Tentang hewan 8

Tentang hewan 8


 




saat burung meng-

hela maupun membuang nafas. Cara ini 

menjamin ketersediaan oksigen secara 

kontinu, yang sangat diperlukan otot 

saat burung melakukan penerbangan. 

Sayap yaitu  semacam tangan 

yang memiliki  sendi peluru yang 

besar dan kuat di bagian bahu. Sendi 

ini sangat istimewa, dan dipakai  

untuk mobilitas yang sangat rumit. 

Sendi peluru memungkinkan burung 

bermanuver dengan baik di udara. 

Sendi demikian dapat memposisikan 

sayap sehingga burung dapat berpu-

tar dengan cepat, berganti arah, mem-

perlambat terbang, terbang mundur, 

menukik dengan kecepatan tinggi, 

hingga mendarat dengan mulus. Sela-

in sistem respirasi, adanya bulu pada 

tubuh burung merupakan faktor pen-

ting yang membantu burung terbang. 

Bulu pada burung merupakan modifi-

kasi dari sisik pada kelompok reptil.  

Bulu yaitu  ciptaan yang sangat 

indah, ringan namun kuat, lentur, 

serbaguna, mudah dirawat, menyekat 

panas, kedap air, dan dapat diganti. 

Bulu melindungi burung dari sengatan 

panas sehingga suhu tubuhnya tetap 

dingin. Sebaliknya, dalam kondisi uda-

ra yang dingin bulu berperan meng-

hangatkan tubuh. Bulu melindungi 

burung agar tidak terlalu basah jika  

terkena hujan. Bulu merupakan bagian 

penting dari sayap agar burung dapat 

terbang. Bulu ekor berperan sebagai 

penyeimbang dan pengarah saat ter-

bang, serta berperan sebagai rem saat 


mendarat. Warna bulu sangat penting 

bagi burung. Beberapa jenis burung 

memakai  warna bulunya untuk 

berkamuflase. Beberapa jenis lainnya 

memakai  warna bulunya untuk 

menarik lawan jenis.  

Bulu dikelompokkan ke dalam 

beberapa tipe berdasar  bentuk 

dan fungsinya, yaitu:

• Bulu yang tumbuh di sayap diper-

lukan untuk terbang;

• Bulu halus yang menutupi tubuh 

burung berfungsi mengatur suhu 

tubuh; membuat burung tidak 

terlalu kedinginan maupun kepa-

nasan;

• Bulu yang berwarna-warni atau 

berbentuk spesifik berfungsi seba-

gai kamuflase atau menarik lawan 

jenis dalam ritual perkembang-

biakan.

Bentuk sayap burung yang 

aerodinamis memudahkannya berma-

nuver dengan baik. Bagian atas sa-

yap sedikit melengkung, dengan ba-

gian bawah mendatar. Bentuk yang 

demikian ini akan membentuk udara 

yang bertekanan rendah di bagian 

atas sayap daripada di bawahnya. 

Perbedaan tekanan udara demikian ini 

menghasilkan daya yang mendorong 

burung naik dengan cara mengepakkan 

sayapnya ke atas.  

Bentuk sayap burung bervariasi, 

tergantung untuk tujuan utama ma-

cam apa sayap itu dipakai . Pada 

dasarnya ada  empat macam 

sayap: panjang dan langsing (pada 

burung-burung yang senang berlama-

lama melayang di udara, seperti alba-

tross), pendek dan membulat (pada 

burung yang memerlukan lepas lan-

das yang cepat dan manuver yang 

baik), ramping (seperti pada falcon, 

untuk kecepatan), lebar dan panjang 

(seperti pada elang, untuk melayang 

dan naik tinggi). Walaupun bentuk 

sayap burung bervariasi, namun tidak 

ada perbedaan dalam bentuk tulang 

dan struktur bulu sayapnya. Beberapa 

fakta mengenai kemampuan terbang 

dan segala sesuatu yang berkaitan 

dengan sayap burung dapat disimak 

dalam penjelasan berikut.

Burung peregrin falcon (Falco 

peregrinus) yaitu  pemegang rekor 


burung tercepat, sebab  mampu 

terbang dengan kecepatan rata-rata 

145 km/jam (lihat gambar 126). Diper-

kirakan burung ini dapat menambah 

kecepatannya hingga 320 km/jam ke-

tika sedang memburu mangsanya. 

Kecepatan terbang ini hanya disaingi 

oleh burung layang-layang jenis Spine-

tailed Swift (Hirundapus caudatus: 

145–160 km/jam), burung Fergata Mi-

nor (153 km/jam), dan beberapa jenis 

belibis, antara lain belibis Plectop-

terus gambensis (142 km/jam) dan 

Mergus serator (129 km/jam). Di darat, 

burung unta yaitu  pemegang rekor 

kecepatan berlari, yaitu 80 km/jam.

Hummingbird (burung madu 

atau kolibri) dari Amerika Selatan ada-

lah satu-satunya kelompok burung 

yang dapat terbang mundur dan 

menyamping. Hummingbird yaitu  

raja dalam soal manuver di udara. 

Setiap hari burung ini mengunjungi 

sekitar 2.000 bunga untuk menghisap 

nektarnya. Sebagian besar hasilnya di-

gunakan untuk memasok bahan bakar 


untuk keahlian terbangnya itu. Pada 

saat berhenti dan mengisap nektar, 

kepakan sayapnya dapat mencapai 

60–90 kali per detik.


Rekor ketinggian terbang dipe-

gang oleh burung pemakan bangkai 

Ruppel’s Griffon Vulture  (Gyps reufellii). 

Rekor ini  tercatat saat burung ini 

tertabrak pesawat terbang komersial 

pada tahun 1973 di ketinggian 11.278 

meter. Di bawahnya ada  belibis 

Bar-headed Goose (Anser indicus). 

Jenis burung ini diwartakan terlihat 

terbang di atas Pegunungan Himalaya 

pada ketinggian sekitar 7.500 meter.

Sayap yang tergolong sangat 

panjang dimiliki oleh sejenis burung 

bangau pemakan bangkai, Marabou 

Stork (Leptoptilos crumeniferus), de-

ngan panjang antara 2,4–4 meter. 

Panjang sayap ini hanya disaingi oleh 

burung-burung laut albatross dari 

suku Diomedeidae yang memiliki 

pan-jang sayap antara 3,8–4 meter. 


Burung albatross mungkin hanya 

menginjak tanah beberapa kali saja 

dalam setahun. Hidupnya dihabiskan 

untuk terbang di udara dan berenang 

di air laut. Itulah sebabnya burung 

ini dikenal sebagai burung dengan 

kemampuan mendarat paling buruk. 

Albatros dianggap sebagai burung 

dengan desain tubuh yang sempurna 

untuk terbang.

Selain faktor sayap dan sistem 

pernafasan, faktor ringannya bobot 

tubuh dan kekuatan yang besar men-

jadi persyaratan agar burung dapat 

terbang. Tulang burung umumnya 

berlubang di tengah dan berdinding 

tipis. Titik berat tubuh burung terletak 

di bagian tengah. Di bagian dada ter-

dapat tulang dada yang besar, tempat 

melekatnya otot dada yang besar 

dan kuat untuk menggerakkan sayap. 

Volume otot dada burung mencapai 

sekitar 25–30% dari keseluruhan volu-

me badan burung. Kinerja otot dada 

menggerakkan sayap cukup meng-

ganggu kinerja paru-paru yang terletak 

di dekatnya. Untuk mengatasinya bu-

rung memiliki  sistem pernafasan 

yang berbeda dari hewan darat lainnya. 

Seperti telah diuraikan sebelumnya, 

sistem pernafasan burung terbantu 

oleh tersebarnya kantong-kantong 

udara di seluruh bagian tubuhnya. 

Kantong demikian ini juga dapat dite-

mui di tulang yang bagian tengahnya 

berlubang. Udara dialirkan ke semua 

bagian tubuh burung, dan kandungan 

oksigennya diserap oleh darah dengan 

cepat sebab  denyut jantung yang 

kuat.

Burung merupakan hewan yang 

paling mengandalkan penglihatan da-

lam kehidupannya. Beberapa burung 

bahkan memiliki ukuran mata melebihi 

ukuran otaknya. Burung dapat melihat 

objek yang sama delapan kali lebih 

jelas daripada manusia. Matanya da-

pat beradaptasi dengan cepat untuk 


mengubah dari melihat dekat ke meli-

hat jauh, dan sebaliknya. 

Setiap tahun diperkirakan ada 

sekitar 50 miliar burung yang melaku-

kan migrasi mengikuti jaringan yang 

rumit, di seluruh muka bumi. Acapkali 

mereka harus terbang sepanjang ra-

tusan bahka ribuan kilometer, mele-

wati benua dan samudra. Tubuh bu-

rung sangat siap dan adaptatif untuk 

melakukan tugas ini, sehingga mampu 

melewati daerah laut dan gurun 

pasir yang sangat luas, ketinggian 

pegunungan, bahkan melewati luasnya 

padang es yang sangat dingin. Mereka 

memiliki  program spatiotemporal 

di dalam tubuh. Kemampuan untuk 

mengatur waktu dan tempat meru-

pakan kunci suksesnya migrasi. Pro-

gram yang demikian ini secara nyata 

memampukan anak burung yang tidak 

memiliki  pengalaman untuk dapat 

bermigrasi sendiri, tanpa petunjuk 

induknya, dan bergabung dengan 

populasi jenisnya di kawasan permu-

kiman musim dingin yang belum per-

nah dilihatnya.

Burung Artic Tern (Sterna para-

disaea) tercatat sebagai burung yang 

terbang paling jauh saat migrasi. 

Mereka terbang tiap tahun dari Kutub 

Utara ke Kutub Selatan pergi-pulang 

sejauh 32.000–40.000 km. Sementara 

itu, burung Bar-tailed Godwit (Limosa 

lapponica) tercatat sebagai burung 

yang mampu terbang paling jauh 

tanpa berhenti. Penelitian mencatat 

burung ini terbang sejauh 11.679 km 

tanpa berhenti. 

Walaupun para peneliti belum 

dapat mengungkap semua hal terkait 

migrasi burung, namun mereka 

setuju bahwa perilaku migrasi ini 

telah terprogram dalam perilaku dan 

tubuh burung sejak lahir. Yang pasti, 

kemampuan burung menempuh jarak 

yang mencapai ribuan kilometer dari 

tempat asalnya, persiapan-persiapan 

burung untuk menjamin keberhasilan 

migrasinya, dan kemampuan burung 


Tidakkah mereka memperhatikan burung-burung 

yang dapat terbang di angkasa dengan mudah. 

