gereja masehi 18
berduka memintamu untuk melaksanakan ritual penguburan,
maka engkau harus membicarakannya secara rinci dan merencanakan ritual penguburan
sesuai dengan keinginan mereka. Tetapi jangan lupa, bahwa pemimpin penguburan dibayar
untuk menangani banyak detil-detil ritual penguburan. Jangan ambil alih pekerjaannya.
Berhati-hatilah jangan memberikan terlalu banyak nasihat. Orang-orang harus
membuat keputusan mereka sendiri mengenai memilih pemimpin penguburan, biaya
penguburan, tempat ritual penguburan dan sebagainya. Jika diminta, gembala jemaat
biasanya mengusulkan agar ritual penguburan dilakukan di gereja. Jangan libatkan diri
dalam pertengkaran keluarga. Mungkin ada kasus perlakuan yang tidak adil terhadap sang
janda, dan dipoerlukan nasihat penggembalaan yang bijaksana.
Siapa yang melaksanakan ritual penguburan. – Biasanya tidak diperlukan surat
izin untuk melaksanakan ritual penguburan. Di mana tidak ada pendeta, seorang ketua
jemaat bisa memimpin ritual . Namun, ini janganlah dilakukan tanpa persetujuan gembala
jemaat. Seorang ketua atau sahabat keluarga bisa diminta untuk membantu pendeta dalam
ritual itu untuk memberikan riwayat hidup orang yang sudah meninggal, membaca ayat-
ayat Kitab Suci, berdoa, dan lain-lain.
Di beberapa tempat gembala jemaat atau ketua jemaat yang melaksanakan ritual
penguburan harus memastikan bahwa orang yang meninggal itu sudah memiliki surat
keterangan kematian dari pejabat yang berwenang sebelum ia dimakamkan.
Para pendeta Advent dibayar dengan uang perpuluhan. Bukanlah praktek mereka
untuk menerima bayaran untuk melaksanakan ritual penguburan kecuali dia harus
mengadakan perjalanan jauh.
Melihat orang yang sudah meninggal. – Melihat orang yang sudah meninggal
cenderung menyehatkan secara emosi, sebab hal itu benar-benar memastikan bahwa orang
itu sudah meninggal. Tanpa menghadapi orang yang sudah meninggal, sebagian orang yang
berdukacita cenderung menyangkal kenyataan bahwa yang mereka kasihi sudah meninggal.
Memandangi orang yang sudah meninggal hampir bisa dipastikan akan membuat air mata
bercucuran, tetapi air mata membersihkan jiwa. Jangan hilangkan rasa sakit yang dapat
ditanggung. Dalam dukacita, rasa sakit harus mendahului kesembuhan.
Hikmat dari banyak kebudayaan menggarisbawahi kenyataan ini. Kadang-kadang
keluarga dan sahabat-sahabat diundang ke tempat ritual penguburan untuk melihat orang
yang sudah meninggal. Kadang-kadang jenazah orang yang sudah meninggal tetap ditaruh di
rumah dan ditunggui tanpa tidur. Kadang-kadang ritual keagamaan dilakukan di sekitar
peti mati setiap malam sampai pada hari pemakaman. Dengan cara bagaimanapun melihat
orang mati itu dilakukan, hal itu memiliki tujuan yang berguna. Kematian harus dihadapi
sebelum pemulihan mulai.
Pada ritual penguburan, orang yang sudah meninggal itu boleh ditunjukkan supaya
orang-orang memberikan penghormatannya pada waktu mereka memasuki ruangan ritual .
Kemudian peti mati ditutup secara permanen. Dengan air mata yang sudah dicurahkan,
ritual penguburan itu difokuskan pada pengharapan dan tidak dikaburkan oleh perasaan
waktu melihat orang mati itu untuk terakhir kalinya.
Budaya dan jemaat lain bersikeras bahwa melihat sesudahnya bisa menjadi
pengalaman yang positif. Mereka mendudukkan orang-orang yang berduka di baris depan
pada waktu ritual penguburan. Sesudah itu, orang-orang datang berbaris untuk melihat
jenazah orang yang sudah meninggal, lalu mereka yang mengenal baik keluarga itu
menyalami mereka, merangkul atau mengucapkan kata-kata dorongan. Ini membuat melihat
untuk terakhir sekali menjadi pengalaman keluarga gereja yang kaya.
ritual Pengunburan Khas
Pemimpin penguburan. – Pemimpin penguburan bertanggungjawab untuk mengatur
penguburan. Pendeta bertanggungjawab mengenai ritual keagamaan. Engkau yaitu
spesialis dalam agama. Pemimpin penguburan yaitu spesialis penguburan. Engkau tidak
boleh berpura-pura tahu segala sesuatu mengenai penguburan. Bergantunglah pada keahlian
pemimpin penguburan, terutama jika engkau baru pindah ke daerah yang baru. Pakaian
pendeta yang layakpun berbeda dari satu tempat ke tempat yang lain. Mintalah nasihatnya.
ritual penguburan dilakukan oleh satu tim.
Datanglah cepat ke tempat ritual penguburan. Ini yaitu suatu ritual yang jarang
dimulai terlambat. Disamping itu, engkau perlu membicarakan seluruh acara dengan
pemimpin penguburan, para pemusik dan asistenmu mengenai rincian ritual .
Menemui orang-orang yang berdukacita. – Orang-orang yang berdukacita biasanya
ditempatkan dalam satu ruangan sebelum ritual dimulai. Mintalah pemimpin penguburan
membawamu ke sana segera sesudah mereka semua berkumpul. Sekali lagi, ini bukan waktu
untuk berbicara banyak. Engkau berada di sana untuk belajar, sehingga apa yang engkau
katakan pada waktu ritual pernguburan nanti akan lebih sesuai dengan keadaan.
Bagaimanakah keadaan emosi orang yang berdukacita utama? Berlututlah dan
genggamlah tagannya. Mungkin inilah kesempatanmu yang pertama untuk bertemu dengan
seluruh keluarga. Apakah ada di antara mereka yang sangat tergoncang?Apakah ada di antara
mereka yang tidak memiliki pengharapan Kristen? ritual penguburan yaitu tempat
yang paling baik untuk mengetahui minat evangelisasi yang akan ditindaklanjuti di kemudian
hari. Banyak anak-anak yang nakal memikirkan perkara-perkara serius pada waktu ritual
penguburan Bapa atau Ibu mereka.
Pembicara permulaan boleh saja menganggap orang yang berdukacita menderita rasa
sedih yang hampir tak terkendalikan. Mengunjungi mereka tepat sebelum ritual
penguburan akan menolong engkau mengetahui sebelum upaca dimulai bahwa itu tidak
selamanya demikian.
Jika kematian didahului oleh penyakit lama dan berkepanjangan, sesungguhnya
keluarga telah melalui proses dukacita yang cukup lama. Orang yang sudah meninggal
mungkin sudah tidak mau bekerjasama dan suka membantah selama ia sekarat, dan keluarga
boleh jadi merasa lega sebab orang yang mereka kasihi pada akhirnya terbebas dari rasa
sakit dan penderitaan itu. Kematian bisa mendatangkan rasa lega daripada raungan
penderitaan.
Semua ini akan mempengaruhi ritual yang tidak lama lagi akan engkau mulai dan
khotbah yang akan engkau sampaikan.
Urutan ritual . – Urutan ritual sederhana bisa berupa:
1. Pendeta-pendeta masuk pada waktu pemimpin penguburan memberi tanda untuk
memulai ritual .
2. Membaca ayat-ayat Kitab Suci dan doa. Ayat-ayat bisa diambil dari ayat-ayat
yang dituliskan di bawah ini, mungkin dengan menggabungkan beberapa ayat. Yang
didoakan termasuk ucapan syukur kepada Allah oleh sebab kehidupan yang telah diberikan-
Nya kepada orang yang sudah meninggal ini, penghiburan kepada mereka yang berdukacita
dan pengharapan akan hidup yang kekal melalui Yesus Kristus. Oleh sebab orang-orang
yang bukan Kristen biasanya juga turut hadir, maka orang yang memimpin doa biasanya
berdiri dan hadirin tetap duduk selama berdoa.
