Tentang hewan 1

Tentang hewan 1


 



Al-Qur'an, kitab suci yang ber-

isikan ayat-ayat tanzīliyah, 

memiliki  fungsi utama 

sebagai petunjuk bagi seluruh umat 

manusia baik dalam hubungannya 

dengan Tuhan, manusia, maupun 

alam raya. Dengan begitu, yang dipa-

parkan Al-Qur'an tidak hanya masalah-

masalah kepercayaan (akidah), hu-

kum, ataupun pesan-pesan moral, 

namun  juga di dalamnya ada  

petunjuk memahami rahasia-rahasia 

alam raya. Di samping itu, ia juga 

ber-fungsi untuk membuktikan kebe-

naran Nabi Muhammad. Dalam 

beberapa kesempatan, Al-Qur'an 

menantang siapa pun yang mera-

gukannya untuk menyusun dan 

mendatangkan “semacam” Al-Qur'an 

secara keseluruhan (aţ-Ţūr/52: 35), 

atau sepuluh surah yang semacam-

nya (Hūd/11: 13), atau satu surah 

saja (Yūnus/10: 38), atau sesuatu 

yang “seperti”, atau kurang lebih, 

“sama” dengan satu surah darinya 

(al-Baqarah/2: 23). Dari sini muncul 

usaha-usaha untuk memperlihatkan 

berbagai dimensi Al-Qur'an yang 

dapat menaklukkan siapa pun yang 

meragukannya, sehingga kebenaran 

bahwa ia bukan tutur kata manusia 

menjadi tak terbantahkan. Inilah yang 

disebut i‘jāz. sebab  berwujud teks 

bahasa yang baru dapat bermakna 

sesudah  dipahami, usaha-usaha dalam 

memahami dan menemukan raha-

sia Al-Qur'an menjadi bervariasi 

sesuai dengan latar belakang yang 

memahaminya. Setiap orang dapat 

menangkap pesan dan kesan yang 

berbeda dari lainnya. Seorang pakar 

bahasa akan memiliki  kesan yang 

berbeda dengan yang ditangkap oleh 

seorang ilmuwan. 

Berbicara tentang Al-Qur'an dan ilmu 

pengetahuan, kita sering dihadapkan 

pada pertanyaan klasik: adakah kese-

suaian antara keduanya atau sebalik-

nya, bertentangan? Untuk menjawab 

pertanyaan ini ada baiknya dicermati 

bersama ungkapan seorang ilmuwan 

modern, Einstein, berikut, “Tiada 

ketenangan dan keindahan yang 

dapat dirasakan hati melebihi saat-

saat saat  memerhatikan keindahan 

rahasia alam raya. Sekalipun rahasia itu 

tidak terungkap, namun  di balik itu ada 

rahasia yang dirasa lebih indah lagi, 

melebihi segalanya, dan jauh di atas 

bayang-bayang akal kita. Menemukan 

rahasia dan merasakan keindahan ini 

tidak lain yaitu  esensi dari bentuk 

penghambaan.”

Dari kutipan ini,  agaknya 

Einstein ingin menunjukkan bahwa 

ilmu yang sejati yaitu  yang dapat 

mengantarkan kepada kepuasan dan 

kebahagiaan jiwa dengan bertemu 

dan merasakan kehadiran Sang 

Pencipta melalui wujud alam raya. 

Memang, dengan mengamati sejarah 

ilmu dan agama, ditemukan beberapa 

kesesuaian antara keduanya, antara 

lain dari segi tujuan, sumber, dan cara 

mencapai tujuan ini . Bahkan, 

keduanya telah mulai beriringan 

sejak penciptaan manusia pertama. 

Beberapa studi menunjukkan bahwa 

hakikat keberagamaan muncul dalam 

jiwa manusia sejak ia mulai bertanya 

tentang hakikat penciptaan (al-

Baqarah/2: 30-38).1

Lantas mengapa sejarah agama 

dan ilmu pengetahuan diwarnai dengan 

pertentangan? Diakui, di samping 

memiliki kesamaan, agama dan ilmu 

pengetahuan juga memiliki  objek 

dan wilayah yang berbeda. Agama 

(Al-Qur'an) mengajarkan bahwa selain 

alam materi (fisik) yang menuntut 

manusia melakukan eksperimen, objek 

ilmu juga mencakup realitas lain di luar 

jangkauan panca indera (metafisik) 

yang tidak dapat diobservasi dan 

diuji coba. Allah berfirman, “Maka 

Aku bersumpah demi apa yang dapat 

kamu lihat dan demi apa yang tidak 

kamu lihat.” (al-Hāqqah/69: 38). Un-

tuk yang bersifat empiris, memang 

dibuka ruang untuk menguji dan 

mencoba (al-‘Ankabūt/29: 20). Namun 

demikian, seorang ilmuwan tidak 

diperkenankan mengatasnamakan 

ilmu untuk menolak “apa-apa” yang 

non-empiris (metafisik), sebab di 

wilayah ini Al-Qur'an telah menyatakan 

keterbatasan ilmu manusia (al-Isrā'/17: 

85) sehingga diperlukan keimanan. 

Kerancuan terjadi manakala ilmuwan 

dan agamawan tidak memahami objek 

dan wilayahnya masing-masing.

Kalau saja pertikaian antara 

ilmuwan dan agamawan di Eropa pada 

abad pertengahan (sampai abad ke-18) 

tidak merebak ke dunia Islam, mungkin 

umat Islam tidak akan mengenal per-

tentangan antara agama dan ilmu 

pengetahuan. Perbedaan memang 

tidak seharusnya membawa kepada 

pertentangan dan perpecahan. Kedua-

nya bisa saling membantu untuk 

mencapai tujuan. Bahkan, keilmuan 

yang matang justru akan membawa 

kepada sikap keberagamaan yang 

tinggi (Fāţir/35: 27). 

Sejarah cukup menjadi saksi 

bahwa ahli-ahli falak, kedokteran, 

ilmu pasti dan lain-lain telah mencapai 

hasil yang mengagumkan di masa 

kejayaan Islam. Di saat yang sama 

mereka menjalankan kewajiban 

agama dengan baik, bahkan juga 

ahli di bidang agama. Maka amatlah 

tepat apa yang dikemukakan Maurice 

Bucaille, seorang ilmuwan Perancis 

terkemuka, dalam bukunya Al-Qur'an, 

Bibel, dan Sains Modern, bahwa tidak 

ada satu ayat pun dalam Al-Qur'an yang 

bertentangan dengan perkembangan 

ilmu pengetahuan. Inilah kiranya yang 

memicu  besarnya perhatian para 

sarjana untuk mengetahui lebih jauh 

model penafsiran Al-Qur'an dengan 

pendekatan ilmu pengetahuan. 

B. APA DAN MENGAPA 

TAFSIR ILMI?

Setiap Muslim wajib mempelajari dan 

memahami Al-Qur'an. Seorang Muslim 

diperintah Al-Qur'an untuk tidak ber-

iman secara membabi-buta (taqlīd), 

namun  dengan mempergunakan akal 

pikiran. Al-Qur'an mengajak umat 

manusia untuk terus berdialog de-

ngannya di sepanjang masa. Semua 

kalangan dengan segala keragaman-

nya diundang untuk mencicipi hidang-

annya, hingga wajar jika kesan yang 

diperoleh pun berbeda-beda. Ada yang 

terkesan dengan kisah-kisahnya seperti 

a♪-♫a‘labī dan al-Khāzin; ada yang 

memerhatikan persoalan bahasa dan 

retorikanya seperti az-Zamakhsyarī; 

atau hukum-hukum seperti al-Qurţubī. 

Masing-masing memiliki  kesan 

yang berbeda sesuai kecenderungan 

dan suasana yang melingkupinya. 

saat  gelombang Hellenisme 

masuk ke dunia Islam melalui pener-

jemahan buku-buku ilmiah pada 

masa Dinasti ‘Abbasiyah, khususnya 

pada masa Pemerintahan Khalifah 

al-Makmūn (w. 853 M), muncullah 

kecenderungan menafsirkan Al-Qur'an 


dengan teori-teori ilmu pengetahuan 

atau yang lalu  dikenal sebagi 

tafsir ilmi. Mafātihul-Gaib, karya ar-

Rāzī, dapat dibilang sebagai tafsir yang 

pertama memuat secara panjang-lebar 

penafsiran ilmiah terhadap ayat-ayat 

Al-Qur'an.2

Tafsir ilmi merupakan sebuah 

upaya memahami ayat-ayat Al-Qur'an 

yang mengandung isyarat ilmiah 

dari perspektif ilmu pengetahuan 

modern. Menurut Husain aż-Żahabī, 

tafsir ini membahas istilah-istilah 

ilmu pengetahuan dalam penuturan 

ayat-ayat Al-Qur'an, serta berusaha 

menggali dimensi keilmuan dan 

menyingkap rahasia kemukjizatannya 

terkait informasi-informasi sains yang 

mungkin belum dikenal manusia pada 

masa turunnya sehingga menjadi bukti 

kebenaran bahwa Al-Qur'an bukan 

karangan manusia, namun wahyu 

Sang Pencipta dan Pemilik alam raya. 

Di era modern tafsir ilmi semakin 

populer dan meluas. Fenomena ini 

setidaknya dipengaruhi oleh beberapa 

faktor berikut:

Pertama, pengaruh kemajuan 

teknologi dan ilmu pengetahuan 

2. Sedemikian banyaknya persoalan ilmiah dan 

logika yang disinggung, Ibnu Taimiyah berkata, “Di 

dalam tafsirnya ada  segala sesuatu kecuali 

tafsir”. Sebuah penilaian dari pengikut setia Hanābilah 

(pengikut Ahmad bin Hanbal), terhadap ar-Rāzī yang 

diketahui sangat getol dalam mendebat kelompok 

ini . Berbeda dengan itu, Tājuddīn as-Subkī 

berkomentar, “Di dalamnya ada  segala sesuatu, 

plus tafsir”. Lihat: Fakhruddīn ar-Rāzī, Fathullāh Khalīf, 

h. 13.

