tanda akhir zaman 8

tanda akhir zaman 8



 ya yaitu hanya lembaga-lembaga 

pendidikan Islam yang meninggalkan pedoman Al-Qur’an 

mengenai melawan penindasan yang akan bertahan sekarang. 

Target kedua perang melawan teror itu sudah diserang di 

Pakistan, Yaman, Suriah, Arab Saudi, dll. Pemerintah Pakistan 

yang sekarang tanpa malu-malu melayani kepentingan Israel, 

dan mengobarkan perang terhadap Islam, baru saja 

mengumumkan larangan yang tidak adil dan jelas-jelas berdosa 

terhadap pelajar asing yang mempelajari Islam di lembaga-

lembaga pendidikan Islam Pakistan. Padahal penulis dididik 

dalam Islam di Institut Studi Islam ‘Alimiyah di Karachi, 

Pakistan, di bawah bimbingan ulama Islam terkemuka, Maulana 

Dr. Muhammad Fazlur Rahman Ansari. Seharusnya tidak sulit 

bagi pembaca untuk mengantisipasi bahwa mayoritas orang 

Pakistan yang membenci rezim Musharraf pada akhirnya akan 

menantang rezim itu dengan nyawa mereka dan bahwa 

perlawanan bersenjata Afghanistan/Irak/Palestina pada akhirnya 

akan meluas ke Pakistan. Pada saat itu umat Islam akan melihat 

dengan cukup jelas terwujudnya nubuwah Nabi Muhammad 

(shala Allahu ‘alaihi wa salam) tentang pasukan Muslim tak 

terbendung muncul dari Khurasan (yaitu semua wilayah di 

sebelah timur sungai Eufrat) yang akan membebaskan Tanah 

Suci. 

 

244 

 

Target ketiga dari perang melawan teror yaitu  para ulama 

Islam yang dibimbing dengan benar yang mampu memberi  

bimbingan Islam yang otentik kepada umat Islam pada saat kritis 

saat  Dajjal Al-Masih palsu akan memasuki fase ketiga dan 

terakhir dari misi perang melawan teror (lihat artikel  saya 

‘Yerusalem dalam Al-Qur’an’) dan saat  penindasan akan 

mencapai puncaknya. Ulama Islam yang otentik seperti itu, yang 

membimbing dan mengilhami umat Islam untuk melawan 

penindasan, menjadi sasaran perang melawan teror dan segala 

upaya dilakukan untuk melenyapkan mereka ‘dengan segala 

cara’. Tujuannya yaitu untuk menggantikan mereka dengan 

ulama sesat yang lalu  menyesatkan umat Muslim di 

seluruh dunia. Nabi (shala Allahu ‘alaihi wa salam) menubuwahkan 

bahwa hal ini akan terjadi: 

 

“Tidak lama lalu  tidak ada yang tersisa dari Islam 

kecuali nama, dan tidak ada yang tersisa dari Al-Qur’an, 

kecuali jejak (penulisannya) dan (pada waktu itu) Masjid 

akan menjadi bangunan megah tetapi menolak petunjuk, 

dan ulama Islam (dari orang-orang seperti itu) akan 

menjadi orang-orang terburuk di bawah langit. Dari 

mereka akan muncul (penyesatan) yang merupakan 

ujian (mengerikan) dan cobaan (bagi orang-orang 

beriman) dan mereka (para ulama sesat) akan menjadi 

pusat ujian dan cobaan (itu).” 

 

(Sunan Tirmidzi) 

 

Target utama dari perang melawan teror, meski demikian, 

yaitu  Al-Qur’an dan Nabi Muhammad (shala Allahu ‘alaihi wa 

salam). Serangan terhadap kedua target utama ini telah 

dilancarkan melalui situs internet yang didirikan oleh musuh 

paling mematikan Islam, Mossad Israel. Denmark dan Paus di 

Roma juga bergabung dalam serangan terhadap target ini . 

245 

 

Satu-satunya pihak yang mampu membela Islam dalam 

menghadapi serangan umum terhadap Al-Qur’an, dan pribadi 

Nabi (shala Allahu ‘alaihi wa salam) yang pada akhirnya akan 

dilancarkan ke publik yaitu  para ulama Islam yang otentik. Jika 

mereka dijelekkan, dipinggirkan, dan digantikan oleh para 

ulama buta dan sesat yang menari mengikuti irama mereka yang 

mengobarkan perang terhadap Islam, maka tidak akan ada 

seorang pun yang mampu menangkis serangan terhadap Islam. 

(Lihat Lampiran 1 untuk contoh serangan semacam itu terhadap 

Al-Qur’an, dan terhadap pribadi Nabi Muhammad (shala Allahu 

‘alaihi wa salam)). 

 

❖ SERANGAN DI LONDON 

  

Mari kita beralih ke serangan di London yang terjadi pada 7 Juli 

lalu. Sebuah editorial ‘Trinidad Guardian’ yang mengingatkan 

pada Perang Salib atau Perang Suci Kristen Eropa melawan 

Islam (“Bagaimana selanjutnya? Realitas Suram Terorisme”, 9 

Juli 2005) menanggapi serangan London dengan peringatan 

aneh berikut:  

 

“Ada hal yang perlu diingatkan: terorisme masih hidup 

dan sehat. Itu belum dipukul mundur; itu belum 

terintimidasi oleh perang melawan teror yang dilakukan 

AS, Inggris dan sekutu yang telah mengirim pasukan ke 

Irak dan Afghanistan. Tindakan teroris juga tidak 

dibatasi di Irak, di mana pemboman bunuh diri setiap 

hari terus mengakibatkan banyak korban jiwa, 

kebanyakan warga sipil. Hampir empat tahun sesudah  11 

September 2001, para teroris telah menunjukkan 

kemampuan untuk memberi  luka maksimum ke 

bagian-bagian vital kota-kota besar di negara-negara 

dengan kekuatan terkemuka - dan membunuh sejumlah 

besar warga mereka. Perhatian dunia pada hari Kamis 

246 

 

terfokus tidak hanya pada pengalaman mengerikan 

Inggris tetapi juga pada pertanyaan yang menakutkan: 

bagaimana selanjutnya?” 

 

Saya seorang ulama Islam berusia 65 tahun yang telah 

mengabdikan seluruh hidup untuk mempelajari dan berdakwah 

tentang Islam dan saya juga takut akan ada lebih banyak lagi 

serangan teroris di dunia, seperti yang terjadi pada 9/11 dan, 

baru-baru ini, di London, dan tindakan terorisme nantinya juga 

akan mencakup lebih banyak lagi terorisme yang disponsori 

negara, seperti terorisme yang dipimpin AS di Afghanistan, Irak, 

Guantanamo, dll., dan terorisme Israel di Tanah Suci (atau 

disebut dengan nama sekuler Palestina). Editorial yang dikutip 

di atas tidak memiliki kapasitas untuk mengidentifikasi tindakan 

terorisme yang disponsori negara semacam itu, atau memilih 

untuk tetap diam dengan nyaman dan mencurigakan tentang 

masalah ini . Di seluruh dunia saat ini, kelas penguasa 

penghisap darah yang kaya menggunakan kekayaan mereka 

untuk membeli sebanyak mungkin surat kabar, radio, dan stasiun 

televisi, dan lalu  menyerahkannya kepada tuan mereka, 

yaitu tatanan dunia Barat, untuk berperang melawan Islam 

dengan editorial dan laporan berita yang bias. 

 

Tidak mau kalah dengan Editorial Trinidad Guardian, 

seorang kolumnis/imam Katolik telah mengidentifikasi tindakan 

terorisme yang didukung negara di Afghanistan, Irak, 

Guantanamo, dll., sebagai perjuangan agung Barat untuk 

membawa “kebebasan” dan “demokrasi” (bagi umat Islam yang 

dianggap diperbudak oleh kediktatoran gelap Islam). Sebuah 

komentar Swaha (sebuah organisasi Hindu) cukup jujur dalam 

mengakui peran media dalam apa yang disebut perang melawan 

teror, “Pertempuran terhadap hati dan jiwa negara sedang 

dilancarkan. Ini tidak bisa kita biarkan kalah.” 

 

247 

 

(Mantan) Perdana Menteri Inggris Tony Blair dengan cepat 

menuduh Muslim (tanpa sedikit pun bukti pendukung yang 

dapat diuji dengan proses pengadilan) untuk serangan 7 Juli di 

London dan, dalam prosesnya, dia membiarkan kucing yang 

sebenarnya keluar dari tas saat  dia melanjutkan dengan 

menyebutkan peristiwa terorisme yang terjadi di beberapa 

belahan dunia : 

 

“Tampaknya serangan itu dilakukan oleh teroris 

ekstremis Islam, yang selama beberapa tahun terakhir 

telah bertanggung jawab atas begitu banyak kematian 

orang-orang tak berdosa di Madrid, Bali, Arab Saudi, 

Rusia, Kenya, Tanzania, Pakistan, Yaman, Turki, Mesir 

dan Maroko, tentu saja di New York pada 11 September, 

tetapi di banyak negara lain juga.” 

