Tentang hewan 10

Tentang hewan 10


 



pai pada pemahaman ter-

hadap hakikat di balik penciptaan 

alam semesta, bahwa semua itu di-

ciptakan oleh Allah yang Maha Esa 

dan Mahakuasa. Yang demikian ini 

termaktub dengan sangat jelas dalam 

Surah Al-Baqarah/2: 26. Mahluk apa 

pun yang ada di langit dan di bumi, 

dari yang besar sampai yang kecil, 

diciptakan oleh Allah untuk menjamin 

kesejahteraan kehidupan manusia. 

Demikianlah penegasan Allah dalam 

Surah al-Jāšiyah/45: 13.

(kebesaran Allah) bagi orang-orang yang berpikir. 

al-Jāšiyah/45: 13) 

Sangat disayangkan, sesudah  me-

lihat bukti-bukti keesaan dan kekuasa-

an Allah itu, masih saja ada manusia 

yang melenceng dan menyembah 

tuhan-tuhan lain yang sama sekali tidak 

menciptakan apa pun, bahkan tuhan-

tuhan itu justru hadir sebagai hasil 

kreasi manusia (al-Furqān/25: 3). Itulah 

kemusyrikan yang nyata, suatu dosa 

yang tidak akan mendapat ampunan 

dari Allah (an-Nisā'/4: 48). Apa yang 

mereka kira sebagai perlindungan dari 

tuhan-tuhan itu sebenarnya hanyalah 

khayalan belaka, sesuatu yang amat 

lemah. Mereka umpama seekor laba-

laba yang membuat rumah dari jaring 

yang lemah dan mengkhawatirkan.

Dan Dia menundukkan apa yang ada di langit dan 

apa yang ada di bumi untukmu semuanya (sebagai 

rahmat) dari-Nya. Sungguh, dalam hal yang 

demikian itu benar-benar ada  tanda-tanda 

Perumpamaan orang-orang yang mengambil pe-

lindung selain Allah yaitu  seperti laba-laba yang 

membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang 

paling lemah ialah rumah laba-laba, sekiranya 

mereka mengetahui. (al-‘Ankabūt/29: 41)

Dilihat sekilas akan tampak ada 

semacam kontradiksi antara pesan yang 

disampaikan ayat ini dengan apa yang 

telah dicapai oleh ilmu pengetahuan 

modern. Di satu sisi, ayat ini melabeli 


rumah laba-laba sebagai sesuatu 

yang lemah, mengkhawatirkan, tidak 

bisa diandalkan. Di sisi yang lain, ilmu 

pengetahuan modern mengonfirmasi 

bahwa benang dan jaring laba-laba 

yang sekilas tampak lemah nyatanya 

jauh lebih kuat daripada baja dan lebih 

lebih lentur daripada sutra. Benang 

dengan diameter kurang dari seper-

seribu millimeter ini memiliki  ke-

kuatan lima kali lebih kuat daripada 

tali baja dengan ukuran yang sama. 

Di samping itu, benang laba-laba 

juga dikenal sangat ringan. Menurut 

perkiraan, hanya diperlukan benang 

seberat 320 gram untuk melingkari 

bola bumi.  

Untuk menjawab “kontradiksi” 

ini kita perlu mempertimbangkan bebe-

rapa hal. Pertama, pemilihan format 

singular (mufrad) dalam penyebutan 

kata al-‘Ankabūt. Kata ‘ankab dalam 

bahasa Arab memiliki  arti binatang 

yang membuat rajutan di udara atau di 

mulut sumur, yang berupa jaring dari 

benang yang tipis. Dalam bahasa Arab 

kata ini masuk dalam gender wanita 

(feminin). Selain itu, kata ini disebut 

dalam format singular, tunggal. Ketiga 

hal ini: makna kata, kefemininannya, 

dan formatnya yang singular, memang 

saling berkait dalam kehidupan nyata. 

Kelompok laba-laba didapati hidup 

dalam kondisi soliter. Laba-laba betina 

yaitu  oknum yang paling berperan 

dalam pembuatan “rumah”. Laba-la-

ba jantan hampir tidak berkontribusi 

sama sekali. Kalaupun ada, mereka 

hanya sesekali bertugas memperbaiki 

rumah itu atau tugas-tugas kecil 

lainnya. Format singular pada kata 

‘ankabūt berbeda dari format yang 

dipakai  untuk menyebut serangga 

lain yang juga dijadikan nama surah, 

misalnya lebah (an-Naĥl) atau semut 

(an-Naml), yang meski secara harfiah 

yaitu  kata tunggal (mufrad), namun 

secara makna keduanya memiliki ar-

ti jamak (lazim disebut isim jama‘). 

Nyatanya, pemilihan format demikian 

berkesesuaian dengan perikehidupan 

kedua kelompok serangga ini yang 

bekerja dalam kelompok dan punya sis-

tem dan struktur sosial yang canggih.

Pemilihan format singular dalam 

menyebut kata ‘ankabūt tampak jelas 

dalam terjemah ayat ini  dalam 

bahasa Inggris, 

The parable of those who take protectors 

other than Allah is that of the spider, who 

builds (to itself) a house; but truly the 

flimsiest of houses is the spider’s house; if 

they but knew.

Frasa “who builds (to itself) a 

house” dengan jelas memperlihatkan 

bahwa hanya satu ekor (yakni laba-laba 

betina) yang membuat rajutan benang 

menjadi tempat menjebak mangsa dan 

menggantungkan kumpulan telurnya. 

Misi ini dilakukan oleh laba-laba betina 

275Hewan dalam Al-Qur'an

sebab  merekalah yang memiliki  

kelenjar penghasil material berupa be-

nang-benang sutra untuk dirajut.

Kedua, “kelemahan” yang oleh 

ayat di atas dinisbatkan kepada rumah 

laba-laba bisa dijelaskan sebagai beri-

kut.

a. Kelemahan secara fisik. Secara 

fisik, rumah laba-laba memang 

lemah sebab  hanya dibentuk dari 

rajutan benang-benang sutra. Ra-

jutan itu pun tidak cukup rapat 

sehingga meninggalkan lubang-

lubang besar dan tidak mampu 

melindungi penghuninya dari panas 

matahari dan dinginnya malam. 

Rajutan ini pun tidak memberikan 

naungan dari hujan, angin, maupun 

bahaya dari para pemangsa. Su-

dut pandang yang demikian ini 

tentunya di luar mukjizat yang di-

perlihatkan laba-laba dalam arsi-

tektur pembuatannya.

b. Kelemahannya terletak pada ru-

mah dilihat sebagai sebuah kesa-

tuan menyeluruh, bukan pada ba-

han benang sutra yang menjadi 

bahan rajutan. Bahan benang sutra 

yang sangat tipis ini dikenal sebagai 

satu-satunya bahan biologis paling 

kuat yang dikenal sampai saat ini. 

Kekuatannya melebih besi, namun 

masih kalah dibanding bahan quarz 

cair. Benang ini baru akan putus 

jika  ditarik sampai dengan 

lima kali panjang semula. sebab  

kekuatannya ini para peneliti lantas 

menyebutnya sebagai “biological 

steel” atau “bio-steel”. Namun 

bukan benang itu sendiri yang 

menjadi fokus pembicaraan ayat 

di atas, melainkan rumah laba-laba 

secara keseluruhan.

c. Kelemahan spiritual. Rumah laba-

laba secara spiritual yaitu  rumah 

yang paling lemah sebab  nihilnya 

cinta dan kasih sayang di dalamnya, 

dua hal yang menjadi tiang utama 

dalam rumah tangga manusia yang 

bahagia. Laba-laba betina, pada 

banyak jenis, memiliki  ukuran 

tubuh jauh lebih besar daripada 

jantan. Mereka akan membunuh 

dan memangsa laba-laba jantan 

sesudah  proses perkawinan selesai. 

Dalam beberapa kasus, laba-laba 

betina juga terlihat memangsa 

anak-anaknya sendiri. Dalam kasus 

lain, ada jenis laba-laba betina 

yang akan mati dengan sendirinya 

sesudah  bertelur. saat  telur me-

netas, anakan laba-laba akan men-

dapati diri mereka berdesak-desak-

an dalam ruang rajutan kantong 

tempat penyimpanan telur yang 

sempit. Demi mendapat ruang 

yang lebih luas dan makanan yang 

lebih banyak, mereka akan saling 

memangsa sehingga hanya bebe-

rapa anakan yang dapat keluar 


dari kantong untuk melanjutkan 

kehidupannya. Kehidupan yang 

demikian ini oleh Allah dijadikan 

sebagai perumpamaan bagi rumah 

yang sepi dari kebahagian dan 

cinta kasih, baik antara suami dan 

istri, orang tua dan anak, maupun 

antarsaudara.

d. Frasa “jika  mereka mengetahui” 

yang dipakai  sebagai penutup 

ayat di atas mungkin saja menun-

jukkan bahwa maksud ayat ini be-

lum dipahami dengan sangat baik 

oleh orang-orang yang kepada 

mereka Al-Qur'an diturunkan 14 

abad lalu. Pemahaman yang lebih 

komprehensif baru didapat sekian 

ratus tahun lalu  melalui jasa 

sekian ratus peneliti yang bekerja 

keras meneliti perilaku laba-laba 

untuk lalu  disebarluaskan 

kepada  warga .

Sebagai tambahan, perlu juga 

diketahui bahwa rumah laba-laba 

tidak hanya berfungsi sebagai tempat 

tinggal. Rumah ini juga memiliki fungsi 

sampingan sebagai perangkap untuk 

menjerat mangsanya yang berupa 

serangga terbang, seperti lalat dan 

semacamnya. sebab  fungsi samping-

annya ini pantaslah bila rumah laba-

laba dijadikan metafor dari tuhan-

tuhan selain Allah yang disembah oleh 

orang-orang musyrik. Tuhan-tuhan itu 

menyeru mereka untuk masuk perang-

kap dan menjerumuskan mereka ke 

dalam kesengsaraan hidup di dunia 

bahkan di akhirat (an-Nisā'/4: 48).

Perumpamaan ini juga dapat 

menjadi peringatan adanya orang-

orang yang memakai  “jerat tak 

terlihat” untuk menjerat mangsanya. 

Benang laba-laba pada dasarnya baru 

akan terlihat bila disinari cahaya yang 

memantul. Tanpa bantuan cahaya agak 

sulit untuk melihatnya dengan mata 

telanjang. Dalam kehidupan manusia, 

“jerat tak terlihat” itu bisa berwujud 

uang, seks, kekuasaan, dan sejenisnya. 

