Tentang hewan 14
andang yang
lazim dipakai di Eropa dalam ku-
run waktu cukup lama. Sayangnya,
kandang ini akan rusak setiap kali pe-
ternak memanen madu. Mulai abad
XVII ditemukan kandang berupa kotak
kayu yang dirancang sedemikian rupa
agar tidak rusak pada saat panen.
Kandang seperti yang kita kenal saat ini
yaitu hasil rancangan LL Langstroth
pada abad XIX, tepatnya tahun 1851.
Domestikasi Kelinci
Sejak masa Romawi, mungkin juga
jauh sebelumnya, manusia berusaha
memelihara kelinci (Oryctolagus cuni-
culus) untuk diperoleh dagingnya. Se-
muanya ini diperkirakan berjalan pada
abad I di kawasan Eropa. Tampaknya
manusia membuat kesalahan dalam
domestikasi kelinci ini. Populasinya
yang meningkat cepat, serta kebiasa-
an meliang dan pola makannya yang
rakus, sangat merugikan usaha per-
tanian dan peternakan lainnya. Hal ini
secara nyata terjadi pada kelinci yang
dibawa dari Eropa ke Australia.
Domestikasi Ayam Kalkun
Ayam kalkun yang dalam bahasa Inggris
disebut Turkey (Meleagris gallopavo)
hidup liar di Amerika bagian tengah
dan utara. Hewan ini mulai didomesti-
kasi oleh warga Aztec di Meksiko
pada abad XIV. Ada kemungkinan pro-
ses domestikasi telah dimulai jauh
sebelumnya oleh nenek moyang suku
Aztec.
Ayam kalkun liar dibawa ke Eropa
oleh orang Spanyol pada abad XVI.
Ayam ini menjadi hewan ternak yang
sangat populer dan dikembangkan
hampir di seluruh Eropa. Pada abad
XVII ayam kalkun hasil peternakan
di Eropa dibawa kembali ke Amerika
oleh para imigran Eropa. Ayam kalkun
peliharaan yang ada pada saat ini
yaitu pengembangan ayam kalkun
yang dibawa kembali dari Eropa yang
dicampur kembali dengan kerabat
liarnya.
Domestikasi Burung Unta
Burung unta atau Ostrich (Struthio
camelus) mulai didomestikasi pada
akhir abad XIX. Awalnya domestikasi
bertujuan mendapatkan bulunya. Bulu
burung unta menjadi bahan penting
bagi gaya fashion para wanita saat itu.
Permintaan bulu burung unta untuk
dijadikan hiasan topi atau sebagai
kipas membuat para peternak berlom-
ba menggembala burung unta. Pada
akhir abad XX, dunia memandang bu-
rung unta sebagai sumber daging baru
yang berpotensi tinggi.
Burung unta yaitu burung
asli Afrika yang tidak dapat terbang.
Jenis ini yaitu satu-satunya bagian
dari suku Struthionidae. Burung besar
lainnya, seperti kiwi dan kasuari, ber-
asal dari suku lainnya. Burung unta
diidentifikasi dengan leher dan kakinya
yang jenjang. Burung ini dapat berlari
cepat hingga sekitar 90 km/jam.
Demikianlah daftar beberapa he-
wan yang telah berhasil didomestikasi
manusia, lengkap dengan perkiraan
waktu dan lokasinya. Seperti disebut
sebelumnya, proses domestikasi he-
wan sangat erat kaitannya dengan
keberadaan hewan ternak yang ban-
yak disebut dalam Al-Qur'an. Tanpa
menyebut kata yang menunjukkan
“domestikasi” secara spesifik, Allah
memberi gambaran bagaimana Dia
telah memberi petunjuk dengan menu-
runkan hewan ternak. Tentunya, ada-
nya hewan ternak dimulai dari suatu
proses penjinakan jenis tertentu dari
kerabatnya yang liar. Semuanya ini:
hewan ternak dan semua proses penji-
nakannya, merupakan anugerah dari
Dia menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam)
lalu darinya Dia jadikan pasangannya dan
Dia menurunkan delapan pasang hewan ternak
untukmu. Dia menjadikan kamu dalam perut ibumu
kejadian demi kejadian dalam tiga kegelapan. Yang
(berbuat) demikian itu yaitu Allah, Tuhan kamu,
Tuhan yang memiliki kerajaan. Tidak ada tuhan
selain Dia; maka mengapa kamu dapat dipalingkan?
(az-Zumar/39: 6)
E. SIMBIOSIS PADA
HEWAN
Dalam menciptakan manusia, Allah
memberinya kelengkapan berupa otak
untuk berpikir. Dengan pikiran itu
manusia berhasil mengadakan hu-
bungan antarindividu dengan jenisnya
sendiri maupun dengan jenis lainnya.
Pikiran seperti itu tidak dipunyai oleh
hewan, namun demikian hubungan
antarjenis di antara mereka tetap saja
berlangsung. Apa yang membimbing
mereka untuk dapat melakukan hal itu?
Tentu saja Allah-lah yang membimbing
semua makhluk-Nya untuk dapat sa-
ling berhubungan dengan cara yang
khas, sebagaimana dinyatakan-Nya da-
lam ayat berikut.
Dia (Musa) menjawab, “Tuhan kami ialah (Tuhan)
yang telah memberikan bentuk kejadian kepada
segala sesuatu, lalu memberinya petunjuk.
(Ţāhā/20: 50)
Ayat ini menunjukkan bahwa
Allah memberikan akal, instink (naluri)
dan kodrat alamiah kepada semua
makhluk, tidak terkecuali hewan, un-
tuk dapat melangsungkan hidupnya
masing-masing. Salah satunya berupa
naluri untuk bekerja sama di antara
jenis, baik yang menguntungkan kedua
belah pihak maupun salah satunya.
Simbiosis yaitu istilah ilmiah
untuk dua jenis organisme yang hidup
bersama sebagai kesatuan dan saling
menolong satu sama lain. Walaupun
simbiosis tidak selalu menguntung-
kan kedua pihak, namun tidak ada
yang dirugikan jika hanya satu
organisme yang diuntungkan. Simbio-
sis terdiri atas dua tipe, yaitu simbiosis
di luar tubuh (ectosymbiosis), seperti
kepik pada tumbuhan. Lainnya yaitu
simbiosis di dalam tubuh (endosym-
biosis), seperti jasad renik di dalam
saluran pencernaan sapi.
Mengapa harus hidup bersama?
Dalam kehidupan makhluk, termasuk
hewan, selalu terjadi kompetisi untuk
memperoleh makanan dan tempat
tinggal. Untuk menghindari persaingan
dengan jenis lain, pada umumnya satu
jenis memiliki makanan dan lingkungan
yang sangat spesifik, yang disebut
“niche”. Cara lain untuk menghindari
kompetisi yaitu membuat hubungan
yang stabil dengan jenis yang berte-
tangga. Keduanya akan dapat hidup
secara harmonis dan membagi ruang
dan makanan dengan baik.
Simbiosis ada beberapa macam,
dibedakan dari cara berinteraksi jenis
yang terlibat. Namun, ada beberapa
interaksi yang masih dipertanyakan
statusnya sebagai simbiosis ataukah
hanya relasi yang dekat antara kedua
organisme dalam satu ekosistem.
Mutualisme yaitu salah satu
bentuk simbiosis. Dalam simbiosis mu-
tualisme, kedua organisme memper-
oleh keuntungan dari interaksi ini.
Keduanya tidak dirugikan dalam ben-
tuk apa pun dalam hubungan yang
sedang berjalan. Contoh klasik simbio-
sis mutualisme yaitu hubungan an-
tara bunga dengan polinator: lebah,
burung, semut, kupu-kupu, lalat, nya-
muk, dan sejenisnya. Serangga mem-
bantu tumbuhan sebab berperan
mentransfer dan mempertemukan
sel jantan (benangsari) dan sel betina
(putik) tumbuhan. Pertemuan kedua-
nya akan berujung pada produksi buah
dan biji yang menjadi alat perbanyakan
pada tumbuhan. Di sisi yang lain,
polinator mendapat keuntungan kare-
na memperoleh makanan berupa nek-
tar dan polen atau benangsari.
Contoh lain dari simbiosis mutu-
alisme yaitu relasi antara hewan
pemakan rumput atau pemakan da-
un dengan berjuta jasad renik yang
hidup di saluran pencernaan makanan
yang dinamai rumen. Kantong rumen
terletak sebelum lambung. sesudah
hewan pemakan rumput menelan
rumputnya, rumput itu akan masuk ke
kantong rumen. Di sini, rumput diolah
oleh jasad renik yang mengeluarkan
senyawa kimia tertentu yang dapat
memecah sel-sel tumbuhan. Senyawa
kimia ini tidak dapat diproduksi sendiri
oleh hewan pemakan rumput. Dengan
demikian, kehadiran jasad renik di sini
menjadi sangat vital.
