Ajaran jawa 3

Ajaran jawa 3


 


kahyangan, seperti juga roh yang berada dialam roh 

yang akan menempatkan diri sesuai dengan kecakapannya, mereka akan di 

tempatkan di area tujuh bagian kelangitan, penempatannya ditentukan oleh 

keberadaannya saat  berada dialam roh saat dilingkungan bumi . 

sebab  dialam nyata manusia diciptakan untuk meemrintah bangsanya 

sendiri didunia, roh halus di kelangitan juga seperti itu. Roh kahyangan . 

yang dengan maksud tertentu menampakkan diri di alam nyata, 

penampakannya hanya di tujukan kepada manusia satu jenis ras atau suku, 

atau bangsa yang sama.  

Mereka juga berbicara sesuai daerah asal atau bangsa saat  mereka 

hidup sebagai manusia dialam nyata, dengan demikian, roh leluhur 

pelindung kita berasal dari bangsa diri kita juga. Tiap bagian kelompok 

benda yang kita lihat menyerupai “seseorang yang berdiri”. Tatanan ditiap 

bagian langit akan sama diseluruh alam semesta , langit dibagi menjadi 

tujuh bagian dimana masing-masing bagian dihuni oleh roh kahyangan 

yang sesuai dengan sifat saat  mereka masih hidup sebagai manusia. 

 

13.1.  Kelompok ini  yaitu  : 

   Yang mengutamakan ilmu dan kebijaksanaan 

   Yang mengutamakan kemampuan tertentu 

   Yang mengutamakan kebaikan dan sifat-sifat yang berrtautan 

dengannya 

   Yang mengutamakan kejujuran dan yang berkaitan dengannya 

   Yang mengutamakan keterbukaan dan yang berkaitan dengannya 

   Yang mengutamakan keadilan dan yang berkaitan dengannya 

   Yang mengutamakan hubungan yang jujur dan kesetiaaan dalam 

perkawinan 

 Cara hidup roh dikelangitan akan menyamakan dengan tata cara 

kehidupan di bumi. Tiap manusia dibumi memiliki  lingkungan pekerjaan 

masing-masing, bedanya yaitu  bahwa didunia kelangitan ia tidak akan 

menemui kesukaran, roh kahyangan mampu mengerjakan segala hal 

kebaikan yang diinginkannya. Pandangan, pendengaran, dan perasaan 

mereka lebih baik daripada roh yang berada didalam daerah astral, gerakan 

mereka juga lebih bebas dan tidak ada yang mengulanginya, jarak yang 

jauh dapat ditempuh dalam beberapa detik saja. 

 Tata cara kehidupan didaerah astral juga sama dengan keadaan di 

daerah kelangitan, meskipun demikian, di daerah kelangitan segalanya 

lebih menyenangkan dan lebih mudah. sebab  roh kahyangan telah 

menanggalkan sifat kebinatangannya maka ia telah menjadi makhluk lain.  

Pikiran dan tindakannya hanya berdasar  kebenaran dan kebaikan. 

Semua sifat yang terkait dengan keburukan telah ditiadakan sebab  roh 

kahayanga hanya di selimuti oleh badan jiwa kerohaniannya. Sedangkan 

jiwa kerohanian nya terdiri atas segala kekuatan, kekuasaan dan 

kemampuan yang ada  di langit dan akan membantu roh dalam 

melakukan tugaznya. Keadaan kelangitan terdiri dari kenikmatan dan 

kesenangan, para roh sesuai sifat dirinya ditempatkan oleh pimpinan roh 

kahyangan sesuai daerah penugasannya, disini ia akan berbuat kebaikan 

demi kebaikan bagi manusia, binatang dan tumbuhan.  

Dalam skala yang kecil, kenikmatan yang sama ada  dibumi, 

bedanya yaitu  bahwa untuk mencapainya untuk dibumi harus dengan 

mengalahkan kesukaran yang besar dan pengorbanan, di kelangitan untuk 

melakukan kebaikan sangatlah mudah. 

 sebab  roh kahyangan didunia kelangitan telah menanggalkan secara 

keseluruhan “nafsu kesenangan, dan keinginannya”, mereka hanya 

mengenal “kejujuran, keterbukaan, kebajikan dan cinta”, di dunia 

kelangitan, keadaanya ideal, yaitu bebas dari kebencian, iri hati, 

kecemburuan dan sifat buruk lainnya.  

Roh yang baru tiba di dunia kelangitan akan disatukan dengan 

“kembaran jiwa atau jodohnya”, bila jodohnya sudah berada disana. Bila 

belum ada, ia akan menunggu kedatangannya, bisa dibayangkan 

kebahagian roh di kahyangan ini. Perkawinan di dunia kelangitan bukan 

merupakan pertemuan badaniah, melainkan pertemuan cinta abadi dunia 

kelangitan.  

Cinta dalam perkawinan di dunia kelangitan dapat disamakan dengan 

kepuasan yang di dapat oleh manusia semasa hidupnya. Bagi yang menikah 

di dunia kelangitan, akan bertempat tinggal dirumah-rumah yang letaknya 

tersendiri, dan kadang juga di kelilingi oleh keluarga terdekatnya. Pasangan 

di dunia kelangitan belum tentu sama dengan pasangannya sewaktu masih 

menjadi manusia di bumi, akan namun  bisa juga pasangannya yaitu  roh 

dari pasangannya saat  menjadi manusia di bumi jika  saat  di bumi 

sudah menemukan “kembaran jiwanya”. Meskipun demikian jarang sekali 

terjadi satu perkawinan yang sempurna di bumi. 

Sifat yang sama seperti dibumi ada  pada bayangannya yang 

terletak di kaki kiri tingkat langit pertama, disana ada  suatu bayangan 

bumi yang sama dengan apa yang ada  di bumi kita  ini. Di daerah 

langit pertama ada  planet-planet yang tidak terhitung banyaknya, akan 

namun  keadaannya lebih baik dari bayangannya yang ada di bumi.  

Semakin tinggi tingkat kelangitan semakin baik, kelangitan kedua 

merupakan tempat yang lebih baik lagi bagi kelahiran kembali roh 

kahyangan, tiap peralihan dari dunia nyata ke dunia kelangitan atau 

sebaliknya, terjadi melalui proses kematian yang tunduk pada hukum yang 

sama, seperti yang ada di bumi.  

Pada tahap peralihan ke dunia yang nyata, roh yang baik akan 

dilahirkan kembali dan diberi kesempatan untuk menambah 

kemampuannya, keadaan  diplanet-planet diman roh yang baik akan 

dilahirkan kembali, tidak berbeda banyak dengan apa yang ada  di 

daerah kelangitan,. 

Planet-planet kelangitan merupakan surga bila dibandingkan dengan 

apa yang ada dibumi kita ini. Cara pengaturannya pemerintahan dari tujuh 

buah kelangitan ditugaskan pada roh utama, yang dinamakan “ penguasa 

kelangitan”. Penguasa ini bertempat tinggal di daerah kelangitan yang 

keenam. Pekerjaannya di Bantu oleh dua roh kahyangan yang berpangkat 

lebih rendah dan yang menguasai daerah “ arupa” dan daerah “rupa”. 

Sedangkan tiap daerah kelangitan dan tiap benda langit  di suatu daerah 

kelangitan dipimpin lagi oleh “roh kahyangan utama” lainnya. Roh 

kahyangan ini memimpin juga daerah kelangitan di samping “ Yang maha 

Kuasa”. Sang maha Kuasa berada pada tiap benda langit di daerah “astral”, 

dan daerah “ nyata” di wakili oleh roh-roh kelangitan utama serta berjuta-

juta roh lainnya. Pemerintahan ini begitu sempurnanya sehingga “ Yang 

Maha Kuasa” terwakili juga di benda yang sekecil-kecilnya sampai di 

dalamnya diri seorang “manusia”. 

Seperti digambarkan dalam tiga bab terakhir (kelahiran kembali), 

manusia naik dari batu hingga menjadi roh kelangitan utama, saat  

menjadi manusia, seseorang menghadapi begitu banyak kesulitan, meski 

demikian kesulitan itu terbilang kecil dibandingkan dengan kemampuan 

yang ada pada dirinya.  

Hidup sebagai manusia sangat pendek jika  dibandingkan hidup 

“roh”, kehidupan sebagai manusia hanya satu langkah jika  

dibandingkan kita melihat perjalanan panjang ini.  Bagi manusia yang 

hidup wajar, orang yang meninggal sebab  sakit atau usia lanjut yaitu  

tidur secara perlahan, dengan demikian kematian bukanlah sesuatu yasng 

perlu ditakuti. Kematian bisa jadi merupakan akhir dari penderitaaan 

panjang di bumi, meskipun perpisahan dengan keluarga melalui kematian 

sangat berat, masih ada harapan untuk bertemu kembali di alam fana atau 

di kehidupan lain yang baru. 

 

(14) ROH HALUS YANG BERASAL DARI ALAM 

 

Selain roh-roh yang berasal dari manusia, di bumi juga ada  roh-

roh halus alam yang tidak kelihatan. Mereka bukan berasal dari roh 

manusia, melainkan merupakan makhluk halus dari tujuh unsur alam. Lima 

unsur diantaranya telah ditampakkan, dua lainnya tidak ditampakkan. Tjuh 

unsur ini berasal dari kekuatan “Ketuhanan”  berikut kekuasaannya dan 

kemampuanNya yang merupakan “penyebab” (uphadi) dari terjadinya 

semua yang ada.  

Diantara lima unsur utama ini  yaitu  Ether, yang masuk dalam 

segala ruangan (akasha) yang ada. Ether merupakan lapisan udara atas atau 

“udara ringan” yang menutupi atau menyelimuti segala benda langit dan 

merupakan sumber dari semua yang ada. Makhluk halus alam dari Ether 

yaitu  I‟Vasu‟. Kepala dari I‟Vasu dinamakan Indra. 

Empat unsur alam lainnya yaitu  bumi, air, udara dan api. Ini 

merupakan kekuatan penerus dalam ala mini yang memicu  kehidupan 

dan pertumbuhan . Makhluk halus dari unsur – unsur alam ini 

mengendalikan “unsur utama” yang berada dalam diri manusia, binatang, 

tumbuh-tumbuhan, bebatuan dan unsur pertambangan. Unsu ini peka 

terhadap pikiran manusia dan dapat dipengaruhi oleh getaran pikiran 

manusia, baik yang sengaja maupun tidak. Roh halus yang dijadikan alat 

oleh pikiran dan kemauan manusia akan memiliki kekuatan maha dahsyat. 

Roh-roh halus yang berasal dari unsur bumi dinamakan Lyaksha, dari 

unsur air dinamakan Apsara, dari unsur udara dinamakan Granduwa, dan 

dari api dinamakan Salamadala. Kepala roh yang bersal dari unsur bumi 

dinamakan KshPti, dari air dinamakan Waruna, dari udara dinamakan 

Pawana dan api dinamakan Agni, roh halus ini  memiliki jenis laki-laki 

atau perempuan. 

Semua roh halus yang berasal dari unsur ala mini memiliki  bentuk 

tubuh manusia meskipun melalui daya pikirannya mampu mengubah 

dirinya menjadi bentuk lain. Makhluk-makhluk halus dan unsur yang 

berada di dunia halus disebut “ roh halus alam” dan menempati dunia 

daerah astral dan daerah nyata, dan memiliki  2400 tingkatan, sesuai 

dengan tingkatan zat alam yang menjadi sumbernya. Mereka yaitu  

“wahana“  yang menjadi sarana atau kendaraan makhluk halus tersebtu 

juga memiliki 2400 tingkatan, dari segi jenis, di dunia ini ada  350.000 

jenis roh halus alam.  

Roh tertinggi yang berada dalam alam memiliki  badan kerohanian, 

sedangkan roh halus alam memiliki  badan halus. Roh halus yang berada 

di daerah nyata memiliki  bentuk badan “etheris”. Untuk menampakkkan 

diri kepada manusia dalam bentuk badan yang nyata, mereka tidak dapat 

memakai  zat tubuh manusia, mereka membentuk diri dengan 

pertolongan daya pikirannnya, dan penampakan dirinya berbentuk ringan 

dan transparan.  

Mereka tidak seperti jiwa manusia yang dengan memakai  zat 

tubuhnya dapat menampakkan dirinya dalam bentuk padat. Meskipun roh 

halus alam dapat berbicara sesuai dengan daerah keberadaannya, mereka 

tidak dapat memasukkan diri dalam pikiran atau ingatan dari manusia, jadi 

mereka dapat menampakkan dirinya seolah jiwa dari manusia, namun tidak 

dapat menampakkan dirinya sebagai bentuk jelmaan manusia. Meski 

mereka dapat berbicara dalam bahasa dari Negara dimana mereka tinggal, 

mereka tidak mungkin untuk mengerti pikiran atayu niat dari roh yang 

berasal dari manusia. Mungkin mereka dapat meniru rupa atau bentuk roh 

badan manusia, namun tidak dapat menyerupai bentuk badan jelmaan roh 

manusia. 

Di Naraka bagian bawah atau bumi, ada  roh-roh alam yang 

perkembanganntya dapat disamakan dengan binatang-binatang yang 

memiliki  tingkat agak tinggi, perkembangan dirinya akan meningkat 

cepat bila mereka meningkat lebih tinggi. Roh halus alam yang berdiam di 

bumi atau naraka yang pertama dapat disamakan perkembangannya dengan 

manusia dalam perkembangannya yang rendah. Roh-roh alam halus yang 

berada dalam daerah astral perkembangannya lebih baik daripada roh 

manusia yang ada disana. Hal yang sama juga berlaku bagi roh halus alam 

yang berada di daerah halus.     

Perkembangan dari roh-roh halus alam ternyata garisnya lebih pendek, 

namun sukar dibandingkan roh-roh halus manusia. Hubungan antara roh-

roh halus alam dan roh-roh halus manusia yang berada di naraka tingkat 

tujuh, keenam dan kelima sangat buruk. Mereka selalu bermusuhan, sebab  

roh-roh halus alam dapat memiliki  kekuatan yang maha dahsyat, roh-roh 

halus manusia yang berada di daerah ini menjadi sangat menderita.   

Di Naraka yang keempat, ketiga dan kedua hubungannya lebih baik, 

namun tidak bersahabat, di bumi atau naraka tingkat pertama, roh-roh halus 

alam ini takut terhadap manusia. Roh-roh halus ala mini dapat menipunya 

namun tidak berbuat jahat, mereka mengganggu manusia sebab  itulah 

dinamakan “setan” dan ditakuti oleh manusia.  

Di dunia roh halus, hubungan antara roh manusia dan roh alam cukup 

baik, meski cara hidupnya mereka berbeda, mereka tetap saling menolong. 

“Dilangit, mereka saling menduduki jabatan yang penting-penting, 

perbedaannya, dalam lingkungan pekerjaan makhluk halus yang berasal 

dari alam dan roh-roh yang berasal dari manusia di daerah kelangitan 

yaitu  yang berasal dari alam yaitu  merupakan pemelihara dari daerah 

kelangitan, sedangkan roh-roh yang berasal dari manusia memegang 

pemerintahan di daerah ini”. 

Sifat “tbuh” roh halus dari alam tidak dapat dirusak dan tidak dapat 

sakit atau mengalami penderitaan, sebab  masing-masing dari roh halus 

alam memiliki  lingkungan tugas tersendiri maka mereka tidak bersaing 

satu sama lain. Disebabkan badan halusnya, roh halus alam dapat berdiam 

di bumi tanpa halangan, mereka juga dapat bergerak amat cepat diudara, 

dan di daerah keduniawian menghidupkan dan memperkuat dirinya dengan 

bernafas dan menghisap zat etheris yang tersedia, mereka juga menyukai 

bau harum bunga namun  mereka tidak menyukai beberapa bau manusia, 

oleh sebab  itu mereka menghindari tinggal di daerah tempat tinggal 

manusia.  

Mreka punya warna tersendiri yang menandakan tingkatan dan 

jenisnya, sebab  itulah mereka hidup berkelompok sesuai dengan 

warnanya, mereka juga mematuhi mantra yang dapat menghasilkan warna 

sesuai kelompoknya. 

Perkembangan roh-roh halus ala mini dapat melampaui perkembanga 

tumbuhan, binatang ataupun manusi, umur mereka juga tidak lebih panjang 

dari umur manusia, namun mendekati umur manusia rata-rata, bila mati, 

sesudah  melalui proses pembusukan, badan halus mereka kembali ke daerah 

astra untuk kemudian melalui inkarnasi dilahirkan kembali sebagai roh 

halus alam di dalam badan etheris, meski demikian , proses kelahiran 

kembali mereka tidak seperti proses kelahiran kembali manusia yang 

dilahirkan melalui ibunya.  

Ada beberapa roh alam yang berinkarnasi dalam tubuh seseorang anak 

manusia yang hendak meninggal, saat  jiwa sang anak meninggalkan 

tubuhnya, roh halus alam segera memasukinya dalam kelahirannya kembali 

, biasanya dengan bantuan mantra anak yang hendak meninggal diisi oleh 

roh alam, anak ini  tidak jadi mati namun  akan memiliki  kebiasaan 

dan perbuatan yang berbeda dari sebelumnya, anak-anak demikian juga 

disebut “anak peralihan”. Para pendeta atau ulama biasanya memiliki 

kemampuan untuk memanggil roh halus alam dan mengisi tubuh anak yang 

kehilangan jiwanya. 

Dukun yang menjalani ilmu hitam dapat meminta pertolongan roh 

halus dengan mengucapkan beberapa mantra, akan namun  cara demikian ini 

berbahaya bagi si dukun, sebab  dapat memicu  permusuhan dan 

mungkin juga pembalasannya, meski tidak berkemampuan untuk 

mempengaruhi kemauan manusia, roh-roh halus alam memiliki  

kemampuan lain yang dapat mengalihkan pandangan atau penglihatan, 

manusia yang dipengaruhi akan melihat atau merasakan sesuatu hal lain 

dari biasanya, pemanfaatan lainnya yaitu dilakukan “fakir” yang membuat 

pertunjukan aneh-aneh yang tidak dapat dipahami oleh manusia biasa. 

 

(15) KELAHIRAN KEMBALI 

 

Di dalam bab badan halus di ceritakan bahwa sebelum dapat pindah 

dari bumi ke kelangitan pertama, jiwa harus berada dalamkeadaan Moksha, 

yaitu bebas dari nafsu, kesenangan dan keinginan. Sedangkan dalam bab 

Kekuatan Kemauan di terangkan bila manusia meninggal dengan karma 

Kriyaman, yaitu karma yang dimana akibatnya akan terasa dalam 

penghidupan kemudian dari manusia maka roh terpaksa akan dilahirkan 

kembali untuk menanggung akibat dari karmayang pernah dilakukan. 

Manusia yang meninggal dengan karma Kriyaman, ia tidak dapat Moksha.  

Roh akan selalu dilahirkan dan berada di bumi hingga akhirnya ia 

akan meninggal sebagai manusia dengan karma yang sesuai, jadi kelahiran 

kembali yaitu  akibat dari hukum karma, sedangkan kemampuan dan 

kepintarannya sebagai manusia dapat dimanfaatkan menhilangkan akibat 

buruk dari karma. 

Selama hidup di dunia, manusia memperoleh pengalaman dan 

pengetahuan, sesudah  kematiannya, pemikiran dan kemauan yang rendah 

(mengandung sifat kebinatangan) akan dibersihkan oleh rohnya, dan dalam 

proses ini maka kemampuan dan pengalaman pemikiran kebinatangannya 

akan diubah menjadi cara berpikir yang lebih tinggi dari roh 

kerohaniaannya.  

Dalam proses peralihan roh (jiwa) kerohanian, roh kebinatangan yang 

ada ditakdirkan dibawa ke dunia kelangitan dan secara perlahan musnah 

disana. Akhirnya, jiwa kebinatangan dan pemikirannya akan hilang sebagai 

bayangan. Dalam peralihan ini, kemampuan dan pengalaman diabadikan 

dan tidak akan hilang, peralihan ini berjalan dengan mengikuti hukum 

Antahkarana, yaitu jalan yang dapat digambarkan sebagai antara pemikiran 

tinggi dan pemikiran yang lebih rendah atau zat yang menghubungkan 

keduanya. 

 

sesudah  peralihan terjadi, semua roh memiliki keinginan kuat untuk 

menebus dosa-dosanya dimasa lalu, keinginan ini memungkinkan 

pemikiran dan kemauan dalam badan yang baru untuk tidak akan 

melakukan kesalahan lagi, seperti dalam kehidupan sebelumnya, roh yang 

dalam keadaan demikian disebut dalam keadaan Trihna atau Tahna, yaitu 

kekuatan keinginan dari “perasaan yang lalu”.  

Dalam proses peralihan dari daerah astral ke dunia nyata, berlaku 

hukum Upadana, sebelum masuk dunia nyata, roh akan di selubungi oleh 

badan halus baru yang lebih baik dari badan halus sebelumnya, pengalaman 

dan kemampuan masa lalu masih menyertai badan halus baru ini sebagai 

dasar untuk membangun kemampuan dan pemikiran yang lebih baik, oleh 

sebab  itu, tidak heran jika anak-anak sering memiliki kemampuan yang 

mengherankan orang dewasa. 

Bagaimana roh diselubungi dengan badan kasar yang baru ? yaitu  

Upadana atau “keinginan yang keras” yang memicu  keinginan atau 

Issha yang bisa memicu  Bhawa atau “kekuatan-Karmisch” yang 

menyertai tiap kehidupan baru dan menghasilkan”zat” yang memberi 

bentuk.  

Oleh sebab  itu, roh yang meninggalkan badannya disebabkan hanya 

sebab  keinginannya yang tak kunjung padam akan menghasilkan wujud 

badaniah tertentu dalam kehidupan baru. Jadi Upadana yaitu  daya cipta 

dari bhawa. Wujud-wujud seperti apa yang akan terbentuk sangat 

tergantung dari karmanya, juga waktu kelahiran kembali manusia 

disesuaikan dengan letak-letak planet dan tanda-tanda lainnya, sesuai 

dengan sifatnya yang baru yang akan diperoleh manusia baru ini . 

Waktu kelahiran kembali akan berjalan mengikuti hukum yang pasti, tepat 

pada waktunya, dan tidak akan lebih awal atau lebih lambat. 

Bila hukum dari Antahkarana memperbaiki manusia dalam kelahiran 

barunya, hukum karma menempatkan manusia baru pada lingkungan yang 

sesuai dengan kehidupan masa lalunya. Kehidupan masa lalu juga yang 

membentuk sifat dan tabiat manusia baru ini , dalam kehidupan yang 

sekarang, manusia diberi kesempatan untuk memperbaiki dirinya dengan 

perkembangan dan perbaikan dari sifatnya.  

Kelahiran kembali memberi kesempatan pada manusia jahat untuk 

mempebaiki dan menjalankan kehidupan yang lebih baik dari kehidupan 

sebelumnya, dan bila manusia baru ini tidak memperbaiki tabiatnya maka 

ia akan menjadi manusia “kalah”. Manusia yang yang pada masa 

kehidupan sebelumnya menjalankan kehidupan yang baik, pad 

kelahirannya kembali selain dapat menikmati kemampuan dan kepintaran 

yang didapat di masa kehidupan lalunya, juga akan menikmati akibat dari 

masa sifat baiknya. 