“Jerat” ini akan memusnahkan mang-

sanya begitu terjebak.

Perikehidupan Laba-laba

Dari sudut ilmu pengetahuan, laba-

laba termasuk pada Filum Arthropoda, 

Kelas Arachnida, yang terdiri dari 

beberapa Ordo, di antaranya Ordo 

Araneida dan lainnya, termasuk kala-

jengking dan tungau. Tubuh laba-laba 

terbagi dari prosoma (kepala dan 

dada yang terhubung langsung) dan 

apisthosoma (perut). Pada bagian 

prosoma ada  empat pasang 

kaki, dua pasang sungut peraba, dan 

dua penusuk atau capit yang menjadi 

tempat kelenjar bisa. Bagian prosoma 

terpisah dari bagian opisthosoma 

oleh pinggang yang ramping. Laba-


laba memiliki mata sederhana yang 

dapat berjumlah hingga delapan buah. 

Pemakan serangga ini memiliki kulit 

tubuh yang tebal dan tertutup bulu. 

Dari kecil sampai dewasa laba-laba 

mengalami pergantian kulit 7–8 kali.  

Para ahli zoologi saat ini mem-

perkirakan ada lebih dari 30.000 jenis 

laba-laba di bumi dengan ukuran 

yang bervariasi (dari yang berukuran 

kurang dari satu milimeter hingga 

yang berukuran sembilan sentimeter), 

serta bentuk dan warna beragam. 

Kebanyakan laba-laba hidup di alam 

liar dan dalam kondisi soliter, kecuali 

pada saat kawin dan bertelur. Mereka 

didapti hidup di daerah pantai hingga 

pegunungan di ketinggian 5.000 meter 

di atas permukaan laut. 

Di bagian ujung bawah perut 

ada  tiga pasang tonjolan yang 

memiliki lubang-lubang kecil yang 

mengeluarkan cairan sebagai bahan 

dasar benang sutra. Cairan yang dike-

luarkannya merupakan campuran dari 

berbagai kelenjar. Cairan itu akan se-

gera membeku sesudah  keluar dari 

tubuh laba-laba. Bentuk, ukuran, ke-

kuatan, dan panjang benang sangat 

bergantung pada macam campuran 

cairan yang diproduksi oleh berbagai 

kelenjar yang mereka miliki. Benang 

untuk membuat rumah berbeda kua-

litasnya dari yang dipakai  untuk 

membungkus mangsanya, juga ber-

beda dari yang mereka gunakan untuk 

membungkus telur-telurnya.

Pada tonjolan-tonjolan itu terda-

pat pipa renik yang masing-masing 

tersambung ke kelenjar-kelenjar yang 

ada  di bagian ini  (gambar 

186). Jumlah pipa-pipa itu berkisar 

antara 2.000–50.000 buah. Diameter 

rata-rata benang laba-laba hanya 0,15 

µm, bahkan peneliti pernah menda-

pati benang yang berdiameter hanya 

0,02 µm, jauh di bawah batas minimal 

diameter benda yang dapat dideteksi 

oleh mata telanjang manusia. Manusia 

baru dapat mendeteksi dengan mata 

telanjang suatu objek pada jarak 10 

cm bila objek itu setidaknya berdia-

meter 25 µm. Manusia dapat mende-

teksi jaring laba-laba hanya jika terjadi 

pantulan cahaya pada benang itu. 

Kendati berdiameter sangat 

kecil, jaring laba-laba dapat dengan 


asamkan. Laba-laba memiliki  cara 

tersendiri untuk mengawetkan benang 

sutranya. Dalam benang laba-laba 

ada  tiga bahan yang berfungsi 

mengawetkan, yaitu pyrolidin (yang 

bersifat hidroskopis alias mengikat air 

dari udara agar benang tidak pernah 

kering), potassium hydrogen phos-

phate (yang “mengasamkan” benang 

dan mencegah tumbuhnya bakteri dan 

jamur), dan potassium nitrate (yang 

“mengasinkan” benang dan mence-

gah tumbuhnya bakteri dan jamur).  

Benang yang dihasilkan oleh laba-

laba rumahan, Araneus diadematus, 

dikenal sangat elastis. Benang ini dapat 

memanjang 30–40% dari ukuran aslinya 

tanpa terputus. Angka ini jauh lebih 

besar daripada besi yang hanya dapat 

memanjang hingga 8%, atau nilon yang 

hanya dapat memanjang sekitar 20%. 

Laba-laba seringkali dijumpai mendaur 


mudah menghentikan laju seekor le-

bah yang terbang dengan kecepatan 

penuh. Benang ini tidak hanya kuat, 

tapi juga sangat elastis. Material ini 

dibentuk oleh protein yang memilki 

massa molekul 30.000 Dalton saat 

berada di dalam kelenjar. Sesudah 

keluar dari kelenjar, material ini akan 

mengalami proses polimerisasi dan 

berubah menjadi molekul bernama 

fibrion dengan massa molekul sekitar 

300.000 Dalton. Sampai saat ini belum 

jelas apa sebenarnya yang memicu 

proses polimerisasi ini.

Ternyata ada rahasia yang mem-

buat benang sutra berbahan protein 

ini dapat bertahan lama dan tidak 

rusak oleh jamur dan bakteri, seperti 

lazimnya bahan protein yang lain. Ma-

nusia umumnya mengawetkan protein, 

seperti daging, dengan cara merebus, 

mengasinkan, mengeringkan, atau meng-


ulang benangnya dengan memakan 

benang yang tidak lagi dipakai  

demi mendapat asupan protein. Dari 

segi kualitas benang yang dihasilkan, 

laba-laba dapat dibagi menjadi dua 

kelompok, yakni kelompok yang me-

mintal benangnya menjadi “berbulu” 

seperti struktur wol, dan  kelompok 

penghasil benang yang lebih “polos”. 

Untuk menghasilkan benang yang 

“berbulu”, kelompok ini memiliki or-

gan tambahan semacam sisir untuk 

menyisir benang. Mangsa akan mele-

kat pada benang “berbulu” bukan 

sebab  adanya perekat di sana, melain-

kan sebab  terikatnya bulu-bulu dan 

rambut halus pada tubuh serangga itu 

sendiri oleh benang “berbulu” itu.

Dilihat dari macam-macam peng-

gunaan dan bentuknya, jaring laba-

laba secara sederhana dapat dibagi ke 

dalam tiga bentuk, yaitu jaring bundar 

(orb web), jaring lembaran (sheet 

web), dan jaring acak (spatial web). 

Jaring bundar yaitu  yang pa-

ling dikenal warga . Untuk mem-

bangunnya laba-laba membuat satu 

bentangan horizontal yang akan ber-

fungsi sebagai gantungan bagi sisa 

bangunannya. Dalam membuat ben-

tangan ini laba-laba memanfaatkan 

bantuan angin dan dengan sedikit 

keberuntungan. Urutan konstruksi ja-

ring bundar dapat dilihat pada gambar 

187. Kegiatan merajut dimulai dengan 

membuat bentangan horisontal. Laba-

laba mulai dengan mengulur benang 

yang dibiarkan melayang terbawa 

angin. jika  beruntung maka ujung 

lain dari benang akan mencapai dan 

melekat pada tempat yang tepat. 

Pembuatan jaring bundar sama sekali 

tidak dilakukan dengan cara melompat, 

melayang, atau menalikannya di dua 

sisi. Laba-laba lalu  berjalan 

melalui bentangan ini  untuk 

mengamankan simpul di tempat yang 

tepat dan menguatkan bentangannya 

dengan benang kedua. Kegiatan ini 

dilakukannya beberapa kali sampai 

bentangan itu dianggap kuat. Laba-

laba lalu  akan membuat ben-

tangan seperti huruf Y yang terbalik.

Jaringan Y pertama ini lalu  di-

ulang-ulang sehingga jaring bundar 

terbentuk dengan sempurna. Untuk 

membuat jaring bundar laba-laba me-

makai dua jenis benang: yang leng-

ket dan yang tidak lengket, sesuai 

keperluan. Bentangan-bentangan uta-

ma umumnya dibuat dengan meng-

gunakan benang yang lengket, sedang-

kan jaringan yang menghubungkan 

bentangan-bentangan utama umum-

nya memakai  benang tak lengket. 

Pola ini tidak selalu ditemukan pada 

semua jenis. Variasi selalu ada di antara 

jenis-jenis yang ada.  

Tipe lainnya yaitu  jaring jala 

yang dihasilkan oleh laba-laba marga 


Dainopsis (gambar 188). Marga ini 

khusus memakai  jalanya untuk 

menangkap mangsa. Mereka membu-

at jala di antara dua kaki depannya. 

Laba-laba ini lalu  memposisikan 

diri pada ranting pohon sedemikian 

rupa sehingga jala akan menghadap 

ke bawah, sambil menunggu serang-

ga terbang di dekat jala. Jala akan 

ia lempar begitu mangsa mendekat. 

Beberapa jenis Dainopsis juga me-

nambahkan feromon dalam caranya 

berburu. Feromon yaitu  bau yang 

dihasilkan laba-laba untuk menarik 

serangga mendekat. Laba-laba Dainop-

sis betina, misalnya, akan mempro-

duksi feromon yang mirip feromon 

lalat betina. Dengan cara ini lalat jantan 


akan bergegas masuk jaring laba-laba 

sebab  mengira ada lalat betina yang 

mengundangnya kawin.  

Jaring lembaran (sheet web) 

antara lain dipakai  untuk mem-

buat jebakan. Laba-laba Agelena 

canariensis (gambar 189), misalnya, 

membuat jebakan dengan jaring 

lembaran yang dibuatnya di sekitar 

lubang tempat tinggalnya. Begitu 

ada serangga terjebak, laba-laba 

akan segera tahu sebab  salah satu 

ujung jaring ini masih menyambung 

dengannya. Ada pula jenis laba-laba 

yang memakai  rajutan jaring 

untuk membuat tutup lubang tempat 

tinggalnya. jika  ada serangga 

yang lewat pintu, pintu itu akan 

segera terbuka dan laba-laba akan 

menangkap mangsanya.

