Tentang hewan 8
saat burung meng-
hela maupun membuang nafas. Cara ini
menjamin ketersediaan oksigen secara
kontinu, yang sangat diperlukan otot
saat burung melakukan penerbangan.
Sayap yaitu semacam tangan
yang memiliki sendi peluru yang
besar dan kuat di bagian bahu. Sendi
ini sangat istimewa, dan dipakai
untuk mobilitas yang sangat rumit.
Sendi peluru memungkinkan burung
bermanuver dengan baik di udara.
Sendi demikian dapat memposisikan
sayap sehingga burung dapat berpu-
tar dengan cepat, berganti arah, mem-
perlambat terbang, terbang mundur,
menukik dengan kecepatan tinggi,
hingga mendarat dengan mulus. Sela-
in sistem respirasi, adanya bulu pada
tubuh burung merupakan faktor pen-
ting yang membantu burung terbang.
Bulu pada burung merupakan modifi-
kasi dari sisik pada kelompok reptil.
Bulu yaitu ciptaan yang sangat
indah, ringan namun kuat, lentur,
serbaguna, mudah dirawat, menyekat
panas, kedap air, dan dapat diganti.
Bulu melindungi burung dari sengatan
panas sehingga suhu tubuhnya tetap
dingin. Sebaliknya, dalam kondisi uda-
ra yang dingin bulu berperan meng-
hangatkan tubuh. Bulu melindungi
burung agar tidak terlalu basah jika
terkena hujan. Bulu merupakan bagian
penting dari sayap agar burung dapat
terbang. Bulu ekor berperan sebagai
penyeimbang dan pengarah saat ter-
bang, serta berperan sebagai rem saat
mendarat. Warna bulu sangat penting
bagi burung. Beberapa jenis burung
memakai warna bulunya untuk
berkamuflase. Beberapa jenis lainnya
memakai warna bulunya untuk
menarik lawan jenis.
Bulu dikelompokkan ke dalam
beberapa tipe berdasar bentuk
dan fungsinya, yaitu:
• Bulu yang tumbuh di sayap diper-
lukan untuk terbang;
• Bulu halus yang menutupi tubuh
burung berfungsi mengatur suhu
tubuh; membuat burung tidak
terlalu kedinginan maupun kepa-
nasan;
• Bulu yang berwarna-warni atau
berbentuk spesifik berfungsi seba-
gai kamuflase atau menarik lawan
jenis dalam ritual perkembang-
biakan.
Bentuk sayap burung yang
aerodinamis memudahkannya berma-
nuver dengan baik. Bagian atas sa-
yap sedikit melengkung, dengan ba-
gian bawah mendatar. Bentuk yang
demikian ini akan membentuk udara
yang bertekanan rendah di bagian
atas sayap daripada di bawahnya.
Perbedaan tekanan udara demikian ini
menghasilkan daya yang mendorong
burung naik dengan cara mengepakkan
sayapnya ke atas.
Bentuk sayap burung bervariasi,
tergantung untuk tujuan utama ma-
cam apa sayap itu dipakai . Pada
dasarnya ada empat macam
sayap: panjang dan langsing (pada
burung-burung yang senang berlama-
lama melayang di udara, seperti alba-
tross), pendek dan membulat (pada
burung yang memerlukan lepas lan-
das yang cepat dan manuver yang
baik), ramping (seperti pada falcon,
untuk kecepatan), lebar dan panjang
(seperti pada elang, untuk melayang
dan naik tinggi). Walaupun bentuk
sayap burung bervariasi, namun tidak
ada perbedaan dalam bentuk tulang
dan struktur bulu sayapnya. Beberapa
fakta mengenai kemampuan terbang
dan segala sesuatu yang berkaitan
dengan sayap burung dapat disimak
dalam penjelasan berikut.
Burung peregrin falcon (Falco
peregrinus) yaitu pemegang rekor
burung tercepat, sebab mampu
terbang dengan kecepatan rata-rata
145 km/jam (lihat gambar 126). Diper-
kirakan burung ini dapat menambah
kecepatannya hingga 320 km/jam ke-
tika sedang memburu mangsanya.
Kecepatan terbang ini hanya disaingi
oleh burung layang-layang jenis Spine-
tailed Swift (Hirundapus caudatus:
145–160 km/jam), burung Fergata Mi-
nor (153 km/jam), dan beberapa jenis
belibis, antara lain belibis Plectop-
terus gambensis (142 km/jam) dan
Mergus serator (129 km/jam). Di darat,
burung unta yaitu pemegang rekor
kecepatan berlari, yaitu 80 km/jam.
Hummingbird (burung madu
atau kolibri) dari Amerika Selatan ada-
lah satu-satunya kelompok burung
yang dapat terbang mundur dan
menyamping. Hummingbird yaitu
raja dalam soal manuver di udara.
Setiap hari burung ini mengunjungi
sekitar 2.000 bunga untuk menghisap
nektarnya. Sebagian besar hasilnya di-
gunakan untuk memasok bahan bakar
untuk keahlian terbangnya itu. Pada
saat berhenti dan mengisap nektar,
kepakan sayapnya dapat mencapai
60–90 kali per detik.
Rekor ketinggian terbang dipe-
gang oleh burung pemakan bangkai
Ruppel’s Griffon Vulture (Gyps reufellii).
Rekor ini tercatat saat burung ini
tertabrak pesawat terbang komersial
pada tahun 1973 di ketinggian 11.278
meter. Di bawahnya ada belibis
Bar-headed Goose (Anser indicus).
Jenis burung ini diwartakan terlihat
terbang di atas Pegunungan Himalaya
pada ketinggian sekitar 7.500 meter.
Sayap yang tergolong sangat
panjang dimiliki oleh sejenis burung
bangau pemakan bangkai, Marabou
Stork (Leptoptilos crumeniferus), de-
ngan panjang antara 2,4–4 meter.
Panjang sayap ini hanya disaingi oleh
burung-burung laut albatross dari
suku Diomedeidae yang memiliki
pan-jang sayap antara 3,8–4 meter.
Burung albatross mungkin hanya
menginjak tanah beberapa kali saja
dalam setahun. Hidupnya dihabiskan
untuk terbang di udara dan berenang
di air laut. Itulah sebabnya burung
ini dikenal sebagai burung dengan
kemampuan mendarat paling buruk.
Albatros dianggap sebagai burung
dengan desain tubuh yang sempurna
untuk terbang.
Selain faktor sayap dan sistem
pernafasan, faktor ringannya bobot
tubuh dan kekuatan yang besar men-
jadi persyaratan agar burung dapat
terbang. Tulang burung umumnya
berlubang di tengah dan berdinding
tipis. Titik berat tubuh burung terletak
di bagian tengah. Di bagian dada ter-
dapat tulang dada yang besar, tempat
melekatnya otot dada yang besar
dan kuat untuk menggerakkan sayap.
Volume otot dada burung mencapai
sekitar 25–30% dari keseluruhan volu-
me badan burung. Kinerja otot dada
menggerakkan sayap cukup meng-
ganggu kinerja paru-paru yang terletak
di dekatnya. Untuk mengatasinya bu-
rung memiliki sistem pernafasan
yang berbeda dari hewan darat lainnya.
Seperti telah diuraikan sebelumnya,
sistem pernafasan burung terbantu
oleh tersebarnya kantong-kantong
udara di seluruh bagian tubuhnya.
Kantong demikian ini juga dapat dite-
mui di tulang yang bagian tengahnya
berlubang. Udara dialirkan ke semua
bagian tubuh burung, dan kandungan
oksigennya diserap oleh darah dengan
cepat sebab denyut jantung yang
kuat.
Burung merupakan hewan yang
paling mengandalkan penglihatan da-
lam kehidupannya. Beberapa burung
bahkan memiliki ukuran mata melebihi
ukuran otaknya. Burung dapat melihat
objek yang sama delapan kali lebih
jelas daripada manusia. Matanya da-
pat beradaptasi dengan cepat untuk
mengubah dari melihat dekat ke meli-
hat jauh, dan sebaliknya.
Setiap tahun diperkirakan ada
sekitar 50 miliar burung yang melaku-
kan migrasi mengikuti jaringan yang
rumit, di seluruh muka bumi. Acapkali
mereka harus terbang sepanjang ra-
tusan bahka ribuan kilometer, mele-
wati benua dan samudra. Tubuh bu-
rung sangat siap dan adaptatif untuk
melakukan tugas ini, sehingga mampu
melewati daerah laut dan gurun
pasir yang sangat luas, ketinggian
pegunungan, bahkan melewati luasnya
padang es yang sangat dingin. Mereka
memiliki program spatiotemporal
di dalam tubuh. Kemampuan untuk
mengatur waktu dan tempat meru-
pakan kunci suksesnya migrasi. Pro-
gram yang demikian ini secara nyata
memampukan anak burung yang tidak
memiliki pengalaman untuk dapat
bermigrasi sendiri, tanpa petunjuk
induknya, dan bergabung dengan
populasi jenisnya di kawasan permu-
kiman musim dingin yang belum per-
nah dilihatnya.
Burung Artic Tern (Sterna para-
disaea) tercatat sebagai burung yang
terbang paling jauh saat migrasi.
Mereka terbang tiap tahun dari Kutub
Utara ke Kutub Selatan pergi-pulang
sejauh 32.000–40.000 km. Sementara
itu, burung Bar-tailed Godwit (Limosa
lapponica) tercatat sebagai burung
yang mampu terbang paling jauh
tanpa berhenti. Penelitian mencatat
burung ini terbang sejauh 11.679 km
tanpa berhenti.
Walaupun para peneliti belum
dapat mengungkap semua hal terkait
migrasi burung, namun mereka
setuju bahwa perilaku migrasi ini
telah terprogram dalam perilaku dan
tubuh burung sejak lahir. Yang pasti,
kemampuan burung menempuh jarak
yang mencapai ribuan kilometer dari
tempat asalnya, persiapan-persiapan
burung untuk menjamin keberhasilan
migrasinya, dan kemampuan burung
Tidakkah mereka memperhatikan burung-burung
yang dapat terbang di angkasa dengan mudah.