Sebenarnya jasad renik di da-
lam rumen memecah sel tumbuhan
untuk dirinya sendiri, namun dalam
bersamaan dengan itu hewan pema-
kan rumput akan memperoleh keun-
tungan dengan makin mudahnya ia
mencerna makanan di lambung. De-
ngan demikian, sebenarnya hewan
pemakan rumput “memelihara” jasad
renik dengan suplai material makanan
(rumput dan daun) serta tempat yang
hangat dan aman.
Sama halnya dengan manusia;
dalam usus manusia dapat ditemukan
berjuta jasad renik dalam bentuk
bakteri, jamur, dan protozoa. Mereka
hidup di bagian ujung usus (bagian
colon dan rectum). Bila ada makanan
yang tidak diserap usus, maka menjadi
tugas jasad renik untuk memprosesnya
agar mudah dikeluarkan. Pada kulit
manusia juga ada berjuta mik-
roorganisme yang membantu mem-
bersihkan kulit dengan memakan sel-
sel kulit mati dan endapan keringat.
Relasi antara manusia dengan semua
jasad renik ini dapat dikategorikan
sebagai mutualistik sebab banyak
di antara jasad renik itu dapat mem-
produksi senyawa kimia yang mengan-
dung vitamin, yang pada waktunya
nanti akan diserap untuk keperluan
manusia.
Contoh lain hubungan mutualis-
tik antara hewan dengan jasad renik
yaitu hubungan antara rayap dengan
jasad renik dari kelompok flagelata
yang hidup di saluran pencernaannya.
Walaupun dapat mengunyah dan me-
nelan material kayu, rayap tidak mampu
menyerapnya secara kimiawi. Harus
ada oknum yang dapat membantunya
merubah bahan kayu yang berupa
selulosa menjadi gula. Untuk itu ra-
yap sangat bergantung pada jasad
renik yang hidup di saluran makanan,
seperti jenis-jenis Pyrsonympha dan
Trichonympha. Kelompok ini hanya
ditemukan di dalam saluran makanan
rayap, dan tidak ditemukan di tempat
lain di dunia ini.
Hubungan antara yang kuat dan
yang lemah atau yang besar dan yang
kecil banyak ditemukan. Lihatlah saja
hubungan antara burung kelompok
jalak dengan sapi liar, badak liar, dan
sejenisnya. Simbiosis mutualisme da-
lam hubungan keduanya berupa jasa
layanan cleaning service. Burung-bu-
rung ini membersihkan tubuh hewan
liar ini dari tungau, caplak, lalat, dan
larva berbagai jenis serangga yang
mengisap darahnya. Kejadian demikian
juga banyak ditemukan di laut. Di
antaranya yaitu hubungan antara
ikan gobi dan udang pembersih parasit
pada keong telanjang, sebagaimana
dapat dilihat pada gambar 276.
Simbiosis mutualisme juga terjadi
pada relasi udang renik yang menjadi
pembersih ikan sidat dan ikan lainnya.
Ikan-ikan yang ingin dibersihkan tu-
buhnya akan mendatangi beberapa
stasiun pembersihan yang memiliki
ciri- ciri tertentu. Hewan pembersih
memiliki warna tertentu yang mem-
bantu pelanggan untuk mengenalinya,
sehingga ia tidak dianggap sebagai
mangsa. Garis-garis horizontal disetujui
sebagai ciri ikan pembersih. Ikan-ikan
419Perikehidupan Hewan
ini diperkenankan masuk ke insang
dan mulut ikan yang dibersihkan,
yang kebanyakan yaitu ikan-ikan
buas. Tidak hanya membersihkan pa-
rasit, ikan pembersih juga member-
sihkan kulit mati dan lendir. Kadang-
kala ikan pelanggan datang ke
stasiun pembersihan dengan warna
tubuh yang memudar. Hal ini tidak
diketahui sebabnya, namun diduga
yang demikian itu dipakai untuk
mengiklankan dirinya ingin dibersih-
kan. Bukan tidak mungkin juga pemu-
daran warna tubuh itu ditujukan untuk
membantu ikan pembersih mengiden-
tifikasi parasit di tubuh ikan.
Banyak contoh simbiosis mutu-
alisme di antara serangga, seperti hu-
bungan antara semut dengan kutu
daun (serangga dari Ordo Homoptera).
Hubungan keduanya dapat digambar-
kan sebagai hubungan peternak de-
ngan ternaknya. Semut akan menjaga
kutu daun, baik yang dewasa maupun
telurnya, dan menyebarkan anakan
kutu daun yang baru menetas ke
cabang atau pohon lain. Dengan
demikian, kutu daun yang menyesap
cairan tumbuhan akan hidup dan me-
nyebar dengan aman. Sebagai imbal
jasa, kutu daun menghasilkan kotoran
berupa cairan gula yang manis yang
disukai semut.
Keadaan yang mirip terjadi anta-
ra semut jenis Formica fusca dengan
kupu-kupu Glaucopsyche lygdamus.
Kerja sama tidak terjadi pada dua
jenis hewan dewasa, namun antara
semut dewasa dan ulat kupu-kupu.
Seperti halnya kutu daun, ulat ini juga
menghasilkan kotoran berupa cairan
manis yang disukai semut. Demi men-
dapat cairan manis itu semut rela mati-
matian melindungi ulat dari serangan
pemangsa, seperti lebah atau lalat.
Keduanya betul-betul diuntungkan da-
lam kerja sama ini.
Beberapa kepiting memanfaat-
kan hewan beracun anemon untuk
melindungi dirinya. Kepiting jenis Lybia
tesselata dengan sengaja menaruh
anemon pada capitnya. Begitu musuh
atau pemangsa mendekat, kepiting
akan mengayun-ayunkan capit itu un-
tuk menakut-nakuti. Gerakan inilah
yang membuat kepiting ini dinamai
boxer crab. Di sisi yang lain, anemon
mendapat keuntungan sebab bisa
terus berpindah tempat dengan ke-
mungkinan ada nya makanan di
tempat yang baryu, serta memperoleh
serpihan-serpihan makanan yang di-
buang oleh kepiting saat makan.
Hubungan kedua hewan ini bukanlah
“harga mati”. Tidak jarang kepiting ini
terlihat tanpa disertai anemon laut di
capitnya. Kadang kala anemon diganti
dengan sponge atau koral.
Baru-baru ini ditemukan bebe-
rapa jenis katak berukuran kecil yang
dapat hidup berdampingan dengan
laba-laba berukuran besar, yang seca-
ra teori dapat dengan mudah melahap-
nya. Salah satunya ditemukan di Peru,
Amerika Selatan. Di sana ada ka-
tak Chiasmocleis ventramaculata yang
hidup berdampingan dengan laba-laba
raksasa tarantula yang hidup di lubang
tanah, Xenesthis immanis. Katak ini
diduga memproduksi senyawa kimia
yang memberitahu bahwa ia tidak
enak dimakan. Sebuah penelitian per-
nah menemukan seekor anakan laba-
laba tarantula menangkap katak Chias-
mocleis, namun sesudah beberapa saat
memeriksanya, ia melepaskan begitu
saja katak itu. Tampaknya katak ini
memperoleh keuntungan dari kerja
sama ini. Di antaranya sebab ia mem-
peroleh sisa-sisa makanan yang diting-
galkan laba-laba, selain tentu saja, ke-
amanan. Di sisi lain, laba-laba diduga
memperoleh keuntungan dengan ada-
nya katak ini sebab katak ini mem-
punyai spesialisasi khusus sebagai pe-
makan semut. Dengan demikian, katak
ini melindungi telur laba-laba dari se-
rangan semut.
dan dipenuhi nematocysts yang bera-
cun. Begitu ada ikan mendekat, ia
akan melepaskan racunnya yang bisa
mengakibatkan ikan yang tersengat
pingsan atau mati. sesudah itu ikan
pun dimakan. Namun tidak begitu
kejadiannya jika yang mendekat
yaitu ikan badut. Sebabnya, tubuh
ikan badut dilapisi oleh lendir yang ber-
peran menenolak atau mengurangi efek
sengatan.
Ikan badut banyak ditemukan
di perairan berkarang di kawasan
tropis Samudra Pasifik, Laut Merah,
dan Samudra Hindia. Panjang tubuh
ikan badut terbesar dapat mencapai
18 centimeter, dan yang terkecil ku-
rang dari 10 centimeter. Ikan badut
memakai tentakel anemon seba-
gai sarana pertahanan diri. Mereka
hidup di antara tentakel anemon,
sebab nya jelas bagaimana ikan ba-
dut memperoleh manfaat dari hu-
Pada simbiosis mutualistis, keba-
nyakan hubungannya disebut faculta-
tive. Artinya, jenis yang berinteraksi
dapat saja hidup dengan baik dalam
kondisi terpisah, alias hidup sendiri-
sendiri, tidak bergantung satu kepada
lainnya. Kendati demikian, ada pula
yang hubungannya sangat dekat dan
tidak dapat dipisah. Hubungan de-
mikian disebut sebagai hubungan
yang obligate. Hubungan demikian ini
banyak ditemui pada hubungan yang
bersifat parasit maupun komensal,
terutama pada hewan parasit. Semen-
tara itu, induk semang atau inang
hewan parasit ini sama sekali tidak
memerlukan hewan parasit dan ko-
mensal ini .
