinggal di satu tempat yang strategis untuk pelayannya. Apakah lingkungan itu 

sehat? Apakah semua jalan raya dapat digunakan sepanjang tahun? Apakah ada angkutan umum yang 

mudah dicapai, teristimewa kalau perlawatan pendeta bergantung pada angkutan umum? Bagaimanakah 

tentang keadaan hidup dan kesempatan pendidikan bagi keluarga? 

 

2. Libatkan dirimu dalam kegiatan seluruh anggota. — Perlawatan harus direncanakan jauh-jauh 

sebelumnya sehingga setiap gereja mengetahui kapan Anda berada di sana, dan merencanakan acara 

khotbah hari itu. Dengan melaksanakan ini, pendeta itu akan mendapat lebih banyak kesempatan bagi 

hubungan pribadi langsung dengan anggota. Di beberapa tempat, malahan gereja menyediakan satu kamar 

dengan alasan satu tempat tinggal bermalam bagi pendeta. 

 

Di distrik luas, sering diadakan baptisan selama kunjungan pendeta. Tua-tua jemaat dan anggota awam 

telah membagikan imannya selama ketidakhadiran pendeta. Mereka sudah menyediakan calon baptisan 

dengan saksama sampai siap untuk dibaptis. Pendeta akan memimpin acara baptisan, dan mendorong 

anggota supaya tetap bersaksi sampai kunjungan berikutnya dua atau tiga bulan lagi. 

 

Tentu saja pendeta harus bersedia menghadapi keadaan darurat seperti penguburan. Jemaat memahami 

bahwa hal seperti itu mengganggu perlawatan yang sudah direncanakan. namun acara pernikahan dan 

acara khusus lainnya harus direncanakan jauh-jauh sebelumnya, dan itu termasuk dalam perlawatanmu 

yang tetap. 

 

3. Sediakan latihan dalam keterampilan penggembalaan. — Ketua jemaat setempat memerlukan 

pertolongan dalam beberapa bidang: 

Memimpin rapat komite 

Menyediakan khotbah dan berkhotbah 

Program perlawatan yang efektif 

Menguatkan departemen gereja 

Merawat harta milik gereja 

Pemahaman yang lebih dalam tentang pekabaran Advent 

Memelihara anggota yang baru bertobat 

 

Komite tahunan General Conference 1991 menganjurkan bahwa setiap konferens kawasan/daerah 

mengadakan paling sedikit satu kali seminar latihan bagi pendeta dan ketua-ketua jemaat setiap tahun. 

Bila perlu, gereja setempat menyediakan ongkos transportasi bagi ketua jemaat yang mengikuti 

pertemuan itu. 

 

Pendeta distrik luas seharusnya juga merencanakan pertemuan dengan semua ketua jemaat di distrik itu 

setiap bulan atau sekali dua bulan. Pertemuan ini akan dipusatkan pada perencanaan distrik begitu juga 

setiap jemaat. Rencana itu akan mencakup evangelisasi, memasuki daerah baru dalam distrik itu, judul-

judul khotbah, perlawatan, tujuan distrik atau jemaat, perlawatan pendeta dan rencana lainnya. 

 

Pelatihan dapat juga diselenggarakan pada pertemuan distrik setiap triwulan. 

 

 

Kumpulan Distrik Setiap Triwulan 

 

Kumpulan distrik triwulan dimanfaatkan dengan kemajuan yang pesat di beberapa bagian ladang 

penginjilan. Di mana ada kemungkinan, seluruh anggota di distrik itu berkumpul bersama selama akhir 

pekan, dalam semangat perkemahan mini. Dalam distrik yang memiliki  transportasi dan jarak yang 

bermasalah, pendeta dapat merencanakan pertemuan distrik per kelompok. 

 

Rencana pertemuan distrik triwulan: 

1. Memperkenalkan anggota distrik lebih banyak kepada pendeta 

2. Menyediakan kesempatan persekutuan anggota dari seluruh distrik 

3. Mengembangkan evangelisasi terpadu untuk memasuki wilayah baru dalam distrik itu 

4. Saling membagikan kegembiraan dan keprihatinan masing-masing jemaat 

5. Menguatkan pekerjaan departemen gereja 

6. Merencanakan usaha bersama seperti membantu jemaat baru dengan pembangunan      

bangunan baru, atau mendukung jangkauan keluar evangelisasi baru. 

