Tentang hewan 7
mpak bah-
wa domba telah sejak lama menjadi
gantungan hidup manusia. Daging,
susu, kulit, wool, bahkan kotoran he-
wan ini dimanfaatkan manusia untuk
berbagai keperluan. Dalam ranah ilmu
pengetahuan, domba juga memberi
kontribusi nyata. Dalam ranah spiri-
tual, mungkin bukan dombanya yang
menjadi penting, melainkan kenya-
taan bahwa sebagian besar nabi
pernah menggembala domba atau
kambing. Kehidupan sebagai gembala
mengharuskan seseorang untuk be-
kerja sendiri dalam kesunyian dan
dekat dengan alam. Suasana demikian
tampaknya menjadi semacam pelatihan
mental dan emosi untuk menyiapkan
seseorang menerima “visi tentang
Tuhan Yang Mahakuasa”. Kontak yang
intensif dengan alam dan fenomena
fisik yang dilihatnya mendorong sese-
orang untuk menyimpulkan dengan
benar tentang alam semesta dan
Penciptanya. Namun, itu saja tidak
cukup. Observasi langsung dan alasan-
alasan yang bersifat deduktif tidak
cukup untuk berhubungan dengan
prinsip spiritual yang bekerja pada inti
masalah. Ada hal lain yang berada di
balik apa yang terlihat oleh mata dan
terpikirkan oleh otak. Sesuatu yang
amat penting ini tidak berbentuk
fenomena fisik maupun transformasi
energi. Tidak seorang pun, termasuk
nabi, dapat mengerti dan memperoleh
kenyataan dengan mengandalkan per-
sepsi intelektualnya saja. Allah meng-
ingatkan keterbatasan demikian ini
kepada Rasulullah melalui firman-Nya,
Itulah sebagian dari berita-berita gaib yang Kami
wahyukan kepadamu (Muhammad); tidak pernah
engkau mengetahuinya dan tidak (pula) kaum-mu
sebelum ini. Maka bersabarlah, sungguh, kesudah-
an (yang baik) yaitu bagi orang yang bertakwa.
(Hūd/11: 49)
11. KAMBING
Kambing disebut lima kali dalam Al-
Qur'an, baik sebagai hewan ternak
dalam arti hakiki maupun sebagai
metafor. Allah berfirman,
Ada delapan hewan ternak yang berpasangan
(empat pasang); sepasang domba dan sepasang
kambing. Katakanlah, “Apakah yang diharamkan
Allah dua yang jantan atau dua yang betina atau
yang ada dalam kandungan kedua betinanya?
Terangkanlah kepadaku berdasar pengetahuan
jika kamu orang yang benar.” (al-An‘ām/6: 143)
Yang dimaksud dengan frasa
“delapan binatang yang berpasangan”
yaitu sepasang kambing, sepasang
domba, sepasang unta, dan sepasang
sapi. Ayat ini berkaitan erat dengan ayat
sebelumnya yang berbicara tentang
hewan ternak. Seperti kita ketahui,
menggembala kambing atau domba
yaitu pekerjaan yang dilakukan oleh
nabi-nabi keturunan Ibrahim. Ayat
berikut ini, meski tidak secara spesifik,
memperlihatkan bahwa Nabi Musa
pada suatu saat juga bekerja sebagai
penggembala.
Ayat di bawah ini mengisahkan
seseorang yang tidak tahu harus
berbuat apa saat saudaranya yang
sudah memiliki 99 ekor kambing (dalam
terjemahan bahasa Inggris disebutkan
sebagai domba) memaksanya untuk
menyerahkan satu-satunya kambing
miliknya. Ayat ini menggambarkan
banyaknya ketidakadilan, keserakahan,
dan kezaliman di tengah kehidupan
berwarga .
Dia (Musa) berkata, “Ini yaitu tongkatku, aku
bertumpu padanya, dan aku merontokkan (daun-
daun) dengannya untuk (makanan) kambingku,
dan bagiku masih ada lagi manfaat yang lain.”
(Ţāhā/20: 18)
Pada ayat berikut dikisahkan
bagaimana Nabi Daud dan putranya,
Sulaiman, menyelesaikan konflik yang
muncul di tengah rakyatnya yang
dipicu oleh sekawanan kambing milik
seseorang yang merusak lahan perta-
nian milik tetangganya.
Dan (ingatlah kisah) Dawud dan Sulaiman, saat
keduanya memberikan keputusan mengenai
ladang, sebab (ladang itu) dirusak oleh kambing-
kambing milik kaumnya. Dan Kami menyaksikan
keputusan (yang diberikan) oleh mereka itu. (al-
Ambiyā'/21: 78)
Sesungguhnya saudaraku ini memiliki sembi-
lan puluh sembilan ekor kambing betina dan
aku memiliki seekor saja, lalu dia berkata,
“Serahkanlah (kambingmu) itu kepadaku! Dan dia
mengalahkan aku dalam perdebatan.” Dia (Dawud)
berkata, “Sungguh, dia telah berbuat zalim
kepadamu dengan meminta kambingmu itu untuk
(ditambahkan) kepada kambingnya. Memang
banyak di antara orang-orang yang bersekutu itu
berbuat zalim kepada yang lain, kecuali orang-
orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan;
dan hanya sedikitlah mereka yang begitu.” Dan
Dawud menduga bahwa Kami mengujinya; maka
dia memohon ampunan kepada Tuhannya lalu
menyungkur sujud dan bertobat. (Șād/38: 23-24)
Ada beberapa ayat yang menye-
but bagian tubuh kambing sebagai
perumpamaan, misalnya dalam rang-
kaian ayat berikut.
Dengan demikian, ayat ini tampaknya
ingin menegaskan bahwa orang yang
demikian itu sifatnya tidak patut sama
sekali diteladani dan diikuti.
Banyak hadis yang menyebut
kambing; kebanyakan menyebutnya
dalam kaitan dengan aturan berkurban.
Beberapa hadis yang berkaitan dengan
kambing secara langsung di antaranya:
َميَِّتًة َشاًة َم َوَسلَّ َعَلْيِه اهللُ َصلَّ النَّبِيُّ َوَجَد
َدَقِة ، َفَقاَل النَّبِيُّ ُأْعطَِيْتَها َمْوالٌَة لَِْيُموَنَة ِمَن الصَّ
؟ بِِجْلِدَها اْنَتَفْعُتْم َهالَّ : َم َوَسلَّ َعَلْيِه اهللُ َصلَّ
َم َحُرَم َأْكُلَها . )رواه َا َمْيَتٌة ، َقاَل : إِنَّ َقاُلوا : إِنَّ
البخاري ومسلم عن ابن عباس(
Nabi pernah mendapati seekor kambing yang mati.
Kambing itu dahulunya diberikan oleh seseorang
kepada Maimūnah sebagai sedekah. Lalu Nabi
bersabda, “Mengapa tidak kalian manfaatkan saja
kulitnya?” para sahabat menjawab, “Kambing ini
sudah mati.” Beliau bersabda, “Yang haram yaitu
memakannya―bukan mengambil manfaat dari
Dan janganlah engkau patuhi setiap orang yang
suka bersumpah dan suka menghina, suka men-
cela, yang kian kemari menyebarkan fitnah, yang
merintangi segala yang baik, yang melampaui
batas dan banyak dosa, yang bertabiat kasar,
selain itu juga terkenal kejahatannya, sebab dia
kaya dan banyak anak. (al-Qalam/68: 10-14)
Ayat 14 menyebut bahwa orang
yang memiliki banyak anak dan
harta akan lebih mudah memperoleh
pengikut. Akan namun , jika orang itu
memiliki sifat-sifat buruk seperti
disebut pada ayat 10–13, tentu ia tidak
patut diikuti dan diteladani.
Ada yang menarik dalam tafsiran
terhadap ayat 13. Pada ayat ini ,
begitu tafsir ini, ada kata “zanīm”
yang berakar dari kata “zanāmah”,
suatu kata yang secara literal berarti
dua gelambir di leher kambing (bahasa
Inggris: tassel). Tidak semua turunan
kambing memiliki gelambir ini. Fungsi
organ ini belum sepenuhnya diketahui.
warga awam menganggapnya
sebagai organ yang tidak berguna.
Oleh ayat ini orang yang sifat-sifatnya
disebut dalam ayat-ayat sebelumnya
diumpamakan dengan gelambir ini.
kulitnya.” (Riwayat al-Bukhāri dan Muslim dari
Ibnu ‘Abbās)
َوُهَو بُِغاَلٍم َمرَّ َم َوَسلَّ َعَلْيِه اهللُ َصلَّ النَّبِيَّ إِنَّ
َعَلْيِه اهللُ َصلَّ اهللِ َرُسوُل َلُه َفَقاَل ، َشاًة َيْسُلُخ
ْلِد َم : َتنَحَّ َحتَّى ُأِرَيَك ! َفَأْدَخَل َيَدُه َبْيَ اْلِ َوَسلَّ
َواللَّْحِم َفَدَحَس ِبَا َحتَّى َتَواَرْت إَِل اإِلْبِط ، ُثمَّ
ْأ . )رواه أبو داود َيَتَوضَّ َمَض َفَصلَّ لِلنَّاِس َوَلْ
عن أب سعيد الدري(
Suatu saat Rasulullah berpapasan dengan
seorang anak yang sedang menguliti kambing.