Komensalisme yaitu bentuk lain
simbiosis. Komensalisme yaitu hu-
bungan simbiosis di mana hanya salah
satu organisme memperoleh keun-
tungan di satu sisi, dan di sisi lain jenis
lainnya sama sekali tidak dirugikan
atau diuntungkan. Contohnya yaitu
hubungan antara ikan hias dengan ane-
mon laut, seperti ikan badut (clown
fish) Amphiprion ocellaris dengan ane-
mon laut Heteractis magnifica.
Anemon laut yaitu hewan tidak
bertulang belakang yang berkerabat
dekat dengan ubur-ubur, dan berkait
dengan ekosistem karang. Tubuhnya
menempel ke substrat karang atau
batu, dengan tentakel yang lengket
bungannya dengan anemon. Lalu,
keuntungan apa yang diperoleh oleh
anemon dari ikan badut, belum ada
jawaban yang memuaskan. Beberapa
peneliti menduga bahwa ikan badut
menyumbang nutrien kepada anemon,
namun hal ini belum terbukti secara
ilmiah. Pendapat lainnya mengatakan
bahwa anemon berperan sebagai pe-
mikat, sebab warnanya yang cerah,
agar ikan jenis lain datang dan terpe-
rangkap tentakel anemon. Kembali,
pendapat ini pun baru sebatas dugaan
belaka.
Contoh lain dari komensalisme
yaitu hubungan antara ikan mutiara
(pearlfish) yang dapat hidup di dalam
saluran pencernaan timun laut. Ti-
mun laut yang berbentuk seperti
timun, memiliki cara makan yang
sederhana. Pada dasarnya, ia akan
mengambil air (beserta pasir dan
kotoran yang ada di dasar laut) dan
disalurkan melalui perutnya, menya-
ring bahan organiknya dan membuang
air dan kotorannya di ujung lain. Proses
memasukkan dan mengeluarkan air
dilakukan dengan cara kontraksi, seba-
gaimana paru-paru bekerja menarik
dan mengeluarkan udara.
Ikan mutiara yang memiliki pos-
tur tubuh panjang dan langsing ini
hidup di siang hari di dalam saluran
pencernaan. Cara makan timun laut
dengan kontraksi ini mungkin men-
jamin selalu bergantinya air di dalam
saluran makanannya, sehingga pasok-
an oksigen bagi ikan mutiara selalu
terjamin. Ikan mutiara akan keluar
dari anus saat hari mulai malam dan
mencari makanan berupa udang renik.
Mereka masuk lagi ke dalam saluran
makan timun laut dengan cara bere-
nang mundur melalui anus. Dengan
cara ini ikan akan memperoleh tempat
yang aman dari predator pada siang
hari, dan mencari makan, juga dengan
aman, pada kegelapan malam.
Simbiosis macam ini belum dapat
dipastikan apakah termasuk komensal
atau parasitis. Beberapa jenis ikan mu-
tiara terlihat menggigit-gigit sesuatu
di dinding saluran makanan timun
laut, namun tampaknya hal itu tidak
mengganggu kehidupan normal timun
laut. Dengan demikian, hubungan
kedua jenis ini tampaknya masuk ke
dalam simbiosis komensal, sebab da-
lam hal ini timun laut tidak memper-
oleh keuntungan apa-apa, meski juga
tidak dirugikan.
Contoh lain dari hubungan ko-
mensalisme yang klasik yaitu relasi
antara sarang burung dan pohon.
Pohon tidak akan dirugikan sebab
salah satu cabangnya dipakai bu-
rung untuk tempat meletakkan sarang-
nya. Hal demikian ini oleh para ahli
dinamai inquilinism. Kendati demikian,
dalam beberapa kondisi inquilinism da-
pat diartikan sebagai hubungan yang
berada pada perbatasan antara ko-
mensalisme dan parasitisme.
Hubungan lain yaitu parasitis-
me. Dalam simbiosis parasitisme,
hanya satu organisme yang memper-
oleh keuntungan, baik berupa makan-
an maupun perlindungan. Di sisi yang
lian, jenis lainnya akan menderita dan
terganggu akibat hubungan ini. Para
peneliti seringkali terlibat dalam per-
debatan perihal simbiosis tipe ini,
sebab sebenarnya hubungan yang
terjadi tidak terlihat simbiosis sama
sekali; yang ada yaitu “survival of the
fittest”. Contohnya yaitu hubungan
antara hewan menyusui dengan kutu
pengisap darah dan lintah, atau antara
kutu daun dengan tumbuhan. Semua
hewan ini memperoleh makanan dari
inangnya, namun tidak memberikan
imbal balik apa pun.
Contoh lain dari simbiosis para-
sitisme yaitu hubungan antara bu-
rung reed wabler (Acrocephalus scir-
paceus) yang berukuran kecil dengan
burung cuckoo (Cuculus canorus)
yang berukuran beberapa kali lebih
besar. Burung cuckoo betina akan
meletakkan satu telurnya pada sarang
burung reed wabler. Burung reed
wabler akan menolak telur cuckoo bila
mereka tahu saat burung cuckoo
meletakkan telurnya. Bila tidak tahu
maka burung reed wabler tidak dapat
membedakan antara telur miliknya
sendiri dan telur yang “dititipkan”—
meski ukurannya sebenarnya berbeda.
sesudah menetas, anakan burung cuckoo
dengan sengaja menjatuhkan semua
telur yang belum menetas dan anakan
reed wabler. Anak cuckoo akan meng-
habiskan semua energi yang diberikan
induk angkatnya. Hanya dalam 20 hari
anakan cuckoo dapat tumbuh dela-
pan kali lebih berat daripada induk
angkatnya. Akan namun , induknya ma-
sih terus menyuapinya, seolah tidak
dapat membedakan perbedaan mor-
fologi antara jenisnya dengan jenis
lainnya.
Hubungan parasit yang begitu
kentara dapat diumpai pada jenis-jenis
serangga, seperti antara beberapa
jenis tawon yang menaruh telurnya
pada badan ulat, atau tawon yang
menyuntikan telur ke dalam tubuh
kutu daun. Dengan menaruh telur pa-
da hewan hidup, tawon akan mem-
peroleh jaminan bahwa pada saat telur
menetas, makanan sudah tersedia
untuk anaknya. Strategi demikian ini
banyak ditemukan pada serangga.
Ada pula bentuk hubungan
yang masih diperdebatkan statusnya
oleh para ahli. Hubungannya seperti
parasit dan inang, namun dapat juga
dipandang hanya sebagai penumpang
dan alat transportasi. Hal demikian ba-
nyak ditemukan pada berbagai serang-
ga terbang dan tungau, sebagaimana
terlihat
bar ini tampak beberapa jenis tungau
dan bahkan pseudoscorpion (menye-
rupai kalajengking) menempel pada
beberapa serangga terbang. Apakah
tungau dan jenis lain yang menempel
ini merupakan hewan parasit yang
merugikan inangnya, ataukah mereka
tidak lebih dari penumpang saja, belum
ada penelitian yang menawarkan ja-
waban pasti.
Kembali ke bagian permulaan
tulisan ini; Allah Yang Mahabesar ada-
lah Tuhan yang telah menciptakan
makhluk hidup. Masing-masing jenis
diberikan kemampuan oleh-Nya untuk
menjalani kehidupannya, termasuk ke-
perluannya untuk berinteraksi dengan
jenis lainnya. Bagaimana hubungan-
hubungan itu terjadi, sedang mere-
ka tidak memiliki otak layaknya manusia,
tentu sebab Allah membimbing me-
reka untuk melakukan hubungan dan
perilaku khas, seperti dinyatakan da-
lam firman-Nya:
Dia (Musa) menjawab, “Tuhan kami ialah (Tuhan)
yang telah memberikan bentuk kejadian kepada
segala sesuatu, lalu memberinya petunjuk.
(Ţāhā/20: 50)
HAK DAN ETIKA TERHADAP HEWAN
Konsep Islam tentang hak he-
wan dan etika terhadapnya
sangat jelas. Sebagian telah
diuraikan pada bab pembuka buku
ini. Misalnya, bagaimana seharusnya
manusia memperlakukan hewan yang
telah mempermudah kehidupannya.