 

Di bawah pimpinan pendeta distrik, anggota distrik memilih para pimpinan perkumpulan mereka. Orang-

orang ini yang bekerjasama dengan pendeta akan merencanakan program kerja. Kalau rencana kerja 

mengizinkan, para pimpinan konferens/daerah dapat diundang untuk membantu, walaupun bukan mereka 

yang menguasai pertemuan itu. Sebaiknya juga pendeta memanfaatkan kesempatan itu untuk bertemu dan 

merencanakan dengan ketua-ketua jemaat dari setiap jemaat. 

 

Di beberapa bagian ladang penginjilan dunia, setiap perkumpulan distrik memiliki  ciri khasnya sendiri, 

seperti nama dan panji-panji sendiri. Pada waktu pertemuan konferens/daerah, panji-panji ini dipamerkan. 

Pimpinan konferens mengungkapkan penghargaannya terhadap usaha jemaat dan distrik dalam 

evangelisasi penarikan jiwa, misi sedunia, dukungan departemen, dan perlawatan. 

Pasal 23 

 

 

Pertumbuhan Jemaat 

 

Mencari Anggota Baru 

 

Setiap gembala jemaat yaitu  seorang evangelis. — Setiap gembala jemaat haruslah seorang 

evangelis. Mempromosikan program jemaat yaitu  penting, tetapi masalah jumlah anggota baru yaitu  

utama. “Dengan hati menyala dengan kasih Kristus dan kasih sesama manusia, para pelayan Allah 

berusaha membangunkan mereka yang sudah mati dalam pelanggaran dan dosa” (Gospel Workers, hlm. 

35). 

 

“Para pendeta melayang-layang di atas gereja yang mengenal kebenaran sementara ribuan orang sedang 

binasa di luar Kristus” (Evangelism, hlm. 381). “Gantinya menyibukkan pendeta itu bekerja untuk gereja-

gereja yang sudah mengenal kebenaran, biarlah anggota-anggota gereja itu berkat kepada para pekerja itu: 

‘Pergilah mencari jiwa-jiwa yang sedang binasa dalam kegelapan. Kami sendiri akan menjalankan semua 

acara gereja. Kami akan menjalankan semua pertemuan, dan dengan tinggal dalam Kristus kami akan 

mempertahankan hidup kerohanian’” ( 6 T, 30). 

 

Kata “Evangelis” (pengabar Injil) bukanlah dipahami hanya dalam istilah pengabar Injil yang sangat 

terampil. Bukanlah hanya evangelis berkeliling yang disebut evangelis. Sebagian penarik jiwa umat 

Kristen terbesar yaitu  gembala jemaat. Pendeta Moody selalu berpindah-pindah, tetapi pendeta 

Spurgeon tinggal di gereja yang sama selama 35 tahun. Kita membutuhkan Spurgeon-Supergeon dan 

begitu juga Moody dan Moody lainnya. 

 

Setiap gereja menjadi pusat penginjilan. — Jangkauan keluar yaitu  harga yang dibayar umat dengan 

gembira untuk kesempatan yang menyebut dirinya Kristen. Tidak ada yang begitu meyakinkan seperti 

sebuah gereja yang teratur baik dan penuh semangat terarah ke dalam evangelisasi jangkauan keluar oleh 

seorang evangelis gembala yang sejati. Anda bisa mengukur kedalaman kasih Kekristenan dengan berapa 

banyak waktunya digunakan untuk jangkauan keluar. 

 

Bahkan seorang tamu yang kebetulan datang dengan cepat dapat memberitahukan apakah gereja itu 

menjadi pusat penginjilan yang benar atau tidak. Jikalau ya, acara kebaktian khotbah, Sekolah Sabat dan 

setiap acara di gereja itu tetap memikirkan tamu-tamu yang bukan anggota. Setiap kata yang diucapkan 

haruslah lebih dulu melalui saringan penarik jiwa khusus: “Bagaimanakah kata ini kedengaran kepada 

yang bukan anggota? Bagaimanakah ini ditanggapi oleh orang yang bukan Kristen?” Hanya dalam gereja 

seperti itulah anggota merasa aman mengundang sahabat-sahabat yang bukan anggota. 

