Teologi 4

Teologi 4


 


�duduk bersama.“ Berangkat dari 

polemik-polemik ‘agama’ di ruang publik akhirnya agama-agama perlu 

belajar bersama menguatkan identitas dan menegaskan batas peran-

perannya. Dengan kata lain, belajar bersama dapat menjadi peluang 

untuk memposisikan kembali dirinya secara benar sehingga tidak 

disalahartikan. Belajar bersama tentu memerlukan wadah. Salah satunya 

yaitu  dialog. Dengan kata lain keberagamaan di ruang publik Indonesia 

menuntut dialog. Perlu sebuah visi dialog bagi masa depan kehidupan 

beragama yang kondusif dan konstruktif demi mencegah munculnya 

kelompok kepentingan (baik dari kaum beragama maupun kaum pejabat) 

yang cenderung radikal-fanatik. Dengan begitu agama tidak menjadi 

sasaran penghakiman publik sebab  ulah invididu dan kelompok ekstrim 

dari agama tertentu. Menurut hemat penulis ada beberapa hal yang perlu 

didudukan dalam dialog di Indonesia.  

Pertama, membahas kemungkinan koreksi persaudaraan antar 

pemimpin agama. Kesepakatan untuk terbuka dan rela memberi dan 

menerima koreksi dari sesama saudara pemimpin agama lain berkaitan 

dengan moral publik. Koreksi ini mesti dimaknai sebagai bentuk 

dukungan dalam suasana persaudaraan sebagai sesama manusia. Jadi 

bukan penghakiman. sebab  itu perlu menghindari bahasa-bahasa yang 

menyinggung (melukai) perjalanan historikal-kultural (dogma, ritus) 

suatu agama. Koreksi ini hanya dimaksudkan pada hal-hal yang 

berkenaan dengan perilaku destruktif warga agama terhadap kehidupan 

umum. Hal-hal yang lebih bersifat praksis hidup sosial: norma dan moral 

publik. Maka bahasa-bahasa yang bijak teramat penting dan dituntut. 

Kerendahan hati harus menjadi landasan sikap dalam kesepakatan dan  

 

komitmen ini. Meski sulit mewujudkan dialog model demikian sebab  

basis historis yang berbeda namun  kesamaan sebagai saudara dalam 

kemanusiaan dan kasih sebagai inti ajaran setiap agama memungkinkan 

dialog ini terjadi.  

Kedua, realisasi atas koreksi dalam komunitas intern. Koreksi 

sesama saudara beriman segera mungkin ditindaklanjutin dalam asas 

kemanusiaan yang adil. Perlu menghilangkan sikap menunda apalagi 

acuh tak acuh. Di satu sisi mendengarkan koreksi sementara di sisi lain 

membiarkan tindakan kejahatan. Untuk itu, atas setiap perilaku destruktif 

warga agama, pemimpin agama harus memberikan kepercayaan pada 

hukum formal (negara) untuk mengatur dan mengambil tindakan dengan 

tetap memperhatikan martabat kemanusiaan pelaku. Tidak main hakim 

sendiri menurut aturan agamanya. Selain itu kesepakatan antar pemimpin 

agama perlu diteruskan ke dalam komunitas masing-masing agama 

melalui wakil-wakilnya (menjadi sarana koreksi persaudaraan secara 

internal) sehingga dengan begitu para warga agamanya semakin mawas 

diri dan (bahkan bukan tidak mungkin) antar warga religius tumbuh sikap 

untuk saling menjaga dengan kerelaan memberi dan menerima koreksi 

tanpa mengingkari keunikan masing-masing. 

Ketiga, merumuskan suatu konsensus bersama tentang keterlibatan 

diri dalam ruang publik perihal peran dan batasan-batasanya dalam poin-

poin yang terstruktur dengan pemberlakuan sanksi yang tegas. 

Konsensus ini dapat dilahirkan dari tafsir dan elaborasi atas nilai-nilai 

yang termaktub dalam agama untuk mengingatkan dan meminimalisir 

cara-cara tidak elok dalam berpolitik dan bernegara. Konsensus ini tidak 

bermaksud menggantikan ajaran khas dalam setiap agama. Hanya 

membantu seseorang atau sekelompok orang untuk tidak terperosok 

melakukan dosa publik oleh sebab  ketidakmampuan mengalahkan 

kecenderungan karnal dan dorongan libidinal akan kekuasaan, uang dan 

jabatan.  

Keempat, menjadwalkan adanya kegiatan live in rutin di komunitas 

berbeda agama misalnya Pesantren, Seminari, Vihara, Pura, Biara, dan 

Klenteng. Komunitas-komunitas ini yaitu  ruang budaya yang 

memungkinkan perjumpaan pemeluk agama yang berbeda. Rasa empati, 

244 DIALOG SEBAGAI SARANA REPOSISI AGAMA-AGAMA DI RUANG PUBLIK 

penghargaan dan damai dapat dipupuk melalui kegiatan demikian. 

Kedalaman penghayatan atas agama yang dianut dimungkinkan lahir dari 

kegiatan semacam ini sehingga warga agama lebih menghargai 

keyakinannya, menjaga esensi agama yang dianut, tidak mudah terhasut 

dan tidak ingin “mencermarkannya” dalam kegiatan yang merusak. 

Komunitas tersebut dapat juga menjadi tempat untuk duduk bersama 

memecahkan problem-problem kemanusiaan universal, dari tataran lokal 

hingga global.  

 

KESIMPULAN 

Pembicaraan tentang peran agama di ruang publik Indonesia memang 

tidak akan pernah selesai dan sebaiknya tak semestinya diakhiri. sebab , 

bagaimanapun dalam dinamika sebuah negara yang plural sekaligus 

demokratis layaknya Indonesia, diskursus tentang batas-batas peran 

agama di ruang publik akan selalu menjadi wacana yang tidak pernah 

mencapai titik final, akan selalu didiskusikan untuk menemukan format 

yang tepat terkait keterlibatan agama di ruang publik terutama ketika 

dihadapkan dengan politik, negara dan Pancasila. Wacana ini tidak akan 

berakhir sebab  keterlibatan agama di ruang publik tak jarang dinodai 

segelintir individu dan kelompok yang mengatasnamakan agama (Islam) 

demi mengejar kepentingan-kepentingan mereka dengan cara anarkis. 

sebab  mereka agama dalam arti sesungguhnya rentan dihakimi. Padahal 

polemiknya pertama dan utama bukan agama namun  kaum agamis-

ekstrimis. Maka diskursus tentang peran dan batas-batas keterlibatan 

agama di ruang akan terus digemakan dan terus berkembang.  

Namun begitu, perlu ada tindakan nyata untuk meminimalisir 

polemik-polemik yang mencoreng nama agama. Tidak keliru jika semua 

agama mesti belajar dari kenyataan di ruang publik untuk saling 

membantu demi membangun hubungan yang kondusif dan konstruktif 

dalam sebuah komunitas plural seperti Indonesia. Sebab hal-hal baik 

yang datang dari agama tetap diperlukan sebagai sumber moral bagi 

warga bangsa. sebab  itu wadah cukup efektif yaitu  melalui dialog. 

Tentu dialog yang memiliki visi ke masa depan bersama. Untuk 

sementara (sebab  pasti ada perkembangan ke depannya) penulis melihat 


 

model yang efektif yaitu koreksi persaudaraan antar agama, koreksi 

persaudaraan intra agama, konsensus poin-poin tentang peran dan 

batasan keterlibatan yang disaripatikan dari ajaran-ajaran agama dan 

terakhir menjadwalkan kegiatan live in rutin ke komunitas-komunitas  

agama.  

Model-model ini juga menjadi cermin bagi agama-agama untuk 

memposisikan kembali dirinya di ruang publik secara benar sekaligus 

menjadi penegas kehadirannya melalui pengaplikasian peran-peran yang 

selaras dengan porsinya di ruang publik. Pada akhirnya, diharapkan 

tulisan ini memberi refleksi dan inspirasi bagi semua kita untuk saling 

belajar terutama belajar bersama di antara agama-agama dari polemik-

polemik yang terjadi di ruang publik Indonesia. Khususnya benturan-

benturan dengan unsur-unsur besar seperti politik, negara dan Pancasila, 

yang sejatinya disebabkan oleh kelompok kepentingan yang berada di 

bawah payung agama (Islam) yang berafiliasi dengan pejabat yang 

berkepentingan. 

