Tentang hewan 2
bumi, niscaya yang di langit akan mengasihi
kalian. Hubungan kekeluargaan yaitu rangkaian
dari Allah; barang siapa menyambung tali sila-
turahmi niscaya Allah akan menyambungnya
(dengan rahmat-Nya), dan barang siapa memutus
tali silaturahmi maka Allah akan memutusnya (dari
rahmat-Nya). (Riwayat at-Tirmiżi dari Ibnu ‘Amr)
Selain itu, Nabi mengajarkan
bahwa sikap dan tindakan manusia
terhadap binatang akan menentukan
nasib mereka di akhirat, sebagaimana
diriwayatkan dalam dua kesempatan
terpisah berikut.
، َماَتْت َحتَّى َسَجنَْتَها ٍة ِهرَّ ِفْ اْمَرَأٌة َبِت ُعذِّ
َفَدَخْلِت َالنَّاَر فِيَها ، الَ ِهَي َأْطَعَمْتَها َوَسَقْتَها إِْذ
ِهَي َحَبَسْتَها ، َوالَ ِهَي َتَرَكْتَها َتْأُكُل ِمْن َخَشاِش
البخاري ومسلم عن عبد اهلل األَْرِض . )رواه
بن عمر(
Seorang wanita disiksa Allah (pada hari kiamat)
lantaran mengurung seekor kucing sehingga
kucing itu mati. sebab itu Allah memasukkannya
ke neraka. Kucing itu dikurungnya tanpa diberi
makan dan minum, dan tidak pula dilepaskannya
supaya kucing itu makan serangga-serangga bumi
(dengan sendirinya). (Riwayat al-Bukhāri dan
Muslim dari ‘Abdullāh bin ‘Umar)
اْلَعَطُش َعَلْيِه اْشَتدَّ بَِطِرْيٍق َيْمِشْ َرُجٌل َبْينََم
َفإَِذا َخَرَج ُثمَّ ، َب َفَشِ فِْيَها َفنََزَل بِْئًرا َفَوَجَد ،
َفَقاَل ، اْلَعَطِش ِمَن الثََّرى َيْأُكُل َيْلَهُث َكْلٌب
ِمْثَل اْلَعَطِش ِمَن اْلَكْلَب َهَذا َبَلَغ َلَقْد : ُجُل الرَّ
ُه َماًء ، ِذْي َكاَن َبَلَغ ِمنِّْي . َفنََزَل اْلبِْئَر َفَمأَل ُخفَّ الَّ
ُثمَّ َأْمَسَكُه بِِفْيِه َحتَّى َرِقَي َفَسَقى اْلَكْلَب َفَشَكَر
اهللُ َلُه َفَغَفَر َلُه . َقاُلوا : َيا َرُسْوَل اهللِ َوإِنَّ َلنَا ِفْ
َرْطَبٍة َكبٍِد ُكلِّ ِفْ : َفَقاَل ؟ ألَْجًرا اْلَبَهاِئِم َهِذِه
َأْجٌر . )رواه البخاري ومسلم عن أب هريرة(
Ada seorang pria yang sedang berjalan, lalu
ia merasakan haus yang sangat. lalu ia
mendapati sebuah sumur, lalu ia mendekatinya
dan minum dari air sumur ini . Ia pun beranjak
meninggalkan sumur, saat tiba-tiba ia mendapati
seekor anjing yang menjulur-julurkan lidahnya
menjilati tanah akibat kehausan. Pria itu berkata,
“Anjing ini benar-benar kehausan seperti yang aku
alami tadi.” Maka ia turun (kembali) ke sumur tadi,
dan diisinya sepatunya dengan ait. Ia memegangi
sepatunya dan menuangkan air di dalamnya ke
mulut anjing itu hingga rasa hausnya hilang. Anjing
itu pun bersyukur kepada Allah atas bantuan pria
tadi, dan sebab nya Allah pun mengampuni pria itu.
Para sahabat bertanya kepada Rasulullah, “Wahai
Rasulullah, apakah kita akan dapat pahala dengan
berbuat baik kepada hewan?” Beliau menjawab,
“(Perbuatan baik kalian) kepada setiap makhluk
yang bernyawa pasti diberi pahala.” (Riwayat al-
Bukhāri dan Muslim dari Abū Hurairah)
Rasulullah melarang manusia
berlaku kejam terhadap binatang, salah
satunya dengan mengadu satu dengan
lainnya. Dengan demikian, adu domba
dan sabung ayam, misalnya yaitu hal
yang diharamkan oleh agama. Lomba
melukai hewan, misalnya pertarungan
antara banteng dan matador, yaitu
sama kejinya dengan mengadu hewan,
19Pandangan Islam tentang Hewan
dan sebab nya juga diharamkan. De-
mikian pula membunuh binatang
untuk sekadar mencari kesenangan.
Mari kita perhatikan hadis berikut.
ُه َدَخَل َعَل َيَْيى َعِن اْبِن ُعَمَر َرِضَ اهللُ َعنُْهَم ، َأنَّ
َدَجاَجًة َرابٌِط َيَْيى َبنِْي ِمْن َوُغاَلٌم ، َسِعيٍد ْبِن
ُثمَّ َها ، ُعَمَر َحتَّى َحلَّ اْبُن إَِلْيَها َفَمَشى َيْرِميَها ،
َأْقَبَل ِبَا َوبِاْلُغاَلِم َمَعُه ، َفَقاَل : اِْزِجُرْوا ُغاَلَمُكْم
َسِمْعُت ْ َفإيِنِّ ، لِْلَقْتِل ْيَ الطَّ َهَذا َيْصِبَ َأْن َعْن
َبِْيَمٌة ُتْصَبَ َأْن َنَى َم َوَسلَّ َعَلْيِه اهللُ النَّبِيَّ َصلَّ
عن ومسلم البخاري )رواه . لِْلَقْتِل َها َغْيُ َأْو
ابن عمر(
Diriwayatkan dari Ibnu ‘Umar, bahwa pada suatu
hari ia bertandang ke rumah Yaĥyā bin Sa‘īd. Di sana
ia mendapati seorang bocah yang merupakan salah
satu anak Yaĥyā sedang mengikat seekor ayam dan
melemparinya dengan batu. Ibnu ‘Umar bergegas
mendekati ayam ini dan melepaskan ikatan-
nya. Beberapa saat lalu ia menemui Yaĥyā
sambil memegang ayam dan memegang bocah
tadi. Ia berkata, “Laranglah anakmu dari mengikat
hewan ini untuk dibunuhnya! Sungguh, aku
mendengar bahwa Rasulullah melarang mengikat
binatang atau makhluk hidup lainnya untuk tujuan
dibunuh.” (Riwayat al-Bukhāri dan Muslim dari
Ibnu ‘Umar)
Bila etika menyembelih hewan
sudah dijelaskan dengan cukup rinci
dalam banyak hadis, tidak demikian
adanya pemanfaatan hewan sebagai
objek percobaan/penelitian. Untuk
mengetahui hukum hal ini kita
memerlukan kaidah-kaidah yang ada
di dalam disiplin ilmu fikih. Fikih yang
merupakan ilmu yang menuntun umat
Islam dalam menentukan hukum suatu
persoalan, apakah diperbolehkan atau
dilarang. berdasar kajian-kajian
fikih diperoleh keputusan bahwa
jika eksperimen pada hewan ber-
tujuan memperoleh pengetahuan
yang benar-benar bermanfaat bagi
kehidupan manusia dan/atau makhluk
lainnya, maka eksperimen ini
dapat disetujui; tidak bila didasarkan
pada alasan yang tidak demikian.
Terkait pemakaian hewan seba-
gai objek eksperimen, fikih memberi
rambu-rambu sebagai berikut.
1. Menjadikan hewan sebagai
objek eksperimen yang bersifat
menyakiti, dan tindakan-tindak-
an lain yang mengakibatkan
kebutaan atau cacat semisalnya
pada hewan, hukumnya haram;
2. Pengujian obat-obatan kepada
hewan, sebelum obat itu dinya-
takan aman bagi manusia, hu-
kumnya boleh;
3. Menjadikan hewan sebagai objek
eksperimen yang sembarangan
dan tanpa tujuan yang jelas
hukumnya haram.
Selain membicarakan hewan
peliharaan yang jinak, Al-Qur'an juga
menyebut binatang liar. Meski hanya
disebut sebanyak satu kali, yaitu
pada Surah at-Takwīr/81: 5, namun
penyebutannya tergolong unik. Itu
sebab hewan liar disebut dalam
rangkaian kejadian-kejadian yang di-
gambarkan terjadi pada hari kiamat.
di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama.
Sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Maha
Pengampun. (Fāţir/35: 28)
Beberapa jenis binatang disebut-
kan secara spesifik dalam Al-Qur'an,
di antaranya sapi. Bahkan, hewan ini
terkadang disebut lebih spesifik lagi,
misalnya dengan sebutan anak sapi,
sapi betina, atau sapi jantan. Anak
lembu disebut dalam kisah Nabi Musa
saat membawa Bani Israil keluar dari
Mesir. Dikisahkan, dalam perjalanan
keluar Mesir mereka mengalami
pergeseran kepercayaan, dengan
menyembah patung anak sapi. Inilah
bukti kekufuran Bani Israel terhadap
ajaran Allah.
jika matahari digulung, Dan jika bintang-
bintang berjatuhan. Dan jika gunung-gunung
dihancurkan. Dan jika unta-unta yang bunting
ditinggalkan (tidak diperdulikan). Dan jika
binatang-binatang liar dikumpulkan. Dan jika
gunung-gunung dihancurkan. (at-Takwīr/81: 1-5)
Dalam ayat-ayat yang lain hewan
liar lebih sering dinyatakan sebagai
“binatang melata” atau “binatang
yang berjalan di perutnya”. Hal ini
dapat kita lihat di antaranya dalam
Surah Faţīr/35: 28 berikut, di mana
binatang melata disandingkan dengan
binatang ternak.
Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-
binatang melata dan binatang-binatang ternak
ada yang bermacam-macam warnanya (dan
jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah
Sesungguhnya Musa telah datang kepadamu
membawa bukti-bukti kebenaran (mukjizat),
lalu kamu jadikan anak sapi (sebagai sem-
bahan) sesudah (kepergian)nya, dan sebenar-
nya kamu yaitu orang-orang yang zalim. Dan
(ingatlah), saat Kami mengambil janji dari kamu
dan Kami angkat bukit (Thursina) di atasmu (seraya
Kami berfirman), ‘Peganglah teguh-teguh apa
yang Kami berikan kepadamu dan dengarkanlah!.
Mereka menjawab: ‘Kami mendengar namun tidak
mentaati’. Dan telah diresapkan ke dalam hati
mereka itu (kecintaan menyembah) anak sapi
sebab kekafirannya. Katakanlah, ‘Amat jahat
perbuatan yang telah diperintahkan imanmu
kepadamu jika betul kamu beriman (kepada
Taurat). (al-Baqarah/2: 92-93)
Anak lembu juga muncul dalam
Surah al-�Ādiyāt/100: 26 dalam kisah
Ibrahim; dan mimpi raja pada Surah
Yūsuf/12: 43 dalam kisah Yusuf.
Sementara itu kambing (betina)
muncul dalam Al-Qur'an dalam kisah
Nabi Daud (Șād/38: 23–24). Hal yang
ditekankan dalam kisah ini yaitu
kejujuran dalam bekerja sama antara
dua belah pihak atau lebih, dengan
ilustrasi kambing sebagai komoditas-
nya. Babi disebut dalam Surah al-
Baqarah/2: 173 dan al-Mā'idah/5: 3,
yang memastikan keharaman mengon-
sumsinya. Adapun rincian mengenai
halal-haramnya daging, baik daging
binatang liar (yang diburu) maupun
binatang ternak (yang disembelih),
serta status dan cara kematiannya,
dibahas dalam Surah al-Mā'idah/5: 3
berikut.
Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah,
daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas
nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul,
yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang
buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya,
dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk
berhala. dan (diharamkan juga) mengundi nasib
dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak
panah itu) yaitu kefasikan. pada hari ini orang-
orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan)
agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada
mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini
telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu,
dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan
telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka
barang siapa terpaksa sebab kelaparan tanpa
sengaja berbuat dosa, Sesungguhnya Allah Maha
Pengampun lagi Maha Penyayang. (al-Mā'idah/5:
3)
Keledai muncul dalam Al-Qur'an
sebagai permisalan orang yang buruk
suaranya (Luqmān/31: 19) dan panik
sebab dikejar singa (al-Muddaššir/74:
50–51). Hewan ini juga disebut ber-
sama bagal dan kuda pada ayat yang
berbicara tentang banyaknya ciptaan
Allah yang tidak diketahui manusia
(an-Naĥl/16: 8). Kuda muncul di
banyak ayat, baik sebagai tamsil atas
Dan Apakah mereka tidak memperhatikan burung-
burung yang mengembangkan dan mengatupkan
sayapnya di atas mereka? tidak ada yang mena-
hannya (di udara) selain yang Maha Pemurah.
Sesungguhnya Dia Maha melihat segala sesuatu.
(al-Mulk/67: 19)
Penelitian menemukan bagai-
mana beberapa jenis burung mempe-
ragakan kesempurnaannya dalam peri-
laku pergerakannya, misalnya dalam
bermigrasi. Program migrasi sudah ada
dalam kode genetika burung, dan itu
menjelaskan bagaimana burung muda
yang tak berpengalaman pun dapat
bermigrasi dengan benar dan kembali
lagi pada waktu yang sepertinya sudah
dijadwalkan sebelumnya.
kekayaan (Āli ‘Imrān/3: 14), sebagai
tunggangan yang tangguh (Șād/38:
31–32; al-‘Ādiyāt/100: 1–2), maupun
sebagai komoditas dalam hukum
yang mengatur harta rampasan (al-
Ĥasyr/59: 6)
Unta disebut di banyak ayat
misalnya sebagai padanan orang
yang rakus (al-Wāqi‘ah/56: 55); unta
juga disebut dalam kisah Salih (asy-
Syu‘arā'/26: 155; asy-Syams/91: 13–14),
sebagai komoditas dalam hukum yang
mengatur pengaturan harta rampasan
(al-Ĥasr/59: 6); sebagai permisalan api
neraka yang menyerupai iringan unta
kuning (al-Mursalāt/77: 33). Unta juga
disebut berkaitan dengan perihal hari
kiamat (at-Takwīr/81: 4) dan perihal
penciptaan (al-Gāsyiyah/88: 17)
Burung yaitu hewan yang juga
banyak disebut dalam Al-Qur'an. Ia
disebut dalam mukjizat Nabi Isa (Āli
‘Imrān/3: 49; al-Mā'idah/5: 110); dalam
penyebutan komunitas dalam binatang
(al-An‘ām/6: 38); pemujaan dan keta-
atan terhadap Allah (an-Nūr/24: 41;
Saba'/37: 10; Șād/38: 19; al-Mulk/67:
19); dalam kisah peperangan melawan
gajah (al-Fīl/105: 3); dan perihal kehi-
dupan di surga (al-Wāqi‘ah/56: 21).
Beberapa ayat di antaranya bahkan
sudah lebih rinci dengan menyebut
jenis burung, seperti gagak dalam
kisah Habil dan Qabil (al-Mā'idah/5:
31) dan puyuh dalam kisah pelarian
Nabi Musa dari Mesir (al-Baqarah/2:
57; al-A‘rāf/7: 160; Tāhā/20: 80). Salah
satu ayat yang menyebut burung
bahkan bisa jadi memberi referensi
mengenai salah satu perilakunya yang
spektakuler, yaitu migrasi. Migrasi
yaitu perpindahan populasi jenis
hewan dalam jumlah besar ke tempat
lain, dan kembali lagi ke tempat
semula, untuk berbagai maksud, di
antaranya menghindari musim dingin,
mencari ketersediaan pakan, melaku-
kan perkawinan, mengasuh anak, dan
masih banyak lagi. Allah berfirman,
23Pandangan Islam tentang Hewan
Seperti hewan-hewan yang dise-
but sebelumnya, ikan juga disebut
dalam Al-Qur'an. Ikan muncul dalam
kisah pertemuan antara Nabi Musa
dan Nabi Khidir (al-Kahf/18: 61, 63) dan
dalam kisah Nabi Yunus (aș-Șāffāt/37:
142). Serangga juga tidak luput dari
perhatian Al-Qur'an. Beberapa jenis
serangga disebutkan di sana, seperti
nyamuk (al-Baqarah/2: 26) dan lalat (al-
Ĥajj/22: 73), dua hewan mungil namun
tidak seorang pun dapat membuatnya;
lebah dan perikehidupannya (an-
Naĥl/16: 68-69); belalang yang menjadi
perumpamaan kondisi makhluk pada
Hari Kebangkitan (al-Qamar/54: 7).
Belalang juga disebut bersama-sama
dengan bangkai, darah, kutu, dan katak
sebagai mukjizat Nabi Musa untuk
menghukum Firaun dan penduduk
Mesir (al-A‘rāf/7: 133). Rayap juga
disebut dalam kisah wafatnya Nabi
Sulaiman (Saba'/34: 14). Laba-laba juga
demikian; ia dijadikan perumpamaan
rumah yang mengkhawatirkan (al-
Ankabūt/29: 41).
Ular banyak muncul dalam kisah
Nabi Musa saat berhadapan dengan
Firaun dan penyihir-penyihirnya (Tāhā/
20: 20; an-Naml/27: 10; al-Qașaș/28: 31).
Pada dasarnya hewan diciptakan
untuk memenuhi keperluan manusia,
demikianlah pesan yang dapat disari-
kan dari berbagai ayat. Burung puyuh,
misalnya, menjadi pasokan makanan
bagi Bani Israil dalam pengembaraan
mereka di Gurun Sinai pada masa Nabi
Musa (al-Baqarah/2: 57). Binatang ter-
nak pun diciptakan untuk memenuhi
kebutuhan manusia akan pangan,
papan, sandang, dan transportasi (al-
An‘ām/6: 142; an-Naĥl/: 5–8, 66-69, 80;
al-Ĥajj/: 36; Muĥammad/: 21–22; Yāsīn/:
71–73; Gāfir/: 79–80)
Ayat yang berbicara tentang
berbagai binatang dalam bentuk meta-
fora banyak ditemui dalam Al-Qur'an.
Orang kafir misalnya di-umpamakan
binatang yang mengabaikan panggilan
penggembalanya. Allah berfirman,
Perumpamaan bagi (penyeru) orang yang kafir
yaitu seperti (penggembala) yang meneriaki
(binatang) yang tidak mendengar selain panggilan
dan teriakan. (Mereka) tuli, bisu dan buta, maka
mereka tidak mengerti. (al-Baqarah/2: 171)
Hewan juga dijadikan tamsil bagi
manusia dan jin yang lalai dan tidak mau
membuka hatinya untuk menerima
ayat-ayat Allah. Allah berfirman,
Dan sungguh, akan Kami isi neraka Jahanam
banyak dari kalangan jin dan manusia. Mereka
memiliki hati, namun tidak dipergunakannya
untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka
memiliki mata (namun ) tidak dipergunakannya
untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan
mereka memiliki telinga (namun ) tidak dipergu-
nakannya untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah).
Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat
lagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah. (al-
A‘rāf/7: 179)
Allah telah berjanji akan mema-
sukkan mereka yang mirip hewan ini
ke dalam neraka.
dan Jahannam yaitu tempat tinggal mereka.