Barat (Eropa) terhadap dunia Arab 

dan kawasan Muslim. Terlebih pada 

paruh kedua abad kesembilan belas 

sebagian besar dunia Islam berada di 

bawah kekuasaan Eropa. Hegemoni 

Eropa atas kawasan Arab dan 

Muslim ini hanya dimungkinkan oleh 

superioritas teknologi. Bagi seorang 

Muslim, membaca tafsir Al-Qur'an 

bahwa persenjataan dan teknik-teknik 

asing yang memungkinkan orang-

orang Eropa menguasai umat Islam 

sebenarnya telah disebut dan diramal-

kan di dalam Al-Qur'an, bisa menjadi 

pelipur lara.3 Inilah yang diungkapkan 

M. Quraish Shihab sebagai kompensasi 

perasaan inferiority complex (perasaan 

rendah diri).4 Lebih lanjut Quraish 

menulis, “Tidak dapat diingkari bahwa 

mengingat kejayaan lama merupakan 

obat bius yang dapat meredakan sakit, 

meredakan untuk sementara, namun  

bukan menyembuhkannya.”5 

Kedua, munculnya kesadaran 

untuk membangun rumah baru bagi 

peradaban Islam sesudah  mengalami 

dualisme budaya yang tercermin pada 

sikap dan pemikiran. Dualisme ini 

melahirkan sikap kontradiktif antara 

mengenang kejayaan masa lalu dan 

keinginan memperbaiki diri, dengan 

kekaguman terhadap peradaban 

Barat yang hanya dapat diambil sisi 

materinya saja. Sehingga yang terjadi 

yaitu  budaya di kawasan Muslim 

“berhati Islam, namun  berbaju Barat”. 

Tafsir ilmi pada hakikatnya ingin 

membangun kesatuan budaya melalui 

pola hubungan harmonis antara Al-

Qur'an dan pengetahuan modern yang 

menjadi simbol peradaban Barat.6 Di 

saat yang sama, para penggagas tafsir 

ini ingin menunjukkan pada warga  

dunia bahwa Islam tidak mengenal 

pertentangan antara agama dan ilmu 

pengetahuan seperti yang terjadi di 

Eropa pada Abad Pertengahan yang 

mengakibatkan para ilmuwan menjadi 

korban hasil penemuannya.

Ketiga, perubahan cara pandang 

Muslim modern terhadap ayat-ayat Al-

Qur'an, terutama dengan munculnya 

penemuan-penemuan ilmiah modern 

pada abad ke-20. Memang Al-Qur'an 

mampu berdialog dengan siapa 

pun dan kapan pun. Ungkapannya 

singkat tapi padat, dan membuka 

ragam penafsiran. Misalnya, kata 

lamūsi‘ūn pada Surah az-Zāriyāt/51: 47, 

“Dan langit itu Kami bangun dengan 

kekuasaan (Kami), dan sesungguhnya 

Kami benar-benar meluaskan(nya)”, 

dalam karya-karya tafsir klasik ada 

yang menafsirkannya dengan “me-

luaskan rezeki semua makhluk 

dengan perantara hujan”; ada yang 

mengartikan “berkemampuan mencip-

takan lebih dari itu”; dan ada pula yang 

mengartikan “meluaskan jarak antara 

langit dan bumi”.7 Penafsiran ini didasari 

atas pandangan kasatmata dalam 

suasana yang sangat terbatas dalam 

bidang ilmu pengetahuan. Boleh jadi 

semuanya benar. Seiring ditemukannya 

penemuan ilmiah baru, seorang Muslim 

modern melihat ada tafsiran yang lebih 

jauh dari sekadar yang dikemukakan 

para pendahulu. Dari hasil penelitian 

luar angkasa, para ahli menyimpulkan 

sebuah teori yang dapat dikatakan 

sebagai hakikat ilmiah, yaitu nebula 

yang berada di luar galaksi tempat 

kita tinggal terus menjauh dengan 

kecepatan yang berbeda-beda, bahkan 

benda-benda langit yang ada dalam 

satu galaksi pun saling menjauh satu 

dengan lainnya, dan ini terus berlanjut 

sampai dengan waktu yang ditentukan 

oleh Sang Maha Kuasa.8

Keempat, tumbuhnya kesadaran 

bahwa memahami Al-Qur'an dengan 

pendekatan sains modern bisa menjadi 

sebuah ‘Ilmu Kalam Baru’. Kalau 

dulu ajaran Al-Qur’an diperkenalkan 

dengan pendekatan logika/filsafat se-

hingga menghasilkan ratusan bahkan 

ribuan karya ilmu kalam, sudah 

saatnya pendekatan ilmiah/ saintifik 

menjadi alternatif. Di dalam Al-Qur'an 

ada  kurang lebih 750-1000 

ayat kauniyah, sementara ayat-ayat 

hukum hanya sekitar 250 ayat.9 Lalu 

mengapa kita mewarisi ribuan buku 

fikih, sementara buku-buku ilmiah 

hanya beberapa gelintir saja, padahal 

Tuhan tidak pernah membedakan 

perintah-Nya untuk memahami ayat-

ayat Al-Qur'an. Kalaulah ayat-ayat 

hukum, muamalat, akhlak dan akidah 

merupakan ‘petunjuk’ bagi manusia 

untuk mengenal dan mencontoh 

perilaku Tuhan, bukankah ayat-ayat 

ilmiah juga petunjuk akan keagungan 

dan kekuasaaan Tuhan di alam raya ini? 

C. PRO-KONTRA TAFSIR ILMI

Model tafsir ilmi sudah lama di-

perdebatkan para ulama, mulai dari 

ulama klasik sampai ahli-ahli ke-

islaman di abad modern. Al-Gazālī, 

ar-Rāzī, al-Mursī dan as-Suyūţī dapat 

dikelompokkan sebagai ulama yang 

mendukung tafsir ini. Berseberangan 

dengan mereka, asy-Syāţibī menentang 

keras penafsiran model seperti ini. 

Dalam barisan tokoh-tokoh modern, 

para pendukung tafsir ini seperti, 

Muhammad ‘Abduh, Ţanţāwī Jawharī, 

Hanafī Ahmad berseberangan dengan 

tokoh-tokoh seperti Mahmūd Syaltūt, 

Amīn al-Khūlī, dan ‘Abbās ‘Aqqād.


Mereka yang berkeberatan de-

ngan model tafsir ilmi berargumentasi 

antara lain dengan melihat:

1. Kerapuhan filologisnya

Al-Qur'an diturunkan kepada bangsa 

Arab dalam bahasa ibu mereka, 

sebab nya ia tidak memuat sesuatu 

yang mereka tidak mampu mema-

haminya. Para sahabat tentu lebih 

mengetahui Al-Qur'an dan apa yang 

tercantum di dalamnya, namun  ti-

dak seorang pun di antara mereka 

menyatakan bahwa Al-Qur'an menca-

kup seluruh cabang ilmu pengetahuan.

2. Kerapuhannya secara teologis

Al-Qur'an diturunkan sebagai petun-

juk yang membawa pesan etis dan 

keagamaan; hukum, akhlak, muama-

lat, dan akidah. Ia berkaitan dengan 

pandangan manusia mengenai hidup, 

bukan dengan teori-teori ilmiah. Ia 

buku petunjuk dan bukan buku ilmu 

pengetahuan. Adapun isyarat-isyarat 

ilmiah yang terkandung di dalamnya 

dikemukakan dalam konteks petunjuk, 

bukan menjelaskan teori-teori baru.

3. Kerapuhannya secara logika

Di antara ciri ilmu pengetahuan yaitu  

bahwa ia tidak mengenal kata ‘kekal’. 

Apa yang dikatakan sebagai natural law 

tidak lain hanyalah sekumpulan teori 

dan hipotesis yang sewaktu-waktu bisa 

berubah. Apa yang dianggap salah di 

xxvSambutan dan Kata Pengantar

masa silam, misalnya, boleh jadi diakui 

kebenarannya di abad modern. Ini me-

nunjukkan bahwa produk-produk ilmu 

pengetahuan pada hakikatnya relatif 

dan subjektif. Jika demikian, patutkah 

seseorang menafsirkan yang kekal dan 

absolut dengan sesuatu yang tidak ke-

kal dan relatif? Relakah kita mengubah 

arti ayat-ayat Al-Qur'an sesuai dengan 

perubahan atau teori ilmiah yang tidak 

atau belum mapan itu?10

Ketiga argumentasi di atas ag-

ak-nya yang paling populer dikemuka-

kan untuk menolak tafsir ilmi. Pengant-

tar ini tidak ingin mendiskusikannya 

dengan menghadapkannya kepada 

argumentasi kelompok yang men-

dukung. Kedua belah pihak boleh jadi 

sama benarnya. sebab nya, tidak pro-

duktif jika terus mengkonfrontasi-

kan keduanya. Yang dibutuhkan ada-

lah formula kompromistik untuk lebih 

mengembangkan misi dakwah Islam di 

tengah kemajuan ilmu pengetahuan.

Diakui bahwa ilmu pengetahuan 

itu relatif; yang sekarang benar, bisa 

jadi besok salah. namun , bukankah 

itu ciri dari semua hasil budi daya 

manusia, sehingga di dunia tidak ada 

yang absolut kecuali Tuhan? Ini bisa 

dipahami sebab  hasil pikiran manusia 

yang berupa acquired knowledge (ilmu 

yang dicari) juga memiliki  sifat atau 

ciri akumulatif. Ini berarti, dari masa 

ke masa ilmu akan saling melengkapi, 

sehingga ia akan selalu berubah. Di sini 

manusia diminta untuk selalu berijtihad 

dalam rangka menemukan kebenaran. 

Apa yang telah dilakukan para ahli 

hukum (fuqaha), teologi, dan etika di 

masa silam dalam memahami ayat-

ayat Al-Qur'an merupakan ijtihad baik, 

sama halnya dengan usaha memahami 

isyarat-isyarat ilmiah dengan penemuan 

modern. Yang diperlukan yaitu  kehati-

hatian dan kerendahan hati. Tafsir, apa 

pun bentuknya, hanyalah sebuah upaya 

manusia yang terbatas untuk mema-

hami maksud kalam Tuhan yang tidak 

terbatas. Kekeliruan dalam penafsiran 

sangat mungkin terjadi, dan tidak 

akan mengurangi kesucian Al-Qur'an. 

namun  kekeliruan dapat diminimalisir 

atau dihindari dengan memperhatikan 

kaidah-kaidah yang ditetapkan oleh 

para ulama. 