3. Nyanyian solo atau lagu puijian. Biasanya tidak bisa menyanyi seperti di gereja
jika banyak orang yang terganggu emosinya.
4. Riwayat hidup orang yang seudah meninggal. Mungkin pihak keluarga ingin
menyediakan sendiri riwayat hidup orang yang sudah meninggal itu, walaupun ini sering
mendatangkan masalah. Riwayat hidup itu bisa terlalu panjang, tidak terang tulisannya, atau
pujian-pujian yang disebutkan tidak realistis. Kematian seorang yang dikasihi meninggalkan
rasa bersalah pada keluarga sebab tidak merawatnya lebih baik. Rasa bersalah ini seharusnya
jangan dihilangkan dengan menggambarkan hidup orang yang meninggal itu jauh lebih
sempurna daripada yang diketahui oleh para hadirin.
5. Khotbah dan doa.
6. Nyanyian solo. Nyanyian ini haruslah menjadi nyanyian penutup dari ritual ,
yang memberikan jaminan dan pengharapan. Akhir dari nyanyian itu akan menjadi tanda bagi
pemimpin penguburan untuk mengambil alih tanggungjawab.
Berpindahlah ke arah kepala peti mati. Jika masih diberikan waktu untuk melihat
orang yang sudah meninggal itu untuk yang terakhir kalinya, tetaplah di sana sampai seluruh
hadirin dan keluarga telah berlalu. Berikanlah kekuatan oleh kehadiranmu lebih daripada
kata-katamu. Bilamana pemimpin penguburan sudah siap, pimpinlah jalan pada waktu peti
mati ditempatkan dalam mobil jenazah. Kebiasaan umum ialah bahwa engkau tidak boleh
meninggalkan peti mati mulai dari saat ini sampai pemakaman. Pemimpin penguburan akan
menyuruhmu naik ke mobil jenazah atau ke dalam mobil yang berjalan mendahului mobil
jenazah.
Khotbah. – Prinsip-prinsip umum. Khotbah penguburan (1) harus didasarkan atas
Alkitab dan berpusat pada Kristus, (2) harus pendek – lamanya biasanya kira-kira 15 menit,
(3) bukan uraian doktrin – ini bukan waktunya untuk menunjukkan bukti-bukti dan alasan-
alasan yang kuat, dan (4) harus termasuk ucapan syukur atas hidup ini dan pengharapan pada
hidup yang akan datang.
Arsipmu harus termasuk paling sedikit satu map yang diberi tanda “Taman Khotbah
Penguburan.” Masukkanlah senantiasa ke dalam arsip itu ide-ide yang bisa dikembangkan
menjadi khotbah penguburan. Dua hal yang harus engkau ingat: khotbah penguburan akan
selalu diperlukan, dan sering khotbah itu harus disediakan dalam waktu yang singkat.
Personalisasikan khotbah. Khotbah penguburan janganlah hanya membicarakan
mengenai kematian secara umum, tetapi mengenai kematian yang ini, yang dialami orang ini.
Cara termudah untuk melakukan ini dan cara terpendek untuk menyediakan khotbah untuk ini
ialah menunggu sampai paling sedikit sebagian keluarga telah berkumpul, lalu pergilah
kepada mereka dan ajaklah mereka berbicara mengenai orang yang sudah meninggal itu.
Tanyakanlah mengenai pekerjaannya, kelompok asosiasinya, hobinya, dan sifat-sifat
kepribadiannya.
Ambillah satu atau dua sifat yang baik yang pada umumnya diketahui orang, dan
tekankanlah itu dalam khotbahmu. Wanita yang paling jahat sekalipun bisa baik kepada anak-
anaknya. Bahkan orang yang paling tidak berbakatpun bisa dikagumi kesetiaannya. Keluarga
kemungkinan akan membanjirimu dengan cerita-cerita mengenai kehebatan orang yang
mereka kasihi itu. Yang paling baik dari cerita-cerita ini akan menjadi ilustrasi khotbah yang
paling bagus.
Janganlah menceriterrakan orang yang sudah meninggal itu dengan tidak realistis.
Hadirin mengenal betul orang yang sudah meninggal itu. Jika apa yang khotbahmu katakan
mengenai orang yang sudah meninggal itu tidak dapat dipercaya, maka apa yang
dikatakannya mengenai Kristus juga tidak bisa dipercaya.
Mintalah untuk melihat Alkitab orang yang sudah meninggal itu. Engkau boleh
mempelajari banyak mengenai hidup penyerahan orang itu. Perhatikanlah ayat-ayat yang
digarisbawahi, syair-syair, catatan, dan lain-lain. Bahkan engkau bisa mengkhotbahkan
khotbah penguburan dengan memakai Alkitab ini.
Janganlah pernah beranggapan bahwa orang yang sudah meninggal itu akan hilang
untuk selama-lamanya. Tetapi, jika ia diketahui bukan seorang Kristen, janganlah pernah
beranggapan dia akan selamat. Sebaliknya bicarakanlah kasih Allah kepada mereka, bahwa
dalam tangan Allah mereka berada dalam tangan yang lebih baik, tangan yang lebih
mengasihi daripada tangan kita. Bicarakanlah betapa Allah rindu dan sanggup untuk
menyelamatkan. Bicarakan mengenai hidup yang masih dihidupkan oleh hadirin, perlombaan
yang masih sedang dilombakan, dan bagaimana, melalui Kristus, setiap orang yang hadir
boleh memiliki pengharapan akan hidup sesudah kematian.
Ayat-ayat Kitab Suci. – Khotbah dan bacaan ayat-ayat Kitab Suci bisa diambil dari
ayat-ayat berikut:
Ayb. 14:1, 2, 14, 15 -- “Engkau akan memanggil, dan Akupun akan menyahut.”
Mzm. 23 -- “Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku
tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku.”
Mzm. 27 -- “Nantikanlah Tuhan! Kuatkanlah dan teguhkanlah
hatimu!
Mzm. 46 -- “Allah itu bagi kami tempat perlindungan, sebagai
penolong dalam kesesakan sangat terbukti.”
Mzm. 90 -- “Tuhan, Engkaulah tempat perteduhan kami turun-
temurun.”
Mzm. 91:1, 2, 11, 12 -- “Akan berkata kepada Tuhan: ‘Tempat perlindunganku
dan kubu pertahananku, Allahku yang kupercaya.”
Mzm. 121 -- “Pertolonganku ialah dari Tuhan.”
Yes. 33:15-17, 24 -- “Tidak seorangpun yang tinggal di situ akan berkata,
‘Aku sakit.’”
Yes. 35:3-10 -- “Pada waktu itu mata orang-orang buta akan dicelikkan,
dan telinga orang-orang tuli akan dibuka. . . . kedukaan
dan keluh kesah akan menjauh.”
Yes. 40:28-31 -- “Tetapi orang-orang yang menanti-nantikan Tuhan
mendapat kekuatan baru.”
Yes. 43:1, 2 -- “Apabila engkau menyeberang melalui air, Aku akan
menyertai engkau.”
Yoh. 14:1-6 -- “Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke
tempat-Ku.”
Rm. 8:14-39 -- “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam
segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi
mereka yang mengasihi Dia.”
1 Kor. 2:9, 10 -- “Apa yang tidak dilihat oleh mata, dan tidak pernah
didengar oleh telinga . . . “
1 Kor. 15:20-26 -- “Musuh yang terakhir, yang dibinasakan ialah maut.”
1 Kor. 15:51-55 -- sebab yang dapat binasa ini harus mengenakan yang
tidak dapat binasa.”
Fil. 3:20, 21 -- “sebab kewaregaan kita yaitu di dalam sorga.”
1 Tes. 4:13-18 -- “Kamu jangan berdukacita seperti orang-orang lain yang
tidak memiliki pengharapan.”
1 Tes. 5:1-11 -- “Entah kita berjaga-jaga, entah kita tidur, kita hidup
bersama-sama dengan Dia.”