(Muĥammad/47: 12)
Allah mengutuk mereka yang
mengabaikan firman-Nya menjadi babi
dan kera, sebagaimana dinyatakan
dalam Surah al-Baqarah/2: 65 dan al-
Mā'idah/5: 60. Mereka yang menolak
tanda-tanda yang diberikan Allah dium-
pamakan seperti anjing, sebagaimana
dinyatakan dalam Surah al-A‘rāf/7: 176.
Demikianlah uraian mengenai
pandangan Islam terhadap hewan,
dan bagaimana Al-Qur'an tidak mele-
watkan begitu saja penyebutan
beberapa jenis hewan di dalam ayat-
ayatnya. Uraian singkat ini menjadi
pembukaan untuk melihat pola
hubungan antara Islam dan hewan,
baik yang masih liar maupun yang
sudah didomestikasi manusia; suatu
pola hubungan yang diatur dalam Al-
Qur'an dan hadis Rasulullah. []
Sesungguhnya Allah memasukkan orang-orang
mukmin dan beramal saleh ke dalam jannah
yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. dan
orang-orang kafir bersenang-senang (di dunia)
dan mereka Makan seperti makannya binatang.
HEWAN DALAM AL-QUR'AN
Banyak hewan yang disebut
dalam Al-Qur'an. Sebagian
darinya dijadikan perumpa-
maan atau tamsil, dan sebagian lagi
memberi sedikit penjelasan mengenai
perikehidupannya. Penyebutan ini ber-
tujuan agar manusia dapat memahami
pesan Allah dan mempelajarinya demi
kepentingan manusia sendiri. Hewan-
hewan yang disebut dalam Al-Qur'an di
antaranya yaitu semut (an-Naml/27:
18), Kera (al-Baqarah/2: 65), keledai
(Luqmān/31: 19, lebah (an-Naĥl/16:
68-69), unta (al-Gāsyiyah/88: 17), sapi
(al-Baqarah/2: 71), kambing betina
(Șād/38: 23-24), burung gagak (al-
Mā'idah/5: 31), anjing (al-A‘rāf/7: 76),
gajah (al-Fīl/105: 1), ikan (aș-Șāffāt/37:
142), lalat (al-Ĥajj/22: 73), katak (al-
A‘rāf/77: 133), kuda (an-Naĥl/16: 8),
singa (al-Muddaššir/74: 50-51), belalang
(al-Qamar/54: 7), ular (asy-Syu‘arā'/26:
32), domba (al-An‘ām/6: 143), laba-laba
(al-Ankabūt/29: 41), babi (al-Baqarah/2:
173) dan masih banyak lagi. Selain
menyebut hewan tertentu dengan
nama spesifiknya, Al-Qur'an terkadang
hanya menyebut kelompoknya, se-
perti kelompok hewan ternak (az-
Zumar/39: 6), kelompok hewan liar
(al-Mā'idah/81: 1-6), atau kelompok
hewan melata (asy-Syūrā/42: 29).
Tidak hanya menyebut nama-
nama atau jenis-jenis hewan, hal-hal
yang berkaitan dengan perikehidupan
hewan juga tidak luput dari perhatian
Al-Qur'an. Migrasi burung (al-Mulk/67:
19) dan kemampuan hewan untuk
berkomunikasi satu dengan lainnya
(an-Naml/27: 17-18) yaitu beberapa di
antaranya. Salah satu tujuannya yaitu
agar manusia berusaha memahami
perikehidupan hewan dengan baik,
dan dengan demikian dapat mengem-
bangkan ilmu pengetahuan. Tujuan
yang sama itu pula yang Allah inginkan
tatkala menyebut dalam firman-Nya air
susu sapi (an-Naĥl/16: 66) dan adanya
simbiosis pada hewan dan tumbuhan
(Ţāhā/20: 50).
Al-Qur'an dan hadis juga banyak
berbicara mengenai hak hewan dan
etika manusia dalam memperlakukan
hewan, baik hewan liar maupun jinak.
Dua hal ini diatur dengan sangat
rinci, sehingga tidak seharusnya lagi
terjadi pelanggaran atas hak hewan
seperti jamak kita saksikan belakangan
ini, mulai dari adu hewan, perlakuan tak
manusiawi terhadap hewan sebelum
dipotong (misalnya menggelonggong
sapi), hingga menjadikan hewan seba-
gai objek percobaan untuk hal-hal
yang tidak sama sekali terkait dengan
kesehatan dan kesejahteraan manusia.
Tema ini akan diuraikan di
dalam bab-bab berikut. Sebagian
darinya akan diuraikan dengan rinci,
sedang yang lainya tidak.
A. REPTIL DAN AMFIBI
Jenis reptil (seperti ular dan kadal)
dan amfibi (seperti katak) oleh Al-
Qur'an disebut sebagai dābbah, ad-
dawāb, atau man yamsyī ‘alā bațnih,
sebutan yang lazim diterjemahkan
ke dalam bahasa Indonesia menjadi
“binatang melata” atau “hewan yang
berjalan di atas perutnya”. Sebutan ini
paling tidak dapat kita jumpai dalam
Al-Qur'an sebanyak enam kali, yakni
dalam firman-firman Allah berikut.
Tidakkah engkau tahu bahwa siapa yang ada
di langit dan siapa yang ada di bumi bersujud
kepada Allah, juga matahari, bulan, bintang,
gunung-gunung, pohon-pohon, hewan-hewan
yang melata dan banyak di antara manusia? namun
banyak (manusia) yang pantas mendapatkan azab.
Barangsiapa dihinakan Allah, tidak seorang pun
yang akan memuliakannya. Sungguh, Allah berbuat
apa saja yang Dia kehendaki. (al-Ĥajj/22: 18)
Dan Allah menciptakan semua jenis hewan dari air,
maka sebagian ada yang berjalan di atas perutnya
dan sebagian berjalan dengan dua kaki, sedang
sebagian (yang lain) berjalan dengan empat
kaki. Allah menciptakan apa yang Dia kehendaki.
Sungguh, Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.
(an-Nūr/24: 45)
Dan demikian (pula) di antara manusia, makhluk
bergerak yang bernyawa dan hewan-hewan
ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan
jenisnya). Di antara hamba-hamba Allah yang takut
kepada-Nya, hanyalah para ulama. ) Sungguh, Allah
Mahaperkasa, Maha Pengampun. (Fāţir/35: 28)
Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya yaitu
penciptaan langit dan bumi dan makhluk-makhluk
yang melata yang Dia sebarkan pada keduanya.
Dan Dia Mahakuasa mengumpulkan semuanya
jika Dia kehendaki. (asy-Syūrā/42: 29)
Dan pada penciptaan dirimu dan pada makhluk
bergerak yang bernyawa yang bertebaran (di
bumi) ada tanda-tanda (kebesaran Allah)
untuk kaum yang meyakini. (al-Jāšiyah/45: 4)
Dan tidak satupun makhluk bergerak (bernyawa) di
bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya.
Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat
penyimpanannya. ) Semua (tertulis) dalam Kitab
yang nyata (Lauh Mahfuz). (Hūd/11: 6)
Ayat-ayat ini berbicara mengenai
salah satu ciptaan-Nya, yakni kelompok
reptil dan sedikit amfibi. Reptil yaitu
satu kelas dari kerajaan binatang yang
terdiri atas ular, kadal, penyu, buaya,
dan tuatara.
Tuatara (Sphenodon punctatus)
yaitu jenis reptil langka serupa kadal
yang hidup hanya di beberapa pulau
kecil di sekitar Selandia Baru. Reptil
ini disebut fosil hidup sebab sisa dari
kelompoknya sudah punah jutaan
tahun lalu. Soal mengapa mereka
masih bertahan hidup hingga masa
kini, tidak ada yang tahu jawabannya.
Baru sedikit perikehidupan tuatara
yang diketahui.
Sementara itu, ular diperkirakan
terdiri dari sekitar 2.500 jenis. Ular
hidup menyebar di kawasan yang
panas. Jenis ular sangat variatif, dari
yang tidak berbahaya bagi manusia
hingga yang memiliki bisa mematikan.
Warnanya pun beragam, dari yang
polos hingga yang berwarna-warni
indah. Ukuran ular juga beragam,
dari yang hanya berukuran kurang
dari 10 cm sampai hingga yang me-
lebihi 17 meter. Persepsi manusia
terhadap ular juga bervariasi; sebagian
manusia memujanya dan sebagian
yang lain begitu membencinya dan
menyamakannya dengan iblis.
Dengan begitu banyaknya jenis
binatang mengagumkan yang dicip-
takan Allah, mengapa Dia mencip-
takan mahluk yang “berjalan di atas
perutnya?” Jawabannya tentu saja
sebab makhluk ini memiliki peran
tersendiri dalam rantai makanan,
dengan memakan tikus, kadal, dan
sejenisnya, dan lalu berbalik
menjadi mangsa bagi binatang lain.
Ada empat cara unik ular berge-
rak, yaitu: (1) mengelokkan badan,
biasa disebut cara “serpentine”; (2)
menekankan tubuh ke tanah dan
bergerak maju dengan memakai
Gambar 2–3
Tuatara (Sphenodon punctatus). (Sumber: archive.kaskus. co; earlham.edu)
29Hewan dalam Al-Qur'an
kinerja otot yang diciptakan khusus
untuk menunjang gerakan ini; (3) cara
“caterpillar”, yaitu menggerakkan kulit
dengan bantuan otot yang mengarah
maju-mundur—cara ini lazim diguna-
kan oleh ular-ular berukuran besar;
dan (4) memakai sisik perut yang
lebar untuk “memegang” bagian
tanah yang tidak rata dan maju lurus
ke depan. Kemampuan unik lain
yang diberikan kepada ular yaitu
caranya makan. Dengan fleksibilitas
sendi rahang bawahnya ular mampu
menelan mangsa berukuran jauh lebih
besar daripada ukuran kepalanya.
Ular perlu waktu yang relatif lama
untuk mencerna mangsanya dengan
sempurna. Ular sanca, misalnya, bisa
saja hanya makan satu kali dalam satu
tahun.
