Tentang hewan 12

Tentang hewan 12


 




istem radar manusia yang ada saat 

ini. Kita juga tidak bisa memandang 

sebelah mata terhadap kemampuan 

terbang capung. Contoh berikutnya 

yaitu  cara kerja sistem pemanas dan 

pendingin dalam sarang rayap yang 

jauh lebih murah dan efisien daripada 

teknologi manusia saat ini. Berbagai 

algae, ubur-ubur, cumi-cumi, udang, 


Sungguh, Kami menciptakan segala sesuatu menu-

rut ukuran. (al-Qamar/54: 49)

Dialah (Allah) yang menciptakan segala apa yang 

ada di bumi untukmu lalu  Dia menuju ke 

langit, lalu Dia menyempurnakannya menjadi tujuh 

langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.

(al-Baqarah/2: 29)

Berbagai fakta memperlihatkan 

banyak proses di alam perlu ditiru 

oleh manusia untuk menyejahterakan 

kehidupannya. Sebut saja kemampuan 

burung madu (hummingbird) yang 

343Perikehidupan Hewan

ikan, dan beberapa jenis serangga dapat 

mengkombinasikan beberapa bahan 

kimia dan membuat bagian tubuhnya 

berpendar. Ikan yang hidup di perairan 

Arktik dan kodok melakukan hibernasi 

dan aktif kembali saat musim panas. 

Belajar dari kemampuan dua hewan 

ini para peneliti mulai mengamati 

cara membekukan diri tanpa merusak 

organ tubuh. Bunglon dan cumi-cumi 

yang dapat mengubah warna dan 

corak pada kulitnya sesuai keadaan 

lingkungannya untuk berkamuflase. 

Lebah, burung, dan penyu laut dapat 

pergi ke satu tempat tanpa harus 

memakai  kompas. Ikan paus dan 

burung penguin yang bernafas dengan 

paru-paru dapat menyelam cukup lama 

tanpa harus memakai  alat selam. 

Sedikit contoh mekanisme dan 

desain alam yang mengagumkan ini 

berpotensi memperkaya teknologi ma-

nusia di berbagai bidang. Potensi ini 

akan menjadi nyata saat pengetahuan 

manusia meningkat dan teknologi yang 

diciptakan memiliki arti. Beberapa ayat 

di bawah ini dapat disimak lebih lanjut.

sebagian (yang lain) berjalan dengan empat 

kaki. Allah menciptakan apa yang Dia kehendaki. 

Sungguh, Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. 

(an-Nūr/24: 45)

Dan Allah menciptakan semua jenis hewan dari air, 

maka sebagian ada yang berjalan di atas perutnya 

dan sebagian berjalan dengan dua kaki, sedang 

Mahasuci (Allah) yang telah menciptakan semua-

nya berpasang-pasangan, baik dari apa yang ditum-

buhkan oleh bumi dan dari diri mereka sendiri, 

maupun dari apa yang tidak mereka ketahui.

(Yāsīn/36: 36)

Dan yang menciptakan semua berpasang-pasangan 

dan menjadikan kapal untukmu dan hewan ternak 

yang kamu tunggangi. (az-Zukhruf/43: 12)

Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan 

apa yang ada di antara keduanya dengan sia-sia. 

Itu anggapan orang-orang kafir, maka celakalah 

orang-orang yang kafir itu sebab  mereka akan 

masuk neraka. (Șād/38: 27)

Semua jenis hewan memiliki 

sisi-sisi yang sangat mengagumkan. 

Beberapa di antaranya memiliki bentuk 

tubuh yang sangat hidrodinamik yang 

memungkinkannya bergerak cepat 

dan leluasa di dalam air. Yang lainnya 

memiliki pendengaran yang sangat 

tajam. Hari demi hari makin banyak saja 


sisi luar biasa dalam dunia hewan yang 

ditemukan oleh para peneliti. Tidak 

jarang penelitian harus melibatkan 

peneliti-peneliti dari disiplin ilmu yang 

berbeda-beda, seperti ahli teknologi 

komputer, insinyur mesin; ahli elek-

tronika, matematik, fisika, kimia, bio-

logi, dan sebagainya, untuk sekadar 

meniru satu sisi saja dari kemampuan 

makhluk hidup lain.

Dan Allah menjadikan rumah-rumah bagimu 

sebagai tempat tinggal dan Dia menjadikan bagimu 

rumah-rumah (kemah-kemah) dari kulit hewan 

ternak yang kamu merasa ringan (membawa)

nya pada waktu kamu bepergian dan pada waktu 

kamu bermukim dan (dijadikan-Nya pula) dari 

bulu domba, bulu unta, dan bulu kambing, alat-

alat rumah tangga dan kesenangan sampai waktu 

(tertentu). (an-Naĥl/16: 80)

Para peneliti sangat kagum 

saat  hari demi hari makin banyak 

saja rahasia alam yang mereka temu-

kan. Mereka memanfaatkan keka-

guman ini untuk menginspirasi diri 

dan menginvensi teknologi baru bagi 

keuntungan perikehidupan manusia. 

Berbekal pengalaman bahwa apa 

yang terjadi di alam jauh lebih canggih 

daripada apa yang ada dalam pemikir-

an mereka, para peneliti mulai meng-

acu alam daripada mengembangkan 

pemikiran mereka sendiri. Mereka ya-

kin cara demikian ini jauh lebih efisien, 

cepat, dan murah. 

Hingga abad 19 alam ditiru hanya 

untuk keperluan estetika belaka. Para 

seniman dan arsitek, misalnya, hanya 

meniru sisi luar dari alam dalam mela-

kukan pekerjaannya. Penduduk asli 

Amerika, Indian, dan juga nenek 

moyang manusia, mengetahui prinsip 

pengobatan dari pengamatan terha-

dap perikehidupan hewan liar. Saat 

terserang penyakit atau terluka, hewan 

liar seperti serigala atau beruang 

mencari dan memakan tumbuhan ter-

Dan tidak ada seekor binatang pun yang ada di 

bumi dan burung-burung yang terbang dengan 

kedua sayapnya, melainkan semuanya merupakan 

umat-umat (juga) seperti kamu. Tidak ada sesuatu 

pun yang Kami luputkan di dalam Kitab, lalu  

kepada Tuhan mereka dikumpulkan. (al-An‘ām/6: 

38)

Dan (Dia telah menciptakan) kuda, bagal, dan 

keledai, untuk kamu tunggangi dan (menjadi) 

perhiasan. Allah menciptakan apa yang tidak kamu 

ketahui.(an-Naĥl/16: 8)

345Perikehidupan Hewan

tentu untuk menyembuhkan diri, dan 

berhasil. Kekaguman atas kemampuan 

alam yang dapat ditiru dan dijadikan 

inspirasi bagi upaya menyejahterakan 

kehidupan manusia dimulai pada abad 

20, dengan melakukan studi alam 

pada tingkat molekuler. Para peneliti 

sekarang mulai meniru apa yang per-

nah dikatakan Al-Qur'an pada 14 abad 

lebih yang lalu. 

untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah 

Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua 

orang tuaku dan agar aku mengerjakan kebajikan 

yang Engkau ridai; dan masukkanlah aku dengan 

rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu 

yang saleh.” (an-Naml/27: 19)

Dan pada penciptaan dirimu dan pada makhluk 

bergerak yang bernyawa yang bertebaran (di 

bumi) ada  tanda-tanda (kebesaran Allah) 

untuk kaum yang meyakini. (al-Jāšiyah/45: 4)

Hingga saat  mereka sampai di lembah semut, 

berkatalah seekor semut, “Wahai semut-semut! 

Masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu 

tidak diinjak oleh Sulaiman dan bala tentaranya, 

sedang  mereka tidak menyadari.” (an-Naml/27: 

18)

Maka dia (Sulaiman) tersenyum lalu tertawa 

sebab  (mendengar) perkataan semut itu. Dan dia 

berdoa, “Ya Tuhanku, anugerahkanlah aku ilham 

Dan Sulaiman telah mewarisi Dawud, dan dia 

(Sulaiman) berkata, “Wahai manusia! Kami telah 

diajari bahasa burung dan kami diberi segala 

sesuatu. Sungguh, (semua) ini benar-benar karunia 

yang nyata.” (an-Naml/27: 16)

Maka tidak lama lalu  (datanglah Hud-hud), 

lalu ia berkata, “Aku telah mengetahui sesuatu 

yang belum engkau ketahui. Aku datang kepadamu 

dari negeri Saba' membawa suatu berita yang 

meyakinkan. (an-Naml/27: 22)

Manusia diciptakan Allah untuk 

menjadi khalifah di bumi. Dengan 

demikian, manusia harus bertanggung 

jawab di hadapan Allah tentang apa 

yang dilakukannya terhadap ciptaan-

Nya. Al-Qur'an menguraikan secara 

jelas tentang peran hewan sebagai 

kelompok-kelompok yang juga mem-

punyai hak yang mesti dipenuhi 

layaknya manusia. Semua ciptaan 

memiliki  tempatnya sendiri-sendiri. 

Al-Qur'an juga menunjukkan bahwa 

tidak saja manusia yang bersujud, 

bertasbih, dan tunduk kepada Allah, 


belakangi oleh beberapa alasan, di 

antaranya perubahan kondisi klimat 

lokal, ketersediaan pakan di tingkat 

lokal, sampai dengan yang berkaitan 

dengan iklim tahunan yang berlaku 

global. 

Untuk dapat disebut sebagai 

migrasi, dan bukan hanya sekadar 

persebaran secara lokal, peristiwa 

pergerakan hewan harus berlangsung 

secara tahunan atau musiman secara 

berulang, seperti burung-burung jenis 

tertentu yang terbang ke tempat yang 

panas saat  tempat tinggal asalnya 

mengalami musim dingin. Migrasi juga 

bisa dipicu perubahan perilaku dalam 

siklus hidup hewan, seperti anakan 

ikan salmon yang berukuran tertentu 

akan bermigrasi dari hulu sungai ke 

laut untuk menjalani hidup dewasanya.

Siklus sebuah migrasi bisa saja 

diselesaikan oleh individu dari satu 

generasi yang sama (seperti migrasi 

pada burung, binatang menyusui, atau 

ikan), dan bisa juga dilakukan lintas 

generasi. Contoh klasik dari siklus 

yang disebut terakhir ini dapat dilihat 

pada kupu-kupu monarch (Danaus 

plexippus) yang bermigrasi dari Kanada 

ke Meksiko, dan kembali lagi. 

