Teologi 2

Teologi 2


 


Yang melihat 

fasilitasnya, musiknya sesuai dengan seleranya, ada makan-makan, dan 

lain-lain. Gereja memfasilitasi apa yang menjadi kebutuhan pasar 

sehingga mereka merasa senang.34  

3. Gereja Pemasar dan Mega Church 

Arsitektur dari gereja Injili mulai berubah ketika para pendeta 

bergerombol untuk bergabung dengan eksperimen bisnis Hybels. Maksud 

eksperimen di sini yaitu  cara-cara yang dipakai mengelola usaha dalam 

dunia umumnya. Yang berubah dari dunia gereja kini yaitu  “mega” dan 

modus operandinya yang pragmatis dilakukan secara terang-terangan dan 

tidak malu-malu.35 Sekalipun tidak semua megachurch identik  dengan 

bisnis, namun apa yang dimaksud oleh Wells jelas arahnya bisnis. 

4. McChurch Mentality 

Lamb dalam bukunya menceritakan apa yang ditulis dalam artikel 

majalah Christianity Today, setidaknya di beberapa bagian dunia Barat, 

timbul sikap konsumerisme dalam gereja. Sehingga inilah yang 

mendorong pemimpin-pemimpin gereja dan pendeta-pendeta untuk 

memasarkan diri dan gerejanya dengan semangat persaingan. 36 

Maksudnya yaitu  ketika jemaat datang ke gereja mereka memiliki 

kesamaan konsep,  seperti mereka pergi ke tempat-tempat makan cepat 

saji. 

 

 

FILSAFAT HIDUP ANTI KRISTEN 

DI SEKELILING GEREJAWI PRAGMATIS 

Apologetika masa kini harus menghadapi pragmatisme secara wordview. 

Pragmatisme yaitu  wawasan dunia yang berkepercayaan, berpemikiran, 

dan bernilai hidup secara ontologis, epistemologis, dan axiologis.  

Walaupun yang menonjol dari pragmatisme terlihat sebagai cara hidup 

nilai-nilai etis namun tetap punya landasan pemikiran untuk membela 

diri dan landasan kepercayaan untuk titik tujuan berlabuh.  Pragmatisme 

memang bukanlah aliran filsafat yang sungguh-sungguh baru, sebab  

filsafat ini banyak dipengaruhi oleh aliran-aliran pemikiran yang 

sebelumnya, sekalipun tidak semuanya sama. Hal-hal yang berbahaya 

bagi gereja-gereja masa kini. 

1)   Pluralisme Religius  

Pluralisme yaitu  paham yang mengakui adanya satu kebenaran 

yang dilihat dari sudut pandang yang berbeda-beda. sebab  penganut 

pluralisme memiliki  sikap yang terbuka terhadap adanya kebenaran, 

bahkan menerima kebenaran yang ada di dalam agama-agama yang lain. 

Paham ini meyakini bahwa semua agama yang ada di dunia memiliki 

tingkat dan nilai kebenaran yang sama, sebab  objek yang dipercayai 

sama, hanya dilihat dari perspektif yang lain. 37   Pragmatisme sejalan 

dengan pluralisme dan sebenarnya memang konsep inilah yang 

ditawarkan oleh pragmatisme kepada orang-orang Amerika. Tidak heran 

kalau akhirnya pragmatisme sangat memengaruhi cara hidup orang 

Amerika.38 

2) Ateisme “Kristen” 

Ateisme merupakan aliran filsafat yang ingin mewujudkan sejarah 

manusia tanpa Tuhan. Paham ini menolak dan tidak mengakui 

keberadaan Tuhan. Tokohnya yaitu  Friedrich Nietzche (1844-1890 

                                                             

M).39 Pragmatisme juga secara tidak langsung menolak akan keberadaan 

Tuhan, Tuhan bisa ada namun  juga bisa tidak ada.40 

Orang Kristen ateis yaitu  orang yang percaya kepada Tuhan, 

namun hidupnya tidak mencerminkan Tuhan ada. Mereka ada di mana-

mana, secara fisik mungkin mereka hadir dan menghadiri ibadah dalam 

gereja, terlibat dalam pelayanan, sering mengikuti seminar-seminar 

Kristen, mendukung pekerjaan Tuhan secara finansial, serta mereka 

percaya Yesus yaitu  Tuhan dan Juruselamat. Namun pada 

kenyataannya, cara hidup mereka tidak mencerminkan kehidupan 

sebagaimana seharusnya seorang Kristen hidup.41  Bahkan kadangkala 

kehidupannya lebih buruk dari cara hidup orang dunia. Pola pikirnya 

selalu apa yang Tuhan bisa berikan ketika saya memercayai-Nya? 

Keuntungan apa yang akan saya dapat ketika percaya Tuhan? Tidak jauh 

beda dengan konsep ajaran pragmatisme yang selalu menekankan hasil 

akhir.  

 

BEBERAPA CIRI KHAS DARI PRAGMATISME GEREJAWI 

1.   Hedonisme Kristen   

Pada dasarnya setiap orang ingin hidup bebas dan senang dengan 

kehidupan yang bebas, sebab  dengan kebebasan yang dimiliki, dirinya 

bisa melakukan apa saja tanpa ada yang menghalangi. namun  konteks 

kebebasan dalam hidup iman Kristen tidak seperti ini. Konsep 

‘kebablasan’ yang salah akan membuat hidup hanya berpusat pada diri 

sendiri dan ini sangat berbahaya. Sejak John Piper meminta  

mempertimbangkan hedonisme Kristen sebagai sesuatu yang positif 

dalam menyembah Allah dan menikmatinya, takutnya ini juga 

disalahgunakan oleh anarkisme Kristen dalam kebebasannya. Mereka 

merasa di dalam Tuhan dapat menikmati Tuhan dengan segala hal yang 

hanya menyenangkan diri sendiri daripada Tuhan, jadi Allah hanyalah 

sebagai dalih. 

 

Menurut Ravi Zacharias, “Kesenangan dan kebahagiaan yaitu  

hal yang baik, namun  mereka bukan satu-satunya hal yang baik. Kita tidak 

boleh hanya ingin merasa nyaman, namun  kita perlu peduli terhadap 

kebenaran dan pengaruh hidup di luar diri kita.” 42   Yang dimaksud 

kesenangan dan kebahagiaan di sini yaitu  sesuatu yang sifatnya 

sementara. Pada dasarnya itu yaitu  suatu keinginan hidup tanpa kontrol 

atau aturan yang tidak didasarkan pada nilai-nilai kebenaran umum. Ravi 

Zacharias dalam buku yang sama menyampaikan pandangan C. S. Lewis 

yang juga beranggapan, “Jika hanya kebahagiaan yang dicari, maka 

sebotol anggur sudah cukup.” 43  Pragmatisme memang mengajarkan 

kesenangan sesaat. 

2. Anarkisme Tindakan  

Pragmatisme tidak mempertanyakan hakikat makna normatif, 

seperti “Apa itu Kebaikan?” atau “Apa itu Kebenaran?” (baik dalam arti 

platonis, empiris maupun kantian) sebab  pragmatisme meragukan segala 

pengertian yang bersifat umum atau yang dapat berlaku secara universal. 

Untuk mendapatkan kebenaran, pragmatisme berusaha menjernihkan ide-

ide dengan cara menunjukkan bahwa ide-ide tersebut ialah sesuatu yang 

masuk akal. 44  Akhirnya menolak absolutisme. Pragmatisme menolak 

nilai-nilai universal dan absolut dan justru berfokus pada pengalaman 

seseorang tentang lingkungan yang berganti dan berubah-ubah. Bagi 

seorang pragmatis, lingkungan secara kritis penting sebab  dunia terus 

berubah-ubah, dan berpengaruh terhadap setiap orang secara berlainan 

dari waktu ke waktu.45  Pragmatisme juga disebut relativisme radikal, 

sebab  melawan absolutisme. 

 

3) Egoisme Hidup 

Berpusat hanya pada diri sendiri merupakan salah satu bagian dari 

esensi pengajaran pragmatisme sebab  untuk mencapai suatu tujuan 

tertentu, apa saja boleh dilakukan termasuk mengorbankan kepentingan 

orang lain.47 namun  kekristenan tidaklah demikian, setiap hal yang kita 

lakukan tujuan utamanya yaitu  untuk mengasihi Tuhan dan sesama. 

Seperti yang Paulus katakan dalam 1 Korintus 6:12, “Segala sesuatu 

halal bagiku,” namun  bukan semuanya berguna.  

