Teologi 1

Teologi 1




Pada edisi ini jurnal terbit lagi dengan 5 artikel. Seyogyanya ada 6 

artikel dari 9 yang diterima dalam edisi ini. Namun ada satu yang ditunda 

untuk perbaikan dan beberapa yang tidak memenuhi dan satu ditarik 

walaupun sudah melewati tahap bestari (akan diseminarkan dan wajib 

masuk dalam buku prosiding). Ini suatu ketidaksopanan juga dalam 

pelayanan literatur namun  silakan saja. 

Artikel pertama membahas tentang anugerah dan perbuatan dalam 

keselamatan antara Paulus dan Yakobus yang ditulis oleh Mauli Siahaan, 

yang meninjau kembali kontroversi lama dan terus-menerus tentang iman 

dan perbuatan dalam ajaran Paulus dan Yakobus. Mungkinkah hal itu 

diperdamaikan? Selama iman itu yaitu  anugerah Allah bukan usaha 

manusia sedikitpun maka tetap bisa diperdamaikan. Asalkan dimulai dari 

iman anugerah. Namun kita lihat sejak iman sering dipahami sebagai 

usaha manusia maka konsekuensinya akan menuju pada perbuatan yang 

menentukan keselamatan bukan iman lagi. Semoga tinjauan ulang ini 

dapat membantu bagi warga gereja masa kini. 

Artikel kedua mengenai pragmatisme yang masuk secara leluasa ke 

dalam gereja sebagai cara untuk memfungsikan gereja secara kelihatan 

dan terukur.  Dengan rekanan saya Lukman Yonathan sebagai gembala 

melihat dampak negatif di dalam pelayanan-pelayanan dan 

pengembangan gereja.  Bahkan juga melihatnya dalam pertumbuhan 

gereja secara kualitatif.  Kelihatannya gereja-gereja sedang mengejar 

sukses sebagai tanda dengan memakai pandangan dunia non Kristen.  

Pandangan dunia praktis dalam pragmatisme memang sangat berbahaya 

juga sebagai berhala masa kini yang menjadikan gereja sebagai klub 

sosial dan menentukan kebebasan. Maka iman terjual dalam oportunisme 

pasar yang dingin dan kejam bagi iman Kristen. Dan gerejapun hanya 

seperti klub sosial dan interes agama Kristen saja. 

Lalu penulis lain Budiman Widjaja berpasangan dengan Meitha 

Sartika menjelaskan mengenai pembangunan dan pertumbuhan gereja. 

Tentu pertumbuhan gereja berdasarkan firman Allah dan anugerah-Nya 

saja untuk bertumbuh. sedang  pengembangan gereja harus terencana 

 

ii 

dan terstruktur. Kedua konsepnya berbeda dari praktiknya juga.  

Penulis Octavianey G.P.H. Meman menulis dialog masa depan. 

Mungkin maksudnya untuk masa depan dengan cara mereposisi 

ajaran-ajaran dalam ruang publik atau dunia politik. Untuk kejelasannya 

dapat dilihat langsung dalam tulisan ini yang mencoba melihat 

bersama-sama faktor beragama dan politik dalam masyarakat yang multi 

konteks.  

sedang  Togardo Siburian melihat kembali secara kritis buku 

Injil Barnabas, konon dipakai sebagai alat yang ampuh untuk 

memualafkan orang Kristen bahkan para pendeta gereja yang 

pemahaman teologisnya lemah.  Sebenarnya sudah banyak tulisan 

yang membeberkan kepalsuan “buku” orang agama lain ini. Dan orang 

dari beragama itupun tahu kalau kandungannya salah namun sengaja 

menutup mata mengenai kepalsuan apa yang disebut “Injil Barnabas ini”. 

Namun ketidaksopanan masa kini dalam hal hoaks dari para pemimpin 

umat membuat kita sadar dari kekejaman pasar agama masa kini.  

Dengan tulisan ini warga gereja diajak secara kritis untuk meninjau 

kembali buku sesat dari abad pertengahan ini sebagai alat propaganda 

agama tertentu di Indonesia.  

Salah satu doktrin yang dibicarakan oleh Alkitab yaitu  doktrin 

keselamatan atau soteriologi. Namun tidak bisa dipungkiri bahwa doktrin 

ini juga yang sering disalahartikan oleh orang Kristen khususnya 

mengenai anugerah dan perbuatan. Ada sebagian orang melihat anugerah 

secara berlebihan sehingga tidak memperdulikan perilaku hidup sebagai 

orang percaya. namun  ada juga sebagian yang lain yang menekankan 

perbuatan untuk mengalami keselamatan sehingga mengesampingkan 

anugerah Allah yang telah nyata di dalam pengorbanan Kristus di atas 

kayu salib. 

Ada sebagian orang memahami anugerah Allah itu sebagai 

pemberian Allah semata-mata yang membuat orang Kristen tidak perlu 

lagi melakukan apa-apa termasuk untuk mengaku dosa walaupun dalam 

perjalanan hidupnya sesudah  percaya Yesus melakukan dosa sebab  

menganggap bahwa Yesus telah mengampuni dosa kita kemarin, dosa 

kita hari ini, dosa kita yang akan datang.1 Pemahaman ini membuat orang 

Kristen menjadi pasif dan bahkan masa bodoh tentang hidup beriman. 

Sebaliknya ada sebagian orang Kristen memahami bahwa keselamatan 

itu tidak cukup hanya percaya Yesus. Itulah sebabnya mereka memahami 

keselamatan itu sebagai sebuah perjuangan yang harus dilanjutkan 

sesudah  percaya Tuhan Yesus. sebab  seseorang pada akhirnya selamat 

jika  hidupnya terus berjuang untuk mendapatkan keselamatan itu. 

Kelompok orang seperti ini melihat bahwa keselamatan itu bersyarat dan 

syaratnya itu yaitu  harus memperjuangkannya sampai mati. 

Pengorbanan Yesus di atas kayu salib harus disempurnakan dengan 

perbuatan manusia kalau ingin mendapatkan hidup yang kekal. Dengan 

demikian perbuatan manusia sesudah  percaya Yesus akan sangat 

                                                           

menentukan keselamatan seseorang.  Melihat kedua paham di atas, maka 

kita menemukan bahwa ada perbedaan yang sangat ekstrim tentang 

doktrin keselamatan di antara orang Kristen sekalipun doktrin itu 

memakai ayat-ayat Alkitab. 

Memang ada beberapa ungkapan yang berbeda yang disampaikan 

Alkitab ketika menjelaskan tentang doktrin keselamatan ini khususnya 

mengenai anugerah yang dihubungkan dengan perbuatan seperti yag 

diungkapkan oleh Rasul Paulus dan Yakobus. Namun hal itu terjadi 

sebab  pendekatan yang berbeda sehingga ada kontras di antara mereka 

dalam pengungkapannya. Namun pada dasarnya tidak ada perbedaan 

prinsip, namun  yang ada yaitu  penekanan yang berbeda dalam prinsip 

yang sama. Itulah sebabnya dokrin keselamatan yang diungkapkan oleh 

Rasul Paulus dan Yakobus  memiliki keunikannya masing-masing. Dan 

keunikan itu diperlukan agar kita memiliki pemahaman yang kaya makna 

dalam mempelajari doktrin ini.  

Paper ini akan memaparkan keunikan soteriologi Paulus dengan 

Yakobus.  

 

SITUASI KONTROVERSIAL DIGAMBARKAN 

Doktrin keselamatan yang paling mendapatkan penekanan yang berbeda 

dan yang paling mendapat perhatian yaitu  doktrin keselamatan yang 

diungkapkan oleh Rasul Paulus dan Yakobus. Banyak orang Kristen 

khususnya para teolog yang mempertanyakan doktrin keselamatan yang 

ada dalam surat Yakobus. Sebab “Yakobus mengemukakan satu problem 

teologis di mana ia dianggap menentang doktrin Paulus tentang 

pembenaran.”2 Hal itu timbul sebab  sebagian orang memandang bahwa 

doktrin keselamatan yang ada dalam surat Yakobus berbeda dengan 

surat-surat yang lain khususnya surat-surat Paulus. Pertanyaan itu timbul 

sebab  Yakobus menekankan pembenaran malalui perbuatan di mana hal 

itu sangat berbeda dengan pandangan rasul Paulus yang mengatakan 

bahwa manusia dibenarkan hanya sebab  anugerah Allah melalui iman.  