Migrasi tidak hanya terjadi pada 

dunia burung dan kupu-kupu. Mi-

grasi juga dilakukan oleh beberapa 

jenis binatang menyusui, serangga, 

ikan, dan kelompok kepiting atau 

namun  juga hewan, tumbuhan, bahkan 

benda-benda mati. Allah berfirman,

Tidakkah engkau tahu bahwa siapa yang ada di 

langit dan siapa yang ada di bumi bersujud kepada 

Allah, juga matahari, bulan, bintang, gunung-

gunung, pohon-pohon, hewan-hewan yang melata 

dan banyak di antara manusia? namun  banyak 

(manusia) yang pantas mendapatkan azab. Barang 

siapa dihinakan Allah, tidak seorang pun yang akan 

memuliakannya. Sungguh, Allah berbuat apa saja 

yang Dia kehendaki. (al-Ĥajj/22: 18)

Dengan berbagai keterbatasan, 

buku yang ada di hadapan para 

pembaca ini berusaha menguraikan 

beberapa saja dari proses-proses yang 

mencengangkan pada perikehidupan 

hewan. Di antaranya yaitu  migrasi 

hewan, kemampuan hewan berkomu-

nikasi, simbiosis pada dunia hewan, 

dan manfaat hewan bagi manusia 

dengan adanya proses domestikasi.

A.  MIGRASI HEWAN

Migrasi hewan yaitu  perpindahan 

sekelompok jenis hewan, baik secara 

permanen maupun musiman, dari satu 

tempat ke tempat lain. Migrasi dilatar-

347Perikehidupan Hewan

udang. Kelompok Arthropod (udang) 

berukuran kecil yang hidup pada 

masa Kambrian sekitar 520 juta tahun 

yang lalu, misalnya, ditemukan dalam 

bentuk fosil dengan kondisi saling 

bergandengan dan membentuk ran-

tai. Muncul dugaan bahwa formasi 

yang demikian ini mereka bentuk saat 

bermigrasi. Manusia pada masa lalu 

dan saat ini pun tidak ketinggalan; 

mereka sering melakukan migrasi ka-

rena berbagai sebab.

Tidak saja bersifat musiman, 

migrasi juga dilakukan dalam skala 

harian. Ini misalnya dilakukan oleh 

banyak hewan yang hidup di perairan 

laut. Migrasi yang mereka lakukan 

yaitu  dengan bergerak menegak dan 

bergerak turun-naik sepanjang kolom 

air. Migrasi demikian banyak ditemui 

pada plankton, ubur-ubur, dan hewan 

laut berukuran kecil lainnya. Dalam 

menjelaskan migrasi hewan, Al-Qur'an 

memberi penjelasan pada Surah al-

Mulk/67: 19 dan an-Nūr/24: 41.

Tidakkah engkau (Muhammad) tahu bahwa kepada 

Allah-lah bertasbih apa yang di langit dan di bumi, 

dan juga burung yang mengembangkan sayapnya. 

Masing-masing sungguh, telah mengetahui (cara) 

berdoa dan bertasbih. Allah Maha Mengetahui apa 

yang mereka kerjakan. (an-Nūr/24: 41)

Dari dua ayat di atas digambar-

kan tentang burung yang terbang di 

antara langit dan bumi. Kadangkala 

burung-burung itu terbang ribuan kilo-

meter dalam proses migrasi. Seringkali 

mereka harus terbang menyeberangi 

lautan tanpa berhenti. Tentu saja tidak 

ada yang memberi mereka kelengkap-

an pengetahuan dan kekuatan untuk 

dapat melakukan hal ini  selain 

Allah. Burung-burung ini patuh kepada 

perintah Allah, dan dapat mengenali 

tanda-tanda yang diberikan-Nya untuk 

melakukan migrasi ke arah tertentu. 

Gambar 363

Kumpulan burung dalam proses migrasi.

(Sumber: forum.xcitefun.net)

Tidakkah mereka memperhatikan burung-burung 

yang mengembangkan dan mengatupkan sayapnya 

di atas mereka? Tidak ada yang menahannya (di 

udara) selain Yang Maha Pengasih. Sungguh, Dia 

Maha Melihat segala sesuatu.  (al-Mulk/67: 19)


Ada beberapa penunjuk arah yang 

Allah berikan bagi mereka, seperti arah 

arus di lautan, kedudukan bintang-

bintang di langit pada malam hari dan 

matahari pada siang hari, serta ciri-ciri 

lanskap di daratan. Semua itu dipahami 

dan dipakai  oleh burung-burung 

untuk melaksanakan perintah-Nya. 

Manusia diundang untuk bertauhid 

kepada Allah dengan memperhatikan 

burung. Allah telah merancang arah, 

rute, dan kemampuan individu dari 

setiap jenis burung. Dalam hal inilah 

ada  tanda-tanda eksistensi dan 

kekuasaan Allah yang hanya bisa dipa-

hami oleh mereka yang beriman dan 

mau memaksimalkan kemampuan in-

telektualitasnya.

PERIHAL MIGRASI

Migrasi Manusia

Migrasi manusia yaitu  perpindahan 

secara fisik manusia dari satu kawasan 

ke kawasan lainnya. Seringkali dalam 

prosesnya manusia melakukan per-

jalanan jauh dan panjang dalam ke-

lompok yang besar. Pergerakan po-

pulasi manusia berlangsung terus 

sepanjang zaman. Migrasi bisa saja 

dilakukan dengan suka rela, namun 

tidak jarang pula dilakukan dengan 

terpaksa. Bentuk yang kedua ini misal-

nya dipicu oleh terjadinya perbudakan, 

perdagangan manusia (human traffic-

king), genosida, bencana alam, dan 

lain-lain.

Sejarah migrasi umat manusia 

dimulai dengan pergerakam Homo 

erectus keluar dari benua Afrika menu-

ju kawasan Eurasia sekitar satu juta 

tahun yang lalu. Homo sapiens tersebar 

merata di Afrika sekitar 150.000 tahun 

lalu, bergerak keluar mulai 70.000 

tahun lalu, dan menyebar ke Australia, 

Asia, dan Eropa sekitar 40.000 tahun 

lalu. Selanjutnya, mereka bermigrasi 

ke Amerika pada 20.000 hingga 15.000 

tahun lalu. Pada sekitar 2.000 tahun 

lalu manusia pun akhirnya mulai meng-

kolonisasi pulau-pulau di Pasifik.

Migrasi manusia modern dapat 

diketahui mulai dari abad 18 Masehi. 

Industrialisasi merupakan salah satu 

penyebab terjadinya migrasi ini. Mi-

grasi sukarela dan terpaksa banyak 

terjadi sebagai akibat Perang Dunia I 

dan II. Migrasi secara terpaksa, selain 

dipicu oleh perbudakan, dapat juga 

dipicu oleh persoalan agama, seperti 

yang terjadi di India, Pakistan, dan 

Bangladesh.

Sejarah Islam mencatat suatu 

peristiwa yang bisa saja dikategorikan 

sebagai migrasi. Peristiwa itu yaitu  

hijrah yang sangat penting dan berse-

jarah bagi seluruh umat Islam. Hijrah 

tidak saja menandai bermulanya pe-

nanggalan tahun hijriah, tapi ia punya 

349Perikehidupan Hewan

makna yang lebih dalam daripada 

itu. Sejarah merekam peristiwa keti-

ka Rasulullah diperintahkan oleh Allah 

untuk berhijrah saat  ruang untuk 

berdakwah di Mekah sudah terlalu 

sempit. Allah tidak mengajari beliau 

untuk mendoakan buruk kepada pen-

duduk Mekah yang enggan beriman. 

Sebaliknya, Allah mewahyukan kepa-

da beliau untuk mengambil suatu tin-

dakan yang sukar, berbahaya, dan 

berisiko tinggi. Melalui perintah hijrah, 

Rasulullah berusaha untuk merancang 

dan bertindak demi masa depan dak-

wah Islamiyah yang lebih baik.

Hijrah seperti yang dilakukan 

oleh Rasulullah tidak lagi diamanatkan 

kepada umat Islam pada masa seka-

rang. Namun demikian, konsep dan inti 

ajaran hijrah harus terus berlangsung. 

Rasulullah menegaskan bahwa tidak 

ada lagi perintah hijrah sesudah peris-

tiwa penaklukan kota Mekah. Yang 

tersisa, kata beliau, yaitu  kewajiban 

berjihad dan niat untuk berhijrah apa-

bila keadaan memaksa.

Kata hijrah dalam bahasa Arab 

berarti bergerak meninggalkan satu 

tempat untuk pergi ke tempat lain 

yang lebih baik. Ia juga dapat berarti 

meninggalkan kepercayaan, amalan, 

peraturan, dan cara hidup yang ber-

tentangan dengan ajaran Islam se-

bagai agama yang diridai Allah. Islam 

tidak menyuruh manusia untuk ber-

diam diri dan menunggu pertolong-

an datang tanpa adanya usaha untuk 

mendapatkannya. Allah berfirman, 

Baginya (manusia) ada malaikat-malaikat yang 

selalu menjaganya bergiliran, dari depan dan 

belakangnya. Mereka menjaganya atas perintah 

Allah. Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah 

keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah 

keadaan diri mereka sendiri. Dan jika  Allah 

menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, 

maka tak ada yang dapat menolaknya dan tidak 

ada pelindung bagi mereka selain Dia. (ar-Ra‘d/13: 

11)

Migrasi Burung 

Alasan burung melakukan migrasi 

sangat kompleks dan belum sepenuh-

nya dimengerti. Penjelasan yang se-

derhana yaitu  bahwa perpindahan 

itu berkaitan dengan ketersediaan 

pakan dan reproduksi. Burung Artic 

Tern (Sterna paraisaea), misalnya, 

yang berkembang biak di kawasan 

Arktika di Kutub Utara pada musim 

panas memperoleh keuntungan dari 

banyaknya makanan (ikan laut) yang 

tersedia. Pada musim dingin mereka 

kembali dan hidup di Antartika 

(Kutub Selatan, yang saat itu berada 


Contoh di atas memperlihatkan 

kompleksitas hal-hal yang berkaitan 

dengan perjalanan migrasi. Di samping 

persedian lemak dalam tubuh hewan 

migran yang menjadi sediaan energi, 

berbagai kondisi alam (antara lain 

arah angin, kecepatan angin, dan arus 

laut) juga sangat berperan. Dengan 

memperhatikan hal-hal ini, lokasi 

tujuan migrasi lebih mudah mereka 

capai dengan melewati rute tertentu. 

Burung memanfaatkan arah angin 

untuk membantunya terbang dan 

mencapai lokasi dengan lebih cepat. 

Seringkali mereka terbang tinggi un-

tuk memperoleh  aliran udara yang 

kuat dan mengarah pada tempat yang 

ditujunya. Banyak jenis burung ber-

sayap panjang dan lebar meluncur 

pada aliran udara ini untuk menghemat 

energi, sebagaimana dilakukan oleh 

semua jenis burung dari kelompok 

Albatross. Beberapa jenis burung 

dapat terbang tanpa henti selama 

beberapa hari, namun pada umumnya 

mereka beristirahat di tempat tertentu 

sesudah  terbang beberapa jam. 

Penelitian membuktikan bahwa 

burung menjadikan posisi matahari 

dan bintang sebagai kompas untuk 

menentukan arah tujuan. Burung juga 

diketahui dapat memakai  magnet 

bumi utara sebagai acuan. Di luar 

itu, mereka memakai  bentang 

alam secara visual, penciuman (bau 


dalam musim panas sebagaimana 

bumi belahan selatan lainnya). Jarak 

lurus antara kedua kutub ini yaitu  

15.000 km. Namun demikian, rute 

yang ditempuh burung ini tidak 

selamanya lurus, melainkan berbelok-

belok menyesuaikan dengan posisi 

lanskap. Dengan demikian, jarak yang 

ditempuhnya dapat mencapai 20.000 

km. Artinya, dalam satu kali migrasi 

mereka harus menempuh jarak antara 

30.000–40.000 km. 


laut), dan suara (pecahnya ombak di 

pantai, angin yang melewati celah 

di daerah pegunungan) sebagai ciri. 

Aspek yang sangat mengagumkan 

dalam hal migrasi ini yaitu  bahwa 

semua pengalaman (lokasi, rute, dan 

mungkin juga cara dan teknik yang 

dipakai ) terpatri dalam otak semua 

individu. Banyak burung migran yang 

meninggalkan anaknya yang belum 

dewasa untuk terbang kembali ke 

tempat asal. Anaknya akan terbang 

menyusul tanpa ada yang memberi-

tahunya arah dan rute migrasi yang 

biasa dilalui kelompok orang tua me-

reka. 

Hampir semua kelompok burung 

terwakili oleh jenis dari kelompok itu 

yang melakukan migrasi, mulai dari 

kelompok bangau, belibis, burung pe-

mangsa, hingga burung kecil sebangsa 

burung madu. Bahkan, burung yang 

tidak dapat terbang, seperti burung 

emu, juga melakukan migrasi. Burung 

yang hidup di Australia ini bermigrasi 

mengikuti ketersediaan air. Burung 

penguin bermigrasi di lautan. Anakan 

burung auk dari kelompok penguin 

dari suku Alcidae bermigrasi dengan 

cara berenang di laut hingga bulu di 

tubuhnya tumbuh dan ia mulai dapat 

terbang.

Berikutnya timbullah pertanyaan 

besar, mengapa tidak semua burung 

melakukan migrasi, padahal dengan 


kemampuannya terbang mereka men-

dapat keuntungan lebih daripada apa 

yang didapat oleh jenis hewan lainnya, 

misalnya dalam hal mencari kawasan 

yang memiliki sumber daya pakan 

dan tempat berkembang yang baik. 

Sampai saat ini belum ada yang dapat 

memastikan mengapa tidak semua 

burung melakukan migrasi. Yang 

diketahui yaitu  bahwa persoalan 

migrasi dan tidak bermigrasi telah 

diatur sedemikian rupa hanya untuk 

burung, dan mereka telah melakukan 

dan mempraktikkannya selama jutaan 

tahun. Allah-lah yang telah mengatur 

hal ini  sejak pertama mencipta-

kan hewan ini.

Migrasi kupu-kupu

Kisah migrasi yang sangat menakjub-

kan tidak saja dicatatkan oleh burung. 

Beberapa jenis serangga juga memiliki 

kisah migrasi yang tidak kalah me-

ngagumkan. Kupu-kupu monarch (Da-

naus plexippus) misalnya bermigrasi 

dari Kanada ke Meksiko yang dilaku-

kannya dalam beberapa generasi. 

Cara migrasi yang demikian ini bahkan 

memiliki tingkat kompleksitas yang 

lebih tinggi dibandingkan apa yang 

dilakukan kebanyakan burung.

Masa dewasa kupu monarch 

hanya berlangsung 5–6 minggu. Dalam 

satu tahun ada  empat generasi, 

di mana tiga dari empat generasi 

ini dipakai  untuk melakukan per-

jalanan migrasi antara Kanada dan 

Meksiko. Migrasi selalu dimulai saat 

puncak musim gugur di Kanada. Kupu-

kupu yang akan memulai penerbangan 

ke Meksiko ini yaitu  individu generasi 

keempat, dan merupakan individu 

yang jauh lebih super daripada individu 

generasi lainnya. Mereka hidup enam 

bulan lebih panjang daripada individu 

generasi lainnya. Ini sangat diperlukan 

untuk dapat menyelesaikan perjalanan 

dari Kanada ke Meksiko sekaligus.

Kupu-kupu monarch terbang 

melintasi hampir separuh Benua Ame-

rika, dan akhirnya berkumpul di suatu 

tempat di bagian tengah Meksiko. 

Bagaimana jutaan kupu yang semula 

menyebar lalu  menyatu dan 

mengarah ke satu lokasi, belum dite-

mukan jawabannya oleh para peneliti 

hingga saat ini. Selama empat bulan 

dari Desember hingga Maret, mereka 

tidak makan apa-apa dan hanya me-

minum sedikit air. Persediaan lemak 

dalam tubuh menjadi faktor kunci bagi 

keberhasilan migrasi mereka. Begitu 

sampai di kawasan pegunungan yang 

dipenuhi dengan tumbuhan di Meksiko 

(ketinggiannya mencapai 3.000 meter) 

mereka melanjutkan hidupnya.

sesudah  empat bulan berpuasa, 

mereka memperoleh nektar dari bunga 

yang berlimpah dan mengembalikan 

persediaan lemak dalam tubuh mereka 

sebagai modal untuk terbang kembali 

ke Kanada. Mereka kawin pada akhir 

bulan Maret, hanya beberapa saat men-

jelang perjalanan pulang ke Kanada. 

Sebelum melakukan perjalanan pu-

lang, mereka bertelur. Begitu sampai 

di Kanada, mereka pun mati.

Telur yang ditinggalkannya di 

Meksiko lalu  menjadi generasi 

pertama untuk tahun itu. Generasi ini 

hidup selama 1–1,5 bulan. Berikutnya 

hadirlah generasi kedua dan ketiga 

yang hidup dalam rentang waktu yang 

sama. Seiring lahirnya generasi empat 

yang memiliki masa hidup enam (6) 

bulan lebih panjang daripada generasi 

lainnya, migrasi pun dimulai lagi.

Sistem yang demikian kompleks 

ini belum sepenuhnya dapat dipecah-

kan oleh manusia. Mengapa generasi 

keempat dari kupu-kupu ini memiliki 

masa hidup enam bulan lebih panjang 

daripada generasi sebelumnya; me-

ngapa generasi ini selalu muncul ber-

samaan dengan musim dingin; dan 

mengapa pula kupu-kupu ini bersama-

sama memulai migrasinya pada saat 

pertengahan musim gugur, yaitu  

pertanyaan-pertanyaan yang belum 

ditemukan jawabannya secara ilmiah.

Semua pertanyaan itu sangat 

sulit dijawab oleh ilmu tentang evo-

lusi. Kupu jenis ini tampaknya sudah 

memiliki karakter demikian ini sejak 

diciptakan. jika  generasi keem-

pat tidak dibekali dengan umur 

panjang maka diperkirakan jenis ini 

sudah punah sejak lama. Kondisi 

yang demikian ini tentu tidak dapat 

dinyatakan sebagai kebetulan belaka. 

Tidak mungkin juga kupu-kupu itu 

melakukan perencanaan untuk hidup 

lebih panjang dengan mengatur me-

tabolisme, DNA, dan genetikanya sen-

diri. Tidak ada penjelasan lain yang 

dapat dikemukakan, selain apa yang 

tercantum dalam ayat berikut.

Tidakkah engkau (Muhammad) tahu bahwa kepada 

Allah-lah bertasbih apa yang di langit dan di bumi, 

dan juga burung yang mengembangkan sayapnya. 

Masing-masing sungguh, telah mengetahui (cara) 

berdoa dan bertasbih. Allah Maha Mengetahui apa 

yang mereka kerjakan. (An-Nūr/24: 41)


Migrasi kepiting merah Pulau 

Christmas (Gecarcoidae natalis) 

Kepiting merah Pulau Christmas (Ge-

carcoidae natalis) yang hidup di Pulau 

Christmas, Australia, yaitu  jenis uta-

ma dari 14 jenis kepiting darat yang 

hidup di pulau ini. Diperkirakan kepiting 

besar yang berwarna merah mencolok 

ini berjumlah 120 juta saat ini. Hewan 

ini hidup di dalam hutan yang memberi 

naungan yang mereka sukai. Kepiting 

merah dewasa dapat memiliki  lebar 

tubuh 116 milimeter, di mana kepiting 

jantan berukuran lebih besar daripada 

betina. Pertumbuhan kepiting merah 

ini sangat lambat. Mereka baru meng-

injak usia dewasa pada umur 4–5 

tahun, saat  ukuran tubuhnya men-

capai sekitar 40 milimeter. Pada saat 

inilah mereka mulai berpartisipasi da-

lam migrasi untuk kawin.

Makanan utama kepiting merah 

yaitu  serasah berupa daun, buah, 

bunga, dan anakan pohon. Mereka 

juga menyukai bagian tumbuhan 

yang segar, meski mereka juga doyan 

memakan bagian pohon yang jatuh. 

Meski makanan utama mereka yaitu  

tumbuhan, namun mereka juga tidak 

melewatkan begitu saja burung, he-

wan lain, bahkan kepiting lain yang 

mati. Menilik jumlahnya yang sangat 

banyak, kepiting merah diduga  tidak 

mendapati pesaing untuk memperoleh 

makanan.

Di hutan mereka hidup di da-

lam lubang yang digalinya, atau di 

celah-celah bebatuan. Mereka hidup 

menetap dan jarang berpindah kecuali 

saat bermigrasi. Kepiting merah hidup 

soliter, menyendiri, kecuali saat musim 

kawin. Mereka aktif pada siang hari, 

dan tidur pada malam hari. Kepekaan 

mereka terhadap kelembapan udara 

merupakan penyebab mengapa musim 

kawin berlangsung bersamaan. Pada 

musim panas, mereka menutup liang 

dengan dedaunan untuk memper-

tahankan kelembapan pada bagian 

dalamnya. Pada saat itu, sekitar dua 

sampai tiga bulan, kepiting merah 

jarang terlihat di luar liang atau tempat 

persembunyian lainnya.

Pada musim kawin yang pada 

umumnya berlangsung pada permu-

laan musim hujan (November atau 

Oktober), kepiting merah jantan akan 

mulai bermigrasi ke pantai. Kepiting 

betina mengikuti lalu . Kepiting 

jantan lantas membuat liang di pantai. 

Kepiting betina mendatangi lubang-

lubang itu dan terjadilah kawin massal 

selama tiga hari. Selama 12 hingga 

14 hari mereka akan tinggal bersama 

dalam lubang. Usai melakukan perka-

winan, setiap kepiting merah betina 

dapat memproduksi telur sampai 

100.000 butir.  

Pada pagi atau malam hari saat 

bulan sabit, kepiting betina ramai-

ramai masuk ke air dan melepaskan 

telurnya sebelum pasang tinggi da-

tang. Pelepasan telur dapat berlang-

sung lima sampai enam malam selama 

musim kawin ini. sesudah  malam kedua 

pelepasan telur, banyak kepiting beti-

na yang sudah tidak lagi ditempeli telur 

kembali ke pedalaman pulau. jika  

kondisi alam tidak mendukung musim 

kawin maka mereka akan tetap di pan-

tai hingga siklus bulan berikutnya.

Telur kepiting merah akan me-

netas begitu terjadi kontak dengan 

air laut. Larva akan terbawa arus ke 

tengah laut. Jutaan di antaranya tidak 

akan hidup sebab  menjadi santapan 

ikan dan predator lainnya. Satu bulan 

lalu  larva yang masih bertahan 

hidup teah berubah menjadi seperti 

udang kecil, yang disebut megalope. 

Megalope akan berenang ke pantai 

dan hidup di genangan-genangan air 

yang ada di sekitar pantai. Satu atau 

dua hari lalu  megalope akan 

berubah menjadi kepiting kecil. Walau 

baru berukuran 5 milimeter, mereka 

sudah memulai perjalanan migrasi ma-

suk ke hutan. Untuk sampai di hutan 

mereka melakukan perjalanan selama 

sekitar sembilan hari. Mereka kemu-

dian “menghilang” selama tiga tahun, 

hidup di bawah serasah dan batu, atau 

di dalam lubang yang dibuatnya.

Migrasi Paus

Hampir semua ikan paus melakukan 

migrasi untuk memperoleh makan 

dan berkembang biak. Salah satunya 

yaitu  ikan paus baleen yang makanan 

utamanya berupa udang kecil alias 

krill. Udang kecil ini disaring dengan 

gigi tapis yang dimilikinya. Krill banyak 

ditemukan hidup di perairan dingin, 

namun kondisi perairan yang demikian 

ini tidak cukup nyaman bagi bayi ikan 

paus. Bayi paus yang baru dilahirkan 

belum punya lapisan lemak yang cukup 

tebal, sehingga mereka akan langsung 

mati di air yang dingin ini. Itulah alasan 

mengapa paus kawin dan melahirkan 

bayinya di perariran yang lebih panas. 

Ikan paus memenuhi keperluan makan 

dan berkembang biak dengan cara 

melakukan perjalanan panjang dari 

perariran dingin tempatnya mencari 

makan ke perairan yang lebih hangat 

dan lebih dangkal untuk kawin dan 

membesarkan anaknya.

Pola migrasi ikan paus berbeda 

pada jenis yang berbeda, bahkan 

antarpopulasi pada jenis yang sama. 

Humback whale alias paus bongkok 

(Megaptera novaeangliae) ditemukan 

di semua lautan. Pada bulan-bulan 

musim panas populasi yang hidup di 

belahan bumi selatan akan berada di 

Antartika untuk makan krill. Pada akhir 

musim gugur mereka memulai migrasi 

tahunannya ke perairan tropis di 

Pasifik untuk kawin dan membesarkan 

anaknya. Mereka kembali ke selatan 

pada musim semi. Ikan paus jenis ini 

menjelajah perairan sekitar 5.000 ki-

lometer dalam migrasinya ini; suatu 

jarak migrasi terpanjang untuk jenis 

mamalia di bumi.

Hal yang mirip dilakukan oleh 

paus biru atau blue whale (Balaenop-

tera musculus), jenis paus lain yang 

juga pemangsa krill. Pada musim 

dingin mereka berenang ke arah per-

airan tropis yang lebih hangat untuk 

kawin dan melahirkan anak. Pada 

musim panas mereka kembali ke arah 

garis lintang yang tinggi, yaitu kutub, 


baik ke Antartika atau ke Arktika 

untuk makan. Mereka akan berada 

di perariran ini selama tiga hingga 

empat bulan. Mereka lalu  mulai 

bermigrasi lagi ke perariran tropis 

dalam pola tertentu. Dalam pola ini, 

paus yang sudah cukup tua dan yang 

hamil melakukan perjalanan lebih 

dulu. Perjalanan ini lantas ditutup oleh 

kelompok paus biru yang masih belum 

dewasa. 

Pada perjalanan ini mereka ham-

pir tidak makan apa-apa selama empat 

bulan. Mereka hidup dari persediaan 

lemak yang tersimpan di dalam tubuh-

nya. Paus hanya melahirkan satu ekor 

anak. Meski baru lahir, bayi paus 

sudah memiliki ukuran panjangnya 

hingga tujuh meter dan berat hingga 

2,5 ton. Anakan paus disusui oleh 

induknya selama tujuh bulan dan ikut 

bersamanya dalam perjalanan migrasi 

ke perairan kutub. sesudah  disapih, 

paus mulai makan krill dan bergabung 

untuk mengikuti pola migrasi. 

Pola migrasi demikian, dengan 

sedikit variasi di sana-sini, juga dapat 

ditemui pada semua ikan paus ukuran 

besar, misalnya saja grey whale atau 

paus abu-abu (Eschrichtius robustus) 

yaitu  paus pemakan krill yang pan-

jang tubuhnya dapat mencapai 16 

meter dengan berat sekitar 36 ton. 

Umur paus ini mencapai 50–60 tahun. 

Paus lain yang juga bermigrasi yaitu  

paus pemangsa krill lainnya, minke 

whale (Balaenoptera acutorostrat dan 

Balaenoptera bonaerensis). Ini yaitu  

marga kedua terkecil dalam kelompok 

ikan.


Pada usia dewasa (sekitar umur 

6–8 tahun), panjang tubuh minke 

whale jantan dapat mencapai 7,4 

meter, dengan bobot berkisar 4–5 ton. 

Jenis ini memiliki jumlah baleen (alat 

untuk menapis krill) 240–360 buah 

di bagian sisi mulutnya. Paus ini pada 

umumnya dapat hidup antara 30–50 

tahun. Dalam beberapa kasus, paus ini 

bahkan diketahui dapat hidup sampai 

60 tahun.

Paus berikutnya yaitu  bowhead 

whale (Balaena mystic etus), yang di-

kenal juga dengan nama Greenland 

Right Whale atau Arctic Whale. Pan-

jang tubuh paus pemangsa krill ini 

mencapai 20 meter dengan bobot 136 

ton. Ukurannya yang demikian besar 

menjadikannya berhak menempati po-

sisi kedua paus dengan tubuh terbesar 

sesudah  paus biru. Bowhead whale 

hidup sepenuhnya di kawasan Arktika 

dan Sub-Arktika, dan tidak melakukan 

migrasi yang berarti. Paus ini memiliki 

mulut terbesar di antara semua hewan 

yang ada.

Paus lain yang berukuran besar 

yaitu  paus bergigi atau sperm whale 

(Physeter macrocephalus). Sperm whale 

berbeda dari paus raksasa lainnya. 

Ia tidak memangsa krill, melainkan 

memakai  giginya untuk memang-

sa cumi-cumi raksasa yang hidup di 


laut dalam dan juga ikan. Paus jenis 

ini memegang beberapa rekor, di an-

taranya sebagai hewan bergigi ter-

besar dan hewan dengan volume 

otak terbesar di antara semua hewan 

yang hidup saat ini. Di samping itu, 

sperm whale juga memperoleh gelar 

penyelam terdalam di dunia. Mereka 

dapat menyelam hingga kedalaman 

tiga kilometer untuk memburu mang-

sanya. Panjang tubuh sperm whale 

jantan yang sudah dewasa mencapai 

20,5 meter. Hidupnya diatur dalam 

kelompok-kelompok. Kelompok in-

duk dan anak-anaknya terpisah dari 

kelompok jantan dewasa. Para induk 

bergotong-royong melindungi anak-

anak mereka. Seekor paus betina 

melahirkan anaknya dalam rentang 

tiga sampai enam tahun sekali. Anak-

anak sperm whale dipelihara induknya 

sampai usia 10 tahun. Paus ini dapat 

ditemukan hidup di semua lautan di 

dunia.

Migrasi Hewan Darat di Afrika 

Beberapa jenis mamalia yang hidup 

di Afrika juga melakukan migrasi ta-

hunan. Di antara mereka ada  wil-

debeest dari jenis black wildebeest 


(Connochaetes gnou) dan blue wilde-

beest (Connochaetes taurinus). Tinggi 

bahu wildebeest dewasa sekitar 1,2–

1,5 meter, dan bobot mencapai 270 kg. 

Mereka mampu bertahan hidup rata-

rata selama 20 tahun, meski dalam 

kondisi tertentu dapat mencapai 30 

tahun.