Tidak ada yang menahannya selain Allah. Sungguh,
pada yang demikian itu benar-benar ada
tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang
yang beriman. (an-Naĥl/16: 79)
Perihal burung memiliki kemam-
puan untuk terbang dan semua peri-
laku yang berkaitan dengannya juga
muncul dalam salah satu ayat dalam
Injil. Dalam Genesis 1: 20, 21 tertulis
bahwa Tuhan dari semula sudah men-
ciptakan burung untuk terbang.
Hampir seluruh waktu aktif
burung dipakai untuk mencari ma-
kan. Jenis makanan burung bermacam-
macam. Sebagian memakan serangga;
sebagian lainnya memangsa hewan
lain (seperti burung hantu, elang, dan
bangau); memakan bagian-bagian
tumbuhan (seperti burung madu, per-
kutut, dan burung rangkong), dan ada
pula yang memakan segala. Dengan
pola makan dan jenis makanannya
yang beragam, burung berperan seba-
gai pengontrol hama tanaman perta-
nian, juga sebagai penyerbuk.
untuk dapat bernavigasi dengan tepat,
semuanya berlangsung atas izin Allah.
Allah berfirman,
sarang yang dibuat pada ranting pohon,
lubang pohon, celah-celah tebing, atau
di atas tanah atau pasir. Burung maleo,
misalnya, yang hanya ditemukan hidup
di Sulawesi ini menguburkan telurnya
di tanah berpasir.
Umumnya orang tua burung,
baik salah satu maupun keduanya,
memelihara anaknya sampai mampu
terbang. Kendati demikian, ada bebe-
rapa jenis burung yang memiliki sifat
parasit sebab enggan memelihara
anaknya sendiri. Burung cuckoos dari
suku Cuculidae, misalnya, “menitipkan”
telurnya di sarang burung jenis lain.
Tidak hanya itu, untuk memastikan
anakannya akan dipelihara dengan
baik, burung cuckoos memecahkan
semua telur induk semangnya. Jika hal
itu gagal dilakukan, anakan burung
cuckoos akan menendangi “sauda-
ra-saudaranya” sehingga jatuh dari
sarang. Gambar 134 memperlihatkan
anakan burung cuckoos jenis Cuculus
Adaptasi tubuh burung dalam
usahanya memperoleh makanan ada-
lah hal yang mudah kita jumpai, misal-
nya pada sejenis burung madu (Bee
Hummingbird–Ensifera ensifera). Bu-
rung ini memiliki paruh yang lebih
panjang dari tubuhnya. Burung madu
yang hidup di Pegunungan Andes di
Amerika Selatan ini memerlukan paruh
panjangnya ini guna dapat mengisap
nektar dari bunga datura yang mem-
punyai corong panjang.
Burung memakai “nyanyi-
an” untuk berkomunikasi. Bunyi diha-
silkan dengan melalukan udara pada
organ bernama syrinx. Otot ini terbagi
menjadi dua bagian, di mana tiap
bagian dapat memberikan nada yang
berbeda dalam waktu yang bersama-
an. Nyanyiannya yang merdu, demikian
juga bentuk tubuh dan warna bulunya
yang menawan, membuat banyak
orang menyukai unggas ini. Hal ini tidak
jarang malah berakibat negatif, sebab
penangkapan burung secara masif
jelas membahayakan populasinya di
alam liar.
Burung berkembang biak dengan
telur. Beberapa jenis burung dapat
bertelur tiap hari, seperti ayam peliha-
raan, dan beberapa lainnya baru ber-
telur sesudah berselang beberapa
tahun, seperti burung maleo alias
Macro-cephalon maleo. Burung pada
umumnya meletakkan telur di dalam
canoris diasuh oleh burung jenis lain.
Anakan burung inang-nya sudah tidak
terlihat lagi sebab didesak jatuh oleh
anakan burung cuckoos.
Dari sekian jenis banyak burung,
tercatat ada dua jenis burung yang
berbisa, yaitu Pitochio dichorus dan
Ifrita kowaldi dari Papua Nugini. Bisa
kedua burung ini, yang termasuk jenis
bisa homobatrachotoxin–stereoid
alakaloid, ada pada kulit dan bu-
lunya. Seperti bisa pada katak, bisa
pada burung-burung ini disinyalir ber-
sumber dari jenis tanaman yang men-
jadi makanannya.
Umur burung sangat bervariasi,
tergantung jenisnya. Jenis-jenis burung
yang tercatat berumur panjang yaitu
beberapa jenis burung paruh (40 tahun
sampai lebih dari 100 tahun), kakatua
(hingga 75 tahun), burung rangkong
(jenis rangkong yang dipelihara dapat
mencapai umur 33 tahun), beberapa
jenis burung bangkai (hingga 30 tahun),
burung unta (hingga 40 tahun), dan
burung undan/soang/banyak (yang liar
dapat mencapai 19 tahun, dan yang
dipelihara dapat mencapai 50 tahun).
Akhirul kalam, manusia seharus-
nya menimba banyak ilmu, pengeta-
huan, dan petunjuk dari perikehidupan
burung, terutama dalam hal tawakal
dan keikhlasan untuk menjadi dirinya
sendiri. Perkutut tidak ingin menjadi
elang; gagak tidak peduli warna bulu-
nya tak seindah nuri; dan burung
pemakan madu tidak akan menangkap
ikan seperti bebek. Itulah pelajaran
bagi mereka yang berpikir.
1. BURUNG GAGAK
mendalam. Ia sudah sangat lelah mem-
bawa beban yang mulai berbau itu.
Allah lalu mengirimkan
dua ekor gagak ke hadapan Qabil. Ke-
duanya mulai berkelahi hingga salah
satunya mati. Gagak yang menang
lalu mulai menggali lubang di
tanah memakai paruh dan cakar-
nya. sesudah itu ia mendorong burung
yang mati dan menutupinya dengan
pasir. Semua itu disaksikan oleh Qabil,
sehingga ia dapat mengubur sauda-
ranya. Ini yaitu penguburan manusia
yang pertama kali terjadi di dunia.
Kejadian ini bermula saat Qabil dan
Habil oleh ayah mereka diminta mem-
persembahkan kurban kepada Allah.
Kisah ini diabadikan dalam
firman Allah,
lalu Allah mengutus seekor burung gagak
menggali tanah untuk diperlihatkan kepadanya
(Qabil). Bagaimana dia seharusnya menguburkan
mayat saudaranya. Qabil berkata, “Oh, celaka aku!
Mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung
gagak ini, sehingga aku dapat menguburkan mayat
saudaraku ini?” Maka jadilah dia termasuk orang
yang menyesal. (al-Mā'idah/5: 31)
Dikisahkan bahwa Qabil bin Adam
tidak tahu apa yang harus dilakukan
terhadap jenazah saudaranya, Habil,
yang telah dibunuhnya. Ia meng-
gendong kesama-kemari jasad sau-
daranya tanpa tujuan, berusaha me-
nyembunyikan mayat saudaranya itu.
Kemarahannya yang semula membun-
cah, kini berganti penyesalan yang
Dan ceritakanlah (Muhammad) yang sebenarnya
kepada mereka tentang kisah kedua putra Adam,
saat keduanya mempersembahkan kurban,
maka (kurban) salah seorang dari mereka berdua
(Habil) diterima dan dari yang lain (Qabil) tidak
diterima. Dia (Qabil) berkata, “Sungguh, aku pasti
membunuhmu!” Dia (Habil) berkata, “Sesung-
guhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang
yang bertakwa.” ”Sungguh, jika engkau (Qabil)
menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membu-
nuhku, aku tidak akan menggerakkan tanganku
kepadamu untuk membunuhmu. Aku takut kepada
Allah, Tuhan seluruh alam.” ”Sesungguhnya aku
ingin agar engkau kembali dengan (membawa)
dosa (membunuh)ku dan dosamu sendiri, maka
engkau akan menjadi penghuni neraka; dan itulah
balasan bagi orang yang zalim.” Maka nafsu (Qabil)
mendorongnya untuk membunuh saudaranya,
lalu dia pun (benar-benar) membunuhnya,
maka jadilah dia termasuk orang yang rugi. (al-
Mā'idah/5: 27–30)
Manusia seharusnya berterima
kasih atas pelajaran yang diberikan
gagak atas petunjuk Allah, sebagai-
mana dinyatakan dalam Surah Ţāhā/20:
50. Melihat jasanya kepada dalam
mengajari manusia cara mengubur
jenazah, manusia harus menghargai
dan menghormati burung ini. Kendati
demikian, dalam aturan fikih, gagak
merupakan salah satu hewan yang
boleh dibunuh dari sekian jenis hewan
lainnya, tidak terkecuali di tanah
Haram. Hal ini didasarkan pada hadis
riwayat al-Bukhāri dan Muslim yang
sudah disebut dalam sub-bab tentang
ular.
Gagak tergolong hewan yang
cerdas. Meski di beberapa belahan
dunia dianggap sebagai titisan dewa,
namun gagak lebih sering mendapat
stereotip buruk. Gagak, terutama
raven, dalam budaya dan mitologi
Eropa dikaitkan dengan segala sesuatu
yang berbau sihir dan kematian. Hal ini
mungkin disebabkan warnanya yang
hitam, suara panggilannya yang jelek,
dan kebiasaannya memakan bangkai.
Dalam ilmu sihir, biasanya dibedakan
antara raven dan crow. Crow umumnya
dijadikan simbol dari segala hal yang
bertanggung jawab atas terjadinya
kematian, atau transisi dari roh ke
alam kematian. Adapun raven lebih
dikaitkan dengan hal-hal yang bersifat
negatif secara fisik dalam kematian.