Salah satunya yaitu petunjuk tentang
bagaimana manusia, khususnya masya-
rakat Arab masa itu yang terkait de-
ngan ayat ini, harus memperlakukan
unta yang membantu mereka mem-
bawa barang dalam perjalanan jauh.
Dan ia mengangkut beban-bebanmu ke suatu
negeri yang kamu tidak sanggup mencapainya,
kecuali dengan susah payah. Sungguh, Tuhanmu
Maha Pengasih, Maha Penyayang, dan (Dia telah
menciptakan) kuda, bagal, dan keledai, untuk
kamu tunggangi dan (menjadi) perhiasan. Allah
menciptakan apa yang tidak kamu ketahui. (an-
Naĥl/16: 7–8)
Al-Qur'an juga memperlihatkan
bahwa tidak manusia yang menyem-
bah Allah, tapi hewan juga menyembah-
Nya dengan cara mereka sendiri.
pa ratus lebah jantan, dan antara
10.000–80.000 lebah pekerja yang
semuanya betina. Ratu, yang hanya
satu ekor pada tiap koloni, menjadi
pusat kegiatan. Selain menjalankan
tugas pokoknya sebagai penghasil
telur, ratu juga melaksanakan tugas
penting lainnya, yaitu mengeluarkan
cairan kimia tertentu yang berfungsi
memersatukan kelompok, dan mendo-
rong sistem kehidupan di sarang berja-
lan sebagaimana mestinya. Petugas-
petugas lainnya di sarang itu juga
mepunyai pekerjaan masing-masing.
Semua tugas dilaksanakan tanpa me-
nyimpang dari yang seharusnya.
Sistem sosial yang mengagumkan
dapat pula dijumpai pada kelompok
semut. Meski sebuah koloni semut
didirikan oleh ribuan individu, namun
semua pekerjaan dilakukan dengan
presisi yang tinggi dan tidak menyim-
pang. Kelompok semut ini dapat men-
jadi contoh bagi warga manusia
sebab mereka juga mengenal apa
yang dilakukan oleh manusia modern,
seperti mempraktikkan teknologi, me-
lakukan strategi militer, membentuk
jaringan komunikasi yang canggih,
mempraktikkan sistem organisasi struk-
tural, memiliki disiplin tinggi, dan
memiliki perencanaan tata kota.
Bahkan, jika diteliti lebih dalam,
manusia harus mengakui bahwa semut
dan sistem kelompoknya merupakan
Tidakkah engkau tahu bahwa siapa yang ada di
langit dan siapa yang ada di bumi bersujud kepada
Allah, juga matahari, bulan, bintang, gunung-
gunung, pohon-pohon, hewan-hewan yang melata
dan banyak di antara manusia? namun banyak
(manusia) yang pantas mendapatkan azab. Barang
siapa dihinakan Allah, tidak seorang pun yang akan
memuliakannya. Sungguh, Allah berbuat apa saja
yang Dia kehendaki. (al-Ĥajj/22: 18)
Bagaimana kedudukan dan ek-
sistensi hewan di muka bumi ini juga
sudah disebut dengan jelas dalam
firman-Nya,
Dan tidak ada seekor binatang pun yang ada di
bumi dan burung-burung yang terbang dengan
kedua sayapnya, melainkan semuanya merupakan
umat-umat (juga) seperti kamu. Tidak ada sesuatu
pun yang Kami luputkan di dalam Kitab, lalu
kepada Tuhan mereka dikumpulkan. (al-An‘ām/6:
38)
Dari penelitian ekologi diketahui
bahwa setiap jenis hewan berkelompok
dengan sejenisnya. Dengan penelitian
yang rinci dan memakan waktu yang
lama diketahui bahwa ada sistem
sosial yang sangat sistematis di antara
jenis hewan.
Lebah madu, misalnya, memiliki
sistem kehidupan sosial yang menjadi
sumber kekaguman para peneliti. Kolo-
ninya terdiri atas seekor ratu, bebera-
429Hak dan Etika terhadap Hewan
warga madani, seperti yang se-
dang berusaha dicapai oleh umat ma-
nusia.
Hewan yang hidup dalam sistem
organisasi juga memiliki cara dalam
menghadapi bahaya, misalnya dengan
beramai-rami mengepung pemangsa.
Perilaku agresif ini seringkali efektif
mengusir pemangsa. Cara yang lain
lagi dilakukan oleh hewan menyusui,
misalnya kuda zebra. Begitu bahaya
mengancam, semua hewan muda akan
dikumpulkan di tengah kelompok. Me-
tode yang sama juga dilakukan oleh
lumba-lumba, bahkan dalam keadaan
terpaksa mereka berani menantang
ikan hiu, tentunya bila lumba-lumba itu
berada dalam kelompok besar.
Tidak terhitung contoh yang
dapat dikemukakan mengenai kehi-
dupan sosial hewan di dunia hewan.
Bukti ini diperoleh manusia berkat
penelitian yang bertahun-tahun. Bukti-
bukti yang ditunjukkan oleh Al-Qur'an,
jauh sebelum manusia mengetahui
perilaku ini, memastikan bahwa kitab
ini yaitu betul-betul berisi kata-kata
yang datangnya dari Allah.
Sebagaimana disebut dalam
ayat-ayat Al-Qur'an di atas, Allah tidak
membeda-bedakan makhluknya dan
akan menerima tasbih atau ibadah
mereka semua. Hal ini mengajarkan
kepada umat Islam untuk menyaya-
ngi hewan dan melestarikan kehi-
dupannya. Melalui Al-Qur'an, Allah
menekankan bahwa Dia telah meng-
anugerahi manusia wilayah kekuasaan
yang mencakup segala sesuatu di
dunia ini. Hal ini tertuang misalnya
dalam Surah al-Jāšiyah/45: 13 berikut.
Dan Dia menundukkan apa yang ada di langit dan
apa yang ada di bumi untukmu semuanya (sebagai
rahmat) dari-Nya. Sungguh, dalam hal yang
demikian itu benar-benar ada tanda-tanda
(kebesaran Allah) bagi orang-orang yang berpikir.
(al-Jāšiyah /45: 13)
Ayat ini sama sekali tidak ber-
maksud memberi manusia legitimasi
untuk berbuat sekendak hatinya. Ma-
nusia juga tidak memiliki hak absolut
untuk mengeksploitasi alam sehingga
merusak keseimbangan ekologisnya.
Begitu pula, ayat ini tidak mendukung
manusia untuk menyalahgunakan he-
wan demi tujuan olahraga maupun
menjadikan hewan sebagai objek eks-
perimen serampangan. Ayat ini justru
mengingatkan manusia bahwa Sang
Pencipta telah menjadikan semua
yang ada di alam ini, termasuk hewan,
seba-gai amanah yang harus dijaga.
Allah yaitu pemiliknya, yang lantas
memberikannya kepada manusia se-
bagai rahmat dari-Nya. sebab itulah
Allah mengingatkan bahwa manusia
َحظََّها بَِل اْلِ َفَأْعُطوا ْصِب اْلِ ِف َساَفْرُتْم إَِذا
نَِة َفَباِدُرْوا ِبَا ِمَن اْلَْرِض ، َوإَِذا َساَفْرُتْم ِف السَّ
َا ُطُرُق ِرْيَق َفإِنَّ ْسُتْم َفاْجَتنُِبوا الطَّ نَِقَيَها ، َوإَِذا َعرَّ
ْيِل . )رواه مسلم عن َوابِّ َوَمْأَوى اْلََوامِّ بِاللَّ الدَّ
أيب هريرة(
Jika kalian bepergian dan melewati padang rum-
put maka biarkanlah unta kalian memakan rumput
di sana, dan jika kalian mengadakan perjalanan di
musim kemarau maka percepatlah perjalananmu.
Dan bila kamu istirahat dalam perjalanan maka
jauhilah jalan raya, sebab itulah tempat yang dila-
lui hewan melata dan serangga-serangga di waktu
malam. (Riwayat Muslim dari Abū Hurairah)
Nabi juga menganjurkan para
sahabatnya, saat berhenti di tengah
perjalanan untuk beristirahat atau
menunaikan salat, agar menurunkan
beban dari atas tubuh hewan-hewan
itu serta memberinya makan. Beliau
juga memperingatkan bahwa hewan-
hewan itu harus dimanfaatkan sesuai
dengan fungsinya. Suatu saat beliau
melihat seseorang yang duduk di atas
punggung unta di tengah pasar sambil
berbincang dengan orang lain. Beliau
lalu menegur orang itu,
َفإِنَّ ، َمنَابَِر ُكْم َدَوابِّ ُظُهْوَر َتتَِّخُذْوا َأْن اُكْم إِيَّ
َتُكْوُنْوا َلْ َبَلٍد إَِل َغُكْم لُِتَبلِّ َلُكْم َرَها َم َسخَّ إِنَّ اهللَ
الَْرَض َلُكُم َوَجَعَل ، الَْنُفِس بِِشقِّ إاِلَّ َبالِِغْيِه
داود عن أبو . )رواه َحاَجَتُكْم َفاْقُضْوا َفَعَلْيَها
أيب هريرة(
harus mempertanggungjawabkan per-
buatannya terhadap apa yang dibe-
rikan-Nya di dunia ini, kelak lalu
hari.
