Tentang hewan 3

Tentang hewan 3


 



nyukai atau 

membenci ular, namun apa pun 

pilihannya, manusia sudah seharusnya 

menghargai keberadaan ular. Berbeda 

dengan anjing dan kucing, misalnya, 

ular tidak menginginkan adanya ikatan 

dengan manusia. Ular memilih untuk 

tidak mengabdi kepada manusia. 

Ular hanya ingin dibiarkan begitu saja 

dan diperbolehkan melakukan apa 

yang diperlukannya dalam usahanya 

mengabdi kepada Allah Yang Maha-

kuasa.

Henry Beston, seorang naturalis, 

memberikan sebuah nasihat bijak 

yang selaras dengan salah satu ayat di 


dalam Al-Qur'an. Ia berkata, “Hewan 

janganlah diukur dengan ukuran 

manusia. Mereka bukan saudara kita, 

bukan pula bawahan kita. Mereka 

yaitu  bangsa tersendiri, yang ter-

perangkap dalam kebersamaan 

dengan kita dalam jaringan kehidupan 

dan waktu. Mereka yaitu  teman 

sependeritaan manusia di dunia yang 

gemerlapan dan rapuh ini.” Pesan 

yang hampir sama dapat kita jumpai 

dalam Al-Qur'an yang turun belasan 

abad yang lalu. Allah berfirman,

Maka Kami kirimkan kepada mereka topan, 

belalang, kutu, katak dan darah (air minum 

berubah menjadi darah) sebagai bukti-bukti 

yang jelas, namun  mereka tetap menyombongkan 

diri dan mereka yaitu  kaum yang berdosa.  (al-

A‘rāf/7: 133)

Ayat ini menyebut lima dari 

sembilan mukjizat Nabi Musa, yang 

dinyatakan dalam Surah al-Isrā'/17: 101 

berikut.

Dan tidak ada seekor binatang pun yang ada di 

bumi dan burung-burung yang terbang dengan 

kedua sayapnya, melainkan semuanya merupakan 

umat-umat (juga) seperti kamu. Tidak ada sesuatu 

pun yang Kami luputkan di dalam Kitab, lalu  

kepada Tuhan mereka dikumpulkan. (al-An‘ām/6: 38)

2. KATAK

Katak disebut sebagai salah satu dari 

rangkaian mukjizat yang Allah berikan 

kepada Nabi Musa. Allah berfirman,

Dan sungguh, Kami telah memberikan kepada Musa 

sembilan mukjizat yang nyata maka tanyakanlah 

kepada Bani Israil, saat  Musa datang kepada 

mereka lalu Fir'aun berkata kepadanya, “Wahai 

Musa! Sesungguhnya aku benar-benar menduga 

engkau terkena sihir.” (al-Isrā'/17: 101)

Empat mukjizat sisanya yaitu  

tongkat yang berubah menjadi ular 

(al-A‘rāf/7: 107), telapak tangan yang 

bercahaya (al-A‘rāf/7: 108), tahun-

tahun kekeringan, dan kekurangan 

pangan akibat gagal panen (al-A‘rāf/7: 

130).

Allah mendatangkan katak dalam 

jumlah yang luar biasa besar kepada 

penduduk Mesir. Semua lahan terbuka 

mendadak dipenuhi katak. Katak juga 

nerserakan di rumah-rumah; meloncat 

kesana kemari dan mengotori makan-

an yang ada di atas meja. Hal ini 

membuat warga  Mesir sangat 

tertekan. Mereka mendatangi Musa 

dan berjanji akan melepaskan Bani 

Israil dari kungkungan mereka. Musa 

menyanggupi permintaan mereka; 

berdoa kepada Allah, dan Dia pun 

mengangkat bencana itu dari tanah 

Mesir. Akan namun , alih-alih mem-

bebaskan Bani  Israi l ,  penguasa 

Mesir malah mengingkari janjinya.

Akibatnya Allah pun mendatangkan 

mukjizat berikutnya yang menguatkan 

kebenaran Musa. Tiba-tiba saja air 

sungai Nil berubah menjadi darah.

Pengiriman gerombolan katak 

kepada warga  Mesir yaitu  

bentuk siksa Allah kepada mereka 

yang mendurhakai  Al lah dan 

melampaui batas. Sebelumnya Allah 

telah menurunkan topan dan air 

bah yang menghanyutkan apa saja 

yang dilaluinya, serta angin ribut 

disertai kilat, guntur, api, dan hujan 

yang merusak segalanya. Allah juga 

menurunkan belalang yang merusak 

tumbuhan dan menghancurkan per-

sediaan makanan mereka, serta 

kutu yang menggangu dan menjadi 

penyakit bagi manusia. Allah juga 

mengubah air minum menjadi darah.

Itulah bukti-bukti yang nyata dan rinci 

atas kekuasaan Allah dan kebenaran 

Nabi Musa. Sayangnya, warga  

Mesir tetap saja mengingkari tanda-

tanda kekuasaan Allah itu.  

Perikehidupan Katak

Al-Qur'an selalu menyebut katak dalam 

kata aď-ďafādi‘ (al-A‘rāf/7: 133), bentuk 

plural (jamak) dari aď-ďifda‘. Kata 

ini diterjemahkan ke dalam bahasa 

Inggris menjadi “frog”. Kelompok ini 

dibedakan dari kodok atau bangkong 

yang biasa disebut “toad”. Dua 

istilah ini kadang dipertukarkan 

pemakaian nya, padahal keduanya 

memiliki perbedaan mendasar. Katak 

bertubuh pendek, gempal atau kurus, 

dengan punggung agak bungkuk dan 

kaki belakang panjang, sedang  

kodok lebih gempal penampilannya, 

dengan kaki belakang yang relatif lebih 

pendek.  Anatomi kodok yang demikian 

ini merupakan bentuk adaptasinya 

terhadap lingkungan hidupnya, yakni 

daratan. Perbedaan berikutnya yaitu  

bentuk kulit. Katak pada umumnya 


berkulit halus dan lembap. Sebaliknya, 

kodok atau bangkong berkulit kasar 

berbintil-bintil kecil sampai berbing-

kul-bingkul besar, dan kerap kali 

kering. 

berdasar  fosil yang ditemu-

kan, katak diduga mulai dikenali dari 

fosil Triadobatrachus massinoti yang 

hidup 250 juta tahun lalu, dari masa 

Triasic, dari Madagaskar. Tengkorak 

kepalanya mirip dengan katak modern, 

namun bagian tubuh lainnya berbeda. 

Pada masa Jurassic (188–213 juta tahun 

lalu) ditemukan fosil Vieraella herbsti 

yang mirip dengan katak modern saat 

ini. Dari rangkaian fosil yang berhasil 

digali dipastikan bahwa hidup katak 

modern dimulai pada 125 juta tahun 

yang lalu. Fosil ditemukan di semua 

benua, kecuali Antartika. Meski demi-

kian, dari sudut 

biogeografi katak di-

perkirakan saat itu hidup 

di Antartika sebab  benua ini 

saat  itu jauh lebih hangat dari-

pada saat ini.

Kodok dan katak mengawali 

hidupnya sebagai telur yang dile-

takkan induknya di air, di sarang busa, 

di sela-sela lumut yang tumbuh di 

pohon hutan, atau di tempat-

tempat basah lainnya. Beberapa 

jenis katak hutan menitipkan telur-

nya di punggung katak atau kodok 

jantan yang akan selalu menjaga 

dan membawanya hingga menetas, 

bahkan hingga menjadi kodok kecil. 

Telur-telur kodok dan katak menetas 

menjadi berudu atau kecebong, yang 

bertubuh mirip ikan, bernafas dengan 

insang dan selama beberapa lama 

hidup di air. Perlahan-lahan akan 

tumbuh kaki belakang, yang kemu-

dian diikuti dengan tumbuhnya kaki 

depan, menghilangnya ekor, dan 

bergantinya insang menjadi paru-paru. 

Pembuahan pada kodok dilakukan 

di luar tubuh. Kodok jantan akan 

melekat di punggung betinanya dan 

memeluk erat ketiak si betina dari 

belakang. Sambil berenang di air, kaki 

belakang kodok jantan akan memijat 

perut kodok betina dan merangsang 

pengeluaran telur. Pada saat yang 

bersamaan kodok jantan melepaskan 


spermanya ke air sehingga bisa mem-

buahi telur-telur yang dikeluarkan si 

betina. 

Kodok dan katak hidup menyebar 

luas, terutama di daerah tropis yang 

berhawa panas. Makin dingin suatu 

daerah, seperti puncak gunung atau 

di daerah bermusim empat (tem-

perate), makin sedikit jenis kodok 

yang ditemukan. Ini disebabkan salah 

satunya oleh karakter kodok dan katak 

yang berdarah dingin. Sebagai hewan 

berdarah dingin mereka membutuhkan 

panas dari lingkungannya untuk mem-

pertahankan hidupnya dan menjaga 

metabolisme tubuhnya.

Hewan ini dapat ditemui hidup 

mulai dari hutan rimba, padang pasir, 

tepi-tepi sungai dan rawa, perkebunan 

dan sawah, hingga permukiman ma-

nusia. Kodok memangsa berbagai jenis 

serangga yang ditemuinya.Sebaliknya, 

kodok dimangsa oleh makhluk lain: 

ular, kadal, burung (seperti bangau 

dan elang), garangan, linsang, bahkan 

manusia. 

Kodok membela diri dengan 

melompat jauh dan mengeluarkan 

lendir dan racun dari kelenjar di 

kulitnya. Beberapa jenis kodok meng-

hasilkan semacam lendir pekat yang 

lengket, membuat mulut pemang-

sanya melekat erat dan susah dibu-

ka. Beberapa jenis kodok Bufo meng-

hasilkan racun yang memiliki unsur 

psychoactive. Jenis Bufo alvarius 

memiliki racun yang mengandung 

dua macam racun, yaitu 5-MeO-

DMT dan bufotenin, saat  jenis lain 

hanya memiliki bufotenin. Racun 

ini mengakibatkan halusinasi, dan 

sudah dikenal dan dipakai  dalam 

beberapa upacara keagamaan pen-

duduk asli Indian Amerika di masa 

Precolumbian.

Semua kelompok kodok 

memiliki  kelenjar racun 

(parotoid gland) yang terletak di 

belakang mata, di bagian atas kepala. 

Beberapa jenis katak, terutama katak 

pohon, dikenal sangat beracun. 