Ibr. 4:14-16 -- “Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam
besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-
kelemahan kita.”
2 Pet. 3:8-14 -- “sebab Ia menghendaki supaya jangan ada orang yang
binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan
bertobat.”
Why. 7:15-17 -- “Mereka tidak akan menderita lapar dan dahaga lagi.”
Why. 14:13 -- “Berbahagialah orang-orang mati yang mati dalam
Tuhan.”
Why. 21:1-4 -- “Dan Ia akan menghapus segala air mata dari mata
mereka.”
Why. 22:1-5 -- “Dan mereka akan melihat wajah-Nya.”
ritual penguburan anak
2 Sam. 12:16-23 -- Daud berdukacita, “Aku yang akan pergi kepadanya,
tetapi ia tidak akan kembali kepadaku.”
Mark. 10:13-16 -- “Sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya
Kerajaan Allah. . . . Lalu Ia memeluk anak-anak itu.”
ritual penguburan pemuda
Pengkh. 11:6-10 -- “Bersukacitalah, hai pemuda, dalam kemudaanmu.”
Pengkh. 12 -- “Ingatlah akan Penciptamu pada masa mudamu.”
Luk. 7:11-15 -- Anak seorang janda di Nain. “Hai anak muda, Aku
berkata kepadamu, bangkitlah!”
ritual penguburan perempuan yang saleh
Ams. 31:10-31 -- “Isteri yang cakap siapakah akan mendapatkannya? Ia
lebih berharga dari pada permata.”
Mat. 26:10-13 -- “Sesungguhnya dimana saja Injil ini diberitakan di
seluruh dunia, apa yang dilakukannya ini akan disebut
juga untuk mengingat dia.”
Kis. 9:36-42 -- Dorkas. “Perempuan ini banyak sekali berbuat baik dan
memberi sedekah.”
ritual penguburan orang yang lanjut usia
Kej. 5:24 -- Henokh. “Lalu ia ntidak ada lagi, sebab ia telah diangkat
oleh Allah.”
Kej. 15:15 -- “Engkau akan dikuburkan pada waktu telah putih
rambutmu.”
Mat. 11:28 -- “Aku akan memberi kelegaan kepadamu.”
2 Tim. 4:6-8 -- “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku
telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara
iman.”
Syair. –
Bagaimana rasanya melangkah ke pantai, dan menemukan itu – Surga;
Berpegang pada tangan, dan menemukan itu – tangan Allah;
Menghirup udara segar yang baru dan menemukan itu – udara Semesta
alam;
Merasa dikuatkan, dan menemukan itu – Kekekalan;
Bangkit dari keluh kesah dan kesusahan dunia
ke dalam ketenangan yang tiada akhir;
Bangun dan menemukan – Kemuliaan.
ritual Pemakaman di Pekuburan
Jika pemakaman di pekuburan termasuk ritual militer, rencanakanlah terlebih
dahulu bersama mereka, supaya acaramu bisa terkoordinasi. Doronglah mereka untuk
melakukan bagian mereka lebih dahulu. ritual seperti itu sering menyimpulkan kebakaan
jiwa dan orang-orang Advent yang hadir akan merasa terganggu jika kata-kata terakhir yang
diucapkan mengenai orang yang mereka kasihi yaitu yang mengatakan bahwa dia sudah
berada di Firdarus.
Jika cuaca kelihatannya akan turun hujan, persiapkanlah diri sebelum datang ke
pekuburan. Engkau boleh mengantongi secarik plastik transparan untuk menutupi Alkitabmu
pada waktu membacanya di hujan atau salju.
Tetaplah berada dekat peti jenazah pada waktu pengangkat peti jenazah bersiap-siap
untuk membawanya dari mobil jenazah ke kuburan. Tanyakanlah pada pemimpin penguburan
arah mana yang harus dijalani menuju ke kuburan dan ke arah mana kepala orang yang sudah
meninggal.
Tuntunlah peti jenazah ke kuburan. Jangan berjalan di atas kuburan-kuburan lain.
Berdirilah di samping kuburan dekat kepala orang yang sudah meninggal. Tunggulah tanda
dari pem,impin penguburan untuk memulai ritual pemakaman. Penggunaan musik di
pemakaman ditentukan oleh kebiasaan setempat atau oleh keinginan keluarga.
ritual penyerahan pemakaman informal. -- ritual pemakaman harus singkat.
Sebelumnya sudah ada ritual . Orang-orang sedang berduka, dan sedang berdiri. Cuaca
mungkin tidak bekerjasama. ritual penyerahan pemakaman informal yang sederhana bisa
terdiri dari hanya pembacaan ayat-ayat Kitab Suci dan doa:
Ayat-ayat Kitab Suci. Ayat-ayat Kitab Suci yang ideal untuk dibacakan di
pemakaman ialah 1 Tesalonika 4:13-18: “Selanjutnya kami tidak mau, saudara-saudara,
bahwa kamu tidak mengetahui tentang mereka yang meninggal, supaya kamu jangan
berdukacita seperti orang-orang lain yang tidak memiliki pengharapan. sebab jika kita
percaya, bahwa Yesus telah mati dan telah bangkit, maka kita percaya juga bahwa mereka
yang telah meninggal dalam Yesus akan dikumpulkan Allah bersama-sama dengan Dia. Ini
kami katakan kepadamu dengan firman Tuhan: kita yang hidup, yang masih tinggal sampai
kedatangan Tuhan, sekali-kali tidak akan mendahului mereka yang telah meninggal. Sebab
pada waktu tanda diberi, yaitu pada waktu penghulu malaikat berseru dan sangkakala Allah
berbunyi, maka Tuhan sendiri akan turun dari sorga dan mereka yang mati dalam Kristus
akan lebih dahulu bangkit; sesudah itu, kita yang hidup yang masih tinggal, akan diangkat
bersama-sama dengan mereka dalam awan menyongsong Tuhan di angkasa. Demikianlah kita
akan selama-lamanya bersama-sama dengan Tuhan. sebab itu hiburkanlah seorang akan
yang lain dengan perkataan ini.”
Ayat-ayat Kitab Suci yang lain yang bisa digunakan ialah 1 Korintus 15:51-55.
Doa. Doa harus diakhiri dengan catatan positif dengan satu himbauan pada seluruh
pendengar supaya hidup sedemikian rupa sehingga bilamana kematian datang akan dihadapi
dengan satu pengharapan yang tentu akan hidup kembali melalui Kristus.
ritual penyerahan pemakaman formal. – Jika penyerahan pemakaman formal
dikehendaki, maka hal itu dilakukan antara pembacaan ayat-ayat Kitab Suci dan doa.
Kebiasaan penyerahan pemakaman berbeda-beda. Di beberapa tempat pendeta menjatuhkan
segenggam tanah atau kembang ke atas peti jenazah sementara penyerahan dibacakan.
Sebagian merasa kata-kata “tanah kembali ke tanah, abu kembali ke abu, debu kembali ke
debu” merupakan peringatan yang agak kasar bahwa mayat itu akan busuk, sehingga
menghilangkan bagian ini dari penyerahan.
Penyerahan pemakam sederhana bagi seorang Kristen:
“Oleh sebab Allah di dalam kasih-Nya dan hikmat-Nya yang tidak terbatas telah
mengizinkan saudara (i) kita yang kekasih ini tidur di dalam Kristus, maka kita menyerahkan
tubuhnya ke dalam tanah ini [tanah kembali ke tanah, abu kembali ke abu, debu kembali ke
debu] dalam satu pengharapan yang tentu dan pasti akan kebangkitan yang penuh sukacita
bilamana Tuhan kita akan kembali dalam kemuliaan. Kemudian tubuh kita yang hina ini akan
diubahkan dan dibuat serupa dengan tubuh-Nya yang mulia, menurut perbuatan-Nya yang
mahakuasa oleh mana Ia sanggup menaklukkan segala sesuatu kepada-Nya.”