 

(Pernyataan di hadapan Parlemen Inggris pada tanggal 

11 Juli 2005). 

 

 

Perdana Menteri Inggris menyatakan kebanggaan yang 

mendalam pada nilai-nilai keadilan, permainan yang adil, 

kebebasan dan demokrasi yang dimiliki Inggris, tetapi 

tampaknya telah menerima pernyataan situs internet bahwa 

Muslim dan organisasi fiktif (kemungkinan besar yaitu  ciptaan 

CIA/Israel Mossad) yang disebut Al-Qaeda bertanggung jawab 

atas serangan di London. Lucunya, pemerintahannya tidak akan 

pernah berani menggunakan apa yang disebut bukti itu di 

pengadilan mana pun di dunia. Dapatkah pemerintah Inggris dan 

media dunia menyangkal kemungkinan bahwa apa yang disebut 

pernyataan Al-Qaeda yang diposting di situs web yang 

mengklaim bertanggung jawab atas serangan di London bisa jadi 

merupakan pekerjaan jahat CIA/Mossad Israel? Bahkan Mossad 

Israel bisa saja memberi  nama Al-Qaeda untuk dirinya 

248 

 

sendiri sehingga saat  media berita memberitahu kita bahwa 

Al-Qaeda bertanggung jawab atas tindakan terorisme tertentu 

yang benar-benar dilakukan oleh Mossad Israel, laporan itu akan 

benar! Meskipun demikian, dan terlepas dari semua bukti yang 

kini dapat ditemukan, hanya bukti yang dapat berhasil diuji di 

pengadilan yang harus kita perhatikan. 

 

Jika Perdana Menteri Inggris yang menuduh ‘teroris 

ekstremis Islam’ sebenarnya bertanggung jawab atas serangan 

di London, maka mereka tampaknya memiliki kepentingan 

sehingga mereka tidak membahayakan upaya Inggris untuk 

menjadi tuan rumah Olimpiade 2012 di London. Lagi pula, 

apakah para teroris tidak berhati-hati untuk melepaskan bom 

mereka hanya sehari sesudah  pengumuman bahwa tawaran 

London berhasil? Mengapa tidak ada surat kabar arus utama, 

atau media lain, yang sejauh ini mengomentari masalah yang 

sangat umum dan aneh ini? 

 

Saya memperkirakan semua bentuk terorisme, termasuk 

terorisme yang didukung negara pimpinan AS, mengintensifkan 

serangannya sebagai hitungan mundur bagi perang besar Israel 

dalam rangka peluasan wilayah yang dramatis “dari sungai 

Mesir sampai sungai besar, Eufrat” (Kejadian, 15: 18) 

mendekati puncaknya. Dan, percayalah, saya sangat memahami 

hubungan antara dua topik, yaitu perang besar Israel di satu sisi, 

dan aksi terorisme di sisi lain yang jelas dimaksudkan untuk 

mempromosikan kepentingan Israel dan untuk memfasilitasi 

keberhasilannya dalam perang besar itu. Setiap pembaca yang 

tidak memihak (dan kita masih memiliki orang-orang seperti itu 

di dunia) agar merenungkan konsekuensi bagi Islam dan Muslim 

dari semua tindakan terorisme baru-baru ini yang dengan 

ceroboh disebutkan oleh Mr. Blair dalam pernyataannya di 

hadapan Parlemen Inggris, dapat dengan mudah mengenalinya 

249 

 

bahwa mereka semua telah memajukan pemerintahan mesianis 

Israel.  

 

Saya juga memperkirakan Islam dan Muslim, yang menjadi 

korban terorisme tanpa henti yang didukung negara Barat di 

Tanah Suci, Afghanistan, Irak, Guantanamo, dan di wilayah 

lain, akan berulang kali dipersalahkan sebab  mendalangi aksi 

terorisme spektakuler yang menarik perhatian warga  

seluruh dunia. Bukti akan dibuat-buat dan Muslim akan 

dihukum sebab  kejahatan yang tidak mereka lakukan. Tetapi 

saya tetap yakin bahwa apa yang disebut perang melawan 

terorisme oleh tatanan dunia Barat pada akhirnya akan diakui 

secara universal sebagaimana adanya, yaitu perang salib Kristen 

dan Yahudi Barat dan oleh sebab  itu perang zalim lainnya 

terhadap Islam dan Muslim yang dilancarkan oleh Barat sebagai 

penguasa dunia demi kepentingan Negara Euro-Yahudi Israel! 

 

Ulama Islam otentik yang telah mendedikasikan seluruh 

hidupnya untuk studi dan dakwah Islam, kini hidup dengan 

pertunjukan yang benar-benar menakjubkan melihat kebenaran 

Islam, yang diturunkan kepada Nabi Muhammad (shala Allahu 

‘alaihi wa salam), kini ditafsirkan ulang demi kepentingan mereka 

oleh pemerintah Inggris, Amerika, dan Israel. Mereka yang 

termasuk dalam peradaban tak bertuhan yang melegalkan 

pernikahan seorang pria dengan pria lain kini percaya bahwa 

mereka dapat duduk di pengadilan atas agama Islam: “Kami 

akan bekerja dengan Anda”, kata Perdana Menteri Inggris Tony 

Blair dalam pernyataannya kepada Parlemen Inggris, “untuk 

membuat suara Islam yang moderat dan benar didengar 

sebagaimana mestinya.” 

 

Hal yang menakjubkan dari pernyataan sombong ini yaitu 

Ratu, yang merupakan kepala negara di negara itu, juga yaitu  

kepala agama (yaitu kepala Gereja Inggris). Jadi, apa yang 

250 

 

disebut Euro-Kristen sekarang dengan arogan mengambil 

otoritas untuk menentukan Islam yang ‘benar’, dan status yang 

mengharuskan Nabi Muhammad (shala Allahu ‘alaihi wa salam) 

untuk tunduk di hadapan mereka dengan rendah hati. Islam yang 

‘disetujui’ itu, tentu saja, akan menjadi versi Islam riasan 

sekularisasi yang dengan sengaja mengabaikan Al-Qur’an dan 

Nabi Muhammad (shala Allahu ‘alaihi wa salam), dan memaksa 

umat Islam dalam keadaan tunduk pada aturan kediktatoran 

Inggris-Amerika-Israel atas seluruh dunia manusia. Sama 

menakjubkannya dengan melihat Perdana Menteri Inggris yang 

pada dasarnya tidak bertuhan, dengan kurang dari 4% populasi 

warganya yang masih menghadiri gereja, membuat pernyataan 

seperti itu tentang agama besar Islam yang didirikan oleh Nabi 

besar Muhammad (shala Allahu ‘alaihi wa salam). Kesombongan 

dan keberanian Perdana Menteri Inggris sungguh luar biasa. 

 

Tetapi setidaknya saya merasa senang bahwa kita tidak 

perlu menunggu lama untuk menyaksikan peristiwa dramatis 

terjadi di dunia yang akan mengesahkan klaim kebenaran Islam, 

serta menegakkan suara ‘Islam sejati’. Perang perluasan wilayah 

Israel yang spektakuler sudah dekat! Usulan penarikan militer 

Israel yang menarik perhatian dari Gaza dimaksudkan untuk 

menyamarkan tujuan militer Israel yang sebenarnya. saat  

perang besar itu terjadi, maka apa yang disebut ulama Islam, 

kulit putih, hitam, coklat, dan kuning, yang mengkhianati Allah 

dan Rasul-Nya dengan dukungan yang mereka berikan kepada 

mereka yang berperang melawan Islam, akan tersingkap 

sehingga bahkan orang buta pun akan dapat melihat dan 

mengenali mereka. Namun perang melawan Islam lalu  

akan menjadi begitu intens sehingga para ulama Islam yang 

mendapat petunjuk dengan benar mungkin harus melarikan diri 

untuk berlindung ke dalam gua-gua (lihat Al-Qur’an Surat Al-

Kahfi). 