Selain menghasilkan jaring dua 

dimensi seperti diuraikan sebelumnya, 

beberapa laba-laba, antara lain dari 

kelompok Lyniphiidae dan Theridiidae, 

merajut jaringan benang tiga dimensi 

yang tampak acak (gambar 190, laba-

laba dari kelompok Theridiidae, Stea-

toda paykulliana). Pada kelompok 

Lyniphiidae, di sekitar rajutan jaring 

yang memiliki perekat akan ada jari-

ngan acak horisontal benang tak ber-

perekat. Fungsi jaringan yang terakhir 

yaitu  untuk mengarahkan mangsa 

terbang ke arah jaring berperekat.  

Laba-laba dapat tinggal seumur 

hidupnya di rumahnya, atau tinggal di 


sarangnya yang berupa lubang, atau 

tempat tersembunyi lainnya. Banyak 

di antaranya memakai  sarang 

atau rumahnya sebagai sarana untuk 

menjebak mangsa. Cara memperoleh 

mangsa juga bervariasi; ada yang 

menunggu mangsa di sarang, ada juga 

yang menjaring mangsa memakai  

“laso” benang sutranya. Beberapa laba-

laba tidak memakai  benang dan 

jaring dalam menangkap mangsa-nya, di 

antaranya laba-laba peloncat, laba-laba 

kepiting, dan laba-laba lynx. Mereka 

mengandalkan ketajaman ma-ta dan 

kelincahan untuk menangkap mangsa. 

Mereka hanya memakai  benang 

untuk dapat kembali ke tempatnya 

semula. Bila jatuh dari satu tempat, 

mereka akan melayang pada seutas 

benang yang menempel salah satu 

ujungnya pada lokasi semula sehingga ia 

dapat kembali ke tempat ini . Yang 

memakai  cara ini di antaranya laba-

laba kepiting, Ozyptila praticola.  


Semua jenis laba-laba membuat 

semacam kepompong tempat mereka 

menyimpan telurnya. Kepompong ini 

berfungsi melindungi telur dari ber-

bagai hal yang membahayakan, seperti 

jamur, perubahan suhu dan unsur iklim 

lainnya, serta dari kerusakan yang 

bersifat mekanik lainnya. Beberapa 

jenis memilih membuat kepompong 

dan menggantungkannya pada jaring. 

Kebanyakan laba-laba menjaga kepom-

pongnya, namun beberapa lebih me-

milih meninggalkan kepompong dan 

menyerahkan nasibnya kepada samar-

an yang dibuatnya.

Beberapa kelompok warga  

memanfaatkan rajutan jaring laba-laba 

untuk beberapa keperluan. warga  

nelayan di kawasan Samudra Pasifik 

banyak memakai  jaring laba-laba 

Nephila sebagai umpan memancing 

ikan. warga  Kepulauan New 

Hebrides memintal jaring laba-laba 

untuk membuat wadah guna mem-

bawa keperluan tertentu, seperti ma-

ta anak panah dan racunnya, atau 

kantong tembakau. Beberapa suku di 

Papua Nugini memanfaatkan jaring 

laba-laba untuk topi saat hujan.

Pada tahun 1709, seorang warga 

negara Prancis bernama Bon de 

Saint-Hlaire mencoba memakai  

kepompong laba-laba sebagai bahan 

sutra. Usaha ini dinilai tidak mengun-

tungkan sebab  diperlukan 1,3 juta 

kepompong laba-laba untuk mem-

buat satu kilogram sutra saja. Di Ma-

dagaskar juga pernah ada usaha untuk 

memperoleh bahan sutra dari laba-

laba. Caranya dengan “memerah” 

bahan benang sutra dari laba-laba Ne-

philia. Usaha ini juga pada akhirnya 

dihentikan sebab  berbagai kendala.

Sebagai ciptaan Allah, kelom-

pok laba-laba dengan segala perikehi-

dupannya memberi banyak pelajaran, 


baik dari sisi sains maupun dari sisi 

spiritual, yang perlu ditimba manusia. 

Yang perlu digarisbawahi yaitu  bahwa 

gambaran rumah laba-laba bukanlah 

gambaran rumah ideal bagi seorang 

mukmin. Menjadikan rumah sebagai 

perangkap merupakan ide yang harus 

dibuang jauh dari benak manusia. 

Manusia mesti selalu mengingat pesan 

yang Allah sampaikan melalui ayat 

berikut.

namun  mereka tetap menyombongkan diri dan 

mereka yaitu  kaum yang berdosa. (al-A‘rāf/7: 133)

Ayat ini menyebut sebagian 

dari sembilan mukjizat yang diberikan 

kepada Nabi Musa. Allah berfirman,

Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelin-

dung selain Allah yaitu  seperti laba-laba yang 

membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang 

paling lemah ialah rumah laba-laba, sekiranya 

mereka mengetahui. (al-‘Ankabūt/29: 41)

F. KUTU 

Dalam Al-Qur'an kutu dikaitkan dengan 

musibah yang menimpa warga  

Mesir sebagai bentuk mukjizat yang 

Allah berikan kepada Nabi Musa.

Maka Kami kirimkan kepada mereka topan, bela-

lang, kutu, katak dan darah (air minum berubah 

menjadi darah) sebagai bukti-bukti yang jelas, 

Dan sungguh, Kami telah memberikan kepada Musa 

sembilan mukjizat yang nyata ) maka tanyakanlah 

kepada Bani Israil, saat  Musa datang kepada 

mereka lalu Fir‘aun berkata kepadanya, “Wahai 

Musa! Sesungguhnya aku benar-benar menduga 

engkau terkena sihir.”  (al-Isrā'/17: 101)

Kesembilam mukjizat Nabi Musa 

yaitu  tongkat yang berubah menjadi 

ular (al-A‘rāf/7: 107); telapak tangan 

yang bercahaya (al-A‘rāf/7: 108); tahun-

tahun kemarau (al-A‘rāf/7: 130; keku-

rangan pangan (al-A‘rāf/7: 130); topan 

yang memporak-porandakan Mesir; 

serangan belalang; serangan kutu; 

serangan katak; dan berubahnya air 

menjadi darah (al-A‘rāf/7: 133).

Kata al-qummal pada ayat di atas 

yang diterjemahkan ke dalam bahasa 

Indonesia menjadi kutu, diterjemahkan 

ke dalam bahasa Inggris menjadi lice. 

Kata ini lebih dekat dipahami sebagai 

kelompok kutu Cimex lectularius (kutu 

busuk), Pediculus humanus capitis (ku-

tu rambut), Pediculus humanus corpo-

ris (kutu badan), atau Phthirus pubis 

285Hewan dalam Al-Qur'an

(kutu pubis) daripada kutu jenis lain 

yang dikenal di Indonesia, seperti kutu 

beras, kutu daun, kutu air, dan sejenis-

nya. Kutu penyebab caplak mungkin 

saja dapat masuk ke dalam kriteria 

kutu dalam ayat ini.

Kutu secara lebih spesifik disebut 

dalam beberapa hadis, misalnya hadis 

berikut yang menyebut kutu rambut. 

َم بِاْلَُدْيبَِيِة  ُكنَّا َمَع َرُسْوِل اهللِ َصلَّ اهلُل َعَلْيِه َوَسلَّ

ُكْوَن ، َقاَل:  َنا اْلُْشِ َوَنْحُن ُمِْرُمْوَن ، َوَقْد َحَصَ

َعَل  َتَساَقُط  اْلََواُم  َفَجَعَلِت  َفْرَوٌة  ِلْ  َكاَنْت 

َوْجِهْي، َفَمرَّ ِبْ َرُسْوُل اهللِ َصلَّ اهللُ َعَلْيِه َوَسلََّم، 

َفَقاَل : َأُيْؤِذْيَك َهَواُم َرْأِسَك ؟ ُقْلُت : َنَعْم، َقاَل: 

َأْو  َمِرْيًضا  ِمنُْكْم  َكاَن  َفَمْن  َهِذِه اآلَيُة :  َوُأْنِزَلْت 

َأْو  َأْو َصَدَقٍة  ِمْن ِصَياٍم  َفِفْدَيٌة  َرْأِسِه  ِمْن  َأًذى  بِِه 

ُنُسٍك . )رواه البخاري عن كعب بن عجزة(

Kami sedang bersama Rasulullah di Hudaibiyah 

dalam keadaan Ihram. Orang-orang kafir saat itu 

mengepung kami. Aku punya rambut yang tebal 

dan panjang (yang banyak kutunya). Kutu rambut 

itu mulai berjatuhan di mukaku. Rasulullah berjalan 

di didepanku dan bersabda, “Apakah kutu rambut 

di kepalamu mengganggumu?” Aku menjawab, 

“Ya.” lalu  turunlah ayat (al-Baqarah/2: 196), 

“Jika ada di antara kamu yang sakit atau ada gang-

guan di kepalanya (lalu dia bercukur), maka dia 

wajib ber-fidyah, yaitu berpuasa, bersedekah atau 

berkurban.” (Riwayat al-Bukhārī dari Ka‘b bin 

‘Ajzah)

Sementara itu, dua hadis berikut 

menyebut kutu yang memicu  

gatal di badan dan kutu yang me-

nempel di kain. 

َبْيَ َشَكَوا إَِل النَّبِيِّ  مْحََن ْبَن َعْوٍف َوالزُّ إِنَّ َعْبَد الرَّ

َفَأْرَخَص   ، َل  اْلُقمَّ َيْعنِي   ، َم  َوَسلَّ َعَلْيِه  اهللُ  َصلَّ 

)رواه   . َغَزاٍة  ِفْ  َعَلْيِهَم  َفَرَأْيُتُه   ، اْلَِرْيِر  ِف  َلَُم 

البخاري ومسلم عن أنس(

‘Abdurraĥmān bin ‘Auf dan Zubair mengadu kepada 

Rasulullah tentang kutu (yang memicu  

rasa gatal di kulit). Rasulullah lantas mengijinkan 

mereka untuk mengenakan pakaian sutra. Aku 

melihat mereka memakai pakaian itu pada suatu 

perang. (Riwayat al-Bukhārī dan Muslim dari Anas) 

َم  َوَسلَّ َعَلْيِه  اهللُ  اهللِ َصلَّ  َرُسْوُل  َكاَن  َما  ُسِئْلُت 

ا ِمَن اْلَبَشِ ، َيْفِلْ  َيْعَمُل ِفْ َبْيتِِه ، َقاَلْت : َكاَن َبَشً

ُدُم َنْفَسُه . )رواه أمحد عن  َثْوَبُه َوَيُْلُب َشاَتُه َوَيْ

عائشة(

Aku (‘Aisyah) ditanya tentang apa yang Rasulullah 

lakukan di kediamannya. Dia (‘Aisyah) menjawab, 

“Beliau yaitu  orang biasa; membersihkan pakai-

annya dari kutu, memerah susu kambing, dan mela-

yani dirinya sendiri. (Riwayat Aĥmad dari ‘Aisyah)

Perikehidupan Kutu 

Dalam bahasa Indonesia, kutu 

menunjuk pada kelompok Artropoda 

yang berukuran kecil bahkan sangat 

kecil. Kutu juga dipakai untuk menyebut 

sejumlah udang air berukuran kecil 

(seperti kutu air), serangga (seperti 

kutu kepala, kutu badan, dan kutu 


daun), serta—secara salah kaprah— 

berbagai anggota Acarina (tungau dan 

caplak, yang berkerabat lebih dekat 

dengan laba-laba daripada dengan 

serangga). Semua hewan ini disebut 

kutu sebab  ukurannya yang kecil. 

