Ajaran jawa 3
kahyangan, seperti juga roh yang berada dialam roh
yang akan menempatkan diri sesuai dengan kecakapannya, mereka akan di
tempatkan di area tujuh bagian kelangitan, penempatannya ditentukan oleh
keberadaannya saat berada dialam roh saat dilingkungan bumi .
sebab dialam nyata manusia diciptakan untuk meemrintah bangsanya
sendiri didunia, roh halus di kelangitan juga seperti itu. Roh kahyangan .
yang dengan maksud tertentu menampakkan diri di alam nyata,
penampakannya hanya di tujukan kepada manusia satu jenis ras atau suku,
atau bangsa yang sama.
Mereka juga berbicara sesuai daerah asal atau bangsa saat mereka
hidup sebagai manusia dialam nyata, dengan demikian, roh leluhur
pelindung kita berasal dari bangsa diri kita juga. Tiap bagian kelompok
benda yang kita lihat menyerupai “seseorang yang berdiri”. Tatanan ditiap
bagian langit akan sama diseluruh alam semesta , langit dibagi menjadi
tujuh bagian dimana masing-masing bagian dihuni oleh roh kahyangan
yang sesuai dengan sifat saat mereka masih hidup sebagai manusia.
13.1. Kelompok ini yaitu :
Yang mengutamakan ilmu dan kebijaksanaan
Yang mengutamakan kemampuan tertentu
Yang mengutamakan kebaikan dan sifat-sifat yang berrtautan
dengannya
Yang mengutamakan kejujuran dan yang berkaitan dengannya
Yang mengutamakan keterbukaan dan yang berkaitan dengannya
Yang mengutamakan keadilan dan yang berkaitan dengannya
Yang mengutamakan hubungan yang jujur dan kesetiaaan dalam
perkawinan
Cara hidup roh dikelangitan akan menyamakan dengan tata cara
kehidupan di bumi. Tiap manusia dibumi memiliki lingkungan pekerjaan
masing-masing, bedanya yaitu bahwa didunia kelangitan ia tidak akan
menemui kesukaran, roh kahyangan mampu mengerjakan segala hal
kebaikan yang diinginkannya. Pandangan, pendengaran, dan perasaan
mereka lebih baik daripada roh yang berada didalam daerah astral, gerakan
mereka juga lebih bebas dan tidak ada yang mengulanginya, jarak yang
jauh dapat ditempuh dalam beberapa detik saja.
Tata cara kehidupan didaerah astral juga sama dengan keadaan di
daerah kelangitan, meskipun demikian, di daerah kelangitan segalanya
lebih menyenangkan dan lebih mudah. sebab roh kahyangan telah
menanggalkan sifat kebinatangannya maka ia telah menjadi makhluk lain.
Pikiran dan tindakannya hanya berdasar kebenaran dan kebaikan.
Semua sifat yang terkait dengan keburukan telah ditiadakan sebab roh
kahayanga hanya di selimuti oleh badan jiwa kerohaniannya. Sedangkan
jiwa kerohanian nya terdiri atas segala kekuatan, kekuasaan dan
kemampuan yang ada di langit dan akan membantu roh dalam
melakukan tugaznya. Keadaan kelangitan terdiri dari kenikmatan dan
kesenangan, para roh sesuai sifat dirinya ditempatkan oleh pimpinan roh
kahyangan sesuai daerah penugasannya, disini ia akan berbuat kebaikan
demi kebaikan bagi manusia, binatang dan tumbuhan.
Dalam skala yang kecil, kenikmatan yang sama ada dibumi,
bedanya yaitu bahwa untuk mencapainya untuk dibumi harus dengan
mengalahkan kesukaran yang besar dan pengorbanan, di kelangitan untuk
melakukan kebaikan sangatlah mudah.
sebab roh kahyangan didunia kelangitan telah menanggalkan secara
keseluruhan “nafsu kesenangan, dan keinginannya”, mereka hanya
mengenal “kejujuran, keterbukaan, kebajikan dan cinta”, di dunia
kelangitan, keadaanya ideal, yaitu bebas dari kebencian, iri hati,
kecemburuan dan sifat buruk lainnya.
Roh yang baru tiba di dunia kelangitan akan disatukan dengan
“kembaran jiwa atau jodohnya”, bila jodohnya sudah berada disana. Bila
belum ada, ia akan menunggu kedatangannya, bisa dibayangkan
kebahagian roh di kahyangan ini. Perkawinan di dunia kelangitan bukan
merupakan pertemuan badaniah, melainkan pertemuan cinta abadi dunia
kelangitan.
Cinta dalam perkawinan di dunia kelangitan dapat disamakan dengan
kepuasan yang di dapat oleh manusia semasa hidupnya. Bagi yang menikah
di dunia kelangitan, akan bertempat tinggal dirumah-rumah yang letaknya
tersendiri, dan kadang juga di kelilingi oleh keluarga terdekatnya. Pasangan
di dunia kelangitan belum tentu sama dengan pasangannya sewaktu masih
menjadi manusia di bumi, akan namun bisa juga pasangannya yaitu roh
dari pasangannya saat menjadi manusia di bumi jika saat di bumi
sudah menemukan “kembaran jiwanya”. Meskipun demikian jarang sekali
terjadi satu perkawinan yang sempurna di bumi.
Sifat yang sama seperti dibumi ada pada bayangannya yang
terletak di kaki kiri tingkat langit pertama, disana ada suatu bayangan
bumi yang sama dengan apa yang ada di bumi kita ini. Di daerah
langit pertama ada planet-planet yang tidak terhitung banyaknya, akan
namun keadaannya lebih baik dari bayangannya yang ada di bumi.
Semakin tinggi tingkat kelangitan semakin baik, kelangitan kedua
merupakan tempat yang lebih baik lagi bagi kelahiran kembali roh
kahyangan, tiap peralihan dari dunia nyata ke dunia kelangitan atau
sebaliknya, terjadi melalui proses kematian yang tunduk pada hukum yang
sama, seperti yang ada di bumi.
Pada tahap peralihan ke dunia yang nyata, roh yang baik akan
dilahirkan kembali dan diberi kesempatan untuk menambah
kemampuannya, keadaan diplanet-planet diman roh yang baik akan
dilahirkan kembali, tidak berbeda banyak dengan apa yang ada di
daerah kelangitan,.
Planet-planet kelangitan merupakan surga bila dibandingkan dengan
apa yang ada dibumi kita ini. Cara pengaturannya pemerintahan dari tujuh
buah kelangitan ditugaskan pada roh utama, yang dinamakan “ penguasa
kelangitan”. Penguasa ini bertempat tinggal di daerah kelangitan yang
keenam. Pekerjaannya di Bantu oleh dua roh kahyangan yang berpangkat
lebih rendah dan yang menguasai daerah “ arupa” dan daerah “rupa”.
Sedangkan tiap daerah kelangitan dan tiap benda langit di suatu daerah
kelangitan dipimpin lagi oleh “roh kahyangan utama” lainnya. Roh
kahyangan ini memimpin juga daerah kelangitan di samping “ Yang maha
Kuasa”. Sang maha Kuasa berada pada tiap benda langit di daerah “astral”,
dan daerah “ nyata” di wakili oleh roh-roh kelangitan utama serta berjuta-
juta roh lainnya. Pemerintahan ini begitu sempurnanya sehingga “ Yang
Maha Kuasa” terwakili juga di benda yang sekecil-kecilnya sampai di
dalamnya diri seorang “manusia”.
Seperti digambarkan dalam tiga bab terakhir (kelahiran kembali),
manusia naik dari batu hingga menjadi roh kelangitan utama, saat
menjadi manusia, seseorang menghadapi begitu banyak kesulitan, meski
demikian kesulitan itu terbilang kecil dibandingkan dengan kemampuan
yang ada pada dirinya.
Hidup sebagai manusia sangat pendek jika dibandingkan hidup
“roh”, kehidupan sebagai manusia hanya satu langkah jika
dibandingkan kita melihat perjalanan panjang ini. Bagi manusia yang
hidup wajar, orang yang meninggal sebab sakit atau usia lanjut yaitu
tidur secara perlahan, dengan demikian kematian bukanlah sesuatu yasng
perlu ditakuti. Kematian bisa jadi merupakan akhir dari penderitaaan
panjang di bumi, meskipun perpisahan dengan keluarga melalui kematian
sangat berat, masih ada harapan untuk bertemu kembali di alam fana atau
di kehidupan lain yang baru.
(14) ROH HALUS YANG BERASAL DARI ALAM
Selain roh-roh yang berasal dari manusia, di bumi juga ada roh-
roh halus alam yang tidak kelihatan. Mereka bukan berasal dari roh
manusia, melainkan merupakan makhluk halus dari tujuh unsur alam. Lima
unsur diantaranya telah ditampakkan, dua lainnya tidak ditampakkan. Tjuh
unsur ini berasal dari kekuatan “Ketuhanan” berikut kekuasaannya dan
kemampuanNya yang merupakan “penyebab” (uphadi) dari terjadinya
semua yang ada.
Diantara lima unsur utama ini yaitu Ether, yang masuk dalam
segala ruangan (akasha) yang ada. Ether merupakan lapisan udara atas atau
“udara ringan” yang menutupi atau menyelimuti segala benda langit dan
merupakan sumber dari semua yang ada. Makhluk halus alam dari Ether
yaitu I‟Vasu‟. Kepala dari I‟Vasu dinamakan Indra.
Empat unsur alam lainnya yaitu bumi, air, udara dan api. Ini
merupakan kekuatan penerus dalam ala mini yang memicu kehidupan
dan pertumbuhan . Makhluk halus dari unsur – unsur alam ini
mengendalikan “unsur utama” yang berada dalam diri manusia, binatang,
tumbuh-tumbuhan, bebatuan dan unsur pertambangan. Unsu ini peka
terhadap pikiran manusia dan dapat dipengaruhi oleh getaran pikiran
manusia, baik yang sengaja maupun tidak. Roh halus yang dijadikan alat
oleh pikiran dan kemauan manusia akan memiliki kekuatan maha dahsyat.
Roh-roh halus yang berasal dari unsur bumi dinamakan Lyaksha, dari
unsur air dinamakan Apsara, dari unsur udara dinamakan Granduwa, dan
dari api dinamakan Salamadala. Kepala roh yang bersal dari unsur bumi
dinamakan KshPti, dari air dinamakan Waruna, dari udara dinamakan
Pawana dan api dinamakan Agni, roh halus ini memiliki jenis laki-laki
atau perempuan.
Semua roh halus yang berasal dari unsur ala mini memiliki bentuk
tubuh manusia meskipun melalui daya pikirannya mampu mengubah
dirinya menjadi bentuk lain. Makhluk-makhluk halus dan unsur yang
berada di dunia halus disebut “ roh halus alam” dan menempati dunia
daerah astral dan daerah nyata, dan memiliki 2400 tingkatan, sesuai
dengan tingkatan zat alam yang menjadi sumbernya. Mereka yaitu
“wahana“ yang menjadi sarana atau kendaraan makhluk halus tersebtu
juga memiliki 2400 tingkatan, dari segi jenis, di dunia ini ada 350.000
jenis roh halus alam.
Roh tertinggi yang berada dalam alam memiliki badan kerohanian,
sedangkan roh halus alam memiliki badan halus. Roh halus yang berada
di daerah nyata memiliki bentuk badan “etheris”. Untuk menampakkkan
diri kepada manusia dalam bentuk badan yang nyata, mereka tidak dapat
memakai zat tubuh manusia, mereka membentuk diri dengan
pertolongan daya pikirannnya, dan penampakan dirinya berbentuk ringan
dan transparan.
Mereka tidak seperti jiwa manusia yang dengan memakai zat
tubuhnya dapat menampakkan dirinya dalam bentuk padat. Meskipun roh
halus alam dapat berbicara sesuai dengan daerah keberadaannya, mereka
tidak dapat memasukkan diri dalam pikiran atau ingatan dari manusia, jadi
mereka dapat menampakkan dirinya seolah jiwa dari manusia, namun tidak
dapat menampakkan dirinya sebagai bentuk jelmaan manusia. Meski
mereka dapat berbicara dalam bahasa dari Negara dimana mereka tinggal,
mereka tidak mungkin untuk mengerti pikiran atayu niat dari roh yang
berasal dari manusia. Mungkin mereka dapat meniru rupa atau bentuk roh
badan manusia, namun tidak dapat menyerupai bentuk badan jelmaan roh
manusia.
Di Naraka bagian bawah atau bumi, ada roh-roh alam yang
perkembanganntya dapat disamakan dengan binatang-binatang yang
memiliki tingkat agak tinggi, perkembangan dirinya akan meningkat
cepat bila mereka meningkat lebih tinggi. Roh halus alam yang berdiam di
bumi atau naraka yang pertama dapat disamakan perkembangannya dengan
manusia dalam perkembangannya yang rendah. Roh-roh alam halus yang
berada dalam daerah astral perkembangannya lebih baik daripada roh
manusia yang ada disana. Hal yang sama juga berlaku bagi roh halus alam
yang berada di daerah halus.
Perkembangan dari roh-roh halus alam ternyata garisnya lebih pendek,
namun sukar dibandingkan roh-roh halus manusia. Hubungan antara roh-
roh halus alam dan roh-roh halus manusia yang berada di naraka tingkat
tujuh, keenam dan kelima sangat buruk. Mereka selalu bermusuhan, sebab
roh-roh halus alam dapat memiliki kekuatan yang maha dahsyat, roh-roh
halus manusia yang berada di daerah ini menjadi sangat menderita.
Di Naraka yang keempat, ketiga dan kedua hubungannya lebih baik,
namun tidak bersahabat, di bumi atau naraka tingkat pertama, roh-roh halus
alam ini takut terhadap manusia. Roh-roh halus ala mini dapat menipunya
namun tidak berbuat jahat, mereka mengganggu manusia sebab itulah
dinamakan “setan” dan ditakuti oleh manusia.
Di dunia roh halus, hubungan antara roh manusia dan roh alam cukup
baik, meski cara hidupnya mereka berbeda, mereka tetap saling menolong.
“Dilangit, mereka saling menduduki jabatan yang penting-penting,
perbedaannya, dalam lingkungan pekerjaan makhluk halus yang berasal
dari alam dan roh-roh yang berasal dari manusia di daerah kelangitan
yaitu yang berasal dari alam yaitu merupakan pemelihara dari daerah
kelangitan, sedangkan roh-roh yang berasal dari manusia memegang
pemerintahan di daerah ini”.
Sifat “tbuh” roh halus dari alam tidak dapat dirusak dan tidak dapat
sakit atau mengalami penderitaan, sebab masing-masing dari roh halus
alam memiliki lingkungan tugas tersendiri maka mereka tidak bersaing
satu sama lain. Disebabkan badan halusnya, roh halus alam dapat berdiam
di bumi tanpa halangan, mereka juga dapat bergerak amat cepat diudara,
dan di daerah keduniawian menghidupkan dan memperkuat dirinya dengan
bernafas dan menghisap zat etheris yang tersedia, mereka juga menyukai
bau harum bunga namun mereka tidak menyukai beberapa bau manusia,
oleh sebab itu mereka menghindari tinggal di daerah tempat tinggal
manusia.
Mreka punya warna tersendiri yang menandakan tingkatan dan
jenisnya, sebab itulah mereka hidup berkelompok sesuai dengan
warnanya, mereka juga mematuhi mantra yang dapat menghasilkan warna
sesuai kelompoknya.
Perkembangan roh-roh halus ala mini dapat melampaui perkembanga
tumbuhan, binatang ataupun manusi, umur mereka juga tidak lebih panjang
dari umur manusia, namun mendekati umur manusia rata-rata, bila mati,
sesudah melalui proses pembusukan, badan halus mereka kembali ke daerah
astra untuk kemudian melalui inkarnasi dilahirkan kembali sebagai roh
halus alam di dalam badan etheris, meski demikian , proses kelahiran
kembali mereka tidak seperti proses kelahiran kembali manusia yang
dilahirkan melalui ibunya.
Ada beberapa roh alam yang berinkarnasi dalam tubuh seseorang anak
manusia yang hendak meninggal, saat jiwa sang anak meninggalkan
tubuhnya, roh halus alam segera memasukinya dalam kelahirannya kembali
, biasanya dengan bantuan mantra anak yang hendak meninggal diisi oleh
roh alam, anak ini tidak jadi mati namun akan memiliki kebiasaan
dan perbuatan yang berbeda dari sebelumnya, anak-anak demikian juga
disebut “anak peralihan”. Para pendeta atau ulama biasanya memiliki
kemampuan untuk memanggil roh halus alam dan mengisi tubuh anak yang
kehilangan jiwanya.
Dukun yang menjalani ilmu hitam dapat meminta pertolongan roh
halus dengan mengucapkan beberapa mantra, akan namun cara demikian ini
berbahaya bagi si dukun, sebab dapat memicu permusuhan dan
mungkin juga pembalasannya, meski tidak berkemampuan untuk
mempengaruhi kemauan manusia, roh-roh halus alam memiliki
kemampuan lain yang dapat mengalihkan pandangan atau penglihatan,
manusia yang dipengaruhi akan melihat atau merasakan sesuatu hal lain
dari biasanya, pemanfaatan lainnya yaitu dilakukan “fakir” yang membuat
pertunjukan aneh-aneh yang tidak dapat dipahami oleh manusia biasa.
(15) KELAHIRAN KEMBALI
Di dalam bab badan halus di ceritakan bahwa sebelum dapat pindah
dari bumi ke kelangitan pertama, jiwa harus berada dalamkeadaan Moksha,
yaitu bebas dari nafsu, kesenangan dan keinginan. Sedangkan dalam bab
Kekuatan Kemauan di terangkan bila manusia meninggal dengan karma
Kriyaman, yaitu karma yang dimana akibatnya akan terasa dalam
penghidupan kemudian dari manusia maka roh terpaksa akan dilahirkan
kembali untuk menanggung akibat dari karmayang pernah dilakukan.
Manusia yang meninggal dengan karma Kriyaman, ia tidak dapat Moksha.
Roh akan selalu dilahirkan dan berada di bumi hingga akhirnya ia
akan meninggal sebagai manusia dengan karma yang sesuai, jadi kelahiran
kembali yaitu akibat dari hukum karma, sedangkan kemampuan dan
kepintarannya sebagai manusia dapat dimanfaatkan menhilangkan akibat
buruk dari karma.
Selama hidup di dunia, manusia memperoleh pengalaman dan
pengetahuan, sesudah kematiannya, pemikiran dan kemauan yang rendah
(mengandung sifat kebinatangan) akan dibersihkan oleh rohnya, dan dalam
proses ini maka kemampuan dan pengalaman pemikiran kebinatangannya
akan diubah menjadi cara berpikir yang lebih tinggi dari roh
kerohaniaannya.
Dalam proses peralihan roh (jiwa) kerohanian, roh kebinatangan yang
ada ditakdirkan dibawa ke dunia kelangitan dan secara perlahan musnah
disana. Akhirnya, jiwa kebinatangan dan pemikirannya akan hilang sebagai
bayangan. Dalam peralihan ini, kemampuan dan pengalaman diabadikan
dan tidak akan hilang, peralihan ini berjalan dengan mengikuti hukum
Antahkarana, yaitu jalan yang dapat digambarkan sebagai antara pemikiran
tinggi dan pemikiran yang lebih rendah atau zat yang menghubungkan
keduanya.
sesudah peralihan terjadi, semua roh memiliki keinginan kuat untuk
menebus dosa-dosanya dimasa lalu, keinginan ini memungkinkan
pemikiran dan kemauan dalam badan yang baru untuk tidak akan
melakukan kesalahan lagi, seperti dalam kehidupan sebelumnya, roh yang
dalam keadaan demikian disebut dalam keadaan Trihna atau Tahna, yaitu
kekuatan keinginan dari “perasaan yang lalu”.
Dalam proses peralihan dari daerah astral ke dunia nyata, berlaku
hukum Upadana, sebelum masuk dunia nyata, roh akan di selubungi oleh
badan halus baru yang lebih baik dari badan halus sebelumnya, pengalaman
dan kemampuan masa lalu masih menyertai badan halus baru ini sebagai
dasar untuk membangun kemampuan dan pemikiran yang lebih baik, oleh
sebab itu, tidak heran jika anak-anak sering memiliki kemampuan yang
mengherankan orang dewasa.
Bagaimana roh diselubungi dengan badan kasar yang baru ? yaitu
Upadana atau “keinginan yang keras” yang memicu keinginan atau
Issha yang bisa memicu Bhawa atau “kekuatan-Karmisch” yang
menyertai tiap kehidupan baru dan menghasilkan”zat” yang memberi
bentuk.
Oleh sebab itu, roh yang meninggalkan badannya disebabkan hanya
sebab keinginannya yang tak kunjung padam akan menghasilkan wujud
badaniah tertentu dalam kehidupan baru. Jadi Upadana yaitu daya cipta
dari bhawa. Wujud-wujud seperti apa yang akan terbentuk sangat
tergantung dari karmanya, juga waktu kelahiran kembali manusia
disesuaikan dengan letak-letak planet dan tanda-tanda lainnya, sesuai
dengan sifatnya yang baru yang akan diperoleh manusia baru ini .
Waktu kelahiran kembali akan berjalan mengikuti hukum yang pasti, tepat
pada waktunya, dan tidak akan lebih awal atau lebih lambat.
Bila hukum dari Antahkarana memperbaiki manusia dalam kelahiran
barunya, hukum karma menempatkan manusia baru pada lingkungan yang
sesuai dengan kehidupan masa lalunya. Kehidupan masa lalu juga yang
membentuk sifat dan tabiat manusia baru ini , dalam kehidupan yang
sekarang, manusia diberi kesempatan untuk memperbaiki dirinya dengan
perkembangan dan perbaikan dari sifatnya.
Kelahiran kembali memberi kesempatan pada manusia jahat untuk
mempebaiki dan menjalankan kehidupan yang lebih baik dari kehidupan
sebelumnya, dan bila manusia baru ini tidak memperbaiki tabiatnya maka
ia akan menjadi manusia “kalah”. Manusia yang yang pada masa
kehidupan sebelumnya menjalankan kehidupan yang baik, pad
kelahirannya kembali selain dapat menikmati kemampuan dan kepintaran
yang didapat di masa kehidupan lalunya, juga akan menikmati akibat dari
masa sifat baiknya.
Hukum Antahkarana selain memberikan ingatan yang tetap
pengetahuan dan pengalaman dalam kehidupan sebelumnya, juga
mendorong perkembangan sifat dan kemampuan baik lainnya. berdasar
hukum ini , manusia yang dilahirkan kembali tidak akan ingat lagi
pengalaman dan pengetahuan yang tidak dapat menolongnya dalam
kehidupan baru selanjutnya, hukum ini menolong manusia sebab bila
masih ingat masa lalunya maka manusia akan saling kenal pada masa
kehidupan yang sekarang. Kalau orang saling kenal pada kehidupan masa
lalunya maka seseoraqng penjahat yang dilahirkan kembali akan selalu
dikucilkan sehingga tidak memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri.
15.1. Hukum Keterkaitan Abadi
Hukum-hukum diatas bila dirangkum menjadi satu akan merupakan
“satu hukum” lagi yaitu hukum “keterkaitan abadi”. Ini menjelaskan bahwa
manusia diberi kesempatan untuk dilahirkan kembali berkali-kali sehingga
akhirnya menjadi manusia yang sempurna dalam segi pengetahuan,
kemampuan, pengenalan diri, kebaikan, ataupun kearifan.
sesudah kesempurnaan terca[ai maka hukum ini tidak akan berlaku
lagi, dalam kedaan demikian, akhirnya manusia sesudah kematiaan,
astralnya akan dihidupkan kembali di bagian bumi yang terletak di langit
pertama yang memang sesuai baginya. sesudah manusia dapat mencapai
keadaan ini, perbedaannya, yang satu lebih cepat dari yang lain sebab
manus8ia di dunia bebas menentukan sendiri perjalanan hidupnya,
perbedaan yang besar dari bakat peradaban dan kemampuan dari manuisa
telah menunjukkan pada penghidupan masal lalu disebabkan oleh proses
perkembangan yang terjadi.
Keadaan nasib manusia yang berbeda dimana ada kehidupan yang
sejahtera dan ada yang sengsara, tidak bisa dilihat sebagai ketidak-adilan
”Tuhan”. Kondisi ini harus dilihat sebagai proses perkembangan manusia
untuk menjadi manusia yang sempurna. Bukankah Tuhan memiliki sifat
yang “Maha Tinggi” dan “Maha Mengetahui” dari “ kejujuran”,
“kebaikan”, dan “kecintaan”? Bagi mereka yang telah mencapai
perkembanga yang tinggi dalam kehidupannya, hidup rohaniahnya makin
lama makinsempurna sebab dalam dunia halus telah mencapai tingkat
yang lebih tinggi.
Untuk sampai ke tingkat Moksha, manusia sudah harus dapat
menyelesaikan kewajibannya di dunia dan meninggal dengan karma yang
sudah diselesaikan. BIlamana manusia masih ada keinginan material atau
masih ada nafsu dan kemauan untuk memuaskannya, ia tidak bisa Moksha
dan masih terikat hukum karma, Bila Moksha dilakukan dengan kemauan
yang mantap maka ia akan berhasil. Untuk mengakhiri karma tidak hanya
diperlukan pengenalan diri yang sempurna, namun jua menjaga untuk tidak
memicu nnya lagi dengan yang baru, kejahatan harus dibalas
kebaikan, juga menjaga segala tindakan agar didasarkan pada “cinta”,
“sayang”, dan “kebaikan” pada sesama, juga harus menjaga dari sikap
sedih dan duka cita. .
Bila dalam perkembangannya dapat mencapai tingkat ini maka
”ketidak-puasan” yang merupakan sumber dari kejahatan akan hilang,
maka begitu ketidak-puasan hilang maka perasaan tenag dan tujuannya
tercapai dan dengan tercapainya tujuan maka berakhirlah Kannanya dan
mencapai tingkat Samana yaitu manusia sempurna.
Semoga bermafaat!