Kelompok lain yang memiliki
jenis hampir sama banyak dengan
ular yaitu kadal. Kelompok ini terdiri
dari sekitar 2.500 jenis. seperti halnya
ular, kelompok kadal memiliki variasi
bentuk dan warna yang sangat banyak.
Salah satu dari jenis kadal yaitu
bunglon. Hewan ini dapat merubah
warna kulitnya sesuai keperluan. Ia
juga dapat menggerakkan kedua
matanya secara terpisah; satu mata
untuk mengincar mangsa, dan yang
lain untuk mengawasi datangnya
pemangsa. Kadal secara umum ber-
jalan dengan empat kaki, namun
beberapa jenis di antaranya memiliki
bentuk tubuh mirip ular, tidak berkaki.
Beberapa jenis kadal dapat berlari
cepat di atas air memakai kedua
kaki belakangnya sebagai penopang
laju. Beberapa jenis lainnya bahkan
dapat melayang dengan bantuan
“sayap” berupa kulit yang melebar di
antara kaki depan dan belakangnya.
Jenis kadal yang memiliki ukuran
tubuh paling besar yaitu komodo.
Hewan ini dapat mencapai ukuran
panjang sampai 8 meter (10 feet) dan
berat 350 kilogram. Komodo yaitu
hewan yang berbahaya, dan sebab nya
Pulau Komodo di NTT merupakan
pulau yang tidak aman untuk ditinggali.
Tidak saja kehadiran komodo yang
membuat pulau ini berbahaya, namun
juga adanya beberapa jenis ular,
kalajengking, dan laba-laba beracun
dalam jumlah banyak.
Sedikit lebih kecil daripada ukur-
an komodo yaitu “gila monster”,
satu-satunya kadal beracun dari
kawasan gurun Amerika Utara.
Hewan ini hidup dari memakan telur
burung dan tikus. sebab kawasan
itu tidak menyediakan makanan
yang berlimpah, Tuhan memberinya
kemampuan menyimpan lemak pada
ekornya. Adapun kadal terkecil yaitu
tokek yang berasal dari Pulau Virgin.
Variasi bentuk dan warna yang
tinggi pada kelompok ular dan kadal
tidak hadir begitu saja tanpa arti. Ini
semua merupakan bukti betapa Allah
Mahakuasa. Allah berfirman,
Keanekaragaman bentuk dan warna kelompok kadal.
(Sumber: animalinformation.blogspot.com;
bukisa.com)
Dan (Dia juga mengendalikan) apa yang Dia
ciptakan untukmu di bumi ini dengan berbagai
jenis dan macam warnanya. Sungguh, pada
yang demikian itu benar-benar ada tanda
(kebesaran Allah) bagi kaum yang mengambil
pelajaran. (an-Naĥl/16: 13)
Hewan yang sangat berbeda
bentuknya, namun masih masuk
dalam kelompok reptil, yaitu kura-
kura atau penyu dan labi-labi. Ada 250
jenis kura-kura yang hidup di bumi,
mulai dari yang hidup di daratan
(hutan sampai padang pasir) hingga
yang hidup di perairan (laut, sungai,
danau). Hewan ini dilengkapi tempat
31Hewan dalam Al-Qur'an
berlindung berupa cangkang. Pada
beberapa jenis berat cangkang bahkan
dapat mencapai sekitar sepertiga
berat badannya. Cangkang berfungsi
melindungi kura-kura dari bahaya.
Begitu kura-kura memasukkan kepala
dan kakinya ke dalam cangkang, akan
sulit bagi pemangsa untuk meng-
ganggunya. Bentuk kaki kura-kura
bervariasi, bergantung pada tempat
hidupnya. Kura-kura Galapagos memi-
liki kaki yang kuat untuk berjalan,
sedang penyu laut memiliki kaki
yang berubah menjadi sirip untuk
berenang.
Hubungan antara manusia
dengan kura-kura sudah berlangsung
sejak lama. Pada banyak warga
kura-kura dipakai sebagai simbol
kekuatan, keteguhan hati, dan kebi-
jakan. Manusia pada umumnya
menyukai kura-kura, namun hal ini
membuat malah mendorong seba-
gian orang menangkapinya untuk
berbagai keperluan, dan merusak
habitatnya sehingga membuatnya ter-
ancam punah. Manusia seharusnya
mengapresiasi apa pun ciptaan Allah
dan selalu mengingat firman-Nya,
Dan tidak satupun makhluk bergerak (bernyawa) di
bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya.
Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat
penyimpanannya. Semua (tertulis) dalam Kitab
yang nyata (Lauh Mahfuz). (Hūd/11: 6)
Dari semua hewan reptil, buaya
yaitu yang paling ditakuti manusia.
Ada 22 jenis buaya yang dikenal sampai
saat ini. Buaya diperkirakan sudah ada
di bumi sejak 200 juta tahun lalu. Buaya,
sebagaimana kura-kura, sudah ada
pada masa dinosaurus. Meski tampak
kuno dan primitif, sebenarnya buaya
dan kura-kura yaitu jenis termaju di
antara semua reptil. Dalam hal sistem
peredaran darah, buaya lebih dekat
kepada burung daripada kadal.
Buaya membuat sarang dan
dikenal sangat perhatian kepada anak-
anaknya. Bila pada hewan yang lain
jenis kelamin calon anak ditentukan
oleh kromosom, maka tidak demikian
dengan buaya. Jenis kelamin mereka
tidak ditentukan saat masih dalam
bentuk telur. Suhu saat setengah waktu
pengeramanlah yang menentukannya.
Pada jenis American alligator, bila suhu
sarang tinggi maka telur akan menetas
menjadi anak jantan, dan menjadi
anak betina bila suhu sarang rendah.
Berbeda dari jenis ini, jenis crocodile
akan menghasilkan anak betina bila
suhu sarang tinggi atau rendah, dan
menetaskan anak jantan bila suhunya
sedang.
Kodok dan katak yaitu hewan
amfibi yang paling dikenal. Kelompok
ini biasa dianggap menjijikan tanpa
alasan yang jelas. Katak bertubuh
pendek, gempal atau kurus, dengan
punggung agak bungkuk. Katak umum-
nya berkulit halus, lembap, dengan
kaki belakang panjang, sedang
kodok atau bangkong berkulit kasar
berbintil, kering, dan dengan belakang
seringkali pendek saja, membuatnya
kurang pandai melompat jauh. Katak
dan kodok bermula dari telur yang
diletakkan di air, di sarang dari busa,
di lumut pohon yang basah, atau di
tempat basah lainnya, termasuk di
punggung katak jantan. Telur menetas
menjadi berudu atau kecebong yang
masih bernafas dengan insang selama
hidup di dalam air. Seiring waktu akan
tumbuh kaki belakang pada berudu
yang lalu disusul munculnya kaki
depan, dan pada akhirnya bernafas
dengan paru-paru.
Kodok dan katak menyebar luas,
terutama di daerah tropis. Jumlah
jenis hewan ini makin berkurang
jika lokasinya makin dingin, seperti
di atas gunung atau di daerah dengan
empat musim. Itu sebab binatang
ini termasuk hewan berdarah dingin
dan membutuhkan panas matahari
di lingkungan hidupnya. Hewan ini
dapat ditemui hidup mulai dari hutan,
padang pasir, sungai, rawa, sawah,
hingga lingkungan permukiman. Ia
memangsa berbagai jenis serangga,
dan dimangsa oleh ular, kadal, burung,
linsang, bahkan oleh manusia. Ia
membela diri secara fisik dengan
melompat, dan beberapa di antaranya
dengan melumuri tubuhnya dengan
lendir pekat yang lengket atau lendir
beracun.
Katak menjadi salah satu muk-
jizat Nabi Musa saat di Mesir. sesudah
Allah membekali Musa dengan banyak
mukjizat, seperti topan, serangan
belalang dalam jumlah yang sangat
banyak yang merusak pertanian,
kutu yang mengganggu kehidupan
warga Mesir, dan mengubah air
minum mereka menjadi darah, Allah
melengkapinya dengan munculnya
katak dalam jumlah sangat besar.
Katak tiba-tiba berlompatan begitu
saja di makanan penduduk Mesir,
memenuhi rumah dan area mereka
beraktivitas. Allah menjelaskan hal ini
dalam firman-Nya,
ini digambarkan apa yang terjadi saat
pertemuan antara Nabi Musa dan
Firaun.
Maka Kami kirimkan kepada mereka topan,
belalang, kutu, katak dan darah (air minum
berubah menjadi darah) sebagai bukti-bukti yang
jelas, namun mereka tetap menyombongkan diri
dan mereka yaitu kaum yang berdosa. (al-A‘rāf/7:
133)
Dari kelompok hewan amfibi
dan reptil, hanya katak dan ularlah
yang disebut dalam Al-Qur'an. Perihal
kedua hewan ini akan diuraikan lebih
mendalam dalam buku ini.
1. ULAR
Ular cukup banyak disebut dalam Al-
Qur'an. Kebanyakan ayat-ayat terse-
but berkaitan dengan kisah mukjizat
yang dianugerahkan Allah kepada
Nabi Musa. Dalam dua ayat di bawah
Dan Musa berkata, “Wahai Fir'aun! Sungguh, aku
yaitu seorang utusan dari Tuhan seluruh alam,
aku wajib mengatakan yang sebenarnya tentang
Allah. Sungguh, aku datang kepadamu dengan
membawa bukti yang nyata dari Tuhanmu, maka
lepaskanlah Bani Israil (pergi) bersamaku.” Dia
(Fir'aun) menjawab, “Jika benar engkau membawa
sesuatu bukti, maka tunjukkanlah, kalau kamu
termasuk orang-orang yang benar.” Lalu (Musa)
melemparkan tongkatnya, tiba-tiba tongkat itu
menjadi ular besar yang sebenarnya. (al-A‘rāf/7:
104-107)
Dia (Musa) berkata, “(Dialah) Tuhan (yang
menguasai) timur dan barat dan apa yang
ada di antara keduanya; jika kamu mengerti.”
