Tentang hewan 10
pai pada pemahaman ter-
hadap hakikat di balik penciptaan
alam semesta, bahwa semua itu di-
ciptakan oleh Allah yang Maha Esa
dan Mahakuasa. Yang demikian ini
termaktub dengan sangat jelas dalam
Surah Al-Baqarah/2: 26. Mahluk apa
pun yang ada di langit dan di bumi,
dari yang besar sampai yang kecil,
diciptakan oleh Allah untuk menjamin
kesejahteraan kehidupan manusia.
Demikianlah penegasan Allah dalam
Surah al-Jāšiyah/45: 13.
(kebesaran Allah) bagi orang-orang yang berpikir.
al-Jāšiyah/45: 13)
Sangat disayangkan, sesudah me-
lihat bukti-bukti keesaan dan kekuasa-
an Allah itu, masih saja ada manusia
yang melenceng dan menyembah
tuhan-tuhan lain yang sama sekali tidak
menciptakan apa pun, bahkan tuhan-
tuhan itu justru hadir sebagai hasil
kreasi manusia (al-Furqān/25: 3). Itulah
kemusyrikan yang nyata, suatu dosa
yang tidak akan mendapat ampunan
dari Allah (an-Nisā'/4: 48). Apa yang
mereka kira sebagai perlindungan dari
tuhan-tuhan itu sebenarnya hanyalah
khayalan belaka, sesuatu yang amat
lemah. Mereka umpama seekor laba-
laba yang membuat rumah dari jaring
yang lemah dan mengkhawatirkan.
Dan Dia menundukkan apa yang ada di langit dan
apa yang ada di bumi untukmu semuanya (sebagai
rahmat) dari-Nya. Sungguh, dalam hal yang
demikian itu benar-benar ada tanda-tanda
Perumpamaan orang-orang yang mengambil pe-
lindung selain Allah yaitu seperti laba-laba yang
membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang
paling lemah ialah rumah laba-laba, sekiranya
mereka mengetahui. (al-‘Ankabūt/29: 41)
Dilihat sekilas akan tampak ada
semacam kontradiksi antara pesan yang
disampaikan ayat ini dengan apa yang
telah dicapai oleh ilmu pengetahuan
modern. Di satu sisi, ayat ini melabeli
rumah laba-laba sebagai sesuatu
yang lemah, mengkhawatirkan, tidak
bisa diandalkan. Di sisi yang lain, ilmu
pengetahuan modern mengonfirmasi
bahwa benang dan jaring laba-laba
yang sekilas tampak lemah nyatanya
jauh lebih kuat daripada baja dan lebih
lebih lentur daripada sutra. Benang
dengan diameter kurang dari seper-
seribu millimeter ini memiliki ke-
kuatan lima kali lebih kuat daripada
tali baja dengan ukuran yang sama.
Di samping itu, benang laba-laba
juga dikenal sangat ringan. Menurut
perkiraan, hanya diperlukan benang
seberat 320 gram untuk melingkari
bola bumi.
Untuk menjawab “kontradiksi”
ini kita perlu mempertimbangkan bebe-
rapa hal. Pertama, pemilihan format
singular (mufrad) dalam penyebutan
kata al-‘Ankabūt. Kata ‘ankab dalam
bahasa Arab memiliki arti binatang
yang membuat rajutan di udara atau di
mulut sumur, yang berupa jaring dari
benang yang tipis. Dalam bahasa Arab
kata ini masuk dalam gender wanita
(feminin). Selain itu, kata ini disebut
dalam format singular, tunggal. Ketiga
hal ini: makna kata, kefemininannya,
dan formatnya yang singular, memang
saling berkait dalam kehidupan nyata.
Kelompok laba-laba didapati hidup
dalam kondisi soliter. Laba-laba betina
yaitu oknum yang paling berperan
dalam pembuatan “rumah”. Laba-la-
ba jantan hampir tidak berkontribusi
sama sekali. Kalaupun ada, mereka
hanya sesekali bertugas memperbaiki
rumah itu atau tugas-tugas kecil
lainnya. Format singular pada kata
‘ankabūt berbeda dari format yang
dipakai untuk menyebut serangga
lain yang juga dijadikan nama surah,
misalnya lebah (an-Naĥl) atau semut
(an-Naml), yang meski secara harfiah
yaitu kata tunggal (mufrad), namun
secara makna keduanya memiliki ar-
ti jamak (lazim disebut isim jama‘).
Nyatanya, pemilihan format demikian
berkesesuaian dengan perikehidupan
kedua kelompok serangga ini yang
bekerja dalam kelompok dan punya sis-
tem dan struktur sosial yang canggih.
Pemilihan format singular dalam
menyebut kata ‘ankabūt tampak jelas
dalam terjemah ayat ini dalam
bahasa Inggris,
The parable of those who take protectors
other than Allah is that of the spider, who
builds (to itself) a house; but truly the
flimsiest of houses is the spider’s house; if
they but knew.
Frasa “who builds (to itself) a
house” dengan jelas memperlihatkan
bahwa hanya satu ekor (yakni laba-laba
betina) yang membuat rajutan benang
menjadi tempat menjebak mangsa dan
menggantungkan kumpulan telurnya.
Misi ini dilakukan oleh laba-laba betina
275Hewan dalam Al-Qur'an
sebab merekalah yang memiliki
kelenjar penghasil material berupa be-
nang-benang sutra untuk dirajut.
Kedua, “kelemahan” yang oleh
ayat di atas dinisbatkan kepada rumah
laba-laba bisa dijelaskan sebagai beri-
kut.
a. Kelemahan secara fisik. Secara
fisik, rumah laba-laba memang
lemah sebab hanya dibentuk dari
rajutan benang-benang sutra. Ra-
jutan itu pun tidak cukup rapat
sehingga meninggalkan lubang-
lubang besar dan tidak mampu
melindungi penghuninya dari panas
matahari dan dinginnya malam.
Rajutan ini pun tidak memberikan
naungan dari hujan, angin, maupun
bahaya dari para pemangsa. Su-
dut pandang yang demikian ini
tentunya di luar mukjizat yang di-
perlihatkan laba-laba dalam arsi-
tektur pembuatannya.
b. Kelemahannya terletak pada ru-
mah dilihat sebagai sebuah kesa-
tuan menyeluruh, bukan pada ba-
han benang sutra yang menjadi
bahan rajutan. Bahan benang sutra
yang sangat tipis ini dikenal sebagai
satu-satunya bahan biologis paling
kuat yang dikenal sampai saat ini.
Kekuatannya melebih besi, namun
masih kalah dibanding bahan quarz
cair. Benang ini baru akan putus
jika ditarik sampai dengan
lima kali panjang semula. sebab
kekuatannya ini para peneliti lantas
menyebutnya sebagai “biological
steel” atau “bio-steel”. Namun
bukan benang itu sendiri yang
menjadi fokus pembicaraan ayat
di atas, melainkan rumah laba-laba
secara keseluruhan.
c. Kelemahan spiritual. Rumah laba-
laba secara spiritual yaitu rumah
yang paling lemah sebab nihilnya
cinta dan kasih sayang di dalamnya,
dua hal yang menjadi tiang utama
dalam rumah tangga manusia yang
bahagia. Laba-laba betina, pada
banyak jenis, memiliki ukuran
tubuh jauh lebih besar daripada
jantan. Mereka akan membunuh
dan memangsa laba-laba jantan
sesudah proses perkawinan selesai.
Dalam beberapa kasus, laba-laba
betina juga terlihat memangsa
anak-anaknya sendiri. Dalam kasus
lain, ada jenis laba-laba betina
yang akan mati dengan sendirinya
sesudah bertelur. saat telur me-
netas, anakan laba-laba akan men-
dapati diri mereka berdesak-desak-
an dalam ruang rajutan kantong
tempat penyimpanan telur yang
sempit. Demi mendapat ruang
yang lebih luas dan makanan yang
lebih banyak, mereka akan saling
memangsa sehingga hanya bebe-
rapa anakan yang dapat keluar
dari kantong untuk melanjutkan
kehidupannya. Kehidupan yang
demikian ini oleh Allah dijadikan
sebagai perumpamaan bagi rumah
yang sepi dari kebahagian dan
cinta kasih, baik antara suami dan
istri, orang tua dan anak, maupun
antarsaudara.
d. Frasa “jika mereka mengetahui”
yang dipakai sebagai penutup
ayat di atas mungkin saja menun-
jukkan bahwa maksud ayat ini be-
lum dipahami dengan sangat baik
oleh orang-orang yang kepada
mereka Al-Qur'an diturunkan 14
abad lalu. Pemahaman yang lebih
komprehensif baru didapat sekian
ratus tahun lalu melalui jasa
sekian ratus peneliti yang bekerja
keras meneliti perilaku laba-laba
untuk lalu disebarluaskan
kepada warga .
Sebagai tambahan, perlu juga
diketahui bahwa rumah laba-laba
tidak hanya berfungsi sebagai tempat
tinggal. Rumah ini juga memiliki fungsi
sampingan sebagai perangkap untuk
menjerat mangsanya yang berupa
serangga terbang, seperti lalat dan
semacamnya. sebab fungsi samping-
annya ini pantaslah bila rumah laba-
laba dijadikan metafor dari tuhan-
tuhan selain Allah yang disembah oleh
orang-orang musyrik. Tuhan-tuhan itu
menyeru mereka untuk masuk perang-
kap dan menjerumuskan mereka ke
dalam kesengsaraan hidup di dunia
bahkan di akhirat (an-Nisā'/4: 48).
Perumpamaan ini juga dapat
menjadi peringatan adanya orang-
orang yang memakai “jerat tak
terlihat” untuk menjerat mangsanya.
Benang laba-laba pada dasarnya baru
akan terlihat bila disinari cahaya yang
memantul. Tanpa bantuan cahaya agak
sulit untuk melihatnya dengan mata
telanjang. Dalam kehidupan manusia,
“jerat tak terlihat” itu bisa berwujud
uang, seks, kekuasaan, dan sejenisnya.
