Tentang hewan 7

Tentang hewan 7





 mpak bah-

wa domba telah sejak lama menjadi 

gantungan hidup manusia. Daging, 


susu, kulit, wool, bahkan kotoran he-

wan ini dimanfaatkan manusia untuk 

berbagai keperluan. Dalam ranah ilmu 

pengetahuan, domba juga memberi 

kontribusi nyata. Dalam ranah spiri-

tual, mungkin bukan dombanya yang 

menjadi penting, melainkan kenya-

taan bahwa sebagian besar nabi 

pernah menggembala domba atau 

kambing. Kehidupan sebagai gembala 

mengharuskan seseorang untuk be-

kerja sendiri dalam kesunyian dan 

dekat dengan alam. Suasana demikian 

tampaknya menjadi semacam pelatihan 

mental dan emosi untuk menyiapkan 

seseorang menerima “visi tentang 

Tuhan Yang Mahakuasa”. Kontak yang 

intensif dengan alam dan fenomena 

fisik yang dilihatnya mendorong sese-

orang untuk menyimpulkan dengan 

benar tentang alam semesta dan 

Penciptanya. Namun, itu saja tidak 

cukup. Observasi langsung dan alasan-

alasan yang bersifat deduktif tidak 

cukup untuk berhubungan dengan 

prinsip spiritual yang bekerja pada inti 

masalah. Ada hal lain yang berada di 

balik apa yang terlihat oleh mata dan 

terpikirkan oleh otak. Sesuatu yang 

amat penting ini tidak berbentuk 

fenomena fisik maupun transformasi 

energi. Tidak seorang pun, termasuk 

nabi, dapat mengerti dan memperoleh 

kenyataan dengan mengandalkan per-

sepsi intelektualnya saja. Allah meng-

ingatkan keterbatasan demikian ini 

kepada Rasulullah melalui firman-Nya,

Itulah sebagian dari berita-berita gaib yang Kami 

wahyukan kepadamu (Muhammad); tidak pernah 

engkau mengetahuinya dan tidak (pula) kaum-mu 

sebelum ini. Maka bersabarlah, sungguh, kesudah-

an (yang baik) yaitu  bagi orang yang bertakwa. 

(Hūd/11: 49)

11. KAMBING

Kambing disebut lima kali dalam Al-

Qur'an, baik sebagai hewan ternak 

dalam arti hakiki maupun sebagai 

metafor. Allah berfirman,

Ada delapan hewan ternak yang berpasangan 

(empat pasang); sepasang domba dan sepasang 

kambing. Katakanlah, “Apakah yang diharamkan 

Allah dua yang jantan atau dua yang betina atau 

yang ada dalam kandungan kedua betinanya? 

Terangkanlah kepadaku berdasar pengetahuan 

jika kamu orang yang benar.”  (al-An‘ām/6: 143)

Yang dimaksud dengan frasa 

“delapan binatang yang berpasangan” 

yaitu  sepasang kambing, sepasang 


domba, sepasang unta, dan sepasang 

sapi. Ayat ini berkaitan erat dengan ayat 

sebelumnya yang berbicara tentang 

hewan ternak. Seperti kita ketahui, 

menggembala kambing atau domba 

yaitu  pekerjaan yang dilakukan oleh 

nabi-nabi keturunan Ibrahim. Ayat 

berikut ini, meski tidak secara spesifik, 

memperlihatkan bahwa Nabi Musa 

pada suatu saat juga bekerja sebagai 

penggembala.

Ayat di bawah ini mengisahkan 

seseorang yang tidak tahu harus 

berbuat apa saat  saudaranya yang 

sudah memiliki 99 ekor kambing (dalam 

terjemahan bahasa Inggris disebutkan 

sebagai domba) memaksanya untuk 

menyerahkan satu-satunya kambing 

miliknya. Ayat ini menggambarkan 

banyaknya ketidakadilan, keserakahan, 

dan kezaliman di tengah kehidupan 

berwarga .

Dia (Musa) berkata, “Ini yaitu  tongkatku, aku 

bertumpu padanya, dan aku merontokkan (daun-

daun) dengannya untuk (makanan) kambingku, 

dan bagiku masih ada lagi manfaat yang lain.” 

(Ţāhā/20: 18)

Pada ayat berikut dikisahkan 

bagaimana Nabi Daud dan putranya, 

Sulaiman, menyelesaikan konflik yang 

muncul di tengah rakyatnya yang 

dipicu oleh sekawanan kambing milik 

seseorang yang merusak lahan perta-

nian milik tetangganya.

Dan (ingatlah kisah) Dawud dan Sulaiman, saat  

keduanya memberikan keputusan mengenai 

ladang, sebab  (ladang itu) dirusak oleh kambing-

kambing milik kaumnya. Dan Kami menyaksikan 

keputusan (yang diberikan) oleh mereka itu. (al-

Ambiyā'/21: 78)

Sesungguhnya saudaraku ini memiliki  sembi-

lan puluh sembilan ekor kambing betina dan 

aku memiliki  seekor saja, lalu dia berkata, 

“Serahkanlah (kambingmu) itu kepadaku! Dan dia 

mengalahkan aku dalam perdebatan.” Dia (Dawud) 

berkata, “Sungguh, dia telah berbuat zalim 

kepadamu dengan meminta kambingmu itu untuk 

(ditambahkan) kepada kambingnya. Memang 

banyak di antara orang-orang yang bersekutu itu 

berbuat zalim kepada yang lain, kecuali orang-

orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan; 

dan hanya sedikitlah mereka yang begitu.” Dan 

Dawud menduga bahwa Kami mengujinya; maka 

dia memohon ampunan kepada Tuhannya lalu 

menyungkur sujud dan bertobat.  (Șād/38: 23-24)

Ada beberapa ayat yang menye-

but bagian tubuh kambing sebagai 


perumpamaan, misalnya dalam rang-

kaian ayat berikut.  

Dengan demikian, ayat ini tampaknya 

ingin menegaskan bahwa orang yang 

demikian itu sifatnya tidak patut sama 

sekali diteladani dan diikuti. 

Banyak hadis yang menyebut 

kambing; kebanyakan menyebutnya 

dalam kaitan dengan aturan berkurban. 

Beberapa hadis yang berkaitan dengan 

kambing secara langsung di antaranya: 

َميَِّتًة  َشاًة  َم  َوَسلَّ َعَلْيِه  اهللُ  َصلَّ  النَّبِيُّ  َوَجَد 

َدَقِة ، َفَقاَل النَّبِيُّ  ُأْعطَِيْتَها َمْوالٌَة لَِْيُموَنَة ِمَن الصَّ

؟  بِِجْلِدَها  اْنَتَفْعُتْم  َهالَّ   : َم  َوَسلَّ َعَلْيِه  اهللُ  َصلَّ 

َم َحُرَم َأْكُلَها . )رواه  َا َمْيَتٌة ، َقاَل : إِنَّ َقاُلوا : إِنَّ

البخاري ومسلم عن ابن عباس(

Nabi pernah mendapati seekor kambing yang mati. 

Kambing itu dahulunya diberikan oleh seseorang 

kepada Maimūnah sebagai sedekah. Lalu Nabi 

bersabda, “Mengapa tidak kalian manfaatkan saja 

kulitnya?” para sahabat menjawab, “Kambing ini 

sudah mati.” Beliau bersabda, “Yang haram yaitu  

memakannya―bukan mengambil manfaat dari 


Dan janganlah engkau patuhi setiap orang yang 

suka bersumpah dan suka menghina, suka men-

cela, yang kian kemari menyebarkan fitnah, yang 

merintangi segala yang baik, yang melampaui 

batas dan banyak dosa, yang bertabiat kasar, 

selain itu juga terkenal kejahatannya, sebab  dia 

kaya dan banyak anak. (al-Qalam/68: 10-14)

Ayat 14 menyebut bahwa orang 

yang memiliki  banyak anak dan 

harta akan lebih mudah memperoleh 

pengikut. Akan namun , jika orang itu 

memiliki  sifat-sifat buruk seperti 

disebut pada ayat 10–13, tentu ia tidak 

patut diikuti dan diteladani.

Ada yang menarik dalam tafsiran 

terhadap ayat 13. Pada ayat ini , 

begitu tafsir ini, ada  kata “zanīm” 

yang berakar dari kata “zanāmah”, 

suatu kata yang secara literal berarti 

dua gelambir di leher kambing (bahasa 

Inggris: tassel). Tidak semua turunan 

kambing memiliki gelambir ini. Fungsi 

organ ini belum sepenuhnya diketahui. 

warga  awam menganggapnya 

sebagai organ yang tidak berguna. 

Oleh ayat ini orang yang sifat-sifatnya 

disebut dalam ayat-ayat sebelumnya 

diumpamakan dengan gelambir ini. 


kulitnya.” (Riwayat al-Bukhāri dan Muslim dari 

Ibnu ‘Abbās) 

َوُهَو  بُِغاَلٍم  َمرَّ  َم  َوَسلَّ َعَلْيِه  اهللُ  َصلَّ  النَّبِيَّ  إِنَّ 

َعَلْيِه  اهللُ  َصلَّ  اهللِ  َرُسوُل  َلُه  َفَقاَل   ، َشاًة  َيْسُلُخ 

ْلِد  َم : َتنَحَّ َحتَّى ُأِرَيَك ! َفَأْدَخَل َيَدُه َبْيَ اْلِ َوَسلَّ

َواللَّْحِم َفَدَحَس ِبَا َحتَّى َتَواَرْت إَِل اإِلْبِط ، ُثمَّ 

ْأ . )رواه أبو داود  َيَتَوضَّ َمَض َفَصلَّ لِلنَّاِس َوَلْ 

عن أب سعيد الدري(

Suatu saat Rasulullah berpapasan dengan 

seorang anak yang sedang menguliti kambing. 

Beliau berkata kepada anak itu, “Berhentilah 

sebentar; aku akan mengajarimu (bagaimana cara 

menguliti kambing dengan baik). lalu  beliau 

menyisipkan lengannya di antra kulit dan daging 

kambing itu sampai mencapai ketiak. sesudah  itu 

Rasulullah pun berlalu untuk mengimami salat 

para sahabatnya tanpa berwudu terlebih dahulu―

yakni tanpa mencuci tangan. (Riwayat Abū Dāwūd 

dari Abū Sa‘īd al-Khudri) 

 ، َكتًِفا  َم  َوَسلَّ َعَلْيِه  اهللُ  َصلَّ  اهللِ  َرُسْوُل  َأَكَل 

 . َفَصلَّ  َقاَم  ُثمَّ   ، َتُه  َتْ َكاَن  بِِمْسٍح  َيَدُه  َمَسَح  ُثمَّ 

)رواه أبو داود عن ابن عباس(

Rasulullah memakan belikat (kambing), lalu 

beliau mengusap tangannya dengan serbet dekat 

tempat duduknya. Beberapa saat lalu  beliau 

beranjak dan menunaikan salat. (Riwayat Abū 

Dāwūd dari Ibnu ‘Abbās) 

َعَلْيِه  اهللُ  َصلَّ  اهللِ  لَِرُسْوِل  َأْشِوْي  َلُكنُْت  َأْشَهُد 

ْأ . )رواه  َيَتَوضَّ اِة ، ُثمَّ َصلَّ َوَلْ  َم َبْطَن الشَّ َوَسلَّ

مسلم عن أب رافع(

Aku bersumpah bahwa aku memanggang untuk 

Rasulullah bagian perut kambing. (Beliau pun 

memakannya), dan beberapa saat lalu  beliau 

salat tanpa beruwudu terlebih dahulu. (Riwayat 

Muslim dari Abū Rāfi‘) 

َأْصَحابِِه  َبْيَ  َم  َوَسلَّ َعَلْيِه  اهللُ  َصلَّ  النَّبِيُّ  َم  َقسَّ

َيا   : َفُقْلُت   ، َجَذَعٌة  لُِعْقَبَة  َفَصاَرْت   ، َضَحاَيا 

َبَا !  َقاَل : َضحِّ  َرُسْوَل اهللِ ، َصاَرْت َجَذَعٌة ؟ 

)رواه البخاري عن عقبة بن عامر الهني(

Rasulullah membagi-bagi hewan-hewan kurban 

kepada para sahabatnya. saat  itu ‘Uqbah men-

dapat seekor jaża‘ah (anak kambing berumur enam 

bulan). Aku (‘Uqbah) bertanya, “Aku mendapat 

jaża‘ah?” Beliau menjawab, “Berkurbanlah dengan 

hewan itu.” (Riwayat al-Bukhāri dari  ‘Uqbah bin 

‘Āmir al-Juhani) 

 ، اَلِة  الصَّ َقْبَل  ُبْرَدَة  َأُبْو  َلُه  ُيَقاُل  ِلْ  َخاٌل  ى  َضحَّ

َم : َشاُتَك  َفَقاَل َلُه َرُسْوُل اهللِ َصلَّ اهللُ َعَلْيِه َوَسلَّ

َشاُة َلٍْم. َفَقاَل : َيا َرُسْوَل اهللِ ، إِنَّ ِعنِْدْي َداِجنًا 

َتْصُلُح  َوالَ  اِْذَبْحَها   : َفَقاَل   ، اْلَْعِز  ِمَن  َجَذَعًة 

َك . )رواه أبو داود عن الباء بن عازب( لَِغْيِ

Seorang pamanku yang bernama Abū Burdah 

menyembelih hewan kurbannya sebelum Salat Id. 

Rasulullah pun lantas berkata kepadanya, “Kam-

bingmu yaitu  kambing lauk (tidak sah menjadi 

kurban).” Pamanku menjawab, “Wahai Rasulullah, 

aku masih punya seekor anak kambing berumur 

enam bulan.” Beliau bersabda, “Kalau begitu, 

kurbankanlah, namun berkurban dengannya tidak 

sah bagi selain dirimu.” (Riwayat Abū Dāwūd dari 

al-Barrā' bin ‘Āzib)


Perikehidupan Kambing

Kambing (Capra hircus) yaitu  salah 

satu kelompok hewan yang pertama 

kali didomestikasi manusia. Sumber 

genetik utama kambing jinak berasal 

dari kawasan Anatolia Zagros. Kawa-

san lain yang juga disinyalir menjadi 

sumber genetika kambing jinak yaitu  

kambing Bezoar (Capra aegagrus) yang 

hidup tersebar dari Asia Kecil sampai 

Timur Tengah. Ilmu pengetahuan 

lalu  mengubah posisi taksonomi 

kambing hasil domestikasi menjadi 

anak jenis, yaitu Capra aegagrus hircus. 

Capra aegagrus pada saat itu mendiami 

kawasan Asia Barat Daya dan Eropa 

Timur. 

Kambing berkerabat dekat dengan 

domba. Upaya domestikasi kambing 

diduga sudah dimulai pada sekitar 

10.000–11.000 tahun yang lalu. Pada 

saat itu para petani dari masa Neo-

litik di kawasan Timur Dekat mulai 

memelihara kelompok kecil kambing 

untuk diambil susu dan dagingnya, 

sedang  kotorannya mereka guna-

kan untuk bahan bakar. Mereka juga 

memanfaatkan kulit, tulang, dan bebe-

rapa bagian tubuh kambing yang lain 

menjadi bahan pakaian, kantong air, 

dinding rumah, dan perkakas rumah 

tangga lainnya. 

Data arkeologi menunjukkan 

bahwa upaya domestikasi juga terjadi 

di dataran tinggi Pegunungan Zagros, 

Iran, dan Gani Dareh di Iran Kurdistan 

pada 10.000 tahun lalu. Domestikasi 

kambing juga dilakukan di lembah 

Sungai Euphrat dan lembah Nevali 

Cori, Turki pada 11.000 tahun lalu. 

Kawasan lain yang juga menjadi 

tempat domestikasi kambing yaitu  

Mehgrah, daerah aliran Sungai Indus, 

Pakistan, pada 9.000 tahun lalu; 

kawasan Kayonu, Turki, pada tahun 

8.500–8.000 SM; Tell Abu Hureyra, 

Suriah, pada tahun 8.000–7.400 SM; 

Jericho, Israel, pada tahun 7.500 SM; 

dan Ain Ghazal, Yordania, pada tahun 

7.600–7.500 SM. 

Kambing hasil domestikasi diciri 

secara arkeologi dari terkumpulnya 

kambing dalam kelompok besar, jauh 

lebih besar daripada kelompok liarnya. 


Di samping itu, perbedaan bentuk 

badan (morfologi) juga dapat dijadikan 

pembeda. Kambing jinak banyak juga 

yang kembali hidup liar (disebut feral 

goat). Kelompok kambing yang meliar 

ini banyak ditemukan, di antaranya, 

di Australia, Selandia Baru, Inggris, 

dan Galapagos. Populasinya relatif 

kecil dan jarang berkembang sampai 

menjadi cukup besar untuk dapat 

mengganggu  ekosistem.  

Kebanyakan kambing memiliki 

sepasang tanduk yang digunaknnya 

untuk mempertahankan diri, menam-

pakkan dominasi, dan juga sebagai 

ciri kawasan ruaya alias migrasinya. 

Kambing jantan maupun betina 

umumnya memiliki janggut. Beberapa 

keturunannya, kebanyakan kambing 

penghasil susu, memiliki sepasang 

organ yang tumbuh di leher (dinamakan 

tassel atau wattles). Beberapa turunan 

kambing dan domba seringkali mirip 

satu sama lain. Perbedaan keduanya 

terlihat pada bentuk ekor. Kambing 

biasanya memiliki ekor pendek dan 

mencuat ke atas, sedang  domba 

memiliki ekor yang menggantung ke 

bawah. Ekor domba umumnya juga 

lebih panjang, lebih besar, dan berle-

mak, meski ada juga domba yang 

berekor kecil seperti kambing.  

Kambing dapat hidup rata-rata 

15–18 tahun. Selain dapat berkembang 

biak tanpa mengenal musim, kambing 

juga dikenal tidak pemilih dalam soal 

pakan. Kambing tidak menolak jika  

diberi sisa manusia, asalkan tidak 

berupa kaleng atau kertas karton. 

Mungkin saja kambing punya rasa ingin 

tahu yang tinggi sehingga mau makan 

apa saja yang mirip dengan makanan 

aslinya. Kambing bahkan mampu 

melahap beberapa jenis rumput atau 


dedaunan “beracun” dan dihindari 

hewan ternak lainnya. 

Kambing sangat berguna bagi 

manusia sebagai penghasil susu, da-

ging, dan kulit. Beberapa keturunan 

kambing juga dapat menghasilkan 

wool, seperti keturunan anggora dan 

cashmere/pashmina. Beberapa ketu-

runan juga dikenal sebagai pengangkut 

beban. Di negara-negara berkembang 

kambing banyak dipilih untuk dijadikan 

hewan bantuan bagi warga  mis-

kin sebab  biaya pemeliharaannya 

lebih murah daripada sapi atau domba. 

Beberapa keturunan kambing dikenal 

sebagai penghasil susu dan menjadi 

subjek penting dalam industri keju. 

Beberapa jenis di antaranya yaitu  

Toggenbur (dibudidayakan di  Swiss), 

Saanen (Lembah Saanen, Swiss), Ober-

hasli, Nigerian Dwarf (Afrika Barat), 

La Mancha (California), dan Alpine 

(Prancis). 

Hubungan manusia dan kambing 

tidak terbatas pada hal-hal yang ber-

sifat fisik, namun juga yang bersifat 

spiritual dan budaya. Dalam mitologi 

Norwegia, Dewa Guntur bernama Thor 

memiliki kereta perang yang ditarik 

kambing, yang dinamai Tanngrisnir dan 

Tanngjostr. Di kawasan Skandinavia, 

kambing dipakai  sebagai simbol 

natal. Di Yunani, Dewa Pan dirupakan 

dalam tubuh manusia bertanduk di 

bagian atas, dan tubuh bagian bawah 

berupa kambing. Dalam penanggalan 

Cina, kambing muncul sebagai salah 


satu dari 12 shio. Kambing juga disebut 

dalam Alkitab. Kambing dianggap 

hewan yang “bersih” dalam aturan 

makan orang Yahudi, dan dipotong 

sebagai suguhan tamu terhormat.  

Tidak saja dikaitkan dengan hal-

hal positif, kambing dalam beberapa 

budaya muncul sebagai penjelmaan 

setan, seperti dalam budaya Kristen 

di beberapa bagian Eropa atau dalam 

agama Kristen di Abad Pertengahan. 

Hubungan kambing dengan setan 

juga dipercaya dalam agama-agama 

kuno. Pada permulaan agama Kristen, 

kepercayaan sebelumnya masih terba-

wa dan memberi warna tersendiri. 

Pada saat itu warga  masih tetap 

menganggap hewan sebagai totem, 

suatu simbol dari alam.  

Kambing merupakan hewan 

yang sangat penting dalam budaya 

beberapa suku pada masa prasejarah 

di Eropa. Salah satunya yaitu  gam-

baran tentang Baphomet yang dicip-

takan Eliphas Levi. Gambaran ini 

lalu  dipakai  para penyihir 

pada abad XIX di Inggris dan Prancis. 

Levi mempublikasi gambar ini dalam 

buku yang ditulisnya pada 1855. Semua 

kegiatan di atas ditentang oleh para 

penguasa Kristen sebab  dianggap 

sebagai bentuk pemujaan setan.

Kambing dan domba banyak 

dikaitkan dengan profesi penggembala 

yang menjadi ciri khas para nabi. Nabi 

Daud, Nabi Sulaiman, dan Nabi Musa 

yaitu  beberapa dari nebi-nabi yang 

menggembala kambing (Tāhā/20: 18; 

al-Anbiyā'/21: 78). Kemungkinan besar 

dalam masa penggembalaan ini para 

nabi sedang menjalani pelatihan untuk 

menjadi gembala bagi umat manusia. 

Para penggembala dituntut selalu 

waspada dan memperhatikan hewan 

gembalaannya agar tidak pencar atau 

terancam oleh hadirnya pemangsa. 

Sama halnya dengan seorang nabi. Ia 

yaitu  gembala bagi kemanusiaan; 

selalu berpikir untuk kesejahteraan 

manusia, dan selalu menuntun mereka 

menapaki jalan yang lurus menuju 

kesejahteraan duniawi dan ukhrawi. 

Dari pengalaman menggembala ter-

nak diharapkan akan muncul kecinta-


an seorang nabi kepada umatnya dan 

keinginan yang besar untuk meng-

hilangkan kesengsaraan dari pundak 

mereka, melenyapkan kekufuran dari 

hati mereka. Demikian kuat keinginan 

Rasulullah untuk menyatakan kecinta-

annya kepada umat manusia dengan 

berdakwah sekuat tenaga, sampai-

sampai beliau terkadang kurang begitu 

mempedulikan kondisi kesehatannya 

sendiri. Allah menyuratkan hal ini 

dalam firman-Nya,

Boleh jadi engkau (Muhammad) akan membinasa-

kan dirimu (dengan kesedihan), sebab  mereka (pen-

duduk Mekah) tidak beriman. (asy Syu‘arā'/26: 3)

12. GAJAH

Secara spesifik gajah hanya disebut 

dalam Al-Qur'an sebanyak satu kali, 

yaitu dalam Surah al-Fīl/105: 1.

Tidakkah engkau (Muhammad) perhatikan bagai-

mana Tuhanmu telah bertindak terhadap pasukan 

bergajah?   (al-Fīl/105: 1)

Pasukan bergajah pada ayat 

ini ialah pasukan pimpinan Abrahah, 

gubernur Yaman, yang bermaksud ke 

Mekah untuk menghancurkan Kabah 

pada tahun kelahiran Rasulullah. Sebe-

lum berhasil masuk ke Mekah tentara 

ini diserang oleh sekelompok burung 

yang melempari mereka dengan batu-

batu kecil nan panas yang memusnah-

kan mereka.

Pada saat itu wilayah Yaman 

berada di bawah pemerintahan Keraja-

an Abissinia. Wakil pemerintah Keraja-

an Abissinia di Yaman yaitu  seorang 

bernama Abrahah. Ia membangun 

sebuah katedral yang amat indah di 

Sana'a. Katedral ini dibangun tidak 

semata-mata sebagai sarana keaga-

maan, tapi juga untuk menyaingi 

Mekah sebagai pusat kegiatan ziarah 

di Semenanjung Arabia. Ada pula misi 

lain yang hendak Abrahah jalankan 

bersama pembangunan katedral itu, 

yakni menyebarkan agama Kristen ke 

daerah lain. Niat Abrahah ini diten-

tang keras oleh hampir semua suku 

di Semenanjung Arabia. Dalam perja-

lanan tentara Abrahah mendapat 

perlawanan dari beberapa suku yang 

tinggal di sepanjang jalan menuju 

Mekah, di antaranya Suku Khaš‘am. 

Sayangnya suku-suku ini bukanlah tan-

dingan pasukan Abrahah sehingga 

dapat dengan mudah ditaklukkan. 

Bahkan sesepuh Suku Khaš‘am, Nufail, 

ditawan dan dipaksa menjadi pemandu 

pasukan Abrahah menuju Mekah.

Selama memandu Nufail selalu 

berjalan di dekat Unais, pelatih ga-

jah milik Abrahah. Gajah ini sangat 

diandalkan Abrahah dalam penyerang-

annya ke Mekah. Selama itu pula Nufail 

selalu memperhatikan dan mempelajari 

cara Unais mengendalikan gajah. Keti-

ka pasukan ini bersiap melakukan 

penyerangan, Unais menengok ke arah 

Abrahah untuk menerima perintah. 

Pada saat itulah Nufail memerintah 

gajah agar berlutut. Gajah menuruti 

perintah Nufail dengan segara. Meski 

Unais berusaha keras memerintah 

gajah untuk berdiri, upaya itu tetap 

saja gagal. Tampaknya hewan itu lebih 

menuruti perintah Nufail daripada 

perintah pelatihnya sendiri. Segala ma-

cam cara dilakukan agar gajah mau ber-

diri namun tetap saja tidak berhasil.

lalu  mereka membuat tak-

tik seolah pasukan urung menyerang 

Mekah dan kembali ke Yaman. Melihat 

itu gajah pun berdiri dan mengikuti 

pasukan. Sayangnya, saat  pasukan 

itu memutar arah dan kembali bejalan 

ke arah Mekah, saat  itu pula gajah 

ini  kembali berlutut. Demikian 

dilakukan berkali-kali, dan selalu 

berakhir sama. Andaikata Abrahah 

mengurungkan niatnya, mungkin saja 

bencana tidak akan menimpa pasukan-

nya. Namun kesombongan sudah te-

lanjur menguasai diri Abrahah, dan 

sebab nya ia nekat mengomando pa-

sukannya untuk maju ke arah Mekah 

tanpa gajah. 

Benar saja, semua sudah terlam-

bat bagi pasukan Abrahah. Tidak lama 

sesudah  beranjak, dari arah laut muncul 

ribuan burung yang masing-masing 

membawa tiga batu sebesar kacang 

kering. Serangan batu ini membuat 

pasukan kacau-balau. Tiap batu yang 

dijatuhkan burung itu selalu mengenai 

sasaran dengan kecepatan tinggi. 

Begitu tertimpa batu ini, daging tubuh 

sebagian pasukan Abrahah langsung 

membusuk, dan sebagian lainnnya 

membusuk beberapa saat lalu . 

Hanya sebagian kecil dari pasukan 

yang tidak terkena serangan, di anta-

ranya gajah Abrahah, Unays, dan 

Nufail. Abrahah juga termasuk yang 

selamat, namun ia mati begitu sampai 

di negerinya, Yaman.

Tidak hanya menyebut gajah 

dalam bentuk utuhnya, Al-Qur'an juga 

menyebut sebuah organ gajah yang 

paling dikenal, yakni belalai, dalam 

Surah al-Qalam/86: 16. Pada beberapa 

ayat sebelumnya (al-Qalam/68: 10–

13) Allah menguraikan keburukan-

keburukan perilaku manusia, seperti 

banyak bersumpah dan ingkar; sering 

menghujat, menyebar fitnah, meng-

halangi orang lain berbuat baik, 

melampaui batas, banyak berbuat 

berdosa; kaku, kasar, dan jahat. 

lalu  pada ayat 14–15 surah yang 

sama disebutkan bahwa orang yang 

demikian ini terkadang yaitu  mereka 

yang memiliki harta dan anak buah 

yang banyak. Akhirnya, pada ayat 

180 Hewan dalam Perspektif Al-Qur'an  &  Sains

16 Allah memastikan akan memberi 

tanda pada “belalai” orang memiliki 

sifat-sifat buruk ini .  

hewan darat terbesar yang hidup di 

bumi saat ini. Masa kehamilan gajah 

yaitu  22 bulan, terlama dibandingkan 

hewan darat lainnya. Saat terlahir 

anak gajah sudah memiliki  berat 

badan sekitar 120 kg. Usia gajah dapat 

mencapai antara 50–70 tahun.  

Gajah Asia dan gajah Afrika  ter-

pisah dari nenek moyang yang sama 

sekitar 7,6 juta tahun yang lalu. Gajah 

Afrika terbagi menjadi dua anak jenis, 

sedang gajah Asia terbagi menjadi 

empat anak jenis. Secara umum gajah 

Afrika dibedakan dari gajah Asia dari 

lebar daun telinga (gajah Afrika ber-

telinga lebih lebar), rambut yang lebih 

tipis, dan memiliki gading baik pada 

gajah jantan maupun betina. Pada 

gajah Asia, gading hanya dimiliki oleh 

gajah jantan.

Gajah dari marga Loxodonta 

yang secara kolektif dinamakan seba-

gai gajah Afrika ditemukan hidup di 

37 negara Afrika. Secara tradisional, 

gajah Afrika terbagi menjadi dua anak 

jenis, yaitu gajah yang hidup di daerah 

padang rumput dan semak (Loxodonta 

africana africana) dan yang hidup di 

sekitar dan di dalam hutan (Loxodonta 

africana cyclotis). Dari hasil analisis 

DNA, diusulkan kedua anak jenis ini 

dibagi lagi menjadi dua jenis yang 

terpisah, yaitu Loxodonta africana 

dan Loxodonta cyclotis. Tidak hanya 

itu, ada satu jenis lagi gajah Afrika 

Kelak akan Kami beri tanda dia di belalai(nya). (al-

Qalam/68: 16)

Belalai yaitu  organ yang sangat 

identik dengan gajah. Penyebutannya 

berkaitan dengan idiom dalam budaya 

Arab. Dalam pandangan warga  

Arab, belalai yaitu  bagian paling 

sensitif dari tubuh gajah. Begitu bagian 

ini “dikuasai”, maka apa pun perintah 

yang ditujukan kepada hewan ini pasti 

akan dilakukannya. Dengan merujuk 

pada idiom ini dapat kita katakan 

bahwa ayat di atas hendak menegaskan 

kepada manusia kemutlakan kekua-

saan Allah atas semua makhluk-Nya; 

bahwa tidak seorang pun dapat 

menolak apa yang telah ditetapkan-

Nya. Dengan demikian ayat ini hendak 

menyampaikan pesan yang senada 

dengan apa yang disampaikan dalam 

Surah Hūd/11: 56 yang berbicara me-

ngenai ubun-ubun kuda.

Perikehidupan Gajah

Gajah terdiri dari dua marga: Elephas 

dan Loxodonta. Pada saat ini dikenal 

dua jenis gajah, yaitu gajah Asia 

(Elephas maximus) dan gajah Afrika 

(Loxodonta africana). Gajah yaitu  

yang diusulkan, namun usul ini belum 

sepenuhnya disetujui para ahli. 

Gajah semak Afrika yaitu  gajah 

terbesar di antara jenis gajah yang ada. 

Tinggi badan, dari permukaan tanah 

hingga bahu, gajah jantannya mencapai 

3,2–4 meter, dengan berat mencapai 

3.500 kg. berdasar  sebuah laporan, 

pernah ada gajah semak Afrika yang 

memiliki  berat badan 12.000 kg. 

Kebalikan dari jantannya, gajah semak 

betina umumnya memiliki  ukuran 

tubuh lebih kecil, dengan tinggi sampai 

bahu hanya sekitar 3 meter. Gajah 

semak Afrika hidup di daerah terbuka: 

padang rumput, rawa-rawa, dan di 

sekitar danau. Gajah jenis ini banyak 

ditemui hidup di kawasan selatan 

Gurun Sahara.

Gajah hutan Afrika umumnya 

bertubuh lebih kecil dan lebih bulat, 

dengan gading lebih kecil dan lebih 

lurus dibandingkan gajah semak 

Afrika. Beratnya dapat mencapai 4.500 

kg, dengan tinggi 3 meter. Umumnya 

mereka menempati kawasan hutan 

hujan di kawasan tengah dan barat 

Afrika. Kadangkala mereka keluar dari 

hutan dan bertemu dengan sauda-

ranya, gajah semak afrika, di kawasan 

pertemuan antara hutan dan padang 

rumput. Menurut sebuah laporan, 

terjadi kawin silang antara dua anak 

jenis gajah Afrika ini. 

Gajah Asia, Elephas maximus, 

jauh lebih kecil ukuran tubuhnya da-

ripada gajah Afrika. Daun telinganya 


juga jauh lebih kecil, dan hanya hewan 

jantan yang memiliki gading. Populasi 

gajah Asia, atau biasa disebut gajah 

India, diperkirakan sekitar 60.000 ekor. 

Gajah Asia memiliki  empat anak 

jenis. Pertama, gajah Sri Lanka (Elephas 

maximus maximus) yang hidup hanya 

di Pulau Sri Lanka. Gajah Sri Lanka 

memiliki  ukuran tubuh paling 

besar dibanding anak jenis lainnya. 

Kedua, gajah India (Elephas maximus 

indicus), dengan populasi terbesar 

dibanding anak jenis lainnya, yakni 

sekitar 36.000 ekor. Warna kulit gajah 

India lebih terang daripada gajah Sri 

Lanka, dan padanya terjadi proses 

dipegmintasi (terjadi bercak-bercak 

putih akibat kekurangan pigmen) 

pada telinga dan sekitar gading. Gajah 

yang hidup  di India hingga Indonesia 

ini banyak ditemukan di kawasan 

berhutan atau pinggiran hutan. Ketiga, 

gajah Sumatera (Elephas maximus 

sumatranus) yang ditemukan hidup 

hanya di Sumatera. Ukurannya lebih 

kecil lagi dibanding gajah India. Dewasa 

ini populasinya diperkirakan tinggal 

2.100–3.000 ekor saja. Kulit gajah 

Sumatera berwarna abu-abu muda, 

dan tidak terlalu banyak mengalami 

dipegmintasi sebagaimana gajah India. 

Tinggi bahu gajah Sumatera dewasa 

mencapai 1,7–2,6 meter, dengan berat 

kurang dari 3.000 kg. Keempat, gajah 

Borneo (Elephas maximus borneen-

sis) yang baru ditemukan pada tahun 

2003. Gajah yang juga dikenal seba-

gai Borneo pygmy elephant ini ber-

tubuh jauh lebih kecil, juga lebih jinak 

dibanding anak jenis gajah Asia lainnya. 

Meski bertubuh kecil, gajah Borneo 

memiliki daun telinga yang relatif lebih 

lebar dan ekor yang lebih panjang. 

Gadingnya juga lebih lurus dibanding 

yang lain. 

Gajah modern diperkirakan ber-

evolusi sejak 60 juta tahun yang lalu. 

Nenek moyang gajah pada 37 juta 

tahun yang lalu disinyalir hidup di 

perairan, seperti kuda Nil saat ini. Gajah 

modern saat ini banyak dipelihara 

untuk membantu pekerjaan manusia. 

berdasar  bukti arkeologi diduga 

domestikasi gajah disinyalir bermula 

di Lembah Indus, India. Sebenarnya 

gajah tidak sepenuhnya didomestikasi, 

sebab  pada saat musim kawin tiba 

gajah jantan tidak dapat dikendalikan, 

sangat agresif, dan cenderung mem-

bahayakan. Itulah mengapa manusia 

umumnya lebih memilih gajah betina 

untuk membantu pekerjaannya diban-

ding pejantan.  

Gajah pertama yang dijinakkan 

yaitu  gajah Asia, yang terutama di-

gunakan untuk menangani pekerjaan-

pekerjaan berat dalam bidang per-

tanian. Penjinakan ini tidak dapat 

sepenuhnya disebut sebagai domes-

tikasi sebab  manusia masih menang-

lalu. Kandidat lainnya yaitu  temuan 

pada peradaban di Lembah Indus yang 

diperkirakan berusia hampir sama. 

Temuan fosil gajah di lembah Sungai 

Kuning pada masa Dinasti Shang (1.600–

1.100 SM) memasukkan Cina sebagai 

salah satu kandidat tempat pertama kali 

domestikasi gajah dilakukan. Populasi 

gajah liar di Mesopotamia dan Cina 

menurun drastis sebab  kalah bersaing 

dengan manusia. Gajah lalu  

punah di Mesopotamia pada sekitar 

tahun 850 SM, dan di Cina pada sekitar 

tahun 500 SM.

Bila manusia lebih memilih gajah 

betina untuk membantu mereka me-

nangani pekerjaan sehari-hari maka 

gajah jantan yaitu  yang paling lazim 

mereka gunakan untuk keperluan 

perang. Gajah betina secara naluriah 

akan lari begitu didekati gajah jantan, 

sehingga dengan demikian tidak pas 

dipakai  pada saat perang. Penggu-

naan gajah dalam perang modern 

dimulai oleh Alexander Agung. Jende-

ral Hanibal dari Karthagena juga 

memakai  gajah untuk melewati 

Pegunungan Alpen saat berperang 

melawan Roma. Kemungkinan Hanibal 

memakai  anak jenis ketiga dari 

gajah Afrika yang kini sudah punah. 

Di medan perang gajah bertu-

gas mengobrak-abrik pasukan lawan 

dengan cara menginjak-injak. Usaha 

melatih gajah untuk perang sangat 

kap gajah ini  dari alam liar 

untuk lalu  dijinakkan, jadi ti-

dak sepenuhnya diternakkan. Bukti 

penjinakan gajah dapat ditemukan 

pada relief yang berasal dari masa 

Mesopotamia, sekitar 4.500 tahun 


mungkin bermula di India. Praktik ini 

lantas menyebar ke timur (Thailand, 

Kamboja, dan sekitarnya) dan ke barat 

(Yunani dan Karthagena). pemakaian  

gajah dalam perang yang paling dikenal 

yaitu  ekspedisi Perang Macedonia di 

bawah pimpinan Alexander Agung saat 

berhadapan dengan pasukan Persia. 

Pada perang yang dikenal sebagai 

Perang Guagemala dan terjadi pada 331 

SM ini kedua belah pihak sama-sama 

mengandalkan pasukan bergajah. Saat 

Alexander tiba di Punjab (sekarang 

Pakistan), dia menghadapi antara 

85–100 tentara bergajah pada perang 

yang bertempat di Sungai Hydaspes. 

Pada saat melawan Kerajaan Nanda 

dari India, Aleksander menghadapi 

antara 3.000–6.000 tentara bergajah. 

Kekuatan sebesar ini akhirnya mampu 

menghentikan laju ekspedisi Alexander 

di India.   

Bangsa Mesir Kuno juga meng-

gunakan gajah Afrika untuk tujuan 

yang sama. Mereka memakai  

gajah hutan Afrika Utara, yang akhir-

nya punah akibat pemanfaatan yang 

berlebihan. Gajah ini lebih kecil ukuran-

nya daripada gajah Asia. Dibanding di 

tempat lain, gajah tidak terlalu banyak 

dil ibatkan dalam perang di Cina, 

meski pada masa Dinasti Han (abad 2 

SM) mereka memakai  pasukan 

gajah dalam beberapa pertempuran. 

Sebagai perbandingan, negara-negara 

tetangga di sebelah barat Cina banyak 

memakai  pasukan gajah dalam 

peperangannya, demikian pula Sri 

Lanka dalam catatan sejarahnya. Ka-

laupun tidak dipakai  oleh banyak 

tentara, paling tidak gajah dipakai  

oleh raja saat memimpin tentaranya. 

Seiring diperkenalkannya senjata api 

pada abad 15, peran gajah dalam perang 

mulai berkurang. Namun demikian, 

dalam perang antara Perancis mela-

wan Siam pada 1893 gajah masih 

saja dipakai . Pada masa perang 

antara Perancis dan kawasan Indo-

Cina, tentara Vietnam juga masih 

memakai  gajah untuk melawan 

musuh.  

Pada saat ini pemakaian  gajah 

masih dilanjutkan di Asia Tenggara 

dan Selatan. Gajah dijadikan penarik 

beban di medan yang sulit dan minim 

infrastruktur. Di Myanmar, Thailand, 

India, dan Asia Selatan, gajah dipakai  

untuk membantu manusia membuat 

jalan, dengan mencabut pohon dan 

menghelanya. Gajah di kawasan ini juga 

dipakai  untuk menarik beban yang 

berat dalam industri kehutanan dan 

bidang militer. Gajah juga dipakai  

dalam industri pariwisata di Kamboja, 

Thailand, Sumatera, Sri Lanka, dan 

India. Dalam upacara keagamaan di 

India peran gajah sangat besar. Di 

beberapa negara dikenal beberapa 

permainan dengan gajah sebagai 


subjek utamanya, seperti polo gajah, 

sepak bola gajah, atau adu gajah. 

Gajah albino (berwarna putih) 

sudah lama menjadi simbol istimewa 

pada banyak budaya. Bisa jadi hal ini 

dipicu jarangnya gajah albino dite-

mui. Di India gajah putih yang dapat 

terbang dipercaya sebagai kendaraan 

paling istimewa Dewa Indra. Gambar 

gajah putih juga pernah muncul dalam 

bendera resmi Thailand antara tahun 

1855–1916. Meski gambar itu sudah 

hilang dari bendera Thailand, namun 


sampai kini gajah putih masih dianggap 

suci dan menjadi lambang kerajaan di 

negara ini. Sementara itu, di Kamboja 

gajah putih yaitu  lambang kekuasaan 

dan  keberuntungan.

Gajah disebut dalam sebuah hadis 

terkait kisah mogoknya unta Rasulullah 

menjelang dilangsungkannya Perjanji-

an Hudaibiyah. 

َزَمَن  َم  َوَسلَّ َعَلْيِه  اهللُ  َصلَّ  اهللِ  َرُسْوُل  َخَرَج 

َقاَل النَّبِيُّ  ِرْيِق ،  اْلَُدْيبَِيِة َحتَّى َكاُنْوا بَِبْعِض الطَّ

اْلَولِْيِد  ْبَن  َخالَِد  إِنَّ   : َم  َوَسلَّ َعَلْيِه  اهللُ  َصلَّ 

َذاَت  َفُخُذْوا   ، َطِلْيَعًة  لُِقَرْيٍش  َخْيٍل  ِفْ  بِاْلَغِمْيِم 

ُهْم  إَِذا  َحتَّى  َخالٌِد  ِبِْم  َشَعَر  َما  َفَواهللِ   ! اْلَيِمْيِ 

 ، لُِقَرْيٍش  َنِذْيًرا  َيْرُكُض  َفاْنَطَلَق   ، اْلَْيِش  ِة  بَِقَتَ

َم ، َحتَّى إَِذا َكاَن  َوَساَر النَّبِيُّ َصلَّ اهللُ َعَلْيِه َوَسلَّ

َراِحَلُتُه  بِِه  َبَرَكْت  ِمنَْها  َعَلْيِهْم  َيْبُِط  تِْي  الَّ بِالثَّنِيَِّة 

 : َفَقاُلْوا   ، َفَأَلَّْت   ، َحْل  َحْل   : النَّاُس  َفَقاَل   ،

النَّبِيُّ  َفَقاَل   ، اْلَقْصَواُء  َخأَلَِت  اْلَقْصَواُء  َخأَلَِت 

 ، اْلَقْصَواُء  َخأَلَِت  َما   : َم  َوَسلَّ َعَلْيِه  اهللُ  َصلَّ 

اْلِفْيِل.  َوَما َذاَك َلَا بُِخُلٍق َوَلِكْن َحَبَسَها َحابُِس 

)رواه البخاري عن السور بن مرمة ومروان(


Rasulullah melakukan perjalanan bersama kaum 

muslim menjelang peristiwa Hudaibiyah, dan 

sampailah mereka di sebuah jalan. Rasulullah 

berkata, “Sesungguhnya Khalid bin al-Walid 

(waktu itu belum masuk Islam) sedang berada di 

Gamim bersama pasukan berkuda Kaum Quraisy 

untuk menghadang kita. sebab  itu, marilah kita 

berbelok ke kanan!” Demi Allah, Khalid tidak 

sadar akan kedatangan rombongan kaum muslim 

hingga ia melihat debu mengepul akibat dari 

derap langkah pasukan muslim. Melihat hal itu, 

ia lantas bergegas menghampiri Kaum Quraisy 

untuk menyiagakan mereka. Rasulullah (dan para 

sahabat) terus saja maju hingga mencapai Saniyah 

(suatu jalan di pegunungan) yang akan membawa 

mereka langsung berhadap-hadapan dengan Kaum 

Quraisy. Tiba-tiba saja unta betina yang dikendarai 

Rasulullah terduduk. Orang-orang berkata, “Berdi-

rilah, berdirilah!” mencoba menyuruh unta itu 

berdiri dan melanjutkan perjalanannya. Sayang, 

usaha mereka tidak berhasil; unta itu tetap saja 

enggan berdiri. Mereka berteriak-teriak, “al-Qaswa' 

(nama unta betina itu) keras kepala! al-Qaswa' 

keras kepala!” Mendengar hal itu Rasul mencoba 

menenangkan, “Bukannya al-Qaswa' berubah 

keras kepala. Itu bukan sifatnya. Hanya saja dia 

dihentikan oleh Tuhan yang telah menghentikan 

gajah (Abrahah).” (Riwayat al-Bukhāri dari Miswar 

bin Makhramah dan Marwān)

Demikianlah, gajah terpilih seba-

gai salah satu hewan yang Allah guna-

kan untuk memperlihatkan kekuasaan-

Nya atas semua makhluk. 

13. SERIGALA

Serigala disebut dalam Al-Qur'an keti-

ka menceritakan kisah Nabi Yusuf. 

Dalam rangkaian kisah ini diceritakan 

bagaimana Nabi Yakub khawatir akan 

keselamatan Yusuf saat  saudara-

saudaranya mengajak Yusuf bermain 

di luar (Yūsuf/12: 13), upaya saudara-

saudara Yusuf meyakinkan Yakub untuk 

mengizinkan mereka mengajak Yusuf 

bermain (Yūsuf/12: 14), dan laporan 

palsu mereka tentang kematian Yusuf 

akibat dimangsa serigala (Yūsuf/12: 17).

Dia (Yakub) berkata, “Sesungguhnya kepergian 

kamu bersama dia (Yusuf) sangat menyedihkanku 

dan aku khawatir dia dimakan serigala, sedang 

kamu lengah darinya.” Sesungguhnya mereka 

berkata, “Jika dia dimakan serigala, padahal kami 

golongan (yang kuat), kalau demikian tentu kami 

orang-orang yang rugi.”  (Yūsuf/12: 13-14)

Mereka berkata, “Wahai ayah kami! Sesungguhnya 

kami pergi berlomba dan kami tinggalkan Yusuf di 

dekat barang-barang kami, lalu dia dimakan seri-

gala; dan engkau tentu tidak akan percaya kepada 

kami, sekalipun kami berkata benar.” (Yūsuf/12: 17)

Nabi Yakub tidak percaya terha-

dap laporan ini  (Yūsuf/12: 18), 

sebab  ia sudah tahu pasti bahwa anak-

anaknya yang lain cemburu terhadap 

Yusuf. Yakub curiga merekalah yang 

justru melakukan perbuatan hina itu, 


bukannya serigala. Ketidakpercayaan 

Yakub terhadap laporan anak-anaknya 

juga dinyatakan di ayat lain (Yūsuf/12: 

83). Ketidakpercayaan Yakub kepada 

anak-anaknya demikian kuat, sampai-

sampai saat  mereka mengabarinya 

bahwa Yusuf sudah menjadi pejabat di 

Mesir, ia  menyuruh mereka membawa 

baju kebesaran Yusuf sebagai bukti 

kebenaran kabar yang mereka bawa 

(Yūsuf/12: 93). Dengan demikian, ada 

dua baju Yusuf yang pernah diberikan 

kepada Yakub oleh anak-anaknya seba-

gai bukti. Baju pertama membawa 

kesedihan bagi Nabi Yakub, dan baju 

kedua memulihkan kesedihan itu.

Serigala juga disebut dalam se-

jumlah hadis, misalnya hadis berikut. 

ْئُب ، َفَذَهَب ِمنَْها  َبْينََم َرُجٌل ِفْ َغنَِمِه إِْذ َعَدا الذِّ

ُه اْسَتنَْقَذَها ِمنُْه ، َفَقاَل َلُه  بَِشاٍة ، َفَطَلَب َحتَّى َكَأنَّ

ُبِع،  ْئُب َهَذا : اْسَتنَْقْذَتَا ِمنِّي َفَمْن َلَا َيْوَم السَّ الذِّ

ي ؟ َفَقاَل النَّاُس : ُسْبَحاَن  َيْوَم الَ َراِعَي َلَا َغْيِ

ُم ، َقاَل : َفإيِنِّ ُأْوِمُن ِبََذا ، َأَنا َوَأُبو  اهللِ ِذْئٌب َيَتَكلَّ

البخاري عن  . )رواه  َثمَّ  ا  ُهَ َوَما   ، َوُعَمُر  َبْكٍر 

أب هريرة(

Ada seorang pria sedang menggembala kambing-

kambingnya, saat  tiba-tiba seekor serigala datang 

dan menggondol seekor kambing. Pria itu mengejar 

serigala itu dan menarik kambing tadi dari mulut 

serigala, seolah-olah ia ingin menyelamatkannya 

dari serigala. Sang serigala berkata kepadanya, 

“Engkau menyelamatkannya dariku, lalu siapa 

yang akan menyelamatkannya pada hari saat  

hewan-hewan liar berburu, saat  tidak ada yang 

penggembala selain aku?” Jamaah dengan heran 

berkata, “Mahasuci Allah; ada serigala yang bisa 

berbicara.” Rasulullah menimpali, “Sungguh, aku 

beriman akan hal ini, demikian juga Abū Bakar dan 

‘Umar.”―saat itu keduanya tidak hadir di majelis 

ini . (Riwayat al-Bukhāri dari Abū Hurairah)

Hadis berikut menjadikan seri-

gala sebagai perumpamaan. 

ْيَطاَن ِذْئُب اإِلْنَساِن َكِذْئِب اْلَغنَِم ، َيْأُخُذ  إِنَّ الشَّ

 ، َعاَب  َوالشِّ اُكْم  َفإِيَّ  ، َوالنَّاِحَيَة  اْلَقاِصَيَة  اَة  الشَّ

ِة َواْلَْسِجِد . )رواه أمحد  َوَعَلْيُكْم بِاْلََمَعِة َواْلَعامَّ

عن معاذ بن جبل(

Sesungguhnya setan itu bagaikan serigala bagi 

manusia, sebagaimana serigala yaitu  musuh 

kawanan domba.  Ia akan menangkap domba yang 

keluar dari kawanannya dan menyendiri. sebab -

nya, janganlah kalian memisahkan diri jamaah. 

Kalian harus selalu berada dalam jamaah, dalam 

kawanan, dan dalam masjid. (Riwayat Aĥmad dari 

Mu‘āż bin Jabal) 

فِْيِهُم  ُتَقاُم  الَ  َبْدٍو  َوالَ  َقْرَيٍة  ِفْ  َثاَلَثٍة  ِمْن  َما 

 ، ْيَطاُن  الشَّ َعَلْيِهُم  اْسَتْحَوَذ  َقِد  إاِلَّ  اَلُة  الصَّ

 . اْلَقاِصَيَة  ْئُب  الذِّ َيْأُكُل  َم  َفإِنَّ  ، بِاْلََمَعِة  َفَعَلْيَك 

)رواه أبو داود عن أب الدرداء(

Tidaklah tiga orang di suatu desa atau lembah yang 

tidak mendirikan salat berjamaah di ling-kungan 

mereka, kecuali setan akan benar-benar menguasai 

mereka. sebab  itu, tetaplah kalian berjamaah, 

sebab  sesungguhnya serigala hanya akan 

memangsa kambing yang jauh dari kawanannya. 

(Riwayat Abū Dāwūd dari Abū ad-Dardā')

189Hewan dalam Al-Qur'an

Serigala (Wolf Jackal), yang meru-

pakan keturunan Canis aureus yang 

sudah punah. saat  masih eksis di 

Dalam hadis berikut Nabi, walau-

pun tidak dengan kata-kata yang șarīĥ, 

melarang memakan daging serigala. 

َم َعْن َأْكِل  َسَأْلُت َرُسْوَل اهللِ َصلَّ اهللُ َعَلْيِه َوَسلَّ

َوَسَأْلُتُه  ؟  َأَحٌد  ُبَع  الضَّ َأَوَيْأُكُل   : َفَقاَل   ، ُبِع  الضَّ

؟  ْئَب َأَحٌد فِْيِه َخْيٌ ْئِب َفَقاَل : َأَوَيْأُكُل الذِّ َعِن الذِّ

)رواه التمذي عن خزيمة بن جزء(

Aku bertanya kepada Rasulullah tentang (hukum) 

memakan (daging) anjing liar (hyena). Beliau 

menjawab, “Adakah orang yang memakan 

anjing liar?” Aku juga bertanya kepada beliau 

tentang (hukum) memakan (daging) serigala. 

Beliau menjawab, “Apakah ada orang baik yang 

mau makan serigala?” (Riwayat at-Turmużī dari 

Khuzaimah bin Jaz')

Perikehidupan Serigala

Begitu kata serigala diucapkan, yang 

langsung terbayang di benak kita 

yaitu  serigala abu-abu (Canis lupus) 

yang hidup di Eropa atau Amerika 

Utara. Kendati demikian, bila kita 

membaca kisah Nabi Yusuf di atas 

maka serigala yang maksud tampaknya 

keluarga serigala yang hidup di sekitar 

Mesir dan Palestina. Calon yang paling 

masuk akal yaitu  dua jenis serigala, 

atau yang disebut saat ini sebagai 

jakal atau rubah (yang berukuran lebih 

kecil daripada serigala) yang hidup di 

kawasan  Mesir. 

Pertama, jakal Mesir (Canis aure-

us tupaster), atau dikenal sebagai Jakal 


muka bumi Canis aureus menempati 

kawasan Mesir sampai Palestina. He-

wan ini banyak diperdebatkan sebagai 

serigala kecil ataukah jakal besar. 

Tinggi bahunya mencapai 41 cm, 

dengan panjang tubuh mencapai 127 

cm, lebih besar daripada ukuran jakal 

Eropa. Jakal Mesir hidup cenderung 

menyendiri, terdiri dari satu atau dua 

ekor saja. Mereka hidup di kawasan 

pinggiran gurun.

Kedua, jakal Syiria (Canis aureus 

syriacus) yang hidup di kawasan pantai 

Laut Mediterania yang membentang 

dari Lybia hingga Lebanon. Ukuran 

tubuh hewan ini relatif lebih kecil 

daripada jakal Mesir, dengan panjang 

tubuh 60–90 cm, dan berat 5–12 kg. 

Jakal Syiria ini umum ditemukan di 

kawasan Lebanon dan Palestina antara 

1930–1940-an. Populasinya menurun 

drastis begitu kampanye antirabies 

mulai digalakkan. Jumlah populasinya 

saat ini tidak jelas. Hal itu bisa jadi 

disebabkan di antaranya oleh adanya 

perkawinan antara jakal ini dengan 

anjing peliharaan.

Adapun calon lainnya, seperti 

anjing liar Afrika atau serigala Ethiopia, 

pastilah bukan serigala yang disebut 

dalam kisah Nabi Yusuf sebab  lokasi 

persebarannya agak jauh dari lokasi 

tempat kisah ini  terjadi. Anjing 

liar Afrika  (Lycaon pictus) yang semula 

diberi nama Canis pictus ditemukan 

hanya di Afrika bagian tengah dan 

menyebar sepanjang pantai timur ke 

selatan. Hewan ini hidup berkelompok 

di padang rumput atau semak. Adapun 

serigala Ethiopia (Canis simensis), yang 

dikenal juga sebagai Abysinian Fox 

atau Simien Jackal, hanya ditemukan 

hidup di beberapa titik saja di Ethiopia. 

Penelitian menunjukkan hewan ini 

lebih mendekati serigala daripada fox. 

Hidup di ketinggian 3.000 meter di 

atas permukaan laut. Serigala Ethiopia 

hidup berkelompok, meski tidak untuk 

keperluan berburu bersama. Mereka 

memangsa tikus dan hewan mengerat 

lainnya.

Jakal dalam budaya Mesir Kuno 

dianggap sebagai penjelmaan dewa 

pembalseman, Anubis. Dewa ini digam-

barkan sebagai manusia berkepala 

jakal atau anjing, atau sebagai jakal 

berkalung yang memegang tongkat. 

Warna dominan pada patung jakal ini 

yaitu  hitam, warna yang dipercaya 

mewakili regenerasi, kematian, atau 

malam. Selain itu, hitam yaitu  warna 

yang terjadi begitu tubuh manusia 

dimumifikasi. Peran ini diberikan kepa-

da jakal sebab  umumnya mereka 

berkeliaran di tepi gurun, tempat yang 

biasanya menjadi lokasi pekuburan. 

Akibat hal itu pula manusia di sana 

mulai membuat kuburan yang lebih 

kuat sebab  khawatir dibongkar oleh 

jakal. Sementara itu, jakal Syiria banyak 

191Hewan dalam Al-Qur'an

Mesir Kuno yang mengecap hewan ini 

sebagai pembongkar makam. Meski 

reputasinya cenderung negatif, namun 

serigala masih dipakai  Allah untuk 

memberi petunjuk kepada manusia. 

Serigala terpilih untuk dikaitkan de-

ngan petunjuk Allah yang diberikan-

Nya dalam bentuk kisah Nabi Yusuf. 

Dorongan kepada manusia untuk mem-

pelajari kisah ini dengan jelas disebut 

dalam ayat berikut.

dijadikan perumpamaan dalam budaya 

dan agama Yahudi. Dalam mitologi 

Yahudi jakal digambarkan sebagai 

hewan pembunuh anak, yang akan 

membunuh anaknya sendiri.

Dari uraian ini tampak jelas 

bahwa serigala memang sudah telanjur 

memiliki reputasi buruk di mata 

manusia, terlebih lagi dalam budaya 


Sungguh, dalam (kisah) Yusuf dan saudara-sauda-

ranya ada  tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi 

orang yang bertanya.  (Yūsuf/12: 7)

C.  BURUNG

Penyebutan burung cukup banyak 

ditemukan dalam Al-Qur'an, setidak-

nya sebanyak 11 kali. Dalam dua ayat 

berikut Allah menampakkan kekuasa-

an-Nya yang berkaitan dengan burung.

Tidakkah mereka memperhatikan burung-burung 

yang dapat terbang di angkasa dengan mudah. 

Tidak ada yang menahannya selain Allah. Sungguh, 

pada yang demikian itu benar-benar ada  

tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang 

yang beriman. (an-Naĥl/16: 79)


Tidakkah mereka memperhatikan burung-burung 

yang mengembangkan dan mengatupkan sayapnya 

di atas mereka? Tidak ada yang menahannya (di 

udara) selain Yang Maha Pengasih. Sungguh, Dia 

Maha Melihat segala sesuatu. (al-Mulk/67: 19)

Bagaimana burung terbang de-

ngan sangat efisien, yaitu  suatu muk-

jizat yang nyata. Untuk dapat terbang, 

sebuah subjek haruslah ringan, dan 

di saat yang lain harus tangguh dan 

kuat. Untuk dapat lepas landas dan 

memulai terbang dengan sempurna, 

burung haruslah berbobot ringan. 

Untuk dapat bertahan di udara dengan 

semua manuvernya, serta dapat turun 

dan hinggap dengan baik, burung 

harus memiliki otot-otot yang kuat. 

Berbekal dua kualitas ini: ringan dan 

tangguh, burung diciptakan Allah. 

Burung juga disebut dalam kisah 

Nabi Yusuf saat dipenjara sebab  fit-

nah. Dalam kisah ini Yusuf diceritakan 

mampu menakwilkan mimpi teman 

senasibnya di penjara yang bermimpi 

melihat burung mematuki roti yang 

disungginya. Kejadian ini berlangsung 

sebelum Yusuf mentakwilkan mimpi 

penguasa Mesir kala itu. Allah berfir-

man, mengisahkan perkataan Yusuf 

saat  menakwilkan mimpi temannya,

Wahai kedua penghuni penjara, “Salah seorang di 

antara kamu, akan bertugas menyediakan minum-

an khamar bagi tuannya. Adapun yang seorang lagi 

dia akan disalib, lalu burung memakan sebagian 

kepalanya. Telah terjawab perkara yang kamu 

tanyakan (kepadaku).”  (Yūsuf/12: 41)

Burung yang disebut dalam ayat 

ini kemungkinan besar yaitu  burung 

pemakan bangkai yang banyak hidup 

di Mesir. 

Ayat berikut ini menjelaskan 

bagaimana manusia mesti memper-

lakukan hewan.  

Dan tidak ada seekor binatang pun yang ada di 

bumi dan burung-burung yang terbang dengan 

kedua sayapnya, melainkan semuanya merupakan 

umat-umat (juga) seperti kamu. Tidak ada sesuatu 

pun yang Kami luputkan di dalam Kitab, lalu  

kepada Tuhan mereka dikumpulkan. (al-An‘ām/6: 

38)

Menurut sebagian mufasir, yang 

dimaksud dengan Kitab pada ayat di 

atas yaitu  Lauh Mahfuz. Bila benar 

demikian maka ayat ini menegaskan 

bawah nasib semua makhluk sudah 

ditetapkan dalam kitab itu. Sebagian 

yang lain menafsirkannya sebagai Al-

Qur'an. Dengan mengambil tafsiran 


ini maka ayat ini menunjukan bahwa 

Al-Qur'an telah memuat pokok-pokok 

agama, norma-norma, hukum-hukum, 

hikmah-hikmah, dan petunjuk yang 

mengatur kehidupan manusia pada 

khususnya dan semua makhluk pada 

umumnya. 

sebab  merasa bangga dengan 

statusnya sebagai ciptaan yang paling 

sempurna, manusia acapkali lupa 

menghormati makhluk Allah lainnya, 

di antaranya hewan. Mereka lupa 

bahwa Allah juga sudah mengingatkan 

apa pun yang terjadi di dunia ini tidak 

akan lepas dari pengawasan-Nya (al-

An‘ām/6: 59). sebab  itu, manusia 

mesti ingat bahwa pada Hari Akhir 

nanti, hari saat  “binatang-binatang 

liar dikumpulkan” (at-Takwīr/81: 5), 

mereka harus mempertanggungjawab-

kan apa saja yang telah mereka laku-

kan, yang buruk maupun yang baik, 

kepada makhluk-makhluk Allah.

Burung juga muncul dalam penu-

turan kisah Nabi Sulaiman di dalam Al-

Qur'an. Sulaiman yaitu  seorang nabi 

yang dapat berkomunikasi dengan 

semua hewan, salah satunya dengan 

burung. Allah berfirman,

diajari bahasa burung dan kami diberi segala 

sesuatu. Sungguh, (semua) ini benar-benar karunia 

yang nyata.” (an-Naml/27: 16)

Ayat di atas menegaskan  bahwa 

Nabi Sulaiman menggantikan kenabian 

Nabi Daud, sekaligus mewarisi semua 

pengetahuan yang dikuasainya beri-

kut Kitab Zabur yang diturunkan kepa-

danya. Pengetahuan dan kekuasaan 

yang Allah berikan kepada Nabi Daud 

di antaranya dinyatakan dalam ayat 

berikut.

Dan Sulaiman telah mewarisi Dawud, dan dia 

(Sulaiman) berkata, “Wahai manusia! Kami telah 

Dan sungguh, Telah Kami berikan kepada Dawud 

karunia dari Kami. (Kami berfirman), “Wahai 

gunung-gunung dan burung-burung! Bertasbihlah 

berulang-ulang bersama Dawud,” dan Kami telah 

melunakkan besi untuknya. (Saba’/34: 10)

Tidak saja disebut dalam rangkai-

an kisah mukjizat Nabi Sulaiman, 

burung juga hadir dalam rangkaian 

kisah tentang mukjizat Nabi Isa. Nabi 

Isa memperlihatkan kepada kaumnya 

kemampuan Allah untuk memberikan 

ruh kepada benda berbentuk burung 

yang dibuatnya dari bahan lempung. 

Itu dilakukannya dengan harapan 

kaumnya mau beriman kepada Allah, 

Tuhan yang telah menampakkan ke-

mukjizatan penciptaan itu melalui 

tangan Isa. Mari kita perhatikan ayat-

ayat berikut!


Dan sebagai Rasul kepada Bani Israil (dia berkata), 

“Aku telah datang kepada kamu dengan sebuah 

tanda (mukjizat) dari Tuhanmu, yaitu aku mem-

buatkan bagimu (sesuatu) dari tanah berbentuk 

seperti burung, lalu aku meniupnya, maka ia 

menjadi seekor burung dengan izin Allah. Dan 

aku menyembuhkan orang yang buta sejak dari 

lahir dan orang yang berpenyakit kusta. Dan aku 

menghidupkan orang mati dengan izin Allah, 

dan aku beritahukan kepadamu apa yang kamu 

makan dan apa yang kamu simpan di rumahmu. 

Sesungguhnya pada yang demikian itu ada  

suatu tanda (kebenaran kerasulanku) bagimu, jika 

kamu orang beriman. (Āli-‘Imrān/3: 49)

Dan ingatlah saat  Allah berfirman, “Wahai Isa 

putra Maryam! Ingatlah nikmat-Ku kepadamu 

dan kepada ibumu sewaktu Aku menguatkanmu 

dengan Roh Kudus. Engkau dapat berbicara 

dengan manusia pada waktu masih dalam 

buaian dan sesudah  dewasa. Dan ingatlah saat  

Aku mengajarkan menulis kepadamu, (juga) 

Hikmah, Taurat dan Injil. Dan ingatlah saat  

engkau membentuk dari tanah berupa burung 

dengan seizin-Ku, lalu  engkau meniupnya, 

lalu menjadi seekor burung (yang sebenarnya) 

dengan seizin-Ku. Dan ingatlah saat  engkau 

menyembuhkan orang yang buta sejak lahir dan 

orang yang berpenyakit kusta dengan seizin-Ku. 

Dan ingatlah saat  engkau mengeluarkan orang 

mati (dari kubur menjadi hidup) dengan seizin-Ku. 

Dan ingatlah saat  Aku menghalangi Bani Israil 

(dari keinginan mereka membunuhmu) di kala 

waktu engkau mengemukakan kepada mereka 

keterangan-keterangan yang nyata, lalu orang-

orang kafir di antara mereka berkata, “Ini tidak 

lain hanyalah sihir yang nyata.” (al-Mā'idah/5: 110)

Burung (dalam bahasa Arab țā'ir 

atau țair, yang juga berarti benda yang 

melayang), memiliki arti tersendiri 

bagi warga  Arab. warga  

Arab pra-Islam biasa memakai  

arah terbang burung sebagai panduan 

meramal nasib seseorang. Itulah sebab-

nya banyak ayat Al-Qur'an yang secara 

langsung maupun tidak (misalnya 

menjadikan perilaku burung sebagai 

metafor) menyebut burung di dalam 

susunan kalimatnya. Salah satunya 

dapat kita lihat dalam firman Allah 

berikut.

Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya 

dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, 

“Wahai Tuhanku! Sayangilah keduanya sebagai-

mana mereka berdua telah mendidik aku pada 

waktu kecil.” (al-Isrā'/17: 24)

Frasa yang secara literal berarti 

“rendahkanlah sayapmu” pada ayat 

di atas merupakan sebuah metafor. 

Merendahkan sayap yang dilakukan 

burung yaitu  sebuah ekspresi kasih 

sayang. Dengan cara itu ia melindungi 

dan menutupi anaknya dari gangguan-

gangguan yang bisa datang dari luar. 

195Hewan dalam Al-Qur'an

Frasa yang kurang lebih memuat pesan 

yang sama juga kita temukan dalam 

Surah al-Ĥijr/15: 88 dan asy-Syu‘arā'/26: 

215.

Burung juga dipakai  sebagai 

contoh dalam memberikan penegasan 

kepada manusia, dalam hal ini Nabi 

Ibrahim, tentang kekuasaan Allah mem-

bangkitkan makhluk-Nya yang telah 

mati. Allah mengisahkan hal ini  

dalam firman-Nya,

ngisahkan apa yang terjadi saat  

Sulaiman memeriksa rakyatnya dalam 

sebuah upacara,

Dan (ingatlah) saat  Ibrahim berkata, “Ya Tuhan-

ku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau 

menghidupkan orang mati.” Allah berfirman, 

“Belum percayakah engkau?” Dia (Ibrahim) men-

jawab, “Aku percaya, namun  agar hatiku tenang 

(mantap).” Dia (Allah) berfirman, “Kalau begitu 

ambillah empat ekor burung, lalu cincanglah 

olehmu lalu  letakkan di atas masing-masing 

bukit satu bagian, lalu  panggillah mere-

ka, niscaya mereka datang kepadamu dengan 

segera.” Ketahuilah bahwa Allah Mahaperkasa, 

Mahabijaksana. (al-Baqarah/2: 260)

Tidak saja menyebut burung 

sebagai kelompok, beberapa ayat Al-

Qur'an bahkan menunjuk jenis burung 

tertentu, seperti Hud-hud dalam kisah 

Nabi Sulaiman. Allah berfirman, me-

Dan dia memeriksa burung-burung lalu berkata, 

“Mengapa aku tidak melihat Hud-hud, ) apakah ia 

termasuk yang tidak hadir?”  (an-Naml/27: 20)

Demikian pula burung gagak. 

Jenis burung ini disebut dalam kisah 

dua putra Adam—dipercaya bernama 

Habil dan Qabil—yang berseteru dan 

berakhir dengan meninggalnya Habil. 

Allah lalu  mengutus seekor gagak 

untuk mengajari Qabil cara mengubur 

jasad saudaranya.

lalu  Allah mengutus seekor burung gagak 

menggali tanah untuk diperlihatkan kepadanya 

(Qabil). Bagaimana dia seharusnya menguburkan 

mayat saudaranya. Qabil berkata, “Oh, celaka aku! 

Mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung 

gagak ini, sehingga aku dapat menguburkan mayat 

saudaraku ini?” Maka jadilah dia termasuk orang 

yang menyesal. (al-Mā'idah/5: 31)

Burung juga disebut dalam 

banyak hadis, beberapa di antaranya 

sebagai metafor dan beberapa lainnya 

196 Hewan dalam Perspektif Al-Qur'an  &  Sains

berkaitan dengan penjelasan Rasul 

kepada umatnya tentang hak hewan 

dan etika dalam memperlakukannya. 

َم ِفْ َسَفٍر،  ُكنَّا َمَع َرُسْوِل اهللِ َصلَّ اهللُ َعَلْيِه َوَسلَّ

َفْرَخاِن،  َمَعَها  مُحََّرًة  َفَرَأْينَا   ، ِلَاَجتِِه  َفاْنَطَلَق 

ُش،  َفَأَخْذَنا َفْرَخْيَها َفَجاَءْت اْلَُمَرُة َفَجَعَلْت ُتَفرِّ

َم َفَقاَل : َمْن َفَجَع  َفَجاَء النَّبِيُّ َصلَّ اهللُ َعَلْيِه َوَسلَّ

َقْرَيَة  َوَرَأى   ! إَِلْيَها  َوَلَدَها  ْوا  ُردُّ ؟  بَِوَلِدَها  َهِذِه 

ُقْلنَا:  َق َهِذِه ؟  َفَقاَل : َمْن َحرَّ ْقنَاَها  َقْد َحرَّ َنْمٍل 

إاِلَّ  بِالنَّاِر  َب  ُيَعذِّ َأْن  َينَْبِغْي  اَل  ُه  إِنَّ  : َقاَل   ، َنْحُن 

َربُّ النَّاِر. )رواه أبو داود عن ابن مسعود(

Kami sedang bersama Rasulullah dalam suatu 

perjalanan. saat  Rasulullah sedang membuang 

hajat, kami melihat seekor burung bersama 

dua ekor anaknya. Kami menangkap anaknya, 

dan induknya mendekat sambil merentangkan 

sayapnya. Rasulullah datang dan bertanya, “Siapa 

yang membuat induk burung ini khawatir akan 

anaknya? Kembalikan kedua anaknya kepadanya!” 

Rasulullah juga melihat sarang semut yang habis 

kami bakar. Beliau bertanya, “Siapa yang telah 

membakarnya?” Kami menjawab, “Kami.” Beliau 

bersabda, “Tidak ada yang patut menghukum 

dengan api kecuali Allah, Pemilik api.” (Riwayat 

Sunan Abū-Dāwud dari Ibnu Mas‘ūd) 

َأْكِل  َعْن  َم  َوَسلَّ َعَلْيِه  اهللُ  َصلَّ  اهللِ  َرُسْوُل  َنَى 

ُبِع َوَعْن ُكلِّ ِذْي ِمَْلٍب ِمْن  ُكلِّ ِذْي َناٍب ِمَن السَّ

. )رواه مسلم عن ابن عباس( الطَّْيِ

Dari Ibnu Abbas ia berkata, "Rasulullah shallallahu 

'alaihi wasallam telah melarang mengkonsumsi 

semua binatang buas yang bertaring dan semua 

burung yang memiliki cakar. (Riwayat Muslim dari 

Ibnu ‘Abbās)

Perikehidupan Burung

Burung yaitu  hewan yang hampir 

seluruh tubuhnya ditumbuhi bulu; ber-

sayap, berkaki dua, berdarah panas, 

berkembang biak dengan bertelur, dan 

bertulang belakang. Burung terdiri dari 

sekitar 10.000 jenis yang terbagi dalam 

146 suku. Dengan demikian burung 

merupakan hewan bertulang belakang 

dengan kelompok paling besar. 

Burung hidup di hampir semua 

belahan bumi. Burung berevolusi dari 

dinosaurus pemakan daging (Thero-

pod) pada Masa Mezosoic, sekitar 

150 juta tahun lalu. Burung kuno 

seperti Archaeopteryx memiliki gigi 

di paruhnya dan cakar di sayapnya. 

Dalam klasifikasi yang dibuat Francis 

Willughby dan John Ray (1676), dan 

lalu  diperbaiki Carolus Linneaus 

(1758), kelompok burung (kelas Aves) 

dimasukkan ke dalam golongan dino-

saurus dari kelompok Therapoda, ber-

sama dengan buaya. Pada akhir abad 

XX burung dipisahkan dari kelompok 

dinosaurus dan dimasukkan ke kelom-

pok hewan yang berkembangan lebih 

baru. Archeopteryx  lithographica ke-

mudian dianggap sebagai jenis yang 

menurunkan burung modern.

Ada jenis burung modern yang 

masih memiliki cakar pada sayapnya 


seperti burung kuno Archaeopteryx. 

Burung unta (Ostrich, Struthio camelus) 

memiki tiga cakar pada tiap sayapnya, 

sedang  burung Hoatzin (Ophisto-

comus hoazin) dan burung African 

touraco (jenis-jenis burung dari suku 


Musophagidae) memiliki cakar pada 

sayapnya saat masih berusia muda. 

Cakar yang mereka gunakan untuk 

memanjat pohon ini akan menghilang 

saat  burung mencapai usia dewasa.

Burung terbesar yang masih 

hidup hingga saat ini yaitu  burung 

unta. Burung unta dapat tumbuh 

hingga setinggi 2,7 meter. Tidak hanya 

tubuhnya yang tergolong raksasa, 

telur burung unta juga memiliki ukur-

an jauh lebih besar daripada telur 

burung pada umumnya. Telur burung 

unta bisa mencapai ukuran 11 x 18 cm, 

dengan berat sekitar 1,4 kg. Semen-

tara itu, burung fosil terbesar yaitu  

Dromonis stirtoni, dengan tinggi 

mencapai 3 meter dan berat sekitar 

450 kg. Adapun burung terkecil ada-

lah Bee Hummingbird (Mellisuga hele-


nae) dengan panjang tubuh hanya 

2,5 cm dan berat 1,6 gram. Seperti 

ukuran tubuhnya, telur burung ini 

juga memiliki ukuran terkecil, hanya 

sebesar kuku jari kelingking.  

199Hewan dalam Al-Qur'an

Kehebatan terbesar burung 

yang disebut dalam Al-Qur'an yaitu  

kemampuannya terbang. Burung dapat 

terbang dengan baik sebab  Allah 

“memegangnya” di udara. Mereka 

terbang sebagai bagian dari penyem-

bahan kepada Sang Pencipta. Terbang 

yaitu  cara burung untuk bergerak. 

Akan namun , tidak semua burung dapat 

terbang. Ada beberapa jenis burung 

yang hanya bisa berjalan dan berlari, 

misalnya burung unta. Ada pula be-

berapa jenis burung yang dapat meng-

kombinasikan kemampuan terbang 

dengan kefasihan berenang, seperti 

ditemui pada kebanyakan burung-

burung air, misalnya belibis dan camar. 

Ada pula beberapa jenis burung 

yang hanya dapat berenang, seperti 

penguin.

Burung beradaptasi terhadap 

lingkungannya dengan cara terbang. 

Mereka menjadi pemburu yang tangguh 


dengan kemampuan terbang cepat 

serta merubah arah dengan cepat. 

Burung juga dapat menghindar dari 

pemangsanya dengan kecepatannya 

melakukan lepas landas. Burung dapat 


mencari tempat dengan persediaan 

makanan berlimpah, dan menghindari 

kondisi cuaca yang tidak sesuai untuk 

keperluan berkembang biak, dengan 

terbang dalam waktu yang panjang ke 

tempat yang sangat jauh, atau dikenal 

dengan istilah migrasi. 

Burung memiliki semua syarat 

untuk dapat terbang. Pertama, burung 

memiliki bagian-bagian tubuh yang 

ringan, seperti tulang yang berlubang. 

Kedua, burung memiliki otot-otot ter-

bang yang kuat, yang memperoleh 

pasokan oksigen optimum. Anggota 

tubuh lainnya, seperti paruh, sistem 

respirasi, paru-paru, dan sayap burung 

memang didesain Tuhan sedemikian 

rupa untuk memungkinkan hewan ini 

terbang dengan baik.

Pada dasarnya, keberadaan ga-

ya gravitasi membuat semua benda 

yang diletakkan di udara, cepat atau 

lambat, akan jatuh ke bumi. Baik 

makhluk hidup maupun benda mati 

pasti dipengaruhi oleh gaya gravitasi 

ini. Namun demikian, dengan mukjizat 

yang diberikan Allah, burung dapat 

menentang gaya gravitasi dan terbang 

naik-turun di udara. Mereka dapat me-

lakukan bermacam manuver di udara, 

bahkan dapat melipat sayapnya untuk 

menukik tajam dan dalam kecepatan 

tinggi menembus udara. 

Setiap bagian dari tubuh burung, 

bahkan yang terkecil, dari bulu hingga 

paru-paru, dari pengaturan bentuk 

bulu yang bermacam sampai bentuk 

sayapnya, telah diciptakan Allah untuk 

memungkinkannya terbang. Seekor 

anak burung yang sama sekali belum 

tahu cara terbang dan tidak juga me-

ngenal hukum termodinamika, lahir 

dengan potensi untuk dapat ter-

bang. Ia menjatuhkan dirinya dari 

sarang yang tinggi di atas pohon, 

dan langsung dapat terbang seolah 

ia tahu badannya memang didesain 

untuk dapat terbang. Informasi yang 

demikian ini tidak pernah diajarkan 

induknya kepadanya, dan tidak pula 

ada pelatihan terbang yang berdasar-

kan “trial and error”.  Bahwa tubuh 

burung memang didesain untuk me-

mungkinkannya terbang, bahwa dalam 

diri burung tertanam keberanian untuk 

menjatuhkan tubuhnya dari sarang, 

dan bahwa dalam diri mereka ada  

keyakinan tidak akan jatuh ke tanah 

dan mati, semua itu terjadi berkat 

inspirasi (ilham) dari Allah.

Untuk dapat terbang burung 

memerlukan oksigen dalam jumlah 

banyak, yang diperolehnya dari paru-

parunya. Mereka juga memerlukan 

sistem sirkulasi darah yang kuat untuk 

mendistribusikan oksigen ke setiap 

otot yang dipakai nya untuk terbang. 

Penguatan sirkulasi darah ini mereka 

dapat dengan cara mempercepat de-

tak jantung. Pada burung madu, detak 


jantungnya dapat mencapai 1.000 kali 

per menit; bandingkan dengan jantung 

manusia yang berdetak sebanyak 60–

90 kali per menit.

Burung memiliki  dua paru-

paru utama, di mana terjadi pertukaran 

gas, yang memiliki hubungan dengan 

banyak kantong udara yang menyebar 

di seluruh tubuhnya, termasuk yang 

terletak di dalam tulang yang berlu-

bang. Dalam kantong udara ini tidak 

terjadi pertukaran gas. Udara dalam 

kantong udara ini membantu burung 

untuk tetap berada di udara, dan tidak 

terpengaruh oleh helaan nafas burung. 

Berbeda dari kepunyaan burung, 

paru-paru manusia secara bergantian 

berisi udara saat menghela nafas, dan 

kosong saat mengembuskan nafas. 

Untuk mendukung kemampuan ter-

bangnya, paru-paru burung mempu-

nyai volume 20% dari total volume 

tubuhnya, bandingkan dengan volume 

paru-paru manusia yang hanya 5% dari 

total volume tubuhnya. Dalam sistem 

respirasi, pertama kali udara dima-

sukkan ke dalam kantong-kantong 

udara. Pada tahap berikutnya udara 

segar penuh oksigen itu dilewatkan 

ke paru-paru yang berbentuk mirip 

saluran (parabronchi, di mana terjadi 

pertukaran gas). Pertukaran gas terus 

berlangsung baik