                                                           

Memang ada sekelompok orang yang pada akhirnya memaknai 

doktrin keselamatan dari Yakobus ini menjadi suatu doktrin yang 

menekankan perbuatan untuk mendapatkan keselamatan. Mereka 

memahami bahwa pada akhirnya seseorang diselamatkan atau tidak akan 

terlihat dari perbuatan orang itu sesudah  percaya Yesus. Jadi, perbuatan 

seseoranglah yang menentukan keselamatannya. namun  ada juga 

sebagian orang yang memaknai keselamatan itu mutlak yaitu  anugerah 

Allah sehingga setiap orang percaya Yesus tidak perlu melakukan apa-

apa lagi dalam hidupnya sehingga iman itu hanya tersembunyi dalam 

hati. Tentu hal ini sangat bertolak belakang satu sama lain dan menjadi 

pandangan yang sangat merusak doktrin keselamatan khususnya di 

kalangan orang Kristen. Itulah sebabnya banyak orang Kristen memiliki 

iman yang palsu dan tidak memiliki dampak apa-apa dalam kehidupan 

sehari-hari dan menjadi batu sandungan bagi banyak orang. Dan dipihak 

lain banyak orang Kristen menjadikan korban Kristus di atas kayu salib 

tidak sempurna dan harus disempurnakan lewat perbuatan manusia. 

Demikian juga sebab  pemahaman yang salah dari doktrin keselamatan 

Yakobus membuat surat Yakobus selama beberapa abad ditentang di 

kalangan gereja. Origenes dan Eusibius menyebut surat Yakobus sebagai 

surat yang memiliki nilai yang diragukan.3 sedang  “Martin Luther 

menyebut kitab ini sebagai “surat sepele yang tepat.”4 Hal itu membuat 

surat. Dalam hal ini surat Yakobus sempat dipertanyakan keabsahannya 

masuk dalam konon Alkitab   

Melihat perdebatan itu timbul pertanyaan, Apakah benar konsep 

keselamatan Yakobus khususnya mengenai pembenaran merupakan 

sesuatu yang berbeda dengan apa yang diberitakan oleh rasul Paulus? 

Atau apakah konsep mereka pada dasarnya sama namun  dalam 

pengungkapan atau penekanan yang berbeda? Bisa saja pernyataan-

pernyataan mereka tentang pembenaran berbeda sebab  fokus atau 

penekanan yang berbeda namun  dalam prinsip yang sama. Prinsipnya 

                                                             

 

bahwa keselamatan yaitu  anugerah yang diterima melalui iman seperti 

yang diungkapkan oleh Paulus dalam Efesus 2:8 di mana Paulus 

menekankan keselamatan itu dari sisi anugerah sebagai dasar dari 

keselamatan itu dan Yakobus menekankan perbuatan baik sebagai hasil 

dari keselamatan itu. Penekanan yang berbeda ini tentu diperlukan agar 

terjadi keseimbangan dalam penerapannya. Hal ini perlu dikaji lebih jauh 

lewat pengamatan teks dari surat-surat Paulus dengan surat Yakobus 

sehingga kita bisa melihat paham mereka yang sesungguhnya.  

Mengenai hal ini, Ladd berkata;  

Harmonisasi teologis seperti ini mutlak diperlukan, namun  tidak 

boleh mengabaikan kontribusi khusus yang diberikan oleh Paulus 

maupun Yakobus. Ketika diperhadapkan dengan paham legalisme 

yang berusaha mendasari keselamatan atas dasar perbuatan dan 

kemampuan manusia, kontribusi Paulus harus didengarkan dan 

diajukan, sebagaimana terjadi pada masa reformasi. Namun, ketika 

dihadapkan pada paham Quietisme yang bersikap acuh tak acuh 

terhadap tingkah laku praktis orang Kristen dan tidak menunjukkan 

buah-buah kehidupan yang nyata, kontribusi teologis Yakobus 

harus dikedepankan, sebagaimana terjadi pada masa kakak-beradik 

Wesley. Mensyukuri anugerah keselamatan Allah dalam Yesus 

Kristus harus diikuti hidup dalam orientasi dan ketaatan terhadap 

firman Tuhan. Kehidupan kristiani perlu menjaga keseimbangan 

penekanan antara anugerah sebagai dasar keselamatan dan 

perbuatan baik sebagai hasil keselamatan.5   

 

KONTRAS DOKTRIN KESELAMATAN PAULUS  

DAN YAKOBUS 

Doktrin keselamatan yaitu  salah satu doktrin yang mendapat perhatian 

dari Paulus dan Yakobus. Dibanding dengan Yakobus, rasul Paulus lebih 

banyak membicarakan doktrin ini. Rasul Paulus lebih luas serta lebih 

dalam mengungkapan rahasia tentang keselamatan yang telah Allah 

sediakan bagi setiap orang dibanding dengan Yakobus.   

Ketika Rasul Paulus dan Yakobus membicarakan doktrin 

keselamatan tentu mereka memiliki penekanan yang berbeda-beda dalam 

                                                             

mendekatinya. Dengan demikian ada sesuatu yang ditekankan oleh rasul 

Paulus di mana hal itu tidak mendapatkan perhatian oleh Yakobus dan 

sebaliknya. Hal itu terjadi sebab  mereka memiliki tujuan yang berbeda 

ketika mereka menulis surat-surat tersebut.   

 

PERSPEKTIF PAULUS 

Paulus melihat keselamatan sebagai suatu inisiatif Allah dalam 

mengupayakan manusia berdosa untuk kembali kepada posisinya semula. 

Dengan demikian Paulus lebih menekankan karya Allah ini dalam 

merencanakan dan merealisasikannya. Hal itu terlihat pada 

pernyataannya dalam Efesus 2:8-9 yang berkata; “Sebab sebab  kasih 

karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, namun  

pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang 

memegahkan diri.” Ungkapan ini menunjukkan bahwa karya 

keselamatan itu mutlak yaitu  prakarsa Allah dan pelaksanaannyapun 

semata-mata yaitu  karya Allah. Hal itu terlihat dari kata kasih 

karunia atau anugerah. Kata “anugerah” yaitu  terjemahan dari kata 

charis yang memiliki arti hadiah atau sesuatu yang diberikan kepada 

orang lain tanpa adanya timbal balik atau kompensasi. 

Artinya pemberian cuma-cuma di mana tidak ada sedikitpun andil 

manusia di dalamnya. Paulus menggunakan kata anugerah terutama 

untuk menunjukkan kebaikan Allah yang memberikan keselamatan 

kepada mereka yang tidak layak. Pandangan ini diperjelas oleh Paulus 

dengan dua frasa;”bukan hasil usahamu” dan “bukan hasil pekerjaanmu”. 

Frasa ini dalam  bahasa Alkitab yaitu ; touto ouk ex hümōn yang secara 

harfiah artinya “itu bukan berasal dari dirimu sendiri.” 6  Hal ini 

menunjukkan bahwa manusia tidak memiliki kontribusi apapun dalam 

penyediaan keselamatan. Dengan demikian Paulus ingin mengatakan 

bahwa keselamatan hanya ada sebab  Allah yang bekerja untuk 

menyediakannya.   