Mungkin kebiasaan berkelompok dari
crow dan kebiasaan menyendiri dari
raven juga menjadi pertimbangan
dalam proses terciptanya persepsi di
atas. Crow juga dianggap memiliki
kebiasaan memakan sesamanya yang
sudah tua, suatu hal yang biasa dijadi-
kan metafor dalam kehidupan sehari-
hari manusia. Gambaran akan hal ini
sering diekspresikan dalam bentuk
gambar-gambar yang menyeramkan,
seperti gambar 136.
Banyak warga yang tinggal
di pantai barat Amerika hingga Asia
Timur Jauh menjadikan gagak sebagai
tuhan atau dewa, demikian pula ma-
syarakat di Eropa pada masa lalu.
warga Norwegia Kuno, misalnya,
percaya bahwa sepasang gagak yang
hinggap di bahu Dewa Odin dapat
mendengar dan mengetahui semua
hal. warga Inggris punya keper-
cayaan lain. Mereka percaya bahwa
negara Inggris tidak akan jatuh ke
tangan bangsa lain selama masih
ada gagak yang tinggal di Tower of
London, salah satu bangunan kuno di
London.
Gagak juga telah lama berhu-
bungan lama dengan manusia dalam
bidang pertanian dan peternakan.
Gagak banyak dianggap sebagai peng-
ganggu dalam kehidupan manusia. Di
Australia, misalnya, gagak didakwa
memangsa domba saat tepergok
memakan bangkainya, meski pada
kenyataannya kematian domba itu
mungkin saja tidak diakibatkan oleh
gagak. Gagak disalahkan telah meru-
sak tanaman gandum di Inggris, dan
merusak pohon kurma di negara-
negara gurun pasir. Di Amerika Serikat
jumlah gagak berkembang sangat
pesat sehingga pemerintah beberapa
negara bagian di sana mengadakan
musim berburu gagak. Berbeda dari
kepercayaan di beberapa wilayah-
wilayah yang memberikan cap negatif
kepada gagak, warga di Asia Timur
justru percaya bahwa gagak yaitu
burung pembawa keberuntungan.
Para petani di kawasan yang
menganggap gagak sebagai burung
hama membuat boneka mirip manusia
dan memasangnya di lahan pertanian
untuk menakuti burung ini. Boneka ini
dalam bahasa Inggris dikenal dengan
sebutan scarecrow. Metode ini juga
dikenal dan dipraktikkan di Indonesia,
namun bukan untuk mengusir burung
gagak, melainkan burung pipit. Di Jawa
Barat “orang-orangan sawah” ini dike-
nal dengan sebutan “bebegig sawah”.
Terlepas dari semua persepsi
tentang gagak, sesungguhnya Surah
al-Maidah/5: 31 yang telah disebut se-
belumnya menyajikan informasi bahwa
burung gagak memiliki kecerdas-
an, suatu hal yang dengannya Allah
mengajari manusia, dalam hal ini Qabil,
bagaimana harus mengubur jasad sau-
daranya.
Bila Al-Qur'an menyebut gagak
sebagai gurāb maka sesungguhnya
kata ini diterjemahkan ke dalam bahasa
Inggris menjadi raven, bukan crow.
Dua kata ini memiliki arti sama
dalam bahasa Indonesia, gagak. Salah
satu jenis raven yang kemungkinan
berkait dengan ayat Al-Qur'an dan
ayat-ayat dalam kitab-kitab Yahudi dan
Kristen memiliki nama ilmiah Corvus
corax. Kekhasan mendasar yang mem-
bedakan raven dari crow yaitu ukuran
tubuh, di mana raven memiliki ukuran
tubuh lebih besar.
Corvus corax atau biasa dise-
but Common Raven yaitu burung
berukuran besar. Burung pemakan
segala yang banyak hidup di belahan
bumi utara ini sudah sejak lama
berhubungan dengan kehidupan manu-
sia. Makanannya beragam, mulai dari
bangkai, biji-bijian, hingga sisa makan-
an manusia. Burung ini memiliki pan-
jang tubuh 56–69 cm, bobot 0,69–1,63
kg, dan rentang sayapnya 115–130 cm.
Bila dipiara manusia umur gagak ini
dapat mencapai 40 tahun, sedang
yang hidup liar memiliki kisaran umur
antara 10–15 tahun saja. Burung ini
hidup berpasangan dan sangat fana-
tik mempertahankan wilayah kekuasa-
annya.
Ada 8 anak jenis dari Common
Raven ini. Anak jenis yang hidup di
kawasan sekitar Laut Tengah dan
Jazirah Arab yaitu Corvus corax corax.
Anak jenis ini hidup tersebar di Eropa,
Asia (sampai Himalaya) dan Amerika
(sampai Nikaragua). Anak jenis inilah
yang paling mungkin dilafalkan sebagai
gurāb dalam Al-Qur'an. Jenis Common
Raven berevolusi sepenuhnya di kawa-
san Eropa dan Timur Tengah, dan baru
menyebar ke Amerika melalui Selat
Bering sesudah “final” berevolusi.
Common raven yang hidup di kawasan
dingin, misalnya Himalaya atau Green-
land, umumnya memiliki ukuran tu-
buh dan paruh lebih besar daripada
saudaranya yang hidup di kawasan
panas.
Gagak jenis Hooded Crow (Cor-
vus cornix) atau Carion Crow (Corvix
corone) juga ditemukan hidup di ka-
wasan Timur Tengah. Salah satu atau
kedua jenis gagak ini mungkin saja
merupakan gagak yang disebut dalam
kisah-kisah keagamaan. Dua jenis ga-
gak ini secara umum berukuran lebih
kecil daripada raven. Catatan fosil yang
ada menunjuk Eropa sebagai tempat
hidup utamanya, namun hubungannya
dengan jenis-jenis prasejarah tidak
terlalu jelas.
Banyak jenis crow yang sudah
punah, terutama yang mulanya hidup
di pulau-pulau kecil seperti Selandia
Baru, Hawaii, dan Greenland. Di Indo-
nesia dikenal beberapa jenis gagak.
Beberapa darinya merupakan jenis-
jenis yang memiliki sebaran luas, se-
perti Corvus frigeligus (Eropa, Asia,
Selandia Baru), Corvus macrorhyncus
(Asia Timur, Himalaya, Filipina), dan
Corvus enca (Malaysia, Indonesia, Fili-
pina). Beberapa jenis lainnya mendi-
ami kawasan yang lebih spesifik, di
antaranya Corvus florensis yang hanya
ditemukan di Pulau Flores, Corvus
fuscicapillus yang hidup di Papua,
dan Corvus unicolor yang hidup di
Kepulauan Banggai. Gagak Banggai
(Corvus unicolor) ini pernah diang-
gap telah punah sampai dengan saat
beberapa ahli biologi Indonesia mene-
mukan dua ekor di antaranya dari
Pulau Peleng pada tahun 2007. sesudah
dibandingkan dengan spesimen muse-
um di New York yang dikoleksi 200
tahun lalu dikonfirmasi bahwa jenis
yang ditemukan di Pulau Peleng ini
yaitu benar Gagak Banggai yang
dianggap telah punah itu, bukannya
Corvus enca yang memiliki bentuk fisik
serupa dan hidup juga di Kepulauan
Banggai. Jenis gagak lain yang hidup
di Indonesia yaitu Corvus validus
yang ditemukan di Maluku Utara, dan
Corvus typicus yang hidup di Pulau
Muna, Sulawesi.
Mulanya gagak dipercaya bere-
volusi di Asia Tengah dan menyebar
ke Amerika Utara, Afrika, Eropa, dan
Australia, namun temuan yang lebih
terkini memperlihatkan bahwa mo-
yang burung gagak dari suku Corvidae
justru berasal dari Australasia. Namun
demikian, percabangan yang meng-
arah pada gagak modern yang ada
saat ini telah berpindah dari kawasan
Australasia ke Asia pada saat marga
Corvus berevolusi. Corvus lalu
masuk kembali ke Australia dan me-
mbentuk lima jenis dan satu anak jenis
tersendiri.
Pada dasarnya gagak yaitu
hewan yang cerdas, suatu hal yang
tampaknya sudah disadari manusia
sejak lama. Beberapa pengamatan
memperlihatkan bahwa jenis Hooded
Crow di Israel telah belajar memancing
dengan memberi umpan berupa remah
roti kepada ikan. Mula-mula gagak
mencuri roti, namun roti itu tidak
dimakannya. Gagak membawanya
terbang menuju dahan pohon yang
menjulur di atas kolam ikan. Gagak
lalu meremas roti dengan kaki-
nya dan menyebarkannya ke atas air.
Keruan saja ikan akan berkumpul dan
memakan remah roti itu. Pada saat
itulah gagak mulai terbang turun untuk
menyambar ikan dengan kakinya.
Kecerdasan lainnya ditemukan
pada gagak yang hidup di perkotaan.
Di Jepang, gagak dilaporkan terlihat
menjatuhkan buah berkulit keras
ke jalanan yang ramai, terutama di
perempatan jalan, agar terlindas mobil
dan kulitnya pecah. Gagak menunggu
saat lampu lalu lintas berwarna merah
untuk memungut kembali buah yang
telah pecah akibat terlindas mobil. Di
Queensland, Australia, gagak diketahui
dapat mencari cara memakan kodok
beracun tanpa khawatir keracunan.
Mula-mula ia menelentangkan korban-
nya dan menyobek bagian leher yang
relatif lebih mudah disobek. Dengan
paruhnya yang panjang, gagak ini ke-
mudian memakan ‘jeroan’ yang tidak
beracun, sedang sisanya ditelantar-
kan begitu saja.