John Stott menulis demikian, “Kita dalam bahaya menciptakan 

masyarakat yang tidak memiliki  perasaan, di mana seseorang tidak 

peduli kepada orang lain kecuali terhadap dirinya sendiri, atau segala-

galanya untuk pemuasan diri sendiri.48  Kita mengingini seks tanpa kasih 

sayang, kejahatan untuk menendang orang lain. Kita digerakkan oleh 

perasaan yang sudah tumpul.49 Selanjutnya akan mengabaikan orang lain. 

Ini menghasilkan fungsional keberhasilan dan utilitarianisme hasil. 

Menurut John Dewey penganut filsafat pragmatisme, tugas filsafat 

yaitu  memberikan pengarahan bagi perbuatan nyata. Filsafat tidak 

boleh terpengaruh ke dalam pemikiran-pemikiran metafisis yang kurang 

praktis, sebab  tidak ada manfaatnya atau fungsinya. 50  Kebenaran 

merupakan sesuatu yang harus memiliki   nilai praktis dalam 

pengalaman hidup. Sebab kebenaran berfungsi sebagai sebuah alat atau 

sarana untuk mencapai tujuan dan meramalkan serta merancang masa 

depan demi kepentingan manusia. 51  Sebagai paham etis pragmatisme 

menyatakan yang baik yaitu  yang dapat dipraktikkan, berdampak 

positif,  dan bermanfaat.

 

SIGNIFIKANSI PENJERNIHAN IMAN BAGI GEREJA 

Dari abad permulaan sampai dengan sekarang, kekristenan banyak sekali 

menghadapi tantangan, baik yang datang dari luar gereja maupun dari 

gereja sendiri, yaitu memutarbalikkan iman Kristen, berupa ajaran–ajaran 

sesat. Pertanggunjawaban iman Kristen menjadi sangat penting bagi 

gereja sampai masa kini. Pertanggungjawaban iman seringkali dikaitkan 

dengan tugas dan kajian “apologetika” yang secara literal bermakna 

berbicara balasan, bertukar pikiran atau juga berdiskusi. Maksudnya 

yaitu  berbicara secara intensif terhadap pihak lain, untuk menjawab 

tentang sesuatu isu yang didiskusikan sehingga sering dipahami menjadi 

suatu perdebatan (polemic) Polemika itu sendiri yaitu  suatu kajian 

umum, dan inilah yang biasanya disebut ilmu/seni berdebat dalam secara 

filosofis dengan memakai prinsip  bertukar pikiran,  secara intelektual 

bukan untuk mencari menang. Apologetika juga berbeda dari  apa yang 

disebut “elentika yang biasanya dipakai untuk meyakinkan orang 

berkeyakinan kontras dalam makna perdebatan dan menarik Jadi ada 

perbedaan dari apa yang disebut “elentika yang biasanya dipakai untuk 

menarik umat beragama lain atau meyakinkan orang berkeyakinan 

kontras dalam makna perdebatan. Dulu cara ini dipakai oleh misi 

colonial barat ke dunia agama agama yang berbeda dan sekarang masih 

dipakai juga secara kurang beradab oleh orang timur di negerinya sebagai 

sarana penginjilan  dalam persebatan. Sehingga hal itu membuat kesan  

kesan apologetika menjadi jelek, bahkan ditolak dalam seminari teologi. 

Padahal secara sederhana dapat dimengerti bahwa apologetika memiliki 

arti pertanggungjawaban iman Kristen secara sistematis dan logis untuk 

memberitakan iman secara komprehensif. Sementara perbandingan 

agama dalam motif persaingan antar agama, sebab  akan merusak 

peradaban masa kini. Jadi, iman Kristen harus dipertanggungjawabkan 

bagi orang yang menentang dan menjernihkan bagi warga gereja yang 

ragu dan menyimpang.  

 

 

 

182 AFIRMASI IMAN TERHADAP PRAGMATISME DI DALAM GEREJA-GEREJA 

PENJERNIHAN IMAN SEBAGAI  

PERTANGGUNGJAWABAN GEREJA 

Kadang kala apologetika sebagai tugas pertanggungjawanan iman 

dikaitkan dengan studi elentika atau diperlakukan sebagai polemika, 

yang sebenarnya berlainan sama sekali. Tugas apologetika sangat 

dibutuhkan untuk menghadapi secara hikmat dan sopan terhadap 

pengajaran di dalam gereja yang sudah tidak berstandar kitab suci lagi, 

alkitabiah, dan memperlancar usaha penginjilan ke luar gereja. 

Selanjutnya dinilai, bagi masa kini apologetika bermain pada level 

worldview secara intelektual yang berhadap-hadapan pada klaim-klaim 

dan proposisional ideologis.53 .  

Sementara itu, Frame mendefinisikan apologetika sebagai ilmu 

yang mengajar orang Kristen bagaimana memberi penjelasan tentang 

pengajaran pengharapannya. 54  sedang  Beattie berpendapat 

apologetika membicarakan pentingnya memberikan alasan yang benar 

bagi “pengharapan” yang ada padanya yang menyangkut kebenaran 

abadi dari iman Kristen.55 Namun Alister E. McGrath, dalam bukunya 

mengartikan apologetika sebagai usaha menerjemahkan apa yang kita 

imani ke dalam bahasa awam, dengan tujuan bisa dipahami oleh orang 

yang belum percaya. 

“yaitu  tentang bagaimana dengan setia dan efektif 

mengkomunikasikan iman Kristen kepada budaya yang mungkin 

tidak memahami istilah-istilah atau konsep tradisional Kristen. 

Kita perlu belajar menjabarkan dan menjelaskan dalamnya 

keindahan Injil Kristen pada budaya kita, menggunakan bahasa 

dan gambaran yang mudah dipahami.“

 

Dalam 1 Korintus 2:13-16 dan 3:1-3 kita melihat ide peperangan rohani. 

Namun dalam pertanggunjawaban iman apologetis kita hars 

mengarahkan usaha kita pada konflik worldview dan dalam kajian 

tataran pemikiran intelektual.  Di sini ide peperangan rohani pada konflik 

wawasan dunia membedakan orang percaya dan tidak percaya; yaitu 

term “konflik worldview,” seperti yang pernah dimunculkan Ronald 

Nash.  Lalu dalam 2 Korintus 10:5, Richart Pratt melihat dan 

menafsirkan, “Ada usaha dari orang-orang yang tidak percaya untuk 

mengganti pengetahuan yang dari Allah dengan ide atau pikiran yang 

lain.”57 Dalam hal ini orang-orang Kristen wajib untuk mematahkan dan 

menghancurkan pengetahuan yang tidak berasal dari Allah. 58  Ini pun 

secara imani dapat dikatakan “peperangan rohani.”   

Dalam penjernihan iman, penting untuk mensignifikansi “orang 

percaya” dari “orang tidak percaya” seperti penjelasan Paulus dalam 1 

Korintus 2:13-16, yang membedakan antara terma “manusia rohani” bagi 

orang percaya dan “orang duniawi” yang tidak percaya. Namun 

teridentifikasi juga orang percaya yang belum dewasa secara rohani dari 

orang percaya yang lurus dan setia.  Paulus berkata seperti berikut,   

Dan sebab  kami menafsirkan hal-hal rohani kepada mereka yang 

memiliki  Roh, kami berkata-kata tentang karunia-karunia Allah 

dengan perkataan yang bukan diajarkan kepada kami oleh hikmat 

manusia,   namun  oleh Roh.  namun  manusia duniawi   tidak 

menerima apa yang berasal dari Roh Allah,  sebab  hal itu baginya 

yaitu  suatu kebodohan;   dan ia tidak dapat memahaminya, sebab 

hal itu hanya dapat dinilai secara rohani.   namun  manusia 

rohani  menilai segala sesuatu, namun  ia sendiri tidak dinilai oleh 

orang lain.  Sebab: “Siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan, 

sehingga ia dapat menasihati Dia?” namun  kami memiliki pikiran 

Kristus. Dan aku, saudara-saudara, pada waktu itu tidak dapat 

berbicara dengan kamu seperti dengan manusia rohani  namun  

hanya dengan manusia duniawi, yang belum dewasa   dalam 

Kristus.  Susulah yang kuberikan kepadamu, bukanlah makanan 

keras,  sebab kamu belum dapat menerimanya.  Dan sekarangpun 

                                                             