Pernyataan Pulus ini juga ditegaskan dalam surat-suratnya yang 

lain seperti dalam Roma 3:24 yang berkata; “…dan oleh kasih karunia 

                                                             

 

telah dibenarkan dengan cuma-cuma sebab  penebusan dalam Kristus 

Yesus.” Di sini Paulus menekankan keselamatan dalam bentuk 

pembenaran bagi manusia berdosa secara cuma-cuma tanpa biaya atau 

gratis. Jadi bukan sebab  sesuatu yang dilakukan oleh manusia namun  

sebab  penebusan Kristus di atas kayu salib. Penebusan itu terjadi sebab  

Allah sudah membayar harganya. Sebab kata “penebusan” terjemahan 

dari kata apolutrósis yang memiliki arti pembebasan yang dilakukan 

dengan pembayaran uang tebusan. Atau secara harfiah memiliki arti 

membeli seseorang budak atau tawanan dengan membayar harga 

tebusan. Dan harga itu yaitu  darah Yesus atau kematian Kristus. Sebab 

“Paulus dalam berbagai cara mengaitkan pernyataan kebenaran Allah 

dengan kematian dan kebangkitan Kristus.” 7  Sebab keselamatan itu 

terjadi sepenuhnya sebab  penebusan Kristus. Jadi, keselamatan itu 

tersedia sebab  kerelaan dari Yesus Kristus mati di atas kayu salib untuk 

menanggung dosa manusia dan itu mutlak yaitu  karya Allah dan tidak 

ada sedikitpun andil dari manusia. Sebab “Keselamatan yaitu  anugerah 

Allah semata-mata, dan kita hanya dapat menerimanya saja.”8 

Dengan demikian rasul Paulus lebih menekankan pada upaya Allah 

dalam menyediakan keselamatan. Hal ini bukan berarti bahwa Paulus 

melupakan peran manusia khususnya dalam hubungannya dengan iman. 

namun  dia lebih fokus pada pribadi dan karya Allah dalam menyediakan 

keselamatan bagi manusia. Sebab Paulus menyadari bahwa tidak ada satu 

usaha manusia yang bisa memenuhi ketentuan Allah untuk dapat 

menyelamatkan manusia dari keberdosaannya. “Paulus...menunjukkan 

bahwa bukanlah kepatuhan pada hukum Taurat, melainkan iman semata-

mata, yang membawa manusia pada pembenaran dengan Allah.“9 Itulah 

sebabnya Paulus meyakini bahwa hanya sebab  tindakan Allah didorong 

oleh sebab  kasih-Nya, Dia mengupayakan keselamatan bagi manusia.  

Keselamatan yang sudah disediakan oleh Allah tentu memerlukan 

respon manusia jika  ingin menikmatinya. Respons itu yaitu  iman. 

                                                             

Itulah sebabnya Paulus melanjutkan pernyataannya dalam Efesus 2:8 itu 

dengan berkata, “oleh iman.” Dengan kata lain keselamatan yang telah 

disediakan Allah lewat penebusan Kristus bisa dialami oleh manusia 

melalui iman.  Kata iman yaitu  terjemahan dari “pistis” yang artinya 

kepercayaan atau keyakinan terutama mengandalkan Kristus untuk 

keselamatan. Jadi, “Jika anugerah Allah yaitu  dasar keselamatan, maka 

iman yaitu  sarana yang melaluinya anugerah itu diapropriasikan.” 10 

“Bagi Paulus iman yaitu  penerimaan Injil dan penyerahan pribadi 

kepada Dia yang diberitakan...iman itu bersifat pribadi, kepercayaan 

yang tulus,”11 Dengan demikian iman yaitu  syarat untuk mengalami 

keselamatan dan bukan untuk menyediakan keselamatan. Memang tanpa 

iman, manusia tidak akan bisa mengalami keselamatan. namun  

keselamatan tersedia mutlak yaitu  karya Allah. Iman hanya akan berarti 

kalau dihubungkan dengan karya Kristus di atas kayu salib. Sebab iman 

yaitu  ketergantungan kepada keselamatan di dalam Kristus.  

 

PERSPEKTIF YAKOBUS 

Berbeda dengan Paulus, Yakobus lebih memperhatikan realisasi dari 

keselamatan itu dalam kehidupan manusia. Itulah sebabnya dia lebih 

menekankan peran manusia dalam menanggapi keselamatan yang Allah 

sediakan. Hal ini terjadi sebab  Yakobus mengamati kehidupan 

kekristenan pada jaman itu yang setengah hati. Dengan demikian 

“Yakobus melawan kecenderungan banyak orang Kristen yang menjadi 

puas dengan iman yang dipraktekkan dengan setengah hati dan sikap 

kompromi yang mencari hal-hal yang dianggap terbaik dari dunia ini.”12 

Jadi, “Yakobus bukan menolak doktrin pembenaran oleh iman dari 

Paulus melainkan justru menolak penyimpangan terhadap doktrin 

tersebut.” Itulah sebabnya Yakobus ingin mempertanyakan kontribusi 

apa yang harus dilakukan oleh manusia dalam  hubungannya dengan 

keselamatan yang sudah tersedia. Hal yang sama juga sedang terjadi di 

                                                             

 

masa kini dimana ada orang hanya berkata percaya Yesus namun  tetap 

hidup di dalam dosa sebab  merasa Kristus sudah menebus dosanya di 

atas kayu salib.  

Dalam hal ini Yakobus ingin mempertanyakan bukti keselamatan 

dari orang-orang yang mengaku diri sudah diselamatkan. Kalau orang-

orang yang mengaku diri sudah diselamatkan itu ternyata tidak 

memperlihatkan perbuatan yang sudah diselamatkan maka pada 

prinsipnya mereka belum diselamatkan sekalipun mereka mengaku 

bahwa mereka memiliki iman. Itulah sebabnya Yakobus berkata, “Sebab 

seperti tubuh tanpa roh yaitu  mati, demikian jugalah iman tanpa 

perbuatan-perbuatan yaitu  mati.” (Yak. 2:26) Dengan kata lain Yakobus 

ingin menantang orang-orang yang berkata memiliki iman agar 

memperlihatkannya dalam perbuatan. Di sini dia ingin menekankan sisi 

manusianya, bukan dalam pengadaan keselamatan namun  dalam 

pembuktian keselamatan yang sudah di alami oleh setiap orang yang 

sudah diselamatkan. Jadi Yakobus memfokuskan diri pada perilaku 

orang yang sudah menerima keselamatan itu melalui iman. sebab  iman 

yang sesungguhnya yaitu  iman yang bukan hanya ada di hati, namun  

juga yang terlihat dalam realita hidup sehari-hari.  

Iman yang hidup tidak bisa dipisahkan dari perbuatan. Hal iu 

terlihat dari frasa iman tanpa perbuatan adalan mati. Kata “tanpa” 

terjemahan dari chóris yang memiliki arti terpisah dari; artinya kalau 

iman itu terpisah dari perbuatan, maka sesungguhnya iman iu yaitu  

iman yang mati. Dengan kata lain iman yang sungguh telah mengalami 

keselamatan akan terlihat dari cara hidup orang yang memiliki iman itu. 

“Yakobus menggunakan konsep iman menurut penegasan rabi tentang 

emunah, yang berarti penegasan tentang monoteisme! Bagi Yakobus 

iman itu yaitu  pendapat yang ortodoks.”13 Suatu pandangan yang luhur 

dan bukan sebuah pernyataan yang tanpa makna. Jadi, dia mendorong 

penerima suratnya agar tidak membuat ringan arti iman yang 

sesungguhnya. Iman bukan hanya di mulut namun  juga di dalam tindakan 

yang nyata.  

                                                             

Satu hal yang sering dianggap orang bahwa Yakobus memiliki 

pemahaman dimana manusia dibenarkan oleh perbuatan seperti yang 

terdapat dalam Yakobus 2:21 yang berbunyi, “Bukankah Abraham, bapa 

kita, dibenarkan sebab  perbuatan-perbuatannya, ketika ia 

mempersembahkan Ishak, anaknya, di atas mezbah?” Dalam ayat ini 

memang terlihat sepintas bahwa perbuatan Abraham yang 

mempersembahkan Ishak menjadi alasan Allah membenarkan dia. Hal 

itu terlihat dari kata “perbuatan”. Kata ini yaitu  terjemahan dari “ergon” 

yaitu sebuah kerja keras sebagai usaha dari sebuah perkerjaan. Padahal 

kalau kita menyimak lebih jauh ungkapan di atas maka kita akan melihat 

bahwa kata yang dipakai di sana bukan kata perbuatan dalam bentuk 

tunggal namun  jamak, yaitu “ergōn” atau perbuatan-perbuatan. Artinya 

jauh sebelum Abraham mempersembah-kan Ishak anaknya, ia telah 

melakukan hal-hal yang menunjukkan imannya termasuk dalam 

mempersembahkan Ishak. “Yang dimaksud perbuatan oleh Yakobus 

bukan perbuatan menurut pemahaman Yahudi yaitu sarana untuk 

memperoleh keselamatan, namun perbuatan iman, hasil moral dari 

kesalehan sejati dan khususnya perbuatan kasih” 14  Dengan demikiaan 

perbuatan-perbuatan yang didasari oleh iman itulah yang dinilai oleh 

Allah sebagai kebenaran. “Lalu percayalah Abraham kepada TUHAN, 

maka TUHAN memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.” 

(Yak. 2:23). Dengan kata lain, perbuatan-perbuatan yang didasari oleh 

imannya kepada Allah yang memanggil dia mulai dari ketika dia harus 

meninggalkan negerinya sampai kepada perintah Allah untuk 

mempersembahkan Ishak dinilai Allah sebagai kebenaran. Kata 

kebenaran yaitu  terjemahan dari dikaiosuné yang memiliki arti 

kebenaran, di mana Allah yaitu  sumbernya. Dengan kata lain kebenaran 

dari Allah yang benar yang membenarkan manusia yang percaya kepada-

Nya. Dalam hal ini dibenarkan berarti diakui benar di hadapan Allah. Hal 

ini menegaskan sinergi antara iman dan perbuatan dan itulah iman yang 

sejat.  

Kata dibenarkan tercakup juga di dalamnya tindakan. Itulah 

sebabnya Yakobus menanggapi tindakan Abraham ini sebagai tindakan 

                                                             

 

yang dibenarkan di hadapan Allah sebab  Abraham melakukannya 

didasari oleh imannya kepada Allah yang memanggil dia. “Jadi kamu 

lihat, bahwa manusia dibenarkan sebab  perbuatan-perbuatannya dan 

bukan hanya sebab  iman.” (Yak. 2:24) Di sini Yakobus tidak berkata 

bahwa manusia dibenarkan lewat perbuatannya namun  dibenarkan bukan 

hanya sebab  iman. Yakobus mau menegaskan bahwa yang 

membenarkan manusia di hadapan Allah yaitu  imannya yang nyata 

dalam perbuatan. Sebab “Iman yang sejati akan menampakkan diri dalam 

perbuatan, dan hanya iman yang semacam inilah yang menghasilkan 

pembenaran.” 15  Itulah sebabnya Yakobus memaparkan sebuah contoh 

yaitu kehidupan Rahab untuk membuktikan hal itu. Rahab bukan hanya 

percaya bahwa Allah orang Israel itu yaitu  Allah yang Mahakuasa, 

namun  dia juga mewujud nyatakan imannya itu dalam perbuatan. Hal itu 

terlihat ketika dia hendak menolong dua pengintai yang masuk ke 

rumahnya. Dengan demikian Rahab memperlihatkan imannya dari 

perbuatannya dan perbuatannya menunjukkan imannya. Dengan 

demikian “... perbuatan-perbuatan yang baik menjadi bukti dari buah-

buah dari iman.”16  

Jadi, Yakobus lebih menekankan sisi penerapan iman dalam 

hubungannya dengan keselamatan manusia. Dengan demikian perbuatan 

yang didasari oleh iman yaitu  bukti pembenaran seseorang di hadapan 

Allah. Dan iman yang diwujudkan dalam perbuatan membuktikan iman 

itu yaitu  iman yang sejati. 

  

KESAMAAN DOKTRIN IMAN KESELAMATAN 

DALAM PAULUS DAN YAKOBUS 

Sekalipun doktrin keselamatan dari rasul Paulus kontras dengan Yakobus 

namun pada hakekatnya yaitu  sama. Kesamaan yang bisa dilihat yaitu  

dari sisi manusia yang merespons keselamatan itu. Paulus dan Yakobus 

sama-sama menyadari bahwa respons yang tepat untuk mengalami 

keselamatan yaitu  iman  

                                                             

Dalam hubungannya dengan keselamatan, Rasul Paulus 

menekankan sisi iman lebih daripada penulis yang lain dalam PB. Ini 

menunjukkan bahwa dia sangat menekankan sisi ini kalau ingin 

mengalami keselamatan yang Allah sudah sediakan. Sebab hanya lewat 

iman, manusia bisa mengalami keselamatan dalam Kristus. Dalam Roma 

6:11 berkata, “Demikianlah hendaknya kamu memandangnya: bahwa 

kamu telah mati bagi dosa, namun  kamu hidup bagi Allah dalam Kristus 

Yesus.” Dan dalam Kolose 2:12 berkata, “...sebab  dengan Dia kamu 

dikuburkan dalam baptisan, dan di dalam Dia kamu turut dibangkitkan 

juga oleh kepercayaanmu kepada kerja kuasa Allah, yang telah 

membangkitkan Dia dari orang mati.” Dari ayat-ayat ini Paulus 

memaparkan “bahwa melalui iman, Roh Kudus menyatakan diri kepada 

manusia melalui semua karya dan anugerah-Nya, dan membuat manusia 

berbagi dalam hidup baru.”17  Jadi, iman yang dimiliki oleh manusia itu 

menjadi sarana untuk mengalami keselamatan yang dari Allah.  

Dan iman itu yaitu  milik manusia dan bukan pemberian atau 

anugerah. Hal itu terlihat dari kasus dari kata yang dipakai pisteōs yaitu 

genetif. Hal ini menunjukkan peran manusia dalam keselamatan, namun  

bukan pada pengadaan namun  lebih pada tindakan untuk mengalami. 

Sebab Rasul Paulus tidak hanya menekankan sisi iman dalam sebuah 

pernyataan semata, namun  juga ia menekankannya dalam sebuah aplikasi 

yang nyata dalam kehidupan sehari-hari. Hal itu terlihat dalam 2 

Korintus 13:5, “Ujilah dirimu sendiri, apakah kamu tetap tegak di dalam 

iman. Selidikilah dirimu! Apakah kamu tidak yakin akan dirimu, bahwa 

Kristus Yesus ada di dalam diri kamu? Sebab jika tidak demikian, kamu 

tidak tahan uji.” Mengenai ayat ini Ridderbos memberikan ulasan:  

“Apa yang dinyatakan secara eksplisit dan langsung oleh ayat-ayat 

ini, dinyatakan secara tidak langsung oleh ayat-ayat di dalam mana 

Paulus mengganti istilah “di dalam Kristus” dan “di dalam Roh”, 

dengan “di dalam iman” atau “oleh imam”. Hidup, berjalan, dan 

berdiri di dalam Kristus seperti yang diungkapkan dalam Roma 

6:11, Kolose 2:6, Filipi 4:1, 1 Tesalonika 2:8, yang ditempat lain 

disebut sebagai hidup dan berjalan oleh Roh seperti di dalam 

Galatia 5:25 dan Roma 8:4, disebut pula sebagai hidup berjalan dan 

                                                             

berdiri dalam iman seperti dalam Galatia 2:20, 2 Korintus 5:7, 

Roma 11:20, 1 Korintus 16:13, 2 Korintus 1:24.”18 

Pernyataan di atas, Paulus sesungguhnya mendorong setiap jemaat 

untuk bukan saja memiliki iman dalam hati namun  juga mewujud 

nyatakannya dalam kehidupan sehari-hari. Sebab kata yang dipakai oleh 

Paulus yaitu  “tetap tegak di dalam iman”. Kata “tegak” yaitu  

terjemahan dari este. Kata ini memiliki bentuk kini indikatif aktif, yang 

memiliki arti suatu tindakan yang pasti dilakukan saat ini. Dengan kata 

lain Paulus ingin mempertanyakan apakah jemaat masih sedang 

bertindak di dalam iman. Atau apakah mereka tetap bergerak di dalam 

iman? Jadi, setiap orang yang percaya kepada Tuhan Yesus Kristus, 

imannya itu harus ditindak lanjuti dalam perjalanan hidup sehari-hari. 

Hal itu juga terlihat dari kata yang dipakai oleh Paulus yaitu “ujilah” atau 

“selidikilah” terjemahan dari peirazete yang memiliki bentuk imperatif 

yang berarti tindakan yang diharapkan untuk dilakukan. Tindakan 

diharapkan itu yaitu  untuk membuktikan iman mereka tetap teguh. Hal 

ini menunjukkan suatu upaya yang tidak hanya berhenti di satu titik. Jadi, 

iman itu tidak berhenti di hati namun  juga terus berlangsung dalam 

tindakan hidup setiap hari.   

Penekanan iman juga dilakukan oleh Yakobus dalam hubungannya 

dengan keselamatan. Walaupun sepintas seolah-olah dia tidak terlalu 

memperhitungkan iman ini dalam perilaku hidup sehari-hari. Alasan dari 

pernyataan ini tentu diambil dari ungkapan Yakobus yang berkata, 

“Apakah gunanya, saudara-saudaraku, jika seorang mengatakan, bahwa 

ia memiliki  iman, padahal ia tidak memiliki  perbuatan? Dapatkah 

iman itu menyelamatkan dia?” (Yak. 2:14) Sepertinya Yakobus lebih 

menekankan pada perbuatan dari pada iman. Padahal justru sebab  

Yakobus menekankan imanlah maka dia berbicara tentang wujud nyata 

dari iman itu. “Dalam hal ini, jenis iman yang dipertanyakan oleh 

Yakobus yaitu  iman yang hanya bersifat teoritis dalam pengertian 

percaya, namun  tidak mempraktekkan hal yang dipercayai.”19 Sikap inilah 

yang ditentang oleh Yakobus sebab  iman yang seperti itu yaitu  iman 

yang sia-sia. Hal itu terlihat dari pernyataannya yang berkata, “Apa 

gunanya…”  

Pernyataan ini sekaligus ingin memberitahukan bahwa tidak ada 

manfaat yang akan didapatkan dari iman yang terpisah dari perbuatan. 

Dan iman yang seperti ini yaitu  iman yang palsu. Dan sebaliknya iman 

yang sejati yaitu  iman yang nyata dalam perbuatan. Hal itu ditegaskan 

oleh Yakobus ketika dia berkata, “namun  mungkin ada orang berkata: 

"Padamu ada iman dan padaku ada perbuatan", aku akan menjawab dia: 

"Tunjukkanlah kepadaku imanmu itu tanpa perbuatan, dan aku akan 

menunjukkan kepadamu imanku dari perbuatan-perbuatanku." (Yak. 

2:18) Di sini Yakobus menantang orang yang hanya memiliki iman namun  

tanpa perbuatan dibanding dengan dia yang memiliki perbuatan dari 

imannya. Yakobus memberitahukan imannya bukan lewat pernyataan 

namun  lewat kenyataan hidup yang dibuktikan sebagai ‘yang memiliki 

iman.  

Dengan kata lain, Yakobus lebih menekankan imannya itu dalam 

perbuatan daripada orang-orang yang memiliki iman namun  tidak 

memiliki perbuatan yang menunjukkan bahwa orang-orang seperti ini 

yaitu  orang yang tidak serius dengan imannya. Keseriusan Yakobus 

dengan iman itu digambarkannya dengan memperbandingkan sikap Iblis 

dengan orang percaya dengan berkata, “Engkau percaya, bahwa hanya 

ada satu Allah saja? Itu baik! namun  setan-setan pun juga percaya akan 

hal itu dan mereka gemetar.” (Yak. 2:19) Kata “gemetar” yaitu  

terjemahan dari phrissó  yang didalamnya ada unsur takut. Dalam hal ini 

Yakobus ingin membertihukan kepada mereka yang memiliki iman tanpa 

perbuatan bahwa iman iblis lebih bagus daripada iman mereka. Sebab 

Iblis percaya dan gemetar sedang mereka hanya percaya namun  tidak 

dilanjutkan dengan perbuatan yang nyata.  

Jadi, Yakobus justru menekankan iman yang lebih kongkrit sama 

seperti Paulus yang menginginkan orang percaya menjalani 

kepercayaannya itu dalam setiap aspek hidup sehari-hari.  

 


KEUNIKAN DOKTRIN KESELAMATAN  

DARI PAULUS DAN YAKOBUS 

Melihat hal-hal di atas maka kita melihat bahwa ada keunikan 

pendekatan yang dimiliki oleh Paulus dan Yakobus sehingga terlihat 

doktrin yang mereka miliki kontras. Tidak bisa dipungkiri bahwa baik 

Rasul Paulus maupun Yakobus memiliki maksud dan motif dan focus 

nya masing-masing dalam memaparkan doktrin keselamatan kepada 

pembacanya. Hal ini terjadi sebab  fokus perhatian mereka berbeda 

dalam melihat hal yang sama. Bisa saja perhatian Paulus tertuju kepada 

sesuatu hal di mana hal itu tidak terlalu diperhatikan oleh Yakobus dan 

sebaliknya. Itulah sebabnya perlu melihat keunikan masing-masing 

penulis PB ini.   

 

PAULUS: IMAN SAJA UNTUK PEMBENARAN 

Perbedaan pendekatan ini terjadi sebab  mereka memiliki tujuan 

penulisan suratnya itu secara berbeda. Paulus menulis surat-suratnya 

untuk menghadapi orang-orang yang mencoba menyimpangkan ajaran 

tentang keselamatan dari karya Allah menjadi usaha manusia. Dengan 

demikian arti kematian Kristus menjadi sia-sia. sedang  surat 

Yakobus di buat dengan latar belakang orang Kristen yang menjadi 

alamat surat ini sedang acuh tak acuh dengan kehidupan yang 

mencerminkan Kristus. Itulah sebabnya dia lebih menekankan pada 

perbuatan yang harus dimiliki oleh orang yang sudah 

diselamatkan. “Bagi Paulus pembenaran punya kepentingan khusus 

mengingat adanya wawasan Yahudi tentang jasa yang mengarah kepada 

penitikberatan perbuatan.” 20  sedang  Yakobus meyakini bahwa 

manusia dibenarkan bukan hanya dengan iman saja namun  iman yang 

diwujud nyatakan dalam perbuatan. “Paulus berbicara tentang deklarasi 

dari kebenaran dan Yakobus tentang demonstrasi dari kebebaran.” 21   

“Bagi Paulus perbuatan berarti perbuatan ketaatan yang formal terhadap 

Taurat yang menjadi dasar kemegahan terhadap hasil pekerjaan yang 

                                                             

baik. Bagi Yakobus, perbuatan yaitu  perbuatan kasih Kristen – 

perbuatan yang menggenapi “hukum utama” tentang mengasihi 

sesama.”22 Yang satu penekanannya kepada usaha untuk menghasilkan 

keselamatan – tentu upaya yang sia-sia sebab  tidak mungkin, sedang  

yang satu lagi penekanan usaha untuk mewujudkan bukti keselamatan 

yang sudah dimiliki. 

Paulus tidak pernah memberi ruang kepada perbuatan untuk 

mengadakan atau menyediakan keselamatan. Itulah sebabnya berkali-kali 

dia mengingatkan pembacanya agar menjauhkan diri dari pemikiran 

bahwa manusia bisa diselamatkan lewat perbuatan termasuk perbuatan 

dalam mentaati hukum Taurat. Hal itulah yang Paulus ungkapkan ketika 

dia menulis dalam Roma 3:20, “Sebab tidak seorang pun yang dapat 

dibenarkan di hadapan Allah oleh sebab  melakukan hukum Taurat,”  

Frasa “seorangpun” yaitu  terjemahan dari kata pasa sarx yang artinya 

“satu atau cara manusia” sehingga ayat diatas bisa diterjemahkan 

menjadi “tidak satu cara manusiapun” Jadi, Paulus memiliki pemahaman 

akan pembenaran manusia di hadapan Allah bukan di dalam hukum 

Taurat namun  di dalam anugerah Allah. “Inti dari doktrin Paulus tentang 

pembenaran yaitu  pembebasan total dari kesalahan oleh Allah 

berdasarkan anugerah melalui iman, dan tanpa perbuatan Taurat."23    

 Hal unik yang lain dari doktrin keselamatan dari rasul Paulus 

yaitu  tentang iman. Iman di sini yaitu  iman kepada Yesus Kristus 

yang dibedakan dari ketaatan kepada Taurat. "Di semua ayat yang 

mengartikan iman dengan kebenaran, pembenaran, iman berperan 

sebagai sarana, instrumen, cara, dasar, yang melaluinya, dengannya, atau 

di atasnya manusia berbagian dalam kebanaran Allah.” 24  Hal ini 

diungkapkan paling penuh dalam frasa “dari iman kepada iman” seperti 

yang tertulis di dalam Roma 1:17, “Sebab di dalamnya nyata kebenaran 

Allah, yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman, seperti ada 

tertulis: "Orang benar akan hidup oleh iman."   Dengan demikian iman 

yang sejati menurut Paulus yaitu  iman yang berfokuskan pada karya 

                                                             