Barang siapa mengerjakan kebajikan maka itu
yaitu untuk dirinya sendiri, dan barangsiapa
mengerjakan kejahatan, maka itu akan menimpa
dirinya sendiri, lalu kepada Tuhanmu kamu
dikembalikan. (al-Jāšiyah /45: 15)
sebab itulah umat manusia
sudah semestinya memanfaatkan apa-
apa yang ada di bumi ini menurut cara
yang dapat dipertanggungjawabkan.
Dalam kaitan ini, Muhammad Fazlur
Rahman Anshari menulis, “Apa saja yang
ada di muka bumi ini diciptakan untuk
kita, maka sudah menjadi kewajiban
alamiah kita untuk menjaganya dari
kerusakan; memanfaatkannya dengan
tetap menjaga martabatnya sebagai
ciptaan Tuhan; melestarikannya sebisa
mungkin, yang dengan demikian itu
kita dapat dikatakan mensyukuri nik-
mat Tuhan dalam bentuk perbuatan
nyata.”
Nabi banyak mencontohkan
bagaimana cara yang beradab dalam
memperlakukan hewan ternak. Di an-
taranya, beliau memperingatkan ba-
gaimana unta seharusnya diperlakukan
dalam perjalanan. Rasul bersabda,
Janganlah kalian menjadikan punggung-pungung
binatang peliharaanmu sebagai mimbar (untuk
bercakap-cakap), sebab sesunguhnya Allah mem-
buat mereka tunduk kepadamu (bukan untuk
itu, melainkan) agar mereka membawamu pergi
dari satu tempat ke tempat lain yang tidak dapat
kamu capai kecuali dengan badan yang letih. Dan
Allah telah menjadikan untuk kalian tanah, maka
buanglah hajat kalian di sana. (Riwayat Abū
Dāwūd dari Abū Hurairah)
Ayat-ayat dan hadis-hadis ini me-
nuntun umat manusia untuk membalas
jasa yang telah diberikan hewan-hewan
mereka dengan memperlakukan he-
wan itu sebaik mungkin. Manusia di-
haruskan membantu menyediakan
apa yang dibutuhkan oleh hewan
peliharaan mereka. Manusia wajib
berinteraksi dengan hewan menurut
cara-cara yang dibenarkan sebab
mereka itu juga ciptaan Tuhan. Sudah
jelas kiranya bahwa hewan tidak me-
miliki kemampuan untuk menuntut
haknya dari manusia, namun menurut
perspektif Islam, manusia wajib ber-
buat baik dan memenuhi hak mereka.
sebab alasan itulah Nabi melarang
umatnya membunuh hewan tanpa
tujuan yang dibenarkan. Beliau menya-
takan bahwa barang siapa membunuh
hewan, bahkan yang hanya sekecil
burung pipit atau hewan yang lebih
kecil lainnya, tanpa alasan yang dibe-
narkan agama, maka hewan itu akan
menuntut pertanggungjawaban orang
ini di hadapan Allah pada hari
kiamat kelak.
Abū Bakar, khalifah pertama,
atas dasar hadis di atas berpesan ke-
pada tentara muslim yang hendak
berangkat perang ke Syiria, “Jangan-
lah kalian membunuh domba, sapi,
atau unta kecuali untuk tujuan mem-
peroleh makanan!” Salah satu ilustrasi
mengenai keadilan kepada hewan
dapat pula kita jumpai pada hadis di
bawah ini.
َنْمَلٌة َفَلَدَغْتُه َشَجَرٍة َت َتْ الَْنبَِياِء ِمَن َنبِيٌّ َنَزَل
بَِبْيتَِها َأَمَر ُثمَّ ، تَِها َتْ ِمْن َفُأْخِرَج بَِجَهاِزِه َفَأَمَر
َنْمَلًة َفَهالَّ : إَِلْيِه اهللُ َفَأْوَحى ، بِالنَّاِر َفَأْحَرَق
َواِحَدًة ؟ )رواه البخاري ومسلم عن أيب هريرة(
Pada suatu saat, seorang nabi di antara para nabi
beristirahat di bawah pohon. Tiba-tiba seekor
semut menggigitnya. Dia lantas menyuruh teman-
nya untuk memindahkan barang-barangnya dari
bawah pohon itu, dan meminta agar sarang semut
itu dibakar. Allah lalu mewahyukan kepadanya,
“Mengapa tidak kaubunuh satu semut saja?” (Ri-
wayat al-Bukhārī dan Muslim dari Abu Hurairāh)
Dalam rangka mengajak manu-
sia untuk menyayangi semua makh-
luk, Nabi mengaitkannya dengan pa-
hala. Dikatakan oleh beliau bahwa
Tuhan Yang Maha Penyayang akan
memberikan kasih sayang-Nya kepada
orang yang penyayang. Jika seseorang
menunjukkan kasih sayang kepada
semua makhluk yang ada dimuka
bumi, maka Allah yang singgasana-Nya
berada di langit akan mencurahkan
kasih sayang kepadanya. Selain itu, Nabi
juga mengajarkan bahwa perlakuan
dan tindakan manusia terhadap hewan
akan menentukan nasibnya di akhirat
nanti. Nabi bersabda,
، َماَتْت َحتَّى َسَجنَْتَها ٍة ِهرَّ ِفْ اْمَرَأٌة َبِت ُعذِّ
َفَدَخْلِت َالنَّاَر فِيَها ، الَ ِهَي َأْطَعَمْتَها َوَسَقْتَها إِْذ
ِهَي َحَبَسْتَها ، َوالَ ِهَي َتَرَكْتَها َتْأُكُل ِمْن َخَشاِش
البخاري ومسلم عن عبد اهلل الَْرِض . )رواه
بن عمر(
Seorang wanita disiksa Allah (pada hari kiamat)
lantaran mengurung seekor kucing sehingga
kucing itu mati. sebab itu Allah memasukkannya
ke neraka. Kucing itu dikurungnya tanpa diberi
makan dan minum, dan tidak pula dilepaskannya
supaya kucing itu makan serangga-serangga bumi
(dengan sendirinya). (Riwayat al-Bukhāri dan
Muslim dari ‘Abdullāh bin ‘Umar)
اْلَعَطُش َعَلْيِه اْشَتدَّ بَِطِرْيٍق َيْمِشْ َرُجٌل َبْينََم
َفإَِذا َخَرَج ُثمَّ ، َب َفَشِ فِْيَها َفنََزَل بِْئًرا َفَوَجَد ،
َفَقاَل ، اْلَعَطِش ِمَن الثََّرى َيْأُكُل َيْلَهُث َكْلٌب
ِمْثَل اْلَعَطِش ِمَن اْلَكْلَب َهَذا َبَلَغ َلَقْد : ُجُل الرَّ
ُه َماًء ، ِذْي َكاَن َبَلَغ ِمنِّْي . َفنََزَل اْلبِْئَر َفَمأَل ُخفَّ الَّ
ُثمَّ َأْمَسَكُه بِِفْيِه َحتَّى َرِقَي َفَسَقى اْلَكْلَب َفَشَكَر
اهللُ َلُه َفَغَفَر َلُه . َقاُلوا : َيا َرُسْوَل اهللِ َوإِنَّ َلنَا ِفْ
َرْطَبٍة َكبٍِد ُكلِّ ِفْ : َفَقاَل ؟ لَْجًرا اْلَبَهاِئِم َهِذِه
َأْجٌر . )رواه البخاري ومسلم عن أيب هريرة(
Ada seorang pria yang sedang berjalan, lalu
ia merasakan haus yang sangat. lalu ia
mendapati sebuah sumur, lalu ia mendekatinya
dan minum dari air sumur ini . Ia pun beranjak
meninggalkan sumur, saat tiba-tiba ia mendapati
seekor anjing yang menjulur-julurkan lidahnya
menjilati tanah akibat kehausan. Pria itu berkata,
“Anjing ini benar-benar kehausan seperti yang aku
alami tadi.” Maka ia turun (kembali) ke sumur tadi,
dan diisinya sepatunya dengan ait. Ia memegangi
sepatunya dan menuangkan air di dalamnya ke
mulut anjing itu hingga rasa hausnya hilang. Anjing
itu pun bersyukur kepada Allah atas bantuan pria
tadi, dan sebab nya Allah pun mengampuni pria itu.
Para sahabat bertanya kepada Rasulullah, “Wahai
Rasulullah, apakah kita akan dapat pahala dengan
berbuat baik kepada hewan?” Beliau menjawab,
“(Perbuatan baik kalian) kepada setiap makhluk
yang bernyawa pasti diberi pahala.” (Riwayat al-
Bukhāri dan Muslim dari Abū Hurairah)
Nabi melarang manusia melaku-
kan hal-hal kejam kepada hewan,
seperti mengadu dan melemparinya.
Hal itu dapat kita sarikan dari kisah
berikut.
ُه َدَخَل َعَل َيَْيى َعِن اْبِن ُعَمَر َرِضَ اهللُ َعنُْهَم ، َأنَّ
َدَجاَجًة َرابٌِط َيَْيى َبنِْي ِمْن َوُغاَلٌم ، َسِعيٍد ْبِن
ُثمَّ َها ، ُعَمَر َحتَّى َحلَّ اْبُن إَِلْيَها َفَمَشى َيْرِميَها ،
َأْقَبَل ِبَا َوبِاْلُغاَلِم َمَعُه ، َفَقاَل : اِْزِجُرْوا ُغاَلَمُكْم
َسِمْعُت ْ َفإِنِّ ، لِْلَقْتِل ْيَ الطَّ َهَذا َيْصِبَ َأْن َعْن
َبِْيَمٌة ُتْصَبَ َأْن َنَى َم َوَسلَّ َعَلْيِه اهللُ النَّبِيَّ َصلَّ
عن ومسلم البخاري )رواه . لِْلَقْتِل َها َغْيُ َأْو
ابن عمر(
Diriwayatkan dari Ibnu ‘Umar, bahwa pada suatu
hari ia bertandang ke rumah Yaĥyā bin Sa‘īd. Di sana
ia mendapati seorang bocah yang merupakan salah
433Hak dan Etika terhadap Hewan
satu anak Yaĥyā sedang mengikat seekor ayam dan
melemparinya dengan batu. Ibnu ‘Umar bergegas
mendekati ayam ini dan melepaskan ikatan-
nya. Beberapa saat lalu ia menemui Yaĥyā
sambil memegang ayam dan memegang bocah
tadi. Ia berkata, “Laranglah anakmu dari mengikat
hewan ini untuk dibunuhnya! Sungguh, aku
mendengar bahwa Rasulullah melarang mengikat
binatang atau makhluk hidup lainnya untuk tujuan
dibunuh.” (Riwayat al-Bukhāri dan Muslim dari
Ibnu ‘Umar)
berdasar hadis ini, di samping
alasan etika, kita dapat pastikan bah-
wa adu domba, sabung ayam, dan
sejenisnya merupakan perbuatan ter-
larang. Lomba melukai banteng yaitu
sama kejinya, dan sebab nya juga
dilarang dalam Islam. Deretan gambar
286 memberi gambaran kekejaman
manusia kepada hewan.
Tidak saja diadu dengan sejenis-
nya, hewan juga tidak jarang diadu
dengan manusia. Contoh paling nyata
darinya yaitu pertunjukan matador di
Spanyol dan beberapa negara Amerika
Latin. Pertunjukan ini biasanya ber-
akhir dengan kematian banteng akibat
kehabisan darah sebab luka-luka yang
dideritanya. Tidak jarang pula keadaan
menjadi terbalik, di mana bukan ban-
teng yang menjadi korban, namun sang
matador, seperti tampak pada gambar
288.
Olah raga lain yang menjadikan
banteng dan kuda sebagai subjek
yaitu pertunjukan rodeo di Amerika
Serikat. Pada pertunjukan ini manusia
dituntut selama mungin bertahan di
atas punggung kuda atau sapi liar.
Selain itu, ada juga pertunjukan yang
tidak kalah miris, yakni lomba keteram-
pilan menjerat anak sapi. Dalam per-
tunjukan ini anak sapi yang yang se-
dang lari ketakutan dijerat lehernya
dengan tali hingga tercekik dan ber-
henti berlari; sungguh memilukan.
Di Inggris, bangsawan dari kalangan
istana dengan sengaja melepas kelinci
atau rubah untuk diburu oleh anjing-
anjing pemburu, seperti tampak pada
gambar 290.
Ada lagi satu ulah manusia yang
tidak masuk akal dan sangat biadab,
yaitu melukai atau membunuh hewan
tanpa tujuan yang jelas, melainkan
untuk kesenangan belaka. Misalnya
saja pertunjukan lompatan keledai
dari ketinggian tertentu ke dalam bak
air. Demikian pula pertunjukan Toro
Jubilo. Dalam pertunjukan ini penye-
lenggara sengaja membakar sesuatu
di antara kedua tanduk sapi sebelum
dilepas di tengah kerumunan manusia.
Pertunjukan ini tidak saja memakan
korban sapi, namun juga manusia.
Islam memperbolehkan peme-
luknya mengkonsumsi daging ternak
yang halal. Namun untuk itu pun Islam
memberi tuntunan yang memperlihat-
kan betapa agama ini sangat ramah
terhadap hewan. Rasul bersabda,
َعَلْيِه اهللُ َصلَّ اهللِ َرُسْوِل َعْن َحِفْظُتُهَم ثِنَْتاِن
ُكلِّ َعَل اِلْحَساَن َكَتَب اهللَ إِنَّ : َقاَل ، َم َوَسلَّ
َذَبْحُتْم اْلِقْتَلَة ، َوإَِذا َفَأْحِسنُوا َقَتْلُتْم َفإَِذا ٍء ، َشْ
ْح ْبَح ، َوْلُيِحدَّ َأَحُدُكْم َشْفَرَتُه َوْلُيِ َفَأْحِسنُوا الذَّ
َذبِْيَحَتُه . )رواه مسلم عن شداد بن أوس(
Ada dua pesan yang aku ingat betul dari Rasulullah.
Beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah mewajibkan
kita untuk berbuat baik dalam segala hal. Jika kalian
membunuh maka lakukanlah dengan cara yang
baik; jika kalian menyembelih maka sembelihlah
dengan cara yang baik; hendaklah salah satu dari
kalian mengasah mata pisaunya dan membuat
nyaman hewan yang akan disembelihnya. (Riwayat
Muslim dari Syaddād bin Aus)
Syarat di atas tidak berdiri
sendiri; ada beberapa syarat lain yang
mesti dipenuhi, seperti perlakuan
yang manusiawi saat memelihara dan
memindahkan ternak ke tempat pe-
motongan. Dengan cara demikian,
predikat halal sepenuhnya dapat di-
peroleh. Peternakan ayam dengan
sistem baterai, misalnya, betul-betul
tidak memberikan kesempatan ayam
untuk menikmati kebutuhan alaminya.
Penempatan ayam di kandang yang
sempit ini sangat menyiksa, meski de-
ngan cara itu makanan yang dikon-
sumsi ayam akan dikonversi secara
maksimal menjadi daging, tidak ada
Gambar 471
Pengandangan ayam dengan sistem batere sangatlah
tidak manusiawi.
yang terbuang akibat gerakan-gerakan
lain yang dikatakan tidak berguna.
Penyebutan nama Allah saat
menyembelih hewan dimaksudkan
untuk menciptakan rasa sayang dan
simpati, serta mencegah kekejaman
terhadap hewan. Ajaran-ajaran Al-
Qur'an dan sunah Nabi di atas jelas-
jelas menunjukkan bahwa meski ma-
nusia, berkat keabijaksanaan Allah,
dianugerahi kekuasaan atas hewan,
tapi manusia tetap saja harus mengikuti
aturan Allah dalam memperlakukan
hewan ini .
Cara pemotongan hewan yang
manusiawi tampaknya tidak dijumpai
pada suatu festival dalam ritual agama
Hindu di Nepal. Pembantaian besar-
besaran hewan ternak dilakukan de-
ngan sangat biadab. Beberapa gambar
di atas memperlihatkan suasana saat
ritual keagamaan ini berlang-
sung. Apa yang dilakukan di Nepal
ini sama sekali bertentangan dengan
cara-cara dan etika memotong hewan,
sebagai berikut.
• Penyembelih harus seorang muslim
dewasa yang sehat rohaninya;
• Penyembelih harus mengucapkan
basmalah sebelum menyembelih.
Pengucapan itu menekankan bah-
wa hewan itu disembelih sebab
akan dikonsumsi atas izin Allah;
• Hewan harus disembelih dengan
cara memotong lehernya dengan
satu gerakan menerus, ke depan
dan belakang, dengan pisau yang
tajam dan tidak bercacat, yang
membuat irisan tersendat dan me-
nyakiti hewan. Selain itu, penga-
sahan pisau tidak boleh dilakukan
di hadapan hewan yang akan di-
potong;
• Hewan yang akan dipotong harus
diperlakukan dengan baik;
439Hak dan Etika terhadap Hewan
• Hewan yang akan disembelih tidak
boleh melihat hewan lain yang se-
dang dipotong;
• Hewan yang dipotong tidak boleh
berada dalam posisi yang tidak
nyaman saat penyembelihan.