Beliau berkata kepada anak itu, “Berhentilah
sebentar; aku akan mengajarimu (bagaimana cara
menguliti kambing dengan baik). lalu beliau
menyisipkan lengannya di antra kulit dan daging
kambing itu sampai mencapai ketiak. sesudah itu
Rasulullah pun berlalu untuk mengimami salat
para sahabatnya tanpa berwudu terlebih dahulu―
yakni tanpa mencuci tangan. (Riwayat Abū Dāwūd
dari Abū Sa‘īd al-Khudri)
، َكتًِفا َم َوَسلَّ َعَلْيِه اهللُ َصلَّ اهللِ َرُسْوُل َأَكَل
. َفَصلَّ َقاَم ُثمَّ ، َتُه َتْ َكاَن بِِمْسٍح َيَدُه َمَسَح ُثمَّ
)رواه أبو داود عن ابن عباس(
Rasulullah memakan belikat (kambing), lalu
beliau mengusap tangannya dengan serbet dekat
tempat duduknya. Beberapa saat lalu beliau
beranjak dan menunaikan salat. (Riwayat Abū
Dāwūd dari Ibnu ‘Abbās)
َعَلْيِه اهللُ َصلَّ اهللِ لَِرُسْوِل َأْشِوْي َلُكنُْت َأْشَهُد
ْأ . )رواه َيَتَوضَّ اِة ، ُثمَّ َصلَّ َوَلْ َم َبْطَن الشَّ َوَسلَّ
مسلم عن أب رافع(
Aku bersumpah bahwa aku memanggang untuk
Rasulullah bagian perut kambing. (Beliau pun
memakannya), dan beberapa saat lalu beliau
salat tanpa beruwudu terlebih dahulu. (Riwayat
Muslim dari Abū Rāfi‘)
َأْصَحابِِه َبْيَ َم َوَسلَّ َعَلْيِه اهللُ َصلَّ النَّبِيُّ َم َقسَّ
َيا : َفُقْلُت ، َجَذَعٌة لُِعْقَبَة َفَصاَرْت ، َضَحاَيا
َبَا ! َقاَل : َضحِّ َرُسْوَل اهللِ ، َصاَرْت َجَذَعٌة ؟
)رواه البخاري عن عقبة بن عامر الهني(
Rasulullah membagi-bagi hewan-hewan kurban
kepada para sahabatnya. saat itu ‘Uqbah men-
dapat seekor jaża‘ah (anak kambing berumur enam
bulan). Aku (‘Uqbah) bertanya, “Aku mendapat
jaża‘ah?” Beliau menjawab, “Berkurbanlah dengan
hewan itu.” (Riwayat al-Bukhāri dari ‘Uqbah bin
‘Āmir al-Juhani)
، اَلِة الصَّ َقْبَل ُبْرَدَة َأُبْو َلُه ُيَقاُل ِلْ َخاٌل ى َضحَّ
َم : َشاُتَك َفَقاَل َلُه َرُسْوُل اهللِ َصلَّ اهللُ َعَلْيِه َوَسلَّ
َشاُة َلٍْم. َفَقاَل : َيا َرُسْوَل اهللِ ، إِنَّ ِعنِْدْي َداِجنًا
َتْصُلُح َوالَ اِْذَبْحَها : َفَقاَل ، اْلَْعِز ِمَن َجَذَعًة
َك . )رواه أبو داود عن الباء بن عازب( لَِغْيِ
Seorang pamanku yang bernama Abū Burdah
menyembelih hewan kurbannya sebelum Salat Id.
Rasulullah pun lantas berkata kepadanya, “Kam-
bingmu yaitu kambing lauk (tidak sah menjadi
kurban).” Pamanku menjawab, “Wahai Rasulullah,
aku masih punya seekor anak kambing berumur
enam bulan.” Beliau bersabda, “Kalau begitu,
kurbankanlah, namun berkurban dengannya tidak
sah bagi selain dirimu.” (Riwayat Abū Dāwūd dari
al-Barrā' bin ‘Āzib)
Perikehidupan Kambing
Kambing (Capra hircus) yaitu salah
satu kelompok hewan yang pertama
kali didomestikasi manusia. Sumber
genetik utama kambing jinak berasal
dari kawasan Anatolia Zagros. Kawa-
san lain yang juga disinyalir menjadi
sumber genetika kambing jinak yaitu
kambing Bezoar (Capra aegagrus) yang
hidup tersebar dari Asia Kecil sampai
Timur Tengah. Ilmu pengetahuan
lalu mengubah posisi taksonomi
kambing hasil domestikasi menjadi
anak jenis, yaitu Capra aegagrus hircus.
Capra aegagrus pada saat itu mendiami
kawasan Asia Barat Daya dan Eropa
Timur.
Kambing berkerabat dekat dengan
domba. Upaya domestikasi kambing
diduga sudah dimulai pada sekitar
10.000–11.000 tahun yang lalu. Pada
saat itu para petani dari masa Neo-
litik di kawasan Timur Dekat mulai
memelihara kelompok kecil kambing
untuk diambil susu dan dagingnya,
sedang kotorannya mereka guna-
kan untuk bahan bakar. Mereka juga
memanfaatkan kulit, tulang, dan bebe-
rapa bagian tubuh kambing yang lain
menjadi bahan pakaian, kantong air,
dinding rumah, dan perkakas rumah
tangga lainnya.
Data arkeologi menunjukkan
bahwa upaya domestikasi juga terjadi
di dataran tinggi Pegunungan Zagros,
Iran, dan Gani Dareh di Iran Kurdistan
pada 10.000 tahun lalu. Domestikasi
kambing juga dilakukan di lembah
Sungai Euphrat dan lembah Nevali
Cori, Turki pada 11.000 tahun lalu.
Kawasan lain yang juga menjadi
tempat domestikasi kambing yaitu
Mehgrah, daerah aliran Sungai Indus,
Pakistan, pada 9.000 tahun lalu;
kawasan Kayonu, Turki, pada tahun
8.500–8.000 SM; Tell Abu Hureyra,
Suriah, pada tahun 8.000–7.400 SM;
Jericho, Israel, pada tahun 7.500 SM;
dan Ain Ghazal, Yordania, pada tahun
7.600–7.500 SM.
Kambing hasil domestikasi diciri
secara arkeologi dari terkumpulnya
kambing dalam kelompok besar, jauh
lebih besar daripada kelompok liarnya.
Di samping itu, perbedaan bentuk
badan (morfologi) juga dapat dijadikan
pembeda. Kambing jinak banyak juga
yang kembali hidup liar (disebut feral
goat). Kelompok kambing yang meliar
ini banyak ditemukan, di antaranya,
di Australia, Selandia Baru, Inggris,
dan Galapagos. Populasinya relatif
kecil dan jarang berkembang sampai
menjadi cukup besar untuk dapat
mengganggu ekosistem.
Kebanyakan kambing memiliki
sepasang tanduk yang digunaknnya
untuk mempertahankan diri, menam-
pakkan dominasi, dan juga sebagai
ciri kawasan ruaya alias migrasinya.
Kambing jantan maupun betina
umumnya memiliki janggut. Beberapa
keturunannya, kebanyakan kambing
penghasil susu, memiliki sepasang
organ yang tumbuh di leher (dinamakan
tassel atau wattles). Beberapa turunan
kambing dan domba seringkali mirip
satu sama lain. Perbedaan keduanya
terlihat pada bentuk ekor. Kambing
biasanya memiliki ekor pendek dan
mencuat ke atas, sedang domba
memiliki ekor yang menggantung ke
bawah. Ekor domba umumnya juga
lebih panjang, lebih besar, dan berle-
mak, meski ada juga domba yang
berekor kecil seperti kambing.
Kambing dapat hidup rata-rata
15–18 tahun. Selain dapat berkembang
biak tanpa mengenal musim, kambing
juga dikenal tidak pemilih dalam soal
pakan. Kambing tidak menolak jika
diberi sisa manusia, asalkan tidak
berupa kaleng atau kertas karton.
Mungkin saja kambing punya rasa ingin
tahu yang tinggi sehingga mau makan
apa saja yang mirip dengan makanan
aslinya. Kambing bahkan mampu
melahap beberapa jenis rumput atau
dedaunan “beracun” dan dihindari
hewan ternak lainnya.
Kambing sangat berguna bagi
manusia sebagai penghasil susu, da-
ging, dan kulit. Beberapa keturunan
kambing juga dapat menghasilkan
wool, seperti keturunan anggora dan
cashmere/pashmina. Beberapa ketu-
runan juga dikenal sebagai pengangkut
beban. Di negara-negara berkembang
kambing banyak dipilih untuk dijadikan
hewan bantuan bagi warga mis-
kin sebab biaya pemeliharaannya
lebih murah daripada sapi atau domba.
Beberapa keturunan kambing dikenal
sebagai penghasil susu dan menjadi
subjek penting dalam industri keju.
Beberapa jenis di antaranya yaitu
Toggenbur (dibudidayakan di Swiss),
Saanen (Lembah Saanen, Swiss), Ober-
hasli, Nigerian Dwarf (Afrika Barat),
La Mancha (California), dan Alpine
(Prancis).
Hubungan manusia dan kambing
tidak terbatas pada hal-hal yang ber-
sifat fisik, namun juga yang bersifat
spiritual dan budaya. Dalam mitologi
Norwegia, Dewa Guntur bernama Thor
memiliki kereta perang yang ditarik
kambing, yang dinamai Tanngrisnir dan
Tanngjostr. Di kawasan Skandinavia,
kambing dipakai sebagai simbol
natal. Di Yunani, Dewa Pan dirupakan
dalam tubuh manusia bertanduk di
bagian atas, dan tubuh bagian bawah
berupa kambing. Dalam penanggalan
Cina, kambing muncul sebagai salah
satu dari 12 shio. Kambing juga disebut
dalam Alkitab. Kambing dianggap
hewan yang “bersih” dalam aturan
makan orang Yahudi, dan dipotong
sebagai suguhan tamu terhormat.
Tidak saja dikaitkan dengan hal-
hal positif, kambing dalam beberapa
budaya muncul sebagai penjelmaan
setan, seperti dalam budaya Kristen
di beberapa bagian Eropa atau dalam
agama Kristen di Abad Pertengahan.
Hubungan kambing dengan setan
juga dipercaya dalam agama-agama
kuno. Pada permulaan agama Kristen,
kepercayaan sebelumnya masih terba-
wa dan memberi warna tersendiri.
Pada saat itu warga masih tetap
menganggap hewan sebagai totem,
suatu simbol dari alam.