 Dengan begitu akan termanifestasi sebuah kemampuan untuk 

bersikap reflektif dan korektif untuk membangun relasi yang kondusif 

dan konstruktif di ruang publik. Dengan dialog, (ber) agama pun akan 

menjadi semakin terbuka dan tahu diri ketika berada di ruang publik. 

Agama mampu memberi batas tegas dan menegaskan identitasnya di 

ruang publik.  

 


Dalam media sosial masih banyak orang memakai “Injil” Barnabas 

sebagai sarana agama tertentu untuk mengacaukan masyarakat umum, 

khususnya orang Kristen dan Gereja. Konon menurut beberapa 

pendakwah agama, ‘Injil palsu’ ini dipercaya sebagai sarana propaganda 

yang paling ampuh dalam menarik orang beragama Kristen keluar dari 

gereja dan meninggalkan agamanya lalu berpindah ke agama seberang. 

Banyak orang Kristen yang menjadi mualaf memakainya secara sepintas 

lalu sebagai alat kesaksian meninggalkan agama Kristen.  

Faktanya, sampai saat ini buku tersebut masih dipakai oleh pihak 

antikristen sebagai sarana dakwah dalam perbandingan agama.1 Bahkan 

Penggunaan buku “Injil Barnabas” sampai sekarang dipakai sebagai 

sarana pertarungan agama di Indonesia.  Buku ini dipakai untuk dakwah 

terhadap orang Kristen yang rendah pengetahuan agamanya. Dengan 

modal berpolemik sedikit, buku yang disebut “Injil” tersebut, dipakai 

untuk memindahkan agama atau meneguhkan seseorang yang disebut 

“mualaf”. Selain itu, sampai sekarang juga, saya sendiri masih sering 

mendengar warga gereja mempertanyakan secara sepintas lalu tentang 

Injil palsu ini.  

                                                             

1 Selama ini saya mengumpulkan dan  menyimpan bukti-buktinya, bahwa buku Injil 

palsu ini dipakai sebagai alat untuk menuduh bahwa kekristenan palsu dan menarik 

orang meninggalkan kekristenan.  Ada mualaf, pendeta masuk Islam sebab  Injil palsu 

Barnabas, yang menurut prinsip demokrasi beradab ala HAM dapat terkategori 

penistaan/ penodaan agama Kristen.  

250 PROFIL KRITIS BUKU YANG DISEBUT “INJIL BARNABAS” 

Artikel ini dimaksudkan sebagai usaha akademis dan tidak untuk 

berpolemik ulang mengenai Injil yang sudah dibuktikan “palsu” itu. 

Secara akademis, penulis menolak sebagai suatu “pelajaran” persaingan 

antar ajaran agama-agama dalam studi teologia sekalipun, sebab  

merusak peradaban sekarang dalam arti perikemanusiaan globalnya. 2 

Namun sebagai usaha pertanggungjawaban iman Kristen masa kini, 

teologi menyediakan kajian apologetika sebagai usaha penjernihan ajaran 

Kristen dari serangan buku tersebut. 1) Apakah yang dimaksudkan 

dengan Injil palsu Barnabas tersebut? 2) Bagaimana kepalsuan buku itu 

secara historis dan konten? 3) Mengapa kaum beragama era modern 

menghadapi usaha-usaha penyebaran agama dalam propaganda 

demikian?   

 

MENGENAI “INJIL” YANG DISEBUT “BARNABAS” 

sesudah  memerhatikan dengan sepintas buku Injil Barnabas yang cukup 

laris di masa lalu (tahun 80-an ke belakang), yang diterjemahkan dari 

“The Gospel of Barnabas”3 (sebenarnya aslinya The Gospel of Barn) 

yaitu  lebih mirip buku essai formal dalam bentuk tulisan masa kini di 

dalam bentuk cerita biografi. “The Gospel of Barnabas” diterjemahkan 

ke dalam bahasa Inggris oleh Lonsdale & Laura Ragg. Kelak sesudah  

membaca buku sepanjang 222 pasal tanpa ayat-ayat ini maka pembaca 

jelas melihat bahwa isinya banyak menentang dan ditentang oleh ajaran 

Al-Quran dan orang Islam sendiri. Posisi karangan ini yaitu  menentang 

keempat Injil kanonik yang dipegang oleh orang Kristen sepanjang masa 

dan juga dipercayai secara terbatas oleh orang Islam, sebab  dianggap 

sudah dipalsukan oleh orang Kristen.  Dengan alasan inilah, pada tahun 

1980-an ada seorang polemikus Kristen bernama Hamran Ambrie 

melakukan apa yang dikatakan “apologia” terhadap Guru besar “Studi 

Perbandingan Agama” IAIN Jakarta, seperti Hasbulah Bakry.4   

Buku ‘Injil Barnabas” ini dalam naskah aslinya –berbahasa Itali-  

ditemukan pertama kali pada tahun 1709 (era pencerahan) yang 

menganggap dirinya sebagai “ajaran Isa yang asli” bahkan dikatakan 

“Injil Isa yang asli” dan mengusulkan untuk membaca karangan ini 

melalui kritik sejarah.5  Menurut banyak sejarawan, termasuk seorang 

cendikiawan Muslim,  Abu Zahrah,  menyetujui bahwa naskah asli buku 

ini yaitu  berbahasa Itali yang ditemukan tahun 1709. namun  ia juga 

berpendapat tidak masuk akal sebab  merasa Injil Barnabas sudah ada 

dan dilarang dibaca pada abad ke-5 Masehi, tepatnya tahun 492 M oleh 

Paus Galasius.6  Sebagian orang dari sejak semula menyebutnya hanya 

sebagai pamflet saja atau selebaran yang diedarkan untuk mengacaukan 

iman Kristen sampai zaman kini. 

Buku tersebut ternyata ditulis dalam bahasa yang umum pada 

waktu itu, yaitu bahasa Itali (bukan Latin) dengan dicampur bahasa ibu  

dari pengarang, yaitu bahasa Spanyol.  Bahasa Itali sendiri berbeda dari 

bahasa Latin yang sudah populer pada abad pertengahan dan renaisans.  

Berdasarkan seluk-beluk bahasa yang populer dipakai di atas, maka ada 

profesor perbandingan agama di IAIN Jakarta menyatakan ketidak-

setujuannya  terhadap buku ini yang dianggap sebagai karya yang tidak 

bersih dan dapat memalukan golongan Islam sendiri.7   

Faktanya, buku ini tidak bisa diteliti secara kritik sejarah sebab  

sesudah  dibaca karangan tersebut hanya menunjukkan suatu karya yang 

ditulis pada abad pertengahan atau tepatnya pada zaman renaisan awal. 

Relasi itu belum begitu dikaitkan oleh para sejarawan atau teolog 

Kristen, zaman sebelum kita.   

Dari pengetahuan sejarah yang paling umum, kita mengetahui 

bahwa pengarang buku tersebut bernama Mustafa de Aranda (Arandi), 

yang sebelumya bernama Fra Marino. Seorang Spanyol yang konon 

                                                                                                                                               

yaitu  pernah menjabat  Imam Gereja Katolik, namun   telah berganti 

agama menjadi Islam dan konon secara pribadi masih menyimpan 

dendam yang menyala-nyala, akibat penindasan dan peperangan yang 

pernah dilakukan oleh gereja pada waktu itu. Seorang bernama J. Slomp 

berpendapat bahwa kemungkinan besar orang tersebut yaitu  seorang 

Muslim yang tadinya beragama Yahudi, yang sempat belajar di Italia 

Utara dan menyamar sebagai biarawan Katolik.8    

Jadi, dapat dipastikan bahwa tulisan tersebut dikarang sesudah abad 

ke-14 Masehi sampai abad ke-16 Masehi. Itulah sebabnya banyak 

kesalahan yang tidak dapat dihindari, sebab  tidak adanya pengalaman 

langsung dengan situasi Yesus berada dan tidak menguasai seluk-beluk 

lingkungan, geografis, sejarah, kebiasaan Palestina pada abad pertama 

Masehi.  Apakah mungkin sebab  Mustafa de Aranda tidak mengerti 

semangat renaisans atau menutup diri terhadap semangat pembaharuan 

intelektual dan kebudayaan umat manusia secara universal?   yaitu  

tidak mungkin kalau dijawab tidak!. sebab  konon menurut cerita, Fra 

Marino (sebelum menjadi Mustafa de Aranda) yaitu  seorang  Imam 

Gereja Katolik  yang senang mengunjungi perpustakaan dan berkawan 

dekat dengan Paus Sixtus V (1585-1590), yang memegang otoritas 

perpustakaan kepausan di Roma 9 , walaupun begitu bukan berarti ia 

yaitu  seorang yang cerdas dan pandai membaca, sebab ada fakta juga 

bahwa banyak imam pada abad tersebut buta huruf sama dengan rakyat 

kebanyakan zaman tersebut.  Seorang antikristen Prancis, seperti 

Mourice Bucaelle mendesak Gereja Kristen untuk mengakui bahwa “The 

Letter of Barn” yaitu  setingkat otoritasnya dengan kanon dan 

berdasarkan surat yang ditemukan pada abad kelima Masehi dan 

dinyatakan  sebagai “Injil” Barnabas (sederajat dengan Injil Tomas 10 

                                                             