“Jerat” ini akan memusnahkan mang-
sanya begitu terjebak.
Perikehidupan Laba-laba
Dari sudut ilmu pengetahuan, laba-
laba termasuk pada Filum Arthropoda,
Kelas Arachnida, yang terdiri dari
beberapa Ordo, di antaranya Ordo
Araneida dan lainnya, termasuk kala-
jengking dan tungau. Tubuh laba-laba
terbagi dari prosoma (kepala dan
dada yang terhubung langsung) dan
apisthosoma (perut). Pada bagian
prosoma ada empat pasang
kaki, dua pasang sungut peraba, dan
dua penusuk atau capit yang menjadi
tempat kelenjar bisa. Bagian prosoma
terpisah dari bagian opisthosoma
oleh pinggang yang ramping. Laba-
laba memiliki mata sederhana yang
dapat berjumlah hingga delapan buah.
Pemakan serangga ini memiliki kulit
tubuh yang tebal dan tertutup bulu.
Dari kecil sampai dewasa laba-laba
mengalami pergantian kulit 7–8 kali.
Para ahli zoologi saat ini mem-
perkirakan ada lebih dari 30.000 jenis
laba-laba di bumi dengan ukuran
yang bervariasi (dari yang berukuran
kurang dari satu milimeter hingga
yang berukuran sembilan sentimeter),
serta bentuk dan warna beragam.
Kebanyakan laba-laba hidup di alam
liar dan dalam kondisi soliter, kecuali
pada saat kawin dan bertelur. Mereka
didapti hidup di daerah pantai hingga
pegunungan di ketinggian 5.000 meter
di atas permukaan laut.
Di bagian ujung bawah perut
ada tiga pasang tonjolan yang
memiliki lubang-lubang kecil yang
mengeluarkan cairan sebagai bahan
dasar benang sutra. Cairan yang dike-
luarkannya merupakan campuran dari
berbagai kelenjar. Cairan itu akan se-
gera membeku sesudah keluar dari
tubuh laba-laba. Bentuk, ukuran, ke-
kuatan, dan panjang benang sangat
bergantung pada macam campuran
cairan yang diproduksi oleh berbagai
kelenjar yang mereka miliki. Benang
untuk membuat rumah berbeda kua-
litasnya dari yang dipakai untuk
membungkus mangsanya, juga ber-
beda dari yang mereka gunakan untuk
membungkus telur-telurnya.
Pada tonjolan-tonjolan itu terda-
pat pipa renik yang masing-masing
tersambung ke kelenjar-kelenjar yang
ada di bagian ini (gambar
186). Jumlah pipa-pipa itu berkisar
antara 2.000–50.000 buah. Diameter
rata-rata benang laba-laba hanya 0,15
µm, bahkan peneliti pernah menda-
pati benang yang berdiameter hanya
0,02 µm, jauh di bawah batas minimal
diameter benda yang dapat dideteksi
oleh mata telanjang manusia. Manusia
baru dapat mendeteksi dengan mata
telanjang suatu objek pada jarak 10
cm bila objek itu setidaknya berdia-
meter 25 µm. Manusia dapat mende-
teksi jaring laba-laba hanya jika terjadi
pantulan cahaya pada benang itu.
Kendati berdiameter sangat
kecil, jaring laba-laba dapat dengan
asamkan. Laba-laba memiliki cara
tersendiri untuk mengawetkan benang
sutranya. Dalam benang laba-laba
ada tiga bahan yang berfungsi
mengawetkan, yaitu pyrolidin (yang
bersifat hidroskopis alias mengikat air
dari udara agar benang tidak pernah
kering), potassium hydrogen phos-
phate (yang “mengasamkan” benang
dan mencegah tumbuhnya bakteri dan
jamur), dan potassium nitrate (yang
“mengasinkan” benang dan mence-
gah tumbuhnya bakteri dan jamur).
Benang yang dihasilkan oleh laba-
laba rumahan, Araneus diadematus,
dikenal sangat elastis. Benang ini dapat
memanjang 30–40% dari ukuran aslinya
tanpa terputus. Angka ini jauh lebih
besar daripada besi yang hanya dapat
memanjang hingga 8%, atau nilon yang
hanya dapat memanjang sekitar 20%.
Laba-laba seringkali dijumpai mendaur
mudah menghentikan laju seekor le-
bah yang terbang dengan kecepatan
penuh. Benang ini tidak hanya kuat,
tapi juga sangat elastis. Material ini
dibentuk oleh protein yang memilki
massa molekul 30.000 Dalton saat
berada di dalam kelenjar. Sesudah
keluar dari kelenjar, material ini akan
mengalami proses polimerisasi dan
berubah menjadi molekul bernama
fibrion dengan massa molekul sekitar
300.000 Dalton. Sampai saat ini belum
jelas apa sebenarnya yang memicu
proses polimerisasi ini.
Ternyata ada rahasia yang mem-
buat benang sutra berbahan protein
ini dapat bertahan lama dan tidak
rusak oleh jamur dan bakteri, seperti
lazimnya bahan protein yang lain. Ma-
nusia umumnya mengawetkan protein,
seperti daging, dengan cara merebus,
mengasinkan, mengeringkan, atau meng-
ulang benangnya dengan memakan
benang yang tidak lagi dipakai
demi mendapat asupan protein. Dari
segi kualitas benang yang dihasilkan,
laba-laba dapat dibagi menjadi dua
kelompok, yakni kelompok yang me-
mintal benangnya menjadi “berbulu”
seperti struktur wol, dan kelompok
penghasil benang yang lebih “polos”.
Untuk menghasilkan benang yang
“berbulu”, kelompok ini memiliki or-
gan tambahan semacam sisir untuk
menyisir benang. Mangsa akan mele-
kat pada benang “berbulu” bukan
sebab adanya perekat di sana, melain-
kan sebab terikatnya bulu-bulu dan
rambut halus pada tubuh serangga itu
sendiri oleh benang “berbulu” itu.
Dilihat dari macam-macam peng-
gunaan dan bentuknya, jaring laba-
laba secara sederhana dapat dibagi ke
dalam tiga bentuk, yaitu jaring bundar
(orb web), jaring lembaran (sheet
web), dan jaring acak (spatial web).
Jaring bundar yaitu yang pa-
ling dikenal warga . Untuk mem-
bangunnya laba-laba membuat satu
bentangan horizontal yang akan ber-
fungsi sebagai gantungan bagi sisa
bangunannya. Dalam membuat ben-
tangan ini laba-laba memanfaatkan
bantuan angin dan dengan sedikit
keberuntungan. Urutan konstruksi ja-
ring bundar dapat dilihat pada gambar
187. Kegiatan merajut dimulai dengan
membuat bentangan horisontal. Laba-
laba mulai dengan mengulur benang
yang dibiarkan melayang terbawa
angin. jika beruntung maka ujung
lain dari benang akan mencapai dan
melekat pada tempat yang tepat.
Pembuatan jaring bundar sama sekali
tidak dilakukan dengan cara melompat,
melayang, atau menalikannya di dua
sisi. Laba-laba lalu berjalan
melalui bentangan ini untuk
mengamankan simpul di tempat yang
tepat dan menguatkan bentangannya
dengan benang kedua. Kegiatan ini
dilakukannya beberapa kali sampai
bentangan itu dianggap kuat. Laba-
laba lalu akan membuat ben-
tangan seperti huruf Y yang terbalik.
Jaringan Y pertama ini lalu di-
ulang-ulang sehingga jaring bundar
terbentuk dengan sempurna. Untuk
membuat jaring bundar laba-laba me-
makai dua jenis benang: yang leng-
ket dan yang tidak lengket, sesuai
keperluan. Bentangan-bentangan uta-
ma umumnya dibuat dengan meng-
gunakan benang yang lengket, sedang-
kan jaringan yang menghubungkan
bentangan-bentangan utama umum-
nya memakai benang tak lengket.
Pola ini tidak selalu ditemukan pada
semua jenis. Variasi selalu ada di antara
jenis-jenis yang ada.
Tipe lainnya yaitu jaring jala
yang dihasilkan oleh laba-laba marga
Dainopsis (gambar 188). Marga ini
khusus memakai jalanya untuk
menangkap mangsa. Mereka membu-
at jala di antara dua kaki depannya.
Laba-laba ini lalu memposisikan
diri pada ranting pohon sedemikian
rupa sehingga jala akan menghadap
ke bawah, sambil menunggu serang-
ga terbang di dekat jala. Jala akan
ia lempar begitu mangsa mendekat.
Beberapa jenis Dainopsis juga me-
nambahkan feromon dalam caranya
berburu. Feromon yaitu bau yang
dihasilkan laba-laba untuk menarik
serangga mendekat. Laba-laba Dainop-
sis betina, misalnya, akan mempro-
duksi feromon yang mirip feromon
lalat betina. Dengan cara ini lalat jantan
akan bergegas masuk jaring laba-laba
sebab mengira ada lalat betina yang
mengundangnya kawin.
Jaring lembaran (sheet web)
antara lain dipakai untuk mem-
buat jebakan. Laba-laba Agelena
canariensis (gambar 189), misalnya,
membuat jebakan dengan jaring
lembaran yang dibuatnya di sekitar
lubang tempat tinggalnya. Begitu
ada serangga terjebak, laba-laba
akan segera tahu sebab salah satu
ujung jaring ini masih menyambung
dengannya. Ada pula jenis laba-laba
yang memakai rajutan jaring
untuk membuat tutup lubang tempat
tinggalnya. jika ada serangga
yang lewat pintu, pintu itu akan
segera terbuka dan laba-laba akan
menangkap mangsanya.
Selain menghasilkan jaring dua
dimensi seperti diuraikan sebelumnya,
beberapa laba-laba, antara lain dari
kelompok Lyniphiidae dan Theridiidae,
merajut jaringan benang tiga dimensi
yang tampak acak (gambar 190, laba-
laba dari kelompok Theridiidae, Stea-
toda paykulliana). Pada kelompok
Lyniphiidae, di sekitar rajutan jaring
yang memiliki perekat akan ada jari-
ngan acak horisontal benang tak ber-
perekat. Fungsi jaringan yang terakhir
yaitu untuk mengarahkan mangsa
terbang ke arah jaring berperekat.
