tanda akhir zaman 9
ya pembunuhan acak saat ini, atau setidaknya, tidak bisa
lagi berakibat demikian. Dari mana kita mendapatkan
pandangan ini? Nabi Muhammad (shala Allahu ‘alaihi wa salam)
menubuwahkan datangnya Akhir Zaman (yang akan memuncak
dengan kembalinya Nabi ‘Isa (‘alaihi salam) Al-Masih sejati),
dengan tanda penting ‘pembunuhan’ terjadi begitu acak,
menyebar dan tidak masuk akal, sehingga “... orang yang terbunuh
tidak akan tahu mengapa dia dibunuh, dan si pembunuh tidak akan
T
279
tahu mengapa dia membunuh” (mungkin sebab pemberi
pembayaran tidak memberi tahu dia). Dia pun menubuwahkan,
“... setiap masa akan digantikan oleh yang lebih buruk dari
sebelumnya”. Oleh sebab itu pembunuhan akan terus meningkat
dengan pemerintah akhir zaman tidak berdaya untuk mencegah
bencana ini . Kita kini hidup pada Akhir Zaman saat
nubuwah Nabi Muhammad (shala Allahu ‘alaihi wa salam) terus-
menerus dan secara dramatis dipenuhi dengan kekecewaan yang
semakin meningkat dari orang-orang yang menolaknya dan
menyatakan dia sebagai penipu dan nabi palsu.
Tentu saja ada penjelasan untuk kejahatan yang merajalela
saat ini, termasuk pembunuhan. saat suatu kaum melupakan
Allah Subhanahu wa Ta’ala (dengan mengabaikan Hukum-hukum-
Nya, misalnya), mereka akhirnya melupakan diri mereka sendiri
(sebagai manusia) sehingga hidup dan mati seperti binatang.
Zaman sekarang yang pada dasarnya sekuler sedang
mengobarkan perang terhadap agama secara umum, dan
terhadap Islam pada khususnya, dan sebagai akibatnya
penyembahan dan ketaatan yang tulus kepada Tuhan Yang
Maha Esa terus-menerus dan secara tidak menyenangkan surut
dari dunia. Kedua, nilai-nilai moral (akhlak) runtuh di seluruh
dunia, dan saat nilai-nilai moral itu runtuh, kezaliman dan
penindasan semakin mendominasi. Mereka yang saat ini
memiliki kekuasaan di dunia menggunakan kekuasaan itu untuk
menindas, merusak, dan mengobarkan perang terhadap
warga yang miskin. Mereka membunuh dalam jutaan -
sementara bandit individu, pembunuh dan penculik hanya
berjalan di jejak yang berlumuran darah mereka.
Mungkin, sebab ilmu pengetahuan-Nya tentang Akhir
Zaman dengan pembunuhan tiada henti, serta perzinahan dan
perselingkuhan, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala sendiri
menyadari perlunya membatalkan Hukum-Nya sendiri tentang
penggunaan hukuman mati sebagai hukuman atas perzinahan
280
dan perselingkuhan. Hukum Taurat, yang diwahyukan kepada
Musa (‘alaihi salam), telah memberlakukan ‘rajam sampai mati’
sebagai hukuman ilahi untuk perzinahan. Namun saat Al-Qur’an
diturunkan kepada Nabi Muhammad (shala Allahu ‘alaihi wa salam),
Hukuman itu dibatalkan dan diganti dengan Hukuman baru yaitu
‘dicambuk di depan umum’. Namun, pada saat yang sama,
hukum suci menegaskan kembali keabsahan hukuman
‘pencegahan’ dengan tetap mempertahankan hukum
‘memotong’ tangan bagi pencuri, serta melembagakan hukuman
mati terhadap tindakan terorisme, sementara hukuman baru
‘cambuk di depan umum’ bagi perzinahan.
Namun ‘pencegahan’ diakui dalam filosofi hukuman dalam
Islam hanya sebagai salah satu dari setidaknya tiga fungsi
hukuman yang berbeda. Ada hukuman yang diberikan dengan
maksud untuk ‘memperbaiki’ perilaku seseorang. Allah
Subhanahu wa Ta’ala terkadang menghukum dengan mengambil
kekayaan atau kesehatan agar seseorang dapat sadar dari
perbuatan jahatnya dan memperbaiki dirinya sendiri. lalu ,
selain ‘pencegah’ dan ‘perbaikan’ ada juga hukuman
‘pembalasan’ berupa ‘pembalasan yang setimpal’ (Al-Qisas)
yang diberlakukan untuk memenuhi tuntutan ‘kesetaraan’ dalam
keadilan. Demikianlah hukum ilahi menetapkan hukuman
‘pembalasan’ ‘mata dibalas mata’, ‘gigi dibalas gigi’, dan
‘nyawa dibalas nyawa’. Dia Yang ‘Memberi’ nyawa,
mengumumkan hukum ilahi yang menyetujui ‘pengambilan’
nyawa. Para pengkritik hukuman mati tidak dapat memberi
nyawa - mereka bahkan tidak dapat menciptakan lalat. Jadi, jika
warga kita ingin menjadi warga yang adil yang
menjaga kesetaraan dalam keadilan, ia harus mempertahankan
hukuman mati, setidaknya bagi pembunuh.
Akan tetapi, hukum ilahi juga memungkinkan nyawa si
pembunuh terselamatkan jika keluarga yang kehilangan nyawa
281
dengan sukarela menyetujuinya. Ini kadang-kadang
memerlukan pembayaran kompensasi atas kerugian kepada
orang-orang yang menjadi tanggungan dari almarhum. Dalam
hal pembunuh itu tidak memiliki kekayaan yang cukup untuk
membayar ganti rugi ini , maka teman-teman, keluarga dan
suku, bangsa atau kelompok tempat ia berasal diharapkan untuk
menyumbang pembayaran ganti rugi ini . Selain itu, begitu
nyawanya terselamatkan, si pembunuh yaitu orang bebas dan
bisa sendiri berkontribusi untuk pembayaran kompensasi
dengan penghasilannya pada masa depan. Sebaliknya, jika
keluarga almarhum menolak untuk memberi ampunan dan,
sebaliknya, menuntut keadilan dalam bentuk ‘nyawa dibalas
nyawa’, negara wajib memberlakukan hukuman mati agar sesuai
dengan ‘kesetaraan’ dalam keadilan.
Hukum ilahi tentang ‘nyawa dibalas nyawa’ membatasi
hukuman mati bagi orang yang benar-benar mengambil nyawa
orang lain. Maka kaki tangan pembunuh tidak akan dihukum
atas kejahatan itu dengan nyawanya. Selain itu, mereka yang
memberlakukan hukuman mati harus sangat berhati-hati untuk
memastikan bahwa tidak ada orang yang tidak bersalah yang
dieksekusi. Maka ‘hukum pembuktian’ ilahi tidak pernah
mengakui bukti ‘tercemar’ yang diperoleh dari penjahat yang
diakui melalui metode ‘permohonan tawar-menawar’ yang
rusak secara moral. Akhirnya sama sekali tidak ada pembenaran
bagi kita untuk bertahan dengan menerapkan hukuman
‘gantung’ saat bentuk-bentuk hukuman lain yang tidak terlalu
brutal untuk mengambil nyawa seorang pembunuh dapat dengan
mudah diterapkan tanpa melanggar prinsip ‘nyawa dibalas
nyawa’ tentang kesetaraan dalam keadilan.
***
282
ESAI 19
Saat Waktu Bergerak Lebih Cepat
i antara Tanda-tanda Hari Akhir seperti yang diungkapkan
oleh Nabi Muhammad (shala Allahu ‘alaihi wa salam) yaitu
bahwa “waktu akan bergerak lebih cepat - sehingga satu tahun
akan berlalu seperti sebulan, sebulan akan berlalu seperti
seminggu, seminggu seperti sehari, sehari seperti satu jam, dan
satu jam seperti waktu yang dibutuhkan untuk menyalakan api.”