Wildebeest terkenal sebab  mi-

grasinya yang melibatkan sampai ra-

tusan ribu ekor. Penelitian memper-

lihatkan bahwa hewan ini memiliki 

kecerdikan yang dikategorikan ke 

dalam “swarm intelligence”, sebuah 

tindakan eksplorasi secara sistematis 

tentang suatu masalah yang lalu  

dipecahkan untuk keuntungan bersa-

ma. Wildebeest biasanya bermigrasi 

bersama-sama dengan banyak mama-

lia lainnya, seperti zebra dan berbagai 

jenis rusa.

Migrasi Ikan

Ikan bermigrasi dalam beberapa 

cara. Ada jenis-jenis yang bermigrasi 

secara vertikal, dari dasar perairan 

ke permukaan air, dan ada yang hori-

sontal, baik di lautan, di perairan 

air tawar, atau di kedua tempat ini. 

Waktu yang mereka perlukan untuk 

bermigrasi juga beragam; ada yang 

butuh waktu lama, dan ada pula yang 

bermigrasi dalam rentang harian. Pada 

migrasi horisontal dikenal pola migrasi 

yang terjadi hanya di air tawar, di air 

laut saja, dan ada pula yang dilakukan 

dari air laut ke air tawar untuk bertelur. 

Migrasi yang terakhir ini misalnya dila-

kukan oleh jenis-jenis ikan salmon. 

Ada pula migrasi horisontal yang dila-

kukan sebaliknya, seperti dilakukan 

oleh kelompok jenis-jenis ikan sidat.


Migrasi besar banyak dilakukan 

oleh jenis ikan yang hidup di laut, 

seperti jenis-jenis ikan yang masuk 

dalam kelompok tuna dan cakalang 

(antara lain albacore, bluefin tuna, dan 

lainnya), ikan layaran (sailfish), marlin, 

ikan hiu dan lain-lain. Alasan migrasi 

umumnya sama dengan hewan lain-

nya, yaitu mencari keberadaan pakan 

dan tempat berkembang biak.

Ada ikan-ikan yang bermigrasi 

bolak-balik antara air tawar dan air laut. 

Migrasinya tidak berkait sama sekali 

dengan urusan perkembangbiakan. 

Mi-grasi ini misalnya dilakukan oleh 

jenis ikan hiu kelompok bull shark 

(Carcharhinus leucas) yang hidup di 

Danau Nikaragua (Amerika Selatan)

dan Danau Zambesi (Afrika). Mereka 

bermigrasi bolak-balik antara Danau 

Nikaragua dan Samudra Atlantik, dan 

bolak-balik dari Danau Zambesi ke Sa-

mudra Hindia.

Pengetahuan tentang migrasi 

ikan sangat penting, terutama ikan-

ikan yang memiliki nilai komersial 

tinggi. Berbagai modeling dalam mi-

grasi ikan dikembangkan dan dikait-

kan dengan aturan penangkapan se-

cara internasional agar tidak terjadi 

penangkapan yang berlebihan, sehing-

ga membahayakan populasinya. 

Uraian di atas masih menyisakan 

pertanyaan yang perlu dijawab, yakni 

faktor apa saja yang menentukan 

migrasi, dan kapan waktu migrasi 

dilakukan. Para peneliti menyatakan 

bahwa tiap individu memiliki “body 

clock” yang membantu mereka me-

ngenali dan mengetahui waktu dalam 

pergantian musim. Mereka akan segera 

bermigrasi begitu jam di tubuhnya itu 

berdering. Hebatnya jam itu berdering 

secara bersamaan dalam satu waktu 

tertentu. Sampai di sini muncul lagi 

pertanyaan-pertanyaan lain, seperti 

bagaimana bentuk jam tubuh ini; 

dimana posisi tepatnya dalam tubuh; 

a p a k a h  s e m u a 

jenis memiliki jam 

itu; apa yang ter-

jadi jika  jam itu 

tidak bekerja de-

ngan benar; dan sete-

rusnya.

Jam tubuh ini diper-

caya bukanlah jam kha-

yalan, namun  suatu sistem 

yang sengaja Allah ciptakan dalam 

tubuh mereka. Tidak terlalu berlebihan 

bila keyakinan adanya sistem yang 

demikian ini dikaitkan dengan ayat 

berikut.

suatu bunyi. Bunyi-bunyi yang sudah 

disepakati artinya lantas digabungkan 

dalam susunan yang tepat untuk 

menjadi kalimat, yang pada tahap 

selanjutnya akan membentuk suatu 

bahasa. Bahasa dari satu kelompok 

warga  dengan warga  di 

tempat lain dapat sangat berlainan, 

akan namun  tidak demikian halnya de-

ngan hewan.

Bahasa diduga sudah dipakai  

manusia sekitar 45.000 tahun SM. 

Daerah yang disinyalir sebagai tempat 

pertama munculnya bahasa yaitu  

kawasan yang sekarang masuk wilayah 

negara Iran. Jumlah bahasa di dunia 

dipercaya berkisar di angka 6.000. 

Di Indonesia sendiri ada sekitar 370 

suku bangsa, dan hampir seluruhnya 

memiliki  bahasa sendiri. Perbedaan 

lidah (dalam artian bahasa) diuraikan 

dalam salah satu ayat Allah,

Dialah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, 

Yang Membentuk Rupa, Dia memiliki nama-nama 

yang indah. Apa yang di langit dan di bumi bertasbih 

kepada-Nya. Dan Dialah Yang Mahaperkasa, Maha-

bijaksana. (al-Ĥasyr/59: 24)

B. SISTEM KOMUNIKASI 

PADA HEWAN

Kata komunikasi berarti pengiriman 

atau penerimaan pesan atau berita 

antara dua pihak atau lebih sehingga 

pesan atau berita yang dimaksud dapat 

dipahami. Manusia berkomunikasi de-

ngan suara dan bahasa tubuh. Suara 

dibentuk sedemikian rupa sehingga 

muncullah bahasa. Untuk dapat menge-

luarkan bunyi yang berbeda-beda, 

atau yang disebut berbicara, manusia 

memiliki  banyak organ yang saling 

berkaitan satu dengan lainnya, seperti 

bibir, mulut secara keseluruhan, paru-

paru, kerongkongan, dan pita suara. 

Manusia dapat berkomunikasi 

dengan berbicara sesudah  seluruh 

warga  menyepakati arti dari 

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah 

menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan 

bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada 

yang demikan itu benar-benar ada  tanda-

tanda bagi orang-orang yang mengetahui. (ar-

Rūm/30: 22)

Berbicara yaitu  suatu kegiatan 

yang sangat kompleks. Ia dimulai de-

ngan perasaan yang mendorong untuk 

mengucapkan suatu maksud. Perasaan 

itu lalu  berpindah, entah bagai-

mana, ke otak kiri, demikian kata para 

pakar. Dada lalu  mendorong 

udara di dalamnya dalam jumlah ter-

tentu melalui tenggorokan. Udara 

akan mencapai pita suara yang amat 

kompleks, sehingga pita suara itu 

menghasilkan bunyi sebagaimana di-

perintahkan oleh otak: nyaring atau 

berbisik, panjang atau pendek, tekan-

an pada bunyi tertentu, dan lain-lain. 

Selanjutnya bergeraklah bibir, lidah, 

rahang, serta alat bantu ucap lainnya. 

Sesudah itu, juga sesudah  mengalami 

proses yang rumit, bunyi yang dike-

luarkannya dapat dipahami oleh mitra 

bicara. Semua dilakukan tanpa sadar, 

dan pembicara sendiri pun tidak tahu 

betul bagaimana itu terjadi.

Dalam bidang biologi, bahasa 

dan sistem komunikasi hampir mirip. 

Definisi bahasa yang resmi telah dibe-

rikan oleh para ahli linguistik, akan 

namun  kata bahasa banyak dipakai  

bukan dalam bentuk “bahasa yang 

benar”, seperti bahasa tubuh, bahasa 

pemrograman dalam ilmu komputer, 

dan selanjutnya. Dalam dunia biologi 

juga dikenal kata bahasa untuk meng-

ekspresikan sistem komunikasi, misal-

nya bahasa burung, bahasa tarian 

lebah, dan sebagainya.

Dengan uraian di atas dapat 

disetujui bahwa kata bahasa dalam 

artian informal yaitu  suatu sistem 

komunikasi. Apakah lumba-lumba, 

misalnya, punya bahasa atau sistem 

komunikasi? Jawabannya yaitu  ya. 

jika  demikian maka semua makh-

luk hidup memiliki bahasa, seperti 

burung, kera, kupu-kupu, semut, 

bahkan bakteri. Mereka memiliki  

cara untuk memberitahukan sesuatu 

kepada jenisnya dengan berbagai cara 

yang mereka kuasai, bahkan antarjenis.

Bunga, misalnya, dapat berkomunikasi 

(misal dengan warna dan bau) tentang 

tingkat kesiapan penyerbuknya de-

ngan kelelawar, kupu-kupu, lebah, 

lalat, dan sebagainya. Sel dalam tubuh 

manusia yang masing-masing mem-

punyai fungsi yang berbeda-beda 

dan harus saling kerja sama tentunya 

memiliki  suatu sistem untuk ber-

komunikasi. Untuk hal ini, suatu sistem 

sinyal kimiawi dipakai  untuk ber-

komunikasi antarsel yang sama, sel 

lain yang berdekatan, maupun sel 

lain yang letaknya berjauhan. Tanpa 

adanya komunikasi itu tidak akan ada 

tubuh seperti yang manusia kenal saat 

ini.

Ada satu ayat dalam Al-Qur'an 

yang memperlihatkan adanya komu-

nikasi daam dunia hewan. Ayat terse-

but yaitu  firman Allah,

365Perikehidupan Hewan

Dan untuk Sulaiman dikumpulkan bala tentaranya 

dari jin, manusia dan burung, lalu mereka berbaris 

dengan tertib. Hingga saat  mereka sampai di 

lembah semut, berkatalah seekor semut, “Wahai 

semut-semut! Masuklah ke dalam sarang-sarang-

mu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan bala 

tentaranya, sedang  mereka tidak menyadari.” 