Efek racunnya bervariasi, dari 

sekedar menimbulkan rasa 

gatal hingga halusinasi, kera-

cunan syaraf, convulsants, sampai 

vasoconstrictors.  


Jenis-jenis katak beracun yang 

hidup di hutan hujan Amerika Tengah 

dan Amerika Selatan sangat terkenal 

akan keindahan dan perpaduan warna 

kulitnya yang mencolok. Kelompok ini 

dikenal sebagai poison dart frogs atau 

poison arrow frogs. Istilah ini mungkin 

berasal dari kebiasaan penduduk asli 

Indian yang mengoleskan racun dari 

kulit katak ini ke mata panah untuk 

berburu. Berbeda dari kelompok 

katak pada umumnya, jenis-jenis dari 

suku Dendrobatidae ini aktif pada 

siang hari. Jenis yang dimiliki oleh 

suku ini cukup banyak, sekitar 175-an 

jenis. Ukuran tubuhnya amat kecil, 

hanya berkisar antara 1,5 cm sampai 

6 cm, dengan berat sekitar 2 gram 

saja. Warna yang cemerlang memberi 


peringatan kepada pemangsa. Warna 

ini mengindikasikan tingkat kandungan 

racun dan alkaloid pada kulit ini .

Kebanyakan jenis poison dart 

frogs yaitu  orang tua yang baik. Ada 

jenis-jenis yang membawa berudu 

yang baru menetas di lendir yang ada 

punggungnya, dan membawanya 

ke puncak pohon. Di sana mereka 

menempatkan berudu pada genangan 

air yang tertampung pada tanaman 

epifit. Masing-masing berudu akan 

menempati genangan air tersendiri 

sebab  sifat kanibalnya. 

Katak banyak muncul dalam 

cerira rakyat, dongeng, dan budaya 

populer. Gambaran yang biasa dibe-

rikan terhadap katak atau kodok 

yaitu  buruk rupa, canggung, namun 

memiliki talenta tersembunyi.Pada 

masa Peru Kuno, warga  Moche 

mendewakan binatang, dan mencan-

tumkan katak dalam ukiran-ukiran 

mereka.

Dalam Al-Qur'an, katak dikaitkan 

dengan siksa yang Allah turunkan 

kepada kaum Firaun sebagai bukti 

nyata dan rinci atas kekuasaan Allah 

dan kebenaran Musa, namun  mereka 

tetap saja menyombongkan diri. 

Meski konteksnya demikian, namun 

itu tidak berarti katak selalu menjadi 

musibah bagi manusia. Katak dan 

kodok memiliki  tempat tersendiri 

dalam hati manusia. Perikehidupannya 

banyak memberi contoh untuk diman-

faatkan bagi kesejahteraan hidup 

manusia. Allah berfirman,

Tidakkah kamu memperhatikan bahwa Allah 

telah menundukkan apa yang ada di langit dan 

apa yang ada di bumi untuk (kepentingan)mu 

dan menyempurnakan nikmat-Nya untukmu lahir 

dan batin. namun  di antara manusia ada yang 

membantah tentang (keesaan) Allah tanpa ilmu 

atau petunjuk dan tanpa Kitab yang memberi 

penerangan.  (Luqmān/31: 20)

B. HEWAN MENYUSUI

Hewan menyusui atau mamalia 

termasuk hewan bertulang belakang 

dan bernafas dengan paru-paru.

Kelompok mamalia  dibedakan dari 

kelompok hewan bertulang belakang 

lainnya dengan adanya kelenjar 

keringat, dan kelenjar air susu  pada 

hewan betinanya. Mamalia juga 

dapat dibedakan dari hewan lainnya 

dengan adanya rambut dan/atau bulu 

di seluruh tubuhnya, baik pada hewan 

betina maupun jantannya. 

Pada saat ini diperkirakan ada 

sekitar 5.400 jenis hewan menyusui, 

dengan ukuran tubuh bervariasi,  dari 

30-an milimeter sampai dengan 33 

meter. Mamalia terkecil yang diketahui 

yaitu  bumblebee-bat (Craseonycteris 

thonglongyai), satu jenis kelelawar 

yang hidup di gua-gua di beberapa 

bagian Thailand. Ukuran tubuhnya 

sekitar 29–33 milimeter, dengan 

berat hanya 1,7–2 gram. Mamalia 

terbesar yaitu  paus biru (Balaenotera 

musculus). Hewan ini memiliki panjang 

tubuh lebih dari 33 meter, dengan 

berat badan mencapai 181 metrik ton 

atau lebih. Adapun kelompok dengan 

jumlah individu terbanyak dari hewan 

menyusui diwakili oleh Rodentia, seje-

nis hewan pengerat (tikus, landak, dan 

sejenisnya), disusul lalu  oleh 

kelompok Chiroptera (kelelawar) dan 

kelompok Soricormorpha (celurut).

Jenis mamalia muncul pada masa 

Triassic (sekitar 200 juta tahun lalu). 

Mula-mula banyak jenis yang mirip 

mamalia, namun sebenarnya bukan. 

Ini hanya merupakan percabangan-

percabangan dari kelompok yang 

disebut synasids, yang di antaranya 

akan menurunkan mamalia. Kelompok-

kelompok mamalia modern muncul 

pada masa Palaecene dan Eocene.

Jenis pertama yang menyerupai 

mamalia muncul pada masa Triassic. Fosil 

Hadrocordium yang ditemukan pada 

masa Jurassic (sekitar 195 juta tahun lalu) 

memperlihatkan perupa-an mamalia 

modern. Banyak ahli memperkirakan 

bahwa munculnya kelenjar penghasil air 

susu dimulai dari keperluan untuk selalu 

membasahi telur yang disimpan dalam 

suatu kantung di tubuhnya.

Sebagian besar mamalia melahir-

kan anaknya, suatu sistem reproduksi 

yang biasa disebut vivipar; hanya 

beberapa jenis yang bertelur. Meski 

demikian, ada dua jenis mamalia, yakni 

platypus Ornithorhynchus anatinus) 

dan echidna (Echidna hystrix) yang 

memiliki cara reproduksi berbeda 

dari kedua cara di atas. Kedua jenis 

ini bereproduksi dengan bertelur, 

namun di saat yang sama keduanya 

menghasilkan air susu sebagai sumber 

nutrisi bagi anak-anaknya. Keduanya 

ditemukan hidup secara alami di 

Australia dan Papua Nugini.

Kebanyakan mamalia mempu-

nyai tulang leher. Hanya beberapa 

jenis mamalia yang tak bertulang 

leher, di antaranya jenis-jenis ikan 

duyung. Paru-paru mamalia memiliki 

bentuk seperti spons. Spons ini 

seolah-olah berlubang-lubang oleh 

banyaknya saluran yang disebut 

epithelium. Proses bernafas sebagian 

besar disebabkan gerakan dari 

diafragma yang berotot. Diafragma 

yaitu  sekat yang memisahkan 

rongga dada dan rongga perut, 

serta menonjol ke arah rongga dada. 

Kontraksi otot akan memicu  

diafragma mendatar sehingga rongga 


mamalia dengan tingkat intelegensi 

tinggi alias cerdas. 

Mamalia berevolusi dari nenek 

moyang yang memiliki empat kaki.

Mereka memakai nya untuk me-

manjat, berenang, berjalan, dan ter-

bang. Beberapa jenis mamalia darat 

memiliki jari yang dilengkapi kuku 

untuk memanjat dan tumit untuk 

berlari. Mamalia laut, seperti ikan 

paus dan dolphin, memiliki sirip yang 

berevolusi dari kaki.

Seperti dinyatakan sebelumnya, 

untuk mempertahankan agar suhu 

tubuh dan darahnya tetap hangat, 

mamalia memerlukan asupan makan-

an yang cukup. saat  mamalia untuk 

pertama kali hadir di bumi, mereka 

diduga berperan hanya sebagai 

pemangsa. Dalam perkembangan-

nya secara perlahan beberapa jenis 

memperkaya dietnya dengan tumbuh-

an. Dengan demikian, beberapa jenis 

khusus memangsa hewan lain, baik 

mamalia, burung, dan juga serangga. 

Mereka ini disebut karnivora. Sebagian 

yang lain memakan tumbuhan, dan 

disebut herbivora. Sebagian lainnya 

lagi memakan hewan dan tumbuhan, 

dan disebut omnivora.

Hewan menyusui atau mamalia 

disebut dalam banyak ayat maupun 

hadis. Penyebutannya terkadang 

dalam bentuk sangat umum, seperti 

ternak, hewan melata, atau hewan 

dada memiliki  ruang yang luas. 

Saat itu udara masuk ke dalam paru-

paru. Kontraksi selanjutnya akan 

membuat rongga perut membesar 

dan rongga dada menyempit. Saat itu 

udara di tekan keluar dari paru-paru. 

Cara kerjanya sangat mirip dengan 

alat peniup api yang dipakai  oleh 

pandai besi.

Mamalia masuk dalam kelompok 

hewan berdarah panas.  Hampir semua 

jenis mamalia memiliki rambut  di 

bagian luar tubuhnya untuk menjaga 

agar badannya tetap hangat. Seperti 

halnya burung, mamalia masih dapat 

berburu pada musim yang sangat 

dingin, saat  kelompok ular dan 

serangga tidak dapat melakukannya. 

Sebagai hewan berdarah panas, 

mamalia memerlukan banyak makanan 

sebagai sumber energinya. Mamalia 

kecil pemakan serangga, misalnya, 

harus makan seberat bobot tubuhnya 

dalam sehari.

Mamalia dengan tingkat intele-

gensi tinggi, seperti kera, memiliki 

bagian otak bernama cerebrum 

dengan ukuran lebih besar daripada 

bagian otak lainnya. Intelegensi sendiri 

tidak mudah didefinisikan dengan 

pasti, namun untuk memudahkan bisa-

lah kita mengatakan bahwa intelegensi 

yaitu  suatu kemampuan untuk 

belajar, yang sesuai dengan perilaku. 