D. PRINSIP DASAR DALAM 

PENYUSUNAN TAFSIR ILMI

Dalam upaya menjaga kesucian Al-

Qur'an para ulama merumuskan be-

berapa prinsip dasar yang sepatutnya 

diperhatikan dalam menyusun sebuah 

tafsir ilmi, antara lain:11 

11. Poin-poin prinsip ini disimpulkan dari ketetapan 

Lembaga Pengembangan I‘jāz Al-Qur’an dan Sunnah, 

Rābiţah ‘Ālam Islāmī di Mekah dan lembaga serupa di 

Mesir (Lihat wawancara Zaglūl dalam Majalah Tasawuf 

Mesir Edisi Mei 2001 dan al-Kaun wal-I‘jāz al-‘Ilmī fīl-

Qur’ān karya Mansour Hasab an-Nabī, Ketua Lembaga 

I‘jāz Mesir) 


1. Memperhatikan arti dan kaidah-

kaidah kebahasaan. Tidak sepa-

tutnya kata “țayran” dalam 

Surah al-Fīl/105: 3, “Dan Dia 

turunkan kepada mereka Burung 

Ababil” ditafsirkan sebagai 

kuman seperti dikemukakan oleh 

Muhammad ‘Abduh dalam Tafsīr 

Juz ‘Amma-nya. Secara bahasa 

itu tidak dimungkinkan, dan 

maknanya menjadi tidak tepat, 

sebab akan bermakna, “dan Dia 

mengirimkan kepada mereka 

kuman-kuman yang melempari 

mereka dengan batu ...”.

2. Memperhatikan konteks ayat 

yang ditafsirkan, sebab ayat-ay-

at dan surah Al-Qur'an, bahkan 

kata dan kalimatnya, saling ber-

korelasi. Memahami ayat-ayat 

Al-Qur'an harus dilakukan secara 

komprehensif, tidak parsial. 

3. Memperhatikan hasil-hasil pe-

nafsiran dari Rasulullah șalallā-

hu ‘alaihi wa sallam selaku pe-

megang otoritas tertinggi, para 

sahabat, tabiin, dan para ulama 

tafsir, terutama yang menyang-

kut ayat yang akan dipahaminya. 

Selain itu, penting juga mema-

hami ilmu-ilmu Al-Qur'an lainnya 

seperti nāsikh-mansūkh, asbā-

bun-nuzūl, dan sebagainya.

4. Tidak memakai  ayat-ayat 

yang mengandung isyarat ilmiah 

untuk menghukumi benar atau 

salahnya sebuah hasil penemuan 

ilmiah. Al-Qur'an memiliki  

fungsi yang jauh lebih besar dari 

sekadar membenarkan atau me-

nyalahkan teori-teori ilmiah.

5. Memperhatikan kemungkinan 

satu kata atau ungkapan men-

gandung sekian makna, kenda-

tipun kemungkinan makna itu 

sedikit jauh (lemah), seperti di-

kemukakan pakar bahasa Arab, 

Ibnu Jinnī dalam kitab al-Khașā'iș 

(2/488). Al-Gamrawī, seorang 

pakar tafsir ilmiah Al-Qur'an Me-

sir, mengatakan, “Penafsiran Al-

Qur'an hendaknya tidak terpaku 

pada satu makna. Selama ungka-

pan itu mengandung berbagai 

kemungkinan dan dibenarkan 

secara bahasa, maka boleh jadi 

itulah yang dimaksud Tuhan”.12

6. Untuk bisa memahami isya-

rat-isyarat ilmiah hendaknya 

memahami betul segala sesuatu 

yang menyangkut objek bahas-

an ayat, termasuk penemuan-pe-

nemuan ilmiah yang berkaitan 

dengannya. M. Quraish Shihab 

mengatakan, “...sebab-sebab ke-

keliruan dalam memahami atau 

menafsirkan ayat-ayat Al-Qur'an 

antara lain yaitu  kelemahan 

dalam bidang bahasa serta ke-

12. Al-Islām fī ‘Așr al-‘Ilm, h. 294.

xxviiSambutan dan Kata Pengantar

dua tim; syar‘i dan kauni. Tim syar‘i 

bertugas melakukan kajian dalam 

perspektif ilmu-ilmu keislaman dan 

bahasa Arab, sedang tim kauni 

melakukan kajian dalam perspektif 

ilmu pengetahuan. 

Kajian tafsir ilmi tidak dalam 

kerangka menjastifikasi kebenaran 

temuan ilmiah dengan ayat-ayat Al-

Qur'an. Juga tidak untuk memaksa-

kan penafsiran ayat-ayat Al-Qur'an 

hingga seolah-olah ber-kesesuaian 

dengan temuan ilmu pengetahuan. 

Kajian tafsir ilmi be-rangkat dari 

kesadaran bahwa Al-Qur'an bersifat 

mutlak, sedang penafsirannya, baik 

dalam perspektif tafsir maupun ilmu 

pengetahuan, bersifat relatif.

Akhirnya, segala upaya manu-

sia tidak lain hanyalah setitik jalan un-

tuk menemukan kebenaran yang ab-

solut. Untuk itu, segala bentuk kerja 

sama yang baik sangat diperlukan, 

terutama antara ahli-ahli di bidang 

ilmu pengetahuan dan para ahli di 

bidang agama, dalam mewujudkan 

pemahaman Al-Qur'an yang baik.[]



Hubungan antara manusia dan 

hewan telah berjalan sangat 

lama. Demikian erat hubung-

an itu hingga terjadi pemujaan terhadap 

hewan dalam ritual keagamaan.  Hal ini 

terjadi terutama pada warga  pra-

modern.

Pemujaan terhadap hewan oleh 

warga  maupun kepercayaan 

tertentu dimulai oleh beberapa ke-

mungkinan. Penulis kuno, Diodorus, 

menjelaskan bahwa pemujaan ter-

hadap hewan dimulai dari mitos dimana 

saat itu dewa-dewa sedang terancam 

oleh para raksasa. Untuk melindungi 

dirinya para dewa lalu menyamar 

menjadi hewan. warga , secara 

alami lalu  memuja hewan jelma-

an para dewa itu. Pemujaan terus 

berlanjut meski para dewa sudah 

tidak lagi menyembunyikan diri dalam 

rupa hewan. Teori yang lebih modern 

mengatakan bahwa pemujaan hewan 

dimulai dari keingintahuan warga  

secara alami terhadap perikehidupan 

hewan tertentu. Pengamatan yang 

mendalam dan intens menimbulkan 

kekaguman tersendiri terhadap hewan 

tertentu; kekaguman yang berlanjut 

pada pemujaan. Ada pendapat lain 

yang menyatakan bahwa pemujaan 

bermula dari pemilihan nama keluarga. 

Pengambilan nama keluarga dari he-

wan tertentu berubah menjadi keka-

guman terhadap hewan ini , dan 

dari situlah muncul pemujaan.

Pemujaan dan penempatan he-

wan menjadi hewan suci lalu  

Hewan dalam Perspektif Al-Qur'an  &  Sains2

berkait dengan hukum mengenai 

makanan. Umumnya hewan yang di-

anggap suci ini  dilarang untuk 

diburu dan dimakan, atau sebaliknya, 

hewan ini  dianggap tidak bersih 

dan sebab nya harus dijauhi.

Dalam agama Mesir Kuno dikenal 

pemadanan dewa terhadap hewan, 

dimana hewan menjadi suci sebab  

dipadankan dengan dewa tertentu. 

Kucing, misalnya, dikaitkan dengan 

Dewa Bastet, belibis dan kera babon 

dikaitkan dengan Dewa Thoth, buaya 

dengan Dewa Sebek dan Ra, ikan 

dengan Dewa Set, musang dan burung 

dengan Dewa Horus, anjing dan ajak 

dengan Dewa Anubis, ular dan belut 

dengan Dewa Atum, kumbang dengan 

Dewa Khepera, sapi jantan dengan 

Dewa Apis, dan selanjutnya.

Kepercayaan bahwa hewan me-

rupakan bentuk kelahiran kembali di 

dunia bagi mereka yang sudah mati 

mulai ditolak oleh agama-agama 

Ibrahim. Tersebarnya agama Kristen 

dan lalu  Islam secara perlahan 

menghilangkan kepercayaan dan ritual 

penyembahan dan pemujaan terhadap 

objek inderawi, di antaranya hewan.

Beberapa jenis hewan yang 

diburu dapat sekaligus dianggap suci. 

Kesuciannya diberikan kepada individu 

tertentu, atau setiap kali hewan ter-

sebut dibunuh maka akan diberikan 

persembahan untuk arwahnya.  Bebe-

rapa jenis di antaranya yaitu :

1. Beruang; pemujaan terhadap 

beruang banyak dilakukan 

pada masa lalu, misalnya oleh 

warga  di kawasan Skan-

dinavia dan Asia Timur. Temuan 

arkeologi menunjukkan bahwa 

beruang juga sudah dipuja 

manusia Neanderthal pada masa 

pertengahan Masa Paleolithik. 

warga  Ainu, penghuni asli 

kepulauan Jepang, menamai 

beruang dengan “kamui” yang 

berarti dewa.  

2. Ikan Paus; di perairan Jepang 

ikan paus telah diburu manusia 

sejak lama. Di beberapa tempat 

ada kuburan yang didedikasikan 

kepada ikan paus yang telah 

ditangkap dan dikonsumsi di 

masa lalu. Ikan paus juga sangat 

dihormati oleh warga  asli 

Alaska.  

3. Sapi dan kerbau diagungkan 

dan disucikan dalam beberapa 

kepercayaan dan agama, seperti 

Hindu, Zoroaster, Yunani Kuno, 

dan Mesir Kuno.  

4. Domba dan kambing; domba 

dipuja oleh warga  Mesir 

Kuno. Dewa Amun, sebagai 

penguasa Thebes, Mesir, digam-

barkan berkepala domba. Dewa 

Yunani, Silenus, digambarkan 

sebagai satyr, manusia setengah 

Pendahuluan 3

domba. Hal yang hampir sama 

juga diberlakukan untuk kam-

bing. Pada umumnya kambing 

diasosiasikan dengan kemampu-

an seks laki-laki dan ilmu sihir 

hitam. Kepercayaan ini berkem-

bang di kawasan Asia Tengah 

sejak Masa Neolithik atau Masa 

Perunggu.

5. Anjing; pemujaan terhadap 

anjing dilakukan kaum Hindu 

di Nepal dan beberapa bagian 

India. Mereka percaya bahwa 

anjing yaitu  pesuruh Dewa 

Yama, dewa kematian.

6. Kuda; warga  Indo-Eropa 

dan Turki masa lalu memuja kuda. 

Penganut Hindu dan Buddha 

di beberapa bagian India, dan 

beberapa bagian warga  di 

Balkan, juga diketahui memuja 

kuda.

7. Gajah; penganut Buddha dan 

Hindu di berbagai daerah Asia 

memposisikan gajah cukup ting-

gi. warga  Thailand, misal-

nya, percaya bahwa gajah putih 

memiliki nyawa orang yang 

telah meninggal, yang kemung-

kinan yaitu  Buddha sendiri. 

Pengaruh gajah putih sangat 

dirasakan di Kamboja, negara-

negara Indo-China, dan Ethiopia. 

