Teologi 4
�duduk bersama.“ Berangkat dari
polemik-polemik ‘agama’ di ruang publik akhirnya agama-agama perlu
belajar bersama menguatkan identitas dan menegaskan batas peran-
perannya. Dengan kata lain, belajar bersama dapat menjadi peluang
untuk memposisikan kembali dirinya secara benar sehingga tidak
disalahartikan. Belajar bersama tentu memerlukan wadah. Salah satunya
yaitu dialog. Dengan kata lain keberagamaan di ruang publik Indonesia
menuntut dialog. Perlu sebuah visi dialog bagi masa depan kehidupan
beragama yang kondusif dan konstruktif demi mencegah munculnya
kelompok kepentingan (baik dari kaum beragama maupun kaum pejabat)
yang cenderung radikal-fanatik. Dengan begitu agama tidak menjadi
sasaran penghakiman publik sebab ulah invididu dan kelompok ekstrim
dari agama tertentu. Menurut hemat penulis ada beberapa hal yang perlu
didudukan dalam dialog di Indonesia.
Pertama, membahas kemungkinan koreksi persaudaraan antar
pemimpin agama. Kesepakatan untuk terbuka dan rela memberi dan
menerima koreksi dari sesama saudara pemimpin agama lain berkaitan
dengan moral publik. Koreksi ini mesti dimaknai sebagai bentuk
dukungan dalam suasana persaudaraan sebagai sesama manusia. Jadi
bukan penghakiman. sebab itu perlu menghindari bahasa-bahasa yang
menyinggung (melukai) perjalanan historikal-kultural (dogma, ritus)
suatu agama. Koreksi ini hanya dimaksudkan pada hal-hal yang
berkenaan dengan perilaku destruktif warga agama terhadap kehidupan
umum. Hal-hal yang lebih bersifat praksis hidup sosial: norma dan moral
publik. Maka bahasa-bahasa yang bijak teramat penting dan dituntut.
Kerendahan hati harus menjadi landasan sikap dalam kesepakatan dan
komitmen ini. Meski sulit mewujudkan dialog model demikian sebab
basis historis yang berbeda namun kesamaan sebagai saudara dalam
kemanusiaan dan kasih sebagai inti ajaran setiap agama memungkinkan
dialog ini terjadi.
Kedua, realisasi atas koreksi dalam komunitas intern. Koreksi
sesama saudara beriman segera mungkin ditindaklanjutin dalam asas
kemanusiaan yang adil. Perlu menghilangkan sikap menunda apalagi
acuh tak acuh. Di satu sisi mendengarkan koreksi sementara di sisi lain
membiarkan tindakan kejahatan. Untuk itu, atas setiap perilaku destruktif
warga agama, pemimpin agama harus memberikan kepercayaan pada
hukum formal (negara) untuk mengatur dan mengambil tindakan dengan
tetap memperhatikan martabat kemanusiaan pelaku. Tidak main hakim
sendiri menurut aturan agamanya. Selain itu kesepakatan antar pemimpin
agama perlu diteruskan ke dalam komunitas masing-masing agama
melalui wakil-wakilnya (menjadi sarana koreksi persaudaraan secara
internal) sehingga dengan begitu para warga agamanya semakin mawas
diri dan (bahkan bukan tidak mungkin) antar warga religius tumbuh sikap
untuk saling menjaga dengan kerelaan memberi dan menerima koreksi
tanpa mengingkari keunikan masing-masing.
Ketiga, merumuskan suatu konsensus bersama tentang keterlibatan
diri dalam ruang publik perihal peran dan batasan-batasanya dalam poin-
poin yang terstruktur dengan pemberlakuan sanksi yang tegas.
Konsensus ini dapat dilahirkan dari tafsir dan elaborasi atas nilai-nilai
yang termaktub dalam agama untuk mengingatkan dan meminimalisir
cara-cara tidak elok dalam berpolitik dan bernegara. Konsensus ini tidak
bermaksud menggantikan ajaran khas dalam setiap agama. Hanya
membantu seseorang atau sekelompok orang untuk tidak terperosok
melakukan dosa publik oleh sebab ketidakmampuan mengalahkan
kecenderungan karnal dan dorongan libidinal akan kekuasaan, uang dan
jabatan.
Keempat, menjadwalkan adanya kegiatan live in rutin di komunitas
berbeda agama misalnya Pesantren, Seminari, Vihara, Pura, Biara, dan
Klenteng. Komunitas-komunitas ini yaitu ruang budaya yang
memungkinkan perjumpaan pemeluk agama yang berbeda. Rasa empati,
244 DIALOG SEBAGAI SARANA REPOSISI AGAMA-AGAMA DI RUANG PUBLIK
penghargaan dan damai dapat dipupuk melalui kegiatan demikian.
Kedalaman penghayatan atas agama yang dianut dimungkinkan lahir dari
kegiatan semacam ini sehingga warga agama lebih menghargai
keyakinannya, menjaga esensi agama yang dianut, tidak mudah terhasut
dan tidak ingin “mencermarkannya” dalam kegiatan yang merusak.
Komunitas tersebut dapat juga menjadi tempat untuk duduk bersama
memecahkan problem-problem kemanusiaan universal, dari tataran lokal
hingga global.
KESIMPULAN
Pembicaraan tentang peran agama di ruang publik Indonesia memang
tidak akan pernah selesai dan sebaiknya tak semestinya diakhiri. sebab ,
bagaimanapun dalam dinamika sebuah negara yang plural sekaligus
demokratis layaknya Indonesia, diskursus tentang batas-batas peran
agama di ruang publik akan selalu menjadi wacana yang tidak pernah
mencapai titik final, akan selalu didiskusikan untuk menemukan format
yang tepat terkait keterlibatan agama di ruang publik terutama ketika
dihadapkan dengan politik, negara dan Pancasila. Wacana ini tidak akan
berakhir sebab keterlibatan agama di ruang publik tak jarang dinodai
segelintir individu dan kelompok yang mengatasnamakan agama (Islam)
demi mengejar kepentingan-kepentingan mereka dengan cara anarkis.
sebab mereka agama dalam arti sesungguhnya rentan dihakimi. Padahal
polemiknya pertama dan utama bukan agama namun kaum agamis-
ekstrimis. Maka diskursus tentang peran dan batas-batas keterlibatan
agama di ruang akan terus digemakan dan terus berkembang.
Namun begitu, perlu ada tindakan nyata untuk meminimalisir
polemik-polemik yang mencoreng nama agama. Tidak keliru jika semua
agama mesti belajar dari kenyataan di ruang publik untuk saling
membantu demi membangun hubungan yang kondusif dan konstruktif
dalam sebuah komunitas plural seperti Indonesia. Sebab hal-hal baik
yang datang dari agama tetap diperlukan sebagai sumber moral bagi
warga bangsa. sebab itu wadah cukup efektif yaitu melalui dialog.
Tentu dialog yang memiliki visi ke masa depan bersama. Untuk
sementara (sebab pasti ada perkembangan ke depannya) penulis melihat
model yang efektif yaitu koreksi persaudaraan antar agama, koreksi
persaudaraan intra agama, konsensus poin-poin tentang peran dan
batasan keterlibatan yang disaripatikan dari ajaran-ajaran agama dan
terakhir menjadwalkan kegiatan live in rutin ke komunitas-komunitas
agama.
Model-model ini juga menjadi cermin bagi agama-agama untuk
memposisikan kembali dirinya di ruang publik secara benar sekaligus
menjadi penegas kehadirannya melalui pengaplikasian peran-peran yang
selaras dengan porsinya di ruang publik. Pada akhirnya, diharapkan
tulisan ini memberi refleksi dan inspirasi bagi semua kita untuk saling
belajar terutama belajar bersama di antara agama-agama dari polemik-
polemik yang terjadi di ruang publik Indonesia. Khususnya benturan-
benturan dengan unsur-unsur besar seperti politik, negara dan Pancasila,
yang sejatinya disebabkan oleh kelompok kepentingan yang berada di
bawah payung agama (Islam) yang berafiliasi dengan pejabat yang
berkepentingan.
Dengan begitu akan termanifestasi sebuah kemampuan untuk
bersikap reflektif dan korektif untuk membangun relasi yang kondusif
dan konstruktif di ruang publik. Dengan dialog, (ber) agama pun akan
menjadi semakin terbuka dan tahu diri ketika berada di ruang publik.
Agama mampu memberi batas tegas dan menegaskan identitasnya di
ruang publik.
Dalam media sosial masih banyak orang memakai “Injil” Barnabas
sebagai sarana agama tertentu untuk mengacaukan masyarakat umum,
khususnya orang Kristen dan Gereja. Konon menurut beberapa
pendakwah agama, ‘Injil palsu’ ini dipercaya sebagai sarana propaganda
yang paling ampuh dalam menarik orang beragama Kristen keluar dari
gereja dan meninggalkan agamanya lalu berpindah ke agama seberang.
Banyak orang Kristen yang menjadi mualaf memakainya secara sepintas
lalu sebagai alat kesaksian meninggalkan agama Kristen.
Faktanya, sampai saat ini buku tersebut masih dipakai oleh pihak
antikristen sebagai sarana dakwah dalam perbandingan agama.1 Bahkan
Penggunaan buku “Injil Barnabas” sampai sekarang dipakai sebagai
sarana pertarungan agama di Indonesia. Buku ini dipakai untuk dakwah
terhadap orang Kristen yang rendah pengetahuan agamanya. Dengan
modal berpolemik sedikit, buku yang disebut “Injil” tersebut, dipakai
untuk memindahkan agama atau meneguhkan seseorang yang disebut
“mualaf”. Selain itu, sampai sekarang juga, saya sendiri masih sering
mendengar warga gereja mempertanyakan secara sepintas lalu tentang
Injil palsu ini.
1 Selama ini saya mengumpulkan dan menyimpan bukti-buktinya, bahwa buku Injil
palsu ini dipakai sebagai alat untuk menuduh bahwa kekristenan palsu dan menarik
orang meninggalkan kekristenan. Ada mualaf, pendeta masuk Islam sebab Injil palsu
Barnabas, yang menurut prinsip demokrasi beradab ala HAM dapat terkategori
penistaan/ penodaan agama Kristen.
250 PROFIL KRITIS BUKU YANG DISEBUT “INJIL BARNABAS”
Artikel ini dimaksudkan sebagai usaha akademis dan tidak untuk
berpolemik ulang mengenai Injil yang sudah dibuktikan “palsu” itu.
Secara akademis, penulis menolak sebagai suatu “pelajaran” persaingan
antar ajaran agama-agama dalam studi teologia sekalipun, sebab
merusak peradaban sekarang dalam arti perikemanusiaan globalnya. 2
Namun sebagai usaha pertanggungjawaban iman Kristen masa kini,
teologi menyediakan kajian apologetika sebagai usaha penjernihan ajaran
Kristen dari serangan buku tersebut. 1) Apakah yang dimaksudkan
dengan Injil palsu Barnabas tersebut? 2) Bagaimana kepalsuan buku itu
secara historis dan konten? 3) Mengapa kaum beragama era modern
menghadapi usaha-usaha penyebaran agama dalam propaganda
demikian?
MENGENAI “INJIL” YANG DISEBUT “BARNABAS”
sesudah memerhatikan dengan sepintas buku Injil Barnabas yang cukup
laris di masa lalu (tahun 80-an ke belakang), yang diterjemahkan dari
“The Gospel of Barnabas”3 (sebenarnya aslinya The Gospel of Barn)
yaitu lebih mirip buku essai formal dalam bentuk tulisan masa kini di
dalam bentuk cerita biografi. “The Gospel of Barnabas” diterjemahkan
ke dalam bahasa Inggris oleh Lonsdale & Laura Ragg. Kelak sesudah
membaca buku sepanjang 222 pasal tanpa ayat-ayat ini maka pembaca
jelas melihat bahwa isinya banyak menentang dan ditentang oleh ajaran
Al-Quran dan orang Islam sendiri. Posisi karangan ini yaitu menentang
keempat Injil kanonik yang dipegang oleh orang Kristen sepanjang masa
dan juga dipercayai secara terbatas oleh orang Islam, sebab dianggap
sudah dipalsukan oleh orang Kristen. Dengan alasan inilah, pada tahun
1980-an ada seorang polemikus Kristen bernama Hamran Ambrie
melakukan apa yang dikatakan “apologia” terhadap Guru besar “Studi
Perbandingan Agama” IAIN Jakarta, seperti Hasbulah Bakry.4
Buku ‘Injil Barnabas” ini dalam naskah aslinya –berbahasa Itali-
ditemukan pertama kali pada tahun 1709 (era pencerahan) yang
menganggap dirinya sebagai “ajaran Isa yang asli” bahkan dikatakan
“Injil Isa yang asli” dan mengusulkan untuk membaca karangan ini
melalui kritik sejarah.5 Menurut banyak sejarawan, termasuk seorang
cendikiawan Muslim, Abu Zahrah, menyetujui bahwa naskah asli buku
ini yaitu berbahasa Itali yang ditemukan tahun 1709. namun ia juga
berpendapat tidak masuk akal sebab merasa Injil Barnabas sudah ada
dan dilarang dibaca pada abad ke-5 Masehi, tepatnya tahun 492 M oleh
Paus Galasius.6 Sebagian orang dari sejak semula menyebutnya hanya
sebagai pamflet saja atau selebaran yang diedarkan untuk mengacaukan
iman Kristen sampai zaman kini.
Buku tersebut ternyata ditulis dalam bahasa yang umum pada
waktu itu, yaitu bahasa Itali (bukan Latin) dengan dicampur bahasa ibu
dari pengarang, yaitu bahasa Spanyol. Bahasa Itali sendiri berbeda dari
bahasa Latin yang sudah populer pada abad pertengahan dan renaisans.
Berdasarkan seluk-beluk bahasa yang populer dipakai di atas, maka ada
profesor perbandingan agama di IAIN Jakarta menyatakan ketidak-
setujuannya terhadap buku ini yang dianggap sebagai karya yang tidak
bersih dan dapat memalukan golongan Islam sendiri.7
Faktanya, buku ini tidak bisa diteliti secara kritik sejarah sebab
sesudah dibaca karangan tersebut hanya menunjukkan suatu karya yang
ditulis pada abad pertengahan atau tepatnya pada zaman renaisan awal.
Relasi itu belum begitu dikaitkan oleh para sejarawan atau teolog
Kristen, zaman sebelum kita.
Dari pengetahuan sejarah yang paling umum, kita mengetahui
bahwa pengarang buku tersebut bernama Mustafa de Aranda (Arandi),
yang sebelumya bernama Fra Marino. Seorang Spanyol yang konon
yaitu pernah menjabat Imam Gereja Katolik, namun telah berganti
agama menjadi Islam dan konon secara pribadi masih menyimpan
dendam yang menyala-nyala, akibat penindasan dan peperangan yang
pernah dilakukan oleh gereja pada waktu itu. Seorang bernama J. Slomp
berpendapat bahwa kemungkinan besar orang tersebut yaitu seorang
Muslim yang tadinya beragama Yahudi, yang sempat belajar di Italia
Utara dan menyamar sebagai biarawan Katolik.8
Jadi, dapat dipastikan bahwa tulisan tersebut dikarang sesudah abad
ke-14 Masehi sampai abad ke-16 Masehi. Itulah sebabnya banyak
kesalahan yang tidak dapat dihindari, sebab tidak adanya pengalaman
langsung dengan situasi Yesus berada dan tidak menguasai seluk-beluk
lingkungan, geografis, sejarah, kebiasaan Palestina pada abad pertama
Masehi. Apakah mungkin sebab Mustafa de Aranda tidak mengerti
semangat renaisans atau menutup diri terhadap semangat pembaharuan
intelektual dan kebudayaan umat manusia secara universal? yaitu
tidak mungkin kalau dijawab tidak!. sebab konon menurut cerita, Fra
Marino (sebelum menjadi Mustafa de Aranda) yaitu seorang Imam
Gereja Katolik yang senang mengunjungi perpustakaan dan berkawan
dekat dengan Paus Sixtus V (1585-1590), yang memegang otoritas
perpustakaan kepausan di Roma 9 , walaupun begitu bukan berarti ia
yaitu seorang yang cerdas dan pandai membaca, sebab ada fakta juga
bahwa banyak imam pada abad tersebut buta huruf sama dengan rakyat
kebanyakan zaman tersebut. Seorang antikristen Prancis, seperti
Mourice Bucaelle mendesak Gereja Kristen untuk mengakui bahwa “The
Letter of Barn” yaitu setingkat otoritasnya dengan kanon dan
berdasarkan surat yang ditemukan pada abad kelima Masehi dan
dinyatakan sebagai “Injil” Barnabas (sederajat dengan Injil Tomas 10
dalam apokrifa Kristen). Konon, Injil Barnabas itu selalu disembunyikan
gereja-gereja sebab mengindikasikan kedatangan Muhammad.
Memang benar di dalam gereja purba ada “Surat Barnabas”
namun sangat berbeda dengan “Injil” Barnabas karya Mustafa de Aranda.
Surat Barnabas tersebut tertulis dalam bahasa Yunani dan tulisan tersebut
dimasukkan di dalam kategori apokrifa PB, namun tidak pernah gereja
menyebutnya dengan istilah “Injil”. “Surat Barnabas” yang dikenal baik
dalam sejarah gereja yaitu suatu riwayat rasul Barnabas yang ditulis
pada abad ke-2 Masehi, dimaksudkan untuk memuliakan Pulau Siprus
yang diyakini oleh penduduknya terdapat makam Rasul Barnabas. 11
“The Letter of Barn” dari abad kedua Masehi yang ditemukan pada abad
kelima Masehi memang pernah dilarang oleh Paus Galasius I (492-496),
namun secara licik Abu Zahrah, seorang propagandis Islam,
memutarbalikkan fakta sebenarnya dengan mengatakan bahwa “Injil”
Barnabas yang telah ditahan sejak abad kelima tersebut telah ditemukan
oleh Fra Marino dari perpustakaan Paus Sixtus V pada abad ke-13 M.
Bahkan di dalam kebodohan dan ketidakakuratan dikatakan bahwa Paus
Sixtus V “naik tahta” pada tahun 1889-1890.12 Padahal tahun 1890
diketahui sebagai tahun pertama kali buku “Injil” Barnabas ditemukan di
perpustakaan kota Wina sedang penulisannya pertama, kira-kira 600
tahun sebelumnya.
Diakui karya ini yaitu hasil yang sangat “brilyan” dari seorang
yang sangat kreatif otaknya; tentu dalam arti negatif, yaitu mengarang
kebohongan. Secara riset, buku ini hampir mengandung semua
kesalahan formal maupun informal dalam deduksi, kesalahan penalaran
induksi, seperti kesalahan statistik, analogi, klasifikasi, observasi, dan
kesimpulan. Untuk itulah, seorang ahli studi Islam, berbangsa Yahudi
melihat kejelekkan mutu ilmiah dan intelektual buku ini telah
menyebabkan pemerintah Negara Timur Tengah seperti Iran, pada
pemerintahan Shah, melarang peredarannya sebab dianggap merupakan
pamflet atau propaganda yang tidak bernilai ilmu pengetahuan dan
bersifat pemalsuan.13
Namun benarlah kata pepatah, “Sepandai-pandainya orang
menyembunyikan “bangkai” kepalsuan, “baunya” akan tercium juga”.
Sepandai-pandainya orang menyembunyikan kebenaran, kebenaran sejati
tersebut tidak akan terkubur, namun akan menyatakan dirinya juga.
Sebenarnya, dapat saja orang menyembunyikan identitas diri dibalik
orang lain dengan nama samaran, pertama sebab rendah hati atau tidak
mau menonjolkan diri. namun dapat juga rasa takut atau malu untuk
menunjukkan diri, sebab takut ketahuan “belangnya”. Pengarang “Injil”
Barnabas ini lebih mengarah pada alasan kedua, sebab sampai sekarang
tidak ada orang intelek yang mau mengakui karya tersebut sebagai
kebenaran, namun hanya pemutarbalikan kebenaran atau pemalsuan
kebenaran. Singkatnya, nama samaran yang dipakai pengarang buku ini
tidak mungkin bermaksud untuk merendahkan hati, namun sengaja ingin
mengacaukan kekristenan yang sangat dibencinya pada waktu itu.
Lebih lanjut dikatakan, buku tersebut tidak tercantum ayat-ayat dan
sangat membingungkan sebab banyak sekali permainan kata, menurut
Hamran Ambrie disebut dengan “sulap-sulapan kata”. Namun
sayangnya, sikap dari negara Islam Timur Tengah tersebut tidak diikuti
oleh pemerintah Indonesia, khususnya Departeman Agama RI, bahkan
cenderung membiarkan serta membebaskannya beredar, dicetak, dan
disebarluaskan sebagai alat propaganda Islam di negara ini.
Dengan kata lain, kreatifitas pengarang “Injil” Barnabas sangat
menyimpang dari semangat zamannya yang kritis, objektif, rasional,
metodis dalam menghasilkan suatu karya kebenaran dan menggantinya
dengan motif dan cara yang tidak benar, maksud tidak sehat, sikap yang
pengecut, metodologi tidak konsisten dan lurus, serta propaganda
keagamaan yang tidak bermoral. Isinya mengandung banyak cacat
dalam segala bidang kehidupan yang pernah ada, seperti kesalahan
bidang politis, geografis, kebiasaan/adat dan budaya, sejarah, agama, dan
teologi serta kesalahan nama dan makna nama, sehingga menghasilkan
kesimpulan yang tidak sah sebab cara pikirnya yang tidak bersistem,
selain nafsu untuk memfitnah.
Namun apa boleh buat, mungkin sebab terpengaruh oleh
kemasabodohan dalam peradaban maju beberapa orang Barat yang masih
mengidentikan Gospel of Barnabas termasuk dalam kitab-kitab apokrifa
PB, sebab ingin menujukkan bahwa Yudaslah yang disalibkan sesuai
ajaran Muslim dalam Surat 4: 157-158.14 Padahal tulisan orang Kristen
purba dalam “Surat Barnabas” dari abad ke-2 M sudah ditimbang oleh
gereja mula-mula sebagai “non kanonik,”15 dan tidak otoritatif bagi iman
dan kelakukan orang Kristen. Artinya, buku apokrifa yang bukan dari
abad ke-14 M dan kira-kira 700 tahun sesudah Muhammad (atau kira-
kira 1.100 tahun sesudah apa yang gereja identifikasi selama ini sebagai
surat “pseudo” Barnabas yang konon tersimpan di perpustakaan
kepausan). Secara singkat, sampai sekarangpun buku yang disebut “Injil
Barnabas” dipakai untuk menyangkali kemesiasan dan keilahian Yesus
yang didasarkan pada kepercayaan trinitarianisme. sebab menurut buku
yang didasarkan pada ajaran tauhid agama Islam, menunjukkan
Muhammad sebagai Nabi yang akan datang,16 yang pada zaman gereja
purba yaitu pendapat bidat yang telah ditolak17 bahkan sampai sekarang
oleh Gereja Kristen.
Di Indonesia, buku ini sedikitnya sudah dua kali cetak ulang dan
publisitas terjemah Injil Barnabas sesudah cetakan pertama Surabaya
Mutiara. Buku yang disebut sebagai Injil Barnabas tersebut mirip buku-
buku Islam lainnya pada masa kini yang selalu menunjukkan pada
Kerasulan Muhamad. Dalam Injil Barnabas memang diungkapkan
tentang akan datangnya Rasul bernama Muhammad SAW, sesudah Nabi
Isa.: 1) Bab 39 Barnabas: ''Terpujilah nama-Mu yang kudus, ya Allah
Tuhan kita... Tiada Tuhan Selain Allah dan Muhammad yaitu utusan-
Nya''. 2) Masih pada bab 39 disebut dalam dialog antara Nabi Adam
dengan Tuhan. ''...Apa arti kata-kata, Muhammad utusan Allah, apakah
ada manusia sebelum aku?'' 3). Bab 41 Barnabas: "Atas perintah Allah,
Mikael mengusir Adam dan Hawa dari surga, kemudian Adam keluar
dan berbalik melihat tulisan pada pintu surga 'Tiada Tuhan Selain Allah
dan Muhammad yaitu Rasul Allah...'' 5) Bab 44 Barnabas: 'Oh,
Muhammad Tuhan bersamamu...' 6) Bab 97: Yesus menjawab, "Nama
Mesias sangat mengagumkan, sebab Allah sendiri yang memberinya
nama, ketika menciptakan jiwanya dan menempatkannya di dalam
kemuliaan surgawi. Allah berkata: 'Tunggu Muhammad; sebab kamu
Aku akan menciptakan Firdaus, dunia, dan banyak makhluk... Siapapun
yang memberkatimu akan diberkati, dan barang siapa mengutukmu akan
dikutuk..'' 7) Bab 112: “…sedang orang yang dibunuh sebenarnya
yaitu seorang pengkhianat yang wajahnya diubah seperti Nabi Isa. Dan
orang-orang akan percaya bahwa yang disalib itu yaitu Nabi Isa.”
''namun Muhammad akan datang... Rasul Allah yang suci,'' kata Nabi Isa.
Nama Nabi Muhammad juga disebut pada Bab 136, 163, dan 220.
Menurut Laman Al-Arabiya, meskipun spekulasi tentang kitab
kuno yang diduga sebagai Injil Barnabas itu meramalkan kedatangan
Islam, namun sejauh ini tidak ada bukti yang menegaskan hipotesis
tersebut. Namun skeptisisme tetap muncul sebab kontradiksinya dengan
Al-Quran. "Sebagian besar studi tentang kitab ini menyatakan Injil
Barnabas hanya kembali ke 500 tahun yang lalu. Sementara, Al-Quran
telah ada sejak 1400 tahun silam," demikian tulis Al-Arabiya,
(Republika.co.id, London , Senin 27/2). Adanya kontradiksi inilah yang
menjadi alasan utama mengapa para sarjana Arab mengabaikan
terjemahan bahasa Arab Injil tersebut, yang diterbitkan 100 tahun lalu.
Sebagaimana diulas secara rinci oleh penulis dan pemikir Mesir, Abbas
Mahmoud Al-Akkad. Dalam sebuah analisis yang ditulisnya pada 26
Oktober 1959 di surat kabar Al-Akhbar, "Sejumlah deskripsi yang
tertulis dalam Injil itu merupakan kutipan orang-orang Eropa dari
sumber-sumber Arab," ungkapnya. Seorang pendeta Protestan Ihsan
Ozbek mengatakan Injil itu berasal dari abad ke-5 atau ke-6. Sementara
Barnabas yang merupakan pemeluk pertama Kristen hidup pada abad
pertama. "Salinan Injil di Ankara mungkin telah ditulis ulang oleh salah
seorang pengikut Barnabas," kata dia. "Umat Islam mungkin akan
kecewa bahwa Injil ini tidak ada hubungannya dengan Injil Barnabas,"
ujarnya. Sementara Profesor Omer Faruk menilai Injil kuno itu perlu
ditelusuri lebih lanjut guna memastikan Injil itu dibuat oleh Barnabas
atau pengikutnya. Walau pada laman yang sama sesudahnya dimuat satu
artikel lagi dengan Injil Barnabas yang asli ditemukan lagi di Turki pada
tahun 2012.18 Selanjutnya Dr. Abbas Mahmoud Al Aqqad, seorang Guru
besar terkenal di Universitas Al-Azhar di Cairo, Mesir, mengajak umat
Muslim sedunia untuk menjauhkan diri dari yang disebut “Injil
Barnabas”. Dalam bukunya, ia menguraikan kepalsuan Injil tersebut. Ia
berkesimpulan kitab ini bukan saja menyerang ajaran agama Kristen
namun juga Islam.19
Diluar itu, kita sudah sering mendengar buku ini diajukan sebagai
klaim ‘Injil yang benar atau asli”. Pada tahun 2012 yang lalu dikisahkan
penemuan kembali Injil asli Barnabas di Ankara, Turki, sedang Injil
Barnabas ada di musium Ankara juga. Media online sekelas
Republika.Co.Id, 20 meyakini penemuan buku kuno yang diyakini berusia
1500 tahun telah membuat heboh dan menggemparkan, khususnya dunia
Islam yang melihatnya, apa yang dikatakan bahwa “Injil” kuno tersebut
ternyata memprediksi kedatangan Nabi Muhammad SAW sebagai
penerus risalah Isa (Yesus) di bumi. Padahal yang dimaksudkan gereja
purba yaitu era rasuli dan bapa gereja mula-mula sebelum abad ke-5M,
bukanlah renaisans abad pertengahan akhir (15M). Sebagian orang
memprediksi Injil tersebut yaitu Injil Barnabas. Injil yang tersimpan di
Turki itu ditulis tangan dengan tinta emas dan berbahasa Aramik, bahasa
yang dipercayai digunakan sehari-hari oleh Yesus. Di dalam Injil ini
dijelaskan ajaran asli Yesus serta prediksi kedatangan penerus kenabian
Buku putih “Injil Barnabas” yaitu hasil kreativitas revolusioner dari
seorang Eropa pada zaman renaisans yang kelihatannya berniat balas
dendam dengan memutarbalikan kitab suci Kristen (Injil), sebagai suatu
kebenaran agamawi yang paling mendasar dan menyentuh hati nurani
orang kristiani. Pengarang buku itu mungkin dapat dikatakan sebagai
seorang yang dicelikkan secara intelektual pada zamannya sekaligus
menyalahgunakan semangatnya dengan penipuan. Lalu dipakai untuk
pembohongan publik pada masa kini, dengan mengatakan, “Inilah Kitab
Suci yang asli!”. Hal ini dapat dikatakan sebagai kejahatan intelektual
dan budaya dari semangat keberadaban dan humanism renaisans.
Pada zaman pertengahan, terutama pada akhir-akhir abad
pertengahan, ketika munculnya semangat pembaharuan kebudayaan dan
intelektual, kebiasaan memakai nama orang lain, menyembunyikan diri
dibalik agama orang lain atau memalsu nama orang lain sudah tidak
(laku) pada tempatnya lagi dan ditinggalkan orang. Mungkin hal ini
disebab dianggap upaya yang tidak bermoral, pengecut, dan tidak sesuai
dengan pembaharuan intelektualitas dan semangat revolusioner zaman
tersebut. Walapun alasannya yang tidak jelas secara eksplisit, namun
orang-orang zaman renaisans yaitu orang yang berani menunjukkan diri
di tengah-tengah zamannya. Dengan kejujuran membela kebenaran yang
diyakininya dan berdasarkan penelitian yang objektif atau mungkin
merasa sudah waktunya untuk menunjukkan diri dalam kejujuran
walaupun resiko buruk menanti.
Buku yang disebut “Injil” tersebut, sampai sekarang masih dipakai
sebagai usaha fitnah terhadap kekristenan historis dengan menuduh
keempat Injil kristiani (Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes) sebagai
bukan Injil sesungguhnya. Propaganda agama berdasarkan barang
“palsu” tersebut dipakai sebagai usaha yang dapat menjauhkan simpati
terhadap agama Islam. Bahkan banyak sarjana Muslim sendiri merasa
malu dengan cara dakwah agama seperti itu. Banyak yang berkeberatan
atas karya tulis yang tidak sesuai dengan fakta-fakta kebenaran yang
diajarkan oleh Islam sendiri. Walau hanya orang yang tidak terlatih
berpikir kritis dan objektiflah yang dapat menerima kesalahan menjadi
kebenaran lalu bersemangat untuk memperdaya orang beragama lain atas
nama penyiaran agama. Rekayasa agama ini ada niat jahatnya terhadap
peradaban manusia, khususnya kekristenan historik. Sebagai “karangan”
(dalam arti fiktif) menekankan ketidakpedulian akaliah untuk
memaksakan kehendak dalam syiar sesat melalui sarana palsu ini. Ini
hanya alat provokasi.
Karya imaginatif berdasarkan hasil perekayasaan atas keempat Injil
kanonik, juga pernah terjadi pada abad modern ini, yaitu pada tahun
1980-an dengan beredarnya karya film “The Last Temptation”, yang
banyak diktirik oleh kaum beragama sebagai penghujatan agama.
Namun berbeda dengan “Injil palsu” zaman renaisans tersebut, film ini
dengan jujur mengakui dan menuliskan bahwa ini hanyalah karya fiksi
semata-mata (walau didasarkan pada fakta-fakta Injil) dan hanya untuk
berkarya seni belaka. Konon di Barat, “Injil” Barnabas ini tidak
diperhatikan orang, namun di negara-negera dunia ketiga sangat banyak
dipakai untuk dibahas, sebagai suatu karya kontradikif dan alat
islamisasi.
Dalam seni persuasi zaman renaisans yang sangat berkembang di
dalam mata pelajaran Retorika (liberal arts), buku dalam bahasa Itali
tersebut dicampur dengan dialek Spanyol dan terbitan selanjutnya diberi
catatan pinggir dalam bahasa Arab. Ini boleh dikatakan sangat tidak
berhasil, sebab tidak mungkin seorang Barnabas dari Yahudi abad 1M
menulis dalam bahasa tersebut. Pada waktu itu lingua franca kebudayaan
zaman rasul Barnabas yaitu bahasa Yunani dan bahasa pergaulan di
antara orang Yahudi yaitu bahasa Aramik. sedang bahasa Itali yang
dipakai oleh Barnabas palsu baru muncul pada abad 14 M, jadi lebih dari
tiga belas abad (1300 tahun) sesudah zaman Barnabas dan Yesus Kristus
yang diriwayatkannya.
SECARA HISTORIS KRITIS
Persuasi kebenaran zaman renaisans yaitu usaha yang tidak suka
menyerang atau menyalahkan orang lain, namun membahas pendapat dan
proposisi lawannya serta menjelaskan pendapatnya sendiri secara
rasional dan objektif lalu membiarkan orang lain menilainya sendiri
dengan bebas. Dalam persuasi zaman kapanpun, pasti tidak dapat
meyakinkan seseorang, kalau sebelumnya telah terlebih dahulu
menyerang dan memfitnah habis-habisan lawannya. Mengemukakan
pendapat yaitu hak azasi manusia yang secara sadar ingin merubah
keyakinan inti seseorang. Sekali lagi hal itu yaitu normal, apalagi bagi
agama misioner atau agama dakwah, seperti Kristen dan Islam. Namun
kenormalan tersebut telah dikotori secara tidak sehat, sebab kebebasan
tersebut telah disalahgunakan dengan unsur kepalsuan dan
pemutarbalikkan kebenaran. Dakwah demikian sangat tidak terhormat
dan tidak bergengsi, sebab hanya menunjukkan ketidakmampuan
intelektual seseorang saja. Kesalahan dan ketidakakuratan dalam
menyerang orang Kristen begitu nampak sehingga dapat menjadi
“counter attact” terhadap golongan penyerang sendiri dan menjadi
“senjata makan tuan”.
Menurut Drewes dan Slomp yang pernah memeriksa pemakaian
bahasa Itali dari naskah asli buku “Injil Barnabas”, mengandung banyak
kesalahan bahasa terutama tidak bagus dalam memakai bahasa dan tidak
cermat dalam menyajikan data. Mungkin juga dapat ditarik kesimpulan
bahwa Fra Marino pada dasarnya yaitu seorang bodoh dari zaman
renaisans; kecerobohan membaca dan kesimpulan-kesimpulannya
prematur serta tidak konsisten dalam berpendapat, namun nafsunya untuk
menindas kekristenan sangat besar sehingga menghasilkan karya
konfrontatif tersebut. Jika sebagai seorang yang cerdas, “Barnabas”
gadungan tersebut pasti akan memikirkan akibatnya secara matang bagi
golongan Muslim sendiri atau ajaran agama Islam secara keseluruhan.
Sudah banyak fakta yang diungkapkan oleh G. Van Schie dalam
bukunya Agama Kristiani Dalam Konteks Agama-agama Lain
mengatakan, “Orang-orang di abad pertengahan banyak yang buta huruf
dan tidak mengerti membaca, termasuk para imam, sehingga dalam
pentahbisan para imam sering menjadi kendala.21 Kelihatannya dendam
yang membara di dalam diri Fra Marino membuat ia tidak rasional lagi
untuk membuat buku yang tebalnya empat kali lipat Injil-Injil asli dengan
jumlah 222 pasal. Suatu karya yang kontroversial dan tidak mungkin
ditulis oleh orang abad pertama masehi, sebab belum ditemukannya alat
tulis-menulis yang menyokong keberhasilannya. Dari ketebalan buku
tersebut (dibandingkan dengan Injil yang sebenarnya) dan jumlah
pasalnya saja terlihat sangat jelas, maka dipastikan bahwa Mustafa de
Aranda telah menyatukan keempat Injil (asli) Kristiani yang ada
ditambah dengan catatannya sendiri yang bersifat islamistis.
Selain itu, pemakaian tinta dan kertas untuk naskah asli yang
ditemukan mengindikasikan bahwa kertas tersebut secara struktur fisik
kimiawinya yaitu suatu bahan yang biasa dan baru muncul di abad ke-
14 Masehi. sedang papirus yang dipakai abad kelima dalam Surat
Barnabas yaitu papirus kulit kayu atau perkamen dari kulit binatang
yang biasa pada zaman abad kelima dan sebelumya. Rasul Barnabas
tidak mengenal kertas asli buku tersebut dan bahasa yang dipakai oleh
Mustafa. Namun lain ceritanya kalau orang dari abad ke-16 Masehi
tersebut mengangku diri sebagai Barnabas atau berlindung di balik nama
alkitabiah Barnabas yang hidup di abad pertama Masehi.
Secara keseluruhan, tulisan ini tidak berusaha menyodorkan
kebenaran baru, seperti layaknya orang renaisans zaman itu, mencari
sesuatu yang baru dan berharga, namun secara sengaja dan sadar
mengubah suatu kebenaran yang lama dan sudah benar
mencampurkannya dengan ajaran lain dan mengakuinya sebagai
kebenaran. Ia tidak berhasil menemukan kebenaran itu sendiri, namun
memperalat kebenaran yang sesungguhnya dan mengubahnya untuk
“membenarkan diri” dan golongan sendiri. Namun demikian, menurut
Anis Sorrosh, sampai sekarang buku ini sangat populer dipakai sebagai
21 yaitu fakta di dalam sejarah bahwa banyak orang di abad pertengahan itu buta
huruf, termasuk juga para imam, apakah mungkin Mustafa de Aranda yaitu seorang
tidak begitu pandai membaca, namun senang membaca dan Keperpustakaan Kepausan di
Roma, (di mana temannya ) Paus Sixtus berkuasa.
262 PROFIL KRITIS BUKU YANG DISEBUT “INJIL BARNABAS”
propaganda Islam untuk menarik banyak orang Kristen masuk Islam,
dengan alasan: 1) Meniadakan kekristenan ala Paulus, 2) Yesus sendiri
menyangkali diri yaitu Mesias, 3) dan meramalkan kedatangan
Muhammad.22
Ketidakberkualitasan Fra Marino alias Mustafa de Aranda semakin
nyata ketika ia menipu teman-teman dari golongan agamanya sendiri
dan menyesatkan warga Muslim yang tidak mendalam dengan
mengatasnamakan Barnabas teman seperjalanan Paulus dalam perjalanan
penginjilan. Hal yang selalu dicari-cari sebab kebenciannya terhadap
Paulus yang dianggap sebagai pemula kekristenan sesudahnya dengan
sebutan paulinisme, sedang Barnabas yaitu lawan Paulus yang
dianggap sebagai pengikut Kristus yang sesunguhnya (Kristen asli).
Mengapa Fra Marino tidak berani menyebutkan dirinya sendiri sebagai
pengarang buku yang fiksi-kreatif tersebut, namun harus
mengatasnamakan Barnabas, rasul Kristus, padahal ia sama sekali tidak
mengenal Barnabas dengan jelas? Di sinilah ketidakjujuran Fra Marino
yang tidak dapat ditolerir oleh orang-orang beragama apapun.
Kreatifitas Fra Marino atau Mustafa de Aranda sangat mirip dengan
karya Salman Rusdhie, The Satanic Verses yang kontroversial dan
menghebohkan dunia Islam, namun bedanya Salman Rusdhie mengakui
karya fiksinya secara terbuka dan jujur.
Pesannya secara keseluruhan dari “Injil palsu Barnabas” tersebut
bukannya berita gembira, di mana manusia berdosa dibebaskan melalui
pengorbanan Kristus, namun justru beban baru bagi orang berdosa. Injil
itu sendiri yaitu berita sukacita sebab pembebasan dari dosa yang
mematikan secara kekal, namun dalam buku tulisan Mustafa de Aranda,
Injil tersebut bukannya Injil lagi, namun suatu beban yang membawa
manusia berdosa tidak berpengharapan akibat dosa yang tidak dapat
ditanggulanginya dan secara pasti menuntutnya ke neraka. Menurut
seorang Pastor Katolik, karya yang disebut “Injil” Barnabas ini tidak
pantas disebut dengan Injil, apalagi disebut Injil tentang Tuhan kita
Yesus Kristus,23 namun hanya berita kematian dan penghukuman neraka.
Tidak ada pesan pembebasan sama sekali di dalamnya yang sesuai
dengan hakekat Injil yang sebenarnya, hanya berita penegasan hukuman
dosa dan jalan buntu. Jadi Injil palsu tersebut bukan berita sukacita,
namun benar-benar berita dukacita, bukan berita keselamatan namun hanya
berita penghukuman dosa.Tidak ada harapan yang didapat dari dalam
buku “Injil palsu” tersebut. Buku tersebut menyebut Yesus sebagai
Kristus, artinya Juru selamat, namun dalam bagian lain menyangkali
kejuruselamatan-Nya.
MENGHADAPI TANTANGAN
SPIRIT PASCAMODERNISME
Kelihatannya Injil palsu Barnabas masih popular dalam kalangan
intelektual Muslim dan terus dipenetrasikan idenya lewat buku-buku.
Termasuk dalam khotbah dakwah di masa kini sering dipakai sebagai
sarana meyakinkan umat. Mungkin salah satunya buku agama dan
Marxis yang sepintas mengutarakan Marx sebagai asal-usul ateisme dan
penolakan kapitalisme; sebenarnya maksudnya yaitu Kristen atau
ajaran- ajaran Kristen, khususnya Tritunggal dan keberadaan Injil-Injil
yang dipalsukan dalam keempat Injil, sedang Injil yang lain dan
benar dibuang secara politik Kristen. Dikatakannya “mereka telah
membuang kitab-kitab yang lain yang terkenal dengan nama kitab-kitab
apochripha—Injil-Injil rahasia di antaranya Injil Barnabas. 24 Dalam
apokrifa Kristen memang ada surat Barnabas, bukan Injil Barnabas yang
menekankan ajaran Muslim, khususnya kenabian Muhammad yang
dipadu dengan Injil gnostik tentang Yesus dan masa kanak-kanak Yesus.
Padahal buku yang dianggap sebagai “Injil” asli itu buatan orang
abad ke-16, yang dapat dikatakan sebagai hasil anak zaman renaisans,
bahkan anak spirit kegelapan era pertengahan sebelumnya. Pada era
sekarang, argumen yang memakai buku itu dapat dianggap ketinggalan
zaman dari segi bukti historis dan konten, namun mungkin masih manjur
untuk propaganda agama. Namun secara umum perlu dinilai kembali,
apakah nilai keberadabannya masih dapat dipertanggungjawabkan,
mengingat pada masa kini konflik sebab agama yaitu hal yang sangat
memilukan bagi kemanusiaan. Faktanya, ada beberapa pandangan dunia
yang bersfat ideolois dibelakang serangan antikristen yang ada di
belakang buku yang disebut “Injil Barnabas”: 1) Islamisme, 2)
Monoteisme anti trinitarianisme, 3) Rasionalisme agama, 4) Etika
posttruth.
TINJAUAN KRITIS SEBAGAI LITERATUR
Kreativitasnya yaitu suatu yang orisinal, di mana keempat kitab Injil
dijadikan satu dan diharmonisasikan dan dikendalikan oleh ayat-ayat Al-
Quran, sehingga menghasilkan suatu kitab suci “Kristen” yang
meninggalkan ajaran Kristen sesungguhnya dan jauh sekali dari
kekristenan, sambil membenarkan agama yang selama ini paling
menentang ajaran Kristen. Namun sebenarnya karya harmonisasi seperti
ini pernah dilakukan oleh orang-orang Kristen purba seperti Tatian,
dengan karyanya Diatessaron .
Bedanya Tatian melakukannya dengan maksud untuk memuliakan
Yesus Kristus, namun “Injil” Barnabas dimaksudkan untuk menghujat
Kristus dan menjelekkan kekristenan. Karya renaisans yang tidak
bermoral ini dipakai oleh orang zaman sekarang untuk menyerang
kekristenan yang keberadaannya sangat dibenci oleh orang-orang
tertentu. Sebenarnya gereja purba (juga filsuf-filsuf Yunani) di abad-
abad permulaan sampai awal-awal abad pertengahan memakai nama
orang lain untuk menyembunyikan diri atau juga menyembunyikan
identitas diri dibalik nama besar yaitu suatu yang biasa.
Dalam sejarah gereja Kristen banyak ditemukan Injil dan surat-
surat Rasul non kanonik dari abad kedua sampai abad kelima, seperti
Injil Tomas, Injil Petrus, Surat gembala Hermas, Surat Barnabas, Kisah
Petrus, Kisah Paulus, Kisah Yohanes, Wahyu Petrus, dll, namun
semuanya itu sudah ditolak sebagai kitab-kitab kanonik oleh orang
Kristen mula-mula sebab dianggap memakai nama palsu.25 Bahkan jauh
sebelum itu dalam kalangan Yahudi ditemukan kitab-kitab non kanonik
PL (era intertestamental), seperti “Pseudographa” dan “Apokripha” yang
juga menuliskan nama palsu sebagai pengarangnya agar terlihat lebih
berotoritas.26 Namun bukan berarti buku-buku tersebut tidak berarti sama
sekali bagi kekristenan, khususnya bagi latar belakang penelitian Alkitab.
Ada banyak manfaat penting dan positif yang dapat dipelajari dari dua
kategori tulisan di atas.
Dalam buku Reinventing Jesus yang telah diterjemahkan kedalam
bahasa Indonesia, terlihat ada tiga orang pakar Perjanjian Baru Injili
sedang mengkaji keempat Injil kanonik mengenai Yesus, dibandingkan
dengan tulisan-tulisan apokrifa. Dalam apokrifa PB terdapat beberapa
Injil, surat kiriman, kisah, dan wahyu. Terkait dengan itu kelompok
“Jesus Seminar” sangat menyenangi Injil gnostik dan docetik yang baru
ditemukan pada abad modern ini, apakah itu Injil Yudas, Injil Tomas,
dan juga Injil Masa Kecil Yesus yang banyak menyoroti Maria juga.27
Namun anehnya, dalam apokrifa PB tidak ada Injil Barnabas, melainkan
Surat Barnabas. Dari segi volume Injil dan surat memang berbeda, surat
yaitu sesuatu yang dikirim untuk mengatasi situasi gereja secara
tertentu sedang Injil yaitu biografi mengenai Yesus. Kalau melihat
Injil Barnabas yang sangat tebal dengan 222 pasal, beberapa orang
melihat sebagai harmoni keempat Injil seperti kitab Diatessaron dari
Tatian, di dalam sejarah awal kekristenan. Namun di sini, “Injil” palsu
Barnabas kelihatannya seperti bukan hanya non Injil, namun juga ekstra
apokrifa atau tepatnya ekstra pseudopigrafa, jauh sesudah masa-masa
awal kekristenan. Hal ini jelas kalau dilihat isinya terdiri dari Injil
gnostik, Injil diocetik, dan Injil masa kanak-kanak Yesus ditambah
dengan Al-Quran. Jadi tidak mungkin Injil palsu Barnabas ini dari gereja
purba bahkan dapat dikatakan jauh sesudah Kristen bertemu dengan Islam
di Eropa. sebab kandungan Al-Qurannya sangat jelas dan maksud
islamisasinya sangat kuat. Namun kalau cerita masa kanak-kanak Yesus
dan cerita rahasia Yesus memang bersumber dari Injil gnostik dan Injil
kanak-kanak Yesus dalam apokrifa. Injil Barnabas bukanlah surat
Barnabas. Secara genre sastera surat yaitu surat dan Injil yaitu Injil
berbeda dalam karakternya sendiri-sendiri.
Sejak Lonsdale dan Laura Ragg menerjemahkan The Gospel of
Barnabas dari bahasa manuskrip berbahasa Italia yang konon dilakukan
di Perpustakaan Viena lalu mempublikasikannya tanpa penerbit dan
tahun. Maka buku ini sama seperti buku yang dipalsukan selalu
mengklaim, “True Gospel of Jesus a new prophet sent by God to the
world: according to the description of Barnabas, the apostle tertera
sebagai judulnya.” 28 sedang judul paling depan The Gospels of
Barnabas mungkin hanya tempelan publisher. Ini versi novel yang
didasarkan nama-nama historis namun isi ceritanya tidak benar secara
sejarah atau fiksi saja. Zaman sekarangpun banyak orang menulis fiksi
tentang Yesus, kalau dulu disebut “legenda.”
Kita tidak dapat menelusuri naskah aslinya dalam bahasa Latin
untuk melihat terjemahannya secara benar. Namun kita asumsikan bahwa
penerjemahan dari Lonsdale dan Laura Ragg yaitu literal dan valid.
Sebagai “Buku putih” ternyata cepat ditangkap oleh orang Muslim dan
diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, dan mungkin juga di setiap
bahasa lokal yang berpenduduk Muslim. Selain buku putih alias panduan
juga dipakai sebagai senjata pamungkas untuk menyerang kekristenan.
Cukup sulit menelusuri pemikiran Lonsdale dan Laura Ragg, namun
tidak terlalu sulit menangkap maksudnya pada masa itu sebagai
minoritas. Kita anggap saja, mereka menciptakan buku putih, mungkin
layaknya Salman Rushdie menciptakan “komik” berjudul Satanic Verses
yang konon juga dipakai sebagai senjata pamungkas menghadapi
Muslim.
Kalau pada masa kini disebut fiksi yang menceritakan dalam
sejarah namun tidak bersifat historis. Ini yang dikatakan pada masa kini
dengan science fiction saja. Dan ternyata Mustafa de Aranda sudah
mendahului historical fiction ini pada abad ke-16 M namun sebelumnya
banyak tulisan pseudonym (nama samaran) yang sudah muncul di
kalangan Kristen dan bukan Kristen. Bahkan secara tidak sadar
dikalangan Kristen sudah ada buku Diatessaron yang yaitu karangan
orang Kristen yang menggabungkan secara harmonis keempat Injil
kanonik. Kemungkinan besar Mustafa de Aranda tidak tahu ini dan
melakukan hal yang sama secara salah kaprah dalam bingkai islamiknya
dan Al-Quran.
Dalam buku Four Gospel One Jesus diungkapkan suatu jalan dan
dorongan untuk menafsirkan kembali Yesus yang satu tersebut dari masa
ke masa dalam pergumulan yang dihadapi orang Kristen. Richard A.
Burridge melihat keempat Injil kanonik itu menceritakan satu Yesus saja
dengan berbagai gambaran dan tindakan dari keempat penulis Injil
tersebut. Jadi tidak harus dengan cara harmonisasi keempat Injil tersebut
mengenai Yesus, seperti yang pernah dilakukan oleh Tatian dalam
Diatessaron. 29 Hal mencampuradukkan pecahan-pecahan gambar
tersebut pernah dilakukan juga pada era ini, khususnya dalam karya-
karya Yesuologi, masa kini. Kalau orang berafiliasi Injili berbicara
kristologi pasti berbeda dengan pandangan non injili apalagi non Kristen.
Kaum Injili memandang Kristus sebagai tebusan pengganti dan jalan
pendamaian antara manusia dan Allah, terlepas dari cara
menteorikannya. Memang ada kristologi liberal yang melihat Kristus
hanya sebagai contoh teladan sosial yang dihormati dalam pengorbanan
agar gereja mengikuti-Nya secara pengaruh moral-Nya di masyarakat.
Namun mereka pun melihat Yesus sebagai pribadi yang mati di kayu
salib, bukan disamarkan oleh Yudas dan tidak pernah disalibkan seperti
dalam penjelasan buku Injil Barnabas.30 Kalau dilihat karya bapa gereja
dalam “Barnabas Epistle (2 AD)”31 yang dikategorikan apokrifa, artinya
tidak otoritatif oleh gereja namun dapat dibaca sebagai sejarah
kekristenan awal. Mereka memang mengenal Barnabas sebagai utusan
misi bersama Paulus. Di dalam sejarah Kristen awal, Alkitab mencatat,
Barnabas memang merupakan salah satu nama penting. Dalam Kisah
Para Rasul menyebutnya sebagai lima orang dari jemaat Antiokhia yang
menjadi titik pengutusan misi ke Barat, kepada orang-orang bukan
Yahudi. Semua orang ini yaitu berasal dari bukan percaya, termasuk
Barnabas dan Paulus sebagai orang Yahudi yang kuat dalam tradisi (Kis.
11:27-29). Bahkan dikatakan Barnabas yaitu pemimpin jemaat
Antiokhia, sebab namanya disebut paling pertama; ia yaitu seorang
Ibrani bukan Helenis.32
namun tidak ada satupun bapa-bapa gereja yang mengenal
‘Barnabas’ jenis ini (Mustafa de Aranda). Sampai sekarang tidak ada
yang menyimak dan mendukung teori kristologis bahwa Yesus tidak
disalibkan seperti dalam buku Injil Barnabas tersebut. Melainkan Kristus
sebagai penebusan pengganti bagi dosa-dosa manusia dan
menyelamatkannya secara sorgawi. Apa yang disebut sebagai kristologi
oleh Muslim di dalam kuliah-kuliah dan perdebatan agama hanyalah
Kristenologi sama seperti pelajaran Islamologi, yaitu suatu pelajaran
tentang agama Kristen bukan doktrin Kristus.
Memang benar dalam apokrifa PB yang disebut surat Barnabas
dinyatakan sebagai Barnabas palsu sebab berasal dari abad kedua, serta
ditulis dalam bahasa Yunani, namun tulisannya bukan ditulis atau disuruh
oleh rasul Barnabas yang merupakan teman perjalanan misi Paulus.
Penulis surat Barnabas ini bukan orang jahat di dalam sejarah gereja,
sebab pada waktu itu merupakan hal biasa memakai nama otoritatif
untuk menguatkan tulisannya agar dibaca orang. Dan dalam tulisan
tersebut masih kental dengan kemesiasan Yesus sebagai Tuhan dan
Juruselamat. Kristologi jemaat Antiokhia sangat kuat pada kristologi dari
atas, terlihat dari pembentukannya dalam istilah-istilah Kristus, Tuhan,
dan Anak Allah dalam masa antara penyaliban Kristus sampai pertobatan
Paulus. 33 Bahkan di Anthiokialah orang pertama disebut “Kristen”
(christianoi) dengan implikasi penderitaan dan penganiayaannya secara
politik dan psikis. Ini dapat dibandingkan dengan nama sebutan sekte
Nazara, yang sekarang lebih dikenal sebagai Nasrani oleh kaum
mayoritas. Hal itu terkait dengan buku Injil Barnabas yang memakai kata
“Nasrani” seperti dalam Al-Quran. Kata itu tidak ada dalam keempat
Injil kanonik yang memakai terjemahan Arab sekalipun, bahkan secara
umum orang Kristen Arab memakai kata “Yesus” dan Kristen” bukan Isa
atau Nasrani. Walaupun sebutan Nasrani sampai sekarang masih
dipakai di kalangan Muslim bahkan istilah itu dikenakan kepada Kristen
sebagai suatu stigma penganiayaan atau penderitaan di daerah-daerah
minoritas Kristen.34
Mirip dengan motif islamisasi dari buku “Injil Barnabas”, sekarang
ada fenomena lain dari diputarnya film religius beberapa tahun
belakangan ini, seakan-akan ingin mengangkat kembali kisah-kisah
hoaks masa lalu yang berusaha untuk merusak sendi-sendi kekristenan.
Salah satunya yaitu tentang patung Bunda Maria di bekas Gereja
Ortodoks di Eropa dengan komentar bahwa Maria “berhijab” yang
bertuliskan dua kalimat syahadat dalam bahasa Arab. Entah ‘nama’
Maria yang mana yang dimaksudkan, namun arah dialog dalam sinetron
itu ingin mengungkapkan seorang mualaf yaitu Maria yang identik
dengan Maryam dalam tulisan Arab. Artinya, ada usaha sekelompok
orang beragama pada masa kini hendak menujukkan bahwa Maria pun
seorang muslimah, sehingga konon dapat dipakai untuk mendorong
“orang Kristen” yang berkomitmen rendah dalam pemikiran
berkompromistik untuk “mempelajari” dan akhirnya meninggalkan
agama Kristen. Terlepas dari ketidaklogisan film itu, —faktanya agama
Islam baru muncul sejak abad ke-7 M—kira kira 700 sesudah Maria
hidup. Kemudian narasi-narasi hoaks yang mula-mula disebarkan oleh
kekhalifahan Ottoman pada abad ke-12 sampai 14 M ketika penaklukan
Islam atas Eropa yang biasanya diikuti dengan islamisasi vandalistik atas
segala sesuatu yang berbau Kristen, baik gedung gereja, orang-orangnya
serta tradisi Kristen, dll. Faktanya, museum tersebut yang tadinya yaitu
gedung gereja dan pernah dijadikan Masjid lalu sekarang beberapa
bagian dijadikan Museum.
KESIMPULAN
Buku Injil Barnabas memang diakui sebagai Injil palsu. Namun demikian
masih tetap dipakai oleh propagandis agama secara bergerilya untuk
memangsa orang Kristen yang lemah komitmen teologisnya. Inilah yang
dikatakan sebagai keampuhan buku tersebut sebagai bahan berita
‘mualafisasi’ gereja-gereja secara tidak disadari oleh orang Kristen
sekarang.
Gereja-gereja juga harus waspada dengan kondisi ini, sebab
ternyata buku ini masih banyak dipakai untuk “menjerat’ warganya yang
berkomitmen iman lemah dan rendah. Dalam kondisi dan situasi ini,
orang Kristen sekarang berada di tengah-tengah kancah persaingan
agama-agama dengan alasan dakwah. Gereja-gereja harus sungguh-
sungguh menyadari untuk mengajarkan doktrin kepercayaannya yang
solid kepada keturunan Kristen religius. Hal ini bukan untuk pembelaan
agama semata namun usaha pastoralia warga gereja, khususnya diarahkan
untuk meneguhkan kepercayaan umat dalam lingkungan kristiani.
Syukurlah, iman sejati yaitu anugerah Allah sehingga dapat
mempertahankan dirinya sendiri, namun sebagai orang Kristen tetap
menderita dalam penganiayaan mental dan spiritual. Semoga dapat
melegakan hati dan pikiran Kristen yang skeptik dan lemah.
Buku “Injil Barnabas” sebagai sarana untuk model dakwah agama
yang ketinggalan zaman; suatu penilaian baru ia hanyalah buku biasa
bukan wahyu namun buku tentang Injil yang palsu. Sampai sekarang,
buku “Injil” Barnabas yang palsu ini masih dipakai sebagai propaganda
yang tidak bergengsi, sebab berdasarkan sesuatu yang sudah diketahui
bukanlah berdasarkan kebenaran akademis, namun maksud jahat religius.
“Injil” palsu ini yaitu salah satu hasil dari anak zaman (khususnya
renaisans) yang negatif, bukan sebab isinya menjelekkan dan memfitnah
gereja namun juga bagi Islam sendiri. Sekarang masih dipakai dengan
motif usahanya yang tidak benar secara akademis, meskipun cara
penelitiannya (metodologinya) tidak benar dan bersifat pemalsuan
kebenaran ilmiah.
Secara filosofis sudah terlihat bahwa ini yaitu usaha pemalsuan
Injil alkitabiah dan layak disebut sebagai “Injil palsu” dari seorang yang
mencatut nama Barnabas. Bahkan dalam Injil pun, Barnabas tidak pernah
mengklaim diri termasuk murid Yesus yang khusus tersebut. Kaum
beragama --yang berkontroversi atas isu ini-- harus menyadari bahwa
buku ini yaitu buku biasa saja bukan injil otentik kekristenan. Memang
pernah diklaim sebagai Injil oleh antikristen fanatik secara ideologis.
Khususnya di Indonesia masih digemari untuk dikemukakan oleh
beberapa orang yang tidak mau tahu dan berani malu menyodorkan buku
ini sebagai suatu usaha agamisasi tertentu. Kiranya kesadaran akaliah
menyelimuti kaum tak terdidik yang sedang berbangga hati atas
keberadaan terjemahan “Injil palsu ” ini. Sebenarnya akan lebih mulia
jika melakukan misi agamanya berdasarkan ajaran agamanya sendiri,
sebab dengan mendalami agamanya sendiri terlebih dahulu akan
mencegah kesempatan menciptakan fitnah terhadap agama lain secara
membabi buta, apalagi ternyata alat yang dipakai sangat keliru secara
khasat mata.
Akhirnya, tidaklah berlebihan jika propaganda “Injil” Barnabas
ini dikatakan sebagai suatu kreatifitas dari upaya dakwah: 1) yang tidak
memiliki rasa malu, 2) tidak berhasil, 3) tidak intelek, 4) tidak
bergengsi, 5) tidak rasional, 6) tidak bermoral, dan akhirnya 7) hanya
sebagai upaya “senjata makan tuan” di zaman sekarang ini, tertinggal
dalam peradaban dan menunjukkan budaya keagamaan yang tidak luhur