Seperti halnya dalam agama
atau budaya lain, ritual mengurbankan
hewan juga dikenal dalam Islam. Ha-
nya saja, kurban mesti dilaksanakan
dengan tetap memperhatikan syarat-
syarat di atas. Lebih dari itu, sesung-
guhnya bukan daging kurban itu yang
akan sampai kepada Allah; ketakwaan
pekurbanlah yang akan diterima oleh
Allah. Allah berfirman,
Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-
kali tidak akan sampai kepada Allah, namun yang
sampai kepada-Nya yaitu ketakwaan kamu.
Demi-kianlah Dia menundukkannya untuk-mu agar
kamu mengagungkan Allah atas petunjuk yang
Dia berikan kepadamu. Dan sampaikanlah kabar
gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.
(al-Ĥajj/22: 37)
Bentuk pembantaian lain dapat
ditemukan di kawasan dingin di belah-
an bumi utara. Beberapa gambar yang
diperoleh dari Kanada dan Rusia ini
memperlihatkan cara berburu anjing
laut yang sangat biadab. Cara yang
tidak kalah kejam juga dilakukan
oleh sebagian Inggris saat berburu
rubah. Ada satu kebiasaan masyara-
kat yang tidak masuk akal. Hal ini ter-
jadi pada warga yang tinggal di
sekitar Madinah. Pada saat Rasulullah
hijrah ke Medinah dari Mekah, masya-
rakat Medinah memiliki kebiasaan
memotong punuk unta atau ekor dom-
ba yang berlemak. Prihatin akan hal
ini , Rasulullah meminta mereka
menghentikan perilaku tercela ini.
warga saat itu berpikiran bahwa
mereka dapat menikmati lemak dan
daging yang ada pada punuk unta
dan ekor domba tanpa harus mem-
bunuhnya sehingga tetap dapat di-
manfaatkan di lalu hari. Untuk
menghentikan kebiasaan ini beliau
menegaskan bahwa bagian tubuh
mana pun yang dipotong dari seekor
hewan yang masih dalam keadaan
hidup, potongan itu termasuk bangkai,
dan sebab nya haram dimakan.
Dewasa ini praktik yang serupa
juga dapat kita temukan di Rusia, meski
tidak untuk tujuan konsumsi. Sebagian
warga di Rusia memotong rang-
ga atau tanduk rusa untuk tujuan
komersial. Walaupun pemotongan
tanduk ini tidak mengakibatkan rusa
itu mati, dan memang secara berkala
rusa akan menanggalkan tanduknya
dan menggantinya dengan yang baru,
akan namun perilaku ini tidak dapat
dikatakan beradab.
Sementara itu, menjadikan he-
wan sebagai objek percobaan dalam
suatu penelitian, merupakan isu yang
tidak dibahas secara langsung oleh Al-
Qur'an dan sunah. Untuk membahas-
nya kita perlu melakukan kajian dalam
kerangka ilmu fikih. Fikih menjadi
jawaban bagi umat Islam dalam me-
nentukan hukum suatu isu yang diha-
dapi, apakah isu diperbolehkan atau
dilarang. Dari kajian fikih atas isu ini
diperoleh kesimpulan bahwa jika eks-
perimen pada hewan dilaksanakan
atas dasar tujuan memperoleh penge-
tahuan yang benar-benar bermanfaat
bagi hidup manusia atau makhluk
lainnya, maka eksperimen ini
dapat disetujui. Akan namun , bila dida-
sarkan pada kepentingan manusia
yang mendesak (al-mașlaĥah aď-ďarū-
riyyah), maka hal ini lebih jauh dibatasi
oleh prinsip-prinsip umum fikih sebagai
berikut.
a. Sesuatu yang dapat menuntun
kepada hal-hal yang diharamkan
hukumnya yaitu haram.
b. Jika seseorang terpaksa memilih
antara dua hal yang buruk maka
ia harus memilih yang lebih kecil
keburukannya untuk mencegah ke-
burukan yang lebih besar.
c. Sesuatu yang dihalalkan sebab
alasan tertentu akan menjadi tidak
halal jika alasan itu tidak ada lagi.
d. memakai berbagai pilihan un-
tuk hal-hal yang tidak ada keten-
tuan (hukum fikih) tentangnya.
Dengan menerapkan prinsip-
prinsip fikih di atas pada kasus eksperi-
men terhadap binatang, kiranya dapat
dikemukakan kesimpulan sebagai beri-
kut.
1. Tindakan menjadikan hewan seba-
gai objek eksperimen yang bersifat
menyakiti dan tindakan-tindakan
lain yang mengakibatkan kebutaan
atau cacat pada hewan, statusnya
haram.
2. Menjadikan hewan sebagai objek
eksperimen untuk menguji obat-
obatan sebelum dinyatakan aman
bagi manusia hukumnya boleh.
3. Menjadikan hewan sebagai objek
eksperimen sembarangan (tidak
jelas tujuannya) statusnya haram.
4. Harus memiliki relevansi dengan
penelitian mutakhir sehingga da-
pat memperkecil pemanfaatan he-
wan dalam percobaan.
Dari sekian banyak percobaan,
dapat disebutkan di sini dua di antara-
nya yang terkenal. Keduanya dilakukan
oleh para peneliti Rusia. Eksperimen
pertama dilakukan oleh Pavlov, yang
membuktikan bahwa rangsangan ter-
tentu akan memicu terjadinya
produksi air liur. Contohnya, begitu
orang yang biasa memberi makan mun-
cul di hadapan seekor anjing, maka air
liur mulai diproduksi oleh anjing ter-
sebut. Percobaan kedua dilakukan
oleh Bryuhenko pada tahun 1928. Dia
menghubungkan kepala anjing yang
telah dipotong dengan autojektor
(mesin jantung/paru-paru), dan kepala
anjing itu tetap hidup. Hal ini dibuktikan
saat kepala anjing bereaksi terhadap
suara, mata anjing bereaksi terhadap
cahaya, dan mulut anjing itu terbuka
untuk memakan keju yang diberikan.
Keju itu lantas keluar melalui saluran
makanan yang terpotong di lehernya.
Al-Qur'an dan hadis sudah meng-
ingatkan manusia tentang beberapa
hal yang harus dijadikan pertimbangan
dalam memanfaatkan hewan, salah
satunya berkaitan dengan usaha kon-
servasi hewan liar. Dalam kaitan pro-
duk hewan ternak dan hewan liar, Al-
Qur'an menyatakan bahwa manusia
boleh memanfaatkan semua bagian
tubuh hewan ternak, termasuk kulit-
nya.
Dan hewan ternak telah diciptakan-Nya, untuk
kamu padanya ada (bulu) yang menghangatkan
dan berbagai manfaat, dan sebagiannya kamu
makan. (an-Naĥl/16: 5)
Itulah aturan Islam tentang pe-
manfaatan hewan ternak. Di sisi yang
lain, Rasulullah melalui sabdanya mela-
rang pemafaatan kulit hewan liar,
meski untuk sekadar dijadikan alas
lantai atau alas pelana (hadis sudah
disebut pada bab sebelumnya). Jika
aturan ini ditaati oleh semua orang,
maka pembunuhan sia-sia terhadap
beberapa jenis hewan liar demi meraih
keuntungan semata niscaya tidak ter-
jadi lagi.
Hal lain yang terjadi belakangan
ini yaitu “kesenangan” para peneliti
“bermain-main” dengan gen hewan.
Berbagai percobaan, yang mungkin
saja tidak atau belum diketahui ke-
gunaannya bagi kesejahteraan ma-
nusia, dilakukan. Para peneliti memin-
443Hak dan Etika terhadap Hewan
dahkan gen tertentu yang membuat
tikus dan kera dapat berpendar di
tempat yang gelap. Bahkan dinyatakan
bahwa individu yang sudah diberi gen
tertentu ini dapat menurunkan
kemampuan berpendar kepada anak-
nya. Menurut para peneliti ini, per-
cobaan ini berguna menanggu-
langi beberapa penyakit manusia.
Kendati demikian, dapatkah hal yang
demikian ini diterima menurut per-
spektif etika? Apakah individu yang
berpendar ini diterima atau malah
dikucilkan oleh komunitasnya? Apakah
perasaan individu itu pernah dipertim-
bangkan oleh peneliti, ataukah indi-
vidu itu dianggap barang yang dapat
dibuang saja sesudah tidak ada man-
faatnya? Pertanyaan-pertanyaan ini
seharusnya membuat para peneliti
ini berpikir ulang tentang apa
yang dilakukannya.
Al-Qur'an dan hadis telah me-
nerangkan, berikut contoh-contohnya,
bagaimana harusnya manusia memper-
lakukan makhluk hidup ciptaan Allah.