Dia (Fir‘aun) berkata, “Sungguh, jika engkau
menyembah Tuhan selain aku, pasti aku masukkan
35Hewan dalam Al-Qur'an
itu) oleh orang yang tidak beriman kepadanya
dan oleh orang yang mengikuti keinginannya,
yang memicu engkau binasa.” “Dan apakah
yang ada di tangan kananmu, wahai Musa? ”
Dia (Musa) berkata, “Ini yaitu tongkatku, aku
bertumpu padanya, dan aku merontokkan (daun-
daun) dengannya untuk (makanan) kambingku,
dan bagiku masih ada lagi manfaat yang lain.” Dia
(Allah) berfirman, “Lemparkanlah ia, wahai Musa!”
Lalu (Musa) melemparkan tongkat itu, maka tiba-
tiba ia menjadi seekor ular yang merayap dengan
cepat. (Tāhā/20: 15-20)
engkau ke dalam penjara.” Dia (Musa) berkata,
“Apakah (engkau akan melakukan itu) sekalipun
aku tunjukkan kepadamu sesuatu (bukti) yang
nyata?” Dia (Firaun) berkata, “Tunjukkan sesuatu
(bukti yang nyata) itu, jika engkau termasuk orang
yang benar!” Maka dia (Musa) melemparkan
tongkatnya, tiba-tiba tongkat itu menjadi ular
besar yang sebenarnya. (asy-Syu‘arā'/26: 28–32)
Sebelum pertemuan kedua
insan ini berlangsung sebagaimana
digambarkan pada dua ayat di atas,
terjadi dialog antara Musa dan Allah.
Dalam dialog ini tampak betapa
Musa masih memperlihatkan sisi
kemanusiaannya. Ia masih meragu-
kan kemampuannya sendiri dalam
menghadapi keingkaran Firaun.
sebab itu Allah membesarkan hati
Musa dan meyakinkannya dengan janji
memberinya mukjizat yang membuk-
tikan kebenaran yang dibawanya.
Sungguh, hari Kiamat itu akan datang, Aku
merahasiakan (waktunya) agar setiap orang
dibalas sesuai dengan apa yang telah dia usahakan.
Maka janganlah engkau dipalingkan dari (Kiamat
Masukkanlah tanganmu ke leher bajumu, dia
akan keluar putih (bercahaya) tanpa cacat, dan
dekapkanlah kedua tanganmu ke dadamu jika
ketakutan. Itulah dua mukjizat dari Tuhanmu
(yang akan engkau pertunjukkan) kepada Fir‘aun
dan para pembesarnya. Sungguh, mereka yaitu
orang-orang fasik.” (al-Qașaș/28: 32)
Maka dia (Musa) melemparkan tongkatnya,
tiba-tiba tongkat itu menjadi ular besar yang
sebenarnya. (asy-Syu‘arā’/26: 32)
Ular disebut dengan redaksi
tsu‘bān, ĥayyān, dan jān. Dalam cerita
Nabi Musa dikisahkan bahwa tongkat
yang ia lemparkan berubah menjadi
seekor ular yang merayap (ĥayyatun
tas‘ā) (Tāhā/20: 20). Di tempat lain
disebutkan tongkat itu bergerak-
gerak laksana seekor ular yang gesit
(ka‘annahā jān) (al-Qașaș/28: 31).
Disebutkan pula bahwa tongkat itu
berubah menjadi ular yang sebenarnya
(šu‘bānun mubīn) (al-A‘rāf/7: 107, asy-
Syu‘arā’/26: 32). Perbedaan ungkapan
itu bisa dipahami dengan menjadikan
beberapa peristiwa itu sebagai sebuah
proses. Artinya, pada awalnya tongkat
itu berubah menjadi seekor ular yang
merayap dengan cepat, lalu
berubah menjadi seekor ular kecil
yang gesit, dan akhirnya menjadi ular
besar yang sebenarnya. Ada pula yang
menafsirkan bahwa tongkat Nabi
Musa telah berubah menjadi seekor
ular yang lincah dan gesit seperti ular
kecil, namun sangat menakutkan
seperti ular besar. Sebagian mufasir
yang lain mengatakan bahwa
perbedaan ungkapan itu disebabkan
perbedaan tempat terjadinya muk-
jizat—mukjizat terjadi berkali-kali di
tempat yang berbeda. Menurut yang
terakhir ini perubahan bentuk tongkat
menjadi ular jantan yang besar
terjadi di hadapan Firaun, sedang
perubahannya menjadi ular kecil terjadi
pada malam saat Nabi Musa diseru
Allah untuk pertama kalinya. Ada juga
yang memahaminya sebagai berikut:
šu‘ban berarti arti ular yang panjang
dan lincah, ĥayyah berarti tumpukan
badan ular yang menyatu dan
menakutkan, sedang jān berarti ular
yang sangat menakutkan. Perbedaan
penampakan ular itu dengan demikian
disesuaikan dengan tempat, sasaran,
dan tujuan penampakannya. Banyak
riwayat yang menjelaskan bentuk ular
ini , demikian juga cahaya yang
bersinar dari tangan beliau, namun
riwayat-riwayat ini tidak dapat
diyakini kesahihannya. Yang dapat
kita pastikan yaitu bahwa keduanya
yaitu peristiwa luar biasa yang
nampak dengan jelas pada diri dan
tongkat Musa, yang itu menjadi bukti
kebenaran klaimnya sebagai utusan
Allah.
Perbedaan penyebutan bentuk
ular dalam kisah Nabi Musa merupakan
salah satu bukti kehebatan Al-
Qur'an dalam memilih kata-kata yang
harmonis sesuai situasi dan konteks
kisah secara keseluruhan. Kalau
tongkat itu hanya berubah menjadi
seekor ular yang merayap, mengapa
Musa melihat ular itu bergerak gesit
dan seberapa besar ular itu hingga
membuat Firaun begitu takut saat
Musa melemparkan tongkatnya, masih
perlu jawaban.
Pertemuan Musa dan Firaun
merupakan kisah yang sering diulang
dalam al-Qur'an, bahkan bisa dikatakan
kisah ini yaitu peristiwa yang paling
banyak diulang dari sekian banyak
pengulangan kisah-kisah dalam Al-
Qur'an. Pemunculan mukjizat ular
ini dapat dipahami sebagai upaya
Al-Qur'an untuk menunjukan arti
penting pertemuan Musa dan Firaun;
bahwa pada setiap zaman akan ada
perseteruan antara yang hak dan
batil, yang berkesudahan dengan
kemenangan yang hak dan berasal
dari Allah.
Dalam Surah Tāhā/20: 66 dan
asy-Syu‘arā'/26: 44, ular-ular yang
dilemparkan oleh penyihir-penyihir
Firaun diungkapkan dengan lafal
ĥibāl. Ĥibāl (plural) dalam dua ayat ini
oleh para mufasir ditafsirkan sebagai
tali, yakni tali yang terlihat oleh mata
manusia. Tali-tali ini dengan
pengaruh sihir mereka tampak seperti
ular-ular yang bergerak dan menjalar
untuk menakuti Nabi Musa. Akhirnya,
berkat mukjizat yang diberikan Allah,
Nabi Musa melemparkan tongkatnya
yang lalu berubah menjadi ular
besar yang memakan �ular-ular” para
penyihir Firaun. Ini membuktikan beta-
pa sihir tidak akan dapat mengalahkan
mukjizat Allah (asy-Syu‘arā'/26: 69).
Kembali ke Surah al-Qașaș/28: 30-
35. Pada rangkaian ayat-ayat ini
tampak betapa Nabi Musa agak takut
dan ragu untuk bernegosiasi dengan
Firaun dan para pejabatnya. Sementara
ulama mengatakan bahwa Musa
bukannya ragu untuk menjalankan
misi ini . Ia sangat yakin akan
perintah dan janji Allah, hanya saja ia
belum sepenuhnya mendalami apa
yang Allah bebankan kepadanya.
Lebih-lebih, Musa sedang memiliki
masalah yang belum terselesaikan
dengan Firaun saat itu. Musa dikejar-
kejar tentara Firaun sebab salah
seorang anak buahnya mati di tangan
Musa. Belum lagi masalah itu selesai,
Allah justru memintanya menemui
Firaun dan mengingatkannya akan
eksistensi Allah. sebab pertimbangan
itu ia menyatakan keberatannya dari
sudut manusiawinya, suatu hal yang
lalu dijawab oleh Allah dengan
mengijinkan Harun, saudara Musa,
untuk ikut dengannya dalam misi ini.
Para mufasir menyatakan bah-
wa ular masuk dalam kelompok
hewan yang boleh dibunuh meski
sedang dalam kondisi berihram haji
atau umrah. Ular tidak masuk dalam
golongan hewan yang Allah haramkan
membunuhnya kepada orang yang
sedang berihram dalam ayat berikut.
Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah
kamu membunuh hewan buruan, saat kamu
disebut dalam hadis yang mengisahkan
peristiwa saat para sahabat sedang
mendengarkan Surah al-Mursalāt di-
ucapkan oleh Rasulullah.
َم ِفْ َبْينَا َنْحُن َمَع َرُسْوِل اهللِ َصلَّ اهللُ َعَلْيِه َوَسلَّ
ْينَاَها ِمْن َغاٍر ، إِْذ َنَزَلْت َعَلْيِه َواْلُْرَساَلِت ، َفَتَلقَّ
فِْيِه َوإِنَّ َفاُه َلَرْطٌب ِبَا ، إِْذ َخَرَجْت َحيٌَّة ، َفَقاَل
َم : َعَلْيُكُم اْقُتُلْوَها َرُسْوُل اهللِ َصلَّ اهللُ َعَلْيِه َوَسلَّ
! َقاَل : َفاْبَتَدْرَناَها َفَسَبَقْتنَا ، َقاَل : َفَقاَل : ُوِقَيْت
عن البخاري )رواه . َها َشَّ ُوِقْيُتْم َكَم ُكْم َشَّ
ابن مسعود(
saat kami sedang bersama Rasulullah di dalam
sebuah gua, turunlah kepada beliau Surah al-
Mursalat. Kami pun mendengarnya langsung dari
mulut beliau yang masih basah mengucapkannya.