 

dalam apokrifa Kristen). Konon, Injil Barnabas itu selalu disembunyikan 

gereja-gereja sebab  mengindikasikan kedatangan Muhammad.   

Memang benar di dalam gereja purba ada “Surat  Barnabas” 

namun sangat berbeda dengan “Injil” Barnabas karya Mustafa de Aranda. 

Surat Barnabas tersebut tertulis dalam bahasa Yunani dan tulisan tersebut 

dimasukkan di dalam kategori apokrifa PB, namun  tidak pernah gereja 

menyebutnya dengan istilah “Injil”. “Surat Barnabas” yang dikenal baik 

dalam sejarah gereja yaitu  suatu riwayat rasul Barnabas yang ditulis 

pada abad ke-2 Masehi, dimaksudkan untuk memuliakan Pulau Siprus 

yang diyakini oleh penduduknya terdapat makam Rasul Barnabas. 11  

“The Letter of Barn” dari abad kedua Masehi yang ditemukan pada abad 

kelima Masehi memang pernah dilarang oleh Paus Galasius I (492-496), 

namun secara licik Abu Zahrah, seorang propagandis Islam, 

memutarbalikkan fakta sebenarnya dengan mengatakan bahwa “Injil” 

Barnabas yang telah ditahan sejak abad kelima tersebut telah ditemukan 

oleh Fra Marino dari perpustakaan Paus Sixtus V pada abad ke-13 M.  

Bahkan di dalam kebodohan dan ketidakakuratan dikatakan bahwa Paus 

Sixtus V “naik tahta” pada tahun 1889-1890.12   Padahal tahun 1890 

diketahui sebagai tahun pertama kali buku “Injil” Barnabas ditemukan di 

perpustakaan kota Wina sedang  penulisannya pertama, kira-kira 600 

tahun sebelumnya.     

Diakui karya ini yaitu  hasil yang sangat “brilyan” dari seorang 

yang sangat kreatif otaknya; tentu dalam arti negatif, yaitu mengarang 

kebohongan.  Secara riset, buku ini hampir mengandung semua 

kesalahan formal maupun informal dalam deduksi, kesalahan penalaran 

induksi, seperti kesalahan statistik, analogi, klasifikasi, observasi, dan 

kesimpulan.  Untuk itulah, seorang ahli studi Islam, berbangsa Yahudi 

melihat kejelekkan mutu ilmiah dan intelektual buku ini telah 

menyebabkan pemerintah Negara Timur Tengah seperti Iran, pada 

pemerintahan Shah, melarang peredarannya sebab  dianggap merupakan 

                                                             

pamflet atau propaganda yang tidak bernilai ilmu pengetahuan dan 

bersifat pemalsuan.13   

Namun benarlah kata pepatah, “Sepandai-pandainya orang 

menyembunyikan “bangkai” kepalsuan, “baunya” akan tercium juga”.  

Sepandai-pandainya orang menyembunyikan kebenaran, kebenaran sejati 

tersebut tidak akan terkubur, namun  akan menyatakan dirinya juga. 

Sebenarnya, dapat saja orang menyembunyikan identitas diri dibalik 

orang lain dengan nama samaran, pertama sebab  rendah hati atau tidak 

mau menonjolkan diri.  namun  dapat juga rasa takut atau malu untuk 

menunjukkan diri, sebab  takut ketahuan “belangnya”.  Pengarang “Injil” 

Barnabas ini lebih  mengarah pada alasan kedua, sebab sampai sekarang 

tidak ada orang intelek yang mau mengakui karya tersebut sebagai 

kebenaran, namun  hanya pemutarbalikan kebenaran atau pemalsuan 

kebenaran. Singkatnya, nama samaran yang dipakai pengarang buku ini 

tidak mungkin bermaksud untuk merendahkan hati, namun  sengaja ingin 

mengacaukan kekristenan yang sangat dibencinya pada waktu itu.   

 Lebih lanjut dikatakan, buku tersebut tidak tercantum ayat-ayat dan 

sangat membingungkan sebab  banyak sekali permainan kata, menurut 

Hamran Ambrie disebut dengan “sulap-sulapan kata”.  Namun 

sayangnya, sikap dari negara Islam Timur Tengah tersebut tidak diikuti 

oleh pemerintah Indonesia, khususnya Departeman Agama RI, bahkan 

cenderung membiarkan serta membebaskannya beredar, dicetak, dan 

disebarluaskan sebagai alat propaganda Islam di negara ini.    

 Dengan kata lain, kreatifitas pengarang “Injil” Barnabas sangat 

menyimpang dari semangat zamannya yang kritis, objektif, rasional, 

metodis dalam menghasilkan suatu karya  kebenaran  dan menggantinya 

dengan motif dan cara yang tidak benar, maksud tidak sehat, sikap yang 

pengecut, metodologi tidak konsisten dan lurus, serta propaganda 

keagamaan yang tidak bermoral.  Isinya mengandung banyak cacat 

dalam segala bidang kehidupan yang pernah ada, seperti kesalahan 

bidang politis, geografis, kebiasaan/adat dan budaya, sejarah, agama, dan 

teologi serta kesalahan nama dan makna nama, sehingga menghasilkan 

                                                             

kesimpulan yang tidak sah sebab  cara pikirnya yang tidak bersistem, 

selain nafsu untuk memfitnah.   

Namun apa boleh buat, mungkin sebab  terpengaruh oleh 

kemasabodohan dalam peradaban maju beberapa orang Barat yang masih 

mengidentikan  Gospel of Barnabas  termasuk dalam kitab-kitab apokrifa 

PB, sebab  ingin menujukkan bahwa Yudaslah yang disalibkan sesuai 

ajaran Muslim  dalam Surat 4: 157-158.14  Padahal tulisan  orang Kristen 

purba dalam “Surat Barnabas”  dari abad ke-2 M sudah ditimbang oleh 

gereja mula-mula sebagai “non kanonik,”15 dan tidak otoritatif bagi iman 

dan kelakukan orang Kristen. Artinya, buku apokrifa yang bukan dari 

abad ke-14 M dan kira-kira 700 tahun sesudah Muhammad  (atau kira-

kira 1.100 tahun  sesudah  apa yang gereja identifikasi selama ini sebagai 

surat “pseudo” Barnabas yang konon tersimpan di perpustakaan 

kepausan). Secara singkat, sampai sekarangpun buku yang disebut “Injil 

Barnabas” dipakai untuk menyangkali kemesiasan dan keilahian Yesus 

yang didasarkan pada kepercayaan trinitarianisme. sebab  menurut buku 

yang didasarkan pada ajaran tauhid agama Islam, menunjukkan 

Muhammad sebagai Nabi yang akan datang,16 yang pada zaman gereja 

purba yaitu  pendapat bidat yang telah ditolak17 bahkan sampai sekarang 

oleh Gereja Kristen.        