(an-Naml/27: 17–18)

Ayat ini sedang menggambarkan 

sistem komunikasi di antara semut, 

yang sangat mungkin memakai  

bahan yang bersifat kimiawi. Belum 

lama ini manusia baru dapat memahami 

bahwa semut, begitu pula banyak jenis 

hewan lainnya, melakukan komunikasi 

antarindividu jenis dengan berbagai 

cara, di antaranya dengan feromon, 

suatu hormon yang mengeluarkan 

bau dan dihasilkan oleh satu atau lebih 

kelenjar pada tubuhnya. Bila seekor 

serangga, misalnya, mengeluarkan 

feromon, maka serangga sejenis lain-

nya akan menerimanya dengan cara 

mencium baunya atau menyentuhnya, 

dan bereaksi sesuai dengan maksud 

dikeluarkannya hormon ini . 

Feromon banyak dikenal dalam 

kaitan dengan urusan kawin pada dunia 

hewan. Hewan betina akan mempro-

duksi feromon untuk “mengiklankan” 

bahwa dirinya sudah siap kawin. 

Hewan jantan akan menciumnya dan 

segara menghampiri betinanya. Se-

nyawa kimia yaitu  salah satu bahan 

yang dipakai  hewan untuk ber-

komunikasi. Komunikasi juga dapat 

hewan lakukan dengan bersentuhan 

langsung, dengan mengunakan suara, 

dan juga dengan ekspresi dalam ben-

tuk warna. Berkomunikasi dengan 

suara banyak ditemukan pada burung 

dan kelompok kera, sedang  ko-

munikasi dengan warna seringkali di-

temukan pada cumi-cumi karang.

Komunikasi dengan Feromon

Feromon yaitu  substansi kimia yang 

dilepaskan suatu organisme ke ling-

kungannya yang memampukan orga-

nisme itu berkomunikasi secara intra-

spesifik dengan individu lain. Feromon 

diproduksi sebagai cairan maupun 

substansi yang menguap di udara. 

Feromon terdiri dari asam-asam 

lemak tak jenuh. Senyawa kimia de-

ngan berat molekul rendah seperti 

ester, alkohol, aldehida, ketone, 

epoxida, laktone, hidrokarbon, dan 

sesquiterpene yaitu  komponen 

umum dalam feromon. Sintesis fero-

mon dapat terjadi sepanjang hidup 

hewan, namun  pengeluarannya hanya 

terjadi pada saat-saat tertentu sesuai 

kondisi lingkungan dan fisiologi he-

wan ini . berdasar  fungsi atau 

tingkah laku yang ditunjukkan oleh 

penerima, feromon dibagi atas fero-

mon seks, feromon agregasi, feromon 

alarm, feromon penanda jejak, dan fe-

romon penanda lokasi. 

Dalam dunia hewan, feromon 

tidak saja dikeluarkan dalam rangka 

menarik lawan jenis untuk kawin, 

tapi juga untuk banyak keperluan 

lain. Feromon tanda bahaya misalnya 

dilepaskan oleh kutu daun atau aphid, 

saat tubuhnya dihancurkan. Sinyal ini 

akan membuat aphid di sekitarnya lari 

menjauh. Ada pula feromon penanda 

kawasan yang ditinggalkan kucing saat 

menggosok-gosokkan lehernya di kaki 

manusia. Tanda ini mereka tinggalkan 

untuk memberi tahu kucing lainnya 

milik siapa manusia ini . Sama 

halnya dengan anjing, sebenarnya ti-

dak ada keharusan bagi anjing untuk 

kencing pada jarak pendek tertentu 

sebab  hal-hal yang bersifat fisiologis. 

Mereka melakukannya dengan maksud 

menandai kawasan yang dikuasainya. 

Ada pula feromon penanda kelompok. 

Feromon yang ada  pada serangga 

ini sangat spesifik sehingga kelompok 

lain dari jenis yang sama tidak dapat 

masuk ke sarang yang salah. Feromon 

pemanggil dimiliki oleh semut. Saat 

seekor semut menemukan mangsa 

hidup, misalnya belalang, maka semut 

itu akan menyerang belalang dengan 

memakai  sengatnya. Bau yang 

keluar dari sengat itu menjadi pertanda 

bagi semut pekerja lainnya akan ada-

nya makanan di lokasi tertentu.

Feromon yaitu  bau yang bera-

sal dari bahan kimia, yang dikeluarkan 

untuk memperoleh respons sosial dari 

anggota yang sejenis. Feromon yaitu  

bahan kimia yang mampu merangsang 

si penerima untuk berperilaku sebagai-

mana yang diinginkan oleh individu 

yang mengeluarkannya. pemakaian  

feromon pada serangga cukup banyak 

dicatat oleh para peneliti. Sebagai 

tambahan, banyak hewan bertulang 

belakang dan tumbuhan yang juga 

berkomunikasi memakai feromon. 

Lebah madu yaitu  kelompok hewan 

yang memiliki sistem komunikasi de-

ngan feromon yang paling kompleks. 

Ditemukan ada 15 kelenjar dalam 

tubuh lebah yang memproduksi ber-

bagai senyawa kimia sebagai bahan 

feromon. 

Kata feromon (bahasa Inggris: 

pheromone) diperkenalkan oleh dua 

orang peneliti, Peter Karlson dan 

Martin Luscher, pada 1959. Kata ini 

berasal dari bahasa Yunani, pherein 

yang berarti memindahkan atau men-

transportasi, dan hormone yang berarti 

merangsang. Feromon juga kadang 

dikategorikan sebagai ecto hormones, 

hormon yang berfungsi di luar tubuh. 

Secara garis besar, feromon dibagi 

dalam dua kelompok besar, yaitu 

Feromon Releaser (Realeaser Phero-

mones) dan Feromon Primer (Primary 

Phermonones). Feromon Primer ber-

367Perikehidupan Hewan

peran mengubah tatanan fisiologi 

dari penerima, serta memiliki  

pengaruh untuk waktu yang lama. 

Feromon ini dikeluarkan oleh misalnya 

induk kelinci yang mengakibatkan 

kelinci muda berperilaku seperti 

anak kelinci. Sementara itu, feromon 

Releaser mengubah perilaku si pene-

rima dalam waktu singkat. Feromon 

releaser hanya memiliki  pengaruh 

sebentar saja. Feromon semacam ini 

umumnya amat kuat, namun tidak 

bertahan lama, sehingga memerlukan 

respons yang sangat cepat. Feromon 

releaser misalnya feromon seks untuk 

“memanggil” lawan jenisnya yang ber-

jarak satu atau dua kilometer. 

Feromon berfungsi pada hewan 

dengan ukuran besar tertentu, sebab  

untuk biasa efektif feromon yang 

dihasilkan individu haruslah cukup 

banyak. Pada hewan berukuran kecil, 

pemakaian  feromon menjadi kurang 

efektif sebab  produksinya yang sedi-

kit akan cepat menguap, sedang  

produksinya sangat lambat dan jum-

lahnya kecil. Bakteri, misalnya, tidak 

memakai  feromon untuk keper-

luan kawin, meski mereka masih meng-

gunakannya untuk keperluan lain, se-

perti mengatur kepadatan populasi. 

Hewan kecil yang hidup di air, rotifera, 

juga demikian. Rotifera betina terlalu 

kecil untuk dapat meninggalkan jejak 

kimiawi untuk diikuti pejantan. Se-

mentara itu, hewan yang berukuran 

sedikit lebih besar, copepoda, betina-

nya dapat meninggalkan jejak feromon 

yang dapat diikuti oleh hewan pejan-

tannya. 

Rotifera yaitu  hewan renik 

yang hidup di perairan tawar (danau, 

sungai, situ, kolam) dan tanah yang 

basah. Pada tanah basah, mereka 

hidup di dalam air yang ada di antara 

partikel tanah. Hewan ini juga dapat 

ditemukan hidup pada lumut yang 

tumbuh di tempat lembap, seperti 

di pangkal pohon di dalam hutan. 

Ukuran tubuhnya sangat kecil, hanya 

sekitar 200 mikrometer. Tubuhnya 

transparan. jika  ada warna, hal ini 

lebih disebabkan oleh warna saluran 

makanannya. Mereka bergerak dengan 

cara berenang pada kolom air atau 

berjalan di substrat padat. Individu 

jantan hewan ini umumnya lebih kecil 

dari betina.

Copepoda yaitu  udang renik, 

ditemukan hidup di perairan laut 

maupun air tawar. Dari 10.000 jenis 

yang sudah diketahui, sebagian besar 

hidup di lautan. Mereka ditemukan 

berenang pada kolom air atau me-

nempel pada dasar laut, rumput laut, 

atau benda lain. Jenis yang hidup di 

air tawar juga ditemukan hidup pada 

lantai hutan yang basah. Ukuran tu-

buhnya juga sangat kecil, berkisar 

antara 0,5–2 mm.


feromon untuk kawin hanya dihasilkan 

oleh individu betina, dan hanya sedikit 

yang dihasilkan oleh individu jantan. 

Feromon agregasi banyak dite-

mukan pada serangga, seperti ke-

lompok kumbang (Coleoptera), ke-

pik (Hemiptera), belalang sembah 

(Dyctioptera) dan belalang (Orthop-

tera). Feromon pengumpul saat ini 

banyak dipakai  dalam menanggu-

langi serangan hama kumbang pada 

lumbung padi/beras dan jagung, yang 

dikenal dengan nama kutu beras (Sito-

philus oryzae) dan kutu jagung (Sito-

Beberapa jenis feromon yang 

ada pada hewan diuraikan berikut.

 1.  Feromon Agregasi

Feromon Agregasi (bahasa Inggris: 

Aggregation pheromones dan Recruit-

ment Pheromones) berfungsi mengum-

pulkan individu jenis bagi beberapa 

keperluan, seperti pertahanan terha-

dap predator dan seleksi untuk kawin. 

Feromon yang dihasilkan oleh individu 

jantan yaitu  feromon agregasi, ka-

rena hasil dari pelepasan feromon 

akan mendatangkan baik individu ja-

ntan maupun betina bersama-sama 

ke lokasi pemanggilan. Sementara itu, 


philus zeamae). Hal ini juga dilakukan 

pada penyimpanan biji-bijian lainnya, 

seperti kedelai, kacang hijau, dan se-

jenisnya. pemakaian  feromon agre-

gasi dalam membasmi hama bahan 

makanan di atas dipandang sebagai 

cara yang paling ekologis, selektif, 

aman, tidak beracun, sehingga tidak 

membahayakan kesehatan. Cara ini 

juga dianggap efektif sebab  penang-

gulan hama pada skala cukup besar 

bisa dilakukan dengan memakai  

konsentrasi bahan yang sangat kecil.