Tidak ada yang menahannya selain Allah. Sungguh, 

pada yang demikian itu benar-benar ada  

tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang 

yang beriman. (an-Naĥl/16: 79)

Perihal burung memiliki kemam-

puan untuk  terbang dan semua peri-

laku yang berkaitan dengannya juga 

muncul dalam salah satu ayat dalam 

Injil. Dalam Genesis 1: 20, 21 tertulis 

bahwa Tuhan dari semula sudah men-

ciptakan burung untuk terbang.

  Hampir seluruh waktu aktif 

burung dipakai  untuk mencari ma-

kan. Jenis makanan burung bermacam-

macam. Sebagian memakan serangga; 

sebagian lainnya memangsa hewan 

lain (seperti burung hantu, elang, dan 

bangau); memakan bagian-bagian 

tumbuhan (seperti burung madu, per-

kutut, dan burung rangkong), dan ada 

pula yang memakan segala. Dengan 

pola makan dan jenis makanannya 

yang beragam, burung berperan seba-

gai pengontrol hama tanaman perta-

nian, juga sebagai penyerbuk. 

untuk dapat bernavigasi dengan tepat, 

semuanya berlangsung atas izin Allah. 

Allah berfirman,


sarang yang dibuat pada ranting pohon, 

lubang pohon, celah-celah tebing, atau 

di atas tanah atau pasir. Burung maleo, 

misalnya, yang hanya ditemukan hidup 

di Sulawesi ini menguburkan telurnya 

di tanah berpasir.

Umumnya orang tua burung, 

baik salah satu maupun keduanya, 

memelihara anaknya sampai mampu 

terbang. Kendati demikian, ada bebe-

rapa jenis burung yang memiliki sifat 

parasit sebab  enggan memelihara 

anaknya sendiri. Burung cuckoos dari 

suku Cuculidae, misalnya, “menitipkan” 

telurnya di sarang burung jenis lain. 

Tidak hanya itu, untuk memastikan 

anakannya akan dipelihara dengan 

baik, burung cuckoos memecahkan 

semua telur induk semangnya. Jika hal 

itu gagal dilakukan, anakan burung 

cuckoos akan menendangi “sauda-

ra-saudaranya” sehingga jatuh dari 

sarang. Gambar 134 memperlihatkan 

anakan burung cuckoos jenis Cuculus 

Adaptasi tubuh burung dalam 

usahanya memperoleh makanan ada-

lah hal yang mudah kita jumpai, misal-

nya pada sejenis burung madu (Bee 

Hummingbird–Ensifera ensifera). Bu-

rung ini memiliki paruh yang lebih 

panjang dari tubuhnya. Burung madu 

yang hidup di Pegunungan Andes di 

Amerika Selatan ini memerlukan paruh 

panjangnya ini guna dapat mengisap 

nektar dari bunga datura yang mem-

punyai corong panjang.  

Burung memakai  “nyanyi-

an” untuk berkomunikasi. Bunyi diha-

silkan dengan melalukan udara pada 

organ bernama syrinx. Otot ini terbagi 

menjadi dua bagian, di mana tiap 

bagian dapat memberikan nada yang 

berbeda dalam waktu yang bersama-

an. Nyanyiannya yang merdu, demikian 

juga bentuk tubuh dan warna bulunya 

yang menawan, membuat banyak 

orang menyukai unggas ini. Hal ini tidak 

jarang malah berakibat negatif, sebab  

penangkapan burung secara masif 

jelas membahayakan populasinya di 

alam liar. 

Burung berkembang biak dengan 

telur. Beberapa jenis burung dapat 

bertelur tiap hari, seperti ayam peliha-

raan, dan beberapa lainnya baru ber-

telur sesudah  berselang beberapa 

tahun, seperti burung maleo alias 

Macro-cephalon maleo. Burung pada 

umumnya meletakkan telur di dalam 


canoris diasuh oleh burung jenis lain. 

Anakan burung inang-nya sudah tidak 

terlihat lagi sebab  didesak jatuh oleh 

anakan burung cuckoos.  

Dari sekian jenis banyak burung, 

tercatat ada dua jenis burung yang 

berbisa, yaitu Pitochio dichorus dan 

Ifrita kowaldi dari Papua Nugini. Bisa 

kedua burung ini, yang termasuk jenis 

bisa homobatrachotoxin–stereoid 

alakaloid, ada  pada kulit dan bu-

lunya. Seperti bisa pada katak, bisa 

pada burung-burung ini disinyalir ber-

sumber dari jenis tanaman yang men-

jadi makanannya.

Umur burung sangat bervariasi, 

tergantung jenisnya. Jenis-jenis burung 

yang tercatat berumur panjang yaitu  

beberapa jenis burung paruh (40 tahun 

sampai lebih dari 100 tahun), kakatua 

(hingga 75 tahun), burung rangkong 

(jenis rangkong yang dipelihara dapat 

mencapai umur 33 tahun), beberapa 

jenis burung bangkai (hingga 30 tahun), 

burung unta (hingga 40 tahun), dan 

burung undan/soang/banyak (yang liar 

dapat mencapai 19 tahun, dan yang 

dipelihara dapat mencapai 50 tahun).


Akhirul kalam, manusia seharus-

nya menimba banyak ilmu, pengeta-

huan, dan petunjuk dari perikehidupan 

burung, terutama dalam hal tawakal 

dan keikhlasan untuk menjadi dirinya 

sendiri. Perkutut tidak ingin menjadi 

elang; gagak tidak peduli warna bulu-

nya tak seindah nuri; dan burung 

pemakan madu tidak akan menangkap 

ikan seperti bebek. Itulah pelajaran 

bagi mereka yang berpikir.

1. BURUNG GAGAK

mendalam. Ia sudah sangat lelah mem-

bawa beban yang mulai berbau itu. 

Allah lalu  mengirimkan 

dua ekor gagak ke hadapan Qabil. Ke-

duanya mulai berkelahi hingga salah 

satunya mati. Gagak yang menang 

lalu  mulai menggali lubang di 

tanah memakai  paruh dan cakar-

nya. sesudah  itu ia mendorong burung 

yang mati dan menutupinya dengan 

pasir. Semua itu disaksikan oleh Qabil, 

sehingga ia dapat mengubur sauda-

ranya. Ini yaitu  penguburan manusia 

yang pertama kali terjadi di dunia. 

Kejadian ini bermula saat  Qabil dan 

Habil oleh ayah mereka diminta mem-

persembahkan kurban kepada Allah. 

Kisah ini  diabadikan dalam 

firman Allah,

lalu  Allah mengutus seekor burung gagak 

menggali tanah untuk diperlihatkan kepadanya 

(Qabil). Bagaimana dia seharusnya menguburkan 

mayat saudaranya. Qabil berkata, “Oh, celaka aku! 

Mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung 

gagak ini, sehingga aku dapat menguburkan mayat 

saudaraku ini?” Maka jadilah dia termasuk orang 

yang menyesal. (al-Mā'idah/5: 31)

Dikisahkan bahwa Qabil bin Adam 

tidak tahu apa yang harus dilakukan 

terhadap jenazah saudaranya, Habil, 

yang telah dibunuhnya. Ia meng-

gendong kesama-kemari jasad sau-

daranya tanpa tujuan, berusaha me-

nyembunyikan mayat saudaranya itu. 

Kemarahannya yang semula membun-

cah, kini berganti penyesalan yang 

Dan ceritakanlah (Muhammad) yang sebenarnya 

kepada mereka tentang kisah kedua putra Adam, 

saat  keduanya mempersembahkan kurban, 

maka (kurban) salah seorang dari mereka berdua 


(Habil) diterima dan dari yang lain (Qabil) tidak 

diterima. Dia (Qabil) berkata, “Sungguh, aku pasti 

membunuhmu!” Dia (Habil) berkata, “Sesung-

guhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang 

yang bertakwa.” ”Sungguh, jika engkau (Qabil) 

menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membu-

nuhku, aku tidak akan menggerakkan tanganku 

kepadamu untuk membunuhmu. Aku takut kepada 

Allah, Tuhan seluruh alam.” ”Sesungguhnya aku 

ingin agar engkau kembali dengan (membawa) 

dosa (membunuh)ku dan dosamu sendiri, maka 

engkau akan menjadi penghuni neraka; dan itulah 

balasan bagi orang yang zalim.” Maka nafsu (Qabil) 

mendorongnya untuk membunuh saudaranya, 

lalu  dia pun (benar-benar) membunuhnya, 

maka jadilah dia termasuk orang yang rugi. (al-

Mā'idah/5: 27–30)

Manusia seharusnya berterima 

kasih atas pelajaran yang diberikan 

gagak atas petunjuk Allah, sebagai-

mana dinyatakan dalam Surah Ţāhā/20: 

50. Melihat jasanya kepada dalam 

mengajari manusia cara mengubur 

jenazah, manusia harus menghargai 

dan menghormati burung ini. Kendati 

demikian, dalam aturan fikih, gagak 

merupakan salah satu hewan yang 

boleh dibunuh dari sekian jenis hewan 

lainnya, tidak terkecuali di tanah 

Haram. Hal ini didasarkan pada hadis 

riwayat al-Bukhāri dan Muslim yang 

sudah disebut dalam sub-bab tentang 

ular.

Gagak tergolong hewan yang 

cerdas. Meski di beberapa belahan 

dunia dianggap sebagai titisan dewa, 

namun gagak lebih sering mendapat 

stereotip buruk. Gagak, terutama 

raven, dalam budaya dan mitologi 

Eropa  dikaitkan dengan segala sesuatu 

yang berbau sihir dan kematian. Hal ini 

mungkin disebabkan warnanya yang 

hitam,  suara panggilannya yang jelek, 

dan kebiasaannya memakan bangkai. 

Dalam ilmu sihir, biasanya dibedakan 

antara raven dan crow.  Crow umumnya 

dijadikan simbol dari segala hal yang 

bertanggung jawab atas terjadinya 

kematian, atau transisi dari roh ke 

alam kematian. Adapun raven lebih 

dikaitkan dengan hal-hal yang bersifat 

negatif secara fisik dalam kematian. 