184 AFIRMASI IMAN TERHADAP PRAGMATISME DI DALAM GEREJA-GEREJA 

kamu belum dapat menerimanya..., bahwa kamu manusia duniawi 

dan bahwa kamu hidup secara manusiawi? (1 Kor 2:14-3-3 cetak 

tebal dari penulis) 

Penting bagi kita melihat terjemahan LAI “manusia duniawi” 

dalam bahasa Yunaninya yang ternyata memiliki dua pengertian, yaitu; 

1) psykhikos secara literal dikatakan “manusia alamiah”.  Kata ini 

muncul dalam Rm 7:14; 1 Kor 3:1; 2 Kor 3: 3; Ibr 7:16 yang berarti, 

manusia alamiah yang bermakna berlum percaya atau tidak percaya  

kepada Tuhan Yesus. Jadi duniawi di dalam pikirannya, sehingga orang 

yang seperti ini tidak mungkin dapat mengerti hal-hal iman Kristen, yang 

berasal dari Roh. Mungkin seperti lalang di antara gandum dalam 

konteks gereja gereja keturunan Kristen.  2) Sarkikos, secara literal 

manusia daging;  kata ini muncul dalam 1 Kor 3:3; 1 Kor 3:3; 2 Kor 

1:12; 2 Kor 10:4; 1 Ptr 2:11. di sini maksudnya yaitu  orang Kristen 

yang belum dewasa secara rohani. Orang Kristen daging yaitu  orang 

Kristen yang hidup secara duniawi.  Dalam gereja kita juga menemukan 

macam orang seperti ini dalam pengertian lemah komitmen imannya 

kepada Kristus dan berkompromi.  3) Selanjutnya, kategori 

pneumatikos59 yang artinya manusia  rohani atau orang Kristen yang setia 

dan tidak mengikuti dan mencampuraduk dengan pandangan hidupnya. 

Di sinilah kita melihat peperangan rohani terjadi antara pemikiran non 

Kristen versus pemikiran Kristen (berdasarkan “pikiran Kristus” (mind of 

Christ) (1 Korintus 2:16c).   

Pembedaan kategorial manusia secara imani ini penting mengingat 

adanya banyak terjadi penyimpangan dalam ajaran dan praktik hidup 

iman Kristen di dalam gereja. Cara pandang dan pemahaman yang keliru 

akan sangat berpengaruh pada pola pikir, keputusan, dan praktik dalam 

pelayanan di gereja. Pola pikir tidak muncul begitu saja, melainkan ada 

worldview yang mempengaruhinya. Oleh sebab  itu gereja sangat 

membutuhkan tugas apologetis sebagai bentuk pertanggungjawaban iman 

masa kini di dalam tataran wawasan dunia yang berkonflik, termasuk 

dalam dalam penjernihan bagi orang Kristen yang berpola-pikir duniawi. 

                                                              

 

Dalam kajian filosofis kita diperingatkan oleh Paulus dalam Kolose 

2:8 sebagai usaha pertanggungjawaban iman “Hati-hatilah, supaya 

jangan ada yang menawan kamu dengan filsafatnya yang kosong dan 

palsu menurut ajaran turun-temurun dan roh-roh dunia, namun  tidak 

menurut Kristus”. Paulus dalam bagian ini ingin memberitahukan bahwa 

jemaat mula-mula juga tidak kebal terhadap pengaruh ajaran agama 

sekitar atau setempat. Di antaranya filsafat Gnostiksisme dan agama 

Judaisme. Sampai sekarang agama dan pandangan dunia sekular dapat 

mempengaruhi pikiran jemaat Tuhan, oleh sebab  itu sangat dibutuhkan 

penjernihan dan peneguhan iman umat secara apologetika. 60   Dalam 

tugas apologetika di dalam gereja ada dua hal yang paling menonjol di 

antaranya yaitu  penegasan dan penjernihan.61  Ini yang mungkin oleh 

Frederik Howe sebagai metode vindikasi yang dilakukan Paulus kepada 

jemaat Kolose dalam argumentasi empat langkah; 62  1) kontras 

(pembedaan): membedakan prinsip hidup dan kepercayaan; 2) 

pemahaman (mendalam dan menyeluruh); 3) Penjernihan: penjelasan, 

posisi dan kebenaran Kristen; 4) Penegasan (konfirmasi).  

Dalam hal ini pola pikirnya yang perlu dijernihkan, sebab  gereja 

tidak mungkin memakai sistem apologetika penyerangan terhadap jemaat 

sendiri. Walaupun ada cara hidup yang yang mencampuradukkan antara 

iman Kristen dengan isme-isme non Kristen bahkan yang anti Kristen.  

Fakta yang sedang terjadi sekarang yaitu  munculnya kekristenan yang 

tanpa Kristus. Hidupnya tidak lagi berpusat pada Kristus namun  pada diri 

sendiri. 63   Seperti yang diakui oleh seorang pendeta, bahwa ia hidup 

seolah-olah Tuhan itu tidak ada.64  Di gereja pun perlu apologetika dalam 

sisi yang berbeda. 

 

 

Penjernihan dalam arti penegasan iman merupakan hal yang tidak dapat 

dihindari 65  oleh gereja khususnya para pelayan. Gereja mainstream 

sekarang sudah mengabaikan tugas apologetika, dan lebih fokus dialog 

dan pertumbuhan gereja. Banyaknya kompromisme sinkretis di dalam 

gereja kontemporer meniscayakan secara logis kebutuhan akan 

penjernihan apologetis bagi warga gereja. Namun pada kenyataannya 

apologetika ditolak sebab  dianggap merusak tatanan masyarakat dengan 

perdebatan antar ajaran  agama yang saling menaklukan. Ada tiga alasan 

dasar alkitabiah tentang pentingnya apologetika sampai gereja masa kini. 

1) Mempertanggungjawabkan Iman Kristen  

Suka dan mempertanyakan esensi dari kebenaran iman Kristen. 

Peran dari apologetika yaitu  pertanggungjawaban (iman) kepercayaan 

kita kepada orang luar (skeptics, unbeliever, enemy). 66  Frame, dalam 

bukunya mengatakan tugas apologetika yaitu  pembelaan. sebab  Allah 

juga memanggil umat-Nya untuk membela kebenaran-Nya (Filipi 1:7,16; 

1Petrus 3:15).67   1) 1 Petrus 3:15 sebagai dasar pertanggungjawaban 

iman, “…Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi 

pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta 

pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada 

padamu, namun  haruslah dengan lemah lembut dan hormat dan dengan 

hati nurani yang murni, supaya mereka, yang memfitnah kamu sebab  

hidupmu yang saleh dalam Kristus, menjadi malu sebab  fitnahan 

mereka itu.” 1 Petrus 3:14b-16 

Teks ini dianggap sebagai tempatnya (locus classicus) 

berapologetika Kristen sepanjang masa. Petrus dalam hal ini 

mengingatkan bahwa setiap orang Kristen dituntut untuk memiliki 

komitmen dan berani untuk mempertanggungjawabkan iman Kristennya 

kepada baik yang belum mau percaya atau yang masih meragukan pada 

ajaran-ajaran tertentu. Mandat pertanggungjawaban iman ini yaitu  

fungsi pertahanan atau pembelaan ajaran ortodoksi bagi setiap orang 

percaya.  Kata “siap sedialah” itu menunjukkan  persiapan yang serius 

dan terus-menerus bagi seorang yang terpanggil untuk mempertahankan 

ajaran yang dituduh sebagai meragukan.  Di sana juga mengindikasikan 

tantangan orang Kristen dalam pemikiran anti Kristen datangnya atas 

pengaruh pandangan anti Kristen, tantangan-tantangan dalam gereja yang 

memakai pemusihan dari anti Kristen, yang datangnya sering tidak 

terduga dan tiba tiba. Untuk itulah kata “pertanggungjawaban” sebagai 

respon iman secara praktis dalam bentuk kehidupan sehari-hari maupun 

berupa jawaban langsung kepada wawasan dunianya. 

Tujuan dari apologetka penjernihan ajaran iman yaitu  untuk 

meluruskan pemikiran dan mengembalikan kepada cara pandang yang 

benar sesuai esensi dari ortodoksi yang diajarkan Kitab Suci. Dalam 

melakukan pembelaan, Kitab suci memberikan atau menyediakan 

standar-standar dan kriteria yang harus dipakai oleh seorang apologet.68 

Peran kajian apologetika pada sisi ini yaitu  untuk menghadapi 

keberatan-keberatan dari orang-orang yang belum percaya sepenihnya 

atau tepatnya masih meragukan iman Kristen.  