Kambing merupakan hewan
yang sangat penting dalam budaya
beberapa suku pada masa prasejarah
di Eropa. Salah satunya yaitu gam-
baran tentang Baphomet yang dicip-
takan Eliphas Levi. Gambaran ini
lalu dipakai para penyihir
pada abad XIX di Inggris dan Prancis.
Levi mempublikasi gambar ini dalam
buku yang ditulisnya pada 1855. Semua
kegiatan di atas ditentang oleh para
penguasa Kristen sebab dianggap
sebagai bentuk pemujaan setan.
Kambing dan domba banyak
dikaitkan dengan profesi penggembala
yang menjadi ciri khas para nabi. Nabi
Daud, Nabi Sulaiman, dan Nabi Musa
yaitu beberapa dari nebi-nabi yang
menggembala kambing (Tāhā/20: 18;
al-Anbiyā'/21: 78). Kemungkinan besar
dalam masa penggembalaan ini para
nabi sedang menjalani pelatihan untuk
menjadi gembala bagi umat manusia.
Para penggembala dituntut selalu
waspada dan memperhatikan hewan
gembalaannya agar tidak pencar atau
terancam oleh hadirnya pemangsa.
Sama halnya dengan seorang nabi. Ia
yaitu gembala bagi kemanusiaan;
selalu berpikir untuk kesejahteraan
manusia, dan selalu menuntun mereka
menapaki jalan yang lurus menuju
kesejahteraan duniawi dan ukhrawi.
Dari pengalaman menggembala ter-
nak diharapkan akan muncul kecinta-
an seorang nabi kepada umatnya dan
keinginan yang besar untuk meng-
hilangkan kesengsaraan dari pundak
mereka, melenyapkan kekufuran dari
hati mereka. Demikian kuat keinginan
Rasulullah untuk menyatakan kecinta-
annya kepada umat manusia dengan
berdakwah sekuat tenaga, sampai-
sampai beliau terkadang kurang begitu
mempedulikan kondisi kesehatannya
sendiri. Allah menyuratkan hal ini
dalam firman-Nya,
Boleh jadi engkau (Muhammad) akan membinasa-
kan dirimu (dengan kesedihan), sebab mereka (pen-
duduk Mekah) tidak beriman. (asy Syu‘arā'/26: 3)
12. GAJAH
Secara spesifik gajah hanya disebut
dalam Al-Qur'an sebanyak satu kali,
yaitu dalam Surah al-Fīl/105: 1.
Tidakkah engkau (Muhammad) perhatikan bagai-
mana Tuhanmu telah bertindak terhadap pasukan
bergajah? (al-Fīl/105: 1)
Pasukan bergajah pada ayat
ini ialah pasukan pimpinan Abrahah,
gubernur Yaman, yang bermaksud ke
Mekah untuk menghancurkan Kabah
pada tahun kelahiran Rasulullah. Sebe-
lum berhasil masuk ke Mekah tentara
ini diserang oleh sekelompok burung
yang melempari mereka dengan batu-
batu kecil nan panas yang memusnah-
kan mereka.
Pada saat itu wilayah Yaman
berada di bawah pemerintahan Keraja-
an Abissinia. Wakil pemerintah Keraja-
an Abissinia di Yaman yaitu seorang
bernama Abrahah. Ia membangun
sebuah katedral yang amat indah di
Sana'a. Katedral ini dibangun tidak
semata-mata sebagai sarana keaga-
maan, tapi juga untuk menyaingi
Mekah sebagai pusat kegiatan ziarah
di Semenanjung Arabia. Ada pula misi
lain yang hendak Abrahah jalankan
bersama pembangunan katedral itu,
yakni menyebarkan agama Kristen ke
daerah lain. Niat Abrahah ini diten-
tang keras oleh hampir semua suku
di Semenanjung Arabia. Dalam perja-
lanan tentara Abrahah mendapat
perlawanan dari beberapa suku yang
tinggal di sepanjang jalan menuju
Mekah, di antaranya Suku Khaš‘am.
Sayangnya suku-suku ini bukanlah tan-
dingan pasukan Abrahah sehingga
dapat dengan mudah ditaklukkan.
Bahkan sesepuh Suku Khaš‘am, Nufail,
ditawan dan dipaksa menjadi pemandu
pasukan Abrahah menuju Mekah.
Selama memandu Nufail selalu
berjalan di dekat Unais, pelatih ga-
jah milik Abrahah. Gajah ini sangat
diandalkan Abrahah dalam penyerang-
annya ke Mekah. Selama itu pula Nufail
selalu memperhatikan dan mempelajari
cara Unais mengendalikan gajah. Keti-
ka pasukan ini bersiap melakukan
penyerangan, Unais menengok ke arah
Abrahah untuk menerima perintah.
Pada saat itulah Nufail memerintah
gajah agar berlutut. Gajah menuruti
perintah Nufail dengan segara. Meski
Unais berusaha keras memerintah
gajah untuk berdiri, upaya itu tetap
saja gagal. Tampaknya hewan itu lebih
menuruti perintah Nufail daripada
perintah pelatihnya sendiri. Segala ma-
cam cara dilakukan agar gajah mau ber-
diri namun tetap saja tidak berhasil.
lalu mereka membuat tak-
tik seolah pasukan urung menyerang
Mekah dan kembali ke Yaman. Melihat
itu gajah pun berdiri dan mengikuti
pasukan. Sayangnya, saat pasukan
itu memutar arah dan kembali bejalan
ke arah Mekah, saat itu pula gajah
ini kembali berlutut. Demikian
dilakukan berkali-kali, dan selalu
berakhir sama. Andaikata Abrahah
mengurungkan niatnya, mungkin saja
bencana tidak akan menimpa pasukan-
nya. Namun kesombongan sudah te-
lanjur menguasai diri Abrahah, dan
sebab nya ia nekat mengomando pa-
sukannya untuk maju ke arah Mekah
tanpa gajah.
Benar saja, semua sudah terlam-
bat bagi pasukan Abrahah. Tidak lama
sesudah beranjak, dari arah laut muncul
ribuan burung yang masing-masing
membawa tiga batu sebesar kacang
kering. Serangan batu ini membuat
pasukan kacau-balau. Tiap batu yang
dijatuhkan burung itu selalu mengenai
sasaran dengan kecepatan tinggi.
Begitu tertimpa batu ini, daging tubuh
sebagian pasukan Abrahah langsung
membusuk, dan sebagian lainnnya
membusuk beberapa saat lalu .
Hanya sebagian kecil dari pasukan
yang tidak terkena serangan, di anta-
ranya gajah Abrahah, Unays, dan
Nufail. Abrahah juga termasuk yang
selamat, namun ia mati begitu sampai
di negerinya, Yaman.
Tidak hanya menyebut gajah
dalam bentuk utuhnya, Al-Qur'an juga
menyebut sebuah organ gajah yang
paling dikenal, yakni belalai, dalam
Surah al-Qalam/86: 16. Pada beberapa
ayat sebelumnya (al-Qalam/68: 10–
13) Allah menguraikan keburukan-
keburukan perilaku manusia, seperti
banyak bersumpah dan ingkar; sering
menghujat, menyebar fitnah, meng-
halangi orang lain berbuat baik,
melampaui batas, banyak berbuat
berdosa; kaku, kasar, dan jahat.
lalu pada ayat 14–15 surah yang
sama disebutkan bahwa orang yang
demikian ini terkadang yaitu mereka
yang memiliki harta dan anak buah
yang banyak. Akhirnya, pada ayat
180 Hewan dalam Perspektif Al-Qur'an & Sains
16 Allah memastikan akan memberi
tanda pada “belalai” orang memiliki
sifat-sifat buruk ini .
hewan darat terbesar yang hidup di
bumi saat ini. Masa kehamilan gajah
yaitu 22 bulan, terlama dibandingkan
hewan darat lainnya. Saat terlahir
anak gajah sudah memiliki berat
badan sekitar 120 kg. Usia gajah dapat
mencapai antara 50–70 tahun.
Gajah Asia dan gajah Afrika ter-
pisah dari nenek moyang yang sama
sekitar 7,6 juta tahun yang lalu. Gajah
Afrika terbagi menjadi dua anak jenis,
sedang gajah Asia terbagi menjadi
empat anak jenis. Secara umum gajah
Afrika dibedakan dari gajah Asia dari
lebar daun telinga (gajah Afrika ber-
telinga lebih lebar), rambut yang lebih
tipis, dan memiliki gading baik pada
gajah jantan maupun betina. Pada
gajah Asia, gading hanya dimiliki oleh
gajah jantan.
Gajah dari marga Loxodonta
yang secara kolektif dinamakan seba-
gai gajah Afrika ditemukan hidup di
37 negara Afrika. Secara tradisional,
gajah Afrika terbagi menjadi dua anak
jenis, yaitu gajah yang hidup di daerah
padang rumput dan semak (Loxodonta
africana africana) dan yang hidup di
sekitar dan di dalam hutan (Loxodonta
africana cyclotis). Dari hasil analisis
DNA, diusulkan kedua anak jenis ini
dibagi lagi menjadi dua jenis yang
terpisah, yaitu Loxodonta africana
dan Loxodonta cyclotis. Tidak hanya
itu, ada satu jenis lagi gajah Afrika
Kelak akan Kami beri tanda dia di belalai(nya). (al-
Qalam/68: 16)
Belalai yaitu organ yang sangat
identik dengan gajah. Penyebutannya
berkaitan dengan idiom dalam budaya
Arab. Dalam pandangan warga
Arab, belalai yaitu bagian paling
sensitif dari tubuh gajah. Begitu bagian
ini “dikuasai”, maka apa pun perintah
yang ditujukan kepada hewan ini pasti
akan dilakukannya. Dengan merujuk
pada idiom ini dapat kita katakan
bahwa ayat di atas hendak menegaskan
kepada manusia kemutlakan kekua-
saan Allah atas semua makhluk-Nya;
bahwa tidak seorang pun dapat
menolak apa yang telah ditetapkan-
Nya. Dengan demikian ayat ini hendak
menyampaikan pesan yang senada
dengan apa yang disampaikan dalam
Surah Hūd/11: 56 yang berbicara me-
ngenai ubun-ubun kuda.