 

Setiap anggota yang aktif yaitu  seorang saksi. — Domba memperbesar kawanan domba, bukan 

gembalanya itu. 

 

Anggota-anggota gereja Perjanjian Baru pergi ke mana-mana sambil menceritakan Yesus. Sekarang ini 

nampaknya terlalu banyak mengikuti acara kebaktian rahasia, mereka diamkan kabar baik tentang 

keselamatan; akhirnya mereka bertindak seperti dalam Mrk. 16:8 “ . . .  Mereka tidak mengatakan apa-apa 

kepada siapa pun juga sebab  takut.” 

 

Selaku seorang gembala, jikalau engkau tidak menolong anggota-anggotamu untuk membagikan iman, 

engkau barangkali sedang menolong mereka supaya hilang. “Pada hari penghakiman yang besar itu, 

mereka yang tidak bekerja untuk Kristus, yang sedang hanyut memikirkan diri mereka sendiri, menjaga 

diri sendiri, akan ditempatkan oleh Hakim seluruh dunia bersama-sama dengan orang yang melakukan 

kejahatan. Mereka menerima tuduhan yang sama” (DA, 641). 

 

Telah diselidiki enam gereja Advent yang berkembang dengan pesat. ternyata anggota-anggota jemaat itu 

sangat aktif dalam kegiatan membagikan iman mereka. Menarik sekali, ini tidak seberapa melalui 

program yang disponsori gereja ketimbang melalui kesaksian secara spontanitas. Kebanyakan jiwa 

dimenangkan oleh anggota yang menceritakannya kepada orang-orang sementara bekerja dan kepada 

tetangga di sekitarnya. “Biarlah anggota gereja sepanjang Minggu itu melakukan tugasnya dengan setia, 

dan menceritakan pengalamannya pada hari Sabat. Pertemuan itu akan menjadi makanan pada waktunya, 

membawa hidup baru dan kekuatan baru kepada semua yang hadir.” (GW, 199). 

Setiap anggota yang tidak aktif menjadi beban. — Dalam banyak gereja, kehadiran anggota dapat 

dilipatgandakan jikalau anggota-anggota yang tidak aktif dapat dihidupkan kembali. Anggota-anggota 

yang giat, terutama ketua-ketua dan pegawai jemaat, mereka sangat berhasil menghidupkan kembali yang 

tidak aktif, sebab  mereka sudah bersahabat di masa lalu dan dapat memahami alasan untuk tidak hadir. 

 

Mereka yang bekerja untuk anggota-anggota yang tidak aktif haruslah menjadi pendengar yang baik. 

Mereka harus sabar mendengar perasaan sakit hati tanpa kecewa atau membela diri. Orang-orang sering 

keluar sebab  kejadian yang membawa kegelisahan, apakah di dalam atau di luar gereja. Teriakan minta 

tolong berlanjut tanpa diperhatikan, dan akhirnya mereka menghilang. Prosesnya harus dibalik untuk 

menarik mereka menghilang. Prosesnya harus dibalik untuk menarik mereka kembali. Pertama-tama 

mereka harus didengarkan. 

 

Kita tidak berani mengharapkan semua yang keluar akan kembali. Namun, kira-kira seperempat akan 

kembali setelah panggilan pertama oleh tim anggota pelawat yang terlatih dari gereja mereka semula. 

Anggota-anggota yang sudah hilang selama lima tahun, kira-kira tiga perempat tidak mau kembali. 

 

Menelusuri setiap jalan. — Carilah jiwa-jiwa di mana-mana. Yesus melihatnya di setiap tempat, bahkan 

di sebuah sumur di Samaria. Carilah jiwa-jiwa di setiap ritual  pernikahan, penguburan, dan pertemuan 

sosial. Perhatikanlah jiwa-jiwa di setiap ritual  kebaktian gereja. Catatlah nama dan alamat pengunjung 

dan periksa apakah mereka menindaklanjuti. Tanamkan satu prasangka evangelisasi. 

Laksanakan seminar berhenti merokok, mengatasi stres, menurunkan berat badan dan masak-memasak. 