Penelitian juga mensinyalir bah-

wa warga  Sumatra dan 

Kalimantan bagian utara di masa 

lalu juga memuja gajah.

Hewan liar lainnya, seperti kelinci, 

serigala, kucing, kera, burung gagak, 

rajawali, ular, dan ikan, banyak dipuja 

di kalangan warga  di seluruh 

pelosok bumi. Semuanya memiliki  

“tugas” tertentu. Burung, misalnya, 

bertugas membawa berita dan menjadi 

perantara antara alam dunia dan alam 

lain. Burung dari kelompok merpati 

dianggap sebagai dukun pada kisah 

Nabi Nuh. Peran dukun juga dilakukan 

oleh penyu atau labi-labi di China. 

Hewan yaitu  elemen penting dalam 

praktik perdukunan. Peran utamanya 

yaitu  sebagai perantara antara alam 

gaib dan alam nyata.

Pada agama modern, peran 

hewan masih cukup penting, terutama 

dalam agama Buddha, Jain, dan Hindu. 

Sementara itu, pada agama-agama 

monoteisme, seperti Yahudi, Kristen 

dan Islam, hewan banyak dipakai  

sebagai permisalan.

Dalam ajaran Islam hewan ba-

nyak dipakai  sebagai ilustrasi dalam 

mukjizat-mukjizat pada banyak kisah 

dalam Al-Qur'an. Beberapa di antara-

nya yaitu :

• Burung gagak yang dikirimkan 

kepada putra Nabi Adam untuk 

mengajarinya cara menguburkan 

mayat saudaranya.

Hewan dalam Perspektif Al-Qur'an  &  Sains4

• Burung yang dibunuh dan ditem-

patkan bagian-bagian tubuhnya 

oleh Ibrahim di beberapa puncak 

gunung, menjadi contoh kekuasaan 

Allah untuk menghidupkan makh-

luk yang sudah mati.

• Burung gagak milik Bani Israil yang 

diperintahkan Nabi Musa untuk 

mengungkap identitas pembunuh 

misterius.

• Serigala atau anjing hutan yang 

dituduh sebagai pembunuh Nabi 

Yusuf.

• Burung bulbul atau hupu yang 

memberitahu Sulaiman tentang 

Ratu Sheba (Saba').

• Rayap yang memakan tongkat 

Sulaeman dan mengungkap kenya-

taan bahwa Sulaiman telah wafat.

• Keledai milik Uzair yang dimatikan 

Allah selama 100 tahun dan dihi-

dupkan kembali.

• Ikan besar yang menelan Nabi 

Yunus dan mengeluarkannya kem-

bali sebab  dia yaitu  salah se-

orang penyembah Allah.

• Anjing yang tidur bersama Ashabul-

Kahfi selama tiga ratus sembilan 

tahun.

• Semut yang memperingatkan 

teman-temannya akan kedatangan 

Nabi Sulaiman dan pasukannya.

• Gajah pasukan Abrahah yang gagal 

saat diperintahkan untuk meng-

hancurkan Kabah.

• Perbandingan antara jaring laba-

laba dan rumah manusia―dan 

masih banyak lagi.

Hewan selain diposisikan sebagai 

permisalan dan mukjizat, dalam banyak 

ayatnya Al-Qur'an juga menjelaskan 

proses dan perikehidupannya.  

Hubungan manusia dan hewan 

dimulai dengan peringatan. Sebagai 

khalifah, manusia oleh Al-Qur'an da-

lam banyak ayatnya, demikian pula 

hadis Nabi, diperingatkan agar mem-

perlakukan hewan dengan baik. Allah 

menyatakan bahwa hewan yaitu  

umat Allah seperti halnya manusia. 

Bahkan, Allah meminta manusia untuk 

belajar dari perikehidupan hewan; 

belajar mengenai pola organisasi yang 

mengatur kehidupan hewan, cara 

mereka berkomunikasi, sistem yang 

memicu  hewan dapat meng-

hasilkan air susu, dan seterusnya. 

Begitu sadar bahwa hewan yaitu  juga 

makhluk Allah, maka manusia sudah 

sewajarnya harus berbagi sumber 

daya dengan hewan.

Al-Quran menjadikan hewan 

sebagai “guru” bagi manusia. Al-

Qur'an pun mengingatkan manusia 

bahwa hewan juga memiliki nurani, 

dan sebab nya harus diperlakukan 

dengan baik. 

Manusia dengan kemampuannya 

dapat menghindarkan hewan dari 

Pendahuluan 5

penderitaannya, dalam memenuhi 

kebutuhan manusia, atau paling tidak 

mengurangi penderitaan itu. Begi-

tupun dalam hal pemakaian  hewan 

sebagai objek percobaan. Memang, 

tidak ada petunjuk rinci mengenai 

subjek ini, akan namun  banyak ayat 

Al-Qur'an dan hadis yang setidaknya 

memberikan acuan dan rambu-rambu 

secara global.

Tidak seperti pemakaian  hewan 

sebagai objek percobaan, peman-

faatan daging dan bagian tubuh 

hewan lainnya oleh manusia diatur 

dengan rinci dalam Al-Qur'an maupun 

hadis. Semua hal yang berkaitan 

dengannya, misalnya perlakuan dalam 

pemeliharaan hewan, perlakuan dalam 

pengangkutan, hingga cara memotong 

hewan ternak dengan rinci dicatat 

di dua sumber utama syariat Islam 

ini . Tidak lupa, keduanya juga 

mengatur tentang perlakuan terhadap 

hewan dalam kancah olah raga, seperti 

mengadu hewan dengan hewan, atau 

mengadu hewan dengan manusia 

(rodeo, matador, dan sejenisnya). 

Meski aturan itu tidak mendetail, akan 

namun  ia sudah cukup memberikan 

aturan global dalam mengatur peng-

gunaan binatang sebagai objek per-

cobaan dan penelitian.

Buku ini menguraikan sedikit 

dari khazanah ilmu pengetahuan 

tentang hewan. Banyak bagian dari 

kajian ini yang masih perlu diperluas 

dan dipertajam. Penulis memandang 

bahwa apa yang disajikan dalam 

buku ini barulah sekelumit dari ilmu 

pengetahuan tentang hewan yang 

bisa disarikan dari ayat-ayat Al-Qur'an 

mengenai tema ini .  

sebab  Al-Qur'an yaitu  sumber 

ilmu yang berada pada tataran filo-

sofis, bukan pada tingkatan teori 

ilmu pengetahuan, maka Al-Qur'an 

bukanlah sumber langsung teori ilmi-

ah.  Kitab ini tidak pernah berbicara 

secara cukup terperinci, atau bahkan 

sangat teknis, mengenai fenomena 

alam. Ayat-ayat di dalamnya hanya 

memberikan motivasi kepada kita 

untuk mengamati dan memahami 

alam.

Pada akhirnya kami ingin meng-

garisbawahi bahwa tulisan tidak be-

rangkat dari upaya untuk sekadar 

mencocok-cocokkan ayat-ayat Al-

Qur'an dengan ilmu pengetahuan. 

Namun, jika  ternyata buku ini 

terkesan sebaliknya  maka hal itu tidak 

lain akibat ketidakmampuan penulis 

untuk menjelaskan dan menafsirkan 

ayat-ayat Al-Qur'an dengan benar. []



PANDANGAN ISLAM TENTANG HEWAN

Al-Qur'an memberi manusia ke-

kuatan untuk memperlakukan 

hewan dengan baik, untuk 

tidak menyakiti dan merendahkannya. 

Hewan, bersama dengan semua 

ciptaan Allah, dipercaya menyembah 

Allah, walaupun tidak dengan cara 

seperti yang manusia lakukan. Allah 

berfirman,

Secara eksplisit Al-Qur'an mem-

perbolehkan manusia untuk me-

ngonsumsi daging hewan. Walaupun 

banyak umat muslim yang memilih 

menjadi vegetarian, yang hanya makan 

produk tumbuhan, Al-Qur'an tidaklah 

mempersoalkan hal ini . Hewan 

jenis tertentu hanya dapat dimakan 

jika  disembelih dengan cara 

tertentu.  Di sisi yang lain, beberapa 

binatang dan produknya dinyatakan 

oleh Al-Qur'an sebagai barang ha-

ram, misalnya saja daging babi, 

darah, dan daging yang disembelih 

bukan atas nama Allah. Binatang 

pemangsa di darat dan burung 

Tidakkah engkau (Muhammad) tahu bahwa kepada 

Allah-lah bertasbih apa yang di langit dan di bumi, 

dan juga burung yang mengembangkan sayapnya. 

Masing-masing sungguh, telah mengetahui (cara) 

berdoa dan bertasbih. Allah Maha Mengetahui apa 

yang mereka kerjakan. (an-Nūr/24: 41)


dengan paruh yang membengkok 

dan tajam juga diharamkan. Akan 

namun , hewan-hewan laut, meskipun 

bentuk tubuhnya menyerupai hewan 

daratan yang diharamkan, tetap saja 

dihalalkan.  

Di antara hewan yang banyak 

disebutkan di dalam Al-Qur'an yaitu  

jenis-jenis hewan mamalia, burung, 

serangga, reptil, dan amfibi. Di 

kelompok burung ada burung hupu 

atau hud-hud yang berperan sebagai 

peninjau yang membawa balik berita 

mengenai sebuah negeri bernama 

Saba' dalam kisah Nabi Sulaiman. 

Ada juga burung gagak yang Allah 

kirim kepada putra Adam―dipercaya 

bernama Qabil―untuk mengajarinya 

cara menguburkan mayat saudara 

yang dibunuhnya. Ada pula burung 

puyuh (salwā) yang diturunkan Allah 

kepada umat Nabi Musa semasa 

dalam pelarian. Menu ini merupakan 

salah satu hidangan surgawi yang 

dianugerahkan kepada mereka―

menu yang satunya lagi bernama 

manna. Al-Qur'an juga menyebut 

burung-burung yang diutus oleh 

Allah untuk meluluhlantakkan tentara 

bergajah yang hendak menghancurkan 

Kabah. 

Unta juga merupakan hewan 

yang luar biasa. Allah melalui Al-Qur'an 

meminta manusia untuk merenungkan 

bagaimana ia diciptakan. Cara minum 

unta menjadi permisalan para peng-

huni neraka yang meminum air men-

didih dengan rakus. Al-Qur'an juga 

menyebut keledai dalam kisah Uzair 

yang diwaftakan Allah selama seratus 

tahun, dan dihidupkan kembali sete-

lah itu. Kitab ini jug menyebut kuda 

tunggangan yang menjadi salah satu 

perhiasan duniawi yang paling diingin-

kan oleh manusia dalam hidupnya. 