Dengan demikian, pengertian awam 

terhadap istilah ini tidak memiliki arti 

yang bersifat taksonomis. Dalam arti 

lebih sempit, kutu yaitu  serangga 

yang tidak bersayap dan berukuran 

kecil, yang dalam bahasa Inggris men-

cakup flea (kutu yang melompat) dan 

lice (kutu yang lebih suka merayap; 

semua bersifat parasit). Dalam bahasa 

Indonesia keduanya tidak dibedakan, 

bahkan kutu dalam bahasa Indonesia 

juga mencakup sebagian dari kerabat 

wereng dan beberapa anggota kupu-

kupu. Untuk menjelaskan kutu mana 

yang dimaksud maka kita mengim-

buhkan kata penerang di belakang ka-

ta kutu itu sendiri, seperti kutu badan, 

kutu rambut, dan seterusnya.

Kutu badan, kutu rambut, kutu 

busuk, dan kutu pubis—selanjutnya 

disebut “kutu” saja—yaitu  serangga 

parasitik berukuran kecil yang hidup 

di bagian tubuh manusia, pakaian, 

atau tempat tidur. Kutu hidup dari 

mengisap darah manusia yang meng-

akibatkan gatal dan iritasi kulit, terka-

dang bahkan memicu infeksi kulit. 

Kutu biasa menginfeksi orang-orang 

dengan tempat tidur yang kotor, ja-

rang berganti pakaian, atau jarang 

mandi

Hubungan antara kutu dan ma-

nusia sangat erat, bahkan kemun-

culan jenis-jenis kutu ini dapat dikait-

kan dengan evolusi manusia dalam 

berpakaian. Kesimpulan ini muncul 

sesudah  sebuah penelitian membuk-

tikan kutu menetap pada inangnya 

dalam periode evolusi yang panjang. 

Kutu tidak dapat hidup tanpa adanya 

manusia yang memakai pakaian, ti-

dak menjadi soal apakah pakaian itu 

terbuat dari kulit (di masa lalu) atau dari 

katun (pada masa yang lebih modern). 

Terbukti bahwa jika  pakaian yang 

terinfeksi kutu dilepas dan tidak digu-

nakan untuk beberapa hari, maka kutu 

akan mati. Ini membuktikan bahwa 

pakaian sangat penting bagi kutu 

sebagai habitat hidupnya, panas tubuh 

manusia sebagai unsur habitat, dan 

darah sebagai makanannya.    

Budaya berpakaian atau tidur 

di kasur terkait erat dengan hadirnya 

jenis-jenis kutu ini di dunia. Manusia 

diperkirakan mulai mengenakan pakai-

an sesudah  kehilangan rambut pada 

tubuhnya. Merujuk pada penelitian 

sebelumnya, peristiwa ini terjadi sekira 

1 juta tahun lalu. Sementara itu, studi 

DNA terhadap kutu badan menunjuk-

kan bahwa manusia diperkirakan mu-

lai berpakaian sejak 170.000 tahun 

lalu. Kesimpulan ini mirip dengan apa 


yang dihasilkan oleh sebuah studi 

tentang evolusi kutu yang dilakukan 

di Universitas Florida. Studi ini me-

nemukan bahwa manusia modern 

mulai mengenakan pakaian paling 

tidak sekitar 70.000 tahun sebelum 

bermigrasi ke daerah yang lebih tinggi 

dan beriklim lebih dingin. Migrasi itu 

sendiri terjadi kira-kira 100.000 tahun 

lalu. Dengan demikian, manusia cukup 

lama mengalami masa tanpa rambut 

tubuh dan tanpa pakaian. 

Kutu badan (Pediculus humanus 

humanus) yang biasa juga disebut 

Pedulus humanus corporis yaitu  se-

rangga kecil yang menginfeksi ma-

nusia. Nenek moyang kutu-kutu ini 

diperkirakan muncul pada 770.000 

tahun yang lalu. Daur hidup kutu badan 

dimulai dari telur (menetas dalam 1–2 

minggu), nimfa (selama 8–12 hari), 

dan dewasa. Kutu badan bertelur di 

pakaian dan melekatkannya dengan 

erat pada serat–serat pakaian. Kutu 

badan dewasa berdiam di pakaian 

dan baru akan berpindah ke inangnya 

(manusia) saat memerlukan makanan. 

Untuk bertahan hidup, kutu badan 

harus mengisap darah. jika  ia 

terpisah dari manusia yang menjadi 

inangnya maka ia akan mati pada 

suhu kamar. Dari sini terlihat bahwa 

manusia yaitu  inang spesifik bagi 

kutu-kutu ini . 

Kutu rambut (Pediculus humanus 

capitis) sangat mirip dengan kutu ba-

dan, namun secara biologi berbeda 

dalam beberapa hal. Sama halnya 

dengan kutu badan, kutu kepala 

yaitu  sejenis parasit pengisap darah, 

hanya saja mereka hidup di bagian 

kepala. Kutu rambut betina mampu 


bertelur enam buah sehari, yang me-

lekat kuat pada rambut. Telur-telur 

ini akan menetas sesudah  8 hari.  Kutu 

rambut menyebar dengan cepat mela-

lui sentuhan dengan rambut yang 

bermasalah. Hewan ini juga dapat 

berpindah ke kepala lain melalui sisir, 

sikat rambut, topi, dan bantal yang 

dipakai  secara bersama-sama. Se-

bagimana kutu badan, kutu rambut 

juga berperan sebagai inang untuk 

beberapa penyakit, seperti tifus. 

Kutu lainnya yaitu  kutu kelamin 

atau kutu pubis (Phthirus pubis). Se-

rangga parasit penghisap darah ini 

hidup di kulit sekitar kelamin manusia, 

satu-satunya tuan rumah parasit ini. 

Kutu ini memiliki ukuran sangat kecil, 

tapi masih kasat mata. Warnanya ke-

labu kekuningan dan bentuk badan-

nya menyerupai kepiting. Kutu pubis 

biasanya mencengkeram sehelai ram-

but kemaluan dengan cakarnya dan 

menancapkan kepalanya ke kulit di 

mana ia menghisap darah dari pem-

buluh darah yang kecil. Gejala akibat 

kutu pubis mudah dikenali, yaitu gatal 

di kulit di sekitar kemaluan yang tidak 

berkesudahan walau sudah digaruk. 

Pada beberapa orang bahkan bisa 

timbul ruam alergi sesudah  digaruk 

dengan kuat, yang lalu  meng-

akibatkan infeksi bakteri. Kutu pubis 

cukup umum dijumpai terutama pada 

kalangan muda (15–25 tahun), lajang, 

dan biasanya dikaitkan dengan infeksi 

menular seksual lainnya. 

Kutu pubis dapat hidup di luar 

tubuh selama satu hari bila sudah 

kenyang menghisap darah. Kutu-kutu 

ini  dapat jatuh ke pakaian dalam, 

selimut, handuk, dan sebagainya. Telur 

kutu yang ada di pakaian dan selimut 

dapat bertahan sampai enam hari, 

sehingga seseorang dapat saja tertular 

kutu pubis sebab  memakai  pa-

kaian dan handuk oang lain, bahkan 

tidur di ranjangnya. Kutu pubis dapat 

dijumpai pula di ketiak dan kulit kepala, 

biasanya sebab  terbawa dari area 

kemaluan melalui jari atau kuku.

Kutu busuk (Cimex lectularius) 

yaitu  serangga parasitik. Kutu busuk 

jenis ini hanya menginfeksi manusia, 

sedang  jenis lain dari kelompok ini 

menginfeksi hewan berdarah panas 

lainnya. Banyak kasus penyakit kulit 

disebabkan oleh kutu busuk ini. Pada 

permulaan tahun 1940 dilakukan pem-


basmian besar-besaran terhadap kutu 

busuk yang sangat mengganggu ini. 

Sayang, wabah ini muncul kembali 

pada tahun 1995-an. Belum ada penje-

lasan yang memuaskan mengapa wa-

bah ini muncul. Cimex lectalurius dapat 

ditemukan di seluruh dunia. Muncul 

dugaan jenis ini mulai hidup di kawasan 

Timur Tengah, hidup di gua-gua yang 

dihuni oleh kelelawar dan manusia. 

Kutu ini mulai dikenal manusia dan 

tercatat dalam beberapa naskah kuno 

Yunani sejak tahun 400 SM. Aristo-

teles yaitu  peneliti pertama yang 

membuat tulisan mengenai kutu bu-

suk ini. Hubungan kutu ini dengan 

manusia sudah berjalan ribuan tahun. 

Nama kutu ini dalam bahasa Inggris, 

bed bug, menunjukkan tempat tidur 

sebagai habitat kesukaannya.    

Walaupun bukan hewan yang 

aktif pada malam hari, namun mere-

ka relatif lebih aktif pada malam ha-

ri sebab  lebih banyak mendapat 

kesempatan untuk itu. Tubuh kutu 

busuk dewasa berwarna merah ke-

coklatan dan berbentuk bulat telur. 

Panjang badannya antara 4–5 

mm. Mereka memakai  

feromon dan kairomon un-

tuk berkomunikasi, teruta-

ma dalam keperluan makan, repro-

duksi, dan menentukan lokasi sarang. 

Banyak karya telah ditulis mengenai 

cara membasmi kutu busuk ini meng-

gunakan bahan herbal.