Laba-laba dapat tinggal seumur
hidupnya di rumahnya, atau tinggal di
sarangnya yang berupa lubang, atau
tempat tersembunyi lainnya. Banyak
di antaranya memakai sarang
atau rumahnya sebagai sarana untuk
menjebak mangsa. Cara memperoleh
mangsa juga bervariasi; ada yang
menunggu mangsa di sarang, ada juga
yang menjaring mangsa memakai
“laso” benang sutranya. Beberapa laba-
laba tidak memakai benang dan
jaring dalam menangkap mangsa-nya, di
antaranya laba-laba peloncat, laba-laba
kepiting, dan laba-laba lynx. Mereka
mengandalkan ketajaman ma-ta dan
kelincahan untuk menangkap mangsa.
Mereka hanya memakai benang
untuk dapat kembali ke tempatnya
semula. Bila jatuh dari satu tempat,
mereka akan melayang pada seutas
benang yang menempel salah satu
ujungnya pada lokasi semula sehingga ia
dapat kembali ke tempat ini . Yang
memakai cara ini di antaranya laba-
laba kepiting, Ozyptila praticola.
Semua jenis laba-laba membuat
semacam kepompong tempat mereka
menyimpan telurnya. Kepompong ini
berfungsi melindungi telur dari ber-
bagai hal yang membahayakan, seperti
jamur, perubahan suhu dan unsur iklim
lainnya, serta dari kerusakan yang
bersifat mekanik lainnya. Beberapa
jenis memilih membuat kepompong
dan menggantungkannya pada jaring.
Kebanyakan laba-laba menjaga kepom-
pongnya, namun beberapa lebih me-
milih meninggalkan kepompong dan
menyerahkan nasibnya kepada samar-
an yang dibuatnya.
Beberapa kelompok warga
memanfaatkan rajutan jaring laba-laba
untuk beberapa keperluan. warga
nelayan di kawasan Samudra Pasifik
banyak memakai jaring laba-laba
Nephila sebagai umpan memancing
ikan. warga Kepulauan New
Hebrides memintal jaring laba-laba
untuk membuat wadah guna mem-
bawa keperluan tertentu, seperti ma-
ta anak panah dan racunnya, atau
kantong tembakau. Beberapa suku di
Papua Nugini memanfaatkan jaring
laba-laba untuk topi saat hujan.
Pada tahun 1709, seorang warga
negara Prancis bernama Bon de
Saint-Hlaire mencoba memakai
kepompong laba-laba sebagai bahan
sutra. Usaha ini dinilai tidak mengun-
tungkan sebab diperlukan 1,3 juta
kepompong laba-laba untuk mem-
buat satu kilogram sutra saja. Di Ma-
dagaskar juga pernah ada usaha untuk
memperoleh bahan sutra dari laba-
laba. Caranya dengan “memerah”
bahan benang sutra dari laba-laba Ne-
philia. Usaha ini juga pada akhirnya
dihentikan sebab berbagai kendala.
Sebagai ciptaan Allah, kelom-
pok laba-laba dengan segala perikehi-
dupannya memberi banyak pelajaran,
baik dari sisi sains maupun dari sisi
spiritual, yang perlu ditimba manusia.
Yang perlu digarisbawahi yaitu bahwa
gambaran rumah laba-laba bukanlah
gambaran rumah ideal bagi seorang
mukmin. Menjadikan rumah sebagai
perangkap merupakan ide yang harus
dibuang jauh dari benak manusia.
Manusia mesti selalu mengingat pesan
yang Allah sampaikan melalui ayat
berikut.
namun mereka tetap menyombongkan diri dan
mereka yaitu kaum yang berdosa. (al-A‘rāf/7: 133)
Ayat ini menyebut sebagian
dari sembilan mukjizat yang diberikan
kepada Nabi Musa. Allah berfirman,
Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelin-
dung selain Allah yaitu seperti laba-laba yang
membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang
paling lemah ialah rumah laba-laba, sekiranya
mereka mengetahui. (al-‘Ankabūt/29: 41)
F. KUTU
Dalam Al-Qur'an kutu dikaitkan dengan
musibah yang menimpa warga
Mesir sebagai bentuk mukjizat yang
Allah berikan kepada Nabi Musa.
Maka Kami kirimkan kepada mereka topan, bela-
lang, kutu, katak dan darah (air minum berubah
menjadi darah) sebagai bukti-bukti yang jelas,
Dan sungguh, Kami telah memberikan kepada Musa
sembilan mukjizat yang nyata ) maka tanyakanlah
kepada Bani Israil, saat Musa datang kepada
mereka lalu Fir‘aun berkata kepadanya, “Wahai
Musa! Sesungguhnya aku benar-benar menduga
engkau terkena sihir.” (al-Isrā'/17: 101)
Kesembilam mukjizat Nabi Musa
yaitu tongkat yang berubah menjadi
ular (al-A‘rāf/7: 107); telapak tangan
yang bercahaya (al-A‘rāf/7: 108); tahun-
tahun kemarau (al-A‘rāf/7: 130; keku-
rangan pangan (al-A‘rāf/7: 130); topan
yang memporak-porandakan Mesir;
serangan belalang; serangan kutu;
serangan katak; dan berubahnya air
menjadi darah (al-A‘rāf/7: 133).
Kata al-qummal pada ayat di atas
yang diterjemahkan ke dalam bahasa
Indonesia menjadi kutu, diterjemahkan
ke dalam bahasa Inggris menjadi lice.
Kata ini lebih dekat dipahami sebagai
kelompok kutu Cimex lectularius (kutu
busuk), Pediculus humanus capitis (ku-
tu rambut), Pediculus humanus corpo-
ris (kutu badan), atau Phthirus pubis
285Hewan dalam Al-Qur'an
(kutu pubis) daripada kutu jenis lain
yang dikenal di Indonesia, seperti kutu
beras, kutu daun, kutu air, dan sejenis-
nya. Kutu penyebab caplak mungkin
saja dapat masuk ke dalam kriteria
kutu dalam ayat ini.
Kutu secara lebih spesifik disebut
dalam beberapa hadis, misalnya hadis
berikut yang menyebut kutu rambut.
َم بِاْلَُدْيبَِيِة ُكنَّا َمَع َرُسْوِل اهللِ َصلَّ اهلُل َعَلْيِه َوَسلَّ
ُكْوَن ، َقاَل: َنا اْلُْشِ َوَنْحُن ُمِْرُمْوَن ، َوَقْد َحَصَ
َعَل َتَساَقُط اْلََواُم َفَجَعَلِت َفْرَوٌة ِلْ َكاَنْت
َوْجِهْي، َفَمرَّ ِبْ َرُسْوُل اهللِ َصلَّ اهللُ َعَلْيِه َوَسلََّم،
َفَقاَل : َأُيْؤِذْيَك َهَواُم َرْأِسَك ؟ ُقْلُت : َنَعْم، َقاَل:
َأْو َمِرْيًضا ِمنُْكْم َكاَن َفَمْن َهِذِه اآلَيُة : َوُأْنِزَلْت
َأْو َأْو َصَدَقٍة ِمْن ِصَياٍم َفِفْدَيٌة َرْأِسِه ِمْن َأًذى بِِه
ُنُسٍك . )رواه البخاري عن كعب بن عجزة(
Kami sedang bersama Rasulullah di Hudaibiyah
dalam keadaan Ihram. Orang-orang kafir saat itu
mengepung kami. Aku punya rambut yang tebal
dan panjang (yang banyak kutunya). Kutu rambut
itu mulai berjatuhan di mukaku. Rasulullah berjalan
di didepanku dan bersabda, “Apakah kutu rambut
di kepalamu mengganggumu?” Aku menjawab,
“Ya.” lalu turunlah ayat (al-Baqarah/2: 196),
“Jika ada di antara kamu yang sakit atau ada gang-
guan di kepalanya (lalu dia bercukur), maka dia
wajib ber-fidyah, yaitu berpuasa, bersedekah atau
berkurban.” (Riwayat al-Bukhārī dari Ka‘b bin
‘Ajzah)
Sementara itu, dua hadis berikut
menyebut kutu yang memicu
gatal di badan dan kutu yang me-
nempel di kain.
َبْيَ َشَكَوا إَِل النَّبِيِّ مْحََن ْبَن َعْوٍف َوالزُّ إِنَّ َعْبَد الرَّ
َفَأْرَخَص ، َل اْلُقمَّ َيْعنِي ، َم َوَسلَّ َعَلْيِه اهللُ َصلَّ
)رواه . َغَزاٍة ِفْ َعَلْيِهَم َفَرَأْيُتُه ، اْلَِرْيِر ِف َلَُم
البخاري ومسلم عن أنس(
‘Abdurraĥmān bin ‘Auf dan Zubair mengadu kepada
Rasulullah tentang kutu (yang memicu
rasa gatal di kulit). Rasulullah lantas mengijinkan
mereka untuk mengenakan pakaian sutra. Aku
melihat mereka memakai pakaian itu pada suatu
perang. (Riwayat al-Bukhārī dan Muslim dari Anas)
َم َوَسلَّ َعَلْيِه اهللُ اهللِ َصلَّ َرُسْوُل َكاَن َما ُسِئْلُت
ا ِمَن اْلَبَشِ ، َيْفِلْ َيْعَمُل ِفْ َبْيتِِه ، َقاَلْت : َكاَن َبَشً
ُدُم َنْفَسُه . )رواه أمحد عن َثْوَبُه َوَيُْلُب َشاَتُه َوَيْ
عائشة(
Aku (‘Aisyah) ditanya tentang apa yang Rasulullah
lakukan di kediamannya. Dia (‘Aisyah) menjawab,
“Beliau yaitu orang biasa; membersihkan pakai-
annya dari kutu, memerah susu kambing, dan mela-
yani dirinya sendiri. (Riwayat Aĥmad dari ‘Aisyah)
Perikehidupan Kutu
Dalam bahasa Indonesia, kutu
menunjuk pada kelompok Artropoda
yang berukuran kecil bahkan sangat
kecil. Kutu juga dipakai untuk menyebut
sejumlah udang air berukuran kecil
(seperti kutu air), serangga (seperti
kutu kepala, kutu badan, dan kutu
daun), serta—secara salah kaprah—
berbagai anggota Acarina (tungau dan
caplak, yang berkerabat lebih dekat
dengan laba-laba daripada dengan
serangga). Semua hewan ini disebut
kutu sebab ukurannya yang kecil.