Sapi juga disebut dalam kisah 

tiga nabi, yaitu Ibrahim, Yusuf, dan 

Musa. Disebutkan bahwa Ibrahim 

menghidangkan sapi muda panggang 

untuk menjamu malaikat yang men-

jumpainya. Sapi juga disebut dalam 

mimpi penguasa Mesir yang lalu  

mampu ditakwilkan oleh Yusuf. 

Adapun kambing disebut dalam 

kisah Nabi Daud yang diminta menjadi 

pengadil saat  dua orang  bersaudara 

berselisih perihal kepemilikan hewan 

ini . Sementara itu, babi selalu 

digambarkan sebagai hewan yang 

haram dikonsumsi sekaligus dicela 

sifat-sifatnya. Dalam Al-Qur'an Allah 

melaknat orang-orang yang durhaka 

dengan merubah rupa mereka menjadi 

babi dan kera. Adapun anjing, binatang 

yang dibenci oleh sebagian orang, juga 

banyak disebut di sana, salah satunya 

yaitu  anjing bernama Qiţmīr. 

Ular disebut sebanyak lima 

kali di dalam Al-Qur'an; kesemuanya 

berkaitan dengan kisah penjelmaan 

9Pandangan Islam tentang Hewan

tongkat Nabi Musa menjadi ular saat  

dilempar. Adapun serangga, semut 

misalnya, dimasukkan dalam kisah 

Nabi Sulaiman. Sementara itu ikan 

dikisahkan dalam Al-Qur'an menelan 

Nabi Yunus yang sedang melarikan diri 

dari kaumnya. Semua ini menunjukan 

bahwa hewan yaitu  makhluk Tuhan 

seperti halnya manusia. Bedanya, Allah 

menjadikan mereka tunduk kepada 

manusia dan dapat diambil manfaatnya 

sebagai wujud dari kebesaran dan 

keagungan Allah. Itu semua sebab  

Allah telah menganugerahi manusia 

apa-apa yang berada di langit dan di 

bumi. (al-Gāsyiyah/45: 13)

Meski ada lebih dari 200 ayat 

di dalam Al-Qur'an yang berbicara 

tentang hewan, baik secara umum 

maupun menunjuk secara spesifik jenis 

tertentu, namun kehidupan hewan 

tidak menjadi tema yang mendominasi 

Al-Qur'an. Uraian mengenai hewan 

juga tidak terlalu rinci, kendati 

penduduk asli Jazirah Arab pada 

masa pra-Islam banyak memakai  

hewan sebagai permisalan, misalnya 

ayam jantan yang menggambarkan 

manusia yang ringan tangan kepada 

sesama, kadal yang merepresentasikan 

penghianat, burung puyuh yang me-

wakili orang dungu, dan singa yang 

menggambarkan pemberani.

Al-Qur'an juga menyebut jenis-

jenis hewan dengan ungkapan dābbah, 

bentuk tunggal dari ad-dawāb yang 

berarti makhluk yang melata. Dalam 

Surah al-Ĥajj/22: 18, an-Nūr/24: 45 dan 

Fāţir/35: 28, dijelaskan bahwa apa yang 

ada di langit dan bumi; matahari, bulan, 

bintang, tumbuh-tumbuhan, dan 

binatang, semuanya bersujud kepada 

Allah. Sebagian dari hewan-hewan itu 

berjalan di atas perutnya, sebagian 

lagi berjalan dengan dua kaki, dan 

sebagian lainnya dengan empat kaki. 

Allah menciptakan hewan-hewan itu 

beragam, baik jenis maupun warnanya. 

Ini semua membuktikan kekuasaan 

Allah yang tak terhingga. Dalam Surah 

Hūd/11: 16 Allah menegaskan bahwa 

betapapun hewan-hewan itu amat 

beragam, namun tidak satu pun dari 

mereka yang lepas dari pengawasan 

dan pemeliharaan Allah.

Kesetaraan di antara makhluk, 

terutama antara hewan dan manusia, 

sangat ditekankan Tuhan. Meski pada 

kenyataannya manusia jauh lebih mulia 

daripada hewan, namun di akhirat 

nanti keduanya akan dikumpulkan 

bersama oleh Allah di ujung zaman. 

Apakah dalam posisi sejajar atau tidak, 

kita tidak pernah tahu.  Ayat di bawah 

ini menunjukkan hal yang demikian.

10 Hewan dalam Perspektif Al-Qur'an  &  Sains

Dan tidak ada seekor binatang pun yang ada di 

bumi dan burung-burung yang terbang dengan 

kedua sayapnya, melainkan semuanya merupakan 

umat-umat (juga) seperti kamu. Tidak ada sesuatu 

pun yang Kami luputkan di dalam Kitab, lalu  

kepada Tuhan mereka dikumpulkan. (al-An‘ām/6: 

38)

Kesetaraan banyak dibicarakan 

dalam Al-Qur'an antara manusia di 

satu pihak dan hewan di pihak lain. 

Ayat di atas menjelaskan bahwa 

hewan juga umat Allah, sama dengan 

manusia. Walau mereka memiliki  

ciri, kekhususan, dan sistem kehidupan 

yang berbeda-beda, pada hakikatnya 

mereka sama dengan manusia di 

mata Allah. Manusia diwajibkan untuk 

mengingat hal itu; bahwa mereka 

semua yaitu  ummah. Ayat ini sudah 

sangat jauh melihat ke depan dalam 

implikasi moral dan ekologi di dunia ini.

Meski setara (dalam perlakuan), 

akan namun  hewan itu sendiri secara 

fisis bila dibandingkan manusia 

memang masih kalah mulia. Hewan 

yang hina secara fisi menjadi tamsil 

bagi orang kafir. Perhatikan firman 

Allah berikut!

Dan orang-orang yang kafir menikmati kesenangan 

(dunia) dan mereka makan seperti hewan makan; 

dan (kelak) nerakalah tempat tinggal bagi mereka. 

(Muĥammad/47: 12)

Beberapa ayat Al-Qur'an lainnya 

juga menyinggung perihal hewan; 

tentang bagaimana manusia harus 

memperlakukan hewan, kegunaan 

hewan bagi manusia, perilaku hewan 

yang patut ditiru manusia, dan banyak 

lagi lainnya. 

Membicarakan hubungan kese-

taraan antara manusia dengan hewan, 

Muhammad Fazlur Rahman Anshari 

menulis demikian, “Segala yang di 

muka bumi ini diciptakan untuk kita, 

maka sudah menjadi kewajiban alamiah 

kita untuk menjaga segala sesuatu dari 

kerusakan, memanfaatkannya dengan 

tetap menjaga martabatnya sebagai 

ciptaan Tuhan, dan melestarikannya 

sebisa mungkin. Dengan demikian 

kita mensyukuri nikmat Tuhan dalam 

bentuk perbuatan nyata.” 

Dalam Al-Qur'an banyak disebut-

kan nama-nama hewan, baik sebagai 

tamsil maupun model untuk memberi 

pelajaran dan petunjuk kepada manu-

sia. Peran hewan dalam kehidupan 

manusia sejajar dengan sumber daya 

alam lainnya, seperti air dan tumbuhan, 

dan semuanya merupakan tanda-

tanda keesaan Allah. Allah berfirman,  

Sungguh, Allah akan memasukkan orang-orang 

yang beriman dan mengerjakan kebajikan ke dalam 

surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. 


Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi, 

pergantian malam dan siang, kapal yang berlayar 

di laut dengan (muatan) yang bermanfaat bagi 

manusia, apa yang diturunkan Allah dari langit 

berupa air, lalu dengan itu dihidupkan-Nya bumi 

sesudah  mati (kering), dan Dia tebarkan di dalamnya 

bermacam-macam binatang, dan perkisaran angin 

dan awan yang dikendalikan antara langit dan 

bumi, (semua itu) sungguh, merupakan tanda-

tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang 

mengerti. (al-Baqarah/2: 164)

Ayat di atas menegaskan bahwa 

hewan merupakan salah satu tanda 

keesaan dan kebesaran Allah, dan 

yang memahami hal ini  hanyalah 

manusia yang dapat memikirkannya. 

Ayat ini  juga bisa menjadi 

motivasi bagi manusia untuk meman-

faatkan hewan-hewan untuk kepen-

tingannya, salah satunya melalui 

proses yang dinamakan domestikasi 

hewan, dan juga tumbuhan tentunya. 

Domestikasi yaitu  proses penjinakan 

hewan dan penyesuaian hidup tum-

buhan untuk berbagai keperluan hidup 

manusia.  

Surah an-Naĥl/16: 5 berikut men-

jelaskan beberapa manfaat hewan, 

Dan hewan ternak telah diciptakan-Nya, untuk 

kamu padanya ada (bulu) yang menghangatkan 

dan berbagai manfaat, dan sebagiannya kamu 

makan. Dan kamu memperoleh keindahan 

padanya, saat  kamu membawanya kembali ke 

kandang dan saat  kamu melepaskannya (ke 

tempat penggembalaan). Dan ia mengangkut 

beban-bebanmu ke suatu negeri yang kamu tidak 

sanggup mencapainya, kecuali dengan susah 

payah. Sungguh, Tuhanmu Maha Pengasih, Maha 

Penyayang, dan (Dia telah menciptakan) kuda, 

bagal, dan keledai, untuk kamu tunggangi dan 

(menjadi) perhiasan. Allah menciptakan apa yang 

tidak kamu ketahui. (an-Naĥl/6: 5-8)

Ayat ini menegaskan bahwa 

kulit dan bulu binatang ternak boleh 

dimanfaatkan. Melengkapi kandungan 

ayat ini, Rasulullah melarang peng-

gunaan kulit binatang liar, baik se-

bagai pakaian, penutup lantai, mau-

pun pelana. Dalam sebuah hadis 

disebutkan,

َوَعْن  َهِب  بِالذَّ تٍُّم  َتَ َعْن  َأْو  َخَواتِْيَم  َعْن  ََنَاَنا 

baik hewan secara umum maupun 

satwa peliharaan secara khusus, bagi 

manusia.

12 Hewan dalam Perspektif Al-Qur'an  &  Sains

َوَعْن  ىِّ  اْلَقسِّ َوَعِن  اْلََياثِِر  َوَعِن  ِة  بِاْلِفضَّ ٍب  ُشْ

)رواه  ْيَباِج.  َوالدِّ ِق  َواإِلْسَتْبَ اْلَِرْيِر  ُلْبِس 

البخاري ومسلم عن الباء بن عازب(

Rasulullah melarang kami memakai cincin emas, 

minum dari wadah yang terbuat dari perak, 

memakai  alas pelana yang terbuat dari sutra, 

mengenakan pakaian bercampur sutra yang 

didatangkan dari Qas―sebuah wilayah di Mesir―

mengenakan pakaian dari sutra, sutra kasar dan 

tebal, serta sutra halus. (Riwayat al-Bukhāri dan 

Muslim dari al-Barrā' bin ‘Āzib)

Menurut sebagian ulama, al-

mayāšir yaitu  sejenis karpet berbahan 

sutra yang dahulu biasa diletakkan 

di atas pelana kuda. Sebagian yang 

lain memahaminya sebagai alas di 

atas pelana berbahan kulit binatang 

buas. Jika aturan atau himbauan yang 

dikemukakan Nabi ini ditaati oleh 

semua orang, maka pembunuhan sia-

sia terhadap beberapa jenis binatang 

liar demi meraih keuntungan dari 

kulitnya semata niscaya tidak terjadi.

Umat Islam diperbolehkan me-

ngonsumsi daging binatang yang 

dihalalkan. Akan namun  Rasulullah juga 

mensyaratkan sesuatu dalam proses 

perolehannya, yakni dengan disem-

belih. Beliau bersabda, 

َعَلْيِه  اهللُ  َصلَّ  اهللِ  َرُسْوِل  َعْن  َحِفْظُتُهَم  ثِنَْتاِن 

ُكلِّ  َعَل  اإِلْحَساَن  َكَتَب  اهللَ  إِنَّ   : َقاَل   ، َم  َوَسلَّ

َذَبْحُتْم  اْلِقْتَلَة ، َوإَِذا  َفَأْحِسنُوا  َقَتْلُتْم  َفإَِذا  ٍء ،  َشْ

ْح  ْبَح ، َوْلُيِحدَّ َأَحُدُكْم َشْفَرَتُه َوْلُيِ َفَأْحِسنُوا الذَّ

َذبِْيَحَتُه . )رواه مسلم عن شداد بن أوس( 

Ada dua pesan yang aku ingat betul dari Rasulullah. 

Beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah mewajibkan 

kita untuk berbuat baik dalam segala hal. Jika kalian 

membunuh maka lakukanlah dengan cara yang 

baik; jika kalian menyembelih maka sembelihlah 

dengan cara yang baik; hendaklah salah satu dari 

kalian mengasah mata pisaunya dan membuat 

nyaman hewan yang akan disembelihnya. (Riwayat 

Muslim dari Syaddād bin Aus)

Rasulullah juga melarang kita 

mengikat hewan yang akan disem-

belih. Hanya saja larangan ini tidak 

terkait halal-haramnya hewan yang 

disembelih, melainkan berkaitan dengan 

etika dalam menyembelih hewan ter-

sebut. Dalam sebuah hadis disebut-

kan,

َرُجٍل  َعَل  َم  َوَسلَّ َعَلْيِه  اهللُ  َصلَّ  اهللِ  َرُسْوُل  َمرَّ 

َشْفَرَتُه  َيُدُّ  َوُهَو  َشاٍة  َصْفَحِة  َعَل  ِرْجَلُه  َواِضٍع 

َقْبَل  َأَفاَل   : َفَقاَل   ، َها  بَِبَصِ إَِلْيِه  َتْلَحُظ  َوِهَي 

َمْوَتَتْيِ ؟ )رواه الطباين  ُتِْيَتَها  َأْن  َأُتِرْيُد  َهَذا ؟ 

والبيهقي عن ابن عباس(

Rasulullah berpapasan dengan seorang lelaki 

yang menginjakkan kakinya ke atas punggung 

seekor kambing sambil mengasah mata pisaunya, 

sedang  hewan itu melirik dengan matanya 

ke arah lelakai itu. lalu  beliau bersabda, 

“Mengapa tidak kauasah saja pisaumu sebelum ini? 

Sengajakah engkau ingin membuat kambingmu 

mati dua kali?” (Riwayat aţ-Ţabrāni dan al-Baihaqi 

dari Ibnu ‘Abbās)

13Pandangan Islam tentang Hewan

Islam mengajarkan pemeluknya 

untuk menyayangi binatang dan me-

lestarikan kehidupannya. Di dalam Al-

Qur'an Allah menekankan bahwa Dia 

telah menundukkan bagi kepentingan 

manusia apa saja yang ada di dunia ini. 

manusia memperlakukan binatang 

yang telah membantu kehidupannya. 

Konsep itu salah satunya terkandung 

dalam hadis-hadis berikut.

َذاَت  َم  َوَسلَّ َعَلْيِه  اهللُ  َصلَّ  اهللِ  َرُسْوُل  َأْرَدَفنِْي 

َيْوٍم َخْلَفُه ، َفَأَسَّ إَِلَّ َحِديًثا الَ ُأْخِبُ بِِه َأَحًدا َأَبًدا 

َأَحبُّ  َم  َوَسلَّ َعَلْيِه  اهللُ  َصلَّ  اهللِ  َرُسْوُل  َوَكاَن   ،

 ، َنْخٍل  َحاِئُش  َأْو  َهَدٌف  َحاَجتِِه  ِفْ  بِِه  اْسَتَتَ  َما 

َفإَِذا   ، األَْنَصاِر  ِحْيَطاِن  ِمْن  َحاِئًطا  َيْوًما  َفَدَخَل 

ٌز  َبْ َقاَل   ، َعْينَاُه  َوَذَرَفْت  َفَجْرَجَر  َأَتاُه  َقْد  َجٌَل 

َم  َوَسلَّ َعَلْيِه  اهللُ  َصلَّ  النَّبِيَّ  َرَأى  َفَلمَّ   : اُن  َوَعفَّ

اهللُ  َصلَّ  اهللِ  َرُسْوُل  َفَمَسَح  َعْينَاُه  َوَذَرَفْت  َحنَّ 

َمْن   : َفَقاَل   ، َفَسَكَن  َوِذْفَراُه  اَتُه  َسَ َوَسلََّم  َعَلْيِه 

َصاِحُب اْلََمِل ؟ َفَجاَء َفًتى ِمَن األَْنَصاِر ، َفَقاَل 

ِفْ  اهللَ  َتتَِّقي  َأَما   : َفَقاَل   ، اهللِ  َرُسْوَل  َيا  ِلْ  ُهَو   :

إَِلَّ  َشَكا  ُه  إِنَّ ؟  اهللُ  َملََّكَكَها  تِْي  الَّ اْلَبِهْيَمِة  َهِذِه 

ْيُعُه َوُتْدِئُبُه . )رواه أمحد عن عبد اهلل بن  َأنََّك ُتِ

جعفر(

Suatu hari Rasulullah memboncengkanku (menaiki 

unta) di belakangnya, lalu  beliau mem-

bisikkan suatu percakapan yang sampai kapan 

pun tidak akan aku sampaikan kepada orang lain. 

Rasulullah, saat  hendak membuang hajat, selalu 

saja berjalan ke arah gundukan tanah atau kebun 

kurma yang lebat (agar tidak terlihat orang lain). 

saat  beliau memasuki sebuah kebun kurma 

milik seorang sahabat Ansar. Tiba-tiba saja seekor 

unta menghampiri beliau dengan gemetaran dan 

bercucuran air mata. Bahz dan ‘Affān―dua perawi 

hadis ini―berkata, “Melihat hal itu Rasulullah 

Dan Dia menundukkan apa yang ada di langit dan 

apa yang ada di bumi untukmu semuanya (sebagai 

rahmat) dari-Nya. Sungguh, dalam hal yang 

demikian itu benar-benar ada  tanda-tanda 

(kebesaran Allah) bagi orang-orang yang berpikir. 

(al-Jāšiyah/45: 13) 

Namun demikian, ayat ini tidak 

sama sekali meligitimasi manusia untuk 

berbuat semaunya dan sewenang-

wenang kepada makhluk-makhluk 

ini . Manusia tidak pula memiliki 

hak tak terbatas untuk memakai  

alam sehingga merusak keseimbangan 

ekologisnya.

Islam tidak membenarkan ma-

nusia untuk menyalahgunakan bina-

tang untuk tujuan olahraga maupun 

sebagai objek eksperimen semba-

rangan. Ayat ini mengingatkan umat 

manusia bahwa Sang Pencipta telah 

menjadikan semua yang ada di alam 

ini, termasuk satwa, sebagai amanat 

yang mesti dijaga. Konsep Islam dalam 

memenuhi hak-hak binatang sudah 

jelas, misalnya bagaimana seharusnya 

14 Hewan dalam Perspektif Al-Qur'an  &  Sains

tersedu-sedu dan berlinang air mata. lalu  

beliau mengelus-elus punuk dan tengkuk unta itu 

hingga kembali tenang. Beliau bertanya, “Siapa 

pemilik unta ini?” Seorang pemuda Ansar pun 

datang, “Unta itu milikku, wahai Rasulullah!” 

jawabnya. Rasulullah pun bertanya, “Tidakkah 

engkau takut kepada Allah terkait hewan ini yang 

telah Allah berikan kepadamu? Hewan ini mengadu 

kepadaku bahwa engkau membiarkannya 

kelaparan dan memaksanya bekerja keras!” 

(Riwayat Aĥmad dari ‘Abdullāh bin Ja‘far) 

َم َأْبَصَ َناَقًة َمْعُقْوَلًة  إِنَّ النَّبِيَّ َصلَّ اهللُ َعَلْيِه َوَسلَّ

َهِذِه  َصاِحُب  َأْيَن   : َفَقاَل   ، َجَهاُزَها  َوَعَلْيَها 

 ، ُتْعِلَفَها  َأْن  ا  إِمَّ ؟  فِْيَها  اهللَ  َتتَِّقي  َأالَ  ؟  اِحَلِة  الرَّ

)رواه   ! لِنَْفِسَها  َتْبَتِغَي  َحتَّى  ُتْرِسَلَها  َأْن  ا  َوإِمَّ

الطباين عن ابن عمر( 

Sesungguhnya Rasulullah melihat seekor unta 

yang sedang terikat sambil menggendong muatan 

(milik majikannya), lalu beliau bertanya, “Siapakah 

pemilik hewan ini? Tidakkah engkau takut kepada 

Allah berkaitan dengan hewan ini? Seharusnya 

engkau memberinya makan atau melepaskannya 

agar ia mencari makan sendiri!” (Riwayat aţ-

Ţabrāni dari Ibnu ‘Umar)

َم ، َوإِنَّا  ُكنَّا ِف َسَفٍر َمَع النَّبِيِّ َصلَّ اهللُ َعَلْيِه َوَسلَّ

ْيِل َوَقْعنَا َوْقَعًة، َوالَ ُكنَّا ِفْ آِخِر اللَّ ْينَا َحتَّى   َأْسَ

 َوْقَعَة َأْحَل ِعنَْد اْلَُسافِِر ِمنَْها ، َفَم َأْيَقَظنَا إاِلَّ َحرُّ

َل َمِن اْسَتْيَقَظ ُفاَلٌن ُثمَّ ُفاَلٌن ْمِس ، َوَكاَن َأوَّ  الشَّ

ْيِهْم َأُبْو َرَجاٍء َفنَِسَ َعْوٌف ُثمَّ ُعَمُر  ُثمَّ ُفاَلٌن ُيَسمِّ

َعَلْيِه النَّبِيُّ َصلَّ اهللُ  َوَكاَن   ، ابُِع  الرَّ اْلَطَّاِب   ْبُن 

َم إَِذا َناَم َلْ ُيوَقْظ َحتَّى َيُكْوَن ُهَو َيْسَتْيِقُظ ،  َوَسلَّ

 ألَنَّا الَ َنْدِرْي َما َيُْدُث َلُه ِفْ َنْوِمِه ، َفَلمَّ اْسَتْيَقَظ

 ُعَمُر َوَرَأى َما َأَصاَب النَّاَس َوَكاَن َرُجاًل َجِلْيًدا ،

ُ َوَيْرَفُع َ َوَرَفَع َصْوَتُه بِالتَّْكبِْيِ ، َفَم َزاَل ُيَكبِّ  َفَكبَّ

 َصْوَتُه بِالتَّْكبِْيِ َحتَّى اْسَتْيَقَظ بَِصْوتِِه النَّبِيُّ َصلَّ

ِذْي الَّ إَِلْيِه  َشَكْوا  اْسَتْيَقَظ  َفَلمَّ   ، َم  َوَسلَّ َعَلْيِه   اهللُ 

 َأَصاَبُْم ، َقاَل : الَ َضْي َأْو : الَ َيِضُي ، اِْرَتُِلْوا !

َل َفَساَر َغْيَ َبِعْيٍد ، ُثمَّ َنَزَل َفَدَعا بِاْلُوُضْوِء  َفاْرَتَ

اَلِة َفَصلَّ بِالنَّاِس ، َفَلمَّ َأ ، َوُنْوِدَي بِالصَّ  ، َفَتَوضَّ

ُيَصلِّ َلْ  ُمْعَتِزٍل  بَِرُجٍل  ُهَو  إَِذا  َصاَلتِِه  ِمْن   اْنَفَتَل 

َ َمَع  َمَع اْلَقْوِم ، َقاَل : َما َمنََعَك َيا ُفاَلُن َأْن ُتَصلِّ

: َقاَل   ، َماَء  َوالَ  َجنَاَبٌة  َأَصاَبْتنِْي   : َقاَل  ؟   الَقْوِم 

النَّبِيُّ َساَر  ُثمَّ   ، َيْكِفْيَك  ُه  َفإِنَّ ِعْيِد  بِالصَّ  َعَلْيَك 

ِمَن النَّاُس  إَِلْيِه  َفاْشَتَكى  َم  َوَسلَّ َعَلْيِه  اهللُ   َصلَّ 

ْيِه َأُبْو َرَجاٍء  اْلَعَطِش ، َفنََزَل َفَدَعا ُفاَلًنا َكاَن ُيَسمِّ

 ، َنِسَيُه َعْوٌف َوَدَعا َعِليًّا َفَقاَل : اْذَهَبا َفاْبَتِغَيا اْلَاَء

َيا اْمَرَأًة َبْيَ َمَزاَدَتْيِ َأْو َسطِْيَحَتْيِ  ! َفاْنَطَلَقا َفَتَلقَّ

 ِمْن َماٍء َعَل َبِعْيٍ َلَا ، َفَقاالَ َلَا : َأْيَن اْلَاُء ؟ َقاَلْت

اَعَة َوَنَفُرَنا ُخُلْوٌف  : َعْهِدْي بِاْلَاِء َأْمِس َهِذِه السَّ

َقاالَ َأْيَن ؟  إَِل  َقاَلْت :  إًِذا  اْنَطِلِقْي ،  َلَا :   ، َقاالَ 

َقاَلْت : َم ،  َوَسلَّ َعَلْيِه  َرُسْوِل اهللَِّ َصلَّ اهللُ  إَِل   : 

َتْعنِْيَ ِذْي  الَّ ُهَو   : ابُِئ ؟ َقاالَ  َلُه الصَّ ُيَقاُل  ِذْي   الَّ

َعَلْيِه اهللُ  َصلَّ  النَّبِيِّ  إَِل  ِبَا  َفَجاَءا   ! َفاْنَطِلِقْي   ، 

َثاُه اْلَِدْيَث ، َقاَل : َفاْسَتنَْزُلْوَها َعْن َم َوَحدَّ  َوَسلَّ

َم بِإَِناٍء ، َها ، َوَدَعا النَّبِيُّ َصلَّ اهللُ َعَلْيِه َوَسلَّ  َبِعْيِ

15Pandangan Islam tentang Hewan

ِه . َوَقاَل َأُبو اْلَعالَِيِة :  : َصَبَأ َخَرَج ِمْن ِديٍن إَِل َغْيِ

ُبْوَر ابِِئْوَن فِْرَقٌة ِمْن َأْهِل الِكَتاِب َيْقَرُءْوَن الزَّ الصَّ

)رواه البخاري عن عمران)  

Suatu saat  kami tengah dalam perjalanan 

bersama Rasulullah. Kami terus saja berjalan 

pada malam hari, sampai menjelang akhir malam 

kami pun rehat. Kami semua terlelap sangat 

nyenyak; tidak ada tidur yang lebih nyenyak bagi 

seorang musafir melebihi yang kami alami. Begitu 

lelapnya tidur kami hingga hanya terik matahari 

yang mampu membuat kami terbangun. Orang 

yang pertama kali bangun yaitu  si A, lalu si B, 

lalu si C―Abū Rajā' (salah satu perawi hadis ini) 

menyebut dengan jelas nama tiga orang ini, namun 

‘Auf (perawi di bawahnya) lupa―dan Umar bin 

al-Khațțāb yaitu  orang keempat yang bangun. 

Adapun Rasulullah, bila tidur, tidak ada yang berani 

membangunkannya sampai beliau bangun sendiri. 

Hal itu sebab  kami tidak tahu apa yang terjadi pada 

beliau dalam tidurnya―apakah sedang menerima 

wahyu ataukah tidak. saat  Umar―seorang 

pria yang sangat perkasa―bangun dan melihat 

apa yang menimpa kami (bangun kesiangan), 

ia bertakbir dengan suara lantang. Ia terus saja 

bertakbir dengan lantang hingga Rasulullah 

terbangun sebab nya. Begitu beliau bangun, orang-

orang mengadukan apa yang mereka alami kepada 

beliau. Beliau pun bersabda, “Tidak ada masalah―

atau tidak mengapa―, lanjutkanlah perjalanan 

kalian!” Beliau lalu meneruskan perjalanan. Tak 

begitu jauh, beliau kembali berhenti dan meminta 

air untuk wudu. Beliau lalu berwudu dan mengajak 

para sahabatnya untuk salat berjamaah. Usai salat, 

beliau mendapati seseorang yang memisahkan 

diri dan tidak ikut salat bersama yang lain. “Wahai 

Fulan, mengapa engkau tidak salat bersama yang 

lain?” tanya beliau. Ia menjawab, “Aku sedang 

berjunub, dan tidak ada air (yang bisa aku pakai 

untuk mandi).” Lantas beliau menjelaskan, “Kalau 

begitu, gunakanlah debu (untuk bertayamum), 

dan itu sudah cukup (untuk menghilangkan 

َغ فِْيِه ِمْن َأْفَواِه اْلََزاَدَتْيِ َأْو َسطِيَحَتْيِ َوَأْوَكَأ  َفَفرَّ

: النَّاِس  ِف  َوُنوِدَي   ، اْلَعَزاِلَ  َوَأْطَلَق   َأْفَواَهُهَم 

َمْن َواْسَتَقى  َشاَء  َمْن  َفَسَقى   ، َواْسَتُقوا   ُاْسُقْوا 

َأَصاَبْتُه ِذْي  الَّ َأْعَطى  َأْن  َذاَك  آِخُر  َوَكاَن   ،  َشاَء 

 اْلَنَاَبُة إَِناًء ِمْن َماٍء ، َقاَل : اِْذَهْب َفَأْفِرْغُه َعَلْيَك

 ! َوِهَي َقاِئَمٌة َتنُْظُر إَِل َما ُيْفَعُل بَِمِئَها ، َواْيُم اهللِ

َا َأَشدُّ ِمأَلًة ُه َلُيَخيَُّل إَِلْينَا َأنَّ  َلَقْد ُأْقِلَع َعنَْها ، َوإِنَّ

 ِمنَْها ِحْيَ اْبَتَدَأ فِْيَها ، َفَقاَل النَّبِيُّ َصلَّ اهللُ َعَلْيِه

َم : اِْجَُعْوا َلَا ! َفَجَمُعْوا َلَا ِمْن َبْيِ َعْجَوٍة  َوَسلَّ

 َوَدِقْيَقٍة َوَسِوْيَقٍة َحتَّى َجَُعْوا َلَا َطَعاًما ، َفَجَعُلْوَها

الثَّْوَب َوَوَضُعوا  َها  َبِعْيِ َعَل  َومَحَُّلْوَها  َثْوٍب   ِفْ 

َتْعَلِمْيَ َما َرِزْئنَا ِمْن َماِئِك َيَدْيَا ، َقاَل َلَا :   َبْيَ 

ِذْي َأْسَقاَنا ! َفَأَتْت َأْهَلَها  َشْيًئا ، َوَلِكنَّ اهللَ ُهَو الَّ

 َوَقِد اْحَتَبَسْت َعنُْهْم ، َقاُلوا: َما َحَبَسِك َيا ُفاَلَنُة ،

 َقاَلْت : َاْلَعَجُب ! َلِقَينِْي َرُجاَلِن َفَذَهَبا ِبْ إَِل َهَذا

َفَواهللِ َوَكَذا،  َكَذا  َفَفَعَل  ابُِئ  الصَّ َلُه  ُيَقاُل  ِذْي   الَّ

َوَقاَلْت  ، َوَهِذِه  َهِذِه  َبْيِ  ِمْن  النَّاِس  ُه ألَْسَحُر   إِنَّ

َمِء بَّاَبِة، َفَرَفَعْتُهَم إَِل السَّ  بِإِْصَبَعْيَها اْلُوْسَطى َوالسَّ

ا ، َلَرُسْوُل اهللِ َحقًّ ُه  إِنَّ َأْو  َمَء َواألَْرَض   َتْعنِي السَّ

وَن َعَل َمْن َحْوَلَا  َفَكاَن اْلُْسِلُمْوَن َبْعَد َذلَِك ُيِغْيُ

ِهَي ِذْي  الَّ َم  ْ الصِّ ُيِصْيُبْوَن  َوالَ   ، ِكْيَ  اْلُْشِ  ِمَن 

َهُؤالَِء َأنَّ  ُأَرى  َما   : لَِقْوِمَها  َيْوًما  َفَقاَلْت   ،  ِمنُْه 

 اْلَقْوَم َيْدُعْوَنُكْم َعْمًدا ، َفَهْل َلُكْم ِف اإِلْساَلِم ؟

 َفَأَطاُعْوَها َفَدَخُلْوا ِف اإِلْساَلِم ، َقاَل َأُبو َعْبِد اهللِ

16 Hewan dalam Perspektif Al-Qur'an  &  Sains

janabahmu). lalu  Rasulullah melanjutkan 

perjalanan hingga para pengikutnya mengeluh 

kehausan. Rasulullah pun berhenti. Beliau 

memanggil seseorang―Abū Rajā' menyebut nama 

jelas pria ini , namun ‘Auf lupa―dan Ali. 