Gejala akibat gigitan kutu mudah 

diidentifkasi, seperti munculnya rasa 

gatal yang sangat intens, luka pada 

kulit akibat digaruk, dan timbulnya 

infeksi pada kulit dalam bentuk ber-

cak-bercak merah. Infeksi yang parah 

akan membuat kulit menebal dan ber-

warna kehitaman. jika  tidak segera 

ditangani, infeksi akibat bakteri akan 

segera menyusul. Di samping gatal 

dan infeksi, kutu dapat juga menjadi 

inang bagi penyakit tifus dan demam 

tinggi. Walaupun penyakit tifus tidak 

lagi menyebar luas, namun dalam 

lingkungan kecil penyebarannya ma-

sih mungkin tejadi, misalnya pada 

saat-saat kondisi sanitasi tidak baik, 

seperti pada masa perang, di kawasan 

penampungan akibat bencana alam, 

atau dil lingkungan kumuh.

Caplak, demikian juga tungau, 

sebenarnya merupakan hewan parasit 

yang masuk kelompok laba-laba, dan 

menjadi vector atau inang antara un-


tuk berbagai jenis penyakit, antara 

lain Colorado tick fever, tickborne 

meningo-encephalitis, erichiiosis, dan 

selanjutnya. Hewan ini hidup di pa-

dang rumput atau semak, di mana 

mereka berdiam di daun atau ujung 

rumput yang tinggi menunggu waktu 

untuk melekatkan diri pada hewan 

berdarah panas yang kebetulan lewat. 

Caplak dimasukkan dalam bahasan ini 

sebab  ada kemungkinan kata “kutu” 

dalam terjemah ayat dan hadis di 

atas juga mengacu pada hewan ini. 

Meski caplak  tidak memiliki hubungan 

dengan manusia seerat hubungan 

keempat jenis kutu di atas dengan 

manusia, caplak tetap saja patut di-

perhatikan. Caplak hidup sebagai para-

sit pada hewan berdarah panas, baik 

yang liar (rusa, beruang) maupun yang 

sudah didomestikasi (kuda, sapi, unta, 

anjing). Hewan-hewan yang disebut 

terakhir ini berhubungan erat dengan 

manusia, sehingga mungkin saja pada 

masa itu sudah teridentifikasi kemung-

kinan hewan-hewan ini dapat menular-

kan penyakit kepada manusia. 

Uraian tentang kehidupan kutu 

di atas dapat kiranya memberi gam-

baran seberapa besar gangguan yang 

ditimbulkan kutu terhadap kenyaman-

an dan kesehatan manusia. Dengan 

menurunkan kutu sebagai azab bagi 

penduduk Mesir pada masa Nabi 

Musa, Allah hendak memberi pelajaran 

yang penting bagi manusia. Budaya 

mengenakan pakaian oleh manusia 

sebagai ganti bulu yang hilang, dan 

kebiasaan tidur di kasur membawa 

konsekuensi bagi manusia. Mereka 

mesti selalu memperhatikan aspek 

kebersihan pakaian dan kasur. Bila ini 

dilewatkan maka manusia tidak perlu 

menyalahkan selain diri mereka sendiri 

andaikata wabah kutu seperti yang 

pernah terjadi pada masa Firaun akan 

mucul lagi.

G.  IKAN

Al-Qur'an menyebut ikan secara tersu-

rat maupun tersirat, baik dalam seba-

gai perumpamaan maupun tidak. Ikan 

biasa disebut terkait hukum halal-


haram makanan serta terkait beberapa 

kisah nabi, seperti Nabi Musa dan 

Nabi Yunus. Ayat berikut berisi daftar 

makanan-makanan yang diharamkan.  

ا اْلَْيَتَتاِن : َفاْلََراُد  ُأِحلَّْت َلنَا َمْيَتَتاِن َوَدَماِن ، َفَأمَّ

 . َواْلَكبُِد  َفالطَُّحاُل   : َماِن  الدَّ ا  َوَأمَّ  ، َواْلُوُت 

)رواه البيهقي عن ابن عمر(

Telah dihalalkan bagi kita dua jenis bangkai dan 

dua jenis darah. Dua jenis bangkai yaitu  bangkai 

ikan paus dan bangkai belalang. Adapun dua jenis 

darah yaitu  hati dan limpa. (Riwayat al-Baihaqi 

dari Ibnu ‘Umar) 

Ayat lain yang juga menjelaskan 

halalnya ikan dikonsumsi yaitu  firman 

Allah,

Sesungguhnya Dia hanya mengharamkan atasmu 

bangkai, darah, daging babi, dan (daging) hewan 

yang disembelih dengan (menyebut nama) selain 

Allah. namun  barangsiapa terpaksa (memakannya), 

bukan sebab  menginginkannya dan tidak (pula) 

melampaui batas, maka tidak ada dosa bagi-

nya. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha 

Penyayang. (al-Baqarah/2: 173)

Ayat di atas menegaskan bahwa 

bangkai, yakni hewan yang mati se-

cara alami atau oleh sebab-sebab lain 

selain disembelih dengan tata cara 

yang sah, yaitu  makanan yang diha-

ramkan. Bangkai meliputi hewan yang 

mati tua, mati sebab  kecelakaan, 

diterkam binatang buas, tenggelam, 

atau disembelih tidak atas nama Allah. 

Secara umum bangkai hukumnya ha-

ram, kecuali ikan dan belalang yang 

dikecualikan hukumnya berdasar  

hadis Rasulullah. Ikan yang mati de-

ngan cara apapun halal dimakan, de-

mikian juga belalang. Hukum ini tentu 

saja hanya berlaku selama keduanya 

belum membusuk, sebab  setiap hal 

yang menjijikkan menurut fitrah ma-

nusia normal hukumnya haram. 

Dihalalkan bagimu hewan buruan laut dan makanan 

(yang berasal) dari laut sebagai makanan yang 

lezat bagimu, dan bagi orang-orang yang dalam 

perjalanan; dan diharamkan atasmu (menangkap) 

hewan darat, selama kamu sedang ihram. Dan 

bertakwalah kepada Allah yang kepada-Nya kamu 

akan dikumpulkan (kembali). (al-Mā'idah/5: 96)

Yang dimaksud hewan buruan 

laut pada ayat ini yaitu  semua jenis 

hewan laut yang diperoleh dengan 

cara berburu, seperti memancing, me-

mukat, dan teknik-teknik lainnya. Pe-

ngertian “laut” pada ayat ini tidaklah 

terbatas pada pengertian laut dalam 

bahasa Indonesia, yakni kumpulan air 

asin dalam jumlah yang banyak dan 

luas, yang menggenangi dan mem-

bagi daratan menjadi benua dan 


pulau-pulau. Kata laut merupakan 

terjemah dari kata bahasa Arab al-

baĥr, suatu kata yang pada dasanya 

mengandung pengertian lebih luas 

daripada pengertian yang dikandung 

oleh kata laut dalam bahasa Indoensia. 

Para ulama sepakat tidak membatasi 

pengertian kata al-baĥr menjadi laut 

saja, namun ia juga memuat badan air 

lainnya, seperti sungai, danau, kolam, 

dan sejenisnya. Dengan demikian, atur-

an pada ayat ini juga mencakup ikan air 

tawar.  

Pengertian al-baĥr secara lebih 

jelas disebutkan dalam Surah Fāţir/35: 

12. Ayat ini membagi al-baĥr (laut) 

menjadi dua: yang berair tawar dan 

yang berair asin. Demikian juga dalam 

Surah an-Naĥl/16: 14; Allah menyebut 

al-baĥr sebagai penghasil daging 

(ikan) segar dan perhiasan (misalnya 

mutiara). Hal ini mengisyaratkan bah-

wa al-baĥr memang tidak terbatas 

pengertiannya pada apa yang dikan-

dung oleh kata laut dalam bahasa 

Indonesia, sebab  baik ikan maupun 

perhiasan tidak hanya dihasilkan oleh 

laut yang berair asin, tapi juga oleh 

badan air yang berair tawar.

Dan tidak sama (antara) dua lautan; yang ini tawar, 

segar, sedap diminum dan yang lain asin lagi pahit. 

Dan dari (masing-masing lautan) itu kamu dapat 

memakan daging yang segar dan kamu dapat 

mengeluarkan perhiasan yang kamu pakai, dan di 

sana kamu melihat kapal-kapal berlayar membelah 

laut agar kamu dapat mencari karunia-Nya dan 

agar kamu bersyukur. (Fāţir/35: 12)

Dan Dialah yang menundukkan lautan (untukmu), 

agar kamu dapat memakan daging yang segar 

(ikan) darinya, dan (dari lautan itu) kamu 

mengeluarkan perhiasan yang kamu pakai. Kamu 

(juga) melihat perahu berlayar padanya, dan agar 

kamu mencari sebagian karunia-Nya, dan agar 

kamu bersyukur. (an-Naĥl/16: 14).

Frasa “daging yang segar” me-

rupakan terjemah dari “laĥm țariy”. 

Kata ini diterjemahan ke dalam bahasa 

Inggris menjadi “fresh and tender”. 

Terjemah ini terlihat lebih tepat sebab  

lebih dapat memberi gambaran ten-

tang tekstur alami daging ikan segar 

yang lembut.  

Ikan juga disebut dalam Surah 

al-A‘rāf/7: 163. Di sini Allah menyebut 

ikan sebagai cobaan yang diturunkan-

Nya kepada Bani Israil.


Dan tanyakanlah kepada Bani Israil tentang 

negeri yang terletak di dekat laut saat  mereka 

melanggar aturan pada hari Sabtu, (yaitu) saat  

datang kepada mereka ikan-ikan (yang berada di 

sekitar) mereka terapung-apung di permukaan air, 

padahal pada hari-hari yang bukan Sabat ikan-ikan 

itu tidak datang kepada mereka. Demikianlah Kami 

menguji mereka disebabkan mereka berlaku fasik. 

(al-A‘rāf/7: 163)

Beberapa pustaka menjelaskan 

negeri yang dimaksud dalam ayat di atas 

kemungkinan yaitu  Kota Eliah yang 

terletak di pantai Laut Merah,  antara 

kota Madyan dan bukit Tur. Adapun 

penyebutan hari Sabtu menunjuk pada 

apa yang sekarang dikenal sebagai 

Hari Sabat. Musa membuat aturan 

melarang Bani Israil bekerja pada hari 

Sabtu, dan menjadikannya sebagai hari 

yang dikhususkan untuk beribadah. 

Dengan demikian, pada hari Sabtu 

itu mereka tidak diperkenankan meng-

ambil ikan, walaupun saat itu ikan 

datang dalam jumlah banyak di ka-

wasan pantai—diriwayatkan Allah se-

ngaja mendatangkan ikan yang amat 

melimpah pada hari itu untuk meng-

uji keteguhan dan ketaatan Bani Israil 

terhadap aturan yang dibuat oleh 

Nabi Musa. Sayangnya, Bani Israil ti-

dak mengindahkan aturan Musa itu. 