Sumbangkan langganan dengan memberikan nama-nama penduduk baru. Tulislah surat kepada mereka 

mengucapkan selamat datang di warga  setempat. Masukkanlah jadwal acara kebaktian gereja dan 

undanglah mereka menghadiri kebaktian. Mintalah seseorang mencari tanggal hari lahir di surat kabar 

atau pengumuman rumah sakit, dan kirimlah ucapan selamat atas nama gereja. 

Sediakan dan bagikanlah brosur berisi kesempatan kapan seorang dapat bertemu dengan pendeta mereka. 

Undanglah si penerima untuk menghubungi gereja Advent pada masa itu apabila mereka tidak memiliki 

pendeta. Bawalah anggota bersama Anda dan latihlah mereka sementara Anda mengajar Injil. 

Manfaatkanlah semua metode jangkauan keluar yang terbaik untuk wilayah Anda. Di atas segala sesuatu, 

jalankan semacam pertemuan evangelisasi atau seminar dengan teratur. Selalu ada hasil di sana, tetapi itu 

memerlukan usaha dan sebuah prasangka evangelisasi untuk mendapatkannya. 

 

 

Mempersiapkan Anggota Baru* 

 

Pertobatan sebelum penurutan. — “Allah merasa lebih senang memiliki  enam orang yang bertobat 

dengan saksama ke dalam kebenaran ketimbang enam puluh orang yang mengaku namun belum benar-

benar bertobat” (GW, 370). Setan bukanlah paling sedikit terganggu kalau kita membaptiskan sejumlah 

besar orang–jikalau yang kita baptiskan itu belum benar-benar bertobat. Demi maksud-maksudnya, lebih 

banyak orang-orang yang belum bertobat masuk ke dalam gereja, lebih baik baginya. 

 

Jadi lebih banyak kebenaran dalam alasan mengapa kita harus mawas diri terutama dalam hal apakah 

calon baptisan sudah bertobat atau belum, supaya kita tidak mengharapkan terlalu banyak atau terlalu 

cepat mereka yang baru memulaikan hidup Kekristenan. Jikalau mereka benar-benar bertobat, akan 

kelihatan perubahan pola hidup. 

 

Kita pantas menyamakan anggota-anggota yang baru dibaptiskan dengan pohon-pohon buah. Keinginan 

kita agar pohon itu berbuah itu harus dinomorduakan untuk memastikan apakah pohon itu sudah ditanam 

(bertobat atau berakar dalam Kristus). 

 

Penurutan sebelum baptisan. — Kesulitan mempertahankan keseimbangan antara pertobatan dan 

penurutan membuktikan bahwa kita manusia dapat membedakan apakah pohon itu ditanam hanya dari 

buahnya atau tidak. Jadi, sebab  kita tidak dapat mengharapkan banyak buah dalam hidup calon itu 

sebelum dibaptiskan, namun beberapa buah pasti kelihatan. Sudah pasti yang buah ini termasuk 

pemeliharaan hari Sabat, menghadiri kebaktian gereja, berhenti memakai  bahan-bahan yang 

berbahaya. 

 

Sebaliknya, janganlah berusaha menuntut standar yang tidak dipakai oleh badan itu secara umum. Harus 

selalu jelas bahwa seorang tidak memperoleh keselamatan dengan mengikuti peraturan dan hukum 

kebiasaan, tetapi bilamana Kristus bersemayam dalam hati, hidup itu akan diubahkan semakin mendekati 

citra-Nya. 

 

sebab  baptisan melambangkan bukan hanya kematian, penguburan dan kebangkitan Yesus, tetapi juga 

kematian dan penguburan hidup yang lama (Roma 6:1-3), kemudian tidak ada lagi ketidaksungguh-

sungguhan atau yang tanggung-tanggung meninggalkan perkara-perkara duniawi sebelum dibaptiskan. 

Mati ke dalam hidup dosa dan keduniawian harus mendahului penguburan dalam baptisan. yaitu  salah 

untuk menguburkan seseorang yang belum mati. 

 

Anggota-anggota yang tidak dipersiapkan dengan matang akan membentuk gereja yang lemah. 