Tikus, misalnya, dianggap sebagai 

Nanti (ada orang yang akan) mengatakan, 

”(Jumlah mereka) tiga (orang), yang ke empat 

yaitu  anjingnya,” dan (yang lain) mengatakan, 

“(Jumlah mereka) lima (orang), yang ke enam 

yaitu  anjingnya,” sebagai terkaan terhadap 

yang gaib; dan (yang lain lagi) mengatakan, 

“(Jumlah mereka) tujuh (orang), yang ke delapan 

yaitu  anjingnya.” Katakanlah (Muhammad), 

“Tuhanku lebih mengetahui jumlah mereka; 

tidak ada yang mengetahui (bilangan) mereka 

kecuali sedikit.” sebab  itu janganlah engkau 

(Muhammad) berbantah tentang hal mereka, 

kecuali perbantahan lahir saja dan jangan engkau 

menanyakan tentang mereka (pemuda-pemuda 

itu) kepada siapa pun. (al-Kahfi/18: 22)

Menurut sebuah riwayat nama 

anjing ini  yaitu  Qitmir atau 

Raqim. Anjing juga dikaitkan dengan 

sifat buruk seseorang, misalnya 

mereka yang selalu mengikuti hawa 

nafsunya dan mengingkari kehadiran 

Tuhan.

liar; terkadang dalam bentuk sangat 

spesifik dengan menyebut jenis 

hewannya dengan jelas, misalnya 

kambing, domba, sapi, unta, keledai, 

bagal, kuda, dan lainnya. Hewan-

hewan ini terkadang dijadikan oleh Al-

Qur'an maupun hadis sebagai tamsil, 

peringatan, tanda kekuasaan Allah, 

hingga sebagai sesuatu yang sifatnya 

fisik. Uraian lebih panjang mengenai 

mamalia dapat disimak dalam bahasan 

berikut.

1. ANJING

Anjing disebut dalam beberapa ayat 

Al-Qur'an. Anjing, misalnya, disebut 

dalam rangkaian kisah para pemuda 

penghuni gua (așĥābul-kahf) berikut. 

Dan engkau mengira mereka itu tidak tidur, 

padahal mereka tidur; dan Kami bolak-balikkan 

mereka ke kanan dan ke kiri, sedang anjing mereka 

membentangkan kedua lengannya di depan pintu 

gua. Dan jika kamu menyaksikan mereka tentu 

kamu akan berpaling melarikan (diri) dari mereka 

dan pasti kamu akan dipenuhi rasa takut terhadap 

mereka. (al-Kahfi/18: 18)

59Hewan dalam Al-Qur'an

yang hidup menggelandang. Anjing 

yang seperti ini dapat saja membawa 

beberapa penyakit sehingga dianggap 

tidak bersih. Mungkin inilah yang 

mendasari hadis di bawah ini, 

اْلَيَُّة   : َواْلََرِم  لِّ  اْلِ ِف  ُيْقَتْلَن  َفَواِسُق  َخٌْس 

اْلَعُقْوُر  َواْلَكْلُب  َواْلَفْاَرُة  األَْبَقُع  َواْلُغَراُب 

ا . )رواه مسلم عن عائشة(  َواْلَُديَّ

Ada lima hewan (bertabiat) buruk yang boleh 

dibunuh di tanah halal maupun di tanah haram. 

Mereka itu yaitu  ular, burung gagak berbulu 

campuran antara hitam dan putih, tikus, anjing 

ganas, dan kalajengking. (Riwayat Muslim dari 

‘Ā'isyah)

Ayat berikut ini berbicara tentang 

binatang buas yang telah diajari 

pemiliknya cara berburu menurut 

kepandaian yang diperolehnya dari 

pengalaman dan ide manusia, serta 

ilham dari Allah. Termasuk dalam 

golongan binatang buas terlatih 

yang halal hasil buruannya yaitu  

anjing pemburu, elang pemburu, dan 

cheetah.

Dan sekiranya Kami menghendaki niscaya Kami 

tinggikan (derajat)nya dengan (ayat-ayat) 

itu, namun  dia cenderung kepada dunia dan 

mengikuti keinginannya (yang rendah), maka 

perumpamaannya seperti anjing, jika kamu 

menghalaunya dijulurkan lidahnya dan jika kamu 

membiarkannya dia menjulurkan lidahnya (juga). 

Demikianlah perumpamaan orang-orang yang 

mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah 

kisah-kisah itu agar mereka berpikir. (al-A‘rāf/7: 

176)

Perumpamaan ini memperlihat-

kan perilaku anjing. Anjing hampir 

selalu tampak menjulurkan lidah dan 

meneteskan air liurnya. Ini dilakukan-

nya begitu saja tanpa menunggu 

sebab tertentu, misalnya diserang, 

dikejar, melepas lelah, atau istirahat. 

Keadaan yang demikian ini menjadi 

permisalan orang-orang yang menolak 

kehadiran Allah. Baik sudah diberi 

peringatan maupun belum, mereka 

akan selalu meludahkan air liurnya 

yang kotor. Perilaku demikian ini 

muncul dari dan merusak jiwa mereka 

sendiri. Akan namun , ia berpotensi 

untuk menularkannya kepada orang 

lain. sebab  itu, semua orang harus 

melindungi diri dari pengaruh mereka 

itu. yaitu  tugas semua orang untuk 

memperingatkan dan menyadarkan 

mereka yang sedang memperoleh 

cobaan semacam ini. 

Anjing peliharaan pada dasarnya 

cukup aman sebab  dipelihara, diberi 

makan yang baik-baik, dan dibersihkan. 

Tidak demikian adanya dengan anjing 

Mereka bertanya kepadamu (Muhammad), “Apa-

kah yang dihalalkan bagi mereka?” Katakanlah, 

60 Hewan dalam Perspektif Al-Qur'an  &  Sains

”Yang dihalalkan bagimu (yaitu  makanan) 

yang baik-baik dan (buruan yang ditangkap) oleh 

binatang pemburu yang telah kamu latih untuk 

berburu, yang kamu latih menurut apa yang 

telah diajarkan Allah kepadamu. Maka makanlah 

apa yang ditangkapnya untukmu, ) dan sebutlah 

nama Allah (waktu melepasnya). Dan bertakwalah 

kepada Allah, sungguh, Allah sangat cepat 

perhitungan-Nya.” (al-Mā'idah/5: 4)

Agar hewan yang disembelih 

menjadi halal, penyembelih wajib 

menyebut nama Allah saat menyem-

belih. Ritual ini bertujuan mengingat-

kan manusia bahwa mereka mem-

bunuh hewan ini  untuk 

mendapatkan daging konsumsi, bukan 

sebab  alasan sepele. Bila pembu-

nuhan tidak dilakukan dengan cara 

menyembelih, melainkan dengan ber-

buru memanfaatkan jasa hewan buas 

seperti elang, anjing, atau cheetah, 

maka agar dagingnya menjadi halal 

harus dipenuhi syarat-syarat berikut: 

(1) hewan pemburu telah dilatih untuk 

berburu sehingga tidak membunuh 

mangsanya akibat menuruti naluri 

membunuhnya saja; dan (2) orang yang 

melepas hewan pemburu ini  

mesti mengucapkan basmalah saat 

melepas hewan itu untuk mengejar 

buruan.

Salah satu hadis yang berbicara 

mengenai hal itu yaitu , 

َم َعْن َصْيِد  َسَأْلُت َرُسْوَل اهللِ َصلَّ اهللُ َعَلْيِه َوَسلَّ

َوَما   ، َفُكْلُه  ِه  بَِحدِّ َأَصاَب  َما   : َفَقاَل   ، اْلِْعَراِض 

َصْيِد  َعْن  َوَسَأْلُتُه   . َوِقْيٌذ  َفُهَو  بَِعْرِضِه  َأَصاَب 

ِمنُْه  َيْأُكْل  َوَلْ  َعَلْيَك  َأْمَسَك  َما  َفَقاَل :  اْلَكْلِب ، 

ِعنَْدُه  َوَجْدَت  َفإِْن   ، َأْخُذُه  َذَكاَتُه  َفإِنَّ   ، َفُكْلُه 

َكْلًبا آَخَر َفَخِشْيَت َأْن َيُكْوَن َأَخَذُه َمَعُه َوَقْد َقَتَلُه 

َم َذَكْرَت اْسَم اهللِ َعَل َكْلبَِك ، َوَلْ  َفاَل َتْأُكْل ، إِنَّ

البخاري ومسلم عن  . )رواه  ِه  َغْيِ َعَل  َتْذُكْرُه 

عدي بن حاتم( 

Aku bertanya kepada Rasulullah tentang (hukum 

daging) hewan yang diburu dengan tombak. 

Beliau bersabda, “Jika hewan itu mati sebab  

terkena bagian runcing (tajam)-nya tombak 

maka makanlah (dagingnya), namun jika mati 

terkena bagian tumpulnya maka (menjadi haram 

untuk dimakan sebab ) ia mati sebab  terpukul.” 

lalu  beliau melanjutkan, “jika  anjing 

itu menangkap buruan untukmu dan ia tidak 

memakan sedikit pun darinya, maka makanlah 

(hewan buruan itu) gigitan anjing pemburu itu 

sama dengan penyembelihan terhadapnya. Akan 

namun , jika  engkau mendapati anjing lain yang 

turut berburu, dan kamu khawatir anjing lain itu 

turut membantu anjingmu dalam membunuh 

binatang buruan tadi, maka jangan kamu makan 

dagingnya. Sesungguhnya kamu menyebut nama 

Allah untuk anjing pemburumu saja, dan tidak 

kepada anjing lainnya.” (Riwayat al-Bukhāri dan 

Muslim dari ‘Adiy bin Ĥātim)

Pandangan warga  Islam 

tentang peran anjing dalam kehidupan 

berubah cukup dinamis, dari sebelum 

masa Islam di Jazirah Arab sampai 

masa pemakaian  rasio pada masya-

rakat Islam modern. Persepsi-persepsi 

seputar hewan ini perlu disikapi 

dengan hati-hati dan rasional, misalnya 

61Hewan dalam Al-Qur'an

persepsi tentang anjing berbulu hitam. 

Serupa warga  Eropa, warga  

di Jazirah Arab pada zaman dulu 

percaya bahwa anjing berbulu hitam 

mewakili kejahatan. Bahkan, lebih dari 

itu, ia merupakan perwujudan iblis 

yang merupakan diri dalam bentuk 

hewan. Meski persepsi ini bermula dari 

mitologi pada masa pra-Islam, namun 

hal ini bahkan dapat kita temukan 

dalam sebuah hadis, walaupun banyak 

ulama tidak menganggapnya sahih. 

Hadis ini  berbunyi demikian. 

بَِقْتِلَها  ألََمْرُت  األَُمَم  ِمَن  ٌة  َُأمَّ اْلِكاَلب  َأنَّ  َلْوالَ 

ُه  َفإِنَّ  ، اْلَبِهْيَم  األَْسَوَد  اْلَكْلَب  اْقُتُلوا  َوَلِكِن   ،

َشْيَطاٌن . )رواه ابن حبان عن جابر بن عبد اهلل( 

Kalau saja anjing bukanlah salah satu dari makhluk 

Allah, pastilah aku meminta kalian membunuhnya. 

Namun, bunuhlah anjing yang berbulu hitam 

legam, sebab  yang demikian itu yaitu  setan. 

(Riwayat Ibnu Ĥibbān dari Jābir bin ‘Abdullāh)

Hadis lain yang tampaknya 

juga berpangkal pada kepercayaan 

warga  Arab pra-Islam yaitu , 

ْيِل  بِاللَّ اْلُُمِر  ْيَق  َوَنِ اْلِكاَلِب  ُنَباَح  َسِمْعُتْم  إَِذا 

َتَرْوَن . )رواه  َما الَ  َيَرْيَن  ُنَّ  َفإِنَّ  ، بِاهللِ  ُذْوا  َفَتَعوَّ

أمحد وأبو داود عن جابر بن عبد اهلل( 

Jika kalian mendengar lolongan anjing dan 

ringkikan keledai pada malam hari maka mintalah 

perlindungan kepada Allah, sebab  (saat  itu) 

mereka melihat sesuatu yang tidak bisa kalian 

lihat. (Riwayat Aĥmad dan Abū Dāwūd dari Jābir 

bin ‘Abdullāh)

Persepsi warga  Islam 

tentang anjing cukup banyak dipe-

ngaruhi oleh kepercayaan warga  

Arab pra-Islam. Salah satu buktinya 

yaitu  kewajiban untuk membasuh 

benda yang dijilat oleh anjing, apa 

pun warnanya, sebanyak tujuh kali, di 

mana salah satunya mesti dicampur 

dengan tanah (debu). Hadis di bawah 

ini menjelaskan hukum ini . 

َفْلَيْغِسْلُه َسْبَع  َأَحِدُكْم  إَِناِء  ِفْ  اْلَكْلُب  َب  إَِذا َشِ

اٍت . )رواه البخاري ومسلم عن أب هريرة(  َمرَّ

Jika seekor anjing menjilat wadah salah satu dari 

kalian maka hendaklah ia mencucinya sebanyak 

tujuh kali. (Riwayat al-Bukhāri dan Muslim dari Abū 

Hurairah)

Mengenai berapa kali basuhan 

yang mesti dicampur dengan debu, 

ada banyak versi. Ada yang hanya 

mengharuskan satu kali, tiga kali, 

lima kali, bahkan ada pula yang tidak 

mengharuskan campuran ini  

sama sekali. Perintah ini nyata-nyata 

memperlihatkan bahwa anjing—

dalam hal ini air liur anjing—tidak 

steril, dan mengandung kotoran atau 

penyakit. sebab  itu, wajar jika  kita 

dianjurkan untuk mencuci objek yang 

dijilatnya sebersih mungkin sebelum 

dipakai  untuk keperluan manusia.


Tidak hanya menunjukkan ko-

tornya air liur anjing dalam arti fisik, 

kehadiran hadis ini bisa jadi juga 

menunjukkan bahwa air liur anjing 

kotor dalam artian spiritual. Air liur 

anjing, dan mungkin saja tubuhnya 

secara keseluruhan, memicu  

ketidakbersihan dalam artian moral. 

Muncul kecenderungan di sebagian 

warga  bahwa keberadaan anjing 

di sekitar mereka memicu  ke-

bersihan mereka saat hendak melak-

sanakan ritual agamanya akan ternodai. 

Ketidakbersihan anjing dalam artian 

moral dapat dilihat dari hadis yang 

menyatakan bahwa malaikat sebagai 

pembawa wahyu dari Allah tidak mau 

hadir ke dalam rumah yang ada anjing 

di sana. Rasulullah bersaba, 

 . ُصْوَرٌة  َوالَ  َكْلٌب  فِْيِه  َبْيًتا  اْلَاَلِئَكُة  َتْدُخُل  الَ 

)رواه البخاري ومسلم عن أب طلحة( 

Malaikat tidak akan masuk ke dalam sebuah rumah 

yang di dalamnya ada  anjing maupun lukisan 

(manusia atau hewan). (Riwayat al-Bukhāri dan 

Muslim dari Abū Ţalĥah)

ْيُل  ِجْبِ َم  َوَسلَّ َعَلْيِه  اهللُ  َصلَّ  اهللِ  َرُسْوَل  َواَعَد 

اَلُم ِفْ َساَعٍة َيْأتِْيِه فِْيَها ، َفَجاَءْت تِْلَك  َعَلْيِه السَّ

ِمْن  َفَأْلَقاَها   ، َعًصا  َيِدِه  َوِفْ   ، َيْأتِِه  َوَلْ  اَعُة  السَّ

َيِدِه ، َوَقاَل : َما ُيِْلُف اهللُ َوْعَدُه َوالَ ُرُسُلُه ، ُثمَّ 

ْيِرِه ، َفَقاَل : َيا  َت َسِ اْلَتَفَت ، َفإَِذا ِجْرُو َكْلٍب َتْ

َعاِئَشُة ، َمَتى َدَخَل َهَذا اْلَكْلُب َهاُهنَا ؟ َفَقاَلْت : 

ْيُل ،  َواهللِ َما َدَرْيُت ، َفَأَمَر بِِه َفُأْخِرَج ، َفَجاَء ِجْبِ

َم : َواَعْدَتنِْي  َفَقاَل َرُسْوُل اهللِ َصلَّ اهللُ َعَلْيِه َوَسلَّ

اْلَكْلُب  َمنََعنَِي  َفَقاَل :  َتْأِت ،  َفَلْم  َلَك  َفَجَلْسُت 

َبْيًتا فِْيِه َكْلٌب  َبْيتَِك ، إِنَّا ال َنْدُخُل  ِذْي َكاَن ِفْ  الَّ

َوالَ ُصْوَرٌة . )رواه مسلم عن عائشة( 

Jibril pernah berjanji kepada Rasulullah akan 

mendatanginya pada suatu waktu yang telah 

ditentukan. Lalu datanglah saat yang dijanjikan itu, 

namun Jibril urung datang. Pada saat itu Rasulullah 

sedang memegang tongkat, lalu  beliau pun 

melemparkannya sambil berkata, “Allah dan 

utusan-utusannya tidak pernah mengingkari janji!” 

Beliau lalu berpaling, dan sesaat  melihat sesosok 

anjing di bawah tempat duduknya. Beliau bertanya, 

“Kapan anjing ini masuk ke sini,  ‘Ā'isyah?” “Demi 

Allah, aku tidak tahu!” jawab ‘Ā'isyah. Lalu Rasul 

meminta anjing itu dikeluarkan. sesudah  anjing itu 

dikeluarkan, barulah Jibril datang. lalu  Rasul 

berkata, “Engkau sudah berjanji kepadaku, sebab  

itu aku menunggumu, namun engkau urung 

datang.” “Anjing yang ada di rumahmu tadi telah 

menghalangi kedatanganku. Kami, para malaikat, 

tidak akan masuk ke dalam suatu rumah yang 

di dalamnya ada  anjing maupun lukisan.” 

(Riwayat Muslim dari ‘Ā'isyah)

Dalam hadis berikut Rasulullah 

mengingatkan bahwa pemilik anjing 

akan dikurangi pahalanya setiap hari, 

kecuali jika dimanfaatkannya untuk 

menjaga ternak, lahan, atau untuk 

berburu. 

َأْو  َصْيٍد  َأْو  َماِشَيٍة  َكْلَب  إاِلَّ   ، َكْلبًا  َذ  َ اتَّ َمِن 

اٌط . )رواه  ِقْيَ َيْوٍم  َأْجِرِه ُكلَّ  ِمْن  اِْنَتَقَص  َزْرٍع، 

البخاري ومسلم عن أب هريرة( 

63Hewan dalam Al-Qur'an

Barang siapa memelihara anjing, kecuali anjing 

penjaga hewan piaraan, anjing pemburu, dan 

anjing penjaga lahan pertanian, maka setiap 

hari pahalanya akan dikurangi sebanyak satu 

qirat. (Riwayat al-Bukhāri dan Muslim dari Abū 

Hurairah)

Diduga, perlakuan terhadap 

anjing saat itu berkaitan dengan 

pencarian warga  pra-modern 

tentang batas yang membedakan 

manusia dari hewan; yakni bahwa 

hewan seharusnya lebih rendah 

derajatnya daripada manusia. Artinya, 

hewan sedang dipinggirkan atau 

dimarjinalkan. Untuk itu, dipakai lah 

anjing sebagai representasi seluruh 

hewan. Keadaan ini diperburuk dengan 

“kekuasaan laki-laki” yang sedang 

berusaha memojokkan warga  

“lain”. Anggota warga  yang 

dipilih yaitu  wanita, nonmuslim, dan 

tentunya, anjing. Dalam tradisi yang 

demikian ini muncullah suatu klaim 

dalam warga  bahwa Nabi pernah 

menyatakan jika  ada wanita, orang 

nonmuslim, keledai, atau anjing lewat 

di depan jamaah yang sedang salat 

maka salat mereka batal. Menariknya, 

klaim ini diprotes oleh Aisyah, istri 

Nabi. Menurutnya, menghubung-

hubungkan anjing dengan wanita 

akan sangat merugikan kedudukan 

wanita. Pada masa berikutnya, banyak 

pemuka agama yang juga mendukung 

pendapat Aisyah ini. Pernyataan 

yang demikian ini, kata mereka, tidak 

otentik dan diragukan dasarnya. 

Banyak ulama yang menolak 

legalisasi membunuh anjing sebab  hal 

ini tentu saja melenyapkan kehidupan 

suatu ciptaan Allah. Hal ini tidak 

sejalan dengan tugas kekhalifahan, 

yang antara lain menghormati semua 

ciptaan Allah. Suatu ciptaan tidak dapat 

dengan demikian saja dimusnahkan, 

dan kehidupan tidak dapat dihilangkan 

tanpa alasan yang kuat. Tidak ada 

alasan apa pun untuk membunuh 

anjing sebab  anjing memang dilarang 

untuk dimakan.

Para ulama memperbolehkan 

seseorang memelihara anjing untuk 

keperluan membantu manusia dalam 

pertanian, peternakan, atau perburuan, 

namun tidak untuk keperluan mencari 

kesenangan belaka. Beberapa ilmuwan 

mencoba merasionalkan hal ini dengan 

melihatnya sebagai hewan yang mem-

bahayakan keselamatan orang di 

sekitarnya. Akan namun , hal lain yang 

menonjol dalam penolakan ini yaitu  

bahwa anjing dianggap najis sebab  

kotor (tubuh dan air liurnya) bagi 

mereka yang akan melakukan ritual 

keagamaan. Kenajisan anjing sudah 

cukup menjadi alasan bagi seseorang 

untuk tidak memeliharanya, kecuali 

ada keperluan lain yang mendesak.

Anjing tidak selalu dikaitkan 

dengan hal-hal negatif. Hewan ini 


terkadang juga dikaitkan dengan 

hal-hal positif. Dalam sebuah hadis 

dinyatakan, 

اْلَعَطُش،  َعَلْيِه  اْشَتدَّ  بَِطِرْيٍق  َيْمِشْ  َرُجٌل  َبْينََم 

َفإَِذا  َخَرَج  ُثمَّ   ، َب  َفَشِ فِْيَها  َفنََزَل  بِْئًرا  َفَوَجَد 

َفَقاَل   ، اْلَعَطِش  ِمَن  الثََّرى  َيْأُكُل  َيْلَهُث  َكْلٌب 

ِمْثَل  اْلَعَطِش  ِمَن  اْلَكْلَب  َهَذا  َبَلَغ  َلَقْد   : ُجُل  الرَّ

ُه َماًء ،  ِذْي َكاَن َبَلَغ ِمنِّْي . َفنََزَل اْلبِْئَر َفَمأَل ُخفَّ الَّ

ُثمَّ َأْمَسَكُه بِِفْيِه َحتَّى َرِقَي َفَسَقى اْلَكْلَب َفَشَكَر 

اهللُ َلُه َفَغَفَر َلُه . َقاُلوا : َيا َرُسْوَل اهللِ َوإِنَّ َلنَا ِفْ 

َرْطَبٍة  َكبٍِد  ُكلِّ  ِفْ   : َفَقاَل  ؟  ألَْجًرا  اْلَبَهاِئِم  َهِذِه 

َأْجٌر . )رواه البخاري ومسلم عن أب هريرة( 

Ada seorang pria yang sedang berjalan, lalu 

ia merasakan haus yang sangat. lalu  ia 

mendapati sebuah sumur, lalu ia mendekatinya 

dan minum dari air sumur ini . Ia pun beranjak 

meninggalkan sumur, saat  tiba-tiba ia mendapati 

seekor anjing yang menjulur-julurkan lidahnya 

menjilati tanah akibat kehausan. Pria itu berkata, 

“Anjing ini benar-benar kehausan seperti yang aku 

alami tadi.” Maka ia turun (kembali) ke sumur tadi, 

dan diisinya sepatunya dengan ait. Ia memegangi 

sepatunya dan menuangkan air di dalamnya ke 

mulut anjing itu hingga rasa hausnya hilang. Anjing 

itu pun bersyukur kepada Allah atas bantuan pria 

tadi, dan sebab nya Allah pun mengampuni pria itu. 

Para sahabat bertanya kepada Rasulullah, “Wahai 

Rasulullah, apakah kita akan dapat pahala dengan 

berbuat baik kepada hewan?” Beliau menjawab, 

“(Perbuatan baik kalian) kepada setiap makhluk 

yang bernyawa pasti diberi pahala.” (Riwayat al-

Bukhāri dan Muslim dari Abū Hurairah)

Anjing yaitu  makhluk ciptaan 

Allah yang harus dilindungi dan 

ditolong jika  memerlukan. Hadis ini 

menegaskan bahwa Allah tidak akan 

melupakan begitu saja kebaikan yang 

seseorang lakukan, bahkan kepada 

anjing sekalipun.

Perikehidupan Anjing

Linnaeus, seorang akhli taksonomi, 

pada 1758 mula-mula memasukkan 

anjing hasil domestikasi ke dalam nama 

Canis familiaris dan Canus familiarus 

domesticus. Pada 1993, penempatan 

nama ini  lalu  diusulkan 

untuk diubah menjadi Canis lupus 

familiaris, suatu anak jenis dari serigala 

abu-abu, Canis lupus. Pengubahan ini 

didasarkan pada bukti-bukti penelitian 

perilaku, perawakan, dan penelitian 

biologi molekuler, yang berujung pada 

kesimpulan bahwa serigala abu-abu 

yaitu  nenek moyang dari sekian ba-

nyak turunan dari anjing peliharaan.

Hubungan antara anjing dan 

manusia sudah berjalan lama. Anjing 

telah menjadi teman dalam bekerja dan 

berburu sepanjang sejarah kehidupan 

manusia, sejak didomestikasi sekitar 

15.000 tahun yang lalu. Sejak saat itu, 

didasarkan pada keperluannya, telah 

terbentuk ratusan turunan anjing 

yang bervariasi penampilan maupun 

perilakunya. Tinggi bahu anjing ber-

variasi. Anjing terpendek diketahui 

memiliki tinggi bahu hanya 6,3 cm, 


dari jenis Yorkshire Terrier. Anjing 

turunan Cihuahua juga terhitung kecil. 

Sementara itu, rekor anjng tertinggi 

dipegang oleh anjing turunan Great 

Dane, yang memiliki tinggi bahu 106,7 

cm. Anjing turunan Irishwolfhound 

juga terhitung sebagai anjing dengan 

bahu tinggi. Warna, postur tubuh, dan 

bulu anjing juga bermacam-macam. 

Anjing dalam hubungannya 

dengan kebudayaan manusia memiliki 

kedudukan sosial yang jauh lebih 

kompleks daripada nenek moyang-

nya, serigala abu-abu. Anjing, misal-

nya, dapat dilatih untuk berburu. 

Di Jazirah Arab dikenal satu jenis 

anjing saluki yang biasa warga  

setempat gunakan untuk berburu. 

Dalam berburu anjing ini biasanya 

dipadukan dengan burung falcon. 

Hubungan antara manusia dengan 

anjing demikian dekat, walaupun pada 

kenyataannya anjing sangat potensial 

menjadi pemangsa yang sewaktu-

waktu dapat membahayakan manusia. 

Anjing menjadi bagian penting dari 

komunitas suku Indian Athabascan di 

Amerika Utara, dan merupakan satu-

satunya hewan peliharaan mereka. 

Anjing juga menjadi pembawa beban 

pada saat migrasi suku Indian Apache 

dan Navayo pada 1.400 tahun lalu. 

Kebiasaan menjadikan anjing sebagai 

pembawa beban masih dijumpai, meski 

kuda sudah masuk ke Amerika.  


Konon, migrasi manusia dari Asia 

ke Amerika melalui Selat Bering pada 

sekitar 12.000 tahun yang lalu tidak 

mungkin terlaksana tanpa bantuan 

anjing yang bertugas menarik kereta 

es. Anjing membantu manusia dari 


mulai berburu, menggembala ternak, 

menjaga rumah, membantu tugas 

kepolisian maupun militer, sebagai 

teman, hingga membantu mereka yang 

cacat (misalnya membantu menuntun 

dan mengarahkan tunanetra). 

Para ahli setuju proses domes-

tikasi anjing dilakukan setidaknya 

15.000 tahun yang lalu, malah bebe-

rapa arkeolog percaya proses ini terjadi 

lebih jauh sebelumnya. Beberapa uji 

genetika bahkan menunjukkan bahwa 

anjing sudah didometikasi antara 

14.000–17.000 tahun lalu, yakni pada 

masa Paleolithic, mendekati Pleis-

tocene/Holocene. Mana yang benar 

belum dapat dipastikan sampai saat 

ini. Pada 2008, mislanya, ditemukan 

kerangka binatang menyerupai anjing 

yang berukuran besar. Hewan ini 

ditemukan hidup di gua-gua di Belgia 

pada 31.700 tahun yang lalu. Diet 

hewan ini terdiri dari kuda, rusa, dan 

rubah. Sebelum temuan di Belgia, 

fosil tulang kepala dan rahang anjing 

ditemukan di Rusia dan Jerman. Umur 

fosilnya diperkira-kan sekitar 14.000 

tahun yang lalu.

Fosil jenis anjing yang lebih 

kecil ditemukan di gua-gua Timur 

Tengah, termasuk dalam sebuah 

kuburan berumur antara 10.000–

12.000 tahun lalu. Dalam kuburan 

ini ditemukan fosil anjing bersama 

dengan kerangka manusia. sesudah  

itu banyak ditemukan fosil anjing di 

Eropa, Irak, dan Turki yang berumur 

antara 8.000 sampai 10.000 tahun 

yang lalu. Apakah proses domestikasi 

terjadi dengan memelihara serigala 

abu-abu secara langsung ataukah 

berjalan secara bertahap, masih 

dipertanyakan. Domestikasi diduga 

bermula dari kehadiran beberapa ekor 

serigala abu-abu di sekitar kampung 

atau perkemahan sebab  tertarik 

dengan sisa makanan yang dibung. 

Lama kelamaan mereka terbiasa 

dekat dengan manusia. Secara alami, 

individu yang nyaman berada di sekitar 

manusia inilah yang menjadi modal 

utama untuk didomestikasi.

Jika dilihat dari analisis DNA 

maka waktu permulaan domestikasi 

anjing semakin memanjang sampai 

dengan 100.000–140.000 tahun lalu. 

Pemecahan serigala dan coyote, seje-

nis serigala dengan perawakan yang 

lebih kecil, diperkirakan terjadi sekitar 

700.000 tahun yang lalu. Hanya saja 

perkiraan memakai  analisis DNA 

ini masih banyak diperdebatkan para 

ahli, terutama sebab  pembandingnya, 

anjing yang telah didomestikasi, 

mengalami degradasi DNA sebab  

terjadi perkawinan secara selektif 

antarketurunan. 

Data yang ada menunjukkan 

bahwa domestikasi anjing dimulai dari 

serigala di kawasan Asia Timur. Anjing 

peliharaan ini lalu  menyebar 

ke seluruh dunia, dan diperkirakan 

mencapai kawasan Amerika Utara 

pada tahun 8.000 SM. Anjing turunan 

yang dekat dengan nenek moyangnya 

(diciri dengan DNA yang mirip dengan 

serigala abu-abu), terutama keturunan 

yang menempati Asia dan Afrika, 

seperti anjing Basenji, Lhasa Apso, 

dan Siberian Husky. Anjing keturunan 

yang dianggap paling tua di antaranya 

yaitu  Pharaoh Hound, Ibizan Hound, 

dan Norwegian Elkhound.