Kepada keduanya Rasulullah berpesan, “Pergilah 

kalian berdua untuk mencari air!” Mereka pun 

berangkat dan berjumpa seorang wanita yang 

menunggang unta dengan dua kantung air di 

kanan-kirinya. Keduanya bertanya kepadanya, 

“Dimana ada air?” Wanita itu menjawab, “Terakhir 

kali aku lihat air di sana, satu hari perjalanan dari 

tempat ini. Kaum pria desa kami pun pergi untuk 

mencari air.” Lalu keduanya berkata, “Kalau begitu, 

pergilah!” “Kemana?”, tanya wanita itu. Mereka 

menjawab, “Menghadap Rasulullah.” Wanita itu 

balik bertanya, “Menghadap pria yang disebut-

sebut sebagai murtad (șābi')?” Mereka menjawab, 

“Ya, pria itulah yang kaumaksud. Pergilah!” 

lalu  kedua sahabat Nabi itu bersama 

wanita ini  menemui Rasulullah. Keduanya 

menceritakan peristiwa yang baru mereka alami. 

Para sahabat lalu meminta wanita itu turun dari 

untanya. lalu  Rasulullah meminta bejana 

air; beliau lalu memenuhinya dengan air dari 

mulut kantong-kantong air (milik wanita itu). 

Beliau mengikat lubang atas kantong dan melepas 

ikatan di bagian bawahnya. “Minumlah kalian, 

dan minumilah hewan tunggangan kalian!” seru 

Rasulullah. Beberapa dari mereka pun minum 

dan beberapa lainnya meminumi tunggangan 

mereka. sesudah  semuanya selesai, barulah beliau 

memberi seember air kepada orang yang tadi 

terkena janabah. “Pergi dan mandilah!” perintah 

beliau. Sementara itu, wanita tadi sambil berdiri 

terus saja mengamati apa yang para sahabat 

lakukan terhadap air miliknya. Demi Allah, wanita 

itu terperanjat―kami juga demikian; kami 

saksikan jumlah air dalam wadah milik wanita tadi 

lebih banyak dibanding sebelum air di dalamnya 

dituangkan oleh Rasulullah. Rasulullah lalu 

bersabda kepada para sahabatnya, “Kumpulkanlah 

(bahan makanan) untuknya―sebagai imbalan 

atas air yang kalian gunakan!” Mereka pun 

bergegas mengumpulkan makanan berupa kurma, 

tepung, sawiq (campuran antara susu dan tepung) 

untuk wanita ini , dan memasukkannya ke 

dalam selembar kain. Mereka lalu menaikkan 

wanita itu ke punggung untanya, dan menaruh 

kain berisi bahan makanan tadi di depannya. 

Rasulullah berkata kepadanya, “Kautahu bahwa 

kami tidak mengurangi sedikit pun air milikmu, 

namun  Allah-lah yang telah memberi kami minum.” 

Pulanglah wanita itu menemui keluarganya―

ia datang terlambat. Mereka bertanya, “Wahai 

Fulanah, mengapa engkau datang terlambat?” 

Ia menjawab, “Sebuah keajaiban! Aku bertemu 

dua pria yang lalu  membawaku menemui 

seseorang yang disebut-sebut murtad―Șābi'. 

Laki-laki itu melakukan ini dan itu―menceritakan 

apa yang terjadi dengan panjang lebar. Demi 

Allah, dia yaitu  orang yang paling menakjubkan 

(membuatku sangat terkesan) di antara ini 

(langit) dan ini (bumi).” Ia berkata demikian 

sambil memberi isyarat dengan mengangkat jari 

tengah dan telunjuknya ke arah langit―mungkin 

ia bermaksud memberi isyarat yang berarti 

‘antara langit dan bumi,’ atau ia hendak bersaksi 

bahwa pria yang ditemuinya yaitu  benar-benar 

utusan Allah. Sejak saat itu kaum muslim selalu 

melindungi wanita ini  dari gangguan kaum 

musyrik di sekelilingnya. Mereka (kaum muslim) 

pun tidak pernah mengganggu kampung terpencil 

di mana wanita itu berasal. Suatu hari ia berkata 

kepada kaumnya, “Aku tidak yakin mereka (kaum 

muslim) sengaja membiarkan (tidak mengganggu) 

kalian. Tidakkah kalian mau masuk Islam?” Mereka 

pun kompak menaati seruan wanita ini , dan 

bersama-sama masuk Islam. (Riwayat al-Bukhāri 

dari ‘Imrān)

saat  berhenti di tengah per-

jalanan untuk sekadar beristirahat atau 

menunaikan salat, Rasul menganjurkan 

para sahabatnya agar mengurangi 

muatan pada hewan pemuat dan 

memberinya makan. Beliau juga mem-

peringatkan bahwa binatang-binatang 

17Pandangan Islam tentang Hewan

itu harus dimanfaatkan sesuai dengan 

fungsinya. Suatu saat  beliau melihat 

seseorang duduk di atas punggung 

unta di tengah-tengah pasar sambil 

mengobrol dengan sesamanya. Beliau 

lantas menegurnya,

َفإِنَّ  ، َمنَابَِر  ُكْم  َدَوابِّ ُظُهْوَر  َتتَِّخُذْوا  َأْن  اُكْم   إِيَّ

َتُكْوُنْوا َلْ  َبَلٍد  إَِل  َغُكْم  لُِتَبلِّ َلُكْم  َرَها  َم َسخَّ إِنَّ  اهللَ 

األَْرَض َلُكُم  َوَجَعَل   ، األَْنُفِس  بِِشقِّ  إاِلَّ   َبالِِغْيِه 

داود عن أبو  . )رواه  َحاَجَتُكْم  َفاْقُضْوا   َفَعَلْيَها 

عن أب هريرة )  

Janganlah kalian menjadikan punggung-pungung 

binatang peliharaanmu sebagai mimbar (untuk 

bercakap-cakap), sebab  sesunguhnya Allah mem-

buat mereka tunduk kepadamu (bukan untuk 

itu, melainkan) agar mereka membawamu pergi 

dari satu tempat ke tempat lain yang tidak dapat 

kamu capai kecuali dengan badan yang letih. Dan 

Allah telah menjadikan untuk kalian tanah, maka 

buanglah hajat kalian di sana. (Riwayat Abū 

Dāwūd dari Abū Hurairah)

Islam mengajari manusia untuk 

membalas pelayanan yang telah dibe-

rikan oleh binatang-binatang mereka 

dengan memperlakukan binatang itu 

sebaik mungkin.  Manusia diharuskan 

membantu memenuhi kebutuhan 

binatang peliharaan mereka. Islam 

mewajiban manusia berinteraksi 

dengan binatang menurut cara yang 

dibenarkan sebab  mereka yaitu  

juga ciptaan Allah. Sudah jelas bahwa 

hewan tidak punya kemampuan 

untuk menuntut haknya dari manusia. 

Namun demikian, menurut perspektif 

Islam, seseorang wajib berbuat baik 

dan memperhatikan apa yang men-

jadi hak hewan. Dalam kerangka 

inilah Rasulullah melarang manusia 

membunuh hewan apa pun tanpa 

tujuan yang dibenarkan.

 َمْن َقَتَل ُعْصُفوًرا َعَبًثا َعجَّ إَِل اهللِ َعزَّ َوَجلَّ َيْوَم

 اْلِقَياَمِة ِمنُْه ، َيُقوُل : َيا َربِّ إِنَّ ُفاَلًنا َقَتَلنِي َعَبًثا

وابن والنسائي  أمحد  )رواه   . لَِنَْفَعٍة  َيْقُتْلنِي  َوَلْ 

 حبان عن الشيد بن سويد )  

Barang siapa membunuh burung pipit tanpa alasan 

yang dibenarkan maka burung ini  akan 

melapor kepada Allah pada hari kiamat. Ia berkata, 

“Wahai Tuhanku, sesungguhnya Fulan telah 

membunuhku dengan sia-sia; ia tidak membunuhku 

untuk suatu manfaat.” (Riwayat Aĥmad, an-Nasā'i 

dan Ibnu Ĥibbān dari asy-Syuraid bin Suwaid)

Dalam rangka mengajak manusia 

untuk menjadi penyayang semua 

mahluk yang ada di muka bumi, Nabi 

mengkaitkannya dengan pahala dan 

siksa. Beliau bersabda dalam beberapa 

hadisnya,

مْحَُن ، اْرمَحُوا َمْن ِف األَْرِض امِحُوَن َيْرمَحُُهْم الرَّ  َالرَّ

مْحَِن ِحُم ُشْجنٌَة ِمْن الرَّ َمِء ، الرَّ  َيْرمَحُْكْم َمْن ِف السَّ

 . َفَمْن َوَصَلَها َوَصَلُه اهللُ َوَمْن َقَطَعَها َقَطَعُه اهللُ

( رواه أمحد والتمذي عن ابن عمرو)


Orang-orang yang penuh kasih sayang akan 

dikasihi oleh Allah Yang Maha Pengasih. Berkasih 

sayanglah kalian kepada siapa (dan apa) pun yang 

di