Mereka tergiur menangkapi ikan yang 

datang ke pantai mereka, melanggar 

aturan Musa. sebab  pelanggaran ini 

Allah mengutuk mereka menjadi kera 

(al-Baqarah/2: 65). Itu yaitu  untuk 

kesekian kalinya Bani Israil melanggar 

aturan Nabi Musa, yang pada hakikat-

nya merupakan aturan Allah.

Ikan juga menjadi subjek yang 

penting dalam kisah Nabi Musa saat 

bertemu Nabi Khidir. Kisah dimulai 

dari kebanggaan pada diri Musa yang 

merasa sebagai orang yang paling 

bijaksana. Ada riwayat yang menga-

takan pada saat itu Musa belum 

diangkat menjadi rasul, dengan alas-

an seorang rasul tidak pantas mem-

punyai sifat kesombongan dalam di-

rinya. Riwayat lainnya mengatakan 

sebaliknya; seorang rasul tetap saja 

memiliki sisi manusiawi dalam dirinya. 

Mungkin kebanggan itu muncul dalam 

diri Musa sebab  merasa Allah telah 

memberinya banyak mukjizat dan juga 

Taurat. sebab  itu Allah mewahyukan 

kepadanya untuk menemui “seorang 

hamba dari hamba-hamba Allah” yang 

tinggal di suatu tempat di “pertemuan 

dua laut” yang memiliki tingkat kebijak-

sanaan lebih tinggi daripada Musa.  

Musa bersama pengiringnya lalu 

melakukan perjalanan untuk mene-

mui hamba Allah itu untuk belajar 

darinya kebijaksanaan yang belum di-

kuasainya. Dia diharuskan membawa 

ikan hidup dalam sebuah wadah. 


Dan (ingatlah) saat  Musa berkata kepada 

pembantunya, “Aku tidak akan berhenti (berjalan) 

sebelum sampai ke pertemuan dua laut; atau aku 

akan berjalan (terus sampai) bertahun-tahun.” 

Maka saat  mereka sampai ke pertemuan dua laut 

itu, mereka lupa ikannya, lalu (ikan) itu melompat 

mengambil jalannya ke laut itu. Maka saat  mereka 

telah melewati (tempat itu), Musa berkata kepada 

pembantunya, “Bawalah kemari makanan kita; 

sungguh kita telah merasa letih sebab  perjalanan 

kita ini.” Dia (pembantunya) menjawab, “Tahukah 

engkau saat  kita mencari tempat berlindung di 

batu tadi, maka aku lupa (menceritakan tentang) 

ikan itu dan tidak ada yang membuat aku lupa 

untuk mengingatnya kecuali setan, dan (ikan) 

itu mengambil jalannya ke laut dengan cara yang 

aneh sekali.” Dia (Musa) berkata, “Itulah (tempat) 

yang kita cari.” Lalu keduanya kembali, mengikuti 

jejak mereka semula. Lalu mereka berdua bertemu 

dengan seorang hamba di antara hamba-hamba 

Kami, yang telah Kami berikan rahmat kepadanya 

dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan ilmu 

kepadanya dari sisi Kami. (al-Kahf/18: 60-65)

Ada dua pendapat tentang apa 

yang dimaksud dengan pertemuan dua 

laut. Pendapat pertama menyatakan 

pertemuan dua laut yaitu  sebuah 

lo-kasi yang benar-benar nyata. Menu-

rut pendapat ini, lokasi itu biasa saja 

kawasan Bab al-Mandab, tempat per-

temuan antara Lautan Hindia dan 

Laut Merah; atau Selat Gibraltar yang 

menjadi pertemuan antara Lautan At-

lantik dan Laut Tengah. 

Pendapat kedua menyatakan 

bahwa “pertemuan dua laut” lebih 

Allah mengatakan bahwa bila ikan itu 

menghilang dari wadah, maka di tem-

pat itulah ia akan bertemu hamba Allah 

ini . Tibalah mereka di pertemuan 

dua laut. Di sana Musa terlelap akibat 

kecapaian, melupakan ikan yang diba-

wanya. saat  Musa tertidur, pengiring-

nya yang masih terjaga melihat ikan itu 

keluar dari wadah, berjalan menuju air, 

dan berenang pergi. Sayangnya, pria 

itu lupa memberitahukan apa yang 

dilihatnya kepada Musa. Hilangnya 

ikan itu baru diberitahukan kepada 

Musa lalu , saat istirahat makan 

sesudah  berjalan sekian lama. Mereka 

bergegas kembali ke tempat ikan itu 

hilang, dan bertemulah mereka de-

ngan seorang lelaki, yang dalam bebe-

rapa riwayat disebut bernama Nabi 

Khidir.

Kisah proses pertemuan Musa 

dengan Nabi Khidir diabadikan Allah 

dalam Surah al-Kahf/18: 60–65.


bersifat majazi daripada hakiki. “Dua 

laut” mewakili dua alur ilmu: ilmu 

yang diperoleh melalui observasi dan 

koordinasi intelektual dari fenomena 

yang ada (al-‘ilm až-žāhir), dan ilmu 

yang bersifat intuitif dan diperoleh 

melalui penglihatan mistik (al-‘ilm al-

bāțin). Pertemuan kedua ilmu itulah 

yang menjadi tujuan utama perjalanan 

Nabi Musa. Masih menurut pendapat 

ini, ikan lebih merupakan simbol pe-

ngetahuan mengenai kebijaksanaan 

(ilmu hikmah) atau kehidupan yang 

langgeng, daripada ikan dalam arti 

yang sebenarnya. 

Ikan juga disebut sebagai salah 

satu tokoh dalam kisah Nabi Yunus. 

Nabi Yunus diutus oleh Allah untuk 

menyampaikan dakwah kepada pendu-

duk Niniveh, suatu kota yang penuh 

kejahatan dan kekejian. Dakwah Yunus 

tidak disambut baik oleh kaumnya; 

mereka malah memusuhi dan mengusir 

Yunus. Merasa tidak tahan dengan 

tanggapan umatnya, Nabi Yunus pun 

pergi meninggalkan mereka, berlayar 

mengarungi lautan menumpang kapal 

yang penuh muatan. Di tengah perja-

lanan, kapal itu nyaris tenggelam. 

Awak kapal berinisiatif mengundi 

siapa yang harus diceburkan ke laut 

untuk agar muatan kapal berkurang 

dan tidak tenggelam. Keluarlah nama 

Yunus, sehingga ia pun diceburkan. 

Begitu tercebut, Nabi Yunus ditelan 

oleh ikan besar, semacam ikan paus. 

Di dalam perut ikan itu beliau bertas-

bih dan bertobat kepada Allah atas 

kesalahannya lari dari kaumnya. Allah 

pun berkenan mengampuninya. Andai-

kata ia tidak bertasbih dan bertobat 

kepada Allah, pasti ia akan mati di 

dalam perut ikan itu dan tetap di sana 

sampai Hari Kebangkitan (aș-Șāffāt/37: 

143–144). Tidak hanya Nabi Yunus yang 

memperoleh ampunan dari Allah, tapi 

juga penduduk Niniveh yang pada 

akhirnya bertobat (Yūnus/10: 98). Kisah 

ini menginspirasi manusia untuk selalu 

bersabar dan bertawakal menerima 

kehendak Allah, sebagaimana juga di-

contohkan dalam Surah al-Qalam/68: 

48.

Maka dia ditelan oleh ikan besar dalam keadaan 

tercela.  (aș-Șāffāt/37: 142)

Maka bersabarlah engkau (Muhammad) terhadap 

ketetapan Tuhanmu, dan janganlah engkau seperti 

(Yunus) orang yang berada dalam (perut) ikan 

saat  dia berdoa dengan hati sedih. (al-Qalam/68: 

48)

296 Hewan dalam Perspektif Al-Qur'an  &  Sains

Dan (ingatlah kisah) Zun Nun (Yunus), saat  dia 

pergi dalam keadaan marah, lalu dia menyangka 

bahwa Kami tidak akan menyulitkannya, maka 

dia berdoa dalam keadaan yang sangat gelap, 

“Tidak ada tuhan selain Engkau, Mahasuci Engkau. 

Sungguh, aku  termasuk orang-orang yang zalim.” 

(al-Anbiyā’/21: 87)

Ketiga ayat di atas secara ekspli-

sit menyebut ikan besar—pada dua 

ayat pertama disebut al-ĥūt dan pada 

ayat terakhir disebut an-nūn—yang 

menelan Nabi Yunus. Bagian dalam 

(perut) ikan yang gelap tampaknya 

merupakan simbol dari tekanan spi-

ritual yang dialami Nabi Yunus, be-

ban spiritual sebagai seorang rasul 

Allah yang “melarikan diri” dari tugas 

kerasulan, seperti budak yang melari-

kan diri dari tuannya. Secara garis 

besar, kisah ini menunjukkan bahwa 

manusia diciptakan dalam keadaan 

lemah (“Allah hendak memberikan 

keringanan kepadamu, sebab  manu-

sia diciptakan (bersifat) lemah” [an-

Nisā'/4: 28]), bahkan seorang rasul 

pun seperti Yunus tidak akan lepas dari 

sifat dasar manusia yang demikian ini.

Ikan jenis apa yang menelan 

Yunus tidak dijelaskan dalam Al-Qur'an. 

Dimana kejadian itu berlangsung juga 

tidak disebutkan, namun diperkirakan 

di kawasan Mesopotamia. Al-Qur'an 

hanya menyebut ikan itu al-ĥūt dan 

an-nūn, yang dapat berarti ikan besar 

atau buaya. Dalam Perjanjian Lama 

disebutkan bahwa Yunus naik kapal 

di kawasan yang sekarang dikenal 

sebagai Jaffa di Laut Tengah, seki-

tar 600 mil dari Niniveh. jika  de-

mikian halnya maka bisa jadi ikan yang 

dimaksud yaitu  paus. Nabi Yunus 

diceritakan naik kapal dagang yang 

penuh muatan (aș-Șāffāt/37: 110). Ka-

pal itu tampaknya cukup besar dan 

kuat untuk mengarungi lautan luas, 

tempat ikan paus banyak ditemukan. 

Wallāhu a‘lam.