Penerimaan anggota yang hatinya belum dibarui dan belum berubah dalam kehidupan yaitu  satu sumber 

bentuk gereja yang lemah. Penerimaan anggota yang hatinya belum dibarui dan belum berubah 

kehidupannya yaitu  satu sumber kelemahan bagi gereja. Fakta ini sering diabaikan. Beberapa pendeta 

dan gereja begitu ingin menambah jumlah anggota sehingga mereka tidak memegang kesaksian yang setia 

untuk melawan kebiasaan dan tabiat yang bukan Kristen. Mereka yang menerima kebenaran tidak diajar 

bahwa mereka tidak aman menjadi duniawi dalam tabiat sementara mereka menyandang nama Kristen” (5 

T, 172). 

 

Membaptiskan calon yang tidak membuktikan pertobatan dan penurutan itu tidak etis sebab  

menempatkan beban pada pendeta yang menggantikannya. “Seorang pekerja seharusnya tidak 

meninggalkan sebagian dari pekerjaan itu terbengkalai sebab  tidak disetujui untuk dilaksanakan, lalu 

memikirkan pendeta penggantilah yang akan melakukannya baginya. Dalam kasus ini, kalau pendeta 

kedua mengikuti yang pertama, dan menghadapkan tuntutan Allah bagi umat-Nya, sebagian akan 

mundur, lalu mengatakan, ‘Pendeta yang membawa kebenaran kepada kami tidak menyebutkan hal ini.’ . 

. .  Betapa jauh lebih baik tadinya jikalau jurukabar yang pertama telah mendidik dengan setia dan 

saksama orang-orang yang bertobat ini, tentang hal-hal yang penting, sekalipun lebih sedikit jumlah 

anggota yang ditambahkan ke dalam gereja atas usahanya” (Evangelism, hlm. 321). 

 

Petunjuk yang diberikan sebelum penyerahan. — Orang-orang yang berusaha memasuki gereja perlu 

mengetahui prinsip-prinsip yang dipertahankan gereja itu. Janganlah diminta mereka menyerahkan diri 

sebelum mengetahui kepada apa mereka berserah. Petunjuk sebelum baptisan harus mencakup pernyataan 

ganda seperti membaca dan belajar secara pribadi, pelajaran Alkitab, perkumpulan umum, kelas baptisan, 

dsb. Semua saluran petunjuk, termasuk alat peraga, haruslah digunakan. Orang yang berbeda belajar 

dengan cara yang berbeda pula. 

 

Salah satu sarana pengajaran yang lebih produktif dan paling terkenal dalam satu program evangelisasi 

gereja ialah kelas pendalaman Alkitab pendeta itu. Biasanya ini digabung kelas baptisan dengan kelas 

anggota baru. Jikalau pendeta tidak dapat mengajarnya, seorang pendeta atau anggota lain yang sungguh-

sungguh dalam penarikan jiwa dapat melakukannya. Biasanya kelas itu bertemu pada waktu Sekolah 

Sabat berbagi kelas. Yang biasanya mengikutinya ialah yang bukan anggota, anggota baru atau anggota 

yang membawa yang bukan anggota. 

 

Kelas itu mempelajari pelajaran doktrin khusus. Seri pelajaran ini dapat diulangi dari waktu ke waktu, 

sebab  anggota kelas, sementara mereka bertumbuh dewasa dalam pengalaman Kekristenan, meningkat 

ke dalam kelas Sekolah Sabat reguler. Pelajaran harus melampaui doktrin yang mencakup hidup 

kerohanian. 

 

Sebaliknya, pengajaran teori tidak cukup untuk mempersiapkan calon baptisan. Mereka harus juga 

mengalami hubungan dengan Kristus dan kemenangan atas dosa. Sebab itu, seseorang harus 

mempergunakan cukup waktu dalam nasihat dan doa bersama dia. 

 

Gereja sedunia di General Conference mengadakan komite dan telah mengambil pendirian untuk 

mendukung persiapan baptisan. Anda harus memberikan sertifikat kepada masing-masing calon baptisan 

atau sertifikat pengakuan iman yang memuat singkatan dasar kepercayaan gereja persis seperti yang 

tertulis dalam Peraturan Jemaat di bawah judul: Dasar Kepercayaan Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh. 