Dengan demikian, pengertian awam
terhadap istilah ini tidak memiliki arti
yang bersifat taksonomis. Dalam arti
lebih sempit, kutu yaitu serangga
yang tidak bersayap dan berukuran
kecil, yang dalam bahasa Inggris men-
cakup flea (kutu yang melompat) dan
lice (kutu yang lebih suka merayap;
semua bersifat parasit). Dalam bahasa
Indonesia keduanya tidak dibedakan,
bahkan kutu dalam bahasa Indonesia
juga mencakup sebagian dari kerabat
wereng dan beberapa anggota kupu-
kupu. Untuk menjelaskan kutu mana
yang dimaksud maka kita mengim-
buhkan kata penerang di belakang ka-
ta kutu itu sendiri, seperti kutu badan,
kutu rambut, dan seterusnya.
Kutu badan, kutu rambut, kutu
busuk, dan kutu pubis—selanjutnya
disebut “kutu” saja—yaitu serangga
parasitik berukuran kecil yang hidup
di bagian tubuh manusia, pakaian,
atau tempat tidur. Kutu hidup dari
mengisap darah manusia yang meng-
akibatkan gatal dan iritasi kulit, terka-
dang bahkan memicu infeksi kulit.
Kutu biasa menginfeksi orang-orang
dengan tempat tidur yang kotor, ja-
rang berganti pakaian, atau jarang
mandi
Hubungan antara kutu dan ma-
nusia sangat erat, bahkan kemun-
culan jenis-jenis kutu ini dapat dikait-
kan dengan evolusi manusia dalam
berpakaian. Kesimpulan ini muncul
sesudah sebuah penelitian membuk-
tikan kutu menetap pada inangnya
dalam periode evolusi yang panjang.
Kutu tidak dapat hidup tanpa adanya
manusia yang memakai pakaian, ti-
dak menjadi soal apakah pakaian itu
terbuat dari kulit (di masa lalu) atau dari
katun (pada masa yang lebih modern).
Terbukti bahwa jika pakaian yang
terinfeksi kutu dilepas dan tidak digu-
nakan untuk beberapa hari, maka kutu
akan mati. Ini membuktikan bahwa
pakaian sangat penting bagi kutu
sebagai habitat hidupnya, panas tubuh
manusia sebagai unsur habitat, dan
darah sebagai makanannya.
Budaya berpakaian atau tidur
di kasur terkait erat dengan hadirnya
jenis-jenis kutu ini di dunia. Manusia
diperkirakan mulai mengenakan pakai-
an sesudah kehilangan rambut pada
tubuhnya. Merujuk pada penelitian
sebelumnya, peristiwa ini terjadi sekira
1 juta tahun lalu. Sementara itu, studi
DNA terhadap kutu badan menunjuk-
kan bahwa manusia diperkirakan mu-
lai berpakaian sejak 170.000 tahun
lalu. Kesimpulan ini mirip dengan apa
yang dihasilkan oleh sebuah studi
tentang evolusi kutu yang dilakukan
di Universitas Florida. Studi ini me-
nemukan bahwa manusia modern
mulai mengenakan pakaian paling
tidak sekitar 70.000 tahun sebelum
bermigrasi ke daerah yang lebih tinggi
dan beriklim lebih dingin. Migrasi itu
sendiri terjadi kira-kira 100.000 tahun
lalu. Dengan demikian, manusia cukup
lama mengalami masa tanpa rambut
tubuh dan tanpa pakaian.
Kutu badan (Pediculus humanus
humanus) yang biasa juga disebut
Pedulus humanus corporis yaitu se-
rangga kecil yang menginfeksi ma-
nusia. Nenek moyang kutu-kutu ini
diperkirakan muncul pada 770.000
tahun yang lalu. Daur hidup kutu badan
dimulai dari telur (menetas dalam 1–2
minggu), nimfa (selama 8–12 hari),
dan dewasa. Kutu badan bertelur di
pakaian dan melekatkannya dengan
erat pada serat–serat pakaian. Kutu
badan dewasa berdiam di pakaian
dan baru akan berpindah ke inangnya
(manusia) saat memerlukan makanan.
Untuk bertahan hidup, kutu badan
harus mengisap darah. jika ia
terpisah dari manusia yang menjadi
inangnya maka ia akan mati pada
suhu kamar. Dari sini terlihat bahwa
manusia yaitu inang spesifik bagi
kutu-kutu ini .
Kutu rambut (Pediculus humanus
capitis) sangat mirip dengan kutu ba-
dan, namun secara biologi berbeda
dalam beberapa hal. Sama halnya
dengan kutu badan, kutu kepala
yaitu sejenis parasit pengisap darah,
hanya saja mereka hidup di bagian
kepala. Kutu rambut betina mampu
bertelur enam buah sehari, yang me-
lekat kuat pada rambut. Telur-telur
ini akan menetas sesudah 8 hari. Kutu
rambut menyebar dengan cepat mela-
lui sentuhan dengan rambut yang
bermasalah. Hewan ini juga dapat
berpindah ke kepala lain melalui sisir,
sikat rambut, topi, dan bantal yang
dipakai secara bersama-sama. Se-
bagimana kutu badan, kutu rambut
juga berperan sebagai inang untuk
beberapa penyakit, seperti tifus.
Kutu lainnya yaitu kutu kelamin
atau kutu pubis (Phthirus pubis). Se-
rangga parasit penghisap darah ini
hidup di kulit sekitar kelamin manusia,
satu-satunya tuan rumah parasit ini.
Kutu ini memiliki ukuran sangat kecil,
tapi masih kasat mata. Warnanya ke-
labu kekuningan dan bentuk badan-
nya menyerupai kepiting. Kutu pubis
biasanya mencengkeram sehelai ram-
but kemaluan dengan cakarnya dan
menancapkan kepalanya ke kulit di
mana ia menghisap darah dari pem-
buluh darah yang kecil. Gejala akibat
kutu pubis mudah dikenali, yaitu gatal
di kulit di sekitar kemaluan yang tidak
berkesudahan walau sudah digaruk.
Pada beberapa orang bahkan bisa
timbul ruam alergi sesudah digaruk
dengan kuat, yang lalu meng-
akibatkan infeksi bakteri. Kutu pubis
cukup umum dijumpai terutama pada
kalangan muda (15–25 tahun), lajang,
dan biasanya dikaitkan dengan infeksi
menular seksual lainnya.
Kutu pubis dapat hidup di luar
tubuh selama satu hari bila sudah
kenyang menghisap darah. Kutu-kutu
ini dapat jatuh ke pakaian dalam,
selimut, handuk, dan sebagainya. Telur
kutu yang ada di pakaian dan selimut
dapat bertahan sampai enam hari,
sehingga seseorang dapat saja tertular
kutu pubis sebab memakai pa-
kaian dan handuk oang lain, bahkan
tidur di ranjangnya. Kutu pubis dapat
dijumpai pula di ketiak dan kulit kepala,
biasanya sebab terbawa dari area
kemaluan melalui jari atau kuku.
Kutu busuk (Cimex lectularius)
yaitu serangga parasitik. Kutu busuk
jenis ini hanya menginfeksi manusia,
sedang jenis lain dari kelompok ini
menginfeksi hewan berdarah panas
lainnya. Banyak kasus penyakit kulit
disebabkan oleh kutu busuk ini. Pada
permulaan tahun 1940 dilakukan pem-
basmian besar-besaran terhadap kutu
busuk yang sangat mengganggu ini.
Sayang, wabah ini muncul kembali
pada tahun 1995-an. Belum ada penje-
lasan yang memuaskan mengapa wa-
bah ini muncul. Cimex lectalurius dapat
ditemukan di seluruh dunia. Muncul
dugaan jenis ini mulai hidup di kawasan
Timur Tengah, hidup di gua-gua yang
dihuni oleh kelelawar dan manusia.
Kutu ini mulai dikenal manusia dan
tercatat dalam beberapa naskah kuno
Yunani sejak tahun 400 SM. Aristo-
teles yaitu peneliti pertama yang
membuat tulisan mengenai kutu bu-
suk ini. Hubungan kutu ini dengan
manusia sudah berjalan ribuan tahun.
Nama kutu ini dalam bahasa Inggris,
bed bug, menunjukkan tempat tidur
sebagai habitat kesukaannya.
Walaupun bukan hewan yang
aktif pada malam hari, namun mere-
ka relatif lebih aktif pada malam ha-
ri sebab lebih banyak mendapat
kesempatan untuk itu. Tubuh kutu
busuk dewasa berwarna merah ke-
coklatan dan berbentuk bulat telur.
Panjang badannya antara 4–5
mm. Mereka memakai
feromon dan kairomon un-
tuk berkomunikasi, teruta-
ma dalam keperluan makan, repro-
duksi, dan menentukan lokasi sarang.
Banyak karya telah ditulis mengenai
cara membasmi kutu busuk ini meng-
gunakan bahan herbal.