Penyerahan pemakaman sederhana untuk seorang yang tidak diketahui apakah ia
seorang Kristen atau tidak:
“Oleh sebab Allah di dalam kebaikan-Nya dan perbuatan pemeliharaan-Nya yang
mahabesar telah mengizinkan sahabat kita [saudara (i)] ini melepaskan beban kehidupan ini,
dengan kasih sayang kita menyerahkan tubuhnya ke dalam tanah ini [tanah kembali ke tanah,
abu kembali ke abu, debu kembali ke debu] dengan mengingat, bahwa segala masalah
kehidupan ini berada di tangan Bapa kasih dan belas kasihan yang kekal, dan bahwa Ia telah
menjanjikan kehidupan yang kekal kepada mereka yang mengasihi Dia.”
Sesudah ritual . – Sesudah doa dan ritual berakhir, berjalanlah ke keluarga yang
berduka dan salami mereka satu persatu. Jika isterimu juga turut hadir dan senang
melakukannya, ia boleh bergabung denganmu dan menambah jamahan khusus yang begitu
bermakna pada saat-saat seperti itu.
Janganlah buru-buru meninggalkan tempat itu. Gunakanlah kesempatan itu untuk
menemui secara tidak resmi orang-orang yang mungkin engkau belum pernah lihat di gereja.
Bilamana keluarga mulai beranjak pergi, maka engkaupun boleh bebas pergi.
Saran-saran Tambahan
Pemakaman sebelum ritual penguburan. – Pendekatan yang kurang biasa
dilakukan ialah pemakaman dilakukan sebelum ritual penguburan, mungkin sebagai
ritual pribadi bagi keluarga. Dari pemakaman keluarga pergi ke gereja, di mana ritual
untuk orang banyak (umum) dilakukan. Peti jenazah sudah dilihat untuk terakhir kalinya.
Orang yang sudah meninggal sudah dikebumikan. Sekarang acara berkonsentrasi pada
perayaan suatu kehidupan lebih daripada menangisi kematian.
Partisipasi hadirin. – ritual intim yang tidak formal bisa termasuk undangan dari
pendeta kira-kira seperti berikut: “Saudara-saudara telah datang ke tempat ini oleh sebab
saudara mengenal dan mengasihi _____________ . Masing-masing saudara memiliki
kenangan khusus yang unik dengan dia. Jika saudara memiliki cukup keberanian, saya
percaya saudara akan menemukan bahwa membagikan kenangan-kenangan tersebut dalam
sepatah dua patah kata dari tempat di mana saudara duduk akan menolong diri saudara sendiri
dan keluarganya.”
Kremasi. – Kremasi kelihatannya semakin dapat diterima sebagai satu cara untuk
menangani orang yang sudah meninggal. Kremasi secara finansial tidak begitu membebani
keluarga. Di daerah-daerah yang padat penduduknya, tempat pemakaman semakin sulit
didapat.
Orang-orang Advent tidak memiliki pendirian teologis mengenai kremasi. Kita
percaya bahwa Allah tidak lagi bergantung pada benda-benda yang sudah ada sebelumnya
pada hari kebangkitan lebih dari pada apa yang diciptakan-Nya pada Penciptaan. Tetapi
kebiasaan setempat dan jemaat setempat bisa melarang penggunaan kremasi.
Pelayanan kepada Orang yang berdukacita.
Enam saran untuk pelayanan yang berhasil kepada orang yang berdukacita setelah
penguburan:
1. Hadir. – Para dokter memperkirakan para ibu muda akan mengalami kesusahan
pasca melahirkan. Para pendeta juga harus memperkirakan orang-orang yang berdukacita
akan mengalami kesusahan sesudah penguburan. Hormon adrenalin mereka sudah habis
terkuras, krisis sudah berlalu, rombongan tamu-tamu dan sahabat-sahabat sudah pergi. Pada
waktu penguburan mereka semua sama-sama menghadapi kehilangan orang yang mereka
kasihi. Dan sesudah penguburan mereka menghadapi sendiri kesepian. Mereka mungkin akan
lebih merasa tertekan beberapa hari sesudah penguburan daripada sebelumnya.
Malangnya, warga bahkan gereja cenderung mengabaikan semua ini. Mereka
bersimpati sebelum penguburan, tetapi melupakan dan mengabaikannya sesudah itu.
Gembala, sebagai seorang profesional, harus mengerti kenyataan yang patut disayangkan ini
dan menyadari bahwa pelayanan kepada orang yang berduka harus dimulai sejak penguburan
dan diteruskan sampai beberapa bulan sesudah itu. Ajarlah gerejamu mengenai pentingnya
mengembangkan suatu sistim pendukung untuk pelayanan yang terus menerus kepada orang
yang berdukacita.
Buatlah kunjungan penggembalaan segera sesudah penguburan. Sebagai oleh-oleh
yang baik, berikanlah rekaman tape seluruh ritual , kalau ada.
Rencana jangka panjang ialah menandai almanak di kantormu supaya dengan
demikian engkau diingatkan untuk mengirimkan surat dorongan setiap kali ulang tahun
kematian itu.
2. Sabarlah. -- Hilangnya dukacita membutuhkan waktu. Tidak bisa tidur, cemas,
takut, mudah marah dan asyik dengan diri sendiri dan dengan pikiran-pikiran sedih bisa
berlanjut datang dan pergi selama setahun atau lebih. Harapan yang tidak realistis agar
mereka yang berdukacita harus “merubah sikap dengan cepat” bisa menimbulkan rasa cemas
dan bersalah dan membuat proses berdukacita itu semakin sulit.
Sabarlah dengan orang yang berduka yang menunjukkan kemarahan mereka terhadap
Allah. Kemarahan yaitu bagian yang biasa dari proses berdukacita. Walaupun kemarahan
terhadap Allah yang dapat mencegah kematian itu tidak adil dan diharapkan hanya bersifat
sementara, tetapi itu yaitu hal yang biasa.
3. Dengarkan. -- Berbicara yaitu cara efektif untuk melepaskan emosi dan untuk
mengalami kesembuhan. Orang yang berduka itu mungkin tidak senang menceriterakan rasa
sakit yang mereka alami dan bahkan lebih suka ditinggalkan sendirian, tetapi berbagi
perasaan dengan orang lain akan membawa kesembuhan. Sahabat-sahabat boleh saja
berceritera mengenai segala sesuatu kecuali mengenai orang yang sudah meninggal; pendeta
juga tidak boleh. Tanyakanlah, “Apakah Anda suka berbicara mengenai hal itu? Atau
“Ceriterakanlah kepadaku bagaimana hal itu terjadi.”
Sebenarnya, biasanya orang yang berduka suka berbicara mengenai kekasih mereka
yang sudah meninggal, sekali sudah dimulai. Pembicaraan itu mengungkap kenangan-
kenangan berharga, mengetahui bahwa engkau merasa cerita kehidupan orang yang sudah
meninggal itu berguna untuk didengar untuk mendatangkan kepuasan.
Iman Krtistiani membawa penghiburan dan pengharapan kepada mereka yang
berduka. Tetapi engkau akan sangat menolong bukan oleh sebab memaksakan apa yang
iman mereka harus perbuat bagi mereka, tetapi oleh menyelidiki dan mendengarkan apa yang
dilakukannya bagi mereka.
4. Halangi penyangkalan. -- Sebagian orang Kristen yang berduka, yang percaya
bahwa yaitu salah terus menerus merasa sedih, menyangkal bahwa mereka sedang sedih.
Yang lain bahkan sama sekali mau menghindarkan rasa sakit dukacita itu. Tetapi dalam
berduka, pepatah lama yaitu benar: “jika tidak ada rasa sakit, tidak ada keuntungan.” Tentu
saja, kenangan mengenai orang yang sudah meninggal itu penting dan berharga. Tetapi orang
harus berpisah dengan masa lalu sebelum mereka bisa menikmati masa kini atau memandang
ke arah masa yang akan datang.
Pekalah terhadap indikasi adanya penyangkalan seperti menolak membicarakan
mengenai orang yang sudah meninggal itu, ketidakmampuan berpisah dengan barang-barang
pribadi orang yang sudah meninggal, dan penggunaan obat-obatan secara terus menerus
untuk menutupi perasaan tertekan.