Di Indonesia, buku ini sedikitnya sudah dua kali cetak ulang dan 

publisitas terjemah Injil Barnabas sesudah  cetakan pertama Surabaya 

Mutiara. Buku yang disebut sebagai Injil Barnabas tersebut mirip buku- 

buku Islam lainnya pada masa kini yang selalu menunjukkan pada 

Kerasulan Muhamad. Dalam Injil Barnabas memang diungkapkan 

tentang akan datangnya Rasul bernama Muhammad SAW, sesudah  Nabi 

Isa.: 1) Bab 39 Barnabas: ''Terpujilah nama-Mu yang kudus, ya Allah 

Tuhan kita... Tiada Tuhan Selain Allah dan Muhammad yaitu  utusan-

                                                             

Nya''.  2) Masih pada bab 39 disebut dalam dialog antara Nabi Adam 

dengan Tuhan. ''...Apa arti kata-kata, Muhammad utusan Allah, apakah 

ada manusia sebelum aku?'' 3). Bab 41 Barnabas:  "Atas perintah Allah, 

Mikael mengusir Adam dan Hawa dari surga, kemudian Adam keluar 

dan berbalik melihat tulisan pada pintu surga 'Tiada Tuhan Selain Allah 

dan Muhammad yaitu  Rasul Allah...'' 5) Bab 44 Barnabas: 'Oh, 

Muhammad Tuhan bersamamu...' 6) Bab 97: Yesus menjawab, "Nama 

Mesias sangat mengagumkan, sebab  Allah sendiri yang memberinya 

nama, ketika menciptakan jiwanya dan menempatkannya di dalam 

kemuliaan surgawi. Allah berkata: 'Tunggu Muhammad; sebab  kamu 

Aku akan menciptakan Firdaus, dunia, dan banyak  makhluk... Siapapun 

yang memberkatimu akan diberkati, dan barang siapa mengutukmu akan 

dikutuk..'' 7) Bab 112: “…sedang  orang yang dibunuh sebenarnya 

yaitu  seorang pengkhianat yang wajahnya diubah seperti Nabi Isa. Dan 

orang-orang akan percaya bahwa yang disalib itu yaitu  Nabi Isa.” 

''namun  Muhammad akan datang... Rasul Allah yang suci,'' kata Nabi Isa. 

Nama Nabi Muhammad juga disebut pada Bab 136, 163, dan 220.  

Menurut Laman Al-Arabiya, meskipun spekulasi tentang kitab 

kuno yang diduga sebagai Injil Barnabas itu meramalkan kedatangan 

Islam, namun sejauh ini tidak ada bukti yang menegaskan hipotesis 

tersebut. Namun skeptisisme tetap muncul sebab  kontradiksinya dengan 

Al-Quran. "Sebagian besar studi tentang kitab ini menyatakan Injil 

Barnabas hanya kembali ke 500 tahun yang lalu. Sementara, Al-Quran 

telah ada sejak 1400 tahun silam," demikian tulis Al-Arabiya, 

(Republika.co.id, London , Senin 27/2). Adanya kontradiksi inilah yang 

menjadi alasan utama mengapa para sarjana Arab mengabaikan 

terjemahan bahasa Arab Injil tersebut, yang diterbitkan 100 tahun lalu. 

Sebagaimana diulas secara rinci oleh penulis dan pemikir Mesir, Abbas 

Mahmoud Al-Akkad. Dalam sebuah analisis yang ditulisnya pada 26 

Oktober 1959 di surat kabar Al-Akhbar, "Sejumlah deskripsi yang 

tertulis dalam Injil itu merupakan kutipan orang-orang Eropa dari 

sumber-sumber Arab," ungkapnya. Seorang pendeta Protestan Ihsan 

Ozbek mengatakan Injil itu berasal dari abad ke-5 atau ke-6. Sementara 

Barnabas yang merupakan pemeluk pertama Kristen hidup pada abad 


 

pertama. "Salinan Injil di Ankara mungkin telah ditulis ulang oleh salah 

seorang pengikut Barnabas," kata dia. "Umat Islam mungkin akan 

kecewa bahwa Injil ini tidak ada hubungannya dengan Injil Barnabas," 

ujarnya. Sementara Profesor Omer Faruk menilai Injil kuno itu perlu 

ditelusuri lebih lanjut guna memastikan Injil itu dibuat oleh Barnabas 

atau pengikutnya. Walau pada laman yang sama sesudahnya dimuat satu 

artikel lagi dengan Injil Barnabas yang asli ditemukan lagi di Turki pada 

tahun 2012.18 Selanjutnya Dr. Abbas Mahmoud Al Aqqad, seorang Guru 

besar terkenal di Universitas Al-Azhar di Cairo, Mesir, mengajak umat 

Muslim sedunia untuk menjauhkan diri dari yang disebut “Injil 

Barnabas”. Dalam bukunya, ia menguraikan kepalsuan Injil tersebut.  Ia 

berkesimpulan kitab ini bukan saja menyerang ajaran agama Kristen 

namun  juga Islam.19 

Diluar itu, kita sudah sering mendengar buku ini diajukan sebagai 

klaim ‘Injil yang benar atau asli”. Pada tahun 2012 yang lalu dikisahkan 

penemuan kembali Injil asli Barnabas di Ankara, Turki, sedang  Injil 

Barnabas ada di musium Ankara juga.  Media online sekelas 

Republika.Co.Id, 20 meyakini penemuan buku kuno yang diyakini berusia 

1500 tahun telah membuat heboh dan menggemparkan, khususnya dunia 

Islam yang melihatnya,  apa yang dikatakan bahwa “Injil” kuno tersebut 

ternyata memprediksi kedatangan Nabi Muhammad SAW sebagai 

penerus risalah Isa (Yesus) di bumi. Padahal yang dimaksudkan gereja 

purba yaitu  era rasuli dan bapa gereja mula-mula sebelum abad ke-5M,  

bukanlah renaisans abad pertengahan akhir (15M). Sebagian orang 

memprediksi Injil tersebut yaitu  Injil Barnabas. Injil yang tersimpan di 

Turki itu ditulis tangan dengan tinta emas dan berbahasa Aramik, bahasa 

yang dipercayai digunakan sehari-hari oleh Yesus.  Di dalam Injil ini 

dijelaskan ajaran asli Yesus serta prediksi kedatangan penerus kenabian 

                                                             

Buku putih “Injil Barnabas” yaitu  hasil kreativitas revolusioner dari 

seorang Eropa pada zaman renaisans yang kelihatannya berniat balas 

dendam dengan memutarbalikan kitab suci Kristen (Injil), sebagai  suatu 

kebenaran agamawi yang paling mendasar dan menyentuh hati nurani 

orang kristiani.  Pengarang buku itu mungkin dapat dikatakan sebagai 

seorang yang dicelikkan secara intelektual pada zamannya sekaligus 

menyalahgunakan semangatnya dengan penipuan. Lalu dipakai untuk 

pembohongan publik pada masa kini, dengan mengatakan, “Inilah Kitab 

Suci yang asli!”. Hal ini dapat dikatakan sebagai kejahatan intelektual 

dan budaya dari semangat keberadaban dan humanism renaisans.   

Pada zaman pertengahan, terutama pada akhir-akhir abad 

pertengahan, ketika munculnya semangat pembaharuan kebudayaan dan 

intelektual, kebiasaan memakai nama orang lain, menyembunyikan diri 

dibalik agama orang lain atau memalsu nama orang lain sudah tidak 

(laku) pada tempatnya lagi dan ditinggalkan orang.  Mungkin hal ini 

disebab  dianggap upaya yang tidak bermoral, pengecut, dan tidak sesuai 

dengan pembaharuan intelektualitas dan semangat revolusioner zaman 

tersebut.   Walapun alasannya yang tidak jelas secara eksplisit, namun 

orang-orang zaman renaisans yaitu  orang yang berani menunjukkan diri 

di tengah-tengah zamannya. Dengan kejujuran membela kebenaran yang 

diyakininya dan berdasarkan penelitian yang objektif atau mungkin 

merasa sudah waktunya untuk menunjukkan diri dalam kejujuran 

walaupun resiko buruk menanti. 