Hukum Antahkarana selain memberikan ingatan yang tetap 

pengetahuan dan pengalaman dalam kehidupan sebelumnya, juga 

mendorong perkembangan sifat dan kemampuan baik lainnya. berdasar  

hukum ini , manusia yang dilahirkan kembali tidak akan ingat lagi 

pengalaman dan pengetahuan yang tidak dapat menolongnya dalam 

kehidupan baru selanjutnya, hukum ini menolong manusia sebab  bila 

masih ingat masa lalunya maka manusia akan saling kenal pada masa 

kehidupan yang sekarang. Kalau orang saling kenal pada kehidupan masa 

lalunya  maka seseoraqng penjahat yang dilahirkan kembali akan selalu 

dikucilkan sehingga tidak memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri. 

 

15.1.  Hukum Keterkaitan Abadi    

Hukum-hukum diatas bila dirangkum menjadi satu akan merupakan 

“satu hukum” lagi yaitu hukum “keterkaitan abadi”. Ini menjelaskan bahwa 

manusia diberi kesempatan untuk dilahirkan kembali berkali-kali sehingga 

akhirnya menjadi manusia yang sempurna dalam segi pengetahuan, 

kemampuan, pengenalan diri, kebaikan, ataupun kearifan.  

sesudah  kesempurnaan terca[ai maka hukum ini tidak akan berlaku 

lagi, dalam kedaan demikian, akhirnya manusia sesudah  kematiaan, 

astralnya akan dihidupkan kembali di bagian bumi yang terletak di langit 

pertama yang memang sesuai baginya. sesudah  manusia dapat mencapai 

keadaan ini, perbedaannya, yang satu lebih cepat dari yang lain sebab  

manus8ia di dunia bebas menentukan sendiri perjalanan hidupnya, 

perbedaan yang besar dari bakat peradaban dan kemampuan dari manuisa 

telah menunjukkan pada penghidupan masal lalu disebabkan oleh proses 

perkembangan yang terjadi. 

Keadaan nasib manusia yang berbeda dimana ada kehidupan yang 

sejahtera dan ada yang sengsara, tidak bisa dilihat sebagai ketidak-adilan 

”Tuhan”. Kondisi ini harus dilihat sebagai proses perkembangan manusia 

untuk menjadi manusia yang sempurna. Bukankah Tuhan memiliki sifat 

yang “Maha Tinggi” dan “Maha Mengetahui” dari “ kejujuran”, 

“kebaikan”, dan “kecintaan”? Bagi mereka yang telah mencapai 

perkembanga yang tinggi dalam kehidupannya, hidup rohaniahnya makin 

lama makinsempurna sebab  dalam dunia halus telah mencapai tingkat 

yang lebih tinggi. 

Untuk sampai ke tingkat Moksha, manusia sudah harus dapat 

menyelesaikan kewajibannya di dunia dan meninggal dengan karma yang 

sudah diselesaikan. BIlamana manusia masih ada keinginan material atau 

masih ada nafsu dan kemauan untuk memuaskannya, ia tidak bisa Moksha 

dan masih terikat hukum karma, Bila Moksha dilakukan dengan kemauan 

yang mantap maka ia akan berhasil. Untuk mengakhiri karma tidak hanya 

diperlukan pengenalan diri yang sempurna, namun  jua menjaga untuk tidak 

memicu nnya lagi dengan yang baru, kejahatan harus dibalas 

kebaikan, juga menjaga segala tindakan agar didasarkan pada “cinta”, 

“sayang”, dan “kebaikan” pada sesama, juga harus menjaga dari sikap 

sedih dan duka cita. . 

Bila dalam perkembangannya dapat mencapai tingkat ini  maka 

”ketidak-puasan” yang merupakan sumber dari kejahatan akan hilang, 

maka begitu ketidak-puasan hilang maka perasaan tenag dan tujuannya 

tercapai dan dengan tercapainya tujuan maka berakhirlah Kannanya dan 

mencapai tingkat Samana yaitu manusia sempurna. 

Semoga bermafaat!