Mungkin kebiasaan berkelompok dari 

crow dan kebiasaan menyendiri dari 

raven juga menjadi pertimbangan 

dalam proses terciptanya persepsi di 

atas. Crow juga dianggap memiliki  


kebiasaan memakan sesamanya yang 

sudah tua, suatu hal yang biasa dijadi-

kan metafor dalam kehidupan sehari-

hari manusia. Gambaran akan hal ini 

sering diekspresikan dalam bentuk 

gambar-gambar yang menyeramkan, 

seperti gambar 136.

Banyak warga  yang tinggal 

di pantai barat Amerika hingga Asia 

Timur Jauh menjadikan gagak sebagai 

tuhan atau dewa, demikian pula ma-

syarakat di Eropa pada masa lalu. 

warga  Norwegia Kuno, misalnya, 

percaya bahwa sepasang gagak yang 

hinggap di bahu Dewa Odin dapat 

mendengar dan mengetahui semua 

hal. warga  Inggris punya keper-

cayaan lain. Mereka percaya bahwa 

negara Inggris tidak akan jatuh ke 

tangan bangsa lain selama masih 

ada gagak yang tinggal di Tower of 

London, salah satu bangunan kuno di 

London.

Gagak juga telah lama berhu-

bungan lama dengan manusia dalam 

bidang pertanian dan peternakan. 

Gagak banyak dianggap sebagai peng-

ganggu dalam kehidupan manusia. Di 

Australia, misalnya, gagak didakwa 

memangsa domba saat  tepergok 

memakan bangkainya, meski pada 

kenyataannya kematian domba itu 

mungkin saja tidak diakibatkan oleh 

gagak. Gagak disalahkan telah meru-

sak tanaman gandum di Inggris, dan 

merusak pohon kurma di negara-

negara gurun pasir. Di Amerika Serikat 

jumlah gagak berkembang sangat 

pesat sehingga pemerintah beberapa 

negara bagian di sana mengadakan 

musim berburu gagak. Berbeda dari 

kepercayaan di beberapa wilayah-

wilayah yang memberikan cap negatif 

kepada gagak, warga  di Asia Timur 

justru percaya bahwa gagak yaitu  

burung pembawa keberuntungan. 


Para petani di kawasan yang 

menganggap gagak sebagai burung 

hama membuat boneka mirip manusia 

dan memasangnya di lahan pertanian 

untuk menakuti burung ini. Boneka ini 

dalam bahasa Inggris dikenal dengan 

sebutan scarecrow. Metode ini juga 

dikenal dan dipraktikkan di Indonesia, 

namun bukan untuk mengusir burung 

gagak, melainkan burung pipit. Di Jawa 

Barat “orang-orangan sawah” ini dike-

nal dengan sebutan “bebegig sawah”.

Terlepas dari semua persepsi 

tentang gagak, sesungguhnya Surah 

al-Maidah/5: 31 yang telah disebut se-

belumnya menyajikan informasi bahwa 

burung gagak memiliki kecerdas-

an, suatu hal yang dengannya Allah 

mengajari manusia, dalam hal ini Qabil, 

bagaimana harus mengubur jasad sau-

daranya.

Bila Al-Qur'an menyebut gagak 

sebagai gurāb maka sesungguhnya 

kata ini diterjemahkan ke dalam bahasa 

Inggris menjadi raven, bukan crow. 

Dua kata ini memiliki  arti sama 

dalam bahasa Indonesia, gagak. Salah 

satu jenis raven yang kemungkinan 

berkait dengan ayat Al-Qur'an dan 

ayat-ayat dalam kitab-kitab Yahudi dan 

Kristen memiliki nama ilmiah Corvus 

corax. Kekhasan mendasar yang mem-

bedakan raven dari crow yaitu  ukuran 

tubuh, di mana raven memiliki ukuran 

tubuh lebih besar.

  Corvus corax atau biasa dise-

but Common Raven yaitu  burung 

berukuran besar. Burung pemakan 

segala yang banyak hidup di belahan 

bumi utara ini sudah sejak lama 

berhubungan dengan kehidupan manu-

sia. Makanannya beragam, mulai dari 

bangkai, biji-bijian, hingga sisa makan-

an manusia. Burung ini memiliki pan-

jang tubuh 56–69 cm, bobot 0,69–1,63 

kg, dan rentang sayapnya 115–130 cm. 

Bila dipiara manusia umur gagak ini 

dapat mencapai 40 tahun, sedang  

yang hidup liar memiliki kisaran umur 

antara 10–15 tahun saja. Burung ini 

hidup berpasangan dan sangat fana-

tik mempertahankan wilayah kekuasa-

annya. 

Ada 8 anak jenis dari Common 

Raven ini. Anak jenis yang hidup di 

kawasan sekitar Laut Tengah dan 

Jazirah Arab yaitu  Corvus corax corax. 

Anak jenis ini hidup tersebar di Eropa, 


Asia (sampai Himalaya) dan Amerika 

(sampai Nikaragua). Anak jenis inilah 

yang paling mungkin dilafalkan sebagai 

gurāb dalam Al-Qur'an. Jenis Common 

Raven berevolusi sepenuhnya di kawa-

san Eropa dan Timur Tengah, dan baru 

menyebar ke Amerika melalui Selat 

Bering sesudah  “final” berevolusi. 

Common raven yang hidup di kawasan 

dingin, misalnya Himalaya atau Green-

land, umumnya memiliki ukuran tu-

buh dan paruh lebih besar daripada 

saudaranya yang hidup di kawasan 

panas. 

Gagak jenis Hooded Crow (Cor-

vus cornix) atau Carion Crow (Corvix 

corone) juga ditemukan hidup di ka-

wasan Timur Tengah. Salah satu atau 

kedua jenis gagak ini mungkin saja 

merupakan gagak yang disebut dalam 

kisah-kisah keagamaan. Dua jenis ga-

gak ini secara umum berukuran lebih 

kecil daripada raven. Catatan fosil yang 

ada menunjuk Eropa sebagai tempat 

hidup utamanya, namun hubungannya 

dengan jenis-jenis prasejarah tidak 

terlalu jelas. 

Banyak jenis crow yang sudah 

punah, terutama yang mulanya hidup 

di pulau-pulau kecil seperti Selandia 

Baru, Hawaii, dan Greenland. Di Indo-

nesia dikenal beberapa jenis gagak. 

Beberapa darinya merupakan jenis-

jenis yang memiliki sebaran luas, se-

perti Corvus frigeligus (Eropa, Asia, 

Selandia Baru), Corvus macrorhyncus 

(Asia Timur, Himalaya, Filipina), dan 

Corvus enca (Malaysia, Indonesia, Fili-


pina). Beberapa jenis lainnya mendi-

ami kawasan yang lebih spesifik, di 

antaranya Corvus florensis yang hanya 

ditemukan di Pulau Flores, Corvus 

fuscicapillus yang hidup di Papua, 

dan Corvus unicolor yang hidup di 

Kepulauan  Banggai. Gagak Banggai 

(Corvus unicolor) ini pernah diang-

gap telah punah sampai dengan saat 

beberapa ahli biologi Indonesia mene-

mukan dua ekor di antaranya dari 

Pulau Peleng pada tahun 2007. sesudah  

dibandingkan dengan spesimen muse-

um di New York yang dikoleksi 200 

tahun lalu dikonfirmasi bahwa jenis 

yang ditemukan di Pulau Peleng ini 

yaitu  benar Gagak Banggai yang 

dianggap telah punah itu, bukannya 

Corvus enca yang memiliki bentuk fisik 

serupa dan hidup juga di Kepulauan 

Banggai. Jenis gagak lain yang hidup 

di Indonesia yaitu  Corvus validus 

yang ditemukan di Maluku Utara, dan 

Corvus typicus yang hidup di Pulau 

Muna, Sulawesi. 

Mulanya gagak dipercaya bere-

volusi di Asia Tengah dan menyebar 

ke Amerika Utara, Afrika, Eropa, dan 

Australia, namun temuan yang lebih 

terkini memperlihatkan bahwa mo-

yang burung gagak dari suku Corvidae 

justru berasal dari Australasia. Namun 

demikian, percabangan yang meng-

arah pada gagak modern yang ada 

saat ini telah berpindah dari kawasan 

Australasia ke Asia pada saat marga 

Corvus berevolusi. Corvus lalu  

masuk kembali ke Australia dan me-

mbentuk lima jenis dan satu anak jenis 

tersendiri.

Pada dasarnya gagak yaitu  

hewan yang cerdas, suatu hal yang 

tampaknya sudah disadari manusia 

sejak lama. Beberapa pengamatan 

memperlihatkan bahwa jenis Hooded 

Crow di Israel telah belajar memancing 

dengan memberi umpan berupa remah 

roti kepada ikan. Mula-mula gagak 

mencuri roti, namun roti itu tidak 

dimakannya. Gagak membawanya 


terbang menuju dahan pohon yang 

menjulur di atas kolam ikan. Gagak 

lalu  meremas roti dengan kaki-

nya dan menyebarkannya ke atas air. 

Keruan saja ikan akan berkumpul dan 

memakan remah roti itu. Pada saat 

itulah gagak mulai terbang turun untuk 

menyambar ikan dengan kakinya.     

Kecerdasan lainnya ditemukan 

pada gagak yang hidup di perkotaan.

Di Jepang, gagak dilaporkan terlihat 

menjatuhkan buah berkulit keras 

ke jalanan yang ramai, terutama di 

perempatan jalan, agar terlindas mobil 

dan kulitnya pecah. Gagak menunggu 

saat lampu lalu lintas berwarna merah 

untuk memungut kembali buah yang 

telah pecah akibat terlindas mobil. Di 

Queensland, Australia, gagak diketahui 

dapat mencari cara memakan kodok 

beracun tanpa khawatir keracunan. 

Mula-mula ia menelentangkan korban-

nya dan menyobek bagian leher yang 

relatif lebih mudah disobek. Dengan 

paruhnya yang panjang, gagak ini ke-

mudian memakan ‘jeroan’ yang tidak 

beracun, sedang  sisanya ditelantar-

kan begitu saja.