5. Doronglah kegiatan. -- Bersedih yaitu penting. Bersedih perlu. Tetapi bersedih
juga cenderung berpusat pada diri sendiri. Secepat mungkin, orang yang berduka itu harus
melibatkan diri ke dalam berbagai kegiatan yang berguna bagi orang lain.
Bergiat dalam kelompok pendukung orang yang berduka mungkin bisa sebagai
permulaan. Sebagai contoh, janda-janda dalam gereja mungkin membentuk kelompok untuk
saling mendukung dan melakukan pelayanan lain bagi gereja.
6. Berdamailah dengan kematianmu sendiri. – Orang-orang Kristen pada
umumnya, dan para pendeta Kristen pada khususnya memiliki sistem kepercayaan yang
memberikan kepada mereka dukungan kuat bilamana menghadapi kematian. Itu tidak berarti
bahwa engkau telah menghadapi kematianmu yang tidak bisa dihindarkan dan telah berdamai
dengannya. Sampai engkau sudah meninggal, boleh jadi engkau tidak pernah tenang
mengenai kematian itu, dan menjadi pertolongan yang terbatas kepada mereka yang
didukakan oleh kematian itu
PASAL 38
Pencangkulan Tanah Pertama.
ritual pencangkulan tanah pertama mendorong keterlibatan dan persatuan anggota
jemaat untuk mendukung suatu proyek pembangunan. Hal itu menimbulkan antusiasme,
terutama jika gereja sudah merencanakan, mendoakan dan memberi untuk pembangunan itu
dalam waktu yang lama. Pada akhirnya suatu kenyataan terjadi.
Merencanakan ritual
Menentukan waktu. – Pencangkulan tanah pertama tidak seluruhnya ritual
kegamaan dan dengan demikian tidak dilakukan pada hari Sabat. Hari Minggu yaitu waktu
yang ideal.
Mengundang tamu-tamu. – Utusan konferens/daerah misi harus diundang. Tokoh-
tokoh politik dan warga setempat juga boleh diundang. Para pendeta dari gereja lain
kadang-kadang juga datang. Media pers juga harus diberitahu dan meminta untuk
mengadakan liputan secara luas.
Menyiapkan tempat. – Tempat pencangkulan tanah pertama harus dibersihkan.
Mungkin panggung perlu didirikan dan sound sistem dipasang. Jika ritual akan
berlangsung lama, maka kursi-kursi juga perlu disediakan.
Gambar arsitektur bangunan harus dipajang di tempat yang mudah dilihat orang.
Maket bangunan yang akan didirikan akan menolong orang untuk memvisualisasikan gedung
yang akan didirikan itu.
Jika tanah akan digali dengan memakai sekop, beberapa sekop harus disediakan.
Kadang-kadang mata sekop dicat dengan warna emas dan perak. Bisa juga dilakukan dengan
traktor untuk membalikkan tanah.
Rencana lain yang melibatkan partisipasi jemaat ialah dengan memakai bajak.
Bajak diikat dengan tali panjang , dan anggota-anggota jemaat menarik bajak itu – yang
melambangkan jemaat menarik bersama proyek pembangunan itu. Jika bangunan sudah
diberi tanda sebelumnya, suatu alur bisa dibajak di sekeliling batas pinggirnya dan bangunan
itu dengan mudah dilihat bilamana ritual pencangkulan tanh pertama sudah selesai.
Urutan ritual
Urutan ritual yang disarankan di bawah ini bisa digunakan bilamana hadirin duduk
dengan nyaman dan bilamana engkau telah merencanakan sebuah ritual yang biasa.
Namun, ritual itu bisa disingkatkan, tergantung pada keadaan setempat.
Lagu pembuka -- Banyak jemaat tidak bisa menyanyi dengan baik di luar
ruangan. Untuk alasan itu, jemaat menyanyi bisa
ditiadakan, terutama jika kelompok itu hanya sedikit.
Doa -- Libatkanlah pendeta yang bukan Advent atau salah
seorang pemimpin gereja setempat untuk memimpin
berdoa.
Lagu pilihan
Khotbah pendek -- Khotbah ini harus sangat pendek. Khotbah itu harus
terdiri paling banyak dari ayat-ayat Kitab Suci dan
bacaan bersahutan di mana setiap orang yang hadir ikut
berpartisipasi.
Lagu pilihan
Kata-kata sambutan -- Tamu-tamu istimewa boleh diundang untuk memberikan
kata sambutan singkat, tetapi melihat acara yang penuh,
mereka harus dibatasi jumlahnya. Suruhlah seseorang
untuk membacakan sejarah gereja atau proyek
pembangunan yang sekarang, dan bicarakan mengenai
rencana untuk segera memulai pembangunan.
Pencangkulan tanah -- Peserta istimewa dalam pencangkulan tanah pertama
biasanya termasuk gembala jemaat, ketua, ketua komite
pembangunan dan utusan dari konferens/daerah misi
dan warga . Seoarng anak kecil harus diikutkan
sebagai utusan gereja di masa yang akan datang. Jika
bangunan itu yaitu gedung sekolah, ikutkanlah ketua
majelis sekolah, kepala sekolah dan seorang guru.
Lagu pilihan atau lagu
pujian pengresmian
Doa penyerahan
Peletakan Batu Pertama
ritual peletakan batu pertama bisa menggantikan ritual pencangkulan tanah
pertama. Perletakan batu pertama dilakukan setelah pembangunan telah dimulai dan
menyangkut peletakan batu pertama untuk menjadi fondasi bangunan. ritual peletakan
batu pertama bisa mengikuti urutan umum ritual seperti untuk pencangkukan tanah
pertama.
Ayat-auyat yang direkomendasikan untuk digunakan termasuk: Ezr. 3:10, 11; 6:14;
Mat. 21:42; Kis. 4:11; 1 Kor. 3:9-11; dan 1 Pet. 2:4-8.
PASAL 39
Pemberkatan Rumah
Tujuan
Praktek pemberkatan rumah berbeda menurut kebiasaan dan keinginan setiap
keluarga. Gereja dunia tidak memiliki tradisi umum untuk ritual seperti itu. Sebagian
keluarga bisa meminta berkat bilamana mereka membeli atau membangun rumah mereka
yang pertama, sebagian bilamana mereka membayar lunas hipotik dan rumah itu benar-benar
sudah menjadi milik mereka. Yang lain lagi memohon pemberkatan rumah bilamana mereka
pindah ke rumah yang berbeda.
Secara khusus, pemberkatan rumah dilakukan sesudah rumah itu selesai dibangun,
perabot sudah dipasang, dan mungkin keluarga sudah pindah ke rumah itu. ritual seperti
itu memberikan kesempatan yang sangat baik untuk mengundang para tetangga untuk
mengikuti acara khusus itu dan berkenalan dengan mereka, dan menjadikan keluarga itu
sebagai saksi Kristen di sekitar mereka.
Perbedaan yang jelas harus dibuat antara pemberkatan rumah dan pentahbisan gereja.
Rumah satu keluarga boleh jadi diasingkan untuk menjadi pelayanan rohani bagi keluarganya
dan tetangga-tetangganya, tetapi hanya bangunan gereja yang diasingkan secara ekslusif
untuk tempat menyembah Allah. yaitu wajar jika sebuah rumah diberkati, tetapi hanya
gereja yang ditahbiskan.
Secara khusus, pemberkatan sebuah rumah mengasingkan bangunan itu untuk:
1. Memelihara kasih, persatuan dan pertumbuhan kerohanian keluarga yang tinggal
di dalamnya.
2. Menyaksikan ke tetangga sekitar kasih Yesus yang menyelamatkan.
Siapa yang Melaksanakan
Tidak diperlukan surat izin atau pengurapan untuk melaksanakan pemberkatan
rumah. Salah seorang ketua jemaat bisa melakukan ritual ini, tetapi harus dilakukan dengan
sepengetahuan dan kerjasama gembala jemaat.