Anjing dan manusia memiliki 

hubungan yang panjang. Serigala 

dan jenis marganya yang liar lainnya 

tampaknya memperoleh keuntungan 

saat manusia mulai bermukim. Marga 

manusia, Homo, mulai menyebar di 

Afrika sekitar 400.000 tahun lalu. 

Beberapa bukti menunjukkan bahwa 

saat manusia mulai bemukim dan 

bertani pada sekitar 15.000 tahun lalu, 

anjing sudah hidup di sekitar manusia. 

Mereka mendapat keuntungan hidup 

di sekitar manusia, seperti memperoleh 

keamanan, ketersediaan makanan 

yang lebih terjamin, berkurangnya 

pemakaian  energi, serta kesempatan 

yang lebih besar untuk berkembang 

biak. Anjing peliharaan diakui memiliki 

kecerdasan sosial yang tertinggi, 

jauh meninggalkan hewan lainnya. 

Anjing mampu belajar dari melakukan 

observasi. Anjing turunan Border Colie 

diketahui sebagai turunan anjing yang 

paling cerdas.

Mari kita kembali membahas 

hadis al-Bukhārī yang membolehkan 

manusia membunuh anjing dalam 

kondisi tertentu. 

اْلَيَُّة   : َواْلََرِم  لِّ  اْلِ ِف  ُيْقَتْلَن  َفَواِسُق  َخٌْس 

اْلَعُقْوُر  َواْلَكْلُب  َواْلَفْاَرُة  األَْبَقُع  َواْلُغَراُب 

ا . )رواه مسلم عن عائشة(  َواْلَُديَّ

Ada lima hewan (bertabiat) buruk yang boleh 

dibunuh di tanah halal maupun di tanah haram. 

Mereka itu yaitu  ular, burung gagak berbulu 

campuran antara hitam dan putih, tikus, anjing 

ganas, dan kalajengking. (Riwayat Muslim dari 

‘Ā'isyah)

Penyakit anjing gila alias rabies 

yaitu  suatu penyakit menular yang 

akut. Penyakit ini menyerang susunan 

syaraf pusat, dan disebabkan oleh 

virus rabies jenis Rhabdho virus. Virus 

  

rabies, selain menempati susunan 

syaraf pusat, juga ada  pada air liur 

hewan penderita rabies. Oleh sebab 

itu penularan penyakit rabies pada 

manusia atau hewan lain dilakukan 

melalui gigitan. Virus ini dapat me-

nyerang semua hewan berdarah 

panas, seperti kucing, kelelawar, kera, 

termasuk juga manusia. Penyakit 

rabies merupakan penyakit Zoonosa 

yang sangat berbahaya dan ditakuti. 

Begitu gejala klinis penyakit rabies 

timbul maka umumnya akan diakhiri 

dengan kematian jika  tidak segera 

ditangani.

Masa inkubasi (waktu antara 

penggigitan sampai timbulnya gejala 

penyakit) penyakit rabies pada hewan 

sekitar 2–8 minggu, sedang  pada 

manusia antara 2–3 minggu sampai 

1 tahun. Masa inkubasi ini dapat 

berlangsung lebih cepat atau lebih 

lambat, tergantung antara lain keda-

laman dan parahnya luka gigitan, 

lokasi luka, banyaknya syaraf di sekitar 

luka, pathogenitas dan jumlah virus 

yang masuk, dan jumlah luka gigitan. 

Perjalanan penyakit rabies pada 

anjing dan kucing dibagi dalam 3 

tahap, yaitu:

1. Tahap Prodormal. Pada tahap ini 

hewan mencari tempat dingin 

dan menyendiri, berubah lebih 

agresif dan gelisah, pupil mata 

meluas dan sikap tubuh tegang. 

tahap  ini berlangsung selama 1–3 

hari. tahap  prodormal diikuti oleh 

tahap Eksitasi atau dapat saja 

melompat ke tahap Paralisa.

2. Tahap Eksitasi. Pada tahap  ini 

hewan menjadi ganas dan me-

nyerang siapa saja yang ada di 

sekitarnya dan memakan barang 

yang aneh-aneh. Selanjutnya, 

mata menjadi keruh dan selalu 

terbuka, dan tubuh gemetaran.

3. Tahap Paralisa. Pada tahap  ini 

hewan mengalami kelumpuhan 

pada semua bagian tubuhnya, 

dan berakhir dengan kematian.

Gejala penyakit rabies pada 

anjing dikenal dalam tiga bentuk:

1. Bentuk ganas (Furious Rabies). 

Masa eksitasi pada bentuk 

ini cukup panjang. Umumnya 

kematian akan datang dalam 

2–5 hari sesudah  tanda-tanda 

terlihat. Tanda-tanda yang sering 

terlihat yaitu : hewan menjadi 

penakut atau menjadi galak, 

suka bersembunyi di tempat-

tempat yang dingin dan gelap, 

menyendiri namun  dapat menjadi 

agresif, tidak menurut perintah 

majikannya, nafsu makan hilang, 

dan air liur menetes tak terken-

dali, menyerang apa saja yang 

ada di sekitarnya, memakan 

benda-benda asing seperti 

batu dan kayu, menyerang dan 

menggigit benda bergerak 

apa saja yang dijumpai, kejang-

kejang yang disusul kelumpuhan, 

dan menggelambirkan ekor di 

antara dua paha.

2. Bentuk diam (Dumb Rabies). 

Masa eksitasi pada bentuk ini 

pendek, dan paralisa cepat 

terjadi. Tanda- tanda yang sering 

terlihat yaitu  pada hewan 

yang terjangkit rabies bentuk 

ini yaitu  suka bersembunyi di 

tempat yang gelap dan sejuk, 

kejang-kejang sangat singkat 

bahkan sering tidak terlihat, 

lumpuh, tidak dapat menelan, 

mulut terbuka, dan air liur keluar 

berlebihan.

3. Bentuk Asystomatis. Hewan 

yang terjangkit rabies bentuk ini 

seringkali tidak memperlihatkan 

gejala sakit apa pun, namun tiba-

tiba saja mati.

Gejala yang terlihat pada kucing 

yang terjangkit rabies mirip dengan 

anjing, seperti menyembunyikan diri, 

banyak mengeong, mencakar-cakar 

lantai, dan menjadi agresif. Dalam 2–4 

hari sesudah  gejala pertama biasanya 

terjadi kelumpuhan, terutama di bagi-

an belakang tubuh.

Yang penting diperhatikan pada 

manusia bila terlihat padanya gejala-

gejala yang mencurigakan yaitu  ada-

tidaknya riwayat gigitan hewan seperti 

anjing, kucing, dan kera. Gejalanya 

dimulai dari hilangnya nafsu makan, 

sakit kepala, tidak bisa tidur, demam 

tinggi, mual/muntah, pupil mata mem-

71Hewan dalam Al-Qur'an

besar, bicara tidak keruan, selalu ingin 

bergerak dan tampak kesakitan. Gejala 

lainnya yaitu  munculnya rasa panas 

(nyeri) pada tempat gigitan, menjadi 

gugup, takut berlebihan pada air; peka 

terhadap suara keras, cahaya, dan 

angin; keluarnya air liur dan air mata 

yang berlebihan, kejang-kejang yang 

disusul kelumpuhan, dan berakhir 

pada kematian. Penderita rabies akan 

meninggal dalam 4–6 hari sesudah  

gejala klinis atau tanda-tanda penyakit 

pertama timbul.

jika  seseorang digigit hewan 

yang dicurigai membawa rabies maka 

tindakan yang harus diambil yaitu :

1. Mencuci luka gigitan dengan 

sabun atau deterjen selama 5–10 

menit di bawah air mengalir. 

Luka lalu  diberi alkohol 

70% atau yodium tincture. sesudah  

itu korban disarankan pergi ke 

puskesmas atau dokter untuk 

mendapat pengobatan semen-

tara sambil menunggu hasil dari 

rumah observasi hewan.

2. Melaporkan kasus penggigitan 

ini  kepada petugas Dinas 

Peternakan setempat. 

3. Mengirimkan hewan penggigit 

ke rumah observasi hewan Dinas 

Peternakan untuk diobservasi 

dan diperiksa kesehatannya 

selama 10–14 hari. Bila hewan itu 

tidak diketahui atau tidak dapat 

ditangkap maka korban gigitan 

harus dibawa ke rumah sakit 

khusus infeksi.

Dalam Al-Qur'an dan hadis jelas 

sekali aturan-aturan yang diturunkan 

Allah tentang anjing. Pada dasarnya 

hal ini secara logis merupakan suatu 

kenyataan. Air liur anjing tidak steril; 

ia mengandung bahan yang kotor 

dan dapat menimbulkan penyakit. 

sebab  itu, wajar jika  mereka 

yang tersentuh untuk membasuhnya 

sebersih mungkin. Akan namun , anjing 

sebagai ciptaan Allah tidak harus 

dikutuk dan dibasmi dari muka bumi, 

atau dikucilkan dan direndahkan. 

Mereka tetap mesti dihargai sebagai 

ciptaan Allah, dan ditolong jika  

memerlukan. Pertolongan yang demi-

kian ini, seperti dinyatakan dalam 

hadis, merupakan salah satu jalan 

memperoleh ampunan Allah. Rasu-

lullah bersabda, 

َبْينََم َكْلٌب ُيطِْيُف بَِرِكيٍَّة َقْد َكاَد َيْقُتُلُه اْلَعَطُش ، إِْذ 

ُموَقَها  َفنََزَعْت  اِئْيَل  إِْسَ َبنِْي  َبَغاَيا  ِمْن  َبِغيٌّ  َرَأْتُه 

اُه ، َفُغِفَر َلَا بِِه. )رواه  ، َفاْسَتَقْت َلُه بِِه َفَسَقْتُه إِيَّ

البخاري ومسلم عن أب هريرة( 

saat  seekor anjing sedang berjalan mengitari 

sebuah sumur dengan rasa haus yang hampir 

membuatnya mati, tiba-tiba seorang wanita 

pelacur dari Bani Israil melihatnya. Ia lantas 

melepas sepatunya, memenuhinya dengan air 

dari sumur, dan menuangkannya ke mulut anjing 

ini . sebab  perbuatannya itu wanita ini  

diampuni dosanya oleh Allah. (Riwayat al-Bukhāri 

dan Muslim dari Abū Hurairah)

2. SINGA

Singa (dilafalkan dengan qaswarah) 

hanya disebut sekali dalam Al-Qur'an, 

yaitu dalam Surah al-Muddaššir/74: 

51. Di sini singa dikisahkan menakuti 

keledai sehingga lari tunggang-

langgang. Keduanya dijadikan perum-

pamaan keadaan manusia saat  hari 

kiamat tiba. Allah berfirman,   

kut meminjam singa sebagai metafor 

dari keberanian, kepahlawanan, mau-

pun keadaan yang gawat. 