Belum lama ini diketahui bahwa
gagak dapat menandai seseorang dari
raut mukanya. Penelitian di AS meng-
ungkap bahwa gagak termasuk jenis
hewan pendendam. Mereka bahkan
masih dapat mengingat wajah manusia
yang pernah menyakitinya, sesudah
sekian lama berselang. Percobaan ini
melibatkan 7–15 ekor gagak di lima
kawasan berbeda. Gagak ini dijebak,
diikat, dan sedikit dikasari oleh orang
yang memakai topeng dengan karakter
tertentu (“topeng jahat”). Setalah
gagak itu dilepas kembali, para peneliti
masih rutin melakukan kunjungan ke
daerah itu. Hingga dua tahun berselang
dari masa penangkapan, 30% gagak
di kawasan penangkapan ini
masih secara konsisten “memarahi
topeng jahat” setiap kali wajah itu
muncul. Di beberapa lokasi penelitian
intensitas “kemarahan” gagak bahkan
naik sampai 66% pada tahun ketiga
penelitian. Ini menunjukkan bahwa
gagak yaitu hewan pendendam, dan
dapat mewariskan dendam itu kepada
anak turunnya.
Kecerdasan yang dimiliki gagak
mungkin saja berbanding lurus dengan
ukuran otaknya. Gagak jenis Common
Raven memiliki volume otak, terutama
bagian hyperpallium (bagian otak yang
memiliki fungsi pembelajaran) terbesar
di antara semua jenis burung. Mereka
mampu belajar untuk memecahkan
masalah dan mampu menjalani proses
pembelajaran lainnya, seperti meniru
perilaku binatang lain. Beberapa pe-
neliti menyebut gagak sebagai “inven-
tor” (penemu/pencipta). Hal-hal yang
dilakukan gagak dan semula hanya
dianggap sebagai naluri saja, ternyata
tidak demikian. Mereka melakukan-
nya dengan sadar melalui proses pem-
belajaran.
Ada contoh lain yang membuk-
tikan gagak sebagai makhluk pintar.
Mereka dapat mengetahui cara mema-
kan daging yang diikat dengan benang
dan digantungkan pada cabang po-
hon. sesudah beberapa lama, seekor
di antara mereka dapat menemukan
solusi dengan cara menarik tali de-
ngan paruhnya dan menginjak tali
yang sudah ditariknya. Demikian ini
dilakukan berkali-kali hingga tali itu
memendek dan gagak dapat memakan
daging dengan mudah.
Penelitian tentang kemampuan
gagak sebagai “inventor” dilakukan
secara intensif terhadap salah satu
jenis gagak yang hidup di kepulauan
New Caledonia, yakni gagak jenis
Corvus moneduloides. Gagak ini dikenal
dengan kecerdasannya yang tinggi
dan kemampuannya menciptakan alat
untuk memecahkan persoalan yang
mereka hadapi. Gagak ini mampu
membuat alat-alat yang dipakai nya
sehari-hari untuk mencari makan.
tahui bahwa gagak ini tidak hanya
mampu membuat ‘pisau’, namun juga
banyak alat lainnya dengan cara meng-
haluskan atau membengkokkan bulu,
ranting, bahkan kawat, untuk berbagai
maksud.
Pengajaran keahlian mencipta
ini dilakukan turun-temurun. Yang
demikian ini tampaknya tidak lepas dari
cara hidup mereka. Gagak Caledonia
ternyata tidak hidup dalam kelompok
besar sebagaimana jenis gagak lain-
nya. Mereka hidup dalam suatu keluar-
ga kecil (dua orang tua dan anak-
anaknya dari dua musim bertelur),
sehingga ‘pengajaran’ dapat dilakukan
dengan intensif. Salah satu pendidikan
yang dilakukan oleh orang tua yaitu
mendemonstrasikan pembuatan alat.
Gagak dewasa mengajak anak-anaknya
ke tempat mereka biasa membuat alat
dari material tanaman yang ada. Di sini
anak-anak gagak dibiarkan melihat
dan bermain dengan alat-alat yang
biasa dipakai oleh gagak dewasa.
Bermula dari melihat dan menyentuh
alat-alat ini anak-anak gagak pada
saatnya nanti akan dapat meniru cara
membuat dan memanfaatkannya.
Tampaknya kedua orang tua gagak
Caledonia berusaha sekuat tenaga
agar anaknya mampu dan ahli mem-
buat alat yang diajarkannya. Alat yang
dibuat oleh gagak Caledonia ini terus
berkembang dan disempurnakan dari
Mereka mampu membuat ‘pisau’
yang dibentuk dari daun rumput yang
keras. Dari pengamatan video dike-
219Hewan dalam Al-Qur'an
waktu ke waktu. Perbaikan dan pe-
nyempurnaan dilakukan baik oleh indi-
vidu yang sama maupun oleh generasi
berikutnya. Uniknya lagi, mereka
mampu menciptakan alat yang dapat
dipakai baik oleh gagak kidal
maupun tidak kidal. Alat-alat yang
dibuatnya umumnya dipakai untuk
menangkap serangga atau hewan tak
bertulang belakang lainnya.
Penelitian menemukan bahwa
seekor gagak mampu memakai
tiga alat berbeda yang saling berkaitan
untuk dapat mencapai tempat di ma-
na ada makanan. Dalam perco-
baan, diberikanlah tiga batang kayu
berukuran pendek, sedang, dan pan-
jang kepada gagak. Ketiganya berada
di dalam lubang pipa pada kedalaman
tertentu. Dalam situasi demikian,
gagak akan memakai batang
pendek yang paling mudah digapai.
Batang pendek ini lantas dipakainya
untuk mendorong batang sedang
keluar dari lubang pipa. Selanjutnya,
batang sedang mereka gunakan untuk
mendorong batang panjang keluar
dari lubang pipa. Pada akhirnya, gagak
memakai batang panjang untuk
mendorong makanan keluar pipa
panjang.
Dari penelitian lain di Gurun Israel
diketahui bahwa gagak melakukan
kerja sama dalam berburu. Penelitian
dilakukan terhadap burung gagak
dari jenis Corvus ruficolis yang berburu
kadal Uromastyx aegyptius yang memi-
liki panjang tubuh mencapai 75 cm
dan bobot sekitar 1 kg. Perburuan
dilakukan oleh dua ekor gagak yang
tidak harus berasal dari kelompok
yang sama. Kerja sama dilakukan
secara acak, mendadak, dan spontan,
saat kemungkinan untuk berburu
bersama muncul, tanpa ada persiapan
dan persetujuan untuk bekerja sama
sebelumnya. jika tampak ada
seekor kadal berada di pintu liangnya,
maka seekor gagak akan terbang dan
mengintipnya. Begitu gagak-gagak ini
melihat kadal keluar dan berada cukup
jauh dari liangnya, gagak pertama akan
segera turun dan berdiri di depan liang
sehingga kadal tidak dapat masuk ke
liang. Gagak lainnya bertugas memburu
kadal. sesudah kadal terluka dan tidak
mungkin lari ke liang, gagak yang
tadinya menjaga liang kini bergabung
untuk membantu membunuh kadal.
sebab kadal berukuran cukup besar
dan memiliki alat pertahanan
yang andal, seperti cakar dan ekor,
maka diperlukan lebih dari satu ekor
gagak untuk menaklukkannya. Meski
demikian, menutup jalan masuk liang
yaitu suatu siasat yang amat cerdik.
Kerja sama demikian ini sebetulnya
biasa dilakukan oleh banyak burung
buas lain, namun pada umumnya
hanya dilakukan oleh burung dengan
pasangannya, sehingga mungkin saja
kerja sama itu sebelumnya sudah
disepakati bersama. Kerja sama antar-
gagak jenis Corvus ruficolis tidaklah
demikian. Mereka bekerja sama secara
spontan dan masing-masing sudah
tahu apa yang menjadi tugasnya tanpa
pernah “berunding” dahulu sebelum
beraksi.
Tidak hanya berkerja sama de-
ngan sesamanya, gagak juga diketahui
bekerja sama dalam berburu dengan
hewan pemburu jenis lain. Gagak da-
pat menirukan suara dan nada pang-
gil beberapa hewan lainnya, dan ke-
mampuan itu dimanfaatkannya untuk
memanggil pemangsa lain, misalnya
serigala atau anjing liar saat ia meli-
hat ada bangkai di suatu lokasi. Begitu
serigala atau anjing liar datang ke
lokasi ini , sudah barang tentu
mereka akan mengoyak kulit bangkai
ini untuk mencapai dagingnya.
saat kulit bangkai terkoyak, gagak
pun turun untuk ikut bergabung me-
makan daging bangkai.
Gagak, terutama Common Raven,
diketahui biasa menguburkan makan-
annya. Penelitian menunjukkan bah-
wa mereka juga memperhatikan ga-
gak lain saat mengubur makanan,
dan menandainya. Dengan demikian,
tidaklah aneh jika lalu terjadi
aksi saling mencuri makanan, yang
terkubur, di dalam dunia gagak. Untuk
melindungi persediaan makanannya
beberapa gagak terbang cukup jauh
dari asal makanan itu untuk lalu
menguburnya. Beberapa gagak juga
tepergok “berpura-pura” menggali
tanah dan mengubur makanannya.
Bisa jadi hal itu dilakukannya secara
sengaja untuk mengelabui gagak lain
yang sedang mengintipnya. Kebiasaan
ini berdampak buruk pada pertanian,
terutama pada masa penanaman
benih jagung secara manual. Gagak
menginterpretasikan perilaku manusia
mengeruk tanah dan menguruk biji
jagung sebagai usaha “menyembunyi-
kan” makanan, seperti kebiasaan dalam
dunia gagak. sebab nya mereka lantas
“mencuri” biji jagung tadi.