 Buku yang disebut “Injil” tersebut, sampai sekarang masih dipakai 

sebagai usaha fitnah terhadap kekristenan historis dengan menuduh  

keempat Injil kristiani (Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes) sebagai 

bukan Injil sesungguhnya. Propaganda agama berdasarkan barang 

“palsu” tersebut dipakai sebagai usaha yang dapat menjauhkan simpati 

terhadap agama Islam. Bahkan banyak sarjana Muslim sendiri merasa 

malu dengan cara dakwah agama seperti itu.  Banyak yang berkeberatan 

atas karya tulis yang tidak sesuai dengan fakta-fakta kebenaran yang 

diajarkan oleh Islam sendiri. Walau hanya orang yang tidak terlatih 

berpikir kritis dan objektiflah yang dapat menerima kesalahan menjadi 

kebenaran lalu bersemangat untuk memperdaya orang beragama lain atas 

nama penyiaran agama.  Rekayasa agama ini ada niat jahatnya terhadap 

peradaban manusia, khususnya kekristenan historik. Sebagai “karangan” 

(dalam arti fiktif) menekankan ketidakpedulian akaliah untuk 

memaksakan kehendak dalam syiar sesat melalui sarana palsu ini.  Ini 

hanya alat provokasi.   

Karya imaginatif berdasarkan hasil perekayasaan atas keempat Injil 

kanonik, juga pernah terjadi pada abad modern ini, yaitu pada tahun 

1980-an dengan beredarnya karya film “The Last Temptation”, yang 

banyak diktirik oleh kaum beragama sebagai penghujatan agama.  

Namun berbeda dengan “Injil palsu” zaman renaisans tersebut, film ini 

dengan jujur mengakui dan menuliskan bahwa ini hanyalah karya fiksi 

semata-mata (walau didasarkan pada fakta-fakta Injil) dan hanya untuk 

berkarya seni belaka.  Konon di Barat, “Injil” Barnabas ini tidak 

diperhatikan orang, namun  di negara-negera dunia ketiga sangat banyak 

dipakai untuk dibahas, sebagai suatu karya kontradikif dan alat 

islamisasi. 

 Dalam seni persuasi zaman renaisans yang sangat berkembang di 

dalam mata pelajaran Retorika (liberal arts), buku dalam bahasa Itali 

tersebut dicampur dengan dialek Spanyol dan terbitan selanjutnya diberi 

catatan pinggir dalam bahasa Arab.  Ini boleh dikatakan sangat tidak 

berhasil, sebab  tidak mungkin seorang Barnabas dari Yahudi abad 1M 

menulis dalam bahasa tersebut. Pada waktu itu lingua franca kebudayaan 

zaman rasul Barnabas yaitu  bahasa Yunani dan bahasa pergaulan di 

antara orang Yahudi yaitu  bahasa Aramik.  sedang  bahasa Itali yang 

dipakai oleh Barnabas palsu baru muncul pada abad 14 M, jadi lebih dari 

tiga belas abad (1300 tahun) sesudah  zaman Barnabas dan Yesus Kristus 

yang diriwayatkannya.   

 

SECARA HISTORIS KRITIS 

Persuasi kebenaran zaman renaisans yaitu  usaha yang tidak suka 

menyerang atau menyalahkan orang lain, namun  membahas pendapat dan 

proposisi lawannya serta menjelaskan pendapatnya sendiri secara 

rasional dan objektif lalu membiarkan orang lain menilainya sendiri 

dengan bebas. Dalam persuasi zaman kapanpun, pasti tidak dapat 

meyakinkan seseorang, kalau sebelumnya telah terlebih dahulu 

menyerang dan memfitnah habis-habisan lawannya.  Mengemukakan 

pendapat yaitu  hak azasi manusia yang secara sadar ingin merubah 

keyakinan inti seseorang.  Sekali lagi hal itu yaitu  normal, apalagi bagi 

agama misioner atau agama dakwah, seperti Kristen dan Islam.  Namun 

kenormalan tersebut telah dikotori secara tidak sehat, sebab  kebebasan 

tersebut telah disalahgunakan dengan unsur kepalsuan dan 

pemutarbalikkan kebenaran.  Dakwah demikian sangat tidak terhormat 

dan tidak bergengsi, sebab  hanya menunjukkan ketidakmampuan 

intelektual seseorang saja. Kesalahan dan ketidakakuratan dalam 

menyerang orang Kristen begitu nampak sehingga dapat menjadi 

“counter attact” terhadap golongan penyerang sendiri dan menjadi 

“senjata makan tuan”.   

 Menurut Drewes dan Slomp yang pernah memeriksa pemakaian 

bahasa Itali dari naskah asli buku “Injil Barnabas”, mengandung banyak 

kesalahan bahasa terutama tidak bagus dalam memakai bahasa dan tidak 

cermat dalam menyajikan data.  Mungkin juga dapat ditarik kesimpulan 

bahwa  Fra Marino pada dasarnya yaitu  seorang bodoh dari zaman 

renaisans; kecerobohan membaca dan kesimpulan-kesimpulannya 

prematur serta tidak konsisten dalam berpendapat, namun  nafsunya untuk 

menindas kekristenan sangat besar sehingga menghasilkan karya 

konfrontatif  tersebut. Jika sebagai seorang yang cerdas, “Barnabas” 

gadungan tersebut pasti akan memikirkan akibatnya secara matang bagi 

golongan Muslim sendiri atau ajaran agama Islam secara keseluruhan.  

Sudah banyak fakta yang diungkapkan oleh G. Van Schie dalam 

bukunya Agama Kristiani Dalam Konteks Agama-agama Lain 

mengatakan, “Orang-orang di abad pertengahan banyak yang buta huruf 


 

dan tidak mengerti membaca, termasuk para imam, sehingga dalam 

pentahbisan para imam sering menjadi kendala.21  Kelihatannya dendam 

yang membara di dalam diri Fra Marino membuat ia tidak rasional lagi 

untuk membuat buku yang tebalnya empat kali lipat Injil-Injil asli dengan 

jumlah 222 pasal.  Suatu karya yang kontroversial dan tidak mungkin 

ditulis oleh orang abad pertama masehi, sebab  belum ditemukannya alat 

tulis-menulis yang menyokong keberhasilannya.  Dari ketebalan buku 

tersebut (dibandingkan dengan Injil yang sebenarnya) dan jumlah 

pasalnya saja terlihat sangat jelas, maka dipastikan  bahwa Mustafa de 

Aranda telah menyatukan keempat Injil (asli) Kristiani yang ada 

ditambah dengan catatannya sendiri yang bersifat islamistis.                  

 Selain itu, pemakaian tinta dan kertas untuk naskah asli yang 

ditemukan mengindikasikan bahwa kertas tersebut secara struktur fisik 

kimiawinya yaitu   suatu bahan yang biasa dan baru muncul di abad ke- 

14 Masehi.  sedang  papirus yang dipakai abad kelima dalam Surat 

Barnabas yaitu  papirus kulit kayu atau perkamen dari kulit binatang 

yang biasa pada zaman abad kelima dan sebelumya.  Rasul Barnabas 

tidak mengenal kertas asli buku tersebut dan bahasa yang dipakai oleh 

Mustafa. Namun lain ceritanya kalau orang dari abad ke-16 Masehi 

tersebut mengangku diri sebagai Barnabas atau berlindung di balik nama 

alkitabiah Barnabas yang hidup di abad pertama Masehi.  

 Secara keseluruhan, tulisan ini tidak berusaha menyodorkan 

kebenaran baru, seperti layaknya orang renaisans zaman itu, mencari 

sesuatu yang baru dan berharga,  namun  secara sengaja dan sadar  

mengubah suatu kebenaran yang lama dan sudah benar  

mencampurkannya dengan ajaran lain dan mengakuinya sebagai 

kebenaran.  Ia tidak berhasil menemukan kebenaran itu sendiri, namun  

memperalat kebenaran yang sesungguhnya dan mengubahnya untuk 

“membenarkan diri” dan golongan sendiri.  Namun demikian, menurut 

Anis Sorrosh, sampai sekarang buku ini sangat populer dipakai sebagai 

                                                             

21 yaitu  fakta di dalam sejarah bahwa banyak orang di abad pertengahan itu buta 

huruf, termasuk juga para imam, apakah mungkin Mustafa de Aranda yaitu  seorang 

tidak begitu pandai membaca, namun  senang membaca dan Keperpustakaan Kepausan di 

Roma, (di mana temannya ) Paus Sixtus berkuasa. 

262 PROFIL KRITIS BUKU YANG DISEBUT “INJIL BARNABAS” 

propaganda Islam untuk menarik banyak orang Kristen masuk Islam, 

dengan alasan: 1) Meniadakan kekristenan ala Paulus, 2) Yesus sendiri 

menyangkali diri yaitu  Mesias, 3)  dan meramalkan kedatangan 

Muhammad.22 

 Ketidakberkualitasan Fra Marino alias Mustafa de Aranda semakin 

nyata ketika ia menipu teman-teman dari golongan agamanya sendiri  

dan menyesatkan warga Muslim yang tidak mendalam dengan 

mengatasnamakan Barnabas teman seperjalanan Paulus dalam perjalanan 

penginjilan.   Hal yang selalu dicari-cari sebab  kebenciannya terhadap 

Paulus yang dianggap sebagai pemula kekristenan sesudahnya dengan 

sebutan paulinisme, sedang  Barnabas yaitu  lawan Paulus yang 

dianggap sebagai pengikut Kristus yang sesunguhnya (Kristen asli).   

Mengapa Fra Marino tidak berani menyebutkan dirinya sendiri sebagai 

pengarang buku yang fiksi-kreatif tersebut, namun  harus 

mengatasnamakan Barnabas, rasul Kristus, padahal ia sama sekali tidak 

mengenal Barnabas dengan jelas?  Di sinilah ketidakjujuran Fra Marino 

yang tidak dapat ditolerir oleh  orang-orang beragama apapun.  

Kreatifitas Fra Marino atau Mustafa de Aranda sangat  mirip dengan 

karya Salman Rusdhie, The Satanic Verses yang kontroversial dan 

menghebohkan dunia Islam,  namun bedanya Salman Rusdhie mengakui 

karya fiksinya secara terbuka dan jujur.  

 Pesannya secara keseluruhan dari “Injil palsu Barnabas” tersebut  

bukannya berita gembira, di mana manusia berdosa dibebaskan melalui 

pengorbanan Kristus, namun  justru beban baru bagi orang berdosa.  Injil 

itu sendiri yaitu  berita sukacita sebab  pembebasan dari dosa yang 

mematikan secara kekal,  namun  dalam buku tulisan Mustafa de Aranda, 

Injil tersebut bukannya Injil lagi, namun  suatu beban yang membawa 

manusia berdosa tidak berpengharapan akibat dosa yang tidak dapat 

ditanggulanginya dan secara pasti menuntutnya ke neraka.  Menurut 

seorang Pastor Katolik, karya yang disebut “Injil” Barnabas ini tidak 

pantas disebut dengan Injil, apalagi disebut Injil tentang Tuhan kita 

                                                             

Yesus Kristus,23 namun  hanya berita kematian dan penghukuman neraka.  

Tidak ada pesan pembebasan sama sekali di dalamnya yang sesuai 

dengan hakekat Injil yang sebenarnya, hanya berita penegasan hukuman 

dosa dan jalan buntu.  Jadi Injil palsu tersebut bukan berita sukacita, 

namun  benar-benar berita dukacita, bukan berita keselamatan namun  hanya 

berita penghukuman dosa.Tidak ada harapan yang didapat  dari dalam 

buku “Injil palsu” tersebut.  Buku tersebut menyebut Yesus sebagai 

Kristus, artinya Juru selamat, namun  dalam bagian lain menyangkali 

kejuruselamatan-Nya. 

MENGHADAPI TANTANGAN  

SPIRIT  PASCAMODERNISME 

Kelihatannya Injil palsu Barnabas masih popular dalam kalangan 

intelektual Muslim dan terus dipenetrasikan idenya lewat buku-buku. 

Termasuk dalam khotbah dakwah di masa kini sering dipakai sebagai 

sarana meyakinkan umat.  Mungkin salah satunya buku agama dan 

Marxis yang sepintas mengutarakan Marx sebagai asal-usul ateisme dan 

penolakan kapitalisme; sebenarnya maksudnya yaitu  Kristen atau 

ajaran- ajaran Kristen, khususnya Tritunggal dan keberadaan Injil-Injil 

yang dipalsukan dalam keempat Injil,  sedang  Injil yang lain dan 

benar dibuang secara politik Kristen. Dikatakannya “mereka  telah 

membuang kitab-kitab yang lain yang terkenal dengan nama kitab-kitab 

apochripha—Injil-Injil rahasia di antaranya Injil Barnabas. 24  Dalam 

apokrifa Kristen memang ada surat Barnabas, bukan Injil Barnabas yang 

menekankan ajaran Muslim, khususnya kenabian Muhammad yang 

dipadu dengan Injil gnostik tentang Yesus dan masa kanak-kanak Yesus.

 Padahal buku yang dianggap sebagai “Injil” asli itu  buatan orang 

abad ke-16, yang dapat dikatakan sebagai hasil anak zaman renaisans, 

                                                             

bahkan anak spirit kegelapan era pertengahan sebelumnya. Pada era 

sekarang, argumen yang memakai buku itu  dapat  dianggap ketinggalan 

zaman dari segi bukti historis dan konten, namun mungkin masih manjur 

untuk propaganda agama. Namun secara umum perlu dinilai kembali, 

apakah nilai keberadabannya masih dapat dipertanggungjawabkan, 

mengingat pada masa kini konflik sebab  agama yaitu  hal yang sangat 

memilukan bagi kemanusiaan. Faktanya, ada beberapa pandangan dunia 

yang bersfat ideolois dibelakang serangan antikristen yang ada di 

belakang buku yang disebut “Injil Barnabas”: 1) Islamisme, 2) 

Monoteisme anti trinitarianisme, 3) Rasionalisme agama, 4) Etika 

posttruth.   

 

TINJAUAN KRITIS SEBAGAI LITERATUR 

Kreativitasnya yaitu  suatu yang orisinal, di mana keempat kitab Injil 

dijadikan satu dan diharmonisasikan dan dikendalikan oleh ayat-ayat Al-

Quran, sehingga menghasilkan suatu kitab suci “Kristen” yang 

meninggalkan ajaran Kristen sesungguhnya dan jauh sekali dari 

kekristenan, sambil membenarkan agama yang selama ini paling 

menentang ajaran Kristen.  Namun sebenarnya karya harmonisasi seperti 

ini pernah dilakukan oleh orang-orang Kristen purba seperti Tatian, 

dengan karyanya Diatessaron .   

Bedanya Tatian melakukannya dengan maksud untuk memuliakan 

Yesus Kristus, namun  “Injil” Barnabas dimaksudkan untuk menghujat 

Kristus dan menjelekkan kekristenan.  Karya renaisans yang tidak 

bermoral ini dipakai oleh orang zaman sekarang untuk menyerang 

kekristenan yang keberadaannya sangat dibenci oleh orang-orang 

tertentu.   Sebenarnya gereja purba (juga filsuf-filsuf Yunani) di abad-

abad permulaan sampai awal-awal abad pertengahan memakai nama 

orang lain untuk menyembunyikan diri atau juga menyembunyikan 

identitas diri dibalik nama besar yaitu  suatu yang biasa.  

Dalam sejarah gereja Kristen banyak ditemukan Injil dan surat-

surat Rasul  non kanonik dari abad kedua sampai abad kelima, seperti 

Injil Tomas, Injil Petrus, Surat gembala Hermas, Surat Barnabas, Kisah 

Petrus, Kisah Paulus, Kisah Yohanes, Wahyu Petrus, dll, namun 


 

semuanya itu sudah ditolak sebagai kitab-kitab kanonik oleh orang 

Kristen mula-mula sebab  dianggap memakai nama palsu.25  Bahkan jauh 

sebelum itu dalam kalangan Yahudi ditemukan kitab-kitab non kanonik 

PL (era intertestamental), seperti “Pseudographa” dan “Apokripha” yang 

juga menuliskan nama palsu sebagai pengarangnya agar terlihat lebih 

berotoritas.26 Namun bukan berarti buku-buku tersebut tidak berarti sama 

sekali bagi kekristenan, khususnya bagi latar belakang penelitian Alkitab.  

Ada banyak manfaat penting dan positif yang dapat dipelajari dari dua 

kategori tulisan di atas.    

Dalam buku Reinventing Jesus yang telah diterjemahkan kedalam 

bahasa Indonesia, terlihat ada tiga orang pakar Perjanjian Baru Injili 

sedang mengkaji keempat Injil kanonik mengenai Yesus, dibandingkan 

dengan tulisan-tulisan apokrifa. Dalam apokrifa PB terdapat beberapa 

Injil, surat kiriman, kisah,  dan wahyu. Terkait dengan itu kelompok 

“Jesus Seminar” sangat menyenangi Injil gnostik dan docetik yang baru 

ditemukan pada abad modern ini, apakah itu Injil Yudas, Injil Tomas, 

dan juga Injil Masa Kecil  Yesus yang banyak menyoroti Maria juga.27  

Namun anehnya, dalam apokrifa PB tidak ada Injil Barnabas, melainkan 

Surat Barnabas.  Dari segi volume Injil dan surat memang berbeda, surat 

yaitu  sesuatu yang dikirim untuk mengatasi situasi gereja secara 

tertentu sedang  Injil yaitu  biografi mengenai Yesus.  Kalau melihat 

Injil Barnabas yang sangat tebal dengan 222 pasal, beberapa orang 

melihat sebagai harmoni keempat Injil seperti kitab Diatessaron dari 

Tatian, di dalam sejarah awal kekristenan.  Namun di sini, “Injil” palsu 

Barnabas kelihatannya seperti bukan hanya non Injil, namun  juga ekstra 

apokrifa atau tepatnya ekstra pseudopigrafa, jauh sesudah masa-masa 

                                                             

awal kekristenan. Hal ini jelas kalau dilihat isinya terdiri dari Injil 

gnostik, Injil diocetik, dan Injil masa kanak-kanak Yesus ditambah 

dengan Al-Quran. Jadi tidak mungkin Injil palsu Barnabas ini dari gereja 

purba bahkan dapat dikatakan jauh sesudah  Kristen bertemu dengan Islam 

di Eropa.  sebab  kandungan Al-Qurannya sangat jelas dan maksud 

islamisasinya sangat kuat. Namun kalau cerita masa kanak-kanak Yesus 

dan cerita rahasia Yesus memang bersumber dari Injil gnostik dan Injil 

kanak-kanak Yesus dalam apokrifa.  Injil Barnabas bukanlah surat 

Barnabas. Secara genre sastera surat yaitu  surat dan Injil yaitu  Injil 

berbeda  dalam karakternya sendiri-sendiri. 

Sejak Lonsdale dan Laura Ragg menerjemahkan The Gospel of 

Barnabas dari bahasa manuskrip berbahasa Italia yang konon dilakukan 

di Perpustakaan Viena lalu mempublikasikannya tanpa penerbit dan 

tahun.  Maka buku ini sama seperti buku yang dipalsukan selalu 

mengklaim, “True Gospel of Jesus  a new prophet sent by God to the 

world: according to the description of Barnabas, the apostle tertera 

sebagai judulnya.” 28  sedang  judul paling depan The Gospels of 

Barnabas mungkin hanya tempelan publisher. Ini versi novel yang 

didasarkan nama-nama historis namun  isi ceritanya tidak benar secara 

sejarah atau fiksi saja. Zaman sekarangpun banyak orang menulis fiksi 

tentang Yesus, kalau dulu disebut “legenda.”  

Kita tidak dapat menelusuri naskah aslinya dalam bahasa Latin 

untuk melihat terjemahannya secara benar. Namun kita asumsikan bahwa 

penerjemahan dari Lonsdale dan Laura Ragg yaitu  literal dan valid. 

Sebagai “Buku putih” ternyata cepat ditangkap oleh orang Muslim dan 

diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, dan mungkin juga di setiap 

bahasa lokal yang berpenduduk Muslim. Selain buku putih alias panduan 

juga dipakai sebagai senjata pamungkas untuk menyerang kekristenan. 

Cukup sulit menelusuri pemikiran Lonsdale dan Laura Ragg, namun 

tidak terlalu sulit menangkap maksudnya pada masa itu sebagai 

minoritas. Kita anggap saja, mereka menciptakan buku putih, mungkin 

layaknya Salman Rushdie menciptakan “komik” berjudul Satanic Verses 

                                                             

 

yang konon juga dipakai sebagai senjata pamungkas menghadapi 

Muslim.  

 Kalau pada masa kini disebut fiksi yang menceritakan dalam 

sejarah namun  tidak bersifat historis. Ini yang dikatakan pada masa kini 

dengan science fiction saja. Dan ternyata Mustafa de Aranda sudah 

mendahului historical fiction ini pada abad ke-16 M namun sebelumnya 

banyak tulisan pseudonym (nama samaran) yang sudah muncul di 

kalangan Kristen dan bukan Kristen. Bahkan secara tidak sadar 

dikalangan Kristen sudah ada buku Diatessaron yang yaitu  karangan 

orang Kristen yang menggabungkan secara harmonis keempat Injil 

kanonik.  Kemungkinan besar Mustafa de Aranda tidak tahu ini dan 

melakukan hal yang sama secara salah kaprah dalam bingkai islamiknya 

dan Al-Quran. 

Dalam buku Four Gospel One Jesus diungkapkan suatu jalan dan 

dorongan untuk menafsirkan kembali Yesus yang satu tersebut dari masa 

ke masa dalam pergumulan yang dihadapi orang Kristen. Richard A. 

Burridge melihat keempat Injil kanonik itu menceritakan satu Yesus saja 

dengan berbagai gambaran dan tindakan dari keempat penulis Injil 

tersebut.  Jadi tidak harus dengan cara harmonisasi keempat Injil tersebut 

mengenai Yesus, seperti yang pernah dilakukan oleh Tatian dalam 

Diatessaron. 29   Hal mencampuradukkan pecahan-pecahan gambar 

tersebut pernah dilakukan juga pada era ini, khususnya dalam karya-

karya Yesuologi, masa kini. Kalau orang berafiliasi Injili berbicara 

kristologi pasti berbeda dengan pandangan non injili apalagi non Kristen. 

Kaum Injili memandang Kristus sebagai tebusan pengganti dan jalan 

pendamaian antara manusia dan Allah, terlepas dari cara 

menteorikannya. Memang ada kristologi liberal yang melihat Kristus 

hanya sebagai contoh teladan sosial yang dihormati dalam pengorbanan 

agar gereja mengikuti-Nya secara pengaruh moral-Nya di masyarakat. 

Namun mereka pun  melihat Yesus sebagai pribadi yang mati di kayu 

salib, bukan disamarkan oleh Yudas dan tidak pernah disalibkan seperti 

                                                             

dalam penjelasan buku Injil Barnabas.30  Kalau dilihat karya bapa gereja 

dalam “Barnabas Epistle (2 AD)”31 yang dikategorikan apokrifa, artinya 

tidak otoritatif oleh gereja namun dapat dibaca sebagai sejarah 

kekristenan awal. Mereka memang mengenal Barnabas sebagai utusan 

misi bersama Paulus. Di dalam sejarah Kristen awal, Alkitab mencatat, 

Barnabas memang merupakan salah satu nama penting. Dalam Kisah 

Para Rasul menyebutnya sebagai lima orang dari jemaat Antiokhia yang 

menjadi titik pengutusan misi ke Barat, kepada orang-orang bukan 

Yahudi. Semua orang ini yaitu  berasal dari bukan percaya, termasuk 

Barnabas dan Paulus sebagai orang Yahudi yang kuat dalam tradisi (Kis. 

11:27-29). Bahkan dikatakan Barnabas yaitu  pemimpin jemaat 

Antiokhia, sebab  namanya disebut paling pertama; ia yaitu   seorang 

Ibrani bukan Helenis.32 

namun  tidak ada satupun bapa-bapa gereja yang mengenal 

‘Barnabas’ jenis ini (Mustafa de Aranda). Sampai sekarang tidak ada 

yang menyimak dan mendukung teori kristologis bahwa Yesus tidak 

disalibkan seperti dalam buku Injil Barnabas tersebut. Melainkan Kristus 

sebagai penebusan pengganti bagi dosa-dosa manusia dan 

menyelamatkannya secara sorgawi.  Apa yang disebut sebagai kristologi 

oleh Muslim di dalam kuliah-kuliah dan perdebatan agama hanyalah 

Kristenologi sama seperti pelajaran Islamologi, yaitu suatu pelajaran 

tentang agama Kristen bukan doktrin Kristus.  

Memang benar dalam apokrifa PB yang disebut surat Barnabas 

dinyatakan sebagai Barnabas palsu sebab  berasal dari abad kedua, serta 

ditulis dalam bahasa Yunani, namun  tulisannya bukan ditulis atau disuruh 

oleh rasul Barnabas yang merupakan teman perjalanan misi Paulus. 

Penulis surat Barnabas ini bukan orang jahat di dalam sejarah gereja, 

sebab  pada waktu itu merupakan hal biasa memakai nama otoritatif 

                                                             

 

untuk menguatkan tulisannya agar dibaca orang. Dan dalam tulisan 

tersebut masih kental dengan kemesiasan Yesus sebagai Tuhan dan 

Juruselamat. Kristologi jemaat Antiokhia sangat kuat pada kristologi dari 

atas, terlihat dari pembentukannya dalam istilah-istilah Kristus, Tuhan, 

dan Anak Allah dalam masa antara penyaliban Kristus sampai pertobatan 

Paulus. 33 Bahkan di Anthiokialah orang pertama disebut “Kristen”    

(christianoi) dengan implikasi penderitaan dan penganiayaannya secara 

politik dan psikis. Ini dapat dibandingkan dengan nama sebutan sekte 

Nazara, yang sekarang lebih dikenal sebagai Nasrani oleh kaum 

mayoritas. Hal itu terkait dengan buku Injil Barnabas yang memakai kata 

“Nasrani” seperti dalam Al-Quran. Kata itu tidak ada dalam keempat 

Injil kanonik yang memakai terjemahan Arab sekalipun, bahkan secara 

umum orang Kristen Arab memakai kata “Yesus” dan Kristen” bukan Isa 

atau Nasrani.   Walaupun sebutan Nasrani sampai sekarang masih 

dipakai di kalangan Muslim bahkan istilah itu dikenakan kepada Kristen 

sebagai suatu stigma penganiayaan atau penderitaan di daerah-daerah 

minoritas Kristen.34  

  Mirip dengan motif islamisasi dari buku “Injil Barnabas”, sekarang 

ada  fenomena lain dari diputarnya film religius beberapa tahun 

belakangan ini, seakan-akan ingin mengangkat kembali kisah-kisah 

hoaks masa lalu yang berusaha untuk merusak sendi-sendi kekristenan. 

Salah satunya yaitu  tentang patung Bunda Maria di bekas Gereja 

Ortodoks di Eropa dengan komentar bahwa Maria “berhijab” yang 

bertuliskan dua kalimat syahadat dalam bahasa Arab. Entah ‘nama’ 

Maria yang mana yang dimaksudkan, namun  arah dialog dalam sinetron 

itu ingin mengungkapkan seorang mualaf yaitu  Maria yang identik 

dengan Maryam dalam tulisan Arab. Artinya, ada usaha sekelompok 

orang beragama pada masa kini hendak menujukkan bahwa Maria pun 

seorang muslimah, sehingga konon dapat dipakai untuk mendorong 

“orang Kristen” yang berkomitmen rendah dalam pemikiran 

berkompromistik untuk “mempelajari” dan akhirnya meninggalkan 

agama Kristen. Terlepas dari ketidaklogisan film itu, —faktanya agama 

Islam baru muncul sejak abad ke-7 M—kira kira 700 sesudah Maria 

hidup.  Kemudian narasi-narasi hoaks yang mula-mula disebarkan  oleh 

kekhalifahan Ottoman pada abad ke-12 sampai 14 M ketika penaklukan 

Islam atas Eropa yang biasanya diikuti dengan islamisasi vandalistik atas  

segala sesuatu yang berbau Kristen, baik gedung gereja, orang-orangnya 

serta tradisi Kristen, dll. Faktanya, museum tersebut yang tadinya yaitu  

gedung gereja dan pernah dijadikan Masjid lalu sekarang beberapa 

bagian dijadikan Museum. 

 

KESIMPULAN 

Buku Injil Barnabas memang diakui sebagai Injil palsu. Namun demikian 

masih tetap dipakai oleh propagandis agama secara bergerilya untuk 

memangsa orang Kristen yang lemah komitmen teologisnya. Inilah yang 

dikatakan sebagai keampuhan buku tersebut sebagai bahan berita 

‘mualafisasi’ gereja-gereja secara tidak disadari oleh orang Kristen 

sekarang.  

Gereja-gereja juga harus waspada dengan kondisi ini, sebab  

ternyata buku ini masih banyak dipakai untuk “menjerat’ warganya yang 

berkomitmen iman lemah dan rendah. Dalam kondisi dan situasi ini, 

orang Kristen sekarang berada di tengah-tengah kancah persaingan 

agama-agama dengan alasan dakwah. Gereja-gereja harus sungguh-

sungguh menyadari untuk mengajarkan doktrin kepercayaannya yang 

solid kepada keturunan Kristen religius. Hal ini bukan untuk pembelaan 

agama semata namun  usaha pastoralia warga gereja, khususnya diarahkan 

untuk meneguhkan kepercayaan umat dalam lingkungan kristiani.  

Syukurlah, iman sejati yaitu  anugerah Allah sehingga dapat 

mempertahankan dirinya sendiri, namun  sebagai orang Kristen tetap 

menderita dalam penganiayaan mental dan spiritual.  Semoga dapat 

melegakan hati dan pikiran Kristen yang skeptik dan lemah. 

Buku “Injil Barnabas” sebagai sarana untuk model dakwah agama 

yang ketinggalan zaman; suatu penilaian baru ia hanyalah buku biasa 

bukan wahyu namun  buku tentang Injil yang palsu. Sampai sekarang,  

buku “Injil” Barnabas yang palsu  ini masih dipakai sebagai propaganda 

yang tidak bergengsi, sebab  berdasarkan sesuatu yang sudah diketahui  

bukanlah berdasarkan kebenaran akademis, namun  maksud jahat religius.   

“Injil” palsu ini yaitu  salah satu hasil dari anak zaman (khususnya 

renaisans) yang negatif, bukan sebab  isinya menjelekkan dan memfitnah 

gereja namun  juga bagi Islam sendiri. Sekarang masih dipakai dengan 

motif usahanya yang tidak benar secara akademis, meskipun cara 

penelitiannya (metodologinya) tidak benar dan bersifat pemalsuan 

kebenaran ilmiah.   

Secara filosofis sudah terlihat bahwa ini yaitu  usaha pemalsuan 

Injil alkitabiah dan layak disebut sebagai “Injil palsu” dari seorang yang 

mencatut nama Barnabas. Bahkan dalam Injil pun, Barnabas tidak pernah 

mengklaim diri termasuk murid Yesus yang khusus tersebut. Kaum 

beragama --yang berkontroversi atas isu ini-- harus menyadari bahwa 

buku ini yaitu  buku biasa saja bukan injil otentik kekristenan. Memang 

pernah diklaim sebagai Injil oleh antikristen fanatik secara ideologis. 

Khususnya di Indonesia masih digemari untuk dikemukakan oleh 

beberapa orang yang tidak mau tahu dan berani malu menyodorkan buku 

ini sebagai suatu usaha agamisasi tertentu. Kiranya kesadaran akaliah 

menyelimuti kaum tak terdidik yang sedang berbangga hati atas 

keberadaan terjemahan “Injil palsu ” ini. Sebenarnya akan lebih mulia 

jika  melakukan misi agamanya berdasarkan ajaran agamanya sendiri, 

sebab  dengan mendalami agamanya sendiri terlebih dahulu akan 

mencegah kesempatan menciptakan fitnah terhadap agama lain secara 

membabi buta, apalagi ternyata  alat yang dipakai sangat keliru secara 

khasat mata.   

Akhirnya, tidaklah berlebihan jika  propaganda “Injil” Barnabas 

ini dikatakan sebagai suatu  kreatifitas dari upaya dakwah: 1) yang tidak 

memiliki  rasa malu, 2) tidak berhasil, 3)   tidak intelek, 4)   tidak 

bergengsi, 5) tidak rasional, 6) tidak bermoral, dan akhirnya 7) hanya 

sebagai upaya “senjata makan tuan” di zaman sekarang ini,  tertinggal 

dalam peradaban dan menunjukkan budaya keagamaan yang tidak luhur