ُه َسَيْسَأُلَك اآلَن  َأْرَسَلنِي ُأَساَمُة إَِل َعِلٍّ َوَقاَل: إِنَّ

َفَيُقوُل: َما َخلََّف َصاِحَبَك ؟ َفُقْل َلُه : َيُقوُل َلَك 

َأُكْوَن  َأْن  ألَْحَبْبُت  األََسِد  ِشْدِق  ِفْ  ُكنَْت  َلْو   :

ُيْعطِنِي  َفَلْم   . َأَرُه  َلْ  َأْمٌر  َهَذا  َوَلِكنَّ   ، فِيِه  َمَعَك 

َجْعَفٍر  َواْبِن  َوُحَسْيٍ  َحَسٍن  إَِل  َفَذَهْبُت   ، َشْيًئا 

عن  البخاري  )رواه   . َراِحَلتِْي  ِلْ  َفَأْوَقُرْوا   ،

حرملة( 

Usāmah (bin Zaid) mengutusku (Ĥarmalah) 

menghadap ‘Ali. Ia berkata, “Ali akan bertanya 

kepadamu, ‘Apa yang memicu  temanmu 

tidak mau menemuiku.’ Katakan kepadanya, ‘Ia 

(Usāmah) berpesan kepadamu (‘Ali), bahwa jika 

engkau berada di mulut singa, aku pasti akan 

dengan senang hati bersamamu di sana. Akan 

namun , dalam persoalan yang satu ini saya tidak 

akan ikut campur.’” Ĥarmalah menambahkan, 

“Ali tidak memberiku hadiah apa pun (saat 

aku menyampaikan pesan untuknya). Lalu aku 

menemui Ĥasan, Ĥusain, dan Ibnu Ja‘far; mereka 

pun membebani untaku dengan barang-barang 

berharga.” (Riwayat al-Bukhāri dari Ĥarmalah)

َوفِرَّ   ، َصَفَر  َوالَ  َهاَمَة  َوالَ  َة  طَِيَ َوالَ  َعْدَوى  الَ 

ِمَن اْلَْجُذوِم َكَم َتِفرُّ ِمَن األََسِد . )رواه البخاري 

عن أب هريرة( 

Tidak ada penyakit menular (yang menular dengan 

sendirinya tanpa campur tangan Allah), tidak 

ada pula kesialan akibat datangnya pertanda 

tertentu, tidak pula kedatangan burung malam 

memicu  bahaya, dan tidak pula bulan 

Lalu mengapa mereka (orang-orang kafir) 

berpaling dari peringatan (Allah)? seakan-akan 

mereka keledai liar yang lari terkejut, lari dari 

singa. (al-Muddaššir/74: 49-51)

jika  telah diketahui secara 

pasti bahwa hari pengadilan pasti 

akan datang, mengapa manusia tetap 

saja tidak mengindahkan peringatan 

Tuhan tentangnya? Mereka yang tidak 

mengindahkannya akan panik luar 

biasa saat  kejadian itu tiba, seperti 

kepanikan keledai saat  dikejar singa. 

Alih-alih mengikuti peringatan Allah 

dan menghadapi hari pengadilan 

itu, mereka malah mencoba lari dari 

kenyataan.

Hadis-hadis dan kisah-kisah beri-

73Hewan dalam Al-Qur'an

kedatangan Safar itu membawa kesialan. Jauhilah 

pengidap lepra seperti engkau lari dari seekor 

singa. (Riwayat al-Bukhāri dari Abū Hurairah)

َم  َوَسلَّ َعَلْيِه  اهللُ  َصلَّ  اهللِ  َرُسْوِل  َمَع  َخَرْجنَا 

َجْوَلٌة  لِْلُمْسِلِمْيَ  َكاَنْت  اْلَتَقْينَا  َفَلمَّ   ، ُحنَْيٍ  َعاَم 

ِمَن  َرُجاًل  َعاَل  ِكْيَ  اْلُْشِ ِمَن  َرُجاًل  َفَرَأْيُت   ،

َوَراِئِه  ِمْن  َأَتْيُتُه  َحتَّى  َفاْسَتَدْرُت   ، اْلُْسِلِمْيَ 

َفْأَقَبَل   ، َعاتِِقِه  َحْبِل  َعَل  ْيِف  بِالسَّ ْبُتُه  َضَ َحتَّى 

اْلَْوِت  ِرْيَح  ِمنَْها  َوَجْدُت  ًة  َضمَّ نِْي  َفَضمَّ َعَلَّ 

ْبَن  ُعَمَر  َفَلِحْقُت   ، َفَأْرَسَلنِْي  اْلَْوُت  َأْدَرَكُه  ُثمَّ 

َأْمُر اهللِ  َباُل النَّاِس ؟ َقاَل :  َفُقْلُت : َما  اْلَطَّاِب 

، ُثمَّ إِنَّ النَّاَس َرَجُعْوا ، َوَجَلَس النَّبِيُّ َصلَّ اهللُ 

َبيِّنٌَة  َعَلْيِه  َلُه  َقتِْياًل  َقَتَل  َفَقاَل : َمْن  َم ،  َعَلْيِه َوَسلَّ

ُثمَّ  ؟  ِلْ  َيْشَهُد  َمْن   : َفُقْلُت  َفُقْمُت   . َسَلُبُه  َفَلُه 

َبيِّنٌَة  َعَلْيِه  َلُه  َقتِْياًل  َقَتَل  َمْن   : َقاَل  ُثمَّ   ، َجَلْسُت 

ُثمَّ  ؟  ِلْ  َيْشَهُد  َمْن   : َفُقْلُت  َفُقْمُت   . َسَلُبُه  َفَلُه 

َفَقاَل   ، َفُقْمُت   ، ِمْثَلُه  الثَّالَِثَة  َقاَل  ُثمَّ   ، َجَلْسُت 

َم : َما َباُلَك َيا َأَبا  َرُسْوُل اهللِ َصلَّ اهللُ َعَلْيِه َوَسلَّ

َرُجٌل  َفَقاَل   ، َة  اْلِقصَّ َعَلْيِه  َفاْقَتَصْصُت  ؟  َقَتاَدَة 

َفَأْرِضِه  ِعنِْدْي  َوَسَلُبُه   ، اهللِ  َرُسْوَل  َيا  َصَدَق   :

 : َعنُْه  اهللُ  َرِضَ  ْيُق  دِّ الصِّ َبْكٍر  َأُبْو  َفَقاَل   ! َعنِّْي 

الََها اهللِ إَِذا الَ َيْعَتِمُد إَِل َأَسٍد ِمْن َأَسِد اهللِ ُيَقاتُِل 

ُيْعطِْيَك  َم  َوَسلَّ َعَلْيِه  اهللُ  َصلَّ  َوَرُسْولِِه  اهللِ  َعِن 

َم : َصَدَق  َسَلَبَه . َفَقاَل النَّبِيُّ َصلَّ اهللُ َعَلْيِه َوَسلَّ

َبنِْي  ِفْ  َمَْرًفا  بِِه  َفاْبَتْعُت  ْرَع  الدِّ َفبِْعُت  َفَأْعَطاُه   .

ْلُتُه ِف اإِلْساَلِم . )رواه  ُل َماٍل َتَأثَّ ُه أَلَوَّ َسْلَمَة ، َفإِنَّ

البخاري ومسلم عن أب قتادة( 

Kami berjuang bersama Nabi dalam Perang Hunain. 

saat  berhadap-hadapan dengan musuh, tentara 

muslim agak kewalahan. saat  itulah aku melihat 

seorang tentara musuh hampir saja mengalahkan 

seorang muslim. Aku bergegas memutar arah untuk 

mendatanginya dari arah belakang dan menebas 

pangkal lehernya dengan pedang. Tentara musuh 

itu lantas berbalik dan mendesakku sampai-sampai 

aku merasa hampir saja mati. Tiba-tiba kematian 

menjemputnya sehingga ia melepaskanku. Aku 

lantas bertemu ‘Umar, ‘‘Bagaimana keadaan 

kaum muslim?” tanyaku.  Ia menjawab, ‘‘Apa 

yang dilakukan yaitu  atas perintah Allah.” 

lalu  pasukan muslim kembali ke Medinah 

(sesudah  perang usai). Nabi duduk di antara para 

sahabatnya, dan bersabda, “Siapa pun di antara 

kalian yang telah membunuh orang kafir dan 

memiliki  saksi, ia akan memperoleh Salb (benda 

milik musuh yang dibunuhnya).” Aku pun berdiri 

dan berkata, “Siapa yang mau menjadi saksiku?” 

dan duduk kembali. “Siapa pun di antara kalian 

yang telah membunuh orang kafir dan memiliki  

saksi, ia akan memperoleh Salb.” Aku pun berdiri 

dan berkata lagi, “Siapa yang mau menjadi 

saksiku?” dan duduk kembali. lalu  Nabi 

mengulangi perkataannya untuk ketiga kalinya. 

Aku pun berdiri. Kali ini Nabi bertanya kepadaku, 

“Ada apa denganmnu, wahai Abū Qatādah?” 

Aku lalu  menceritakan apa yang terjadi di 

medan perang kepada beliau. Seseorang berkata, 

“Abū Qatādah telah berkata benar. Salb-nya ada 

padaku. Mintalah ia merelakannya untukku, wahai 

Rasulullah.” Abu Bakar berkata, “Tidak. Demi 

Allah, Rasulullah tidak akan membiarkan begitu 

saja singa Allah yang telah bertempur demi Allah 

dan rasul-Nya (tidak memperoleh haknya atas 

Salb) dan malah memberikannya kepadamu!” 

Nabi berkata, “Apa yang dikatakan Abu Bakar 

yaitu  benar.”  Orang itu lantas menyerahkan 

Salb ini  kepada Rasulullah (untuk lalu  

diserahkan kepadaku). Salb yang berupa baju zirah 

itu lantas aku jual. Hasil penjualannya kubelikan 

sepetak lahan di perkampungan Bani Salmah. 