Perikehidupan Ikan

Ikan yaitu  hewan bertulang belakang 

yang hidup di air dan bernafas dengan 

insang. Istilah ikan dalam bahasa 

Indonesia tidak saja menunjuk mereka 

yang bernafas dengan insang, tapi 

juga memasukkan mamalia laut yang 

bernafas dengan paru-paru, seperti 

ikan paus. Bentuk ikan beraneka ra-

gam, mulai yang memiliki  bentuk 

“baku” ikan hingga yang berbentuk 

“aneh” seperti kuda laut (gambar 

198). Ikan laut terbesar yaitu  hiu paus 

(whale shark) dari jenis Rhincodon 

typus. Hiu paus termasuk ikan dalam 

arti sebenarnya sebab  ia bernafas de-

ngan insang, berbeda dari ikan besar 

lainnya, “ikan” paus, mamalia yang 

bernafas dengan paru-paru.

Baik ikan air tawar maupun ikan 

laut merupakan sumber daya yang 

penting di dunia sebagai pemasok 

297Hewan dalam Al-Qur'an

makanan. Ikan ditangkap dengan dua 

skala berbeda. Skala pertama disebut 

subsisten, yakni penangkapan dalam 

skala kecil atau sedang, seperti yang 

dilakukan para nelayan kecil dan se-

dang saat ini dengan memakai  

pancing dan jala. Yang kedua disebut 

skala industri, seperti yang dilakukan 

dalam industri perikanan ikan tuna. 

Untuk menangkap ikan tuna dikerah-

kan armada kapal besar yang dapat 

bertahan pada kondisi laut samudra. 

Penangkapan ikan tuna di samu-

dra lepas sudah menjadi industri besar. 

Ikan tuna ditangkap dengan pancing 

dan jala. Penangkapan dengan pan-

cing dapat menjamin hasil yang diper-

oleh murni ikan tuna, sedang  

dengan jala tidak bisa sebab  ikan 

jens lain yang tidak menjadi tujuan 

penangkapan akan ikut terjaring. Gam-

bar 199 memperlihatkan penangkapan 

tuna dengan jaring juga menjaring 

penyu laut dan ikan pari besar secara 

tidak sengaja. Seiring kemajuan ilmu 

pengetahuan banyak jenis ikan saat ini 

dapat dibudidayakan secara masal di 

kolam air tawar dan air payau, jaring 

apung, bahkan bak-bak plastik. Selain 

sebagai makanan, ikan juga digemari 

sebagai hiburan atau objek penyaluran 

hobi, seperti menjadi ikan hias atau 

menjadi objek penyaluran hobi me-

mancing, menjala, dan sejenisnya.

Daging ikan laut maupun ikan air 

tawar mengandung bahan dasar dan 

nutrisi yang diperlukan manusia. Selain 

itu, daging ikan juga mengandung zat-


zat yang mengurangi risiko timbulnya 

beberapa penyakit pada tubuh manu-

sia. Pada minyak ikan terkandung 

dua tipe lemak tak jenuh yang sangat 

baik bagi kesehatan manusia, yaitu 

EPA (EicosaPentaenoic Acid) dan 

DHA (DocosaHexaenoic Acid). Dua 

lemak tak jenuh ini mengandung asam 

omega-3. Omega-3 tidak diproduksi 

oleh tubuh manusia, sehingga manusia 

hanya bisa mendapatkannya dari luar 

tubuh, dari asupan makanan. Salah 

satu kegunaan omega-3 bagi manusia 

yaitu  menambah daya konsentrasi. 

EPA dan DHA juga dihasilkan oleh 

tumbuhan. Berbeda dari EPA dan DHA 

yang dibentuk oleh plankton, organ-

isme renik yang hidup di lautan, apa 

yang dihasilkan tumbuhan tidak terlalu 

efektif bagi manusia. jika  ikan 

memakan plankton maka kandungan 

EPA dan DHA yang dihasilkan oleh 

plankton akan tertinggal dalam tubuh 

ikan.

Ikan juga memiliki  kandungan 

lemak yang cukup. Kandungan asam 

lemak pada ikan salah satunya dapat 

dipakai  sebagai sumber energi. 

Asam lemak ini melakukan transfer 

elektron dengan menempelkan dirinya 

pada oksigen di dalam tubuh. Proses 

ini akan menghasilkan energi untuk 


dipakai dalam proses kimiawi di dalam 

tubuh. Itulah sebabnya mereka yang 

banyak mengonsumsi minyak ikan 

lebih cepat pulih dari kelelahan dan 

memiliki kapasitas fisik dan mental 

yang lebih baik.  

Berikut ini manfaat-manfaat lain 

yang diperoleh dari mengonsumsi da-

ging ikan. 

1. Berdampak baik bagi kesehatan 

jantung dan pembuluh darah. Asam 

lemak omega-3 dikenal memper-

kecil risiko penyakit jantung dengan 

mengurangi tekanan darah tinggi 

dan mengurangi kandungan koles-

terol dan trigliserid di dalam darah. 

Trigliserid yaitu   lemak yang mirip 

dengan LDL (kolesterol jahat). Un-

sur ini mengandung banyak lemak 

dan sedikit protein. Selain itu, mi-

nyak ikan juga dapat mencegah 

terjadinya penggumpalan darah. 

Kecepatan aliran darah normal ada-

lah sekitar 60 km per jam. Untuk 

mencapai kecepatan itu, keenceran 

darah menjadi syarat utama. yaitu  

berbahaya jika darah mengental 

dan bergumpal. Berikutnya, ome-

ga-3 juga penting dalam produksi 

hemoglobin, molekul yang menang-

kap oksigen dalam darah merah 

dan mengatur nutrien melewati 

membran.

2. Mengoptimalkan pertumbuhan ja-

nin dan bayi. Omega-3 yaitu  kom-

ponen penting bagi perkembangan 

otak dan mata janin. Omega-3 yang 

dikonsumsi oleh ibu hamil akan 

mengoptimalkan pertumbuhan ja-

ninnya. Ibu yang sedang menyusui 

dianjurkan memberi ASI kepada 

bayinya sebab  air susu yaitu  

media terbaik untuk menyimpan 

omega-3.

3. Menjaga kesehatan persendian. 

Penyakit artritis (penyakit nyeri 

sendi), disfungsi sendi, dan seje-

nisnya, yang mengarah pada ke-

rusakan sendi yang tidak dapat 

diperbaiki dapat dicegah dengan 

mengonsumsi omega-3.

4. Membantu kesehatan otak dan 

saraf. Konsumsi omega-3 dapat 

mengurangi penyakit kejiwaan, 

seperti depresi, schizophrenia, 

dan alzheimer (penyakit otak yang 

memicu  hilangnya ingatan). 

Banyak mengkonsumsi ikan telah 

terbukti mampu mengurangi rasa 

gelisah, stres, sulit tidur, dan seje-

nisnya.

5. Memperkuat imunitas tubuh dan 

mengurangi penyakit yang dise-

babkan infeksi. Omega-3 dapat 

membantu mencegah beberapa 

penyakit seperti rematik, arthritis, 

infeksi usus, lupus, glaukoma 

(penyakit mata sebab  tekanan 

yang tinggi pada bola mata dan 

dapat mengarah pada kebutaan), 


melindungi myelin (material yang 

membungus urat saraf), sklerosis 

(sakit yang disebabkan pengerasan 

otot pada otak dan sumsum tulang 

belakang), gula darah, migrain, 

luka bakar, serta membantu men-

jaga kesehatan kulit.

Kembali ke kisah Nabi Yunus 

yang ditelan ikan. Kisah ini diperkirakan 

terjadi di kawasan Mesopotamia. Di 

kawasan ini ada  Sungai Tigris 

yang cukup besar. Banyak ikan ber-

ukuran besar yang tercatat hidup 

di sungai ini. Akan namun , kalaupun 

ada ikan air tawar berukuran besar 

di kawasan itu, ikan itu tidak akan 

cukup besar untuk dapat menelan se-

orang manusia dewasa, kecuali ada 

ikan purba berukuran raksasa dan 

belum dikenal yang pernah hidup di 

sini—kemungkinan kecil hal ini terjadi. 

Ikan air tawar terbesar yang tercatat 

yaitu  ikan Arapaima gigas yang hidup 

di Sungai Amazon, Amerika Selatan. 

Ikan ini memiliki tubuh sepanjang 2,5–

3 meter. 

Kandidat kuat ikan besar yang 

menelan Nabi Yunus yaitu  ikan paus. 

Telah disebutkan di depan bahwa ikan 

paus yaitu  mamalia, hewan menyusui 

yang hidup di laut yang bernafas 

dengan paru-paru seperti manusia. 

Ikan paus terbesar yaitu  paus biru 

(blue whale) yang memiliki nama la-

tin Balaenoptera musculus. Panjang 

tubuhnya tercatat dapat mencapai 33 

meter, dengan berat 180 ton. Paus biru 

bertubuh panjang dan ramping. Ada 

tiga anak jenis dari Balaenoptera mus-

culus yang pembedaannya didasarkan 

pada bentuk tubuh luar dan tempat 

ruaya (migrasi)-nya. Ketiganya yaitu  

Balaenoptera musculus musculus yang 


hidup di Atlantik Utara dan Pasifik 

Utara, Balaenoptera musculus interme-

dia yang hidup di lautan sekitar Kutub 

Selatan, dan Balaenoptera musculus 

brevicauda yang biasa disebut pygmy 

blue whale, yang banyak ditemukan 

di Lautan Hindia dan Pasifik Selatan. 

Diduga ada satu anak jenis lagi, yaitu 

Balaenoptera musculus indica yang 

hidup di lautan India. Sebagaimana 

ikan paus lainnya, mereka juga mema-

kan udang kecil bernama krill, yang 

disaring dengan  gigi tapisnya.

Sampai dengan awal abad 20 

paus biru banyak terlihat di semua laut 

di bumi ini. Lebih dari 40 tahun telah 

terjadi perburuan ikan paus secara 

masif, suatu tindakan yang menurun-

kan populasi ikan paus sampai pada 

titik yang mengarah pada kepunahan. 

berdasar  realitas ini, komunitas 

internasional pada tahun 1066 menye-

pakati perlunya pengendalian perbu-

ruan ikan paus. Pada tahun 2002 dila-


porkan populasi paus biru berada pada 

angka 5.000–12.000 ekor saja.