Common Raven dikenal sebagai
pengumpul benda-benda yang meng-
kilat atau bulat, dari batu hingga bola
golf. berdasar satu hipotesis, hal
itu dilakukan gagak untuk menarik
lawan jenisnya. Hipotesis lainnya me-
nyatakan bahwa perilaku ini lebih
dimotivas oleh keingintahuan gagak
muda yang besar, sebab perilaku
demikian ini tidak dilakukan lagi oleh
gagak dewasa. Gagak juga diketahui
suka bermain-main. Gagak muda terli-
hat meluncur di punggung bukit yang
dipenuhi salju sekadar untuk bermain-
main, bukan untuk maksud lain. Mereka
juga terlihat “bermain” dengan jenis
hewan lainnya, misalnya dengan seri-
gala atau anjing, atau melakukan
gerakan akrobatik di udara bersama
burung elang. Muncul dugaan burung
gagak juga pandai membuat mainan.
Pada suatu pengamatan terlihat bagai-
mana gagak memakai sepotong
ranting dalam sebuah permainan ber-
sama-sama dengan beberapa teman
sejenisnya.
Gagak juga ahli dalam terbang
akrobatik. Hal ini terutama dilakukan-
nya pada musim kawin. Pasangan
akan terbang bersama, dengan salah
satunya terbang terbalik tepat di ba-
wah pasangannya. Terbang terbalik,
meski dilakukan hanya dalam bebera-
pa, tetap saja memerlukan skil mum-
puni, suatu keahlian yang tidak dipu-
nyai oleh semua burung
Ada banyak sisi yang dapat di-
ungkapkan dari kecerdasan burung
gagak, jauh lebih banyak daripada
hal-hal yang dapat dilakukan hewan
lain. Dari sekian banyak, keahlian
gagak yang paling menonjol yaitu
kemampuannya melakukan invensi.
Tidak semua hewan dapat melakukan
hal ini. Tidak saja meniru, gagak juga
mampu menyempurnakan apa yang
ditirunya, menindaklanjutkannya, dan
menurunkan kemampuannya kepada
keturunannya. Dengan demikian,
proses penyempurnaan hasil invensi
dilakukan lintas generasi. Keahlian
demikian ini baru diketahui manusia
sesudah mengamati dengan saksama
satu jenis burung yang selama ini
mendapat stereotip buruk. Namun,
tidak seperti manusia, Allah yang
menciptakan gagak tentu tahu hal
itu dari zaman azali. Itulah mengapa
Dia menyebut salah satu indikasi ke-
cerdasan burung gagak pada salah satu
ayat Al-Qur'an. Allah melakukan hal itu
agar diketahui dan dijadikan pelajaran
oleh mereka yang mau memaksimal-
kan kemampuan berpikirnya.
lalu Allah mengutus seekor burung gagak
menggali tanah untuk diperlihatkan kepadanya
(Qabil). Bagaimana dia seharusnya menguburkan
mayat saudaranya. Qabil berkata, “Oh, celaka aku!
Mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung
gagak ini, sehingga aku dapat menguburkan mayat
saudaraku ini?” Maka jadilah dia termasuk orang
yang menyesal. (al-Mā'idah/5: 31)
2. BURUNG HUPU
Dan dia memeriksa burung-burung lalu berkata,
“Mengapa aku tidak melihat Hud-hud, ) apakah ia
termasuk yang tidak hadir? (an-Naml/27: 20)
Ayat di atas merupakan satu
dari rangkaian ayat-ayat tentang kisah
Nabi Sulaiman dan Ratu Saba', yang
tertulis dalam Surah an-Naml/27: 20–31.
Burung hud-hud (bulbul; hupu) terpilih
menjadi utusan untuk membawa surat
dari Nabi Sulaiman kepada Ratu Bilqis
di Saba'.
Dan dia memeriksa burung-burung lalu berkata,
“Mengapa aku tidak melihat Hud-hud, apakah ia
termasuk yang tidak hadir? Pasti akan kuhukum
ia dengan hukuman yang berat atau kusembelih
ia, kecuali jika ia datang kepadaku dengan alasan
yang jelas.” Maka tidak lama lalu (datanglah
Hud-hud), lalu ia berkata, “Aku telah mengetahui
sesuatu yang belum engkau ketahui. Aku datang
kepadamu dari negeri Saba' membawa suatu
berita yang meyakinkan. Sungguh, kudapati ada
seorang perempuan yang memerintah mereka,
dan dia dianugerahi segala sesuatu serta memiliki
singgasana yang besar. Aku (burung Hud) dapati
dia dan kaumnya menyembah matahari, bukan
kepada Allah; dan setan telah menjadikan terasa
indah bagi mereka perbuatan-perbuatan (buruk)
mereka, sehingga menghalangi mereka dari jalan
(Allah), maka mereka tidak mendapat petunjuk,
mereka (juga) tidak menyembah Allah yang
mengeluarkan apa yang terpendam di langit dan
di bumi dan yang mengetahui apa yang kamu
sembunyikan dan yang kamu nyatakan. Allah, tidak
ada tuhan melainkan Dia, Tuhan yang memiliki
‘Arsy yang agung.” Dia (Sulaiman) berkata, “Akan
kami lihat, apa kamu benar, atau termasuk yang
berdusta. Pergilah dengan (membawa) suratku
ini, lalu jatuhkanlah kepada mereka, lalu
berpalinglah dari mereka, lalu perhatikanlah apa
yang mereka bicarakan.” Dia (Balqis) berkata,
224 Hewan dalam Perspektif Al-Qur'an & Sains
“Wahai para pembesar! Sesungguhnya telah di-
sampaikan kepadaku sebuah surat yang mulia.”
Sesungguhnya (surat) itu dari Sulaiman yang isi-
nya, “Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih,
Maha Penyayang, janganlah engkau berlaku som-
bong terhadapku dan datanglah kepadaku sebagai
orang-orang yang berserah diri.” (al-Naml/27:
20–31)
Perikehidupan Burung Hupu
Hupu (Upupa epops) yaitu burung
dengan komposisi warna bulu yang
indah dan ditemukan hidup di kawasan
Afro-Eurasia. Burung ini mudah diciri
dari bulu mahkotanya. Ukuran tubuh-
nya sekitar 25–35 cm, dengan lebar
sayap 44–50 cm, dan bobot 46–89
gram. Hupu yaitu satu-satunya jenis
yang tersisa dari suku Upupidae; jenis
lainnya sudah punah. Persebaran bu-
rung hupu sangat luas, dari Eropa,
Asia, Afrika Utara, sub-Sahara Afrika,
hingga Madagaskar. sebab itulah jenis
burung ini lalu dibagi menjadi
beberapa anak jenis.
1. Upupa epops epops, hidup di
Afrika barat daya sampai Cina
dan Rusia;
2. Upupa epops major, hidup Afrika
barat laut;
3. Upupa epops senegalensis, hidup
di Senegal sampai Ethiopia;
4. Upupa epops waibeli, hidup di
Kamerun hingga Kenya utara;
5. Upupa epops africana. hidup
di Afrika Tengah sampai Afrika
Selatan;
6. Upupa epops marginata, hidup di
Madagaskar;
7. Upupa epops saturata hidup di
Jepang sampai Siberia;
8. Upupa epops ceylonensis, hidup
di Pakistan, India, Srilanka;
9. Upupa epops longirastris, hidup
di Asia Tenggara.
Hupu hidup di kawasan terbuka
atau dengan sedikit pepohonan. Ia
membuat sarang di lubang pohon
atau benda apa pun (rumah yang tua
yang kosong, dinding tebing batu, dll.)
yang memiliki cekungan atau lubang.
Makanan utama burung ini yaitu
Gambar 242
Burung hupu. (Sumber: pixdaus.com)
225Hewan dalam Al-Qur'an
serangga, walaupun terkadang ia juga
terlihat memakan kadal atau katak
kecil, bahkan beberapa buah semak.
Burung hupu hidup menyendiri. Ia
lebih sering mencari makannya di
tanah berumput daripada menyambar
serangga yang sedang terbang. Hupu
menganut monogami, walaupun ada
beberapa yang hanya berlangsung
selama satu musim kawin.
Sarangnya “kotor” dan beraro-
ma daging busuk. Aroma ini berasal
dari sekresi salah satu kelenjar yang
dimiliki burung betina. Sekresi ini dike-
luarkan untuk melindungi sarang dari
pemangsa. Sekresi ini diduga berperan
juga sebagai antibakteri. Pengeluaran
cairan berhenti beberapa saat sebelum
anak burung terbang keluar sarang.
Dalam relasinya dengan manusia
burung ini mendapat interpretasi
yang saling bertolak belakang. Corak
dan paduan warna bulunya membuat
burung hupu sangat disukai manusia.
Burung ini dianggap suci dalam agama
Mesir Kuno, dan banyak ditemukan
dalam lukisan dinding di berbagai kuil
Mesir. Dalam budaya Persia burung ini
yaitu simbol keberuntungan. Dalam
Kitab Injil burung ini dinyatakan haram
untuk dimakan. Dalam budaya Eropa
kuno burung ini tidak memiliki
reputasi yang baik; ia diumpamakan
sebagai pencuri dan dihububung-
hubungkan dengan dunia kematian.
Kini burung hupu oleh banyak orang
dianggap membantu kelestarian hu-
tan, salah satu alasannya sebab ia
memakan larva dari berbagai jenis
serangga perusak hutan.
Burung hupu yaitu burung
pembawa berita. Paling tidak itulah
yang dapat kita petik dari kisah Nabi
Sulaiman dan Ratu Saba'. Kesesuaian
antara kisah ini dengan perike-
hidupan burung itu sendiri belum
diketahui secara pasti. Suatu saat
kelak, seiring semakin majunya ilmu
pengetahuan, manusia mungkin akan
tahu mengapa Allah memfirmankan
burung hupu dalam ayat Al-Qur'an di
atas sebagai burung pembawa berita.
3. BURUNG PUYUH
Kata as-salwā yang biasa diartikan
burung puyuh disebut tiga kali dalam
Al-Qur'an. Semuanya berkaitan dengan
kisah Nabi Musa saat memimpin Bani
Israil keluar dari Mesir dan tinggal
Bukit Sinai. Ketiga ayat itu yaitu
firman-firman Allah berikut.
Dan Kami membagi mereka menjadi dua belas
suku yang masing-masing berjumlah besar, dan
Kami wahyukan kepada Musa saat kaumnya
meminta air kepadanya, “Pukullah batu itu dengan
tongkatmu!” Maka memancarlah dari (batu) itu
dua belas mata air. Setiap suku telah mengetahui
tempat minumnya masing-masing. Dan Kami
naungi mereka dengan awan dan Kami turunkan
kepada mereka mann dan salwa. (Kami berfirman),
“Makanlah yang baik-baik dari rezeki yang telah
Kami berikan kepadamu.” Mereka tidak menzalimi
Kami, namun merekalah yang selalu menzalimi
dirinya sendiri. (al-A‘rāf/7: 160)
Dan Kami menaungi kamu dengan awan, dan
Kami menurunkan kepadamu mann dan salwa.
Makanlah (makanan) yang baik-baik dari rezeki
yang telah Kami berikan kepadamu. Mereka tidak
menzalimi Kami, namun justru merekalah yang
menzalimi diri sendiri. (al-Baqarah/2: 57)
Wahai Bani Israil! Sungguh, Kami telah menyela-
matkan kamu dari musuhmu, dan Kami telah
mengadakan perjanjian dengan kamu (untuk
bermunajat) di sebelah kanan gunung itu (gunung
Sinai) dan Kami telah menurunkan kepada kamu
mann dan salwa. (Ţāhā/20: 80)
Dari tinjauan bahasa kata mann
tidak hanya menunjuk bahan berasa
manis yang berasal dari getah seje-
nis tumbuhan gurun, namun juga me-
nunjuk apa saja yang dianugerahkan
Tuhan, sesuatu yang diberikan dengan
cuma-cuma tanpa bergantung pada
usaha dari penerima. Kata salwā pun
demikian; ia tidak hanya berarti burung
puyuh, tapi juga memiliki pengertian
yang lebih umum, yakni segala sesuatu
yang membuat orang sangat bahagia.
Kombinasi kedua kata ini menyiratkan
anugerah Allah yang tiada terhingga
kepada umat Musa.
Perikehidupan Burung Puyuh
Burung puyuh (Coturnix coturnix)
yaitu burung kecil, dengan panjang
tubuh sekitar 17 cm, yang hidup di
sebagian besar Eropa, Asia, dan Afrika.
Burung ini banyak diperlihara untuk
diambil telur dan dagingnya. Jenis
burung puyuh yang lazim dipelihara
di Indonesia yaitu Cortunix cortunix
japonicus.
Burung ini memiliki bulu yang
memungkinkannya berkamuflase de-
ngan sangat baik di padang rumput
atau daerah bersemak. Meski burung
ini memiliki sayap yang berfungsi
baik, namun ia jarang terlihat terbang
dan lebih senang berlari. Kalaupun
terbang, ia terbang rendah saja un-tuk
secepatnya masuk lagi ke semak-semak
atau rumput untuk bersembunyi. Ia
lebih senang berlari dan bersembunyi
di rerumputan atau semak.
Sebelumnya sudah dijelaskan
bahwa kata salwā tidak selalu berarti
burung puyuh; ia juga memiliki penger-
tian yang lebih umum, yakni segala
sesuatu yang membuat orang merasa
sangat bahagia. Sampai pada batas ini
masih terbuka ruang yang sangat luas
bagi interpretasi atas kata ini, apakah
Allah menghendaki makna khusus
ataukah umumnya. Walaupun sampai
saat ini burung puyuh masih dijumpai
di kawasan di mana umat Nabi Musa
bermukim saat itu, dan masih diburu
orang, namun keberadaannya tidak
begitu dominan dan tidak pula begitu
urgen bagi kehidupan di sana. Dengan
demikian, dapatlah kita katakan bah-
wa makna yang lebih umum dari kata
salwā, begitu juga mann, yaitu makna
yang lebih sesuai.
D. SERANGGA
Serangga yaitu kelompok terbesar
dalam dunia hewan di bumi. Diper-
kirakan ada lebih dari 800.000 jenis
serangga yang sudah dikenal dan
dideskripsi. Jenis-jenis baru serangga
masih terus bermunculan dalam hi-
tungan hari. Para ahli memperkirakan
masih ada jutaan jenis serangga yang
belum dikenal.
Dari jenis serangga yang begitu
banyak, Al-Qur'an menyebut beberapa
di antaranya secara langsung, misalnya
lebah (an-Naĥl/16: 68–69), belalang (al-
Qamar/54: 7), nyamuk (al-Baqarah/2:
26), rayap (Saba'/34: 14), lalat (al-
Ĥajj/22: 73–74), dan semut (an-Naml/27:
19). Bersamaan dengan penyebutan
hewan-hewan ini terselip ba-
nyak pelajaran yang penting untuk
diketahui dan menjadi pembelajaran
bagi manusia. Misalnya saja bagaimana
jenis-jenis ini berorganisasi, ber-
komunikasi satu dengan lainnya,
bagaimana mereka mengubah bagian
tumbuhan untuk menjadi produk yang
bermanfaat bagi manusia; bahkan
melalui penyebutan hewan-hewan itu
pula Allah hendak mengingatkan ma-
nusia akan kekuasaan-Nya yang tak
terbatas.
Serangga pada umum-
nya memiliki enam kaki,
dan banyak di antara-
nya bersayap em-
pat. Seranggga
alias insekta ada-
lah kelompok he-
wan pertama yang
dapat terbang. Kebanyakan
serangga hidup
di kawasan tro-
pis, dan hanya beberapa jenis yang
hidup di kawasan dingin atua lautan.
Tubuh serangga terdiri dari tiga bagian
besar, yaitu kepala, dada (thorax), dan
tubuh bagian belakang (abdomen).
Pada bagian dada menempel semua
kaki dan sayap serangga. Bagian ab-
domen yaitu tempat bagi perut, jan-
tung, dan organ lainnya, serta sistem
pembuangan.
Serangga umumnya mengalami
proses metamorfosis dalam perkem-
bangannya. Kebanyakan serangga
berasal dari telur. Telur yang sudah
menetas akan mengalami salah satu
dari dua cara metamorfosis. Perta-
ma, metamorfosis tak lengkap. Pada
cara ini serangga yang baru saja
menetas, atau biasa disebut nimfa,
sudah memiliki bentuk tubuh mirip
serangga dewasa, tapi dalam ukuran
lebih kecil. Nimfa ini akan makin
membesar tanpa perubahan bentuk.
Cara yang demikian ini dapat dili-
hat pada belalang. Kedua, me-
tamorfosis lengkap. Dalam
cara ini larva kecil yang
keluar dari telur
memiliki bentuk
yang berbeda dari
serangga dewasanya.
Umumnya larva serangga
berbentuk semacam cacing
atau ulat, memakan
makanan yang ber-
beda dari serangga dewasanya, untuk
kemu-dian berubah menjadi pupa.
Bentuk pupa bermacam-macam, sa-
lah satunya seperti pupa kupu-kupu
yang hidup di dalam kepompong. Di
dalam kepompong inilah pupa lantas
berubah bentuk menjadi serangga
dewasa. Jenis serangga yang berkem-
bang melalui metamorfosis lengkap
di antaranya kupu-kupu, lalat, dan
kumbang. Gambar 154 menunjukkan
proses metamorfosis pada kupu-kupu;
dimulai dari ulat, berubah menjadi
kepompong, dan pada akhirnya ber-
ubah bentuk menjadi kupu gajah de-
wasa (Attacus atlas).
Manusia pada umumnya mem-
bagi serangga ke dalam dua kelompok:
serangga baik dan serangga jahat.
Serangga baik yaitu kelompok se-
rangga yang dianggap berguna dalam
kehidupan manusia, seperti serangga
penyerbuk (kupu-kupu, lalat, lebah,
dan sejenisnya), serangga penghasil
bahan makanan (misalnya lebah
madu) atau bahan pakaian (misalnya
ulat sutra). Termasuk dalam katagori
ini yaitu serangga yang memangsa
hewan perusak tanaman pertanian,
misalnya kepik yang memakan kutu
daun. Di dalam kelompok ini juga ter-
dapat beberapa jenis serangga yang
berperan mendaur ulang bangkai bina-
tang atau pohon mati di alam.
Adapun yang masuk kategori
serangga jahat antara lain kelompok
parasit (misalnya caplak, kutu, nya-
muk, dan sejenisnya) yang dapat me-
nularkan penyakit seperti malaria,
kaki gajah, dan sejenisnya. Terma-
suk dalam kelompok ini yaitu se-
rangga-serangga yang dianggap
merusak produk pertanian, seperti
kutu beras yang merusak beras atau
jagung dalam lumbung; atau yang
merusak tanaman pertanian, seperti
belalang, wereng, belalang sangit, dan
sejenisnya. Di satu sisi rayap dianggap
sebagai serangga perusak bangunan
tempat tinggal manusia. Di sisi lain,
di alam liar, rayap memiliki peran
penting dalam melestarikan ekosistem
sebab mereka merupakan salah satu
agen yang membantu mendaur ulang
pohon-pohon mati yang jatuh ke lantai
hutan.
Dari uraian di atas kembali tam-
pak bahwa Allah menciptakan segala
sesuatu bukan tanpa maksud. Coba
kita perhatikan lalat. Dalam salah satu
hadisnya, Rasulullah menjelaskan bah-
wa lalat, selain menjadi pembawa pe-
nyakit, juga membawa obat untuk
manusia. Yang demikian itu tentu
bukan atas kemauan mereka sendiri,
melainkan atas ilham dan petunjuk
dari Allah. jika manusia berusaha
memahami ciptaan Allah, mereka tentu
yakin bahwa lalat pun diciptakan untuk
membantu kesejahteraan manusia
dalam bidang kesehatan. Jutaan jenis
serangga lainnya pun demikian ada-
nya. Bila seperti itu adanya maka ma-
nusia harus bersyukur kepada Allah
sebab Dia telah menciptakan begitu
banyak makhluk untuk mendukung
kehidupan manusia di bumi ini.