Itulah harta pertama yang aku peroleh sejak masuk 

Islam. (Riwayat  al-Bukhārī dan Muslim dari Abū 

Qatādah)

sedang  kisah sahabat dan 

Nabi mengenai singa, antara lain:

a. Kisah Ali bin Abi Talib dalam 

Perang Siffin, ia dikisahkan, “…

menyerang pasukan Muawiyah 

dengan kebuasan seekor singa. Ia 

menusuk jauh ke dalam pasukan 

musuh dan memicu  terjadinya 

kerusakan…”

b. Mengenai pertempuran di saluran 

air yang diikuti Ali, dikisahkan, 

“...putra Amr jatuh ke tangan Ali. Saat 

itu Ali bagaikan singa yang buas. Ia 

bunuh Usl dengan sekali tebas. Itulah 

sebabnya Naufal menyerang…”

c. Ali bin Abi Talib berbicara ten-

tang pemikiran etis seorang pe-

nguasa, “…seorang penguasa 

dapat diibaratkan orang yang 

mengendarai singa. Tidak dapat 

ditebak bilamana singa itu berbalik 

(peran sebagai hewan tunggangan) 

dan memangsanya.”

d. Ali bin Abi Talib dalam pertempuran 

di Khaibar dikisahkan berkata, “… 

Antar,  saya telah lengkap bersenjata. 

Rumahku yaitu  Khaibar. Aku 

yaitu  singa yang tidak seorang pun 

dapat menandingi.”

e. Ali bin Abi Talib dalam Perang 

Khaibar dilaporkan meneriakkan, 

“Akulah Ali, singa Tuhan. Aku ber-

perang atas nama Allah. Bersiaplah 

menerima takdirmu!”

f. Ali bin Abi Talib berkata, “…larilah 

secepatnya, seperti domba yang lari 

mendengar auman singa.”

g. Umar bin Khattab berkisah tentang 

keadaan saat perang Bahrseer: 

“…Tentara Persia dipimpin oleh 

singa yang perkasa yang dilatih 

khusus untuk bertempur. Singa itu 

berlari kencang menuju jalur depan 

pasukan muslim, yang membuat 

kuda-kuda yang dikendarai pasukan 

Muslim berlarian.” 


h. Kisah tentang Nabi Muhammad 

saat beliau memberikan deskripsi 

keberanian Hamzah, “…Keberani-

annya membuatnya pantas disebut 

“Singa Allah”. Ia menjadi pujaan 

Islam dan …”

i. Kisah kecintaan Nabi Yahya ter-

hadap alam, “…atau di dalam 

lubang di tanah. Kadangkala ia akan 

bertemu dengan singa dan beruang 

saat masuk ke dalam gua, akan 

namun  sebab  ia begitu terlena di 

dalam doanya...”

j. Tentang keberanian khalifah Ali bin 

Abi Talib dalam pertempuran, “…

keberanian yang tidak ada tanding-

an memberinya julukan “Asadullāh”, 

singa Allah, atau “Haidar Karrar”, 

pahlawan yang tak tertandingi…”

k. Abu Bakar, saat penaklukan 

Hirah dalam perang di timur Irak, 

dilaporkan mengatakan, “…Wahai 

kaum muslim, bersyukurlah bahwa 

singa kalian telah menaklukan singa 

Persia …”

Perikehidupan Singa

Singa (Panthera leon) yaitu  salah 

satu dari empat kucing besar yang 

ada dalam marga Panthera. Dengan 

berat badan mencapai 250 kilogram 

pada singa jantan, jenis ini yaitu  

kedua terberat sesudah  harimau. Singa 

liar saat ini ditemukan di kawasan 

sub-Sahara di Afrika dan beberapa 

bagian Asia. Pada masa lalu singa 

juga menempati Afrika Utara dan Asia 

Barat. Pada masa Pleistocene, sekitar 

10.000 tahun lalu, singa termasuk jenis 

yang menyebar luas di berbagai bagian 

dunia. Mereka ditemukan di hampir 

semua bagian Afrika, di sebagian 

Eurasia (dari Eropa sampai India), dan 

Amerika (dari Yukon sampai Peru). 

Singa dapat mencapai umur 

10–14 tahun di alam liar. Di tempat 

pemeliharaan, singa umurnya dapat 

mencapai umur 20 tahun.  Di alam liar 

singa jantan jarang dapat mencapai 

umur 10 tahun sebab  perkelahian 

di antara singa jantan sangat mem-

pengaruhi umur hidupnya. Singa hidup 

di kawasan padang rumput, walaupun 

mereka dapat juga ditemui di semak-

semak dan hutan.

Dibandingkan kelompok kucing 

lainnya, singa hidup berkelompok.

Kelompoknya dapat terdiri dari 

anakan, singa muda, singa betina, 

dan beberapa singa jantan. Singa 

betina secara bersama-sama berperan 

sebagai pemburu utama. Singa utama-

nya memangsa mamalia besar yang 

masih hidup, jarang memakan bangkai. 

Singa berevolusi di Afrika antara 

satu juta dan 800.000 tahun yang 

lalu, sebelum lalu  menyebar 

sampai ke Asia Tengah. Singa muncul 

pertama kali di Eropa pada 700.000 

tahun lalu. Beberapa anak jenis yang 

dikenal yaitu  Panthera leon persica 

(Asia Selatan, Persia, India); Panthera 

leon leo (sudah punah, menyebar 

antara Maroko-Mesir);  Panthera 

leon senegalensis (Afrika Barat, dari 

Senegal hingga Nigeria); Panthera 

leon  azandica (Kongo); Panthera leon 

nubica (Afrika Timur, Ethiopia, Kenya, 

Tanzania, Mozambique); Panthera 

leon  bleyenberghi (Afrika Barat Daya, 

Namibia sampai Zimbabwe); Panthera 

leon  krugeri (Transvaal);  dan Panthera 

leon  melanochaita (punah tahun 1860). 

Beberapa anak jenis telah punah pada 

masa prehistori, yaitu Panthera leon 

atrox (Amerika), Panthera leon   fossilis 

(Eropa); dan Panthera leon spelaea 

(Eurasia). 

Pada abad ke-17 singa banyak 

diadu dengan hewan lain, terutama 

anjing, sampai akhirnya kegiatan 

ini dilarang di Vienna (1800-an) dan 

Inggris (1825). Penjinakan singa  dila-

kukan untuk pertunjukan sirkus. Singa 

telah menjadi simbol dalam berbagai 

kebudayaan manusia sejak ribuan 

tahun lalu. Simbol singa muncul dalam 

budaya warga  di Afrika, Eropa, 

maupun Asia. Meski banyak manusia 

yang terbunuh oleh singa, namun singa 

memperoleh kehormatan yang tinggi 

dan merepresentasikan kekuatan, 

keberanian, serta kebangsawanan. 

Singa biasa disebut “raja” hutan. 

Dari budaya Aurignacia di 

Jerman, dikenali ukiran singa pada 

gading yang telah berumur 32.000 

tahun lalu. Lukisan singa ditemukan 

juga di gua Chauvet, Perancis, yang 

diperkirakan dilukis sekitar 32.000 

tahun lalu. Lukisan yang sama juga 

ditemukan di Gua Lascaux, dan 

diperkirakan berumur 15.000 tahun 

lalu. Beberapa peneliti cenderung 

menyamakan umur lukisan di gua 

Chauvet dengan yang di gua Lascaux, 

yaitu 15.000 tahun lalu. Lukisan dinding 

di Gua Chauvet menggambarkan 

suasana perburuan dari kelompok 

singa betina.  Siasat yang digambarkan 

dalam lukisan ini sangat mirip dengan 

siasat berburu dan perilaku singa yang 

hidup saat ini. warga  Mesir kuno 

memakai  singa betina dalam 

77Hewan dalam Al-Qur'an

lambang perangnya, dan juga sebagai 

penjaga makam berupa sphinx. Yunani 

Kuno dan Romawi memakai  

singa nemean sebagai simbol zodiak 

leo. Singa juga menjadi simbol kota 

Yerusalem dan Kerajaan Judah.

warga  Turki dan Mongol sangat 

mengenal singa dan memiliki  nama 

khusus untuk hewan ini. Dalam agama 

Hindu makhluk setengah singa yang 

digambarkan sebagai titisan Wisnu 

muncul dengan nama Narashima.  

Di Mesopotamia, singa menjadi 

simbol raja di Kerajaan  Sumeria, Asiria, 

sampai Babilonia. Wujud singa betina 

yang sekarat diukir pada satu panel; 

diperkirakan diukir pada 650 tahun SM. 

Singa betina ini  digambarkan 

dalam posisi membungkuk dengan 

panah menancap di sekujur tubuhnya. 

Di masa Babylonia, Dewi Ishthar di-

gambarkan mengendari kereta perang 

yang ditarik oleh tujuh ekor singa 

jantan. Dewi Inanna dari Sumeria, 

suatu padanan Ishthar, seringkali 

digambarkan berdiri di atas punggung 

dua singa betina. Penguasa Irak, 

Saddam Husein, mengadopsi sejarah 

dan menamai tank buatan Irak 

berteknologi Rusia “Lion of Babylonia”. 

Sphinx juga dikenal di Mesopotamia 

dan Persia. Wujud ini ditemukan 

pertama kali dalam budaya Mesir 

Kuno dengan nama Sphinx. Makhluk 

berbentuk manusia dari kepala sampai 

ke bahu, dan berbadan singa betina, 

merepresentasikan dewi pelindung 

Firaun. Belakangan, sphinx menjadi 

representasi Firaun itu sendiri. Singa 

asia juga banyak muncul dalam naskah-

naskah Cina, dan dimulai pada 40–500 

tahun SM. Singa sangat populer pada 

masa Dinasti Han (206–220 M), saat 

singa ditempatkan sebagai penjaga 

di pintu masuk istana. Sampai saat ini 

tarian singa (barongsai) masih terus 

ditarikan dalam menyambut perayaan 

tahun baru Cina. 

Singa juga muncul  dalam 

beberapa bagian kitab suci umat 

Kristiani, seperti dalam Kitab Daniel 

yang mengisahkan bagaimana Daniel 

dimasukkan ke sarang singa dan secara 

ajaib dapat selamat. Dalam kitab ini 

pula dikisahkan bagaimana Samson 

dapat membunuh singa dengan tangan 

kosong. Dalam sejarah Islam dikenal 

seorang yang digelari warga  

sebagai “Singa Islam”. Dialah Ali bin 

Abi Talib, seorang pria yang dikenal 

dengan keberaniannya dalam berba-

gai peperangan,