Gejala akibat gigitan kutu mudah
diidentifkasi, seperti munculnya rasa
gatal yang sangat intens, luka pada
kulit akibat digaruk, dan timbulnya
infeksi pada kulit dalam bentuk ber-
cak-bercak merah. Infeksi yang parah
akan membuat kulit menebal dan ber-
warna kehitaman. jika tidak segera
ditangani, infeksi akibat bakteri akan
segera menyusul. Di samping gatal
dan infeksi, kutu dapat juga menjadi
inang bagi penyakit tifus dan demam
tinggi. Walaupun penyakit tifus tidak
lagi menyebar luas, namun dalam
lingkungan kecil penyebarannya ma-
sih mungkin tejadi, misalnya pada
saat-saat kondisi sanitasi tidak baik,
seperti pada masa perang, di kawasan
penampungan akibat bencana alam,
atau dil lingkungan kumuh.
Caplak, demikian juga tungau,
sebenarnya merupakan hewan parasit
yang masuk kelompok laba-laba, dan
menjadi vector atau inang antara un-
tuk berbagai jenis penyakit, antara
lain Colorado tick fever, tickborne
meningo-encephalitis, erichiiosis, dan
selanjutnya. Hewan ini hidup di pa-
dang rumput atau semak, di mana
mereka berdiam di daun atau ujung
rumput yang tinggi menunggu waktu
untuk melekatkan diri pada hewan
berdarah panas yang kebetulan lewat.
Caplak dimasukkan dalam bahasan ini
sebab ada kemungkinan kata “kutu”
dalam terjemah ayat dan hadis di
atas juga mengacu pada hewan ini.
Meski caplak tidak memiliki hubungan
dengan manusia seerat hubungan
keempat jenis kutu di atas dengan
manusia, caplak tetap saja patut di-
perhatikan. Caplak hidup sebagai para-
sit pada hewan berdarah panas, baik
yang liar (rusa, beruang) maupun yang
sudah didomestikasi (kuda, sapi, unta,
anjing). Hewan-hewan yang disebut
terakhir ini berhubungan erat dengan
manusia, sehingga mungkin saja pada
masa itu sudah teridentifikasi kemung-
kinan hewan-hewan ini dapat menular-
kan penyakit kepada manusia.
Uraian tentang kehidupan kutu
di atas dapat kiranya memberi gam-
baran seberapa besar gangguan yang
ditimbulkan kutu terhadap kenyaman-
an dan kesehatan manusia. Dengan
menurunkan kutu sebagai azab bagi
penduduk Mesir pada masa Nabi
Musa, Allah hendak memberi pelajaran
yang penting bagi manusia. Budaya
mengenakan pakaian oleh manusia
sebagai ganti bulu yang hilang, dan
kebiasaan tidur di kasur membawa
konsekuensi bagi manusia. Mereka
mesti selalu memperhatikan aspek
kebersihan pakaian dan kasur. Bila ini
dilewatkan maka manusia tidak perlu
menyalahkan selain diri mereka sendiri
andaikata wabah kutu seperti yang
pernah terjadi pada masa Firaun akan
mucul lagi.
G. IKAN
Al-Qur'an menyebut ikan secara tersu-
rat maupun tersirat, baik dalam seba-
gai perumpamaan maupun tidak. Ikan
biasa disebut terkait hukum halal-
haram makanan serta terkait beberapa
kisah nabi, seperti Nabi Musa dan
Nabi Yunus. Ayat berikut berisi daftar
makanan-makanan yang diharamkan.
ا اْلَْيَتَتاِن : َفاْلََراُد ُأِحلَّْت َلنَا َمْيَتَتاِن َوَدَماِن ، َفَأمَّ
. َواْلَكبُِد َفالطَُّحاُل : َماِن الدَّ ا َوَأمَّ ، َواْلُوُت
)رواه البيهقي عن ابن عمر(
Telah dihalalkan bagi kita dua jenis bangkai dan
dua jenis darah. Dua jenis bangkai yaitu bangkai
ikan paus dan bangkai belalang. Adapun dua jenis
darah yaitu hati dan limpa. (Riwayat al-Baihaqi
dari Ibnu ‘Umar)
Ayat lain yang juga menjelaskan
halalnya ikan dikonsumsi yaitu firman
Allah,
Sesungguhnya Dia hanya mengharamkan atasmu
bangkai, darah, daging babi, dan (daging) hewan
yang disembelih dengan (menyebut nama) selain
Allah. namun barangsiapa terpaksa (memakannya),
bukan sebab menginginkannya dan tidak (pula)
melampaui batas, maka tidak ada dosa bagi-
nya. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha
Penyayang. (al-Baqarah/2: 173)
Ayat di atas menegaskan bahwa
bangkai, yakni hewan yang mati se-
cara alami atau oleh sebab-sebab lain
selain disembelih dengan tata cara
yang sah, yaitu makanan yang diha-
ramkan. Bangkai meliputi hewan yang
mati tua, mati sebab kecelakaan,
diterkam binatang buas, tenggelam,
atau disembelih tidak atas nama Allah.
Secara umum bangkai hukumnya ha-
ram, kecuali ikan dan belalang yang
dikecualikan hukumnya berdasar
hadis Rasulullah. Ikan yang mati de-
ngan cara apapun halal dimakan, de-
mikian juga belalang. Hukum ini tentu
saja hanya berlaku selama keduanya
belum membusuk, sebab setiap hal
yang menjijikkan menurut fitrah ma-
nusia normal hukumnya haram.
Dihalalkan bagimu hewan buruan laut dan makanan
(yang berasal) dari laut sebagai makanan yang
lezat bagimu, dan bagi orang-orang yang dalam
perjalanan; dan diharamkan atasmu (menangkap)
hewan darat, selama kamu sedang ihram. Dan
bertakwalah kepada Allah yang kepada-Nya kamu
akan dikumpulkan (kembali). (al-Mā'idah/5: 96)
Yang dimaksud hewan buruan
laut pada ayat ini yaitu semua jenis
hewan laut yang diperoleh dengan
cara berburu, seperti memancing, me-
mukat, dan teknik-teknik lainnya. Pe-
ngertian “laut” pada ayat ini tidaklah
terbatas pada pengertian laut dalam
bahasa Indonesia, yakni kumpulan air
asin dalam jumlah yang banyak dan
luas, yang menggenangi dan mem-
bagi daratan menjadi benua dan
pulau-pulau. Kata laut merupakan
terjemah dari kata bahasa Arab al-
baĥr, suatu kata yang pada dasanya
mengandung pengertian lebih luas
daripada pengertian yang dikandung
oleh kata laut dalam bahasa Indoensia.
Para ulama sepakat tidak membatasi
pengertian kata al-baĥr menjadi laut
saja, namun ia juga memuat badan air
lainnya, seperti sungai, danau, kolam,
dan sejenisnya. Dengan demikian, atur-
an pada ayat ini juga mencakup ikan air
tawar.
Pengertian al-baĥr secara lebih
jelas disebutkan dalam Surah Fāţir/35:
12. Ayat ini membagi al-baĥr (laut)
menjadi dua: yang berair tawar dan
yang berair asin. Demikian juga dalam
Surah an-Naĥl/16: 14; Allah menyebut
al-baĥr sebagai penghasil daging
(ikan) segar dan perhiasan (misalnya
mutiara). Hal ini mengisyaratkan bah-
wa al-baĥr memang tidak terbatas
pengertiannya pada apa yang dikan-
dung oleh kata laut dalam bahasa
Indonesia, sebab baik ikan maupun
perhiasan tidak hanya dihasilkan oleh
laut yang berair asin, tapi juga oleh
badan air yang berair tawar.
Dan tidak sama (antara) dua lautan; yang ini tawar,
segar, sedap diminum dan yang lain asin lagi pahit.
Dan dari (masing-masing lautan) itu kamu dapat
memakan daging yang segar dan kamu dapat
mengeluarkan perhiasan yang kamu pakai, dan di
sana kamu melihat kapal-kapal berlayar membelah
laut agar kamu dapat mencari karunia-Nya dan
agar kamu bersyukur. (Fāţir/35: 12)
Dan Dialah yang menundukkan lautan (untukmu),
agar kamu dapat memakan daging yang segar
(ikan) darinya, dan (dari lautan itu) kamu
mengeluarkan perhiasan yang kamu pakai. Kamu
(juga) melihat perahu berlayar padanya, dan agar
kamu mencari sebagian karunia-Nya, dan agar
kamu bersyukur. (an-Naĥl/16: 14).
Frasa “daging yang segar” me-
rupakan terjemah dari “laĥm țariy”.
Kata ini diterjemahan ke dalam bahasa
Inggris menjadi “fresh and tender”.
Terjemah ini terlihat lebih tepat sebab
lebih dapat memberi gambaran ten-
tang tekstur alami daging ikan segar
yang lembut.
Ikan juga disebut dalam Surah
al-A‘rāf/7: 163. Di sini Allah menyebut
ikan sebagai cobaan yang diturunkan-
Nya kepada Bani Israil.
Dan tanyakanlah kepada Bani Israil tentang
negeri yang terletak di dekat laut saat mereka
melanggar aturan pada hari Sabtu, (yaitu) saat
datang kepada mereka ikan-ikan (yang berada di
sekitar) mereka terapung-apung di permukaan air,
padahal pada hari-hari yang bukan Sabat ikan-ikan
itu tidak datang kepada mereka. Demikianlah Kami
menguji mereka disebabkan mereka berlaku fasik.
(al-A‘rāf/7: 163)
Beberapa pustaka menjelaskan
negeri yang dimaksud dalam ayat di atas
kemungkinan yaitu Kota Eliah yang
terletak di pantai Laut Merah, antara
kota Madyan dan bukit Tur. Adapun
penyebutan hari Sabtu menunjuk pada
apa yang sekarang dikenal sebagai
Hari Sabat. Musa membuat aturan
melarang Bani Israil bekerja pada hari
Sabtu, dan menjadikannya sebagai hari
yang dikhususkan untuk beribadah.
Dengan demikian, pada hari Sabtu
itu mereka tidak diperkenankan meng-
ambil ikan, walaupun saat itu ikan
datang dalam jumlah banyak di ka-
wasan pantai—diriwayatkan Allah se-
ngaja mendatangkan ikan yang amat
melimpah pada hari itu untuk meng-
uji keteguhan dan ketaatan Bani Israil
terhadap aturan yang dibuat oleh
Nabi Musa. Sayangnya, Bani Israil ti-
dak mengindahkan aturan Musa itu.