Urutan ritual
Orang-orang yang diundang mungkin termasuk para tetangga yang bukan orang
Kristen. Umumnya orang-orang berklumpul di ruang keluarga dan ruangan itu bisa jadi
penuh sesak. Sebagian orang mungkin berdiri saja. Oleh sebab itu, ritual biasanya tidak
lebih dari 30 menit lamanya.
Dianjurkan urutan ritual yang berikut:
Nyanyian jemaat : Hal ini tidak keharusan, tergantung pada situasi.
Nyanyian yang tepat termasuk, “Senanglah
Rumah” (LS. No. 260), “Betapalah Eloknya di
Ruah Tangga” (LS. No. 258).
Doa : Oleh sebab ada tiga doa dalam ritual seperti
ini, maka yang pertama dan yang terakhir harus
singkat dan tidak perlu mengulangi doa berkat.
Doa pertama ialah untuk mengundang kehadiran
Allah dalam ritual itu.
Sejarah rumah/keluarga : Ini bisa diberikan oleh salah seorang anggota
keluarga, mungkin kepala keluarga.
Amanat : Amanat bisa termasuk:
Bacaan Kitab Suci (lihat anjuran pada halaman . .
.)
Syair (lihat anjuran pada halaman . . . )
Bacaan bersahutan (lihat anjuran pada halaman . .
. )
ritual penyalaan lilin : Amanatmu bisa diakhiri dengan acara penyalaan
lilin untuk melambangkan terang Yesus yang
hadir di rumah itu dan penggunaan rumah itu
untuk memancarkan terang itu ke seluruh tetangga
sekitar. Lilin bisa terus menyala sepanjang sisa
ritual .
Doa berkat : Keluarga boleh berl;utut sambil berpegangan
tangan membentuk satu lingkaran mengelilingi
gembala jemaat yang juga berlutut. Orang-orang
lain berdiri mengelilingi keluarga itu. Masukkan
dalam doamu berkat atas rumah itu, atas keluarga
dan atas tetangga sekitar.
Lagu pilihan : “Bless This House” yaitu nyanyian yang ideal
untuk kesempatan ini.
Doa penutup : Doa ini harus singkat dan tidak perlu mengulangi
doa berkat. Mungkin doa penututp resmi juga
pantas dilakukan:
“Tuhan kiranya memberkati engkau dan
melindungi engkau; Tuhan menyinari
engkau dengan wajah-Nya dan memberi
engkau kasih karunia; Tuhan kiranya
menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan
memberi engkau kasih karunia” (Ul. 6:24-
26).
Jalan berkeliling : Pada bagian ini mungkin keluarga ingin agar para
tamu jalan berkeliling rumah. Pada kesempatan
ini boleh disediakan makanan atau minuman. Ini
tidak keharusan.
Ayat-ayat Kitab Suci yang dianjurkan:
Kej. 24:67 : Rumah tempat mendapatkan kasih dan penghiburan.
2 Sam. 23:13 : Rumah tempat berharga untuk penyegaran.
Mzm. 127 : Harus Tuhan yang membangun rumah. Ia memberkatinya
dengan anak-anak.
Yes. 65:21-24 : “Mereka akan mendirikan rumah-rumah dan
mendiaminya juga.”
Mi. 4:4 : “Tetapi mereka masing-masing akan duduk di bawah
pohon anggurnya.”
Luk. 10:38-42 : Tempat bekerja dan berbakti dalam rumah.
Syair yang dianjurkan:
Apakah Artinya sebuah Rumah?
Apakah artinya sebuah rumah? Lantai untuk mengusir dingin. Ya, tetapi rumah lebih
daripada itu. Rumah ialah tawa seorang bayi, nyanyian seorang ibu, kekuatan seorang ayah.
Kehangatan hati yang penuh kasih, terang dari mata yang bahagia, kebaikan, kesetiaan dan
persahabatan. Rumah yaitu sekolah dan gereja pertama bagi anak-anak, di mana mereka
belajar apa yang benar, apa yang baik dan apa kebaikan. Tempat ke mana mereka pergi untuk
mendapatkan penghiburan bilamana mereka disakiti atau sakit. Di mana sukacita dibagikan
dan penderitaan diredakan. Di mana ayah dan ibu dihormati dan dikasihi. Di mana anak-anak
dibutuhkan. Di mana makanan yang paling sederhana cukup baik untuk raja-raja sebab
makanan itu hasil jerih payah. Di mana uang tidak begitu penting sebagaimana kasih sayang.
Di mana ceretpun menyanyikan kebahagiaan. Itulah rumah. Tuhan memberkati rumah itu.”
Empat Sudut
“Berkatilah keempat sudut rumah ini.
Berkatilah kamar di mana setiap orang beristirahat.
Berkatilah pintu yang terbuka lebar, kepada orang asing sebagai sanak
saudara.
Dan berkatilah setiap jendela yang membiarkan sinar matahari masuk.
Dan berkatilah atap di atas, dan setiap dinding yang kokoh.
Tetapi lebih dari semua, berkatilah mereka yang akan tinggal di dalamnya.
Semoga damai manusia, damai Allah dan damai kasih turun ke atas
Semua mereka.”
Bacaan bersahutan (litani) yang dianjurkan:
Pemimpin : “Allah yang kekal, langit dari segala langit tidak dapat
Memuat Engkau, apalagi dinding bait dan rumah buatan
tangan manusia. Terimalah rasa syukur kami atas tempat
ini, dan terimalah ini sebagai rumah yang diserahkan
untuk melayani Engkau dan memberikan kehormatan dan
kemuliaan kepada-Mu,
Hadirin : Kami bersyukur kepada-Mu, ya Tuhan.
Pemimpin : sebab kehadiran-Mu di mana dua atau tiga orang
berkumpul dalam nama-Mu,
Hadirin : Kami bersyukur kepada-Mu, ya Tuhan.
Pemimpin : sebab membuat kami anak-anak-Mu melalui Yesus
Kristus, Juruselamat kami,
Hadirin : Kami bersyukur kepada-Mu, ya Tuhan.
Pemimpin : sebab memberikan kepada kami keluarga untuk dikasihi
dan untuk mengasihi,
Hadirin : Kami bersyukur kepada-Mu, ya Tuhan.
Pemimpin : sebab menyediakan di sini perlindungan, makanan dan
sahabat-sahabat,
Hadirin : Kami bersyukur kepada-Mu, ya Tuhan.
Pemimpin : sebab menyegarkan kami dari hari ke hari dengan Roti
Hidup,
Hadirin : Kami bersyukur kpada-Mu, ya Tuhan.
Pemimpin : sebab rumah ini di mana keluarga bisa tenang dan
mengetahui bahwa Engkaulah Allah,
Hadirin : Kami bersyukur kepada-Mu, ya Tuhan.
Pemimpin : sebab janji-Mu bahwa Engkau akan segera datang untuk
membawa kami ke rumah surgawi kami,
Hadirin : Kami bersyukur kepada-Mu, ya Tuhan.
Semua : sebab semua yang ada di surga dan di bumi yaitu
milik-Mu, dan kami meninggikan nama-Mu di atas
segalanya, Amen.”
Bacaan bersahutan alternatif. – Menanyai keluarga. Engkau boleh menanyakan
pertanyaan kepada keluarga secara tidak resmi atau bacaan bersahutan secara tertulis dan
mengumpulkan jawaban mereka sebagai suatu komitmen keluarga. Pertanyaan-pertanyaan itu
antara lain:
1. Apakah kamu berjanji akan membuat rumah ini suatu tempat untuk berdoa, di mana
mezbah keluarga dan renungan harian dilakukan?
2. Apakah kamu berjanji akan membuat rumah ini suatu tempat keluarga yang
mengasihi dan bersatu?
3. Apakah kamu berjanji akan membuat rumah ini menjadi satu terang bagi
warga ?
PASAL 40
Pentahbisan Pendeta Distrik yang Baru
Orang-orang Advent cenderung menganggap biasa penerimaan seorang gembala
jemaat baru di distrik atau di warga . Sebagai akibatnya, gembala jemaat yang baru
dibiarkan sendirian berusaha untuk memperoleh kasih sayang anggota-anggota gereja. Tidak
cukup penekanan diberikan untuk membantu proses ikatan antara gembala jemaat yang baru
dan jemaatnya.
Kesulitan Peralihan (Transisi)
Peralihan keluarga gembala jemaat dari satu distrik ke distrik yang lain bisa
menimbulkan antisipasi dan antusiasme pada pihak keluarga gembala dan distrik. Perubahan
juga bisa rumit dan sulit. Selalu disertai oleh sedikit banyaknya kesediahn.
Kesedihan jemaat. – Dalam perkawinan, kehilangan melalui perceraian mungkin
lebih merusak daripada kehilangan oleh sebab kematian, sebab dalam perceraian seseorang
yang dikasihi memilih untuk pergi meninggalkan yang lain. Sebagai akibatnya seseorang
merasa ditolak, dan penolakan itu menuntun kepada kemarahan. Demikianlah juga halnya,
bilamana seorang gembala jemaat memilih untuk pindah dari satu distrik ke distrik yang lain,
maka jemaat merasakan sedikit banyaknya kesedihan, penolakan dan kemarahan: “Apa salah
kita?” “Mengapa gembala kita mau meninggalkan kita?” Saya merasa sakit mengasihi
gembala jemaat yang lalu. Saya tidak mau lagi mengasihi gembala jemaat yang baru dan
merasakan kesakitan kembali.”
Jika gembala jemaat yang sebelumnya tidak memilih untuk pergi, tetapi secara
sewenang-wenang ditugaskan kembali ditempat lain oleh konferens/daerah misi, maka jemaat
akan marah terhadap konferens/daerah misi dan membenci penggantian itu. Jika gembala
jemaat yang sebelumnya tidak dihargai, maka jemaat merasa tidak percaya dan marah
terhadap semua pendeta.
Orang-orang cenderung benci dan menolak perubahan – terutama orang-orang yang
berpikiran kolot, dan anggota jemaat terdiri lebih banyak dari orang-orang ini. Gembala
jemaat yang baru selalu menggambarkan perubahan. Oleh sebab itu, selalu timbul godaan
untuk membenci dan menolak gembala jemaat yang baru.
Kesedihan keluarga gembala jemaat. – Keluarga gembala jemaat memiliki lebih
banyak untuk disedihkan daripada keluarga gereja. Mereka dicabut dari akarnya – suatu
pengalaman yang istimewa merusak kepada isteri dan anak-anaknya. Mereka pindah ke kota
yang baru dan ke rumah yang asing bagi mereka, dengan beban sosial dan keuangan yang
tidak sedikit. Anak-anak harus memulai lagi di sekolah yang baru. Istri harus berburu mencari
pekerjaan yang baru.
Yang paling parah dari semua ialah, keluarga gembala jemaat harus meninggalkan
sahabat-sahabat mereka. Anggota jemaat mungkin bersedih sebab kehilangan satu keluarga,
sedangkan keluarga gembala yang baru bersedih sebab kehilangan semua sahabat-sahabat
mereka di distrik sebelumnya.
Semua ini menambah kepada masalah potensial selama masa peralihan kegembalaan.
Memperlancar Peralihan (Transisi)
Beberapa saran untuk memperlancar peralihan kepada gembala jemaat yang baru:
Kubur yang lama. – Yang lama harus disingkirkan sebelum yang baru bisa diterima.
Anggota jemaat boleh menyatakan penghargaannya dan menyebutkan dengan kata-kata
kesedihan mereka melalui acara perpisahan kepada gembala jemaat yang akan pergi, yang
direncanakan dengan baik dan yang dihadiri oleh sebanyak mungkin anggota jemaat.
Teologia Advent mengajarkan bahwa orang yang sudah mati tidak akan hidup
kembali! Gembala jemaat yang sebelumnya, yang sudah dengan kasih sayang dikuburkan,
jarang akan kembali. Keluarga gembala jemaat harus memutuskan ikatan dengan tempat
penggembalaan yang lama, betapapun sakitnya.
Jangan diganti terlalu cepat. – Sebagian orang merasa bahwa gembala jemaat yang
baru harus segera memikul seluruh tanggungjawab sesudah gembala jemaat yang lama pergi.
Tetapi, penelitian menunjukkan bahwa perlu kira-kira tiga bulan sebelum jemaat siaop untuk
menyambut gembala jemaat yang baru. Masa sementara ini bemberikan waktu bagi anggota
jemaat untuk memisahkan mereka secara emosional dari keluarga gembala jemaat yang lama.
Masa itu juga memberikan kesempatan unik kepada kepemimpinan awam di distrik itu yang
selama ini tersembunyi. Sementara itu juga, anggota jemaat menemukan kembali kebutuhan
mereka untuk digembalakan.
Sesuaikan program gereja kepada bakat-bakat gembala jemaat. – Tidak ada
gembala jemaat yang ahli dalam segala hal. Ketrampilan yang diharapkan terlalu banyak dan
terlalu beragam. Sebagai contoh, pada salah satu ujung spektrum gembala jemaat diharapkan
menjadi seorang ahli teologia dan pengkhotbah Alkitab. Hal ini membutuhkan kecintaan pada
buku-buku, sebagai rujukan untuk belajar secara pribadi. Sedangkan pada ujung lain,
gembala diharapkan menjadi penasihat, pelawat dan promotor. Hal ini membutuhkan
kepribadian yang bertolak belakang – seorang yang suka berteman dengan banyak orang dan
ramah. Tidak ada seorangpun gembala jemaat yang bisa memenuhi kedua peran ini sekaligus
dengan sempurna.
Kecuali jemaat membolehkan gembala jemaat memusatkan perhatian pada bagian-
bagian kekuatannya, dia pasti akan memakai paling banyak waktunya pada bagain-
bagian kelemahannya, melakukan perkara-perkara yang kurang disukainya. Ini bukan saja
membuat pekerjaan gembala itu kurang memenuhi syarat, tetapi menghilangkan yang terbaik
yang bisa diberikannya kepada gereja.
Apakah gembala jemaat yang baru harus segera mengadakan perubahan organisasi
dalam distriknya? Kerjasama jemaat dalam melakukan perubahan dalam sebuah
penggembalaan yang baru sering lebih besar selama masa “bulan madu” gembala jemaat
yang baru. Namun, tanpa pengetahuan yang cukup mengenai distrik, gembala jemaat yang
baru sangat sulit menentukan perubahan apa yang diperlukan.
Jalan tengah yang efektif ialah memulai dengan memeriksa sendiri gereja. Ketahuilah
latar belakangnya, kekuatannya dan kelemahannya. Bagaimanakah bisa engkau
mempersalahkan jemaat tidak mendukungmu dalam pelayananmu sementara engkau sendiri
belum mengatakan kepada mereka jenis peran pelayanan apa yang engkau kehendaki, hal-hal
yang paling baik engkau lakukan dan hal-hal yang paling engkau sukai? Jangan terlalu takut
mengakui kelemahanmu. Bagaimanapun juga mereka akan mengetahuinya. Dan mereka akan
mengampunimu lebih dini jika mereka mengetahui bahwa engkau juga menyadari akan hal
itu.
Alkitab menyamakan gereja dengan tubuh. “Sebab sama seperti pada satu tubuh kita
memiliki banyak anggota, tetapi tidak semua anggota itu memiliki tugas yang sama,
demikianlah juga kita, walaupun banyak, yaitu satu tubuh di dalam Kristus; tetapi kita
masing-masing yaitu anggota yang seorang terhadap yang lain” (Rm. 12:4, 5). Gembala
jemaat harus berhenti mewakili seluruh tubuh. Engkau hanya salah satu dari padanya.
Bilamana ada kelemahan di satu bagian tubuh, maka yang lainnya mengimbangi. Sebagai
contoh, bilamana mata tidak bisa melihat, maka indera pendengaran dan indera perasa
ditingkatkan untuk mengimbangi kelemahan itu. Demikianlah juga halnya, bilmana gembala
jemaat lemah dalam salah satu tugas, yang umum dilakukan ialah mengecamnya; yang
Kristiani dilakukan ialah mengimbanginya.