 

Walaupun bentuk ini dipersingkat, ini dapat digunakan untuk memeriksa calon (baca buku Peraturan 

Jemaat, pasal 5), setiap calon harus mendapat tulisan itu secara penuh. Asosiasi Kependetaan memiliki 

sertifikat yang lazim dipakai. 

 

Persetujuan Jemaat sebelum menjadi anggota. — Pemeriksaan terakhir bagi calon baptisan dapat 

dilakukan di hadapan seluruh jemaat atau di hadapan kelompok perwakilan seperti ketua-ketua dan 

anggota-anggota majelis. Bagaimanapun pemeriksaan itu selesai dilakukan, tidak bijaksana dan tidak 

pantas secara teologi bagi seorang pendeta untuk memikul tanggung jawab itu sendirian. Tidak seorang 

pun atau satu kelompok, bahkan komite General Conference pun, memiliki  kekuasaan untuk 

menambah atau mencabut satu nama dari daftar keanggotaan jemaat. Tanggung jawab itu terletak hanya 

pada tubuh gereja setempat. Jemaat akan memikul tanggung jawabnya lebih serius jika terlibat bukan 

hanya mengangkat tangan ketika seorang anggota bergabung. 

 

Kadang-kadang seorang anggota memohon dirinya dibaptis ulang. Jikalau baptisan pertama tidak benar-

benar menyatakan kepada dirinya satu kematian ke dalam dosa dan pengalaman kelahiran baru, maka 

barangkali baptisan ulang cocok baginya. Namun, sebab  baptisan yaitu  lambang kematian rohani, dan 

sebab  kita mati hanya sekali, biasanya kita dibaptiskan hanya sekali. Baptisan bukanlah lambang yang 

cocok bagi penyerahan kembali; perjamuan kudus (termasuk ritual  cuci kaki) menggantikannya. 

 

Anak-anak yang masih muda harus didorong untuk menyerahkan hidupnya kepada Kristus dan jaminan 

keselamatan yang telah diberikan. “Anak-anak berusia delapan, sepuluh, atau dua belas tahun sudah 

cukup dewasa untuk diperkenalkan pelajaran tentang agama pribadi kepada mereka. Janganlah mengajar 

anak-anakmu tentang masa depan ketika mereka akan cukup dewasa bertobat dan mempercayai 

kebenaran. Jikalau diajar dengan benar, anak-anak yang sangat muda dapat memperoleh pandangan yang 

benar tetangga keadaannya selaku seorang yang berdoa dan tentang jalan keselamatan melalui Kristus” (1 

T, 400). 

 

“Jangan biarkan anak-anakmu menganggap bahwa mereka bukanlah anak-anak Allah sampai mereka 

cukup dewasa untuk dibaptiskan. Baptisan bukan menjadikan anak-anak Kristen; tidak pula 

mempertobatkan mereka” (CG, 499). 

 

Sebaliknya, harus ada kematangan yang wajar dan persiapan sebelum baptisan. “Baptisan yaitu  ritual  

penting yang paling kudus, dan harus ada pemahaman yang saksama akan artinya. Artinya pertobatan dari 

dosa dan memasuki hidup baru dalam Kristus Yesus. Tidak perlu terburu-buru menerima ritual  itu” (6 

T, 93). 

 

Puncak pembaptisan anak-anak kira-kira 12 tahun. Dua belas tahun yaitu  masa usia ketika seorang anak 

mulai mengambil bagian dalam acara perbaktian orang dewasa pada masa Perjanjian Lama. Pada usia 

seperti itulah Yesus mengadakan perjalanan musafir ke Yerusalem. Juga dari segi kejiwaan, 12 yaitu  

usia transisi yang jelas. Ada keuntungannya mengadakan penyerahan umum ini sebelum memasuki umur 

12 tahun yang sulit. Banyak pendeta yang memulai pelajaran era baptisan pada usia 11 atau 12 tahun. 

 

Apakah anak-anak di dekati mengenai baptisan? Bagi orang tua Advent, baptisan anak itu mungkin 

menjadi satu tanda keberhasilan orang tua; satu baptisan dini yang istimewa menjadi satu tanda 

keberhasilan yang istimewa pula. Orang tua harus waspada untuk mendorong baptisan dini. Jikalau 

seorang anak dibaptiskan pada usia 11 atau lebih dini, barangkali seharusnya itu hanya atas dasar pilihan 

anak. Namun, haruslah didekati dan didorong anak yang sudah berusia 12 tahun untuk dibaptis, tetapi 

tidak perlu didesak. 