Belum lama ini diketahui bahwa 

gagak dapat menandai seseorang dari 

raut mukanya. Penelitian di AS meng-

ungkap bahwa gagak termasuk jenis 

hewan pendendam. Mereka bahkan 

masih dapat mengingat wajah manusia 

yang pernah menyakitinya, sesudah  

sekian lama berselang. Percobaan ini 

melibatkan 7–15 ekor gagak di lima 

kawasan berbeda. Gagak ini dijebak, 

diikat, dan sedikit dikasari oleh orang 

yang memakai topeng dengan karakter 

tertentu (“topeng jahat”). Setalah 

gagak itu dilepas kembali, para peneliti 

masih rutin melakukan kunjungan ke 

daerah itu. Hingga dua tahun berselang 

dari masa penangkapan, 30% gagak 

di kawasan penangkapan ini  

masih secara konsisten “memarahi 

topeng jahat” setiap kali wajah itu 


muncul.  Di beberapa lokasi penelitian 

intensitas “kemarahan” gagak bahkan 

naik sampai 66% pada tahun ketiga 

penelitian. Ini menunjukkan bahwa 

gagak yaitu  hewan pendendam, dan 

dapat mewariskan dendam itu kepada 

anak turunnya.  

Kecerdasan yang dimiliki gagak 

mungkin saja berbanding lurus dengan 

ukuran otaknya. Gagak jenis Common 

Raven memiliki volume otak, terutama 

bagian hyperpallium (bagian otak yang 

memiliki fungsi pembelajaran) terbesar 

di antara semua jenis burung. Mereka 

mampu belajar untuk memecahkan 

masalah dan mampu menjalani proses 

pembelajaran lainnya, seperti meniru 

perilaku binatang lain. Beberapa pe-

neliti menyebut gagak sebagai “inven-

tor” (penemu/pencipta). Hal-hal yang 

dilakukan gagak dan semula hanya 

dianggap sebagai naluri saja, ternyata 

tidak demikian. Mereka melakukan-

nya dengan sadar melalui proses  pem-

belajaran. 

Ada contoh lain yang membuk-

tikan gagak sebagai makhluk pintar. 

Mereka dapat mengetahui cara mema-

kan daging yang diikat dengan benang 

dan digantungkan pada cabang po-

hon. sesudah  beberapa lama, seekor 

di antara mereka dapat menemukan 

solusi dengan cara menarik tali de-

ngan paruhnya dan menginjak tali 

yang sudah ditariknya. Demikian ini 

dilakukan berkali-kali hingga tali itu 

memendek dan gagak dapat memakan 

daging dengan mudah.  

Penelitian tentang kemampuan 

gagak sebagai “inventor” dilakukan 

secara intensif terhadap salah satu 

jenis gagak yang hidup di kepulauan 

New Caledonia, yakni gagak jenis 

Corvus moneduloides. Gagak ini dikenal 

dengan kecerdasannya yang tinggi 

dan kemampuannya menciptakan alat 

untuk memecahkan persoalan yang 

mereka hadapi. Gagak ini mampu 

membuat alat-alat yang dipakai nya 

sehari-hari untuk mencari makan. 


tahui bahwa gagak ini tidak hanya 

mampu membuat ‘pisau’, namun  juga 

banyak alat lainnya dengan cara meng-

haluskan atau membengkokkan bulu, 

ranting, bahkan kawat, untuk berbagai 

maksud.

Pengajaran keahlian mencipta 

ini dilakukan turun-temurun. Yang 

demikian ini tampaknya tidak lepas dari 

cara hidup mereka. Gagak Caledonia 

ternyata tidak hidup dalam kelompok 

besar sebagaimana jenis gagak lain-

nya. Mereka hidup dalam suatu keluar-

ga kecil (dua orang tua dan anak-

anaknya dari dua musim bertelur), 

sehingga ‘pengajaran’ dapat dilakukan 

dengan intensif. Salah satu pendidikan 

yang dilakukan oleh orang tua yaitu  

mendemonstrasikan pembuatan alat. 

Gagak dewasa mengajak anak-anaknya 

ke tempat mereka biasa membuat alat 

dari material tanaman yang ada. Di sini 

anak-anak gagak dibiarkan melihat 

dan bermain dengan alat-alat yang 

biasa dipakai  oleh gagak dewasa. 

Bermula dari melihat dan menyentuh 

alat-alat ini anak-anak gagak pada 

saatnya nanti akan dapat meniru cara 

membuat dan memanfaatkannya. 

Tampaknya kedua orang tua gagak 

Caledonia berusaha sekuat tenaga 

agar anaknya mampu dan ahli mem-

buat alat yang diajarkannya. Alat yang 

dibuat oleh gagak Caledonia ini terus 

berkembang dan disempurnakan dari 


Mereka mampu membuat ‘pisau’ 

yang dibentuk dari daun rumput yang 

keras. Dari pengamatan video dike-

219Hewan dalam Al-Qur'an

waktu ke waktu. Perbaikan dan pe-

nyempurnaan dilakukan baik oleh indi-

vidu yang sama maupun oleh generasi 

berikutnya. Uniknya lagi, mereka 

mampu menciptakan alat yang dapat 

dipakai  baik oleh gagak kidal 

maupun tidak kidal. Alat-alat yang 

dibuatnya umumnya dipakai  untuk 

menangkap serangga atau hewan tak 

bertulang belakang lainnya. 

Penelitian menemukan bahwa 

seekor gagak mampu memakai  

tiga alat berbeda yang saling berkaitan 

untuk dapat mencapai tempat di ma-

na ada  makanan. Dalam perco-

baan, diberikanlah tiga batang kayu 

berukuran pendek, sedang, dan pan-

jang kepada gagak. Ketiganya berada 

di dalam lubang pipa pada kedalaman 

tertentu. Dalam situasi demikian, 

gagak akan memakai  batang 

pendek yang paling mudah digapai. 

Batang pendek ini lantas dipakainya 

untuk mendorong batang sedang 

keluar dari lubang pipa. Selanjutnya, 

batang sedang mereka gunakan untuk 

mendorong batang panjang keluar 

dari lubang pipa. Pada akhirnya, gagak 

memakai  batang panjang untuk 

mendorong makanan keluar pipa 

panjang.

Dari penelitian lain di Gurun Israel 

diketahui bahwa gagak melakukan 

kerja sama dalam berburu. Penelitian 

dilakukan terhadap burung gagak 


dari jenis Corvus ruficolis yang berburu 

kadal Uromastyx aegyptius yang memi-

liki panjang tubuh mencapai 75 cm 

dan bobot sekitar 1 kg. Perburuan 

dilakukan oleh dua ekor gagak yang 

tidak harus berasal dari kelompok 


yang sama. Kerja sama dilakukan 

secara acak, mendadak, dan spontan, 

saat kemungkinan untuk berburu 

bersama muncul, tanpa ada persiapan 

dan persetujuan untuk bekerja sama 

sebelumnya. jika  tampak ada 

seekor kadal berada di pintu liangnya, 

maka seekor gagak akan terbang dan 

mengintipnya. Begitu gagak-gagak ini 

melihat kadal keluar dan berada cukup 

jauh dari liangnya, gagak pertama akan 

segera turun dan berdiri di depan liang 

sehingga kadal tidak dapat masuk ke 

liang. Gagak lainnya bertugas memburu 

kadal. sesudah  kadal terluka dan tidak 

mungkin lari ke liang, gagak yang 

tadinya menjaga liang kini bergabung 

untuk membantu membunuh kadal. 

sebab  kadal berukuran cukup besar 

dan memiliki  alat pertahanan 

yang andal, seperti cakar dan ekor, 

maka diperlukan lebih dari satu ekor 

gagak untuk menaklukkannya. Meski 

demikian, menutup jalan masuk liang 

yaitu  suatu siasat yang amat cerdik. 

Kerja sama demikian ini sebetulnya 

biasa dilakukan oleh banyak burung 

buas lain, namun pada umumnya 

hanya dilakukan oleh burung dengan 

pasangannya, sehingga mungkin saja 

kerja sama itu sebelumnya sudah 

disepakati bersama. Kerja sama antar-

gagak jenis Corvus ruficolis tidaklah 

demikian. Mereka bekerja sama secara 

spontan dan masing-masing sudah 

tahu apa yang menjadi tugasnya tanpa 

pernah “berunding” dahulu sebelum 

beraksi.

Tidak hanya berkerja sama de-

ngan sesamanya, gagak juga diketahui 

bekerja sama dalam berburu dengan 

hewan pemburu jenis lain. Gagak da-

pat menirukan suara dan nada pang-

gil beberapa hewan lainnya, dan ke-

mampuan itu dimanfaatkannya untuk 

memanggil pemangsa lain, misalnya 

serigala atau anjing liar saat  ia meli-

hat ada bangkai di suatu lokasi. Begitu 

serigala atau anjing liar datang ke 


lokasi ini , sudah barang tentu 

mereka akan mengoyak kulit bangkai 

ini  untuk mencapai dagingnya. 

saat  kulit bangkai terkoyak, gagak 

pun turun untuk ikut bergabung me-

makan daging bangkai.

Gagak, terutama Common Raven, 

diketahui biasa menguburkan makan-

annya. Penelitian menunjukkan bah-

wa mereka juga memperhatikan ga-

gak lain saat mengubur makanan, 

dan menandainya. Dengan demikian, 

tidaklah aneh jika lalu  terjadi 

aksi saling mencuri makanan, yang 

terkubur, di dalam dunia gagak. Untuk 

melindungi persediaan makanannya 

beberapa gagak terbang cukup jauh 

dari asal makanan itu untuk lalu  

menguburnya. Beberapa gagak juga 

tepergok “berpura-pura” menggali 

tanah dan mengubur makanannya. 

Bisa jadi hal itu dilakukannya secara 

sengaja untuk mengelabui gagak lain 

yang sedang mengintipnya. Kebiasaan 

ini berdampak buruk pada pertanian, 

terutama pada masa penanaman 

benih jagung secara manual. Gagak 

menginterpretasikan perilaku manusia 

mengeruk tanah dan menguruk biji 

jagung sebagai usaha “menyembunyi-

kan” makanan, seperti kebiasaan dalam 

dunia gagak. sebab nya mereka lantas 

“mencuri” biji jagung tadi. 