Tiba-tiba seekor ular keluar (dari liangnya).
Rasulullah berkata, “Ayo, bunuhlah ular itu!” Kami
bergegas mengejarnya, namun hewan itu sudah
telanjur kabur. Rasulullah pun bersabda, “Ia telah
diselamatkan dari gangguan kalian, seperti halnya
kalian telah diselamatkan dari gangguannya.”
(Riwayat al-Bukhāri dari Ibnu Mas‘ūd)
Riwayat ini dapat saja diartikan
bahwa Nabi mengingatkan bahwa di
dalam hati manusia masih banyak niat
jahat. Nabi juga melarang membunuh
ular yang hidup di dalam rumah
melalui sabdanya,
َدَخَل ُه َأنَّ ُزْهَرَة ْبِن ِهَشاِم َمْوَل اِئِب السَّ َأِب َعْن
َفَوَجْدُتُه : َقاَل ، َبْيتِِه ِفْ اْلُْدِريِّ َسِعْيٍد َأِبْ َعَل
sedang ihram (haji atau umrah). Barangsiapa di
antara kamu membunuhnya dengan sengaja,
maka dendanya ialah mengganti dengan hewan
ternak yang sepadan dengan buruan yang
dibunuhnya, menurut putusan dua orang yang
adil di antara kamu sebagai hadyu yang dibawa
ke Ka‘bah, atau kafarat (membayar tebusan
dengan) memberi makan kepada orang-orang
miskin, atau berpuasa, seimbang dengan makanan
yang dikeluarkan itu, agar dia merasakan akibat
buruk dari perbuatannya. Allah telah memaafkan
apa yang telah lalu. Dan barangsiapa kembali
mengerjakannya, niscaya Allah akan menyiksanya.
Dan Allah Mahaperkasa, memiliki (kekuasaan
untuk) menyiksa. (al-Mā'idah/5: 95)
Yang dimaksud dengan bina-
tang buruan dalam ayat ini yaitu
binatang yang diperbolehkan untuk
dimakan. Dengan demikian, gagak,
elang, kalajengking, tikus, anjing buas,
dan ular tidak termasuk di dalamnya.
Mereka juga memperkuat pendapat
ini dengan hadis berikut.
اْلَيَُّة : َواْلََرِم لِّ اْلِ ف ُيْقَتْلَن َفَواِسُق َخٌْس
اْلَعُقْوُر َواْلَكْلُب َواْلَفْاَرُة األَْبَقُع َواْلُغَراُب
ا . )رواه مسلم عن عائشة( َواْلَُديَّ
Ada lima hewan (bertabiat) buruk yang boleh
dibunuh di tanah halal maupun di tanah haram.
Mereka itu yaitu ular, burung gagak berbulu
campuran antara hitam dan putih, tikus, anjing
ganas, dan kalajengking. (Riwayat Muslim dari
‘Ā'isyah)
Ular banyak disebut juga dalam
banyak hadis, baik sebagai hewan
nyata maupun sebagai tamsil. Ular
39Hewan dalam Al-Qur'an
، َصاَلَتُه َيْقِضَ َحتَّى َأْنَتظُِرُه َفَجَلْسُت ، ُيَصلِّ
، اْلَبْيِت َناِحَيِة ِفْ َعَراِجْيَ ِفْ ِرْيًكا َتْ َفَسِمْعُت
َفاْلَتَفتُّ َفإَِذا َحيٌَّة َفَوَثْبُت ألَْقُتَلَها ، َفَأَشاَر إَِلَّ َأِن
َف َأَشاَر إَِل َبْيٍت ِف اْجِلْس َفَجَلْسُت ، َفَلمَّ اْنَصَ
َنَعْم : َفُقْلُت اْلَبْيَت ؟ َهَذا َأَتَرى : َفَقاَل ، اِر الدَّ
، بُِعْرٍس َعْهٍد َحِدْيُث ِمنَّا َفًتى فِْيِه َكاَن : َقاَل ،
َعَلْيِه اهللُ َصلَّ اهللِ َرُسْوِل َمَع َفَخَرْجنَا : َقاَل
َيْسَتْأِذُن اْلَفَتى َذلَِك َفَكاَن ، اْلَنَْدِق إَِل َم َوَسلَّ
َم بَِأْنَصاِف النََّهاِر َرُسْوَل اهللِ َصلَّ اهللُ َعَلْيِه َوَسلَّ
ِجُع إَِل َأْهِلِه ، َفاْسَتْأَذَنُه َيْوًما ، َفَقاَل َلُه َرُسْوُل َفَيْ
َم : ُخْذ َعَلْيَك ِساَلَحَك َعَلْيِه َوَسلَّ اهللِ َصلَّ اهللُ
ُجُل الرَّ َفَأَخَذ ، ُقَرْيَظَة َعَلْيَك َأْخَشى ْ َفإيِنِّ ،
َقاِئَمًة اْلَباَبْيِ َبْيَ اْمَرَأُتُه َفإَِذا ُثمَّ َرَجَع ِساَلَحُه ،
ٌة ، بِِه َوَأَصاَبْتُه َغْيَ ْمَح لَِيْطُعنََها إَِلْيَها الرُّ َفَأْهَوى
اْلَبْيَت َواْدُخِل ُرْمََك َعَلْيَك ُاْكُفْف : َلُه َفَقاَلْت
َفإَِذا َفَدَخَل ، َأْخَرَجنِْي ِذْي الَّ َما َتنُْظَر َحتَّى
إَِلْيَها َفَأْهَوى اْلِفَراِش َعَل ُمنَْطِوَيٍة بَِحيٍَّة َعظِْيَمٍة
اِر الدَّ ِف َفَرَكَزُه َخَرَج ُثمَّ ، بِِه َفاْنَتَظَمَها ْمِح بِالرُّ
َع َمْوًتا َُم َكاَن َأْسَ َفاْضَطَرَبْت َعَلْيِه ، َفَم ُيْدَرى َأيُّ
: اْلَيَُّة َأِم اْلَفَتى ، َقاَل : َفِجْئنَا إَِل َرُسْوِل اهللِ َصلَّ
َم ، َفَذَكْرَنا َذلَِك َلُه َوُقْلنَا : ُاْدُع اهللَ اهللُ َعَلْيِه َوَسلَّ
ِيِه َلنَا ! َفَقاَل : اِْسَتْغِفُرْوا لَِصاِحبُِكْم . ُثمَّ َقاَل ُيْ
ِمنُْهْم َرَأْيُتْم َفإَِذا ، َأْسَلُموا َقْد ِجنًّا بِاْلَِدينَِة إِنَّ :
اٍم ، َفإِْن َبَدا َلُكْم َبْعَد َذلَِك َشْيًئا ، َفآِذُنْوُه َثاَلَثَة َأيَّ
َم ُهَو َشْيَطاٌن . )رواه مسلم( َفاْقُتُلوُه ، َفإِنَّ
Diriwayatkan dari Abus-Sā'ib, mantan budak
Hisyām bin Zuhrah, bahwa suatu hari ia bertandang
ke kediaman Abū Sa‘īd al-Khudri. Ia berkata, “Di
rumah itu kudapati Abū Sa‘īd sedang salat. sebab
itu aku duduk menunggunya menyelesaikan salat.
Tiba-tiba aku mendengar sebuah gerakan dari arah
kayu penyangga atap di dalam rumah ini .
Aku menoleh, dan kulihat seekor ular di sana.
Aku pun bergegas mendekatinya dengan maksud
membunuhnya. Abū Sa‘īd (yang masih salat saat
itu) memberi isyarat kepadaku agar aku duduk,
membiarkan begitu saja ular ini . Aku pun
duduk. Usai salat, ia menunjuk ke arah sebuah
rumah di tengah perkampungan, sambil berkata,
“Tidakkah kaulihat rumah di sana itu?” “Ya, aku
lihat,” jawabku. Ia melanjutkan perkataannya,
“Dulu di rumah itu tinggal seorang pemuda yang
baru saja melangsungkan pernikahan. saat
itu kami (termasuk pemuda itu) sedang pergi
bersama Rasulullah sebagai tentara pada Perang
Khandaq. Pada suatu siang yang terik pemuda
itu meminta izin kepada Rasulullah untuk pulang
menemui istrinya. Beliau pun mengizinkannya
pulang. “Bawalah senjatamu! Aku khawatir Bani
Quraizah akan membunuhmu.” pesan Rasulullah.
Pulanglah pemuda itu. Tak berapa jauh dari
rumahnya ia mendapati istrinya sedang berdiri
di antara dua pintu (pintu rumahnya dan pintu
tetangganya). Melihat kejadian ini , marahlah
ia. Ia hampir saja melemparkan tombaknya ke
arah istrinya sebab terbakar cemburu. Sebelum
semuanya benar-benar terjadi, istrinya berteriak,
“Jangan kaulempar tombakmu. Masuklah lebih
dulu ke rumah, maka engkau akan tahu apa yang
memaksaku keluar rumah!” Ia lalu masuk rumah,
dan ia melihat seekor ular melingkarkan tubuhnya
di atas ranjang. Dengan cepat ia menusuk tubuh
ular itu dengan tombaknya hingga tembus. Ia pun
menenteng ular itu keluar rumah, saat tiba-tiba
ular itu meronta (dan menggigit sang pemuda).
Tidak diketahui apakah ular atau pemuda itu
yang lebih dahulu tewas. Lalu kami menghadap
Rasulullah dan menceritakan apa yang terjadi.
Wahai Rasulullah, berdoalah kepada Allah agar
Ia menghidupkannya kembali!” minta kami.
Beliau menjawab, “Sungguh, di Medinah ini ada
sekelompok jin yang sudah masuk Islam. Jika kalian
melihat salah satu dari mereka (dalam wujud ular)
maka usirlah ia dengan halus selama tiga hari. Bila
sesudah tiga hari ia tetap saja enggan meninggalkan
rumah, bunuhlah ia sebab hewan yang demikian
itu yaitu setan!” (Riwayat Muslim)
Melalui hadis berikut Nabi meng-
anjurkan para sahabatnya untuk hanya
membunuh ular yang berekor buntung
dengan dua lajur putih memanjang di
punggungnya,
َم َوَسلَّ َعَلْيِه اهلُل َصلَّ اهللِ َرُسْوَل َسِمْعُت إيِنِّ
تِْي َتُكْوُن ِف اْلُبُيْوِت ، إاِلَّ نَّاِن الَّ َنَى َعْن َقْتِل اْلِ
َذاِن َيْطَِفاِن اْلَبَصَ َُم اللَّ ْفَيَتْيِ ، َفإِنَّ األَْبَتَ َوَذا الطُّ
مسلم )رواه . النَِّساِء ُبُطوِن ِف َما َوَيَتَتبََّعاِن
وأمحد عن أب لبابة األنصاري(
Aku mendengar bahwa Rasulullah melarang
kami membunuh ular yang ada di dalam rumah,
kecuali ular yang berekor pendek (atau yang putus
ekornya) dan memiliki dua garis lurus berwarna
putih di punggungnya. Ular yang seperti ini mampu
membutakan mata manusia dan membunuh janin
di dalam kandungan ibu hamil. (Riwayat Muslim
dan Aĥmad dari Abū Lubābah al-Anșāri)
Ular juga digambarkan sebagai
makhluk yang akan muncul pada Hari
Kebangkitan. Mereka yang lalai dalam
berzakat akan diikuti terus dan dipatuk
oleh ular belang dengan dua taring
yang mengerikan.
َيْوَم َلُه ُمثَِّل َزَكاَتُه ُيَؤدِّ َفَلْم َماالً اهللُ آَتاُه َمْن
َيْوَم َيُطْوُقُه َزبِْيَبَتاِن َلُه ، َأْقَرَع ُشَجاًعا اْلِقَياَمِة
ُثمَّ ، َشْدَقْيِه َيْعنِْي ، بِِلْهِزَمْيِه َيْأُخُذ ُثمَّ ، اْلِقَياَمِة
َيُقْوُل : َأَنا َماُلَك ، َأَنا َكنُْزَك ، ُثمَّ َتاَل : الَ َيَْسَبنَّ
ِذْيَن َيْبَخُلْوَن ... اآلية. )رواه البخاري عن أب الَّ
هريرة(
Barang siapa diberi Allah harta, lalu ia tidak
menunaikan zakatnya, maka harta itu akan diubah
wujudnya oleh Allah menjadi ular belang yang
memiliki dua taring. Ular itu akan mematuknya
dan menggigitnya erat dengan dua sisi mulutnya,
sambil berkata, “Aku yaitu hartamu. Aku
yaitu simpananmu.” Lalu ular itu pun membaca
ayat, “Janganlah sekali-kali orang yang kikir...
hingga akhir ayat.” (Riwayat al-Bukhāri dari Abū
Hurairah)
Hubungan Ular dan Manusia
Dalam kitab-kitab suci, ular kebanyakan
dianggap sebagai musuh manusia.
Dalam kisah Mahabharata misalnya,
Krishna kecil sebagai jelmaan Dewa
Wishnu mengalahkan ular berkepala
lima yang jahat. Kesimpulan serupa
juga dapat kita pahami dari ayat Al-
Qur'an maupun hadis-hadis di atas.
Sebaliknya, di beberapa belahan dunia
ular dipuja dan ditinggikan, bahkan
hingga saat ini. Dalam mitologi Hindu
di India ular memperoleh kedudukan
tinggi, hingga tidak ada yang berani
membunuh ular kobra secara sengaja.
Beberapa sekte Hindu bahkan mereka
memuja dan “mengkreasikan” dewa
ular. Sekte Manasa di India, misalnya,
memiliki Dewi Ular bernama
Manasa. Sampai saat ini kita masih
mudah menjumpai para wanita di India
menuangkan susu di lubang ular, suatu
hal yang sebenarnya tidak disukai ular
itu sendiri.
Ular juga dipuja di sebagian
wilayah Afrika, seperti Dahomey,
Madagaskar dan sekitarnya. Pemujaan
ini muncul sesudah terjadi persentuhan
budaya dengan para pemuja ular dari
luar kawasan ini. Beda Dahomey beda
pula Mesir Kuno. Di sini hubungan
antara manusia dan ular telah berjalan
sangat lama. Beberapa dewa ular
�dikreasi”, seperti Apophis dan Set.
Mahkota Firaun juga selalu dihiasi
patung ular kobra. Bangsa Sumeria
pun demikian; mereka memiliki dewa
ular bernama Ningizzida.
Suku-suku asli di Benua Amerika
memiliki hubungan erat dengan
ular. Hal ini terutama tampak pada
kebudayaan Aztec dan budaya di
kawasan budaya Meso-America. Hal
yang sama terjadi pada warga
Eropa Kuno, terutama Yunani dan
Romawi. Dalam mitologi Yunani
ular diasosiasikan dengan makhluk
antagonis yang berbahaya dan me-
matikan, namun tidak dihubungkan
dengan setan. Dalam budaya Cina,
ular yaitu salah satu dari 12 hewan
suci yang menjadi nama shio dan
dimasukkan dalam kalender Cina.
Ular juga kita jumpai dalam lambang
kedokteran, yang mewakili makna
farmasi dan obat secara umum.
Tampaknya hal ini terpangaruh oleh
budaya warga Yunani Kuno
yang menganggap ular sebagai sang
penyembuh.
Ular sebagai tanda kekuasaan
Tuhan muncul sebagai mukjizat saat Nabi
Musa berhadapan dengan Firaun (al-
A‘rāf/7: 107; Ţāhā/20: 20; asy-Syu‘arā'/26:
32; al-Qașaș/28: 32). Ular yang
ditinggikan Nabi Musa di padang gurun
dipadankan dengan Yesus yang harus
ditinggikan manusia agar memperoleh
hidup yang kekal (Injil Yohanes 3: 14). Di
sisi yang lain, ular juga dikaitkan dengan
perbuatan jahat, sebagaimana terjadi di
Taman Eden saat mulai membujuk Hawa
(Kejadian 3: 1). Ular juga muncul sebagai
ular tua, naga, sekaligus setan dan iblis
yang ditangkap oleh malaikat dalam
Wahyu 20: 2.
Ketidaksukaan manusia kepada
ular hanyalah berdasar anggapan-
anggapan yang sebenarnya kurang
beralasan. Ini terjadi sebab kurangnya
pengetahuan mereka mengenai sifat
dan bahaya yang mungkin ditimbulkan
ular. Kasus kematian akibat gigitan
ular sebenarnya sangat sedikit bila
dibandingkan kasus kematian akibat
penyakit yang ditimbulkan oleh gigitan
nyamuk, atau bahkan kematian sebab
kecelakaan di jalan raya.
Ular sejak lama telah dimanfaat-
kan manusia. Pada masa yang lebih
terkini, bisa ular banyak dimanfaatkan
sebagai serum, sedang empedu,
darah, dan daging beberapa jenis ular,
seperti kobra (Naja spp.) sudah sejak
lama dipercaya dapat menyembuhkan
beberapa penyakit oleh warga di
Asia Timur, terutama Cina. Di beberapa
bagian dunia, terutama India, banyak
ditemukan pertunjukan tarian ular
dengan memakai ular King
Cobra (Ophiophagus hannah) yang
sangat berbisa. Dalam pertunjukan
ini ular King Cobra yang ditaruh di
dalam sebuah wadah seolah menari
mengikuti irama alat musik serupa
suling. Ular sebetulnya tidak memiliki
organ luar telinga, walaupun secara
terbatas memilki organ telinga di
bagian dalam. Dengan demikian,
reaksinya terhadap suara suling
lebih disebabkan gerakan fisik suling
daripada suara yang dihasilkan oleh
suling itu sendiri.
Kulit-kulit beberapa jenis ular,
seperti ular sanca (Phyton reticulatus),
43Hewan dalam Al-Qur'an
ular anaconda (Eunectes murnus) dan
jenis ular lain yang berukuran cukup
besar dipakai sebagai bahan tas,
sepatu, dan aksesori lainnya. Citra yang
kurang baik terhadap luar akibat dari
dongeng, mitos, dan semacamnya,
ditambah dengan rusaknya habitat
ular dan nilai ekonominya yang cukup
tinggi, memicu penurunan
dras-tis populasi ular di alam. Ular
sebagai musuh biologis beberapa
hama per-tanian, seperti tikus, saat
ini sudah sudah jauh berkurang, atau
bahkan sudah tidak ada lagi di banyak
tempat. Di beberapa tempat, sudah
mulai ada usaha untuk melakukan
reintroduksi beberapa ular sawah.
warga petani di beberapa desa
di Kabupaten Sleman, DI Yogyakarta,
sudah mulai melakukan hal ini
dan melarang perburuan ular di desa
mereka.
Perikehidupan Ular
Ular yaitu kelompok hewan reptilia
bertubuh bulat memanjang, tidak
berkaki, dan semua jenisnya hidup
sebagai pemangsa. Di dalam kelompok
kadal, yang merupakan kerabat dekat
ular, ada juga jenis-jenis kadal
tak berkaki yang mirip ular.Perbedaan
kadal tak berkaki dengan ular yaitu
tidak adanya kelopak mata dan daun
telinga pada ular. Panjang tubuh ular
bervariasi, dari yang hanya sepanjang
10 cm (thread snake, Leptotyphlops
humilis) hingga yang lebih dari 5
meter, seperti anakonda (Eunectes
murinus) yang tercatat 7,5 meter,
atau ular sanca (Phyton reticulata)
yang tercatat dalam rekor men-
capai panjang 9 meter. Fosil ular
purba Titinoboa cerrejonensis bahkan
diketahui memiliki panjang tubuh
mencapai 15 meter.
Kelompok ular berevolusi dari
kelompok kadal yang hidup di bawah
tanah atau perairan pada masa
Penyebaran ular sampai dengan apa
yang dikenal saat ini dimulai pada masa
Paleocene (sekitar 66–56 juta tahun
lalu). Dari penelitian diketahui bahwa
kelompok ular kobra yaitu yang
paling sukses dalam persebarannya.
Hal ini terutama disebabkan suksesnya
persebaran kelompok tikus yang
menjadi mangsa utama ular kobra di
berbagai tipe habitat.
Ular merupakan salah satu
reptil yang paling sukses berkem-
bang di dunia. Di daratan, kita
dapat menjumpai ular hampir di
semua tipe habitat, kecuali kawasan
berhawa dingin (Selandia Baru,
ujung utara Eropa dan Amerika) atau
di gunung-gunung tinggi. Seperti
hewan berdarah dingin lainnya, ular
makin jarang ditemui di daerah yang
berhawa dingin. Ular dapat ditemui
hidup melata di tanah atau di atas
pohon sepanjang hidupnya. Beberapa
di antaranya dapat hidup di tanah dan
sesekali memanjat pohon, atau hidup
sepenuhnya atau sebagian waktunya
di perairan (laut, rawa, sungai, atau
danau).
Ular bergerak dengan beberapa
cara, tergantung pada lingkungannya.
Gerakan yang paling umum yaitu
berkelok-kelok dengan mengarah ke
depan. Gerakan ini dilakukan ular,
baik saat di air maupun di daratan.
Saat bergerak di daratan, gerakan
mendorong ular terbantu oleh berma-
cam objek menonjol yang dilaluinya,
seperti batu, ranting, tanah tak rata,
dan lainnya. Uniknya, setiap titik pada
tubuh ular selau melewati tempat
yang dilewati oleh titik sebelumnya.
Dengan demikian, ular dengan mudah
dapat melewati daerah tumbuhan
yang padat dan lebat sekalipun. Beda
di daratan, beda pula saat di air. saat
berenang di air, gerakan arus air
yang disebabkan gerakan ular turut
membantu ular bergerak maju.
Bergerak meliuk dan mengarah
menyamping dilakukan oleh jenis-jenis
ular yang hidup di kawasan yang tidak
memiliki objek untuk “berpegang”,
seperti kawasan berlumpur atau gurun
pasir. Sebagai hewan berdarah dingin,
seringkali ular ditemukan berjemur
di pagi hari untuk menghangatkan
tubuhnya sebelum melakukan aktivitas
hariannya. Kebiasaan ini juga sangat
membantu dalam proses pencernaan.
Kemampuan mata ular bervariasi.
Beberapa jenis ular, seperti ular pohon,
dapat mengikuti gerakan mangsanya
dengan presisi. Beberapa lainnya
memiliki pandangan yang sangat
lemah, misalnya ular yang hidup di
lubang. Tidak seperti penglihatannya,
daya pencium ular, yang memakai
lidahnya, umumnya cukup baik. Bagian
tubuh yang bersentuhan dengan objek
atau tanah umumnya sensitif terhadap
getaran. Ular dapat menciri getaran
yang disebabkan gerakan makhluk
di sekitarnya dengan sangat tepat.
Beberapa jenis ular memiliki reseptor
gelombang infra merah yang sensitif.
Kemampuan ini dimiliki ular berkat
adanya organ yang terletak di antara
mata dan lubang hidung. Mereka
dapat “melihat” radiasi panas dari
tubuh mangsanya.
Ular juga memiliki kemampuan
untuk berganti kulit. Fungsi pergantian
kulit antara lain: (1) mengganti kulit
tua yang sudah aus; (2) membantu
membuang parasit (kutu dan caplak)
yang menempel di kulit; dan (3)
memungkinkan ular untuk tumbuh
lebih besar. Fungsi yang terakhir ini
belum final dan masih diperdebatkan
para ahli. Pergantian kulit pada ular
muda mencapai tiga sampai empat kali
dalam satu tahun. Pada ular dewasa,
pergantian kulit
hanya terjadi satu atau
dua kali dalam setahun.
Semua ular yaitu
pemangsa. Ular memakan
binatang-binatang berukuran
kecil, termasuk kadal, ular lain,
mamalia kecil, burung, telur
burung, ikan, keong, serangga,
bahkan telur ikan. sebab bentuk
giginya tidak memungkinkan ular
merobek dan memotong mangsanya,
maka mangsa ditelan utuh. Itulah
mengapa ular selalu menyesuaikan
ukuran mangsanya dengan ukuran
tubuhnya. Anak ular sanca, misalnya,
mula-mula memangsa belalang, kemu-
dian kadal, hingga kijang atau babi
hutan saat sudah dewasa. Pada bagian
tengkoraknya, ular memiliki banyak
keping-keping tulang yang saling
bersambung. Sambungan-sambungan
inilah yang membuat ular memiliki
fleksibilitas dalam membuka rahang
bawahnya. Dengan kemampuan se-
perti itu ular dapat menelan mangsa
yang berukuran jauh
lebih besar daripada
kepalanya.
Ular menelan mangsanya
bulat-bulat, tanpa dikunyah.
Gigi ular tidak berfungsi untuk
mengunyah, melainkan sekadar
untuk memegang mangsanya
agar tidak terlepas. Umumnya ular
menelan mangsanya dari bagian
kepala lebih dahulu. Komposisi dan
formasi gigi ular juga tidak seragam,
tergantung pada keperluan dan jenis
mangsanya. Ular pemakan keong,
misalnya, punya lebih banyak gigi di
sisi kiri rahangnya. Hal ini disesuaikan
dengan lingkaran kerang yang se-
ringkali searah jarum jam. sesudah
makan, ular akan “beristirahat”
dan menunggu proses pencernaan
makanannya berlangsung. sebab
ular termasuk binatang berdarah
dingin (ectothermic), maka suhu di
sekelilingnya sangat berpengaruh
terhadap proses pencernaan. Ular
memerlukan suhu sekitar 30 �C untuk
dapat mencerna makanannya dengan
baik. Suhu permukaan tubuhnya dapat
naik sekitar 1 �C pada saat proses
pencernaan berjalan. Itulah sebabnya
ular seringkali memuntahkan mangsa-
nya jika merasa terancam. Seba-
gian ular membunuh mangsanya
dengan cara melilit, misalnya ular
sanca kembang (Phyton reticulatus).
Sebagian lainnya memakai bisa,
seperti ular King Cobra (Ophiophagus
hannah), ular weling/krait (Bungarus
candidus), atau ular cabai (Maticora
intestinalis).
Kebanyakan ular memiliki bisa
yang lebih sering dipakai nya untuk
melumpuhkan atau membunuh mang-
sa daripada untuk mempertahankan
diri. Bisa yaitu modifikasi dari air
ludah. Pada beberapa jenis, bisa
disalurkan melalui taring yang ber-
lubang. Bisa ular, sebagaimana air
ludah, juga membantu ular mencerna
makanannya. Ular-ular kanibal yang
memangsa ular lain, misalnya King
Cobra, memiliki pertahanan terhadap
racun sebab memiliki anti racun. Bisa
ular yaitu campuran yang kompleks
dari berbagai protein yang diproduksi
oleh kelenjar yang terletak di bagian
belakang kepalanya. Bisa ular dapat
dibagi dalam campuran neurotoxin
(racun yang menyerang sistem syaraf),
hemotoxin (racun yang menyerang
sistem peredaran darah), cytotoxin,
bungarotoxin, dan masih banyak lagi,
yang pada dasarnya mempengaruhi
fungsi dan sistem tubuh dengan
berbagai cara.
Dalam proses perkembangbiak-
annya semua ular menganut pembuah-
an di dalam (internal fertilization),
meskipun cara reproduksinya berva-
riasi. Ular berkembang biak dengan
bertelur. Jumlah telur ular berkisar
dari hanya beberapa butir saja sampai
dengan ratusan butir. Ular bertelur
di lubang tanah, lubang kayu lapuk,
atau di bawah timbunan serasah.
Umumnya ular meninggalkan telurnya
begitu saja dan menyerahkan nasibnya
kepada alam, namun ada beberapa
jenis, seperti kelompok ular sanca,
yang mengerami telur dengan lilitan
tubuhnya hingga menetas. Ular sanca
betina tidak akan meninggalkan
telurnya, kecuali jika ia perlu
minum atau berjemur. Ular King
Cobra dikenal sebagai satu dari sedikit
jenis ular yang membuat sarang dan
tinggal di dekatnya untuk menjaganya.
Beberapa jenis ular menyimpan telur
di dalam tubuhnya dan “melahirkan”
anak-anaknya (ovovivipar). Baru-
baru ini para peneliti menemukan
bahwa beberapa jenis ular, seperti
ular Boa Constrictor dan Anakonda
Hijau (Eunectes murinus) betul-
betul melahirkan anaknya (vivipar).
Keduanya memberi makan anak-
anaknya dengan plasenta dan makanan
yang tersedia dalam telurnya.
Sejenis ular primitif, yakni ular
buta atau juga dikenal sebagai ular
kawat (Rhampotyphlops braminus),
sejauh ini hanya ditemukan betinanya
saja. Ular yang mirip cacing kecil ini
diduga mampu bertelur dan berbiak
dengan pembuahan sendiri, tanpa
kehadiran ular jantan (parthenoge-
nesis).
Uraian di atas semestinya
mampu memotivasi manusia untuk
merubah persepsinya tentang ular.
Kehadiran ular di dunia ini termasuk
dalam rencana Allah yang rumit dan
saling terkait satu dengan lainnya.
Manusia dapat saja me