2) Mengkomunikasikan Iman Kristen.  

Selain sebagai bentuk pertanggungjawaban iman Kristen, tugas 

pertangungjawaban iman juga berfungsi sebagai sarana  

mengkomunikasikan iman Kristen secara langsung dalam bahasa yang 

dapat diterima dan dimengerti oleh pemikiran orang-orang yang belum 

dapat percaya atau mungkin belum mau percaya. Secara spesifik 

mengkomunikasikan iman di sini berbeda dari mengkomunikasikan Injil. 

Dalam hal ini, menurut McGrath, “mengkomunikasikan iman Kristen 

kepada budaya yang mungkin tidak memahami istilah-istilah atau konsep 

tradisional Kristen. Kita perlu memaparkan, menjelaskan, dan 

menerjemahkan keindahan dari Injil Kristen, menggunakan bahasa yang 

mudah dimengerti.”69 Secara khusus menjernihkan iman berusaha untuk 

 

PEPERANGAN WORLDVIEW 

SEBAGAI ARENA APOLOGETIKA 

Apologetik masa kini harus diarahkan kajian intelektualnya, pada 

worldview. Apologetika kontemporer harus menghadapi ideologis 

sebagai pandangan dunia. Pada masa kini apologetika tidak boleh 

dikerjakan secara perbandingan agama dengan superior ajaran religius 

saja. Kita akan menunjukkan bagaimana ajaran religius pandangan dunia 

itu tidak baik untuk dinikmati sebagai sesuatu yang bertanggungjawab 

dalam peradaban dunia.  Ajaran-ajaran religius yang diyakini dan 

dipraktikkan dalam worldview yaitu  suatu kerangka kepercayaan dan 

keyakinan yang menolong kita melihat gambaran besar dari sudut 

pandang yang benar dan terpadu tentang makna eksistensi manusia70 atau 

keraguan non Kristen di balik tantangan, serangan, permusuhan, dan 

keraguan yang dipakai itu. 

Sementara itu worldview sebagai arena apologetika kontemporer 

yaitu  fokus penyelesaian permasalahan iman dalam perspektif 

Reformed. Bukan hanya menjadi sarana debat kusir antar ajaran agama 

untuk mencari siapa menang dan siapa kalah sebab  semua orang 

memiliki worldview. Disadari atau tidak, kita semua memiliki sudut 

pandang yang mendasar tentang dunia; itulah yang membentuk cara kita 

hidup, bekerja, bertindak, berbicara, berusaha, berkeluarga dan lain-

lain.71  Dalam bukunya Ryken mengutip definisi worldview dari James 

Olthuis, worldview yaitu  komitmen, orientasi mendasar yang berasal 

dari hati yang diekspresikan dalam sebuah cerita atau serangkaian 

anggapan (asumsi-asumsi: yang mungkin benar, benar sebagian atau 

sepenuhnya keliru) yang kita pegang (secara sadar atau tidak sadar, 

secara konsisten atau pun tidak) tentang suatu realitas yang menyediakan 

                                                             

landasan dasar di mana kita hidup, bergerak dan berada kini.72 Worldview 

yaitu  suatu kerangka pikir yang berfungsi sebagai “kacamata’ atau 

saringan seseorang untuk percaya dan menilai segala sesuatu di dunia ini, 

apakah itu tentang Allah, uang, pernikahan, beriman bergereja dan lain-

lain. 

 Jadi sebenarnya di sini Ryken melihat setiap worldview itu 

mengandung unsur-unsur: 1) komitmen individual; 2) asumsi pribadi; 3) 

presoposisi (keyakinan awal yang belum terbukti); 4) unsur kesadaran 

(tidak sadar); 5) unsur keyakinan. James Sire melengkapi suatu prinsip 

wawasan dunia dalam tujuh pertanyaan: 1) Apakah realitas utama itu?, 2) 

Apakah natur dari realitas eksternal (dunia sekitar kita)?,  3) Apakah 

manusia itu?, 4) Apakah yang terjadi pada seseorang pada saat 

kematian?, 5) Apa yang memungkinkan manusia dapat mengetahui 

sesuatu?, 6) Bagaimana kita mengetahui apa yang benar dan apa yang 

salah?, 7) Apakah makna dari sejarah manusia? Berdasarkan analisis 

filosofis maka dapat dibagi menjadi tiga bagian: 1) Sistem keyakinan, 2) 

Sistem pemikiran, 3) Sistem prilaku. 73   Dan aspek-aspek ini berjalan 

dalam suatu sistem paradigmatik yang saling berkaitan dan mendukung 

satu sama lain. Seperti dalam diagram lingkaran konsentris di bawah ini.  

 

 

 

Faktanya setiap wawasan dunia di dalam dunia ini yaitu  ideologi yang 

bersaing dan nyata di dalam para penganutnya. Isme-isme tersebut 

merebut hati dan pikiran yang pada akhinya menjadi berhala yang 

diikuti.  Demikianlah wawasan-wawasan dunia yang berkonflik ini bisa 

dipakai oleh seseorang secara bersamaan. Ronald Nash mengatakannya 

                                                             

 

190 AFIRMASI IMAN TERHADAP PRAGMATISME DI DALAM GEREJA-GEREJA 

sebagai worldview in conflict. Hal ini yaitu  suatu kenyataan dalam 

arena inilah iman Kristen menantang memberi jawaban serta 

menjernihkan serangan. Tantangan keraguan dari mereka secara 

intelektual, bukan untuk menaklukan keagamaannya saja dengan 

persaingan antar ajaran agama seperti yang dilakukan secara polemik dan 

dulu dikatakan dalam misi Kristen sebagai Elentika”.  

 

RESPON APOLOGETIS TERHADAP PRAGMATISME 

GEREJAWI 

Signifikansi Pandangan Hidup Kristen 

Wawasan dunia Kristen secara total bukan hanya Teisme Kristen, 

melainkan melampaui sistem keyakinannya akan Allah sampai pada 

sistem pemikiran dan pembenarannya, dan juga nilai-nilai perilaku secara 

praktis. Dalam hal ini sistem pembenarannya yaitu  supranatural 

Kristen, yaitu iman yang melampaui logika. sedang  bagian sistem 

nilai-nilai perilaku berdasarkan penyangkalan diri, kesiapan untuk 

memikul salib, berkorban bagi orang lain (Altruisme, Voluntarisme, 

Antiselvisme). sedang  pola pikir lain yang non Kristen, justru 

menolaknya sebab  dianggap sebagai suatu kebodohan. 

 Pekerjaan apologetika masa kini dikerjakan pada fokus wawasan 

dunia dalam isme-isme yang bersaing seperti di atas. Misalnya, menurut 

pandangan filsafat pragmatisme, Tuhan itu bisa nyata juga bisa tidak 

nyata, 74  sebab  aliran filsafat ini ini tidak mengakui kebenaran yang 

objektif dan absolut, jadi tergantung bagaimana mereka 

mendefinisikannya. Ateis merupakan akar dari pragmatisme.  

                                                             

 

 Banyak orang ateis yang mengajukan pertanyaan yang dia sendiri 

akui tidak punya jawabannya atau percaya kalau jawabannya sedang 

dicari. 75  Kekristenan melihat yang tidak kelihatan itu sebagai sesuatu 

yang riil dalam iman. Walau kita tidak melihat Allah, tidak melihat 

berkat Allah, tidak melihat Kristus namun dalam iman yang kelihatan, itu 

riil dan nyata. Surat Ibrani menyatakan bahwa “Iman yaitu  dasar dari 

segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang 

tidak kita lihat. Kata Yunani bukti yaitu  elegchos yaitu  keyakinan… 

sebagai bukti kesaksian iman. Jadi tidaklah bukti yang kelihatan dengan 

mata sebagai pragmatisme. Buktinya yaitu  iman tidak bisa tidak 

percaya sebab  iman yaitu  anugerah Allah untuk mengerti. Walaupun 

tidak ada di depan mata atau tidak kelihatan, tetaplah kita berharap 

sebagai sesuatu yang kelihatan. Iman di sini yaitu  dasar segala sesuatu 

yang kita harapkan, yaitu kelihatan dan juga sebagai keyakinan atau 

kepastian dari suatu yang kelihatan oleh mata.  Justru yang kelihatan, 

prinsipnya percaya dulu, seperti yang dinyatakan dalam prinsip 

Agustinian, credo ut intellegam dan fides quaerens intellectum ini 

berpasangan dengan kata kerja. Dalam iman barang bukti justru tidak 

penting dibanding keyakinan dalam iman itu sendiri.  

   

Pokok-pokok Penjernihan 

1. Secara Doktrinal. Doktrin yaitu  sesuatu yang penting bagi 

gereja. Hubungannya bagi gereja yaitu  gereja harus kembali 

merumuskan doktrin iman Kristennya dalam konteks pergumulan 

kekinian yang berkembang. Di sini termasuk pergumulan dalam 

menghadapi ideologi dan pencampuran ajaran pragmatisme. Di sinilah 

tujuan apologetika Reformed Epistemologi yaitu  menunjukkan 

(afirmasi) dan menjelaskan (klarifikasi) bahwa kepercayaan Kristen 

benar. 76  Meyakinkan orang lain mengenai kebenaran iman Kristen. 77  

Menyampaikan sebuah dasar rasional bagi iman kepercayaan atau 

                                                             

75 Ravi Zacharias dan Vince Vitale, Jesus among Secular Gods: Yesus di antara 

Allah-Allah Sekular, Terj. (Surabaya: Literatur Perkantas, 2017), 12. 

76 Togardo Siburian, Apologetika [Kontemporer] Kristen. Diktat, 26. 

77 Alister M. Grath, Apologetika Dasar (Malang: Literatur SAAT, 2017), 42. 

192 AFIRMASI IMAN TERHADAP PRAGMATISME DI DALAM GEREJA-GEREJA 

“membuktikan kebenaran kekristenan.” 78  Dengan kata lain, untuk 

memperlihatkan bahwa kekristenan yaitu  benar dan bahwa semua 

wawasan dunia non Kristen tidak benar.79  

2.  Praktikal. Prinsip praktikal merupakan hal yang tidak dapat 

dihindari baik di dalam teologi termasuk di dalam apologetika. Sekalipun 

apologetika kontemporer sekarang bermain dalam tatanan intelektual dan 

bersifat filosofis, namun  praktiknya harus mampu melampaui teoritis, 

implikatif, dan aplikatifnya secara praktis. Di sinilah ada pintu untuk 

dialog atau diskusi apologetis yang melampui perdebatan atau persaingan 

antar ajaran agama. Di sini prinsip pastoral menjadi salah satu tugas 

penting dalam gereja, yaitu pelayanan pastoral atau penggembalaan. 

Tugas pastoral gerejawi yaitu  untuk mendewasakan, membina, 

merawat, menjaga, melindungi dari serangan kesesatan. Di sinilah 

tempatnya tugas apologetika di dalam penggembalaan gereja. 

Menguatkan iman yang sedang goyah oleh kekecewaan hidup dan 

pengaruh ajaran sesat. Yang tidak jauh berbeda kepentingannya antara 

melakukan penggembalaan dengan apologetika di dalam dunia.80  Hal ini 

sebagai konsekuensi dari iman Kristen di dalam dunia. Dalam kajian 

apologetis perlu merumuskan kembali kepercayaan Kristen sebagai 

pertanggungjawaban iman secara rasional.81 Sehingga dapat dimengerti 

dan diterima oleh warga gereja. 

 

LIMA AREA SEBAGAI PENJERNIHAN IMAN JEMAAT 

Hal ini sebenarnya dimulai dari sistem dan tujuan pendidikan di dunia 

sekarang yang mengutamakan hasil yang hebat dan kelihatan. Sistem 

pendidikan masa kini bertujuan pada hasil yang kelihatan, yaitu 

kesuksesan, menjadi nomor satu, juara, terhebat, dan lain sebagainya.  

Anak-anak diajar berkompetisi. Tentu pengaruh John Dewey dalam 

pendidikan sangat besar dalam era modern sampai sekarang. Di depan 

                                                             

 

mata kita melihat kemanusiaan dan peradaban, ditekankan hanya pada 

penilaian keberhasilan, keuntungan, kehebatan individual. Bahkan di 

sekolah-sekolah Kristen seringkali secara etika menghalalkan segala cara 

agar berhasil menguasai dan berhasil mendapatkan sesuatu. Ada lima 

area yang akan direspon berdasarkan lima prinsip Teisme Kristen. 

1.  Mengembalikan Cara Pikir Jemaat 

Respon ini yaitu  terhadap pemikiran Kristen atau warga gereja 

yang sudah berpindah tempat memakai pikiran-pikiran sekuler. 

Pemikiran Kristen seharusnya menempatkan pikiran Kristus. Seorang 

yang telah menerima Yesus sebagai Tuhannya seharusnya memiliki 

pikiran Kristus. Paulus mengatakan dalam 1 Korintus 2:16b, “namun  

kami memiliki pikiran Kristus.”  

Kristen daging telah meninggalkan pikiran Kristus, menuju pada 

pikiran-pikiran duniawi yang pragmatis. Dengan pola pikir yang 

bercabang hati seperti ini apakah mungkin seseorang dapat bahagia? 

Seperti yang Yakobus katakan bahwa orang yang mendua hati hidupnya 

tidak akan tenang (Yakobus 1:8). Kalaupun ada yang merasa tenang, 

sebab  dirinya yaitu  jenis manusia alamiah (I Korintus 3:3c). Orang 

yang seperti ini sangat mungkin ada di dalam gereja dan rajin beribadah 

bahkan melayani Tuhan, namun  sesungguhnya dia belum Kristen. sebab  

dirinya yaitu  Kristen turunan dan belum dilahirkan kembali oleh Roh, 

seperti yang Tuhan Yesus katakan dalam Yohanes 3:3 “Aku berkata 

kepadamu, sesungguhnya jika seseorang belum ‘dilahirkan kembali’, ia 

tidak mungkin dapat melihat Kerajaan Allah.” Jadi, dirinya mustahil 

untuk dapat memahami kebenaran yang bersifat rohani. 

Di sinilah pentingnya cara hidup seorang Kristen dan cara 

pandangnya untuk kembali pada pikiran Kristus sebagai dasar iman. 

Dalam paham teisme Kristen, Allah yaitu  Allah yang berdaulat, 

berpribadi, transenden, imanen, pencipta dan Trinitas. Kaitannya dengan 

gereja Allah yaitu  Allah yang mengontrol, menjadi pemilik, kepala, 

pemelihara, penebus dan penyelamat gereja. Gereja-gereja (lokal) harus 

menyadari hal ini dan memberitakan prinsip-prinsip ini. Gereja harus 

menyediakan pengajaran yang benar atau ortodoksi di dalam paham 

teisme Kristen dengan pemikiran supranatural videisme dan nilai-nilai 

194 AFIRMASI IMAN TERHADAP PRAGMATISME DI DALAM GEREJA-GEREJA 

etis kehidupan Kristen, seperti antiselvisme (tidak mementingkan diri 

sendiri), altruisme Kristen (rela berkorban demi pelayanan), serta kasih 

kepada sesama. 

2.  Memurnikan Ajaran dalam Gereja 

Filsafat pragmatisme berikut sekutunya telah meracuni dan 

merusak doktrin atau sistem ajaran iman Kristen. Pengajaran iman 

Kristen menjadi tidak murni lagi sebab  sudah bercampur dengan isme-

isme sekuler. Pencampuran ideologis yang dimaksud yaitu  

pencampuran dua mode, yaitu; pertama, pola hidup Kristen yang 

dibungkus oleh pikiran sekuler pragmatis, sedang  yang kedua pola 

pikir Kristen membungkus cara pikir dunia. Sebenarnya inilah yang 

dimaksud dengan sinkretisme Kristen dalam gereja. 

Di antara dua mode sinkretisme itu, yang paling berbahaya yaitu  

mode yang kedua sebab  tidak disadari, kelihatannya Kristen namun  

sebenarnya jauh dari pemikiran Kristen dan bisa membius. Sementara 

mode yang pertama juga berbahaya namun jauh lebih mudah untuk 

mendeteksinya dari perspektif iman Kristen. Sehingga dapat dilakukan 

perlawanan lebih dini dan pencegahannya lebih mudah. 

Secara apologetis, pola konflik wawasan duniawi Kristen dan 

sekuler dalam hal ini pragmatisme saling berlawanan. Sehingga secara 

ideologis cara berpikirnya tidak mungkin dapat disatukan antara 

supranaturalisme Kristen atau alkitabiah versus naturalisme dan 

rasionalisme. Tuhan Yesus berkata dalam Matius 6:24, “Tak seorang pun 

dapat mengabdi kepada dua tuan. sebab  jika demikian, ia akan 

membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia 

kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain.”  Pilihan kita 

hanya satu, yaitu meninggalkan atau membuang wawasan-wawasan 

dunia non Kristen. Kita harus setia pada iman Kristen yang berdasarkan 

teisme Kristen. Seperti yang dikatakan oleh Idleman dalam bukunya 

yang bertema peperangan rohani, “Berhala-berhala dikalahkan bukan 

dengan menyingkirkannya, melainkan menggantikannya.” 82  Ini yaitu  

prinsip apologetika. 

                                                             

3. Membuka Topeng  Berhala Pragmatisme 

Keberhalaan gereja dalam hal-hal pragmatis yaitu  suatu fakta. 

Dalam pelayanan, kegiatan, ibadah dan khotbah di gereja bisa menjadi 

berhala kalau dia menjadi yang terutama atau tujuan kita. “Manusia tidak 

dapat menghindar dari mengabdi kepada sesuatu.”83 Yang terpenting di 

sini yaitu  dalam batas tertentu dia tidak dapat menghindar untuk 

memberhalakan sesuatu. Jadi, sebenarnya berhala itu sangat dekat 

dengan orang Kristen. Segala sesuatu bisa menjadi berhala84 termasuk 

segala kegiatan yang kita lakukan di dalam gereja. 

Yang dimaksud segala sesuatu yaitu  ketika kita melakukan 

sesuatu hal apapun bukan untuk Tuhan, misal; 1) Beribadah bukan untuk 

memuliakan Tuhan namun  untuk entertain atau hiburan, 2) Berkhotbah 

bukan untuk Tuhan namun  memuaskan keinginan pendengar, 3) Membuat 

program gereja bukan untuk kemuliaan Tuhan namun  supaya kelihatan 

baik sehingga mendapat pujian, nama besar,  kehormatan, mengikuti 

keinginan jemaat, dan untuk persaingan dengan gereja lain, 4) Pelayanan 

bukan untuk Tuhan namun  menjadi tempat unjuk prestasi, 5) Sarana atau 

fasilitas dalam gereja bukan untuk menjangkau jiwa bagi kemuliaan 

Tuhan namun  untuk memuaskan pengunjung gereja, 6) Menjadi majelis 

atau pengurus gereja bukan untuk dipakai oleh Tuhan namun  untuk 

menunjukkan pengaruh dan kekuasaan yang dimiliki. 

Hal ini semua merupakan bentuk dari berhala-berhala yang 

seharusnya secara etis tidak boleh ada dan “diikuti” oleh orang Kristen di 

dalam gereja. Nilai-nilai Kristen yang didasarkan pada anugerah, 

pengorbanan, dan belas kasihan. Berlawanan dengan cara dan nilai dari 

janji-janji berhala pragmatisme seperti di atas. Secara apologetika juga 

tidak boleh saling bersandingan. Gereja harus berani mengakui dan 

membuangnya.  

Dalam Perjanjian Lama secara jelas dan tegas Allah sudah 

memerintahkan untuk tidak membuat dan menyembah berhala. Keluaran 

20:3-4, “Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku. Jangan membuat 

                                                             

bagimu patung yang menyerupai apapun.” Seringkali kita berpikir 

berhala itu berbentuk patung, namun berhala dalam konsep pandangan 

wawasan dunia “patung” yaitu  ideologi-ideologi duniawi yang dipakai 

oleh gereja. Patung-patung berhala masa kini tidak kelihatan namun  ada di 

dalam pikiran dan hati warga-warga gereja. Dalam 1 Raja-Raja 18, 

“Demikian juga dengan nabi-nabi yang lainnya memeringatkan umat 

Allah agar tidak terlibat dalam penyembahan kepada berhala dan ilah-

ilah lain. Ini yaitu  dasar berita gereja untuk tidak terlibat dan 

memasukkan berhala-berhala idiologis masa kini ke dalam gereja dan 

pelayannya.” 

 

MENANTANG ULANG  JEMAAT  

DENGAN INJIL PERTOBATAN 

Ini tugas Injili dalam kebangunan rohani, sebagai salah satu unsur 

penting gerakan injili. Dua tugas generasi sesudah  injili mula-mula, iman 

Kristen telah berubah menjadi agama nominal yang hanya legalisme, 

ritualisme, dan formalisme. Untuk itu tugas ini sangat penting sebab  ada 

warga gereja yang belum percaya secara pribadi (Kristen turunan). Bisa 

jadi orang seperti ini aktif dalam ibadah, pelayanan, menjadi pengurus 

komisi, dan tidak menutup kemungkinan menjadi majelis dalam gereja. 

Jenis orang alamiah Kristen seperti ini tidak akan mungkin mengerti hal-

hal rohani, bahkan membawa spirit wawasan duniawinya dalam gereja. 

Ini juga yang seringkali membuat gereja menjadi pragmatis. 

Dalam hal ini yang dimaksud Kristen bukan soal agama, melainkan 

pertobatan yang sejati. Dalam menghadapi ini, tidak ada cara lain selain 

gereja perlu untuk menginjili ulang dan menantang jemaat keturunan 

Kristen untuk menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya 

secara pribadi.   Sehingga orang ini dapat memiliki pikiran Kristus dan 

memahami hal-hal rohani.  

 

 

Kita tahu bahwa gereja sejati tidak mungkin musnah oleh perubahan 

zaman. Gereja boleh mengikuti perkembangan zaman sepanjang tidak 

menyesuaikan diri pada spirit sekularisasi dunia. Di sinilah gereja layak 

memberitakan Injil kepada dunia yang berbeda. Gereja-gereja pragmatis 

seakan-akan ingin menolong gereja agar tidak punah dimakan zaman, 

dengan cara selvisme, transaksionalisme, populisme, secara politis, 

komersial, entertain, konsumerisme, dan dalam gagasan-gagasan 

megachurch serta super church. 

Banyak orang beranggapan apologetika hanya untuk keluar, namun 

apa yang dipaparkan di atas membuktikan apologetika juga sangat 

diperlukan dalam gereja. Dalam hal ini yaitu  penjernihan ajaran iman 

Kristen di dalam warga gereja yang meragukan dan menggmpromikan 

pandangan hidup Kristen dengan pandangan lain. Kepalsuan ajaran harus 

dihadapi secara sadar dalam prinsip pertanggungjawaban iman secara 

apologetis pada lapangan inteektual.  

Ternyata yang membawa pola pikir itu yaitu  gereja sendiri dan yang 

menikmati yaitu  orang Kristen yang bertentangan secara prinsip hidup, maka 

penjernihan world view yang akan dipakai dalam jalur ini. Kalaupun usaha 

melawan konflik ideologis namun bukan menyerang orang namun  sistem 

ajarannya secara paradigmatik sebagai sesuatu yang tidak layak di dalam 

kekristenan dan gereja-gereja Kristus. Ini yaitu  peneguhan jemat yang 

tersesat dari Injil sejati. 

 


Evaluasi Misi gereja diperlukan untuk mengetahui apakah misi 

gereja yang telah ditetapkan, tercapai atau tidak. Pembangunan 

Jemaat (PJ) dan Pertumbuhan Gereja (PG) merupakan dimensi 

penting yang perlu dipahami untuk mengukur pelaksanaan misi 

gereja. Pengukur dimensi Pembangunan Jemaat (PJ) dan 

pengukur Pertumbuhan Gereja (PG), yaitu  indikator-indikator 

yang perlu ditetapkan untuk megetahui apakah cakupan standar 

yang telah ditetapkan itu tercapai atau tidak. Itulah sebabnya 

penelitian ini disebut penelitian evaluasi. 

Konsep Pembangunan Jemaat (PJ) berasal dari konteks 

Eropa, sedang konsep Pertumbuhan Gereja (PG) yang berasal 

dari Amerika, khususnya gereja-gereja kalangan Injili. Masing-

masing konsep itu memaparkan standar yang dapat menjadi alat 

202 PEMBANGUNAN JEMAAT DAN PERTUMBUHAN GEREJA 

ukur keberhasilan gereja untuk memenuhi misi Tuhan. Kedua 

konsep itu perlu dijabarkan dalam indikator-indikator yang dapat 

mengukur pencapaian standar yang menjadi dasar bagi sebuah 

penelitian evaluasi. Tujuan penelitian ini sebagaimana telah 

dijelaskan dalam abstrak yaitu untuk mengetahui implementasi 

evaluasi misi gereja pada gereja-gereja yang memiliki 

pemahaman tentang Pertumbuhan Jemaat dan Pertumbuhan 

Gereja. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu  

metode penelitian evaluasi dengan menggunakan data kualitatif 

yang didapatkan melalui pengumpulan data langsung melalui 

wawancara dengan 13 hamba Tuhan dari denominasi gereja yang 

berbeda-beda dan wawancara ini menggunakan instrumen yang 

terstruktur.      

Berdasarkan data yang diperoleh dari Kanwil Kemenag 

mengenai jumlah pertumbuhan pemeluk agama tahun 2017-2021 

yang di dalamnya terdapat data jumlah rumah ibadah, dilaporkan 

bahwa jumlah gereja dari tahun ke tahun meningkat. Data itu 

menunjukkan jumlah gereja mengalami kenaikan, kecuali di 

akhir tahun 2019 sampai saat ini terjadi penurunan. Ada dugaan 

hal ini disebabkan sebab  terjadinya wabah Covid-19 yang 

mengharuskan ibadah  dilakukan secara virtual.  

Apakah gejala kenaikan jumlah rumah ibadah 

menunjukkan bahwa gereja sudah berhasil melaksanakan misi 

yang Allah percayakan kepadanya? Robby I. Chandra, 

menyatakan ada tiga jawaban yang kerap diberikan orang 

sehubungan dengan pertanyaan mengenai keberhasilan gereja1, 

yakni; 1) Kita tidak dapat mengevaluasi hal itu, sebab  hanya 

Tuhan yang tahu kondisi gereja, 2) Bukan tugas kita mengukur 

keberhasilan itu, sebab  gereja yaitu  milik Tuhan, 3) Gereja 

yaitu  organisasi agama dan penuh relawan, tidak mungkin kita 

                                                     

 

mengevaluasi untuk mengubahnya sebab  akan merusak 

hubungan di dalam persekutuan. 

Sepintas lalu jawaban di atas menunjukkan kerendahan 

hati, namun  hal ini sesungguhnya terjadi sebab  gereja belum 

memiliki  “standard ukuran” keberhasilan. Hal ini dapat 

“membahayakan” kehidupan gereja. Beberapa “bahaya” yang 

akan dihadapi gereja yaitu  sebagai berikut; 1) Gereja tidak 

dapat melihat keadaan bahkan eklesiologinya, 2) Gereja tidak 

dapat melihat sisi kekuatan dan kelemahannya, 3) Gereja tidak 

dapat melihat hasil yang telah dicapai sebagai kinerja kerja 

kerasnya, 4) Gereja tidak dapat melihat bahaya yang 

mengancam, 5) Gereja tidak dapat menentukan strategi 

perencanaan ke depan. 

Konsep PJ dan PG hadir untuk membantu gereja dalam 

melaksanakan misinya. Namun, di balik kedua konsep tersebut 

terdapat eklesiologi yang perlu didalami dan konsep dasar untuk 

mengevaluasi keberhasilan gereja. Metode yang digunakan 

dalam penelitian ini yaitu  metode penelitian evaluasi dengan 

menggunakan data kualitatif yang didapatkan melalui 

pengumpulan data langsung melalui wawancara dengan 

mengggunakan instrumen wawancara terstruktur serta beragam 

sumber, dan dokumen-dokumen terpilih. Instrumen wawancara 

memuat indikator-indikator yang diturunkan dari konsep 

pembangunan jemaat dari P.G. van Hooijdonk, pertumbuhan 

gereja dan konsep gereja alamiah dari Christian A. Schwartz. 

 

PEMBANGUNAN JEMAAT (PJ) 

MENURUT VAN HOOIJDONK 

Konsep PJ bermula di Eropa Barat2. Van Hooijdonk memberikan 

gambaran dari gagasan PJ dalam bukunya yang berjudul  Batu-

                                                     

2 P.G. van Hooijdonk, Batu-Batu Yang Hidup “Pengantar Ke Dalam 

Pembangunan Jemaat" (Yogyakarta: Kanisius & BPK Gunung mulia, 1996), 

x. 

204 PEMBANGUNAN JEMAAT DAN PERTUMBUHAN GEREJA 

batu yang hidup, Pengantar ke Dalam Pembangunan Jemaat. 

Dalam tulisannya, van Hooijdonk memberikan tekanan teologis 

terutama kepada tujuan PJ. Pertama-tama PJ yaitu  masalah 

iman, sebab  sejak awal murid-murid Kristus dipanggil untuk 

membangun dan memelihara rumah Tuhan (oikodomein), yang 

dimengerti sebagai tubuh Kristus dan itu berarti kehidupan 

berjemaat (Yoh. 2:21; lihat juga Mat. 16:18; Kis. 20:32; 1 Tes. 

5:11-14). Kedua, menurut van Hooijdonk, subjek utama 

pembangunan jemaat, yaitu Allah sendiri melalui Roh Kudus dan 

manusia, dalam hal ini yaitu  gereja lokal, yang dipanggil untuk 

ikut serta.3 

Pengertian oikodome dan oikodomein 4  memiliki  arti 

‘Bait Allah’ (Mark. 14:58, Yes. 66:1, Kis. 7:48), namun  dalam 

perjanjian baru arti dari oikodomein memiliki  arti ‘gereja’, 

sedang  rasul Paulus lebih menekankan kepada jemaat 

sebagai bangunan Roh Kudus atau sebagai kegiatan apostolis 

yang memiliki  misi untuk memberitakan Injil Kristus, sebab  

itu ketika berbicara tentang PJ kita berbicara tentang iman, 

teologi praktis dan Jawaban terhadap perubahan. Van Hooijdonk 

merumuskan PJ sebagai berikut: “intervensi sistematis dan 

metodis dalam tindak-tanduk jemaat beriman setempat, dimana 

PJ menolong jemaat beriman lokal untuk bertanggung jawab 

penuh berkembang menuju persekutuan iman yang mengantarai 

keadilan dan kasih Allah dan terbuka terhadap masalah manusia 

dimasa kini”. 5   Berarti proses PJ dalam praktiknya harus 

dilakukan oleh; pemimpin dan mereka yang aktif menjalankan 

PJ, mereka yang dilibatkan dalam kegiatan PJ, walaupun pasif 

dan para pemikir yang mengatur praktik PJ, walaupun 

keberadaannya jauh. 

                                                     

 

 

Hal yang signifikan dalam teologi praktis van Hooijdonk 

yaitu  ketika ia menyatakan bahwa praktik PJ harus dipandang 

secara vertikal dan horizontal, van Hooijdonk menempatkan 

berbagai disiplin pastoral seperti homiletik, kateketik, liturgik, 

poimenik, diakonia, evangelistik/apostolat dan PJ (yang 

bercabang dua: kononia dan sibernetika) sebagai dimensi 

vertikal dan horizontal 6 . Artinya dimensi spiritual dalam 

oikodome ditekankan dalam semua disiplin teologis praktis, 

khususnya PJ dapat dimengerti baik sebagai dimensi vertikal 

maupun dimensi horizontal.7 

Van Hooijdonk menyatakan paling tidak ada 5 aspek dasar 

PJ yang selalu dapat menjadi refleksi keberhasilan PJ8, adapun 

kelima aspek dasar itu sebagai berikut; 1) bertindak imani dan 

rasional; kedua tindakan ini harus berjalan bersama. (Ef. 4,11; 

5:15-16);  2) Bertindak fungsional, artinya terarah kepada tujuan 

dan hasil. Di sini gereja setia kepada panggilannya dan 

melakukan tindakan-tindakan efektif yang merealisasikan 

penggilan itu; 3) bertindak menurut tata waktu atau mengikuti 

proses. Artinya kadang kala PJ dimengerti sebagai tindakan 

intervensi yang terarah pada perubahan dan pembaharuan agar 

kekurangan diatasi dan cita-cita dapat terealisasi dan semuanya 

ini memerlukan proses dengan memakan waktu dan tidak terjadi 

begitu saja. selama pembaharuan terjadi dapat dikatakan bersifat 

“spiral” atau terjadi proses ‘hilir mudik’ (ini dapat dibandingkan 

dengan konsep Christian A Schwarz); 4) Bertindak menurut tata 

ruang atau pengembangan organisasi. Hendriks dan Likert 

menjelaskan bahwa organisasi dalam PJ yang baik yaitu  

menciptakan relasi yang baik antar manusia, artinya 

menciptakan komunikasi terbuka yang memungkinkan orang 

                                                     

6Sibernetika atau yang dikenal dengan ilmu pengendalian/ kepengurusan, 

indonesia-info.net, wiki.edunitas.com, id.wikipedia.org 

7 P.G. Van Hooijdonk, Batu-Batu Yang Hidup “Pengantar Ke Dalam 


dapat berkembang apa adanya. Komunikasi terbuka ini 

memungkinkan jemaat mengembangkan bentuk kepemimpinan 

yang mendukung orang sesuai dengan jati diri masing-masing; 

5) Mengaktifkan partisipasi. Hal ini membutuhkan proses dan 

waktu yang harus di jalankan dalam mencapai realisasi cita-cita 

PJ. 

Van Hooijdonk juga mengatakan bahwa dalam konsep PJ 

harus disadari selalu terjadi proses. Dalam proses tersebut pasti 

akan ada pergerakan dan perubahan dua polaritas yang 

fundamental yang digambarkan sebagai berikut:     

 

 

 

 

  

 

 

 

Gambar 2: Konsep PJ Menurut Hooijdonk9 

 

Sehubungan hal ini, van Hooijdonk menggunakan pandangan C. 

Zwart, seorang teolog dari Belanda, yang lebih suka menekankan 

“perkembangan daripada perubahan”. Dengan pengertian: 

“Masa depan lebih berkembang dari masa lalu, sedang  

kenyataan sekarang lebih berkembang dari cita-cita”10.  

Van Hooijdonk juga mengutip pendapat Zwart 11  yang 

mengatakan bahwa “perkembangan yaitu  bertahap yang 

menghormati irama hidup manusia”12. Jadi dapat disimpulkan 

bahwa PJ berhubungan dengan proses untuk menuju masa depan 

dalam meraih cita-cita sebagai kenyataan. Menurut van 

                                                     

 

Hooijdonk proses menjalankan PJ harus melalui 5 (lima) tahap13; 

Pertama yaitu  tahap orientasi. Dalam tahap orientasi ini 

langkah yang harus diambil yaitu : Inisiatif, kontak, 

menciptakan kesediaan membantu, bagaimana menangani 

masalah, menangani problem, pilihan strategi dan perjanjian. 

Kedua merupakan tahap penelitian. Dalam tahap penelitian ini, 

permasalahan yang diamati melalui diagnosis sistematis dengan 

melihat perspektif aktor dan perspektif sistem, prognosis dan 

segala petunjuk yang membantu prognosis. Ketiga yaitu  tahap 

perencanaan. Dalam tahhap perencanaan ini,  jemaat dibimbing 

agar termotifasi untuk menangani permasalahan yang menjadi 

faktor penghambat dan faktor yang mempelancar dan 

pengembangan. Dalam praktiknya menggunakan metode kerja, 

membuat program dan pengambilan keputusan. Keempat 

merupakan tahap pelaksanaan. Biasanya yang dilakukan dalam 

tahap pelaksanaan ini yaitu  pembagian tugas, deskripsi 

tanggung jawab, penugasan orang atau kelompok, penyesuaian 

tugas termasuk orang yang satu dengan yang lain dan 

komunikasi. Dalam tahap peranan pimpinan sangat dibutuhkan 

di dalam pemberian tugas, koreksi dan evaluasi, diharapkan 

semua tugas yang sudah diberikan dapat dilakukan dengan penuh 

tanggung jawab. Kelima yang merupakan tahap terakhir yaitu  

tahap  pemantapan. Tahapan ini merupakan tujuan terakhir dan 

harus menghasilkan kwalitas yang terbaik melalui identifikasi 

dan tujuan sehingga jemaat merasakan bahwa jeri payah mereka 

menghasilkan buah. 

Pengembangan PJ harus saling berhubungan satu dengan 

yang lainnya dengan memperhatikan hal-hal seperti; 

manajemen, meliputi perencanaan, organisasi, koordinasi dan 

kontrol; sistem fungsional pelayanan pastoral; perawatan 

katekese, sakramen, pastorat, diakonia dan sibernetika; sistem 

                                                     

struktur; meliputi sumber-sumber (manusia dan material), relasi 

dan nilai-nilai; sistem sadaran; meliputi kepuasan pribadi, 

hubungan sesama, kepemimpinan. 

Mendasari keseluruhan hal di atas yaitu  suatu eklesiologi 

yang dianut. Eklesiologi ini yaitu  eklesiologi yang terkait 

dengan teologi Misio Dei. Misio Dei yaitu  misi Allah untuk 

memberikan kehidupan, penebusan, perdamaian dan juga 

keselamatan; dan misi ini menghasilkan transformasi bagi dunia. 

Berarti sangat holistik dan menyangkut materi kejiwaan dan 

spiritualitas, perubahan di gereja, masyarakat, dan semesta. 

Inilah misi Allah Tritunggal yaitu Allah Bapa, Allah Anak dan 

Allah Roh Kudus.14 sebab  itulah gereja Tuhan harus dibangun 

agar hal ini dapat tercapai. 

Gambar 3. Eklesiologi Missio Dei Van Hooijdonk15 

 

Jadi, berbeda dengan pandangan konvensional yang dianut 

banyak orang; gereja yang baik yaitu  gereja yang tenteram, 

setiap orang merasa menjadi bagiannya, tiap orang merasa 

diterima, ajarannya sehat, sarana prasarana memadai, hubungan 

pendeta dan jemaat hangat, dan program gereja yang ada 

memenuhi kebutuhan warga Jemaatnya. Pandangan eklesiologi 

ini yaitu  gereja harus senantiasa berubah atau berkembang agar 

Kerajaan Allah nyata di dunia, agar seluruh misi Allah atau Misio 

Dei tercapai. 

                                                     

 

Untuk mencapai Misio Dei Handi Hadiwitanto dalam 

tulisannya tentang pembangunan jemaat yang vital, di dalam 

pembinaan gereja untuk klasis GKI, menyatakan tujuan PJ  

sebagai berikut : 

“Pembangunan gereja yaitu  keseluruhan upaya yang 

dilakukan oleh GKI untuk merencanakan dan 

melaksanakan proses-proses perubahan secara 

menyeluruh, terpadu, terarah dan bersinambung pada 

semua lingkupnya, yaitu jemaat, klasis, sinode wilayah, 

dan sinode, dalam hubungan timbal balik dengan 

masyarakat di mana GKI hidup dan berkarya. 

Pembangunan gereja bertujuan agar jemaat, klasis, sinode 

wilayah dan sinode GKI, baik sendiri-sendiri maupun 

bersama-sama, mampu mewujudkan persekutuan serta 

melaksanakan kesaksian dan pelayanan sesuai dengan 

kehendak Allah di dalam Kristus di lingkungannya 

masing-masing”.16  

 

Dasar pemikiran ini sebab  pembangunan gereja harus 

mengalami perubahan baik di dalam kehidupan gereja maupun 

di tengah-tengah masyarakat dimana gereja itu melayani.  

Konsep PJ, dipahami bahwa gereja hadir bukan hanya untuk 

dirinya sendiri namun  untuk menjalankan misi Allah. Jadi PJ tidak 

memusatkan perhatian hanya pada pembangunan struktur 

organisasi saja sebab  di balik konsep PJ terdapat pemahaman 

teologis tentang hakekat gereja.  

Berdasarkan pandangan PJ ini maka gereja harus dapat 

memberikan transformasi baik ke dalam dunia selain kepada 

dirinya sendiri agar selaras misi Allah. Jadi eklesiologi dari 

konsep ini terkait dengan misi Allah yaitu ‘misi memberikan 

kehidupan, penebusan, perdamaian dan juga keselamatan’ dan 

                                                     

misi ini menghasilkan transformasi bagi dunia, berarti sangat 

holistik dan menyangkut materi kejiwaan dan spiritualitas. 

Dengan pengertian di atas, maka menurut saya dapat 

disimpulkan bahwa PJ yaitu  teori teologi praktis. Yang 

dimaksud dengan teologi praktis yaitu  penggabungan dari 

pengertian normative dan empiris lalu dikembangkan dalam 

teologi dan ilmu sosial atau ilmu tindak-tanduk sebagai tindakan 

komunikatif dalam pelayanan Injil, oleh sebab  itu. Kelemahan 

dari konsep Hooijdonk terhadap PJ yaitu  bersifat abstrak, dan 

tentunya tidak mudah untuk