Mereka tergiur menangkapi ikan yang
datang ke pantai mereka, melanggar
aturan Musa. sebab pelanggaran ini
Allah mengutuk mereka menjadi kera
(al-Baqarah/2: 65). Itu yaitu untuk
kesekian kalinya Bani Israil melanggar
aturan Nabi Musa, yang pada hakikat-
nya merupakan aturan Allah.
Ikan juga menjadi subjek yang
penting dalam kisah Nabi Musa saat
bertemu Nabi Khidir. Kisah dimulai
dari kebanggaan pada diri Musa yang
merasa sebagai orang yang paling
bijaksana. Ada riwayat yang menga-
takan pada saat itu Musa belum
diangkat menjadi rasul, dengan alas-
an seorang rasul tidak pantas mem-
punyai sifat kesombongan dalam di-
rinya. Riwayat lainnya mengatakan
sebaliknya; seorang rasul tetap saja
memiliki sisi manusiawi dalam dirinya.
Mungkin kebanggan itu muncul dalam
diri Musa sebab merasa Allah telah
memberinya banyak mukjizat dan juga
Taurat. sebab itu Allah mewahyukan
kepadanya untuk menemui “seorang
hamba dari hamba-hamba Allah” yang
tinggal di suatu tempat di “pertemuan
dua laut” yang memiliki tingkat kebijak-
sanaan lebih tinggi daripada Musa.
Musa bersama pengiringnya lalu
melakukan perjalanan untuk mene-
mui hamba Allah itu untuk belajar
darinya kebijaksanaan yang belum di-
kuasainya. Dia diharuskan membawa
ikan hidup dalam sebuah wadah.
Dan (ingatlah) saat Musa berkata kepada
pembantunya, “Aku tidak akan berhenti (berjalan)
sebelum sampai ke pertemuan dua laut; atau aku
akan berjalan (terus sampai) bertahun-tahun.”
Maka saat mereka sampai ke pertemuan dua laut
itu, mereka lupa ikannya, lalu (ikan) itu melompat
mengambil jalannya ke laut itu. Maka saat mereka
telah melewati (tempat itu), Musa berkata kepada
pembantunya, “Bawalah kemari makanan kita;
sungguh kita telah merasa letih sebab perjalanan
kita ini.” Dia (pembantunya) menjawab, “Tahukah
engkau saat kita mencari tempat berlindung di
batu tadi, maka aku lupa (menceritakan tentang)
ikan itu dan tidak ada yang membuat aku lupa
untuk mengingatnya kecuali setan, dan (ikan)
itu mengambil jalannya ke laut dengan cara yang
aneh sekali.” Dia (Musa) berkata, “Itulah (tempat)
yang kita cari.” Lalu keduanya kembali, mengikuti
jejak mereka semula. Lalu mereka berdua bertemu
dengan seorang hamba di antara hamba-hamba
Kami, yang telah Kami berikan rahmat kepadanya
dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan ilmu
kepadanya dari sisi Kami. (al-Kahf/18: 60-65)
Ada dua pendapat tentang apa
yang dimaksud dengan pertemuan dua
laut. Pendapat pertama menyatakan
pertemuan dua laut yaitu sebuah
lo-kasi yang benar-benar nyata. Menu-
rut pendapat ini, lokasi itu biasa saja
kawasan Bab al-Mandab, tempat per-
temuan antara Lautan Hindia dan
Laut Merah; atau Selat Gibraltar yang
menjadi pertemuan antara Lautan At-
lantik dan Laut Tengah.
Pendapat kedua menyatakan
bahwa “pertemuan dua laut” lebih
Allah mengatakan bahwa bila ikan itu
menghilang dari wadah, maka di tem-
pat itulah ia akan bertemu hamba Allah
ini . Tibalah mereka di pertemuan
dua laut. Di sana Musa terlelap akibat
kecapaian, melupakan ikan yang diba-
wanya. saat Musa tertidur, pengiring-
nya yang masih terjaga melihat ikan itu
keluar dari wadah, berjalan menuju air,
dan berenang pergi. Sayangnya, pria
itu lupa memberitahukan apa yang
dilihatnya kepada Musa. Hilangnya
ikan itu baru diberitahukan kepada
Musa lalu , saat istirahat makan
sesudah berjalan sekian lama. Mereka
bergegas kembali ke tempat ikan itu
hilang, dan bertemulah mereka de-
ngan seorang lelaki, yang dalam bebe-
rapa riwayat disebut bernama Nabi
Khidir.
Kisah proses pertemuan Musa
dengan Nabi Khidir diabadikan Allah
dalam Surah al-Kahf/18: 60–65.
bersifat majazi daripada hakiki. “Dua
laut” mewakili dua alur ilmu: ilmu
yang diperoleh melalui observasi dan
koordinasi intelektual dari fenomena
yang ada (al-‘ilm až-žāhir), dan ilmu
yang bersifat intuitif dan diperoleh
melalui penglihatan mistik (al-‘ilm al-
bāțin). Pertemuan kedua ilmu itulah
yang menjadi tujuan utama perjalanan
Nabi Musa. Masih menurut pendapat
ini, ikan lebih merupakan simbol pe-
ngetahuan mengenai kebijaksanaan
(ilmu hikmah) atau kehidupan yang
langgeng, daripada ikan dalam arti
yang sebenarnya.
Ikan juga disebut sebagai salah
satu tokoh dalam kisah Nabi Yunus.
Nabi Yunus diutus oleh Allah untuk
menyampaikan dakwah kepada pendu-
duk Niniveh, suatu kota yang penuh
kejahatan dan kekejian. Dakwah Yunus
tidak disambut baik oleh kaumnya;
mereka malah memusuhi dan mengusir
Yunus. Merasa tidak tahan dengan
tanggapan umatnya, Nabi Yunus pun
pergi meninggalkan mereka, berlayar
mengarungi lautan menumpang kapal
yang penuh muatan. Di tengah perja-
lanan, kapal itu nyaris tenggelam.
Awak kapal berinisiatif mengundi
siapa yang harus diceburkan ke laut
untuk agar muatan kapal berkurang
dan tidak tenggelam. Keluarlah nama
Yunus, sehingga ia pun diceburkan.
Begitu tercebut, Nabi Yunus ditelan
oleh ikan besar, semacam ikan paus.
Di dalam perut ikan itu beliau bertas-
bih dan bertobat kepada Allah atas
kesalahannya lari dari kaumnya. Allah
pun berkenan mengampuninya. Andai-
kata ia tidak bertasbih dan bertobat
kepada Allah, pasti ia akan mati di
dalam perut ikan itu dan tetap di sana
sampai Hari Kebangkitan (aș-Șāffāt/37:
143–144). Tidak hanya Nabi Yunus yang
memperoleh ampunan dari Allah, tapi
juga penduduk Niniveh yang pada
akhirnya bertobat (Yūnus/10: 98). Kisah
ini menginspirasi manusia untuk selalu
bersabar dan bertawakal menerima
kehendak Allah, sebagaimana juga di-
contohkan dalam Surah al-Qalam/68:
48.
Maka dia ditelan oleh ikan besar dalam keadaan
tercela. (aș-Șāffāt/37: 142)
Maka bersabarlah engkau (Muhammad) terhadap
ketetapan Tuhanmu, dan janganlah engkau seperti
(Yunus) orang yang berada dalam (perut) ikan
saat dia berdoa dengan hati sedih. (al-Qalam/68:
48)
296 Hewan dalam Perspektif Al-Qur'an & Sains
Dan (ingatlah kisah) Zun Nun (Yunus), saat dia
pergi dalam keadaan marah, lalu dia menyangka
bahwa Kami tidak akan menyulitkannya, maka
dia berdoa dalam keadaan yang sangat gelap,
“Tidak ada tuhan selain Engkau, Mahasuci Engkau.
Sungguh, aku termasuk orang-orang yang zalim.”
(al-Anbiyā’/21: 87)
Ketiga ayat di atas secara ekspli-
sit menyebut ikan besar—pada dua
ayat pertama disebut al-ĥūt dan pada
ayat terakhir disebut an-nūn—yang
menelan Nabi Yunus. Bagian dalam
(perut) ikan yang gelap tampaknya
merupakan simbol dari tekanan spi-
ritual yang dialami Nabi Yunus, be-
ban spiritual sebagai seorang rasul
Allah yang “melarikan diri” dari tugas
kerasulan, seperti budak yang melari-
kan diri dari tuannya. Secara garis
besar, kisah ini menunjukkan bahwa
manusia diciptakan dalam keadaan
lemah (“Allah hendak memberikan
keringanan kepadamu, sebab manu-
sia diciptakan (bersifat) lemah” [an-
Nisā'/4: 28]), bahkan seorang rasul
pun seperti Yunus tidak akan lepas dari
sifat dasar manusia yang demikian ini.
Ikan jenis apa yang menelan
Yunus tidak dijelaskan dalam Al-Qur'an.
Dimana kejadian itu berlangsung juga
tidak disebutkan, namun diperkirakan
di kawasan Mesopotamia. Al-Qur'an
hanya menyebut ikan itu al-ĥūt dan
an-nūn, yang dapat berarti ikan besar
atau buaya. Dalam Perjanjian Lama
disebutkan bahwa Yunus naik kapal
di kawasan yang sekarang dikenal
sebagai Jaffa di Laut Tengah, seki-
tar 600 mil dari Niniveh. jika de-
mikian halnya maka bisa jadi ikan yang
dimaksud yaitu paus. Nabi Yunus
diceritakan naik kapal dagang yang
penuh muatan (aș-Șāffāt/37: 110). Ka-
pal itu tampaknya cukup besar dan
kuat untuk mengarungi lautan luas,
tempat ikan paus banyak ditemukan.
Wallāhu a‘lam.