Mengapa demikian? Dia menjelaskan bahwa persepsi waktu
yang bergerak lebih cepat merupakan akibat dari hati yang tidak
‘mengingat’ (berdzikir) pada Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan
keasyikan dengan kehidupan dunia yang menguasai hati secara
eksklusif. Akibat dari kekosongan spiritual ini yaitu sehingga
“orang akan membuat perjanjian bisnis satu sama lain dan
hampir tidak ada orang yang akan memenuhi janjinya”, dan
“akan dikatakan bahwa di antara suku ini dan itu ada orang yang
dapat dipercaya. Orang akan berkomentar tentang betapa cerdas,
bijaksana, dan teguh pendiriannya, sementara (pada
kenyataannya) dia tidak memiliki iman (kepada Allah) di dalam
hatinya walau sekecil biji sawi.”
Nabi (shala Allahu ‘alaihi wa salam) juga mengingatkan bahwa
itu akan menjadi saat pengkhianatan besar di mana “godaan akan
disajikan kepada hati manusia seperti tikar buluh yang dianyam
jalinan demi jalinan, dan setiap hati yang diresapi oleh godaan
akan diberi tanda hitam di dalamnya. Akibatnya, hati menjadi
dua jenis, satu, putih seperti batu putih, yang tidak akan rusak
oleh godaan selama langit dan bumi bertahan, dan lainnya,
D
283
berwarna hitam dan berdebu seperti bejana yang usang, tidak
mampu mengenali yang bereputasi baik, atau menolak yang
bereputasi buruk, sedangkan hati itu diselimuti oleh hasratnya.”
Tidak ada keraguan sedikit pun bahwa apa yang disebut
zaman ‘kemajuan’ ini, memang, merupakan zaman saat tanda-
tanda Hari Akhir ini telah muncul. Ini yaitu zaman
sekularisme. Bahkan negara pun sekuler, begitu pula politik,
ekonomi, pendidikan, pasar, media, olahraga, hiburan, dll.
Ruang makan dan kamar tidur saat ini pun sekuler. Sekularisme
dimulai dengan ‘tidak melibatkan Tuhan’, dan memuncak
dengan ‘menyangkal keberadaan-Nya’! Saat pengetahuan
disekularisasi maka itu mengarah pada keyakinan bahwa
pengetahuan hanya datang dari satu sumber yaitu observasi
material dan penyelidikan rasional. Implikasi dari adopsi
epistemologi ini yaitu sebagai berikut: sebab dunia material ini
yaitu satu-satunya dunia yang dapat kita ‘ketahui’ dengan cara
ini, maka ini yaitu satu-satunya dunia yang benar-benar ‘ada’.
Demikianlah sekularisme tak terelakkan mengarah pada
materialisme yaitu penerimaan, untuk semua tujuan praktis,
bahwa tidak ada realitas di luar realitas alam material. Dan
materialisme, tentu saja, telah membawa pada keserakahan,
kebohongan, pergaulan bebas, kezaliman, penindasan,
kehilangan akhlak, dan pengkhianatan sebab fondasi moral
warga tidak dapat dipertahankan tanpa inti spiritual agama.
Dan dunia seperti itu sedikit pun tidak ingin repot-repot dengan
hal-hal seperti ‘mengingat’ Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Apa itu ‘mengingat’? saat seorang pria mengingat di
dalam hatinya wanita yang dia cintai, dia berbahagia sebab
aroma yang mempesona menyelimuti hatinya. Itu terjadi setiap
saat! saat dia mendengar namanya disebutkan, hal yang sama
terjadi. Itulah ‘mengingat’! Jelas ‘mengingat’ hanya mungkin
284
bila ada cinta sejati. Dan begitulah sesungguhnya saat cinta
kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala meninggalkan hati maka
‘waktu’ pun bergerak lebih cepat dan lebih cepat lagi. Oleh
sebab itu, jika ada cinta yang tulus kepada Allah Subhanahu wa
Ta’ala sehingga kebenaran (Al-Haq) masuk dan menguasai hati,
‘waktu’ pun tentu akan bergerak lebih lambat dan lebih lambat,
sampai kebenaran itu (Al-Haq) membawa kita ke alam ‘tanpa
batas waktu’.
***
285
ESAI 20
Revolusi Feminis dan Akhir Zaman
l-Qur’an mengibaratkan penciptaan laki-laki dan
wanita sebagaimana ‘malam’ dan ‘siang’, menyiratkan
bahwa mereka saling melengkapi “... seperti setengah bagian
dari keseluruhan.” Namun mereka juga berbeda secara
fungsional; sebab nya hubungan pria-wanita yang sukses dan
harmonis mensyaratkan bahwa ‘siang’ (yaitu pria) harus
berfungsi sebagai ‘siang’ dan tidak berusaha menjadi ‘malam’,
dan demikian pula ‘malam’ (yaitu wanita) harus berfungsi
sebagai ‘malam’ (yang menutupi dan menyembunyikan) dan
tidak berusaha menjadi ‘siang’. Nabi Muhammad (shala Allahu
‘alaihi wa salam) memerintahkan, “... saat seorang gadis
mencapai usia baligh tidak ada yang boleh dilihat dari tubuhnya
kecuali ini dan ini (dia menunjuk ke wajah dan tangan).” Jadi
wanita Muslim selalu menutupi diri mereka dengan Hijab -
menyembunyikan lengan, kaki, perut, kepala, rambut, dll.
dengan pakaian longgar.
sebab wanita memiliki fungsi dasar untuk melahirkan
dan membesarkan anak, maka mereka perlu dibebaskan dari
kewajiban untuk mencari nafkah. Dengan demikian Al-Qur’an
mewajibkan laki-laki untuk menafkahi, menjaga dan melindungi
mereka, dan, pada gilirannya, mewajibkan seorang wanita untuk
taat kepada suami atau walinya. Laki-laki dan wanita harus
menikah atas nama Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan hidup sesuai
dengan petunjuk-Nya. lalu , berdasarkan Al-Qur'an, “...
Allah menempatkan cinta dan kebaikan di antara hati mereka”
A
286
sebagai akibatnya mereka mengalami Sakinah yaitu kedamaian,
kepuasan dan ketenangan.
Akan tetapi Nabi Muhammad (shala Allahu ‘alaihi wa salam)
memperingatkan bahwa di antara tanda-tanda Hari Akhir yaitu
Dajjal Al-Masih Palsu atau Anti-Kristus. “... Orang terakhir
yang mengikutinya yaitu wanita”, dan godaannya kepada
wanita akan sedemikian besar sehingga “... seorang pria harus
kembali ke rumahnya dan mengikat (yaitu dengan paksa
menahan) istri, saudara wanita dan putrinya untuk
melindungi mereka dari godaan Dajjal.” Nubuwah ini
menunjukkan bahwa wanita akan tertipu dan terperdaya oleh
sesuatu yang akan memutarbalikkan dunia mereka. Itu akan
tampak positif, sedangkan kenyataannya merusak.
Sesungguhnya, akibat serangan Dajjal itulah ‘malam’ akan
berusaha menjadi ‘siang’.
Nabi (shala Allahu ‘alaihi wa salam) menubuwahkan 1.400
tahun yang lalu bahwa wanita akan “... berpakaian seperti pria”.
Ini sudah terwujud dalam revolusi feminis modern. Dia juga
menubuwahkan, “... wanita akan berpakaian namun telanjang”,
menunjukkan bahwa revolusi feminis akan mengembangkan
revolusi seksual yang akan memuncak dengan orang-orang
melakukan “... hubungan seksual di tempat umum seperti
keledai.” Seseorang pasti benar-benar buta jika tidak menyadari
bahwa nubuwah ini digenapi saat ini. Karnaval Trinidad,
misalnya, kini didominasi oleh wanita yang banyak di antaranya
bertekad memamerkan ketelanjangan mereka di hadapan publik
yang benar-benar jahiliyah tentang tubuh secara vulgar. Dan
pasti banyak yang ikut melihat Karnaval kemarin, namun kini
merasa muak!
Tanggapan sekuler terbaik terhadap kerusakan pada setiap
nilai sakral yang mengikat kedua jenis kelamin ini yaitu dengan
287
membagikan kondom kepada publik. Implikasi dari
terwujudnya nubuwah-nubuwah yang dramatis dan tidak
menyenangkan ini yaitu warga yang begitu merusak
akhlaknya sendiri pada akhirnya akan menghancurkan dirinya
sendiri. Baik pemerintah maupun oposisi tidak memiliki
petunjuk tentang bagaimana mencegah akhir yang memalukan
seperti itu.