Feromon Alarm (Alarm Phero-

mones) berfungsi sebagai sinyal tanda 

bahaya. Pada kutu daun (aphid), sinyal 

ini berarti “lari” untuk semua kutu 

daun lainnya yang tidak diserang. 

Adapun pada kelompok hewan lain, 

seperti semut, lebah, atau rayap, sinyal 

itu berarti sebaliknya, “serang”. Sinyal 

semacam ini juga ada pada tanaman. 

Produksinya berkaitan dengan produk-

si tanin pada tanaman lain yang ada 

di sekitarnya. Dengan kadar tanin itu 

rasa pahit yang dihasilkannya akan 

mengurangi selera makan hewan yang 

memakannya. 

Lebah madu pekerja diketahui 

menghasilkan dua jenis feromon alarm. 

Pertama, feromon yang dihasilkan 

oleh kelenjar yang terletak di dekat 

alat sengat. Feromon ini diidentifikasi 

terdiri atas lebih dari 40 senyawa 

kimia, termasuk isopentyl acetate 

(IPA), butyl acetate, 1-hexanol, n-bu-

tanol, 1-octanol, hexyl acetate, octyl 

acetate, n-pentyl acetate, dan 2-nona-

nol. Feromon ini dilepaskan saat  le-

bah pekerja menyengat hewan lain, 

dan akan menarik lebah madu lain 

untuk datang ke tempat peristiwa itu. 

Feromon alarm ini memiliki  titik 

lemah; ia akan hilang akibat adanya 

asap. Itulah sebabnya warga  men-

dekatkan asap ke sarang lebah saat 

memanen madu liar. Kedua, feromon 

alarm yang dihasilkan oleh kelenjar 

di sekitar rahang. Feromon ini meru-

pakan campuran antara senyawa 2-hep-

tanone. Senyawa ini memiliki  

efek repellent yang dipakainya untuk 

mengusir musuh potensialnya. Kan-

dungan senyawa ini meningkat seiring 

bertambahnya umur, dan lebah pe-

ngumpul nektar yaitu  yang paling 

banyak menghasilkan feromon ini.

Feromon lain, Epideitic Pheromo-

nes, memiliki fungsi yang mirip dengan 

feromon yang menandai kawasan ke-

kuasaan. Feromon ini dipakai  oleh 

serangga betina untuk menandai loka-

si telurnya. Tanda ini memberitahu 

betina lainnya agar tidak bertelur di 

dekat tempat yang telah diberi tanda.

 2. Feromon Penanda Lokasi 

     (Territorial Pheromones)

Feromon ini menandai batas-

batas kawasan yang dikuasai individu 

penghasil feromon ini. Informasi ter-

sebut ditujukkan hanya kepada individu 

lain yang sejenis, yang menyatakan 

eksistensi individu penanda di sekitar 

tempat itu. Pada anjing atau kucing, 

hormon ini ada  pada air seninya. 

Urin kucing, terutama kucing jantan, 

memiliki unsur feromon 3-mercapto-

3-methylbutan-1-ol (MMB), suatu se-

nyawa yang membuat urin kucing 

memiliki bau yang khas. Pada bebera-

pa burung laut, penanda ini dipakai  

untuk menciri sarangnya yang terletak 

di antara sekian ratus sarang lainnya 

saat musim bertelur. Feromon ini juga 

dikenal sebagai Information Pheromo-

nes.

Lebah juga menghasilkan fero-

mon penanda semacam ini (Footprint 

pheromones) yang dipakai nya un-

tuk menciri bunga-bunga yang pernah 

dikunjungi. Dengan cara ini lebah lain 

akan menghindari bunga yang sudah 

diberi tanda, sehingga kerja lebah 

menjadi sangat efisien. Penanda se-

rupa juga diberikan oleh ratu lebah 

untuk mencegah para pekerja mem-

buat “rumah” bagi ratu. Dengan cara 

ini ratu mencegah “pengadaan” ratu 

baru yang akan mengakibatkan peme-

cahan sarang (sebab  dalam satu 

sarang hanya ada satu ratu lebah). 

Produksi feromon penanda ini akan 

berkurang dan hilang sejalan dengan 

menuanya ratu lebah.

 3. Feromon Penanda Jejak 

     (Trail Pheromones)

Feromon ini umum dipakai  

oleh serangga-serangga sosial, seperti 

semut. Tanda ini akan menarik semut 

dari jenisnya sendiri untuk mengikuti 

tanda itu menuju sumber makanan. 

Semut tertentu juga mengeluarkan 

feromon ini untuk menandai jalan 

pada saat kembali ke sarang. saat  

kembali ke sarang dengan membawa 

makanan, mereka memperbarui jejak 

feromon yang sudah mengabur de-

ngan mendeposit feromon baru. Fe-

romon harus cepat diperbarui sebab  

bahan kimia ini akan menguap dengan 

cepat. Seiring berjalannya waktu, 

saat sumber makanan makin menipis, 

penandaan jalan juga semakin sedi-

kit. Beberapa jenis semut, dalam ke-

adaan demikian, menandai dengan 

feromon lain (repellent pheromones), 

yang memberi sinyal bahwa deposit 

makanan tinggal sedikit lagi.

Dalam kaitan dengan feromon 

penanda jejak, ada suatu fenomena 

yang dinamakan Ant Mill. Fenomena 

ini dimulai saat semut tentara, sebab  

sesuatu sebab, melepaskan diri dari 

kelompok utama yang dipandu fero-

mon, dan mulai mengikuti satu sama 

lain secara acak. Umumnya, di akhir 

kebingungan ini terlihat suatu baris-

an yang membentuk lingkaran luas 

yang berputar terus-menerus. Pada 

akhirnya semut yang ikut dalam pro-

ses ini akan mati sebab  kelelahan. 

Fenomena ini diduga efek dari adopsi 

struktur mengorganisasi sendiri (self-

organization structure) dari koloni se-

mut. Situasi Ant Mill pernah juga dijum-

pai pada beberapa jenis ulat dan ikan.

 4. Feromon Seks 

     (Sex Pheromones)

Feromon seks menandai keha-

diran hewan betina yang sudah siap 

kawin.  Hewan jantan juga dapat me-

lepaskan feromon semacam ini untuk 

mengabarkan kehadirannya di wilayah 

itu, serta kondisi genotipenya. Pada 

tingkat mikroskopis, udang renik 

copepoda jantan dapat mengikuti 

feromon tiga dimensi yang dilepas 

oleh copepoda betina saat berenang 

di perairan. Keadaan demikian juga 

dilakukan oleh gamet (sel reproduksi) 

yang dilepas di perairan. Gamet jantan 

mengikuti petunjuk untuk bertemu 

gamet betina dan melakukan fertilisasi. 

Timun laut juga memakai  fero-

mon yang merangsang timun laut 

lainnya untuk melepaskan sel-sel re-

produksinya secara bersama-sama ke 

perairan.

Banyak jenis serangga menggu-

nakan feromon seks untuk menarik 

lawan jenisnya. Beberapa jenis kupu-

kupu dapat mendeketeksi lawan jenis 

yang potensil dari jarak sampai 10 km. 

Sedikit berbeda kejadiannya dengan 

lebah; lebah jantan memiliki feromon 

seks yang khas, dan berperan untuk 

mengumpulkan lebah jantan lainnya 

untuk mengawini ratu lebah.

Feromon seks dipakai  petani 

untuk menjerat serangga hama dalam 

usaha memonitor dan menanggulangi 

serangan hama. Cara ini juga dilakukan 

untuk menanggulangi serangan ha-

ma kumbang kelapa (Oryctes rhino-

ceros). pemakaian  feromon dalam 

pengendalian hama dapat mengurangi 

pemakaian insektisida, sehingga keru-

sakan lingkungan dapat dicegah. Di 

samping itu, feromon dapat dipakai  

untuk mengevaluasi keberhasilan peng-

gunaan virus di lokasi-lokasi pelepasan 

virus untuk mengendalikan jenis hama 

serangga tertentu.

Tipe feromon lain yang dike-

nali ada pada kelompok lebah ada-

lah feromon yang dipakai  untuk 

menandai anak asuh (Brood Recog-

nition Pheromone). Feromon ini ada 

pada lebah pekerja, yang dipakai nya 

untuk membedakan larva dan anakan 

lebah. Hal ini diperlukan oleh lebah 

pengasuh agar tidak salah dalam 

memberi makan. Tipe feromon lain 

(Dufour’s Pheromone dan Egg Marking 

Pheromone) dihasilkan oleh ratu lebah 

di saluran telur. Feromon ini berfungsi 

menandai telur yang dihasilkannya. 

Akibatnya, telur ini akan lebih menarik 

bagi lebah pekerja (untuk lebih diper-

hatikan dan dipelihara), daripada telur 

yang dihasilkan oleh lebah pekerja. 

Ada juga feromon yang dipro-

duksi lebah pengumpul nektar yang 

berfungsi sebagai pengatur orien-

tasi kelompok. Feromon lain yang 

dilepaskannya berperan untuk men-

cegah lebah muda yang bertugas 

sebagai pengurus rumah tangga be-

rubah terlalu cepat menjadi lebah 

pengumpul nektar. Seperti dijelaskan 

sebelumnya, ada  tingkat-tingkat 

pekerjaan pada lebah pekerja sepan-

jang hidupnya yang berlangsung seki-

tar enam minggu. Lebah pekerja, 

yang semuanya berkelamin betina, 

mula-mula bekerja mengurus rumah 

tangga (selama 3 minggu). Lepas 

dari tugas ini mereka beralih tugas 

menjadi lebah penjaga. Pada minggu 

ketiga sebagai lebah penjaga, mereka 

mulai bertugas untuk mengumpulkan 

nektar dan benangsari sebagai ma-

kanan. Pada tingkat inilah mereka 

memiliki bahan kimia ethyl oleate di 

dalam perutnya. Bahan ini mencegah 

lebah pengurus rumah menunda ke-

dewasaannya dan menjadi pengum-

pul nektar. Penundaan ini bertujuan 

menjaga rasio lebah peng-urus rumah 

tangga dan pengumpul nektar agar 

tetap efisien dan menguntungkan bagi 

kehidupan lebah di sarang. 