Seperti Harun dan Hur menopang tangan Musa (Kel. 17:12), demikianlah ketua-
ketua gereja setempat harus mendukung tangan gembala jemaat. Mereka harus memimpin
dalam memeriksai apa yang dikehendaki gereja dilakukan dan apa yang engkau, sebagai
gembalajemaat yang baru, paling baik lakukan dan tidak lakukan. Mereka harus
mengidentifikasi kekuatanmu dan membiarkanmu utama dalam hal itu. Mereka harus
menolongmu dalam mendelegasikan tugas-tugas lain di antara anggota-anggota dalam jemaat
yang memiliki bakat dalam bidang-bidang lain yang diperlukan.
Teorinya sederhana dan baik, tetapi pelaksanaannya mungkin lain. Engkau mungkin
merasakan masalah yang paling besar dalam sebuah jemaat ialah menemukan seseorang
untuk memimpin dalam bidang-bidang di mana jemaat sebelumnya mengharapkan gembala
jemaat yang memimpinnya. Tidak perlu demikian. Salah satu alasan mengapa orang terbaik
dalam jemaat tidak mau menerima tanggungjawab ialah ketidaksediaan gembala untuk
memberikan wewenang. Hanya pemimpin-pemimpin yang lemah dan bodoh yang akan
menerima tanggungjawab tanpa wewenang yang diperlukan untuk melaksanakan tugas itu.
Sebagai gembala jemaat engkau yaitu pemimpin utama dalam gereja. Tetapi engkau
harus mengalahkan keinginan untuk menahan pengendalian atas setiap bidang pelayanan
gereja. Melepaskan suatu bidang kelemahan pribadi berarti mempercayakannya kepada
seseorang yang lain – bukan pekerjaan mudah bagi kebanyakan pendeta.
Rayakan yang baru. – Konferens/daerah misi dan jemaat harus membuat ritual
pelantikan gembala jemaat yang baru sebagai suatu peristiwa sangat penting. Sama seperti
satu ritual pernikahan yaitu suatu lambang penting yang dilakukan di depan umum
tentang terbentuknya sebuah rumah tangga baru, demikianlah juga halnya ritual pelantikan
seorang gembala jemaat yaitu suatu lambang penting yang dilakukan di depan umum
tentang terbentuknya satu penggembalaan yang baru.
Bedanya ialah bahwa pengantin bisa merencanakan sendiri pernikahannya. Gembala
jemaat tidak bisa merencanakan pelantikannya. Ketua-ketua atau para pemimpin jemaat lain
jangan melakukan sendiri ritual itu, oleh sebab gembala jemaat digaji dan ditugaskan oleh
konferens/daerah misi. Pejabat-pejabat konferens/daerah misi tidak boleh melakukannya
sendiri, seolah-olah mereka dengan sewenang-wenang memaksakan kehendak mereka kepada
jemaat. Jemaat yaitu satu warga , keluarga gereja. Utusan konferens/daerah misi
biasanya bukan anggota dari keluarga itu sehingga tidak mungkin ia menyambut gembala
yang baru ke dalam keluarga itu.
Terlalu sering pejabat konferens/daerah misi hanya memperkenalkan sepintas
keluarga gembala jemaat yang baru pada waktu hari Sabat pagi. Kemudian gereja
merencanakan satu acara sosial yang bersifat sekular untuk menyambut keluarga gembala
jemaat itu. Akan jauh lebih baik jika diadakan satu ritual pelantikan yang resmi dan
bersifat rohani. Dalam berbagai keadaan para gembala dan anggota gereja lain juga boleh ikut
diundang.
ritual Pelantikan Gembala Jemaat
Idealnya ritual pelantikan itu harus menjadi bagian dari perbaktian hari Sabat, pada
waktu mana kebanyakan anggota jemaat hadir. ritual yang dianjurkan dibawah ini
menekankan acara untuk memperkenalkan seluruh anggota keluarga gembala jemaat.
Keluarga gembala jemaat tertentu tidak menyukai acara pengungkapan kepada publik ini,
tetapi beberapa penekanan yang lebih sesuai harus dilakukan pada waktu menyambut seluruh
keluarga. Keluarga gembala jemaat, bukan gembala jemaat, yaitu orang yang kemungkinan
besar merasa kurang disambut.
Memperkenalkan utusan konferens/daerah misi. – Ketua jemaat memperkenalkan
utusan konferens/daerah misi yang selanjutnya akan memperkenalkan gembala jemaat yang
baru dan keluarganya.
Amanat utusan konferens/daerah misi. – Utusan konferens/daerah misi harus
menerangkan tujuan dari ritual pelantikan: untuk menolong mengadakan ikatan antara
gereja dan keluarga gembala jemaat dan untuk meresmikan tim baru gembala jemaat-gereja
untuk melayani warga . Pemimpin konferens/daerah misi juga harus memperkenalkan
masing-maasing anggota keluarga gembala jemaat, memberikan riwayat hidup singkat
masing-masing mereka. Pilihan tambahan lainnya: pemimpin konferens/daerah misi boleh
menyerahkan kepada gembala jemaat sebuah baki yang berisi lilin yang sedang menyala
untuk masing-masing gereja di distrik itu, dan kemudian ia menantang gembala jemaat yang
baru untuk memelihara terang itu terus bersinar dan menolong mereka agar semakin
bertambah banyak.
Kata sambutan dari ketua jemaat setempat. -- Ketua jemaat bewrbicara atas nama
jemaat untuk menyambut gembala jemaat. Seluruh keluarga gembala jemaat boleh diundang
ke panggung, di mana isteri ketua jemaat juga secara khusus menyambut isteri gembala
jemaat. Seorang pemimpin anak-anak, pemimpin pemuda atau seorang guru sekolah gereja
dari jemaat bisa menyambut anak-anak gembala jemaat.
Bacaan bersahutan (litani)
Kertua jemaat : Pada hari ini kita membuka lembaran baru sejarah gereja
kita – permulaan dari penggembalaan yang baru.
Anggota jemaat : Kita telah menerima karunia dari Allah, yang telah
melengkapi kita kepada pelayanan, dan memberikan
gembala yang baru untuk memimpin, melatih dan
mendorong kita.
Keluarga gembala : Kami datang untuk melayani kamu untuk meninggikan
Yesus Kristus, yang bersama-sama kita bisa bertumbuh.
Anggota jemaat : Kami mengundangmu untuk menuntun kami dalam
perjalanan kami bersama Allah.
Keluarga gembala : Kami memerlukan kasihmu sementara kami menjadi
keluarga gereja ini.
Anggota jemaat : Kami rindu untuk memilikimu menjadi bagian dari
keluarga kami, dan kami membuka hati kami kepadamu.
Utusan konferens/
daerah misi (kepada
gembala) : Allah telah memberikan kepadamu tantangan untuk
memimpin orang-orang ini dalam persediaan mereka
kepada kedatangan Tuhan Yesus Kristus.
Gemala : Saya menerima tantangan ini. Dengan pertolongan Allah,
saya berjanji untuk selalu meninggikan Dia dengan
sekuat tenagaku.
Utusan konferens/
daerah misi : Sebagai gereja, engkau menghadapi tantangan untuk
menyampaikan kabar Injil kepada warga mu.
Anggota jemaat dan
Gembala jemaat : Kami menerima tantangan ini untuk menyampaikan
Kristus yang hidup melalui hidup kami dan pelayanan
kami.
Semuanya : Kami berjanji, di hadapan Kristus dan di hadapan
masing-masing kami pada hari ini, untuk menempatkan
Kristus yang pertama, memohon tuntunan Roh-Nya, dan
bekerja bersama-sama untuk mempercepat kedatangan-
Nya.
Doa pelantikan. – Keluarga gembala jemaat boleh menghadap anggota-anggota
jemaat dengan diapit oleh utusan konferens/daerah misi dan ketua jemaat. Ketua-ketua lain
dan para pimpinan gereja boleh diundang maju ke depan untuk membentuk rantai manusia
mulai dari gembala jemaat dan ketua jemaat di panggung sampai ke bangku pertama gereja.
Setiap orang, termasuk seluruh a