1. RAYAP bagi manusia betapa mereka yaitu
makhluk yang rapuh, dan apa saja yang
ada di dunia ini yaitu fana.
Perikehidupan Rayap
Rayap yaitu kelompok serangga
yang secara taksonomi masuk dalam
ordo Isoptera. Bersama dengan semut
dan lebah, rayap dikenal memiliki
struktur organisasi yang teratur dalam
kehidupannya. ada pembagian
kerja dalam garis gender secara ko-
lektif. Mereka umumnya memakan
material mati (kayu, serasah daun,
bangkai, hingga kotoran binatang).
Sekitar 10% dari seluruh jenis rayap
yang diperkirakan berjumlah sekitar
4.000 jenis masuk dalam katagori ra-
yap perusak bangunan. Hingga tahun
1996, sekitar 2.800 jenis rayap yang ada
di dunia telah berhasil diidentifikasi.
Sistem organisasi rayap bersifat
desentralitatif, dengan sistem self-
organization yang dipandu oleh inter-
aksi yang cerdas dalam mengolah
Maka saat Kami telah menetapkan kematian
atasnya (Sulaiman), tidak ada yang menunjukkan
kepada mereka kematiannya itu kecuali rayap
yang memakan tongkatnya. Maka saat dia telah
tersungkur, tahulah jin itu bahwa sekiranya mereka
mengetahui yang gaib tentu mereka tidak tetap
dalam siksa yang menghinakan. (Saba'/34: 14)
Ayat di atas meriwayatkan kisah
wafatnya Sulaiman. Dikisahkan bahwa
Nabi Sulaiman yang juga seorang
raja saat itu meninggal dalam posisi
duduk di atas singgasananya sambil
bersandar pada tongkatnya. Untuk
beberapa lama tidak ada yang tahu
beliau sudah meninggal. Akibatnya,
para jin yang sebetulnya selama ini
merasa terpaksa dan enggan bekerja
untuk Nabi Sulaiman terus bekerja
keras melakukan tugas yang menjadi
tanggung jawab mereka. Lama-lama
wafatnya Nabi Sulaiman ketahuan
juga. yaitu rayap yang secara tidak
sengaja memperlihatkan kenyataan
itu. Mereka menggerogoti tongkat
Nabi Sulaiman sedikit demi sedikit
hingga tubuhnya yang selama ini ber-
tumpu pada tongkat itu pun tersungkur
ke tanah. Hal ini memberi gambaran
pakan yang tidak dapat ditangani oleh
hanya satu individu. Koloni biasanya
terdiri atas nimfa (anak yang menjelang
dewasa), pekerja, tentara, kelompok
yang bertugas melakukan reproduksi
(jenis jantan dan betina), dan satu atau
lebih ratu penghasil telur.
Rayap ditemukan hidup di ka-
wasan yang terletak di antara 500
Lintang Utara dan 500 Lintang Selatan,
dengan kawasan tropis sebagai tem-
pat yang paling padat dihuni. Dari
sudut jenis, keanekaragaman tertinggi
ditemukan di hutan tropis dan juga
di kawasan semak di sekitar Laut
Tengah. Beberapa pakar memasukkan
organisasi koloni rayap ke dalam supra-
organisme. Artinya, koloni itu sendiri
dianggap sebagai satu makhluk hidup.
Adapun individu-individu rayap dalam
koloni ini hanya merupakan ba-
gian-bagian dari anggota badan supra-
organisme itu.
Perbandingan jumlah rayap pra-
jurit dan rayap pekerja dalam satu
koloni biasanya tidak tetap. Koloni
yang sedang bertumbuh subur dapat
memiliki rayap pekerja yang sangat
banyak. sebab rayap prajurit belum
begitu diperlukan pada masa ini maka
jumlah mereka dapat kurang dari
2–4% saja. Sebaliknya, pada koloni
yang mengalami banyak gangguan,
misalnya sebab banyaknya semut
di sekitar sarangnya, maka akan ada
sinyal kepada ratu untuk membentuk
lebih banyak prajurit untuk memper-
tahankan sarang.
Dalam dunia rayap ada satu kasta
yang bertugas menangani reproduksi.
Kasta ini memiliki berbagai organ
yang lebih maju, di antaranya mampu
membentuk sayap. Dalam bentuk
laron atau anai-anai, yaitu rayap jantan
dan betina yang bersayap, rayap betina
suatu saat nanti akan menjadi “ratu”,
sedang pejantan yang beruntung
akan menjadi “raja” seumur hidupnya.
Mereka akan membentuk koloninya
sendiri. Ratu dan raja inilah yang terus
bertugas memproduksi telur untuk
melengkapi koloninya. Kondisi yang
demikian ini berbeda dari semut, di
mana pejantan hanya bekerja satu kali
saja membuahi ratunya. sesudah kawin
semut pejantan itu akan mati. Ratu
semut mampu menyimpan benih yang
dihasilkan pejantan, dan dipakai
secara bertahap. Dalam dunia rayap,
hanya ada satu rayap pejantan yang
berhak membuahi ratunya sepanjang
hidupnya.
Ratu yang sudah matang dapat
menghasilkan sekitar 2.000 telur dalam
sehari. Ada dugaan ratu inilah yang
mengatur koloni sebab dialah satu-
satunya penghasil feromon, sejenis
zat kimia yang berfungsi sebagai
alat komunikasi pada banyak hewan.
Feromon di antaranya berfungsi me-
rangsang dan menjadi daya pikat
seksual pada hewan jantan maupun
betina. Zat ini berasal dari kelenjar
endokrin dan dipakai oleh makhluk
hidup untuk mengenali sesama jenis,
individu lain, kelompok, dan untuk
membantu proses reproduksi. Ber-
beda dari hormon, feromon menyebar
ke luar tubuh dan hanya dapat
mempengaruhi dan dikenali oleh
individu lain yang sejenis. Feromon
rayap antara lain dipakai untuk
mendeteksi jalur yang dijelajahinya.
Individu rayap yang berada di depan
mengeluarkan feromon penanda jejak
(trail following pheromone) yang keluar
dari kelenjar sternum (sternal gland di
bagian bawah-belakang abdomen),
yang dapat dideteksi oleh rayap yang
berada di belakangnya. Sifat kimiawi
feromon ini sangat erat hubungannya
dengan bau makanannya sehingga ra-
yap mampu mendeteksi objek makan-
annya. Di samping feromon sebagai
penanda jejak, rayap juga memiliki
feromon dasar (primer pheromones)
untuk menjalankan semua pengaturan
di dalam koloni. Feromon dasar juga
berperan dalam diferensiasi pemben-
tukan kasta pekerja dan kasta prajurit.
Segera sesudah ratu mati, feromon ini
hilang dan muncul kembali begitu ratu
baru, yang berasal dari calon pengganti
ratu yang telah disiapkan sebelumnya,
diangkat menjadi ratu.
Kasta pekerja yaitu kasta utama
dalam koloni rayap; utama dalam hal
jumlah dan macam pekerjaannya. Kas-
ta pekerja bertanggung jawab mencari
dan menyimpan makanan, memelihara
sarang, dan dalam beberapa jenis,
mengurus pertahanan diri. Dalam soal
makanan, rayap pekerja juga menjadi
kelompok utama dalam memproses
selulosa di dalam perutnya. Di dalam
saluran pencernaan rayap-rayap peker-
ja ini hidup ratusan jenis jasad renik
yang bersifat prokaryotik yang dapat
mencerna selulosa. Pengetahuan para
peneliti mengenai hubungan rayap
dan jasad renik yang ada di dalam
tubuhnya masih sangat sedikit.
Rayap-rayap pekerja bertugas
membangun dan memelihara sarang.
Sarang rayap merupakan keajaiban
arsitektur tersendiri. Struktur sarang
ini sangat rumit dan dibuat dari
campuran beberapa bahan sekaligus,
seperti tanah, lumpur, serbuk kayu,
dan ludah serta kotoran rayap. Sarang
rayap kadang terletak di atas pohon,
berupa gundukan di atas tanah, bah-
kan ada yang tidak tampak sama
sekali sebab dibangun di bawah
tanah. Di kawasan padang rumput
atau savana tropis, gundukan sarang
rayap dapat mencapai tinggi 9 meter.
Kendati begitu, pada umumnya tinggi
gundukan sarang rayap hanya berkisar
2–3 meter. aBentuk gundukan ini ber-
beda-beda, tergantung jenis rayap
yang membangunnya. sebab itulah
secara kasar kita dapat menebak jenis
rayap dari bentuk gundukan sarang
yang dibuatnya.
Selain menjadi tempat berlin-
dung, sarang juga memiliki fungsi
lain. Rayap membentuk kamar-kamar
kondensasi untuk menangkap uap air
dari udara dan mengubahnya menjadi
air. Di sarang juga ada kamar
reproduksi yang sekaligus menjadi
tempat tinggal larva atau anakan
rayap. Kamar untuk berkebun jamur
juga disediakan tersendiri. Kebun ja-
mur ini diisi oleh potongan-potongan
daun dan bagian tumbuhan lainnya
sebagai media tumbuhnya jamur
yang menyediakan miselium (material
yang menyerupai benang-benang
yang diperlukan dalam reproduksi
jamur) yang kaya nutrisi untuk diet
mereka. Di sana juga ada ruang-
ruang luas yang berfungsi sebagai
pengatur suhu udara dan pengontrol
aliran oksigen dan karbondioksida.