Feromon lain pada lebah yang 

cukup penting yaitu  feromon yang 

dihasilkan ratu lebah yang dinamai 

QMP (Queen Mandibular Pheromone). 

Feromon ini mempengaruhi perilaku 

sosial kelompok, mengatur kehidupan 

di sarang, perilaku kawin dan kandung 

telur, serta memproduksi lebah pe-

kerja. Bahan kimia utamanya yaitu  

asam carboxylic dan senyawa aroma-

tik. Senyawa yang penting di dalamnya 

yaitu :

• (E)-9-oxodec-2-enoic acid (9-ODA) 

yang berperan dalam pertum-

buhan kandung telur untuk mem-

produksi lebah pekerja, merang-

sang datangnya lebah jantan 

saat terjadi perpindahan sarang, 

serta mendorong pekerja untuk 

memperhatikan ratu;

• (R,E)-(-)-9-hydroxy-2-enoic acid (9-

HDA) yang berperan menenangkan 

kelompok;

• (S,E)-(+)-9-HAD;Methyl-phydroxy-

benzoate (HOB); dan 4-hydroxy-3-

methoxy phenylethanol (HVA) 

Feromon lainnya yang dihasilkan 

ratu lebah yaitu  QRP (Queen reti-nue 

pheromone) yang merupakan kom-

binasi antara 5 senyawa QMP dan 4 

senyawa lainnya (metil oleate: methyl 

(Z)-octadec-9-enoate ; coniferyl alcohol: 

(E)-3-(4-hydroxy-3-methoxyphenyl)-

prop-2-en-1-ol; hexadecan-1-ol; dan asam 

linolenic (Z9,Z12,Z15)-octadeca-9,12,15-

trienoic acid) 

Komunikasi secara Bersentuhan

Pada serangga sosial, seperti semut, 

interaksi antarindividu sangat penting 

dalam pengelolaan koloni. Hasil inter-

aksi dapat dipakai sebagai bahan per-

timbangan dalam pengambilan ke-

putusan dan menentukan tindakan 

selanjutnya. Pada saat berinteraksi, 

bagian sungut dan kaki depan mereka 

saling bersentuhan. Pada saat itulah 

diduga terjadi komunikasi mengguna-

kan gelombang radio di antara kedua-

nya. Dugaan ini muncul sebab  adanya 

kandungan magnet pada sungut se-

rangga. 

saat  terjadi transfer makanan, 

misalnya, ditemukan adanya perbe-

daan jumlah sentuhan sungut dan kaki 

depan serangga penerima, tergantung 

pada kualitas dan jumlah makanan 

yang ditransfer. Jumlah sentuhan akan 

bertambah seiring makin tingginya 

kualitas dan jumlah makanan. Keber-

adaan magnet kecil pada sungut 

semut, ternyata juga dipakai  untuk 

dapat mengenal posisi lokasi. Cara 

kerja magnet mirip dengan cara kerja 

GPS (Global positioning System).  Apa-

bila pada GPS yang dipakai  manusia 

mengacu pada satelit yang ada di luar 

angkasa,maka pada semut, sistem GPS 

nya mengacu pada mineral-mineral 

yang ada di permukaan tanah. 

  

Komunikasi secara Vokal

Bunyi atau suara yang dikeluarkan 

oleh hewan yaitu  salah satu cara bagi 

mereka untuk berkomunikasi. Pada 

dasarnya hewan memiliki pemahaman 

yang sama terhadap bunyi, dan “ber-

sepakat” memahami bunyi yang “de-

mikian” berarti “demikian”. Pem-

buktian akan hal ini diperoleh dari 

pene-litian selama 30 tahun terhadap 

burung paruh bengkok abu-abu 

Afrika (Psittacus erithacus) bernama 

Alex (kependekan dari suatu proyek 


bernama Avian Languange Experi-

ment, yang lalu  berubah menjadi 

Avian Learning Experiment). Burung 

paruh bengkok yang satu ini dianggap 

sebagai hewan yang paling cerdas di 

dunia. Dari hasil pengamatan diperoleh 

keterangan bahwa mereka dapat 

mengidentifikasi objek. Mereka dapat 

mengenal kunci tanpa membedakan 

ukuran maupun bentuknya. Mereka 

juga diketahui dapat membedakan 

“besar”, “kecil”, atau “sama”, juga 

mengenal arti kata “di atas” dan “di 

bawah”. 

Pada burung, vokalisasinya di-

bagi ke dalam panggilan (bird calls) dan 

nyanyian (bird song). Nyanyian burung 

yaitu  suara yang terdengar memiliki 

melodi di telinga manusia. Fungsi 

nyanyian ini dibedakan oleh para ahli 

dari panggilan. Nyanyian burung dibe-

dakan dari panggilan berdasar  

perbedaan kompleksitas, lama waktu 

bersuara, serta konteksnya. Nyanyian 

burung umumnya lebih kompleks dan 

berasosiasi dengan perilaku bercumbu 

dan kawin. Adapun panggilan burung 

umumnya pendek, tidak kompleks, 

dan dimaksudkan sebagai peringatan 

adanya predator, atau untuk mengum-

pulkan kelompok. Definisi ini terkait 

dengan suara yang dikeluarkan oleh 

individu burung ini , namun ada 

pula peneliti yang menyatakan bahwa 

bunyi yang dihasilkan burung (seperti 

ketukan burung pelatuk pada pohon, 

atau bunyi yang dihasilkan saat burung 

mengibaskan sayapnya) juga merupa-

kan nyanyian.

Nyanyian burung berkembang 

dengan baik pada kelompok burung 

madu yang memiliki sekitar 320 jenis. 

Burung madu berkomunikasi melalui 

berbagai vokal dan gerak tubuh. saat  

terjadi perkelahian antara dua burung 

jantan, burung jantan yang melindungi 

kawasan bertelurnya akan menusuk 

sang penyusup dengan paruhnya 

yang tajam. Perkelahian  ini seringkali 

diiringi suara beleter yang parau dan 

bunyi demping dari getaran sayap yang 


mengepak sangat cepat. Vokal yang 

dipakai  burung madu ini pada saat 

perkelahian sangat bervariasi. Vokal 

dasarnya yaitu  bersiul, memekik, 

dan menggeram. Seringkali itu diser-

tai bunyi “menghalau”, sekaligus 

terdengar seperti “mengolok-olok”. 

Bunyi demping tampaknya sangat ber-

pengaruh terhadap perilaku, terutama 

burung betina sejenis. Burung betina 

ini dapat membedakan bunyi demping 

yang dihasilkan sayap dan bunyi men-

dengung yang juga menjadi bunyi 

tambahan dari gerakan sayap.

Beberapa jenis burung bernyanyi 

saat  hinggap, sedang  beberapa 

jenis lainnya dapat ditemui bernyanyi 

saat  terbang. Beberapa kelompok 

lainnya hampir tidak pernah bersuara, 

kecuali mengeluarkan bunyi alat musik 

pukul yang ritmik. Bunyi demikian 

ditemui pada burung bangau yang 

memukulkan kedua bilah paruhnya. 

Komunikasi pada burung tampaknya 

tidak saja dilakukan dengan memfung-

sikan pita suara, namun juga suara lain 

yang dihasilkan oleh anggota badan 

lainnya. Bangau, misalnya, mengeluar-

kan bunyi dari pukulan-pukulan kedua 

bilah paruhnya. Bagian tubuh lain yang 

diduga dipakai  untuk komunikasi 

yaitu  sayap, kaki, dan bulu.

Hewan lain yang banyak dibica-

rakan terkait kemampuan komuni-

kasinya dengan memakai  suara 

yaitu  anjing prairie (prairie dog). 

Hewan ini disebut anjing, namun pada 

dasarnya masuk ke dalam kelompok 

hewan pengerat, seperti halnya tikus. 

Postur tubuhnya sama sekali tidak 

memperlihatkan bentuk anjing seperti 

yang kita kenal. Anjing prairie diper-

kirakan dapat mengeluarkan sekitar 

100 bunyi atau “kata”, jumlah yang 

lebih tinggi bila dibandingkan dengan 

kemampuan lumba-lumba maupun 

kera. Dari penelitian diketahui bahwa 

untuk memberikan peringatan, hewan 

ini dapat membedakan beberapa jenis 

hewan dengan bunyinya yang spesifik. 

Bunyi anjing liar berbeda dari bunyi 

yang dihasilkan anjing peliharaan, dan 

berbeda pula dari bunyi burung elang 

atau manusia. Ini diekspresikan dalam 

perbedaan tinggi rendahnya bunyi 

serta interval waktu dari cericitnya. 

Dalam bahasa manusia, “bahasa anjing 

prairie” mirip dengan bahasa Cina atau 

suku Indian Navayo di Amerika Serikat. 


Pada bahasa-bahasa ini, perubahan 

tone menunjukkan arti yang berbeda 

pula. 

Salah satunya anjing prairie yang 

banyak diteliti yaitu  anjing prairie 

berekor hitam (Cynomys ludovicianus). 

Jenis ini memiliki tinggi 30 cm saat 

berdiri, dengan berat sekitar 1 kg. 

Walau berukuran kecil, hewan ini me-

miliki andil yang menentukan dalam 

ekosistem padang rumput di Amerika 

Utara. Mereka membangun saluran 

liang yang kompleks. Lubang keluar-

masuknya liang berada pada timbun-

an tanah yang meninggi. Posisi ini 

sangat tepat untuk berjaga-jaga dari 

datangnya pemangsa. Kelompok kelu-

arga hewan ini terdiri dari seekor jan-

tan, beberapa ekor betina, dan anak-

anak mereka.

Anjing prairie kawin pada bulan 

Maret, dan melahirkan antara tiga atau 

empat anak pada bulan April atau Mei. 

Untuk satu sampai dua bulan, anakan 

dipelihara induknya. sesudah  itu, anak-

anak anjing prairie menjadi tanggung-

an kelompok secara komunal. Bekerja 

dalam suatu jaringan sosial, mereka 

berkomunikasi dengan menyalak dan 

mencicit. Begitu hewan pemangsa 

mendekat, mereka yang berada di luar 

lubang tidak berusaha segera masuk 

lubang. Mereka menyalak terus-me-

nerus un