Perikehidupan Gajah
Gajah terdiri dari dua marga: Elephas
dan Loxodonta. Pada saat ini dikenal
dua jenis gajah, yaitu gajah Asia
(Elephas maximus) dan gajah Afrika
(Loxodonta africana). Gajah yaitu
yang diusulkan, namun usul ini belum
sepenuhnya disetujui para ahli.
Gajah semak Afrika yaitu gajah
terbesar di antara jenis gajah yang ada.
Tinggi badan, dari permukaan tanah
hingga bahu, gajah jantannya mencapai
3,2–4 meter, dengan berat mencapai
3.500 kg. berdasar sebuah laporan,
pernah ada gajah semak Afrika yang
memiliki berat badan 12.000 kg.
Kebalikan dari jantannya, gajah semak
betina umumnya memiliki ukuran
tubuh lebih kecil, dengan tinggi sampai
bahu hanya sekitar 3 meter. Gajah
semak Afrika hidup di daerah terbuka:
padang rumput, rawa-rawa, dan di
sekitar danau. Gajah jenis ini banyak
ditemui hidup di kawasan selatan
Gurun Sahara.
Gajah hutan Afrika umumnya
bertubuh lebih kecil dan lebih bulat,
dengan gading lebih kecil dan lebih
lurus dibandingkan gajah semak
Afrika. Beratnya dapat mencapai 4.500
kg, dengan tinggi 3 meter. Umumnya
mereka menempati kawasan hutan
hujan di kawasan tengah dan barat
Afrika. Kadangkala mereka keluar dari
hutan dan bertemu dengan sauda-
ranya, gajah semak afrika, di kawasan
pertemuan antara hutan dan padang
rumput. Menurut sebuah laporan,
terjadi kawin silang antara dua anak
jenis gajah Afrika ini.
Gajah Asia, Elephas maximus,
jauh lebih kecil ukuran tubuhnya da-
ripada gajah Afrika. Daun telinganya
juga jauh lebih kecil, dan hanya hewan
jantan yang memiliki gading. Populasi
gajah Asia, atau biasa disebut gajah
India, diperkirakan sekitar 60.000 ekor.
Gajah Asia memiliki empat anak
jenis. Pertama, gajah Sri Lanka (Elephas
maximus maximus) yang hidup hanya
di Pulau Sri Lanka. Gajah Sri Lanka
memiliki ukuran tubuh paling
besar dibanding anak jenis lainnya.
Kedua, gajah India (Elephas maximus
indicus), dengan populasi terbesar
dibanding anak jenis lainnya, yakni
sekitar 36.000 ekor. Warna kulit gajah
India lebih terang daripada gajah Sri
Lanka, dan padanya terjadi proses
dipegmintasi (terjadi bercak-bercak
putih akibat kekurangan pigmen)
pada telinga dan sekitar gading. Gajah
yang hidup di India hingga Indonesia
ini banyak ditemukan di kawasan
berhutan atau pinggiran hutan. Ketiga,
gajah Sumatera (Elephas maximus
sumatranus) yang ditemukan hidup
hanya di Sumatera. Ukurannya lebih
kecil lagi dibanding gajah India. Dewasa
ini populasinya diperkirakan tinggal
2.100–3.000 ekor saja. Kulit gajah
Sumatera berwarna abu-abu muda,
dan tidak terlalu banyak mengalami
dipegmintasi sebagaimana gajah India.
Tinggi bahu gajah Sumatera dewasa
mencapai 1,7–2,6 meter, dengan berat
kurang dari 3.000 kg. Keempat, gajah
Borneo (Elephas maximus borneen-
sis) yang baru ditemukan pada tahun
2003. Gajah yang juga dikenal seba-
gai Borneo pygmy elephant ini ber-
tubuh jauh lebih kecil, juga lebih jinak
dibanding anak jenis gajah Asia lainnya.
Meski bertubuh kecil, gajah Borneo
memiliki daun telinga yang relatif lebih
lebar dan ekor yang lebih panjang.
Gadingnya juga lebih lurus dibanding
yang lain.
Gajah modern diperkirakan ber-
evolusi sejak 60 juta tahun yang lalu.
Nenek moyang gajah pada 37 juta
tahun yang lalu disinyalir hidup di
perairan, seperti kuda Nil saat ini. Gajah
modern saat ini banyak dipelihara
untuk membantu pekerjaan manusia.
berdasar bukti arkeologi diduga
domestikasi gajah disinyalir bermula
di Lembah Indus, India. Sebenarnya
gajah tidak sepenuhnya didomestikasi,
sebab pada saat musim kawin tiba
gajah jantan tidak dapat dikendalikan,
sangat agresif, dan cenderung mem-
bahayakan. Itulah mengapa manusia
umumnya lebih memilih gajah betina
untuk membantu pekerjaannya diban-
ding pejantan.
Gajah pertama yang dijinakkan
yaitu gajah Asia, yang terutama di-
gunakan untuk menangani pekerjaan-
pekerjaan berat dalam bidang per-
tanian. Penjinakan ini tidak dapat
sepenuhnya disebut sebagai domes-
tikasi sebab manusia masih menang-
lalu. Kandidat lainnya yaitu temuan
pada peradaban di Lembah Indus yang
diperkirakan berusia hampir sama.
Temuan fosil gajah di lembah Sungai
Kuning pada masa Dinasti Shang (1.600–
1.100 SM) memasukkan Cina sebagai
salah satu kandidat tempat pertama kali
domestikasi gajah dilakukan. Populasi
gajah liar di Mesopotamia dan Cina
menurun drastis sebab kalah bersaing
dengan manusia. Gajah lalu
punah di Mesopotamia pada sekitar
tahun 850 SM, dan di Cina pada sekitar
tahun 500 SM.
Bila manusia lebih memilih gajah
betina untuk membantu mereka me-
nangani pekerjaan sehari-hari maka
gajah jantan yaitu yang paling lazim
mereka gunakan untuk keperluan
perang. Gajah betina secara naluriah
akan lari begitu didekati gajah jantan,
sehingga dengan demikian tidak pas
dipakai pada saat perang. Penggu-
naan gajah dalam perang modern
dimulai oleh Alexander Agung. Jende-
ral Hanibal dari Karthagena juga
memakai gajah untuk melewati
Pegunungan Alpen saat berperang
melawan Roma. Kemungkinan Hanibal
memakai anak jenis ketiga dari
gajah Afrika yang kini sudah punah.
Di medan perang gajah bertu-
gas mengobrak-abrik pasukan lawan
dengan cara menginjak-injak. Usaha
melatih gajah untuk perang sangat
kap gajah ini dari alam liar
untuk lalu dijinakkan, jadi ti-
dak sepenuhnya diternakkan. Bukti
penjinakan gajah dapat ditemukan
pada relief yang berasal dari masa
Mesopotamia, sekitar 4.500 tahun
mungkin bermula di India. Praktik ini
lantas menyebar ke timur (Thailand,
Kamboja, dan sekitarnya) dan ke barat
(Yunani dan Karthagena). pemakaian
gajah dalam perang yang paling dikenal
yaitu ekspedisi Perang Macedonia di
bawah pimpinan Alexander Agung saat
berhadapan dengan pasukan Persia.
Pada perang yang dikenal sebagai
Perang Guagemala dan terjadi pada 331
SM ini kedua belah pihak sama-sama
mengandalkan pasukan bergajah. Saat
Alexander tiba di Punjab (sekarang
Pakistan), dia menghadapi antara
85–100 tentara bergajah pada perang
yang bertempat di Sungai Hydaspes.
Pada saat melawan Kerajaan Nanda
dari India, Aleksander menghadapi
antara 3.000–6.000 tentara bergajah.
Kekuatan sebesar ini akhirnya mampu
menghentikan laju ekspedisi Alexander
di India.
Bangsa Mesir Kuno juga meng-
gunakan gajah Afrika untuk tujuan
yang sama. Mereka memakai
gajah hutan Afrika Utara, yang akhir-
nya punah akibat pemanfaatan yang
berlebihan. Gajah ini lebih kecil ukuran-
nya daripada gajah Asia. Dibanding di
tempat lain, gajah tidak terlalu banyak
dil ibatkan dalam perang di Cina,
meski pada masa Dinasti Han (abad 2
SM) mereka memakai pasukan
gajah dalam beberapa pertempuran.
Sebagai perbandingan, negara-negara
tetangga di sebelah barat Cina banyak
memakai pasukan gajah dalam
peperangannya, demikian pula Sri
Lanka dalam catatan sejarahnya. Ka-
laupun tidak dipakai oleh banyak
tentara, paling tidak gajah dipakai
oleh raja saat memimpin tentaranya.
Seiring diperkenalkannya senjata api
pada abad 15, peran gajah dalam perang
mulai berkurang. Namun demikian,
dalam perang antara Perancis mela-
wan Siam pada 1893 gajah masih
saja dipakai . Pada masa perang
antara Perancis dan kawasan Indo-
Cina, tentara Vietnam juga masih
memakai gajah untuk melawan
musuh.
Pada saat ini pemakaian gajah
masih dilanjutkan di Asia Tenggara
dan Selatan. Gajah dijadikan penarik
beban di medan yang sulit dan minim
infrastruktur. Di Myanmar, Thailand,
India, dan Asia Selatan, gajah dipakai
untuk membantu manusia membuat
jalan, dengan mencabut pohon dan
menghelanya. Gajah di kawasan ini juga
dipakai untuk menarik beban yang
berat dalam industri kehutanan dan
bidang militer. Gajah juga dipakai
dalam industri pariwisata di Kamboja,
Thailand, Sumatera, Sri Lanka, dan
India. Dalam upacara keagamaan di
India peran gajah sangat besar. Di
beberapa negara dikenal beberapa
permainan dengan gajah sebagai
subjek utamanya, seperti polo gajah,
sepak bola gajah, atau adu gajah.
Gajah albino (berwarna putih)
sudah lama menjadi simbol istimewa
pada banyak budaya. Bisa jadi hal ini
dipicu jarangnya gajah albino dite-
mui. Di India gajah putih yang dapat
terbang dipercaya sebagai kendaraan
paling istimewa Dewa Indra. Gambar
gajah putih juga pernah muncul dalam
bendera resmi Thailand antara tahun
1855–1916. Meski gambar itu sudah
hilang dari bendera Thailand, namun
sampai kini gajah putih masih dianggap
suci dan menjadi lambang kerajaan di
negara ini. Sementara itu, di Kamboja
gajah putih yaitu lambang kekuasaan
dan keberuntungan.
Gajah disebut dalam sebuah hadis
terkait kisah mogoknya unta Rasulullah
menjelang dilangsungkannya Perjanji-
an Hudaibiyah.
َزَمَن َم َوَسلَّ َعَلْيِه اهللُ َصلَّ اهللِ َرُسْوُل َخَرَج
َقاَل النَّبِيُّ ِرْيِق ، اْلَُدْيبَِيِة َحتَّى َكاُنْوا بَِبْعِض الطَّ
اْلَولِْيِد ْبَن َخالَِد إِنَّ : َم َوَسلَّ َعَلْيِه اهللُ َصلَّ
َذاَت َفُخُذْوا ، َطِلْيَعًة لُِقَرْيٍش َخْيٍل ِفْ بِاْلَغِمْيِم
ُهْم إَِذا َحتَّى َخالٌِد ِبِْم َشَعَر َما َفَواهللِ ! اْلَيِمْيِ
، لُِقَرْيٍش َنِذْيًرا َيْرُكُض َفاْنَطَلَق ، اْلَْيِش ِة بَِقَتَ
َم ، َحتَّى إَِذا َكاَن َوَساَر النَّبِيُّ َصلَّ اهللُ َعَلْيِه َوَسلَّ
َراِحَلُتُه بِِه َبَرَكْت ِمنَْها َعَلْيِهْم َيْبُِط تِْي الَّ بِالثَّنِيَِّة
: َفَقاُلْوا ، َفَأَلَّْت ، َحْل َحْل : النَّاُس َفَقاَل ،
النَّبِيُّ َفَقاَل ، اْلَقْصَواُء َخأَلَِت اْلَقْصَواُء َخأَلَِت
، اْلَقْصَواُء َخأَلَِت َما : َم َوَسلَّ َعَلْيِه اهللُ َصلَّ
اْلِفْيِل. َوَما َذاَك َلَا بُِخُلٍق َوَلِكْن َحَبَسَها َحابُِس
)رواه البخاري عن السور بن مرمة ومروان(
Rasulullah melakukan perjalanan bersama kaum
muslim menjelang peristiwa Hudaibiyah, dan
sampailah mereka di sebuah jalan. Rasulullah
berkata, “Sesungguhnya Khalid bin al-Walid
(waktu itu belum masuk Islam) sedang berada di
Gamim bersama pasukan berkuda Kaum Quraisy
untuk menghadang kita. sebab itu, marilah kita
berbelok ke kanan!” Demi Allah, Khalid tidak
sadar akan kedatangan rombongan kaum muslim
hingga ia melihat debu mengepul akibat dari
derap langkah pasukan muslim. Melihat hal itu,
ia lantas bergegas menghampiri Kaum Quraisy
untuk menyiagakan mereka. Rasulullah (dan para
sahabat) terus saja maju hingga mencapai Saniyah
(suatu jalan di pegunungan) yang akan membawa
mereka langsung berhadap-hadapan dengan Kaum
Quraisy. Tiba-tiba saja unta betina yang dikendarai
Rasulullah terduduk. Orang-orang berkata, “Berdi-
rilah, berdirilah!” mencoba menyuruh unta itu
berdiri dan melanjutkan perjalanannya. Sayang,
usaha mereka tidak berhasil; unta itu tetap saja
enggan berdiri. Mereka berteriak-teriak, “al-Qaswa'
(nama unta betina itu) keras kepala! al-Qaswa'
keras kepala!” Mendengar hal itu Rasul mencoba
menenangkan, “Bukannya al-Qaswa' berubah
keras kepala. Itu bukan sifatnya. Hanya saja dia
dihentikan oleh Tuhan yang telah menghentikan
gajah (Abrahah).” (Riwayat al-Bukhāri dari Miswar
bin Makhramah dan Marwān)
Demikianlah, gajah terpilih seba-
gai salah satu hewan yang Allah guna-
kan untuk memperlihatkan kekuasaan-
Nya atas semua makhluk.
13. SERIGALA
Serigala disebut dalam Al-Qur'an keti-
ka menceritakan kisah Nabi Yusuf.
Dalam rangkaian kisah ini diceritakan
bagaimana Nabi Yakub khawatir akan
keselamatan Yusuf saat saudara-
saudaranya mengajak Yusuf bermain
di luar (Yūsuf/12: 13), upaya saudara-
saudara Yusuf meyakinkan Yakub untuk
mengizinkan mereka mengajak Yusuf
bermain (Yūsuf/12: 14), dan laporan
palsu mereka tentang kematian Yusuf
akibat dimangsa serigala (Yūsuf/12: 17).
Dia (Yakub) berkata, “Sesungguhnya kepergian
kamu bersama dia (Yusuf) sangat menyedihkanku
dan aku khawatir dia dimakan serigala, sedang
kamu lengah darinya.” Sesungguhnya mereka
berkata, “Jika dia dimakan serigala, padahal kami
golongan (yang kuat), kalau demikian tentu kami
orang-orang yang rugi.” (Yūsuf/12: 13-14)
Mereka berkata, “Wahai ayah kami! Sesungguhnya
kami pergi berlomba dan kami tinggalkan Yusuf di
dekat barang-barang kami, lalu dia dimakan seri-
gala; dan engkau tentu tidak akan percaya kepada
kami, sekalipun kami berkata benar.” (Yūsuf/12: 17)
Nabi Yakub tidak percaya terha-
dap laporan ini (Yūsuf/12: 18),
sebab ia sudah tahu pasti bahwa anak-
anaknya yang lain cemburu terhadap
Yusuf. Yakub curiga merekalah yang
justru melakukan perbuatan hina itu,
bukannya serigala. Ketidakpercayaan
Yakub terhadap laporan anak-anaknya
juga dinyatakan di ayat lain (Yūsuf/12:
83). Ketidakpercayaan Yakub kepada
anak-anaknya demikian kuat, sampai-
sampai saat mereka mengabarinya
bahwa Yusuf sudah menjadi pejabat di
Mesir, ia menyuruh mereka membawa
baju kebesaran Yusuf sebagai bukti
kebenaran kabar yang mereka bawa
(Yūsuf/12: 93). Dengan demikian, ada
dua baju Yusuf yang pernah diberikan
kepada Yakub oleh anak-anaknya seba-
gai bukti. Baju pertama membawa
kesedihan bagi Nabi Yakub, dan baju
kedua memulihkan kesedihan itu.
Serigala juga disebut dalam se-
jumlah hadis, misalnya hadis berikut.
ْئُب ، َفَذَهَب ِمنَْها َبْينََم َرُجٌل ِفْ َغنَِمِه إِْذ َعَدا الذِّ
ُه اْسَتنَْقَذَها ِمنُْه ، َفَقاَل َلُه بَِشاٍة ، َفَطَلَب َحتَّى َكَأنَّ
ُبِع، ْئُب َهَذا : اْسَتنَْقْذَتَا ِمنِّي َفَمْن َلَا َيْوَم السَّ الذِّ
ي ؟ َفَقاَل النَّاُس : ُسْبَحاَن َيْوَم الَ َراِعَي َلَا َغْيِ
ُم ، َقاَل : َفإيِنِّ ُأْوِمُن ِبََذا ، َأَنا َوَأُبو اهللِ ِذْئٌب َيَتَكلَّ
البخاري عن . )رواه َثمَّ ا ُهَ َوَما ، َوُعَمُر َبْكٍر
أب هريرة(
Ada seorang pria sedang menggembala kambing-
kambingnya, saat tiba-tiba seekor serigala datang
dan menggondol seekor kambing. Pria itu mengejar
serigala itu dan menarik kambing tadi dari mulut
serigala, seolah-olah ia ingin menyelamatkannya
dari serigala. Sang serigala berkata kepadanya,
“Engkau menyelamatkannya dariku, lalu siapa
yang akan menyelamatkannya pada hari saat
hewan-hewan liar berburu, saat tidak ada yang
penggembala selain aku?” Jamaah dengan heran
berkata, “Mahasuci Allah; ada serigala yang bisa
berbicara.” Rasulullah menimpali, “Sungguh, aku
beriman akan hal ini, demikian juga Abū Bakar dan
‘Umar.”―saat itu keduanya tidak hadir di majelis
ini . (Riwayat al-Bukhāri dari Abū Hurairah)
Hadis berikut menjadikan seri-
gala sebagai perumpamaan.
ْيَطاَن ِذْئُب اإِلْنَساِن َكِذْئِب اْلَغنَِم ، َيْأُخُذ إِنَّ الشَّ
، َعاَب َوالشِّ اُكْم َفإِيَّ ، َوالنَّاِحَيَة اْلَقاِصَيَة اَة الشَّ
ِة َواْلَْسِجِد . )رواه أمحد َوَعَلْيُكْم بِاْلََمَعِة َواْلَعامَّ
عن معاذ بن جبل(
Sesungguhnya setan itu bagaikan serigala bagi
manusia, sebagaimana serigala yaitu musuh
kawanan domba. Ia akan menangkap domba yang
keluar dari kawanannya dan menyendiri. sebab -
nya, janganlah kalian memisahkan diri jamaah.
Kalian harus selalu berada dalam jamaah, dalam
kawanan, dan dalam masjid. (Riwayat Aĥmad dari
Mu‘āż bin Jabal)
فِْيِهُم ُتَقاُم الَ َبْدٍو َوالَ َقْرَيٍة ِفْ َثاَلَثٍة ِمْن َما
، ْيَطاُن الشَّ َعَلْيِهُم اْسَتْحَوَذ َقِد إاِلَّ اَلُة الصَّ
. اْلَقاِصَيَة ْئُب الذِّ َيْأُكُل َم َفإِنَّ ، بِاْلََمَعِة َفَعَلْيَك
)رواه أبو داود عن أب الدرداء(
Tidaklah tiga orang di suatu desa atau lembah yang
tidak mendirikan salat berjamaah di ling-kungan
mereka, kecuali setan akan benar-benar menguasai
mereka. sebab itu, tetaplah kalian berjamaah,
sebab sesungguhnya serigala hanya akan
memangsa kambing yang jauh dari kawanannya.
(Riwayat Abū Dāwūd dari Abū ad-Dardā')
189Hewan dalam Al-Qur'an
Serigala (Wolf Jackal), yang meru-
pakan keturunan Canis aureus yang
sudah punah. saat masih eksis di
Dalam hadis berikut Nabi, walau-
pun tidak dengan kata-kata yang șarīĥ,
melarang memakan daging serigala.
َم َعْن َأْكِل َسَأْلُت َرُسْوَل اهللِ َصلَّ اهللُ َعَلْيِه َوَسلَّ
َوَسَأْلُتُه ؟ َأَحٌد ُبَع الضَّ َأَوَيْأُكُل : َفَقاَل ، ُبِع الضَّ
؟ ْئَب َأَحٌد فِْيِه َخْيٌ ْئِب َفَقاَل : َأَوَيْأُكُل الذِّ َعِن الذِّ
)رواه التمذي عن خزيمة بن جزء(
Aku bertanya kepada Rasulullah tentang (hukum)
memakan (daging) anjing liar (hyena). Beliau
menjawab, “Adakah orang yang memakan
anjing liar?” Aku juga bertanya kepada beliau
tentang (hukum) memakan (daging) serigala.
Beliau menjawab, “Apakah ada orang baik yang
mau makan serigala?” (Riwayat at-Turmużī dari
Khuzaimah bin Jaz')
Perikehidupan Serigala
Begitu kata serigala diucapkan, yang
langsung terbayang di benak kita
yaitu serigala abu-abu (Canis lupus)
yang hidup di Eropa atau Amerika
Utara. Kendati demikian, bila kita
membaca kisah Nabi Yusuf di atas
maka serigala yang maksud tampaknya
keluarga serigala yang hidup di sekitar
Mesir dan Palestina. Calon yang paling
masuk akal yaitu dua jenis serigala,
atau yang disebut saat ini sebagai
jakal atau rubah (yang berukuran lebih
kecil daripada serigala) yang hidup di
kawasan Mesir.
Pertama, jakal Mesir (Canis aure-
us tupaster), atau dikenal sebagai Jakal
muka bumi Canis aureus menempati
kawasan Mesir sampai Palestina. He-
wan ini banyak diperdebatkan sebagai
serigala kecil ataukah jakal besar.
Tinggi bahunya mencapai 41 cm,
dengan panjang tubuh mencapai 127
cm, lebih besar daripada ukuran jakal
Eropa. Jakal Mesir hidup cenderung
menyendiri, terdiri dari satu atau dua
ekor saja. Mereka hidup di kawasan
pinggiran gurun.
Kedua, jakal Syiria (Canis aureus
syriacus) yang hidup di kawasan pantai
Laut Mediterania yang membentang
dari Lybia hingga Lebanon. Ukuran
tubuh hewan ini relatif lebih kecil
daripada jakal Mesir, dengan panjang
tubuh 60–90 cm, dan berat 5–12 kg.
Jakal Syiria ini umum ditemukan di
kawasan Lebanon dan Palestina antara
1930–1940-an. Populasinya menurun
drastis begitu kampanye antirabies
mulai digalakkan. Jumlah populasinya
saat ini tidak jelas. Hal itu bisa jadi
disebabkan di antaranya oleh adanya
perkawinan antara jakal ini dengan
anjing peliharaan.
Adapun calon lainnya, seperti
anjing liar Afrika atau serigala Ethiopia,
pastilah bukan serigala yang disebut
dalam kisah Nabi Yusuf sebab lokasi
persebarannya agak jauh dari lokasi
tempat kisah ini terjadi. Anjing
liar Afrika (Lycaon pictus) yang semula
diberi nama Canis pictus ditemukan
hanya di Afrika bagian tengah dan
menyebar sepanjang pantai timur ke
selatan. Hewan ini hidup berkelompok
di padang rumput atau semak. Adapun
serigala Ethiopia (Canis simensis), yang
dikenal juga sebagai Abysinian Fox
atau Simien Jackal, hanya ditemukan
hidup di beberapa titik saja di Ethiopia.
Penelitian menunjukkan hewan ini
lebih mendekati serigala daripada fox.
Hidup di ketinggian 3.000 meter di
atas permukaan laut. Serigala Ethiopia
hidup berkelompok, meski tidak untuk
keperluan berburu bersama. Mereka
memangsa tikus dan hewan mengerat
lainnya.
Jakal dalam budaya Mesir Kuno
dianggap sebagai penjelmaan dewa
pembalseman, Anubis. Dewa ini digam-
barkan sebagai manusia berkepala
jakal atau anjing, atau sebagai jakal
berkalung yang memegang tongkat.
Warna dominan pada patung jakal ini
yaitu hitam, warna yang dipercaya
mewakili regenerasi, kematian, atau
malam. Selain itu, hitam yaitu warna
yang terjadi begitu tubuh manusia
dimumifikasi. Peran ini diberikan kepa-
da jakal sebab umumnya mereka
berkeliaran di tepi gurun, tempat yang
biasanya menjadi lokasi pekuburan.
Akibat hal itu pula manusia di sana
mulai membuat kuburan yang lebih
kuat sebab khawatir dibongkar oleh
jakal. Sementara itu, jakal Syiria banyak
191Hewan dalam Al-Qur'an
Mesir Kuno yang mengecap hewan ini
sebagai pembongkar makam. Meski
reputasinya cenderung negatif, namun
serigala masih dipakai Allah untuk
memberi petunjuk kepada manusia.
Serigala terpilih untuk dikaitkan de-
ngan petunjuk Allah yang diberikan-
Nya dalam bentuk kisah Nabi Yusuf.
Dorongan kepada manusia untuk mem-
pelajari kisah ini dengan jelas disebut
dalam ayat berikut.
dijadikan perumpamaan dalam budaya
dan agama Yahudi. Dalam mitologi
Yahudi jakal digambarkan sebagai
hewan pembunuh anak, yang akan
membunuh anaknya sendiri.
Dari uraian ini tampak jelas
bahwa serigala memang sudah telanjur
memiliki reputasi buruk di mata
manusia, terlebih lagi dalam budaya
Sungguh, dalam (kisah) Yusuf dan saudara-sauda-
ranya ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi
orang yang bertanya. (Yūsuf/12: 7)
C. BURUNG
Penyebutan burung cukup banyak
ditemukan dalam Al-Qur'an, setidak-
nya sebanyak 11 kali. Dalam dua ayat
berikut Allah menampakkan kekuasa-
an-Nya yang berkaitan dengan burung.
Tidakkah mereka memperhatikan burung-burung
yang dapat terbang di angkasa dengan mudah.
Tidak ada yang menahannya selain Allah. Sungguh,
pada yang demikian itu benar-benar ada
tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang
yang beriman. (an-Naĥl/16: 79)
Tidakkah mereka memperhatikan burung-burung
yang mengembangkan dan mengatupkan sayapnya
di atas mereka? Tidak ada yang menahannya (di
udara) selain Yang Maha Pengasih. Sungguh, Dia
Maha Melihat segala sesuatu. (al-Mulk/67: 19)
Bagaimana burung terbang de-
ngan sangat efisien, yaitu suatu muk-
jizat yang nyata. Untuk dapat terbang,
sebuah subjek haruslah ringan, dan
di saat yang lain harus tangguh dan
kuat. Untuk dapat lepas landas dan
memulai terbang dengan sempurna,
burung haruslah berbobot ringan.
Untuk dapat bertahan di udara dengan
semua manuvernya, serta dapat turun
dan hinggap dengan baik, burung
harus memiliki otot-otot yang kuat.
Berbekal dua kualitas ini: ringan dan
tangguh, burung diciptakan Allah.
Burung juga disebut dalam kisah
Nabi Yusuf saat dipenjara sebab fit-
nah. Dalam kisah ini Yusuf diceritakan
mampu menakwilkan mimpi teman
senasibnya di penjara yang bermimpi
melihat burung mematuki roti yang
disungginya. Kejadian ini berlangsung
sebelum Yusuf mentakwilkan mimpi
penguasa Mesir kala itu. Allah berfir-
man, mengisahkan perkataan Yusuf
saat menakwilkan mimpi temannya,
Wahai kedua penghuni penjara, “Salah seorang di
antara kamu, akan bertugas menyediakan minum-
an khamar bagi tuannya. Adapun yang seorang lagi
dia akan disalib, lalu burung memakan sebagian
kepalanya. Telah terjawab perkara yang kamu
tanyakan (kepadaku).” (Yūsuf/12: 41)
Burung yang disebut dalam ayat
ini kemungkinan besar yaitu burung
pemakan bangkai yang banyak hidup
di Mesir.
Ayat berikut ini menjelaskan
bagaimana manusia mesti memper-
lakukan hewan.
