Teologi 2
Yang melihat
fasilitasnya, musiknya sesuai dengan seleranya, ada makan-makan, dan
lain-lain. Gereja memfasilitasi apa yang menjadi kebutuhan pasar
sehingga mereka merasa senang.34
3. Gereja Pemasar dan Mega Church
Arsitektur dari gereja Injili mulai berubah ketika para pendeta
bergerombol untuk bergabung dengan eksperimen bisnis Hybels. Maksud
eksperimen di sini yaitu cara-cara yang dipakai mengelola usaha dalam
dunia umumnya. Yang berubah dari dunia gereja kini yaitu “mega” dan
modus operandinya yang pragmatis dilakukan secara terang-terangan dan
tidak malu-malu.35 Sekalipun tidak semua megachurch identik dengan
bisnis, namun apa yang dimaksud oleh Wells jelas arahnya bisnis.
4. McChurch Mentality
Lamb dalam bukunya menceritakan apa yang ditulis dalam artikel
majalah Christianity Today, setidaknya di beberapa bagian dunia Barat,
timbul sikap konsumerisme dalam gereja. Sehingga inilah yang
mendorong pemimpin-pemimpin gereja dan pendeta-pendeta untuk
memasarkan diri dan gerejanya dengan semangat persaingan. 36
Maksudnya yaitu ketika jemaat datang ke gereja mereka memiliki
kesamaan konsep, seperti mereka pergi ke tempat-tempat makan cepat
saji.
FILSAFAT HIDUP ANTI KRISTEN
DI SEKELILING GEREJAWI PRAGMATIS
Apologetika masa kini harus menghadapi pragmatisme secara wordview.
Pragmatisme yaitu wawasan dunia yang berkepercayaan, berpemikiran,
dan bernilai hidup secara ontologis, epistemologis, dan axiologis.
Walaupun yang menonjol dari pragmatisme terlihat sebagai cara hidup
nilai-nilai etis namun tetap punya landasan pemikiran untuk membela
diri dan landasan kepercayaan untuk titik tujuan berlabuh. Pragmatisme
memang bukanlah aliran filsafat yang sungguh-sungguh baru, sebab
filsafat ini banyak dipengaruhi oleh aliran-aliran pemikiran yang
sebelumnya, sekalipun tidak semuanya sama. Hal-hal yang berbahaya
bagi gereja-gereja masa kini.
1) Pluralisme Religius
Pluralisme yaitu paham yang mengakui adanya satu kebenaran
yang dilihat dari sudut pandang yang berbeda-beda. sebab penganut
pluralisme memiliki sikap yang terbuka terhadap adanya kebenaran,
bahkan menerima kebenaran yang ada di dalam agama-agama yang lain.
Paham ini meyakini bahwa semua agama yang ada di dunia memiliki
tingkat dan nilai kebenaran yang sama, sebab objek yang dipercayai
sama, hanya dilihat dari perspektif yang lain. 37 Pragmatisme sejalan
dengan pluralisme dan sebenarnya memang konsep inilah yang
ditawarkan oleh pragmatisme kepada orang-orang Amerika. Tidak heran
kalau akhirnya pragmatisme sangat memengaruhi cara hidup orang
Amerika.38
2) Ateisme “Kristen”
Ateisme merupakan aliran filsafat yang ingin mewujudkan sejarah
manusia tanpa Tuhan. Paham ini menolak dan tidak mengakui
keberadaan Tuhan. Tokohnya yaitu Friedrich Nietzche (1844-1890
M).39 Pragmatisme juga secara tidak langsung menolak akan keberadaan
Tuhan, Tuhan bisa ada namun juga bisa tidak ada.40
Orang Kristen ateis yaitu orang yang percaya kepada Tuhan,
namun hidupnya tidak mencerminkan Tuhan ada. Mereka ada di mana-
mana, secara fisik mungkin mereka hadir dan menghadiri ibadah dalam
gereja, terlibat dalam pelayanan, sering mengikuti seminar-seminar
Kristen, mendukung pekerjaan Tuhan secara finansial, serta mereka
percaya Yesus yaitu Tuhan dan Juruselamat. Namun pada
kenyataannya, cara hidup mereka tidak mencerminkan kehidupan
sebagaimana seharusnya seorang Kristen hidup.41 Bahkan kadangkala
kehidupannya lebih buruk dari cara hidup orang dunia. Pola pikirnya
selalu apa yang Tuhan bisa berikan ketika saya memercayai-Nya?
Keuntungan apa yang akan saya dapat ketika percaya Tuhan? Tidak jauh
beda dengan konsep ajaran pragmatisme yang selalu menekankan hasil
akhir.
BEBERAPA CIRI KHAS DARI PRAGMATISME GEREJAWI
1. Hedonisme Kristen
Pada dasarnya setiap orang ingin hidup bebas dan senang dengan
kehidupan yang bebas, sebab dengan kebebasan yang dimiliki, dirinya
bisa melakukan apa saja tanpa ada yang menghalangi. namun konteks
kebebasan dalam hidup iman Kristen tidak seperti ini. Konsep
‘kebablasan’ yang salah akan membuat hidup hanya berpusat pada diri
sendiri dan ini sangat berbahaya. Sejak John Piper meminta
mempertimbangkan hedonisme Kristen sebagai sesuatu yang positif
dalam menyembah Allah dan menikmatinya, takutnya ini juga
disalahgunakan oleh anarkisme Kristen dalam kebebasannya. Mereka
merasa di dalam Tuhan dapat menikmati Tuhan dengan segala hal yang
hanya menyenangkan diri sendiri daripada Tuhan, jadi Allah hanyalah
sebagai dalih.
Menurut Ravi Zacharias, “Kesenangan dan kebahagiaan yaitu
hal yang baik, namun mereka bukan satu-satunya hal yang baik. Kita tidak
boleh hanya ingin merasa nyaman, namun kita perlu peduli terhadap
kebenaran dan pengaruh hidup di luar diri kita.” 42 Yang dimaksud
kesenangan dan kebahagiaan di sini yaitu sesuatu yang sifatnya
sementara. Pada dasarnya itu yaitu suatu keinginan hidup tanpa kontrol
atau aturan yang tidak didasarkan pada nilai-nilai kebenaran umum. Ravi
Zacharias dalam buku yang sama menyampaikan pandangan C. S. Lewis
yang juga beranggapan, “Jika hanya kebahagiaan yang dicari, maka
sebotol anggur sudah cukup.” 43 Pragmatisme memang mengajarkan
kesenangan sesaat.
2. Anarkisme Tindakan
Pragmatisme tidak mempertanyakan hakikat makna normatif,
seperti “Apa itu Kebaikan?” atau “Apa itu Kebenaran?” (baik dalam arti
platonis, empiris maupun kantian) sebab pragmatisme meragukan segala
pengertian yang bersifat umum atau yang dapat berlaku secara universal.
Untuk mendapatkan kebenaran, pragmatisme berusaha menjernihkan ide-
ide dengan cara menunjukkan bahwa ide-ide tersebut ialah sesuatu yang
masuk akal. 44 Akhirnya menolak absolutisme. Pragmatisme menolak
nilai-nilai universal dan absolut dan justru berfokus pada pengalaman
seseorang tentang lingkungan yang berganti dan berubah-ubah. Bagi
seorang pragmatis, lingkungan secara kritis penting sebab dunia terus
berubah-ubah, dan berpengaruh terhadap setiap orang secara berlainan
dari waktu ke waktu.45 Pragmatisme juga disebut relativisme radikal,
sebab melawan absolutisme.
3) Egoisme Hidup
Berpusat hanya pada diri sendiri merupakan salah satu bagian dari
esensi pengajaran pragmatisme sebab untuk mencapai suatu tujuan
tertentu, apa saja boleh dilakukan termasuk mengorbankan kepentingan
orang lain.47 namun kekristenan tidaklah demikian, setiap hal yang kita
lakukan tujuan utamanya yaitu untuk mengasihi Tuhan dan sesama.
Seperti yang Paulus katakan dalam 1 Korintus 6:12, “Segala sesuatu
halal bagiku,” namun bukan semuanya berguna.
John Stott menulis demikian, “Kita dalam bahaya menciptakan
masyarakat yang tidak memiliki perasaan, di mana seseorang tidak
peduli kepada orang lain kecuali terhadap dirinya sendiri, atau segala-
galanya untuk pemuasan diri sendiri.48 Kita mengingini seks tanpa kasih
sayang, kejahatan untuk menendang orang lain. Kita digerakkan oleh
perasaan yang sudah tumpul.49 Selanjutnya akan mengabaikan orang lain.
Ini menghasilkan fungsional keberhasilan dan utilitarianisme hasil.
Menurut John Dewey penganut filsafat pragmatisme, tugas filsafat
yaitu memberikan pengarahan bagi perbuatan nyata. Filsafat tidak
boleh terpengaruh ke dalam pemikiran-pemikiran metafisis yang kurang
praktis, sebab tidak ada manfaatnya atau fungsinya. 50 Kebenaran
merupakan sesuatu yang harus memiliki nilai praktis dalam
pengalaman hidup. Sebab kebenaran berfungsi sebagai sebuah alat atau
sarana untuk mencapai tujuan dan meramalkan serta merancang masa
depan demi kepentingan manusia. 51 Sebagai paham etis pragmatisme
menyatakan yang baik yaitu yang dapat dipraktikkan, berdampak
positif, dan bermanfaat.
SIGNIFIKANSI PENJERNIHAN IMAN BAGI GEREJA
Dari abad permulaan sampai dengan sekarang, kekristenan banyak sekali
menghadapi tantangan, baik yang datang dari luar gereja maupun dari
gereja sendiri, yaitu memutarbalikkan iman Kristen, berupa ajaran–ajaran
sesat. Pertanggunjawaban iman Kristen menjadi sangat penting bagi
gereja sampai masa kini. Pertanggungjawaban iman seringkali dikaitkan
dengan tugas dan kajian “apologetika” yang secara literal bermakna
berbicara balasan, bertukar pikiran atau juga berdiskusi. Maksudnya
yaitu berbicara secara intensif terhadap pihak lain, untuk menjawab
tentang sesuatu isu yang didiskusikan sehingga sering dipahami menjadi
suatu perdebatan (polemic) Polemika itu sendiri yaitu suatu kajian
umum, dan inilah yang biasanya disebut ilmu/seni berdebat dalam secara
filosofis dengan memakai prinsip bertukar pikiran, secara intelektual
bukan untuk mencari menang. Apologetika juga berbeda dari apa yang
disebut “elentika yang biasanya dipakai untuk meyakinkan orang
berkeyakinan kontras dalam makna perdebatan dan menarik Jadi ada
perbedaan dari apa yang disebut “elentika yang biasanya dipakai untuk
menarik umat beragama lain atau meyakinkan orang berkeyakinan
kontras dalam makna perdebatan. Dulu cara ini dipakai oleh misi
colonial barat ke dunia agama agama yang berbeda dan sekarang masih
dipakai juga secara kurang beradab oleh orang timur di negerinya sebagai
sarana penginjilan dalam persebatan. Sehingga hal itu membuat kesan
kesan apologetika menjadi jelek, bahkan ditolak dalam seminari teologi.
Padahal secara sederhana dapat dimengerti bahwa apologetika memiliki
arti pertanggungjawaban iman Kristen secara sistematis dan logis untuk
memberitakan iman secara komprehensif. Sementara perbandingan
agama dalam motif persaingan antar agama, sebab akan merusak
peradaban masa kini. Jadi, iman Kristen harus dipertanggungjawabkan
bagi orang yang menentang dan menjernihkan bagi warga gereja yang
ragu dan menyimpang.
182 AFIRMASI IMAN TERHADAP PRAGMATISME DI DALAM GEREJA-GEREJA
PENJERNIHAN IMAN SEBAGAI
PERTANGGUNGJAWABAN GEREJA
Kadang kala apologetika sebagai tugas pertanggungjawanan iman
dikaitkan dengan studi elentika atau diperlakukan sebagai polemika,
yang sebenarnya berlainan sama sekali. Tugas apologetika sangat
dibutuhkan untuk menghadapi secara hikmat dan sopan terhadap
pengajaran di dalam gereja yang sudah tidak berstandar kitab suci lagi,
alkitabiah, dan memperlancar usaha penginjilan ke luar gereja.
Selanjutnya dinilai, bagi masa kini apologetika bermain pada level
worldview secara intelektual yang berhadap-hadapan pada klaim-klaim
dan proposisional ideologis.53 .
Sementara itu, Frame mendefinisikan apologetika sebagai ilmu
yang mengajar orang Kristen bagaimana memberi penjelasan tentang
pengajaran pengharapannya. 54 sedang Beattie berpendapat
apologetika membicarakan pentingnya memberikan alasan yang benar
bagi “pengharapan” yang ada padanya yang menyangkut kebenaran
abadi dari iman Kristen.55 Namun Alister E. McGrath, dalam bukunya
mengartikan apologetika sebagai usaha menerjemahkan apa yang kita
imani ke dalam bahasa awam, dengan tujuan bisa dipahami oleh orang
yang belum percaya.
“yaitu tentang bagaimana dengan setia dan efektif
mengkomunikasikan iman Kristen kepada budaya yang mungkin
tidak memahami istilah-istilah atau konsep tradisional Kristen.
Kita perlu belajar menjabarkan dan menjelaskan dalamnya
keindahan Injil Kristen pada budaya kita, menggunakan bahasa
dan gambaran yang mudah dipahami.“
Dalam 1 Korintus 2:13-16 dan 3:1-3 kita melihat ide peperangan rohani.
Namun dalam pertanggunjawaban iman apologetis kita hars
mengarahkan usaha kita pada konflik worldview dan dalam kajian
tataran pemikiran intelektual. Di sini ide peperangan rohani pada konflik
wawasan dunia membedakan orang percaya dan tidak percaya; yaitu
term “konflik worldview,” seperti yang pernah dimunculkan Ronald
Nash. Lalu dalam 2 Korintus 10:5, Richart Pratt melihat dan
menafsirkan, “Ada usaha dari orang-orang yang tidak percaya untuk
mengganti pengetahuan yang dari Allah dengan ide atau pikiran yang
lain.”57 Dalam hal ini orang-orang Kristen wajib untuk mematahkan dan
menghancurkan pengetahuan yang tidak berasal dari Allah. 58 Ini pun
secara imani dapat dikatakan “peperangan rohani.”
Dalam penjernihan iman, penting untuk mensignifikansi “orang
percaya” dari “orang tidak percaya” seperti penjelasan Paulus dalam 1
Korintus 2:13-16, yang membedakan antara terma “manusia rohani” bagi
orang percaya dan “orang duniawi” yang tidak percaya. Namun
teridentifikasi juga orang percaya yang belum dewasa secara rohani dari
orang percaya yang lurus dan setia. Paulus berkata seperti berikut,
Dan sebab kami menafsirkan hal-hal rohani kepada mereka yang
memiliki Roh, kami berkata-kata tentang karunia-karunia Allah
dengan perkataan yang bukan diajarkan kepada kami oleh hikmat
manusia, namun oleh Roh. namun manusia duniawi tidak
menerima apa yang berasal dari Roh Allah, sebab hal itu baginya
yaitu suatu kebodohan; dan ia tidak dapat memahaminya, sebab
hal itu hanya dapat dinilai secara rohani. namun manusia
rohani menilai segala sesuatu, namun ia sendiri tidak dinilai oleh
orang lain. Sebab: “Siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan,
sehingga ia dapat menasihati Dia?” namun kami memiliki pikiran
Kristus. Dan aku, saudara-saudara, pada waktu itu tidak dapat
berbicara dengan kamu seperti dengan manusia rohani namun
hanya dengan manusia duniawi, yang belum dewasa dalam
Kristus. Susulah yang kuberikan kepadamu, bukanlah makanan
keras, sebab kamu belum dapat menerimanya. Dan sekarangpun
184 AFIRMASI IMAN TERHADAP PRAGMATISME DI DALAM GEREJA-GEREJA
kamu belum dapat menerimanya..., bahwa kamu manusia duniawi
dan bahwa kamu hidup secara manusiawi? (1 Kor 2:14-3-3 cetak
tebal dari penulis)
Penting bagi kita melihat terjemahan LAI “manusia duniawi”
dalam bahasa Yunaninya yang ternyata memiliki dua pengertian, yaitu;
1) psykhikos secara literal dikatakan “manusia alamiah”. Kata ini
muncul dalam Rm 7:14; 1 Kor 3:1; 2 Kor 3: 3; Ibr 7:16 yang berarti,
manusia alamiah yang bermakna berlum percaya atau tidak percaya
kepada Tuhan Yesus. Jadi duniawi di dalam pikirannya, sehingga orang
yang seperti ini tidak mungkin dapat mengerti hal-hal iman Kristen, yang
berasal dari Roh. Mungkin seperti lalang di antara gandum dalam
konteks gereja gereja keturunan Kristen. 2) Sarkikos, secara literal
manusia daging; kata ini muncul dalam 1 Kor 3:3; 1 Kor 3:3; 2 Kor
1:12; 2 Kor 10:4; 1 Ptr 2:11. di sini maksudnya yaitu orang Kristen
yang belum dewasa secara rohani. Orang Kristen daging yaitu orang
Kristen yang hidup secara duniawi. Dalam gereja kita juga menemukan
macam orang seperti ini dalam pengertian lemah komitmen imannya
kepada Kristus dan berkompromi. 3) Selanjutnya, kategori
pneumatikos59 yang artinya manusia rohani atau orang Kristen yang setia
dan tidak mengikuti dan mencampuraduk dengan pandangan hidupnya.
Di sinilah kita melihat peperangan rohani terjadi antara pemikiran non
Kristen versus pemikiran Kristen (berdasarkan “pikiran Kristus” (mind of
Christ) (1 Korintus 2:16c).
Pembedaan kategorial manusia secara imani ini penting mengingat
adanya banyak terjadi penyimpangan dalam ajaran dan praktik hidup
iman Kristen di dalam gereja. Cara pandang dan pemahaman yang keliru
akan sangat berpengaruh pada pola pikir, keputusan, dan praktik dalam
pelayanan di gereja. Pola pikir tidak muncul begitu saja, melainkan ada
worldview yang mempengaruhinya. Oleh sebab itu gereja sangat
membutuhkan tugas apologetis sebagai bentuk pertanggungjawaban iman
masa kini di dalam tataran wawasan dunia yang berkonflik, termasuk
dalam dalam penjernihan bagi orang Kristen yang berpola-pikir duniawi.
Dalam kajian filosofis kita diperingatkan oleh Paulus dalam Kolose
2:8 sebagai usaha pertanggungjawaban iman “Hati-hatilah, supaya
jangan ada yang menawan kamu dengan filsafatnya yang kosong dan
palsu menurut ajaran turun-temurun dan roh-roh dunia, namun tidak
menurut Kristus”. Paulus dalam bagian ini ingin memberitahukan bahwa
jemaat mula-mula juga tidak kebal terhadap pengaruh ajaran agama
sekitar atau setempat. Di antaranya filsafat Gnostiksisme dan agama
Judaisme. Sampai sekarang agama dan pandangan dunia sekular dapat
mempengaruhi pikiran jemaat Tuhan, oleh sebab itu sangat dibutuhkan
penjernihan dan peneguhan iman umat secara apologetika. 60 Dalam
tugas apologetika di dalam gereja ada dua hal yang paling menonjol di
antaranya yaitu penegasan dan penjernihan.61 Ini yang mungkin oleh
Frederik Howe sebagai metode vindikasi yang dilakukan Paulus kepada
jemaat Kolose dalam argumentasi empat langkah; 62 1) kontras
(pembedaan): membedakan prinsip hidup dan kepercayaan; 2)
pemahaman (mendalam dan menyeluruh); 3) Penjernihan: penjelasan,
posisi dan kebenaran Kristen; 4) Penegasan (konfirmasi).
Dalam hal ini pola pikirnya yang perlu dijernihkan, sebab gereja
tidak mungkin memakai sistem apologetika penyerangan terhadap jemaat
sendiri. Walaupun ada cara hidup yang yang mencampuradukkan antara
iman Kristen dengan isme-isme non Kristen bahkan yang anti Kristen.
Fakta yang sedang terjadi sekarang yaitu munculnya kekristenan yang
tanpa Kristus. Hidupnya tidak lagi berpusat pada Kristus namun pada diri
sendiri. 63 Seperti yang diakui oleh seorang pendeta, bahwa ia hidup
seolah-olah Tuhan itu tidak ada.64 Di gereja pun perlu apologetika dalam
sisi yang berbeda.
Penjernihan dalam arti penegasan iman merupakan hal yang tidak dapat
dihindari 65 oleh gereja khususnya para pelayan. Gereja mainstream
sekarang sudah mengabaikan tugas apologetika, dan lebih fokus dialog
dan pertumbuhan gereja. Banyaknya kompromisme sinkretis di dalam
gereja kontemporer meniscayakan secara logis kebutuhan akan
penjernihan apologetis bagi warga gereja. Namun pada kenyataannya
apologetika ditolak sebab dianggap merusak tatanan masyarakat dengan
perdebatan antar ajaran agama yang saling menaklukan. Ada tiga alasan
dasar alkitabiah tentang pentingnya apologetika sampai gereja masa kini.
1) Mempertanggungjawabkan Iman Kristen
Suka dan mempertanyakan esensi dari kebenaran iman Kristen.
Peran dari apologetika yaitu pertanggungjawaban (iman) kepercayaan
kita kepada orang luar (skeptics, unbeliever, enemy). 66 Frame, dalam
bukunya mengatakan tugas apologetika yaitu pembelaan. sebab Allah
juga memanggil umat-Nya untuk membela kebenaran-Nya (Filipi 1:7,16;
1Petrus 3:15).67 1) 1 Petrus 3:15 sebagai dasar pertanggungjawaban
iman, “…Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi
pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta
pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada
padamu, namun haruslah dengan lemah lembut dan hormat dan dengan
hati nurani yang murni, supaya mereka, yang memfitnah kamu sebab
hidupmu yang saleh dalam Kristus, menjadi malu sebab fitnahan
mereka itu.” 1 Petrus 3:14b-16
Teks ini dianggap sebagai tempatnya (locus classicus)
berapologetika Kristen sepanjang masa. Petrus dalam hal ini
mengingatkan bahwa setiap orang Kristen dituntut untuk memiliki
komitmen dan berani untuk mempertanggungjawabkan iman Kristennya
kepada baik yang belum mau percaya atau yang masih meragukan pada
ajaran-ajaran tertentu. Mandat pertanggungjawaban iman ini yaitu
fungsi pertahanan atau pembelaan ajaran ortodoksi bagi setiap orang
percaya. Kata “siap sedialah” itu menunjukkan persiapan yang serius
dan terus-menerus bagi seorang yang terpanggil untuk mempertahankan
ajaran yang dituduh sebagai meragukan. Di sana juga mengindikasikan
tantangan orang Kristen dalam pemikiran anti Kristen datangnya atas
pengaruh pandangan anti Kristen, tantangan-tantangan dalam gereja yang
memakai pemusihan dari anti Kristen, yang datangnya sering tidak
terduga dan tiba tiba. Untuk itulah kata “pertanggungjawaban” sebagai
respon iman secara praktis dalam bentuk kehidupan sehari-hari maupun
berupa jawaban langsung kepada wawasan dunianya.
Tujuan dari apologetka penjernihan ajaran iman yaitu untuk
meluruskan pemikiran dan mengembalikan kepada cara pandang yang
benar sesuai esensi dari ortodoksi yang diajarkan Kitab Suci. Dalam
melakukan pembelaan, Kitab suci memberikan atau menyediakan
standar-standar dan kriteria yang harus dipakai oleh seorang apologet.68
Peran kajian apologetika pada sisi ini yaitu untuk menghadapi
keberatan-keberatan dari orang-orang yang belum percaya sepenihnya
atau tepatnya masih meragukan iman Kristen.
2) Mengkomunikasikan Iman Kristen.
Selain sebagai bentuk pertanggungjawaban iman Kristen, tugas
pertangungjawaban iman juga berfungsi sebagai sarana
mengkomunikasikan iman Kristen secara langsung dalam bahasa yang
dapat diterima dan dimengerti oleh pemikiran orang-orang yang belum
dapat percaya atau mungkin belum mau percaya. Secara spesifik
mengkomunikasikan iman di sini berbeda dari mengkomunikasikan Injil.
Dalam hal ini, menurut McGrath, “mengkomunikasikan iman Kristen
kepada budaya yang mungkin tidak memahami istilah-istilah atau konsep
tradisional Kristen. Kita perlu memaparkan, menjelaskan, dan
menerjemahkan keindahan dari Injil Kristen, menggunakan bahasa yang
mudah dimengerti.”69 Secara khusus menjernihkan iman berusaha untuk
PEPERANGAN WORLDVIEW
SEBAGAI ARENA APOLOGETIKA
Apologetik masa kini harus diarahkan kajian intelektualnya, pada
worldview. Apologetika kontemporer harus menghadapi ideologis
sebagai pandangan dunia. Pada masa kini apologetika tidak boleh
dikerjakan secara perbandingan agama dengan superior ajaran religius
saja. Kita akan menunjukkan bagaimana ajaran religius pandangan dunia
itu tidak baik untuk dinikmati sebagai sesuatu yang bertanggungjawab
dalam peradaban dunia. Ajaran-ajaran religius yang diyakini dan
dipraktikkan dalam worldview yaitu suatu kerangka kepercayaan dan
keyakinan yang menolong kita melihat gambaran besar dari sudut
pandang yang benar dan terpadu tentang makna eksistensi manusia70 atau
keraguan non Kristen di balik tantangan, serangan, permusuhan, dan
keraguan yang dipakai itu.
Sementara itu worldview sebagai arena apologetika kontemporer
yaitu fokus penyelesaian permasalahan iman dalam perspektif
Reformed. Bukan hanya menjadi sarana debat kusir antar ajaran agama
untuk mencari siapa menang dan siapa kalah sebab semua orang
memiliki worldview. Disadari atau tidak, kita semua memiliki sudut
pandang yang mendasar tentang dunia; itulah yang membentuk cara kita
hidup, bekerja, bertindak, berbicara, berusaha, berkeluarga dan lain-
lain.71 Dalam bukunya Ryken mengutip definisi worldview dari James
Olthuis, worldview yaitu komitmen, orientasi mendasar yang berasal
dari hati yang diekspresikan dalam sebuah cerita atau serangkaian
anggapan (asumsi-asumsi: yang mungkin benar, benar sebagian atau
sepenuhnya keliru) yang kita pegang (secara sadar atau tidak sadar,
secara konsisten atau pun tidak) tentang suatu realitas yang menyediakan
landasan dasar di mana kita hidup, bergerak dan berada kini.72 Worldview
yaitu suatu kerangka pikir yang berfungsi sebagai “kacamata’ atau
saringan seseorang untuk percaya dan menilai segala sesuatu di dunia ini,
apakah itu tentang Allah, uang, pernikahan, beriman bergereja dan lain-
lain.
Jadi sebenarnya di sini Ryken melihat setiap worldview itu
mengandung unsur-unsur: 1) komitmen individual; 2) asumsi pribadi; 3)
presoposisi (keyakinan awal yang belum terbukti); 4) unsur kesadaran
(tidak sadar); 5) unsur keyakinan. James Sire melengkapi suatu prinsip
wawasan dunia dalam tujuh pertanyaan: 1) Apakah realitas utama itu?, 2)
Apakah natur dari realitas eksternal (dunia sekitar kita)?, 3) Apakah
manusia itu?, 4) Apakah yang terjadi pada seseorang pada saat
kematian?, 5) Apa yang memungkinkan manusia dapat mengetahui
sesuatu?, 6) Bagaimana kita mengetahui apa yang benar dan apa yang
salah?, 7) Apakah makna dari sejarah manusia? Berdasarkan analisis
filosofis maka dapat dibagi menjadi tiga bagian: 1) Sistem keyakinan, 2)
Sistem pemikiran, 3) Sistem prilaku. 73 Dan aspek-aspek ini berjalan
dalam suatu sistem paradigmatik yang saling berkaitan dan mendukung
satu sama lain. Seperti dalam diagram lingkaran konsentris di bawah ini.
Faktanya setiap wawasan dunia di dalam dunia ini yaitu ideologi yang
bersaing dan nyata di dalam para penganutnya. Isme-isme tersebut
merebut hati dan pikiran yang pada akhinya menjadi berhala yang
diikuti. Demikianlah wawasan-wawasan dunia yang berkonflik ini bisa
dipakai oleh seseorang secara bersamaan. Ronald Nash mengatakannya
190 AFIRMASI IMAN TERHADAP PRAGMATISME DI DALAM GEREJA-GEREJA
sebagai worldview in conflict. Hal ini yaitu suatu kenyataan dalam
arena inilah iman Kristen menantang memberi jawaban serta
menjernihkan serangan. Tantangan keraguan dari mereka secara
intelektual, bukan untuk menaklukan keagamaannya saja dengan
persaingan antar ajaran agama seperti yang dilakukan secara polemik dan
dulu dikatakan dalam misi Kristen sebagai Elentika”.
RESPON APOLOGETIS TERHADAP PRAGMATISME
GEREJAWI
Signifikansi Pandangan Hidup Kristen
Wawasan dunia Kristen secara total bukan hanya Teisme Kristen,
melainkan melampaui sistem keyakinannya akan Allah sampai pada
sistem pemikiran dan pembenarannya, dan juga nilai-nilai perilaku secara
praktis. Dalam hal ini sistem pembenarannya yaitu supranatural
Kristen, yaitu iman yang melampaui logika. sedang bagian sistem
nilai-nilai perilaku berdasarkan penyangkalan diri, kesiapan untuk
memikul salib, berkorban bagi orang lain (Altruisme, Voluntarisme,
Antiselvisme). sedang pola pikir lain yang non Kristen, justru
menolaknya sebab dianggap sebagai suatu kebodohan.
Pekerjaan apologetika masa kini dikerjakan pada fokus wawasan
dunia dalam isme-isme yang bersaing seperti di atas. Misalnya, menurut
pandangan filsafat pragmatisme, Tuhan itu bisa nyata juga bisa tidak
nyata, 74 sebab aliran filsafat ini ini tidak mengakui kebenaran yang
objektif dan absolut, jadi tergantung bagaimana mereka
mendefinisikannya. Ateis merupakan akar dari pragmatisme.
Banyak orang ateis yang mengajukan pertanyaan yang dia sendiri
akui tidak punya jawabannya atau percaya kalau jawabannya sedang
dicari. 75 Kekristenan melihat yang tidak kelihatan itu sebagai sesuatu
yang riil dalam iman. Walau kita tidak melihat Allah, tidak melihat
berkat Allah, tidak melihat Kristus namun dalam iman yang kelihatan, itu
riil dan nyata. Surat Ibrani menyatakan bahwa “Iman yaitu dasar dari
segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang
tidak kita lihat. Kata Yunani bukti yaitu elegchos yaitu keyakinan…
sebagai bukti kesaksian iman. Jadi tidaklah bukti yang kelihatan dengan
mata sebagai pragmatisme. Buktinya yaitu iman tidak bisa tidak
percaya sebab iman yaitu anugerah Allah untuk mengerti. Walaupun
tidak ada di depan mata atau tidak kelihatan, tetaplah kita berharap
sebagai sesuatu yang kelihatan. Iman di sini yaitu dasar segala sesuatu
yang kita harapkan, yaitu kelihatan dan juga sebagai keyakinan atau
kepastian dari suatu yang kelihatan oleh mata. Justru yang kelihatan,
prinsipnya percaya dulu, seperti yang dinyatakan dalam prinsip
Agustinian, credo ut intellegam dan fides quaerens intellectum ini
berpasangan dengan kata kerja. Dalam iman barang bukti justru tidak
penting dibanding keyakinan dalam iman itu sendiri.
Pokok-pokok Penjernihan
1. Secara Doktrinal. Doktrin yaitu sesuatu yang penting bagi
gereja. Hubungannya bagi gereja yaitu gereja harus kembali
merumuskan doktrin iman Kristennya dalam konteks pergumulan
kekinian yang berkembang. Di sini termasuk pergumulan dalam
menghadapi ideologi dan pencampuran ajaran pragmatisme. Di sinilah
tujuan apologetika Reformed Epistemologi yaitu menunjukkan
(afirmasi) dan menjelaskan (klarifikasi) bahwa kepercayaan Kristen
benar. 76 Meyakinkan orang lain mengenai kebenaran iman Kristen. 77
Menyampaikan sebuah dasar rasional bagi iman kepercayaan atau
75 Ravi Zacharias dan Vince Vitale, Jesus among Secular Gods: Yesus di antara
Allah-Allah Sekular, Terj. (Surabaya: Literatur Perkantas, 2017), 12.
76 Togardo Siburian, Apologetika [Kontemporer] Kristen. Diktat, 26.
77 Alister M. Grath, Apologetika Dasar (Malang: Literatur SAAT, 2017), 42.
192 AFIRMASI IMAN TERHADAP PRAGMATISME DI DALAM GEREJA-GEREJA
“membuktikan kebenaran kekristenan.” 78 Dengan kata lain, untuk
memperlihatkan bahwa kekristenan yaitu benar dan bahwa semua
wawasan dunia non Kristen tidak benar.79
2. Praktikal. Prinsip praktikal merupakan hal yang tidak dapat
dihindari baik di dalam teologi termasuk di dalam apologetika. Sekalipun
apologetika kontemporer sekarang bermain dalam tatanan intelektual dan
bersifat filosofis, namun praktiknya harus mampu melampaui teoritis,
implikatif, dan aplikatifnya secara praktis. Di sinilah ada pintu untuk
dialog atau diskusi apologetis yang melampui perdebatan atau persaingan
antar ajaran agama. Di sini prinsip pastoral menjadi salah satu tugas
penting dalam gereja, yaitu pelayanan pastoral atau penggembalaan.
Tugas pastoral gerejawi yaitu untuk mendewasakan, membina,
merawat, menjaga, melindungi dari serangan kesesatan. Di sinilah
tempatnya tugas apologetika di dalam penggembalaan gereja.
Menguatkan iman yang sedang goyah oleh kekecewaan hidup dan
pengaruh ajaran sesat. Yang tidak jauh berbeda kepentingannya antara
melakukan penggembalaan dengan apologetika di dalam dunia.80 Hal ini
sebagai konsekuensi dari iman Kristen di dalam dunia. Dalam kajian
apologetis perlu merumuskan kembali kepercayaan Kristen sebagai
pertanggungjawaban iman secara rasional.81 Sehingga dapat dimengerti
dan diterima oleh warga gereja.
LIMA AREA SEBAGAI PENJERNIHAN IMAN JEMAAT
Hal ini sebenarnya dimulai dari sistem dan tujuan pendidikan di dunia
sekarang yang mengutamakan hasil yang hebat dan kelihatan. Sistem
pendidikan masa kini bertujuan pada hasil yang kelihatan, yaitu
kesuksesan, menjadi nomor satu, juara, terhebat, dan lain sebagainya.
Anak-anak diajar berkompetisi. Tentu pengaruh John Dewey dalam
pendidikan sangat besar dalam era modern sampai sekarang. Di depan
mata kita melihat kemanusiaan dan peradaban, ditekankan hanya pada
penilaian keberhasilan, keuntungan, kehebatan individual. Bahkan di
sekolah-sekolah Kristen seringkali secara etika menghalalkan segala cara
agar berhasil menguasai dan berhasil mendapatkan sesuatu. Ada lima
area yang akan direspon berdasarkan lima prinsip Teisme Kristen.
1. Mengembalikan Cara Pikir Jemaat
Respon ini yaitu terhadap pemikiran Kristen atau warga gereja
yang sudah berpindah tempat memakai pikiran-pikiran sekuler.
Pemikiran Kristen seharusnya menempatkan pikiran Kristus. Seorang
yang telah menerima Yesus sebagai Tuhannya seharusnya memiliki
pikiran Kristus. Paulus mengatakan dalam 1 Korintus 2:16b, “namun
kami memiliki pikiran Kristus.”
Kristen daging telah meninggalkan pikiran Kristus, menuju pada
pikiran-pikiran duniawi yang pragmatis. Dengan pola pikir yang
bercabang hati seperti ini apakah mungkin seseorang dapat bahagia?
Seperti yang Yakobus katakan bahwa orang yang mendua hati hidupnya
tidak akan tenang (Yakobus 1:8). Kalaupun ada yang merasa tenang,
sebab dirinya yaitu jenis manusia alamiah (I Korintus 3:3c). Orang
yang seperti ini sangat mungkin ada di dalam gereja dan rajin beribadah
bahkan melayani Tuhan, namun sesungguhnya dia belum Kristen. sebab
dirinya yaitu Kristen turunan dan belum dilahirkan kembali oleh Roh,
seperti yang Tuhan Yesus katakan dalam Yohanes 3:3 “Aku berkata
kepadamu, sesungguhnya jika seseorang belum ‘dilahirkan kembali’, ia
tidak mungkin dapat melihat Kerajaan Allah.” Jadi, dirinya mustahil
untuk dapat memahami kebenaran yang bersifat rohani.
Di sinilah pentingnya cara hidup seorang Kristen dan cara
pandangnya untuk kembali pada pikiran Kristus sebagai dasar iman.
Dalam paham teisme Kristen, Allah yaitu Allah yang berdaulat,
berpribadi, transenden, imanen, pencipta dan Trinitas. Kaitannya dengan
gereja Allah yaitu Allah yang mengontrol, menjadi pemilik, kepala,
pemelihara, penebus dan penyelamat gereja. Gereja-gereja (lokal) harus
menyadari hal ini dan memberitakan prinsip-prinsip ini. Gereja harus
menyediakan pengajaran yang benar atau ortodoksi di dalam paham
teisme Kristen dengan pemikiran supranatural videisme dan nilai-nilai
194 AFIRMASI IMAN TERHADAP PRAGMATISME DI DALAM GEREJA-GEREJA
etis kehidupan Kristen, seperti antiselvisme (tidak mementingkan diri
sendiri), altruisme Kristen (rela berkorban demi pelayanan), serta kasih
kepada sesama.
2. Memurnikan Ajaran dalam Gereja
Filsafat pragmatisme berikut sekutunya telah meracuni dan
merusak doktrin atau sistem ajaran iman Kristen. Pengajaran iman
Kristen menjadi tidak murni lagi sebab sudah bercampur dengan isme-
isme sekuler. Pencampuran ideologis yang dimaksud yaitu
pencampuran dua mode, yaitu; pertama, pola hidup Kristen yang
dibungkus oleh pikiran sekuler pragmatis, sedang yang kedua pola
pikir Kristen membungkus cara pikir dunia. Sebenarnya inilah yang
dimaksud dengan sinkretisme Kristen dalam gereja.
Di antara dua mode sinkretisme itu, yang paling berbahaya yaitu
mode yang kedua sebab tidak disadari, kelihatannya Kristen namun
sebenarnya jauh dari pemikiran Kristen dan bisa membius. Sementara
mode yang pertama juga berbahaya namun jauh lebih mudah untuk
mendeteksinya dari perspektif iman Kristen. Sehingga dapat dilakukan
perlawanan lebih dini dan pencegahannya lebih mudah.
Secara apologetis, pola konflik wawasan duniawi Kristen dan
sekuler dalam hal ini pragmatisme saling berlawanan. Sehingga secara
ideologis cara berpikirnya tidak mungkin dapat disatukan antara
supranaturalisme Kristen atau alkitabiah versus naturalisme dan
rasionalisme. Tuhan Yesus berkata dalam Matius 6:24, “Tak seorang pun
dapat mengabdi kepada dua tuan. sebab jika demikian, ia akan
membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia
kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain.” Pilihan kita
hanya satu, yaitu meninggalkan atau membuang wawasan-wawasan
dunia non Kristen. Kita harus setia pada iman Kristen yang berdasarkan
teisme Kristen. Seperti yang dikatakan oleh Idleman dalam bukunya
yang bertema peperangan rohani, “Berhala-berhala dikalahkan bukan
dengan menyingkirkannya, melainkan menggantikannya.” 82 Ini yaitu
prinsip apologetika.
3. Membuka Topeng Berhala Pragmatisme
Keberhalaan gereja dalam hal-hal pragmatis yaitu suatu fakta.
Dalam pelayanan, kegiatan, ibadah dan khotbah di gereja bisa menjadi
berhala kalau dia menjadi yang terutama atau tujuan kita. “Manusia tidak
dapat menghindar dari mengabdi kepada sesuatu.”83 Yang terpenting di
sini yaitu dalam batas tertentu dia tidak dapat menghindar untuk
memberhalakan sesuatu. Jadi, sebenarnya berhala itu sangat dekat
dengan orang Kristen. Segala sesuatu bisa menjadi berhala84 termasuk
segala kegiatan yang kita lakukan di dalam gereja.
Yang dimaksud segala sesuatu yaitu ketika kita melakukan
sesuatu hal apapun bukan untuk Tuhan, misal; 1) Beribadah bukan untuk
memuliakan Tuhan namun untuk entertain atau hiburan, 2) Berkhotbah
bukan untuk Tuhan namun memuaskan keinginan pendengar, 3) Membuat
program gereja bukan untuk kemuliaan Tuhan namun supaya kelihatan
baik sehingga mendapat pujian, nama besar, kehormatan, mengikuti
keinginan jemaat, dan untuk persaingan dengan gereja lain, 4) Pelayanan
bukan untuk Tuhan namun menjadi tempat unjuk prestasi, 5) Sarana atau
fasilitas dalam gereja bukan untuk menjangkau jiwa bagi kemuliaan
Tuhan namun untuk memuaskan pengunjung gereja, 6) Menjadi majelis
atau pengurus gereja bukan untuk dipakai oleh Tuhan namun untuk
menunjukkan pengaruh dan kekuasaan yang dimiliki.
Hal ini semua merupakan bentuk dari berhala-berhala yang
seharusnya secara etis tidak boleh ada dan “diikuti” oleh orang Kristen di
dalam gereja. Nilai-nilai Kristen yang didasarkan pada anugerah,
pengorbanan, dan belas kasihan. Berlawanan dengan cara dan nilai dari
janji-janji berhala pragmatisme seperti di atas. Secara apologetika juga
tidak boleh saling bersandingan. Gereja harus berani mengakui dan
membuangnya.
Dalam Perjanjian Lama secara jelas dan tegas Allah sudah
memerintahkan untuk tidak membuat dan menyembah berhala. Keluaran
20:3-4, “Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku. Jangan membuat
bagimu patung yang menyerupai apapun.” Seringkali kita berpikir
berhala itu berbentuk patung, namun berhala dalam konsep pandangan
wawasan dunia “patung” yaitu ideologi-ideologi duniawi yang dipakai
oleh gereja. Patung-patung berhala masa kini tidak kelihatan namun ada di
dalam pikiran dan hati warga-warga gereja. Dalam 1 Raja-Raja 18,
“Demikian juga dengan nabi-nabi yang lainnya memeringatkan umat
Allah agar tidak terlibat dalam penyembahan kepada berhala dan ilah-
ilah lain. Ini yaitu dasar berita gereja untuk tidak terlibat dan
memasukkan berhala-berhala idiologis masa kini ke dalam gereja dan
pelayannya.”
MENANTANG ULANG JEMAAT
DENGAN INJIL PERTOBATAN
Ini tugas Injili dalam kebangunan rohani, sebagai salah satu unsur
penting gerakan injili. Dua tugas generasi sesudah injili mula-mula, iman
Kristen telah berubah menjadi agama nominal yang hanya legalisme,
ritualisme, dan formalisme. Untuk itu tugas ini sangat penting sebab ada
warga gereja yang belum percaya secara pribadi (Kristen turunan). Bisa
jadi orang seperti ini aktif dalam ibadah, pelayanan, menjadi pengurus
komisi, dan tidak menutup kemungkinan menjadi majelis dalam gereja.
Jenis orang alamiah Kristen seperti ini tidak akan mungkin mengerti hal-
hal rohani, bahkan membawa spirit wawasan duniawinya dalam gereja.
Ini juga yang seringkali membuat gereja menjadi pragmatis.
Dalam hal ini yang dimaksud Kristen bukan soal agama, melainkan
pertobatan yang sejati. Dalam menghadapi ini, tidak ada cara lain selain
gereja perlu untuk menginjili ulang dan menantang jemaat keturunan
Kristen untuk menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya
secara pribadi. Sehingga orang ini dapat memiliki pikiran Kristus dan
memahami hal-hal rohani.
Kita tahu bahwa gereja sejati tidak mungkin musnah oleh perubahan
zaman. Gereja boleh mengikuti perkembangan zaman sepanjang tidak
menyesuaikan diri pada spirit sekularisasi dunia. Di sinilah gereja layak
memberitakan Injil kepada dunia yang berbeda. Gereja-gereja pragmatis
seakan-akan ingin menolong gereja agar tidak punah dimakan zaman,
dengan cara selvisme, transaksionalisme, populisme, secara politis,
komersial, entertain, konsumerisme, dan dalam gagasan-gagasan
megachurch serta super church.
Banyak orang beranggapan apologetika hanya untuk keluar, namun
apa yang dipaparkan di atas membuktikan apologetika juga sangat
diperlukan dalam gereja. Dalam hal ini yaitu penjernihan ajaran iman
Kristen di dalam warga gereja yang meragukan dan menggmpromikan
pandangan hidup Kristen dengan pandangan lain. Kepalsuan ajaran harus
dihadapi secara sadar dalam prinsip pertanggungjawaban iman secara
apologetis pada lapangan inteektual.
Ternyata yang membawa pola pikir itu yaitu gereja sendiri dan yang
menikmati yaitu orang Kristen yang bertentangan secara prinsip hidup, maka
penjernihan world view yang akan dipakai dalam jalur ini. Kalaupun usaha
melawan konflik ideologis namun bukan menyerang orang namun sistem
ajarannya secara paradigmatik sebagai sesuatu yang tidak layak di dalam
kekristenan dan gereja-gereja Kristus. Ini yaitu peneguhan jemat yang
tersesat dari Injil sejati.
Evaluasi Misi gereja diperlukan untuk mengetahui apakah misi
gereja yang telah ditetapkan, tercapai atau tidak. Pembangunan
Jemaat (PJ) dan Pertumbuhan Gereja (PG) merupakan dimensi
penting yang perlu dipahami untuk mengukur pelaksanaan misi
gereja. Pengukur dimensi Pembangunan Jemaat (PJ) dan
pengukur Pertumbuhan Gereja (PG), yaitu indikator-indikator
yang perlu ditetapkan untuk megetahui apakah cakupan standar
yang telah ditetapkan itu tercapai atau tidak. Itulah sebabnya
penelitian ini disebut penelitian evaluasi.
Konsep Pembangunan Jemaat (PJ) berasal dari konteks
Eropa, sedang konsep Pertumbuhan Gereja (PG) yang berasal
dari Amerika, khususnya gereja-gereja kalangan Injili. Masing-
masing konsep itu memaparkan standar yang dapat menjadi alat
202 PEMBANGUNAN JEMAAT DAN PERTUMBUHAN GEREJA
ukur keberhasilan gereja untuk memenuhi misi Tuhan. Kedua
konsep itu perlu dijabarkan dalam indikator-indikator yang dapat
mengukur pencapaian standar yang menjadi dasar bagi sebuah
penelitian evaluasi. Tujuan penelitian ini sebagaimana telah
dijelaskan dalam abstrak yaitu untuk mengetahui implementasi
evaluasi misi gereja pada gereja-gereja yang memiliki
pemahaman tentang Pertumbuhan Jemaat dan Pertumbuhan
Gereja. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu
metode penelitian evaluasi dengan menggunakan data kualitatif
yang didapatkan melalui pengumpulan data langsung melalui
wawancara dengan 13 hamba Tuhan dari denominasi gereja yang
berbeda-beda dan wawancara ini menggunakan instrumen yang
terstruktur.
Berdasarkan data yang diperoleh dari Kanwil Kemenag
mengenai jumlah pertumbuhan pemeluk agama tahun 2017-2021
yang di dalamnya terdapat data jumlah rumah ibadah, dilaporkan
bahwa jumlah gereja dari tahun ke tahun meningkat. Data itu
menunjukkan jumlah gereja mengalami kenaikan, kecuali di
akhir tahun 2019 sampai saat ini terjadi penurunan. Ada dugaan
hal ini disebabkan sebab terjadinya wabah Covid-19 yang
mengharuskan ibadah dilakukan secara virtual.
Apakah gejala kenaikan jumlah rumah ibadah
menunjukkan bahwa gereja sudah berhasil melaksanakan misi
yang Allah percayakan kepadanya? Robby I. Chandra,
menyatakan ada tiga jawaban yang kerap diberikan orang
sehubungan dengan pertanyaan mengenai keberhasilan gereja1,
yakni; 1) Kita tidak dapat mengevaluasi hal itu, sebab hanya
Tuhan yang tahu kondisi gereja, 2) Bukan tugas kita mengukur
keberhasilan itu, sebab gereja yaitu milik Tuhan, 3) Gereja
yaitu organisasi agama dan penuh relawan, tidak mungkin kita
mengevaluasi untuk mengubahnya sebab akan merusak
hubungan di dalam persekutuan.
Sepintas lalu jawaban di atas menunjukkan kerendahan
hati, namun hal ini sesungguhnya terjadi sebab gereja belum
memiliki “standard ukuran” keberhasilan. Hal ini dapat
“membahayakan” kehidupan gereja. Beberapa “bahaya” yang
akan dihadapi gereja yaitu sebagai berikut; 1) Gereja tidak
dapat melihat keadaan bahkan eklesiologinya, 2) Gereja tidak
dapat melihat sisi kekuatan dan kelemahannya, 3) Gereja tidak
dapat melihat hasil yang telah dicapai sebagai kinerja kerja
kerasnya, 4) Gereja tidak dapat melihat bahaya yang
mengancam, 5) Gereja tidak dapat menentukan strategi
perencanaan ke depan.
Konsep PJ dan PG hadir untuk membantu gereja dalam
melaksanakan misinya. Namun, di balik kedua konsep tersebut
terdapat eklesiologi yang perlu didalami dan konsep dasar untuk
mengevaluasi keberhasilan gereja. Metode yang digunakan
dalam penelitian ini yaitu metode penelitian evaluasi dengan
menggunakan data kualitatif yang didapatkan melalui
pengumpulan data langsung melalui wawancara dengan
mengggunakan instrumen wawancara terstruktur serta beragam
sumber, dan dokumen-dokumen terpilih. Instrumen wawancara
memuat indikator-indikator yang diturunkan dari konsep
pembangunan jemaat dari P.G. van Hooijdonk, pertumbuhan
gereja dan konsep gereja alamiah dari Christian A. Schwartz.
PEMBANGUNAN JEMAAT (PJ)
MENURUT VAN HOOIJDONK
Konsep PJ bermula di Eropa Barat2. Van Hooijdonk memberikan
gambaran dari gagasan PJ dalam bukunya yang berjudul Batu-
2 P.G. van Hooijdonk, Batu-Batu Yang Hidup “Pengantar Ke Dalam
Pembangunan Jemaat" (Yogyakarta: Kanisius & BPK Gunung mulia, 1996),
x.
204 PEMBANGUNAN JEMAAT DAN PERTUMBUHAN GEREJA
batu yang hidup, Pengantar ke Dalam Pembangunan Jemaat.
Dalam tulisannya, van Hooijdonk memberikan tekanan teologis
terutama kepada tujuan PJ. Pertama-tama PJ yaitu masalah
iman, sebab sejak awal murid-murid Kristus dipanggil untuk
membangun dan memelihara rumah Tuhan (oikodomein), yang
dimengerti sebagai tubuh Kristus dan itu berarti kehidupan
berjemaat (Yoh. 2:21; lihat juga Mat. 16:18; Kis. 20:32; 1 Tes.
5:11-14). Kedua, menurut van Hooijdonk, subjek utama
pembangunan jemaat, yaitu Allah sendiri melalui Roh Kudus dan
manusia, dalam hal ini yaitu gereja lokal, yang dipanggil untuk
ikut serta.3
Pengertian oikodome dan oikodomein 4 memiliki arti
‘Bait Allah’ (Mark. 14:58, Yes. 66:1, Kis. 7:48), namun dalam
perjanjian baru arti dari oikodomein memiliki arti ‘gereja’,
sedang rasul Paulus lebih menekankan kepada jemaat
sebagai bangunan Roh Kudus atau sebagai kegiatan apostolis
yang memiliki misi untuk memberitakan Injil Kristus, sebab
itu ketika berbicara tentang PJ kita berbicara tentang iman,
teologi praktis dan Jawaban terhadap perubahan. Van Hooijdonk
merumuskan PJ sebagai berikut: “intervensi sistematis dan
metodis dalam tindak-tanduk jemaat beriman setempat, dimana
PJ menolong jemaat beriman lokal untuk bertanggung jawab
penuh berkembang menuju persekutuan iman yang mengantarai
keadilan dan kasih Allah dan terbuka terhadap masalah manusia
dimasa kini”. 5 Berarti proses PJ dalam praktiknya harus
dilakukan oleh; pemimpin dan mereka yang aktif menjalankan
PJ, mereka yang dilibatkan dalam kegiatan PJ, walaupun pasif
dan para pemikir yang mengatur praktik PJ, walaupun
keberadaannya jauh.
Hal yang signifikan dalam teologi praktis van Hooijdonk
yaitu ketika ia menyatakan bahwa praktik PJ harus dipandang
secara vertikal dan horizontal, van Hooijdonk menempatkan
berbagai disiplin pastoral seperti homiletik, kateketik, liturgik,
poimenik, diakonia, evangelistik/apostolat dan PJ (yang
bercabang dua: kononia dan sibernetika) sebagai dimensi
vertikal dan horizontal 6 . Artinya dimensi spiritual dalam
oikodome ditekankan dalam semua disiplin teologis praktis,
khususnya PJ dapat dimengerti baik sebagai dimensi vertikal
maupun dimensi horizontal.7
Van Hooijdonk menyatakan paling tidak ada 5 aspek dasar
PJ yang selalu dapat menjadi refleksi keberhasilan PJ8, adapun
kelima aspek dasar itu sebagai berikut; 1) bertindak imani dan
rasional; kedua tindakan ini harus berjalan bersama. (Ef. 4,11;
5:15-16); 2) Bertindak fungsional, artinya terarah kepada tujuan
dan hasil. Di sini gereja setia kepada panggilannya dan
melakukan tindakan-tindakan efektif yang merealisasikan
penggilan itu; 3) bertindak menurut tata waktu atau mengikuti
proses. Artinya kadang kala PJ dimengerti sebagai tindakan
intervensi yang terarah pada perubahan dan pembaharuan agar
kekurangan diatasi dan cita-cita dapat terealisasi dan semuanya
ini memerlukan proses dengan memakan waktu dan tidak terjadi
begitu saja. selama pembaharuan terjadi dapat dikatakan bersifat
“spiral” atau terjadi proses ‘hilir mudik’ (ini dapat dibandingkan
dengan konsep Christian A Schwarz); 4) Bertindak menurut tata
ruang atau pengembangan organisasi. Hendriks dan Likert
menjelaskan bahwa organisasi dalam PJ yang baik yaitu
menciptakan relasi yang baik antar manusia, artinya
menciptakan komunikasi terbuka yang memungkinkan orang
6Sibernetika atau yang dikenal dengan ilmu pengendalian/ kepengurusan,
indonesia-info.net, wiki.edunitas.com, id.wikipedia.org
7 P.G. Van Hooijdonk, Batu-Batu Yang Hidup “Pengantar Ke Dalam
dapat berkembang apa adanya. Komunikasi terbuka ini
memungkinkan jemaat mengembangkan bentuk kepemimpinan
yang mendukung orang sesuai dengan jati diri masing-masing;
5) Mengaktifkan partisipasi. Hal ini membutuhkan proses dan
waktu yang harus di jalankan dalam mencapai realisasi cita-cita
PJ.
Van Hooijdonk juga mengatakan bahwa dalam konsep PJ
harus disadari selalu terjadi proses. Dalam proses tersebut pasti
akan ada pergerakan dan perubahan dua polaritas yang
fundamental yang digambarkan sebagai berikut:
Gambar 2: Konsep PJ Menurut Hooijdonk9
Sehubungan hal ini, van Hooijdonk menggunakan pandangan C.
Zwart, seorang teolog dari Belanda, yang lebih suka menekankan
“perkembangan daripada perubahan”. Dengan pengertian:
“Masa depan lebih berkembang dari masa lalu, sedang
kenyataan sekarang lebih berkembang dari cita-cita”10.
Van Hooijdonk juga mengutip pendapat Zwart 11 yang
mengatakan bahwa “perkembangan yaitu bertahap yang
menghormati irama hidup manusia”12. Jadi dapat disimpulkan
bahwa PJ berhubungan dengan proses untuk menuju masa depan
dalam meraih cita-cita sebagai kenyataan. Menurut van
Hooijdonk proses menjalankan PJ harus melalui 5 (lima) tahap13;
Pertama yaitu tahap orientasi. Dalam tahap orientasi ini
langkah yang harus diambil yaitu : Inisiatif, kontak,
menciptakan kesediaan membantu, bagaimana menangani
masalah, menangani problem, pilihan strategi dan perjanjian.
Kedua merupakan tahap penelitian. Dalam tahap penelitian ini,
permasalahan yang diamati melalui diagnosis sistematis dengan
melihat perspektif aktor dan perspektif sistem, prognosis dan
segala petunjuk yang membantu prognosis. Ketiga yaitu tahap
perencanaan. Dalam tahhap perencanaan ini, jemaat dibimbing
agar termotifasi untuk menangani permasalahan yang menjadi
faktor penghambat dan faktor yang mempelancar dan
pengembangan. Dalam praktiknya menggunakan metode kerja,
membuat program dan pengambilan keputusan. Keempat
merupakan tahap pelaksanaan. Biasanya yang dilakukan dalam
tahap pelaksanaan ini yaitu pembagian tugas, deskripsi
tanggung jawab, penugasan orang atau kelompok, penyesuaian
tugas termasuk orang yang satu dengan yang lain dan
komunikasi. Dalam tahap peranan pimpinan sangat dibutuhkan
di dalam pemberian tugas, koreksi dan evaluasi, diharapkan
semua tugas yang sudah diberikan dapat dilakukan dengan penuh
tanggung jawab. Kelima yang merupakan tahap terakhir yaitu
tahap pemantapan. Tahapan ini merupakan tujuan terakhir dan
harus menghasilkan kwalitas yang terbaik melalui identifikasi
dan tujuan sehingga jemaat merasakan bahwa jeri payah mereka
menghasilkan buah.
Pengembangan PJ harus saling berhubungan satu dengan
yang lainnya dengan memperhatikan hal-hal seperti;
manajemen, meliputi perencanaan, organisasi, koordinasi dan
kontrol; sistem fungsional pelayanan pastoral; perawatan
katekese, sakramen, pastorat, diakonia dan sibernetika; sistem
struktur; meliputi sumber-sumber (manusia dan material), relasi
dan nilai-nilai; sistem sadaran; meliputi kepuasan pribadi,
hubungan sesama, kepemimpinan.
Mendasari keseluruhan hal di atas yaitu suatu eklesiologi
yang dianut. Eklesiologi ini yaitu eklesiologi yang terkait
dengan teologi Misio Dei. Misio Dei yaitu misi Allah untuk
memberikan kehidupan, penebusan, perdamaian dan juga
keselamatan; dan misi ini menghasilkan transformasi bagi dunia.
Berarti sangat holistik dan menyangkut materi kejiwaan dan
spiritualitas, perubahan di gereja, masyarakat, dan semesta.
Inilah misi Allah Tritunggal yaitu Allah Bapa, Allah Anak dan
Allah Roh Kudus.14 sebab itulah gereja Tuhan harus dibangun
agar hal ini dapat tercapai.
Gambar 3. Eklesiologi Missio Dei Van Hooijdonk15
Jadi, berbeda dengan pandangan konvensional yang dianut
banyak orang; gereja yang baik yaitu gereja yang tenteram,
setiap orang merasa menjadi bagiannya, tiap orang merasa
diterima, ajarannya sehat, sarana prasarana memadai, hubungan
pendeta dan jemaat hangat, dan program gereja yang ada
memenuhi kebutuhan warga Jemaatnya. Pandangan eklesiologi
ini yaitu gereja harus senantiasa berubah atau berkembang agar
Kerajaan Allah nyata di dunia, agar seluruh misi Allah atau Misio
Dei tercapai.
Untuk mencapai Misio Dei Handi Hadiwitanto dalam
tulisannya tentang pembangunan jemaat yang vital, di dalam
pembinaan gereja untuk klasis GKI, menyatakan tujuan PJ
sebagai berikut :
“Pembangunan gereja yaitu keseluruhan upaya yang
dilakukan oleh GKI untuk merencanakan dan
melaksanakan proses-proses perubahan secara
menyeluruh, terpadu, terarah dan bersinambung pada
semua lingkupnya, yaitu jemaat, klasis, sinode wilayah,
dan sinode, dalam hubungan timbal balik dengan
masyarakat di mana GKI hidup dan berkarya.
Pembangunan gereja bertujuan agar jemaat, klasis, sinode
wilayah dan sinode GKI, baik sendiri-sendiri maupun
bersama-sama, mampu mewujudkan persekutuan serta
melaksanakan kesaksian dan pelayanan sesuai dengan
kehendak Allah di dalam Kristus di lingkungannya
masing-masing”.16
Dasar pemikiran ini sebab pembangunan gereja harus
mengalami perubahan baik di dalam kehidupan gereja maupun
di tengah-tengah masyarakat dimana gereja itu melayani.
Konsep PJ, dipahami bahwa gereja hadir bukan hanya untuk
dirinya sendiri namun untuk menjalankan misi Allah. Jadi PJ tidak
memusatkan perhatian hanya pada pembangunan struktur
organisasi saja sebab di balik konsep PJ terdapat pemahaman
teologis tentang hakekat gereja.
Berdasarkan pandangan PJ ini maka gereja harus dapat
memberikan transformasi baik ke dalam dunia selain kepada
dirinya sendiri agar selaras misi Allah. Jadi eklesiologi dari
konsep ini terkait dengan misi Allah yaitu ‘misi memberikan
kehidupan, penebusan, perdamaian dan juga keselamatan’ dan
misi ini menghasilkan transformasi bagi dunia, berarti sangat
holistik dan menyangkut materi kejiwaan dan spiritualitas.
Dengan pengertian di atas, maka menurut saya dapat
disimpulkan bahwa PJ yaitu teori teologi praktis. Yang
dimaksud dengan teologi praktis yaitu penggabungan dari
pengertian normative dan empiris lalu dikembangkan dalam
teologi dan ilmu sosial atau ilmu tindak-tanduk sebagai tindakan
komunikatif dalam pelayanan Injil, oleh sebab itu. Kelemahan
dari konsep Hooijdonk terhadap PJ yaitu bersifat abstrak, dan
tentunya tidak mudah untuk