Common Raven dikenal sebagai 

pengumpul benda-benda yang meng-

kilat atau bulat, dari batu hingga bola 

golf. berdasar  satu hipotesis, hal 

itu dilakukan gagak untuk menarik 

lawan jenisnya. Hipotesis lainnya me-

nyatakan bahwa perilaku ini lebih 

dimotivas oleh keingintahuan gagak 

muda yang besar, sebab  perilaku 

demikian ini tidak dilakukan lagi oleh 

gagak dewasa. Gagak juga diketahui 

suka bermain-main. Gagak muda terli-

hat meluncur di punggung bukit yang 

dipenuhi salju sekadar untuk bermain-

main, bukan untuk maksud lain. Mereka 

juga terlihat “bermain” dengan jenis 

hewan lainnya, misalnya dengan seri-

gala atau anjing, atau melakukan 

gerakan akrobatik di udara bersama 

burung elang. Muncul dugaan burung 

gagak juga pandai membuat mainan. 

Pada suatu pengamatan terlihat bagai-

mana gagak memakai  sepotong 

ranting dalam sebuah permainan ber-

sama-sama dengan beberapa teman 

sejenisnya.

Gagak juga ahli dalam terbang 

akrobatik. Hal ini terutama dilakukan-

nya pada musim kawin. Pasangan 

akan terbang bersama, dengan salah 

satunya terbang terbalik tepat di ba-

wah pasangannya. Terbang terbalik, 

meski dilakukan hanya dalam bebera-

pa, tetap saja memerlukan skil mum-

puni, suatu keahlian yang tidak dipu-

nyai oleh semua burung 

Ada banyak sisi yang dapat di-

ungkapkan dari kecerdasan burung 

gagak, jauh lebih banyak daripada 

hal-hal yang dapat dilakukan hewan 

lain. Dari sekian banyak, keahlian 

gagak yang paling menonjol yaitu  

kemampuannya melakukan invensi. 

Tidak semua hewan dapat melakukan 

hal ini. Tidak saja meniru, gagak juga 

mampu menyempurnakan apa yang 

ditirunya, menindaklanjutkannya, dan 

menurunkan kemampuannya kepada 

keturunannya. Dengan demikian, 

proses penyempurnaan hasil invensi 

dilakukan lintas generasi. Keahlian 

demikian ini baru diketahui manusia 

sesudah  mengamati dengan saksama 

satu jenis burung yang selama ini 

mendapat stereotip buruk. Namun, 

tidak seperti manusia, Allah yang 

menciptakan gagak tentu tahu hal 

itu dari zaman azali. Itulah mengapa 

Dia menyebut salah satu indikasi ke-

cerdasan burung gagak pada salah satu 

ayat Al-Qur'an. Allah melakukan hal itu 

agar diketahui dan dijadikan pelajaran 

oleh mereka yang mau memaksimal-

kan kemampuan berpikirnya.


lalu  Allah mengutus seekor burung gagak 

menggali tanah untuk diperlihatkan kepadanya 

(Qabil). Bagaimana dia seharusnya menguburkan 

mayat saudaranya. Qabil berkata, “Oh, celaka aku! 

Mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung 


gagak ini, sehingga aku dapat menguburkan mayat 

saudaraku ini?” Maka jadilah dia termasuk orang 

yang menyesal. (al-Mā'idah/5: 31)

2. BURUNG HUPU

Dan dia memeriksa burung-burung lalu berkata, 

“Mengapa aku tidak melihat Hud-hud, ) apakah ia 

termasuk yang tidak hadir? (an-Naml/27: 20)

Ayat di atas merupakan satu 

dari rangkaian ayat-ayat tentang kisah 

Nabi Sulaiman dan Ratu Saba', yang 

tertulis dalam Surah an-Naml/27: 20–31. 

Burung hud-hud (bulbul; hupu) terpilih 

menjadi utusan untuk membawa surat 

dari Nabi Sulaiman kepada Ratu Bilqis 

di Saba'.

Dan dia memeriksa burung-burung lalu berkata, 

“Mengapa aku tidak melihat Hud-hud, apakah ia 

termasuk yang tidak hadir? Pasti akan kuhukum 

ia dengan hukuman yang berat atau kusembelih 

ia, kecuali jika ia datang kepadaku dengan alasan 

yang jelas.” Maka tidak lama lalu  (datanglah 

Hud-hud), lalu ia berkata, “Aku telah mengetahui 

sesuatu yang belum engkau ketahui. Aku datang 

kepadamu dari negeri Saba' membawa suatu 

berita yang meyakinkan. Sungguh, kudapati ada 

seorang perempuan yang memerintah mereka, 

dan dia dianugerahi segala sesuatu serta memiliki 

singgasana yang besar. Aku (burung Hud) dapati 

dia dan kaumnya menyembah matahari, bukan 

kepada Allah; dan setan telah menjadikan terasa 

indah bagi mereka perbuatan-perbuatan (buruk) 

mereka, sehingga menghalangi mereka dari jalan 

(Allah), maka mereka tidak mendapat petunjuk, 

mereka (juga) tidak menyembah Allah yang 

mengeluarkan apa yang terpendam di langit dan 

di bumi dan yang mengetahui apa yang kamu 

sembunyikan dan yang kamu nyatakan. Allah, tidak 

ada tuhan melainkan Dia, Tuhan yang memiliki  

‘Arsy yang agung.” Dia (Sulaiman) berkata, “Akan 

kami lihat, apa kamu benar, atau termasuk yang 

berdusta. Pergilah dengan (membawa) suratku 

ini, lalu jatuhkanlah kepada mereka, lalu  

berpalinglah dari mereka, lalu perhatikanlah apa 

yang mereka bicarakan.” Dia (Balqis) berkata, 

224 Hewan dalam Perspektif Al-Qur'an  &  Sains

“Wahai para pembesar! Sesungguhnya telah di-

sampaikan kepadaku sebuah surat yang mulia.” 

Sesungguhnya (surat) itu dari Sulaiman yang isi-

nya, “Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, 

Maha Penyayang, janganlah engkau berlaku som-

bong terhadapku dan datanglah kepadaku sebagai 

orang-orang yang berserah diri.” (al-Naml/27: 

20–31)

Perikehidupan Burung Hupu

Hupu (Upupa epops) yaitu  burung 

dengan komposisi warna bulu yang 

indah dan ditemukan hidup di kawasan 

Afro-Eurasia. Burung ini mudah diciri 

dari bulu mahkotanya. Ukuran tubuh-

nya sekitar 25–35 cm, dengan lebar 

sayap 44–50 cm, dan bobot 46–89 

gram. Hupu yaitu  satu-satunya jenis 

yang tersisa dari suku Upupidae; jenis 

lainnya sudah punah. Persebaran bu-

rung hupu sangat luas, dari Eropa, 

Asia, Afrika Utara, sub-Sahara Afrika, 

hingga Madagaskar. sebab  itulah jenis 

burung ini lalu  dibagi menjadi 

beberapa anak jenis.

1. Upupa epops epops, hidup di 

Afrika barat daya sampai Cina 

dan Rusia; 

2. Upupa epops major, hidup Afrika 

barat laut;

3. Upupa epops senegalensis, hidup 

di Senegal sampai Ethiopia;

4. Upupa epops waibeli, hidup di 

Kamerun hingga Kenya utara;

5. Upupa epops africana. hidup 

di Afrika Tengah sampai Afrika 

Selatan;

6. Upupa epops marginata, hidup di 

Madagaskar;

7. Upupa epops saturata hidup di 

Jepang sampai Siberia;

8. Upupa epops ceylonensis, hidup 

di Pakistan, India, Srilanka; 

9. Upupa epops longirastris, hidup 

di Asia Tenggara.

Hupu hidup di kawasan terbuka 

atau dengan sedikit pepohonan. Ia 

membuat sarang di lubang pohon 

atau benda apa pun (rumah yang tua 

yang kosong, dinding tebing batu, dll.) 

yang memiliki cekungan atau lubang. 

Makanan utama burung ini yaitu  

Gambar 242

Burung hupu. (Sumber: pixdaus.com)

225Hewan dalam Al-Qur'an

serangga, walaupun terkadang  ia juga 

terlihat memakan kadal atau katak 

kecil, bahkan beberapa buah semak. 

Burung hupu hidup menyendiri. Ia 

lebih sering mencari makannya di 

tanah berumput daripada menyambar 

serangga yang sedang terbang. Hupu 

menganut monogami, walaupun ada 

beberapa yang hanya berlangsung 

selama satu musim kawin.  

Sarangnya “kotor” dan beraro-

ma daging busuk. Aroma ini berasal 

dari sekresi salah satu kelenjar yang 

dimiliki burung betina. Sekresi ini dike-

luarkan untuk melindungi sarang dari 

pemangsa. Sekresi ini diduga berperan 

juga sebagai antibakteri. Pengeluaran 

cairan berhenti beberapa saat sebelum 

anak burung terbang keluar sarang.

Dalam relasinya dengan manusia 

burung ini mendapat interpretasi 

yang saling bertolak belakang. Corak 

dan paduan warna bulunya membuat 

burung hupu sangat disukai manusia. 

Burung ini dianggap suci dalam agama 

Mesir Kuno, dan banyak ditemukan 

dalam lukisan dinding di berbagai kuil 

Mesir. Dalam budaya Persia burung ini 

yaitu  simbol keberuntungan. Dalam 

Kitab Injil burung ini dinyatakan haram 

untuk dimakan. Dalam budaya Eropa 

kuno burung ini tidak memiliki  

reputasi yang baik; ia diumpamakan 

sebagai pencuri dan dihububung-

hubungkan dengan dunia kematian. 

Kini burung hupu oleh banyak orang 

dianggap membantu kelestarian hu-

tan, salah satu alasannya sebab  ia 

memakan larva dari berbagai jenis 

serangga perusak hutan.

Burung hupu yaitu  burung 

pembawa berita. Paling tidak itulah 

yang dapat kita petik dari kisah Nabi 

Sulaiman dan Ratu Saba'. Kesesuaian 


antara kisah ini  dengan perike-

hidupan burung itu sendiri belum 

diketahui secara pasti. Suatu saat 

kelak, seiring semakin majunya ilmu 

pengetahuan, manusia mungkin akan 

tahu mengapa Allah memfirmankan 

burung hupu dalam ayat Al-Qur'an di 

atas sebagai burung pembawa berita.

3. BURUNG PUYUH

Kata as-salwā yang biasa diartikan 

burung puyuh disebut tiga kali dalam 

Al-Qur'an. Semuanya berkaitan dengan 

kisah Nabi Musa saat memimpin Bani 

Israil keluar dari Mesir dan tinggal 

Bukit Sinai. Ketiga ayat itu yaitu  

firman-firman Allah berikut.

Dan Kami membagi mereka menjadi dua belas 

suku yang masing-masing berjumlah besar, dan 

Kami wahyukan kepada Musa saat  kaumnya 

meminta air kepadanya, “Pukullah batu itu dengan 

tongkatmu!” Maka memancarlah dari (batu) itu 

dua belas mata air. Setiap suku telah mengetahui 

tempat minumnya masing-masing. Dan Kami 

naungi mereka dengan awan dan Kami turunkan 

kepada mereka mann dan salwa. (Kami berfirman), 

“Makanlah yang baik-baik dari rezeki yang telah 

Kami berikan kepadamu.” Mereka tidak menzalimi 

Kami, namun  merekalah yang selalu menzalimi 

dirinya sendiri.  (al-A‘rāf/7: 160)

Dan Kami menaungi kamu dengan awan, dan 

Kami menurunkan kepadamu mann dan salwa. 

Makanlah (makanan) yang baik-baik dari rezeki 

yang telah Kami berikan kepadamu. Mereka tidak 

menzalimi Kami, namun  justru merekalah yang 

menzalimi diri sendiri. (al-Baqarah/2: 57)

Wahai Bani Israil! Sungguh, Kami telah menyela-

matkan kamu dari musuhmu, dan Kami telah 

mengadakan perjanjian dengan kamu (untuk 

bermunajat) di sebelah kanan gunung itu (gunung 

Sinai) dan Kami telah menurunkan kepada kamu 

mann dan salwa. (Ţāhā/20: 80)

Dari tinjauan bahasa kata mann 

tidak hanya menunjuk bahan berasa 

manis yang berasal dari getah seje-

nis tumbuhan gurun, namun juga me-

nunjuk apa saja yang dianugerahkan 

Tuhan, sesuatu yang diberikan dengan 

cuma-cuma tanpa bergantung pada 

usaha dari penerima. Kata salwā pun 

demikian; ia tidak hanya berarti burung 

puyuh, tapi juga memiliki pengertian 


yang lebih umum, yakni segala sesuatu 

yang membuat orang sangat bahagia. 

Kombinasi kedua kata ini menyiratkan 

anugerah Allah yang tiada terhingga 

kepada umat Musa.

Perikehidupan Burung Puyuh

Burung puyuh (Coturnix coturnix) 

yaitu  burung kecil, dengan panjang 

tubuh sekitar 17 cm, yang hidup di 

sebagian besar Eropa, Asia, dan Afrika. 

Burung ini banyak diperlihara untuk 

diambil telur dan dagingnya. Jenis 

burung puyuh yang lazim dipelihara 

di Indonesia yaitu  Cortunix cortunix 

japonicus.

Burung ini memiliki bulu yang 

memungkinkannya berkamuflase de-

ngan sangat baik di padang rumput 

atau daerah bersemak. Meski burung 

ini memiliki sayap yang berfungsi 

baik, namun ia jarang terlihat terbang 

dan lebih senang berlari. Kalaupun 

terbang, ia terbang rendah saja un-tuk 

secepatnya masuk lagi ke semak-semak 

atau rumput untuk bersembunyi. Ia 

lebih senang berlari dan bersembunyi 

di rerumputan atau semak. 

Sebelumnya sudah dijelaskan 

bahwa kata salwā tidak selalu berarti 

burung puyuh; ia juga memiliki penger-

tian yang lebih umum, yakni segala 

sesuatu yang membuat orang merasa 

sangat bahagia. Sampai pada batas ini 

masih terbuka ruang yang sangat luas 

bagi interpretasi atas kata ini, apakah 

Allah menghendaki makna khusus 

ataukah umumnya. Walaupun sampai 

saat ini burung puyuh masih dijumpai 

di kawasan di mana umat Nabi Musa 

bermukim saat itu, dan masih diburu 

orang, namun keberadaannya tidak 

begitu dominan dan tidak pula begitu 

urgen bagi kehidupan di sana. Dengan 

demikian, dapatlah kita katakan bah-

wa makna yang lebih umum dari kata 

salwā, begitu juga mann, yaitu  makna 

yang lebih sesuai.

D.  SERANGGA

Serangga yaitu  kelompok terbesar 

dalam dunia hewan di bumi. Diper-

kirakan ada lebih dari 800.000 jenis 

serangga yang sudah dikenal dan 

dideskripsi. Jenis-jenis baru serangga 

masih terus bermunculan dalam hi-


tungan hari. Para ahli memperkirakan 

masih ada jutaan jenis serangga yang 

belum dikenal.

Dari jenis serangga yang begitu 

banyak, Al-Qur'an menyebut beberapa 

di antaranya secara langsung, misalnya 

lebah (an-Naĥl/16: 68–69), belalang (al-

Qamar/54: 7), nyamuk (al-Baqarah/2: 

26), rayap (Saba'/34: 14), lalat (al-

Ĥajj/22: 73–74), dan semut (an-Naml/27: 

19). Bersamaan dengan penyebutan 

hewan-hewan ini  terselip ba-

nyak pelajaran yang penting untuk 

diketahui dan menjadi pembelajaran 

bagi manusia. Misalnya saja bagaimana 

jenis-jenis ini  berorganisasi, ber-

komunikasi satu dengan lainnya, 

bagaimana mereka mengubah bagian 

tumbuhan untuk menjadi produk yang 

bermanfaat bagi manusia; bahkan 

melalui penyebutan hewan-hewan itu 

pula Allah hendak mengingatkan ma-

nusia akan kekuasaan-Nya yang tak 

terbatas.

Serangga pada umum-

nya memiliki  enam kaki, 

dan banyak di antara-

nya bersayap em-

pat.  Seranggga 

alias insekta ada-

lah kelompok he-

wan pertama yang 

dapat terbang. Kebanyakan 

serangga hidup 

di kawasan tro-

pis, dan hanya beberapa jenis yang 

hidup di kawasan dingin atua lautan. 

Tubuh serangga terdiri dari tiga bagian 

besar, yaitu kepala, dada (thorax), dan 

tubuh bagian belakang (abdomen). 

Pada bagian dada menempel semua 

kaki dan sayap serangga. Bagian ab-

domen yaitu  tempat bagi perut, jan-

tung, dan organ lainnya, serta sistem 

pembuangan. 

Serangga umumnya mengalami 

proses metamorfosis dalam perkem-

bangannya. Kebanyakan serangga 

berasal dari telur. Telur yang sudah 

menetas akan mengalami salah satu 

dari dua cara metamorfosis. Perta-

ma, metamorfosis tak lengkap. Pada 

cara ini serangga yang baru saja 

menetas, atau biasa disebut nimfa, 

sudah memiliki  bentuk tubuh mirip 

serangga dewasa, tapi dalam ukuran 

lebih kecil. Nimfa ini akan makin 

membesar tanpa perubahan bentuk. 

Cara yang demikian ini dapat dili-

hat pada belalang. Kedua, me-

tamorfosis lengkap. Dalam 

cara ini larva kecil yang 

keluar dari telur 

memiliki  bentuk 

yang berbeda dari 

serangga dewasanya. 

Umumnya larva serangga 

berbentuk semacam cacing 

atau ulat, memakan 

makanan yang ber-


beda dari serangga dewasanya, untuk 

kemu-dian berubah menjadi pupa. 

Bentuk pupa bermacam-macam, sa-

lah satunya seperti pupa kupu-kupu 

yang hidup di dalam kepompong. Di 

dalam kepompong inilah pupa lantas 

berubah bentuk menjadi serangga 

dewasa. Jenis serangga yang berkem-

bang melalui metamorfosis lengkap 

di antaranya kupu-kupu, lalat, dan 

kumbang. Gambar 154 menunjukkan 

proses metamorfosis pada kupu-kupu; 

dimulai dari ulat, berubah menjadi 

kepompong, dan pada akhirnya ber-

ubah bentuk menjadi kupu gajah de-

wasa (Attacus atlas). 

Manusia pada umumnya mem-

bagi serangga ke dalam dua kelompok: 

serangga baik dan serangga jahat. 

Serangga baik yaitu  kelompok  se-

rangga yang dianggap berguna dalam 

kehidupan manusia, seperti serangga 

penyerbuk (kupu-kupu, lalat, lebah, 

dan sejenisnya), serangga penghasil 

bahan makanan (misalnya lebah 

madu) atau bahan pakaian (misalnya 

ulat sutra). Termasuk dalam katagori 

ini yaitu  serangga yang memangsa 


hewan perusak tanaman pertanian, 

misalnya kepik yang memakan kutu 

daun. Di dalam kelompok ini juga ter-

dapat beberapa jenis serangga yang 

berperan mendaur ulang bangkai bina-

tang atau pohon mati di alam.

Adapun yang masuk kategori 

serangga jahat antara lain kelompok 

parasit (misalnya caplak, kutu, nya-

muk, dan sejenisnya) yang dapat me-

nularkan penyakit seperti malaria, 

kaki gajah, dan sejenisnya. Terma-

suk dalam kelompok ini yaitu  se-

rangga-serangga yang dianggap 

merusak produk pertanian, seperti 

kutu beras yang merusak beras atau 

jagung dalam lumbung; atau yang 

merusak tanaman pertanian, seperti 

belalang, wereng, belalang sangit, dan 

sejenisnya. Di satu sisi rayap dianggap 

sebagai serangga perusak bangunan 

tempat tinggal manusia. Di sisi lain, 

di alam liar, rayap memiliki  peran 

penting dalam melestarikan ekosistem 

sebab  mereka merupakan salah satu 

agen yang membantu mendaur ulang 

pohon-pohon mati yang jatuh ke lantai 

hutan.  

Dari uraian di atas kembali tam-

pak bahwa Allah menciptakan segala 

sesuatu bukan tanpa maksud.  Coba 

kita perhatikan lalat. Dalam salah satu 

hadisnya, Rasulullah menjelaskan bah-

wa lalat, selain menjadi pembawa pe-

nyakit, juga membawa obat untuk 

manusia. Yang demikian itu tentu 

bukan atas kemauan mereka sendiri, 

melainkan atas ilham dan petunjuk 

dari Allah. jika  manusia berusaha 

memahami ciptaan Allah, mereka tentu 

yakin bahwa lalat pun diciptakan untuk 

membantu kesejahteraan manusia 

dalam bidang kesehatan. Jutaan jenis 

serangga lainnya pun demikian ada-

nya. Bila seperti itu adanya maka ma-

nusia harus bersyukur kepada Allah 

sebab  Dia telah menciptakan begitu 

banyak makhluk untuk mendukung 

kehidupan manusia di bumi ini.


1. RAYAP bagi manusia betapa mereka yaitu  

makhluk yang rapuh, dan apa saja yang 

ada di dunia ini yaitu  fana. 

Perikehidupan Rayap

Rayap yaitu  kelompok serangga 

yang secara taksonomi masuk dalam 

ordo Isoptera. Bersama dengan semut 

dan lebah, rayap dikenal memiliki 

struktur organisasi yang teratur dalam 

kehidupannya. ada  pembagian 

kerja dalam garis gender secara ko-

lektif. Mereka umumnya memakan 

material mati (kayu, serasah daun, 

bangkai, hingga kotoran binatang). 

Sekitar 10% dari seluruh jenis rayap 

yang diperkirakan berjumlah sekitar 

4.000 jenis masuk dalam katagori ra-

yap perusak bangunan. Hingga tahun 

1996, sekitar 2.800 jenis rayap yang ada 

di dunia telah berhasil diidentifikasi.

Sistem organisasi rayap bersifat 

desentralitatif, dengan sistem self-

organization yang dipandu oleh inter-

aksi yang cerdas dalam mengolah 

Maka saat  Kami telah menetapkan kematian 

atasnya (Sulaiman), tidak ada yang menunjukkan 

kepada mereka kematiannya itu kecuali rayap 

yang memakan tongkatnya. Maka saat  dia telah 

tersungkur, tahulah jin itu bahwa sekiranya mereka 

mengetahui yang gaib tentu mereka tidak tetap 

dalam siksa yang menghinakan. (Saba'/34: 14)

Ayat di atas meriwayatkan kisah 

wafatnya Sulaiman. Dikisahkan bahwa 

Nabi Sulaiman yang juga seorang 

raja saat itu meninggal dalam posisi 

duduk di atas singgasananya sambil 

bersandar pada tongkatnya. Untuk 

beberapa lama tidak ada yang tahu 

beliau sudah meninggal. Akibatnya, 

para jin yang sebetulnya selama ini 

merasa terpaksa dan enggan bekerja 

untuk Nabi Sulaiman terus bekerja 

keras melakukan tugas yang menjadi 

tanggung jawab mereka. Lama-lama 

wafatnya Nabi Sulaiman ketahuan 

juga. yaitu  rayap yang secara tidak 

sengaja memperlihatkan kenyataan 

itu. Mereka menggerogoti tongkat 

Nabi Sulaiman sedikit demi sedikit 

hingga tubuhnya yang selama ini ber-

tumpu pada tongkat itu pun tersungkur 

ke tanah. Hal ini memberi gambaran 


pakan yang tidak dapat ditangani oleh 

hanya satu individu. Koloni biasanya 

terdiri atas nimfa (anak yang menjelang 

dewasa), pekerja, tentara, kelompok 

yang bertugas melakukan reproduksi 

(jenis jantan dan betina), dan satu atau 

lebih ratu penghasil telur.

Rayap ditemukan hidup di ka-

wasan yang terletak di antara 500 

Lintang Utara dan 500 Lintang Selatan, 

dengan kawasan tropis sebagai tem-

pat yang paling padat dihuni. Dari 

sudut jenis, keanekaragaman tertinggi 

ditemukan di hutan tropis dan juga 

di kawasan semak di sekitar Laut 

Tengah. Beberapa pakar memasukkan 

organisasi koloni rayap ke dalam  supra-

organisme. Artinya, koloni itu sendiri 

dianggap sebagai satu makhluk hidup. 

Adapun individu-individu rayap dalam 

koloni ini  hanya merupakan ba-

gian-bagian dari anggota badan supra-

organisme itu. 

Perbandingan jumlah rayap pra-

jurit dan rayap pekerja dalam satu 

koloni biasanya tidak tetap. Koloni 

yang sedang bertumbuh subur dapat 

memiliki rayap pekerja yang sangat 

banyak. sebab  rayap prajurit belum 

begitu diperlukan pada masa ini maka 

jumlah mereka dapat kurang dari 

2–4% saja. Sebaliknya, pada koloni 

yang mengalami banyak gangguan, 

misalnya sebab  banyaknya semut 

di sekitar sarangnya, maka akan ada 

sinyal kepada ratu untuk membentuk 

lebih banyak prajurit untuk memper-

tahankan sarang. 

Dalam dunia rayap ada satu kasta 

yang bertugas menangani reproduksi. 

Kasta ini memiliki berbagai organ 

yang lebih maju, di antaranya mampu 

membentuk sayap. Dalam bentuk 

laron atau anai-anai, yaitu rayap jantan 

dan betina yang bersayap, rayap betina 

suatu saat nanti akan menjadi “ratu”, 

sedang  pejantan yang beruntung 

akan menjadi “raja” seumur hidupnya. 

Mereka akan membentuk koloninya 

sendiri. Ratu dan raja inilah yang terus 

bertugas memproduksi telur untuk 

melengkapi koloninya. Kondisi yang 

demikian ini berbeda dari semut, di 

mana pejantan hanya bekerja satu kali 

saja membuahi ratunya. sesudah  kawin 

semut pejantan itu akan mati. Ratu 

semut mampu menyimpan benih yang 

dihasilkan pejantan, dan dipakai  

secara bertahap. Dalam dunia rayap, 


hanya ada satu rayap pejantan yang 

berhak membuahi ratunya sepanjang 

hidupnya.

Ratu yang sudah matang dapat 

menghasilkan sekitar 2.000 telur dalam 

sehari. Ada dugaan ratu inilah yang 

mengatur koloni sebab  dialah satu-

satunya penghasil feromon, sejenis 

zat kimia yang berfungsi sebagai 

alat komunikasi pada banyak hewan. 

Feromon di antaranya berfungsi me-

rangsang dan menjadi daya pikat 

seksual pada hewan jantan maupun 

betina. Zat ini berasal dari kelenjar 

endokrin dan dipakai  oleh makhluk 

hidup untuk mengenali sesama jenis, 

individu lain, kelompok, dan untuk 

membantu proses reproduksi. Ber-

beda dari hormon, feromon menyebar 

ke luar tubuh dan hanya dapat 

mempengaruhi dan dikenali oleh 

individu lain yang sejenis. Feromon 

rayap antara lain dipakai  untuk 

mendeteksi jalur yang dijelajahinya. 

Individu rayap yang berada di depan 

mengeluarkan feromon penanda jejak 

(trail following pheromone) yang keluar 

dari kelenjar sternum (sternal gland di 

bagian bawah-belakang abdomen), 

yang dapat dideteksi oleh rayap yang 

berada di belakangnya. Sifat kimiawi 

feromon ini sangat erat hubungannya 

dengan bau makanannya sehingga ra-

yap mampu mendeteksi objek makan-

annya. Di samping feromon sebagai 

penanda jejak, rayap juga memiliki  

feromon dasar (primer pheromones) 

untuk menjalankan semua pengaturan 

di dalam koloni. Feromon dasar juga 

berperan dalam diferensiasi pemben-

tukan kasta pekerja dan kasta prajurit. 

Segera sesudah  ratu mati, feromon ini 

hilang dan muncul kembali begitu ratu 

baru, yang berasal dari calon pengganti 

ratu yang telah disiapkan sebelumnya, 

diangkat menjadi ratu. 

Kasta pekerja yaitu  kasta utama 

dalam koloni rayap; utama dalam hal 

jumlah dan macam pekerjaannya. Kas-

ta pekerja bertanggung jawab mencari 

dan menyimpan makanan, memelihara 

sarang, dan dalam beberapa jenis, 

mengurus pertahanan diri. Dalam soal 

makanan, rayap pekerja juga menjadi 

kelompok utama dalam memproses 

selulosa di dalam perutnya. Di dalam 

saluran pencernaan rayap-rayap peker-

ja ini hidup ratusan jenis jasad renik 

yang bersifat prokaryotik yang dapat 

mencerna selulosa. Pengetahuan para 

peneliti mengenai hubungan rayap 

dan jasad renik yang ada di dalam 

tubuhnya masih sangat sedikit. 

Rayap-rayap pekerja bertugas 

membangun dan memelihara sarang. 

Sarang rayap merupakan keajaiban 

arsitektur tersendiri. Struktur sarang 

ini sangat rumit dan dibuat dari 

campuran beberapa bahan sekaligus, 

seperti tanah, lumpur, serbuk kayu, 


dan ludah serta kotoran rayap. Sarang 

rayap kadang terletak di atas pohon, 

berupa gundukan di atas tanah, bah-

kan ada yang tidak tampak sama 

sekali sebab  dibangun di bawah 

tanah. Di kawasan padang rumput 

atau savana tropis, gundukan sarang 

rayap dapat mencapai tinggi 9 meter. 

Kendati begitu, pada umumnya tinggi 

gundukan sarang rayap hanya berkisar 

2–3 meter. aBentuk gundukan ini ber-

beda-beda, tergantung jenis rayap 

yang membangunnya. sebab  itulah 

secara kasar kita dapat menebak jenis 

rayap dari bentuk gundukan sarang 

yang dibuatnya.

Selain menjadi tempat berlin-

dung, sarang juga memiliki  fungsi 

lain. Rayap membentuk kamar-kamar 

kondensasi untuk menangkap uap air 

dari udara dan mengubahnya menjadi 

air. Di sarang juga ada  kamar 

reproduksi yang sekaligus menjadi 

tempat tinggal larva atau anakan 

rayap. Kamar untuk berkebun jamur 

juga disediakan tersendiri. Kebun ja-

mur ini diisi oleh potongan-potongan 

daun dan bagian tumbuhan lainnya 

sebagai media tumbuhnya jamur 

yang menyediakan miselium (material 

yang menyerupai benang-benang 

yang diperlukan dalam reproduksi 

jamur) yang kaya nutrisi untuk diet 

mereka. Di sana juga ada  ruang-

ruang luas yang berfungsi sebagai 

pengatur suhu udara dan  pengontrol 

aliran oksigen dan karbondioksida. 

Lorong-lorong bersimpang siur untuk 

menghubungkan berbagai tempat 

yang ada dalam sarang juga ada. Terda-

pat juga kamar-kamar khusus untuk 

musim panas dan musim dingin, serta 


lorong untuk keluar dalam kondisi 

darurat. Yang paling mencengangkan 

yaitu  kenyataan bahwa sarang yang 

sedemikian canggih ini dibangun oleh 

rayap yang pada dasarnya buta. Rayap 

yang buta ini seringkali mencampur 

telurnya dengan jamur tertentu. Ben-

tuk jamur yang sangat mirip telur 

rayap dikumpulkan bersama-sama da-

lam satu tempat (gambar 257).


beberapa jenis hewan lainnya. Tidak 

hanya hewan-hewan berukuran kecil, 

hewan besar pun tak jarang meman-

faatkan gundukan sarang semut. An-

jing liar, misalnya, biasa menggali sa-

rang rayap yang sudah ditinggalkan 

dan membuat gua untuk sarangnya 

sendiri. 

Di samping selulosa yang berasal 

dari tumbuhan (kayu, daun, dan ba-

gian tumbuhan lainnya), rayap juga di-

ketahui memakan tulang dan bagian 

lain dari bangkai. Pemanfaatan bangkai 

ini dapat ditelusuri ke belakang sampai 

temuan tulang dinosaurus yang dima-

kan rayap pada masa Jurassic di Cina.

Hubungan antara manusia de-

ngan rayap muncul sebab  rayap se-

ringkali merusak rumah tempat tinggal 

manusia. Di sisi yang lain, rayap juga 

dapat menjadi makanan dengan kadar 

protein sangat tinggi bagi manusia. 

Biasanya rayap ditangkapi saat laron 

atau anai-anai mulai keluar dari sarang 

dan terbang untuk bereproduksi dan 

mencari lokasi tempat tinggal baru. 

Kejadian ini umumnya terjadi pada 

permulaan musim hujan. Kebiasaan 

menangkap laron banyak dilakukan 

warga  di kawasan Afrika Barat, 

Tengah, dan Selatan. Rayap juga sering 

menggangu tanaman pertanian. Cara 

paling efektif untuk menanggulangi 

gangguan ini yaitu  membanjiri lahan 

pertanian dengan air.

Secara ekologi, rayap melakukan 

pekerjaan penting dalam ekosistem, 

seperti mendaur ulang nutrisi, mem-

bentuk habitat bagi banyak jenis 

hewan lain, meningkatkan kualitas 

tanah, dan menyediakan makanan ba-

gi banyak jenis hewan lain, terutama 

dalam bentuk laron atau anai-anai. 

Pembuatan liang pada kayu mati akan 

membuat permukaan kayu menjadi 

lebih luas. Hal ini memungkinkan 

hewan dan jamur yang hidup dari 

kayu memanfaatkan liang-liang itu. 

Gundukan rumah rayap dapat dijadikan 

tempat untuk menyelamatkan diri 

bagi hewan saat banjir menggenangi 

kawasan savana. Gundukan itu juga 

menjadi tempat tumbuhnya beberapa 

jenis semak yang menghindari akar-

nya terendam air. Hewan-hewan yang 

sering memanfaatkan sarang rayap 

yang terbengkalai misalnya kalajeng-

king, kadal, ular, tikus, burung, dan 


proses ini  dapat ditingkatkan 

skalanya ke skala pabrik dengan me-

makai bioreaktor untuk menghasilkan 

hidrogen dalam jumlah banyak dari 

massa kayu yang kurang bernilai ko-

mersial. 

Dalam kehidupan sehari-hari, 

sarang rayap dipercaya dapat digu-

nakan untuk mengidentifikasi adanya 

sumber air tanah di sekitarnya. Hal 

ini  ditulis secara panjang lebar 

dalam salah satu buku di India ber-

judul Brihat Samhita karya Varaha 

Mihira (tahun 505–587 M). Memang, 

di beberapa tempat terbukti secara 

ilmiah bahwa sarang rayap merupakan 

indikasi adanya air tanah. Penjelasan 

sederhananya sebagai berikut.

Semua makhluk hidup, tidak 

terkecuali serangga, memerlukan air 

yang cukup untuk bertahan hidup. 

Demikian juga rayap yang harus dapat 

mempertahankan koloninya di kawa-

san savana yang sangat terik, dan 

bekerja di dalam lingkungan sarang 

yang pengap dan panas. Penelitian 

membuktikan bahwa kelembapan 

udara di dalam sarang rayap sangat 

tinggi, mencapai 99–100%. Terlihat pula 

dari pengamatan sederhana bahwa 

begitu sarang atau saluran tempat 

rayap berlalu lalang rusak, maka segera 

rayap-rayap pekerja memperbaikinya 

dengan “adonan” berwujud lumpur 

yang diambilnya dari tanah yang ada 

Belakangan ini para peneliti sibuk 

meneliti dan mengadopsi kemampuan 

rayap dalam memanfaatkan mikroor-

ganisme di dalam tubuhnya untuk 

menghasilkan energi. Rayap diketahui 

dapat menghasilkan sekitar dua liter 

hydrogen dari satu lembar kertas 

tulis. Kemampuan “bioreaktor” alami 

yang canggih ini dapat membantu ma-

nusia melepaskan diri dari ketergan-

tungan terhadap bahan bakar fosil. 

Kemampuan ini dimiliki rayap sebab  

mereka dapat “memelihara” banyak 

jenis jasad renik dalam saluran makan-

nya. Jenis mikroba yang hidup di sana 

dapat mencapai lebih dari 200 jenis. 

Kombinasi jenis mikroba inilah yang 

secara efektif menghasilkan hidrogen 

dalam jumlah banyak. Polimer lignase-

lulosa yang sangat kompleks dipecah 

oleh mikroorganisme menjadi gula 

sederhana dengan memakai  en-

zim yang tepat, dan memproduksi 

hidrogen sebagai produk ikutannya. 

Bakteri lainnya akan memakai  

gula sederhana dan hidrogen yang ada 

untuk membentuk ikatan asetat yang 

diperlukan oleh rayap sebagai sumber 

energinya. Para ahli sedang mencoba 

mengidentifikasi jalur biokimia apa 

yang terjadi dalam perut rayap;  en-

zim apa yang dipakai nya untuk 

membentuk hidrogen, serta gen mana 

yang menghasilkan enzim ini . 

Begitu identifikasi ini berhasil maka 


di dalam sarang. Dari sini cukup aman 

untuk dikatakan bahwa di sarang 

bagian bawah tersimpan air untuk 

membasahi tanah dan mengubahnya 

menjadi lumpur; entah sumber air 

itu merupakan bagian dari sarang 

atau jauh di dalam tanah. Kalaupun 

sumber air itu jauh di dalam tanah, 

rayap bisa dengan mudah menyusup 

jauh ke dalam tanah untuk mencapai 

permukaan air tanah ini .

Kemampuan-kemampuan rayap 

ini terbentuk sebab  proses perkem-

bangan yang berjalan secara perlahan, 

bergantung pada keperluannya. Ken-

dati demikian, di samping proses evo-

lusi, ada juga kekuatan yang membuat 

proses ini  tidak meninggalkan 

satu hal pun yang jika  terlupa 

akan memusnahkan rayap selamanya 

dari muka bumi. Dengan demikian, 

penjelasan logisnya yaitu  bahwa 

semua yang diperlukan rayap telah 

ada dari semula di dalam diri mereka 

sendiri. Waktu hanya berperan dalam 

memunculkan kemampuan yang sela-

ma ini belum dipakai . Allah mem-

beri inspirasi kepada rayap untuk meng-

gunakan semua kemampuan yang 

diberikan oleh-Nya itu.

Dialah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, 

Yang Membentuk Rupa, Dia memiliki nama-nama 

yang indah. Apa yang di langit dan di bumi bertasbih 

kepada-Nya. Dan Dialah Yang Mahaperkasa, Maha-

bijaksana. (al-Ĥasyr/59: 24)

2. LEBAH

Ayat yang kaya akan petunjuk ilmiah 

perihal kehidupan lebah madu yaitu  

Surah an-Naĥl/16: 68–69 berikut.

Dan Tuhanmu mengilhamkan kepada lebah, 

“Buatlah sarang di gunung-gunung, di pohon-

pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin 

manusia, lalu  makanlah dari segala (macam) 

buah-buahan lalu tempuhlah jalan Tuhanmu yang 

telah dimudahkan (bagimu).” Dari perut lebah 

itu keluar minuman (madu) yang bermacam-

macam warnanya, di dalamnya ada  obat yang 

menyembuhkan bagi manusia. Sungguh, pada 

yang demikian itu benar-benar ada  tanda 

(kebesaran Allah) bagi orang yang berpikir.  (an-

Naĥl/16: 68–69)

Ayat ini berbicara tentang lebah, 

utamanya lebah madu yang berman-

faat banyak bagi kehidupan manusia. 

Rangkaian ayat-ayat ini berisi rentetan 

petunjuk tentang keajaiban ilmiah. 

Terlihat bahwa mukjizat Al-Qur'an 


masih terus dikisahkan, dan ilmu 

pengetahuan dari waktu ke waktu 

menyingkapnya. Banyak ayat-ayat lain 

semacam itu yang menunggu untuk 

disingkap rahasianya untuk lalu  

dimanfaatkan bagi kesejahteraan ma-

nusia. Ayat-ayat berikut yaitu  bebe-

rapa di antaranya.

Makiyah lainnya, surah ini juga secara 

umum membahas masalah-masalah 

akidah. Topik-topik besar yang dibica-

rakannya yaitu  ketuhanan, kebenar-

an wahyu, kebangkitan pada hari kia-

mat, dan ayat-ayat kauniyah (tentang 

alam), yang mempertelakan keagung-

an penciptaan, keagungan nikmat, ser-

ta keagungan ilmu Tuhan. 

Secara umum, Surah an-Naĥl/: 

68–69 memberi informasi tentang 

fitrah yang Allah ciptakan pada diri 

lebah. Diperlihatkan di sana bagaima-na 

lebah beraktivitas, bagaimana seluruh 

individu lebah tahu benar kewajiban 

dan tugasnya, dan bagaimana mereka 

melakukannya secara  terpadu dengan 

individu lain dalam koloni. Alat-alat 

mengatur dan mengontrol itu semua 

telah tertanam dalam fitrah ini .

Kami akan memperli