Dan tidak ada seekor binatang pun yang ada di
bumi dan burung-burung yang terbang dengan
kedua sayapnya, melainkan semuanya merupakan
umat-umat (juga) seperti kamu. Tidak ada sesuatu
pun yang Kami luputkan di dalam Kitab, lalu
kepada Tuhan mereka dikumpulkan. (al-An‘ām/6:
38)
Menurut sebagian mufasir, yang
dimaksud dengan Kitab pada ayat di
atas yaitu Lauh Mahfuz. Bila benar
demikian maka ayat ini menegaskan
bawah nasib semua makhluk sudah
ditetapkan dalam kitab itu. Sebagian
yang lain menafsirkannya sebagai Al-
Qur'an. Dengan mengambil tafsiran
ini maka ayat ini menunjukan bahwa
Al-Qur'an telah memuat pokok-pokok
agama, norma-norma, hukum-hukum,
hikmah-hikmah, dan petunjuk yang
mengatur kehidupan manusia pada
khususnya dan semua makhluk pada
umumnya.
sebab merasa bangga dengan
statusnya sebagai ciptaan yang paling
sempurna, manusia acapkali lupa
menghormati makhluk Allah lainnya,
di antaranya hewan. Mereka lupa
bahwa Allah juga sudah mengingatkan
apa pun yang terjadi di dunia ini tidak
akan lepas dari pengawasan-Nya (al-
An‘ām/6: 59). sebab itu, manusia
mesti ingat bahwa pada Hari Akhir
nanti, hari saat “binatang-binatang
liar dikumpulkan” (at-Takwīr/81: 5),
mereka harus mempertanggungjawab-
kan apa saja yang telah mereka laku-
kan, yang buruk maupun yang baik,
kepada makhluk-makhluk Allah.
Burung juga muncul dalam penu-
turan kisah Nabi Sulaiman di dalam Al-
Qur'an. Sulaiman yaitu seorang nabi
yang dapat berkomunikasi dengan
semua hewan, salah satunya dengan
burung. Allah berfirman,
diajari bahasa burung dan kami diberi segala
sesuatu. Sungguh, (semua) ini benar-benar karunia
yang nyata.” (an-Naml/27: 16)
Ayat di atas menegaskan bahwa
Nabi Sulaiman menggantikan kenabian
Nabi Daud, sekaligus mewarisi semua
pengetahuan yang dikuasainya beri-
kut Kitab Zabur yang diturunkan kepa-
danya. Pengetahuan dan kekuasaan
yang Allah berikan kepada Nabi Daud
di antaranya dinyatakan dalam ayat
berikut.
Dan Sulaiman telah mewarisi Dawud, dan dia
(Sulaiman) berkata, “Wahai manusia! Kami telah
Dan sungguh, Telah Kami berikan kepada Dawud
karunia dari Kami. (Kami berfirman), “Wahai
gunung-gunung dan burung-burung! Bertasbihlah
berulang-ulang bersama Dawud,” dan Kami telah
melunakkan besi untuknya. (Saba’/34: 10)
Tidak saja disebut dalam rangkai-
an kisah mukjizat Nabi Sulaiman,
burung juga hadir dalam rangkaian
kisah tentang mukjizat Nabi Isa. Nabi
Isa memperlihatkan kepada kaumnya
kemampuan Allah untuk memberikan
ruh kepada benda berbentuk burung
yang dibuatnya dari bahan lempung.
Itu dilakukannya dengan harapan
kaumnya mau beriman kepada Allah,
Tuhan yang telah menampakkan ke-
mukjizatan penciptaan itu melalui
tangan Isa. Mari kita perhatikan ayat-
ayat berikut!
Dan sebagai Rasul kepada Bani Israil (dia berkata),
“Aku telah datang kepada kamu dengan sebuah
tanda (mukjizat) dari Tuhanmu, yaitu aku mem-
buatkan bagimu (sesuatu) dari tanah berbentuk
seperti burung, lalu aku meniupnya, maka ia
menjadi seekor burung dengan izin Allah. Dan
aku menyembuhkan orang yang buta sejak dari
lahir dan orang yang berpenyakit kusta. Dan aku
menghidupkan orang mati dengan izin Allah,
dan aku beritahukan kepadamu apa yang kamu
makan dan apa yang kamu simpan di rumahmu.
Sesungguhnya pada yang demikian itu ada
suatu tanda (kebenaran kerasulanku) bagimu, jika
kamu orang beriman. (Āli-‘Imrān/3: 49)
Dan ingatlah saat Allah berfirman, “Wahai Isa
putra Maryam! Ingatlah nikmat-Ku kepadamu
dan kepada ibumu sewaktu Aku menguatkanmu
dengan Roh Kudus. Engkau dapat berbicara
dengan manusia pada waktu masih dalam
buaian dan sesudah dewasa. Dan ingatlah saat
Aku mengajarkan menulis kepadamu, (juga)
Hikmah, Taurat dan Injil. Dan ingatlah saat
engkau membentuk dari tanah berupa burung
dengan seizin-Ku, lalu engkau meniupnya,
lalu menjadi seekor burung (yang sebenarnya)
dengan seizin-Ku. Dan ingatlah saat engkau
menyembuhkan orang yang buta sejak lahir dan
orang yang berpenyakit kusta dengan seizin-Ku.
Dan ingatlah saat engkau mengeluarkan orang
mati (dari kubur menjadi hidup) dengan seizin-Ku.
Dan ingatlah saat Aku menghalangi Bani Israil
(dari keinginan mereka membunuhmu) di kala
waktu engkau mengemukakan kepada mereka
keterangan-keterangan yang nyata, lalu orang-
orang kafir di antara mereka berkata, “Ini tidak
lain hanyalah sihir yang nyata.” (al-Mā'idah/5: 110)
Burung (dalam bahasa Arab țā'ir
atau țair, yang juga berarti benda yang
melayang), memiliki arti tersendiri
bagi warga Arab. warga
Arab pra-Islam biasa memakai
arah terbang burung sebagai panduan
meramal nasib seseorang. Itulah sebab-
nya banyak ayat Al-Qur'an yang secara
langsung maupun tidak (misalnya
menjadikan perilaku burung sebagai
metafor) menyebut burung di dalam
susunan kalimatnya. Salah satunya
dapat kita lihat dalam firman Allah
berikut.
Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya
dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah,
“Wahai Tuhanku! Sayangilah keduanya sebagai-
mana mereka berdua telah mendidik aku pada
waktu kecil.” (al-Isrā'/17: 24)
Frasa yang secara literal berarti
“rendahkanlah sayapmu” pada ayat
di atas merupakan sebuah metafor.
Merendahkan sayap yang dilakukan
burung yaitu sebuah ekspresi kasih
sayang. Dengan cara itu ia melindungi
dan menutupi anaknya dari gangguan-
gangguan yang bisa datang dari luar.
195Hewan dalam Al-Qur'an
Frasa yang kurang lebih memuat pesan
yang sama juga kita temukan dalam
Surah al-Ĥijr/15: 88 dan asy-Syu‘arā'/26:
215.
Burung juga dipakai sebagai
contoh dalam memberikan penegasan
kepada manusia, dalam hal ini Nabi
Ibrahim, tentang kekuasaan Allah mem-
bangkitkan makhluk-Nya yang telah
mati. Allah mengisahkan hal ini
dalam firman-Nya,
ngisahkan apa yang terjadi saat
Sulaiman memeriksa rakyatnya dalam
sebuah upacara,
Dan (ingatlah) saat Ibrahim berkata, “Ya Tuhan-
ku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau
menghidupkan orang mati.” Allah berfirman,
“Belum percayakah engkau?” Dia (Ibrahim) men-
jawab, “Aku percaya, namun agar hatiku tenang
(mantap).” Dia (Allah) berfirman, “Kalau begitu
ambillah empat ekor burung, lalu cincanglah
olehmu lalu letakkan di atas masing-masing
bukit satu bagian, lalu panggillah mere-
ka, niscaya mereka datang kepadamu dengan
segera.” Ketahuilah bahwa Allah Mahaperkasa,
Mahabijaksana. (al-Baqarah/2: 260)
Tidak saja menyebut burung
sebagai kelompok, beberapa ayat Al-
Qur'an bahkan menunjuk jenis burung
tertentu, seperti Hud-hud dalam kisah
Nabi Sulaiman. Allah berfirman, me-
Dan dia memeriksa burung-burung lalu berkata,
“Mengapa aku tidak melihat Hud-hud, ) apakah ia
termasuk yang tidak hadir?” (an-Naml/27: 20)
Demikian pula burung gagak.
Jenis burung ini disebut dalam kisah
dua putra Adam—dipercaya bernama
Habil dan Qabil—yang berseteru dan
berakhir dengan meninggalnya Habil.
Allah lalu mengutus seekor gagak
untuk mengajari Qabil cara mengubur
jasad saudaranya.
lalu Allah mengutus seekor burung gagak
menggali tanah untuk diperlihatkan kepadanya
(Qabil). Bagaimana dia seharusnya menguburkan
mayat saudaranya. Qabil berkata, “Oh, celaka aku!
Mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung
gagak ini, sehingga aku dapat menguburkan mayat
saudaraku ini?” Maka jadilah dia termasuk orang
yang menyesal. (al-Mā'idah/5: 31)
Burung juga disebut dalam
banyak hadis, beberapa di antaranya
sebagai metafor dan beberapa lainnya
196 Hewan dalam Perspektif Al-Qur'an & Sains
berkaitan dengan penjelasan Rasul
kepada umatnya tentang hak hewan
dan etika dalam memperlakukannya.
َم ِفْ َسَفٍر، ُكنَّا َمَع َرُسْوِل اهللِ َصلَّ اهللُ َعَلْيِه َوَسلَّ
َفْرَخاِن، َمَعَها مُحََّرًة َفَرَأْينَا ، ِلَاَجتِِه َفاْنَطَلَق
ُش، َفَأَخْذَنا َفْرَخْيَها َفَجاَءْت اْلَُمَرُة َفَجَعَلْت ُتَفرِّ
َم َفَقاَل : َمْن َفَجَع َفَجاَء النَّبِيُّ َصلَّ اهللُ َعَلْيِه َوَسلَّ
َقْرَيَة َوَرَأى ! إَِلْيَها َوَلَدَها ْوا ُردُّ ؟ بَِوَلِدَها َهِذِه
ُقْلنَا: َق َهِذِه ؟ َفَقاَل : َمْن َحرَّ ْقنَاَها َقْد َحرَّ َنْمٍل
إاِلَّ بِالنَّاِر َب ُيَعذِّ َأْن َينَْبِغْي اَل ُه إِنَّ : َقاَل ، َنْحُن
َربُّ النَّاِر. )رواه أبو داود عن ابن مسعود(
Kami sedang bersama Rasulullah dalam suatu
perjalanan. saat Rasulullah sedang membuang
hajat, kami melihat seekor burung bersama
dua ekor anaknya. Kami menangkap anaknya,
dan induknya mendekat sambil merentangkan
sayapnya. Rasulullah datang dan bertanya, “Siapa
yang membuat induk burung ini khawatir akan
anaknya? Kembalikan kedua anaknya kepadanya!”