Ikan paus juga diburu sebagai ba-

gian dari tradisi. Salah satunya dilaku-

kan oleh warga  di Desa Lamalera, 

Kecamatan Wulandoni, Kabupaten 

Lembata, Pulau Flores, Nusa Tenggara 

Timur. Perburuan ikan paus di sini 

telah dilakukan sejak abad 16, dengan 

cara penangkapan yang juga masih 

dipertahankan hingga sekarang. Para 

nelayan hanya dilengkapi dengan 

satu-satunya senjata andalan berupa 

tombak yang disebut tempuling. Sen-

jata tradisional ini berupa sebatang 

bambu panjang yang pada salah satu 

ujungnya ditancapkan besi runcing. 

Dengan senjata ini mereka berusaha 

membunuh ikan paus yang besar 

tubuhnya puluhan kali lebih besar 

daripada kapal yang mereka tumpangi. 

saat  ikan berhasil ditombak dengan 

tempuling, di mana alat itu telah 

diberi tali yang diikatkan pada perahu, 

para nelayan mengikuti begitu saja 

pergerakan ikan sampai ikan itu lemas 

akibat kehabisan darah. Pada saat 

inilah nelayan sedikit demi sedikit 

menarik ikan paus ke Pantai Lamalera.

Daging paus hasil perburuan 

dibagikan kepada seluruh penduduk 

desa sesuai dengan besar-kecilnya jasa 

wakil anggota keluarga dalam proses 

perburuan paus. Selain daging, ma-

syarakat juga memanfaatkan minyak 


bagi kehidupan manusia, baik yang 

bersifat fisik maupun spiritual. Ikan 

laut maupun ikan air tawar merupakan 

penyedia protein hewani yang penting. 

Di sisi lain, ikan menjadi penuntun bagi 

Nabi Musa untuk menemui hamba 

Allah yang dikaruniai oleh-Nya hikmah, 

untuk belajar darinya ilmu batin guna 

melengkapi ilmu lahir yang sudah 

dikuasainya. Musa berguru kepada 

hamba Allah ini  agar ia dapat 

mempertemukan dua ilmu, yaitu ilmu 

yang diperoleh melalui observasi dan 

koordinasi intelektual dari fenomena 

yang ada (al-‘ilm až-žāhir), dan penge-


dari lemak paus untuk bahan obat 

dan bahan bakar lampu. Walaupun 

sudah ada beberapa konvensi yang 

melarang perburuan ikan paus, namun  

tradisi ini sampai sekarang tetap 

dipertahankan. Penduduk Lamalera 

tahu paus mana yang dapat diburu. 

Paus yang berukuran kecil dan sedang 

hamil tidak akan mereka tangkap. Dari 

gambar 202 tampak bahwa ikan paus 

yang ditangkap termasuk ikan hiu paus 

(Rhincodon typus). 

Ikan, baik dalam tataran hakiki 

maupun sebagai metafor, mendatang-

kan manfaat yang begitu banyak 

303Hewan dalam Al-Qur'an

tahuan yang berdasar  intuisi dan 

penglihatan mistik (al-‘ilm al-bāțin). 

Tempat pertemuan kedua ilmu ini 

ditandai oleh “ikan”, simbol yang  me-

lambangkan pengetahuan tentang ke-

bijaksanaan atau kehidupan yang lang-

geng.  

H.  HEWAN TERNAK

Hewan ternak merupakan komoditas 

yang sudah lama akrab dengan kehi-

dupan sehari-hari umat manusia, tidak 

terkecuali umat Islam. Saking akrabnya 

sampai-sampai tiga dari 114 surah dalam 

Al-Qur'an dinamai sesuai nama hewan 

ternak, yaitu sapi (al-Baqarah), hewan 

ternak secara umum (al-An‘ām), dan 

lebah (an-Naĥl). Tidak hanya sebagai 

nama surah, beberapa hewan ternak 

juga sering sekali kita jumpai disebut 

dalam banyak ayat Al-Qur'an, sebut 

saja sapi, unta, kambing, unggas, kuda, 

dan lebah. Pada perikehidupan hewan-

hewan ternak ada  pelajaran yang 

sangat berharga bagi manusia. Lihat-

lah bagaimana Allah memberikan ke-

mampuan kepada ternak ruminansia 

(sapi, kambing, domba, dan kerbau) 

untuk mengkonversi rumput menjadi 

daging dan susu; atau lebah madu 

yang mampu mengkonversi nektar 

bunga menjadi madu.

Dalam tradisi warga  Arab, 

terma “hewan ternak” menunjuk ha-

nya empat hewan menyusui, yaitu 

unta, sapi, domba, dan kambing. Da-

lam Al-Qur'an, keempat hewan ini 

disebut baik secara individu maupun 

sebagai kumpulan. Adapun kuda, kele-

dai, bagal, lebah, unggas, serta hewan 

jenis lain yang dikenal dalam dunia 

peternakan dewasa ini bukanlah yang 

dimaksud dengan terma “hewan ter-

nak” yang disebut dalam Al-Qur'an.  

Al-Qur'an dalam banyak ayatnya 

menyebut hewan ternak sebagai salah 

satu anugerah Allah kepada manusia, 

misalnya saja dalam ayat-ayat berikut. 

Dia menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam) 

lalu  darinya Dia jadikan pasangannya dan 

Dia menurunkan delapan pasang hewan ternak 

untukmu. Dia menjadikan kamu dalam perut ibumu 

kejadian demi kejadian dalam tiga kegelapan. Yang 

(berbuat) demikian itu yaitu  Allah, Tuhan kamu, 

Tuhan yang memiliki kerajaan. Tidak ada tuhan 

selain Dia; maka mengapa kamu dapat dipalingkan? 

(az-Zumar/39: 6)

Frasa “delapan pasang hewan 

ternak” pada ayat ini berarti empat 

hewan yang saling berpasangan (jan-

tan dan betina) yaitu sepasang sapi, 

domba, kambing, dan unta.  Keempat 


hewan inilah yang dimaksud saat  

terma “hewan ternak” disebut dalam 

Al-Qur'an, sesuai dengan budaya ma-

syarakat Arab kala itu. Terma “hewan 

ternak” jika  terucap pada masa 

Nabi Musa malah memiliki arti yang 

lebih sempit lagi sebab  hanya berarti 

domba atau biri-biri.

pada beberapa hari yang telah ditentukan atas 

rezeki yang diberikan Dia kepada mereka berupa 

hewan ternak. Maka makanlah sebagian darinya 

dan (sebagian lagi) berikanlah untuk dimakan 

orang-orang yang sengsara dan fakir. (al-Ĥajj/22: 

28)

Dan tidakkah mereka melihat bahwa Kami telah 

menciptakan hewan ternak untuk mereka, yaitu 

sebagian dari apa yang telah Kami ciptakan dengan 

kekuasaan Kami, lalu mereka menguasainya? 

(Yāsīn/36: 71)

agar (dengan air itu) Kami menghidupkan negeri 

yang mati (tandus), dan Kami memberi minum 

kepada sebagian apa yang telah Kami ciptakan, 

(berupa) hewan-hewan ternak dan manusia yang 

banyak. (al-Furqān/25: 49)

Dia (Allah) telah menganugerahkan kepadamu 

hewan ternak dan anak-anak. (asy-Syu‘arā'/26: 

133)

Agar mereka menyaksikan berbagai manfaat untuk 

mereka dan agar mereka menyebut nama Allah 

Makanlah dan gembalakanlah hewan-hewanmu. 

Sungguh, pada yang demikian itu, ada  tanda-

tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal. 

(Tāhā/20: 54)

Hewan ternak pada ayat berikut 

disebut dalam rangkaian gambaran 

tentang kehidupan duniawi, yang itu 

merupakan sebagian dari tanda-tanda 

kekuasaan Allah.

Sesungguhnya perumpamaan kehidupan duniawi 

itu, hanya seperti air (hujan) yang Kami turunkan 

dari langit, lalu tumbuhlah tanaman-tanaman bumi 

dengan subur (sebab  air itu), di antaranya ada 

yang dimakan manusia dan hewan ternak. Hingga 

jika  bumi itu telah sempurna keindahannya, 

dan berhias, dan pemiliknya mengira bahwa 

mereka pasti menguasainya (memetik hasilnya), 

datanglah kepadanya azab Kami pada waktu 

malam atau siang, lalu Kami jadikan (tanaman)

nya seperti tanaman yang sudah disabit, seakan-

akan belum pernah tumbuh kemarin. Demikianlah 


Kami menjelaskan tanda-tanda (kekuasaan Kami) 

kepada orang yang berpikir. (Yūnus/10: 24).

Yang dimaksud bumi yang “ber-

hias” pada ayat di atas yaitu  bumi 

yang dilengkapi gunung-gunung dan 

lembah-lembah yang menghijau de-

ngan tanaman-tanamannya. Adapun 

kata “menguasai” menggambarkan 

bahwa manusia akan dapat memetik 

hasilnya. 

Dalam beberapa ayat berikut 

dinyatakan bahwa manfaat eksistensi 

peternakan di dunia ini salah satunya 

yaitu  untuk dinikmati manusia dan 

membuat manusia sejahtera.

(Semua itu) untuk kesenanganmu dan untuk 

hewan-hewan ternakmu. (‘Abasa/80: 32).

Ayat-ayat berikut menjelaskan 

manfaat-manfaat yang manusia pero-

leh dari hewan-hewan ternak: untuk 

dikendarai, menarik kereta, disembelih 

dan dimanfaatkan dagingnya, serta 

untuk dimanfaatkan kulit dan bulunya 

untuk membuat baju, tenda, wadah 

air, dan keperluan rumah tangga lainnya. 

(Semua itu) untuk kesenanganmu dan untuk 

hewan-hewan ternakmu. (an-Nāzi‘āt/79: 33)

Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia 

cinta terhadap apa yang diinginkan, berupa 

perempuan-perempuan, anak-anak, harta benda 

yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, 

kuda pilihan, hewan ternak ) dan sawah ladang. 

Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-

lah tempat kembali yang baik. (Āli-‘Imrān/3: 14)

Dan di antara hewan-hewan ternak itu ada yang 

dijadikan pengangkut beban dan ada (pula) yang 

untuk disembelih. Makanlah rezeki yang diberikan 

Allah kepadamu, dan janganlah kamu mengikuti 

langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu 

musuh yang nyata bagimu. (al-An‘ām/6: 142)

Dan hewan ternak telah diciptakan-Nya, untuk 

kamu padanya ada (bulu) yang menghangatkan 

dan berbagai manfaat, dan sebagiannya kamu 

makan. (an-Naĥl/16: