gereja masehi 20


 


Mengapa Perlu Peraturan Jemaat?

Mengapa Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh memiliki sebuah Per-

aturan Jemaat? 

Allah yaitu  Allah yang berperaturan sebagaimana terbukti dalam 

karya penciptaan dan penebusan-Nya. Oleh sebab itu, peraturan yaitu  

milik utama dari jemaat-Nya. Peraturan dicapai melalui prinsip-prinsip 

dan aturan-aturan yang memandu jemaat dalam kegiatan internal dan 

dalam pemenuhan misinya untuk dunia. Supaya bisa menjadi organisa-

si gerejani yang sukses dalam pelayanan Tuhan dan kemanusiaan, perlu 

ketertiban, peraturan, dan disiplin. Dalam Kitab Suci tertulis: “Segala 

sesuatu harus berlangsung dengan sopan dan teratur” (1 Kor. 14:40).

Ellen G. White menunjukkan kebutuhan ini  pada tahun 1875: 

“Gereja Kristus terus-menerus berada dalam bahaya. Setan berusaha 

menghancurkan umat Allah, dan pemikiran satu orang, penilaian satu 

orang, tidak cukup bisa dipercaya. Kristus akan membawa para pengi-

kut-Nya bersama-sama dalam kapasitas gereja, memelihara ketertiban, 

memiliki peraturan dan disiplin, dan semua saling bergantung kepada 

satu dengan yang lain, menghargai orang lain lebih daripada diri mere-

ka sendiri.”— Testimonies, jld. 3, hlm. 445.

  Tetapi para pemimpin gereja tidak cepat menghasilkan buku pera-

turan untuk penyelenggaraan jemaat, meskipun Rapat General Confe-

rence bertemu setiap tahun selama tahun-tahun permulaan gereja dan 

delegasi memberikan suara mengenai hal-hal yang berhubungan de-

ngan peraturan dan kehidupan jemaat. Akhirnya, pada tahun 1882, Ra-

pat General Conference mengusulkan untuk menyediakan “petunjuk-

petunjuk kepada para pemimpin jemaat, untuk dicetak di Review and 

Herald atau dalam bentuk traktat.”—Review and Herald, 26 Desember 

1882. Keputusan ini menunjukkan bertambahnya kesadaran bahwa per-

aturan jemaat itu sangat diperlukan jika organisasi gereja mau berfungsi 

dengan efektif, dan bahwa keseragaman dalam peraturan semacam itu 

menuntut dikeluarkannya pedoman dalam bentuk cetakan. 

Tetapi pada Rapat Umum General Conference tahun 1883, ketika di-

usulkan bahwa naskah-naskah ini  dicetak dalam bentuk permanen 

sebagai sebuah peraturan jemaat, maka ide itu ditolak. Saudara-saudara 

ini  cemas jangan-jangan peraturan itu bisa menjadikan gereja ber-

sifat formal dan tidak memberi kebebasan kepada para pendeta dalam 

menangani persoalan-persoalan sesuai dengan ke-

inginan mereka. 

Tetapi kekhawatiran ini—yang jelas menunjukkan sikap perlawan-

an yang telah ada dua puluh tahun sebelumnya terhadap setiap bentuk 

organisasi gereja–segera lenyap. Rapat-rapat tahunan General Confe-

rence terus saja membuat keputusan perihal peraturan jemaat.

Meskipun gereja secara resmi menolak untuk mengadopsi sebuah 

peraturan, namun para pemimpin dari waktu ke waktu berusaha me-

ngumpulkan dalam bentuk buku atau brosur, aturan-aturan yang telah 

diterima secara umum untuk kehidupan jemaat. Mungkin yang paling 

mengesankan yaitu  sebuah buku yang terdiri dari 184 halaman yang 

diterbitkan tahun 1907 oleh pelopor J. N. Loughborough, berjudul, The 

Church, Its Organization, Order and Discipline, yang mencakup ba-

nyak pokok pikiran yang sekarang ini terdapat dalam buku Peraturan 

Jemaat. 

Sementara gereja di seluruh dunia bertumbuh dengan pesat di awal 

abad kedua puluh, maka kebutuhan untuk sebuah peraturan di seluruh 

dunia yang akan digunakan oleh para pendeta dan anggota awam sema-

kin disadari. Pada tahun 1931 Rapat General Conference mengambil 

keputusan untuk menerbitkan sebuah peraturan jemaat. J. L. McElhany, 

yang kemudian menjadi ketua General Conference, menyiapkan nas-

kah ini , dan diterbitkan pada tahun 1932.

MENGAPA PERLU PERATURAN JEMAAT? 21

Kalimat pembuka pada kata pendahuluan dari edisi pertama itu me-

nyatakan bahwa “sudah semakin jelas terbukti bahwa sebuah buku pe-

nuntun tentang penyelenggaraan jemaat diperlukan untuk membentang-

kan dan memelihara kebiasaan-kebiasaan dan struktur organi sasi kita.” 

Perhatikan kata memelihara. Di sini tidak terlihat adanya usaha untuk 

secara mendadak membentuk sebuah corak kepengurusan jemaat. Ma-

lahan ini merupakan suatu usaha pertama-tama untuk memelihara se-

mua keputusan yang baik yang telah dibuat selama bertahun-tahun, dan 

kemudian menambahkan peraturan-peraturan yang dibutuhkan karena 

gereja semakin bertumbuh dan  ber tambah rumit.

Wewenang dan Fungsi Peraturan Jemaat

Format yang sekarang ini telah ada sejak tahun 

1932. Ini menggambarkan penyelenggaraan dan fungsi gereja-gereja 

lokal dan hubungan mereka dengan struktur denominasi di mana keang-

gotaan mereka terdaftar. Isi dari merupakan ungkap-

an pemahaman Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh tentang kehidupan 

Kristen dan kekuasaan gereja dan disiplin berdasarkan prinsip-prinsip 

Alkitab. Itu mengungkapkan wewenang rapat umum General Confe-

rence di mana semua utusan berkumpul. “Allah telah menentukan bah-

wa perwakilan-perwakilan jemaat-jemaat-Nya dari seluruh bagian du-

nia, bila berkumpul dan suatu Rapat Umum General Conference, harus 

memiliki wewenang.”—Testimonies, jld. 9, hlm. 261.

dibagi menjadi dua jenis materi. Isi setiap bab ber-

laku untuk seluruh dunia dan akan diikuti oleh setiap organisasi gereja, 

jemaat, dan anggota. Menyadari perlunya variasi di beberapa bagian, 

maka materi penjelasan tambahan, disajikan sebagai pedoman dan con-

toh-contoh, dimuat sebagai catatan pada bagian akhir Peraturan Jema-

at ini. _itu diberi subjudul sesuai dengan nomor halaman 

pada teks utama.

Standar dan kebiasaan jemaat didasarkan pada prinsip-prinsip Kitab 

Suci. Prinsip-prinsip ini, ditegaskan oleh Roh Nubuat, tercantum da-

lam ini. Hal itu harus diikuti dalam segala hal yang 

berkaitan dengan administrasi dan pengoperasian gereja-gereja lokal. 

juga mendefinisikan hubungan yang ada antara je-

maat lokal dan konferens atau kesatuan-kesatuan lain dalam tubuh Ge-

reja Masehi Advent Hari Ketujuh Advent. Tidak ada usaha yang harus 

dilakukan untuk menetapkan standar ______________ atau membuat, atau 

mencoba untuk menegakkan, aturan atau peraturan untuk penyeleng-

garaan gereja lokal yang bertentangan dengan keputusan-keputusan ini 

yang diadopsi oleh rapat umum General Conference dan yang diatur 

dalam ini.

Membuat Perubahan

Selama bertahun-tahun General Conference telah mengadakan peru-

bahan penting dalam Peraturan Jemaat. Karena semakin bertambahnya 

kesadaran betapa pentingnya segala sesuatu “dilakukan dengan pantas 

dan teratur” dalam pekerjaan gereja di seluruh dunia, maka rapat umum 

General Conference tahun 1946 memutuskan: “Segala perubahan atau 

revisi tentang peraturan yang akan dibuat dalam yang 

disetujui oleh rapat umum General Conference.”—General Conference 

Report, No. 8, hlm. 197 (14 Juni 1946).

Pada tahun 1948, menyadari bahwa keadaan-keadaan setempat ka-

dangkala membutuhkan keputusan-keputusan khusus. Oleh karena itu, 

pada Komite General Conference telah menyetujui bahwa: “setiap di-

visi, termasuk Divisi Amerika Utara, menyediakan satu ‘Tambahan’ 

kepada buku yang sama sekali bukan mengubah per-

aturan itu tetapi berisikan hal-hal tambahan yang dapat diterapkan ke-

pada keadaan-keadaan dan situasi yang terjadi di divisi itu; naskah per-

aturan tambahan harus diserahkan kepada Rapat General Conference 

untuk disahkan sebelum itu dicetak.”—Putusan-putusan Rapat Musim 

Gugur, 1948, hlm. 19.

Rapat umum General Conference tahun 2000 mengesahkan rekla-

si fikasi beberapa bahan yang ada, ke bagian Catat-

an yang lebih berfungsi sebagai pedoman dan contoh-contoh daripada 

materi yang bersifat perintah, dan menyetujui proses itu untuk mem-

buat perubahan. Perubahan-perubahan atau revisi terhadap Peraturan 

Jemaat, kecuali untuk _dan perubahan redaksi, dapat di-

MENGAPA PERLU PERATURAN JEMAAT? 23

buat berdasarkan keputusan rapat umum General Conference di mana 

utusan-utusan umat Tuhan dari seluruh dunia berkumpul dan memberi-

kan suara dalam membuat revisi. Jika gereja setempat, konferens, atau 

uni konferens/mission, ingin mengusulkan suatu revisi pada Peraturan 

Jemaat, maka revisi-revisi semacam itu harus diserahkan kepada kons-

tituensi yang lebih tinggi untuk mendapatkan pandangan dan pemikiran 

yang lebih luas. Jika disetujui, anjuran revisi ini  kemudian dise-

rahkan kepada konstituensi yang lebih tinggi lagi untuk evaluasi lebih 

jauh. Setiap anjuran revisi kemudian harus dikirimkan kepada Komite 

General Conference. Komite inilah yang akan mem-

pertimbangkan semua perubahan atau revisi yang dianjurkan dan, bila 

disetujui, akan mempersiapkannya untuk dipresentasikan pada salah 

satu Rapat Tahunan atau Rapat Umum General Conference. Revisi ter-

hadap catatan mengikuti prosedur yang sama. Komite Eksekutif Gene-

ral Conference dapat membicarakan perubahan-perubahan pada catatan 

itu di setiap Komite Tahunan.

Komite melaporkan perubahan redaksi non-sub-

stantif yang diusulkan pada isi utama dari kepada 

Komite Eksekutif General Conference Tahunan, yang mungkin akan 

memberikan persetujuan akhir. Namun, dalam acara Dewan Tahunan 

jika sepertiga suara menentukan bahwa perubahan editorial secara sub-

stansial mengubah arti dari  suatu bagian, perubahan yang diajukan ha-

rus dibawa ke rapat umum General Conference. Pada Dewan Tahunan 

lima tahun terakhir, Komite Eksekutif General Conference mengulas 

semua perubahan pada catatan dan menyelaraskan perubahan itu de-

ngan amandemen yang diusulkan terhadap isi utama dari Peraturan Je-

maat. Sebuah edisi baru diterbitkan setelah selesai 

setiap rapat umum General Conference. Edisi terbaru harus selalu di-

gunakan. Edisi ini menggabungkan amandemen yang dibuat pada rapat 

umum General Conference tahun 2010.

Di Mana Mendapatkan Saran

Jemaat-jemaat harus meminta nasihat dari konferens perihal men-

jalankan jemaat atau perihal pertanyaan-pertanyaan yang timbul dari 

Peraturan Jemaat. Jika tidak mencapai kata sepakat, maka hal itu harus 

dirujuk ke uni untuk mendapatkan klarifikasi.

 

Istilah yang Digunakan dalam Peraturan Jemaat

Gereja—untuk penghematan redaksi dan pencetakan kata “Gereja,” 

dengan huruf besar “G,” dalam halaman-halaman ini digunakan untuk 

istilah lengkap Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh mengacu pada or-

ganisasi gereja secara keseluruhan daripada sebuah gereja lokal atau 

jemaat, kecuali bila disebut dalam kutipan. 

Konferens, Daerah, Bagian, Utusan, Wilayah, Gabungan Jemaat-

jemaat—Untuk tujuan penghematan editorial dan pencetakan, “konfe-

rens” di halaman ini berarti “konferens, daerah, wilayah, bagian, delega-

si, atau gabungan gereja-gereja,” sebagai indikasi konteks administrasi. 

Umumnya, setiap jemaat yaitu  anggota dari ikatan persaudaraan gere-

ja yang dikenal sebagai konferens, tetapi sampai organisasi lokal men-

capai status konferens, di bawah Peraturan Kerja General Conference 

mungkin diidentifikasi sebagai daerah misi, bagian, delegasi, atau wi-

layah. Dalam beberapa divisi di dunia, gabungan gereja-gereja di ne-

gara tertentu berfungsi sebagai konferens untuk tujuan gereja setempat 

dan sebagai satu kesatuan untuk tujuan organisasi Gereja. (Lihat Bab 3, 

“Organisasi dan Wewenang”).

Pendeta dan pelayan—Sebagian besar wilayah gereja sedunia meng-

gunakan “pendeta” untuk mengidentifikasi anggota kependetaan, se-

hingga istilah yang digunakan di halaman ini bukan “pelayan,” terlepas 

dari tanggung jawab yang diberikan oleh konferens setempat. Peng-

gunaan istilah di sini tidak dimaksudkan untuk mengamanatkan peng-

gunaan itu di mana kebiasaan yaitu  memakai  istilah “pelayan.” 

Pendeta dimaksud dalam ini yaitu  mereka yang telah 

ditunjuk oleh konferens untuk mengawasi urusan gereja setempat atau 

distrik.

Singkatan-singkatan buku Ellen G. White diuraikan pada halaman 

253. 

Kutipan Alkitab diambil dari New King James Version kecuali diberi 

tanda khusus, dengan pengecualian ketika merujuk kepada kutipan da-

lam Roh Nubuat.


Jemaat Allah yang Hidup

Alkitab memakai  berbagai ungkapan untuk menggambarkan 

gereja, seperti “jemaat Allah” (Kis. 20:28), “tubuh Kristus” (Ef. 4:12), 

dan “ jemaat dari Allah yang hidup” (1 Timotius 3:15).

Menjadi bagian dari gereja Allah merupakan kesempatan istimewa 

dan memuaskan jiwa. yaitu  maksud Allah untuk mengumpulkan sua-

tu umat yang berasal dari pelosok-pelosok dunia untuk mengikat mere-

ka menjadi satu tubuh, tubuh Kristus, yakni gereja, yang mana Dialah 

kepalanya yang hidup. Semua anak Allah dalam Kristus Yesus meru-

pakan anggota tubuh ini , dan dalam hubungan ini mereka dapat 

menikmati persekutuan satu dengan yang lain, dan juga persekutuan 

dengan Tuhan mereka.

Alkitab memakai  kata gereja sedikitnya dalam dua pengertian: 

Dalam pengertian umum diaplikasikan pada gereja di seluruh dunia 

(Mat. 16:18; 1 Kor. 12:28), dan juga dalam pengertian khusus diaplika-

sikan pada gereja di suatu kota atau provinsi. Sebagaimana disebutkan 

dalam ayat-ayat berikut: Jemaat di Roma (Rm. 1:6, 7), jemaat di Korin-

tus (1 Kor. 1:2), jemaat di Tesalonika (1 Tes. 1:1), dan jemaat di Galatia 

(1 Kor. 16:1), Asia (1 Kor. 16:19), Siria dan Kilikia (Kisah 15:41).

Kristus, menjadi kepala gereja dan Tuhannya yang hidup, Kristus 

me miliki kasih yang mendalam kepada anggota-anggota tubuh-Nya. Di 

dalam gereja Ia harus dimuliakan (Ef. 3:21); melalui gereja Ia akan me-

nyatakan “hikmat Allah” yang besar (Ef. 3:10). Hari demi hari Ia me-

26 

melihara jemaat (Ef. 5:29), dan kerinduan-Nya ialah untuk menjadikan 

jemaat itu “cemerlang tanpa cacat atau kerut atau yang serupa itu, tetapi 

supaya jemaat kudus dan tidak bercela” (Ef. 5:27).

Tidak Ada Dinding Pemisah

Kristus melalui pengajaran dan teladan berusaha untuk mengajarkan 

kebenaran bahwa bersama Allah tidak ada dinding pemisah antara Is-

rael dan bangsa-bangsa lain (Yoh. 4:4-42; 10:16; Luk. 9:51-56; Mat. 

15:21-28). Rasul Paulus menulis, “Orang-orang bukan Yahudi, karena 

Berita Injil, turut menjadi ahli-ahli waris dan anggota-anggota tubuh 

dan peserta dalam janji yang diberikan dalam Kristus Yesus” (Ef. 3:6).

Juga tidak boleh terdapat diskriminasi kasta atau bangsa atau ras atau 

warna kulit, di antara para pengikut Kristus karena semua berasal dari 

satu darah, dan “Supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak 

binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Orang-orang pilihan Al-

lah ada dalam satu persaudaraan universal, suatu umat yang baru, “se-

mua yaitu  satu di dalam Kristus Yesus” (Yoh. 3:16; Gal. 3:28).

“Kristus datang ke dunia ini dengan sebuah pekabaran rahmat dan 

pengampunan. Ia meletakkan sebuah landasan agama oleh mana orang 

Yahudi dan bukan Yahudi, orang berkulit hitam dan berkulit putih, 

orang merdeka atau hamba, dipersatukan bersama-sama di dalam satu 

persaudaraan, memiliki  kedudukan sama dalam pandangan Allah. 

Juruselamat memiliki  kasih yang tak terhingga bagi setiap orang.”—

Testimonies, jld. 7, hlm. 225.

“Tidak ada perbedaan atas kebangsaan, ras, atau kasta yang diakui 

oleh Allah. Ia yaitu  Khalik semua manusia. Semua manusia berasal 

dari satu keluarga melalui penciptaan dan semuanya satu melalui pene-

busan. Kristus datang untuk menghapus setiap dinding pemisah, untuk 

membuka setiap bagian bait kudus, agar setiap jiwa boleh mendapat 

hubungan yang bebas dengan Allah.... Dalam hal ini tidak ada orang 

Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak 

ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua yaitu  satu di dalam 

Kristus Yesus.”—Membina Kehidupan Abadi, hlm. 298, 299.

JEMAAT ALLAH YANG HIDUP 27

Objek Perhatian Kristus yang Utama

Mereka yang berada dalam pelayanan Kristus yang dipanggil meme-

gang kepemimpinan di dalam jemaat haruslah “mengurus jemaat Al-

lah” (1 Tim. 3:5); mereka harus “menggembalakan jemaat Allah” (Kis. 

20:28); dan menunjukkan perhatian “untuk memelihara semua jemaat-

jemaat” (2 Kor. 11:28). 

“Saya mengatakan kepada saudara-saudariku bahwa jemaat Kristus, 

meskipun memiliki  kelemahan dan kekurangan, yaitu  satu-satunya 

objek di dunia yang padanya Ia mencurahkan perhatian-Nya yang be-

sar. Sementara Ia menyampaikan undangan-Nya ke seluruh dunia su-

paya datang kepada-Nya agar diselamatkan, Ia mengutus malaikat-

malaikat-Nya memberikan pertolongan Ilahi kepada setiap jiwa yang 

datang kepada-Nya dalam pertobatan dan penyesalan, dan Ia datang 

secara pribadi melalui Roh Kudus-Nya ke tengah-tengah jemaat-Nya.” 

Nasihat kepada Pendeta dan Pelayan Injil, hlm 13. 

Sebagai pengantin perempuan Kristus dan sebagai objek perhatian-

Nya yang tertinggi, jemaat diharapkan dalam semua fungsinya menya-

takan keteraturan dan tabiat Ilahi.

“Pada masa ini  gereja harus mengenakan pakaian yang indah–

‘Kebenaran Kristus.’ Harus ada perbedaan jelas yang diputuskan untuk 

dipulihkan dan ditunjukkan kepada dunia dalam meninggikan hukum-

hukum Allah dan iman kepada Yesus. Keindahan kekudusan harus 

nampak dalam keharumannya yang asli yang bertolak belakang dengan 

cacat dan kegelapan orang-orang yang tidak setia, yakni orang-orang 

yang telah mendurhaka kepada hukum Allah. Demikianlah kita menge-

nal Allah, dan mengakui hukum-Nya, dasar pemerintahan-Nya di da-

lam surga dan di seluruh dunia. Kekuasaan-Nya haruslah dibedakan 

dengan nyata dan jelas di hadapan dunia; dan tidak ada hukum yang 

patut diakui bila berlawanan dengan hukum Yahwe. Jika untuk menen-

tang segala peraturan Allah, dunia ini dibiarkan mempengaruhi kepu-

tusan-keputusan kita atau tindakan-tindakan kita, maka rencana Allah 

digagalkan. Betapa lihai pun alasan yang dicari-cari itu, jikalau gereja 

merasa bimbang dalam hal itu, maka tertulislah tuduhan terhadap na-

manya di dalam buku-buku surga bahwa gereja itu tidak setia terha-

dap amanat-amanat yang paling suci, dan berkhianat terhadap kerajaan 

Kristus. Gereja itu harus teguh dan bertekad untuk berpegang kepada 

prinsip-prinsipnya di hadapan segenap alam semesta dan kerajaan-ker-

ajaan dunia; kesetiaan yang tetap dalam mempertahankan kehormatan 

dan kesucian hukum Allah akan menarik perhatian dan bahkan peng-

hargaan dunia, dan banyak orang dengan melihat perbuatan baik  yang 

dilakukan oleh jemaat akan dituntun untuk memuliakan Bapa kita yang 

di surga.”—Nasihat kepada Pendeta dan Pelayan Injil, hlm. 14

Rasul Petrus menulis, “Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat 

yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supa-

ya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang 

telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang 

ajaib” (1 Ptr. 2:9).

Sempurna di Dalam Kristus

“Tuhan telah melengkapi gereja-Nya dengan kesanggupan-kesang-

gupan dan berkat-berkat, agar gereja itu dapat menghadapkan kepada 

dunia suatu gambaran dari kesanggupan-Nya sendiri, dan agar gereja-

Nya dapat menjadi sempurna di dalam Dia, dan menjadi satu perwakilan 

yang terus-menerus dari satu dunia yang lain, bahkan dunia yang kekal, 

dan dari hukum-hukum yang lebih tinggi daripada hukum-hukum du-

niawi. Gereja-Nya harus menjadi suatu bait suci yang dibangun sesuai 

petunjuk Ilahi, dan arsitek malaikat telah membawa dari surga tongkat 

pengukur yang terbuat dari emas, agar setiap batu dapat dipahat dan di-

sesuaikan oleh ukuran Ilahi dan digosok hingga mengkilap seperti len-

cana surga, yang memancarkan sinar terang ke segala arah, sinar yang 

jelas dari Matahari Kebenaran. Gereja harus diberi makan manna dari 

surga dan harus dipelihara di bawah naungan kasih-Nya semata-mata. 

Dengan memakai lengkap senjata terang dan kebenaran, gereja me-

masuki pertentangan terakhir. Segala karat, barang-barang yang tidak 

berguna, akan dimusnahkan dan pengaruh kebenaran bersaksi kepada 

dunia tentang sifatnya yang menyucikan dan mengagungkan....

“Tuhan Yesus sedang mengadakan percobaan-percobaan terhadap 

hati manusia dengan memperagakan kemurahan dan kasih karunia-Nya 

JEMAAT ALLAH YANG HIDUP 29

yang limpah. Ia membantu perubahan-perubahan yang begitu ajaib, 

sehingga Setan, dengan kejayaannya yang sombong, bersama semua 

komplotannya yang jahat bersatu melawan Allah dan hukum-hukum 

pemerintahan-Nya, berdiri memandang mereka sebagai satu benteng 

yang tak terkalahkan oleh segala siasat dan tipu dayanya. Baginya mere-

ka yaitu  suatu rahasia yang tak dapat dipahami. Malaikat-malaikat Al-

lah, serafim, dan kerubim, segala kuasa yang diutus untuk bekerja sama 

dengan agen manusia, memandang dengan keheranan dan kegirangan, 

bahwa manusia yang telah jatuh, yang dulunya merupakan anak-anak 

murka, melalui pengajaran Kristus memperkembang karakter yang se-

suai dengan teladan Ilahi, menjadi putra dan putri Allah, untuk melaku-

kan suatu peran penting dalam pekerjaan dan kesukaan surga. 

“Kepada gereja-Nya, Kristus telah menganugerahkan fasilitas yang 

cukup agar Ia dapat menerima suatu hasil kemuliaan besar dari milik 

yang telah dibeli dan ditebus-Nya. Gereja, yang dianugerahi kebenar-

an Kristus, yaitu  tempat penyimpanan harta-Nya, di mana kekayaan 

kemurahan-Nya, kasih-Nya, rahmat-Nya, harus tampak di dalam per-

tunjukannya yang sempurna dan terakhir.... 

“Di dalam kesucian mereka yang murni dan kesempurnaan yang tak 

bercela, Kristus memandang umat-Nya sebagai pahala atas segala pen-

deritaan-Nya, kehinaan-Nya, dan kasih-Nya, dan merupakan tambahan 

bagi kemuliaan-Nya–Kristus pusat agung dari mana terpancar segala 

kemuliaan. “Berbahagialah orang-orang yang diundang ke pesta per-

nikahan Anak Domba.”—Nasihat kepada Pendeta dan Pelayan Injil, 

hlm. 15-17.

Gereja menjalankan prinsip-prinsip yang terdahulu tentang kesatuan 

gereja Kristus. Dengan damai dan kuasa yang dibawa oleh kebenaran 

Kristus, gereja dijanjikan untuk mengalahkan segala tantangan yang di-

timbulkan dosa di antara umat manusia.


Organisasi dan Wewenang

Organisasi gereja didasarkan atas prinsip-prinsip Allah. “Janganlah 

sekali-kali biarkan pikiran orang-orang menggoncangkan imanmu ten-

tang tata tertib dan kerukunan yang harus terdapat di dalam jemaat.... 

Allah yang di surga yaitu  Allah yang berperaturan, dan Ia menghen-

daki semua pengikut-Nya memiliki  undang-undang, dan memelihara 

tata tertib.”—Testimonies, jld. 5, hlm. 274

Dasar Alkitabiah untuk Organisasi

Ketika Allah memanggil Bangsa Israel keluar dari Mesir dan memi-

lih mereka menjadi umat pilihan-Nya yang istimewa, Ia menyediakan 

bagi mereka satu bentuk organisasi yang amat mengagumkan untuk 

mengatur kehidupan mereka, dalam masalah sipil dan agama.

 “Pemerintahan Bangsa Israel ditandai oleh organisasi yang paling 

sempurna, ajaib baik di dalam kesempurnaannya dan juga kesederha-

naannya. Tata tertib yang dinyatakan dengan jelas sekali di dalam 

me nyempurnakan dan mengatur segala hasil ciptaan Allah, kelihatan 

dengan jelas di dalam pemerintahan Bangsa Israel. Allah yaitu  pu-

sat kekuasaan dan pemerintahan Bangsa Israel. Musa berdiri sebagai 

pe mimpin mereka yang kelihatan, yang ditetapkan Allah, untuk men-

jalankan hukum-Nya atas nama-Nya. Dari antara pemimpin-pemimpin 

suku-suku bangsa itu kemudian telah dipilih satu majelis yang terdiri 

dari tujuh puluh orang untuk membantu Musa di dalam segala urusan 

yang umum di dalam bangsa itu. Kemudian datang imam-imam, yang 

meminta nasihat pada Tuhan di dalam bait suci. Penghulu-penghulu 

atau kepala-kepala memerintah suku-suku itu. Di bawah mereka ini 

terdapat ‘kepala atas seribu orang, kepala atas seratus orang, kepala 

atas lima puluh orang dan kepala atas sepuluh orang,’ dan yang tera-

khir pegawai-pegawai yang diangkat untuk melaksanakan tugas-tugas 

khusus.”—Alfa dan Omega, jld. 1, hlm. 445-446.

Gereja Perjanjian Baru menunjukkan kesempurnaan yang sama di 

dalam organisasinya. Kristus sendiri, yang telah membentuk gereja (Mat. 

16:18), “memberikan kepada anggota, masing-masing secara khusus, 

suatu tempat pada tubuh, seperti yang dikehendaki-Nya” (1 Kor. 12:18). 

Ia sendirilah yang telah menganugerahkan kepada mereka itu pelbagai 

karunia dan talenta yang cukup untuk melakukan pekerjaan yang dise-

rahkan kepada mereka dan mengorganisir mereka menjadi satu tubuh 

yang hidup dan bekerja, dalam tubuh yang kepalanya yaitu  Dia.

“Sebab sama seperti pada satu tubuh kita memiliki  banyak anggo-

ta, tetapi tidak semua anggota itu memiliki  tugas yang sama, demi-

kian juga kita, walaupun banyak, yaitu  satu tubuh di dalam Kristus; 

tetapi kita masing-masing yaitu  anggota yang seorang terhadap yang 

lain” (Rm. 12:4, 5). “Ialah [Kristus] kepala tubuh, yaitu jemaat. Ialah 

yang sulung, yang pertama bangkit dari antara orang mati, sehingga Ia 

yang lebih utama dalam segala sesuatu” (Kol. 1:18).

“Ada rupa-rupa karunia, tetapi satu Roh. Dan ada rupa-rupa pelayan-

an, tetapi satu Tuhan”  (1 Kor. 12:4, 5). “Karena sama seperti tubuh itu 

satu dan anggota-anggotanya banyak, dan segala anggota itu, sekalipun 

banyak, merupakan satu tubuh, demikian pula Kristus” (1 Kor. 12:12). 

“Kamu semua yaitu  tubuh Kristus dan kamu masing-masing yaitu  

anggotanya. Dan Allah telah menetapkan beberapa orang dalam Jema-

at: pertama sebagai rasul, kedua sebagai nabi, ketiga sebagai pengajar. 

Selanjutnya mereka yang mendapat karunia untuk mengadakan mukji-

zat, untuk menyembuhkan, untuk melayani, untuk memimpin, dan un-

tuk berkata-kata dalam bahasa roh” (1 Kor. 12: 27, 28).

ORGANISASI DAN WEWENANG 33

Pentingnya Organisasi 

Sebagaimana tubuh tidak dapat hidup dan bergerak kecuali anggota-

anggota tubuh itu secara teratur dipersatukan dan bekerja bersama-sa-

ma, demikian pula tidak ada gereja yang dapat hidup, bertumbuh dan 

berkembang jika anggota-anggotanya tidak diorganisasikan ke dalam 

satu tubuh rohani yang utuh, setiap anggota melakukan kewajiban dan 

pekerjaan yang diberikan Allah di bawah pengaturan kuasa Ilahi. Tan-

pa organisasi tidak ada lembaga atau gerakan yang boleh hidup. Suatu 

bangsa tanpa pemerintahan yang teratur akan segera menjadi kacau. Se-

buah perusahaan dagang yang tidak memiliki  organisasi akan gagal; 

demikian pulalah akan terjadi dengan gereja; tanpa organisasi gereja itu 

akan terpecah-pecah dan mati.

Untuk perkembangan gereja yang sehat dan untuk menyelesaikan tu-

gasnya yang mulia membawa kabar Injil keselamatan ke seluruh dunia, 

Kristus memberikan kepada gereja-Nya sebuah bentuk organisasi yang 

sederhana tetapi sangat berhasil. Kemajuan gereja dalam melaksanakan 

tugasnya bergantung atas penurutannya yang setia kepada pola Ilahi 

ini.

“Beberapa orang berpendapat bahwa bilamana kita mendekati waktu 

kesudahan, maka semua anak Allah akan bekerja sendiri-sendiri tidak 

terikat pada salah satu organisasi agama. Tetapi Tuhan telah menun-

jukkan kepada saya bahwa dalam pekerjaan ini tidak dibenarkan hal 

yang demikian yaitu masing-masing orang bekerja sendiri-sendiri.”—

Nasihat kepada Pendeta dan Pelayan Injil, hlm. 480.

“Oh, alangkah gembiranya Setan kalau ia dapat menyusup di antara 

umat ini, lalu mengacaukan pekerjaan itu justru pada saat organisasi 

yang kuat sangat diperlukan, yang akan merupakan senjata yang paling 

ampuh untuk mencegah segala gerakan pengacau, dan menolak segala 

tuntutan yang tidak disahkan oleh Firman Allah! Kita harus menjaga 

supaya jangan terjadi pelanggaran yang memecah belah organisasi dan 

peraturan yang telah didirikan dengan usaha yang teliti dan bijaksana. 

Janganlah sekali-kali diperkenankan unsur-unsur yang tidak berpera-

turan mengendalikan pekerjaan Tuhan pada masa ini.”—Nasihat kepa-

da Pendeta dan Pelayan Injil, hlm. 480

Tujuan Organisasi

“Dengan bertambahnya anggota-anggota kita, jelaslah bahwa tanpa 

suatu bentuk organisasi, akan terjadi kekacauan yang hebat, dan peker-

jaan itu tidak akan bergerak maju. Untuk menyediakan dana membia-

yai pekerjaan itu, untuk menjalankan pekerjaan di ladang-ladang yang 

baru, untuk melindungi gereja maupun pekerja Injil dari anggota-ang-

gota yang tidak layak, untuk mengurus harta milik gereja, untuk me-

nerbitkan kebenaran melalui percetakan, dan untuk banyak hal lainnya, 

maka organisasi harus ada.”—Nasihat kepada Pendeta dan Pelayan 

Injil, hlm. 22.

“Sebagai anggota-anggota gereja yang kelihatan, dan pekerja-pekerja 

dalam kebun anggur Tuhan, semua orang yang mengaku dirinya Kristen 

hendaknya berusaha sekuat tenaga untuk memelihara perdamaian, ke-

rukunan, dan kasih dalam jemaat. Camkanlah permintaan doa Kristus: 

‘Supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di 

dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, 

supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.’ 

Persatuan jemaat yaitu  suatu bukti yang nyata bahwa Allah telah me-

nyuruh Yesus ke dalam dunia sebagai Penebusnya.”—Testimonies, jld. 

5, hlm. 619, 220.

Model Perjanjian Baru

Perintah Juruselamat kepada jemaat untuk mengabarkan Injil ke se-

luruh dunia (Mat. 28:19, 20; Mrk. 16:15) tidak hanya berarti menye-

barkan pekabaran itu saja, melainkan juga melindungi kesejahteraan 

orang-orang yang menerima pekabaran itu. Ini mencakup pekerjaan 

penggembalaan, serta menyediakan tempat berkumpul, dan juga meng-

atasi masalah hubungan. Keadaan seperti ini membutuhkan organisasi. 

Pada mulanya rasul-rasul menyusun satu majelis yang memimpin 

kegiatan-kegiatan gereja yang masih kecil itu dari kota Yerusalem (Ki-

sah 6:2; 8:14). Ketika kumpulan di dalam kota itu bertambah besar 

sehingga urusannya bertambah banyak dan rumit, maka diangkatlah 

diaken-diaken untuk mengatur urusan-urusan jemaat (Kisah 6:2-4).

ORGANISASI DAN WEWENANG 35

Kemudian, perkumpulan-perkumpulan lain bermunculan, bukan ha-

nya di Asia, tetapi juga di Eropa, dan hal ini membutuhkan langkah-

langkah selanjutnya dalam hal organisasi. Kita mendapati bahwa di Asia 

Kecil, ada orang-orang yang diurapi sebagai ketua “di tiap-tiap jemaat” 

(Kisah 14:23). Perkembangan pekerjaan itu di seluruh jajahan Kerajaan 

Roma, menuntut adanya organisasi yang mempersatukan jemaat-jemaat 

dalam satu wadah yang sekarang disebut konferens atau daerah (Gala-

tia 1:2). Dengan demikian, langkah demi langkah gereja yang pertama 

itu diorganisasi. Ketika keperluan-keperluan timbul, Allah memberikan 

petunjuk dan tuntunan kepada para pemimpin pekerjaan-Nya sehingga 

melalui musyawarah dengan jemaat, suatu bentuk organisasi didirikan 

yang memelihara segala kepentingan pekerjaan.

Organisasi Gereja Saat Ini

Bentuk pemerintahan Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh yaitu  

representatif atau perwakilan, yang mengakui bahwa kekuasaan dalam 

gereja terletak pada anggota-anggota gereja itu, dan tanggung jawab 

pelaksanaan pekerjaan diserahkan kepada badan perwakilan dan kepa-

da pegawai-pegawai untuk memerintah Gereja itu pada masing-masing 

tingkatan. Bentuk pemerintahan gereja seperti ini mengakui pula bahwa 

pengurapan kepada pendeta diakui oleh Gereja di seluruh dunia.

“Setiap anggota jemaat memiliki  satu suara dalam pemilihan 

pe gawai jemaat. Jemaat memilih pegawai-pegawai konferens. Para 

utus an yang dipilih oleh konferens-konferens memilih pegawai uni 

konferens, dan para utusan yang dipilih oleh uni konferens memilih 

pegawai General Conference. Oleh pengaturan ini tiap-tiap konferens, 

tiap-tiap lembaga, tiap-tiap jemaat, dan tiap-tiap individu, baik secara 

langsung maupun melalui perwakilan, memiliki satu suara dalam pe-

milihan orang yang memikul tanggung jawab amat penting di General 

Conference.”—Testimonies, jld. 8, hlm. 236, 237.

Sistem organisasi Gereja sekarang  dihasilkan dari suatu pemahaman 

teologis yang berkembang tentang misi Gereja, pertumbuhan keang-

gotaan, dan penyebaran Gereja secara geografis. Para perwakilan dari 

konferens-konferens bertemu pada tahun 1863 untuk mengorganisasi 

36 

Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh General Conference.

Ada beberapa tingkat organisasi dalam Gereja mulai dari individu 

umat percaya sampai kepada organisasi pekerjaan di seluruh dunia. 

Unit ______________ di masing-masing tingkat ini secara berkala meng-

adakan konferensi resmi yang dikenal sebagai rapat konstituensi atau 

rapat umum. (Rapat konstituensi atau rapat umum jemaat setempat 

umumnya disebut sebagai konferensi jemaat). Di dalam struktur Gereja 

Masehi Advent Hari Ketujuh, tidak ada organisasi yang menentukan 

statusnya sendiri, juga tidak berfungsi seolah-olah tidak memiliki ke-

wajiban kepada keluarga Gereja di luar batas-batasnya.

Garis Besar Organisasi Gereja

1. Jemaat— Sekelompok anggota di lokasi tertentu yang telah dibe-

rikan status resmi sebagai jemaat, oleh konstituensi konferens/daerah 

dalam rapat umum.

2. Konferens—Sekelompok jemaat-jemaat setempat, di wilayah ter-

tentu, yang telah diberikan status resmi sebagai Masehi Advent Hari 

Ketujuh konferens/daerah/field, oleh komite eksekutif divisi pada rapat 

tengah tahunan, akhir tahun, atau rapat dewan divisi, dan kemudian di-

terima, di rapat konstituensi uni, ke dalam persekutuan persaudaraan 

konferens/daerah. (Lihat hlm. 24).

3. Uni Gereja-gereja—Sekelompok gereja, di wilayah tertentu, yang 

telah diberikan, oleh Rapat Umum General Conference, status resmi se-

bagai uni gereja-gereja baik dengan status konferens maupun misi.

4. Uni Konferens/Misi—Sekelompok konferensi, dalam wilayah 

tertentu, yang telah diberikan status resmi sebagai uni konferens/misi, 

oleh Rapat Umum General Conference.

5. General Conference dan Divisi—General Conference mewakili 

Gereja seluruh dunia. ______________ dewan pemilih ditetapkan dalam 

Konstitusinya. Untuk memudahkan aktivitasnya di seluruh dunia, Ge-

neral Conference telah mendirikan kantor-kantor daerah, yang dikenal 

sebagai divisi General Conference, yang telah ditugaskan, oleh kepu-

tusan Komite Eksekutif  General Conference di Dewan Tahunan, untuk 

pengawasan administrasi umum bagi kelompok uni yang telah ditunjuk 

ORGANISASI DAN WEWENANG 37

dan unit Gereja lainnya di wilayah geografis tertentu.

Alkitab yaitu  dasar dan sumber keyakinan dan perbuatan; atas dasar 

ini, General Conference dalam Rapat Umum menentukan dasar keper-

cayaan Gereja. General Conference dalam Rapat Umum juga menge-

sahkan pembentukan uni-uni dan wilayah, merevisi Peraturan Jemaat, 

memilih kepemimpinan General Conference dan divisi, menjalankan 

fungsi lainnya sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Dasar dan 

Anggaran Rumah Tangga, dan memperhatikan pokok-pokok yang di-

maksud oleh Komite Eksekutifnya. Komite Eksekutif General Confer-

ence di antara Rapat-rapat Umum dikuasakan oleh Undang-undang 

Dasar dan Anggaran Rumah Tangga untuk bertindak atas nama kon-

stituensi. Jadi organisasi-organisasi Gereja di seluruh dunia mengakui 

General Conference dalam Rapat Umum sebagai suara dari Gereja.

Peran Lembaga-lembaga

Di setiap tingkatan organisasi Gereja menyelenggarakan lembaga 

pendidikan, kesehatan, percetakan, dan lembaga-lembaga lainnya un-

tuk menjangkau keluar dalam nama Kristus, untuk memenuhi keperluan 

satu dunia yang putus asa ini. Dalam teologi dan filsafat Masehi Advent 

Hari Ketujuh tentang operasional gereja, lembaga-lembaga ini dari mu-

lanya telah menjadi alat-alat yang tidak dapat dipisahkan dari misi rohani 

Gereja melayani semua orang dan membawa Injil ke seluruh dunia.

Tidak ada organisasi atau lembaga Gereja mengambil tanggung ja-

wab untuk kekurangan, utang, tindakan, atau penghilangan (kelalaian) 

dari organisasi Gereja lainnya hanya karena ______________ Gereja itu.

Wewenang Gereja Mula-mula 

Sebagai Pencipta, Penebus, Pemelihara, Tuhan dan Raja dari segala 

ciptaan, Allah sendirilah sumber wewenang bagi Gereja. Ia mendelega-

sikan wewenang itu kepada para nabi dan rasul-Nya (2 Kor. 10:8). Itu-

lah sebabnya, mereka menempati posisi penting dan unik dalam pem-

beritaan Firman Allah dan kemajuan rohani Gereja (Ef. 2:20).

Gereja mula-mula memikul tanggung jawab untuk menjaga kemur-

38 

nian doktrin dan perbuatan. Para penatua (bishop) memegang wewe-

nang yang besar. Salah satu fungsi utama mereka yaitu  pelayanan 

penggembalaan umum dan pengawasan (Kisah 20:17-28; Ibr. 13:17; 

1 Ptr. 5:1-3), dengan tugas-tugas khusus seperti memberikan petun-

juk-petunjuk mengenai doktrin dan sanggup meyakinkan penentang-

penen tangnya.(1 Tim. 3:1, 2; Titus 1:5, 9). Mereka diperintahkan untuk 

“menguji roh-roh, apakah mereka berasal dari Allah” (1 Yoh. 1:4) atau, 

dalam istilah Paulus, “ujilah segala sesuatu” dan “peganglah yang baik” 

(1 Tes. 5:21). 

Demikian juga mengenai pelaksanaan disiplin jemaat (Mat. 18:15-

17), yang mencakup mulai dari nasihat secara empat mata dan membe-

rikan peringatan (lihat Mat. 18:16; Gal. 6:1) hingga mengeluarkannya 

dari ______________ jemaat (Mat. 18:18; 1 Kor. 5:11, 13; 2 Kor. 2:5-11). 

Gereja memiliki wewenang untuk menentukan kondisi-kondisi ke-

anggotaan dan kaidah-kaidah yang memerintah jemaat.

General Conference Pemegang Wewenang Tertinggi

Dalam Gereja kita sekarang ini, Rapat Umum General Conference, 

dan Komite Eksekutif di antara rapat-rapat umum, merupakan otoritas 

tertinggi dalam administrasi Gereja. Komite Eksekutif General Con-

ference diberi kuasa oleh konstitusi untuk menciptakan organisasi-or-

ganisasi lebih rendah untuk menjalankan peran mereka masing-masing. 

Itulah sebabnya semua organisasi dan institusi yang berada di bawah-

nya di seluruh dunia akan mengakui Rapat Umum General Conference 

dan Komite Eksekutif General Conference di antara Rapat Umum, se-

bagai pemegang wewenang tertinggi dalam Gereja Masehi Advent Hari 

Ketujuh, di bawah Allah. 

Bilamana muncul perbedaan-perbedaan di antara organisasi-organi-

sasi dan institusi-institusi, yaitu  tepat bila persoalan itu dibawa kepada 

organisasi yang lebih tinggi hingga akhirnya mencapai Rapat Tahun-

an Komite Eksekutif General Conference, atau Rapat Umum General 

Conference. Di antara rapat-rapat ini, Komite Eksekutif General Con-

ference merupakan badan pemegang wewenang terakhir perihal semua 

pertanyaan. Keputusan komite bisa ditinjau kembali pada salah satu 

ORGANISASI DAN WEWENANG 39

rapat umum atau pada Rapat Tahunan. Bilamana organisasi-organisasi 

meninjau kembali keputusan-keputusan organisasi lain, mereka tidak 

bertanggung jawab untuk kekurangan-kekurangan organisasi lain mana 

pun.

“Saya sudah sering mendapat petunjuk dari Tuhan bahwa tidak boleh 

pertimbangan seseorang diserahkan kepada pertimbangan orang yang 

lain. Tidak boleh pikiran satu orang atau pikiran beberapa orang saja di-

anggap sudah cukup dalam kebijaksanaan dan kuasa untuk mengenda-

likan pekerjaan ini dan menentukan rencana-rencana apa yang hendak 

diikuti. Tetapi bila di suatu rapat General Conference, pertimbangan 

dari saudara-saudara yang berkumpul dari seluruh pelosok digunakan, 

maka kebebasan pribadi dan pertimbangan pribadi tidak boleh diper-

tahankan dengan keras kepala, tetapi harus ditaklukkan. Tidak boleh 

ada seorang pekerja menganggap suatu kebajikan bila mempertahan-

kan dengan gigih posisi kebebasannya, bertentangan dengan keputusan 

umum.”—Testimonies, jld. 9, hlm. 260.


Para Pendeta dan 

Para Pelayan Jemaat Lainnya

Suatu Pelayanan yang Ditetapkan Ilahi

“Allah memiliki suatu jemaat, dan jemaat ini memiliki  pelayan-

an yang ditetapkan Ilahi. ‘Dan Ialah yang memberikan baik rasul-rasul 

maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-

gembala dan pengajar-pengajar, untuk memperlengkapi orang-orang 

kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus, 

sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang 

benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan 

yang sesuai dengan kepenuhan Kristus....’

“Orang-orang yang telah ditetapkan Allah telah dipilih untuk meng-

awasi dengan penuh perhatian, dan kewaspadaan yang teguh, agar je-

maat tidak dapat dihancurkan oleh alat-alat kejahatan Setan, tetapi agar 

ia dapat berdiri di dunia untuk meninggikan kemuliaan Allah di antara 

manusia.”—Nasihat kepada Pendeta dan Pelayan Injil, hlm. 46, 47.

Ketua Konferens—Ketua konferens haruslah seorang pendeta ber-

pengalaman yang telah diurapi dan memiliki nama baik. Ia berdiri seba-

gai pimpinan pelayanan Injil di konferens dan yaitu  ketua utama, atau 

pengawas bagi semua jemaat. Ia bekerja bagi kesejahteraan rohani dan 

peningkatan jemaat-jemaat. Ia memberi nasihat kepada mereka dalam 

42 

hal kegiatan dan rencana-rencana mereka. Ia memiliki  akses kepada 

semua jemaat, kebaktian jemaat, konferensi jemaat, dan majelis jema-

at, tanpa hak suara kecuali dipercayakan oleh jemaat, atau kecuali dia 

yaitu  anggota dari jemaat itu. Karena jabatannya, ia dapat memimpin 

rapat-rapat jemaat jika diperlukan. Ia dapat memeriksa semua catatan 

jemaat. 

Ketua konferens tidak memiliki wewenang menyisihkan pegawai-

pegawai jemaat yang telah dipilih secara resmi melainkan harus bekerja 

sama dengan mereka. Mereka saling mengikat, dengan pengakuan ikat-

an persekutuan konferens, para pengurus jemaat harus bertukar pikiran 

dengan dia atas semua hal yang mempengaruhi kesejahteraan jemaat. 

Mereka tidak boleh berusaha mengesampingkan dia dari pelaksanaan 

tugas yang sesungguhnya.

Para Direktur Departemen Konferens—Para direktur departemen 

konferens membantu perkembangan bidang pekerjaan kegerejaan yang 

penting. Agar dapat berhasil dalam menjalankan tugas yang diberikan 

pada mereka, para pekerja ini harus memiliki  akses ke jemaat-je-

maat. Mereka harus diberikan kesempatan untuk mengemukakan dan 

mengembangkan rencana-rencana mereka di jemaat-jemaat, bahkan di 

luar departemen mereka masing-masing.

Para direktur departemen tidak diberi wewenang administratif atau 

eksekutif, sehingga hubungan mereka dengan gereja-gereja setempat 

yaitu  bersifat penasihat. Tugas mereka tidak memiliki  hubungan 

yang sama dengan jemaat-jemaat seperti yang dimiliki komite konfe-

rens atau ketua konferens. Dalam mempromosikan bidang pekerjaan 

mereka yang spesifik, mereka bekerja di seluruh konferens itu. Namun, 

mereka tidak diharapkan membimbing jemaat-jemaat dalam hal pemi-

lihan jemaat dan tugas administratif lainnya atau bidang pelayanan lain, 

kecuali atas permintaan khusus ketua konferens. 

Para Pendeta yang Diurapi—Para pendeta yang diurapi, yang di-

tunjuk oleh komite konferens untuk bertindak sebagai gembala atau ke-

tua distrik, tidak menggantikan ketua konferens di distrik mereka; me-

reka tidak memiliki kuasa administratif seperti ketua konferens, tetapi 

 43

mereka bekerja sama dengan dia dalam melaksanakan rencana-rencana 

dan peraturan-peraturan konferens.

Pada waktu ditugaskan sebagai pendeta di suatu jemaat, pendeta 

yang diurapi memiliki  posisi lebih tinggi daripada ketua jemaat; para 

ketua jemaat melayani sebagai asistennya. Karena pengurapannya ke 

dalam pelayanan maka ia memenuhi syarat untuk melaksanakan semua 

tata cara dan upacara jemaat. Para pendeta harus menjadi pemimpin ro-

hani dan penasihat jemaat. Para pendeta harus memberi petunjuk kepa-

da para pengurus jemaat dalam tugas mereka dan membuat perencana-

an dengan mereka untuk semua bidang pekerjaan dan kegiatan jemaat. 

Pendeta yaitu  anggota majelis jemaat dan bertanggung jawab se-

bagai ketua majelis jemaat itu, seorang ketua jemaat melayani sebagai 

ketua majelis bekerja sama dengan pendeta. (Lihat hlm. 100). Gembala, 

dengan bantuan para ketua, diharapkan untuk merencanakan dan me-

mimpin semua acara rohani jemaat, seperti kebaktian Sabat pagi dan 

pertemuan doa, dan harus memimpin acara perjamuan dan baptisan. 

Ia tidak boleh membatasi diri dengan badan penasihat khusus yang di-

pilihnya sendiri, tetapi harus bekerja sama dengan para pengurus yang 

dipilih secara resmi.

Jika seorang penginjil diminta untuk memimpin suatu kegiatan peng-

injilan di suatu daerah atau kota di mana ada satu jemaat dengan seo-

rang pendeta yang bertugas, maka pendeta itu harus diminta oleh kon-

ferens untuk membantu penginjil itu, sehingga pendeta itu memiliki  

kesempatan untuk mengenal calon-calon anggota.

Pendeta-pendeta atau pendeta muda tidak diusulkan atau dipilih oleh 

jemaat untuk jabatan itu oleh jemaat. Hubungan mereka dengan jemaat 

yaitu  melalui penunjukan komite konferens, dan penunjukan itu bisa 

diubah kapan saja. (Lihat hlm. 100).

Seorang pendeta dapat dipecat dari jabatannya oleh keputusan komi-

te konferens, tanpa mempengaruhi ______________nya di jemaat. Tetapi 

jika pendeta itu telah dipecat dari ______________ jemaat dan kemudian 

ke anggotaannya dipulihkan kembali sebagai anggota awam, pemulihan 

______________ pendeta itu tidak berarti memulihkan kembali jabatannya 

dalam penggembalaan. 

44 

Pendeta yang Belum Diurapi—Untuk memberi kesempatan kepada 

para orang muda menunjukkan panggilan mereka kepada pelayanan, 

terutama dalam memenangkan jiwa, para calon ini  diberikan izin 

penggembalaan oleh konferens. Pemberian izin seperti itu memberikan 

kesempatan dan hak untuk mengembangkan karunia penggembalaan 

mereka. Pendeta yang belum diurapi berwenang untuk berkhotbah, ter-

libat dalam penginjilan, memimpin usaha jangkauan keluar (misiona-

ris), dan membantu seluruh kegiatan jemaat. 

Namun, ada situasi-situasi tertentu, di mana konferens perlu meng-

angkat seorang pendeta yang belum diurapi memegang tanggung jawab 

sebagai seorang pendeta atau wakil pendeta di satu jemaat atau kelom-

pok jemaat. Untuk membuka jalan bagi dia agar dapat melaksanakan 

tugas penggembalaan tertentu, jemaat atau kelompok jemaat yang akan 

dia layani dapat memilih dia sebagai ketua jemaat. Namun, karena ia di-

pekerjakan dan ditugaskan oleh konferens maka ia mewakili konferens, 

dan dalam derajat tertentu sesuai keadaan, dianggap bahwa wewenang 

dan tanggung jawabnya haruslah lebih luas agar dia bisa melaksana-

kan tugasnya dengan memuaskan. Setelah komite eksekutif divisi me-

mutuskannya, maka konferens pun boleh mengambil keputusan. (Lihat 

hlm. 100).

Komite konferens tidak boleh melebihi apa yang telah dikuasakan 

oleh komite divisi. Juga tidak boleh memberikan wewenang pada pen-

deta yang belum diurapi untuk pergi dari jemaat ke jemaat di luar je-

maat atau kelompok jemaat di mana ia menjadi ketua jemaat. Keputus-

an komite konferens tidak boleh menggantikan pemilihan jemaat atau 

pengurapan untuk pelayanan Injil.

Para Guru Alkitab—Konferens boleh mempekerjakan para guru 

Alkitab dan menugaskan mereka dalam usaha-usaha penginjilan atau 

dengan jemaat setempat. Meskipun mereka berada di bawah di bawah 

pengarahan umum konferens, seorang guru Alkitab ditugaskan untuk 

melakukan pekerjaan penginjilan di bawah pengarahan penginjil yang 

melaksanakan kebangunan rohani ini , dan seorang guru Alkitab 

ditugaskan melakukan pekerjaan gereja di bawah arahan gembala je-

maat. Seorang guru Alkitab tidak boleh diminta untuk menjalankan tu-

 45

gas jemaat, kecuali oleh pengaturan khusus konferens, tetapi ia harus 

diberi kebebasan untuk menjalankan pekerjaan memenangkan jiwa.

Konferens Mengatur Para Pekerja Gereja—Ketua konferens beker-

ja sama dengan komite konferens mengatur semua pekerja konferens, 

seperti para pendeta, guru Alkitab, dan direktur-direktur departemen, 

yang menerima kredensi mereka dari konferens dan bertanggung jawab 

kepada konferens, bukan kepada jemaat setempat. Jemaat boleh me-

minta pelayanan atau pertolongan dari para pekerja konferens, dengan 

menyampaikan permohonan itu kepada ketua konferens, tetapi semua 

penetapan tugas dibuat oleh komite konferens. Komite konferens boleh 

mengubah penugasan kapan saja dianggap perlu. Pekerja atau jemaat 

boleh memohon kepada komite konferens untuk mendengarkan pen-

dapat mereka tentang keputusan pemindahan pekerja, dan komite akan 

mempertimbangkannya dengan hati-hati permohonan itu berdasarkan 

kebutuhan seluruh konferens. Jika pekerja menolak beker ja sama de-

ngan komite dan menolak untuk bekerja sesuai dengan keputusan itu, 

komite dapat menganggap tindakannya itu sebagai pembangkangan 

dan harus diperlakukan selayaknya. Pekerja itu tidak boleh meminta 

dukungan jemaat mengenai keputusan ini . Jemaat mana pun yang 

mendukung pendirian seorang pekerja seperti itu dapat didisiplin oleh 

konferens.

Kredensi dan Lisensi (SK)

Pekerjaan Allah harus dilindungi dengan hati-hati oleh para pemim-

pin yang bertanggung jawab mulai dari jemaat hingga General Con-

ference. Kredensi dan lisensi resmi diberikan kepada semua yang te-

lah ditetapkan menjadi pekerja Gereja penuh waktu dan diakui oleh 

komite-komite pengawasan untuk jangka waktu terbatas.