Rasulullah juga melihat sarang semut yang habis
kami bakar. Beliau bertanya, “Siapa yang telah
membakarnya?” Kami menjawab, “Kami.” Beliau
bersabda, “Tidak ada yang patut menghukum
dengan api kecuali Allah, Pemilik api.” (Riwayat
Sunan Abū-Dāwud dari Ibnu Mas‘ūd)
َأْكِل َعْن َم َوَسلَّ َعَلْيِه اهللُ َصلَّ اهللِ َرُسْوُل َنَى
ُبِع َوَعْن ُكلِّ ِذْي ِمَْلٍب ِمْن ُكلِّ ِذْي َناٍب ِمَن السَّ
. )رواه مسلم عن ابن عباس( الطَّْيِ
Dari Ibnu Abbas ia berkata, "Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam telah melarang mengkonsumsi
semua binatang buas yang bertaring dan semua
burung yang memiliki cakar. (Riwayat Muslim dari
Ibnu ‘Abbās)
Perikehidupan Burung
Burung yaitu hewan yang hampir
seluruh tubuhnya ditumbuhi bulu; ber-
sayap, berkaki dua, berdarah panas,
berkembang biak dengan bertelur, dan
bertulang belakang. Burung terdiri dari
sekitar 10.000 jenis yang terbagi dalam
146 suku. Dengan demikian burung
merupakan hewan bertulang belakang
dengan kelompok paling besar.
Burung hidup di hampir semua
belahan bumi. Burung berevolusi dari
dinosaurus pemakan daging (Thero-
pod) pada Masa Mezosoic, sekitar
150 juta tahun lalu. Burung kuno
seperti Archaeopteryx memiliki gigi
di paruhnya dan cakar di sayapnya.
Dalam klasifikasi yang dibuat Francis
Willughby dan John Ray (1676), dan
lalu diperbaiki Carolus Linneaus
(1758), kelompok burung (kelas Aves)
dimasukkan ke dalam golongan dino-
saurus dari kelompok Therapoda, ber-
sama dengan buaya. Pada akhir abad
XX burung dipisahkan dari kelompok
dinosaurus dan dimasukkan ke kelom-
pok hewan yang berkembangan lebih
baru. Archeopteryx lithographica ke-
mudian dianggap sebagai jenis yang
menurunkan burung modern.
Ada jenis burung modern yang
masih memiliki cakar pada sayapnya
seperti burung kuno Archaeopteryx.
Burung unta (Ostrich, Struthio camelus)
memiki tiga cakar pada tiap sayapnya,
sedang burung Hoatzin (Ophisto-
comus hoazin) dan burung African
touraco (jenis-jenis burung dari suku
Musophagidae) memiliki cakar pada
sayapnya saat masih berusia muda.
Cakar yang mereka gunakan untuk
memanjat pohon ini akan menghilang
saat burung mencapai usia dewasa.
Burung terbesar yang masih
hidup hingga saat ini yaitu burung
unta. Burung unta dapat tumbuh
hingga setinggi 2,7 meter. Tidak hanya
tubuhnya yang tergolong raksasa,
telur burung unta juga memiliki ukur-
an jauh lebih besar daripada telur
burung pada umumnya. Telur burung
unta bisa mencapai ukuran 11 x 18 cm,
dengan berat sekitar 1,4 kg. Semen-
tara itu, burung fosil terbesar yaitu
Dromonis stirtoni, dengan tinggi
mencapai 3 meter dan berat sekitar
450 kg. Adapun burung terkecil ada-
lah Bee Hummingbird (Mellisuga hele-
nae) dengan panjang tubuh hanya
2,5 cm dan berat 1,6 gram. Seperti
ukuran tubuhnya, telur burung ini
juga memiliki ukuran terkecil, hanya
sebesar kuku jari kelingking.
199Hewan dalam Al-Qur'an
Kehebatan terbesar burung
yang disebut dalam Al-Qur'an yaitu
kemampuannya terbang. Burung dapat
terbang dengan baik sebab Allah
“memegangnya” di udara. Mereka
terbang sebagai bagian dari penyem-
bahan kepada Sang Pencipta. Terbang
yaitu cara burung untuk bergerak.
Akan namun , tidak semua burung dapat
terbang. Ada beberapa jenis burung
yang hanya bisa berjalan dan berlari,
misalnya burung unta. Ada pula be-
berapa jenis burung yang dapat meng-
kombinasikan kemampuan terbang
dengan kefasihan berenang, seperti
ditemui pada kebanyakan burung-
burung air, misalnya belibis dan camar.
Ada pula beberapa jenis burung
yang hanya dapat berenang, seperti
penguin.
Burung beradaptasi terhadap
lingkungannya dengan cara terbang.
Mereka menjadi pemburu yang tangguh
dengan kemampuan terbang cepat
serta merubah arah dengan cepat.
Burung juga dapat menghindar dari
pemangsanya dengan kecepatannya
melakukan lepas landas. Burung dapat
mencari tempat dengan persediaan
makanan berlimpah, dan menghindari
kondisi cuaca yang tidak sesuai untuk
keperluan berkembang biak, dengan
terbang dalam waktu yang panjang ke
tempat yang sangat jauh, atau dikenal
dengan istilah migrasi.
Burung memiliki semua syarat
untuk dapat terbang. Pertama, burung
memiliki bagian-bagian tubuh yang
ringan, seperti tulang yang berlubang.
Kedua, burung memiliki otot-otot ter-
bang yang kuat, yang memperoleh
pasokan oksigen optimum. Anggota
tubuh lainnya, seperti paruh, sistem
respirasi, paru-paru, dan sayap burung
memang didesain Tuhan sedemikian
rupa untuk memungkinkan hewan ini
terbang dengan baik.
Pada dasarnya, keberadaan ga-
ya gravitasi membuat semua benda
yang diletakkan di udara, cepat atau
lambat, akan jatuh ke bumi. Baik
makhluk hidup maupun benda mati
pasti dipengaruhi oleh gaya gravitasi
ini. Namun demikian, dengan mukjizat
yang diberikan Allah, burung dapat
menentang gaya gravitasi dan terbang
naik-turun di udara. Mereka dapat me-
lakukan bermacam manuver di udara,
bahkan dapat melipat sayapnya untuk
menukik tajam dan dalam kecepatan
tinggi menembus udara.
Setiap bagian dari tubuh burung,
bahkan yang terkecil, dari bulu hingga
paru-paru, dari pengaturan bentuk
bulu yang bermacam sampai bentuk
sayapnya, telah diciptakan Allah untuk
memungkinkannya terbang. Seekor
anak burung yang sama sekali belum
tahu cara terbang dan tidak juga me-
ngenal hukum termodinamika, lahir
dengan potensi untuk dapat ter-
bang. Ia menjatuhkan dirinya dari
sarang yang tinggi di atas pohon,
dan langsung dapat terbang seolah
ia tahu badannya memang didesain
untuk dapat terbang. Informasi yang
demikian ini tidak pernah diajarkan
induknya kepadanya, dan tidak pula
ada pelatihan terbang yang berdasar-
kan “trial and error”. Bahwa tubuh
burung memang didesain untuk me-
mungkinkannya terbang, bahwa dalam
diri burung tertanam keberanian untuk
menjatuhkan tubuhnya dari sarang,
dan bahwa dalam diri mereka ada
keyakinan tidak akan jatuh ke tanah
dan mati, semua itu terjadi berkat
inspirasi (ilham) dari Allah.
Untuk dapat terbang burung
memerlukan oksigen dalam jumlah
banyak, yang diperolehnya dari paru-
parunya. Mereka juga memerlukan
sistem sirkulasi darah yang kuat untuk
mendistribusikan oksigen ke setiap
otot yang dipakai nya untuk terbang.
Penguatan sirkulasi darah ini mereka
dapat dengan cara mempercepat de-
tak jantung. Pada burung madu, detak
jantungnya dapat mencapai 1.000 kali
per menit; bandingkan dengan jantung
manusia yang berdetak sebanyak 60–
90 kali per menit.
Burung memiliki dua paru-
paru utama, di mana terjadi pertukaran
gas, yang memiliki hubungan dengan
banyak kantong udara yang menyebar
di seluruh tubuhnya, termasuk yang
terletak di dalam tulang yang berlu-
bang. Dalam kantong udara ini tidak
terjadi pertukaran gas. Udara dalam
kantong udara ini membantu burung
untuk tetap berada di udara, dan tidak
terpengaruh oleh helaan nafas burung.
Berbeda dari kepunyaan burung,
paru-paru manusia secara bergantian
berisi udara saat menghela nafas, dan
kosong saat mengembuskan nafas.
Untuk mendukung kemampuan ter-
bangnya, paru-paru burung mempu-
nyai volume 20% dari total volume
tubuhnya, bandingkan dengan volume
paru-paru manusia yang hanya 5% dari
total volume tubuhnya. Dalam sistem
respirasi, pertama kali udara dima-
sukkan ke dalam kantong-kantong
udara. Pada tahap berikutnya udara
segar penuh oksigen itu dilewatkan
ke paru-paru yang berbentuk mirip
saluran (parabronchi, di mana terjadi
pertukaran gas). Pertukaran gas terus
berlangsung baik