 

Dalam rumah seorang Kristen, orangtua harus memainkan peranan penting dalam mempersiapkan anak-

anak untuk baptisan. Setelah berusaha dengan setia, jika Anda merasa puas bahwa anak-anakmu 

memahami arti pertobatan dan baptisan, biarlah mereka dibaptiskan. Tetapi, saya ulangi, pertama-tama 

sediakan dirimu untuk bertindak selaku gembala dalam menuntun kaki mereka yang belum 

berpengalaman menelusuri jalan sempit penurutan/ Allah harus dapat bekerja dalam diri orang tua agar 

mereka dapat memberikan contoh yang benar kepada anak-anaknya dalam kasih, kesopanan, dan 

kerendahan hati seorang Kristen, dan dalam menyerahkan diri sepenuhnya kepada Kristus” (SDA, hlm. 

94). 

Satu rencana ulung bagi orang tua ialah mempersiapkan pelajaran era-baptisan di rumah. Kemudian, 

orangtua bersama anak datang ke gereja sekali sepekan. Di sana seorang mengulangi pelajaran sepekan 

bersama anak-anak sementara orang lain mempersiapkan orang tua mengajarkan pelajaran berikut. 

 

Terlalu sering pelajaran kelas baptisan anak-anak tidak menarik. “Mereka yang memberikan pelajaran 

kepada anak-anak dan orang muda harus menghindarkan kata-kata yang membosankan. Pembicaraan 

singkat yang mengenai sasaran, akan membawa pengaruh yang menyenangkan. Kalau banyak yang akan 

dikatakan, ringkaskanlah itu berulang kali” (CG, hlm. 495). Jikalau mungkin, gunakanlah film atau alat 

peraga lainnya. Pasti Anda akan mencakup lebih banyak dan memberi kesan yang lebih mendalam. 

 

Jikalau Anda memiliki  sekolah gereja, Anda dapat membentuk satu kelas di sekolah itu pada jam 

belajar. Kalau tidak ada sekolah gereja, kelas itu dapat diadakan di gereja pada jam pelajaran Sekolah 

Sabat berlangsung. Ada pilihan tambahan: Anda dapat membuat kelas itu lebih efektif dan menarik 

dengan memberikan kuis singkat secara lisan atau tulisan. Jawaban-jawaban akan menolong Anda untuk 

memahami anak yang mana memerlukan perhatian pribadi di luar kelas. Doronglah anak-anak supaya 

mengikuti kursus tertulis sebelum di baptis. Setelah selesai program Anda, berikanlah anak-anak 

serangkaian pertanyaan ulangan, dan beritahukan kepada mereka bahwa akan ada ujian sebelum baptisan. 

Ini lebih menolong pekerjaan itu, dan ujilah mereka yang ikut-ikutan hanya sebab  teman mereka mau 

dibaptiskan. 

 

Tujuan persiapan baptisan bukanlah mengidoktrinasi anak itu, tetapi supaya menjadi manusia baru dalam 

Kristus Yesus. Satu cara menekankan hal ini ialah menanyakan setiap anak pada akhir seri pelajaran 

untuk beberapa kalimat tentang “mengapa saya merasa saya sudah siap untuk dibaptiskan.” 

 

 

Menetapkan Anggota Baru 

 

 

Yesus memberitahukan murid-murid-Nya: “Bukan kamu yang memilih aku, tetapi Akulah yang memilih 

kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, 

supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu” (Yoh 15:16). 

 

Hal yang paling ajaib tentang Pentakosta bukanlah sebab  3.000 orang dibaptiskan dalam satu hari, tetapi 

sebab  “mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan . . .” (Kisah 2:24). Dengan 

pertolongan Roh Kudus, mereka sanggup menikmati kualitas dan kuantitas pertumbuhan gereja. 

 

Dalam memecahkan masalah kemurtadan, itu bukanlah masalah pilihan perorangan, tetapi memenuhi 

perintah Kristus. Yesus mengatakan: “sebab  itu pergilah, jadikanlah semua bangsa