Di satu konferens setempat, komite memberikan wewenang kepada 

perorangan untuk mewakili Gereja sebagai para pekerja Injil dan pen-

deta. Wewenang ini dinyatakan dengan memberikan kredensi dan lisen-

si (SK), yang merupakan penugasan tertulis, yang diberi tanggal dan 

tanda tangan officers (pimpinan) konferens. Wewenang yang diberikan 

46 

dengan cara itu tidak bersifat pribadi atau menjadi milik orang yang 

memegang kredensi itu, tetapi ini yaitu  hak dari badan yang membe-

rikan kredensi, dan dapat dicabut sewaktu-waktu, jika terdapat alasan 

yang cukup. Kredensi dan lisensi yang diberikan kepada para pekerja 

tidak boleh dianggap sebagai milik pribadi para pegawai, tetapi sebagai 

milik organisasi yang memberikannya. Pegawai itu harus mengembali-

kannya jika diminta oleh organisasi.

Agar musuh-musuh tidak dapat menempati mimbar-mimbar kita, 

maka diminta dengan sangat agar tidak seorang pun diizinkan berbicara 

kepada jemaat mana pun kecuali ia dapat menunjukkan kredensi atau 

lisensi yang berlaku dari organisasi. Namun diakui bahwa ada waktu-

waktu di mana jemaat kita perlu mendapat bimbingan dari para pejabat 

pemerintah atau pemimpin masyarakat; tetapi semua orang yang tak 

berwenang harus dilarang naik ke mimbar. (Lihat halaman 158-162).

Kredensi dan Lisensi yang Kedaluwarsa—Kredensi dan lisensi 

dibe rikan sesuai keputusan konferens untuk masa jabatan sebagaimana 

ditentukan oleh anggaran dasar dan anggaran rumah tangga atau pera-

turan kerja dan diperbarui atas pemungutan suara di rapat umum kon-

ferens atau oleh komite eksekutif. Pemilikan kredensi atau lisensi yang 

telah kedaluwarsa atau habis masa berlakunya, membuat orang itu tidak 

memiliki  wewenang apa pun melakukan tugasnya dalam jabatan itu. 

Pekerja Pensiunan—Para pekerja pensiunan layak menerima peng-

hormatan dan penghargaan untuk membantu membangun jemaat Allah. 

Mereka bisa terus menjadi berkat dan sokongan bagi jemaat di mana 

______________ berada dengan memilih untuk memegang jabatan apa pun 

di dalam jemaat. Mereka juga dapat melaksanakan tugas penggembala-

an di bawah arahan komite konferens.

Para Mantan Pendeta tanpa Kredensi—Orang-orang yang sebe-

lumnya telah diurapi sebagai pendeta tetapi tidak memiliki kredensi 

yang sah lagi dari organisasi dapat dipilih sebagai ketua jemaat, dan 

jika pengurapan mereka masih berlaku, mereka tidak perlu diurapi lagi 

sebagai ketua. Pelayanan mereka terbatas hanya pada fungsi ketua je-

maat setempat.


Mengorganisasi, Menggabungkan, 

dan Membubarkan Jemaat

dan Perkumpulan

Mengorganisasi Jemaat

Satu jemaat diorganisasi oleh seorang pendeta yang diurapi atas re-

komendasi komite eksekutif konferens. (Untuk prosedur pengorganisa-

sian sebuah perkumpulan, lihat hlm. 49). Karena begitu banyak yang 

terlibat dalam organisasi gereja, maka ketua konferens setempat harus 

diundang supaya hadir.

Bilamana sekelompok orang-orang percaya yang telah dibaptis, su-

dah siap untuk memikul segala tanggung jawab terhadap satu jemaat 

yang diorganisasi, maka haruslah hal itu dirundingkan dengan ketua 

konferens, kemudian mendapatkan persetujuan dari komite eksekutif 

konferens sebelum menentukan tanggal upacara itu diadakan. 

Setelah orang-orang percaya yang dibaptis itu berkumpul pada tang-

gal yang disepakati, maka pendeta yang memimpin upacara itu harus 

terlebih dulu mengulangi secara singkat Dasar-dasar Kepercayaan Ge-

reja Masehi Advent Hari Ketujuh. 

Kemudian yang memimpin upacara itu harus mengadakan panggilan, 

supaya semua orang yang menyetujui prinsip-prinsip ini dan yang ingin 

dipersatukan dalam persekutuan jemaat, maju ke depan. Nama tiap-tiap 

orang harus dicatat. Jika ada yang telah menjadi anggota jemaat konfe-

48 

rens atau jemaat lain, maka orang yang menjalankan upacara itu harus 

me nyampaikan surat-surat pindah yang mereka telah dapatkan. Maka 

orang-orang itulah yang akan merupakan anggota-anggota inti jemaat.

Namun, jika tidak ada anggota-anggota pindahan, maka tiga orang 

(sebaiknya mereka yang memelihara Sabat dengan teguh dari antara 

yang hadir) harus dipilih sebagai anggota inti. Kepada mereka boleh 

ditanyakan pertanyaan-pertanyaan berikut: Apakah saudara menerima 

Kristus sebagai Juruselamat pribadimu? Adakah saudara menyetujui 

se pe nuhnya prinsip-prinsip kepercayaan yang baru dihadapkan itu? Su-

dahkah saudara dibaptiskan dengan cara diselamkan? Adakah saudara 

bergaul dengan baik dan percaya satu sama lain? 

Jika pertanyaan-pertanyaan ini dijawab dengan “ya” maka ketiga 

orang itu diumumkan menjadi inti jemaat yang baru itu. Kemudian na-

ma-nama yang didaftar itu dipanggil berturut-turut, dan setiap orang 

yang dipanggil namanya berdiri dan ditanyakan pertanyaan-pertanyaan 

yang di atas, lalu dipungutlah suara di antara anggota inti untuk mene-

rima dia dalam persekutuan jemaat. Demikianlah tiap-tiap orang dite-

rima menjadi anggota jemaat dan kemudian berhak memberikan suara-

nya untuk nama yang berikut. Harus benar-benar diperhatikan bahwa 

hubung an yang erat dan kasih persaudaraan terdapat di antara orang-

orang yang diterima ke dalam persekutuan itu. Jika timbul kesulitan se-

hubungan dengan doktrin atau soal penerimaan menjadi anggota, maka 

putusan harus ditunda, kecuali hal itu dapat dibereskan dengan baik dan 

bijaksana.

Bilamana anggota inti telah memberikan suara kepada semua anggota 

yang berpotensi, maka jemaat itu menjadi satu badan yang lengkap dan 

sudah siap untuk pemilihan para pegawai. Kemudian anggota-anggota 

jemaat itu harus memilih panitia pemilih, dengan pendeta yang meng-

organisasi jemaat ini  sebagai ketuanya. Panitia itu akan mengu-

sulkan nama-nama untuk memegang pelbagai jabatan dalam jemaat. 

Ketika pegawai-pegawai jemaat telah dipilih, maka ketua-ketua harus 

diurapi, kecuali mereka sudah pernah diurapi sebagai ketua. Cara yang 

sama tetapi lebih singkat diadakan pula pengurapan terhadap diaken-

diaken dan diakenes-diakenes. Maka jemaat itu telah diorganisasi seca-

ra lengkap dan siap untuk melayani.

. 49

Sebelum upacara pengorganisasian itu ditutup, harus terlebih dulu 

putusan diambil untuk memohon kepada konferens supaya menerima 

jemaat yang baru diorganisasi itu ke dalam persekutuan jemaat-jemaat, 

pada rapat umum konferens berikutnya. 

Untuk memaksimalkan keberhasilan jemaat baru ini, konferens dan 

para pemimpin melihat bahwa semua pegawai jemaat telah benar-benar 

dilatih sehubungan dengan kewajiban-kewajiban mereka. Jemaat ju -

ga harus memiliki alat-alat yang diperlukan untuk perjamuan kudus, 

yang jika memungkinkan, maka acara perjamuan kudus harus diraya-

kan pada waktu pengorganisasian jemaat itu. Bendahara, sekretaris dan 

para pengurus jemaat lainnya harus menerima semua catatan penting 

atau perlengkapan yang diperlukan untuk menjalankan tanggung jawab 

mereka. 

Mengorganisasi Sebuah Perkumpulan

Di mana ada se