Di sisi yang lain, beberapa contoh
yang memperlihatkan kekejaman ma-
nusia, baik dalam bentuk fisik mau-
pun emosi, terhadap hewan telah
diuraikan di muka. Jadi, yaitu tugas
manusia untuk menyikapinya secara
proporsional; apakah manusia masih
saja mengingkari hati nuraninya dan
menuruti keserakahannya, ataukah
menuruti apa-apa yang telah digariskan
rambu-rambunya oleh Allah.
Melalui firman-firman-Nya Allah
Yang Mahakuasa menegaskan betapa
hewan yaitu makhluk yang berharga
dan, layaknya makhluk yang lain, me-
nyembah Allah dengan menguman-
dangkan pujian dan tasbih kepada-
Nya dengan caranya masing-masing.
sebab itu, manusia sebagai makhluk
yang dibekali-Nya dengan akal dan
ditugasi-Nya menjadi khalifah di bumi
ini sudah seharusnya menghargai he-
wan dan memperlakukannya secara
manusiawi dan beretika. sebab semua
makhluk-makhluk itu menyembah
Allah maka tidak sepatutnya manusia
menyombongkan diri dan berbuat
sewenang-wenang kepada makhluk
yang lain. Wallāhu a‘lam.
Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mem-
persekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Dan
berbuat-baiklah kepada kedua orang tua, karib-
kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin,
tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat,
ibnu sabil dan hamba sahaya yang kamu miliki.
Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang som-
bong dan membanggakan diri. (an-Nisā'/4: 36)
Adapun orang-orang yang beriman dan menger-
jakan kebajikan, Allah akan menyempurnakan
pahala bagi mereka dan menambah sebagian dari
karunia-Nya. sedang orang-orang yang enggan
(menyembah Allah) dan menyombongkan diri,
Allah akan mengazab mereka dengan azab yang
pedih. Dan mereka tidak akan mendapatkan pelin-
dung dan penolong selain Allah. (an-Nisā'/4: 173)
(Allah) berfirman, “Maka turunlah kamu dari-nya
(surga); sebab kamu tidak sepatutnya menyom-
bongkan diri di dalamnya. Keluarlah! Sesungguhnya
kamu termasuk makhluk yang hina.” (al-A‘rāf/7:
13)
2 ب b
3 ت t
4 ث š
5 ج j
6 ح ĥ
7 خ kh
8 د d
9 ذ ż
10 ر r
11 ز z
12 س s
13 ش sy
14 ص ș
15 ض ď
16 ط ţ
17 ظ ž
18 ع ‘
19 غ g
20 ف f
21 ق q
22 ك k
23 ل l
24 م m
1. Konsonan
2. Vokal Pendek
3. Vokal Panjang
4. Diftong
Pedoman Transliterasi Arab-Latin
Keputusan Bersama Menteri Agama dan Menteri P dan K
Nomor: 158 Tahun 1987 — Nomor: 0543 b/u/1987
1. Konsonan
2. Vokal Pendek 3. Vokal Panjang
4. Diftong
No. Arab Latin
1. ا tidak dilamb ngka
2. ب b
3. ت t
4. ث š
5. ج j
6. ح ĥ
7. خ kh
8. د d
9. ذ ż
10. ر r
11. ز z
12. س s
13. ش sy
14. ص ș
15. ض ď
No. Arab Latin
16. ط ţ
17. ظ ž
18. ع `
19. غ g
20. ف f
21. ق q
22. ك k
23. ل l
24. م m
25. ن n
26. و w
27. هـ h
28. ء '
29. ي y
َ = a َكَتَب kataba
ِ = i ُسَِل su`ila
ُ = u َيذَهُب yażhabu
Qāla َقاَل ā = َ.ـا
Qīla ِقْيَل ī = ِ.ـى
Yaqūlu َيُقْوُل ū = ُ..ـو
kaifa َكْيَف ai = .َ.ـى
haula َحْو َل au = .َ..ـْو
Pedoman Transliterasi Arab-Latin
Keputusan Bers ma M nteri Ag ma dan M nteri P dan K
N mor: 158 Tahun 1987 — N mor: 0543 b/u/1987
1. K sonan
2. Vokal Pendek 3. Vokal P jang
4. Diftong
No. Arab Latin
1. ا ti ak dilambangkan
2. ب b
3. ت t
4. ث š
5. ج j
6. ح ĥ
7. خ kh
8. د d
9. ذ ż
10. ر r
11. ز z
12. س s
13. ش sy
14. ص ș
15. ض ď
No. Arab Latin
16. ط ţ
17. ظ ž
18. ع `
19. غ g
20. ف f
21. ق q
22. ك k
23. ل l
24. م m
25. ن n
26. و w
27. هـ h
28. ء '
29. ي y
َ = a َكَتَب kataba
ِ = i ُسَِل su`ila
ُ = u َيذَهُب y żhabu
Qāla َقاَل ā = َ.ـا
Qīla ِقْيَل ī = ِ.ـى
Yaqūlu َيُقْوُل ū = ُ..ـو
.َ.ـى = ai َكْيَف kaifa
= .َ..ـْو au َحْو َل h ula
Pe oman Transliterasi Arab-Latin
Keputusan Bersama Menteri Agama dan Menteri P dan K
Nomor: 158 Tahun 1987 — Nomor: 0543 b/u/1987
1 Konson n
2. Vokal Pendek 3. Vokal Panjang
4. Diftong
No. Arab Latin
1. ا tidak dilambangkan
2. ب b
3. ت t
4. ث š
5. ج j
6. ح ĥ
7. خ kh
8. د d
9. ذ ż
10. ر r
11. ز z
12. س s
13. ش sy
14. ص ș
15. ض ď
No. Arab Latin
16. ط ţ
17. ظ ž
18. ع `
19. غ g
20. ف f
21. ق q
22. ك k
23. ل l
24. م m
25. ن n
26. و w
27. هـ h
28. ء '
29. ي y
َ = a َكَتَب kataba
ِ = i ُسَِل su`ila
ُ = u َيذَهُب yażhabu
Qāla َقاَل ā = َ.ـا
Qīla ِقْيَل ī = ِ.ـى
Yaqūlu َيُقْوُل ū = ُ..ـو
kaifa َكْيَف ai = .َ.ـى
haula َحْو َل au = .َ..ـْو
Pedoman Transliterasi Arab-Latin
Keputusan Bersama Menteri Agama dan Menteri P dan K
Nomor: 158 Tahun 1987 — Nomor: 0543 b/u/1987
1. Konsonan
2. Vokal Pendek 3. Vokal Panjang
4. Diftong
No. Arab Latin
1. ا tidak dilambangkan
2. ب b
3. ت t
4. ث š
5. ج j
6. ح ĥ
7. خ kh
8. د d
9. ذ ż
10. ر r
11. ز z
12. س s
13. ش sy
14. ص ș
15. ض ď
No. Arab Latin
16. ط ţ
17. ظ ž
18. ع `
19. غ g
20. ف f
21. ق q
22. ك k
23. ل l
24. م m
25. ن n
26. و w
27. هـ h
28. ء '
29. ي y
َ = a َكَتَب kataba
ِ = i ُسَِل su`ila
ُ = u َيذَهُب yażhabu
Qāla َقاَل ā = َ.ـا
Qīla ِقْيَل ī = ِ.ـى
Yaqūlu َيُقْوُل ū = ُ..ـو
َ.ـى = ai َكْيَف kaifa
= .َ..ـْو au َحْو َل haula
'
.
Pedoman Transliterasi Arab-Latin
Keput san Bersama Menteri Agama dan Menteri P dan K
Nomor: 158 Tahun 1987 — Nomor: 0543 b/u/1987
1. Konsona
2. Vokal Pendek 3. Vokal Panjang
4. Diftong
No. Arab Latin
1. ا tidak dilambangkan
2. ب b
3. ت t
4. ث š
5. ج j
6. ح ĥ
7. خ kh
8. د d
9. ذ ż
10. ر r
11. ز z
12. س s
13. ش sy
14. ص ș
15. ض ď
No. Arab Latin
16. ط ţ
17. ظ ž
18. ع `
19. غ g
0. ف f
1. ق q
22. ك k
23. ل l
24. م m
25. ن n
26. و w
27. هـ h
28. ء '
29. ي y
َ = a َكَتَب k t b
ِ = i ُسَِل su`ila
ُ = u َيذَهُب yażhabu
Qāla َقاَل ā = َ.ـا
Qīla ِقْيَل ī = ِ.ـى
Yaqūlu َيُقْوُل ū = ُ..ـو
= .َ.ـى ai َكْيَف kaifa
َل au = .َ..ـْو haula َحْو
25 ن n
26 و w
27 هـ h
28 ء '
29 ي y