“Matahari terbit dari Barat”, yang merupakan tanda besar
Hari Akhir, tampaknya merupakan dunia ‘terbalik’ di mana, di
antara banyak hal lainnya, wanita meninggalkan tanggung jawab
utama mereka membesarkan anak untuk berpakaian seperti pria
dan pergi bekerja penuh waktu seperti yang dilakukan pria.
Pusat penitipan anak menjadi Ibu baru. Anak tidak pernah lupa,
dan tidak pernah memaafkan kelalaian ini. Jadi anak-anak
memberontak dan menjadi tidak terkendali bahkan oleh polisi.
Tetapi mereka pun membalas orang tua mereka dengan
menempatkan orang tua mereka, pada hari tua, di panti jompo.
Sungguh, revolusi feminis telah berhasil membuat ‘malam’
menjadi ‘siang’ dengan akibat yang mengerikan bagi
warga . Namun, dengan senyum menipu, itu menyatakan
kepadanya, “Kamu telah menempuh perjalanan jauh sayang.”
***
288
ESAI 21
Asyura dalam Al-Qur’an
l-Qur’an telah menggambarkan peristiwa saat Musa
(‘alaihi salam) diperintahkan untuk melarikan diri pada
malam hari dari wilayah delta Mesir timur di mana semua orang
Israel berkumpul, melewati lautan, dan menuju Tanah Suci
“yang telah diberikan Allah kepada mereka”. Fir’aun mengejar
dan menyusul saat mereka mendekati laut. Mereka
terperangkap, dan Fir’aun yakin bahwa dia akan berhasil, sekali
dan untuk selamanya, menghancurkan mereka yang menentang
kekuasaan kekaisarannya dan tunduk pada Tuhan selain dirinya
sendiri. Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan Musa (‘alaihi
salam) supaya memukul air laut dengan tongkatnya, dan
sesungguhnya, air laut itu secara ajaib terbelah sehingga
memberi jalan bagi orang-orang beriman untuk menyeberangi
laut menuju ke tempat yang aman. Laut yang sama
menenggelamkan Fir’aun - penindas tak bertuhan yang perkasa
dan arogan, bersama pasukannya yang mabuk kekuasaan saat
mereka berusaha untuk menyeberang. Muslim di seluruh dunia
akan berpuasa selama dua hari pada pekan ini untuk
memperingati peristiwa Asyura.
Pertemuan epik itu kini sedang dimainkan kembali di
panggung dunia. Kebatilan mengobarkan perang melawan
kebenaran. Dan orang-orang beriman di Tanah Suci dan di
wilayah lain di dunia, yang dipersenjatai dengan tidak lebih dari
batu, dengan tegas menolak untuk tunduk pada penindas Eropa
yang mabuk kekuasaan dan semua budak rumahannya.
Penghinaan total yang dilakukan tentara AS dengan
A
289
menghancurkan kota Fallujah Irak yang telah begitu heroik
melawan pendudukan dan penindasan gerombolan AS, yaitu
tanda dari tayangan ulang pertemuan epik itu. Pesan harapan
bagi umat Islam yang terkepung pada zaman ini, yang tersirat
dalam peristiwa ini, datang sebagai sinar mentari dan pelita di
dunia kegelapan yang penuh dengan kezaliman dan penindasan
ini. Esok akan ada ancaman kebohongan, penindasan, dan
penipuan yang lebih mengerikan. Satu topeng hitam di wajah
kulit putih penindas telah diganti dengan topeng hitam lainnya,
akan tetapi umat manusia tidak tertipu. Penindasan terus
meningkat.
Pesan harapan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala akan campur
tangan sekali lagi dalam proses sejarah, seperti yang Dia lakukan
pada hari Asyura, menimbulkan keyakinan bahwa Kebenaran
akan menang lagi atas kebatilan, dan orang-orang beriman akan
diselamatkan sementara penindas akan meninggal dengan cara
sebagaimana Fir’aun meninggal. Bagaimana dia meninggal? Al-
Qur’an memberi tahu kita tentang peristiwa yang sangat penting
yang terjadi di bawah air laut saat Fir’aun tenggelam yaitu dia
menyatakan kepercayaannya kepada Tuhannya Musa. Allah
Subhanahu wa Ta’ala menanggapi hal itu dengan pernyataan bahwa
Dia akan memelihara jasad Fir’aun agar dapat berfungsi (saat
ditemukan) sebagai tanda bagi suatu kaum yang akan datang (di
lalu hari). Peringatan ilahi yang tidak menyenangkan bagi
mereka yaitu sebab mereka hidup dengan cara hidup Fir’aun,
maka mereka pun akan meninggal dengan cara sebagaimana dia
meninggal. Dengan kata lain, pada saat Allah Subhanahu wa Ta’ala
menghancurkan mereka di tangan Al-Masih sejati, Nabi ‘Isa
putra Maryam (‘alaihi salam), mereka akan menyadari kebatilan
yang telah mereka pegang sepanjang hidup mereka, dan akan
menegaskan Kebenaran yang datang di dalam Al-Qur’an yang
dibawakan Nabi Muhammad (shala Allahu ‘alaihi wa salam). Betapa
290
buruk cara mereka meninggal! Fir’aun pergi ke neraka, dan
begitu pula mereka!
Tubuh Fir’aun ditemukan di Mesir pada akhir abad ke-19
dan dengan penemuan itu, penghitungan mundur sampai pada
Hari Akhir dimulai. Jenazahnya masih dipajang di Museum
Kairo.
Pemeragaan kembali pertemuan epik antara Fir’aun dan
Nabi Musa (‘alaihi salam) ini pada akhirnya, seperti yang
dinubuwahkan oleh Nabi Muhammad (shala Allahu ‘alaihi wa
salam), terjadi saat Nabi ‘Isa putra Maryam (‘alaihi salam) kembali
dan pasukan Muslim membebaskan Tanah Suci.
***
291
ESAI 22
Hari Raya Kurban
rang egois tidak mau berkorban, dan dengan demikian tidak
bisa memberi cinta sejati. Cinta sejati selalu
memerlukan pengorbanan. Semakin besar dan semakin kuat
cinta – semakin besar pengorbanan yang diberikan. Dalam hal
ini, hanyalah sang pemberani, hanya orang-orang yang mau
‘memberi’, dan tidak ‘mengambil’ apa-apa sebagai balasannya,
yang bisa memberi cinta sejati, sebab mereka bisa
memberi pengorbanan sejati.
Apa yang mereka ketahui tentang cinta, orang-orang yang
hanya ‘mengambil’, dan tidak ‘memberi’ apa-apa sebagai
balasannya?
Sebenarnya mencintai seorang wanita yaitu seperti
mencintai Tuhan, agar topik ini mudah dipahami. Dia yang bisa
berkorban, bisa pula memiliki iman yang teguh, sedangkan dia
yang tidak mau berkorban tentunya bisa berkhianat! Dalam
konteks inilah kini kita bisa memahami implikasi firman yang
ada dalam ingatan: “Jika kalian mencintai-Ku maka taatilah
perintah-perintah-Ku”.
Maka dari itu, pengorbanan merupakan sebuah bagian
integral dalam jalan hidup religius, bagi Ibrahim (‘alaihi salam),
seorang Nabi, yang benar-benar mencintai Tuhannya, dan saat
Allah Subhanahu wa Ta’ala menguji cintanya dengan pengorbanan
tertinggi, merupakan cinta yang menguatkannya dan
memberinya ‘sayap terbang’ untuk menunaikan perintah-
perintah Tuhan.
O
292
Idul Adha yaitu Hari Raya Kurban dan dengan demikian,
itu yaitu Hari Raya untuk orang-orang yang mencintai
Tuhannya dan siap berkorban untuk-Nya. Ini bermula dari ujian
tertinggi itu yang dihadapi bapak Ibrahim (‘alaihi salam): “Wahai
putraku”, dia berkata kepada satu-satunya anak pada saat itu,
Ismail (‘alaihi salam), “Aku telah melihat dalam tidurku bahwa
aku (harus) mengorbankan engkau. Bagaimana menurutmu?”
Ibrahim (‘alaihi salam) menafsirkan penglihatan pada malam
hari sebagai sebuah perintah Tuhan yang harus dilaksanakan
secara harfiah, yakni dia diperintah untuk mengambil nyawa
anak tercintanya dengan memotong urat lehernya. Sang anak,
pun, memahami penglihatan itu secara harfiah. “Wahai ayahku”,
dia menanggapi, “lakukan sebagaimana engkau telah
diperintahkan. Engkau akan mendapatiku orang yang sabar,
insya Allah jika Allah berkehendak.” Maka dia menyiapkan
dirinya untuk memberi nyawanya sebab berserah diri
terhadap perintah Tuhan. Saat Ibrahim (‘alaihi salam)
menempatkan anaknya dalam posisi untuk pengorbanan, Tuhan
memanggilnya: “Wahai Ibrahim. Engkau (sudah) melaksanakan
penglihatan itu (yang melibatkan pengorbanan anakmu).”
Bagaimana mungkin penglihatan itu sudah dilaksanakan
saat pengorbanan Ismail (‘alaihi salam) belum terjadi? Jadi jelas
bahwa penglihatan itu tidak dipahami secara harfiah.
Sebenarnya perintah untuk berkorban tidak pernah dimaksudkan
untuk dilaksanakan secara harfiah. Melainkan itu yaitu contoh
lain penggunaan perumpamaan religius yang harus ditafsirkan
dengan apa yang digambarkan Al-Qur’an sebagai takwil
mutasyabihah (penafsiran perumpamaan religius). Jadi, apa arti
penglihatan yang telah dilaksanakan saat Ibrahim (‘alaihi salam)
dan Ismail (‘alaihi salam) berserah diri dalam hati mereka untuk
pengorbanan? ‘Pengorbanan’ apa yang melibatkan Ismail (‘alaihi
salam) dan, dengan demikian, keturunan Ismail (yakni bangsa
Arab)? Sesungguhnya ‘pengorbanan’ itu sedang dilakukan saat
ini di hadapan mata seluruh dunia. Tatanan dunia Yakjuj dan
Makjuj membantai warga Arab di Irak, Afganistan, Pakistan,
Tanah Suci Palestina, dan di wilayah lainnya, kini mencapai
puncaknya dengan Negara Euro-Yahudi Israel bersiap
‘menguasai’ dunia.
Al-Qur’an selanjutnya menginformasikan bahwa Allah
Subhanahu wa Ta’ala menebus Ismail (‘alaihi salam) dengan zibhin
‘azhim (sebuah pengorbanan bersejarah). Artinya yaitu,
pertama, seekor domba muncul dan itu berarti binatang ternak
yang dikurbankan, alih-alih Ismail (‘alaihi salam). Al-Qur’an pun
menyatakan bahwa pengorbanan domba itu tetap dilestarikan
dari masa ke masa yang akan datang sebagai sebuah tanda untuk
seluruh manusia. Namun kedua, dan sama pentingnya, itu berarti
akan ada pengorbanan dari bangsa keturunan Ismail (‘alaihi
salam). Pengorbanan itu akan terjadi pada Akhir Zaman dan itu
akan menjadi bagian dari rencana ilahi yang pada akhirnya Allah
Subhanahu wa Ta’ala akan memberi kemenangan kepada Islam
dan akan mengazab kaum Yahudi itu (kaum yang menolak Nabi
Isa (‘alaihi salam) sebagai Al-Masih dan berkonspirasi
menyalibnya) dengan azab terbesar.
Pernyataan Tuhan itu, yang dibuat ribuan tahun yang lalu,
terwujud secara spektakuler sampai hari ini. Orang-orang
beriman yang mengikuti agama Ibrahim (‘alaihi salam) secara
konsisten mengorbankan binatang ternak untuk memperingati
pengorbanan bersejarah. Tepat di pulau kecil Trinidad ini,
terletak ribuan mil jauhnya dari gurun Arab di mana
pengorbanan itu terjadi, ribuan binatang ternak dikurbankan
pada Hari Raya ini, dan dua hari berikutnya, sama seperti yang
dilakukan di Arab selama ribuan tahun.
Ini, tentu saja, sangat mengancam tentang adanya
perkembangan baru sedang terjadi di dunia yang sepertinya
menghapuskan pengorbanan aktual binatang ternak bagi
warga miskin di seluruh dunia, kaum kaya akan
meninggalkannya dengan cara hanya menuliskan cek sejumlah
uang sebesar harga beli binatang ternak untuk disedekahkan
kepada kaum miskin. Jika inovasi (bid’ah) berbahaya dalam
agama ini terus terjadi, maka hanyalah masalah waktu sebelum
pengorbanan binatang ternak di negara-negara makmur pada
Hari Raya Idul Adha akan menjadi masa lalu. Inovasi ini sudah
berakar di Amerika Utara dan berhasil mendapat kemajuan
setiap tahun.
Tetapi mengapa, kami bertanya saat ini, bangsa Arab yang
memenuhi Rumah Suci di Mekah dengan patung-patung berhala
yang mereka sembah, dan yang mempunyai kehidupan ekonomi
berdasarkan eksploitasi perbudakan, melestarikan dan
melakukan kembali pengorbanan Ibrahim (‘alaihi salam) pada hari
khusus ini setiap tahun selama ribuan tahun bahkan sebelum
Nabi Muhammad (shala Allahu ‘alaihi wa salam) dilahirkan? Dan
mengapa bangsa Arab penyembah berhala yang sama juga
melestarikan simbol perjanjian Ibrahim (‘alaihi salam) dengan
Allah Subhanahu wa Ta’ala, yakni khitanan lelaki, yang juga
mereka lakukan selama ribuan tahun? Dan, akhirnya, mengapa
mereka mau melestarikan ritual ziarah tahunan ke Rumah Allah
Subhanahu wa Ta’ala di Mekah (ibadah Haji) yang ditetapkan
Ibrahim (‘alaihi salam)? Hanya ada satu jawaban untuk
pertanyaan-pertanyaan ini, dan jawaban itu mengakui bahwa
bangsa Arab berpegang teguh pada sisa peninggalan agama
Ibrahim (‘alaihi salam).
Saat Nabi Muhammad (shala Allahu ‘alaihi wa salam) muncul
di Arab, semua yang dia lakukan yaitu menyeru bangsa Arab
agar kembali kepada agama bapak Ibrahim (‘alaihi salam) dalam
295
bentuk aslinya. Dengan demikian, Islam sama sekali bukanlah
agama baru! Islam hanyalah sebuah nama yang diberikan untuk
satu agama yang benar dari bapak Ibrahim (‘alaihi salam). Inti
keimanan Ibrahim (‘alaihi salam) kepada Tuhannya yaitu
berserah diri kepada Tuhan. Dan itu tepat merupakan makna
kata ‘Islam’ dalam bahasa Arab – yakni berserah diri (kepada
Allah Subhanahu wa Ta’ala).
Implikasi pelestarian ibadah ini di Arab, dan kini di mana
pun di dunia tempat umat muslim tinggal, dengan praktik
pengorbanan bersejarah ini, juga khitanan lelaki dan ziarah
tahunan (ibadah Haji) ke Rumah Suci (Masjid) di Mekah, sangat
mengejutkan. Yaitu sebagai berikut: Ibrahim (‘alaihi salam)
pernah melakukan perjalanan ke Arab; yaitu ke Arab dia
membawa Hajar dan Ismail (‘alaihi salam); di sanalah dia
membangun Rumah Suci pertama dan dia menetapkan
penyembahan kepada Tuhan Yang Maha Esa; di sanalah dia
menetapkan ibadah ziarah tahunan ke Rumah Suci itu (yakni
Haji); anak pengorbanan yang sebenarnya yaitu Ismail; dan
tempat pengorbanan yang sebenarnya yaitu di Arab; dan
dengan demikian Al-Qur’an benar-benar merupakan firman
Tuhan yang tidak menyimpang; dan dengan demikian
Muhammad (shala Allahu ‘alaihi wa salam) benar-benar merupakan
Nabi Tuhan Yang Maha Esa. Dan segala puji bagi Allah
Subhanahu wa Ta’ala. Tiada Tuhan kecuali Dia!
evolusi feminis sekuler bangkit di dunia berasal dari Barat
dengan agenda yang pada dasarnya tidak bertuhan untuk
membebaskan wanita dari “belenggu” zaman dengan
mengubah status, peran, dan fungsinya secara total dalam
warga . Dengan melakukan hal itu telah membalikkan
tatanan agama dan suci sebelumnya sedemikian besar sehingga
matahari kini tampak terbit dari barat.
Sekularisme mengarah pada materialisme yang pada
gilirannya menolak realitas apapun bagi wanita di luar
realitas materialnya. Akibatnya wanita muda cantik itu menjadi
dewi zaman. Tapi dia yaitu seorang dewi yang tanpa malu-
malu dieksploitasi dalam periklanan untuk menjual segalanya.
Dia menjadi sesuatu yang dinikmati, dieksploitasi,
disalahgunakan, direndahkan dan dibuang saat kecantikan
fisik dan daya tariknya mulai berkurang. lalu sejumlah
gadis remaja akan bergegas menggantikannya. Bahkan penyanyi
nasional memberi pandangannya tentang masalah ini
beberapa waktu yang lalu saat dia menyanyikan tentang
pelacur, “... dan jika Anda menangkap mereka rusak (yaitu
dalam kesulitan keuangan), Anda bisa mendapatkan semuanya
tanpa biaya.”
Nabi Muhammad (shala Allahu ‘alaihi wa salam)
menubuwahkan tipu daya yang akan memperbudak wanita. Dia
bersabda, “wanita akan berpakaian namun telanjang”,
dengan demikian memperkirakan ketelanjangan feminin yang
meningkat yang akan secara integral terkait dengan revolusi
feminis. Pemimpin band karnaval di Trinidad kini mengeluh
bahwa mereka tidak dapat menggunakan cukup kain untuk
membuat desain kreatif sebab wanita semakin menuntut
kostum yang paling minim. Tubuh wanita ‘telanjang’ digunakan
untuk mengantarkan revolusi seksual yang akan mencapai
puncaknya, menurut Nabi, dengan “mayoritas anak-anak lahir di
luar nikah” dan “orang-orang melakukan hubungan seksual di
tempat umum seperti keledai.” saat kita melihat seks
disimulasikan di depan umum dalam karnaval Trinidad, kita
tahu bahwa revolusi feminis akan segera mencapai klimaks
dengan wanita yang berubah menjadi keledai. Terlepas dari
kegagalan kolosal ini, dunia tak bertuhan modern bersikeras
membuka medan ‘gender’ dalam menuntut ‘kesetaraan’ sambil
mengobarkan perang melawan Islam. Target terbaru yaitu
Jilbab yang tidak bersalah yang diserang dengan kejam sebab
menghalangi jalan bagi wanita Muslim untuk diperdaya masuk
ke dalam warga global yang tidak bertuhan.
Islam tidak pernah berusaha untuk menempatkan tanda
yang sama antara jenis kelamin. ‘wanita ’ tidak dapat
dipelajari atau dipahami dalam konteks yang terlepas dari ‘laki-
laki’. Keduanya tidak dapat dipisahkan. Nabi (shala Allahu ‘alaihi
wa salam) menyatakan bahwa wanita yaitu “... setengah bagian
dari laki-laki.” Al-Qur’an menegaskan saling ketergantungan ini
saat menyatakan “Mereka yaitu pakaian kalian, dan kalian
yaitu pakaian mereka.” Dan dalam sebuah bagian dengan
keindahan bahasa yang luhur, Al-Qur’an (Al-Lail, 92: 1-4)
pertama-tama mengarahkan perhatian pada ‘malam’ dan apa
yang diselimuti dan disembunyikan dengan misteri dan
kemegahan seperti itu, dan lalu beralih ke ‘siang’ dengan
cahaya terangnya yang memperlihatkan segalanya dan tidak
meninggalkan apa pun yang tersembunyi, dan lalu
melanjutkan untuk menjelaskan bahwa ‘laki-laki’ dan
‘wanita ’ secara fungsional dianalogikan dengan ‘siang’ dan
‘malam’. Dengan cara yang sama sebagaimana ‘siang’ dan
‘malam’ secara fungsional berbeda namun saling bergantung,
demikian pula ‘laki-laki’ dan ‘wanita ’.
saat filosofi jender ini diterapkan pada warga
Muslim, ‘malam’ tidak pernah berusaha menjadi ‘siang’.
Melainkan ‘malam’ dan ‘siang’ selalu saling merindukan. Jadi
kami tidak pernah mengalami fenomena yang menjijikkan
(bahwa peradaban Eropa sekarang mengekspor ke seluruh
dunia) dengan ‘siang’ kawin dengan ‘siang’ dan sebaliknya.
wanita dalam warga seperti itu tidak hanya memenuhi
semua tugas fungsional suci mereka sebagai istri dan sebagai
ibu, dan dengan demikian memberi kontribusi yang
signifikan bagi pelestarian kesehatan, kekuatan dan stabilitas
keluarga, tetapi, di samping itu, mereka juga melestarikan
feminitas serta kesuburan mereka. Maka wanita Muslim itu tetap
menjadi wanita yang benar-benar mempesona! Sebuah zaman
yang menghasilkan pendeta selibat telah dengan keras kepala
bersikeras bahwa seseorang harus berpaling dari wanita untuk
menghadap kepada Tuhan. Nabi Muhammad (shala Allahu ‘alaihi
wa salam) menjawab dengan menyatakan “Tiga hal telah dibuat
indah bagiku di dunia ini - parfum, wanita dan doa.” Maka Islam
menolak baik selibat (tidak menikah) maupun mengaggap
wanita sebagai ‘objek’ melainkan mengakui wanita, seperti doa,
sebagai media yang melaluinya (dalam hubungan pernikahan)
seorang pria dapat melakukan perjalanan ke surga.
ika Tuhan yaitu laki-laki, maka itu yaitu berita buruk bagi
wanita - sebab maskulinitas lalu akan menjadi
sifat ilahi - dan sebab nya hanya laki-laki yang akan diciptakan
berdasarkan citra ilahi. Ini menjelaskan mengapa revolusi
feminis telah mendefinisikan kembali Tuhan sebagai gabungan
laki-laki dan wanita . Islam menyatakan bahwa Allah
Subhanahu wa Ta’ala menciptakan laki-laki dan wanita tetapi
Dia bukanlah laki-laki ataupun wanita . Selain itu, Dia tidak
pernah menitis dalam pribadi siapa pun, laki-laki atau
wanita . Jadi baik pada saat penciptaan, maupun pada waktu
sesudah nya, laki-laki tidak pernah mendefinisikan wanita
dalam Islam. Islam dengan demikian unik dalam menawarkan
kepada wanita kesempatan untuk berdoa kepada Tuhan
yang bukan laki-laki.
Islam juga tidak pernah membeda-bedakan laki-laki dan
wanita secara tidak adil. Seorang wanita mengeluh kepada
Nabi (shala Allahu ‘alaihi wa salam) bahwa wahyu ilahi dalam Al-
Qur’an hanya ditujukan kepada pria. Bagaimana dengan wanita?
Dia bertanya. Sebagai tanggapan, wahyu turun dalam Al-Qur’an
yang ditujukan kepada laki-laki dan wanita dalam
pengulangan terus-menerus sehingga masalah ini
diselesaikan secara meyakinkan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala
tidak membeda-bedakan dalam hal jender dengan cara yang
tidak adil. Sesungguhnya Nabi (shala Allahu ‘alaihi wa salam)
menyatakan bahwa seluruh umat manusia (laki-laki dan
wanita ) akan berdiri di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala
pada Hari Akhir “setara di pandangan-Nya seperti gerigi sisir.”
Namun demikian, Islam memang menerapkan filosofi
jender yang memperkuat perbedaan fungsional laki-laki dan
wanita dalam warga , dan itulah fokus esai kami. Al-
Qur’an mengajarkan secara analogis bahwa sebagaimana siang
dan malam secara fungsional berbeda namun saling bergantung,
demikian pula laki-laki dan wanita . Peringatan yang tidak
menyenangkan yaitu jika ini diubah, jika ‘malam’ berusaha
menjadi ‘siang’ sehingga tatanan suci jender digulingkan,
seperti dalam revolusi feminis modern, maka anarki dan
disintegrasi warga yang akan terjadi setara dengan
kekacauan kosmik. Proses penguraian tatanan sosial sudah
dimulai. Petugas polisi tahu hal ini dengan cukup baik. Akan
tetapi begitu banyak orang yang memiliki mata namun tidak
dapat melihat, dan tidak dapat menghubungkan ‘sebab’ dan
‘akibat’.
Al-Qur’an dengan jelas menetapkan bahwa laki-laki
memiliki (ukuran) otoritas atas wanita , dan telah
mewajibkan seorang wanita untuk taat kepada suaminya
(atau walinya). Dalam hubungan ini, Islam telah berusaha keras
untuk menegaskan kembali tatanan alam yang berkaitan dengan
status, peran, dan fungsi jender dalam warga .
Pertimbangkan hal berikut:
▪ Al-Qur’an mengacu pada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam
bahasa Arab dengan bentuk maskulin (mudzakkar), dan
tidak pernah dalam jender feminin (mu’anats). (Kata dalam
jender maskulin dalam bahasa Arab tidak selalu berarti laki-
laki.)
301
▪ Para nabi yang diutus oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada
umat manusia untuk berfungsi sebagai pembimbing
spiritual dan pemimpin semuanya laki-laki. Tidak pernah
ada Nabi wanita . Tetapi ada usaha menyimpang Eropa
yang berusaha untuk mempromosikan Maryam sebagai
nabi.
▪ Meskipun malaikat bukan laki-laki atau wanita , Al-
Qur’an memberi mereka nama laki-laki dan mencela
mereka yang memberi mereka nama wanita .
▪ saat seorang anak lahir sebuah pesta syukuran yang
disebut ‘Aqiqah’ diadakan. Untuk anak laki-laki dua hewan
harus dikorbankan, tetapi anak wanita hanya
membutuhkan pengorbanan satu hewan.
▪ Nabi (shala Allahu ‘alaihi wa salam) bersabda bahwa “shaf
terbaik (dalam shalat berjamaah) bagi laki-laki yaitu yang
pertama, dan yang paling buruk yaitu yang terakhir. Dan
sebaik-baik shaf bagi wanita yaitu yang terakhir, dan yang
paling buruk yaitu yang pertama” (Sahih Muslim). Jadi
laki-laki ditempatkan secara fisik di depan wanita
dalam shalat sepanjang waktu. Seorang wanita Amerika
yang sesat, dengan gaya Amerika yang sebenarnya, baru-
baru ini menempatkan dirinya di depan semua pria Muslim
(orang Amerika menyebutnya pria) dan memimpin mereka
dalam shalat berjamaah Islam yang sepenuhnya tidak sah di
sebuah gereja Euro-Kristen. Amerika yaitu tempat yang
aneh!
Setiap pagi saat sinar matahari yang berkilauan
menyelimuti kita saat kita menyambut ‘siang’ sebagai ‘siang’,
dan setiap malam saat kita menatap kagum pada romansa
bintang dan cahaya bulan sehingga mengenali ‘malam’ sebagai
302
‘malam’, kemegahan dan keharmonisan simfoni jender ada di
sekitar kita. Inilah yang ingin dilestarikan oleh Islam, bahkan
saat dunia Eropa yang pada dasarnya sekuler dan manusia
salinannya di seluruh dunia berjuang untuk menggulingkannya.
erdana Menteri Katolik Kepulauan Karibia St. Vincent
dilaporkan (Trinidad Guardian, 8 Mei 2004) telah memasuki
Gereja Mt. St. Benediktus (Katolik) di Trinidad untuk kegiatan
spiritual di mana “ia akan bergabung dengan para pendeta dalam
kegiatan berdoa lima kali sehari”. Ada banyak orang di Karibia
yang memilih menjadi Muslim dengan menyatakan bahwa tiada
Tuhan selain Allah, dan bahwa Muhammad yaitu Hamba dan
Utusan-Nya. saat mereka melakukannya, mereka diajarkan,
pertama-tama, untuk shalat ‘lima kali sehari’. Apa asal usul
shalat ‘lima waktu’? Kami merasa yakin bahwa akan ada
banyak, selain Perdana Menteri dan para pendeta di gereja, yang
akan menganggap topik ini menarik dan tetap menarik.
Nabi Muhammad (shala Allahu ‘alaihi wa salam) berusia empat
puluh tahun saat Malaikat Jibril muncul untuk memberi tahu
bahwa dia yaitu seorang Nabi dari Tuhan Yang Maha Esa.
Sebelum peristiwa itu, dia sendiri tidak menyadari statusnya ini,
namun dia tidak pernah menyembah berhala-berhala Arab. Ada
orang lain, yang dikenal sebagai Hunafa, yang juga menolak
untuk menyembah berhala. Mereka menyembah Tuhan Yang
Maha Esa, melakukan ziarah tahunan (haji) ke Rumah Suci-Nya
di Mekah yang dibangun oleh Ibrahim (‘alaihi salam). Dan mereka
menyembelih hewan setiap tahun untuk memperingati ujian
Ibrahim (‘alaihi salam) berdasarkan peristiwa pengorbanan
putranya satu-satunya (pada saat itu), Ismail (‘alaihi salam).
Beberapa saat sesudah kunjungan pertama itu, Malaikat
datang pada suatu hari dan mengajari Nabi cara berwudhu
sebelum shalat, yaitu membasuh tangan, mulut, hidung dan
seluruh wajah, lalu membasuh tangan sampai siku, lalu
mengusapkan tangan yang basah ke kepala, dan terakhir
membasuh kaki. Malaikat itu juga mengajarinya cara berdiri
tanpa alas kaki dalam shalat, ruku dan sujud di hadapan Tuhan.
Sekitar sebelas tahun lalu , Nabi dipanggil dalam mukjizat
perjalanan surgawi pada malam hari dari Mekah ke Yerusalem
dan lalu menuju surga kehadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Dia lalu menerima kewajiban ‘sholat lima waktu’ secara
langsung dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan dia kembali untuk
mengumumkan kepada semua orang yang beriman kepada Allah
Subhanahu wa Ta’ala bahwa ibadah (lima kali sehari) shalat yaitu
kendaraan yang melaluinya, mereka juga dapat melakukan
perjalanan kehadirat ilahi.
Malaikat Jibril lalu datang kepadanya suatu hari dan
mengimami shalat lima waktu - sekali pada pagi hari (sesudah
fajar tetapi sebelum matahari terbit), sekali pada siang hari
(sesudah matahari melintasi puncak tetapi sebelum sore hari),
sekali pada sore hari (tetapi sebelum terbenamnya matahari),
sekali sesudah matahari terbenam, dan terakhir pada malam hari
(sesudah cahaya senja berakhir). Pada setiap kesempatan ia
memimpin shalat pada waktu seawal mungkin. Dia lalu
kembali keesokan harinya dan kembali memimpin Nabi dalam
shalat lima waktu yang sama, tetapi kali ini dia memilih waktu
paling akhir untuk setiap shalat. Dia lalu mengumumkan
bahwa ini yaitu lima waktu shalat wajib, dan bahwa setiap
shalat harus dilakukan dalam jangka waktu yang baru saja
ditetapkan. Selain shalat wajib ini, tentu saja ada shalat sunah,
tetapi yang paling baik dilakukan pada dini hari sebelum fajar.
305
sebab hanya ada Satu Tuhan Yang Maha Esa, dan
sebab nya hanya ada satu Kebenaran, dan hanya satu agama
yang benar (yaitu agama ‘Ibrahim’ yang darinya nama ‘Brahma’
tampaknya berasal) implikasinya yaitu siapa pun yang
menyembah Tuhan Yang Maha Esa yang benar harus
melaksanakan shalat wajib lima waktu ini setiap hari. Siapapun
yang tidak melakukan shalat lima waktu setiap hari pada
akhirnya akan menjalani kehidupan yang pada dasarnya kafir
sebab shalat wajib lima waktu merupakan dasar dari cara hidup
religius.
saat Nabi ‘Isa (‘alaihi salam) Al-Masih sejati kembali, dia
pun akan shalat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala lima kali sehari
dengan cara yang sama sebagaimana yang diajarkan Malaikat
Jibril kepada Nabi Muhammad (shala Allahu ‘alaihi wa salam) untuk
shalat, dan dengan cara yang sama sebagaimana yang dilakukan
umat Islam hingga hari ini (tanpa kursi, bangku, tempat duduk,
dll.). Mereka berdiri tanpa alas kaki di hadapan Allah Subhanahu
wa Ta’ala dalam shalat, lalu ruku’, berdiri, sujud, duduk di
antara dua sujud, dan sujud dengan wajah mereka menyentuh
bumi yang diberkahi. Mereka melakukannya ‘lima kali sehari’,
dan akan terus melakukannya, Insya Allah, bertentangan dengan
tatanan dunia tak bertuhan yang mengobarkan perang terhadap
mereka, dan terlepas dari harga yang mereka bayar untuk
penentangan itu. Dan mereka melakukannya dengan keyakinan
mutlak bahwa Kebenaran pada akhirnya pasti menang atas
musuh-musuh jahatnya yang tidak bertuhan.
Dalam setiap shalat, mereka pun melafalkan Al-Qur'an
Surat Pembukaan (Al-Fatihah) di mana mereka meminta untuk
dibimbing “di jalan yang lurus - jalan orang-orang yang telah
Engkau beri nikmat kepada mereka, bukan jalan orang-orang
yang dimurkai, dan bukan pula jalan mereka yang sesat.”
Seharusnya jelas bagi para pembaca bahwa mereka yang saat ini
306
melancarkan perang zalim terhadap Islam di Irak, Afghanistan,
Tanah Suci dan di wilayah lain, tentu yaitu golongan orang-
orang yang dimurkai Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan orang-orang
Muslim atau non-Muslim sesat yang mendukung orang-orang
seperti itu, saat beribadah demi perubahan Visa AS, atau sebab
alasan bodoh lainnya, tentu yaitu golongan orang-orang yang
sesat.
agaimana seharusnya kita, Muslim India di Karibia,
memperingati peristiwa kedatangan kita di Karibia hampir
200 tahun yang lalu? Jika kita sendiri saat ini tidak menanggapi
masalah ini dengan cara yang konsisten dengan iman kita kepada
Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan dengan misi kita sebagai Muslim
di dunia, maka air mata nenek moyang kita akan dieksploitasi
tanpa malu oleh mereka yang mengejar agenda jahat. atas nama
tuan budak yang membawa kami dari India yang jauh ke pantai
ini, dan yang masih menguasai dunia.
Di Kota Ladysmith di Afrika Selatan saya bertemu Dr.
Adam dua tahun lalu. Saya baru saja menyampaikan ceramah
tentang Islam di mana saya menyesalkan bahwa audiens saya
hampir secara eksklusif yaitu orang India, meskipun faktanya
mereka yaitu Muslim dan mereka sejak beberapa generasi
sebelumnya yang berasal India telah ‘tiba’ di Afrika Selatan
dengan penduduk asli kulit hitam. Saya menyebutkan bahwa
saya pernah memiliki pengalaman menyedihkan yang sama
saat memasuki Masjid di Bridgetown di Kepulauan Karibia
Barbados dan merasa seolah-olah saya berada di pusat kota
Bombay. Dan bahkan di negara asal saya Trinidad, ada yang
disebut organisasi Islam yang tidak hanya hampir secara
eksklusif beranggotakan warga keturunan India, tetapi juga
berusaha keras untuk melestarikan dan mempromosikan
identitas ‘India’ mereka. Salah satu dari mereka bahkan
melarang penulis untuk menyampaikan ceramah tentang Islam,
dan menyatakan bahwa penulis yaitu “risiko keamanan yang
besar”.
Kini sudah sepatutnya kita dengan penuh kasih mengingat
penderitaan dan pencobaan besar yang dialami oleh mereka
yang datang sebelum kita, dengan darah, keringat, dan air
matanya basah kuyup di tanah tempat kita kini hidup jauh lebih
nyaman dibandingkan yang pernah mereka alami. Sudah sepatutnya
kita menghormati nenek moyang kita yang terikat kontrak
berasal dari India dan berusaha untuk melestarikan warisan
mereka. Namun lain halnya jika kita harus tetap terpenjara
dalam kapsul waktu dan gagal merespons secara dinamis
terhadap lingkungan yang terus berubah.
Jadi saya memberi tahu audiens di Ladysmith bahwa saya
merasa aneh mengetahui di setiap rumah Muslim India yang
saya kunjungi di Afrika Selatan, dan saya telah bepergian secara
ekstensif di negara itu, terdapat beberapa wanita kulit hitam
yang dipekerjakan sebagai pembantu rumah tangga. Saya
bertanya-tanya seperti apa rasanya di rumah-rumah kulit putih.
Sebagai seorang tamu ulama Islam yang menikmati ketenaran di
komunitas Muslim Afrika Selatan, saya mendapatkan kebebasan
seperti memulai percakapan dengan para pelayan wanita kulit
hitam. Dan saya bertanya,
“Siapa namamu?” lalu dia menjawab,
“Elizabeth.”
“Tidak! Tidak! Saya ingin nama Afrika Anda, bukan nama
kolonial Eropa Anda.”
Hanya dengan begitu dia akan tersenyum - dia yang bekerja
untuk upah budak di negaranya sendiri - dan senyumnya itu
309
yaitu senyum kepolosan dan keindahan yang mempesona,
meskipun ada penindasan, kemiskinan yang parah, dan keletihan
jiwa, yang akan membuat air mata saya menetes di dalam hati.
Dan dia lalu akan memberi tahu saya nama Afrika yang
sulit saya ucapkan. “Apa artinya?” saya bertanya, dan dia pun
menjelaskan dengan sangat lembut (sebab dia tahu bahwa suara
seorang pelayan harus sesuai dengan statusnya yang rendah)
bahwa namanya berarti ‘sinar matahari’ atau ‘tetesan hujan’ atau
‘cahaya bulan’ atau ‘tetesan embun’ atau sesuatu yang sangat
indah lainnya. Itu terjadi berulang kali di rumah demi rumah.
Tetapi dalam percakapan singkat yang sederhana itu dia bisa
merasakan bahwa saya yaitu seorang teman, dan bahwa Islam
yang saya dakwahkan tidak akan meninggalkannya, dan akan
berjuang untuk membebaskannya dari penindasan.
Saya bertanya kepada hadirin saya, “Kapan Islam akan
datang ke Afrika Selatan?” Mereka mengirim Jama’ah ke
seluruh dunia untuk Tabligh (dakwah) namun anehnya Islam
tidak terasa di negara mereka sendiri. Jika mereka benar-benar
memiliki Islam, mereka akan mengambil kesempatan yang ada
di Afrika Selatan pasca pemerintahan apartheid untuk
membangun dan mempertahankan model komunitas Muslim
persaudaraan antar-ras dan keadilan ekonomi (yaitu Desa
Muslim) yang akan menyatukan ras kulit berwarna coklat, putih
dan hitam, kaya dan miskin dalam satu keluarga yang penuh
kasih.
dr. Adam memanggil saya ke samping sesudah ceramah
selesai dan berkata kepada saya, “Tahukah Anda bahwa guru
Anda, Maulana Dr. Fazlur Rahman Ansari, mengucapkan kata-
kata Anda sendiri, tentang membangun persaudaraan antar-ras
dan keadilan ekonomi, 30 tahun yang lalu di sini di Ladysmith?”
“Sejak itu”, katanya, “Saya menikahi seorang wanita Afrika
kulit hitam sebagai istri saya, selain istri India sebagai istri
310
pertama. Oleh sebab itu saya memiliki dua rumah, - satu di kota
dengan warga kulit hitam di mana saya diliputi oleh ketulusan
hati, cinta, kasih, dan rasa hormat yang ditunjukkan oleh semua
warga kepada seorang dokter medis Muslim non-Afrika yang
memilih untuk tinggal di kotapraja kulit hitam Afrika dengan
seorang istri kulit hitam Afrika.” Esai ini tentu saja tidak
mempromosikan pernikahan antar ras. Orang memiliki
kebebasan untuk menikah dengan pasangan di dalam atau di luar
ras mereka, dan perhatian utama mereka yaitu mereka
seharusnya memilih pasangan yang beriman dan berakhlak
mulia. Tetapi jika pernikahan antar ras benar-benar terjadi, maka
akan memalukan bagi umat Islam untuk mengkhianati Islam jika
menanggapinya secara negatif sambil berpegang pada gagasan
yang benar-benar keliru tentang kemurnian ras.
Integritas dan kebijaksanaan Maulana Ansari, dan
keberanian dr. Adam, membawa Islam ke kota Afrika dengan
cara yang konkret dan nyata sehingga memenangkan hati orang-
orang Afrika yang miskin. Jika ada masukan Islam yang valid
untuk memperingati kedatangan warga India di Karibia, itu
seharusnya mengingatkan warga Afrika dan India bahwa
‘binatang’ sama yang membawa orang-orang Afrika dirantai
sebagai budak ke pulau-pulau ini, juga membuat orang-orang
India miskin yang ketakutan itu menangis. ‘Binatang’ itu kini
membantai warga Irak, Afghanistan, dan orang-orang Haiti kulit
hitam yang malang.
Nenek buyut saya yaitu seorang gadis berusia 13 tahun
yang lugu di sebuah desa India saat dia diculik dan
dimasukkan ke dalam kapal menuju Trinidad oleh tuan budak
yang ‘menanggung beban’ untuk membangun peradaban
negara-negara non-Eropa. Seorang pemuda di atas kapal, yang
akhirnya menjadi kakek buyut saya, mengetahui kisahnya dan
melindunginya dari burung nasar sepanjang perjalanan
311
mengerikan yang menyedihkan itu. sesudah kedatangan mereka
di Trinidad, dia menikahinya. Air mata budak Afrika tidak
berbeda dengan air mata nenek buyutku. Salah satu putrinya
hidup sampai tahun 1975 untuk menceritakan kisah air mata
ibunya. Jadi Muslim India di Karibia seharusnya memperingati
kedatangan mereka di Karibia dengan cara yang dirancang untuk
menyatukan persaudaraan antar-ras dibandingkan memecah belah.
Islam, sebagai agama, memiliki kapasitas yang tidak dimiliki
partai politik sekuler, untuk membangun dan mempertahankan
persaudaraan antar-ras yang dapat berdampak positif pada
warga yang terpolarisasi secara rasial, dan dapat
menyembuhkan konflik antar-ras. Masukan Islam yang tepat
dalam peringatan peristiwa kedatangan warga India di Karibia
seharus berkomitmen untuk membangun dan melestarikan
persaudaraan antar-ras yang secara kolektif akan menanggapi
penindasan di dunia saat ini.
(Penghargaan nasional tertinggi Trinidad dan Tobago ditetapkan
dengan lambang ‘Salib Tritunggal’. Esai ini diterbitkan pada
tahun 2004 dalam satu halaman penuh di sebuah surat kabar
lokal, dan lalu esai ini berhasil mendorong sebuah
organisasi besar Hindu untuk bergandengan tangan dengan
organisasi Muslim untuk membawa masalah ini ke pengadilan.
Hakim memutuskan bahwa lambang penghargaan nasional itu
diskriminatif. Pemerintah yang telah menunda-nunda masalah
ini selama hampir 40 tahun, terpaksa menanggapi dan mengubah
lambang penghargaan.)
eberapa menyatakan, dengan kepala terkubur ‘seperti
burung unta’ di pasir, bahwa tidak ada masalah ‘Salib
Tritunggal’ yang dihadapi negara ini, atau bahwa itu bukanlah
‘isu penting’. Beberapa yang lain mengenali masalahnya tetapi
memilih untuk tidak melakukan apa-apa, atau menjajakan
disinformasi dan bergegas menciptakan pertahanan yang lemah
dan tidak relevan bagi status quo yang tidak adil dan, sebab nya,
tidak dapat dipertahankan. Kami sedih dengan ini, tetapi tidak
terkejut.
❖ BAHAYA KURANGNYA KEPEMIMPINAN DALAM
PEMERINTAHAN
Sementara kami memahami kesulitan mereka dan dengan tulus
bersimpati dengan mereka dalam kesulitan mereka, kami terus
terang kecewa dan tertekan oleh kurangnya kualitas
kepemimpinan dalam pemerintahan berturut-turut di negara ini
yang telah menemukan kesulitan dalam masalah ‘Salib
Tritunggal’ sehingga tidak dapat diatasi. Kami tertekan sebab
masalah itu menimbulkan bahaya besar bagi kita semua. Dalam
perubahan zaman yang berbahaya ini, para pemimpin sejati
seharusnya memiliki keberanian dan integritas untuk
menegakkan ‘keadilan’ dan apa yang benar (amr ma’ruf),
sekaligus menentang ‘kezaliman’ dan apa yang salah (nahi
munkar), terlepas dari akibat politik atau harga lain yang
mungkin harus mereka bayar! Ada masalah lain yang jauh lebih
mendesak dan berbahaya yang dihadapi negara yang terkepung
ini, dan kepemimpinan sejati sangat diperlukan jika masalah itu
ingin diselesaikan.
❖ MASALAH LANGSUNG
Umat Hindu keberatan dengan ‘Salib Tritunggal’ sebagai
lambang penghargaan tertinggi bangsa sebab secara terang-
terangan berkarakter Kristen dan, dengan demikian,
mendiskriminasikan umat non-Kristen - khususnya dalam
konteks proklamasi Lagu Kebangsaan yang unik, bersejarah dan
menakjubkan, “Di sini setiap keyakinan dan ras menemukan
tempat yang sama.” Muslim, tentu saja, sependapat dengan
pandangan Hindu ini . Pada saat yang sama, kami senang
bahwa simbol agama dipilih sebagai lambang penghargaan
tertinggi bangsa sebab membantu menahan kemajuan
sekularisme dan ketidakberdayaan sebagai akibat yang tak
314
terhindarkan. Dan kita tentu tidak ingin simbol agama diganti
dengan sesuatu yang sekuler/tidak bertuhan.
❖ MENDEFINISIKAN DAN MENANGGAPI ‘SALIB’ &
‘TRITUNGGAL’ PADA ‘SALIB TRITUNGGAL’
Namun tujuan dasar kami yaitu untuk pertama-tama
menjelaskan bagaimana Islam memandang ‘Salib’ dan
‘Tritunggal’ (dalam ‘Salib Tritunggal’), dan, dalam prosesnya,
masuk ke dalam catatan untuk secara khusus menyampaikan
keberatan Muslim pada ‘Salib Trinitas’. Kini ‘Salib’ mungkin
melambangkan hal-hal yang berbeda dari waktu ke waktu bagi
golongan orang yang berbeda. Tetapi tentu saja di negara ini,
dan dalam konteks yang dibahas di sini, ‘Salib’ dianggap oleh
lebih dari separuh penduduk sebagai simbol kepercayaan
Kristen bahwa putra Maryam disalib di kayu Salib. ‘Tritunggal’,
pun, melambangkan banyak hal yang berbeda dari waktu ke
waktu. Di Haiti, misalnya, orang-orang miskin, berkulit hitam,
sebagian besar buta huruf, tetapi sangat berani (beberapa di
antaranya yaitu Muslim pada saat itu), telah lama menderita
sebab memberi tamparan yang luar biasa kepada tuan budak
Eropa 200 tahun yang lalu di wajahnya yang buruk rupa. Namun
orang-orang Haiti itu memiliki wawasan politik dasar untuk
menanggapi upaya yang dilakukan oleh Pemerintah Dunia Barat
yang mencopot Presiden (Aristide) yang heroik dan sama-sama
berani dari kekuasaan dengan mengubah istilah ‘Tritunggal’. Itu
lalu digunakan untuk mengarahkan sebutan dengan
akurasi luar biasa pada kekuatan tersembunyi yang menyerang
mereka. ‘Tritunggal’ dia artikan sebagai 'Bapa', 'Anak', dan
CIA! Tetapi konteks yang kami tulis yaitu konteks yang
mengakui istilah ‘Tritunggal’ sebagai simbol dari kepercayaan
Kristen yang sangat aneh, yang akhirnya menang atas perbedaan
pendapat pada masa Kekristenan awal, meskipun sebelumnya
tidak diketahui, bahwa Tuhan Yang Maha Esa yang disembah
315
Ibrahim dan Musa (‘alaihima salam) entah bagaimana kini terdiri
dari tiga pribadi - Tuhan Bapa, Tuhan Anak (yaitu Yesus), dan
Tuhan Roh Kudus.
Salib melambangkan suatu peristiwa yang begitu sakral dan
sangat penting sehingga mengakibatkan semua peristiwa
penting yang kini masih terjadi dalam sejarah, yaitu kembalinya
Al-Masih sejati, Yesus a