 

251 

 

❖ PENOLAKAN TERHADAP ISTILAH JAHAT 

‘TERORISME ISLAM’ 

 

Kita harus mengakui pandangan yang disponsori AS tentang 

terorisme ‘Islam’ tidak dapat didamaikan dengan Islam. Harus 

jelas bahwa terorisme hari ini lebih dari yang terlihat, dan bahwa 

peringatan Nabi Muhammad (shala Allahu ‘alaihi wa salam) akan 

datangnya zaman ‘majikan’ terakhir, yaitu Dajjal, Al-Masih 

palsu atau Anti Kristus, saat ‘penampilan’ akan berlawanan dari 

‘kenyataan’, telah terjadi. Kita kini hidup pada zaman saat  

‘majikan’ tidak hanya mengintensifkan penindasannya terhadap 

budak, tetapi juga menggunakan senjata propaganda jahat untuk 

menyalahkan mereka atas perbudakan. Tidak ada Muslim yang 

takut kepada Tuhan dan mengikuti Nabi Muhammad (shala Allahu 

‘alaihi wa salam) pernah terlibat dalam aksi terorisme. Jadi, jauh 

dari mengucapkan ‘Zaman Majikan selesai’, kita seharusnya 

menyadari bahwa hari penipuan terbesar Majikan telah tiba! 

 

❖ ISLAM DAN TERORISME 

 

Akan sia-sia untuk menunjukkan kepada banyak kritikus kami, 

termasuk mereka di negara asal saya Trinidad yang 

menganjurkan pembunuhan semua Muslim, bahwa kecaman Al-

Qur’an terhadap aksi terorisme sangat keras. Terpidana teroris 

harus dihukum, sesuai dengan ketetapan Allah baik dengan: 

 

“. . . dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki 

mereka secara silang, atau diasingkan dari tempat 

kediamannya.” 

 

(Al-Qur’an Surat Al-Maidah, 5: 33)  

 

Ini yaitu  hukuman yang paling berat dari semua hukuman 

yang ditetapkan oleh Tuhan. Dan umat Islam di seluruh dunia 

akan dengan antusias mendukung undang-undang anti-terorisme 

252 

 

yang mengatur hukuman ilahi seperti itu bagi terpidana teroris. 

Tetapi kita tahu bahwa kita akan sia-sia menunggu undang-

undang seperti itu. 

 

Akan sama sia-sianya untuk mengingatkan begitu banyak 

orang hari ini bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala telah 

memperingatkan: 

 

Wahai orang-orang yang beriman (pada Al-Qur’an)! Jika 

seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita 

(misalnya, bahwa orang Arab dan Muslim dan beberapa 

organisasi ‘Islam’ fiktif bernama Al-Qaeda yaitu  teroris dan 

bertanggung jawab atas tindakan terorisme di New York, 

London, dll.), maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak 

mencelakakan suatu kaum sebab  kebodohan (kecerobohan), 

yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu (dengan 

tanpa disadari bergabung dengan perang jahat terhadap Islam 

dan pembunuhan Muslim yang tidak bersalah)” (harap 

diperhatikan tafsir saya mengenai ayat ini di dalam kurung). 

 

(Al-Qur’an Surat Al-Hujurat, 49: 6) 

 

Banyak Muslim saat ini menunjukkan ketidakhormatan 

terhadap Al-Qur’an menyangkut peringatan di atas. Mereka 

menerima tuduhan bahwa empat pemuda Muslim yang tinggal 

di Inggris bertanggung jawab atas serangan di London. Ada 

beberapa yang bersikeras, seperti ibu dari pemuda Jamaika yang 

masuk Islam (yang merupakan salah satu dari empat yang 

disebutkan di atas), bahwa dia tidak akan menerima bahwa 

putranya bersalah sampai masalah itu diselidiki dengan benar. 

Bahkan Perdana Menteri Inggris berhenti sejenak dalam 

pernyataannya yang menyatakan kesalahan keempat pemuda 

itu: “Tampaknya serangan itu dilakukan oleh teroris Islam 

ekstremis.” 

 

253 

 

Kini pemerintah Inggris dan Amerika bersembunyi di balik 

segunung kebohongan yang benar-benar tak tahu malu untuk 

membenarkan invasi mereka yang tidak adil dan upaya 

rekolonisasi Afghanistan dan Irak. Media berita internasional 

yang mengayuh kebohongan itu tanpa kepedulian untuk 

memastikan kebenaran tidak boleh dianggap sebagai media 

yang dipercaya. Selain itu, pembaca akan takjub mengetahui 

betapa sedikit bukti (selain dari pernyataan yang diposting di 

situs web yang tidak dapat diterima sebagai bukti di pengadilan 

hukum Inggris mana pun) yang pernah diproduksi dan diterima 

di pengadilan yang mengonfirmasi kebenaran tuduhan ini. 

 

Mengapa orang-orang yang cerdas dan rasional seperti 

pendeta Katolik, dan penulis tak dikenal editorial Trinidad 

Guardian yang dikutip di atas, bertindak dengan cara yang 

jelas-jelas ceroboh dan jahat ini? Dalam artikel  saya yang 

berjudul ‘Yerusalem dalam Al-Qur’an – Pandangan Seorang 

Ulama Islam Mengenai Takdir Yerusalem’, saya menggunakan 

Al-Qur’an dan nubuwah Nabi Muhammad (shala Allahu ‘alaihi wa 

salam) untuk mengidentifikasi saat ini sebagai Akhir Zaman. 

Dalam artikel  itu pula, saya memperkirakan zaman ini akan 

segera mencapai puncaknya dengan kembalinya Al-Masih 

sejati, Nabi ‘Isa putra Maryam (‘alaihi salam). Banyak orang 

percaya yang kini masih hidup mungkin akan hidup tidak hanya 

untuk melihat Nabi ‘Isa (‘alaihi salam) saat  dia kembali tetapi, 

juga, untuk mengalami kehidupan di dunia baru yang indah yang 

akan sama sekali berbeda dari dunia ini yang tanpa henti 

menindas dan meneror umat Islam. ‘Kebenaran’ akan menang 

atas kebatilan, dan ‘iman dan keadilan’ atas ‘tidak bertuhan dan 

penindasan’. 

 

Kezaliman dan penindasan dunia tak bertuhan saat ini dapat 

dengan mudah dikenali dalam pemenjaraan ekonomi kaum 

miskin dalam kemiskinan permanen. Para Nabi zaman dahulu 

254 

 

telah menubuwahkan akan datangnya zaman saat  “bahkan 

sedikit harta yang dimiliki orang miskin akan diambil dari 

mereka”. Seluruh Benua Afrika kini berada dalam reruntuhan 

ekonomi akibat keserakahan tatanan dunia-Eropa yang tak 

terpuaskan. artikel  saya yang berjudul ‘Larangan Riba dalam Al-

Qur’an dan Sunnah’ menjelaskan penindasan ekonomi masa 

kini yang tanpa ampun telah dilancarkan kepada umat manusia 

non-Eropa oleh penguasa-Eropa dunia saat ini. 

 

Ada pula kezaliman dan penindasan yang nyata dalam 

pendudukan militer Amerika di Irak dan Afghanistan. Dalam 

kedua kasus ini , orang-orang Muslim melakukan 

perjuangan heroik untuk melepaskan diri dari kekuatan 

pendudukan yang kejam dan sadis, yang bertekad untuk 

menimbulkan penghinaan agama dan seksual kepada mereka 

yang dengan tegas menolak untuk tunduk. Itu yaitu  

keserakahan, serta perebutan kendali atas sumber minyak untuk 

memaksa tunduknya umat manusia pada pemerintahan mereka, 

yang merupakan motif utama upaya tatanan dunia Barat untuk 

mengkolonisasi kembali Afghanistan dan Irak. Bahkan sebelum 

Presiden Bush melancarkan perangnya di Irak, Nelson Mandela 

dan Kongres Nasional Afrika Selatan (KNA) telah mengecam 

dia dan perangnya. Mandela mengutuk dia sebab  “arogansinya” 

dan menyatakan bahwa perang yang akan dilancarkan di Irak 

yaitu  “perang untuk merebut sumber minyak”. Saya berada di 

Johannesburg, Afrika Selatan, pada pagi yang cerah bulan 

Februari dua tahun lalu (2003) saat  saya bergabung dalam 

pawai besar-besaran KNA untuk memprotes perang di Irak. 

 

Dan siapa kini dapat menyangkal aksi terorisme disponsori 

negara yang terlihat jelas diwujudkan dalam penahanan biadab 

dan penyiksaan Muslim yang tidak bersalah di kamp konsentrasi 

Guantanamo dan entah di mana lagi. 

 

255 

 

Nabi (shala Allahu ‘alaihi wa salam) menubuwahkan perang 

melawan Islam saat ini dalam bahasa yang cukup tidak 

menyenangkan. Dia menyatakan, misalnya, bahwa: 

 

“. . . berpegang teguh pada Islam seperti berpegangan 

pada bara panas”, dan bahwa “. . . orang beriman 

terpaksa melarikan diri ke lereng gunung di mana hujan 

turun, dan membawa serta beberapa domba dan 

kambing, untuk mempertahankan imannya (dalam 

Islam)”. Hal yang paling tidak menyenangkan dari 

semuanya yaitu  nubuwahnya bahwa “. . . bangsa-

bangsa di dunia akan berkumpul melawan kamu seperti 

orang-orang lapar berpesta memakan makanan”. 