 

penebusan Kristus di atas kayu salib. “Oleh imanlah kita menerima dan 

memiliki anugerah keselamatan. Keberanan Allah sampai kepada kita 

sebab  iman.”25 Penekanan Paulus mengenai pembenaran sebab  iman 

terjadi sebab  melihat upaya orang menitik beratkan pada ketaatan pada 

Taurat yang menghasilkan pembenaran. “Bagi Paulus pembenaran punya 

kepentingan khusus mengingat adanya wawasan Yahudi tentang jasa 

yang mengarah kepada penitikberatan perbuatan.”26 

Keunikan yang bisa kita temukan dalam surat Yakobus mengenai 

doktrin keselamatan yaitu  tentang iman. Yakobus memahami iman 

sebagi sebuah karya bukan pernyataan semata-mata. Itulah sebabnya dia 

berkata, “Sebab seperti tubuh tanpa roh yaitu  mati, demikian jugalah 

iman tanpa perbuatan-perbuatan yaitu  mati.” (Yak. 2:26) Di sini 

Yakobus ingin memperlihatkan “bahwa ada kesatuan antara tubuh dan 

roh dengan tepat menjelaskan adanya kesatuan antara iman dan 

perbuatan.” 27  Dengan demikian Yakobus memberi perhatian kepada 

tindakan kasih bukan sekedar pada kasih itu sendiri. Sebab tidak ada 

gunanya kasih kalau tidak ditindaklanjuti dengan perbuatan demikian 

juga tidak akan pernah bermakna iman yang hanya tersimpan dalam hati 

tanpa diwujudnyatakan dalam sebuah tindakan. “Apakah gunanya, 

saudara-saudaraku, jika seorang mengatakan, bahwa ia memiliki  iman, 

padahal ia tidak memiliki  perbuatan? Dapatkah iman itu 

menyelamatkan dia?” (Yak. 2:14) Dengan demikian Yakobus 

menegaskan bahwa iman hanya akan berarti jika  iman itu 

teraktualisasi dalam tindakan yang nyata.  

 

YAKOBUS: IMAN DALAM PERBUATAN YANG BENAR 

Keunikan yang lain dari doktrin keselamatan Yakobus terdapat dalam 

Yakobus 2:24, “Jadi kamu lihat, bahwa manusia dibenarkan sebab  

perbuatan-perbuatannya dan bukan hanya sebab  iman.” Kata “hanya” 

terjemahan dari monon yang juga berarti “satu-satunya” yang 

menunjukkan ada hal yang lain yang harus dilakukan yaitu aplikasi dari 


iman yang diperlihatkan. Di sini Yakobus menghubungkan keselamatan 

dengan perbuatan manusia. Perbuatan di sini bukan menjadi dasar dari 

keselamatan namun  buah dari keselamatan. Itulah sebabnya dia barkata 

bukan hanya sebab  iman. Artinya bahwa iman yang menyelamatkan itu 

yaitu  iman yang nyata dalam perbuatan. Perbuatan di sini yaitu  buah 

dari iman yang menjadi dasar dari keselamatan seperti yang diungkapkan 

oleh Paulus. Yakobus dalam hal ini tidak puas dengan iman, tapi 

menuntut iman Kristen sebagai bukti bahwa orang itu dibenarkan. 

Dengan demikian Yakobus menantang orang yang mengaku diri beriman 

untuk memperlihatkan iman yang menyelamatkan itu dalam perbuatan-

perbuatan yang nyata.  

Dengan demikian pembenaran, iman, dan perbuatan ini menjadi 

keunikan dari doktrin rasul Paulus maupun Yakobus. Mereka masing-

masing menyampaikan hal-hal itu dalam surat-suratnya dalam penekanan 

yang berbeda. Hal itu tentu memiliki maksud masing-masing sesuai 

dengan tujuan dari penulisan surat-surat mereka. Keunikan ini bukan 

menjadi masalah namun  menjadi sebuah harmonisasi yang diperlukan 

dalam mengajar jemaat untuk menjalani kehidupan kekristenan yang 

sesungguhnya.  

 

KESIMPULAN 

Doktrin keselamatan dari rasul Paulus dan Yakobus memiliki kesamaan. 

Namun harus diakui bahwa mereka memiliki pendekatan yang berbeda 

sehingga terlihat seolah-olah memiliki perbedaan. “Paulus dan Yakobus 

tidak saling bertentangan, namun  mereka berdua menyajikan masalah 

iman dan perbuatan baik dari sudut pandang yang berbeda.  

Rasul Paulus maupun Yakobus sama-sama mewartakan tentang 

iman dan perbuatan walaupun dalam penekanan yang berbeda. Satu sisi 

Paulus menekankan iman yang menjadi sarana untuk mengalami 

keselamatan. Di sisi yang lain Yakobus menekankan perbuatan sebagai 

buah dari iman yaitu  bukti dari orang yang sudah diselamatkan. Jadi, 

keselamatan yaitu  anugerah Allah yang diterima melalui iman. Namun 

iman yang sejati yaitu  iman yang teraktualisasi dalam kehidupan sehari-

hari.  


 

Abstrak:  Tulisan ini memberi afirmasi iman terhadap pandangan dunia 

pragmatisme di dalam pengelolaan pelayanan dan pemberitaan 

gereja sekarang yang mementingkan hasil yang terlihat secara 

kuantitas dan mengambil risiko apapun untuk berhasil dengan 

cara pandang duniawi sekalipun.   Tulisan ini menggunakan 

kajian pustaka. Fenomena praktis dalam gereja dan kemudian 

kerangka pikir pertanggungjawaban iman akan disusun 

berdasarkan prinsip-prinsip penjernihan iman apologetis, pada 

lingkup intelektual. Pragmatisme sendiri yaitu  suatu prinsip 

hidup yang menekankan pada sesuatu yang kelihatan saja 

sebagai penentu keberhasilan. Pemakaian prinsip hdup itu 

membuat pelayanan gereja hanya menekankan pada populasi, 

pertunjukan, kenikmatan gedung, hasil. Pertama kita melihat 

makna dan bahaya pragmatisme dalam gereja dan kedua, 

melihat penilaian iman Kristen terhadap pragmatisme gerejawi. 

 

Pragmatisme bukanlah hanya monopoli praktik non gereja, namun  juga 

praktik di dalam gereja Kristen. Pandangan hidup ini dapat hadir dalam 

setiap aspek kehidupan apapun dan di manapun tanpa terkecuali, sebab  

orang hanya mengejar kesuksesan yang terlihat secara kuantitas dan 

materialistik. Jadi, bukan dalam kekuasaan politik saja namun  sebagai 

suatu ideologi fungsional dia dapat hadir dengan mudah sebagai salah 

satu dampak dari globalisasi melalui media dan informasi.  

Tidak terkecuali gereja-gereja masa kini, termasuk gereja Injili 

yang dikenal sebagai komunitas gerakan yang sejati berdasar nilai-nilai 

doktrinal dan bertanda “lahir baru” sangat terpengaruh, khususnya dalam 

cara-cara pertumbuhan gereja dan praktik pengembangan serta 

pengelolaan gerejanya. Gereja-gereja Injili sekarang sangat transaksional 

dalam mengejar hasil-hasil yang kelihatan. Riset Barna menunjukkan 

bahwa pengaruh pragmatisme sangat besar, sebab  gereja-gereja Injili 

secara sadar sudah menjadikan filsafat hidup pragmatisme sebagai 

ukuran keberhasilan, seperti ditangkap dari survei di bawah,  

“Dua dari sepuluh orang dewasa yang telah lahir baru, 

melakukan apa yang mereka rasa benar atau nyaman dalam 

situasi yang ada. Kira-kira satu dari sepuluh orang percaya 

membuat keputusan moral mereka atas apapun yang menurut 

mereka akan menghasilkan keuntungan pribadi terbesar, atas 

apapun yang mereka yakin diharapkan oleh keluarga dan 

teman-teman dari mereka, atau atas apapun yang menurut 

mereka akan dilakukan oleh orang lain dalam situasi yang 

sama.”1 

                                                             

Orang Kristen di dalam tugas gerejawi masa kini seringkali lebih 

mengikuti hasrat pasar dan terjebak mengikuti keinginan dunia, konon 

supaya kelihatan lebih berkembang, maju, menarik, mendatangkan 

keuntungan, menampung aspirasi anak-anak muda dan penyembahan 

yang akhirnya mengabaikan prinsip-prinsip ajaran iman Kristen. 2  

Filsafat pragmatisme bukan hanya popular, namun juga –sebagai cara 

hidup– bersaing dengan cara hidup kekristenan.  

Secara khusus, pragmatisme sebagai cara pandang hidup masuk 

dalam iman Kristen dan tampak dalam cara bergereja masa kini. Gereja 

sebagai Tubuh Kristus menjadi identik dengan klub asosiasi minat 

duniawi atau kumpulan sosial. Pragmatisme sebagai ideologi non Kristen 

yang bersaing dengan teisme Kristen sangat berbahaya bagi gereja-gereja 

masa kini, yang tercemari dengan hasil terlihat di depan mata dan 

keberhasilan sesaat. Pentingnya menghadapi gereja-gereja selebritas 

masa kini yang telah dikosongkan isinya dari pikiran Kristus, sebagai 

pandangan dunia. Untuk itu, pertanggungjawaban iman harus diberikan 

terhadap pandangan dunia ini dalam suatu upaya penjernihan di gereja-

gereja yang terinfeksi ideologinya.   

Tulisan ini akan melihat pragmatisme sebagai tantangan atau 

musuh dunia luar gereja yang perlu dicermati dan ditangani dengan 

serius, sebab  akan membuat kekristenan tanpa Kristus lagi. Tepatnya, 

hanya ‘Kristus palsu’ seperti yang digadang-gadang pada era banci ini 

sebagai usaha hybrid, yang memunculkan Kristus yang lain di dalam 

gereja.  

Di sini usaha penjernihan iman apologetis di dalam gereja harus 

dilakukan. Tugas apologetika bukanlah hanya sekadar usaha pembelaan 

dan menghindai usaha penyerangan, seperti yang disarankan oleh John 

Frame dalam bukunya Apologetika Bagi Kemuliaan Allah.  

Dalam hal ini, kajian apologetisnya diarahkan pada fungsi dan 

tugas penjernihan di dalam gereja dengan: 1) Mengungkapkan situasi dan 

kondisi gereja yang dipengaruhi oleh worldview pragmatisme.               

                                                             

 

2) Merumuskan prinsip-prinsip kerangka penjernihan iman dalam gereja. 

3) Lalu menjernihkan racun pragmatisme. 

 

KONDISI GEREJA-GEREJA YANG TERTAWAN 

PRAGMATISME 

“Tertawan” maksudnya dikuasai dan ditarik oleh gaya hidup yang 

mengutamakan hasil kelihatan, berapapun harganya dan apapun 

alasannya.  Ini secara etis seperti menghalalkan segala cara untuk 

berhasil, termasuk dalam pengelolaan gereja-gereja.  

 

PRAGMATISME SEBAGAI WAWASAN HIDUP DUNIAWI 

Secara umum “pragmatisme” dimengerti sebagai “kepercayaan bahwa 

kebenaran atau nilai suatu ajaran (paham, doktrin, gagasan, pernyataan, 

ucapan, dan sebagainya) bergantung pada penerapannya bagi 

kepentingan manusia.”3   Kata itu sendiri berasal dari bahasa Yunani, 

yaitu “pragma” yang artinya “sesuatu yang dilakukan”, “tindakan”, 

“kerja”, “akibat”, dan prossein yang artinya “lakukan” 4 tepatnya 

melakukan. Akhiran “isme” bermakna ajaran, paham atau aliran yang 

pada dasarnya yaitu  suatu sistem filosofis pemikiran atau doktrinal 

yang mementingkan hasil daripada faktor-faktor yang memungkinkan 

terwujudnya hasil tersebut. Singkatnya, paham ini menekankan sesuatu 

yang memberi akibat-akibat atau hasil-hasil secara “praktis”, yang 

mementingkan manfaatnya tanpa memperhatikan prosesnya. 5  Dan ini 

berbahaya dalam iman dan pelayan gereja yang mengutamakan esensi 

nilai, khususnya moral alkitabiah.  

Walau sering kali “pragmatical” disamakan sepintas lalu dengan 

“practical”, seperti penjelasan berikut: (1) Adapted to practice or, 

pragmatical use, hard-headed, matter-of-fact, not speculative, not 

                                                                Maksudnya tidak 

menghargai pengertian-pengertian ideal dalam kehidupan. Dan inti dari 

etika dan kepercayaan dapat dilanggar demi mendapat tujuan akhir yang 

demikian.7  Kata sifat “pragmatis” yaitu  hal-hal yang menempel sebagai 

manfaat relatif dan kegunaan sesaat pada suatu pekerjaan.  

 Jiwa filsafat pragmatisme menolak nilai-nilai universal dan 

absolut, namun justru berfokus pada pengalaman seseorang tentang 

lingkungan yang terus-menerus berganti. Misalnya, Richard Rorty 

berpendapat “kebenaran” hanyalah sebuah konsep atau gagasan untuk 

membenarkan tindakan-tindakan dalam situasi yang kita hadapi.  Semua 

itu sangat bersifat individualistik, artinya tidak mengakui sesuatu yang 

bersifat absolut, sebab  semuanya ditentukan oleh individu-individu yang 

bebas. Akibat kebenaran dinilai secara subjektif. 

Secara historis, dasar pragmatisme berasal dari pandangan etis 

utilitarianisme, yaitu paham yang sangat menekankan hasil atau manfaat 

akhir yang lebih mengarah pada kebahagian secara umum. Perbedaannya 

kalau pragmatisme lebih mementingkan kepentingan sesaat atau 

sementara dan setiap saat bisa berubah tergantung dengan 

kepentingannya. Ini tentunya sangat berbahaya sebab  setiap tindakan 

yang diambil dapat dibenarkan, cukup dengan menyatakan bahwa 

kebenaran itu yang membuat tindakan dan paling penting yaitu  

hasilnya.8 Pragmatisme bersifat doktrinal bagi manusia atau penganutnya 

yang menguji kebenaran berdasarkan konsekuensinya,9  bukan prinsip-

prinsip esensinya. Filsafat hidup ini mengandung aspek religius.10  Ini 

                                                             

 

sebabnya pandangan hidup ini sangat digemari manusia yang hanya mau 

sukses sesaat tanpa menimbangkan masa depan yang panjang. 

Ada tiga sudut pandang awal untuk mengerti pragmatisme yang 

diwakili oleh tiga pendukung utama. Yang pertama, Peirce, yang tidak 

menyetujui cara James mengembangkan ide-ide pragmatismenya; 

menurutnya semua ide harus diuji berdasarkan konsekuensinya dalam 

pengalaman. 11   Kebenaran menurutnya ditemukan melalui proses 

pencarian, kesesuaian pernyataan abstrak dengan batas ideal yang dapat 

diterima oleh seorang penyidik.12  Jadi, menurutnya kebenaran dari suatu 

ide harus dapat  dibuktikan. 

Kedua, Wiiliam James, secara epistemologi telah mengembangkan 

pragmatisme Peirce dari sekadar metode menjadi teori kebenaran, agama, 

dan seluruh filsafat pada umumnya. 13   James beranggapan bahwa 

kebenaran identik dengan verifikasi (pembenaran), sebagai langkah 

untuk menentukan kebenarannya; 14  yang dimaksud verifikasi yaitu  

pengalaman konkret manusia. Pragmatisme yaitu  suatu paham atau 

ajaran yang memandang kebenaran ditentukan oleh hasil akhir yang 

bermanfaat.15  Di sini yang terpenting tujuan atau hasil, bukan cara untuk 

mencapainya. 16  Pragmatisme mencoba menginterprestasikan setiap 

gagasan dengan konsekuensi praktis dari setiap gagasan itu.17  Dalam hal 

ini sangat menekankan sebab akibat, ide menjadi benar, dibuat benar oleh 

kejadian. 18   Dalam hal ini kebenaran membutuhkan proses. Tujuan 

filosofi fungsionalisme pragmatisme, dirintis pertama kali oleh William 

James seorang psikolog yang dipengaruhi oleh gerakan psikologi 

                                                             

fungsionalisme. 19   Fungsionalisme sendiri yaitu  suatu paham yang 

menekankan keberhasilan fungsi dari suatu pekerjaan. Pragmatisme, 

seperti beberapa aliran filsafat modern kontemporer yang lain, memiliki 

banyak varian pemikiran di dalamnya.20 Sementara itu, Dewey lebih pada 

eksperimentalisme atau pragmatisme yang menekankan pada penemuan 

empiris ilmu pengetahuan dan segala perubahan dunia serta segala 

permasalahannya dalam kacamata ilmu pengetahuan. Cara berpikir yang 

seperti ini sangat memengaruhi dunia pendidikan pada masa kini. Ada 

dua pengaruh dari pemikiran dalam proses pendidikan moral: 1) 

Pengalaman manusia menjadi dasar pendidikan karakter. 2) Karakter 

bersifat prosedural.21 

 

KARAKTER GEREJA-GEREJA TERKONTAMINASI 

PRAGMATISME 

Peracunan pemikiran pragmatis dalam gereja, dalam bukunya yang 

berjudul Kekristenan Tanpa Kristus, Michael Horton mengutip laporan 

Newsweek, “Gereja-gereja telah mengembangkan kekristenan ‘ambil dan 

pilih’, para individu mengambil apa yang mereka inginkan...dan 

melewatkan apa yang tidak cocok dengan sasaran-sasaran rohani 

mereka.22   Ini merupakan bentuk pragmatisme yang tidak kasat mata 

namun  nyata dalam praktik kehidupan bergereja. Mengutip hasil-hasil 

evaluasi yang dilakukan oleh Alan Wolfe, Ron Sider melihat hal-hal 

memalukan dalam kalangan Injili, “Terdapat perbedaan tipis antara 

sebuah aktivitas duniawi seperti industri hiburan popular dengan upaya 

                                                             

dari banyak megachurch Injili untuk menarik orang sebanyak mungkin 

dengan ongkos berapapun.”23 Selanjutnya, Paul Elliot berpendapat gereja 

Injili masa kini, sedang mencoba untuk menerjemahkan pragmatisme ke 

dalam cara berpikirnya, “Ketika kita memperoleh hasil yang dapat dilihat 

(contohnya: jumlah anggota gereja, persembahan yang banyak, memiliki 

gedung yang besar, banyak aset, ada banyak aktivitas yang menarik dan 

dipandang baik oleh dunia) berarti Tuhan sedang memberkati. 24 

Akhirnya, gereja-gereja dan iman Kristen masa kini telah terjebak 

mengikuti fenomena dan tren-tren yang sedang berkembang, sehingga 

pada akhirnya gereja terkontaminasi menjadi pragmatis. Racun 

pragmatisme masuk dan memengaruhi sistem-sistem yang ada dalam 

gereja. Ketika doktrin sudah mulai diabaikan, maka penyimpangan 

pragmatis biasanya akan terjadi di dalam kegiatan dan pelayanan gereja. 

Michael Horton menilai kondisi, “Gereja-gereja yang sedang 

bertumbuh dan bisnis-bisnis yang sedang bertumbuh mengikuti prosedur-

prosedur standar yang sama dalam hal efisien pragmatik.”25  Menurutnya, 

bahkan gereja-gereja Injili yang terkenal dengan kekristenan lahir baru 

tidak segan-segan memakai cara-cara pragmatik ala dunia seperti ini, 

“Kristen Injili nampaknya sedikit demi sedikit hendak memeluk gaya 

hidup sebagai kaum hedonis, materialistik, berpusat pada diri sendiri, dan 

berperilaku amoral dalam hal seksual, seperti dunia pada umumnya.”26 

Selanjutnya terkait dengan megachurch, David F. Wells mengungkap 

“…perhatian media yang sedang diterimanya, dan modus operandinya 

yang pragmatis dilakukan secara terang-terangan dan tanpa malu-

malu.” 27   Selama ini, dalam pekerjaan misi lintas budaya dan 

                                                             

pertumbuhan gereja, pragmatisme dipakai dan dijadikan sebagai suatu 

prinsip teologis yang sangat diminati untuk mencapai kuantitas. 28  

Sekarang ini salah satu yang paling akut berpengaruh dalam kegiatan 

gereja yaitu  pandangan hidup pragmatisme, khususnya dalam 

pelayanan-pelayanan gereja yang berorientasi pada kuantitas nominal. 

Pragmatisme telah menjadi tantangan terhadap kekristenan 

sekarang, di mana pemimpin gereja dan orang-orang Kristen terjebak di 

dalamnya, yang dikatakan oleh Blamires sebagai ancaman yang tidak 

disadari.29  Selain itu, banyak dari mereka sengaja menggunakan praktik 

pragmatisme sebagai cara untuk mencapai ambisi pribadi, popularitas 

gereja atau denominasi, yang di dalamnya terjadi persaingan antar gereja, 

yang berlomba-lomba untuk melakukan berbagai penawaran yang 

menarik supaya orang mau datang ke gereja.30  Akhirnya, gereja tidak 

jauh beda dengan pujasera yang menjual berbagai macam menu 

masakan, demi memuaskan dan memenuhi kebutuhan pasar.  

Hal ini juga terlihat dari pengakuan seorang bernama Craig 

Groeschel, seorang gembala senior yang menceritakan pengalaman hidup 

dan kesaksiannya, sekalipun ia sering berkhotbah dan menggembalakan 

jemaat, namun dirinya pernah terjebak pada cara pandang dunia yang 

sama sekali tidak alkitabiah. Demikian ungkapnya, 

         “Aku percaya kepada Tuhan, namun tidak cukup memercayai-

Nya untuk meletakkan seluruh hidupku di dalam gerobak-Nya. 

Aku tahu Tuhan bisa memenuhi janji-janji-Nya, tapi aku tidak 

pernah yakin Ia akan melakukannya untukku. Pandangan ateisku 

yang egois yaitu  Tuhan ada untukku, bukannya aku untuk-Nya. 

Jika Ia akan melakukan apa yang menurutku sudah seharusnya 

Ia lakukan, aku akan lebih memercayai-Nya, Jenis Tuhan yang 

ingin kupercayai ialah begini: jika Ia tidak seperti apa yang 

kuinginkan, maka Ia tidak bisa memiliki seluruh hidupku.”31  

                                                         

 

Pengakuan dari Craig ini memberitahukan, ternyata ia pun mengadopsi 

pemikiran dan gaya hidup pragmatisme yang menganggap segala 

sesuatunya selalu dilihat dari manfaat yang mendatangkan keuntungan, 

kepuasan, dan keinginan diri.  Ini yaitu  soal paradigma dan konsep 

pemikiran ideologis yang mendasari perbuatan.  Pola pikir ini mungkin 

diadopsi begitu saja tanpa sadar bahwa iman melampaui manfaat dan 

hasil yang kelihatan saja.  

 

MODEL-MODEL GEREJA PRAGMATIK SELAMA INI 

Selanjutnya, kita dapat melihat beberapa model gereja yang pragmatik. 

Ini yaitu  identifikasi atas faktor-faktor pandangan dunia di dalam cara-

cara bergereja; 

1.  Gereja-gereja Wal-Mart 

Gereja Injili model ini umumnya berusaha untuk mengerti dan 

memenuhi keinginan konsumen. Gereja ini siap untuk berubah sesuai 

tuntutan dan keinginan pasar (dalam hal ini yaitu  pengunjung gereja), 

sebab  mereka memegang kendali. Ketika mereka datang ke gereja, 

mereka mirip seperti pelanggan yang sedang berkunjung ke mall. Dengan 

pemikiran seperti ini, gereja sangat berhati-hati dalam membicarakan 

iman Kristen di atas mimbar supaya tidak menyinggung mereka. 32 

George Barna menyimpulkan, setiap hari, gereja justru menjadi lebih 

seperti dunia yang semestinya diubahnya.” 33   Sider, memaparkan 

temuan-temuan dalam berbagai jajak pendapat nasional yang diadakan 

oleh lembaga-lembaga jajak pendapat yang dihormati, seperti The Gallup 

Organization dan The Barna Group dengan hasil yang sangat 

mengejutkan. Orang Kristen Injili nampaknya sedikit demi sedikit mulai 

memeluk gaya hidup hedonis, materialistik, berpusat pada diri sendiri, 

dan berperilaku amoral dalam hal seksual, seperti dunia pada umumnya. 

Akhirnya, gereja hanya membicarakan apa yang menyenangkan telinga 

                                                             

mereka. Kebenaran dikorbankan hanya untuk menarik dan 

menyenangkan pengunjung gereja. 

2.  Gereja Model Pujasera 

Menurut White, faktor utama mengapa banyak orang sekarang 

tidak mau datang ke gereja yaitu  pengaruh sekularisasi di era 

postmodern. Kehidupan manusia menjadi materialistik, konsumeristik, 

hedonistik, dan berpusat pada diri sendiri (anthroposentris). Gaya hidup 

ini bukan hanya  telah memengaruhi kekristenan namun  juga telah masuk 

ke dalam gereja. Contohnya, sekarang orang mau datang ke gereja ketika 

ada sesuatu yang menguntungkan dirinya. Ada juga y