Perikehidupan Ikan
Ikan yaitu hewan bertulang belakang
yang hidup di air dan bernafas dengan
insang. Istilah ikan dalam bahasa
Indonesia tidak saja menunjuk mereka
yang bernafas dengan insang, tapi
juga memasukkan mamalia laut yang
bernafas dengan paru-paru, seperti
ikan paus. Bentuk ikan beraneka ra-
gam, mulai yang memiliki bentuk
“baku” ikan hingga yang berbentuk
“aneh” seperti kuda laut (gambar
198). Ikan laut terbesar yaitu hiu paus
(whale shark) dari jenis Rhincodon
typus. Hiu paus termasuk ikan dalam
arti sebenarnya sebab ia bernafas de-
ngan insang, berbeda dari ikan besar
lainnya, “ikan” paus, mamalia yang
bernafas dengan paru-paru.
Baik ikan air tawar maupun ikan
laut merupakan sumber daya yang
penting di dunia sebagai pemasok
297Hewan dalam Al-Qur'an
makanan. Ikan ditangkap dengan dua
skala berbeda. Skala pertama disebut
subsisten, yakni penangkapan dalam
skala kecil atau sedang, seperti yang
dilakukan para nelayan kecil dan se-
dang saat ini dengan memakai
pancing dan jala. Yang kedua disebut
skala industri, seperti yang dilakukan
dalam industri perikanan ikan tuna.
Untuk menangkap ikan tuna dikerah-
kan armada kapal besar yang dapat
bertahan pada kondisi laut samudra.
Penangkapan ikan tuna di samu-
dra lepas sudah menjadi industri besar.
Ikan tuna ditangkap dengan pancing
dan jala. Penangkapan dengan pan-
cing dapat menjamin hasil yang diper-
oleh murni ikan tuna, sedang
dengan jala tidak bisa sebab ikan
jens lain yang tidak menjadi tujuan
penangkapan akan ikut terjaring. Gam-
bar 199 memperlihatkan penangkapan
tuna dengan jaring juga menjaring
penyu laut dan ikan pari besar secara
tidak sengaja. Seiring kemajuan ilmu
pengetahuan banyak jenis ikan saat ini
dapat dibudidayakan secara masal di
kolam air tawar dan air payau, jaring
apung, bahkan bak-bak plastik. Selain
sebagai makanan, ikan juga digemari
sebagai hiburan atau objek penyaluran
hobi, seperti menjadi ikan hias atau
menjadi objek penyaluran hobi me-
mancing, menjala, dan sejenisnya.
Daging ikan laut maupun ikan air
tawar mengandung bahan dasar dan
nutrisi yang diperlukan manusia. Selain
itu, daging ikan juga mengandung zat-
zat yang mengurangi risiko timbulnya
beberapa penyakit pada tubuh manu-
sia. Pada minyak ikan terkandung
dua tipe lemak tak jenuh yang sangat
baik bagi kesehatan manusia, yaitu
EPA (EicosaPentaenoic Acid) dan
DHA (DocosaHexaenoic Acid). Dua
lemak tak jenuh ini mengandung asam
omega-3. Omega-3 tidak diproduksi
oleh tubuh manusia, sehingga manusia
hanya bisa mendapatkannya dari luar
tubuh, dari asupan makanan. Salah
satu kegunaan omega-3 bagi manusia
yaitu menambah daya konsentrasi.
EPA dan DHA juga dihasilkan oleh
tumbuhan. Berbeda dari EPA dan DHA
yang dibentuk oleh plankton, organ-
isme renik yang hidup di lautan, apa
yang dihasilkan tumbuhan tidak terlalu
efektif bagi manusia. jika ikan
memakan plankton maka kandungan
EPA dan DHA yang dihasilkan oleh
plankton akan tertinggal dalam tubuh
ikan.
Ikan juga memiliki kandungan
lemak yang cukup. Kandungan asam
lemak pada ikan salah satunya dapat
dipakai sebagai sumber energi.
Asam lemak ini melakukan transfer
elektron dengan menempelkan dirinya
pada oksigen di dalam tubuh. Proses
ini akan menghasilkan energi untuk
dipakai dalam proses kimiawi di dalam
tubuh. Itulah sebabnya mereka yang
banyak mengonsumsi minyak ikan
lebih cepat pulih dari kelelahan dan
memiliki kapasitas fisik dan mental
yang lebih baik.
Berikut ini manfaat-manfaat lain
yang diperoleh dari mengonsumsi da-
ging ikan.
1. Berdampak baik bagi kesehatan
jantung dan pembuluh darah. Asam
lemak omega-3 dikenal memper-
kecil risiko penyakit jantung dengan
mengurangi tekanan darah tinggi
dan mengurangi kandungan koles-
terol dan trigliserid di dalam darah.
Trigliserid yaitu lemak yang mirip
dengan LDL (kolesterol jahat). Un-
sur ini mengandung banyak lemak
dan sedikit protein. Selain itu, mi-
nyak ikan juga dapat mencegah
terjadinya penggumpalan darah.
Kecepatan aliran darah normal ada-
lah sekitar 60 km per jam. Untuk
mencapai kecepatan itu, keenceran
darah menjadi syarat utama. yaitu
berbahaya jika darah mengental
dan bergumpal. Berikutnya, ome-
ga-3 juga penting dalam produksi
hemoglobin, molekul yang menang-
kap oksigen dalam darah merah
dan mengatur nutrien melewati
membran.
2. Mengoptimalkan pertumbuhan ja-
nin dan bayi. Omega-3 yaitu kom-
ponen penting bagi perkembangan
otak dan mata janin. Omega-3 yang
dikonsumsi oleh ibu hamil akan
mengoptimalkan pertumbuhan ja-
ninnya. Ibu yang sedang menyusui
dianjurkan memberi ASI kepada
bayinya sebab air susu yaitu
media terbaik untuk menyimpan
omega-3.
3. Menjaga kesehatan persendian.
Penyakit artritis (penyakit nyeri
sendi), disfungsi sendi, dan seje-
nisnya, yang mengarah pada ke-
rusakan sendi yang tidak dapat
diperbaiki dapat dicegah dengan
mengonsumsi omega-3.
4. Membantu kesehatan otak dan
saraf. Konsumsi omega-3 dapat
mengurangi penyakit kejiwaan,
seperti depresi, schizophrenia,
dan alzheimer (penyakit otak yang
memicu hilangnya ingatan).
Banyak mengkonsumsi ikan telah
terbukti mampu mengurangi rasa
gelisah, stres, sulit tidur, dan seje-
nisnya.
5. Memperkuat imunitas tubuh dan
mengurangi penyakit yang dise-
babkan infeksi. Omega-3 dapat
membantu mencegah beberapa
penyakit seperti rematik, arthritis,
infeksi usus, lupus, glaukoma
(penyakit mata sebab tekanan
yang tinggi pada bola mata dan
dapat mengarah pada kebutaan),
melindungi myelin (material yang
membungus urat saraf), sklerosis
(sakit yang disebabkan pengerasan
otot pada otak dan sumsum tulang
belakang), gula darah, migrain,
luka bakar, serta membantu men-
jaga kesehatan kulit.
Kembali ke kisah Nabi Yunus
yang ditelan ikan. Kisah ini diperkirakan
terjadi di kawasan Mesopotamia. Di
kawasan ini ada Sungai Tigris
yang cukup besar. Banyak ikan ber-
ukuran besar yang tercatat hidup
di sungai ini. Akan namun , kalaupun
ada ikan air tawar berukuran besar
di kawasan itu, ikan itu tidak akan
cukup besar untuk dapat menelan se-
orang manusia dewasa, kecuali ada
ikan purba berukuran raksasa dan
belum dikenal yang pernah hidup di
sini—kemungkinan kecil hal ini terjadi.
Ikan air tawar terbesar yang tercatat
yaitu ikan Arapaima gigas yang hidup
di Sungai Amazon, Amerika Selatan.
Ikan ini memiliki tubuh sepanjang 2,5–
3 meter.
Kandidat kuat ikan besar yang
menelan Nabi Yunus yaitu ikan paus.
Telah disebutkan di depan bahwa ikan
paus yaitu mamalia, hewan menyusui
yang hidup di laut yang bernafas
dengan paru-paru seperti manusia.
Ikan paus terbesar yaitu paus biru
(blue whale) yang memiliki nama la-
tin Balaenoptera musculus. Panjang
tubuhnya tercatat dapat mencapai 33
meter, dengan berat 180 ton. Paus biru
bertubuh panjang dan ramping. Ada
tiga anak jenis dari Balaenoptera mus-
culus yang pembedaannya didasarkan
pada bentuk tubuh luar dan tempat
ruaya (migrasi)-nya. Ketiganya yaitu
Balaenoptera musculus musculus yang
hidup di Atlantik Utara dan Pasifik
Utara, Balaenoptera musculus interme-
dia yang hidup di lautan sekitar Kutub
Selatan, dan Balaenoptera musculus
brevicauda yang biasa disebut pygmy
blue whale, yang banyak ditemukan
di Lautan Hindia dan Pasifik Selatan.
Diduga ada satu anak jenis lagi, yaitu
Balaenoptera musculus indica yang
hidup di lautan India. Sebagaimana
ikan paus lainnya, mereka juga mema-
kan udang kecil bernama krill, yang
disaring dengan gigi tapisnya.
Sampai dengan awal abad 20
paus biru banyak terlihat di semua laut
di bumi ini. Lebih dari 40 tahun telah
terjadi perburuan ikan paus secara
masif, suatu tindakan yang menurun-
kan populasi ikan paus sampai pada
titik yang mengarah pada kepunahan.
berdasar realitas ini, komunitas
internasional pada tahun 1066 menye-
pakati perlunya pengendalian perbu-
ruan ikan paus. Pada tahun 2002 dila-
porkan populasi paus biru berada pada
angka 5.000–12.000 ekor saja.