 

(Sunan Abu Daud, Musnan Ahmad) 

 

Dalam konteks terwujudnya nubuwah Nabi (shala Allahu 

‘alaihi wa salam) dan, khususnya, perang melawan Islam yang 

dilakukan oleh mereka yang memegang kekuasaan di dunia, kita 

harus memahami topik yang disebut ‘terorisme Islam’.  

 

 

 

 

❖ PERANG MELAWAN TEROR BUKAN HANYA 

PERANG TERHADAP ISLAM TETAPI JUGA 

PERANG TERHADAP ORANG MISKIN 

 

Aspek paling aneh dan paling menyedihkan dari ‘perang 

melawan teror’ yaitu negara terkaya di dunia berperang 

melawan yang termiskin dari yang miskin. (Afghanistan yaitu  

salah satu negara termiskin di dunia). Rencana induk tampaknya 

menggunakan Riba untuk mewujudkan kemiskinan dan 

kemelaratan bagi semua orang yang menentang kekuasaan 

256 

 

Dajjal di dunia. Riba bukan hanya pinjaman uang dengan bunga 

yang mengakibatkan kreditur hidup dari keringat debitur, tetapi 

juga transaksi berdasarkan penipuan yang menghasilkan 

keuntungan atau keuntungan secara tidak benar (yaitu, 

penipuan). Kemalangan terbesar yang pernah dialami umat 

manusia pada proses yang telah terjadi melalui penggantian 

uang nyata yang memiliki nilai intrinsik (seperti emas dan 

perak) dengan uang buatan yang tidak memiliki nilai intrinsik 

(seperti mata uang kertas dan uang elektronik).  

 

Hal yang lebih aneh lagi yaitu fakta bahwa negara-negara 

kaya yang melakukan apa yang disebut ‘perang melawan teror’ 

itu sendiri yaitu  pelaku terorisme yang didukung negara, 

lengkap dengan kamar-kamar penyiksaan, yang tanpa ampun 

mereka berikan kepada orang miskin. Misalnya, CIA Amerika 

menculik seorang imam Muslim Italia yang, seperti penulis, 

kritis terhadap pendudukan militer AS di Afghanistan dan Irak. 

(Kami, para ulama Islam, mencari nafkah dengan cara sangat 

sederhana.) Dia lalu  dibawa keluar dari Italia ke Mesir di 

mana tanpa rasa malu dia disiksa oleh rezim Mesir yang 

didukung AS. Dia akhirnya dibebaskan sebab  

kewarganegaraan Italia-nya. Dia lalu  menanggapinya 

dengan menuntut pemerintah AS, dan ini yaitu  tanggapan yang 

luar biasa sebab  kebanyakan ulama Islam saat ini tidak mampu 

menuntut siapa pun. Pemerintah Italia menanggapi dengan kritik 

ringan terhadap sekutunya dalam apa yang disebut ‘perang 

melawan teror’ atas operasi rahasia yang memalukan di wilayah 

Italia itu sendiri sebagai tindakan terorisme. 

 

❖ KEPENTINGAN TERORISME 

 

Hal aneh lainnya tentang tindakan terorisme besar seperti yang 

terjadi pada 9/11 yaitu  bahwa mereka selalu terjadi pada waktu 

yang paling tepat untuk memberi  manfaat yang signifikan 

257 

 

bagi pemain kunci dalam permainan yang kekayaannya 

mungkin merosot. Dan serangan propaganda besar-besaran yang 

biasanya diikuti sesudah  aksi terorisme semacam itu biasanya 

menghasilkan pembalikan nasib bagi pihak pemain kunci 

ini .  

 

Satu minggu sebelum 9/11, misalnya, Negara Israel 

dikecam habis-habisan atas penindasannya oleh seluruh dunia 

yang berkumpul di Konferensi Dunia PBB tentang Rasisme 

yang diadakan di Durban. Isolasi begitu lengkap sehingga Israel 

dan AS keluar dari konferensi. Satu minggu lalu , sesudah  

9/11, yaitu  para korban Arab yang tidak bersalah dari 

penindasan Israel, mereka yang disalahkan atas tindakan 

terorisme dan begitu dibenci oleh media di dunia sehingga 

mereka menggantikan posisi Israel dalam keadaan terisolasi 

total. 

 

Sekali lagi, tepat sebelum serangan London, pemerintah 

Inggris dan AS kehilangan persetujuan publik terutama sebab  

perang zalim di Irak. Kehilangan persetujuan publik yang 

berbahaya itu kini secara dramatis sepenuhnya berbalik. saat , 

pada akhirnya, mereka kehabisan pilihan untuk ‘kepentingan 

terorisme’, mereka lalu  meninggalkan pemimpin mereka 

yang tidak populer dan membawa wajah baru yang segar sebagai 

pemimpin yang akan sangat menggairahkan semangat warganya 

sehingga mereka akan melupakan masa lalu. 

 

❖ EMPAT JENIS ORANG YANG BERBEDA 

 

Syekh yang terhormat dan tokoh spiritual Islam awal, Syekh 

Abdul Qadir Al-Jilani (rahimahullah), pernah menggambarkan 

umat manusia terdiri dari empat jenis. 

 

258 

 

Pertama yaitu  mereka yang tidak memiliki Allah 

Subhanahu wa Ta’ala baik di lidah maupun di hati mereka. Tatanan 

dunia Barat yang tidak bertuhan dan sekuler saat ini yang 

sebagian besar telah menganut materialisme yaitu  orang-orang 

seperti itu. Mereka yaitu  orang-orang yang, meskipun 

memiliki kecerdasan dan keahlian, memiliki status yang setara 

dengan “binatang ternak”. Syekh menyarankan, selain mengajak 

ke jalan hidup religius, agar orang-orang yang beriman kepada 

Allah Subhanahu wa Ta’ala harus menjauhi orang-orang seperti itu. 

 

Kedua yaitu  mereka yang memiliki Allah Subhanahu wa 

Ta’ala di lidah mereka tetapi tidak di hati mereka. Mereka yaitu  

orang terburuk dan paling berbahaya. Dan mereka 

mengakibatkan bau busuk yang menyelimuti orang-orang yang 

menemani mereka. Oleh sebab  itu, orang-orang beriman harus 

menghindari orang-orang seperti itu sebagaimana mereka 

menghindari wabah. Namun inilah orang-orang yang saat ini 

menjadi pemimpin di negeri-negeri dan organisasi Muslim 

bahkan di sini di Trinidad.  

 

Ketiga terdiri dari mereka yang memiliki Allah Subhanahu 

wa Ta’ala di hati mereka tetapi tidak di lidah mereka. Mereka 

yaitu  hamba-hamba dan sahabat-sahabat Allah Subhanahu wa 

Ta’ala yang tulus namun pendiam. Syekh menasihati bahwa 

orang-orang beriman harus menemani mereka dan membantu 

dan mendukung mereka dengan cara apa pun yang 

memungkinkan - sebab  perilaku seperti itu akan mendapatkan 

keridhaan dan berkah Allah Subhanahu wa Ta’ala. 

 

Akhirnya ada orang-orang yang memiliki Allah Subhanahu 

wa Ta’ala baik di lidah maupun di hati mereka. Mereka yaitu  

yang terbaik dari semua orang. Orang yang termasuk dalam 

kategori itulah yang berkedudukan mulia di antara manusia. 

Saya yaitu  murid dari orang seperti itu. Syekh memperingatkan 

259 

 

bahwa tidak seorang pun boleh menghalangi orang seperti itu, 

mempersulitnya atau melawannya. Akibat dari perilaku seperti 

itu akan sangat berbahaya. 

 

Perang Inggris-Amerika ‘melawan’ teror semakin terbukti 

menjadi ‘perang melawan Islam’. Tetapi ini juga merupakan 

perang teror yang dilakukan oleh mereka yang jelas-jelas yaitu  

‘yang terburuk dari semua manusia’, dan pada akhirnya justru 

melepaskan teror terhadap ‘yang terbaik dari semua manusia’, 

para ulama Islam yang mendapat petunjuk dengan benar. Perang 

melawan teror berusaha untuk mengintimidasi dan 

membungkam mereka. Tapi mereka melakukannya dengan tipu 

daya yang luar biasa dengan menggambarkan orang ‘terburuk’ 

menjadi ‘terbaik’, dan orang ‘terbaik’ menjadi ‘terburuk’. 

Mereka yang tertipu, dan yang bergabung dalam perang Inggris-

Amerika untuk menindas yang terbaik dari semua manusia, akan 

mendapat balasan yang sangat mengerikan di hadapan Allah 

Subhanahu wa Ta’ala akibat kesalahan yang fatal itu. 

 

 

 

❖ KATA PENUTUP 

 

Kita harus mengindahkan nasihat Nabi (shala Allahu ‘alaihi wa 

salam) yang menyatakan bahwa kita “harus menunjukkan 

kesabaran, sebab  akan datang kepada kalian zaman yang akan 

diikuti dengan yang lebih buruk sampai kalian bertemu 

Tuhanmu.” (Sahih Bukhari) 

 

Bolehkah saya menyarankan, sebelum saya mengakhiri, 

agar pembaca yang budiman meninjau kembali apa yang saya 

tulis sebagai tanggapan terhadap 9/11, yaitu ‘Sebuah Tanggapan 

Muslim terhadap Serangan di Amerika’. Itu ditulis pada 

Desember 2001 saat  saya sedang tur dakwah di Afrika Selatan 

260 

 

dan Malaysia. Saya percaya bahwa analisis dan komentar dalam 

esai itu telah teruji oleh waktu dan tetap berlaku hingga hari yang 

luar biasa ini di mana kebanyakan orang Amerika sekarang 

menolak penjelasan resmi 9/11. Mari kita berdoa agar Allah 

Yang Maha Pengasih melindungi kita dan saudara-saudara kita, 

para ulama Islam, dari musuh yang berusaha menjelekkan, 

meneror, memberangus dan membungkam kita. Aamiin. Segala 

Puji bagi Allah. Tiada Tuhan selain Dia! 

 

*** 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

261 

 

LAMPIRAN 1 

 

Sasaran Utama Perang Melawan Teror 

yaitu  Al-Qur’an dan  

Nabi Muhammad (shala Allahu ‘alaihi wa salam) 

 

 

 

ari kita bahas tentang gambaran serangan pamungkas 

yang bisa kami perkirakan. 

 

Ini biasanya terjadi pada Al-Qur’an terjemahan dalam 

bahasa Eropa seperti bahasa Inggris. Kesalahan penerjemah 

biasanya disebabkan oleh kurangnya pengetahuan, kesalahan 

metodologi yang digunakan untuk memahami Al-Qur’an, atau 

pendidikan sekuler Barat yang menghalanginya untuk 

memahami ayat-ayat Al-Qur’an tertentu. Musuh-musuh Islam 

berusaha memberi  gambaran yang keliru tentang Quran 

lalu  menggunakan kesalahan ini  untuk mendapatkan 

keuntungan dalam perang propaganda mereka terhadap Islam. 

Berikut ini yaitu  contohnya. 

 

Terjemahan Al-Qur’an dalam bahasa Inggris yang paling 

banyak dibaca, yaitu karya Abdullah Yusuf Ali yang 

berpendidikan Universitas Cambridge, memberi  terjemahan 

berikut untuk ayat k-51 dalam Surah Al-Maidah (Surat ke-5):  

 

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu 

menjadikan orang Yahudi dan Nasrani sebagai teman dan 

pelindung(mu): Mereka satu sama lain menjadi teman dan 

saling melindungi. Barangsiapa di antara kamu yang 

menjadikan mereka teman setia, maka sesungguhnya dia 

262 

 

termasuk golongan mereka. Sungguh, Allah tidak memberi 

petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” 

 

Penerjemah lalu  memberi tafsir sebagai berikut: 

 

“Artinya, jangan mencari mereka untuk bantuan dan 

keamanan. Mereka lebih cenderung bergabung melawan 

Anda dibandingkan  membantu Anda. Dan ini terjadi lebih 

dari sekali dalam masa hidup sang Rasul, dan pada masa 

sesudahnya pun terjadi lagi dan lagi. Barangsiapa 

bergaul dan berbagi nasihat dengan mereka maka ia 

harus dikenali sebagai mereka. Pada akhirnya ia akan 

mengalami kerugian ke mana pun roda keberuntungan 

berputar." 

 

Muhammad Asad, penerjemah Al-Qur’an Muslim Eropa 

yang sangat dihormati dan cendekiawan Islam terkemuka, 

menerjemahkan ayat yang sama sebagai berikut: 

 

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu 

menjadikan orang Yahudi dan Nasrani sebagai sekutu(mu): 

mereka menjadi sekutu bagi satu sama lain – maka 

barangsiapa di antara kamu yang menjadikan mereka sebagai 

sekutu, sesungguhnya dia termasuk golongan mereka. 

Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang 

yang zalim.” 

 

Asad memilih untuk menerjemahkan kata Arab ‘auliya’ 

sebagai ‘sekutu’ dibandingkan  ‘teman dan pelindung’, dan 

melanjutkan dengan menunjukkan dalam tafsirnya tentang ayat 

ini bahwa persekutuan dengan non-Muslim sama saja dengan 

“meniru cara hidup mereka” dan dengan seperti itu akan 

mengakibatkan “kehilangan identitas moral” orang beriman. 

Kebingungan semakin diperparah saat  dia melanjutkan 

dengan menyatakan: “Namun, seperti yang telah dibuat sangat 

263 

 

jelas dalam 60: 7-9 (dan tersirat dalam ayat 57 surah ini) 

larangan ‘persekutuan moral’ dengan non-Muslim ini bukan 

merupakan perintah terhadap hubungan persahabatan yang 

normal dengan mereka yang cenderung bersikap baik terhadap 

Muslim. Perlu diingat bahwa istilah ‘auliya’ memiliki beberapa 

arti: ‘sekutu’, ‘teman’, ‘penolong’, ‘pelindung’, dll. Pilihan 

istilah tertentu - dan terkadang kombinasi dua istilah - selalu 

bergantung pada konteksnya.” 

 

Bahkan ayat ini  mengakui semua kemungkinan arti 

kata ‘auliya’ dan bukan, seperti yang diinginkan Asad, hanya 

‘persekutuan’. Oleh sebab  itu, Al-Qur’an melarang Muslim 

dari berhubungan dengan Yahudi dan Kristen yang dimaksud 

untuk ‘persahabatan’, ‘bantuan’, ‘perlindungan’, dan 

‘persekutuan’. 

 

Kedua terjemahan dari ayat yang dikutip di atas sangat 

cacat. Teks Arab asli dari ayat ini  tidak menyatakan: 

“Mereka satu sama lain menjadi teman dan saling melindungi” 

(Yusuf Ali), atau “mereka menjadi sekutu bagi satu sama lain” 

(Asad). Ayat ini  sebenarnya menyatakan bahwa “hanya 

jika kaum Kristen dan Yahudi menjadi teman dan sekutu bagi 

satu sama lain maka Muslim dilarang menjaga hubungan 

persahabatan atau menjadi sekutu dengan persekutuan Kristen 

dan Yahudi ini  (tidak semua Kristen dan semua Yahudi)”. 

Makna ini bahkan luput dari para penafsir klasik Al-Qur’an yang 

berpendapat, sangat disayangkan, bahwa ‘sebagian’ orang 

Kristen berteman dengan orang Kristen ‘lainnya’, dan 

‘sebagian’ orang Yahudi dengan orang Yahudi ‘lainnya’, dan 

ini, agaknya, menjelaskan larangan Al-Qur’an dari persahabatan 

dengan mereka. 

 

Ayat ini  sangat jelas dengan identifikasi golongan 

Kristen dan Yahudi yang dimaksud secara khusus, yaitu (hanya) 

264 

 

golongan Kristen dan Yahudi yang menjadi ‘sahabat’, 

‘pelindung’, ‘penolong’, dan ‘sekutu’ bagi satu sama lain -- 

tidak semua orang Kristen dan tidak semua orang Yahudi! Kini 

sebab  kaum Kristen dan Yahudi tidak pernah ‘berteman’ satu 

sama lain, maka ini yaitu  pernyataan yang luar biasa, benar-

benar wahyu ilahi, yang memperkirakan masa depan saat  

sebagian dari kaum Kristen (yakni Kristen Eropa) dan sebagian 

dari kaum Yahudi (yakni Yahudi Eropa) akan menjadi teman, 

penolong, sekutu, dan pelindung bagi satu sama lain. 

 

Pada saat diturunkannya Al-Qur’an, dan selama lebih dari 

seribu tahun sesudah nya, kaum Kristen dan Yahudi begitu terikat 

dalam antagonisme timbal balik dan persaingan yang sengit 

sehingga tidak ada tanda-tanda bahwa suatu hari mereka bisa 

menjadi teman dan sekutu. Lagi pula, Injil itu sendiri telah 

mencatat peran eksklusif kaum Yahudi dalam tuntutan 

penyaliban Kristus, dan fakta bahwa pemerintah Romawi telah 

menentangnya: 

 

Pilatus keluar lagi dan berkata kepada mereka: “Lihatlah, aku 

membawa Dia ke luar kepada kamu, supaya kamu tahu, 

bahwa aku tidak mendapati kesalahan apapun pada-Nya. 

 

Lalu Yesus keluar, bermahkota duri dan berjubah ungu. Maka 

kata Pilatus kepada mereka: “Lihatlah manusia itu!” 

 

saat  imam-imam kepala dan penjaga-penjaga itu melihat 

Dia, berteriaklah mereka: “Salibkan Dia, salibkan Dia!” Kata 

Pilatus kepada mereka: “Ambil Dia dan salibkan Dia;   sebab 

aku tidak mendapati kesalahan apapun pada-Nya.” 

 

Jawab orang-orang Yahudi itu kepadanya: “Kami mempunyai 

hukum dan menurut hukum itu Ia harus mati, sebab Ia 

menganggap diri-Nya sebagai Anak Allah.” 

 

(Yohanes, 19: 4-7) 

265 

 

 

Jadi Kekristenan secara konsisten, dan cukup tepat, 

menyalahkan kaum Yahudi atas ‘penyaliban’ Yesus, dan itu 

menciptakan permusuhan antara dua umat beragama.  

 

Hanya pada zaman modern saat  Kristen Eropa diserang 

dan Eropa diubah menjadi warga  sekuler, dunia 

menyaksikan kebenaran wahyu ilahi yang menakjubkan dalam 

ayat Al-Qur’an ini. Kristen Eropa dan Yahudi Eropa bergabung 

bersama dalam aliansi jahat yang kejam untuk menaklukkan dan 

menguasai dunia, dan dalam prosesnya berperang melawan 

Islam, dan semua ini demi menyerahkan kekuasaan dunia 

kepada Negara Yahudi Eropa Israel palsu - sebuah negara yang 

mereka bentuk sendiri, dan lalu  membujuk kaum Yahudi 

oriental (yaitu kaum Yahudi Bani Israel yang merupakan kaum 

Yahudi asli) untuk menerimanya. 

 

Sangat jelas bahwa akan ada kontradiksi yang nyata dengan 

Al-Qur’an itu sendiri, serta dengan sunah Nabi (shala Allahu ‘alaihi 

wa salam) yang diberkahi, jika kita menerima salah satu dari dua 

terjemahan ayat yang dikutip di atas. Hal ini akan terjadi 

disebab kan oleh hal-hal berikut: 

 

▪ Al-Qur’an secara khusus mengizinkan pernikahan seorang 

pria Muslim dengan seorang wanita Kristen atau Yahudi 

(Al-Qur’an Surat Al-Maidah, 5: 6). Dalam pernikahan 

seperti itu, suami Muslim diwajibkan untuk menghormati 

sepenuhnya keyakinan agama istrinya dan memberi  

kebebasan kepadanya untuk menjalankan agamanya; 

 

▪ Al-Qur’an juga mengizinkan umat Islam untuk memakan 

makanan Kristen dan Yahudi dan membalas dengan 

mengizinkan mereka memakan makanan Muslim (Al-

Qur’an Surat Al-Maidah, 5: 6); 

266 

 

 

▪ Nabi Muhammad (shala Allahu ‘alaihi wa salam) sendiri 

menasihati pengikutnya yang paling lemah, yang sedang 

dianiaya dengan kejam oleh orang-orang Arab jahiliyah, 

supaya melarikan diri ke Abyssinia Kristen dan meminta 

keamanan dan perlindungan di sana; 

 

▪ Nabi Muhammad (shala Allahu ‘alaihi wa salam) sendiri 

mengadakan aliansi politik dan konstitusional dengan kaum 

Yahudi di Madinah untuk mewujudkan negara kota 

Madinah; 

 

▪ Akhirnya Al-Qur’an secara spesifik menyatakan bahwa 

tidak ada larangan bagi umat Islam yang mencegah mereka 

dari menjaga hubungan persahabatan dengan orang-orang 

yang tidak memerangi Islam dan tidak menindas umat Islam 

dengan mengusir mereka dari rumah dan wilayah mereka di 

mana mereka tinggal (Al-Qur’an Surat Al-Mumtahanah, 

60: 8).  

 

Maka ayat Al-Qur'an (5:51) tidak melarang umat Islam 

untuk menjaga hubungan persahabatan dengan semua orang 

Kristen dan Yahudi. Melainkan melarang persahabatan, dan 

tentu saja demikian, dengan golongan sekutu Kristen dan 

Yahudi yang (atau yang memberi  bantuan dalam) berperang 

melawan Islam dan mengusir umat Muslim dari rumah mereka 

dan dari wilayah di mana mereka tinggal.  

 

Apa yang dilakukan terjemahan yang cacat dari ayat ini 

yaitu  untuk menghalangi perkembangan ikatan persaudaraan 

dan saling mendukung di antara kaum Kristen dan Muslim pada 

khususnya. Al-Qur’an cukup jelas memperkirakan saat kaum 

Yahudi akan menjadi kaum yang paling memusuhi Islam. Pada 

267 

 

saat itu, menurut Al-Qur’an, akan ada orang-orang Kristen yang 

akan menjadi temanmu: 

 

“Pasti akan kamu dapati orang yang paling keras 

permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman (kepada 

Al-Qur’an ini), yaitu orang-orang Yahudi dan orang-orang 

musyrik (yaitu kaum penyembah berhala). Dan pasti akan 

kamu dapati orang yang paling dekat persahabatannya dengan 

orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata: 

‘Sesungguhnya kami yaitu  orang Kristen’: yang demikian 

itu sebab  di antara mereka terdapat para pendeta dan para 

rahib, (juga) sebab  mereka tidak menyombongkan diri.”  

 

(Al-Qur’an Surat Al-Maidah, 5: 82) 

 

Sekali lagi, hal di atas bukan merupakan dakwaan bagi 

semua orang Yahudi. Melainkan berlaku untuk orang-orang 

Yahudi yang berperang melawan Islam dan yang mengusir 

Muslim dari rumah mereka (seperti yang terjadi di Tanah Suci 

Palestina).  

 

Ada banyak ayat Al-Qur’an seperti yang dikutip di atas 

yang diterjemahkan secara keliru dan tidak memadai. Akibatnya 

musuh Islam merasa nyaman untuk mengeksploitasi terjemahan 

ini  untuk keuntungan pribadi. Contoh penting lain dari 

jenis serangan yang dapat kita perkirakan terhadap pribadi Nabi 

Muhammad (shala Allahu ‘alaihi wa salam) sendiri sebagai klimaks 

perang terhadap Islam yaitu  masalah pernikahannya dengan 

Aisya (radhiyallahu ‘anha). Hadits palsu tentang hal ini telah 

menyusup ke dalam kumpulan Hadits yang paling dapat 

diandalkan, yaitu Sahih Imam Bukhari. Musuh-musuh licik, 

yang mendapat petunjuk dari dalang kejahatan itu sendiri, yakni 

Dajjal Al-Masih Palsu, sudah menggunakan Hadits palsu untuk 

memerangi Islam. Ada hadits dalam Sahih Bukhari yang 

menyatakan bahwa Nabi Muhammad (shala Allahu ‘alaihi wa salam) 

268 

 

menikahi Aisya (radhiyallahu ‘anha) saat  dia berusia enam tahun 

dan menyempurnakan pernikahan saat  dia berusia sembilan 

tahun. Kami berlindung kepada Allah Yang Maha Tinggi dari 

kepalsuan seperti itu. 

 

Faktanya yaitu  bahwa tidak perlu ada upacara pernikahan 

sebab  Allah sendiri yang memilihnya sebagai istri bagi Nabi: 

 

Diriwayatkan oleh Aisha: Rasulullah bersabda (kepadaku), 

“Engkau telah ditunjukkan kepadaku dua kali dalam 

mimpi(ku). Seorang pria menggendongmu dengan kain sutra 

dan berkata kepadaku, ‘Ini istrimu’. Aku pun menyingkap 

kainnya; dan sesungguhnya, itu yaitu  kamu. Kataku pada 

diriku sendiri, ‘Jika mimpi ini dari Allah, maka Dia akan 

mewujudkannya.'” 

 

(Sahih Bukhari) 

 

Dengan demikian keliru untuk mengatakan bahwa Nabi 

(shala Allahu ‘alaihi wa salam) yang mengambil keputusan untuk 

menikahinya saat  dia berusia enam tahun. Dia tidak 

melakukannya. Kedua, akad nikah tidak boleh dilakukan pada 

usia enam tahun sebab  kontrak pernikahan dengan gadis 

berusia enam tahun tidak sah. Mengapa demikian? Hal ini terjadi 

sebab  seorang wanita (gadis) pada khususnya (dan juga wanita 

lain pada umumnya) tidak dapat dinikahkan di luar kehendaknya 

dan dia tidak dapat memberi  persetujuan dengan usia yang 

tidak dapat diterima secara hukum. Bahkan jika ada argumen 

bahwa pernikahan dapat dikontrak dengan seorang gadis berusia 

enam tahun tetapi dengan ketentuan bahwa dia memiliki pilihan 

untuk mengkonfirmasi atau menolak pernikahan saat  dia 

mencapai usia baligh, tanggapan kami yaitu  kontrak seperti itu 

tidak dapat digambarkan sebagai pernikahan. Melainkan 

merupakan tawaran atau lamaran pernikahan yang hanya dapat 

diterima pada saat gadis itu telah mencapai usia baligh. 

269 

 

 

sesudah  berita dikomunikasikan dalam mimpi bahwa Allah 

Subhanahu wa Ta’ala  telah memilihnya sebagai istri Nabi (shala 

Allahu ‘alaihi wa salam), dia tinggal bersama orang tuanya sampai 

dia mencapai usia baligh. Beberapa waktu lalu  dia dibawa 

untuk tinggal bersama Nabi (shala Allahu ‘alaihi wa salam) sebagai 

istrinya dan pada saat itulah pernikahan itu dilaksanakan. Sama 

sekali tidak ada keberatan atas pelaksanaan pernikahan 

semacam itu di pihak orang-orang beriman yang menyembah 

Tuhan Yang Maha Esa sebab  Dia, Allah sendiri, menunggu 

sampai Maryam mencapai usia itu, yaitu usia baligh, dan 

lalu  beberapa saat sesudah  itu Dia menjadikannya 

mengalami konsepsi yang sempurna. 

 

Kini kita hanya perlu menunjukkan bahwa gadis-gadis di 

Arab tidak pernah mencapai pubertas dalam keadaan normal 

pada usia sembilan tahun, dan tidak ada bukti yang mendukung 

pandangan bahwa kasus ini (ummul mukminin ‘ibu yang 

diberkati dari orang-orang beriman’) merupakan kasus baligh 

usia dini yang abnormal. Maka ini cukup untuk membatalkan, 

atau, setidaknya, menimbulkan keraguan besar pada kesahihan 

Hadits ini . 

 

*** 

 

 

 

 

 

 

 

 

270 

 

ESAI 17 

 

Islam Menolak Doktrin Sesat  

 Tuhan ‘Bapa’ 

 

 

 

alam pesan Natal dan Tahun Baru yang diterbitkan di 

‘Trinidad Guardian’ (25 Desember 2005) kepala ASJA 

(singkatan untuk organisasi Muslim di Trinidad and Tobago) 

menyatakan: 

 

“Sekali lagi, saat kita mendekati akhir tahun dan peristiwa 

besar Natal, kita bergabung dengan seluruh warga  

dan khususnya saudara dan saudari kita dari agama 

Kristen dalam merayakan musim yang menggembirakan 

ini. Tentu saja, komunitas Muslim mengakui kepercayaan 

dan praktik umum yang kita miliki bersama dan yang 

merupakan perwujudan dari masing-masing agama yang 

diwakili di negara yang diberkahi ini dan berasal dari 

doktrin sentral tentang kebapaan Tuhan dan persaudaraan 

universal umat manusia.” 

 

Meski beberapa waktu telah berlalu sejak pernyataan aneh 

ini dipublikasi, pimpinan ASJA tampaknya tidak berusaha 

menarik atau mengubahnya dengan cara apa pun. Juga belum 

ada tanggapan sejauh ini dari banyak ulama Islam di negeri ini, 

atau dari para pemimpin komunitas Muslim. Ini mungkin terjadi 

sebab  banyak orang, dengan sangat bijaksana, tidak lagi 

membaca surat kabar harian. Tapi itu pun bisa saja sebagai hasil 

dari keengganan atau ketidakmampuan di pihak mereka dalam 

271 

 

menyadari sesuatu yang sangat salah dan bahaya menyesatkan 

dalam pesan itu lalu  menyampaikan tanggapan. 

 

Namun kami memilih untuk menanggapinya, dengan 

mengarahkan perhatian pada tanda-tanda Hari Akhir seperti 

yang dinubuwahkan oleh Nabi Muhammad (shala Allahu ‘alaihi wa 

salam), yakni beliau menyatakan bahwa “ilmu akan diambil” dan 

bahwa “anggota paling buruk dari suatu suku akan menjadi 

pemimpinnya”. 

 

Kita hidup hari ini pada zaman ketidaktahuan yang meluas 

dan kesesatan yang mengkhawatirkan sehingga uang kini 

dipinjamkan dengan bunga (dengan menyamarkan transaksi ini 

sebagai penjualan) di kompleks Masjid itu sendiri di sini di 

pulau Trinidad. Hal ini terus berlangsung tanpa adanya 

tanggapan publik (yang kita ketahui) dari mereka yang 

seharusnya menanggapi. Oleh sebab  itu tidak mengherankan 

bahwa pada zaman ketidaktahuan yang begitu meluas, apa yang 

disebut pemimpin Muslim dari sebuah organisasi Islam secara 

terbuka menyatakan niatnya untuk “bergabung dengan seluruh 

warga  dan khususnya saudara-saudari kita dari agama Kristen 

dalam merayakan musim gembira ini ... yaitu peristiwa besar Natal”. 

Juga tidak mengherankan bahwa deklarasi ini   melangkah 

lebih jauh untuk membuat deklarasi yang benar-benar sesat dan 

salah arah yang berbahaya bahwa Islam memiliki sesuatu yang 

disebut sebagai “doktrin sentral tentang kebapaan Tuhan”. 

 

Tentu saja Islam menuntut umat Islam agar mereka 

menghormati agama Kristen; dan Islam juga mengizinkan umat 

Islam untuk menjalin hubungan persaudaraan yang damai, 

persahabatan dan saling menghormati dengan orang Kristen 

serta dengan non-Muslim lainnya (dengan syarat bahwa mereka 

tidak memerangi Islam, dan tidak mendukung mereka yang 

melakukannya). Tetapi tentu bukanlah Sunnah Nabi 

Muhammad (shala Allahu ‘alaihi wa salam) untuk bergabung dengan 

272 

 

orang-orang Kristen dalam perayaan Natal, atau dengan orang-

orang Yahudi dalam perayaan Hanukkah, atau dengan orang-

orang Hindu dalam perayaan Divali, atau dengan dunia tak 

bertuhan dalam perayaan Halloween, dll. 

 

Jika pemimpin ASJA ingin bergabung dengan umat Kristen 

dalam merayakan Natal, dan jika kita tidak dapat membujuknya 

agar berhenti, maka setidaknya kita harus berusaha 

mengarahkan anggota ASJA pada Sunnah Nabi (shala Allahu 

‘alaihi wa salam) yang diberkahi, dan itulah tujuan utama 

tanggapan kami ini. 

 

Pernyataan ASJA selanjutnya menggambarkan Allah 

Subhanahu wa Ta’ala sebagai “bapa”. Penggambaran tentang 

Tuhan Yang Maha Esa seperti itu dalam Islam merupakan 

kebatilan yang nyata dan tindakan Syirik dan itu yaitu  satu 

dosa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala nyatakan bahwa Dia tidak 

akan mengampuni (jika seseorang mati tanpa bertobat dari dosa 

seperti itu). Penulis telah berulang kali menunjukkan kepada 

umat Islam bahwa pernyataan mendasar dari Organisasi Antar-

Agama Trinidad dan Tobago yaitu kepercayaan pada kebapaan 

Tuhan dan persaudaraan universal manusia, merupakan 

perbuatan Syirik sebab  Allah Subhanahu wa Ta’ala bukanlah 

“bapa”! 

 

Penulis kini menganggap sebagai kewajibannya kepada 

para anggota ASJA, yang merupakan saudara-saudara terkasih 

dalam Islam, untuk menulis pesan dengan tujuan menyarankan 

mereka agar melakukan hal-hal berikut: 

 

▪ Pertama mereka seharusnya secara terbuka segera 

memisahkan diri demi kebaikan mereka sendiri dari 

pernyataan tentang apa yang disebut doktrin sentral Islam 

tentang “kebapaan Tuhan”; dan mereka juga harus dengan 

273 

 

sangat sopan menahan diri untuk tidak bergabung dengan 

pemeluk agama lain dalam perayaan Natal, Hanukkah, 

Diwali, Halloween, dll.; 

 

▪ Kedua, mereka seharusnya mengambil langkah-langkah 

yang tepat untuk memastikan agar para pemimpin sesat 

mereka mengakui dosa besar yang mereka lakukan saat  

menyatakan “kebapaan Tuhan” sebagai “doktrin sentral 

Islam”. 

 

▪ Jika para anggota ASJA tidak menanggapi dengan tepat 

pernyataan yang dibuat oleh para pemimpin mereka sendiri, 

maka mereka juga, dan bukan hanya para pemimpin 

mereka, akan bertanggung jawab atas perbuatan Syirik itu 

pada Hari Penghakiman. 

 

Sekarang memang benar bahwa Muslim dan Kristen memiliki 

keyakinan umum tertentu seperti: 

 

▪ Nabi ‘Isa (‘alaihi salam) lahir dari seorang ibu perawan; 

 

▪ dia yaitu  Al-Masih sejati; 

 

▪ dia melakukan banyak mukjizat; 

 

▪ Bani Israil dikecam sebab  kejahatan mereka; 

 

▪ mereka bersekongkol untuk menyalib dia; 

 

▪ Allah Subhanahu wa Ta’ala mengangkatnya; 

 

▪ Nabi ‘Isa(‘alaihi salam) suatu hari akan kembali untuk 

memerintah dunia dengan keadilan (dari Yerusalem); 

 

274 

 

▪ dengan kembalinya, dia akan membawakan kemenangan 

kebenaran atas kebatilan dan keadilan atas kezaliman di 

dunia; 

 

▪ dengan kembalinya, dia akan menandai akhir zaman; 

 

▪ kebanyakan umat Muslim serta Kristen percaya bahwa 

kembalinya Al-Masih yang penuh kemenangan kini sudah 

dekat, dll. 

 

Akan tetapi kami hendak segera menyampaikan bahwa 

Islam tentu saja tidak berbagi dengan agama Kristen 

kepercayaan pada apa yang disebut “doktrin sentral tentang 

kebapaan Tuhan”.  

 

Al-Qur’an telah menggambarkan Ibrahim (‘alaihi salam), 

misalnya, sebagai “ayahmu”, tetapi tidak pernah demikian dalam 

menggambarkan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Justru sebaliknya, 

secara khusus dinyatakan dalam Surat Al-Ikhlas bahwa Allah 

bukanlah ‘bapa’: 

 

Katakanlah, “Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah tempat 

meminta segala sesuatu. (Allah) tidak beranak dan tidak pula 

diperanakkan. Dan tidak ada sesuatu yang setara dengan Dia.” 

 

(Al-Qur’an Surat Al-Ikhlas, 112: 1-4) 

 

Kata beranak dan diperanakkan kini hampir tidak pernah 

digunakan dan oleh sebab  itu kami perlu menjelaskan istilah-

istilah ini. saat  seorang wanita dalam proses persalinan, dia 

melahirkan seorang anak. Sedangkan pria yang benihnya ada di 

dalam rahim berarti beranak seorang anak itu. Hanya seorang 

pria yang beranak seorang anak, dan saat  dia melakukannya, 

dia menjadi seorang ayah. Seorang wanita, di sisi lain, tidak 

275 

 

beranak seorang anak; melainkan dia melahirkan seorang anak, 

dan saat  dia melakukannya dia menjadi seorang ibu. 

 

Maka, saat  Al-Qur’an menyatakan Allah Yang Maha 

Tinggi bahwa Dia tidak beranak, artinya yaitu : 

 

▪ Allah tidak memiliki anak; 

 

▪ Allah tidak menjadi bapa bagi seorang anak;  

 

▪ Allah tidak akan pernah menjadi ayah bagi seorang anak, 

dan, sebab nya, itu 

 

▪ Allah bukanlah ayah; 

 

▪ Allah tidak pernah menjadi ayah, dan bahwa 

 

▪ Allah tidak akan pernah menjadi ayah. 

 

Dan saat  Al-Qur’an selanjutnya menyatakan bahwa Dia, 

Allah, tidak diperanakkan, implikasinya yaitu : 

 

▪ Allah tidak dilahirkan sebagai anak dari ayah mana pun, 

 

▪ Allah tidak pernah dilahirkan sebagai anak dari ayah mana 

pun, dan 

 

▪ Allah tidak akan pernah dilahirkan sebagai anak dari ayah 

mana pun. 

 

Al-Qur’an secara khusus menyatakan bahwa Dia (Allah 

Subhanahu wa Ta’ala) tidak beranak, juga tidak dilahirkan sebagai 

anak dari ayah mana pun, dan hal itu dilakukan untuk 

mengungkap kebatilan dalam kepercayaan (Kristen) tentang 

276 

 

‘kebapaan Tuhan’. Kebanyakan orang Kristen percaya bahwa 

Tuhan, sang ayah, beranak seorang anak laki-laki dan bahwa 

‘Yesus atau Nabi ‘Isa (‘alaihi salam) yaitu  satu-satunya anak 

yang diperanakkan dari ayah itu’. Al-Qur’an menanggapi 

keyakinan batil seperti itu dengan bahasa yang sangat kasar: 

 

“Mereka sama sekali tidak mempunyai pengetahuan (yang 

tepat) tentang Dia (saat  mereka menyatakan hal seperti itu 

tentang Allah Subhanahu wa Ta’ala), begitu pula nenek 

moyang mereka. Alangkah jeleknya kata-kata yang keluar 

dari mulut mereka; mereka hanya mengatakan (suatu) 

kebohongan belaka!” 

 

(Al-Qur’an Surat Al-Kahfi, 18: 5) 

 

Tidak seorang pun memiliki kebebasan, tidak peduli 

seberapa baik niatnya, untuk menyebut Allah Subhanahu wa Ta’ala 

dengan nama dan sifat batil seperti ‘bapa’ yang mereka ciptakan 

sendiri. Sungguh itu yaitu  dosa yang sangat berat. Allah 

Subhanahu wa Ta’ala yang telah menyampaikan semua nama-

nama-Nya yang indah (Al-Asma ul-Husna) dalam Al-Qur’an, 

dan ‘bapa’ jelas bukan salah satu dari nama-nama itu, dan tidak 

akan pernah menjadi salah satu dari nama-nama itu. Allah 

Subhanahu wa Ta’ala bukanlah bapa, dan Dia bahkan tidak dapat 

dibandingkan dengan bapa, sebab  Dia tidak ada bandingannya. 

Memang akal sehat dasar mengungkapkan bahwa Dia tidak bisa 

menjadi bapa sebab , meskipun Dia menciptakan laki-laki dan 

wanita , Dia bukan laki-laki atau wanita . Sementara kata 

‘He’ (Dia) dalam bahasa Inggris berkonotasi maskulinitas atau 

laki-laki, namun Huwa (Dia) dalam bahasa Arab tidak 

demikian! ‘Bulan’, Al-Qamar, misalnya merupakan kata dalam 

jender maskulin (muzakkar) dalam bahasa Arab namun tidak 

pernah dianggap sebagai laki-laki. 

 

277 

 

Kami hanya menggunakan satu referensi dari Al-Qur’an 

untuk mengungkap kebatilan deskripsi Allah Subhanahu wa Ta’ala 

sebagai ‘bapa’. Masih banyak lagi ayat-ayat Al-Qur’an tentang 

hal ini yang dapat dikutip jika kebutuhan itu muncul. Namun 

kami tidak memperkirakan hal itu akan terjadi. Tanggapan ini 

cukup bagi semua orang yang hatinya merindukan bimbingan 

yang benar dan jalan yang lurus (Al-Sirat Al-Mustaqim). 

 

*** 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

278 

 

ESAI 18 

 

Hukuman Gantung –  

Menurut Pandangan Islam 

 

 

untutan hukuman ‘gantung’ bagi para pembunuh yang 

dipidana telah memancing banyak orang untuk merespons 

secara negatif. Argumen dasar yang dikemukakan oleh para 

kritikus yaitu bahwa hukuman mati tidak berfungsi, atau tidak 

lagi berfungsi, sebagai pencegah kejahatan pembunuhan. 

Mereka berargumen bahwa bahkan jika semua terpidana mati 

harus ‘dihukum gantung’, pembunuhan dan pembunuhan lain 

akan tetap berlanjut, dan mungkin akan meningkat meskipun 

adanya hukuman ‘gantung’. sebab  kesan telah dibuat bahwa 

keputusan untuk melanjutkan hukuman gantung yaitu  respons 

politik terhadap pelaku kejahatan yang melarikan diri (termasuk 

pembunuhan), tidak masuk akal untuk menyimpulkan alasan 

keputusan itu, yaitu, bahwa dimulainya kembali hukuman 

gantung akan mencegah calon pembunuh. 

 

Kami menulis dari sudut pandang Islam untuk setuju 

dengan argumen bahwa sementara hukuman ‘gantung’ masih 

dapat mencegah tindakan terorisme, namun tidak menghalangi 

terjadin