Lorong-lorong bersimpang siur untuk
menghubungkan berbagai tempat
yang ada dalam sarang juga ada. Terda-
pat juga kamar-kamar khusus untuk
musim panas dan musim dingin, serta
lorong untuk keluar dalam kondisi
darurat. Yang paling mencengangkan
yaitu kenyataan bahwa sarang yang
sedemikian canggih ini dibangun oleh
rayap yang pada dasarnya buta. Rayap
yang buta ini seringkali mencampur
telurnya dengan jamur tertentu. Ben-
tuk jamur yang sangat mirip telur
rayap dikumpulkan bersama-sama da-
lam satu tempat (gambar 257).
beberapa jenis hewan lainnya. Tidak
hanya hewan-hewan berukuran kecil,
hewan besar pun tak jarang meman-
faatkan gundukan sarang semut. An-
jing liar, misalnya, biasa menggali sa-
rang rayap yang sudah ditinggalkan
dan membuat gua untuk sarangnya
sendiri.
Di samping selulosa yang berasal
dari tumbuhan (kayu, daun, dan ba-
gian tumbuhan lainnya), rayap juga di-
ketahui memakan tulang dan bagian
lain dari bangkai. Pemanfaatan bangkai
ini dapat ditelusuri ke belakang sampai
temuan tulang dinosaurus yang dima-
kan rayap pada masa Jurassic di Cina.
Hubungan antara manusia de-
ngan rayap muncul sebab rayap se-
ringkali merusak rumah tempat tinggal
manusia. Di sisi yang lain, rayap juga
dapat menjadi makanan dengan kadar
protein sangat tinggi bagi manusia.
Biasanya rayap ditangkapi saat laron
atau anai-anai mulai keluar dari sarang
dan terbang untuk bereproduksi dan
mencari lokasi tempat tinggal baru.
Kejadian ini umumnya terjadi pada
permulaan musim hujan. Kebiasaan
menangkap laron banyak dilakukan
warga di kawasan Afrika Barat,
Tengah, dan Selatan. Rayap juga sering
menggangu tanaman pertanian. Cara
paling efektif untuk menanggulangi
gangguan ini yaitu membanjiri lahan
pertanian dengan air.
Secara ekologi, rayap melakukan
pekerjaan penting dalam ekosistem,
seperti mendaur ulang nutrisi, mem-
bentuk habitat bagi banyak jenis
hewan lain, meningkatkan kualitas
tanah, dan menyediakan makanan ba-
gi banyak jenis hewan lain, terutama
dalam bentuk laron atau anai-anai.
Pembuatan liang pada kayu mati akan
membuat permukaan kayu menjadi
lebih luas. Hal ini memungkinkan
hewan dan jamur yang hidup dari
kayu memanfaatkan liang-liang itu.
Gundukan rumah rayap dapat dijadikan
tempat untuk menyelamatkan diri
bagi hewan saat banjir menggenangi
kawasan savana. Gundukan itu juga
menjadi tempat tumbuhnya beberapa
jenis semak yang menghindari akar-
nya terendam air. Hewan-hewan yang
sering memanfaatkan sarang rayap
yang terbengkalai misalnya kalajeng-
king, kadal, ular, tikus, burung, dan
proses ini dapat ditingkatkan
skalanya ke skala pabrik dengan me-
makai bioreaktor untuk menghasilkan
hidrogen dalam jumlah banyak dari
massa kayu yang kurang bernilai ko-
mersial.
Dalam kehidupan sehari-hari,
sarang rayap dipercaya dapat digu-
nakan untuk mengidentifikasi adanya
sumber air tanah di sekitarnya. Hal
ini ditulis secara panjang lebar
dalam salah satu buku di India ber-
judul Brihat Samhita karya Varaha
Mihira (tahun 505–587 M). Memang,
di beberapa tempat terbukti secara
ilmiah bahwa sarang rayap merupakan
indikasi adanya air tanah. Penjelasan
sederhananya sebagai berikut.
Semua makhluk hidup, tidak
terkecuali serangga, memerlukan air
yang cukup untuk bertahan hidup.
Demikian juga rayap yang harus dapat
mempertahankan koloninya di kawa-
san savana yang sangat terik, dan
bekerja di dalam lingkungan sarang
yang pengap dan panas. Penelitian
membuktikan bahwa kelembapan
udara di dalam sarang rayap sangat
tinggi, mencapai 99–100%. Terlihat pula
dari pengamatan sederhana bahwa
begitu sarang atau saluran tempat
rayap berlalu lalang rusak, maka segera
rayap-rayap pekerja memperbaikinya
dengan “adonan” berwujud lumpur
yang diambilnya dari tanah yang ada
Belakangan ini para peneliti sibuk
meneliti dan mengadopsi kemampuan
rayap dalam memanfaatkan mikroor-
ganisme di dalam tubuhnya untuk
menghasilkan energi. Rayap diketahui
dapat menghasilkan sekitar dua liter
hydrogen dari satu lembar kertas
tulis. Kemampuan “bioreaktor” alami
yang canggih ini dapat membantu ma-
nusia melepaskan diri dari ketergan-
tungan terhadap bahan bakar fosil.
Kemampuan ini dimiliki rayap sebab
mereka dapat “memelihara” banyak
jenis jasad renik dalam saluran makan-
nya. Jenis mikroba yang hidup di sana
dapat mencapai lebih dari 200 jenis.
Kombinasi jenis mikroba inilah yang
secara efektif menghasilkan hidrogen
dalam jumlah banyak. Polimer lignase-
lulosa yang sangat kompleks dipecah
oleh mikroorganisme menjadi gula
sederhana dengan memakai en-
zim yang tepat, dan memproduksi
hidrogen sebagai produk ikutannya.
Bakteri lainnya akan memakai
gula sederhana dan hidrogen yang ada
untuk membentuk ikatan asetat yang
diperlukan oleh rayap sebagai sumber
energinya. Para ahli sedang mencoba
mengidentifikasi jalur biokimia apa
yang terjadi dalam perut rayap; en-
zim apa yang dipakai nya untuk
membentuk hidrogen, serta gen mana
yang menghasilkan enzim ini .
Begitu identifikasi ini berhasil maka
di dalam sarang. Dari sini cukup aman
untuk dikatakan bahwa di sarang
bagian bawah tersimpan air untuk
membasahi tanah dan mengubahnya
menjadi lumpur; entah sumber air
itu merupakan bagian dari sarang
atau jauh di dalam tanah. Kalaupun
sumber air itu jauh di dalam tanah,
rayap bisa dengan mudah menyusup
jauh ke dalam tanah untuk mencapai
permukaan air tanah ini .
Kemampuan-kemampuan rayap
ini terbentuk sebab proses perkem-
bangan yang berjalan secara perlahan,
bergantung pada keperluannya. Ken-
dati demikian, di samping proses evo-
lusi, ada juga kekuatan yang membuat
proses ini tidak meninggalkan
satu hal pun yang jika terlupa
akan memusnahkan rayap selamanya
dari muka bumi. Dengan demikian,
penjelasan logisnya yaitu bahwa
semua yang diperlukan rayap telah
ada dari semula di dalam diri mereka
sendiri. Waktu hanya berperan dalam
memunculkan kemampuan yang sela-
ma ini belum dipakai . Allah mem-
beri inspirasi kepada rayap untuk meng-
gunakan semua kemampuan yang
diberikan oleh-Nya itu.
Dialah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan,
Yang Membentuk Rupa, Dia memiliki nama-nama
yang indah. Apa yang di langit dan di bumi bertasbih
kepada-Nya. Dan Dialah Yang Mahaperkasa, Maha-
bijaksana. (al-Ĥasyr/59: 24)
2. LEBAH
Ayat yang kaya akan petunjuk ilmiah
perihal kehidupan lebah madu yaitu
Surah an-Naĥl/16: 68–69 berikut.
Dan Tuhanmu mengilhamkan kepada lebah,
“Buatlah sarang di gunung-gunung, di pohon-
pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin
manusia, lalu makanlah dari segala (macam)
buah-buahan lalu tempuhlah jalan Tuhanmu yang
telah dimudahkan (bagimu).” Dari perut lebah
itu keluar minuman (madu) yang bermacam-
macam warnanya, di dalamnya ada obat yang
menyembuhkan bagi manusia. Sungguh, pada
yang demikian itu benar-benar ada tanda
(kebesaran Allah) bagi orang yang berpikir. (an-
Naĥl/16: 68–69)
Ayat ini berbicara tentang lebah,
utamanya lebah madu yang berman-
faat banyak bagi kehidupan manusia.
Rangkaian ayat-ayat ini berisi rentetan
petunjuk tentang keajaiban ilmiah.
Terlihat bahwa mukjizat Al-Qur'an
masih terus dikisahkan, dan ilmu
pengetahuan dari waktu ke waktu
menyingkapnya. Banyak ayat-ayat lain
semacam itu yang menunggu untuk
disingkap rahasianya untuk lalu
dimanfaatkan bagi kesejahteraan ma-
nusia. Ayat-ayat berikut yaitu bebe-
rapa di antaranya.
Makiyah lainnya, surah ini juga secara
umum membahas masalah-masalah
akidah. Topik-topik besar yang dibica-
rakannya yaitu ketuhanan, kebenar-
an wahyu, kebangkitan pada hari kia-
mat, dan ayat-ayat kauniyah (tentang
alam), yang mempertelakan keagung-
an penciptaan, keagungan nikmat, ser-
ta keagungan ilmu Tuhan.
Secara umum, Surah an-Naĥl/:
68–69 memberi informasi tentang
fitrah yang Allah ciptakan pada diri
lebah. Diperlihatkan di sana bagaima-na
lebah beraktivitas, bagaimana seluruh
individu lebah tahu benar kewajiban
dan tugasnya, dan bagaimana mereka
melakukannya secara terpadu dengan
individu lain dalam koloni. Alat-alat
mengatur dan mengontrol itu semua
telah tertanam dalam fitrah ini .
Kami akan memperli