Ikan paus juga diburu sebagai ba-
gian dari tradisi. Salah satunya dilaku-
kan oleh warga di Desa Lamalera,
Kecamatan Wulandoni, Kabupaten
Lembata, Pulau Flores, Nusa Tenggara
Timur. Perburuan ikan paus di sini
telah dilakukan sejak abad 16, dengan
cara penangkapan yang juga masih
dipertahankan hingga sekarang. Para
nelayan hanya dilengkapi dengan
satu-satunya senjata andalan berupa
tombak yang disebut tempuling. Sen-
jata tradisional ini berupa sebatang
bambu panjang yang pada salah satu
ujungnya ditancapkan besi runcing.
Dengan senjata ini mereka berusaha
membunuh ikan paus yang besar
tubuhnya puluhan kali lebih besar
daripada kapal yang mereka tumpangi.
saat ikan berhasil ditombak dengan
tempuling, di mana alat itu telah
diberi tali yang diikatkan pada perahu,
para nelayan mengikuti begitu saja
pergerakan ikan sampai ikan itu lemas
akibat kehabisan darah. Pada saat
inilah nelayan sedikit demi sedikit
menarik ikan paus ke Pantai Lamalera.
Daging paus hasil perburuan
dibagikan kepada seluruh penduduk
desa sesuai dengan besar-kecilnya jasa
wakil anggota keluarga dalam proses
perburuan paus. Selain daging, ma-
syarakat juga memanfaatkan minyak
bagi kehidupan manusia, baik yang
bersifat fisik maupun spiritual. Ikan
laut maupun ikan air tawar merupakan
penyedia protein hewani yang penting.
Di sisi lain, ikan menjadi penuntun bagi
Nabi Musa untuk menemui hamba
Allah yang dikaruniai oleh-Nya hikmah,
untuk belajar darinya ilmu batin guna
melengkapi ilmu lahir yang sudah
dikuasainya. Musa berguru kepada
hamba Allah ini agar ia dapat
mempertemukan dua ilmu, yaitu ilmu
yang diperoleh melalui observasi dan
koordinasi intelektual dari fenomena
yang ada (al-‘ilm až-žāhir), dan penge-
dari lemak paus untuk bahan obat
dan bahan bakar lampu. Walaupun
sudah ada beberapa konvensi yang
melarang perburuan ikan paus, namun
tradisi ini sampai sekarang tetap
dipertahankan. Penduduk Lamalera
tahu paus mana yang dapat diburu.
Paus yang berukuran kecil dan sedang
hamil tidak akan mereka tangkap. Dari
gambar 202 tampak bahwa ikan paus
yang ditangkap termasuk ikan hiu paus
(Rhincodon typus).
Ikan, baik dalam tataran hakiki
maupun sebagai metafor, mendatang-
kan manfaat yang begitu banyak
303Hewan dalam Al-Qur'an
tahuan yang berdasar intuisi dan
penglihatan mistik (al-‘ilm al-bāțin).
Tempat pertemuan kedua ilmu ini
ditandai oleh “ikan”, simbol yang me-
lambangkan pengetahuan tentang ke-
bijaksanaan atau kehidupan yang lang-
geng.
H. HEWAN TERNAK
Hewan ternak merupakan komoditas
yang sudah lama akrab dengan kehi-
dupan sehari-hari umat manusia, tidak
terkecuali umat Islam. Saking akrabnya
sampai-sampai tiga dari 114 surah dalam
Al-Qur'an dinamai sesuai nama hewan
ternak, yaitu sapi (al-Baqarah), hewan
ternak secara umum (al-An‘ām), dan
lebah (an-Naĥl). Tidak hanya sebagai
nama surah, beberapa hewan ternak
juga sering sekali kita jumpai disebut
dalam banyak ayat Al-Qur'an, sebut
saja sapi, unta, kambing, unggas, kuda,
dan lebah. Pada perikehidupan hewan-
hewan ternak ada pelajaran yang
sangat berharga bagi manusia. Lihat-
lah bagaimana Allah memberikan ke-
mampuan kepada ternak ruminansia
(sapi, kambing, domba, dan kerbau)
untuk mengkonversi rumput menjadi
daging dan susu; atau lebah madu
yang mampu mengkonversi nektar
bunga menjadi madu.
Dalam tradisi warga Arab,
terma “hewan ternak” menunjuk ha-
nya empat hewan menyusui, yaitu
unta, sapi, domba, dan kambing. Da-
lam Al-Qur'an, keempat hewan ini
disebut baik secara individu maupun
sebagai kumpulan. Adapun kuda, kele-
dai, bagal, lebah, unggas, serta hewan
jenis lain yang dikenal dalam dunia
peternakan dewasa ini bukanlah yang
dimaksud dengan terma “hewan ter-
nak” yang disebut dalam Al-Qur'an.
Al-Qur'an dalam banyak ayatnya
menyebut hewan ternak sebagai salah
satu anugerah Allah kepada manusia,
misalnya saja dalam ayat-ayat berikut.
Dia menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam)
lalu darinya Dia jadikan pasangannya dan
Dia menurunkan delapan pasang hewan ternak
untukmu. Dia menjadikan kamu dalam perut ibumu
kejadian demi kejadian dalam tiga kegelapan. Yang
(berbuat) demikian itu yaitu Allah, Tuhan kamu,
Tuhan yang memiliki kerajaan. Tidak ada tuhan
selain Dia; maka mengapa kamu dapat dipalingkan?
(az-Zumar/39: 6)
Frasa “delapan pasang hewan
ternak” pada ayat ini berarti empat
hewan yang saling berpasangan (jan-
tan dan betina) yaitu sepasang sapi,
domba, kambing, dan unta. Keempat
hewan inilah yang dimaksud saat
terma “hewan ternak” disebut dalam
Al-Qur'an, sesuai dengan budaya ma-
syarakat Arab kala itu. Terma “hewan
ternak” jika terucap pada masa
Nabi Musa malah memiliki arti yang
lebih sempit lagi sebab hanya berarti
domba atau biri-biri.
pada beberapa hari yang telah ditentukan atas
rezeki yang diberikan Dia kepada mereka berupa
hewan ternak. Maka makanlah sebagian darinya
dan (sebagian lagi) berikanlah untuk dimakan
orang-orang yang sengsara dan fakir. (al-Ĥajj/22:
28)
Dan tidakkah mereka melihat bahwa Kami telah
menciptakan hewan ternak untuk mereka, yaitu
sebagian dari apa yang telah Kami ciptakan dengan
kekuasaan Kami, lalu mereka menguasainya?
(Yāsīn/36: 71)
agar (dengan air itu) Kami menghidupkan negeri
yang mati (tandus), dan Kami memberi minum
kepada sebagian apa yang telah Kami ciptakan,
(berupa) hewan-hewan ternak dan manusia yang
banyak. (al-Furqān/25: 49)
Dia (Allah) telah menganugerahkan kepadamu
hewan ternak dan anak-anak. (asy-Syu‘arā'/26:
133)
Agar mereka menyaksikan berbagai manfaat untuk
mereka dan agar mereka menyebut nama Allah
Makanlah dan gembalakanlah hewan-hewanmu.
Sungguh, pada yang demikian itu, ada tanda-
tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal.
(Tāhā/20: 54)
Hewan ternak pada ayat berikut
disebut dalam rangkaian gambaran
tentang kehidupan duniawi, yang itu
merupakan sebagian dari tanda-tanda
kekuasaan Allah.
Sesungguhnya perumpamaan kehidupan duniawi
itu, hanya seperti air (hujan) yang Kami turunkan
dari langit, lalu tumbuhlah tanaman-tanaman bumi
dengan subur (sebab air itu), di antaranya ada
yang dimakan manusia dan hewan ternak. Hingga
jika bumi itu telah sempurna keindahannya,
dan berhias, dan pemiliknya mengira bahwa
mereka pasti menguasainya (memetik hasilnya),
datanglah kepadanya azab Kami pada waktu
malam atau siang, lalu Kami jadikan (tanaman)
nya seperti tanaman yang sudah disabit, seakan-
akan belum pernah tumbuh kemarin. Demikianlah
Kami menjelaskan tanda-tanda (kekuasaan Kami)
kepada orang yang berpikir. (Yūnus/10: 24).
Yang dimaksud bumi yang “ber-
hias” pada ayat di atas yaitu bumi
yang dilengkapi gunung-gunung dan
lembah-lembah yang menghijau de-
ngan tanaman-tanamannya. Adapun
kata “menguasai” menggambarkan
bahwa manusia akan dapat memetik
hasilnya.
Dalam beberapa ayat berikut
dinyatakan bahwa manfaat eksistensi
peternakan di dunia ini salah satunya
yaitu untuk dinikmati manusia dan
membuat manusia sejahtera.
(Semua itu) untuk kesenanganmu dan untuk
hewan-hewan ternakmu. (‘Abasa/80: 32).
Ayat-ayat berikut menjelaskan
manfaat-manfaat yang manusia pero-
leh dari hewan-hewan ternak: untuk
dikendarai, menarik kereta, disembelih
dan dimanfaatkan dagingnya, serta
untuk dimanfaatkan kulit dan bulunya
untuk membuat baju, tenda, wadah
air, dan keperluan rumah tangga lainnya.
(Semua itu) untuk kesenanganmu dan untuk
hewan-hewan ternakmu. (an-Nāzi‘āt/79: 33)
Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia
cinta terhadap apa yang diinginkan, berupa
perempuan-perempuan, anak-anak, harta benda
yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak,
kuda pilihan, hewan ternak ) dan sawah ladang.
Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-
lah tempat kembali yang baik. (Āli-‘Imrān/3: 14)
Dan di antara hewan-hewan ternak itu ada yang
dijadikan pengangkut beban dan ada (pula) yang
untuk disembelih. Makanlah rezeki yang diberikan
Allah kepadamu, dan janganlah kamu mengikuti
langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu
musuh yang nyata bagimu. (al-An‘ām/6: 142)
Dan hewan ternak telah diciptakan-Nya, untuk
kamu padanya ada (bulu) yang menghangatkan
dan berbagai manfaat, dan sebagiannya kamu
makan. (an-Naĥl/16:


